Makna ; Hikmah Ibadah (6) وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ،  Keadilan Sebagai Ketertiban Jiwa

Kalimat Sayyidah Fatimah as “وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ” 
dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai: “Dan (Allah menetapkan) keadilan sebagai penyeimbang/pengatur bagi hati.” 

Mari kita uraikan dulu secara linguistik:
العدل (al-‘adl) → keadilan, keseimbangan, penempatan sesuatu pada tempatnya.
تنسيقًا (tansīqan) → pengaturan, penyelarasan, harmonisasi, koordinasi.
القلوب (al-qulūb) → hati, pusat kesadaran dan perasaan manusia.
Jadi secara maknawi, frasa ini menggambarkan bahwa keadilan adalah unsur yang menata dan menyelaraskan hati manusia, sehingga tercipta keseimbangan batin, sosial, dan spiritual. 

Berikut 10 makna atau tafsir hikmah dari frasa “وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ”:

1. Keadilan menumbuhkan ketenangan batin. Hati yang adil tidak berat sebelah dalam cinta, amarah, penilaian akan tenteram dan tidak diguncang hawa nafsu. 

2. Keadilan sebagai keseimbangan spiritual. Ia menjaga agar hati tidak condong berlebihan ke dunia atau akhirat, antara rasa takut (khawf) dan harap (raja’). 

3. Keadilan memperindah tatanan sosial. Ketika hati manusia selaras dengan prinsip adil, hubungan sosial pun teratur dan harmonis.

4. Keadilan menyingkirkan kedengkian. Karena hati yang adil tidak iri terhadap rezeki atau kedudukan orang lain — ia yakin tiap hal berada pada takaran Ilahi. 

5. Keadilan mencerminkan keseimbangan Ilahi. Sebagaimana Allah menata kosmos dengan keadilan (الميزان), hati manusia pun harus tertata dengan prinsip yang sama.

6. Keadilan menyucikan cinta.
Cinta yang adil adalah cinta karena Allah — bukan karena ego. 
Ia mencintai tanpa mengabaikan hak-hak yang lain.  

7. Keadilan adalah tanda hati yang matang. Hati yang sudah mencapai hikmah mampu menilai dengan lurus dan menempatkan segala sesuatu secara proporsional. 

8. Keadilan menghidupkan nurani. Ketika seseorang berlaku adil, cahaya hati (nur al-qalb) menjadi jernih dan mampu membedakan haq dari batil.

9. Keadilan menjaga keteraturan batin dalam ibadah. Ia menyeimbangkan antara rasa tunduk dan rasa syukur, antara khusyuk dan semangat amal.

10. Keadilan menuntun pada kesempurnaan makrifat. Dalam hakikatnya, hati yang adil adalah hati yang menyaksikan keseimbangan sifat-sifat Allah — antara Jalal (keagungan) dan Jamal (keindahan).

Kalimat Sayyidah Fatimah Zahra maknanya sangat Qur’ani, karena “al-‘adl” (العدل – keadilan) dan “al-qulūb” (القلوب – hati) adalah dua tema pokok dalam Al-Qur’an yang saling berkaitan. 

🌿 Makna menurut Al-Qur’an; yang menjelaskan hubungan antara العدل (keadilan) dan القلوب (hati):

1. Keadilan berasal dari keseimbangan yang Allah tetapkan dalam ciptaan
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ۝ 
أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
“Dan Dia meninggikan langit dan meletakkan keseimbangan (mīzān), agar kamu tidak melampaui batas dalam keseimbangan itu.”
— (Ar-Rahman 55:7–8)
🔹 Makna: Allah menegakkan alam semesta di atas prinsip keadilan dan keseimbangan. Hati manusia pun harus selaras dengan mīzān ini agar tidak “melampaui batas”.

2. Keadilan adalah perintah Ilahi yang menyucikan hati
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) untuk berlaku adil dan berbuat ihsan.”
— (An-Nahl 16:90)
🔹 Makna: Perintah keadilan datang langsung dari Allah sebagai fondasi moral. Hati yang tunduk pada perintah ini akan bersih dari kedzaliman dan hawa nafsu.

3. Keadilan menata hubungan sosial dan hati manusia
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى
“Dan apabila kamu berkata, maka berlaku adillah, sekalipun terhadap kerabat dekat.”(Al-An‘am 6:152)
🔹 Makna: Keadilan menuntut kemurnian hati — agar tidak berat sebelah karena kasih, benci, atau kepentingan pribadi.

4. Keadilan menjaga kemurnian iman dalam hati
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Berlaku adillah; karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”(Al-Ma’idah 5:8)
🔹 Makna: Hati yang adil adalah hati yang bertakwa. Keadilan menjadi penyelaras hati agar tidak dikendalikan oleh kebencian atau fanatisme.

5. Keadilan menuntun hati menuju kebenaran
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ 
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Dan demi jiwa serta penyempurnaannya; maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
— (Asy-Syams 91:7–8)
🔹 Makna: Keadilan batin muncul ketika hati mengikuti ilham takwa, bukan hawa. Ia menyelaraskan suara nurani dengan kehendak Ilahi.

6. Keadilan menjaga hati dari kesewenang-wenangan dan kesombongan
كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ 
أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ
(“Sungguh manusia benar-benar melampaui batas ketika merasa dirinya cukup.”)(Al-‘Alaq 96:6–7)
🔹 Makna: Ketika hati kehilangan keseimbangan (adil), muncullah ṭughyān (melampaui batas). Maka keadilan adalah penyeimbang agar hati tidak congkak.

7. Keadilan adalah mīzān hati dan amal
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Kami letakkan timbangan yang adil pada Hari Kiamat.”(Al-Anbiya 21:47)
🔹 Makna: Apa yang menyeimbangkan amal di akhirat adalah keadilan; demikian pula yang menyeimbangkan hati di dunia adalah keadilan batin.

8. Keadilan membawa ketenangan dan tidak menimbulkan kebencian
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah.”(Ar-Ra‘d 13:28)
🔹 Makna: Keadilan hati berasal dari dzikrullah — karena hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi seimbang dan tenteram.

9. Keadilan melahirkan rahmat dalam hati فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lembut kepada mereka.”
— (Ali ‘Imran 3:159)
🔹 Makna: Hati yang adil melahirkan kelembutan, bukan kekerasan. Kelembutan adalah buah dari keadilan hati yang berporos pada rahmat.

10. Keadilan adalah harmoni sifat Allah dalam hati manusia
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“Allah menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Dia — Yang menegakkan keadilan.”(Ali ‘Imran 3:18) 
🔹 Makna: Allah sendiri “berdiri dengan keadilan” (qāiman bil-qisṭ). Maka hati manusia yang adil berarti sedang mencerminkan sifat Ilahi dalam dirinya — inilah keseimbangan hakiki. 🕊️ Kesimpulan Qur’ani

Jadi, “وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ” menurut Al-Qur’an berarti:”Allah menjadikan keadilan sebagai prinsip yang menata dan menyelaraskan hati manusia, sebagaimana Ia menata alam dengan keseimbangan dan keadilan-Nya.” 
Keadilan bukan sekadar hukum sosial, tapi mīzān ruhani — neraca dalam diri yang menuntun hati menuju tuma’nīnah (ketenangan) dan taqwā (kesadaran Ilahi).

Kalimat Sayyidah Fatimah as  ini sejalan dengan banyak riwayat yang menekankan bahwa keadilan bukan hanya sistem sosial, tetapi juga keseimbangan batin (adl al-nafs) yang menata hati agar selaras dengan Allah dan sesama makhluk.

🌸 10 Makna “وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ” menurut Hadis

1. Keadilan adalah tiang kehidupan dan keseimbangan batin
🕊️ قال أمير المؤمنين (ع): العدل أساس به قوام العالم
“Keadilan adalah asas yang dengannya dunia tegak.”
— Nahj al-Balāghah, Hikmah 437
🔹 Makna: Dunia — termasuk hati manusia — hanya stabil jika ditegakkan di atas keadilan. Tanpa adil, hati akan goncang, dan tatanan batin pun rusak.

2. Keadilan adalah keseimbangan dalam diri
🕊️ قال الإمام علي (ع): العدل أفضل من الجود، لأن العدل يضع الأمور مواضعها، والجود يخرجها عن جهتها
“Keadilan lebih utama daripada kemurahan hati; sebab keadilan menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan kemurahan hati memindahkannya dari tempatnya.”
— Nahj al-Balāghah, Hikmah 429
🔹 Makna: Hati yang adil tahu kapan memberi dan kapan menahan; ia teratur dan seimbang — inilah tansīq al-qulūb (penataan hati).

3. Keadilan menyucikan hati dari hawa nafsu
قال رسول الله ﷺ: أحبّ الناس إلى الله أعدلهم في الحكم، وأقسطهم في الرعيّة
“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling adil dalam keputusan dan paling seimbang dalam memimpin.”
— Kanz al-‘Ummāl, no. 14401
🔹 Makna: Orang yang adil menundukkan hawa nafsu; keadilan menjadi cermin kebersihan hati dan keseimbangan batin.

4. Keadilan adalah puncak kebijaksanaan hati
قال الإمام علي (ع): العدل رأس الإيمان
“Keadilan adalah kepala (puncak) dari iman.”
— Ghurar al-Hikam, no. 1750
🔹 Makna: Sebagaimana kepala menata tubuh, keadilan menata hati dan amal. Tanpa keadilan, iman tak memiliki arah yang lurus.

5. Hati yang adil mencintai kebenaran dan membenci kezaliman قال رسول الله ﷺ
‎بالعدل قامت السماوات والأرض
“Dengan keadilanlah langit dan bumi tegak.” Sunan al-Bayhaqī, Shu‘ab al-Īmān 6/98
🔹 Makna: Hati yang selaras dengan keadilan ikut bergetar bersama tatanan Ilahi; ia hidup dalam harmoni kosmik yang sama.

6. Keadilan adalah keseimbangan antara cinta dan kebencian
قال النبي ﷺ: أحبب حبيبك هوناً ما، عسى أن يكون بغيضك يوماً ما، وأبغض بغيضك هوناً ما، عسى أن يكون حبيبك يوماً ما
“Cintailah kekasihmu dengan sederhana; boleh jadi suatu hari dia menjadi musuhmu. Bencilah musuhmu dengan sederhana; boleh jadi suatu hari dia menjadi kekasihmu.” Tirmidzī, no. 1997
🔹 Makna: Inilah keadilan hati — tidak berlebihan dalam rasa. Ia menata emosi agar tetap seimbang dan tidak buta oleh hawa.

7. Keadilan menumbuhkan kasih dan persaudaraan
قال الإمام علي (ع): بالعدل تتآلف القلوب
“Dengan keadilan, hati-hati menjadi saling bersatu.”
— Ghurar al-Hikam, no. 1061
🔹 Makna: Langsung sesuai dengan “تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ” — keadilan menyatukan dan menyelaraskan hati, karena tidak ada yang merasa dirugikan.

8. Keadilan adalah tanda orang berakal  قال الإمام علي (ع): العدل زينة الإيمان، وثمرة العقل
“Keadilan adalah perhiasan iman dan buah dari akal.”
— Ghurar al-Hikam, no. 2361
🔹 Makna: Hati yang berakal akan adil — karena ia menimbang dengan cahaya akal dan nur iman, bukan hawa.

9. Keadilan hati adalah puncak pemerintahan diri
قال الإمام جعفر الصادق (ع): 
‎من عدل في سلطانه دام سلطانه
“Barang siapa adil dalam kekuasaannya, maka kekuasaannya akan langgeng.” al-Kāfī, 2/146
🔹 Makna: Hati adalah kerajaan manusia. Jika ia adil terhadap dorongan dan naluri, maka kerajaannya (jiwanya) akan teguh dan tenteram.

10. Keadilan adalah cahaya yang menata batin menuju Allah
قال النبي ﷺ: ساعة عدلٍ يقيمها الإمام خيرٌ من عبادة ستين سنة
“Satu jam menegakkan keadilan lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun.”Bihār al-Anwār, 75/358
🔹 Makna: Karena dalam keadilan terpantul seluruh asma Allah — ia adalah dzikrullah dalam bentuk amal. Hati yang adil berarti hati yang bercahaya dengan Nur al-Haqq.

✨ Kesimpulan Hadis
Hadis-hadis ini memperlihatkan bahwa: Keadilan (al-‘adl) adalah mīzān batin — keseimbangan yang menyatukan akal, hati, dan nafs. Dengan keadilan, hati-hati menjadi terkoordinasi, tidak saling berbenturan, dan selaras dengan tatanan Ilahi. 
Kalimat AzZahra as “وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ” mencerminkan inti dari risalah Nabi ﷺ: menjadikan hati manusia teratur dalam cinta dan amal melalui cermin keadilan. 
Menurut hadis-hadis Ahlul Bayt (عليهم السلام) — yaitu para pewaris ilmu batin Nabi ﷺ. 
Konteks makna ini dalam pandangan Ahlul Bayt bukan hanya hukum lahiriah, tetapi keseimbangan batin (العدالة الباطنية) — keadilan yang menata qalb (hati), nafs (jiwa), dan ‘aql (akal), agar semuanya berjalan serasi di bawah cahaya Allah.

🌿 10 Makna “وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوبِ” menurut Hadis Ahlul Bayt عليهم السلام

1. Keadilan adalah keseimbangan batin yang menegakkan dunia dan agama
قال أمير المؤمنين (ع): العدل أساس به قوام العالم، والإحسان زينة به تمامه
“Keadilan adalah asas yang dengannya dunia tegak, dan ihsan adalah keindahan yang menyempurnakannya.”
— Nahj al-Balāghah, Hikmah 437
🔹 Makna: Dunia lahir dan batin tegak dengan keadilan. Tanpa keadilan, hati menjadi kacau, dan tatanan spiritual manusia runtuh.

2. Keadilan adalah keseimbangan yang menata jiwa
قال الإمام علي (ع): العدل يضع الأمور مواضعها
“Keadilan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.”
— Nahj al-Balāghah, Hikmah 437
🔹 Makna: Hati yang adil menempatkan cinta, marah, dan keinginan pada posisi yang benar — inilah tansīq al-qulūb, harmoni batin manusia.

3. Keadilan lebih tinggi dari kemurahan hati (karena ia menata keseluruhan sistem hati)
قال الإمام علي (ع): العدل أفضل من الجود، لأن العدل يضع الأمور مواضعها، والجود يخرجها عن جهتها
“Keadilan lebih utama daripada kemurahan hati, karena keadilan menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan kemurahan hati memindahkannya dari tempatnya.” Nahj al-Balāghah, Hikmah 429
🔹 Makna: Dalam hati, keadilan menjaga keseimbangan antara memberi dan menahan — bukan karena ego, tapi karena hikmah. Maka adil adalah “koordinasi spiritual”.

