Makna ; Sholawat; QS. Al-Ahzab: 56

 Makna mendalam dari ayat:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(QS. Al-Ahzab: 56)

1. Kedudukan Nabi (saw) di Sisi Allah; Allah sendiri bershalawat kepada Nabi menandakan kedudukan luar biasa tinggi Nabi Muhammad (saw), yang tidak hanya sebagai utusan, tetapi sebagai kekasih Allah (ḥabīb Allāh).

2. Penyaksian Langit dan Bumi
Shalawat dari Allah dan malaikat adalah bentuk penyaksian seluruh langit atas keagungan Nabi, dan perintah kepada mukmin menjadi penyaksian dari bumi.

3. Penghormatan dan Peninggian Derajat; Shalawat Allah berarti pujian dan peninggian derajat Nabi di sisi-Nya; malaikat sebagai makhluk cahaya juga ikut dalam penghormatan tersebut.

4. Kewajiban Spiritual bagi Mukmin
Allah tidak hanya mengabarkan bahwa Dia dan para malaikat bershalawat, tetapi juga memerintahkan orang beriman untuk melakukannya — menandakan hal ini sebagai kewajiban ruhani, bukan hanya ibadah formal.

5. Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah; Shalawat kepada Nabi adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena Nabi adalah jalan dan pintu menuju-Nya (babullah).

6. Koneksi Langsung antara Langit dan Hati Mukmin; Ayat ini menunjukkan bahwa setiap mukmin yang bershalawat berarti menyambungkan dirinya ke barisan malaikat dan bahkan ke kehendak Allah sendiri.

7. Penghapus Dosa dan Pemberi Syafaat; Dalam banyak riwayat, shalawat kepada Nabi (saw) dapat menghapus dosa, membuka pintu rahmat, dan memperkuat kemungkinan mendapat syafaat Nabi di akhirat.

8. Tanda Cinta dan Pengakuan Kerasulan; Shalawat adalah manifestasi cinta sejati kepada Nabi; ia juga menjadi tanda pengakuan dan pembaruan ikrar kenabian beliau sebagai Rasul terakhir.

9. Pengingat akan Sunnah dan Jalan Hidup Nabi; Bershalawat secara terus menerus menjadikan hati terhubung dengan sirah Nabi, akhlak beliau, dan semangat untuk meneladani kehidupannya.

10. Kesatuan Umat dengan Langit
Ketika umat bershalawat, mereka menyatu dalam zikrullah bersama para malaikat dan mengikuti jejak Allah dalam memuliakan makhluk-Nya yang paling sempurna.


Makna ayat “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ…” berdasarkan Al-Qur’an itu sendiri (pendekatan tafsir Qur’an dengan Qur’an):

1. Pengakuan Allah atas Kedudukan Nabi Muhammad (saw)
🔹 Makna dari “يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ” adalah pemuliaan dan pujian Allah
🔸 Ini mirip dengan QS. Al-Fath (48:29):  مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ…”
Nabi dipuji sebagai pembawa rahmat dan suri teladan.

2. Shalawat Allah = Rahmat; Shalawat Malaikat = Doa; Shalawat Mukmin = Permohonan Rahmat; 
🔹 QS. Al-Baqarah (2:157):
“أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌۭ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ”
Shalawat Allah adalah bentuk rahmat dan ridha.

3. Nabi Sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam
🔹 QS. Al-Anbiya (21:107): وَمَا أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ”Ayat 33:56 menunjukkan bahwa rahmat ini terus dialirkan melalui shalawat dari Allah dan makhluk-Nya.

4. Kewajiban Mengikuti Nabi
🔹 QS. Al-Imran (3:31):   قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ
Shalawat adalah bentuk ketaatan, cinta, dan pengakuan terhadap kerasulan.

5. Tanda Iman Sejati 
🔹 QS. Al-Hujurat (49:2):  لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ Ayat 33:56 memerintahkan penghormatan melalui shalawat, dan QS. 49:2 melarang merendahkan beliau.

6. Nabi sebagai Saksi, Pembawa Kabar Gembira, dan Peringat
🔹 QS. Al-Ahzab (33:45–46): يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَـٰكَ شَـٰهِدًۭا وَمُبَشِّرًۭا وَنَذِيرًۭا
Ayat 33:56 menyempurnakan fungsi itu dengan penghormatan langit atas peran beliau.

7. Kesucian dan Kedekatan Nabi di Sisi Allah
🔹 QS. Al-Najm (53:3–4):
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ”
Shalawat Allah dan malaikat menguatkan bahwa Nabi bukan sembarang manusia, tapi pembawa wahyu ilahi.

8. Shalawat sebagai Jalan Ampunan
🔹 QS. An-Nisa (4:64):
‎وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُواْ ٱللَّهَ
Shalawat atas Nabi menjadi penghubung ampunan dari Allah.

9. Nabi Sebagai Wasiat dalam Syahadat dan Dzikir 
🔹 QS. Al-Fath (48:8–9):
لِتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ…”
Shalawat termasuk bentuk “ta‘zīr” (mengagungkan) dan “tawqīr” (memuliakan) Nabi.

10. Shalawat sebagai Dzikir dan Cahaya
🔹 QS. Al-Ahzab (33:41–43):   يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكْرًۭا كَثِيرًۭا… هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ
Setelah menyuruh banyak berdzikir, Allah menyatakan bahwa Dia bershalawat kepada kita, sebagaimana Dia bershalawat kepada Nabi.


Makna ayat “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ…” menurut hadis-hadis Rasulullah (saw) dan Ahlul Bait (as):

1. Shalawat = Doa dan Permohonan Rahmat

📖 Rasulullah (saw) bersabda:
“صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ عَلَيَّ زَكاةٌ لَكُمْ”Bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kalian untukku adalah penyucian bagi kalian.”(HR. Al-Nasa’i, dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah) 

📌 Makna: Shalawat membawa rahmat dan menjadi sebab pensucian jiwa.

2. Shalawat Menghapus Dosa

📖 Rasulullah (saw) bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيئَاتٍ، وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ”
Siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh kesalahannya, dan mengangkatnya sepuluh derajat.”(HR. Al-Nasa’i)

3. Shalawat Menjadi Penyebab Syafaat 

📖 Rasulullah (saw) bersabda:    أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً “Orang yang paling berhak atas syafa’atku di hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”
(HR. At-Tirmidzi)

4. Shalawat Harus Lengkap dengan Ahlul Bait 

📖 Nabi Muhammad (saw) bersabda:
“لا تُصَلُّوا عَلَيَّ الصَّلاةَ البَتْرَاءَ
Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat yang terputus.”Para sahabat bertanya: Apa itu shalawat yang terputus?

Beliau menjawab:
“أنْ تَقُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَتَسْكُتُوا، بَلْ قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ”
— (HR. Al-Dailami dan Ibn Hajar dalam al-Sawā‘iq al-Muḥriqah)

5. Shalawat Dikirimkan Malaikat kepada Rasul 

📖 Rasulullah (saw) bersabda:إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ”Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di bumi, menyampaikan kepadaku salam dari umatku.”
— (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

6. Shalawat Menjadi Cahaya di Hari Kiamat; 

📖 Imam Ja‘far al-Shadiq (as) berkata: مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ نُورًا عَلَى الصِّرَاطِ، وَنُورًا فِي قَبْرِهِ”Siapa yang bershalawat atas Nabi, Allah akan jadikan itu cahaya di atas shirat dan di dalam kuburnya.”(Bihar al-Anwar, j. 94)

7. Shalawat Menyebabkan Terkabulnya Doa 

📖 Rasulullah (saw) bersabda: كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ Setiap doa itu tertahan sampai dibacakan shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”
— (Kanz al-‘Ummāl)

8. Shalawat Adalah Tanda Cinta dan Pengakuan 

📖 Imam Ali (as) berkata:
“الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ أَمَانٌ مِنَ النِّفَاقِ
Shalawat atas Nabi adalah perlindungan dari kemunafikan.”
(Nahjul Balaghah & Bihar al-Anwar)

9. Shalawat Menghapus Kefakiran

📖 Rasulullah (saw) bersabda:
“أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ، فَإِنَّهَا تُغْنِي مِنَ الْفَقْرِ وَتُكْفِرُ الذُّنُوبَ”
Perbanyaklah shalawat kepadaku, karena ia menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa.”(HR. Daylami)

10. Shalawat Menjadi Penyejuk Hati dan Jiwa

📖 Rasulullah (saw) bersabda: الصَّلَاةُ عَلَيَّ نُورٌ فِي الْقَلْبِ، 
‎وَنُورٌ عَلَى الصِّرَاطِ”Shalawat kepadaku adalah cahaya di dalam hati, dan cahaya di atas Shirat.”HR. Ibn Asakir)


Makna ayat “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ…” (QS Al-Ahzab: 56) menurut hadis-hadis Ahlul Bayt (as): 

1. Shalawat sebagai Cahaya Hati dan Jalan Makrifat

📖 Imam Ja‘far al-Shadiq (as) bersabda: الصلاةُ على النبيِّ نورٌ، والصلاةُ على آلهِ مفتاحُ بابِ النورِ.”Shalawat atas Nabi adalah cahaya, dan shalawat atas Ahlul Bayt adalah kunci pintu cahaya.”📚 (Bihar al-Anwar, j. 91, h. 93)

➡️ Makna: Shalawat adalah jalan menuju makrifat Allah, sebab Nabi dan Ahlul Bayt adalah jalan terang menuju-Nya.

2. Shalawat adalah Zikir yang Paling Utama 

📖 Imam Ali Zainal Abidin (as) berkata:إنّ ذكرَ اللهِ كثيرًا 
هو قولُ: لا إله إلا الله، 
والصلاةُ على رسولِ الله وآلِه”
Zikir kepada Allah yang banyak itu adalah: ‘La ilaha illallah’ dan shalawat atas Rasulullah dan keluarganya.”📚 (Tafsir al-Ayyashi, j. 2, h. 224)

3. Shalawat Mengangkat Amal kepada Allah 

📖 Imam Muhammad al-Baqir (as) bersabda: ما مِن عملٍ يرفعُ إلى اللهِ إلّا ببدءِ الصلاةِ على محمدٍ وآلهِ وخَتْمِه بها”Tidak ada amal yang diangkat kepada Allah kecuali dengan memulai dan mengakhirinya dengan shalawat atas Muhammad dan keluarganya.”
📚 (Bihar al-Anwar, j. 91, h. 96)

‏4. Shalawat adalah Penjaga dari Neraka 

📖 Imam Ja‘far al-Shadiq (as) berkata:من صلى على النبي وآله مرّة، لم يبقَ له من الذنوبِ ذَرَّةٌ، 
وكان في أمانِ اللهِ من النار”
Siapa yang bershalawat atas Nabi dan keluarganya sekali, tidak tersisa satu butir dosa pun baginya, dan dia dalam perlindungan Allah dari neraka.”📚 (Bihar al-Anwar, j. 91, h. 108)

5. Shalawat Adalah Tali Rahmat

📖 Imam Ridha (as) berkata:
الصلاةُ على النبي وآله في كلِّ أمرٍ، 
سببٌ لاتصالِ الرحمةِ الإلهيةِ به”
Shalawat atas Nabi dan keluarganya dalam setiap urusan adalah sebab tersambungnya rahmat ilahi.”
📚 (Uyun Akhbar al-Ridha, j. 2, h. 44)

6. Shalawat Adalah Pengakuan Hak Nabi dan Ahlul Bayt 

📖 Imam Ali (as) berkata:
‎الصلاةُ علينا إقرارٌ بولايتِنا، وتكفيرٌ لسيئاتِكم”Shalawat kepada kami adalah pengakuan atas wilayah kami, dan penghapus dosa-dosa kalian.”
📚 (Bihar al-Anwar, j. 27, h. 221)

7. Shalawat = Jalan Syafa’at

📖 Imam Baqir (as) berkata:
من لم يُصلِّ على النبي وآله، 
لا ينالُ شفاعةَ محمدٍ يوم القيامة”
Siapa yang tidak bershalawat atas Nabi dan keluarganya, tidak akan mendapat syafaat Nabi Muhammad di hari kiamat.”📚 (Al-Kāfi, j. 2)

8. Shalawat Adalah Doa yang Mustajab 

📖 Imam Shadiq (as) bersabda: إذا دعا أحدكم فليبدأ بالصلاة على النبي وآله، فإنها أزكى الدعاء
‎وأسرعُ في الإجابةJika salah satu dari kalian berdoa, maka mulailah dengan shalawat atas Nabi dan keluarganya, karena itu adalah doa yang paling suci dan paling cepat dikabulkan.”📚 (Al-Kāfi, j. 2, h. 492)

9. Shalawat Adalah Zikir Langit dan Penduduknya 

📖 Imam al-Shadiq (as) berkata:  ما مِن شيءٍ في السماء إلا ويُسبِّحُ اللهَ 
‎ويُصلِّي على محمدٍ وآلِ محمدٍTidak ada sesuatu pun di langit kecuali bertasbih kepada Allah dan bershalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”
📚 (Bihar al-Anwar, j. 91, h. 75)

10. Shalawat Adalah Identitas Pencinta Ahlul Bayt 

📖 Imam al-Baqir (as) bersabda: علامةُ المؤمن حبُّ عليّ، وكثرةُ الصلاةِ على محمدٍ 
‎وآلِ محمدٍ”Tanda seorang mukmin adalah mencintai Ali dan banyak bershalawat atas Muhammad dan keluarganya.”📚 (Tafsir al-Safi, j. 4)


Makna ayat:Menurut para mufasir

1. Shalawat Allah adalah Rahmat, Malaikat adalah Doa, Mukmin adalah Penghormatan
📘 Tafsir al-Mizān (Allamah Thabathaba’i):”Shalawat Allah atas Nabi adalah rahmat-Nya, shalawat malaikat adalah permohonan mereka atas Nabi, dan shalawat kaum mukmin adalah perintah Allah untuk menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada Nabi.”

2. Ayat Ini Mengukuhkan Keagungan Nabi Secara Kosmik
📘 Tafsir Fakhruddin al-Razi (Sunni):”Tidak ada kehormatan lebih besar bagi Nabi Muhammad (saw) dari ayat ini. Karena Allah memulainya dengan Diri-Nya, lalu para malaikat-Nya, kemudian baru orang-orang beriman.”

3. Shalawat adalah Perintah Langsung untuk Mengikat Hubungan Spiritual 
📘 Tafsir al-Kabir (Fakhr al-Razi):”Ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah tak akan sempurna tanpa melalui Nabi Muhammad (saw). Maka shalawat adalah tali penghubung langit dan bumi.”

4. Ayat Ini Adalah Tanda Keistimewaan Nabi Melebihi Para Nabi Lain 
📘 Tafsir al-Qummi (Syiah): Imam berkata: “Allah tidak menyebutkan tentang Nabi lain dengan kalimat ‘innallāha wa malāʾikatahu yuṣallūn’. Ini khusus untuk Nabi Muhammad (saw).”

5. Shalawat Meningkatkan Derajat Mukmin di Hadapan Allah 
📘 Tafsir al-Safi (Syiah):Dengan bershalawat, mukmin sebenarnya sedang menaikkan posisinya ke dalam barisan malaikat, yang terus-menerus mengagungkan Nabi.”

6. Shalawat adalah Amal yang Pasti Diterima 
📘 Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir (Ibnu ‘Ashur, Sunni): “Shalawat adalah satu-satunya amal yang pasti diterima karena ia selaras dengan perbuatan Allah dan malaikat-Nya.”

7. Shalawat sebagai Pengakuan dan Pembaruan Bai’at terhadap Nabi 

📘 Tafsir al-Burhan (Syiah): Makna ‘ṣallū ʿalayhi wa sallimū taslīmā’ adalah tetaplah berserah diri dengan penuh ikrar terhadap risalah dan wilayahnya.”

8. Ayat Ini Mengandung Hakikat Wilayah dan Imamah
📘 Tafsir Nur al-Thaqalayn (Syiah):Diriwayatkan dari Imam Ja’far al-Shadiq (as):
“من لم يصلِّ على النبي وآله، 
فقد خرج من الإسلام.”
“Siapa yang tidak bershalawat kepada Nabi dan keluarganya, maka ia telah keluar dari Islam.”

➡️ Mufasir Syiah menekankan bahwa shalawat adalah tanda pengakuan terhadap Nabi dan Ahlul Bayt.

9. Shalawat Adalah Penghapus Kekikiran dan Penyempurna Iman

📘 Tafsir Ibn Katsir (Sunni): Rasulullah bersabda: “Orang yang pelit adalah yang ketika namaku disebut, tidak bershalawat kepadaku.”

➡️ Mufasir mengatakan: Ayat ini turun sebagai koreksi terhadap mereka yang tidak bershalawat ketika nama Nabi disebut.

10. Shalawat adalah Zikir Tertinggi yang Menghubungkan Langit dan Bumi 
📘 Tafsir Ruh al-Ma‘ani (Al-Alusi, Sunni):”Dzikir kepada Nabi dalam bentuk shalawat adalah dzikir yang bersifat semesta — Allah, malaikat, dan manusia bersatu dalam pujian terhadap satu sosok: Muhammad saw.


Menurut para mufasir Syiah (seperti Allamah Thabathaba’i, Syaikh Thabarsi, Al-Qummi, dan dalam Tafsir Nur al-Tsaqalayn):

1. Shalawat Allah adalah Rahmat, Malaikat adalah Permohonan Ampun
📘 Tafsir al-Mizān (Allamah Thabathaba’i):”Shalawat Allah atas Nabi adalah pemberian rahmat; shalawat para malaikat adalah permohonan ampun dan pujian; dan perintah kepada orang-orang beriman adalah agar mereka bergabung dalam barisan cahaya ini.

2. Shalawat adalah Pengakuan atas Wilayah dan Imamah
📘 Tafsir al-Burhān (Syaikh al-Bahrani):Diriwayatkan dari Imam Shadiq (as):”Tidak sempurna shalawat kecuali dengan menyebut keluarga Muhammad, karena mereka adalah ‘ahl al-dzikir’ dan pewaris risalah.”

➡️ Maka ayat ini menjadi isyarat langsung kepada wilayah Ahlul Bayt.

3. Shalawat adalah Zikir Ilahi yang Bersifat Semesta
📘 Tafsir al-Safi (al-Kashani):”Ketika Allah dan malaikat-Nya bershalawat, berarti dzikir kepada Nabi adalah dzikir ilahi yang mencakup seluruh wujud—dari langit sampai bumi.”

4. Kata “تَسْلِيمًا” Menunjukkan Totalitas Tunduk dan Patuh
📘 Tafsir al-Miqbāl dan al-Tibyan: Shalawat bukan hanya ucapan, tetapi mengandung makna taslīm (penyerahan mutlak), yaitu mengakui Nabi dan Ahlul Bait sebagai pemegang amanah ilahi.”

5. Shalawat Menjadi Jembatan Doa yang Mustajab
📘 Tafsir Nur al-Tsaqalayn:Diriwayatkan dari Imam Baqir (as):”Setiap doa yang tidak diawali dan diakhiri dengan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad adalah tertolak.”
➡️ Dalam tafsir ini, ayat 33:56 dianggap sebagai syarat diterimanya doa.

6. Shalawat Mengandung Hakikat Tauhid dan Nubuwah 
📘 Tafsir al-Qummi:”Allah menginginkan kaum mukmin untuk menyaksikan tauhid melalui jalan Nabi. Maka shalawat adalah pembaharuan bai’at atas tauhid melalui nubuwah.”

7. Shalawat Adalah Penanda Identitas Sejati Orang Beriman
📘 Tafsir al-Ayyashi:Imam Shadiq (as) bersabda:Shalawat kepada Nabi dan keluarganya adalah syi’ar para mukmin sejati, dan pembeda dari orang munafik.”

8. Shalawat Adalah Bentuk Penghormatan kepada Nur Muhammad
📘 Tafsir al-Mizān:Allah bershalawat kepada Nabi bukan karena Nabi butuh, tapi karena beliau adalah perwujudan Nur Muhammad yang menjadi sebab seluruh rahmat Allah turun ke alam.”

9. Shalawat Menghidupkan Jiwa dan Membersihkan Batin📘 Tafsir al-Safi:Barang siapa memperbanyak shalawat dengan ikhlas, maka hatinya akan dibersihkan dari sifat-sifat kotor, dan dipenuhi cahaya wilayah.”

10. Shalawat = Ikrar Cinta dan Ikatan dengan Keluarga Nabi
📘 Tafsir Nur al-Tsaqalayn:”Imam Shadiq (as) berkata:
“Sesungguhnya ayat ini diturunkan agar umat Islam tidak melupakan hak Nabi dan keluarganya. Maka setiap shalawat adalah ikrar cinta dan pembaharuan janji.”


Makna Menurut Mufasir Syiah

1. Shalawat Allah adalah Rahmat, Malaikat adalah Permohonan Ampun, Mukmin adalah Penghormatan📘 Allamah Thabathaba’i – Tafsir al-Mīzān: Shalawat dari Allah berarti rahmat; dari malaikat adalah doa permohonan; dan dari mukmin adalah bentuk pengagungan terhadap Nabi. Ini menunjukkan bahwa Nabi adalah pusat peredaran rahmat Ilahi.”

2. Shalawat adalah Perintah untuk Mengakui Wilayah Nabi dan Ahlul Bait
📘 Syaikh al-‘Āmilī – Tafsir Nur al-Tsaqalayn:”Shalawat yang sempurna adalah yang mencakup Nabi dan Ālihi, yaitu Ahlul Bayt. Tanpa itu, shalawat menjadi ‘batra’ (terputus). Maka ayat ini mengandung perintah untuk mengakui wilayah mereka.”

3. Shalawat sebagai Zikir Ilahi Semesta
📘 Sayyid Haidar al-‘Āmilī – Tafsir al-Muḥīṭ al-A‘ẓam:”Allah, Malaikat, dan Mukmin bersatu dalam shalawat menunjukkan bahwa Muhammad adalah pusat dzikir langit dan bumi, dan siapa yang tidak bershalawat terputus dari dzikrullah.”

4. Shalawat sebagai Jalan Mengikuti Sunnah Langit
📘 Syaikh Thabarsi – Tafsir Majma‘ al-Bayān: Allah mendahului semua makhluk dalam bershalawat atas Nabi, lalu para malaikat mengikutinya. Maka mukmin diperintahkan untuk turut serta agar termasuk dalam barisan taat kepada Allah.”

5. Makna “تَسْلِيمًا” adalah Kepatuhan Total
📘 Allamah Thabathaba’i – Tafsir al-Mīzān: Kata “taslīmā” bukan hanya bermakna “salam”, tapi tunduk dan patuh secara total kepada Nabi, menerima seluruh hukum dan wilayahnya tanpa ragu.

6. Shalawat adalah Wasilah Doa dan Penerimaan Amal
📘 Imam Baqir (diriwayatkan dalam Tafsir Nur al-Tsaqalayn): “Tiada doa yang diterima kecuali dimulai dan ditutup dengan shalawat atas Muhammad dan Āli Muhammad.”

➡️ Maka ayat ini jadi bukti syarat diterimanya doa adalah shalawat.

7. Shalawat adalah Perpanjangan Nur Muhammad 
📘 Syaikh al-Qummi – Tafsir al-Qummi:Shalawat bukan sekadar ibadah lisan, tapi cahaya yang menghubungkan makhluk dengan Nur Muhammad, yang darinya semua rahmat diturunkan.”

8. Shalawat adalah Bentuk Manifestasi Cinta kepada Nabi dan Keluarganya
📘 Allamah Thabathaba’i – Tafsir al-Mīzān: Ayat ini adalah perintah untuk mencintai Nabi secara hakiki, yang diekspresikan lewat shalawat. Shalawat adalah cinta yang diucapkan dan diterjemahkan dalam amal.”

9. Shalawat Menyempurnakan Pengakuan terhadap Risalah
📘 Tafsir al-Sāfi – Mulla Muhsin al-Fayd al-Kashani:”Ayat ini menjadi penyempurna syahadat. Sebagaimana seseorang bersyahadat kepada Allah, maka dia wajib menyempurnakannya dengan shalawat sebagai pengakuan atas Rasul dan Ahlul Bayt.”

10. Shalawat sebagai Bentuk Tali Rahmat dan Pengampunan
📘 Tafsir al-Burhān – Sayyid Hashim al-Bahrani:Imam Ja‘far al-Shadiq (as):”Barang siapa bershalawat dengan ikhlas, Allah membukakan baginya 70 pintu rahmat, dan setiap pintu menghapuskan dosa-dosa dan memperbaiki hatinya.”

Kesimpulan:Menurut mufasir Syiah, shalawat adalah:
•   Rahmat ilahi yang terus mengalir,
•   Pengakuan wilayah dan imamah,
•   Jalan syafa’at dan penghapus dosa,
•   Syarat diterimanya doa,
•   Tanda cinta sejati kepada Nabi dan keluarganya.


Makna Menurut Ahli Makrifat dan Hakikat

1. Shalawat: Tajallī Rahmat Allah Melalui Nur Muhammad
📘 Menurut Imam Khomeini:”Shalawat Allah adalah tajallī rahmat-Nya dalam wujud Nur Muhammad. Shalawat bukan sekadar lafaz, tetapi pancaran keberadaan Ilahi atas Nabi yang adalah cermin sempurna asma dan sifat Allah.”

2. Nabi Muhammad (saw) adalah Qiblat Cinta dan Tajallī Mutlak
📘 Sayyid Haidar Amuli (Tafsir al-Muhīṭ al-Aʿẓam):”Shalawat adalah pengakuan bahwa Nabi adalah pusat tajallī al-Haqq. Semua wujud memandang kepadanya sebagai wajah Allah yang paling sempurna.”

3. Shalawat adalah Dzikir al-Haq bi al-Haq fī al-Haq
📘 Dalam irfan, shalawat digambarkan sebagai: Dzikir Allah kepada Wajah-Nya sendiri, melalui Wujud Mutlak (Nabi), dalam Cermin Kesempurnaan.”

➡️ Allah menyebut dirinya melalui Nabi sebagai manifestasi al-Ḥaqq.

4. “Shalawat” Allah adalah Peneguhan Wujud Nabi Sebagai Cermin Ahadiyah
📘 Menurut Allamah Thabathaba’i dalam tafsir maknawi:”Wujud Nabi bukan sekadar insan kamil, tapi tempat memancar semua sifat ilahi. Maka shalawat Allah adalah peneguhan dan penampakan sifat keesaan melalui Nabi.”

5. Shalawat Adalah Syuhūd (penyaksian batin) terhadap Nur al-Muhammadi
📘 Menurut para urafa:”Ṣallū ‘alayhī” bukan hanya ucapan, tapi penyaksian ruhani terhadap realitas Nabi yang tidak pernah padam — dikenal dalam irfan sebagai Haqīqah Muhammadiyah.

‎6. “وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا” = Fana’ fī Rasūl
📘 Ahli hakikat menafsirkan “taslīman” sebagai fana (lebur) dalam Rasul:Menyerahkan seluruh eksistensimu kepada jalan Nabi — tidak hanya tunduk, tetapi musyahadah dan lebur di dalam akhlak, cinta, cahaya Rasulullah saw

7. Shalawat Adalah Dzikir Ilahi dalam Dimensi Asl (asal mula)
📘 Imam Khomeini (adab al-shalat): “Shalawat adalah dzikir yang bahkan dilakukan Allah terhadap Rasul-Nya. Maka setiap hamba yang bershalawat sedang berada dalam posisi ilahi — menjadi pengejawantahan asma Allah.”

8. Shalawat Menghubungkan Ruh Manusia ke Lubb al-Nubuwwah
📘 Para urafa berkata:Shalawat hakiki menyambungkan ruh manusia ke inti kenabian (lubb al-nubuwwah), bukan sekadar sejarah kenabian, tapi nur kenabian yang abadi.

9. Shalawat: Jalur Kembali ke Sumber Wujud
📘 Sayyid Haydar Amuli:”Shalawat adalah jalan spiritual untuk kembali ke sumber, karena Nabi adalah asal aliran wujud kedua (الفيض المقدس). Dengan bershalawat, arwah naik kepada asalnya.”

10. Shalawat adalah Cermin Syahadat dalam Dimensi Haqiqah
📘 Menurut arifin: La ilaha illallah + Muhammadur Rasulullah = Kesatuan antara tauhid (dzat) dan tasykīk (wujud manifestasi).Shalawat adalah syahadat berlapis batin: pengakuan tauhid yang berwujud dalam Nur Muhammad.

🔑 Kesimpulan Makrifat:Shalawat adalah dzikir Allah kepada Allah melalui Rasulullah. Maka siapa bershalawat, dia masuk dalam putaran tajallī dan rahmat. Ia sedang kembali ke pusat cahaya awal: Nur Muhammad (saw).”

Makna Menurut Ahli Hakikat Syiah

1. Shalawat adalah Cermin Tajallī Dzat di dalam Nur Muhammad (saw)
📘 Sayyid Haydar Amuli: Shalawat adalah pancaran langsung dari Dzat Allah ke dalam cermin wujud Nur Muhammad. Allah tidak menyebutkan perbuatan ini pada makhluk lain. Maka shalawat adalah tajallī dzat Ilahi dalam bentuk rahmat mutlak.”

2. Allah Bershalawat = Allah Memandang Diri-Nya dalam Cermin Wujud Nabi
📘 Ahli hakikat: Allah bershalawat bukan seperti makhluk, tapi memandang kepada Nabi sebagai manifestasi-Nya, sebagaimana seorang seniman memandang karya sempurna yang memantulkan keindahan-Nya sendiri.

3. Shalawat sebagai Rahasia Wujud
📘 Imam Khomeini dalam Adabus Shalah:”Shalawat adalah jalan menuju keaslian wujud, karena Rasulullah adalah jalan wujud makhluk menuju Tuhan. Maka siapa bershalawat dengan hakikat, ia sedang kembali ke asal wujudnya.”

4. Shalawat = Dzikir Ilahi yang Menyatukan Langit dan Bumi
📘 Allamah Thabathaba’i (irfani): “Allah, malaikat, dan mukmin bershalawat — ini menunjukkan shalawat sebagai dzikir universal (dzikr kullī), yang menjadi penghubung antara langit dan bumi, antara khalq dan Haqq.”

5. Makna “تَسْلِيمًا” = Penyerahan Hakiki, Fana dalam Rasul
📘 Para arif Syiah:Perintah “sallū” adalah ibadah, tetapi “sallimū taslīman” adalah hakikat suluk: tunduk mutlak pada wujud Rasul, mengikuti cahaya wilayah, dan meleburkan ego (nafs) dalam kehendak Rasulullah.

6. Shalawat adalah Wilayah Ilahiyyah
📘 Sayyid Haydar Amuli – Jami‘ al-Asrar:”Shalawat atas Nabi adalah pernyataan wilayah. Karena tiada shalawat yang sah kecuali atas Muhammad dan Āli Muhammad, dan tidak sempurna iman tanpa wilayah.”

7. Shalawat = Cinta Hakiki kepada al-Kāmil al-Mutlaq
📘 Urafa Syiah: Shalawat bukan hanya ucapan, tapi pancaran cinta dari ruh kepada sumber kesempurnaan mutlak. Siapa bershalawat dari qalb, ia sedang bercermin dalam Cinta Allah kepada Rasul-Nya.

8. Shalawat Menghidupkan Qalb dengan Cahaya Nubuwwah dan Wilayah
📘 Imam Khomeini: Shalawat adalah dzikir yang menghidupkan hati, karena hati yang senantiasa bershalawat berarti disinari cahaya nubuwwah dan wilayah — dua sumber ketersambungan makhluk dengan Tuhan.”

9. Shalawat = Iqrar Ma‘rifat atas Wajah Allah
📘 Sayyid Haidar Amuli: Nabi Muhammad adalah Wajhullah (wajah Allah) di alam khalq. Maka shalawat adalah iqrar terhadap Wajhullah dan kehadiran Ilahi di alam manusia.”

10. Shalawat adalah Asal Semua Amal Ruhani
📘 Urafa Syiah: Segala dzikir dan amal akan naik jika ada shalawat, karena ruh amal itu sendiri adalah shalawat. Ia seperti cahaya yang menyertai doa, zikir, munajat, bahkan tangisan para pecinta Ahlul Bayt.

🧭 Penutup Makrifat: Shalawat bukan hanya ritual, tapi gerakan ruhani menuju Allah melalui Wajah-Nya yang paling jernih: Nur Muhammad. Siapa bershalawat, berarti ia mengakui, mencintai, dan melebur dalam cahaya itu. Shalawat adalah dzikir abadi Allah terhadap Kekasih-Nya.”


Kisah dan cerita maknawi yang menggambarkan makna hakikat ayat shalawat (QS al-Ahzab: 56)

🕯️ 1. Kisah Imam Ali Zainal Abidin (as): Ketika Nama Rasul Disebut

Suatu hari, Imam Ali Zainal Abidin (as) duduk bersama sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba seseorang menyebut:”Muhammad”Seketika itu wajah Imam berubah, tubuhnya gemetar, air mata mengalir deras di pipinya. Lalu beliau meletakkan tangan ke dadanya dan berkata: Duhai… betapa agung nama ini! Siapa yang menyebutnya tanpa bershalawat, sungguh telah berbuat durhaka!” Kemudian beliau menangis lama dan mengucapkan:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الطَّاهِرِينَ”

📖 Makna Hakikat: Nama Rasul (saw) bukan sekadar nama. Dalam pandangan para arif Ahlul Bayt, itu adalah kunci gerbang nur. Siapa menyebutnya tanpa bershalawat, berarti menutup diri dari limpahan rahmat yang mengalir melalui Nur Muhammad.

🌹 2. Kisah Arif Agung: Shalawat di Hadapan Rasulullah; 

Dalam mimpi seorang arif Syiah, ia melihat dirinya berdiri di padang Mahsyar. Hanya ada satu yang bercahaya luar biasa: Rasulullah (saw). Tapi ia tak sanggup mendekat.Ia menangis:”Wahai Rasul Allah, aku pecinta Ahlul Bayt, aku bershalawat setiap hari!”Tiba-tiba terdengar suara lembut:”Shalawat itu bukan hanya di lisanmu. Apakah ruhmu ikut bershalawat? Apakah hatimu tunduk kepada kehendak-Ku?”Ia terbangun, lalu mulai bershalawat tidak hanya dengan kata, tapi dengan cinta, kerinduan, dan kepasrahan total setiap hari hingga wafatnya.

📖 Makna Hakikat: Shalawat yang diterima adalah yang lahir dari qalb dan sirr. Ia bukan formalitas, tapi gerakan ruh untuk mendekat ke pusat cahaya: Rasul dan Ahlul Bayt.

🌌 3. Kisah Imam Ja‘far Shadiq (as): Malaikat Turun Karena Shalawat; 

Seorang murid bertanya kepada Imam Shadiq (as):”Apakah benar shalawat bisa membuka langit?”Beliau menjawab:”Bukan hanya membuka, bahkan mendatangkan malaikat rahmat ke bumi. Jika engkau mengucapkan صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّد, maka Allah membalasnya sepuluh kali, dan setiap balasan-Nya membangun cahaya di hatimu.”

📖 Makna Hakikat: Shalawat bukan hanya ibadah, tetapi tangga cahaya antara bumi dan langit. Dalam hakikatnya, ia membangun jembatan ruhani antara insan dan sumber wujud.

🕌 4. Kisah Seorang Sufi Pecinta Ahlul Bayt; 

Ada seorang sufi dari Kufah yang tiap malam duduk di atas sajadahnya sambil mengucap hanya dua kalimat:اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ”
“وعجّل فرجهم”
Ketika ditanya, mengapa ia tidak berdoa untuk dirinya? Ia menjawab: Aku tidak tahu kebutuhan diriku, tapi aku tahu bahwa segala rahmat turun melalui Muhammad dan Āli Muhammad. Maka jika aku dekat dengan mereka, aku tidak butuh meminta apa pun.”

📖 Makna Hakikat:Shalawat sejati adalah jalan ma‘rifat, tempat seorang hamba menggantungkan seluruh keberadaannya pada Wali al-Rahmah — bukan lagi pada kehendak pribadinya.

🌠 5. Kisah Seorang Arif: Shalawat Adalah Nafas Cahaya; 

Seorang arif Syiah berkata dalam munajat malamnya:”Wahai Rasul Allah… Aku telah melakukan banyak dzikir. Tapi ketika aku bershalawat kepadamu, aku merasa seakan nafasku menjadi cahaya, dadaku lapang, dan jiwaku kembali pada asalnya…”

📖 Makna Hakikat: Shalawat bukan sekadar lafaz, tapi perjalanan ruh dari keterasingan menuju asal nur, karena Rasulullah adalah Haqiqah Muhammadiyah, cermin awal dan akhir wujud.

🌺 6. Kisah Imam Ridha (as): Shalawat Sebelum Meminta

Imam Ridha (as) bersabda:”Barang siapa memiliki hajat kepada Allah, maka hendaklah ia memulai dengan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Karena Allah lebih pemurah dari pada menolak dua doa (shalawat dan permintaan), sedangkan Ia menerima salah satunya.”

📖 Makna Hakikat: Shalawat adalah pembuka rahmat, bahkan penjamin keterkabulan doa karena ia menunjukkan hubungan antara hamba dan al-Wajh al-Ilahi (wajah Allah di alam wujud).

🌕 7. Kisah Sayyid Ibnu Thawus: Shalawat Sebagai Perisai

Sayyid Ibnu Thawus menulis dalam Iqbal al-A‘mal:”Jika engkau takut tergelincir dalam kegelapan dunia, maka bershalawatlah terus kepada Nabi dan Ālihnya, karena cahaya mereka adalah perisai bagi ruh-ruh yang rapuh.”📖 Makna Hakikat: Shalawat adalah perisai batin, bukan hanya penjaga jasmani, tapi penjaga ruh agar tidak tersesat dari jalan nur.

✨ 8. Kisah Malaikat yang Turun ke Majelis Shalawat Dalam hadis: Ketika sekelompok pecinta Ahlul Bayt sedang duduk bershalawat, Malaikat Jibril berkata kepada Allah:”Wahai Tuhanku, izinkan aku turun dan bersama mereka, karena aku mencium wewangian nur dari bibir mereka…”

📖 Makna Hakikat: Shalawat adalah getaran nur di alam ruhani. Ia dipantulkan di alam malakut, dan menarik para malaikat yang haus pada cahaya kenabian.

🧡 Penutup: Shalawat menurut ahli hakikat Syiah bukan hanya dzikir, tetapi jalan pulang, cermin cinta, nafas ruhani, dan pintu gerbang menuju hadirat Allah. Ia adalah cahaya di awal jalan (nubuwwah), dan cahaya di akhir jalan (wilayah).


Manfaat Shalawat kepada Nabi & Āli Muhammad ﷺ

1 Menghapus dosa dan menyucikan hati اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّد، وَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي

2 Membuka pintu rahmat dan keberkahan اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

3 Menjadi sebab terkabulnya doa اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَاجْعَلْ دُعَائِي مُسْتَجَابًا

4 Mengangkat derajat di dunia dan akhirat اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَارْفَعْ دَرَجَتِي

5 Meningkatkan cinta kepada Rasul dan Ahlul Bayt اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتِي عَلَيْهِمْ سَبَبًا لِمَحَبَّتِكَ

6 Menenangkan hati dan menolak kesedihan اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَطَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْهَمِّ

7 Mengundang malaikat rahmat ke rumah اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَنْزِلْ مَلَائِكَتَكَ فِي بَيْتِي

8 Menghilangkan kefakiran dan mendatangkan rezeki اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ

9 Menjadi syafaat di hari kiamat اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتِي عَلَى النَّبِيِّ شَفَاعَةً لِي

10 Menolak bala dan penyakit اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَادْفَعْ عَنِّي الْبَلَاءَ

11 Membersihkan batin dari sifat tercela اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَنَقِّنِي مِنَ الرِّجْسِ

12 Mempercepat kemunculan Imam Mahdi (aj) اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَعَجِّلْ فَرَجَ وَلِيِّكَ

13 Menyambung ruh dengan Cahaya Kenabian اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِي نُورِ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ

14 Menjadi dzikir yang paling disukai Allah اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى أَفْضَلِ خَلْقِكَ وَأَحَبِّهِمْ إِلَيْكَ

15 Menghapus sifat munafik dan riya اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَطَهِّرْنِي مِنَ النِّفَاقِ

16 Meringankan sakaratul maut اللَّهُمَّ اجْعَلْ شَفَاعَةَ النَّبِيِّ لِي عِنْدَ الْمَوْتِ

17 Menjadikan ruh ringan di alam barzakh اللَّهُمَّ اجْعَلْ نُورَ صَلَاتِي عَلَى مُحَمَّدٍ زَادِي فِي قَبْرِي

18 Didekatkan dengan Rasul dan Ālihnya di surga اللَّهُمَّ احْشُرْنِي مَعَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ

19 Menjadi bukti cinta dan kesetiaan اللَّهُمَّ إِنِّي أُصَلِّي عَلَيْهِمْ حُبًّا وَإِيمَانًا

20 Membuka pintu makrifat dan cahaya hati اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتِي عَلَيْهِمْ سَبَبًا لِمَعْرِفَتِكَ


📖 Keterangan dari Para Arifin Syiah:• Imam Shadiq (as):

“Tidak ada ibadah yang lebih diterima Allah selain shalawat kepada Muhammad dan Āli Muhammad, karena itulah dzikir ruhani yang menyambungkan alam dunia dengan langit makrifat.”

Sayyid Ibn Thawus (ra):
“Shalawat adalah pintu segala permohonan dan kunci segala rahmat.”

Imam Ali Zainal Abidin (as):
“Kalimat shalawat adalah keselamatan bagi lisan, penenang bagi ruh, dan pemberat amal di hari mizan.”

🧘 Bonus Dzikir Irfani:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُورِ أَنْوَارِكَ، 
وَسِرِّ أَسْرَارِكَ، مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الأَطْهَارِ، 
صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِكَ

“Ya Allah, limpahkan shalawat kepada cahaya dari segala cahaya-Mu, rahasia dari segala rahasia-Mu, Muhammad dan keluarganya yang suci, shalawat yang abadi seiring keabadian-Mu.”


Sholawat Yang Melanggengkan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat*_
Dikutip dari buku “1001 Sholawat”.

Diriwayatkan dari berbagai kitab yang masyhur : "Barangsiapa membaca sholawat di bawah ini 3 kali di waktu pagi dan 3 kali di waktu sore maka Allah SWT akan":

1. Meleburkan dosanya
2. Mengampuni kesalahannya
3. Melanggengkan kebahagiaan nya
4. Mengabulkan doanya
5. Menunaikan cita-citanya
6. Meluaskan rezekinya
7. Menolongnya dari musuh
8. Mempersiapkan untuknya semua jenis kebaikan
9. Dan dia termasuk dari teman-teman Nabi nanti di surga
(Al-Baqiyatusshoolihat, hal 47)

اَللّهُمَّ صَلّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ فِيْ اْلأَوَّلِيْنَ، وَصَلّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ فِيْ اْلآخِرِيْنَ، وَصَلّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ فِي الْمَلَأِ اْلأَعْلَى، وَصَلّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ فِي الْمُرْسَلِيْنَ، اَللّهُمَّ أَعْطِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيْلَةَ، وَالشَّرَفَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالدَّرَجَةَ الْكَبِيْرَةَ، اَللّهُمَّ إِنّيْ أَمَنْتُ بِمُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَلَمْ أَرَهُ، فَلاَ تَحْرِمْنِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رُؤْيَتَهُ، وَارْزُقْنِيْ صُحْبَتَهُ، وَتَوَفَّنِيْ عَلَى مِلَّتِهِ، وَاسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِهِ مَشْرَباً رَوِيًّا سَائِغًا هَنِيْئًا لاَ اَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَللّهُمَّ كَمَا أَمَنْتُ بِمُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَلَمْ أَرَهُ، فَأَرِنِيْ فِيْ الْجِنَانِ وَجْهَهُ، اَللّهُمَّ بَلّغْ رُوْحَ مُحَمَّدٍ عَنّيْ تَحِيَّةً كَثِيْرَةً وَسَلاَمًا.

Allahumma sholli alâ Muhammadin wa âli Muhammadin fil aw-walîn, wa sholli ‘alâ Muhammadin, wa âli Muhammadin fil â-khirîn, wa sholli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammadin fil mala’il a’lâ, wa sholli ‘alâ Muhammadin wa âli sayyidinâ Muhammadin fil mursalîn, Allâhumma a’thi Muhammadan al-washîlah, Wasy-syarofah wal-fadhî-lah wad-darojatal kabî-roh, Allâhumma innî aa-mantu bimuhammadin wa âlihi walam arôhu, falâ tahrimnî yaumal qiyâ-mati ru’yatahu warzuqnî shuhbatahu watawaffanî ‘alâ millatihi, was-qinîmin haudhi-hî masy-roban rowiyyan sâ-ighon hanî’-an lâ azhma’u ba’dahu abadâ, in-naka ‘alâ kulli syai’in qodîr, Allâhumma kamâ â-mantu bi-muhamadin shollallâhu ‘alaihi wa â-lihi walam arô-hu fa-arî-ni fil jinân wajha-hu, Allâhumma balligh ruu-ha Muhammadin ‘annii tahiyyatan katsîrotan wasalâmâ

Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (sebagai makhluk/cahaya) yang pertama (Kau ciptakan). 

Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (sebagai rasul) yang terakhir. 

Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (sebagaimana Kau tempatkan) ketempat yang paling mulia. 

Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagai utusan. 

Ya Allah anugerahkanlah untuk (nabi) Muhammad Al-Wasila (sorga yang paling mulia), kemuliaan, keutamaan dan tingkat yang agung.

Ya Allah sesungguhnya daku beriman kepada Muhammad dan keluarga Muhammad walaupun belum melihatnya, maka janganlah Kau haramkan daku pada hari kiamat untuk melihatnya, 
karuniakanlah agar daku menjadi sahabatnya dan mati dalam mengikuti ajarannya, 
berilah daku minuman dari telaganya yang karenanya daku tidak akan haus selamanya, 
sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah sebagaimana daku beriman kepada (nabi) Muhammad saaw walau daku belum melihatnya, 
maka tampakkanlah wajahnya di sorga nanti.Ya Allah sampaikan salam penghormatan yang banyak dariku kepada ruh (nabi) Muhammad saw


Manfaat Yang Agung dari Sholawat dan Doa setelah Tasbih AzZahra as

Dari Wahb bin ‘Abd Rabbih, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja‘far al-Shadiq as) berkata: “Barangsiapa membaca Tasbih az-Zahra’ (Fatimah) ‘alaihas-salam, dengan memulainya dengan mengucapkan takbir kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebanyak 34 kali, lalu bertasbih sebanyak 33 kali, dan menyambungkan tasbih dengan takbir, kemudian memuji Allah (tahmid) sebanyak 33 kali, dan menyambungkan tahmid dengan tasbih, lalu mengucapkan (setelah menyelesaikan tahmid): 

*Semoga Allah mengampuni seluruh dosanya, dan 
*memberikan keselamatan kepadanya pada hari itu, jam itu, bulan itu, dan tahun itu, sampai datangnya satu tahun penuh,
*dari kefakiran, kekurangan, kegilaan, lepra, belang (vitiligo), kematian yang buruk, dan dari setiap bencana yang turun dari langit ke bumi. Dan dicatat baginya kesaksian keikhlasan dengan segala pahalanya hingga hari Kiamat, dan pahalanya adalah surga selama-lamanya.”Aku bertanya kepadanya: Apakah semua ini (keutamaan tersebut) diperoleh jika ia membacanya setiap hari selama satu tahun penuh? Maka beliau menjawab: Tidak. Tetapi, ini adalah bagi orang yang membacanya sekali saja dalam setahun, maka akan dicatat dan diberikan pahala baginya sampai hari, jam, dan bulan yang sama pada tahun berikutnya.”

Teks doanya

١)، بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

٢)، ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

٣)، لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

٤)، إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

٥)، لَبَّيْكَ رَبَّنَا لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ

٦)، ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

٧)، وَعَلَىٰ أَهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ ذُرِّيَّةِ مُحَمَّدٍ

٨)، وَٱلسَّلَامُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

٩)، وَأَشْهَدُ أَنَّ ٱلتَّسْلِيمَ مِنَّا لَهُمْ

١٠)، وَٱلِٱئْتِمَامَ بِهِمْ، وَٱلتَّصْدِيقَ لَهُمْ

١١)، رَبَّنَا آمَنَّا وَصَدَّقْنَا وَٱتَّبَعْنَا ٱلرَّسُولَ

فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّاهِدِينَ

١٢)، ٱللَّهُمَّ صُبَّ رِزْقًا عَلَيْنَا صَبًّا صَبًّا

١٣)، بَلَاغًا لِلْآخِرَةِ وَٱلدُّنْيَا، مِنْ غَيْرِ كَدٍّ وَلَا نَكَدٍ

١٤)، وَلَا مَنَّةَ أَحَدٍ مِّنْ خَلْقِكَ، ٱلْوَاسِعَةَ مِنْ رِزْقِكَ، وَطَيِّبًا مِّنْ سَعْيِكَ، مِنْ يَدِكَ ٱلْمَلْأَىٰ،

لَا مِنْ أَيْدِي لِئَامِ خَلْقِكَ، إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

١٥)، ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلِ ٱلنُّورَ فِي بَصَرِي

١٦)، وَٱلْبَصِيرَةَ فِي دِينِي

١٧)، وَٱلْيَقِينَ فِي قَلْبِي

١٨)، وَٱلْإِخْلَاصَ فِي عَمَلِي

١٩)، وَٱلسَّعَةَ فِي رِزْقِي

٢٠)، وَذِكْرَكَ بِٱللَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ عَلَىٰ لِسَانِي

٢١)، وَٱلشُّكْرَ لَكَ أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي

٢٢)، ٱللَّهُمَّ لَا تَحْجُزْنِي حَيْثُ نَهَيْتَنِي

٢٣،) وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي

٢٤)، وَٱرْحَمْنِي إِذَا تَوَفَّيْتَنِي

٢٥)، إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

٢٦)، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

٢٧)، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ ٱلرَّاحِمِينَ

Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad

Lā ilāha illallāh
Inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘ala an-nabiyy
Yā ayyuhalladzīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā
Labbayka rabbana labbayka wa sa‘dayka

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad
Wa ‘alā ahli bayti Muḥammad, wa ‘alā dhurriyyati Muḥammad
Wa as-salāmu ‘alayhi wa ‘alayhim wa raḥmatullāhi wa barakātuh
Wa ashhadu anna at-taslīma minnā lahum
Wa al-ictimāma bihim, wa at-taṣdīqa lahum
Rabbana āmannā wa ṣaddaqnā wa ittaba‘nā ar-rasūl
Faktubnā ma‘ash-shāhidīn

Allāhumma ṣubba rizqan ‘alaynā ṣabbān ṣabbā
Balāghan lil-ākhirati wa ad-dunyā, min ghayri kaddin wa lā nakad
Wa lā minnata aḥadin min khalqik
Al-wāsi‘ata min rizqik,
Wa ṭayyiban min sa‘yik, min yadika al-malā’,
Lā min aydī li’āmi khalqik,
Innaka ‘alā kulli shay’in qadīr

Allāhummaj‘al an-nūra fī baṣarī
Wa al-baṣīrata fī dīnī
Wa al-yaqīna fī qalbī
Wa al-ikhlāṣa fī ‘amalī
Wa as-sa‘ata fī rizqī
Wa dhikraka bil-layli wa an-nahāri ‘alā lisānī
Wa ash-shukra laka abadan mā abqaytanī

Allāhumma lā taḥjuznī ḥaythu nahaytanī
Wa bārik lī fīmā a‘ṭaytanī
Wa irḥamnī idhā tawaffaytanī
Innaka ‘alā kulli shay’in qadīr
Ṣallallāhu ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad
Bi-raḥmatika yā Arḥamar-Rāḥimīn

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Tiada tuhan selain Allah.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi.Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya salam. Aku penuhi panggilan-Mu wahai Tuhan kami, aku penuhi panggilan-Mu dan segala keberkahan dari-Mu.

Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kepada Ahlul Bait Muhammad, dan kepada keturunan Muhammad. Salam sejahtera atas beliau dan atas mereka semua, serta rahmat Allah dan berkah-Nya.

Aku bersaksi bahwa salam kami kepada mereka, dan ketundukan serta kepemimpinan kami mengikuti mereka, dan keyakinan serta pembenaran kami kepada mereka.

Wahai Tuhan kami, kami telah beriman, membenarkan (risalah), dan mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang memberi kesaksian.

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami rezeki yang tercurah, tercurah dan terus tercurah, yang mencukupi untuk akhirat dan dunia, tanpa susah payah dan tanpa kesempitan,
dan bukan berasal dari pemberian makhluk-Mu, melainkan dari keluasan rezeki-Mu, dan dari hasil jerih payah-Mu yang suci, dari tangan-Mu yang Maha Kaya,
bukan dari tangan-tangan hina makhluk-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam penglihatanku, dan basirah (mata batin) dalam agamaku, dan keyakinan dalam hatiku,
dan keikhlasan dalam amal perbuatanku, dan keluasan dalam rezekiku, dan zikir-Mu siang dan malam senantiasa di lisanku,
dan syukur kepada-Mu selama Engkau membiarkanku hidup.

Ya Allah, janganlah Engkau menahanku pada tempat yang Engkau larang, dan berkahilah apa yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan rahmatilah aku apabila Engkau mewafatkanku.

Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.Semoga Allah mencurahkan salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara para penyayang.


Semoga bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit