Posts

Makna; Alim Yang Ditaati & Murid Yang Taat

Ungkapan ini berasal dari hikmah yang masyhur: لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ: عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar (murid) yang sadar dan memahami.”  Berikut 10 makna dan makrifat dari “Alim yang ditaati, Murid yang taat.” 1. Alim adalah pewaris cahaya kenabian, murid adalah penerima cahaya. Secara makrifat, ilmu bukan sekadar informasi, tetapi nur yang berpindah dari hati ke hati. Alim menjadi cermin cahaya, sedangkan murid yang taat menjadi wadah yang bersih untuk menerima cahaya tersebut. Semakin bersih hati murid, semakin sempurna pantulan cahaya ilmu. 2. Ketaatan kepada alim adalah ketaatan kepada kebenaran Yang ditaati bukan pribadi karena kedudukannya, melainkan karena ia mengajak kepada Allah, Al-Qur’an, dan sunnah Nabi serta Ahlul Bait. Makrifatnya: Orang arif tidak mengikuti manusia karena nama besarnya, tetapi mengikuti cahaya Allah yang tampak...

Maqtal Sayyidah Zainab ra dan Ziarah padanya

Maqtal Sayyidah Zainab sa untuk Malam Kesebelas Muharam (Syam al-Ghariban) 1, Malam kesebelas Muharam tiba. Matahari Karbala telah tenggelam membawa darah para syuhada. Padang tandus itu dipenuhi tubuh-tubuh suci yang terbaring tanpa kafan. Di antara tenda-tenda yang terbakar, berdirilah Sayyidah Zainab binti Ali as, putri Amirul Mukminin dan cucu Rasulullah SAW. Beliau memandang medan Karbala dengan hati yang hancur, namun dengan iman yang tetap teguh seperti gunung. 2, Sejak pagi hingga senja, beliau menyaksikan satu demi satu keluarga Rasulullah gugur syahid. Ali Akbar rebah, Qasim rebah, Abbas rebah, dan akhirnya Imam Husain as gugur di atas tanah Karbala. Setiap musibah yang menimpa tidak mematahkan keteguhan Zainab. Beliau menghidupkan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). 3, Ketika kepala suci Imam Husain as dipisahkan dari tubuhnya, langit seakan menangis. Namun Zainab as tidak tenggelam dalam keput...

Makna Kalimat Imam Husein as di Malam Asyura

Pada malam Asyura (malam 10 Muharam 61 H), Imam Husain a.s. mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya di kemah. Beliau menyampaikan beberapa ucapan yang sangat masyhur dalam kitab-kitab maqtal dan sejarah. 1. Pujian kepada Allah dan Kesetiaan Sahabat;  اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَحْمَدُكَ عَلَى أَنْ أَكْرَمْتَنَا بِالنُّبُوَّةِ، وَعَلَّمْتَنَا الْقُرْآنَ، وَفَقَّهْتَنَا فِي الدِّينِ، وَجَعَلْتَ لَنَا أَسْمَاعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً، فَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ. أَمَّا بَع “Ya Allah, sesungguhnya aku memuji-Mu karena Engkau telah memuliakan kami dengan kenabian, mengajarkan kepada kami Al-Qur’an, memberikan pemahaman kepada kami dalam agama, serta menjadikan bagi kami pendengaran, penglihatan, dan hati. Maka jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Adapun setelah itu…” Kemudian beliau berkata: فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ أَصْحَابًا أَوْفَى وَلَا خَيْرًا  مِنْ أَصْحَابِي، وَلَا أَهْلَ بَيْتٍ أَبَرَّ  وَلَا أَوْصَلَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي “Sesungguhnya aku tidak mengeta...