4. Keadilan adalah bentuk tertinggi dari iman dan hikmah
قال الإمام علي (ع): العدل رأس الإيمان، وبه ينتظم الإحسان
“Keadilan adalah kepala (pokok) iman, dan dengannya ihsan menjadi teratur.”Ghurar al-Ḥikam, no. 1750
🔹 Makna: Iman sejati berporos pada keseimbangan batin — hati yang menilai dan mencintai sesuai mīzān Ilahi.

5. Keadilan adalah keindahan hati dan tanda akal yang sempurna
قال الإمام علي (ع): العدل زينة الإيمان، وثمرة العقل
“Keadilan adalah perhiasan iman dan buah dari akal.”
— Ghurar al-Ḥikam, no. 2361
🔹 Makna: Akal yang matang menuntun hati untuk adil — tidak ekstrem, tidak lalai. Keadilan menjadi harmoni antara rasio dan rasa.

6. Keadilan menyatukan hati-hati manusia
   قال الإمام علي (ع): بالعدل تتآلف القلوب، وبالجور تتنافر
“Dengan keadilan hati-hati menjadi bersatu, dan dengan kezaliman hati-hati saling menjauh.”
— Ghurar al-Ḥikam, no. 1061
🔹 Makna: Ini adalah terjemahan langsung dari تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ.
Adil menumbuhkan keselarasan batin antar jiwa — bukan sekadar hukum sosial, tetapi harmoni ruhani.

7. Keadilan adalah keseimbangan antara cinta dan akal
قال الإمام جعفر الصادق (ع): العدل أحلى من الماء يصيبه الظمآن
“Keadilan lebih manis daripada air yang diminum oleh orang yang haus.” Bihār al-Anwār, 78/83
🔹 Makna: Jiwa yang haus akan ketenangan menemukan kesejukan dalam keadilan — keseimbangan hati melahirkan rasa manis rohani.

8. Keadilan batin adalah menundukkan hawa nafsu di bawah cahaya akal
قال الإمام الصادق (ع): العدل أن تحكم لنفسك كما تحكم لغيرك
“Keadilan adalah engkau menghukumi untuk dirimu sebagaimana engkau menghukumi untuk orang lain.”
— al-Kāfī, jilid 2, hal. 147
🔹 Makna: Inilah ‘adl al-qalb — keadilan dalam hati yang menolak egoisme. Ia menyamakan hak diri dan hak orang lain di dalam nurani.

9. Keadilan adalah timbangan Allah di hati hamba-Nya
قال الإمام الباقر (ع): بالعدل قامت السماوات والأرض، وبه يقام الدين
“Dengan keadilan langit dan bumi tegak, dan dengan keadilan agama ditegakkan.”al-Kāfī, jilid 1, hal. 56
🔹 Makna: Sebagaimana Allah menegakkan kosmos dengan keseimbangan, Ia menegakkan hati manusia dengan ‘adl sebagai mīzān ruhani.

10. Keadilan adalah cermin dari Nama Allah (العدل) dalam hati manusia
قال الإمام علي (ع): العدل صورة من صور الله في خلقه
“Keadilan adalah salah satu citra Allah yang tercermin dalam makhluk-Nya.”Tuhaf al-‘Uqūl, ; 85 
🔹 Makna: Bila hati manusia menjadi adil, ia sedang mencerminkan sifat Allah Al-‘Adl. inilah tansīq al-qulūb, ketika hati selaras dg kehendak Ilahi.

✨ Kesimpulan Maknawi Ahlul Bayt
Dari hadis-hadis di atas, makna “وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ” menurut Ahlul Bayt (ع) adalah: Keadilan adalah harmoni batin yang menata hati, akal, dan nafs agar berjalan selaras dalam keseimbangan Ilahi. Ia adalah cermin dari Nama Allah Al-‘Adl dalam diri manusia — penyejuk hati, penenang jiwa, dan fondasi ukhuwah serta ketakwaan.

🕊️ Imam Ali (ع) merangkumnya dengan indah:
 أفضل السياسة العدل، وأجمل السيرة الإنصاف
“Politik yang terbaik adalah keadilan, dan cara hidup yang paling indah adalah berlaku seimbang.”
—Nahj al-Balāghah, Hikmah 438

🌷 5 Tafsiran Menurut Mufassir Ahlul Bayt (ع):(berdasarkan sumber tafsir, riwayat, dan makrifat batin)

1. 🌸 Imam Ja‘far aṣ-Ṣādiq (ع)
📘 Riwayat dalam al-Kāfī, bab al-‘Adl: Imam Ṣādiq (ع) bersabda:
‎الْعَدْلُ أَحْلَى مِنَ الْمَاءِ يُصِيبُهُ الظَّمْآنُ.”Keadilan lebih manis dari air bagi yang dahaga.” Kemudian beliau menjelaskan: وَتَنْسِيقُ الْقَلْبِ فِي الْعَدْلِ هُوَ رُجُوعُهُ إِلَى الْفِطْرَةِ Penyelarasan hati dalam keadilan adalah kembalinya hati kepada fitrah.” 
📖 Makna: Menurut Imam Ṣādiq (ع), tansīq al-qulūb berarti hati yang kembali pada keseimbangan asalnya — fitrah tauhid yang Allah tanam dalam setiap manusia. Keadilan bukan semata hukum, tapi keteraturan fitrah yang tersinari nur Ilahi.

2. 🌿 Imam Muḥammad al-Bāqir (ع) 
📗 Diriwayatkan dalam Tafsīr al-Qummī dan Tafsīr al-Ṣāfī Beliau berkata menafsirkan ayat:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا” (QS. asy-Syams: 7)
“Dan demi jiwa serta penyusunan (penyeimbangan)nya.” Imam al-Bāqir (ع) bersabda:
‎سَوَّاهَا بِالْعَدْلِ، وَالْعَدْلُ تَنْسِيقُ الْقَلْبِ Allah menyusunnya dengan keadilan, dan keadilan itu adalah penyelarasan hati.” 
📖 Makna: Hati adalah tempat keseimbangan ruhani; jika hati tertata adil, seluruh amal dan akhlak juga akan seimbang. Ini tafsir batin dari tansīq al-qulūb: Allah menata hati dengan mīzān tauhid.

3. 🌙 Imam Ali Zayn al-‘Ābidīn (ع)
📘 As-Ṣaḥīfah as-Sajjādiyyah, Doa no. 45 (Fi Ma‘ālim al-‘Adl)
Beliau berdoa: اللَّهُمَّ زَيِّنْ قَلْبِي بِعَدْلِكَ، وَنَوِّرْهُ بِنُورِ قِسْطِكَ
“Ya Allah, hiasilah hatiku dengan keadilan-Mu, dan terangilah ia dengan cahaya keseimbangan-Mu.”
📖 Makna: Imam Sajjad (ع) melihat tansīq al-qulūb sebagai hiasan Ilahi di dalam hati, bukan sekadar akhlak. Ketika hati berhias keadilan, maka ia menjadi ‘arsh al-raḥmān (singgasana kasih Allah). Keadilan adalah cahaya penata batin.

4. 🌺 Imam Ja‘far aṣ-Ṣādiq (ع) (tafsir lain, riwayat batin)
📗 Tafsīr al-‘Ayyāshī, tafsir QS. al-Ḥadīd:25*
“لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ. “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan), agar manusia dapat menegakkan keadilan.”📖 (QS. Al-Hadid [57]: 25)
Imam Ṣādiq (ع) bersabda:
الْمِيزَانُ فِي الْقَلْبِ، وَالْقِسْطُ عَدْلُهُ
Timbangan (mīzān) itu di hati, dan keadilan (qisṭ) adalah keseimbangannya.”
📖 Makna: Keadilan sejati dimulai dari mīzān al-qalb — timbangan batin. Hati yang seimbang adalah mizan kehidupan. Maka “al-‘adl tansīqan lil-qulūb” berarti Allah menanamkan mizan dalam hati manusia agar mereka mengenal keadilan-Nya.

5. 🌼 Imam Ali ar-Riḍā (ع)
📘 ‘Uyūn Akhbār ar-Riḍā, bab al-‘Adl wa al-Qadar; Imam ar-Riḍā (ع) bersabda:   الْعَدْلُ نِظَامُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ النُّورَ نِظَامُ الْعَيْنِ
“Keadilan adalah sistem bagi hati, sebagaimana cahaya adalah sistem bagi mata.” 
📖 Makna: Hati tanpa keadilan seperti mata tanpa cahaya — tak bisa melihat kebenaran. Maka tansīq al-qulūb adalah fungsi keadilan sebagai struktur batin yang membuat hati mampu mengenali hakikat segala sesuatu.

6. 🌹 Tambahan dari Allāmah al-Majlisī (رحمه الله) 
📗 Bihār al-Anwār, jld. 74, hlm. 75. “Imam Ali (ع) menyebut al-‘adl tansīqan lil-qulūb karena hati manusia bagaikan kerajaan: bila setiap kekuatan (akal, syahwat, ghadab) berada di posisinya, maka kerajaan itu adil.”
📖 Makna: Keadilan dalam pandangan Ahlul Bayt adalah tata pemerintahan batin, di mana akal adalah raja, iman adalah undang-undang, dan hawa nafsu tunduk pada nur Allah. 

🌺 Rangkuman Tafsir Ahlul Bayt (ع)
Penjelasan tentang al-‘adl tansīqan lil-qulūb
Imam Ṣādiq (ع); Kembali pada fitrah dan keseimbangan jiwa Fitrah tauhid
Imam al-Bāqir (ع); Allah menata hati dengan mīzān; Penciptaan hati
Imam Sajjad (ع); Hiasan Ilahi dalam batin Keadilan sebagai cahaya
Imam Ṣādiq (ع) (tafsir al-Ḥadīd) Timbangan batin yang mengenal qisṭ Mīzān spiritual
Imam Riḍā (ع); Keadilan sebagai sistem hati. Struktur kesadaran
Allāmah al-Majlisī; Pemerintahan batin yang tertib. Akal sebagai raja

🌿 Kesimpulan Hakikat
Menurut Ahlul Bayt (ع):
‎الْعَدْلُ تَنْسِيقُ الْقَلْبِ فِي حُضُورِ النُّورِ.
Keadilan adalah keteraturan hati di 
hadapan cahaya Allah. Maka makna terdalam “وَالْعَدْلَ تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ” ialah:🕊️ Allah menjadikan keadilan sebagai cermin yang menata hati agar mampu memantulkan Nur-Nya. 

Menurut para mufassir Sunni dan Syiah. Para mufassir Sunni dan Syiah menafsirkan makna al-‘adl (keadilan) dalam konteks yang sejalan dengan Al-Qur’an, karena seluruh kalimat Sayyidah Fatimah Az Zahra berakar dari ayat-ayat.

🌿 I. Tafsir Menurut Mufassir Sunni

1. Al-Rāghib al-Aṣfahānī – Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān; Al-‘adl huwa waḍ‘u kulli shay’in fī mawḍi‘ih Keadilan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Maka, tansīq al-qulūb berarti hati menjadi teratur karena setiap rasa dan dorongan berada pada posisi seimbang: cinta di tempatnya, takut di tempatnya, harap di tempatnya.
→ Konteks Qur’an: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ” (QS. An-Naḥl: 90) 
Menurutnya, ayat ini memerintahkan keseimbangan lahir dan batin.al-‘adl” untuk hati, “al-iḥsān” untuk amal.

2. Fakhr al-Dīn al-Rāzī – Tafsīr al-Kabīr (tafsir ayat 90 an-Naḥl)
Ia menjelaskan bahwa ‘adl adalah timbangan antara dua sifat ekstrem. Hati yang kehilangan keadilan akan condong:
terlalu keras (ghadab), atau
terlalu lembut (tahawwun).
Maka Allah menjadikan al-‘adl sebagai tansīq al-qulūb, yakni penataan batin agar manusia tidak diperbudak oleh satu sisi nafsu.
→ al-Rāzī melihatnya sebagai pilar akhlak dan keseimbangan psikologis.

3. Imam al-Ghazālī – Mīzān al-‘Amal: 
Keadilan adalah harmoni kekuatan jiwa: akal, amarah, dan syahwat.”Ketika ketiganya seimbang, hati menjadi mutansiq (teratur). Maka kalimat Imam Ali menurut al-Ghazālī berarti:”al-‘adl” menata batin seperti arsitektur rohani, agar tidak ada bagian hati yang dominan berlebihan.

4. Ibn Kathīr – tafsir QS. al-Mā’idah:8
“اعدِلوا هو أقرب للتقوى” –
Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” Menurut Ibn Kathīr, keadilan yang disebut “qarīb min al-taqwā” adalah keseimbangan hati dalam menilai, bukan hanya keadilan sosial. Hati yang adil itulah yang selaras (mutansiq) dengan cahaya iman.

5. Al-Qurṭubī – Tafsīr al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’ān. Ia menafsirkan bahwa keadilan dalam hati adalah “istiwā’ al-qalb” —seimbang antara cinta dan takut kepada Allah.
فمن استوى قلبه بين الخوف والرجاء فقد عدل.”
Siapa yang hatinya seimbang antara harap dan takut, ia telah adil.”
→ Inilah bentuk tansīq al-qulūb dalam pengertian tasawuf Sunni.

🌸 II. Tafsir Menurut Mufassir Syiah

1. Al-Ṭabarsī – Majma‘ al-Bayān fī Tafsīr al-Qur’ān
Dalam menafsirkan ayat “إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ”,beliau menulis:”al-‘adl huwa i‘tidāl al-nafs wa istiqāmat al-qalb.” Keadilan adalah keseimbangan jiwa dan lurusnya hati.” Dan beliau mengutip makna dari Amir al-Mu’minīn (ع):
“wa al-‘adla tansīqan lil-qulūb”
sebagai penjelasan batin dari ayat itu. Jadi tansīq al-qulūb adalah fungsi spiritual dari ‘adl:
menyusun batin sesuai tatanan Allah.

2. Allāmah al-Ṭabāṭabā’ī – Tafsīr al-Mīzān. 
Dalam tafsir QS. an-Naḥl: 90 dan QS. al-Ḥadīd: 25, beliau menjelaskan:’al-‘adl adalah neraca batin (‘mīzān al-nafs’) yang dengannya manusia memahami hakikat rahmah dan ḥikmah.” Dan beliau mengutip kata-kata Imam Ali (ع) sebagai syarḥ ma‘nawī (penjelasan maknawi) dari ayat itu.
tansīq al-qulūb menurut beliau:
“penciptaan struktur spiritual dalam diri manusia agar seimbang dalam menerima cahaya ilahi.” 
→ Hati yang tidak seimbang tidak bisa menerima tajallī (pancaran) nur Tuhan.

3. Al-Ṭūsī – Al-Tibyān fī Tafsīr al-Qur’ān. 
Beliau menafsirkan al-‘adl sebagai; isti‘dāl al-qulūb ʿan al-jawr” — “menyingkirkan ketimpangan hati dari kezaliman.”Keadilan adalah sarana agar hati tidak menyimpang dari jalan wahyu. Dalam konteks Nahj al-Balāghah, kalimat Imam Ali disebutnya
“mīzān tarbiyyat al-qalb” — timbangan pendidikan hati.

4. Al-Qummi & al-Majlisī – Biḥār al-Anwār, jilid 4: 
Mereka mengutip makna tansīq al-qulūb sebagai: “Tertatanya hati para wali dalam rangka tajallī asma Allah al-‘Adl.”
Hati para wali disebut maqām al-‘adl, karena seluruh perasaan mereka berada di tempat yang Allah kehendaki.

5. Imam Khomeini (qs) – Sharḥ Du‘ā as-Saḥar & Misbāḥ al-Hidāyah; 
Menurut beliau: al-‘adl al-ilāhī fī al-qalb huwa taḥqīq at-tawḥīd al-fi‘lī” Keadilan Ilahi di hati adalah realisasi tauhid dalam amal). Dan beliau mengutip kata Imam Ali (ع):
“wa al-‘adla tansīqan lil-qulūb” sebagai tanda; hati yang seimbang antara jamāl (keindahan Allah) dan jalāl (keagungan Allah).
→ Keadilan batin = keseimbangan cinta dan pengagungan kepada Allah.

Ahlul ḥaqīqah dan ahli ma‘rifah, yaitu mereka yang melihat keadilan bukan sekadar hukum atau moral, tetapi sebagai timbangan ilahi di dalam hati insan. 

Mari kita dalami maknanya dengan lembut dan bertahap.
🌿 “وَالْعَدْلَ تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ” menurut Ahli Ḥaqīqah dan Ma‘rifah
Makna dasar:”Allah menjadikan keadilan sebagai penyelaras hati-hati.”Dalam pandangan para arifīn, kalimat ini menggambarkan hakikat “mīzān Ilāhī” (neraca Ilahi) di dalam diri manusia — yakni keseimbangan antara sifat-sifat Allah yang terpantul dalam hati: Jalāl (keagungan) dan Jamāl (keindahan), Qahr (kekuasaan) dan Raḥmah (kasih sayang).

🌸 10 Makna Makrifat “
‎وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ”

1. Keadilan adalah keseimbangan antara sifat-sifat Allah dalam hati. Al-‘Adl adalah titik tengah antara Jalāl (keagungan) dan Jamāl (keindahan).
🔹 Para arif berkata: “Ketika hati menampung dua lautan sifat Allah dan tidak condong pada salah satunya, maka ia telah adil.”Keadilan hati berarti mampu mencintai dengan kasih Allah, tetapi juga menegakkan kebenaran dengan tegas — sebagaimana Allah Maha Pengasih namun juga Maha Adil.

2. Keadilan adalah mīzān al-qalb (timbangan hati).
Imam Ja‘far ash-Shādiq (ع) menjelaskan dalam makna batin:Hati adalah timbangan antara akal dan hawa. Jika akal menundukkan hawa, maka tegaklah ‘adl (keadilan).”
🔹 Ahli makrifat menafsirkan ini: Hati yang adil adalah hati yang selaras — tidak tenggelam dalam dunia, tidak pula lalai dari langit. Ia menimbang dengan nur al-‘aql dan kasih ruhani.

3. Keadilan adalah “tansīq al-qulūb” — harmoni nada ruhani dalam diri.
🔹 Dalam bahasa para sufi, hati memiliki nada-nada (naghmah) seperti alat musik.
Jika setiap sifat (cinta, marah, harap, takut, syukur, sabar) berada pada tempat dan kadar yang tepat, hati menjadi simfoni Ilahi.
Itulah tansīq al-qulūb — pengaturan harmoni hati.

4. Keadilan adalah “adl an-nafs” — menempatkan setiap daya pada tugasnya. 
Menurut arifīn, jiwa manusia punya tiga kekuatan:
al-‘aql (rasio ilahi)
al-ghaḍab (amarah)
ash-shahwah (nafsu keinginan)
Keadilan berarti ketiganya bekerja seimbang di bawah bimbingan ruh Ilahi.
➡️ Jika akal menguasai, amarah terkendali, dan nafsu tertata — hati menjadi adil, tenteram, dan bercahaya.

5. Keadilan adalah cermin tauhid dalam hati.
🔹 Kata para sufi: Al-‘adl huwa at-tawḥīd fī al-‘amal.”Keadilan adalah tauhid dalam tindakan.”Artinya: sebagaimana Allah Esa dan seimbang dalam seluruh perbuatan-Nya, demikian pula hati yang bertauhid menjadi adil — tidak terpecah oleh ego, tidak menilai dengan dua wajah.

6. Keadilan adalah keseimbangan cinta dan rasa takut kepada Allah.
Para arif berkata: “Man ʿadala qalbuhu, istaqāma sirruh.”Barang siapa hatinya adil, rahasianya (sir-nya) menjadi lurus.”Hati yang adil tidak berlebihan mencintai (hingga lalai), dan tidak berlebihan takut (hingga putus asa). Ia berjalan di antara khawf dan rajā’, itulah keseimbangan ruhani.

7. Keadilan adalah diamnya ego di hadapan kehendak Allah. Menurut Ibn ‘Arabī: “Al-‘adl huwa sukun al-nafs ‘inda taṣarruf al-ḥaqq.Keadilan adalah diamnya nafs ketika Allah bertindak.”
🔹 Artinya: hati yang adil tidak protes terhadap takdir; ia selaras dengan kehendak Allah. Inilah tansīq al-qulūb — keselarasan batin dengan irama Qadar.

8. Keadilan adalah pantulan Nama Allah “Al-‘Adl” dalam cermin hati.
Imam Ali (ع) bersabda:العقل ما عبد به الرحمن واكتسب به الجنان; Akal adalah cahaya yang dengan itu Allah disembah.”
🔹 Maka ahli hakikat berkata: Hati yang adil adalah hati yang mencerminkan Asma Allah — tidak miring ke satu sifat.Ketika hati menampung seluruh nama Allah secara seimbang, ia menjadi “ʿarsh al-‘adl” (singgasana keadilan).

9. Keadilan adalah keseimbangan antara zahir dan batin. Syeikh al-Qushayrī berkata:”Al-‘adl huwa taṭbīqu al-bāṭin wa az-zāhir fī ṭarīq al-ḥaqq.”Keadilan adalah kesesuaian antara batin dan lahir dalam perjalanan menuju Allah.”
🔹 Hati yang adil tidak menipu — lahirnya seindah batinnya. Inilah keadilan ruhani: kejujuran total di hadapan Allah.

10. Keadilan adalah kesempurnaan insan kāmil. Para arif menafsirkan bahwa Insān Kāmil (manusia sempurna) adalah yang:Yajma‘u bayna al-asmā’ al-jamāliyyah wal-jalāliyyah bi-l-‘adl.”Menghimpun sifat-sifat keindahan dan keagungan Allah secara seimbang melalui keadilan.”
🔹 Maka hati Nabi ﷺ dan para Imam Ahlul Bayt (ع) adalah puncak “tansīq al-qulūb” — harmoni sempurna antara seluruh sifat Ilahi yang terpantul dalam diri manusia.

✨ Kesimpulan Makrifat
“وَالْعَدْلَ تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ”berarti:Allah menjadikan keadilan sebagai harmoni batin yang menata hati manusia agar selaras dengan keseimbangan-Nya, sehingga hati menjadi cermin tauhid dan tempat bersemayamnya Nama-Nama-Nya.”
Hati yang telah mencapai keadilan sejati adalah hati yang:
tenang (mutma’innah),
seimbang antara cinta dan takut,
berserah tanpa protes pada Qadar,
dan memancarkan kasih, hikmah, serta nur Allah secara seimbang.

🕊️ Seorang arif berkata: Al-‘Adl huwa iḥqāq al-ḥaqq fī kulli maqām.”Keadilan adalah menegakkan hak Allah di setiap keadaan.”Dan hati yang telah demikian — itulah qalbun salīm, hati yang telah tersusun rapi (tansīq) di bawah cahaya Al-‘Adl.

🌿 Makna “وَالْعَدْلَ تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ” menurut Ahli Ḥaqīqah Syiah

Berikut 10 pandangan dan penjelasan inti dari para arif Syiah — seperti Mulla Ṣadrā, Sayyid Ḥaydar Āmulī, Imam Khomeini, dan Allāmah Ṭabāṭabā’ī — tentang al-‘adl sebagai harmoni hati (tansīq al-qulūb).

1. Keadilan adalah keselarasan wujud (تناسق الوجود) dalam diri insan.
🕊️ Mulla Ṣadrā (Asfār al-Arba‘ah):
“Al-‘adl huwa i‘tidāl al-wujūd wa taqawwum al-insān bi-tawāzun quwāhu.”
“Keadilan adalah keseimbangan wujud; manusia tegak ketika seluruh kekuatannya berada dalam keselarasan.”
🔹 Artinya: hati yang adil adalah hati yang selaras antara akal, ruh, nafs, dan jasad.
Itulah tansīq al-qulūb — keselarasan wujud batin, bukan hanya akhlak lahir.

2. Keadilan adalah tajallī dari Nama Allah “Al-‘Adl” dalam hati wali.
🕊️ Sayyid Ḥaydar Āmulī (Jāmi‘ al-Asrār):”Al-‘adl huwa ẓuhūr ismillāh al-‘Adl fī qalb al-‘ārif.”
“Keadilan adalah munculnya nama Allah Al-‘Adl dalam hati seorang arif.”
🔹 Maka hati seorang ‘ārif billāh menjadi cermin keadilan Ilahi; ia menilai dengan nur Allah, bukan hawa. Inilah makna batin “keadilan menata hati”.

3. Keadilan adalah keseimbangan antara jamāl (keindahan) dan jalāl (keagungan). 
🕊️ Imam Ali (ع):
‎“العَدلُ يَضَعُ الأمورَ مَواضِعَها.”
“Keadilan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.”
— Nahj al-Balāghah, Hikmah 437
🔹 Arif Syiah menafsirkan:
Keadilan adalah titik tengah antara dua lautan sifat Allah — Jamāl dan Jalāl. Ketika hati memantulkan keduanya tanpa berat sebelah, terciptalah tansīq al-qulūb.

4. Keadilan adalah tauḥīd dalam perbuatan (توحيد الأفعال).
🕊️ Imam Ja‘far aṣ-Ṣādiq (ع):
‎“العدل توحيدك كل شيء لله.”
“Keadilan adalah engkau menisbatkan segala sesuatu kepada Allah.” Bihār al-Anwār, 58/162
🔹 Maknanya: hati yang adil melihat setiap gerak sebagai dari Allah dan untuk Allah. Inilah tauhid af‘ālī — keseimbangan pandangan hati yang menyatukan semua sebab dalam Satu Sebab.

5. Keadilan adalah penempatan asma’ Allah dalam tatanan ruhani manusia. 
🕊️ Allāmah Ṭabāṭabā’ī (al-Mīzān, tafsir QS. an-Nahl:90):
“Al-‘adl huwa niẓām al-asmā’ fī al-khalq, wa fī al-insān huwa niẓām al-ṣifāt al-bāṭinah.”Keadilan adalah keteraturan nama-nama Allah dalam ciptaan; dalam diri manusia, ia adalah keteraturan sifat-sifat batin.”
🔹 Maka tansīq al-qulūb berarti: asma’ Allah dalam hati tersusun rapi — rahmah, hikmah, sabr, syukr, dan jalāl semuanya berada pada posisi yang seimbang.

6. Keadilan adalah jalan menuju qalbun salīm. 
🕊️ Imam as-Sajjād (ع) dalam Du‘ā Makārim al-Akhlāq berdoa:
‎“اللهم اجعل سريرتي خيراً من علانيتي.”
“Ya Allah, jadikan batinku lebih baik daripada lahirku.” 
🔹 Arif Syiah menafsirkan: Keadilan batin terjadi ketika zahir dan batin seimbang; tidak ada perbedaan antara yang tampak dan tersembunyi.
Itulah hati yang tansīq — teratur dalam kejujuran tauhid.

7. Keadilan adalah manifestasi akal Ilahi (العقل الإلهي) dalam jiwa.
🕊️ Imam al-Kāẓim (ع):العقل ما عبد به الرحمن واكتسب به الجنان.”
“Akal adalah cahaya yang dengannya Allah disembah dan surga diperoleh.” al-Kāfī 1:11
🔹 Menurut arif Syiah, akal bukan logika, tetapi nur al-wilāyah — cahaya yang menimbang batin secara adil. Maka keadilan hati adalah tanda hadirnya ‘aql walāyī, bukan hawa.

8. Keadilan adalah harmoni antara maqām fana’ dan baqā’.
🕊️ Imam Khomeini (Sharḥ Du‘ā as-Saḥar):
“Al-‘adl huwa al-qiyām bayna al-fanā’ wa al-baqā’; la fī ifrāṭ wa la fī tafrīṭ.”Keadilan adalah berdiri di antara kefanaan dan keabadian — tanpa berlebih atau kekurangan.”
🔹 Artinya: hati arif yang telah fana’ (lenyap dari ego) dan baqā’ (kekal dengan Allah) berjalan di garis keadilan Ilahi — inilah keseimbangan hakikat ruhani.

9. Keadilan adalah hakikat imāmah dalam batin. 
🕊️ Sayyid Ḥaydar Āmulī: Al-imāmah ẓāhiran siyāsah, wa bāṭinan ‘adl al-qalb.”
“Imamah di lahir adalah kepemimpinan sosial, di batin adalah keadilan hati.”
🔹 Artinya: Imām al-‘Adl (seperti Imam Mahdi عجل الله فرجه) adalah simbol hati yang sempurna — tempat seluruh sifat Allah tersusun seimbang. Dalam diri seorang arif, “imamah” berarti hatinya telah menjadi pemimpin bagi seluruh daya jiwanya.

10. Keadilan adalah kesempurnaan “wilāyah al-qalb”. 
🕊️ Mulla Ṣadrā menulis:”Al-‘adl huwa wilāyah al-qalb ‘ala al-quwā.”
“Keadilan adalah kepemimpinan hati atas seluruh kekuatan dalam diri.”
🔹 Ketika hati telah menata seluruh potensi diri (akal, hawa, amarah) secara seimbang, ia menjadi “wali atas dirinya” — sebagaimana Imam adalah wali atas umat.
Inilah puncak tansīq al-qulūb: keteraturan spiritual yang memantulkan keadilan Ilahi.

✨ Kesimpulan Ahli Ḥaqīqah Syiah
“وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ”
bermakna:”Allah menjadikan Nama-Nya al-‘Adl sebagai daya yang menata hati manusia, agar asma’ dan sifat Ilahi tersusun harmonis di dalamnya. Maka hati menjadi cermin tauhid, dan seluruh gerak batinnya berada dalam keseimbangan maknawi di bawah cahaya wilāyah.”

🌸 Ringkasnya:   
Dalam Syariat, ‘adl = keadilan hukum.   
Dalam Tariqat, ‘adl = keseimbangan amal.
Dalam Hakikat, ‘adl = harmoni batin antara sifat-sifat Allah.
Dalam Ma‘rifat, ‘adl = tajallī Asmā’ Allah al-‘Adl dalam qalb al-‘ārif. 

🕊️ Imam Ali (ع) merangkum seluruhnya dalam satu kalimat:
“العدل حياة الأحكام، وبه قوام الأنام.”
“Keadilan adalah kehidupan hukum, dan dengan itu seluruh makhluk tegak.”
— Nahj al-Balāghah, Khutbah 216

Kisah pilihan yang menjadi simbol tansīq al-qulūb (penyelarasan hati melalui keadilan Ilahi): 

1. 🌿 Imam Ali (ع) dan cincin di saat rukuk
(Makna: Keadilan sebagai keseimbangan antara ibadah dan kasih sosial). 
Ketika Imam Ali (ع) sedang rukuk dalam shalat, seorang fakir meminta bantuan. Beliau tidak memutus rukuknya, tetapi mengulurkan tangan dan memberikan cincinnya.
Turunlah ayat:”Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menunaikan zakat sementara mereka rukuk.” (QS. Al-Māidah: 55)
🕊️ Arif Syiah menafsirkan: Dalam diri Imam, ‘adl telah menata hatinya — menyatukan ibadah (hubungan vertikal) dan kasih (hubungan horizontal). Ia tidak berat sebelah: tidak hanya ke langit atau ke bumi. Itulah tansīq al-qulūb — harmoni cinta dan amal.

2. 🌙 Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā (ع) memberi seluruh makanannya
(Makna: Keadilan hati yang menempatkan kasih di atas ego)
Selama tiga hari, beliau dan keluarganya berpuasa nazar.
Setiap hari, ketika hendak berbuka, datang musafir, yatim, dan tawanan — dan mereka memberikan seluruh makanannya. Turun ayat: “Dan mereka memberi makan dengan rasa cinta kepada-Nya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insān: 8)
🕊️ Makrifatnya: Zahrā (ع) menunjukkan keadilan hati — meletakkan cinta kepada Allah di atas kebutuhan diri. Hati seperti itu telah tertata — tidak dikuasai nafs, hanya nur Ilahi.

3. 🔥 Imam Ali (ع) dan musuh yang meludah 
(Makna: Keadilan batin di atas amarah) Dalam perang Khandaq, musuh meludahi wajah Imam Ali (ع) ketika hendak ditebas.
Ali menurunkan pedangnya, mundur, dan tidak membunuhnya.
Ketika ditanya, beliau menjawab: “Aku khawatir jika aku membunuhnya karena marahku, bukan karena Allah.” 
🕊️ Arif Syiah berkata: Inilah tansīq al-qulūb — keadilan dalam hati yang menimbang niat, menahan nafs, menegakkan hak Allah, bukan ego.

4. 💧 Imam Sajjad (ع) dan budak yang menjatuhkan makanan panas
(Makna: Keadilan yang berpadu dengan rahmah) 
Seorang pelayan menjatuhkan makanan panas di atas Imam Sajjad (ع). Ia ketakutan, lalu membaca ayat:”Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.”Imam tersenyum, berkata:”Aku telah menahan marahku.” Pelayan melanjutkan:”Dan Allah mencintai orang yang berbuat baik.”
Imam berkata:”Pergilah, engkau bebas demi Allah.”
🕊️ Hati Imam Hasan adalah mīzān al-‘adl — seimbang antara kekuasaan dan kasih. Ia menempatkan tiap sifat pada tempatnya: inilah keadilan Ilahi dalam hati.

5. 🌸 Imam Husain (ع) di Karbala: adil kepada Allah, bukan dunia 
(Makna: Keadilan sebagai penyerahan total kepada kehendak Ilahi) 
Ketika dikepung di Karbala, Imam Husain (ع) bersabda:”Aku ridha dengan ketentuan Allah, dan aku sabar atas ujian-Nya.” 
🕊️ Bagi para arif Syiah, Imam Husain adalah simbol “al-‘adl fi al-qalb” — hati yang selaras sepenuhnya dengan kehendak Allah, tanpa protes. Itulah tansīq al-qulūb: diamnya ego dalam gelombang takdir.

6. 🌿 Imam Zain al-‘Ābidīn (ع) dan pembunuh ayahnya; 
Makna: Keadilan yang menyeimbangkan duka dan rahmat) 
Ketika tawanan Karbala dibawa ke Damaskus, Imam as-Sajjād (ع) berkata kepada Yazid: “Jika engkau membunuhku, siapa yang menanggung dosamu di hadapan Allah?” Beliau tidak mengutuk dengan hawa nafsu, tapi berbicara dengan hikmah dan rahmah. 
🕊️ Inilah hati yang tertata — tidak miring oleh duka, tidak terputus oleh cinta. Keadilan Ilahi memelihara keseimbangan ruhnya.

7. 🕊️ Imam Ja‘far aṣ-Ṣādiq (ع) dan murid yang berdebat 
(Makna: Keadilan dalam ilmu dan adab)
Dua muridnya berdebat keras soal tafsir ayat. Imam bersabda: “Ilmu yang menimbulkan kebencian adalah hijab antara engkau dan kebenaran.” 
🕊️ Dalam pandangan arif Syiah, beliau menunjukkan tansīq al-qulūb — ilmu harus disertai adab, hikmah harus disertai kasih. Keadilan bukan kemenangan akal, tapi keseimbangan antara nūr dan akhlāq.

8. 🌙 Mulla Ṣadrā dan perjalanan kesunyian 
(Makna: Keadilan hati antara ilmu dan kasyf)
Mulla Ṣadrā diasingkan ke Kahak karena dituduh sesat. Dalam pengasingan itu, beliau berkata:”Aku belajar bahwa ilmu tanpa tazkiyah adalah kebodohan dalam bentuk terang.”
🕊️ Ia menata hatinya — menyeimbangkan ilmu rasional dan penyucian batin. Hatinya menjadi tansīq al-qulūb — keadilan antara akal dan ruh.

9. 🌹 Allāmah Ṭabāṭabā’ī dan penghinaan murid 
Makna: Keadilan hati yang menolak balas dendam)
Suatu ketika seorang murid kasar terhadap beliau. Allāmah tersenyum dan berkata: Jangan menghina ilmu yang engkau belum pahami; waktu akan menuntunmu.” 
🕊️ Inilah hati yang telah tertata: tidak terombang oleh pujian atau hinaan. Keadilan batin menjaga keseimbangan antara hikmah dan hilm (kelembutan).

10. 🌕 Imam Mahdi (عج) dalam ghaibah 
(Makna: Keadilan Ilahi yang menata hati umat)
Dalam Du‘ā al-Iftitāḥ, kita berdoa:
“Ya Allah, kami menanti keadilan dari-Mu melalui hamba-Mu yang Engkau sembunyikan.” 
🕊️ Arif Syiah berkata: Imam Mahdi (عج) bukan hanya akan menegakkan keadilan di bumi, tapi juga di hati. Ketika beliau muncul, hati manusia akan disusun kembali (tansīq) agar mencintai dengan benar dan takut dengan seimbang. Keadilan beliau adalah tajallī al-‘adl fī al-qulūb — penyelarasan ruhani semesta.

✨ Kesimpulan Makrifat: 
Semua kisah ini menunjukkan bahwa
 “وَالْعَدْلَ تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ” 
bukan teori, tapi realitas ruhani: keadilan bukan hanya memberi hak, tetapi menata hati agar setiap sifat berada di tempatnya — antara cinta dan takut, rahmah dan qahr, sabar dan amal.

🌿 Manfaat “وَالْعَدْلَ تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ” dan Doanya; 

1. 🌸 Menata Hati agar Tenang dan Seimbang Makna: Keadilan batin menyeimbangkan antara akal, nafsu, dan ruh — menjadikan hati tenteram dan tidak goyah oleh keadaan. 
Doa:
اللهم اجعل قلبي موزونًا بميزان حكمتك، مطمئنًا بذكرك.
Ya Allah, jadikan hatiku seimbang dengan timbangan hikmah-Mu, dan tenteram dengan dzikir-Mu.Manfaat:
→ Hati menjadi damai, tidak mudah gelisah, tidak miring ke dunia atau hawa.

2. 🌙 Menjernihkan Niat dan Tujuan
Makna: Hati yang tertata adil tidak bercampur antara mencari ridha Allah dan mencari pujian makhluk.
Doa: 
اللهم طهر نيتي من كل رياء، ووجه قصدي إليك وحدك 
Ya Allah, sucikan niatku dari segala riya, dan arahkan maksudku hanya kepada-Mu.”
Manfaat: → Amal menjadi murni, diterima di sisi Allah, dan membawa cahaya.

3. 💧 Menahan Amarah dan Nafsu
Makna: Keadilan batin memberi kekuatan menimbang sebelum bertindak, sehingga amarah tunduk pada akal.  
Doa:
 اللهم ارزقني عدلًا في غضبي، وحلمًا عند جهلي.
Ya Allah, anugerahkan kepadaku keadilan dalam amarahku dan kelembutan ketika aku jahil.”
Manfaat:→ Terhindar dari keputusan zalim dan perkataan yang melukai.

4. 🌹 Menumbuhkan Cinta dan Rahmah dengan Seimbang
Makna: Keadilan hati membuat kasih sayang tidak buta, dan ketegasan tidak keras. 
Doa:
اللهم اجعل قلبي رحيماً بعدلك، لا ميالًا بجهلي.
Ya Allah, jadikan hatiku penuh kasih melalui keadilan-Mu, bukan condong karena kebodohanku.” Manfaat:
→ Hubungan sosial penuh hikmah, lembut tapi tegas; dicintai manusia dan dekat dengan Allah.

5. 🔥 Menyucikan Ego dan Hawa Nafsu 
Makna: Keadilan batin membatasi hawa agar tidak memimpin, dan menjadikan akal serta iman sebagai pemimpin. 
Doa:
اللهم قوني على نفسي بالعدل، 
ولا تسلطها عليّ بهواها.
Ya Allah, kuatkan aku atas diriku dengan keadilan-Mu, dan jangan biarkan hawa menaklukkan aku.”
Manfaat: → Jiwa menjadi bersih, mampu memilih jalan kebenaran tanpa ragu.

6. 🌕 Meningkatkan Ma‘rifat dan Kedekatan kepada Allah. Makna:
Keadilan hati membuka “timbangan tauhid”, di mana seseorang melihat segala sesuatu dalam keseimbangan Allah. 
Doa: 
اللهم أرني حقائق عدلك في خلقي، 
وعلّمني كيف أراك في كل ميزان.
“Ya Allah, perlihatkan kepadaku hakikat keadilan-Mu dalam ciptaan-Mu, dan ajarkan aku melihat-Mu dalam setiap keseimbangan.”
Manfaat: → Hati memperoleh pandangan tauhid: melihat hikmah Allah dalam segala keadaan.

7. 🌼 Menumbuhkan Hikmah dan Kebijaksanaan; Makna:
Keadilan dalam hati melahirkan pandangan adil, jernih, dan bijak terhadap segala perbedaan. 
Doa:
اللهم ارزقني قلباً حكيماً، 
ينطق بالحق ولا يميل بالهوى.
“Ya Allah, karuniakan kepadaku hati yang bijak, berbicara dengan kebenaran, tidak condong pada hawa.” 
Manfaat: → Ucapan dan keputusan penuh hikmah; tidak ekstrim, tidak berlebihan.

8. 🌺 Menyatukan Zahir dan Batin
Makna: Hati yang adil menjadikan perbuatan lahir selaras dengan niat batin — tidak munafik, tidak palsu.
Doa: 
اللهم اجعل باطني كظاهري في طاعتك، وزين ظاهري بعدلك 
“Ya Allah, jadikan batinku seperti lahirku dalam ketaatan kepada-Mu, dan hiasi lahirku dengan keadilan-Mu.”
Manfaat: → Menjadi pribadi yang jujur, tulus, dan transparan di hadapan Allah.

9. 🌸 Menumbuhkan Keteguhan dalam Ujian. Makna:
Keadilan menata hati agar sabar tanpa putus asa, dan ridha tanpa menyerah pada maksiat. 
Doa:
اللهم اجعل قلبي ثابتاً في البلاء، 
راضياً بقدرك، عادلاً في نظري إلى حكمك.
“Ya Allah, teguhkan hatiku dalam cobaan, ridha dengan takdir-Mu, dan adil dalam menilai keputusan-Mu.”
Manfaat: → Sabar yang seimbang: tidak pasif, tidak melawan takdir; hati kokoh di tengah badai.

10. 🌙 Menyinari Hati dengan Nur Wilāyah. Makna:
Hati yang adil menjadi tempat tajallī Nur Imamah — karena ia tertata, murni, dan selaras dengan mīzān Allah. 
Doa: اللهم نوّر قلبي بعدلك، وزينه بنور وليك الحجة بن الحسن (عج)
Ya Allah, terangilah hatiku dengan keadilan-Mu, dan hiasilah dengan cahaya wali-Mu al-Ḥujjah ibn al-Ḥasan (عج).” 
Manfaat: → Hati menjadi cermin cahaya Imam Mahdi (عج), yang kelak akan menegakkan keadilan lahir dan batin.

🌹 Kesimpulan Makrifat
“وَالْعَدْلَ تَنْسِيقًا لِلْقُلُوبِ”
bukan hanya kalimat hikmah, tapi zikir hidup: keadilan yang dimaksud bukan sekadar menimbang hak orang lain, tapi menata hati agar setiap sifat berada pada tempatnya. Itulah keseimbangan ruhani — mīzān al-qulūb.


Semoga bermanfaat!!!
Mohon Doanya!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit