Makna: Doa / Hiriz / Perlindungan dari Sayyidah Fathimah as
🌹❤️🌺Makna: Doa / Hiriz / Perlindungan dari Sayyidah Fathimah as🌺❤️🌹
اللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ،
بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، فَأَغِثْنِي،
وَلَا تَكِلْنِي إِلَىٰ نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا،
وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ
1️⃣ Makna Tauhid Rubūbiyyah
Yā Ḥayyu (Wahai Yang Maha Hidup) Allah adalah sumber segala kehidupan. Semua hidup bergantung pada-Nya, sedangkan Dia hidup tanpa bergantung pada apa pun.
2️⃣ Makna Qayyūmiyyah (Penopang Wujud)
Yā Qayyūm (Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri dan Menegakkan segala sesuatu)
Seluruh alam tegak karena-Nya. Tanpa Qayyūmiyyah-Nya, wujud akan runtuh.
3️⃣ Makna Isti‘ānah Hakiki
Bi raḥmatika astaghīts (Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan)
Kita tidak meminta dengan amal, tapi dengan rahmat-Nya. Ini adab ubūdiyyah.
4️⃣ Makna Faqr (Kemiskinan Spiritual)
Doa ini mengakui kefakiran total makhluk. Kita butuh pertolongan terus-menerus.
5️⃣ Makna Ketergantungan Total
Fa aghitsnī (Maka tolonglah aku)
Bukan sekadar doa umum, tapi permintaan langsung dan mendesak.
6️⃣ Makna Bahaya Nafs
Wa lā takilnī ilā nafsī
Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri.
Menurut ahli makrifat, nafs tanpa cahaya Ilahi adalah sumber hijab dan kejatuhan.
7️⃣ Makna “Ṭarfata ‘Ayn” (Sekejap Mata) Bahkan sesaat tanpa pertolongan Allah bisa membuat hati tersesat. Ini menunjukkan kelemahan eksistensial manusia.
8️⃣ Makna Istiqāmah Abadi
Abadan (Selamanya)
Doa ini bukan untuk kondisi tertentu, tapi permohonan penjagaan sepanjang hidup.
9️⃣ Makna Islah Menyeluruh
Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū (Perbaikilah seluruh urusanku)
Bukan hanya dunia atau akhirat, tapi seluruh aspek: iman, akhlak, rezeki, keluarga, niat, batin.
🔟 Makna Tajalli Rahmat
Menurut ahli hakikat, “Hayyu” adalah tajalli Dzat, dan “Qayyūm” adalah tajalli Af‘āl. Memanggil dua nama ini berarti memohon agar hati hidup dengan cahaya Ilahi dan ditegakkan dalam wilāyah.
⸻
🌿 Makrifat & Hakikatnya
Dalam perspektif makrifat:
• Yā Ḥayyu → Menghidupkan qalb yang mati oleh ghaflah.
• Yā Qayyūm → Menegakkan hati agar tidak condong pada selain-Nya.
• Tidak diserahkan pada nafs → fana dari ego.
• Islah seluruh urusan → baqā’ bersama Allah.Menurut jalan wilāyah Ahlul Bait, doa ini adalah latihan “intiẓār” batin — selalu merasa butuh kepada Allah setiap detik.
🌿 Menurut Al-Qur’an
Doa ini bersumber dari dua Asma Allah yang agung yang disebut langsung dalam Al-Qur’an. Berikut maknanya berdasarkan ayat-ayat Qur’ani:
1️⃣ Al-Ḥayy (Maha Hidup)
Allah berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri.” — QS Al-Baqarah:255
Maknanya: Allah hidup denga kehidupan yang sempurna, tidak didahului ketiadaan dan tidak diakhiri kematian.
2️⃣ Al-Qayyūm (Penegak Segala Wujud) — QS Ali ’Imran:2
Qayyūm berarti Allah menegakkan seluruh makhluk dan mengatur mereka tanpa lelah.
3️⃣ Memohon Pertolongan dengan Rahmat. Bi raḥmatika astaghīts” selaras dengan firman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” — QS Al-A’raf:156
Kita meminta pertolongan bukan karena layak, tetapi karena rahmat-Nya luas.
4️⃣ Isti‘ānah Hanya kepada Allah
إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” — QS Al-Fatihah:5
Doa ini adalah pengamalan praktis ayat tersebut.
5️⃣ Bahaya Diserahkan pada Diri Sendiri. “Wa lā takilnī ilā nafsī…”
Al-Qur’an memperingatkan:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafs itu sangat menyuruh kepada kejahatan.”
— QS Yusuf:53
Jika Allah membiarkan kita pada nafs, kita akan condong kepada keburukan.
6️⃣ Kebutuhan Terus-Menerus kepada Allah
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ
“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah.”— QS Fatir:15
Ini menegaskan bahwa ketergantungan kita bersifat total.
7️⃣ Sekejap Mata (Ṭarfata ‘Ayn)
Al-Qur’an menunjukkan cepatnya kekuasaan Allah:
وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ
“Perintah Kami hanyalah satu, seperti sekejap mata.” QS Al-Qamar:50. Tanpa penjagaan-Nya sesaat saja, keadaan bisa berubah.
8️⃣ Islah (Perbaikan) Segala Urusan
“Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū”
إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا
“Jika keduanya ingin perbaikan, Allah akan memberi taufiq.” — QS An-Nisa:35
Islah hakiki datang dari Allah.
9️⃣ Penjagaan dari Penyimpangan
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.” — QS Ali ’Imran:8
Ini makna Qur’ani dari “jangan Engkau serahkan kami pada diri kami.”
🔟 Allah Sebagai Pengatur Seluruh Urusan
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi.” — QS As-Sajdah:5
Maka memohon agar seluruh urusan diperbaiki berarti menyerahkan pengaturannya kepada Allah.
⸻
🌿 Kesimpulan Qur’ani
Menurut Al-Qur’an, doa ini adalah:
• Penegasan tauhid rubūbiyyah
• Pengakuan kefakiran makhluk
• Permohonan rahmat sebagai sumber pertolongan
• Perlindungan dari dominasi nafs
• Permintaan islah total dalam hidup
Menurut riwayat ḥirz Sayyidah Fāṭimah (as):
1️⃣ Hirz sebagai Warisan Nubuwah
Riwayat menyebutkan bahwa doa perlindungan ini diajarkan oleh Prophet Muhammad kepada putrinya sebagai penjagaan dari bala dan gangguan.
2️⃣ Perlindungan dari Fitnah dan Kezaliman
Dalam riwayat disebutkan, siapa yang membacanya dengan yakin akan dijaga dari kejahatan makhluk dan makar musuh.
3️⃣ Sandaran pada “Al-Ḥayy al-Qayyūm”
Disebutkan bahwa dua nama ini adalah Ism al-A‘ẓam (Nama Agung Allah) dalam banyak riwayat Ahlul Bait.
4️⃣ Tidak Diserahkan pada Nafs
Dalam doa ḥirz, inti permohonannya adalah:”Wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘aynin abadan.”Riwayat menekankan bahwa kehancuran manusia dimulai saat ia diserahkan pada egonya.
5️⃣ Rahmat sebagai Sumber Keselamatan:”Bi raḥmatika astaghīts” — Riwayat menafsirkan bahwa keselamatan bukan karena kekuatan pribadi, tapi karena limpahan rahmat Ilahi.
6️⃣ Islah Seluruh Urusan
Dalam ḥirz disebut: “Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū.” Riwayat menjelaskan bahwa islah mencakup agama, dunia, niat, keluarga, dan akhirat.
7️⃣ Perlindungan dari Gangguan Gaib. Beberapa riwayat menyebutkan doa ini dibaca untuk penjagaan dari gangguan jin dan syaitan.
8️⃣ Ketenangan Hati
Dalam tradisi Ahlul Bait, membaca doa ini saat gelisah akan mendatangkan sakinah.
9️⃣ Dibaca di Saat Genting
Diriwayatkan bahwa doa ini dianjurkan dibaca ketika menghadapi kesulitan berat atau ancaman.
🔟 Hirz sebagai Tajalli Wilayah
Dalam riwayat makrifat, perlindungan ini bukan hanya perlindungan fisik, tetapi penjagaan dalam wilayah Ilahi—agar hati tetap dalam garis ketaatan.
🌿 Hakikat Ḥirz Sayyidah Fāṭimah (as) Dalam perspektif wilāyah:
• “Yā Ḥayyu” → Menghidupkan qalb dengan cahaya ma‘rifat.
• “Yā Qayyūm” → Menegakkan hati agar tidak condong pada selain Allah.
• Tidak diserahkan pada nafs → inti sulūk dan tazkiyah. Riwayat menekankan bahwa ḥirz ini bukan sekadar bacaan, tapi ikatan batin dengan Allah melalui rahmat-Nya.
Di antara doa/ḥirz yang dinukil dalam kitab-kitab doa Syiah dan dinisbatkan kepada Fatimah bint Muhammad (Sayyidah az-Zahrā’ as) adalah bacaan perlindungan yang senada dengan “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm…”. Redaksi berikut termuat dalam kompilasi doa seperti Mafātīḥ al-Jinān (bab ta‘qīb dan ḥirz).
⸻
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ،
بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، فَأَغِثْنِي،
وَلَا تَكِلْنِي إِلَىٰ نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا،
وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ،
Allāhumma innī as’aluka bi ḥaqqi Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Yā Ḥayyu Yā Qayyūm.
Bi raḥmatika astaghītsu fa aghitsnī.
Wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘aynin abadan. Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad.
Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Menegakkan.
Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, maka tolonglah aku.
Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata selamanya.
Perbaikilah seluruh urusanku.
📚 Keterangan Riwayat
• Dinisbatkan kepada Sayyidah az-Zahrā’ (as) sebagai ḥirz perlindungan yang dibaca untuk penjagaan diri dan keluarga.
🌿 Hakikat Ḥirz az-Zahrā’ (as)
1. Tawassul wilāyah: “bi ḥaqqi Muḥammad wa āli Muḥammad” → keterikatan dengan jalur rahmat.
2. Ism al-A‘ẓam: “Al-Ḥayy al-Qayyūm” → pusat pertolongan.
3. Tazkiyah nafs: “lā takilnī…” → inti sulūk.
4. Islāḥ syāmil: perbaikan zahir-batin, dunia-akhirat.
5. Ḥirz & Amān: penjagaan lahir (bahaya) dan batin (waswas).
🌹 Makna & Makrifat per Kalimat
Ḥirz yang dinisbatkan kepada Fatimah bint Muhammad (Sayyidah az-Zahrā’ as)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Makna: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad.
Makrifat: Ini adalah tawassul wilāyah. Dalam jalan Ahlul Bait, rahmat Ilahi mengalir melalui “pintu-pintu” yang disucikan. Memohon dengan hak mereka berarti mengakui maqam mereka sebagai wasilah cahaya. Secara batin: hati menautkan diri pada matahari nubuwwah dan bulan wilāyah agar tidak gelap oleh ego.
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ
Makna:Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Menegakkan.
Makrifat: “Al-Ḥayy” → sumber kehidupan hakiki; hati yang mati oleh ghaflah hidup dengan zikir ini.
“Al-Qayyūm” → segala wujud berdiri karena-Nya; makhluk tidak punya kemandirian hakiki.
Dalam suluk: zikir ini memotong rasa ketergantungan pada sebab-sebab lahiriah.
بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
Makna: Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.
Makrifat: Bukan dengan amal, bukan dengan kedudukan, tetapi dengan rahmat. Ini adab ubūdiyyah: hamba sadar amalnya tidak cukup, hanya rahmat yang menyelamatkan.
فَأَغِثْنِي
Makna: Maka tolonglah aku.
Makrifat: Permintaan langsung, tanpa perantara kata-kata panjang.
Dalam hakikatnya, ini jeritan fitrah yang sadar akan kefakiran total (faqr ilallah).
وَلَا تَكِلْنِي إِلَىٰ نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
Makna: Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata selamanya.
Makrifat: Nafs adalah hijab terbesar.
Sekejap tanpa penjagaan Ilahi bisa menjatuhkan hati pada ujub, riya, atau putus asa. Ini inti tazkiyatun-nafs: hamba tidak percaya pada dirinya, tapi sepenuhnya pada Allah.
وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ
Makna:Perbaikilah seluruh urusanku.
Makrifat: Islah bukan hanya dunia, tetapi iman, niat, akhlak, rezeki, keluarga, akhirat. Dalam makrifat: ini permohonan tajalli taufiq di seluruh dimensi wujud kita.
🌿 Inti Hakikat Ḥirz az-Zahrā’ (as)
• Tawassul → keterhubungan dengan cahaya nubuwwah.
• Al-Ḥayy al-Qayyūm → fondasi tauhid eksistensial.
• Tidak diserahkan pada nafs → inti suluk dan fana ego.
• Islah menyeluruh → taufiq zahir & batin.
• Hirz & aman → penjagaan lahir dan batin sampai akhir hayat.
🌿 Makna “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm…” Menurut Hadis
1️⃣ Doa Saat Kegelisahan dan Kesulitan. Dalam hadis disebutkan Nabi mengajarkan agar membaca:
“Yā Ḥayyu Yā Qayyūm bi raḥmatika astaghīts.” Maknanya: doa ini adalah istighāthah (permohonan darurat) ketika hati tertekan.
2️⃣ Mengandung Ism al-A‘ẓam
Beberapa riwayat menyebut nama “Al-Ḥayy al-Qayyūm” termasuk bagian dari Ism Allah al-A‘ẓam (Nama Agung). Maknanya: doa ini memiliki kedudukan tinggi dalam mustajab.
3️⃣ Pengakuan Tauhid Rubūbiyyah
Hadis menegaskan Allah adalah Al-Ḥayy (tidak mati) dan Al-Qayyūm (menegakkan makhluk). Maknanya: doa ini memperbarui iman kepada kebergantungan total kepada Allah.
4️⃣ Permohonan Rahmat Sebelum Amal. Redaksi “bi raḥmatika” menunjukkan pertolongan datang dari rahmat, bukan semata amal.
Dalam hadis disebut: Tidak seorang pun masuk surga hanya karena amalnya kecuali dengan rahmat Allah.
5️⃣ Larangan Bersandar pada Nafs
Dalam riwayat doa Nabi: “Wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘ayn. Maknanya: bahaya terbesar adalah ketika Allah membiarkan hamba dengan egonya.
6️⃣ Doa Pagi dan Petang
Dalam sebagian hadis, doa ini dianjurkan dibaca pagi dan sore sebagai penjagaan harian.
Maknanya: ia berfungsi sebagai ḥirz (perlindungan spiritual).
7️⃣ Islah Seluruh Urusan
Riwayat menyebut Nabi memohon agar seluruh urusan diperbaiki.
Maknanya: Islam tidak memisahkan dunia dan akhirat—semuanya dalam lingkup taufiq Ilahi.
8️⃣ Bukti Faqr (Kefakiran Makhluk)
Hadis qudsi dan riwayat lain menegaskan manusia lemah dan butuh pertolongan terus-menerus.
Maknanya: doa ini adalah ekspresi ubūdiyyah murni.
9️⃣ Doa Penjagaan dari Fitnah
Sebagian riwayat menyebut dibaca saat takut dari kezaliman atau gangguan. Maknanya: perlindungan lahir dan batin.
🔟 Menghidupkan Hati
Dalam riwayat Ahlul Bait, zikir “Yā Ḥayyu” menghidupkan qalb yang mati oleh dosa. Maknanya: doa ini bukan hanya penyelamat dari bahaya fisik, tetapi kebangkitan spiritual.
🌿 Kesimpulan Hadis
Menurut hadis:
• Doa ini adalah istighāthah darurat.
• Mengandung Nama Agung Allah.
• Mengajarkan tawakkal total.
• Melindungi dari dominasi nafs.
• Menghadirkan rahmat dan islah menyeluruh.
🌿 Makna Doa “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm…” Menurut Hadis Ahlul Bait (as) Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait (as), doa ini termasuk doa istighāthah dan ḥirz (perlindungan). Redaksinya dinukil dalam kitab-kitab seperti Al-Kāfī, ‘Uyūn Akhbār ar-Riḍā, dan kompilasi doa seperti Mafātīḥ al-Jinān, melalui jalur para Imam, di antaranya Imam Ja’far al-Sadiq dan Imam Ali Zainal Abidin, serta dinisbatkan pula kepada Fatimah bint Muhammad.
Berikut 10 maknanya menurut kandungan riwayat Ahlul Bait:
1️⃣ Termasuk Doa Istighāthah Para Imam. Riwayat menyebut para Imam membaca “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm” saat menghadapi kesempitan.
Maknanya: ini doa pertolongan cepat (faraj ‘ājil).
2️⃣ Mengandung Ism al-A‘ẓam
Dalam riwayat disebutkan bahwa “Al-Ḥayy al-Qayyūm” termasuk inti Nama Agung Allah. Maknanya: doa ini memiliki kekuatan mustajab bila dibaca dengan yakin.
3️⃣ Zikir Penghidup Qalb
Imam as-Sadiq (as) menjelaskan bahwa hati yang keras dihidupkan dengan zikir nama Allah.
Maknanya: “Yā Ḥayyu” adalah seruan kehidupan ruhani.
4️⃣ Pengakuan Faqr Mutlak
Riwayat Ahlul Bait menekankan manusia fakir secara hakiki kepada Allah. Maknanya: “Bi raḥmatika astaghīts” adalah pengakuan kehinaan hamba.
5️⃣ Bahaya Diserahkan pada Nafs
Dalam riwayat doa para Imam terdapat permohonan agar tidak diserahkan kepada diri sendiri walau sesaat. Maknanya: nafs tanpa hidayah adalah sumber penyimpangan.
6️⃣ Perlindungan dari Waswas dan Syaitan. Sebagian riwayat menyebut doa ini dibaca untuk penjagaan dari gangguan batin.
Maknanya: ḥirz spiritual bagi hati.
7️⃣ Islah Zahir dan Batin
“Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū” dalam riwayat dijelaskan mencakup agama, dunia, niat, dan akhirat.
Maknanya: permohonan taufiq menyeluruh.
8️⃣ Doa Pagi dan Petang
Ahlul Bait menganjurkan membaca doa istighāthah pada waktu pagi dan sore. Maknanya: penjagaan harian dari fitnah.
9️⃣ Tanda Tawakkal Sejati
Riwayat menegaskan tawakkal bukan meninggalkan usaha, tetapi tidak bersandar pada usaha.
Maknanya: inti doa ini adalah penyerahan total.
🔟 Jalan Menuju Wilāyah
Dalam riwayat makrifat, perlindungan hakiki adalah berada dalam wilayah Allah dan wali-wali-Nya. Maknanya: doa ini menjaga hati tetap dalam garis ketaatan.
🌿 Inti Menurut Hadis Ahlul Bait
• Mengandung Ism al-A‘ẓam
• Doa darurat para Imam
• Penjaga dari nafs dan syaitan
• Penghidup qalb
• Permohonan islah total
🌿 Makna “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm…”
Menurut Para Mufasir (Tafsir atas Asmā’ & Kandungan Doa)
Para mufasir menafsirkan doa ini melalui ayat-ayat yang memuat Al-Ḥayy dan Al-Qayyūm (terutama QS Al-Baqarah:255 dan Ali ‘Imran:2). Berikut ringkasan maknanya menurut tafsir klasik dan Syiah:
1️⃣ Al-Ḥayy = Hidup yang Sempurna dan Abadi
Menurut Ibn Kathir, Al-Ḥayy berarti hidup yang sempurna, tidak didahului ketiadaan dan tidak diakhiri kematian. Makna doa: kita memohon kepada Dzat yang hidup-Nya tidak pernah lemah.
2️⃣ Al-Qayyūm = Penegak Segala Wujud. Menurut Al-Tabari, Al-Qayyūm adalah yang menegakkan, mengatur, dan memelihara seluruh makhluk. Makna doa: semua urusan hanya tegak dengan kehendak-Nya.
3️⃣ Gabungan Dua Nama = Puncak Tauhid. Menurut Fakhr al-Din al-Razi, penggabungan Al-Ḥayy dan Al-Qayyūm mencakup seluruh sifat kesempurnaan Allah. Makna doa: ini adalah inti tauhid rubūbiyyah dan ulūhiyyah.
4️⃣ Ism al-A‘ẓam.
Menurut Al-Qurtubi, banyak ulama berpendapat dua nama ini termasuk dalam Ism Allah al-A‘ẓam.
Makna doa: peluang ijabahnya sangat besar bila disertai khusyuk.
5️⃣ “Bi Raḥmatika Astaghīts” = Rahmat Mendahului Murka
Dalam tafsir, rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Makna doa: pertolongan datang dari kasih sayang-Nya, bukan semata keadilan-Nya.
6️⃣ Tidak Diserahkan pada Nafs
Menurut tafsir ayat tentang nafs (QS Yusuf:53), mufasir menjelaskan nafs cenderung pada keburukan.
Makna doa: hamba memohon penjagaan dari dorongan ego.
7️⃣ Ṭarfata ‘Ayn = Simbol Ketergantungan Total
Mufasir menjelaskan ungkapan “sekejap mata” sebagai metafora waktu paling singkat. Makna doa: manusia tidak mandiri walau sesaat.
8️⃣ Islah Menyeluruh
Menurut tafsir ayat-ayat islāḥ, perbaikan mencakup iman, amal, dan hubungan sosial. Makna doa: permohonan keseimbangan dunia-akhirat.
9️⃣ Tawakkal Aktif
Mufasir menegaskan tawakkal bukan pasif, tapi bersandar hati pada Allah sambil berusaha. Makna doa: inti tawakkal adalah tidak bersandar pada diri.
🔟 Kehidupan Hati
Dalam tafsir irfani (seperti dalam karya Allama Tabatabai), kehidupan hakiki adalah kehidupan ruhani.
Makna doa: “Yā Ḥayyu” menghidupkan qalb dengan cahaya ma‘rifat, dan “Yā Qayyūm” menegakkannya dalam kebenaran.
🌿 Kesimpulan Tafsir
Menurut para mufasir:
• Dua asma ini merangkum kesempurnaan sifat Allah.
• Doa ini adalah pernyataan tauhid eksistensial.
• Ia menegaskan kefakiran makhluk dan kebutuhan total kepada Allah.
• Islah dan perlindungan adalah buah dari tawakkal sejati.
🌿 Makna “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm…”
Menurut Mufasir Ahlul Bait (as)
Penafsiran berikut merujuk pada tafsir yang bersumber dari riwayat para Imam Ahlul Bait dan karya mufasir Syiah seperti Tafsīr al-‘Ayyāshī, Tafsīr al-Qummī, serta pendekatan irfani dalam Al-Mīzān karya Allama Tabatabai. Ayat pusatnya adalah QS Al-Baqarah:255 dan Ali ‘Imran:2 tentang Al-Ḥayy al-Qayyūm.
1️⃣ Al-Ḥayy = Sumber Kehidupan Hakiki. Riwayat dari Imam Ja’far al-Sadiq menjelaskan bahwa kehidupan Allah bukan seperti makhluk; Dia hidup tanpa permulaan dan tanpa sebab. Makna doa: memohon kepada Dzat yang hidup-Nya menjadi sumber hidup ruhani hamba.
2️⃣ Al-Qayyūm = Penegak Seluruh Wujud. Dalam tafsir Ahlul Bait, Qayyūm berarti semua makhluk berdiri dengan-Nya dan karena-Nya.
Makna doa: kita tidak memiliki kemandirian ontologis—setiap detik bergantung pada-Nya.
3️⃣ Gabungan Dua Nama = Inti Tauhid. Riwayat menyebut dua nama ini mencakup seluruh kesempurnaan sifat Ilahi. Makna doa: ini adalah ringkasan tauhid dalam satu seruan.
4️⃣ Bi Raḥmatika Astaghīts = Jalan Rahmat. Menurut riwayat, rahmat Allah mendahului murka-Nya.
Makna doa: pertolongan datang melalui jalur rahmat, bukan sekadar keadilan.
5️⃣ Tidak Diserahkan pada Nafs
Dalam penafsiran ayat tentang nafs, Imam as-Sadiq (as) menjelaskan bahwa nafs tanpa hidayah condong pada keburukan. Makna doa: permohonan agar hati selalu dalam bimbingan Ilahi.
6️⃣ Ṭarfata ‘Ayn = Kefakiran Eksistensial. Para mufasir Ahlul Bait menafsirkan ungkapan “sekejap mata” sebagai isyarat bahwa keberadaan makhluk terus-menerus butuh limpahan wujud dari Allah.
Makna doa: tanpa tajalli-Nya, wujud hamba runtuh.
7️⃣ Islah Seluruh Urusan
“Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū” dalam tafsir Syiah mencakup agama, dunia, akhlak, dan wilayah (loyalitas spiritual). Makna doa: memohon taufiq menyeluruh, bukan parsial.
8️⃣ Ism al-A‘ẓam
Dalam riwayat Ahlul Bait disebut bahwa “Al-Ḥayy al-Qayyūm” termasuk inti Ism Allah al-A‘ẓam.
Makna doa: ia memiliki kedudukan khusus dalam ijabah.
9️⃣ Kehidupan Qalb
Dalam pendekatan irfani (misalnya dalam tafsir Allama Tabatabai), kehidupan sejati adalah kesadaran ruhani. Makna doa: “Yā Ḥayyu” menghidupkan hati dengan cahaya ma‘rifat.
🔟 Wilayah sebagai Benteng
Dalam riwayat, perlindungan hakiki adalah berada dalam wilayah Allah dan wali-Nya.Makna doa: “hirz” bukan sekadar penjagaan fisik, tetapi penjagaan iman dan istiqamah.
🌿 Inti Tafsir Ahlul Bait
Menurut mufasir Ahlul Bait (as):
• Dua asma ini merangkum tauhid dan qiyām wujud.
• Manusia fakir secara ontologis kepada Allah.
• Doa ini adalah latihan kesadaran ketergantungan total.
• Islah dan penjagaan adalah buah dari rahmat dan wilayah.
🌿 Makna “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm…”
Menurut Ahli Ḥaqīqat & Ma‘rifat
Dalam pendekatan hakikat—sebagaimana diuraikan para arif dalam jalur wilāyah Ahlul Bait dan diperdalam secara filosofis-irfani oleh Mulla Sadra serta secara tafsir batin oleh Allama Tabatabai—doa ini bukan sekadar permintaan, tetapi peta perjalanan ruh dari ego menuju fana dan baqā’.
1️⃣ “Yā Ḥayyu” → Sumber Hidup Hakiki. Hakikat hidup bukan gerak jasad, tapi kesadaran Ilahi dalam qalb. Ahli ma‘rifat berkata: hati hidup ketika ia menyaksikan (syuhūd) ketergantungannya pada Allah.
2️⃣ “Yā Qayyūm” → Qiyām Wujud
Seluruh wujud berdiri karena limpahan-Nya setiap saat (tajaddud al-khalq).Artinya: keberadaan kita diperbarui terus-menerus oleh-Nya.
3️⃣ Seruan Ganda → Fana dari Diri
Mengulang dua asma agung ini memotong keterikatan pada sebab-sebab. Hakikatnya: berpindah dari melihat makhluk ke menyaksikan Musabbib (Penyebab).
4️⃣ “Bi Raḥmatika Astaghīts” → Tenggelam dalam Rahmat
Rahmat adalah nafas wujud.
Ahli hakikat memaknainya sebagai limpahan eksistensi Ilahi yang menjaga makhluk dari ketiadaan.
5️⃣ “Fa Aghitsnī” → Jeritan Fitrah
Ini bukan sekadar permintaan, tapi seruan dari kedalaman ruh saat ia sadar akan kefakiran totalnya (faqr dzātī).
6️⃣ “Wa Lā Takilnī Ilā Nafsī” → Bahaya Ego. Nafs adalah hijab terbesar. Jika diserahkan pada diri, manusia jatuh pada ilusi kemandirian. Hakikatnya: keselamatan adalah ketika Allah sendiri yang mengurus kita.
7️⃣ “Ṭarfata ‘Ayn” → Ketergantungan Kontinu
Ahli ma‘rifat memahami bahwa wujud makhluk tidak bertahan walau sesaat tanpa tajalli Ilahi.
Setiap detik adalah karunia baru.
8️⃣ “Wa Aṣliḥ Lī Sha’nī Kullahū” → Islah Eksistensial. Islah bukan hanya perbaikan perilaku, tapi harmonisasi seluruh dimensi wujud dengan kehendak Ilahi.
9️⃣ Hirz = Kesadaran Ilahi
Benteng sejati bukan lafaz, tetapi kesadaran terus-menerus akan kehadiran Allah (ḥuḍūr qalb).
🔟 Rahasia Wilāyah
Dalam jalan Ahlul Bait, doa ini adalah latihan bergantung sepenuhnya pada Allah melalui jalur wilāyah.
Hakikatnya: • “Yā Ḥayyu” → fana dari mati ruhani. • “Yā Qayyūm” → baqā’ dalam penegakan Ilahi.
🌿 Ringkasan Hakikat
Menurut ahli ma‘rifat:
• Doa ini adalah deklarasi kefakiran ontologis.
• Latihan fana dari ego.
• Permohonan baqā’ bersama Allah.
• Penghidupan qalb dengan cahaya tauhid.
🌹 Makna “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm…”
Menurut Ahli Ḥaqīqat Syiah (Irfān Wilāyah) Dalam irfān Syiah—yang berpijak pada tauhid, nubuwwah, dan wilāyah Ahlul Bait—doa ini dipahami sebagai peta ontologis wujud dan latihan fana–baqā’. Penjelasan berikut selaras dengan pendekatan hikmah–irfān yang dirumuskan oleh Mulla Sadra dan tafsir batin yang diperdalam oleh Allama Tabatabai.
1️⃣ “Yā Ḥayyu” → Ḥayāt Dzātiyyah (Hidup Esensial). Allah hidup dengan kehidupan yang identik dengan Dzat-Nya. Hakikatnya: segala hidup makhluk adalah bayangan dari Hidup-Nya.
2️⃣ “Yā Qayyūm” → Qiyām bi Nafsih & Qiyām al-Ghayr
Allah berdiri dengan Diri-Nya dan menegakkan selain-Nya.
Makhluk tidak punya kemandirian ontologis; wujudnya “berdiri” karena-Nya.
3️⃣ Tajaddud al-Khalq (Pembaruan Wujud) Menurut hikmah muta‘āliyah, wujud makhluk terus diperbarui setiap saat. Maknanya: jika tajalli terhenti sesaat, makhluk kembali pada ‘adam.
4️⃣ “Bi Raḥmatika Astaghīts” → Rahmat sebagai Nafas Wujud
Rahmat bukan hanya kasih sayang moral, tetapi limpahan eksistensi.
Ahli hakikat menyebutnya faidh wujūdī (emanasi wujud).
5️⃣ “Fa Aghitsnī” → Istighāthah Fitrah. Ini jeritan ruh ketika sadar akan faqr dzātī (kemiskinan hakiki).
Hakikatnya: hanya Allah yang menjadi sandaran sejati.
6️⃣ “Wa Lā Takilnī Ilā Nafsī” → Hijab Ego. Dalam irfān Syiah, nafs adalah hijab terbesar antara hamba dan Allah. Diserahkan pada diri berarti terhijab dari cahaya wilāyah.
7️⃣ “Ṭarfata ‘Ayn” → Ketergantungan Kontinu
Sekejap mata melambangkan bahwa ketergantungan itu terus-menerus. Wujud kita bukan milik kita; ia pinjaman yang diperbarui.
8️⃣ “Wa Aṣliḥ Lī Sha’nī Kullahū” → Islah Ontologis. Islah bukan hanya moral, tetapi penyelarasan seluruh wujud dengan iradah Ilahi. Artinya: hidup selaras dengan garis wilāyah.
9️⃣ Hirz sebagai Wilāyah
Benteng hakiki menurut irfān Syiah adalah berada dalam lingkaran wilāyah Ilahi yang termanifestasi melalui Ahlul Bait (as).
Perlindungan batin terjadi saat hati tersambung pada cahaya mereka.
🔟 Fana dan Baqā’
Doa ini adalah latihan fana (lenyapnya ego) dan baqā’ (bertahan dengan Allah).
• “Yā Ḥayyu” → fana dari kematian ruhani.
• “Yā Qayyūm” → baqā’ dalam penegakan Ilahi.
🌿 Inti Hakikat Syiah
Menurut ahli hakikat Syiah:
• Wujud makhluk adalah faqir secara dzati.
• Rahmat Allah adalah sumber eksistensi.
• Ego adalah hijab terbesar.
• Wilāyah adalah benteng keselamatan ruh.
• Doa ini adalah perjalanan dari kesadaran diri menuju kesadaran Ilahi.
🌹 Kisah & Cerita tentang Doa
“Yā Ḥayyu Yā Qayyūm, bi raḥmatika astaghīts…”
(dalam riwayat dan kisah para salik Ahlul Bait)
1️⃣ Doa dari Nabi yg diajarkan saat Kegelisahan. Diriwayatkan bahwa Prophet Muhammad ketika menghadapi kesulitan membaca:
“Yā Ḥayyu Yā Qayyūm bi raḥmatika astaghīts.” Para sahabat melihat beliau mengulangnya dengan penuh khusyuk hingga dada terasa lapang.
Pelajaran: doa ini adalah istighāthah saat hati tertekan.
2️⃣ Munajat Imam as-Sajjad di Malam Sunyi
Imam Ali Zainal Abidin dikenal memperbanyak doa istighāthah dalam munajat malam.
Disebutkan beliau menangis dan memohon agar tidak diserahkan kepada nafs walau sekejap.
Pelajaran: wali Allah pun takut pada ego dirinya.
3️⃣ Riwayat Imam Ja‘far as-Sadiq tentang Ism al-A‘ẓam
Imam Ja’far al-Sadiq menyebut bahwa di antara nama agung Allah adalah Al-Ḥayy al-Qayyūm.
Seorang sahabat yang dilanda kesempitan dianjurkan membacanya, lalu ia menyaksikan kemudahan datang bertahap.
Pelajaran: kekuatan doa terletak pada keyakinan dan ma‘rifat.
4️⃣ Kisah Seorang Tawanan yang Diselamatkan. Dalam literatur doa Syiah, dikisahkan seorang mukmin dipenjara secara zalim. Ia membaca doa ini berulang-ulang di malam hari.
Beberapa hari kemudian, sebab-sebab pembebasan terbuka secara tak terduga. Pelajaran: pertolongan Allah sering datang melalui sebab yang tak disangka.
5️⃣ Sayyidah az-Zahrā’ dan Doa Perlindungan. Dinisbatkan kepada Fatimah bint Muhammad bahwa beliau mengajarkan doa perlindungan untuk menjaga diri dan keluarga dari gangguan.
Pelajaran: hirz hakiki adalah tawakkal total, bukan sekadar lafaz.
6️⃣ Ulama yang Menghadapi Fitnah
Seorang alim Syiah dalam masa tekanan politik memperbanyak zikir “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm.”
Ia berkata: “Aku merasa ditegakkan (Qayyūm) saat semua penopang lahir runtuh.”
Pelajaran: Qayyūmiyyah Allah lebih kokoh dari dukungan manusia.
7️⃣ Kisah Seorang Salik dan Ego
Seorang murid irfan mengadu kepada gurunya tentang bisikan ujub. Sang guru memerintahkannya membaca: “Wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘ayn.” Beberapa bulan kemudian, ia merasakan kelembutan hati dan hilangnya kesombongan.
Pelajaran: inti doa ini adalah mematahkan ego.
8️⃣ Doa di Saat Sakit Berat
Seorang mukminah yang sakit keras membaca doa ini setiap pagi dan sore. Ia berkata bukan kesembuhan yang paling ia rasakan, tetapi ketenangan dan ridha.
Pelajaran: pertolongan Allah kadang berupa ketenangan batin.
9️⃣ Kisah Seorang Pedagang yang Hampir Bangkrut. Dalam kesempitan ekonomi, ia memperbanyak doa ini setelah shalat. Perlahan ia menemukan jalan keluar dan rezeki yang tak terduga.
Pelajaran: “Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū” mencakup urusan dunia.
🔟 Pengalaman Ahli Ma‘rifat
Seorang arif berkata:”Setiap kali aku membaca ‘Yā Ḥayyu,’ aku merasa dihidupkan; dan ketika ‘Yā Qayyūm,’ aku merasa ditegakkan.”Pelajaran: doa ini adalah perjalanan fana dari diri menuju baqā’ bersama Allah.
🌿 Inti dari 10 Kisah
• Doa ini dibaca dalam kesempitan, sakit, ketakutan, dan ujian.
• Mengandung Ism al-A‘ẓam.
• Menjaga dari dominasi nafs.
• Membuka jalan pertolongan lahir dan batin.
• Menguatkan tawakkal dan wilāyah.
🌹 10 Manfaat Doa
“Yā Ḥayyu Yā Qayyūm, bi raḥmatika astaghīts…”
(dalam tradisi Ahlul Bait as)
Doa ini diriwayatkan dibaca oleh Prophet Muhammad dalam kesempitan, dan dianjurkan dalam riwayat para Imam seperti Imam Ja’far al-Sadiq serta dinisbatkan pula sebagai ḥirz kepada Fatimah bint Muhammad.
Berikut 10 manfaat beserta cara/doa pengamalannya:
1️⃣ Menghilangkan Kegelisahan
Manfaat: Menenangkan hati saat cemas atau tertekan.
Cara: Baca 7 atau 33 kali setelah shalat dengan khusyuk.
2️⃣ Membuka Jalan Keluar (Faraj)
Manfaat: Membuka solusi saat terhimpit masalah.
Cara: Dibaca 100 kali di malam hari, lalu sujud dan ulangi:
“Fa aghitsnī” (Tolonglah aku).
3️⃣ Perlindungan dari Nafs dan Waswas. Manfaat: Menjaga hati dari ego dan bisikan buruk.
Cara: Fokus pada kalimat:
“Wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘ayn.”
Renungkan maknanya sebelum tidur.
4️⃣ Mendatangkan Islah Menyeluruh. Manfaat: Perbaikan urusan agama dan dunia.
Cara: Baca setelah shalat Subuh:
“Wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū.”
5️⃣ Menguatkan Tawakkal
Manfaat: Hati tidak mudah goyah oleh keadaan. Cara: Bacalah saat menghadapi keputusan penting.
6️⃣ Mendekatkan kepada Rahmat Allah. Manfaat: Membuka pintu rahmat dan ampunan.
Cara: Baca 11 kali di antara adzan dan iqamah.
7️⃣ Penjagaan dari Bahaya
Manfaat: Sebagai ḥirz (perlindungan spiritual). Cara: Dibaca pagi dan sore 3 atau 7 kali.
8️⃣ Menghidupkan Qalb
Manfaat: Menghilangkan kerasnya hati. Cara: Ucapkan perlahan “Yā Ḥayyu” dengan menghadirkan rasa butuh.
9️⃣ Menegakkan Hati dalam Istiqamah. Manfaat: Menjaga iman dari penyimpangan.
Cara: Gabungkan dengan doa:
“Yā Muqallibal-qulūb, thabbit qalbī ‘alā dīnik.”
🔟 Latihan Fana dari Ego
Manfaat: Mengikis rasa ujub dan sombong. Cara: Ulangi kalimat lengkap doa ini setiap malam sebelum tidur dengan tafakur maknanya.
🌿 Teks Doa Lengkap
اللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ،
بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، فَأَغِثْنِي،
وَلَا تَكِلْنِي إِلَىٰ نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا،
وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ.
Allāhumma yā Ḥayyu yā Qayyūm,
bi raḥmatika astaghītsu fa aghitsnī,
wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘aynin abadan, wa aṣliḥ lī sha’nī kullahū.
🌙 Inti Manfaatnya
• Doa ini mengandung Ism al-A‘ẓam.
• Melatih kesadaran kefakiran kepada Allah.
• Menjadi benteng dari ego dan fitnah.
• Membuka rahmat dan taufiq menyeluruh.
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment