Makna; اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah daku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Makna dari doa Rasulullah ﷺ yang masyhur:
وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
1. Pengakuan akan kelemahan hamba
2. Zikir sebagai fondasi hidup
→ “عَلَى ذِكْرِكَ” menegaskan bahwa mengingat Allah adalah pondasi utama hati; tanpa zikir, amal kehilangan ruh.
4. Ibadah bukan sekadar gerakan lahir
5. Hubungan integratif antara tiga hal
6. Doa sebagai pendidikan ruhani
7. Keterjagaan dari lalai dan kufur nikmat
8. Kesadaran tauhid dalam amal
→ Kalimat “اللَّهُمَّ أَعِنِّي” mengandung pengakuan bahwa segala amal saleh hanya terjadi dengan izin dan taufik Allah, bukan kemampuan diri semata.
9. Kunci kebahagiaan dunia dan akhirat
10. Kesederhanaan lafaz, keluasan makna
Hubungan doa اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ dengan dasar-dasar dari Al-Qur’an.
Meskipun doa ini langsung diajarkan Nabi ﷺ (diriwayatkan dalam hadis Mu‘ādz bin Jabal), namun kandungannya berakar kuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Pokok Doa dan Landasannya dalam Al-Qur’an
1. عَلَى ذِكْرِكَ – Mohon pertolongan untuk berdzikir
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).”
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
2. وَشُكْرِكَ – Mohon kemampuan untuk bersyukur
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…”
• QS Luqman 12:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ
“Dan sungguh, Kami telah memberi Luqman hikmah: Bersyukurlah kepada Allah…”
• QS Al-Mulk 2: لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“(Allah menciptakan hidup dan mati) untuk menguji siapa di antara kamu yang terbaik amalnya.”
• QS Al-Kahfi 110:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan jangan mempersekutukan siapa pun dalam ibadah kepada Tuhannya.”
→ “Husn al-‘ibadah” artinya amal yang ikhlas (lillāh) dan sesuai syariat.
• Zikir → Menguatkan hati dan menjaga hubungan dengan Allah.
• Syukur → Menambah nikmat dan menunjukkan kesadaran hakikat hidup.
• Husn al-‘ibadah → Amal terbaik: ikhlas + benar sesuai tuntunan.Jadi, doa ini adalah rangkuman dari ayat-ayat Al-Qur’an, seolah menjadi titik temu tiga pilar ubudiyyah: hati (zikir), akhlak (syukur), dan amal (ibadah).
4. Zikir sebagai tujuan hidup
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
→ Zikir & ibadah adalah inti penciptaan manusia.
5. Zikir yang terus-menerus
• QS Al-Ahzab 41–42:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا • وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang.”
• QS An-Nahl 114:
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Makanlah dari rezeki halal lagi baik yang Allah berikan kepadamu, dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya kamu beribadah.”→ Syukur dipadukan langsung dengan ibadah.
• QS Saba’ 13:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
→ Maka wajar kita perlu doa agar termasuk golongan yang sedikit itu.
• QS Al-Bayyinah 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya.”
• QS An-Nisa’ 125:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ
وَهُوَ مُحْسِنٌ
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan?”
• QS Taha 14:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
• QS Al-Fatihah 5:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.”
Ringkasannya
Doa singkat Nabi ﷺ ini merangkum banyak sekali ayat Al-Qur’an. Jika ditotal, kita temukan 11 ayat utama:
2. Ar-Ra‘d 28 → zikir = ketenangan hati
3. Ibrahim 7 → syukur = tambah nikmat
4. Adz-Dzariyat 56 → tujuan hidup = ibadah
5. Al-Ahzab 41–42 → zikir banyak
6. An-Nahl 114 → syukur & ibadah
7. Saba’ 13 → sedikit yang bersyukur
8. Al-Bayyinah 5 → ibadah ikhlas
9. An-Nisa’ 125 → ibadah dengan ihsan
10. Taha 14 → shalat untuk zikir
11. Al-Fatihah 5 → ibadah + minta pertolongan
Makna doa menurut hadis-hadis Nabi ﷺ.
Doa ini sangat masyhur dalam sunnah, khususnya dalam riwayat sahabat Mu‘ādz bin Jabal r.a.
1. Riwayat Utama (Hadis Sahih)
a. Riwayat Abu Dawud (no. 1522), An-Nasa’i (no. 1303), Ahmad (5/245), dan dinyatakan sahih oleh al-Albani Nabi ﷺ bersabda kepada Mu‘ādz bin Jabal:
«يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَلَا تَدَعْ أَنْ تَقُولَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
Wahai Mu‘ādz, demi Allah aku mencintaimu. Maka janganlah engkau tinggalkan untuk selalu membaca di akhir setiap salat:
“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.’”
📌 Konteksnya: Rasulullah ﷺ menunjukkan rasa cinta kepada Mu‘ādz, lalu mengajarinya doa ini sebagai wasiat khusus, untuk diamalkan setelah setiap salat wajib.
1. Doa khusus setelah salat
→ Nabi ﷺ menekankan dibaca di akhir setiap salat fardhu, menjadikannya zikir rutin.
2. Tanda cinta Nabi kepada sahabatnya → Doa ini diajarkan dengan penuh kasih sayang, menjadi bukti bahwa wasiat ini sangat penting.
3. Tiga pilar ubudiyah → Zikir (hati), syukur (lisan & sikap), ibadah (amal) – doa ini menyempurnakan aspek penghambaan. Pengakuan bahwa ibadah butuh pertolongan Allah → Bahkan untuk berdzikir sekalipun, kita tidak bisa kecuali dengan taufik Allah.
• Riwayat Ibnu Hibban (no. 2020, sahih): Nabi ﷺ mengajarkan doa ini kepada Mu‘ādz bin Jabal r.a. dan memerintahkannya untuk terus diamalkan.
• Nabi ﷺ menunjukkan maḥabbah (cinta) kepada sahabat dengan mengajarkan doa ini.
• Doa ini bukan sekadar tambahan, tapi kunci ibadah yang harus rutin diamalkan.
• Mengajarkan adab berdoa: sebelum memberi wasiat, Nabi ﷺ menyentuh hati Mu‘ādz dengan ucapan cinta.
Hadis Pendukung
1. Doa Nabi ﷺ meminta pertolongan untuk ibadah
Riwayat Muslim (no. 2725):
اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي، وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي»
→ Mirip dengan doa kita: hamba tidak bisa taat tanpa taufik Allah.
2. Doa perlindungan dari hati yang tidak khusyuk Riwayat Muslim (no. 2722):
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا»
→ Doa ini menekankan pentingnya hati yang tunduk (khusyuk), yang hanya terwujud dengan dzikir & ibadah yang benar.
3. Hadis tentang banyak berdzikir
Riwayat At-Tirmidzi (no. 3375, hasan):
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ… ذِكْرُ اللَّهِ»
→ Menegaskan pentingnya dzikir sebagai pilar doa ini.
4. Sedikit yang bersyukur
Riwayat Al-Bukhari (no. 40):
Nabi ﷺ bersabda: اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءُ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءُ» قِيلَ: بِمَ؟ قَالَ: «بِكُفْرِهِنَّ» قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: «يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ»
→ Syukur itu berat, bahkan banyak manusia lalai dari nikmat kecil.
5. Ihsan dalam ibadah
Riwayat Muslim (no. 8) – Hadis Jibril:
الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ،
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»
→ Inilah “حُسْنِ عِبَادَتِكَ” dalam level tertinggi.
6. Doa agar hati tetap dalam dzikir
Riwayat At-Tirmidzi (no. 2140, hasan): اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا…»
→ Doa agar hati senantiasa hidup dalam ingat (dzikir) kepada Allah.
7. Nabi ﷺ sering berdoa untuk menjadi hamba yang bersyukur
Riwayat Al-Bukhari (no. 1130) & Muslim (no. 2820): Ketika shalat malam sampai kakinya bengkak, Aisyah r.a. bertanya:”Kenapa engkau lakukan ini padahal dosamu telah diampuni?” Nabi ﷺ menjawab:
«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا»
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
1. Doa utama Mu‘ādz → inti doa.
2. 7 hadis pendukung →memperkuat makna dzikir, syukur, dan husn al-‘ibadah. Doa ini ternyata bukan doa kecil, tapi ringkasan ajaran pokok Nabi ﷺ tentang ubudiyah.
Makna menurut riwayat & penjelasan Ahlul Bayt:
1. Zikir = Kehadiran hati, bukan sekadar lisan;
Imam Ja‘far al-Ṣādiq (as):لَيْسَ الذِّكْرُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَقَطْ، وَلَكِنْ إِذَا وَرَدْتَ عَلَى مَا يَحْرُمُ عَلَيْكَ خِفْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ وَتَرَكْتَهُ» (al-Kāfī 2/80)
→ Zikir sejati adalah hadirnya Allah di hati saat kita menghadapi maksiat.
2. Syukur = Menggunakan nikmat di jalan Allah Imam al-Riḍā (as):
مَنْ شَكَرَ النِّعْمَةَ فَقَدْ قَيَّدَهَا، وَمَنْ كَفَرَهَا فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا»
→ Syukur bukan hanya ucapan, tapi menjaga nikmat dengan menggunakannya untuk ketaatan.
3. Ibadah terbaik = Ma‘rifat
Imam ‘Alī (as):
أَوَّلُ الدِّينِ مَعْرِفَتُهُ، وَكَمَالُ مَعْرِفَتِهِ التَّصْدِيقُ بِهِ، وَكَمَالُ التَّصْدِيقِ بِهِ تَوْحِيدُهُ، وَكَمَالُ تَوْحِيدِهِ الْإِخْلَاصُ لَهُ» (Nahj al-Balāghah, khutbah 1)
→ Husn al-‘ibādah = ibadah yang berakar pada ma‘rifatullah.
4. Dzikir = Jalan menuju kecintaan Allah Imam al-Bāqir (as):
«مَا عُبِدَ اللَّهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ ذِكْرِهِ»
(al-Kāfī 2/81)
→ Zikir adalah ibadah paling tinggi, pengikat cinta hamba dengan Tuhannya.
5. Syukur hakiki = Menyadari kelemahan diri Imam Zayn al-‘Ābidīn (as) dalam Ṣaḥīfah al-Sajjādiyyah:
كَيْفَ لِي بِتَحْصِيلِ الشُّكْرِ،
وَشُكْرِي إِيَّاهُ يَفْتَقِرُ إِلَى شُكْرٍ»
→ Syukur itu tak akan sempurna, karena setiap syukur itu sendiri butuh syukur lagi.
6. Husn al-‘ibādah = Ibadah dengan ikhlas, tanpa riya
Imam al-Ṣādiq (as): مَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ لِلَّهِ وَمَا كَانَ لِلنَّاسِ فَلَا يَصْعَدُ إِلَى اللَّهِ» (al-Kāfī 2/16)
→ Amal baik hanya sah bila ikhlas; kalau bercampur riya, tak naik ke sisi Allah.
7. Dzikir = Menghidupkan hati yang mati ; Imam al-Ṣādiq (as):
مَثَلُ الذِّكْرِ مَثَلُ الْمَاءِ يَسْقِي الْأَرْضَ، فَكَمَا أَنَّ الْمَاءَ يُحْيِي الْأَرْضَ فَكَذَلِكَ الذِّكْرُ يُحْيِي الْقُلُوبَ» (al-Kāfī 2/82)
→ Dzikir itu seperti air: menghidupkan hati sebagaimana air menghidupkan bumi.
8. Syukur = Kunci bertambahnya nikmat batin Imam al-Bāqir (as):
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُرْزَقُ بِقَدْرِ شُكْرِهِ» (al-Kāfī 2/95)
bertambah sesuai kadar syukur hamba.
9. Ibadah paling indah = Doa & munajat Imam Zayn al-‘Ābidīn (as): dalam banyak doa Ṣaḥīfah: doa adalah ruh ibadah.
«الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ»
juga diriwayatkan oleh Sunni)→ Husn al-‘ibādah tercapai saat ibadah jadi jalan dialog dengan Allah.
10. Dzikir = Perlindungan dari syaitan Imam al-Ṣādiq (as):
«مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ اللَّهِ أُعْطِيَ ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» (al-Kāfī 2/83)
→ Dzikir duniawi berbuah dzikir ilahi di akhirat: Allah akan menyebut hamba-Nya di hadapan makhluk.
11. Kesempurnaan ubudiyah = Hanya bagi yang disucikan
Imam al-Ṣādiq (as): الْعِبَادَةُ ثَلَاثَةٌ: قَوْمٌ عَبَدُوا اللَّهَ خَوْفًا، فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْعَبِيدِ، وَقَوْمٌ عَبَدُوا اللَّهَ طَلَبًا لِلثَّوَابِ، فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْأُجَرَاءِ، وَقَوْمٌ عَبَدُوا اللَّهَ حُبًّا لَهُ، فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْأَحْرَارِ» (al-Kāfī 2/84)
→ Husn al-‘ibādah = ibadahnya orang-orang merdeka: bukan karena takut, bukan karena berharap imbalan, tapi murni cinta.
1. Zikir = hadirnya Allah di hati.
2. Syukur = menjaga nikmat di jalan Allah.
3. Ibadah = berakar pada ma‘rifat.
4. Dzikir = ibadah tertinggi & pengikat cinta.
5. Syukur = pengakuan kelemahan diri.
6. Husn al-‘ibādah = ikhlas tanpa riya.
7. Dzikir = menghidupkan hati.
8. Syukur = kunci nikmat batin.
9. Ibadah indah = doa & munajat.
10. Dzikir = perlindungan dari syaitan.
11. Kesempurnaan ibadah = ibadah karena cinta.
Makna doa dari para Mufasir
2. Al-Rāzī (w. 606 H) – Mafātīḥ al-Ghayb Pada tafsir QS al-Fātiḥah 5: “Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn”
→ Al-Rāzī menyebut doa ini sebagai contoh praktis dari “nasta‘īn” — kita beribadah, tapi tetap meminta pertolongan agar ibadah kita bernilai. Doa ini adalah pengamalan langsung dari ayat al-Fātiḥah.
3. Ibn Kathīr (w. 774 H) – Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
Dalam tafsir QS al-Baqarah 152 dan QS Ibrāhīm 7, ia menukil doa ini dan menegaskan:
4. Al-Qurṭubī (w. 671 H) – Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
Ketika menafsirkan QS al-Mulk 2: “Ayyukum aḥsanu ‘amalan”
→ Husn al-‘ibādah menurut Qurṭubī bukan banyaknya amal, tapi kualitasnya: ikhlas + sesuai syariat. Doa Nabi ﷺ ini mencerminkan makna itu.
5. Al-Ālūsī (w. 1270 H) – Rūḥ al-Ma‘ānī
Dalam tafsir QS al-Kahf 110: “Fal-ya‘mal ‘amalan ṣāliḥan…”
→ Beliau menjelaskan: husn al-‘ibādah adalah amal yang ikhlas dan benar. Doa Nabi ﷺ ini adalah ringkasan jalan menuju amalan ṣāliḥ.
6. Al-Ṭabāṭabā’ī (w. 1981 M) – al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur’ān
Dalam tafsir QS al-Baqarah 152:
→ Dzikir bukan sekadar ucapan, tapi hadirnya Allah di hati, melahirkan syukur, lalu ibadah dengan penuh kesadaran. Doa ini menurut beliau adalah “rangkuman tarbiyah Qur’ani” yang menyatukan seluruh ubudiyah.
7. Fakhr al-Dīn al-Turayḥī (Syiah, w. 1085 H) – Majma‘ al-Baḥrayn
→ Menjelaskan bahwa “حسن العبادة” adalah ibadah yang dilakukan karena mahabbah (cinta), bukan karena takut atau sekadar berharap imbalan. Ini sesuai hadis Ahlul Bayt.
8. Sayyid Qutb (w. 1966 M) – Fī Ẓilāl al-Qur’ān Pada tafsir QS al-Baqarah 152:
9. Al-Baghawī (w. 516 H) – Ma‘ālim al-Tanzīl Saat menafsirkan QS al-Fātiḥah 5:
10. Mufassir Sufi: Al-Qushayrī (w. 465 H) – Laṭā’if al-Ishārāt
→ Dzikir = kesadaran hati. Syukur = hilangnya pandangan kepada diri, hanya melihat Allah sebagai sumber nikmat. Husn al-‘ibādah = ibadah dengan rasa cinta. Doa Nabi ﷺ ini menurut beliau doa “ahl al-ma‘rifah”.
11. Mulla Ṣadrā (Syiah Falsafi, w. 1640 M) – Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm
→ Menafsirkan bahwa doa ini bukan hanya tuntunan fiqhi, tapi jalan makrifat: zikir → syukur → ibadah = tiga tahap sulūk menuju insan kāmil.
✨ Ringkasan menurut mufassir
• Doa ini adalah tafsir hidup dari iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn (Al-Fatihah).
• Menyatukan 3 inti ubudiyah: dzikir (hati), syukur (akhlak), ibadah (amal).
• Husn al-‘ibādah = kualitas (ikhlas, benar, cinta), bukan kuantitas.
• Doa ini adalah tarbiyah Qur’aniyah untuk membentuk insan yang sadar, bersyukur, dan ikhlas.
Para mufassir Syiah menafsirkannya
• Pada QS al-Baqarah 152 (“Fadzkurūnī adzkurkum wasykurū lī walā takfurūn”), beliau menekankan:
• Doa Nabi ﷺ ini adalah “ringkasan tarbiyah Qur’ani” — membentuk ruh yang sadar, bersyukur, dan tunduk penuh.
2. Al-Ṭurayḥī (w. 1085 H) – Majma‘ al-Baḥrayn (kamus tafsir Syiah klasik)
• Menjelaskan “حُسْنِ عِبَادَتِكَ” = ibadah karena mahabbah (cinta), bukan karena takut neraka atau mengharap surga.
• Menurutnya, doa ini mengajarkan tingkatan tertinggi ubudiyah: ‘ibādat al-aḥrār (ibadah orang merdeka), sebagaimana ditegaskan Imam ‘Ali (as).
3. Al-Fayḍ al-Kāshānī (w. 1091 H) – Tafsīr al-Ṣāfī
4. Al-Ṭabrisī (w. 548 H) – Majma‘ al-Bayān fī Tafsīr al-Qur’ān
• Pada QS al-Fātiḥah 5 (“Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn”), ia menukil bahwa doa Nabi ﷺ ini adalah contoh nyata dari nasta‘īn (mohon pertolongan).
• Artinya, ibadah sejati selalu butuh isti‘ānah (pertolongan) Allah, bukan hanya kemampuan hamba.
5. Mulla Ṣadrā (w. 1640 M) – Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm
• Menafsirkan doa ini secara filosofis-suluk:
• Menurut beliau, doa ini adalah jalan suluk menuju insān kāmil.
6. Al-Ḥuwayzī (w. 1112 H) – Tafsīr Nūr al-Thaqalayn
• Dalam tafsir ayat-ayat dzikir & syukur, beliau mengutip hadis-hadis Ahlul Bayt yang menegaskan: → Dzikir sejati adalah taat pada perintah Allah.
7. Al-‘Allāmah al-Majlisī (w. 1111 H) – Biḥār al-Anwār
• Dalam bab doa dan dzikir, ia menukil doa ini dan menafsirkannya sebagai doa inti yang menyatukan semua maqām ibadah.
• Menurut Majlisī, doa ini adalah jawāmi‘ al-kalim: ringkas tapi meliputi seluruh jalan ubudiyah.
✨ Ringkasan Tafsir Syiah
Menurut mufassir Syiah, doa ini bermakna:
1. Dzikir → bukan hanya ucapan, tapi kesadaran hati yang melahirkan takut & cinta kepada Allah. 2. Syukur → menjaga nikmat dengan menggunakannya di jalan Allah.
3. Husn al-‘ibādah → ibadah yang ikhlas, sesuai syariat, dan dilakukan karena cinta.
4. Doa ini adalah implementasi praktis dari “iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn” (al-Fātiḥah). 5. Jalan suluk ruhani: dzikir (awal), syukur (tengah), ibadah karena cinta (puncak).
Makna Khusus (Syiah – Tafsir & Hadis Ahlul Bayt)
Zikir sejati adalah menghadirkan Allah di hati setiap saat, bukan sekadar lisan. Imam al-Ṣādiq (as): “Zikir adalah ketika engkau berada di hadapan maksiat lalu mengingat Allah dan meninggalkannya.”
2. Dzikir = Wilayah
Menurut tafsir Syiah (Nūr al-Thaqalayn), dzikir dalam Al-Qur’an juga dimaknai sebagai Ahlul Bayt. Maka doa ini bisa berarti: “Ya Allah, tolong aku untuk selalu terikat dengan wilayah-Mu.”
3. Syukur = Menyandarkan segala nikmat kepada AllahImam al-Sajjād (as): “Bagaimana aku bisa bersyukur, padahal setiap syukur itu sendiri adalah nikmat-Mu yang menuntut syukur lagi?”
4. Syukur = Menggunakan nikmat di jalan Allah; Imam al-Riḍā (as): “Barangsiapa bersyukur atas nikmat, berarti ia telah mengikat nikmat itu.”
5. Ibadah indah = Ikhlas
Husn al-‘ibādah menurut Imam al-Ṣādiq (as): amal yang benar-benar lillāh, tidak tercampur riya. Amal bercampur selain Allah tidak akan naik ke sisi Allah.
6. Ibadah indah = Cinta, bukan takut atau imbalan
Imam ‘Ali (as): “Ada orang beribadah karena takut, itu ibadah budak. Ada yang beribadah karena berharap imbalan, itu ibadah pedagang. Ada yang beribadah karena cinta, itulah ibadah orang merdeka.” → Husn al-‘ibādah yang diminta dalam doa ini = ibadah karena cinta.
7. Dzikir = Air yang menghidupkan hati Imam al-Ṣādiq (as): “Zikir itu laksana air bagi tanah. Sebagaimana air menghidupkan tanah, zikir menghidupkan hati.”
→ Doa ini adalah permintaan agar hati tetap hidup.
8. Syukur = Kunci bertambahnya nikmat batin Imam al-Bāqir (as): “Seorang mukmin diberi rezeki sesuai kadar syukurnya.” → Syukur melahirkan limpahan cahaya & ma‘rifat, bukan sekadar nikmat materi.
9. Dzikir + Syukur = Jalan menuju Ma‘rifat Menurut al-Ṭabāṭabā’ī (al-Mīzān): dzikir melahirkan syukur, syukur menyempurnakan ibadah, dan ibadah yang benar membuka pintu ma‘rifat.
10. Husn al-‘ibādah = Munajat & doa Imam al-Sajjād (as) dalam Ṣaḥīfah: ibadah paling indah adalah doa, karena doa adalah percakapan cinta dengan Allah. Maka doa ini sendiri sudah merupakan contoh husn al-‘ibādah.
11. Doa ini = Manifestasi “iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn”
Menurut al-Ṭabrisī (Majma‘ al-Bayān): doa ini adalah tafsir praktis dari ayat al-Fātiḥah 5.
→ Kita beribadah, tapi sekaligus mengakui ketidakmampuan, lalu meminta pertolongan.
✨ Inti Makna Khusus
• Syukur → mengikat nikmat dan membuka nikmat batin.
• Husn al-‘ibādah → ibadah ikhlas, dengan cinta, menuju ma‘rifat.
Makna doa dari Hakikat & Ma‘rifat
Dzikir sejati bukan sekadar lafaz, tapi lenyapnya hati dalam kehadiran Allah. Ahli hakikat mengatakan: “Dzikir adalah hilangnya yang lain selain Allah dari hatimu.”
2. Dzikir = Nafas ar-Rahman
Dalam suluk, setiap nafas seorang ‘ārif harus berisi Allah. Maka doa ini adalah permohonan agar setiap hembusan nafas tidak kosong dari Allah.
3. Syukur = Syuhūd al-Mun‘im
Hakikat syukur adalah tidak melihat nikmat, tapi melihat Pemberi Nikmat. Jadi doa ini meminta agar kita diarahkan dari syukur lahir ke syukur batin.
4. Syukur = Penghambaan tanpa “aku” Ahli makrifat berkata: syukur tertinggi adalah ketika hamba tidak melihat dirinya bersyukur, melainkan Allah-lah yang mensyukuri dirinya.
5. Husn al-‘Ibādah = Ibadah karena Cinta Ibadah hakikat bukan karena takut neraka atau ingin surga, tapi karena Allah layak disembah. Ini maqām yang Imam ‘Ali (as) sebut sebagai ‘ibādat al-aḥrār.
6. Husn al-‘Ibādah = Jamāl & Jalāl
Ahli hakikat menafsirkan husn al-‘ibādah sebagai ibadah yang penuh keselarasan: takut pada keagungan-Nya (jalāl) sekaligus cinta pada keindahan-Nya (jamāl).
7. Dzikir + Syukur = Sayap Suluk
Dzikir adalah sayap kiri (ingat selalu), syukur adalah sayap kanan (mengakui & menjaga nikmat). Dengan dua sayap ini, seorang salik terbang menuju husn al-‘ibādah.
8. Dzikir = Kunci Ma‘rifat
Tidak ada ma‘rifat tanpa dzikir. Dzikir yang terus-menerus membuka tabir, hingga Allah menyingkapkan diri-Nya ke dalam hati salik.
9. Syukur = Rahasia Bertambahnya Nur: Ahli makrifat memahami ayat “La’in syakartum la-azīdannakum” bukan sekadar nikmat dunia, tetapi penambahan cahaya, hidayah, dan kedekatan dengan Allah.
10. Husn al-‘Ibādah = Keterpaduan Lahir & Batin Ibadah yang indah adalah ibadah yang lahirnya sesuai syariat, batinnya penuh cinta. Tanpa batin, ibadah kering. Tanpa syariat, ibadah sesat.
11. Doa ini = Suluk Tiga Tahap
• Dzikir → awal jalan: sadar kepada Allah.
• Syukur → pertengahan jalan: melihat semua dari Allah.
• Husn al-‘ibādah → puncak jalan: ibadah cinta, fana’, lalu baqā’ billāh.
✨ Kesimpulan Ahli Hakikat
1. Dzikir → menghidupkan hati.
2. Syukur → menundukkan ego & melihat Allah dalam segala nikmat.
3. Husn al-‘ibādah → menyembah karena cinta, mencapai maqām insan kāmil.
1. Dzikir = Hudūr Dā’imī (Kehadiran Abadi) Dalam ‘irfan Syiah, dzikir adalah kesadaran permanen akan Allah, bukan sekadar bacaan. Mulla Ṣadrā: “Dzikir adalah fana’ al-qalb dalam al-Ḥaqq.”
2. Dzikir = Wilayah Ahlul Bayt (as)
Sayyid Ḥaydar Āmulī menafsirkan dzikir dalam Qur’an sebagai Ahlul Bayt. Maka doa ini berarti: “Ya Allah, tolong aku untuk tetap berpegang pada wilayah mereka sebagai jalan menuju-Mu.”
3. Syukur = Fanā’ al-Ni‘mah fī al-Mun‘im; Imam Khomeini menekankan: syukur sejati bukan melihat nikmat, tapi sirna dalam Pemberi Nikmat. Nikmat hanyalah cermin menuju-Nya.
4. Syukur = Menolak Ego
Menurut al-Ṭabāṭabā’ī (al-Mīzān), syukur hakiki terjadi ketika seorang salik tidak menganggap dirinya pemilik amal. Semua disandarkan pada Allah.
5. Husn al-‘Ibādah = ‘Ibādat al-Aḥrār (ibadah orang merdeka)
Imam ‘Ali (as): “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena Engkau layak disembah.”
→ Doa ini meminta maqām ibadah cinta, bukan ibadah transaksional.
6. Husn al-‘Ibādah = Ibadah Batin
Menurut para ‘urafā Syiah, ibadah tidak hanya salat dan puasa, tapi seluruh hidup. Bahkan bernafas pun bisa menjadi husn al-‘ibādah bila disertai hudūr.
7. Dzikir + Syukur = Dua Sayap Salik ;
8. Dzikir = Kunci Ma‘rifah
Tanpa dzikir, hati tetap mati. Dzikir membuka tabir, hingga salik masuk ke maqām musyahadah (penyaksian).
9. Syukur = Jalan Bertambahnya Nūr;
Imam Khomeini menekankan: husn al-‘ibādah adalah ibadah yang lahirnya sesuai syariat, batinnya penuh cinta dan hudūr. Jika hanya salah satu, ibadah itu cacat.
11. Doa ini = Suluk Tiga Maqām
• Dzikir → maqām awal (kesadaran hati, penolakan ghaflah).
• Syukur → maqām pertengahan (pemusnahan ego, menyaksikan Mun‘im).
Menurut ahli hakikat Syiah:
• Dzikir = fana’ dalam Allah, atau tetap dalam wilayah Ahlul Bayt.
• Syukur = menolak ego, melihat Allah dalam segala nikmat.
• Husn al-‘ibādah = ibadah cinta, lahir & batin menyatu, puncaknya fana’ dan baqā’.
• Doa ini adalah peta suluk ruhani Syiah: dzikir (awal), syukur (pertengahan), ibadah cinta (akhir).
📖 Kisah dari Riwayat Nabi ﷺ & Mu‘ādz bin Jabal
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.”
📌 Kisah ini menunjukkan bahwa doa ini adalah warisan cinta Nabi kepada sahabatnya — bukan sekadar bacaan, tapi wasiat dari hati yang penuh kasih.
📖 Kisah dalam Tradisi Ahlul Bayt (Syiah) Dalam riwayat Syiah, doa ini juga sering dinukil dalam Ṣaḥīfah Sajjadiyah (doa-doa Imam ‘Alī Zayn al-‘Ābidīn as).
📖 Kisah Para ‘Ārifin
Para sufi dan ‘urafā juga punya cerita menarik tentang doa ini:
1. Kisah Imam al-Sajjād (as) Diriwayatkan bahwa beliau pernah salat dengan begitu lama, sampai tubuhnya gemetar. Setelah selesai, beliau berkata:”Betapa sedikitnya dzikirku, betapa lemahnya syukurku, betapa jauhnya ibadahku dari husn al-‘ibādah.”→ Doa ini beliau jadikan senjata untuk merendahkan diri di hadapan Allah.
2. Kisah seorang sufi ; Ada seorang murid bertanya kepada gurunya: “Mengapa setiap ibadahku terasa hambar?”Gurunya menjawab: “Karena kau belum meminta pertolongan Allah dengan doa Rasulullah ini. Ibadah itu indah hanya bila Allah sendiri yang menghiasinya.”
3. Kisah ulama Syiah Dikisahkan Ayatullah Bahjat (ra) sering mengulang doa ini dalam munajat pribadinya. Beliau berkata: “Kalau Allah tidak menolongmu untuk berdzikir, bahkan ‘subḥānallāh’ pun tak akan keluar dari lisanmu.”
• Doa ini lahir dari cinta Nabi kepada sahabatnya.
• Doa ini dijaga oleh Ahlul Bayt sebagai jalan menuju ma‘rifat.
• Para ahli hakikat menjadikannya kunci suluk, agar ibadah tidak hambar.
Dalam riwayat, Nabi Dawud sering berdoa:”Ya Allah, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, sedangkan syukur itu sendiri adalah nikmat-Mu?”Allah mewahyukan kepadanya:
“Wahai Dawud, kini engkau benar-benar bersyukur kepada-Ku.”
📌 Doa Nabi Dawud ini adalah cerminan dari doa Rasulullah ﷺ: memohon taufik untuk syukur sejati.
2. Kisah Nabi Musa (as)
Musa as berdoa: “Rabbi, bagaimana aku dapat bersyukur?”
Allah menjawab: “Ingatlah Aku, itu syukur. Jangan engkau lupakan Aku, itu kufur.”
📌 Maka doa “a‘inni ‘ala dzikrik” menjadi inti dari syukur.
3. Kisah Imam ‘Ali (as)
Imam ‘Ali berkata:”Aku tidak menyembah-Mu karena takut akan neraka-Mu, atau berharap surga-Mu. Aku menyembah-Mu karena Engkau layak disembah.”
📌 Ucapan ini adalah tafsir hidup dari “husn al-‘ibādah”.
4. Kisah Imam Zayn al-‘Ābidīn (as)
Dalam Ṣaḥīfah Sajjadiyah, Imam as sering berdoa:”Ya Allah, karuniakan kepadaku dzikir-Mu di setiap keadaan, syukur-Mu di setiap nikmat, dan ibadah terbaik di setiap amal.”
📌 Imam as menjadikan doa ini inti seluruh munajatnya.
5. Kisah Imam al-Sādiq (as)
Seorang murid berkata: “Aku salat, tapi hatiku lalai.”Imam as menjawab:
“Mintalah pertolongan Allah dengan doa Rasulullah ﷺ: Allahumma a‘inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatika.”
📌 Doa ini sebagai obat lalai dalam ibadah.
6. Kisah Imam Khomeini (ra)
Dikisahkan beliau selalu mengulang doa ini dalam sujud panjangnya. Beliau berkata:”Jika Allah tidak menolong kita, maka semua ibadah hanyalah gerakan kosong.”
📌 Doa ini adalah kunci keikhlasan dalam ibadah.
✨ Ringkasan;
• Dzikir → hidupkan hati.
• Syukur → akui semua nikmat dari Allah.
• Husn al-‘ibādah → ibadah karena cinta. Dan semuanya butuh pertolongan Allah, bukan kekuatan diri.
8. Kisah Nabi Yunus (as)
Saat berada dalam perut ikan, Yunus as berdoa:”Lā ilāha illā anta, subḥānaka, innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.”
📌 Doa ini adalah bentuk dzikir + syukur + ibadah. Para ‘urafā menyebut, kalau Yunus tidak diberi pertolongan Allah untuk berdzikir, ia akan tetap terkurung.
9. Kisah Salman al-Fārisī (ra)
Diriwayatkan Salman setiap selesai salat berdoa dengan doa ini, karena ia berkata:”Aku melihat Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan doa ini.”
📌 Salman sebagai murid khusus Nabi menunjukkan betapa doa ini warisan langsung yang dijaga dengan penuh cinta.
10. Kisah Imam al-Bāqir (as)
Seorang sahabat bertanya: “Wahai Imam, apa ibadah terbaik?”
Imam menjawab:
“Ibadah terbaik adalah dzikir yang menuntun kepada syukur, dan syukur yang menuntun kepada husn al-‘ibādah. Mintalah semua itu dari Allah.”
📌 Beliau menafsirkan doa Nabi ﷺ sebagai urutan suluk ruhani.
11. Kisah Allāmah Ṭabāṭabā’ī (ra)
Dikisahkan beliau ketika menulis al-Mīzān, setiap kali selesai menulis tafsir ayat-ayat dzikir & syukur, beliau berdoa:”Allahumma a‘inni ‘alā dhikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.”
📌 Beliau menegaskan bahwa tafsir pun harus dibangun dengan pertolongan Allah, bukan kecerdasan diri.
✨ Ringkasan Tambahan Doa ini:
• Menyelamatkan (kisah Yunus).
• Ditafsirkan sebagai suluk (kisah Imam al-Bāqir).Menjadi bekal ilmu dan amal (kisah Allāmah Ṭabāṭabā’ī).
🌿 11 Manfaat Doa Ini
Doa ini diajarkan langsung oleh Rasulullah kepada Mu‘ādz dengan ungkapan cinta: “Demi Allah, aku mencintaimu.” Barangsiapa mengamalkannya, ia mendapat warisan cinta Nabi.
2. Mendapat pertolongan Allah dalam ibadah; Tanpa taufiq Allah, dzikir & ibadah kita hanya gerakan kosong. Doa ini membuka pintu taufik.
4. Menambah nikmat lahir & batin
Syukur yang diminta dalam doa ini menjadi sebab bertambahnya nikmat, termasuk nikmat batin: iman, cahaya, dan ketenangan.
5. Menyelamatkan dari kufur nikmat; Doa ini menjaga kita dari lalai dan mengingkari nikmat, sehingga nikmat tidak berubah menjadi azab.
7. Membuka jalan ma‘rifat
Dzikir → Syukur → Husn al-‘ibādah → Ma‘rifatullah. Doa ini adalah peta suluk menuju Allah.
8. Menjadi kunci khusyuk dalam salat; Para ulama (seperti Ayatullah Bahjat) menekankan bahwa doa ini adalah cara agar hati tidak lalai dalam salat.
9. Melahirkan ketenangan batin Dzikir & syukur yang terus dibantu Allah membuat hati tenang, sesuai QS al-Ra‘d 28: “Ala bidzikrillahi tathma’innu al-qulūb.”
10. Menjadikan amal diterima Allah; Husn al-‘ibādah yang dimohon dalam doa ini adalah syarat diterimanya amal: ikhlas & sesuai sunnah.
11. Mengikat cinta dengan Ahlul Bayt (as); Dalam tafsir Syiah, dzikir sering dimaknai sebagai wilayah Ahlul Bayt. Maka doa ini juga bermakna: “Ya Allah, tolong aku untuk teguh dalam wilayah-Mu.”
🌸 Doa Lengkap & Cara Mengamalkan
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
Waktu Membaca
• Utama: setiap selesai salat fardhu (sesudah salam).
• Tambahan: dalam sujud, di waktu pagi & petang, atau saat merasa lalai dalam ibadah.
✨ Ringkasnya: doa ini adalah senjata ruhani yang membuat dzikir hidup, syukur terjaga, dan ibadah bercahaya.
Doa Munjia
2, Dimudahkan Sakaratul mautnya
3, Kuburnya tidak menghimpitnya
4, Diselamatkan dari 100 ribu kesusahan hari kiamat
5, Dijaga dari kejahatan syeithon dan tentaranya
6, Akan dilunasi hutangnya
7, Dihilangkan kesedihan dan kesusahannya
8, Dikabulkan doa-doanya
Doa dan Teks latinnya adalah :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ ،
١، أَعْدَدْتُ لِكُلِّ هَوْلٍ لاَإِلَهَ إِلاَّاللَّهُ،
٢، وَلِكُلِّ هَمٍّ وَغَمٍّ مَاشَاءَ اللَّهُ،
٣، وَلِكُلِّ نِعْمَةٍ اَلْحَمْدُلِلَّهِ،
٤، وَلِكُلِّ رَخَاءٍ الشُّكْرُ لِلَّهِ،
٥، وَلِكُلِّ أُعْجُوبَةِ سُبْحَانَ اللَّهِ،
٦، وَلِكُلِّ ذَنْبٍ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ،
٧، وَلِكُلِّ مُصِيبَةٍ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ،
٨، وَلِكُلِّ ضِيقٍ حَسْبِيَ اللَّهُ،
٩، وَلِكُلِّ قَضَاءٍ وَقَدَرٍ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ،
١٠، وَلِكُلِّ عَدُوٍّ اعْتَصَمْتُ بِاللَّهِ،
١١، وَلِكُلِّ طَاعَةٍ وَ مَعْصِيَةٍ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Allâhumma sholli ‘alâ Muhammadin wa âli muhammadin,
5, walikulli u’jûbati subhânallâh,
6, wa likuuli dzambin astaghfirullâh,
10, walikulli ‘aduwwin I’tashomtu billâh,
Dengan asma Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang,
1, Daku persiapkan untuk setiap kegelisahan ; lâ ilâha illallâh, (tidak ada tuhan kecuali Allah)
4, untuk setiap kelapangan : syukru lillâh, (syukur pada-Mu Ya Allah)
5, untuk setiap yang mengagumkan ; subhânallâh, (Maha Suci Engkau Ya Allah),
8, untuk setiap kesempitan ; hasbiyallâh, (cukuplah bagi-Mu Ya Allah)
Munajat Para Pezikir
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ya Allah, limpahkanlah sholawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.
Tidaklah disampaikan pada kemampuanku, sampai daku dijadikan tempat untuk menyucikan-Mu. Di antara nikmat-Mu yang besar bagi kami Kau alirkan pada lidah kami zikir pada-Mu, Kau-izinkan kami berdoa pada-Mu. Menyucikan dan bertasbih pada-Mu.
Tuhanku, Ilhamkan pada kami zikir pada-Mu, dalam kesendirian dan kebersamaan pada waktu siang dan malam dalam keramaian dan kesunyian, dalam suka dan duka, sertai kami dengan zikir diam, bimbing kami melakukan amal suci dan pekerjaan yang Kauridhoi. Balaslah kami dengan timbangan yang memadai.
Tuhanku, kepada-Mu terpaut hati yang dipenuhi cinta untuk mengenal-Mu dihimpunkan semua akal yang berbeda. Tidak tenang kalbu kecuali dengan mengingat-Mu. Tidak tentram jiwa kecuali ketika memandang-Mu. Engkaulah Yang ditasbihkan disemua tempat, yang disembah disetiap zaman. Yang Maujud diseluruh waktu, Yang Diseru oleh setiap lidah. Yang Dibesarkan disetiap hati. Daku mohon ampun pada-Mu dari setiap kelezatan tanpa mengingat-Mu dari setiap ketenangan tanpa menyertai-Mu, dari setiap kebahagiaan tanpa mendekati-Mu, dari setiap kesibukan tanpa menaati-Mu.
Tuhanku, Engkau berfirman dan firman-Mu benar. Hai orang-orang yang berirman berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak bartasbihlah kepada-Nya pagi dan sore”. (Q.S. Al-Imran: 41)
Engkau berfirman dan firman-Mu benar “Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat padamu”. (Q.S. Al- Baqarah: 152). Engkau perintahkan kami mengingat-Mu Engkau janjikan kami. Engkau akan mengingat kami sebagai penghormatan, pemuliaan, dan penyanjungan bagi kami.
Inilah kami, sedang mengingat-Mu, seperti yang Engkau perintahkan, penuhi apa yang Kaujanjikan pada kami. Wahai Yang Mengingat orang yang mengingat! Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi, Ya Arhamar Rôhimîn.
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doanya!!!!
Comments
Post a Comment