Makna Taat
Makna ṭhā‘ah (الطاعة) — ketaatan — dari sisi bahasa, Al-Qur’an, hadis, dan makrifat:
1️⃣ Tunduk dan Patuh secara Lahir
Makna bahasa: mengikuti perintah tanpa menentang.
📖 “Aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūl” — Taatilah Allah dan Rasul. (QS. An-Nisā’ 59) ➡ Ṭhā‘ah adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan secara nyata.
2️⃣ Ketaatan karena Cinta
Bukan sekadar takut hukuman, tapi karena mahabbah.
📖 “Qul in kuntum tuḥibbūnallāha fattabi‘ūnī…” (QS. Āli ‘Imrān 31)
➡ Tanda cinta kepada Allah adalah mengikuti Rasul.
3️⃣ Ketaatan sebagai Ibadah
Setiap ketaatan bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.
Bahkan hal duniawi (makan, bekerja) menjadi ṭhā‘ah bila diniatkan lillāh.
4️⃣ Ṭhā‘ah dengan Ilmu
Ketaatan harus berdasarkan ilmu, bukan ikut-ikutan.
Imam Ali (as): “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khāliq.” ➡ Ada batas dan prinsip dalam taat.
5️⃣ Ṭhā‘ah dalam Ujian
Taat saat mudah itu biasa.
Taat saat sulit itulah maqām hamba sejati. Contoh: Nabi Ibrahim (as) ketika diperintah menyembelih Ismail.
6️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Jalan Keselamatan
📖 “Wa man yuṭi‘illāha wa rasūlahu faqad fāza fawzan ‘aẓīmā” (QS. Al-Ahzāb 71) ➡ Siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ia mendapat kemenangan besar.
7️⃣ Ṭhā‘ah Melahirkan Cahaya Hati
Dalam makrifat: Ketaatan → penyucian jiwa → terbukanya nur. Dosa menggelapkan hati, taat meneranginya.
8️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Bukti Iman
Iman tanpa taat adalah klaim kosong. 📖 “Sami‘nā wa aṭa‘nā” — Kami dengar dan kami taat. (QS. Al-Baqarah 285) ➡ Ucapan orang beriman.
9️⃣ Ṭhā‘ah Mengundang Wilayah Ilahi. Dalam hadis Ahlul Bayt:
Ketaatan mendekatkan hamba pada wilayah (kedekatan khusus) Allah.
Semakin taat → semakin dalam rasa hadir-Nya.
🔟 Ṭhā‘ah sebagai Fana’ Kehendak
Dalam maqām hakikat:
Taat tertinggi adalah ketika kehendak pribadi larut dalam kehendak Allah. Bukan lagi “aku ingin”, tapi “apa yang Allah ridha”.
🌿 Ringkasan Tingkatan Ṭhā‘ah
1. Taat karena takut
2. Taat karena harap pahala
3. Taat karena cinta
4. Taat karena mengenal (makrifat)
Semakin tinggi makrifat, semakin lembut dan ikhlas ṭhā‘ahnya.
Menurut Al-Qur’an, disertai ayat dan penjelasan ringkas tadabbur:
1️⃣ Taat kepada Allah sebagai Poros Kehidupan
📖 QS. An-Nisā’ 59 ; Aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūl… “Taatilah Allah dan taatilah Rasul…” ➡ Ṭhā‘ah pertama dan utama adalah kepada Allah — semua ketaatan lain mengikuti poros ini.
2️⃣ Taat kepada Rasul sebagai Bentuk Taat kepada Allah
📖 QS. An-Nisā’ 80; Man yuṭi‘ir-rasūla faqad aṭā‘allāh;”Barang siapa taat kepada Rasul, sungguh ia telah taat kepada Allah.” ➡ Rasul adalah manifestasi praktis wahyu.
3️⃣ Taat Mengantarkan pada Rahmat. 📖 QS. Āli ‘Imrān 132; “Wa aṭī‘ullāha war-rasūla la‘allakum turḥamūn. “Taatilah Allah dan Rasul agar kalian dirahmati.” ➡ Rahmat Allah turun melalui jalur ketaatan.
4️⃣ Taat Membawa Keberuntungan Besar. 📖 QS. Al-Ahzāb 71; “Wa man yuṭi‘illāha wa rasūlahu faqad fāza fawzan ‘aẓīmā. “Siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ia memperoleh kemenangan besar.”
➡ Fawz ‘azhīm = keselamatan dunia-akhirat.
5️⃣ Ciri Orang Beriman: “Kami dengar dan kami taat”. 📖 QS. Al-Baqarah 285(“Sami‘nā wa aṭa‘nā
“Kami dengar dan kami taat.”
➡ Iman sejati tidak membantah perintah Ilahi.
6️⃣ Taat dalam Kebaikan (Ada Batasnya). 📖 QS. Al-‘Ankabūt 8
Jika orang tua memerintahkan syirik, tidak boleh ditaati.
➡ Tidak ada ṭhā‘ah dalam maksiat.
Taat kepada makhluk dibatasi oleh ketaatan kepada Allah.
7️⃣ Taat Menghapus Dosa
📖 QS. Al-Fatḥ 17; Wa man yuṭi‘illāha wa rasūlahu yudkhilhu jannāt…Taat kepada Allah dan Rasul → masuk surga.”➡ Ketaatan adalah sebab ampunan dan surga.
8️⃣ Taat sebagai Ujian Kejujuran
📖 QS. An-Nūr 51; “Ucapan orang mukmin hanyalah: kami dengar dan kami taat.”➡ Ketaatan diuji saat hukum Allah tidak sesuai hawa nafsu.
9️⃣ Taat Menguatkan Persatuan
📖 QS. Āli ‘Imrān 103; Berpegang pada tali Allah dan jangan bercerai-berai. ➡ Ketaatan kolektif menjaga umat dari perpecahan.
🔟 Taat Melahirkan Kedekatan dengan Para Shiddiqin dan Syuhada. 📖 QS. An-Nisā’ 69 “Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul, mereka bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang saleh.”➡ Ṭhā‘ah menentukan maqam kebersamaan di akhirat.
🌿 Inti Makna Ṭhā‘ah dalam Al-Qur’an
1. Perintah langsung dari Allah
2. Mengikuti Rasul
3. Mendatangkan rahmat
4. Jalan menuju surga
5. Bukti iman
6. Tidak berlaku dalam maksiat
7. Menghapus dosa
8. Ujian keikhlasan
9. Menguatkan umat
10. Mengangkat derajat
Menurut hadis Nabi ﷺ dan riwayat Ahlul Bayt (as), dengan penjelasan ruhaniyahnya:
1️⃣ Ṭhā‘ah kepada Rasul = Ṭhā‘ah kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Man aṭā‘anī faqad aṭā‘allāh.”Siapa yang taat kepadaku, sungguh ia telah taat kepada Allah.” (HR. Bukhari, Muslim) ➡ Ketaatan kepada Nabi bukan personal, tapi representasi wahyu.
2️⃣ Tidak Ada Ketaatan dalam Maksiat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Lā ṭā‘ata li makhlūqin fī ma‘ṣiyatil Khāliq.”Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)
➡ Prinsip batas ṭhā‘ah: Allah di atas segalanya.
3️⃣ Ṭhā‘ah adalah Bukti Iman; “Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
➡ Iman sejati melahirkan kepatuhan batin.
4️⃣ Ṭhā‘ah kepada Pemimpin dalam Kebaikan. Hadis: Wajib atas seorang Muslim mendengar dan taat dalam hal yang ia suka maupun benci, selama tidak diperintahkan maksiat.”(HR. Muslim) ➡ Ketaatan sosial menjaga ketertiban umat.
5️⃣ Ṭhā‘ah Membawa Surga
Rasulullah ﷺ bersabda: “Semua umatku masuk surga kecuali yang enggan.”Sahabat bertanya: Siapa yang enggan? Beliau menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga, dan siapa yang durhaka berarti ia enggan.” (HR. Bukhari)
➡ Surga terkait langsung dengan ṭhā‘ah.
6️⃣ Ṭhā‘ah Melahirkan Cinta Allah
Hadis Qudsi: “Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan nawafil hingga Aku mencintainya…”➡ Ketaatan yang kontinu → mahabbah Ilahi.
7️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Tanda Wilayah (Riwayat Ahlul Bayt) Imam Ja‘far ash-Shadiq (as): “Barang siapa taat kepada kami, ia telah taat kepada Allah.” ➡ Dalam perspektif Syiah, ketaatan kepada Imam ma‘shum adalah kelanjutan ketaatan kepada Rasul.
8️⃣ Ṭhā‘ah Lebih Berat dari Amal Banyak. Imam Ali (as): “Tidaklah kecil amal yang disertai takwa, dan tidaklah besar amal tanpa ketaatan.”➡ Nilai amal tergantung kualitas taatnya.
9️⃣ Ṭhā‘ah Menghidupkan Hati
Imam Ali (as): “Sesungguhnya ketaatan adalah cahaya.”➡ Maksiat menggelapkan, taat menerangi ruh.
🔟 Ṭhā‘ah Tertinggi adalah Taat karena Cinta. Imam Ali (as): “Sebagian kaum menyembah Allah karena takut — itu ibadah budak. Sebagian karena berharap pahala — itu ibadah pedagang. Dan sebagian menyembah karena cinta — itu ibadah orang merdeka.”
➡ Tingkatan tertinggi ṭhā‘ah adalah mahabbah.
🌿 Ringkasan Makna Ṭhā‘ah Menurut Hadis
1. Representasi wahyu
2. Ada batas (tidak dalam maksiat)
3. Bukti iman
4. Disiplin sosial
5. Jalan surga
6. Mendatangkan cinta Allah
7. Terkait wilayah
8. Menentukan nilai amal
9. Cahaya hati
10. Puncaknya: cinta
Menurut hadis Ahlul Bayt (عليهم السلام) — disarikan dari riwayat dalam Al-Kāfī, Nahjul Balāghah, Tuhaf al-‘Uqūl, dan kitab-kitab hadis Syiah lainnya, dengan pendekatan makna zahir dan batin:
1️⃣ Ṭhā‘ah adalah Jalan Makrifat kepada Allah. Imam Ja‘far ash-Shādiq (as): “Barang siapa taat kepada Allah, ia telah mengenal-Nya.”🌿 Makna: Ketaatan bukan sekadar amal fisik, tetapi tanda ma‘rifah. Semakin dalam pengenalan, semakin ringan taat.
2️⃣ Ṭhā‘ah kepada Imam adalah Ṭhā‘ah kepada Allah. Imam al-Bāqir (as): “Kami adalah pintu Allah… siapa yang taat kepada kami, ia telah taat kepada Allah.” 🌿 Dalam teologi Syiah, ketaatan kepada Imam ma‘shum adalah kelanjutan wilayah Rasulullah ﷺ.
3️⃣ Ṭhā‘ah Lebih Mulia dari Amal Banyak Tanpa Wilayah. Imam ash-Shādiq (as): “Tidak diterima amal kecuali dengan wilayah dan ketaatan.” 🌿 Amal tanpa loyalitas kepada kebenaran (wilayah) tidak sempurna nilainya.
4️⃣ Ṭhā‘ah adalah Cahaya Hati
Imam Ali (as): “Sesungguhnya ketaatan itu cahaya, dan maksiat itu kegelapan.”🌿 Dalam makrifat: taat membuka basirah (mata batin).
5️⃣ Ṭhā‘ah Menguatkan Ruh
Imam Ali (as):”Biasakan dirimu taat, niscaya ia menjadi sifatmu.”
🌿 Ketaatan yang terus-menerus membentuk karakter ruhani.
6️⃣ Ṭhā‘ah Lahir dari Taqwa
Imam al-Hasan al-‘Askari (as): “Siapa yang paling taat kepada Allah, ia paling dekat dengan-Nya.”🌿 Kedekatan Ilahi diukur dengan kualitas ketaatan.
7️⃣ Ṭhā‘ah adalah Syukur Sejati
Imam Ali (as):”Syukur nikmat adalah menggunakan nikmat itu dalam ketaatan.”🌿 Setiap nikmat yang tidak diarahkan kepada taat berubah menjadi hujjah (bukti tuntutan).
8️⃣ Ṭhā‘ah Menghidupkan Hati yang Mati. Imam ash-Shādiq (as): “Hati menjadi hidup dengan ketaatan dan mati dengan maksiat.” 🌿 Hati yang taat lembut, mudah menangis, mudah tersentuh ayat.
9️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Bukti Cinta
Imam Ali (as):”Tidaklah seorang hamba mencintai Allah hingga ia mendahulukan ketaatan atas keinginannya.”🌿 Cinta sejati diuji saat bertentangan dengan hawa nafsu.
🔟 Ṭhā‘ah Puncaknya adalah Ridha
Imam Zainal ‘Ābidīn (as): “Ridha terhadap perintah Allah adalah derajat tertinggi ketaatan.”
🌿 Tingkatan akhir ṭhā‘ah: bukan hanya menjalankan, tetapi ridha dan tenang dalam perintah-Nya.
🌿 Tingkatan Ṭhā‘ah menurut Ahlul Bayt
1. Taat karena takut
2. Taat karena harap pahala
3. Taat karena cinta
4. Taat karena makrifat
5. Taat karena ridha total (taslīm)
Menurut para mufassir (klasik Sunni dan Syiah), dirangkum dari tafsir seperti Ath-Ṭabari, Al-Qurṭubi, Fakhruddin ar-Razi, Ibn Katsir, Al-Mizan (Allamah Thabathaba’i), Majma‘ al-Bayan (Thabarsi) dan lainnya:
1️⃣ Ṭhā‘ah = Iltizām (Komitmen Total terhadap Perintah)
📖 QS. An-Nisa 59; Mayoritas mufassir menjelaskan bahwa ṭhā‘ah berarti iltizām zahir dan batin terhadap perintah Allah dan Rasul, bukan sekadar pengakuan lisan.
➡ Bukan hanya tahu hukum, tapi tunduk sepenuh hati.
2️⃣ Pengulangan “Aṭī‘ū” Menunjukkan Sumber Otoritas
📖 Aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūl…
Ar-Razi dan Thabathaba’i menjelaskan: pengulangan kata aṭī‘ū pada Allah dan Rasul menunjukkan bahwa ketaatan kepada Rasul memiliki otoritas independen karena wahyu. ➡ Rasul bukan sekadar penyampai, tapi penafsir dan pembimbing wahyu.
3️⃣ Ṭhā‘ah Berarti Mengikuti Syariat Secara Praktis
Ibn Katsir: ketaatan adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan sesuai Sunnah.
➡ Tidak cukup niat baik tanpa ittiba‘ (mengikuti).
4️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Bukti Keimanan
📖 QS. An-Nur 51; Al-Qurṭubi: Ayat ini menunjukkan bahwa ciri orang beriman adalah respon cepat: “Sami‘nā wa aṭa‘nā.” ➡ Penundaan dan perdebatan tanda lemahnya iman.
5️⃣ Ṭhā‘ah Bersyarat dalam Kepemimpinan 📖 QS. An-Nisa 59
Ath-Ṭabari: ketaatan kepada ulil amr bersyarat selama tidak bertentangan dengan Allah dan Rasul.
➡ Tidak absolut seperti ketaatan kepada Allah.
6️⃣ Ṭhā‘ah Menghasilkan Rahmat
📖 QS. Ali ‘Imran 132. Menurut Majma‘ al-Bayan: rahmat Allah terkait langsung dengan kontinuitas ketaatan. ➡ Rahmat bukan kebetulan, tapi konsekuensi spiritual.
7️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Jalan Wilayah (Perspektif Tafsir Syiah)
Allamah Thabathaba’i (Al-Mizan):
Ketaatan dalam QS 4:59 menunjukkan sistem wilayah Ilahi — Allah → Rasul → Ulil Amr (yang ma‘shum menurut tafsir Syiah).
➡ Ṭhā‘ah membentuk struktur kepemimpinan spiritual.
8️⃣ Ṭhā‘ah Menghapus Dosa dan Mengangkat Derajat
📖 QS. An-Nisa 69. Fakhruddin ar-Razi: ayat ini menunjukkan bahwa ketaatan bukan hanya menyelamatkan, tapi juga menentukan maqam kebersamaan di akhirat. ➡ Derajat akhirat proporsional dengan kualitas taat.
9️⃣ Ṭhā‘ah adalah Lawan dari Ittibā‘ Hawa Nafsu. 📖 QS. Al-Qashash 50. Para mufassir menjelaskan bahwa ketika seseorang tidak mengikuti wahyu, ia sedang mengikuti hawa nafsu.
➡ Hidup hanya punya dua arah: taat atau hawa.
🔟 Ṭhā‘ah sebagai Ibadah Hati dan Amal. Sebagian mufassir tasawuf (Al-Alusi, Qusyairi) menjelaskan:
Ṭhā‘ah zahir tanpa tunduknya hati belum sempurna.
➡ Ketaatan hakiki menyatukan:
• Amal anggota badan
• Ketundukan hati
• Ridha terhadap hukum
🌿 Kesimpulan Mufassir
Menurut para ahli tafsir, ṭhā‘ah mencakup:
1. Komitmen lahir-batin
2. Mengikuti wahyu dan Sunnah
3. Bukti iman
4. Terikat syarat dalam kepemimpinan
5. Jalan rahmat dan surga
6. Struktur wilayah Ilahi
7. Penentu derajat akhirat
8. Lawan hawa nafsu
9. Amal + hati
10. Kesinambungan (istiqamah)
Menurut mufasir Syiah, dirangkum dari tafsir seperti Al-Mīzān (Allāmah Thabāthabā’ī), Majma‘ al-Bayān (Ath-Ṭabarsī), Tafsīr al-Qummī, dan Tafsīr Nemūneh:
1️⃣ Ṭhā‘ah adalah Tunduk Total kepada Sistem Wilayah Ilahi
📖 QS. An-Nisā’ 59; Aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūla wa ulīl-amri minkum Allāmah Thabāthabā’ī menjelaskan: ayat ini membentuk rantai ketaatan vertikal: Allah → Rasul → Ulil Amr. Dalam tafsir Syiah, ulil amr adalah para Imam ma‘shum. ➡ Ṭhā‘ah bukan parsial, tapi masuk dalam sistem kepemimpinan Ilahi.
2️⃣ Pengulangan “Aṭī‘ū” Menunjukkan Otoritas Mandiri
Kata aṭī‘ū diulang pada Allah dan Rasul, namun tidak diulang pada ulil amr. Penjelasan Al-Mīzān:
Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Imam bersumber dari ketaatan kepada Rasul, bukan terpisah. ➡ Imam adalah perpanjangan otoritas Nabi.
3️⃣ Ṭhā‘ah Mengharuskan Kemaksuman (Ismah)
Karena Allah memerintahkan taat secara mutlak kepada ulil amr, maka menurut mufasir Syiah, mereka harus ma‘shum (terjaga dari dosa).
➡ Jika tidak ma‘shum, perintah taat mutlak akan kontradiktif dengan larangan maksiat.
4️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Jalan Hidayah Tertinggi. 📖 QS. An-Nisā’ 69 “Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul…” Ath-Ṭabarsī menjelaskan: ketaatan yang dimaksud adalah taat dalam akidah, amal, dan wilayah.
➡ Derajat akhirat bergantung pada kualitas ṭhā‘ah.
5️⃣ Ṭhā‘ah adalah Manifestasi Iman Hakiki. 📖 QS. An-Nūr 51; Sami‘nā wa aṭa‘nā. Tafsīr al-Qummī: ayat ini turun tentang orang-orang yang menerima keputusan Rasul tanpa keberatan. ➡ Ketaatan adalah cermin kemurnian iman.
6️⃣ Ṭhā‘ah Berlawanan dengan Ittibā‘ Hawa 📖 QS. Al-Qashash 50
Dalam Tafsir Nemūneh dijelaskan:
Manusia hanya berada di dua jalur: mengikuti wahyu (ṭhā‘ah) atau mengikuti hawa nafsu.
➡ Tidak ada posisi netral.
7️⃣ Ṭhā‘ah Menghasilkan Nur dalam Hati. Allāmah Thabāthabā’ī menafsirkan ayat-ayat tentang cahaya (QS An-Nūr 35) secara batiniah: Ketaatan menyempurnakan kesiapan jiwa menerima cahaya Ilahi.
➡ Ṭhā‘ah = penyempurna fitrah.
8️⃣ Ṭhā‘ah Adalah Jalan Menuju Wilayah. Dalam tafsir Syiah, banyak ayat ketaatan dipahami terkait konsep wilāyah. ➡ Tanpa ketaatan kepada Imam yang haq, struktur wilayah tidak sempurna.
9️⃣ Ṭhā‘ah Harus Menyeluruh (Zahir & Batin). Al-Mīzān menekankan:
Ketaatan bukan hanya amal lahiriah, tapi juga penerimaan batin terhadap hukum Allah. ➡ Penolakan batin meski taat zahir belum sempurna.
🔟 Ṭhā‘ah Adalah Jalan Kesempurnaan Insan. Menurut tafsir irfani dalam Al-Mīzān: Tujuan akhir ṭhā‘ah adalah menyelaraskan kehendak hamba dengan kehendak Allah. ➡ Dari “aku ingin” menjadi “apa yang Allah kehendaki”.
🌿 Ringkasan Pandangan Mufasir Syiah. Ṭhā‘ah adalah:
1. Masuk dalam sistem wilayah
2. Terhubung dengan kemaksuman Imam
3. Bukti iman sejati
4. Jalan hidayah dan nur
5. Lawan hawa nafsu
6. Syarat kesempurnaan amal
7. Penentu derajat akhirat
8. Kesatuan zahir dan batin
9. Pengikat umat pada kebenaran
10. Jalan menuju insan kamil
Menurut ahli makrifat (‘urafā dan ahli suluk) — yaitu mereka yang memandang ketaatan bukan hanya hukum, tetapi perjalanan ruh menuju Allah:
1️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Penyelarasan Kehendak. Menurut ahli makrifat, taat bukan sekadar menjalankan perintah, tetapi menyatukan iradah (kehendak) hamba dengan iradah Allah. ➡ Dari “aku ingin” menjadi “yang Engkau kehendaki”.
2️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Tajalli Ubudiyyah.Ketaatan adalah penampakan hakikat kehambaan.
Semakin sadar seorang hamba akan kefakirannya, semakin mudah ia taat.
📖 “Antumul fuqarā’u ilallāh” (QS. Fāṭir 15)
3️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Cahaya Batin
Ahli irfan mengatakan: Maksiat mengeraskan hati, ketaatan melembutkannya. Taat yang terus-menerus melahirkan basirah (mata hati).
4️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Jalan Fana’
Pada tingkat tinggi, ketaatan menghapus ego. Bukan lagi taat karena pahala atau takut, tapi karena tidak melihat diri selain sebagai hamba. ➡ Ini maqam fanā’ fi al-irādah (lebur dalam kehendak Allah).
5️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Syukur Hakiki
Ahli makrifat memandang bahwa setiap nikmat adalah amanah.
Taat berarti menggunakan nikmat sesuai kehendak Pemberinya.
6️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Adab kepada Allah. Dalam irfan, adab lebih tinggi dari amal. Taat adalah bentuk adab tertinggi — tidak mendahului Allah dengan pendapat pribadi.
📖 “Lā tuqaddimū baina yadayi Allāh…” (QS. Al-Ḥujurāt 1)
7️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Cinta yang Teruji. Cinta sejati diuji saat perintah Allah bertentangan dengan hawa nafsu. Jika tetap taat, berarti cinta itu benar.
8️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Jalan Tajrid (Penyucian Diri). Setiap ketaatan mengikis satu lapisan hijab (penghalang) antara hamba dan Allah. ➡ Taat → bersih → terang → dekat.
9️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Dzikir Praktis
Bagi ahli suluk, ketaatan adalah dzikir yang hidup. Shalat, sabar, jujur — semuanya adalah bentuk dzikir yang berjalan.
🔟 Ṭhā‘ah sebagai Ridha Total (Taslim). Tingkat tertinggi adalah taslim: menerima seluruh keputusan Allah tanpa protes batin. Ini maqam para wali: Hati mereka tenang dalam perintah maupun larangan.
🌿 Tingkatan Ṭhā‘ah dalam Jalan Makrifat
1. Taat karena takut
2. Taat karena berharap pahala
3. Taat karena cinta
4. Taat karena malu kepada Allah
5. Taat karena tidak melihat diri (fana’)
🌿 Kesimpulan Ahli Makrifat
Ṭhā‘ah bukan hanya:
• Amal anggota badan
Tetapi:
• Penyucian hati
• Peleburan ego
• Penyelarasan kehendak
• Jalan menuju kedekatan (qurb)
Menurut ahli ḥaqīqat Syiah (‘urafā Syiah seperti Sayyid Ḥaidar Āmulī, Mullā Ṣadrā, Allāmah Ṭhābāṭabā’ī dalam dimensi irfānī, dan jalur makrifat Ahlul Bayt):
1️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Realisasi ‘Ubudiyyah Hakiki. Dalam hakikat, manusia dicipta sebagai ‘abd.
Taat adalah aktualisasi identitas ontologis itu. ➡ Bukan sekadar melakukan perintah, tetapi menyadari: aku memang milik-Nya.
2️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Gerak Menuju Insān Kāmil. Menurut filsafat-irfan Syiah, tujuan manusia adalah kesempurnaan (kamāl). Ketaatan adalah sarana tazkiyah (penyucian) agar jiwa naik derajat. ➡ Setiap taat menaikkan maqam wujud.
3️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Manifestasi Wilāyah. Dalam hakikat Syiah, wilayah adalah poros spiritual alam.
Taat kepada Allah → Rasul → Imam ma‘shum adalah masuk dalam orbit wilayah. ➡ Tanpa wilayah, ketaatan kehilangan pusat.
4️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Tajalli Asmā’ Ilāhiyyah. Ahli hakikat melihat bahwa setiap amal taat memantulkan Nama Allah. Contoh:
• Taat dalam adil → tajalli Al-‘Adl
• Taat dalam sabar → tajalli Aṣ-Ṣabūr. ➡ Ketaatan menghidupkan sifat Ilahi dalam diri hamba.
5️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Peleburan Irādah. Mullā Ṣadrā menjelaskan bahwa kesempurnaan jiwa terjadi ketika kehendak hamba selaras dengan kehendak Allah. ➡ Dari dualitas kehendak menuju kesatuan ridha.
6️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Pembuka Ḥijab
Dalam irfan Syiah, dosa menciptakan ḥijab (tirai). Taat yang konsisten mengangkat hijab-hijab itu.
➡ Hijab terangkat → nur wilayah masuk.
7️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Cinta dalam Aksi. Mahabbah tanpa ṭhā‘ah dianggap ilusi. Cinta sejati kepada Allah dan Ahlul Bayt teruji dalam ketaatan praktis.
8️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Syukur Ontologis. Ahli hakikat memandang keberadaan itu sendiri adalah nikmat. Taat adalah cara wujud kembali kepada Sumbernya.
➡ Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn dalam bentuk amal.
9️⃣ Ṭhā‘ah sebagai Jalan Fanā’ dan Baqā’. Pada maqam tinggi:
• Fanā’: lenyapnya ego dalam kehendak Allah
• Baqā’: hidup dengan Allah
➡ Ketaatan menjadi spontan, bukan paksaan.
🔟 Ṭhā‘ah sebagai Nur Wilāyah dalam Hati
Dalam riwayat Ahlul Bayt disebutkan bahwa wilayah adalah cahaya.
Ahli hakikat menjelaskan:
Taat yang lahir dari cinta kepada Imam ma‘shum membuka cahaya itu dalam qalb. ➡ Hati menjadi tempat tajalli Ilahi.
🌿 Tingkatan Ṭhā‘ah dalam Hakikat Syiah
1. Taat syariat (amal lahir)
2. Taat tarekat (penyucian jiwa)
3. Taat hakikat (penyelarasan wujud)
4. Taat ma‘rifat (kesadaran tauhid)
5. Taat fanā’-baqā’ (lenyap ego, hidup dengan Allah)
🌿 Inti Pandangan Ahli Hakikat Syiah. Ṭhā‘ah bukan hanya hukum.
Ia adalah:
• Jalan ontologis kembali kepada Allah
• Orbit wilayah
• Proses menjadi insan kamil
• Peleburan ego dalam ridha
• Tajalli asma’ dalam diri
Berikut beberapa kisah ṭhā‘ah (ketaatan) bukan sekadar cerita sejarah, tetapi cermin maqam ruhani:
1️⃣ Kisah Imam Ali (as) di Malam Hijrah 🌙
Ketika Rasulullah ﷺ hendak hijrah, kaum Quraisy merencanakan pembunuhan. Imam Ali (as) diperintahkan tidur di ranjang Nabi menggantikan beliau. Imam Ali tahu itu berbahaya. Beliau tidak bertanya: “Bagaimana dengan keselamatanku?” Beliau hanya bertanya:”Apakah dengan ini engkau selamat, ya Rasulullah?” Ketika Nabi menjawab “Ya”, Imam Ali tersenyum dan tidur dengan tenang.
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Ini bukan sekadar keberanian. Ini fana’ dalam kehendak Rasul. Kehendak pribadi lenyap — yang ada hanya ridha Allah.
2️⃣ Kisah Imam Husain (as) di Karbala 🏜️ Di malam ‘Asyura, Imam Husain mematikan lampu dan berkata kepada para sahabat: “Siapa yang ingin pergi, pergilah. Musuh hanya menginginkanku.”Namun para sahabat tetap tinggal.
Habib bin مظاهر berkata: “Bagaimana kami hidup setelah engkau?”
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Taat di sini bukan kewajiban hukum, tapi wilayah cinta. Mereka tidak melihat hidup tanpa Imam.
3️⃣ Kisah Fudhail bin ‘Iyadh dan Ayat Ketaatan 📖Fudhail dulunya perampok. Suatu malam ia mendengar ayat: “Alam ya’ni lilladzīna āmanū an takhsha‘a qulūbuhum…”(Belumkah waktunya bagi orang beriman untuk tunduk hatinya?) Hatinya bergetar.
Ia berkata: “Ya Rabb, waktunya telah tiba.” Ia tinggalkan maksiat dan menjadi wali.
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Kadang satu ayat membuka hijab bertahun-tahun.
Taat dimulai dari tunduknya hati.
4️⃣ Kisah Imam Zainal ‘Abidin (as) dalam Doa 📿 Beliau dikenal sangat banyak sujudnya. Ketika ditanya mengapa begitu banyak ibadah, beliau menjawab: “Bagaimana aku tidak taat, sementara aku tahu kepada siapa aku bermaksiat?”
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Makrifat melahirkan rasa malu.
Malu melahirkan ketaatan.
5️⃣ Kisah Allamah Thabathaba’i 🌿
Dikisahkan beliau sangat menjaga shalat awal waktu. Suatu hari beliau sedang mengajar tafsir, lalu azan berkumandang. Beliau langsung menghentikan pelajaran dan berkata: “Kita sedang membahas firman-Nya, kini saatnya berdiri di hadapan-Nya.”
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Ilmu tanpa taat adalah hijab. Taat menjadikan ilmu bercahaya.
🌿 Inti Pelajaran dari Kisah-Kisah Ini. Ahli hakikat Syiah memandang ṭhā‘ah sebagai:
• 🌙 Fana’ dalam wilayah
• 🏜️ Setia dalam ujian
• 📖 Bangkit dari maksiat
• 📿 Lahir dari rasa malu dan cinta
• 🌿 Mendahulukan Allah dari segalanya
6️⃣ Kisah Salman al-Farisi (ra) – Taat Mencari Kebenaran 🌍
Salman lahir di Persia, berpindah dari satu guru ke guru lain mencari agama yang benar. Ia meninggalkan harta, keluarga, bahkan diperbudak — hanya demi mengikuti petunjuk terakhir gurunya yang berkata: “Akan datang Nabi di tanah Arab…” Ketika bertemu Rasulullah ﷺ, ia langsung mengenali tanda-tandanya dan beriman.
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Taat bukan hanya setelah menemukan kebenaran. Kadang taat adalah keberanian meninggalkan zona nyaman demi mencarinya.
7️⃣ Kisah Abu Dzar al-Ghifari (ra) – Taat pada Kebenaran Meski Sendiri 🏜️ Abu Dzar dikenal lantang menentang kezaliman.
Ia diasingkan ke Rabadzah karena kritiknya terhadap penumpukan harta. Imam Ali (as) melepas kepergiannya dan berkata: “Engkau marah karena Allah, maka berharaplah hanya kepada-Nya.” Abu Dzar tetap teguh walau hidup miskin dan wafat sendirian.
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Taat kadang berarti berdiri sendirian bersama Allah.
8️⃣ Kisah Hurr bin Yazid – Taat di Detik Terakhir 🗡️ Hurr awalnya menghadang Imam Husain (as).
Namun pada pagi ‘Asyura, ia gemetar dan berkata: “Aku memilih surga meski tubuhku terpotong.”
Ia berpindah ke barisan Imam dan syahid.
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Pintu taat selalu terbuka. Satu keputusan tulus bisa menghapus masa lalu.
9️⃣ Kisah Ali bin Yaqtin – Taat dalam Strategi 🕊️ Ali bin Yaqtin adalah pejabat di pemerintahan Abbasiyah, namun pengikut setia Imam Musa al-Kazhim (as).
Ia ingin mundur karena takut tercemar. Imam melarangnya dan berkata agar ia tetap di posisinya untuk membantu kaum Syiah secara tersembunyi. Ia taat — meski berat.
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Tidak semua taat terlihat zuhud. Kadang taat adalah tetap di tempat sulit demi maslahat wilayah.
🔟 Kisah Ayatullah Behjat – Taat pada Hal Kecil ✨ Dikisahkan beliau sangat menjaga adab kecil:
tidak berbicara sia-sia, tidak menunda ibadah, menjaga pandangan. Beliau berkata: “Jika kalian menjaga yang wajib dan meninggalkan yang haram, kalian akan sampai.”
🌿 Hakikat Ṭhā‘ah: Maqam tinggi bukan dari amal spektakuler, tapi dari konsistensi pada hal kecil.
🌿 Pelajaran Hakikat dari 10 Kisah
Dari semua kisah (Ali, Husain, Salman, Abu Dzar, Hurr, dll.), tampak bahwa ṭhā‘ah:
• 🌙 Kadang berarti pengorbanan nyawa
• 🏜️ Kadang berarti kesendirian
• 🗡️ Kadang berarti taubat mendadak
• 🕊️ Kadang berarti strategi tersembunyi
• ✨ Kadang hanya menjaga hal kecil. Namun intinya satu: Ṭhā‘ah adalah memilih Allah di atas diri sendiri.
Manfaat ṭhā‘ah (ketaatan) menurut perspektif Al-Qur’an, hadis Ahlul Bayt, dan ahli hakikat, disertai doa singkat untuk memohon maqam tersebut.
🌿 1️⃣ Mendatangkan Rahmat Allah
📖 “Wa aṭī‘ullāha war-rasūla la‘allakum turḥamūn” (QS 3:132)
Manfaat: Hidup diliputi kelembutan dan pertolongan Ilahi. Doa: Allahumma aj‘alnī min ahlit-ṭā‘ah wa aghmirnī bi raḥmatik.
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang taat, dan limpahilah (selimutilah) aku dengan rahmat-Mu.
🌿 2️⃣ Menghapus Dosa
Ketaatan berkelanjutan mengikis bekas maksiat. Doa: Yā Rabb, ḥabbib ilayya ṭā‘ataka wa ṭahhir qalbī min al-ma‘ṣiyah. Wahai Tuhanku, jadikanlah ketaatan kepada-Mu sebagai sesuatu yang kucintai, dan sucikanlah hatiku dari maksiat. Jika ditambah sedikit penjelasan makna:
• ḥabbib ilayya ṭā‘ataka → bukan sekadar mampu taat, tapi mencintai ketaatan (derajat lebih tinggi dari sekadar kewajiban).
• ṭahhir qalbī → penyucian dimulai dari hati, karena maksiat lahir dari kecenderungan batin.
• min al-ma‘ṣiyah → bukan hanya perbuatan dosa, tapi juga kecenderungan dan kelezatan terhadapnya.
🌿 3️⃣ Membuka Cahaya Hati (Nūr)
Imam Ali (as): “Taat adalah cahaya.”
Manfaat: Hati mudah tersentuh, doa terasa hidup. Doa: Allāhumma anwir qalbī bi nūri ṭā‘atika. Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya ketaatan kepada-Mu.
🌿 Makna Per Kata
• Allāhumma → Seruan penuh penghambaan kepada Allah.
• Anwir → Terangi, beri cahaya (dari akar kata nūr).
• Qalbī → Hatiku (qalb = pusat kesadaran ruhani).
• Bi nūri → Dengan cahaya.
• Ṭā‘atika → Ketaatan kepada-Mu.
✨ Makna Makrifat
• Cahaya ketaatan bukan hanya amal lahir, tetapi kesadaran batin yang membuat seseorang melihat kebenaran sebagai kebenaran dan merasakan manisnya ibadah.
• Dalam Al-Qur’an disebut: “Allāhu nūrus-samāwāti wal-arḍ” (QS An-Nūr: 35) — Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Artinya, hati yang taat tersambung dengan sumber cahaya Ilahi. • Riwayat Ahlul Bait menjelaskan bahwa dosa menggelapkan hati, sedangkan taat memancarkan cahaya di dalamnya. Doa ini hakikatnya permohonan agar: 1. Hati diberi hidayah. 2. Amal menjadi hidup dan bercahaya.
3. Ketaatan menjadi sumber ketenangan, bukan beban.
🌿 4️⃣ Mendekatkan kepada Wilāyah. Taat menguatkan ikatan dengan Allah, Rasul, dan Imam.
Doa: Allāhumma thabbitnī ‘alā wilāyatik wa ṭā‘atik. Ya Allah, teguhkanlah aku di atas wilayah-Mu dan ketaatan kepada-Mu.
🌿 Makna Per Kata
• Allāhumma → Ya Allah (seruan penuh penghambaan).
• Thabbitnī → Teguhkan aku, kokohkan, jangan goyahkan.
• ‘Alā → Di atas (menunjukkan istiqamah dan ketetapan jalan).
• Wilāyatik → Wilayah-Mu (kepemimpinan, kedekatan, dan otoritas Ilahi).
• Wa ṭā‘atik → Dan ketaatan kepada-Mu.
✨ Makna Makrifat & Hakikat
1. Wilayah dalam makna Qur’ani adalah kedekatan dan kepemimpinan Ilahi: Allāhu waliyyu alladzīna āmanū…” (QS Al-Baqarah: 257). Allah adalah Wali orang-orang beriman — pelindung, pembimbing, dan cahaya mereka. 2. Dalam perspektif Ahlul Bait, wilayah adalah poros agama — menerima kepemimpinan Ilahi yang terwujud melalui para hujjah-Nya. Tanpa wilayah, amal kehilangan ruh.
3. Thabāt (keteguhan) adalah karunia besar. Banyak orang mengenal kebenaran, tetapi tidak semuanya diteguhkan di atasnya. Karena itu doa ini memohon:
• istiqamah saat ujian,
• keteguhan saat fitnah,
• konsistensi dalam ketaatan.
4. Hakikatnya, doa ini adalah permohonan agar hati:
• tidak berpaling,
• tidak tergelincir,
• dan tetap berada dalam cahaya wilayah sampai akhir hayat.
Seperti doa Qur’an:
“Rabbanā lā tuzigh qulūbanā ba‘da idz hadaytanā…” (Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk).
🌿 5️⃣ Menenangkan Jiwa
Taat melahirkan ridha, ridha melahirkan ketenangan. Doa: Yā Salām, ij‘al qalbī rāḍiyan bi qaḍā’ik.
Wahai Dzat Yang Maha Sejahtera, jadikanlah hatiku ridha terhadap ketetapan-Mu.
🌿 Makna Per Kata
• Yā Salām → Wahai Yang Maha Damai / Sumber segala keselamatan (Asmaul Husna: As-Salām).
• Ij‘al → Jadikanlah, anugerahkanlah.
• Qalbī → Hatiku (pusat rasa dan kesadaran ruhani).
• Rāḍiyan → Dalam keadaan ridha, menerima dengan lapang.
• Bi qaḍā’ik → Terhadap keputusan dan ketetapan-Mu.
✨ Makna Makrifat & Hakikat
1. As-Salām adalah sumber ketenangan. Hati tidak akan tenang kecuali jika tersambung kepada-Nya. Maka memanggil Yā Salām berarti memohon damai dari Sang Pemilik Damai.
2. Ridha terhadap qaḍā’ bukan pasrah tanpa usaha, tetapi:
• Berikhtiar sepenuh hati.
• Menerima hasil dengan kepercayaan penuh.
• Tidak protes dalam batin kepada Allah.
3. Dalam riwayat Ahlul Bait, ridha adalah maqam tinggi para wali. Orang yang ridha melihat takdir bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai tarbiyah (didikan cinta).
4. Secara batin:
• Ketika hati ridha, gelombang ujian berubah menjadi jalan kenaikan derajat.
• Ketika hati menolak, nikmat pun terasa berat. Doa ini hakikatnya adalah permohonan: “Ya Allah, jangan biarkan hatiku berperang dengan takdir-Mu. Jadikan aku tenang dalam setiap keputusan-Mu.”
🌿 6️⃣ Menguatkan Iman
Iman bertambah dengan amal taat.
Doa: Rabbanā zidnā īmānan wa tawfīqan li ṭā‘atik. Wahai Tuhan kami, tambahkanlah kepada kami keimanan dan taufik untuk menaati-Mu.
🌿 Makna Per Kata
• Rabbanā → Wahai Tuhan kami (Rabb: yang mendidik, membimbing, menumbuhkan).
• Zidnā → Tambahkanlah kepada kami.
• Īmānan → Keimanan (keyakinan yang hidup dalam hati dan tercermin dalam amal).
• Wa tawfīqan → Dan taufik (kemampuan yang Allah bukakan untuk melakukan kebaikan).
• Li ṭā‘atik → Untuk ketaatan kepada-Mu.
✨ Makna Makrifat & Hakikat
1. Iman itu bertambah dan berkurang. Al-Qur’an menyebut:
“Li yazdādū īmānan ma‘a īmānihim” — agar mereka bertambah imannya (QS Al-Fath: 4). Maka doa ini adalah kesadaran bahwa iman bukan sesuatu yang statis. 2. Taufik lebih tinggi dari sekadar kemampuan. Banyak orang tahu kebenaran, tapi tidak semua diberi taufik untuk mengamalkannya. Taufiq adalah pertemuan antara:
• Niat yang tulus
• Kesempatan yang tepat
• Pertolongan Ilahi
3. Dalam riwayat Ahlul Bait, ketaatan sejati terjadi ketika Allah:
• Membukakan hati
• Memudahkan jalan
• Menguatkan tekad
4. Secara batin:
• Iman adalah cahaya di dalam hati.
• Taufiq adalah angin yang mendorong perahu menuju Allah.
• Ṭā‘ah adalah perjalanan itu sendiri. Doa ini hakikatnya memohon tiga hal:
Cahaya (iman),
Dorongan Ilahi (taufik),
dan Gerak nyata (ketaatan).
🌿 7️⃣ Membuka Pintu Rezeki
📖 “Wa man yattaqillāha yaj‘al lahu makhraja…” (QS 65:2)
Manfaat: Allah beri jalan keluar tak terduga. Doa: Yā Razzaq, urzuqnī bi barakati ṭā‘atik. Wahai Maha Pemberi Rezeki, karuniakanlah kepadaku keberkahan dalam ketaatan kepada-Mu.
🌿 Makna Per Kata
• Yā Razzaq → Wahai Yang Maha Memberi Rezeki tanpa batas.
• Urzuqnī → Berilah aku rezeki (anugerahilah aku).
• Bi barakati → Dengan keberkahan (kebaikan yang bertambah dan terus tumbuh).
• Ṭā‘atik → Ketaatan kepada-Mu.
✨ Makna Makrifat & Hakikat
1. Rezeki bukan hanya materi. Rezeki terbesar adalah hati yang mudah taat. Ada orang kaya harta, tapi miskin ketaatan. Ada orang sederhana, tapi kaya cahaya amal.
2. Barakah dalam ṭā‘ah berarti:
• Amal sedikit, pahala besar.
• Ibadah ringan, tetapi berdampak dalam.
• Waktu sempit, tetapi penuh makna.
3. Dalam perspektif Qur’ani, keberkahan turun ketika ada ketaatan:”Walau anna ahlal-qurā āmanū wattaqau lafataḥnā ‘alaihim barakāt…” (Seandainya mereka beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan keberkahan…) — QS Al-A‘raf: 96.
4. Secara batin:
• Ṭā‘ah adalah benih.
• Barakah adalah pertumbuhan yang Allah tambahkan.
• Razzaq adalah yang membuat amal kecil menjadi luas dampaknya. Hakikat doa ini: “Ya Allah, jadikan ketaatanku bukan sekadar gerakan, tapi sumber rezeki ruhani yang terus bertambah.”
🌿 8️⃣ Mengangkat Derajat
📖 QS 4:69 — bersama para nabi, shiddiqin, syuhada. Doa: Allāhumma arfa‘ darajatī bi ṭā‘atika.
🌿 9️⃣ Menguatkan Hati Saat Ujian
Taat melatih jiwa sabar dan teguh.
Doa: Yā Ṣabūr, qawwī qalbī ‘inda al-balā’ bi ṭā‘atik.
🌿 🔟 Mengantar ke Cinta Allah
Hadis Qudsi: hamba yang terus taat akan dicintai Allah.
Manfaat tertinggi: Dicintai Sang Pencipta. Doa: Allāhumma ij‘al ṭā‘atī sababā li maḥabbatika.
🌿 Doa Lengkap Memohon Ketaatan. Anda bisa membaca ini setiap selesai shalat: Allāhumma a‘innī ‘alā ṭā‘atika, wa lā taj‘alnī min ahlil ghaflah, wa ḥabbib ilayya mā tuḥibb, wa karih ilayya mā tukrih, wa aj‘al irādatī tābi‘atan li irādatik, yā Rabbal-‘ālamīn.
“Ya Allah, bantulah aku untuk taat kepada-Mu, jangan jadikan aku termasuk orang lalai, cintakanlah kepadaku apa yang Engkau cintai, bencikanlah kepadaku apa yang Engkau benci, dan jadikan kehendakku mengikuti kehendak-Mu.”
Munājāt al-Muṭī‘īn lillāh (Munajat Orang-Orang yang Taat kepada Allah).
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Makrifat: Segala ketaatan tidak dimulai dari kekuatan diri, tetapi dari Nama-Nya. Rahmat mendahului amal.
2️⃣ Permohonan Ilham Taat
اللَّهُمَّ أَلْهِمْنَا طَاعَتَكَ، وَجَنِّبْنَا مَعْصِيَتَكَ
Allāhumma alhimnā ṭā‘ataka, wa jannibnā ma‘ṣiyataka
Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu, dan jauhkanlah kami dari maksiat kepada-Mu.
Makrifat:Taat bukan hasil kehebatan akal, tetapi ilham Ilahi. Maksiat bukan sekadar dosa lahir, tetapi hijab batin dari-Nya.
3️⃣ Mencapai Ridha-Nya
وَيَسِّرْ لَنَا بُلُوغَ مَا نَتَمَنَّىٰ مِنِ ابْتِغَاءِ رِضْوَانِكَ
Wa yassir lanā bulūgha mā natamannā min ibtighā’i riḍwānika
Mudahkanlah kami mencapai apa yang kami harapkan berupa pencarian ridha-Mu.
Makrifat: Hakikat cita-cita mukmin bukan dunia, tapi riḍā Allah. Ridha adalah puncak maqām ubudiyah.
4️⃣ Surga dan Kebeningan Hati
وَأَحْلِلْنَا بُحْبُوحَةَ جِنَانِكَ
Wa aḥlilnā buḥbūḥata jinānika
Tempatkanlah kami di tengah-tengah taman surga-Mu.
Makrifat: Surga zahir adalah taman akhirat. Surga batin adalah hadirnya Allah dalam hati.
5️⃣ Menghilangkan Keraguan
وَاقْشَعْ عَنْ بَصَائِرِنَا سَحَابَ الِارْتِيَابِ
Waqsha‘ ‘an baṣā’irina saḥābal-irtiyāb
Singkapkanlah dari penglihatan batin kami awan keraguan.
Makrifat: Keraguan adalah awan; iman adalah matahari. Cahaya yakin mengusir kabut waswas.
6️⃣ Membuka Hijab Hati
وَاكْشِفْ عَنْ قُلُوبِنَا أَغْشِيَةَ الْمِرْيَةِ وَالْحِجَابِ
Wakshif ‘an qulūbinā aghshiyatal-miryati wal-ḥijāb
Bukalah dari hati kami selubung keraguan dan hijab.
Makrifat: Hijab terbesar bukan dunia, tapi ego dan prasangka terhadap Allah.
7️⃣ Menegakkan Hakikat
وَأَزْهِقِ الْبَاطِلَ عَنْ ضَمَائِرِنَا، وَأَثْبِتِ الْحَقَّ فِي سَرَائِرِنَا
Wa azhiqil-bāṭila ‘an ḍamā’irina, wa athbitil-ḥaqqa fī sarā’irina
Lenyapkan kebatilan dari nurani kami, dan teguhkan kebenaran dalam rahasia hati kami.
Makrifat: Bāṭil adalah selain Allah. Ḥaqq adalah Dia sendiri. Hati yang bersih menjadi cermin Al-Ḥaqq.
8️⃣ Bahaya Syak dan Prasangka
فَإِنَّ الشُّكُوكَ وَالظُّنُونَ لَوَاقِحُ الْفِتَنِ
Fa innash-shukūka waẓ-ẓunūna lawāqiḥul-fitan
Sesungguhnya keraguan dan prasangka adalah penyubur fitnah.
Makrifat: Hati yang penuh sangka buruk mudah melahirkan kegoncangan ruhani.
9️⃣ Naik Kapal Keselamatan
اللَّهُمَّ احْمِلْنَا فِي سُفُنِ نَجَاتِكَ
Allāhumma iḥmilnā fī sufunī najātik
Ya Allah, bawalah kami dalam kapal-kapal keselamatan-Mu.
Makrifat: Menurut riwayat Ahlul Bayt, wilayah mereka adalah Safīnatun-Najāt (kapal keselamatan).
🔟 Manisnya Munajat
وَمَتِّعْنَا بِلَذِيذِ مُنَاجَاتِكَ
Wa matti‘nā bi-ladhīdhi munājātik
Karuniakan kami kenikmatan lezatnya bermunajat kepada-Mu.
Makrifat: Orang taat tidak hanya takut neraka atau berharap surga — ia rindu berbicara dengan Allah.
1️⃣1️⃣ Cinta dan Kedekatan
وَأَذِقْنَا حَلَاوَةَ وُدِّكَ وَقُرْبِكَ
Wa adhiqnā ḥalāwata wuddika wa qurbik
Rasakan kepada kami manisnya cinta dan kedekatan dengan-Mu.
Makrifat: Puncak taat adalah mahabbah. Saat cinta hadir, ibadah menjadi ringan.
1️⃣2️⃣ Ikhlas Total
فَإِنَّا بِكَ وَلَكَ، وَلَا وَسِيلَةَ لَنَا إِلَيْكَ إِلَّا أَنْتَ
Fa innā bika wa laka, wa lā wasīlata lanā ilaika illā anta
Sesungguhnya kami ada karena-Mu dan untuk-Mu, dan tiada jalan kepada-Mu kecuali Engkau.
Makrifat: Ini maqām fana’: semua dari-Nya, semua kembali kepada-Nya.
1️⃣3️⃣ Permohonan Menjadi Orang Terpilih
إِلٰهِي اجْعَلْنِي مِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ، وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ الْأَبْرَارِ
Ilāhī ij‘alnī minal-muṣṭafaynal-akhyār, wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīnal-abrār
Tuhanku, jadikan aku termasuk orang-orang pilihan yang terbaik, dan gabungkan aku dengan orang-orang saleh lagi mulia.
Makrifat: Kesalehan sejati adalah menyatu dengan barisan para wali Allah.
1️⃣4️⃣ Penutup
إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَبِالْإِجَابَةِ جَدِيرٌ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Innaka ‘alā kulli shay’in qadīr, wa bil-ijābati jadīr, biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Layak mengabulkan doa, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.
Makrifat: Doa berakhir dengan harapan penuh — bukan pada amal, tapi pada Rahmat-Nya.
⸻
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!
Comments
Post a Comment