Makna ; Taqwa
Makna taqwa yang dirumuskan dari Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama:
Taqwa berasal dari kata wiqayah (perlindungan). Artinya: menjadikan perisai agar terhindar dari azab Allah melalui iman dan amal saleh.
2. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya
Sebagaimana disampaikan Sayyidina Ali (as): “Taqwa ialah takut kepada Yang Mahaagung, beramal dengan wahyu, ridha dengan yang sedikit, dan mempersiapkan diri untuk akhirat.”
3. Kesadaran penuh akan kehadiran Allah (murāqabah)
Orang bertaqwa selalu merasa diawasi Allah, sehingga setiap ucapan, niat, dan perbuatannya dijaga.
4. Keseimbangan antara rasa takut dan harapan
Bukan sekadar takut pada hukuman, tetapi juga penuh harapan pada rahmat Allah. Taqwa = takut yang membuat dekat, bukan lari.
5. Membersihkan hati dari dosa dan sifat tercela
Taqwa tidak hanya soal amal lahiriah, tapi juga kesucian batin dari riya’, dengki, sombong, dll.
6. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup
Allah berfirman: “Kitab (Al-Qur’an) ini tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2).
7. Hidup dalam ketaatan konsisten (istiqamah)
Taqwa bukan sesaat, tapi kontinuitas dalam ibadah, amal baik, dan akhlak mulia.
8. Mengutamakan akhirat di atas dunia
Taqwa membuat seseorang lebih peduli pada keselamatan akhirat dibanding kesenangan sesaat di dunia.
9. Adil dan berakhlak mulia terhadap sesama
Taqwa mencakup hubungan dengan Allah (ḥablun minallāh) dan dengan manusia (ḥablun minannās). Orang bertaqwa tidak menzalimi.
10. Menghindari syubhat dan mendekat pada yang halal
Seperti hadis Nabi ﷺ: “Yang halal jelas dan yang haram jelas; di antara keduanya ada perkara syubhat. Barang siapa menjaga diri dari syubhat, ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”
Makna taqwa menurut Al-Qur’an
1. Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup; Kitab (Al-Qur’an) ini tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
👉 Taqwa = syarat agar seseorang bisa mendapatkan hidayah dari Al-Qur’an.
2. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah:”Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.”(QS. Ali Imran: 102)
3. Menjaga diri dari azab Allah
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir.””QS. Ali Imran: 131)
4. Mencapai derajat kemuliaan (karamah/izzah); “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa di antara kamu.””QS. Al-Hujurat: 13)
5. Mendapat jalan keluar dan rezeki tak terduga; “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.””QS. Ath-Thalaq: 2–3)
6. Menjadi orang yang dicintai Allah:”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa.”(QS. At-Tawbah: 4, 7)
👉 Taqwa = jalan untuk memperoleh cinta Ilahi.
7. Mendapat ampunan dosa dan pahala besar; Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.”(QS. Ath-Thalaq: 5)
8. Kekuatan batin dan furqān (kemampuan membedakan benar-salah):”Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami berikan kepadamu furqān (kemampuan membedakan benar dan salah), Kami hapuskan kesalahan-kesalahanmu, dan Kami ampuni dosa-dosamu.”(QS. Al-Anfal: 29)
👉 Taqwa = melahirkan cahaya batin (hikmah & basirah).
9. Pertolongan Allah dalam urusan hidup; Dan bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarkan kepadamu (ilmu).”(QS. Al-Baqarah: 282)
10. Keselamatan akhirat (masuk surga); Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.”(QS. Shad: 49–50)
Makna taqwa menurut hadis Nabi ﷺ dan Ahlulbait (as)
1. Taqwa adalah puncak seluruh amal; Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang lebih baik diberikan kepada seorang hamba setelah iman selain taqwa.”
(HR. Tirmidzi)
2. Taqwa = takut kepada Allah yang disertai ketaatan; Imam Ali (as) berkata:”Taqwa ialah takut kepada Yang Mahaagung, beramal dengan wahyu, ridha dengan yang sedikit, dan mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan (kematian).”
(Nahjul Balaghah, Hikmah 312)
3. Menjaga diri dari dosa sekecil apa pun; Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bertaqwalah kepada Allah walau dengan (menjauhi) dosa yang kecil sekalipun, dan janganlah engkau meremehkannya.” (HR. Ahmad)
4. Menjaga diri dari syubhat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas; di antara keduanya ada perkara syubhat. Barang siapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
5. Kesadaran terus-menerus akan pengawasan Allah; Nabi ﷺ bersabda tentang ihsan (yang erat dengan taqwa):Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
6. Bekal terbaik untuk akhirat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada bekal yang lebih baik bagi seorang hamba selain taqwa.” (HR. Thabrani)
7. Menjaga lisan dan akhlak
Nabi ﷺ bersabda:”Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua pahanya (kemaluan), maka aku jamin baginya surga.”(HR. Bukhari)
👉 Salah satu bentuk nyata taqwa.
8. Tidak menzalimi orang lain
Imam Ja’far ash-Shadiq (as) berkata:”Bertaqwalah kepada Allah, berbuat baiklah kepada saudara-saudara kalian, dan janganlah kalian menanggung dosa dengan menzalimi mereka.”
(Al-Kafi, jilid 2, hlm. 77)
9. Sumber keselamatan dan kemuliaan; Rasulullah ﷺ bersabda:
“Taqwa adalah sumber segala kebaikan.” (HR. Baihaqi)
10. Hakikat taqwa adalah taat & sabar; Imam Ali (as) berkata:
“Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah kepala segala perkara, tiang agama, dan bekal menuju akhirat.”
(Nahjul Balaghah, Khutbah 110)
🕌 Jadi, menurut hadis:
Taqwa = kesadaran penuh pada Allah yang tampak dalam bentuk ketaatan, menjauhi dosa, menjaga akhlak, tidak menzalimi, serta menjadikan taqwa sebagai bekal menuju akhirat.
Makna taqwa menurut hadis-hadis Ahlul Bayt (as)
1. Takut kepada Allah + amal nyata
Imam Ali (as) berkata:”Taqwa ialah takut kepada Allah, beramal dengan Kitab-Nya, ridha dengan sedikit (rezeki), dan mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan (kematian).”
(Nahjul Balaghah, Hikmah 312)
2. Perisai seorang mukmin
Imam Ali (as) berkata:Sesungguhnya taqwa adalah perisai yang kokoh dan benteng yang kuat.”(Nahjul Balaghah, Khutbah 157)
👉 Taqwa = tameng yang menjaga dari dosa & azab.
3. Kepala semua kebaikan
Imam Ali (as) berkata:Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah kepala segala urusan, tiang agama, dan bekal menuju akhirat.”
(Nahjul Balaghah, Khutbah 110)
4. Kemuliaan sejati; Imam Ali (as) berkata:”Tidak ada kemuliaan seperti taqwa.”(Ghurar al-Hikam, no. 9023)
Imam Ja’far al-Shadiq (as) bersabda:”Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan manusia selain taqwa kepada Allah.”(Al-Kafi, jilid 2, hlm. 63)
Imam Ali (as) berkata:”Taqwa adalah mengekang jiwa dari keinginan-keinginan yang membinasakan.”
(Ghurar al-Hikam, no. 10547)
8. Akhlak dan adab sosial
Imam al-Shadiq (as) berkata: “Bertaqwalah kepada Allah, berlaku jujurlah, tunaikan amanah, berbuat baiklah kepada tetangga, dan jadilah hiasan bagi kami (Ahlul Bayt), bukan aib bagi kami.”
(Al-Kafi, jilid 2, hlm. 77)
9. Bekal akhirat; Imam Ali (as) berkata:”Taqwa adalah bekal terbaik menuju pertemuan dengan Allah.”
(Nahjul Balaghah, Khutbah 176)
10. Taqwa = menjaga lahir dan batin; Imam Musa al-Kazhim (as) bersabda:”Berusahalah untuk bertaqwa kepada Allah dengan menjaga agamamu, menjaga lisanmu, dan menahan hawa nafsumu.”(Tuhaf al-‘Uqul, hlm. 409)
🌿 Jadi menurut Ahlul Bayt (as), taqwa adalah jalan hidup:
• Perisai dari dosa dan azab
• Sumber kemuliaan sejati
• Amal nyata yang menyatukan ketaatan lahir dan kesucian batin
• Bekal untuk perjumpaan dengan Allah
Makna taqwa menurut para mufassir (ahli tafsir), baik dari kalangan Sunni maupun Syiah
1. Menjaga diri dari siksa Allah dengan ketaatan
📖 Tafsir al-Tabari (Sunni):
Taqwa adalah menjadikan amal ketaatan sebagai perisai dari murka Allah, serta menjauhi larangan-Nya.
2. Taat pada Allah lahir dan batin
📖 Tafsir al-Qurtubi (Sunni):
Taqwa adalah melakukan ketaatan, menjauhi maksiat, dan membersihkan hati dari sifat tercela.
3. Takut kepada Allah
📖 Tafsir Fakhruddin al-Razi (Sunni, Mafatih al-Ghayb):
Taqwa mengandung makna al-khawf (takut kepada Allah) yang melahirkan amal kebaikan.
4. Menjauhi syirik
📖 Tafsir Ibn Katsir (Sunni):
Taqwa paling mendasar adalah meninggalkan syirik, lalu meningkat pada menjauhi maksiat, kemudian meninggalkan syubhat.
5. Mengamalkan Al-Qur’an
📖 Tafsir al-Mizan, Allamah Thabathaba’i (Syiah):
Taqwa adalah kondisi batin yang membuat seseorang konsisten menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, sehingga ia layak menerima hidayah Al-Qur’an.
6. Mencari ridha Allah
📖 Tafsir al-Mizan (QS. Al-Hujurat: 13): Kemuliaan sejati yang disebut dalam ayat itu bukan karena garis keturunan, melainkan karena taqwa, yaitu sikap mencari ridha Allah.
7. Bekal akhirat;
9. Pengendalian hawa nafsu
📖 Tafsir Fi Zilal al-Qur’an, Sayyid Qutb (Sunni modern):Taqwa adalah kondisi batin yang membangkitkan kesadaran terus-menerus akan Allah, lalu mengendalikan hawa nafsu agar tidak menyalahi perintah-Nya.
📖 Tafsir al-Mizan & Tafsir Nur al-Tsaqalayn (Syiah): Taqwa adalah cahaya batin yang muncul dari ketaatan, membuat hati bersih, sehingga mampu menerima furqān (pembeda benar-salah, QS. Al-Anfal: 29).
Taqwa = kesadaran batin + amal nyata yang menjadikan seseorang terlindungi dari murka Allah, memperoleh hidayah, serta layak mendapatkan rahmat-Nya.
Makna taqwa menurut mufassir Syiah (dari tafsir besar seperti al-Mizan, Nur al-Tsaqalayn, Majma’ al-Bayan, dll.):
📖 Allamah Thabathaba’i (al-Mizan, QS. Al-Baqarah: 2):
Taqwa adalah hal batin (keadaan jiwa) yang membuat seseorang selalu menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah sebab Al-Qur’an hanya menjadi hudā (petunjuk) bagi orang bertaqwa.
2. Perisai dari murka Allah
📖 Al-Tabrisi (Majma’ al-Bayan):
Taqwa berasal dari wiqayah (perisai). Ia adalah penjagaan diri dengan amal kebaikan agar selamat dari murka dan azab Allah.
3. Bersih lahir dan batin
📖 Tafsir Nur al-Tsaqalayn (riwayat dari Ahlul Bayt): Orang bertaqwa bukan hanya menjaga diri dari dosa lahiriah, tapi juga membersihkan hati dari dengki, riya’, dan kesombongan.
4. Menjaga diri dari syirik
📖 Al-Mizan (QS. Luqman: 15):
Level terendah taqwa adalah meninggalkan syirik. Inilah fondasi taqwa yang menjadi kunci keselamatan iman.
5. Kunci hidayah
6. Furqān (cahaya batin pembeda benar-salah)
7. Bekal perjalanan menuju Allah
📖 Majma’ al-Bayan (QS. Al-Baqarah: 197): Taqwa adalah bekal terbaik dalam perjalanan spiritual manusia menuju Allah, lebih utama daripada bekal materi.
8. Kesempurnaan iman
📖 Nur al-Tsaqalayn (riwayat dari Imam Shadiq as):Iman tanpa taqwa tidak sempurna.” Tafsir menekankan bahwa taqwa adalah bukti konkret dari iman, bukan hanya klaim.
9. Sumber kemuliaan sejati
📖 Al-Mizan (QS. Al-Hujurat: 13):
Kemuliaan hakiki (karāmah) di sisi Allah hanya dengan taqwa, bukan keturunan, suku, atau status duniawi.
10. Jalan menuju ridha Allah dan surga
Taqwa adalah jalan menuju ampunan dan ridha Allah, yang pada akhirnya mengantarkan seorang mukmin ke surga.
Taqwa = kondisi batin yang melahirkan amal nyata, menjadi perisai dari dosa, membuka pintu hidayah, menyempurnakan iman, dan menjadi bekal menuju Allah.
Menurut ahli makrifat dan hakikat, taqwa bukan sekadar takut, tapi sebuah kesadaran wujudiah: menjaga hati dari selain Allah.
1. Taqwa syariat (lahiriah)
Menjaga diri dari hal-hal yang jelas haram.
2. Taqwa thariqat (jalan spiritual)
Menjaga diri dari syubhat dan hal-hal mubah yang berlebihan, karena bisa menggelincirkan hati.
➡️ “Meninggalkan yang tidak bermanfaat agar hati tetap bersih.”
3. Taqwa hakikat; Menjaga hati dari sifat-sifat tercela: riya’, ujub, sombong, cinta dunia.
4. Taqwa ma’rifat; Menjaga hati dari selain Allah.
6. Taqwa = hijab nurani
Sebagian urafa berkata: “Taqwa adalah hijab cahaya yang menjaga hati dari kegelapan hawa nafsu.”
➡️ Dengan taqwa, cahaya Ilahi menjaga dari kegelapan batin.
7. Taqwa = maqam kebebasan
Menurut Ibn ‘Arabi dan para arif Syiah: taqwa bukan hanya menahan diri, tapi membebaskan jiwa dari perbudakan selain Allah.
8. Taqwa = kesadaran wujudiah
Arif billah Mulla Sadra menafsirkan:
➡️ “Taqwa adalah kesadaran bahwa seluruh wujud kita bergantung mutlak kepada Allah. Maka bagaimana mungkin kita bermaksiat kepada Dia yang menjadi sumber segala wujud?”
9. Taqwa = fana’ dari selain Allah
Level tertinggi taqwa adalah taqwa khawash al-khawash (orang khusus di antara yang khusus):
10. Taqwa = cinta dan kerinduan
Bagi para arif, taqwa bukan lagi rasa takut azab, tapi cinta dan kerinduan untuk selalu bersama Allah.
➡️ Takutnya orang arif bukan karena neraka, tapi takut kehilangan kedekatan dengan Allah.
1. Menjaga diri dari yang haram (syariat).
2. Menjaga diri dari syubhat dan berlebihan (thariqat).
3. Menyucikan hati dari sifat tercela (hakikat).
4. Menjaga hati dari selain Allah (ma’rifat).
Menurut ahli hakikat (ʿurafā’ Syiah), yaitu para arif yang membahas maqāmāt (tingkatan) perjalanan ruhani. Mereka menafsirkan taqwa tidak sekadar sebagai “takut kepada Allah”, tapi menjaga wujud batin agar hanya bersama Allah.
1. Taqwa syar‘i (dasar);
2. Taqwa wara‘ (kehati-hatian)
➡️ Menjauhi syubhat dan hal-hal mubah yang berlebihan agar hati tidak keruh. Imam Ja‘far al-Shadiq (as): “Tidak sempurna taqwa seorang hamba hingga ia meninggalkan sebagian yang halal karena takut terjerumus ke dalam haram.”
3. Taqwa qalb (penjagaan hati)
➡️ Membersihkan batin dari sifat tercela: riya’, ujub, sombong, cinta dunia. Menurut Imam Khomeini (dalam Arba‘īn Hadith): taqwa hakiki adalah penyucian batin sebelum amal lahir diterima.
4. Taqwa basīrah (kesadaran batin)
Allamah Thabathaba’i: taqwa adalah syu‘ūr bālīgh (kesadaran mendalam) yang melahirkan furqān (cahaya pembeda benar-salah).
5. Taqwa mahabbah (berbasis cinta)
6. Taqwa ikhlas
➡️ Menjaga amal agar murni hanya untuk Allah. Imam Ali (as): “Amal yang paling mulia adalah taqwa dan ikhlas.”
7. Taqwa fanā’ (meleburkan diri dalam Allah)
8. Taqwa hurriyyah (kebebasan sejati)
9. Taqwa sebagai hijab nurani
➡️ Dalam irfan Syiah, taqwa adalah “hijab cahaya” (bukan hanya hijab dari dosa), yaitu kesucian yang melindungi hati dari kegelapan hawa nafsu.
10. Taqwa al-khāṣṣ wa khāṣṣ al-khāṣṣ
• Taqwa ‘āmmah: meninggalkan dosa lahiriah.
• Taqwa khāṣṣah: menjaga hati dari sifat tercela.
• Taqwa khāṣṣ al-khāṣṣ: tidak berpaling dari Allah sekejap pun.
🌹 Ringkas:
Kisah-kisah tentang taqwa, baik dari Qur’an, hadis, maupun riwayat Ahlul Bayt & sejarah para arif, banyak sekali contoh nyata bagaimana taqwa dihidupkan dalam praktik.
2. Nabi Ibrahim (as) dan pengorbanan Ismail; Allah uji Ibrahim (as) dengan perintah menyembelih putranya. Ia tunduk total pada perintah Allah (QS. Ash-Shaffat: 102–107).
3. Nabi Musa (as) dan dua wanita di Madyan;
4. Sayyidah Fatimah Zahra (as) dan roti satu-satunya
Diriwayatkan, Fatimah (as) dan keluarganya memberi makan mereka kepada miskin, yatim, dan tawanan, sementara mereka sendiri lapar (QS. Al-Insan: 8–9).
5. Imam Ali (as) dan cincin dalam rukuk;
6. Imam Ja‘far Shadiq (as) dan pekerja yang menyalahgunakan
Seorang pekerja Imam Shadiq (as) menyalahgunakan amanah. Imam menegurnya: “Takutlah kepada Allah, janganlah engkau mengkhianati amanah.”
7. Kisah Salman al-Farisi
Salman al-Farisi meninggalkan harta, jabatan, dan keyakinan lama demi mencari kebenaran hingga bertemu Rasulullah ﷺ.
8. Imam Musa al-Kazhim (as) di penjara;
👉 Taqwa = tetap bersama Allah dalam penderitaan.
9. Uwais al-Qarani; Ia tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ, tetapi hatinya penuh cinta dan taqwa. Ia merawat ibunya, hingga Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku mencium bau surga dari arah Yaman (dari Uwais).”
👉 Taqwa = bakti pada ibu, walau tanpa popularitas.
10. Imam Khomeini (rh) dan kehidupan zuhudnya
Meski memimpin revolusi besar, beliau hidup sederhana: rumah kecil, pakaian sederhana, dan selalu mengingatkan murid-muridnya: “Selamatkan amal dengan taqwa, tanpa taqwa amal hancur.”
👉 Taqwa = kesederhanaan dan menjaga hati dari cinta dunia.
🌹 Ringkas: Kisah-kisah ini menunjukkan taqwa hadir dalam berbagai wujud:
Manfaat taqwa menurut Al-Qur’an & hadis, lalu saya sertakan doa-doa pendek yang bisa dibaca agar Allah menanamkan taqwa dalam hati.
🔟 Manfaat Taqwa
1. Mendapat petunjuk Al-Qur’an
📖 “Kitab ini (Al-Qur’an) adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
2. Dimudahkan urusan & diberi jalan keluar 📖 “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2)
3. Rezeki dari arah tak terduga
📖 “…dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
4. Ampunan dosa;
📖 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Tawbah: 4)
📖 “Jika kamu bertaqwa kepada Allah, Dia akan memberikan furqān kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 29)
7. Kemuliaan sejati di sisi Allah
📖 “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
8. Kekuatan & pertolongan Allah
📖 “…Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. An-Nahl: 128)
📖 “Peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang kafir.” (QS. Ali Imran: 131)
10. Surga & kebahagiaan abadi
📖 “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam surga dan kenikmatan.” (QS. At-Tur: 17)
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا
Allahumma āti nafsī taqwāhā
“Ya Allah, berikanlah taqwa pada jiwaku.”(HR. Muslim)
2. Doa dari Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 8):
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
Rabbana lā tuzigh qulūbanā ba‘da idh hadaytanā…
“Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri hidayah.”
3. Doa Imam Ali (as):
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ
Allahumma aj‘alnā minal muttaqīn
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang bertaqwa.”
4. Doa singkat harian:
رَبِّ زِدْنِي تَقْوَى
Rabbi zidnī taqwā;”Ya Tuhanku, tambahkanlah taqwaku.”
5. Doa Imam Sajjad (as) dalam Sahifah Sajjadiyah, Doa No. 20:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَحُلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ بِسِتْرِكَ
“Ya Allah, lindungilah kami dari maksiat dengan perlindungan-Mu.”
🌹 Jadi, taqwa memberi manfaat lahir & batin, dunia & akhirat. Doa-doa ini bisa dijadikan wirid pendek sehari-hari agar hati semakin terjaga.
(Imamul Muttaqin)”. Diriwayatkan dari seorang sahabat Imam Ali bernama Hammam, yang dikenal sebagai seorang ‘abid (ahli ibadah) berkata kepadanya: Wahai Amir Al-Mukminin, gambarkanlah untukku sifat-sifat kaum muttaqin, (Orang-orang yang bertaqwa) sehingga aku seolah-olah memandang kepada mereka!” Mula-mula Imam Ali kelihatannya segan memenuhi permintaan itu, lalu ujarnya: ‘Wahai Hammam, bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah kebajikan. Sesungguhnya Allah bersama orang- orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan. Mendengar jawaban itu, Hammam belum merasa puas, dan mendesak sekali lagi, sehingga Imam Ali memenuhi permintaannya itu. Setelah mengucapkan puji-pujian bagi Allah SWT dan shalawat bagi Nabi saww, ia berkata:
Ammâ ba’du. Sesungguhnya, ketika Allah SWT menciptakan makhluk-Nya, Ia mencipta mereka dalam keadaan tidak butuh akan ketaatan mereka dan tidak cemas akan pembangkangan mereka. Maksiat apapun yang dilakukan orang takkan menimbulkan suatu mudarat bagi-Nya. Sebagaimana ketaatan orang yang bagaimanapun juga takkan mendatangkan manfaat sedikit pun bagi-Nya. Dialah yang membagikan segala kebutuhan hidup mereka. Dan Dia pulalah yang meletakkan masing-masing mereka dalam tempatnya di dunia ini.
1, merekalah manusia-manusia bijak bestari
2, Kebenaran merupakan inti ucapan mereka,
3, kesederhanaan adalah “pakaian” mereka dan
4, kerendahan hati mengiringi gerak-gerik mereka
3. Mereka tundukkan pandangan mereka terhadap segala yang diharamkan Allah.
4. Dan mereka gunakan pendengaran mereka hanya untuk mendengarkan ilmu yang berguna.
5. Jiwa mereka selalu diliputi ketenangan dalam menghadapi cobaan, sama seperti dalam menerima kenikmatan.
Dan sekiranya bukan kepastian ajal yang telah ditetapkan, niscaya ruh mereka takkan tinggal diam dalam jasad-jasad mereka walau hanya sekejap, baik disebabkan kerinduannya kepada pahala Allah atau ketakutannya akan hukuman-Nya.
6. Begitu agungnya Sang Pencipta dalam hati mereka, sehingga apa saja, selain Dia, menjadi kecil sekali dalam pandangan.
7. Begitu kuat keyakinan mereka tentang surga, sehingga mereka rasakan kenikmatannya
seolah telah melihatnya.
8. Dan begitu kuat keyakinan mereka tentang neraka, sehingga mereka rasakan azabnya
seakan telah menyaksikannya.
9. Hati mereka selalu diliputi kekhusyukan. Tak pernah orang mengkhawatirkan suatu gangguan dari mereka.
10. Tubuh-tubuh mereka kurus kering, kebutuhan-kebutuhan mereka amat sedikit, jiwa mereka terjauhkan dari segala yang kurang patut. (Mereka kurus karena terlalu seringnya berpuasa serta selalu prihatin disebabkan besarnya rasa tanggung jawabnya terhadap Allah SWT dan makhluk-Nya.)
11. Mereka bersabar beberapa hari dan memperoleh kesenangan langgeng sebagai pengganti.
Itulah perdagangan amat menguntungkan yang dimudahkan Allah bagi mereka.
12. Dunia menghendaki mereka, namun mereka tidak menghendakinya. Ia menjadikan mereka sebagai tawanan, namun mereka berhasil menebus diri dan terlepas dari cengkeramannya.
13. Di malam hari, mereka merapatkan kaki (Mengerjakan salat Tahajjud hampir sepanjang malam.) seraya membaca bagian-bagian Alquran dengan memperindah bacaannya, merawankan hati mereka dengannya serta membangkitkan penawar bagi segala yang mereka derita.
14. Setiap kali menjumpai ayat pemberi harapan, tertariklah hati mereka mendambakannya,
seakan surga telah berada dihadapan mata.
15. Dan bila melewati ayat pembawa ancaman, mereka hadapkan seluruh “pendengaran”hati kepadanya, seakan desir Jahannam dan gelegaknya bersemayam dalam dasar telinga mereka.
16. Mereka senantiasa membungkukkan punggung, meletakkan dahi dan telapak tangan, merapatkan lutut dan ujung kaki dengan tanah, memohon beriba-iba agar dibebaskan dari murka-Nya.
17. Adapun disiang hari, merekalah orang-orang penuh kemurahan hati, berilmu, berbakti dan bertakwa.
18. Ketakutan kepada Tuhan membuat langsingnya Setiap yang memandang pasti sedang mengira sedang sakit, padahal tiada satu penyakit yang mereka derita, di tubuh mereka.
19. Dikira akalnya tersentuh rasukan setan padahal mereka tersentuh “urusan” lain yang amat besar. (Yakni ketakutan akan kemurkaan Allah serta kedahsyatan hari akhir.)
20. Tiada yang pernah merasa senang dengan amal-amal mereka yang hanya sedikit, tapi tidak pernah pula mereka berpuas hati dengan yang banyak.
21. Selalu mencurigai diri mereka sendiri, dan selalu mencemaskan amal pengabdian yang mereka kerjakan.
22. Bila seorang dari mereka beroleh pujian ia menjadi takut akan apa yang akan dikatakan orang tentang dirinya.
23. Lalu ia pun segera berkata: “Aku lebih mengerti mengenai diriku sendiri dan Tuhanku lebih mengerti akan hal itu dari diriku. Ya Allah, Ya Tuhanku, jangan Kau hukum aku disebabkan apa yang mereka katakan tentang diriku.Jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangka, dan ampunilah aku dari segala yang tidak mereka ketahui!”.
24. Tanda-tanda yang tampak dari diri mereka ialah keteguhan dalam beragama, ketegasan bercampur dengan kelunakan,
25. keyakinan dalam keimanan, kecintaan yang sangat pada ilmu
26. kepandaian dalam keluhuran hati, kesederhanaan dalam kekayaan,
27. kekhusyukan dalam beribadah, ketabahan dalam kekurangan,
28. kesabaran dalam kesulitan, kesungguhan dalam mencari yang halal,
29. kegesitan dalam kebenaran dan menjaga diri dari segala sikap tamak.
30. Mereka mengerjakan amal-amal saleh, namun hatinya tetap cemas.
31. Sore hari dipenuhinya dengan sukur. Pagi hari dilewatinya dengan zikir.
32. Semalaman dalam kekhawatiran dan keesokan harinya bergembira.
33. Khawatir akan akibat kelalaian dan gembira disebabkan karunia serta rahmat yang diperolehnya.
34. Bila hati seorang dari mereka mengelak dari ketaatan (kepada Allah) yang dirasa berat, iapun menolak memberinya sesuatu yang menjadi keinginannya.
35. Kepuasaan jiwanya terpusat pada sesuatu “yang tak akan punah”, dan penolakannya tertuju kepada sesuatu “yang segera hilang”. (Yang tak akan punah” ialah akhirat. “Yang segera hilang” ialah dunia.)
36. Dicampurnya kemurahan hati dengan ilmu, disatukannya ucapan dengan perbuatan.
37. “Dekat” cita-citanya. Sedikit kesalahannya. Khusyuk hatinya. Mudah terpuaskan jiwanya.
38. Sederhana makanannya. Bersahaja urusannya.
39. Kukuh agamanya. Terkendali nafsunya. Tertahan emosinya.
40. Kebaikannya selalu dapat diharapkan. Ganguannya tak pernah dikhawatirkan.
41. Bila sedang bersama orang-orang lalai, ia tak pernah lupa mengingat Tuhannya
42. dan bila bersama orang-orang yang mengingat Tuhan, ia tak pernah lalai (Ia selalu berzikir dalam hatinya meskipun ia berada diantara orang-orang lalai, ataupun mereka yang mengucapkan zikir meskipun hati mereka lalai.)
43. Memaafkan siapa yang menzaliminya. Memberi kepada siapa yang menolak memberinya.
44. Menghubungi siapa yang memutuskan hubungan dengannya. Jauh dari perkataan keji.
45. Lemah lembut ucapannya. Tak pernah terlihat kemungkarannya. Selalu hadir kebaikannya.
46. Dekat sekali kebaikannya. Jauh sekali keburukannya.
47. Tenang selalu walaupun dalam bencana yang mengguncang. Sabar dalam menghadapi
segala kesulitan.
48. Bersyukur dalam kemakmuran, Pantang berbuat aniaya meski terhadap siapa yang ia benci.
49. Tak sedia berbuat dosa walau demi menyenangkan orang yang ia cintai (Kecintaan kepada seseorang tak akan mendorongnya untuk berbuat maksiat)
50. Segera mengakui yang benar sebelum dihadapkan kepada kesaksian orang lain.
51. Sekali-kali ia tak akan melalaikan segala yang diamanatkan kepadanya Atau memanggil seseorang dengan julukan yang tidak disenangi.
52. Atau mendatangkan gangguan bagi tetangga. Ataupun bergembira dengan bencana yang menimpa lawan. Ia tak akan masuk dalam kebatilan, ataupun keluar dalam kebenaran.
53. Bila berdiam diri, tak merasa risau karenanya. Bila tertawa, tak terdengar meninggi. Dan bila terlanggar haknya, ia tetap bersabar sehingga Allah-lah yang membalaskan baginya.
54. Dirinya kepayahan menghadapi ulahnya sendiri, sedangkan manusia lainnya tak pernah terganggu sedikitpun olehnya. Ia melelahkan dirinya sendiri demi akhiratnya dan menyelamatkan manusia sekitarnya dari gangguan dirinya.
55. Kejauhan dari siapa yang dijauhinya disebabkan oleh Zuhud dan kebersihan jiwa. Kedekatannya kepada siapa yang didekatinya disebabkan oleh kelembutan hati dan kasih sayangnya. Bukan karena keangkuhan dan pengagungan diri ia menjauh dan bukan karena kelicikan dan tipu muslihat ia mendekat.
Perawi berkata:”Ketika Imam Ali sampai bagian ini dari pidatonya, Hammam si ‘abid yang mendengarkan dengan khusyuk tiba-tiba jatuh pingsan sehingga
Imam Ali berkata : Sungguh, demi Allah, sejak pertama aku khawatir hal ini akan terjadi atasnya.” Kemudian ia bertanya-tanya; Beginilah akibat yang ditimbulkan oleh nasehat-nasehat yang mendalam kepada hati yang rawan.
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon doa!!!!
Comments
Post a Comment