Makna : Yakin
3. Ketenteraman hati – Yakin membawa rasa damai dan tenteram di hati, karena tidak ada kegelisahan atau kebimbangan.
5. Pemahaman yang mendalam – Yakin muncul dari pengetahuan atau pengalaman yang membenarkan keyakinan seseorang.
6. Keberanian menghadapi ujian – Yakin membuat seseorang mampu menghadapi cobaan dengan teguh, karena percaya hasil akhir adalah kebaikan.
7. Keteguhan moral – Yakin menumbuhkan konsistensi dalam prinsip, tidak mudah goyah oleh godaan atau tekanan.
8. Kesadaran spiritual – Yakin adalah kesadaran batin bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa.
9. Pembebasan dari keraguan duniawi – Yakin membantu seseorang lepas dari kebimbangan material atau duniawi yang tidak kekal.
Konsep yakin (yaqin) muncul berulang kali, sering berkaitan dengan iman yang teguh, keyakinan tanpa keraguan, dan pengetahuan batin tentang kebenaran Tuhan.
• QS. Al-Baqarah [2]: 2 → “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
• QS. Al-Imran [3]: 9 → “…sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya.”
8. Yakin menenangkan hati – Iman yang kuat menimbulkan ketenangan batin.
Dalam hadis, konsep yakin (keyakinan) juga sering muncul, terutama terkait iman, amal, dan kepercayaan pada Allah.
• Hadis: “Iman itu lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang; yang paling tinggi adalah kalimat ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu adalah cabang dari iman.” (HR. Muslim)
• Penjelasan: Yakin pada tauhid dan kebenaran Islam adalah inti iman.
2. Yakin membawa ketenangan hati – Yakin menenangkan jiwa dari rasa gelisah.
• Hadis: “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka Allah mencukupinya.” (HR. Tirmidzi)
• Penjelasan: Tawakkal harus didasari yakin.
• Hadis: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kesusahan, kecuali Allah akan menghapus dosanya karena kesabaran itu.” (HR. Bukhari & Muslim)
8. Yakin menegakkan kebenaran – Yakin membuat seseorang berani membela hak dan kebenaran.
10. Yakin menguatkan ibadah – Yakin membuat ibadah dilakukan dengan penuh kesungguhan. • Hadis: “Barangsiapa yang shalat seperti shalat orang yang yakin, maka shalatnya diterima.” (HR. Ahmad)
Dalam hadis Ahlul Bayt (as), konsep yakin juga sangat ditekankan, khususnya terkait iman, tawakkal, ketenangan hati, dan penguatan amal.
1. Yakin sebagai inti iman
• Imam Ali (as) berkata:”Iman adalah mengetahui dengan hati, membenarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota.”
• Penjelasan: Yakin berarti pengetahuan dan keyakinan batin yang membentuk iman sejati.
2. Yakin menenangkan hati
• Imam Ali (as) berkata:Hati yang yakin kepada Allah tidak akan terguncang oleh dunia.” • Penjelasan: Yakin membuat hati tetap tenang meski menghadapi ujian.
• Penjelasan: Yakin memberi kekuatan mental dan spiritual.
7. Yakin menuntun kepada amal shalih
• Penjelasan: Yakin membantu menghadapi musibah dan ujian hidup.
• Penjelasan: Yakin membentuk karakter yang teguh dan berakhlak mulia.
Dilihat dari perspektif makrifat dan hakikat (tasawuf dan ilmu batin), yakin memiliki dimensi yang lebih dalam dibanding sekadar keyakinan lahiriah.
• Yakin berperan sebagai nur dalam hati yang menuntun jiwa, sebagaimana yang dijelaskan para sufi bahwa “cahaya iman menyingkap rahasia dunia dan akhirat.”
6. Yakin menuntun pada tawakkal hakiki
• Hamba menyadari bahwa segala yang ada adalah milik Allah dan diri sendiri hanyalah pantulan dari-Nya, sehingga lahir kesederhanaan dan kerendahan hati.
• Dalam tasawuf: yakin membantu hamba melebur ego (fana) dan tetap dalam kesadaran Allah (baqa).
10. Yakin sebagai penggerak amal sejati
Jika dilihat dari perspektif mufasir Al-Qur’an, konsep yakin (yaqin) dibahas sebagai keyakinan yang kokoh, bebas keraguan, dan menjadi dasar iman serta amal shalih.
9. Yakin sebagai dasar tawakkal
• Tafsir: Hanya hati yang yakin yang bisa menyerahkan sepenuhnya urusan kepada Allah.
Perspektif mufasir Syiah menekankan konsep yakin (yaqin) sebagai keyakinan batin yang teguh kepada Allah, para Rasul, Ahlul Bayt, dan prinsip-prinsip agama, serta sebagai dasar amal shalih dan ketakwaan.
1. Yakin terhadap Tauhid
4. Yakin sebagai landasan amal shalih
7. Yakin terhadap Imam dan Ahlul Bayt
• Tafsir: Dengan yakin, seorang hamba sabar dalam menghadapi cobaan dan tetap berada di jalan yang benar.
10. Yakin menuntun pada kesempurnaan iman
Dalam ilmu makrifat, yakin dibagi menjadi tiga tingkatan utama: ‘Ilmul Yaqin, ‘Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin. Berikut penjelasan lengkap beserta contoh:
1. ‘Ilmul Yaqin (Ilmu Yakin)
Makna: • Yakin karena pengetahuan dan informasi.
• Kita meyakini sesuatu karena mendengar, belajar, atau membaca, tapi belum merasakannya langsung.
2. ‘Ainul Yaqin (Penglihatan/Observasi Yakin)
3. Haqqul Yaqin (Kebenaran Yakin / Hakikat Yakin)
• Analogi duniawi: mengetahui rasa panas api tanpa menyentuhnya karena kita menjadi “satu” dengan pengalaman panas itu secara hakiki (misalnya melalui pengalaman intuitif atau batin).
Perbedaan Tingkatan Yakin
‘Ainul Yaqin; Pengalaman/observasi Menyentuh api. Nabi Ibrahim melihat tanda-tanda kekuasaan Allah
Haqqul Yaqin; Hakikat/realitas batin Merasakan api secara hakiki; merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak dan nafas
1. ‘Ilmul Yaqin (Ilmu Yakin) – Keyakinan dari Pengetahuan
2. ‘Ainul Yaqin (Keyakinan dari Pengalaman / Observasi)
Contoh tambahan:
4. Menyaksikan alam semesta yang luas → yakin Allah Maha Kuasa.
5. Menyaksikan seseorang bertindak adil → yakin bahwa kebaikan itu nyata.
3. Haqqul Yaqin (Keyakinan Hakiki / Realitas Batin)
3. Menyadari bahwa diri sendiri hanyalah sarana, dan Allah adalah penggerak → yakin hakikat tauhid.
4. Merasakan cinta Allah dalam setiap perbuatan → yakin bahwa Allah hadir dalam semua hal. 5. Menyadari fana diri (ego hilang) dan baqa di Allah → yakin hakikat kesatuan dengan-Nya.
Dalam perspektif ahli hakikat Syiah, terutama para sufi dan mufasir Ahlul Bayt (as), yakin dipahami secara batiniah, hakiki, dan berlapis-lapis, yang menghubungkan manusia dengan Allah secara langsung. Berikut ini uraian lengkapnya:
3. Yakin sebagai cahaya hati
• Yakin memberi nur yang menuntun hati agar tetap di jalan haq, meski dunia penuh godaan.
4. Yakin menembus batas akal dan indra
• Hanya hati yang yakin dapat menyerahkan seluruh urusan kepada Allah tanpa rasa takut atau ragu.
7. Yakin sebagai pengetahuan hakiki (‘Ilmul Haqiqi)
9. Yakin sebagai pendorong amal spiritual
• Yakin membantu melebur ego (fana) dan tetap berada dalam kesadaran Allah (baqa), yaitu puncak makrifat dalam hakikat Syiah.
Kisah dan cerita inspiratif tentang “yakin” dari perspektif Al-Qur’an, Hadis Nabi, Hadis Ahlul Bayt, dan sufisme Syiah, agar makna yakin lebih hidup dan mudah dipahami.
1. Kisah Nabi Ibrahim (as) – Yakin pada Kekuasaan Allah
2. Kisah Nabi Musa (as) dan Laut Merah – Yakin dalam Ujian
• Sumber: Al-Qur’an
3. Kisah Nabi Muhammad ﷺ di Perang Uhud – Yakin dalam Pertempuran
4. Kisah Imam Ali (as) dan Mengangkat Pintu Khaybar – Yakin pada Diri dan Allah
6. Kisah Nabi Yusuf (as) – Yakin di Tengah Kesulitan
7. Kisah Nabi Nuh (as) – Yakin terhadap perintah Allah
• Makna: Yakin memunculkan keteguhan menghadapi ejekan dan kesulitan.
8. Kisah Nabi Muhammad ﷺ dan Hijrah – Yakin pada Perlindungan Allah
• Cerita: Saat hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar (ra) berlindung di gua. Mereka tetap yakin bahwa Allah akan menjaga mereka, meski dikejar musuh.
• Makna: Yakin menguatkan keberanian dan tawakkal di situasi berbahaya.
11. Kisah Para Sahabat di Perang Badar – Yakin pada Pertolongan Allah
Manfaat memiliki yakin dalam kehidupan spiritual, sosial, dan psikologis, serta beberapa doa yang bisa diamalkan untuk menumbuhkan yakin menurut Al-Qur’an, Hadis, dan ajaran Ahlul Bayt (as).
• Menjadikan ibadah lebih khusyuk karena hati benar-benar percaya.
• Menumbuhkan ketenangan batin dan mengurangi kegelisahan.
• Membantu memahami hakikat hidup dan realitas Allah (makrifat).
• Memperkuat tawakkal (berserah diri sepenuhnya kepada Allah).
2. Manfaat Psikologis
• Mengurangi rasa takut dan cemas dalam menghadapi ujian.
• Menumbuhkan keberanian menghadapi tantangan.
• Memberikan keyakinan diri yang sehat karena berpijak pada iman.
• Membuat seseorang lebih sabar dan tabah.
3. Manfaat Sosial dan Moral
• Membuat tindakan seseorang konsisten dengan kebenaran.
• Menumbuhkan akhlak yang mulia, seperti kejujuran, keadilan, dan kesabaran.
Doa untuk Menumbuhkan Yakin
1. Doa dari Al-Qur’an
2. Doa dari Hadis Ahlul Bayt (as)
• Imam Ali (as) menganjurkan:
“Ya Allah, tanamkanlah di hatiku iman yang teguh, yakin yang hakiki, dan kesabaran yang sempurna.”
• Manfaat: Menguatkan hati agar teguh di jalan Allah dan menolak keraguan.
3. Dzikir dan Doa Harian
• Membaca “Laa ilaaha illallah” dengan penuh penghayatan.
• Dzikir “Hasbiyallahu laa ilaaha illa Huwa” (Cukuplah Allah bagiku; tiada Tuhan selain Dia). • Manfaat: Mengokohkan keyakinan pada kekuasaan Allah dan memunculkan ketenangan batin.
Manfaat Spiritual;
3. Mempermudah pemahaman hakikat hidup
Manfaat Psikologis
• Keyakinan membuat hati percaya bahwa Allah selalu menolong hamba-Nya.
2. Meningkatkan keteguhan dalam pengambilan keputusan
• Orang yang yakin lebih mantap memilih jalan yang benar tanpa bimbang berlebihan.
Manfaat Sosial dan Moral
1. Menjadi teladan bagi orang lain
• Keyakinan yang teguh terlihat dalam tindakan nyata dan memberi inspirasi bagi sekitar.
2. Mendorong amal shalih dan kebaikan sosial
• Orang yang yakin akan lebih konsisten dalam menolong sesama dan berbuat kebaikan karena percaya itu dicatat oleh Allah.
Tambahan Doa dan Dzikir untuk Meningkatkan Yakin
• “Ya Allah, teguhkan imanku, kuatkan hatiku, dan jadikanlah aku termasuk orang yang yakin pada-Mu.”
• “Hasbiyallahu wa ni’mal wakeel” → Menguatkan keyakinan bahwa Allah cukup sebagai Penolong.
4. Doa pendek sebelum tidur
• “Ya Allah, jangan biarkan hatiku goyah, jadikan aku yakin pada-Mu hingga akhir hidupku.”
1. Munajat Nabi Muhammad ﷺ
1. “Allahumma aghnini bima razaqtani wa thabbit qalbi ‘ala dinik”
2. Dzikir harian:
2. Munajat dari Ahlul Bayt (as)
1. Doa Imam Ali (as) – Munajat Yakin dan Keteguhan Hati;”Ya Allah, tanamkan di hatiku iman yang teguh, keyakinan yang hakiki, dan kesabaran yang sempurna.”
• Makna: Hati yang yakin akan selalu teguh menghadapi ujian, dan amal menjadi diterima.
2. Doa Imam Ja’far ash-Shadiq (as) – Memohon Yakin Hakiki;”Ya Allah, jadikan aku di antara hamba-Mu yang yakin kepada-Mu dengan ilmu, pengalaman, dan hakikat.”
• Makna: Memohon keyakinan yang lahir dari pengetahuan, pengalaman hidup, dan makrifat batin.
• “La hawla wa la quwwata illa billah”
Yakin dengan 10 janji Allah swt dalam Ayat Quran ; Semua Amal Perbuatan akan kembali ke diri sendiri;
قَدْ جَاءَكُم بَصَائِرُ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِحَفِيظٍ
Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).
مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.
قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۗ إِنَّمَا تُنذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).
وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Al-Quran 47:38
هَا أَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ ۖ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاءُ ۚ وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.
وَمَن يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
10, Yang memiliki Absoro (Bukti kebenaran) juga akan kembali padanya; Al-Quran 6:104
قَدْ جَاءَكُم بَصَائِرُ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِحَفِيظٍ
Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).
Yakin dengan janji Rasulullah saw dari Doa Munjia;
1, Mengampuni 4000 Dosa Besarnya
2, Dimudahkan Sakaratul mautnya
3, Kuburnya tidak menghimpitnya
4, Diselamatkan dari 100 ribu kesusahan hari kiamat
5, Dijaga dari kejahatan syeithon dan tentaranya
6, Akan dilunasi hutangnya
7, Dihilangkan kesedihan dan kesusahannya
8, Dikabulkan doa-doanya
Doanya :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ ،
١، أَعْدَدْتُ لِكُلِّ هَوْلٍ لاَإِلَهَ إِلاَّاللَّهُ،
٢، وَلِكُلِّ هَمٍّ وَغَمٍّ مَاشَاءَ اللَّهُ،
٣، وَلِكُلِّ نِعْمَةٍ اَلْحَمْدُلِلَّهِ،
٤، وَلِكُلِّ رَخَاءٍ الشُّكْرُ لِلَّهِ،
٥، وَلِكُلِّ أُعْجُوبَةِ سُبْحَانَ اللَّهِ،
٦، وَلِكُلِّ ذَنْبٍ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ،
٧، وَلِكُلِّ مُصِيبَةٍ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ،
٨، وَلِكُلِّ ضِيقٍ حَسْبِيَ اللَّهُ،
٩، وَلِكُلِّ قَضَاءٍ وَقَدَرٍ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ،
١٠، وَلِكُلِّ عَدُوٍّ اعْتَصَمْتُ بِاللَّهِ،
١١، وَلِكُلِّ طَاعَةٍ وَ مَعْصِيَةٍ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Allâhumma sholli ‘alâ Muhammadin wa âli muhammadin,
2, wa likulli hammin wa ghommin mâ syâ-allâh,
3, wa likulli ni’matin alhamdulillâh,
4, walikulli roghô-in Asy-syukru lillâh,
5, walikulli u’jûbati subhânallâh,
6, wa likuuli dzambin astaghfirullâh
7, wa likulli mushîbatin innâ lillâhi wa innâ ilaihi rôji’ûn,
8, wa likulli dîqin hasbiyallâh
9, walikulli qodhô-in wa qodarin tawakkaltu ‘alallâh,
10, walikulli ‘aduwwin I’tashomtu billâh,
11, wa likuli thô-atin wa ma’shiyatin lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘azhîm.
1, Daku persiapkan untuk setiap kegelisahan ; lâ ilâha illallâh, (tidak ada tuhan kecuali Allah)
2, untuk setiap kesumpekan dan kesusahan; mâ syâ- allâh, (apapun kehendak-Mu Ya Allah)
3, untuk setiap nikmat ; alhamdulillâh, (segala puji bagi Allah)
4, untuk setiap kelapangan : syukru lillâh, (syukur pada-Mu Ya Allah)
5, untuk setiap yang mengagumkan ; subhânallâh, (Maha Suci Engkau Ya Allah),
6, untuk setiap dosa ; astaghfirullâh, (daku mohon ampun pada-Mu Ya Allah)
7, untuk setiap musibah ; innâ lillâhi wa innâ ilaihi rôji’ûn, (segala sesuatu dari- Mu Ya Allah dan akan kembali kepada-Mu)
8, untuk setiap kesempitan ; hasbiyallâh, (cukuplah bagi-Mu Ya Allah)
9, untuk semua taqdir dan ketetapan ; tawakkaltu ‘alallâh, (daku percayakan pada-Mu Ya Allah)
10, untuk setiap musuh ; i’tashomtu billâh, (daku berlindung pada- Mu Ya Allah)
11, untuk setiap ketaatan dan kemaksiatan ; lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘azhîm. (daku tidak memiliki kekuatan kecuali dari- Mu Ya Allah).
Yakin dengan Munajat Para Pengharap akan didapat; Munajat Imam Ali AsSajjad as
Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.
yang bila ia datang kepada-Nya
Dia menghampirinya dan mendekatinya, yang bila ia menampakkan durhaka-Nya
Dia menutup dan membungkus dosanya, Yang bila ia bersandar pada-Nya. Dia mencukupi keperluannya
Illahi, siapa gerangan yang datang mencari sambutan-Mu tidak Kausambut. Siapa gerangan yang beristirahat pada pintu-Mu mengharapkan panggilan-Mu tidak Kau terima. Apakah sebaiknya daku kembali dari pintu-Mu dengan tangan hampa. Padahal tidak kuketahui selain-Mu ada mawla yang berhati mulia.
ciptaan dan perintah milik-Mu. Apakah mungkin daku berputus asa dari-Mu. Apakah Engkau akan memberiku karunia-Muyang tidak kuminta, yang sepertiku. Daku berpegang teguh pada tali-Mu. Wahai yang karena rahmat-Nya beruntung qosidun(orang yang berharap) yang karena nikmat-Nya tidak sia-sia mustaghfirun (orang yang memohon ampun), mana mungkin daku melupakan-Mu padahal tidak henti-hentinya Engkau kenanganku, mana mungkin daku melalaikan-Mu padahal Engkau selalu menyertaiku
Jadikan daku yang terpilih dari hamba-Mu. Wahai Zat yang kepada-Nya berlari, setiap pencari perlindungan, dan kepada-Nya pencari karunia berharap.
Wahai sebaik -baiknya yang diharap.
Wahai semulia -mulianya Yang Diseru. Wahai Zat Yang tidak menolak pemohon, tidak mengusir pendamba. Wahai Yang pintu-Nya terbuka bagi penyeru-Nya.
Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi
Mohon Doa!!!
Comments
Post a Comment