Makna Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat dan Fana’
Istilah syariat, tarekat, hakikat, makrifat, dan fana ini sering muncul dalam tasawuf dan perjalanan spiritual Islam.
1. Syariat
• Arti: Jalan lahiriah, aturan-aturan agama (ibadah, hukum halal-haram, syarat sah, dsb).
• Fokus: Perbuatan fisik sesuai syariat Nabi ﷺ.
• Contoh: Shalat 5 waktu, zakat, puasa, haji sesuai tata cara fikih.
• Ibarat: Kulit buah – menjaga dan melindungi isinya.
2. Tarekat
• Arti: Jalan atau metode spiritual (cara mendekat kepada Allah melalui bimbingan mursyid).
• Fokus: Amalan batin, dzikir, latihan jiwa (mujahadah, riyadhah).
• Contoh: Dzikir thariqah, wirid tertentu, adab dalam berguru.
• Ibarat: Daging buah – mulai terasa manis, memberi gizi.
3. Hakikat
• Arti: Kebenaran sejati di balik syariat dan tarekat; inti makna.
• Fokus: Menyaksikan realitas bahwa semua berasal dari Allah.
• Contoh: Saat shalat, sadar bukan sekadar gerakan, tapi “berdiri di hadapan Allah”.
• Ibarat: Rasa buah – tujuan sebenarnya kenapa buah dimakan.
4. Makrifat
• Arti: Pengenalan mendalam terhadap Allah dengan hati, bukan sekadar akal.
• Fokus: Menyaksikan sifat-sifat Allah dalam ciptaan, mengalami kedekatan langsung.
• Contoh: Melihat keindahan alam lalu merasa “Ini tajalli (penampakan) Asma Allah”.
• Ibarat: Kemanisan buah – kenikmatan yang membuat rindu selalu kembali.
5. Fana
• Arti: Lenyapnya ego/keakuan dalam kehadiran Allah.
• Fokus: Hamba tak lagi melihat dirinya, hanya melihat Allah sebagai sumber segala sesuatu.
• Contoh: Tidak merasa “aku beribadah”, tapi “Allah-lah yang menggerakkan aku untuk beribadah”.
• Ibarat: Melebur dalam rasa buah – tidak lagi sadar pada buah, hanya terserap dalam manisnya.
🔑 Ringkasnya:
• Syariat → aturan lahir.
• Tarekat → jalan latihan.
• Hakikat → inti kebenaran.
• Makrifat → pengenalan Allah.
• Fana → lenyapnya ego, hanya Allah.
Istilah syariat, tarekat, hakikat, makrifat, fana tidak muncul secara langsung dalam Al-Qur’an dengan bahasa tasawuf, tapi konsepnya ada dan bersumber dari ayat-ayat. Para sufi hanya memberi istilah untuk memudahkan pemahaman.
🕋 Menurut Al-Qur’an
1. Syariat (aturan lahiriah)
📖 “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syir‘ah (syariat) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu, dan jangan ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
(QS. Al-Jatsiyah 45:18)
➡ Syariat = hukum, aturan ibadah, halal-haram, dasar jalan agama.
2. Tarekat (jalan menuju Allah)
📖 “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (subulana).”
(QS. Al-‘Ankabut 29:69)
➡ Tarekat = jalan spiritual untuk sampai kepada Allah, melalui mujahadah, dzikir, muraqabah.
3. Hakikat (kebenaran sejati)
📖 “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yaqin (kepastian).”(QS. Al-Hijr 15:99)
➡ Ulama tafsir tasawuf menafsirkan “yaqin” di sini bukan sekadar kematian, tapi juga pembukaan hakikat: menyaksikan kebenaran Allah di balik ibadah.
4. Makrifat (pengenalan kepada Allah)
📖 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat 51:56)
➡ Para mufassir sufi menafsirkan “liya‘budun” sebagai “liya‘rifun” = agar mereka mengenal-Ku (ma‘rifah). Makrifat adalah pengenalan batin terhadap Allah, melalui ibadah yang benar dan hati yang bersih.
5. Fana (lebur dalam Allah, lenyap ego)
📖 “Segala sesuatu pasti binasa (fana) kecuali Wajah-Nya.”
(QS. Al-Qashash 28:88)
📖 “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.”(QS. Al-Baqarah 2:156)
➡ Fana bukan hilang eksistensi fisik, tapi kesadaran diri luluh dalam kesadaran Allah. Ego dan “aku” sirna, hanya Allah yang dilihat sebagai sumber segala sesuatu.
(QS. Al-Qashash 28:88)
📖 “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.”(QS. Al-Baqarah 2:156)
➡ Fana bukan hilang eksistensi fisik, tapi kesadaran diri luluh dalam kesadaran Allah. Ego dan “aku” sirna, hanya Allah yang dilihat sebagai sumber segala sesuatu.
🔑 Kesimpulan dari Al-Qur’an
• Syariat: aturan dari Allah (Al-Jatsiyah 18).
• Tarekat: jalan menuju Allah (Al-‘Ankabut 69).
• Hakikat: kebenaran sejati (Al-Hijr 99).
• Makrifat: pengenalan Allah (Adz-Dzariyat 56).
• Fana: lenyap dalam Allah (Al-Qashash 88).
🕌 Menurut Hadis
1. Syariat – hukum lahiriah
Nabi ﷺ bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, Muslim)
➡ Syariat = tata cara ibadah lahiriah (shalat, puasa, zakat, haji). Semua dimulai dari mengikuti sunnah lahir.
2. Tarekat – jalan mendekat kepada Allah ; Hadis Qudsi:”Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
(HR. Bukhari)
➡ Tarekat = proses mujahadah dan amal ekstra (dzikir, wirid, sunnah) sebagai jalan mendekatkan diri.
3. Hakikat – menyaksikan kebenaran;
Nabi ﷺ bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim, Hadis Jibril)
➡ Hakikat = menyadari hakikat ibadah: bukan sekadar gerakan, tapi berdiri di hadapan Allah.
➡ Hakikat = menyadari hakikat ibadah: bukan sekadar gerakan, tapi berdiri di hadapan Allah.
4. Makrifat – mengenal Allah
Nabi ﷺ bersabda:”Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”(Hadis ini diperdebatkan sanadnya, tapi banyak digunakan ulama tasawuf).
➡ Makrifat = pengenalan batin kepada Allah melalui penyucian jiwa, pengenalan diri sebagai hamba.
5. Fana – lebur dalam Allah
Hadis Qudsi:”Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan.”HR. Bukhari)
➡ Fana = ego hamba lenyap, seluruh gerak hidupnya diwarnai oleh Allah.
🔑 Ringkasan dari Hadis
• Syariat → ikuti sunnah Nabi (Bukhari-Muslim).
• Tarekat → amalan sunnah mendekatkan diri (Bukhari).
• Hakikat → Ihsan = merasa diawasi Allah (Muslim).
• Makrifat → mengenal Allah lewat diri (atsar tasawuf).
• Fana → Allah menjadi pendengaran/penglihatan hamba (Bukhari).
🌿. Dalam khazanah hadis Ahlul Bayt (as), istilah syariat, tarekat, hakikat, makrifat, fana juga tidak muncul persis, tapi konsepnya sangat hidup dalam riwayat-riwayat mereka. Ulama tasawuf dan irfan banyak merujuk ke sini.
🕌 Hadis Ahlul Bayt tentang Syariat → Fana
1. Syariat – aturan lahiriah
Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) bersabda:”Agama adalah tiang. Syariat adalah jalan untuk sampai kepada Allah. Barang siapa tidak menempuh syariat, ia tidak sampai kepada Allah.”(Al-Kafi, jilid 2)
➡ Syariat = fondasi, tidak bisa ditinggalkan.
Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) bersabda:”Agama adalah tiang. Syariat adalah jalan untuk sampai kepada Allah. Barang siapa tidak menempuh syariat, ia tidak sampai kepada Allah.”(Al-Kafi, jilid 2)
➡ Syariat = fondasi, tidak bisa ditinggalkan.
2. Tarekat – jalan spiritual
Imam Ali (as) berkata:”Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak kulihat.”(Nahjul Balaghah, khutbah 179)
➡ Tarekat = perjalanan ruhani dengan dzikir, ibadah, mujahadah hingga hati terbuka melihat Allah dengan mata batin.
3. Hakikat – kebenaran sejati, Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) berkata: “Syariat adalah ibadah, tarekat adalah niat, hakikat adalah penyaksian.”(Mizan al-Hikmah, bab al-Haqiqah)
➡ Hakikat = menyaksikan kebenaran di balik ibadah.
4. Makrifat – mengenal Allah
Imam Ali (as) bersabda:”Awal agama adalah mengenal-Nya (ma‘rifah). Kesempurnaan ma‘rifah adalah membenarkan-Nya. Kesempurnaan pembenaran adalah mentauhidkan-Nya. Kesempurnaan tauhid adalah mengikhlaskan agama hanya bagi-Nya.”(Nahjul Balaghah, khutbah pertama)
➡ Makrifat = fondasi agama, mengenal Allah dengan hati.
5. Fana – lenyap ego dalam Allah
Imam al-Baqir (as) berkata:”Hamba sejati adalah yang lenyap dari dirinya, dan hanya melihat Tuhannya dalam segala hal.”(Bihar al-Anwar, 67:225)
➡ Fana = puncak perjalanan ruhani, hamba tidak melihat dirinya, hanya Allah.
🔑 Ringkas;
• Syariat → aturan zahir (Al-Kafi 2).
• Tarekat → perjalanan ruhani menuju penyaksian (Nahjul Balaghah 179).
• Hakikat → inti ibadah adalah penyaksian (Mizan al-Hikmah).
• Makrifat → awal agama adalah mengenal Allah (Nahjul Balaghah 1).
• Fana → hamba lenyap dalam Allah (Bihar al-Anwar 67:225).
Para ahli tasawuf/‘irfan (sufi Sunni maupun arif Syiah) menjelaskan urutan syariat, tarekat, hakikat, makrifat, fana. Mereka menafsirkan berdasarkan Qur’an, hadis Nabi ﷺ, dan riwayat Ahlul Bayt (as).
🧕 Menurut Para Ahli
1. Syariat
• Imam al-Ghazali (Sunni, Ihya’ Ulum al-Din):”Syariat adalah perahu. Siapa yang hanya berada di pantai tanpa perahu, ia tidak akan sampai ke samudera.”
• Mulla Sadra (Syiah, Asfar):
“Syariat adalah bentuk lahiriah agama, pintu masuk yang tidak boleh ditinggalkan.”
➡ Semua ahli sepakat: syariat = fondasi.
2. Tarekat ;
• Jalaluddin Rumi:
“Syariat itu seperti lilin, menunjukkan jalan. Tarekat adalah berjalan di jalan itu.”
“Syariat itu seperti lilin, menunjukkan jalan. Tarekat adalah berjalan di jalan itu.”
• Ayatullah Khomeini (Adabus Shalat):”Tarekat adalah perjalanan batin menuju Allah melalui dzikir, muraqabah, mujahadah.”
➡ Tarekat = proses perjalanan ruhani.
3. Hakikat
• Abdul Qadir al-Jailani (Sufi besar):”Syariat tanpa hakikat adalah sia-sia, hakikat tanpa syariat adalah zindiq.”
• Imam Khomeini:
“Hakikat adalah tersingkapnya kebenaran di balik ibadah, bahwa Allah adalah sumber segala gerak.”
➡ Hakikat = inti makna ibadah, bukan sekadar bentuk.
“Hakikat adalah tersingkapnya kebenaran di balik ibadah, bahwa Allah adalah sumber segala gerak.”
➡ Hakikat = inti makna ibadah, bukan sekadar bentuk.
4. Makrifat ;
• Imam Ali (as) [ditafsirkan oleh ulama irfan]: “Awal agama adalah makrifat kepada Allah.”
• Ibn ‘Arabi (Futuhat al-Makkiyyah): “Makrifat adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati hamba-Nya, sehingga ia melihat hakikat segala sesuatu dengan mata Allah.”
➡ Makrifat = pengenalan langsung kepada Allah dengan hati.
5. Fana
• Al-Junaid al-Baghdadi:
“Fana adalah lenyapnya sifat-sifat hamba, dan yang tinggal hanyalah Allah.”
“Fana adalah lenyapnya sifat-sifat hamba, dan yang tinggal hanyalah Allah.”
• Sayyid Haydar Amuli (Syiah arif):”Fana bukan hilangnya wujud hamba, tetapi hilangnya ‘aku’. Setelah fana ada baqa (kekal bersama Allah).”
➡ Fana = puncak perjalanan: ego sirna, hanya Allah yang tampak.
🔑 Kesimpulan Para Ahli;
• Syariat → pintu masuk (aturan lahir).
• Tarekat → jalan perjalanan ruhani.
• Hakikat → inti kebenaran ibadah.
• Hakikat → inti kebenaran ibadah.
• Makrifat → pengenalan Allah.
• Fana → puncak penyaksian, ego sirna, baqa bersama Allah.
• Fana → puncak penyaksian, ego sirna, baqa bersama Allah.
Khusus menurut ahli Syiah (para arif, filosof, dan ulama irfan), konsep syariat – tarekat – hakikat – makrifat – fana dijelaskan sangat runtut, biasanya dalam kerangka Qur’an, hadis Nabi ﷺ, dan riwayat Ahlul Bayt (as).
🕌 Pandangan Ahli Syiah tentang Jalan Ruhani
1. Syariat – aturan lahiriah ;
• Imam Khomeini (Adabus Shalat): “Syariat adalah bentuk lahiriah ibadah; shalat, puasa, zakat. Tanpa ini, tak mungkin ada jalan menuju Allah.”
• Allamah Thabathaba’i (Tafsir al-Mizan): “Syariat adalah jembatan penghubung. Ibadah-ibadah syariat mengandung rahasia yang bila direnungkan membawa kepada batin.”
• Allamah Thabathaba’i (Tafsir al-Mizan): “Syariat adalah jembatan penghubung. Ibadah-ibadah syariat mengandung rahasia yang bila direnungkan membawa kepada batin.”
➡ Syariat = pondasi, bukan tujuan akhir.
2. Tarekat – jalan spiritual
• Sayyid Haydar Amuli (Jami‘ al-Asrar):”Tarekat adalah perjalanan menuju hakikat. Syariat adalah kulitnya, hakikat adalah intinya.”
• Mulla Sadra (Asfar Arba‘ah):
“Jalan ruhani adalah perpindahan dari dunia indera, ke alam akal, hingga tersingkap alam hakikat.”
➡ Tarekat = latihan batin, dzikir, mujahadah.
3. Hakikat – kebenaran sejati
• Sayyid Haydar Amuli:
“Hakikat adalah penyaksian (mushahadah). Barang siapa berhenti di syariat tanpa hakikat, ia kering. Barang siapa ke hakikat tanpa syariat, ia sesat.”
• Imam Khomeini:”Hakikat shalat adalah mi‘raj ruhani; ketika hamba menyaksikan kehadiran Allah, bukan hanya gerakan lahir.”
➡ Hakikat = tersingkapnya realitas di balik ibadah.
➡ Hakikat = tersingkapnya realitas di balik ibadah.
4. Makrifat – pengenalan kepada Allah;
• Imam Ali (Nahjul Balaghah, dikupas ulama irfan):”Awal agama adalah makrifat kepada Allah.”
• Allamah Thabathaba’i:
“Makrifat adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati, bukan hasil logika semata.”
• Allamah Thabathaba’i:
“Makrifat adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati, bukan hasil logika semata.”
• Mulla Sadra:
“Makrifat sejati adalah kesatuan wujud dengan Allah (wahdat al-wujud) setelah melalui perjalanan ruhani.”
“Makrifat sejati adalah kesatuan wujud dengan Allah (wahdat al-wujud) setelah melalui perjalanan ruhani.”
➡ Makrifat = cahaya pengenalan Allah dalam hati.
5. Fana (dan Baqa) – lenyapnya ego dalam Allah
• Sayyid Haydar Amuli:”Fana bukan lenyapnya wujud hamba, tapi lenyapnya sifat ego. Setelah fana ada baqa, yaitu kekal bersama Allah.”
• Imam Khomeini (Misbah al-Hidayah):”Fana adalah kesempurnaan tauhid: melihat tiada yang berbuat, tiada yang wujud, kecuali Allah.”
➡ Fana = hancurnya “aku”, hanya Allah yang tersisa. Setelah fana ada baqa billah (hidup kekal bersama Allah).
🔑 Ringkasan Ahli Syiah
• Syariat → fondasi lahiriah ibadah.
• Tarekat → jalan ruhani menuju Allah.
• Hakikat → tersingkapnya makna ibadah.
• Makrifat → cahaya pengenalan Allah.
• Fana → lenyapnya ego, puncaknya baqa billah.
• Hakikat → tersingkapnya makna ibadah.
• Makrifat → cahaya pengenalan Allah.
• Fana → lenyapnya ego, puncaknya baqa billah.
10 kisah/cerita dari tradisi Qur’an, hadis Nabi ﷺ, riwayat Ahlul Bayt (as), serta pengalaman para arif Syiah–Sufi yang menggambarkan perjalanan syariat → tarekat → hakikat → makrifat → fana.
✨ 10 Kisah & Ceritanya
1. Kisah Nabi Musa (as) dan Khidr (Al-Kahfi 65–82)
1. Kisah Nabi Musa (as) dan Khidr (Al-Kahfi 65–82)
• Musa mewakili syariat (aturan lahiriah).
• Khidr mewakili hakikat (rahasia di balik perintah).
• Khidr mewakili hakikat (rahasia di balik perintah).
➡ Kisah ini menunjukkan: ada hukum lahir, tapi ada pula rahasia batin yang hanya diketahui dengan izin Allah.
2. Kisah Nabi Ibrahim (as) mencari Tuhan (Al-An‘am 76–79)
• Melihat bintang, bulan, matahari, lalu menolaknya.
• Akhirnya berkata: “Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.”
➡ Dari tarekat (pencarian) menuju makrifat (pengenalan sejati).
3. Hadis Jibril ;
• Jibril bertanya tentang Islam, Iman, dan Ihsan.
• Nabi ﷺ menjawab: Islam (syariat), Iman (tarekat/hakikat), Ihsan (makrifat).
• Nabi ﷺ menjawab: Islam (syariat), Iman (tarekat/hakikat), Ihsan (makrifat).
➡ Menggambarkan jenjang ruhani.
4. Imam Ali (as) berkata:”Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak kulihat.” (Nahjul Balaghah)
➡ Syariat = ibadah lahir, Hakikat = penyaksian, Makrifat = pengenalan langsung.
5. Kisah Salman al-Farisi (ra)
• Mencari kebenaran dari Persia → Nasrani → akhirnya sampai kepada Nabi ﷺ.
• Ia berkata: “Aku pindah dari satu syariat ke syariat lain, hingga menemukan hakikat dalam Islam.” ➡ Kisah pencarian tarekat menuju hakikat.
6. Imam Ja‘far ash-Shadiq (as)
Beliau berkata: “Syariat adalah ibadah, tarekat adalah niat, hakikat adalah penyaksian.”
➡ Menunjukkan tiga lapisan jalan ruhani.
7. Rabiah al-Adawiyah (sufi wanita)
Ditanya: “Mengapa engkau ibadah?”
Ia menjawab: “Aku tidak beribadah karena takut neraka atau ingin surga. Aku beribadah hanya karena cinta kepada Allah.”
➡ Dari syariat menuju makrifat (cinta murni).
8. Al-Junaid al-Baghdadi
Beliau berkata tentang fana:
“Aku lenyap dari diriku. Maka yang tinggal hanyalah Allah yang berbicara dengan lisanku.”
➡ Puncak fana: hilangnya ego.
9. Kisah Mulla Sadra (filosof-irfani Syiah) Dalam perjalanan suluknya, ia pernah menyepi di Kahak (Iran) selama 15 tahun, beribadah dan bermujahadah.
➡ Dari syariat (ilmu fikih), masuk ke tarekat (riyadhah), hingga mencapai hakikat-makrifat (filsafat wujud).
10. Imam Khomeini ; Dalam kitab Adabus Shalat, beliau menulis:
“Shalat adalah mi‘raj seorang mukmin. Bila engkau hanya sibuk dengan bentuk, engkau tertinggal dari hakikat. Bila engkau lalai dari Allah, shalatmu hanyalah gerakan tubuh.”
➡ Menunjukkan perjalanan dari syariat (bentuk) → hakikat (makna) → makrifat (hadir bersama Allah).
🔑 Inti dari 10 Kisah
1. Musa & Khidr → syariat & hakikat.
2. Ibrahim → tarekat menuju makrifat.
3. Hadis Jibril → Islam, Iman, Ihsan.
4. Imam Ali → penyaksian.
5. Salman → pencarian hakikat.
6. Imam Shadiq → definisi syariat–tarekat–hakikat.
7. Rabiah → ibadah karena cinta (makrifat).
1. Musa & Khidr → syariat & hakikat.
2. Ibrahim → tarekat menuju makrifat.
3. Hadis Jibril → Islam, Iman, Ihsan.
4. Imam Ali → penyaksian.
5. Salman → pencarian hakikat.
6. Imam Shadiq → definisi syariat–tarekat–hakikat.
7. Rabiah → ibadah karena cinta (makrifat).
8. Junaid → fana.
9. Mulla Sadra → suluk & filsafat wujud.
9. Mulla Sadra → suluk & filsafat wujud.
10. Imam Khomeini → shalat lahir & batin.
✨ 10 Kisah Ruhani: Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Fana
1. Musa dan Khidr – Syariat & Hakikat; Suatu hari Nabi Musa (as) memohon untuk belajar kepada seorang hamba pilihan Allah, Khidr. Musa adalah pembawa syariat: jelas, teratur, tegas. Tapi ketika berjalan bersama Khidr, ia melihat Khidr melubangi perahu, membunuh seorang anak, dan memperbaiki tembok tanpa imbalan. Musa protes, karena itu semua tampak salah menurut syariat. Namun di akhir, Khidr membuka hakikat: perahu dilubangi agar tidak dirampas, anak dibunuh karena kelak akan menjadi kafir, tembok diperbaiki karena menyimpan harta anak yatim.
➡ Allah mengajarkan: ada hukum lahir, dan ada rahasia batin yang tersembunyi.
2. Ibrahim Mencari Tuhan – Dari Tarekat ke Makrifat
Nabi Ibrahim (as) sejak muda mencari Tuhan. Ia melihat bintang, lalu berkata: “Inilah Tuhanku.” Tapi ketika bintang tenggelam, ia berkata: “Aku tidak suka yang tenggelam.” Ia mencoba bulan, matahari, tapi semua tenggelam. Akhirnya ia berkata: “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, dengan tulus, dan aku bukan termasuk orang musyrik.” (Al-An‘am: 79).
➡ Perjalanan tarekat Ibrahim berakhir dengan makrifat: mengenal Allah yang abadi.
3. Hadis Jibril – Islam, Iman, Ihsan
Suatu hari Jibril datang dalam rupa manusia, duduk di depan Nabi ﷺ, dan bertanya: “Wahai Muhammad, apa itu Islam, apa itu Iman, apa itu Ihsan?” Nabi menjawab:
• Islam = syariat: shalat, zakat, puasa, haji.
• Iman = keyakinan pada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir.
• Ihsan = engkau beribadah seakan-akan engkau melihat Allah
• Iman = keyakinan pada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir.
• Ihsan = engkau beribadah seakan-akan engkau melihat Allah
➡ Hadis ini menyingkap lapisan: syariat (Islam), tarekat & hakikat (Iman), makrifat (Ihsan).
4. Imam Ali: Menyembah Tuhan yang Dilihat; Dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali (as) berkata:
“Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak kulihat.” Orang bertanya: “Apakah engkau melihat Allah dengan mata kepalamu?” Imam menjawab: “Tidak, tetapi aku melihat-Nya dengan mata hatiku.”
➡ Hakikat ibadah bukan sekadar gerakan, melainkan penyaksian. Makrifat adalah melihat Allah dengan hati.
5. Salman al-Farisi: Pencarian Sejati ; Salman lahir di Persia, anak seorang pemuka agama Zoroaster. Ia mencari kebenaran, pindah ke Nasrani, lalu berguru ke banyak rahib. Akhirnya ia sampai di Madinah, bertemu Nabi ﷺ, dan masuk Islam. Salman berkata: “Aku berpindah dari satu syariat ke syariat lain, hingga aku menemukan hakikat dalam Islam.”
➡ Salman adalah teladan pencari tarekat, yang akhirnya sampai ke hakikat bersama Nabi dan Ahlul Bayt.
6. Imam Ja‘far ash-Shadiq: Syariat, Tarekat, Hakikat
Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) menjelaskan:”Syariat adalah ibadah, tarekat adalah niat, hakikat adalah penyaksian.”
➡ Beliau merangkum jalan ruhani: dimulai dari ibadah lahiriah, lalu dibarengi dengan niat tulus, hingga sampai pada penyaksian batin.
7. Rabiah al-Adawiyah: Cinta sebagai Makrifat; Rabiah adalah seorang wanita sufi. Orang bertanya: “Mengapa engkau ibadah dengan begitu tekun?” Rabiah menjawab: “Aku tidak beribadah karena takut neraka, dan tidak pula karena ingin surga. Aku beribadah hanya karena cinta kepada Allah.”
➡ Inilah makrifat cinta: ibadah bukan karena imbalan, melainkan karena pengenalan sejati kepada Allah.
8. Junaid al-Baghdadi: Fana
Suatu ketika, murid bertanya kepada al-Junaid tentang fana. Ia menjawab:
“Fana adalah ketika engkau lenyap dari dirimu, dan yang berbicara hanyalah Allah melalui lidahmu.”
➡ Inilah fana fi Allah: sirnanya ego, tersisa hanya Allah.
9. Mulla Sadra: Menyepi di Kahak
Mulla Sadra, filosof dan arif besar Syiah, pernah ditentang karena pemikirannya yang tinggi. Ia lalu menyepi di desa Kahak selama 15 tahun, beribadah, berzikir, dan merenung. Dari sana lahirlah karya besarnya Asfar Arba‘ah (“Empat Perjalanan Jiwa”).
➡ Ia menempuh tarekat (riyadhah jiwa), menyaksikan hakikat, hingga mencapai makrifat dalam filsafat wujud.
10. Imam Khomeini: Shalat sebagai Mi‘raj; Dalam kitab Adabus Shalat, Imam Khomeini menulis:
“Shalat adalah mi‘raj seorang mukmin. Jika engkau hanya sibuk dengan bentuk lahirnya, engkau tertinggal dari hakikat. Jika engkau lalai dari Allah, shalatmu hanyalah gerakan tubuh. Hakikat shalat adalah hadir bersama Allah.”
➡ Shalat adalah perjalanan dari syariat (gerakan), menuju hakikat (penyaksian), hingga fana (hilang ego, hanya Allah yang dilihat).
🌸 Kesimpulan Narasi
1. Musa & Khidr → ada syariat & hakikat.
2. Ibrahim → pencarian tarekat berakhir dengan makrifat.
3. Hadis Jibril → tiga lapisan: syariat, hakikat, makrifat.
4. Imam Ali → ibadah dengan penyaksian.
5. Salman → pencarian sejati menuju hakikat.
6. Imam Shadiq → syariat–tarekat–hakikat.
7. Rabiah → ibadah karena cinta (makrifat).
8. Junaid → fana (sirna ego).
9. Mulla Sadra → perjalanan ruhani filosof.
10. Imam Khomeini → shalat sebagai mi‘raj ruhani.
✨ Kisah Perjalanan Ruhani Menurut Ahlul Bayt (as)
1. Imam Ali (as)
– Ibadah Bukan karena Surga atau Neraka
Beliau berkata:”Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka, itu ibadah seorang budak. Aku tidak menyembah-Nya karena mengharap surga, itu ibadah seorang pedagang. Tetapi aku menyembah-Nya karena Dia layak disembah. Itulah ibadah orang merdeka.”
Beliau berkata:”Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka, itu ibadah seorang budak. Aku tidak menyembah-Nya karena mengharap surga, itu ibadah seorang pedagang. Tetapi aku menyembah-Nya karena Dia layak disembah. Itulah ibadah orang merdeka.”
➡ Menunjukkan perjalanan dari syariat (ibadah formal) menuju makrifat (ibadah karena Allah semata).
2. Imam Ali (as)
– “Aku Melihat Allah” Ketika ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu?” Imam Ali menjawab:”Apakah aku menyembah sesuatu yang tidak kulihat? Aku melihat Allah dengan mata hati, bukan dengan mata kepala.” (Nahjul Balaghah, Khutbah 179)
➡ Ini adalah puncak hakikat dan makrifat: penyaksian dengan hati.
3. Imam Hasan (as)
– Wajah Pucat saat Wudhu;
Diriwayatkan, setiap kali Imam Hasan (as) berwudhu, wajahnya menjadi pucat. Orang bertanya: “Mengapa demikian?”
Beliau menjawab:”Tidakkah kalian tahu di hadapan siapa aku akan berdiri?”
Beliau menjawab:”Tidakkah kalian tahu di hadapan siapa aku akan berdiri?”
➡ Menunjukkan kesadaran hakikat shalat: berdiri langsung di hadapan Allah.
4. Imam Husain (as) di Karbala
Di tengah musibah Karbala, beliau berdoa:”Ya Allah, aku ridha dengan ketetapan-Mu, berserah pada perintah-Mu. Tiada tempat berlindung selain kepada-Mu.”
➡ Kisah ini adalah contoh fana: lenyapnya ego, hanya kehendak Allah yang dilihat.
5. Imam Zainal Abidin (as)
– Doa Makrifat; Dalam Sahifah Sajjadiyyah, beliau berdoa:”Ya Allah, limpahkan cahaya makrifat-Mu ke dalam hatiku, sehingga aku mengenal-Mu dengan sebenar-benarnya.”
➡ Menunjukkan kerinduan seorang arif untuk mencapai makrifat.
6. Imam Muhammad al-Baqir (as)
Beliau berkata:”Hamba sejati adalah yang hilang dari dirinya, hanya melihat Tuhannya dalam segala hal.” (Bihar al-Anwar, 67:225)
➡ Inilah definisi fana fi Allah menurut Ahlul Bayt.
7. Imam Ja‘far ash-Shadiq (as)
Beliau menjelaskan:”Syariat adalah ibadah, tarekat adalah niat, hakikat adalah penyaksian.” (Mizan al-Hikmah)
➡ Ringkas tapi dalam: jalan ruhani adalah perpaduan lahir dan batin.
8. Imam Musa al-Kazhim (as) dalam Penjara
Beliau sering berdoa dalam penjara: “Ya Allah, aku ridha dengan ketentuan-Mu, meski tubuhku dipenjara, hatiku bebas bersama-Mu.”
➡ Sebuah contoh baqa billah: meski tubuh terikat, ruh hidup bersama Allah.
9. Imam Ridha (as) – Tentang Syariat & Hakikat; Beliau berkata: Setiap ibadah memiliki kulit dan inti. Kulitnya adalah syariat, intinya adalah hakikat.”
➡ Mengajarkan agar tidak berhenti di lahiriah saja.
10. Imam Mahdi (aj) – Doa Arafah
Dalam doa yang diajarkan melalui para Imam, beliau memohon: “Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku wajah-Mu yang mulia, hingga aku lebur dalam cahaya-Mu.”
➡ Doa ini menggambarkan kerinduan mencapai fana dalam Allah.
🌸 Ringkasan;
• Syariat: ibadah formal (wudhu, shalat, puasa).
• Tarekat: jalan hati dengan niat dan dzikir.
• Tarekat: jalan hati dengan niat dan dzikir.
• Hakikat: sadar ibadah sebagai penyaksian.
• Makrifat: mengenal Allah dengan hati.
• Fana: lenyap ego, ridha total pada Allah.
Kisah Sayyidah Khadijah (sa) dan Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa) sangat dalam kalau dilihat dari perspektif syariat → tarekat → hakikat → makrifat → fana. Keduanya adalah teladan wanita suci Ahlul Bayt yang hidupnya penuh pelajaran ruhani.
✨ Kisah Sayyidah Khadijah (sa) & Sayyidah Fatimah (sa)
1. Sayyidah Khadijah (sa) – Ibu Kaum Mukminin
• Syariat: Beliau adalah wanita Quraisy yang dikenal jujur, menjaga kehormatan, dan kaya raya. Dengan harta itu, beliau berinfak untuk Islam sejak awal dakwah Nabi ﷺ.
• Tarekat: Ia menyerahkan seluruh kekayaan dan tenaganya untuk perjuangan Nabi ﷺ. Bahkan saat boikot di Syi‘b Abi Thalib, beliau rela hidup miskin bersama Nabi dan kaum muslimin.
• Hakikat: Ia menyadari bahwa harta, kedudukan, dan dunia hanyalah titipan Allah.
• Makrifat: Khadijah beribadah bukan karena dunia atau takut, tetapi karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
• Fana: Ia mengorbankan segalanya—harta, status, bahkan nyawa—hingga wafat dalam keadaan ridha Allah.
📖 Riwayat: Nabi ﷺ bersabda: “Khadijah beriman kepadaku ketika orang lain mendustakanku, ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku, ia mengorbankan hartanya untukku ketika orang lain menahannya. Dan Allah menganugerahkan kepadaku anak-anak darinya.”HR. Ahmad, al-Hakim)
2. Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa) – Sayyidatun Nisa’ al-‘Alamin
• Syariat: Beliau sangat tekun shalat, puasa, dan ibadah sesuai syariat Nabi ﷺ. Bahkan disebut Awwah (yang sering berdoa).
• Tarekat: Fatimah dikenal sebagai ahli dzikir. Dari beliaulah tasbih Sayyidah Fatimah diajarkan, yang hingga kini diamalkan umat Islam setelah shalat.
• Hakikat: Dalam ibadahnya, beliau menangis panjang di malam hari, menyadari bahwa shalat adalah mi‘raj ruhani, bukan sekadar kewajiban lahiriah.
• Makrifat: Doa beliau penuh makrifat.
• Makrifat: Doa beliau penuh makrifat.
Dalam Doa Fatimah az-Zahra, ia berdoa: “Ya Allah, aku ridha dengan ketetapan-Mu, ikhlas dengan perintah-Mu, dan tidak melihat selain-Mu.”
• Fana: Puncak pengorbanan beliau adalah kesabarannya setelah wafatnya Nabi ﷺ. Ia rela menanggung penderitaan demi menjaga wasiat Rasulullah. Egonya hilang, hanya Allah dan kebenaran yang ia bela.
📖 Riwayat: Imam Hasan (as) berkata: “Pada malam hari, aku mendengar ibuku berdoa untuk orang lain: tetangga, kaum muslimin, sebelum dirinya. Ketika kutanya, beliau menjawab: ‘Wahai anakku, dahulu tetangga lalu keluarga.’”(Bihar al-Anwar, 43:81)
➡ Ini adalah bukti fana dalam doa: lebih mendahulukan orang lain daripada diri sendiri.
➡ Ini adalah bukti fana dalam doa: lebih mendahulukan orang lain daripada diri sendiri.
🌺 Pelajaran dari Dua Wanita Agung
1. Sayyidah Khadijah → teladan pengorbanan (fana dari harta dan status demi Allah).
2. Sayyidah Fatimah → teladan ibadah & dzikir (fana dari ego, hidup hanya untuk Allah).
2. Sayyidah Fatimah → teladan ibadah & dzikir (fana dari ego, hidup hanya untuk Allah).
✨ 10 Manfaat & Doanya
1. Menjadi Hamba yang Taat (Syariat)
📌 Manfaat: Hidup teratur dengan hukum Allah, selamat dari dosa.
🤲 Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ بِشَرِيعَتِكَ
“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang berpegang teguh pada syariat-Mu.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ بِشَرِيعَتِكَ
“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang berpegang teguh pada syariat-Mu.”
2. Hati Lebih Tenang (Tarekat)
📌 Manfaat: Dzikir dan suluk membersihkan hati dari gelisah.
🤲 Doa: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ya Allah, jadikan dzikir-Mu sebagai penenang hatiku.” (QS Ar-Ra‘d: 28)
3. Ikhlas dalam Ibadah (Hakikat)
📌 Manfaat: Ibadah tidak hanya gerakan, tapi kesadaran hadir di hadapan Allah.
🤲 Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِبَادَتِي خَالِصَةً لَكَ
“Ya Allah, jadikan ibadahku tulus hanya untuk-Mu.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِبَادَتِي خَالِصَةً لَكَ
“Ya Allah, jadikan ibadahku tulus hanya untuk-Mu.”
4. Dekat dengan Allah (Makrifat)
📌 Manfaat: Mengenal Allah dengan hati, bukan sekadar dengan akal.
🤲 Doa:
اَللَّهُمَّ عَرِّفْنِي نَفْسَكَ فَإِنَّكَ إِنْ لَمْ تُعَرِّفْنِي نَفْسَكَ لَمْ أَعْرِفْ نَبِيَّكَ
“Ya Allah, perkenalkanlah diri-Mu kepadaku, karena jika tidak, aku tidak akan mengenal Nabi-Mu.” (Doa Syiah Ma‘rifat)
5. Menjadi Rendah Hati
📌 Manfaat: Menyadari semua dari Allah, ego terkikis;
🤲 Doa:
اَللَّهُمَّ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Ya Allah, jangan biarkan aku bersandar pada diriku sendiri walau sekejap mata.”
اَللَّهُمَّ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Ya Allah, jangan biarkan aku bersandar pada diriku sendiri walau sekejap mata.”
6. Sabar dalam Ujian
📌 Manfaat: Jalan ruhani penuh cobaan, tapi sabar membuka jalan ke hakikat.
🤲 Doa: رَبِّ اصْبِرْنِي وَتَوَفَّنِي مُسْلِمًا
“Ya Tuhanku, berilah aku kesabaran dan wafatkan aku sebagai muslim.” (QS Yusuf: 101)
7. Merasakan Cinta Ilahi
📌 Manfaat: Ibadah bukan karena takut atau berharap imbalan, tapi karena cinta.
🤲 Doa:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي
“Ya Allah, jadikan cinta-Mu lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي
“Ya Allah, jadikan cinta-Mu lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”
8. Fana dari Ego
📌 Manfaat: Merasa tiada daya dan upaya selain dengan Allah.
🤲 Doa:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”
9. Baqa Billah (Hidup bersama Allah)
📌 Manfaat: Setelah fana, hamba hidup dengan Allah, dalam Allah, untuk Allah.
🤲 Doa:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ كَمَا تُحِبُّ
“Ya Allah, jadikan aku untuk-Mu sebagaimana Engkau cintai.”
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ كَمَا تُحِبُّ
“Ya Allah, jadikan aku untuk-Mu sebagaimana Engkau cintai.”
10. Selamat Dunia & Akhirat
📌 Manfaat: Syariat, tarekat, hakikat, makrifat, fana – semua membawa keselamatan sejati.
🤲 Doa:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah: 201)
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah: 201)
🌸 Jadi, tiap tahap perjalanan ruhani punya manfaat praktis dalam jiwa, dan bisa dikuatkan dengan doa pendek.
Munajat Penempuh Jalan Thariqat
(Kumpulan 15 Munajat Imam Ali Zainal Abidin AsSajjad as.)
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Ya Allah, limpahkanlah sholawat atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.
Maha suci Engkau - Alangkah sempitnya jalan bagi orang yang tidak mempunyai jalan.
Alangkah jelasnya jalan bagi orang yang telah Kautunjuki.
Ilahi, Bimbinglah kami ke jalan-jalan menuju-Mu. Lapangkanlah kami kejalan terdekat-Mu,
dekatkan bagi kami yang jauh,
mudahkan bagi kami yang berat dan sulit. Gabungkan kami dengan hamba-hamba-Mu yang berlari cepat mencapai-Mu ; yang senantiasa mengetuk pintu-Mu, yang - malam dan siangnya – beribadat pada-Mu,
yang bergetar takut karena kehebatan-Mu.
Yang Kaubersihkan tempat minumnya. Yang Kausampaikan keinginannya, yang Kaupenuhi permintaannya, yang Kaupuaskan - dengan karunia-Mu kedambaannya,
yang Kaupenuhi - dengan -kasih-Mu- sanubarinya, yang Kauhilangkan dahaganya dengan kemurnian minuman-Mu.
Karena Engkau, mereka mencapai kelezatan menyeru-Mu.
Dari Engkau, mereka memperoleh puncak cita-citanya.
Wahai Zat yang menyambut orang-orang yang menemui-Nya.
Yang kembali kepada mereka,
yang memberi karunia,
yang mengasih sayangi orang-orang
yang lalai mengingat-Nya,
yang mencinta kasihi orang-orang yang tertarik kepintu-Nya.
Daku bermohon pada-Mu,
jadikan daku yang paling banyak mendapat karunia-Mu, yang paling tinggi kedudukannya di sisi-Mu
yang paling besar bagiannya dari cinta-Mu, yang paling utama memperoleh makrifat-Mu.
Untuk-Mu saja tercurah hikmahku,
kepada-Mu jua terpusat hasratku.
Engkaulah saja tempat kedambaanku tidak yang lain.
Karena-Mu saja daku tegak terjaga tidak karena yang lain, perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku,
pertemuan dengan-Mu kecintaan diriku.
Kepada-Mu kedambaanku
pada cinta-Mu tumpuanku,
pada kasih-Mu gelora rinduku.
Ridho-Mu tujuanku.
Melihat-Mu keperluanku.
Mendampingi-Mu keinginanku.
Mendekati-Mu puncak permohonanku. Bermunajat pada-Mu kedamaian dan ketentramku.
Di sisi-Mu penawar deritaku penyem buh lukaku, penyejuk dukaku penghilang sengsaraku. Jadilah Engkau sahabatku dalam kesunyian
yang menolong kejahatanku,
yang memaafkan kegelinciranku,
yang menerima taubatku,
yang memperkenankan doaku,
yang melindungi penjagaanku,
yang mengayakan kemiskinanku.
Jangan putuskan daku dari sisi-Mu,
jangan jauhkan daku dari diri-Mu.
Wahai nikmatku dan surgaku.
Wahai duniaku dan akhiratku.
Wahai yang paling pengasih dari segala yang mengasihi.
Ya Arhamar rôhimîn.
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon doa!!!!
Comments
Post a Comment