Makna; “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ” “Dan (Allah mensyariatkan) haji sebagai pengokoh agama.”

Makna; “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ” “Dan (Allah mensyariatkan) haji sebagai pengokoh agama.” berasal dari kalimat dalam Khutbah Fadakiyyah Sayyidah Fāṭimah al-Zahrāʾ (as), yang menjelaskan hikmah ibadah (5) dan makna pensyariatan berbagai ibadah Islam. Mari kita uraikan dan ambil 10 makna dari potongan ini, baik secara bahasa, tafsir, maupun makrifat.”Dan (Allah mensyariatkan) haji sebagai pengokoh agama.”

* الْحَجّ → 
haji, perjalanan suci ke Baitullah.

* تَشْيِيدًا → 
dari akar shayyada 

* شيّد
berarti menegakkan, memperkuat, membangun dengan kokoh

* لِلدِّينِ → 
bagi agama, atau demi menegakkan agama.

🌿 Makna dari kalimat Sayyidah as
 “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ”

1. Pengokohan Pondasi Agama
Haji meneguhkan kembali sendi-sendi Islam, seperti tiang yang menguatkan bangunan iman. Tanpa haji, bangunan itu kehilangan salah satu penopangnya.

2. Simbol Persatuan Umat
Semua umat Islam dari berbagai bangsa berkumpul di satu titik, satu pakaian, satu arah. Ini memperkokoh “dīn” sebagai agama tauhid dan kesatuan.

3. Manifestasi Ketaatan Total
Haji menguji kepatuhan mutlak kepada Allah — meninggalkan rumah, harta, dan status demi-Nya. Ketaatan total inilah yang memperkokoh agama dalam hati.

4. Penghidupan Kembali Sunnah Ibrahim (as)
Haji adalah rekonstruksi perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dan keluarganya, yang menjadi akar dan penguat agama tauhid.

5. Pembersihan Diri dan Umat
Dengan ihram, tawaf, sa‘i, dan wuquf, manusia melepaskan ego duniawi. Agama menjadi kokoh karena fondasinya adalah jiwa yang bersih.

6. Penyatuan Lahir dan Batin
Gerak fisik (ritual) dan niat batin berpadu. Agama tidak hanya doktrin, tapi juga pengalaman ruhani yang membangun “din” secara menyeluruh.

7. Penegasan Kepemimpinan Ilahi
Dalam makna makrifat, haji tidak sah tanpa mengenal Imam al-Ḥaqq (pemimpin yang ditunjuk Allah). Maka, haji meneguhkan struktur ilahi dalam agama.

8. Peringatan tentang Kebangkitan dan Perjalanan Akhir
Haji adalah miniatur perjalanan ke akhirat — keluar dari dunia, menuju “rumah Allah”. Kesadaran ini menguatkan iman dan ketundukan kepada syariat.

9. Manifestasi Solidaritas Sosial
Di Tanah Haram, semua setara — kaya miskin, raja rakyat. Agama ditegakkan atas dasar keadilan dan kesetaraan di hadapan Allah.

10. Bangunan Cinta Ilahi
Dalam makna tertinggi, tashyīd al-dīn berarti menjadikan agama berdiri di atas cinta — haji adalah ziarah menuju Kekasih. Cinta inilah puncak pengokoh iman.

✨ Ringkasan Makrifat
“وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ”
berarti bahwa haji adalah peneguhan bangunan tauhid di bumi dan di hati manusia, menyatukan zahir dan batin dalam perjalanan menuju Allah.

Makna “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ” menurut Al-Qur’an — yaitu bagaimana Al-Qur’an menjelaskan bahwa ibadah haji berfungsi sebagai peneguh, pengokoh, dan pembangun agama (تَشْيِيدًا لِلدِّينِ).

Berikut 10 makna Qur’ani yang sejalan dengan ungkapan Sayyidah Fāṭimah az-Zahrāʾ (as):

1. Haji sebagai penegak tauhid dan pembersih syirik;
 وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا
(QS. Al-Ḥajj [22]: 26)
🔹 Allah menjadikan Ka‘bah sebagai pusat ibadah tauhid.
🔹 Haji meneguhkan inti agama — tauhid — sehingga “الدّين” berdiri kokoh di atas keesaan Allah.

2. Haji sebagai syiar keagungan Allah;  
 ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾
(QS. Al-Ḥajj [22]: 32)
🔹 Seluruh manasik haji adalah sha‘ā’ir Allāh (tanda-tanda keagungan Allah).
🔹 Mengagungkan syiar ini memperkuat ruh agama di hati mukmin — inilah tashyīd al-dīn.

3. Haji sebagai pusat persatuan umat;
 لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
(QS. Al-Ḥajj [22]: 28)
🔹 Umat berkumpul di satu tempat, satu pakaian, satu kiblat.
🔹 Persatuan ini menegakkan bangunan agama sosial dan spiritual.

4. Haji sebagai saksi syukur dan ketundukan
﴿وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا… لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ﴾
(QS. Al-Ḥajj [22]: 27–28)
🔹 Tujuan haji: li-yazkurū isma Allāh — agar mereka mengingat nama Allah.
🔹 Zikir ini menegakkan dīn karena agama hidup dengan dzikrullah.

5. Haji sebagai warisan dan perjanjian kenabian
﴿وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ﴾
(QS. Al-Baqarah [2]: 125)
🔹 Ka‘bah dijadikan rumah suci oleh Nabi Ibrahim & Isma‘il — para penegak dīn.
🔹 Haji melanjutkan ‘ahd (perjanjian) ini, memperkokoh rantai kenabian dan risalah.

6. Haji sebagai simbol pengorbanan demi agama
﴿إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
(QS. Al-An‘ām [6]: 162)
🔹 Nusukī mencakup haji dan kurban.
🔹 Haji menegakkan nilai ikhlas dan pengorbanan yang mengokohkan fondasi agama.

7. Haji sebagai tanda penyerahan total (Islam sejati)
﴿رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ﴾
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)
🔹 Doa Nabi Ibrahim saat membangun Ka‘bah menunjukkan bahwa haji adalah puncak Islam — penyerahan diri total.
🔹 Inilah “tashyīd al-dīn” di dalam hati manusia.

8. Haji sebagai kebangkitan spiritual dan moral umat
﴿فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ﴾
(QS. Āli ʿImrān [3]: 97)
🔹 Di Baitullah terdapat tanda-tanda keagungan Allah dan sejarah keimanan.
🔹 Setiap haji menghidupkan kembali ayat-ayat itu — memperbaharui ruh agama.

9. Haji sebagai syarat kesempurnaan agama
﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ 
مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا﴾
(QS. Āli ʿImrān [3]: 97)
🔹 Perintah wajib yang mengikat seluruh umat.
🔹 Dengan ditegakkannya haji, sistem syariat menjadi sempurna — agama menjadi tegak sepenuhnya.

10. Haji sebagai tanda kebersamaan umat akhir zaman
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ 
لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا﴾
(QS. Āli ʿImrān [3]: 96)
🔹 Ka‘bah disebut awwal bayt — rumah pertama bagi umat manusia.
🔹 Haji menghubungkan seluruh manusia kepada asal penciptaannya — satu Tuhan, satu arah, satu agama.
🔹 Maka ia menjadi peneguh dīn bagi seluruh umat hingga akhir zaman.

✨ Kesimpulan Qur’ani
Berdasarkan Al-Qur’an, haji adalah institusi tauhid yang membangun dan menegakkan agama (تَشْيِيدًا لِلدِّينِ) — baik dalam dimensi syariat (amal), akidah (iman), maupun hakikat (tauhid).

Kalimat Sayyidah Az-Zahra as;
 وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ
Dan (Allah mensyariatkan) haji sebagai pengokoh agama”) juga memiliki dasar kuat dalam hadis-hadis Nabi ﷺ dan Ahlulbayt (ʿa) yang menjelaskan fungsi haji sebagai peneguh, pemelihara, dan penguat agama. 

Berikut 10 makna “tashyīd al-dīn” berdasarkan hadis dari sumber Sunni dan Syiah, disertai keterangan maknawi dan rujukan ringkas.

🌿 1. Haji sebagai Tiang dan Penopang Agama

قال رسول الله ﷺ:
«الْحَجُّ عِمَادُ الدِّينِ، فَمَنْ أَقَامَهُ فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ تَرَكَهُ فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ»
‏(Mustadrak al-Wasā’il, jld. 8, hlm. 8)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Haji adalah tiang agama; maka siapa yang menegakkannya, sungguh ia telah menegakkan agama, dan siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah meruntuhkan agama.”
🔹 Nabi ﷺ menyebut haji sebagai ʿimād ad-dīn — tiang agama.
🔹 Inilah makna paling langsung dari tashyīd al-dīn — haji menegakkan bangunan Islam sebagaimana tiang menegakkan rumah.

🌿 2. Haji sebagai Penyempurna Islam     

  قال رسول الله ﷺ:
«مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ حَجَّةَ الإِسْلاَمِ 
فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا»

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mati dan belum menunaikan haji Islam (haji yang wajib atasnya), maka hendaklah ia mati — jika ia mau — sebagai Yahudi atau Nasrani.”
(Sunan al-Tirmidzī 812, Musnad Aḥmad 2384)
🔹 Haji disebut ḥajjat al-islām — haji yang menyempurnakan Islam.
🔹 Artinya, seseorang belum “menegakkan” dīn sepenuhnya sampai menunaikan haji.

🌿 3. Haji sebagai Perisai dari Kefakiran dan Dosa       
  قال النبي ﷺ
«تابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ»

Nabi ﷺ bersabda:
“Lakukanlah haji dan umrah secara berulang (bergantian), karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran dari besi.”
(Sunan al-Tirmidzī 810)
🔹 Haji memperkokoh kehidupan moral dan sosial umat — menghapus dosa dan kefakiran.
🔹 Maka ia menyucikan pondasi umat, menjaga agama tetap hidup dan bersih.

🌿 4. Haji sebagai Bentuk Kesetiaan terhadap Tauhid

قال أمير المؤمنين عليّ (ع):
«فَرَضَ اللَّهُ الْحَجَّ تَقْرِيباً لِلدِّينِ، 
وَتَشْيِيداً لِلإِسْلاَمِ»

Amirul Mukminin Ali (ع) bersabda:
“Allah mewajibkan haji untuk mempererat (mendekatkan) agama dan meneguhkan (mengokohkan) Islam.”
(Nahj al-Balāghah, khutbah 1)
🔹 Imam ‘Ali (as) memakai kata yang sama — tashyīdan lil-Islām.
🔹 Haji memperkuat Islam dan mendekatkan manusia pada dīnullah (agama Allah).

🌿 5. Haji Sebagai Simbol Persatuan Umat

قال رسول الله ﷺ:
«الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ، وَيَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، وَالْحَجُّ مِفْتَاحُ تَعَارُفِهِمْ»
‏(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 259)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Darah kaum Muslimin itu setara (sama nilainya), mereka bersatu tangan terhadap selain mereka, dan haji adalah kunci saling mengenal di antara mereka.”
(Al-Kāfī, jilid 4, halaman 259)
🔹 Haji menjadi miftāḥ ta‘ārufihim — kunci pertemuan dan persaudaraan umat.
🔹 Persatuan inilah salah satu pilar yang mengokohkan agama.

🌿 6. Haji sebagai Cermin Keikhlasan dan Kepatuhan

قال الإمام الصادق (ع):
«ما يُرِيدُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ إِلَّا أَنْ يُخْلِصُوا لَهُ فِي الْعِبَادَةِ، وَالْحَجُّ مَوْقِعُ الْإِخْلَاصِ»

Imam Ja‘far ash-Shadiq (ع) bersabda: “Allah tidak menghendaki dari hamba-hamba-Nya selain agar mereka tulus ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, dan haji adalah tempat (ujian) keikhlasan itu.
(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 262)
🔹 Haji adalah tempat ujian keikhlasan tertinggi.
🔹 Agama tidak kokoh tanpa ikhlas — maka haji menjadi tashyīd al-dīn melalui kemurnian niat.

🌿 7. Haji sebagai Simbol Cinta dan Pengorbanan; 

قال الإمام الباقر (ع)
«إِنَّمَا أُمِرَ النَّاسُ بِالْحَجِّ لِيُخْلِصُوا نِيَّاتِهِمْ، وَيُقَدِّمُوا التَّوْبَةَ، وَيَتَقَرَّبُوا إِلَى اللَّهِ بِالتَّذَلُّلِ»

Imam Muhammad al-Bāqir (ع) bersabda:”Sesungguhnya manusia diperintahkan untuk menunaikan haji agar mereka memurnikan niat mereka, mendahulukan tobat, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan kerendahan hati.”
(‘Ilal al-Sharā’i‘, bab 182)
🔹 Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tapi latihan tadhallul (kerendahan diri) dan cinta kepada Allah.
🔹 Dengan cinta itu, dīn ditegakkan dari dalam.

🌿 8. Haji sebagai Bukti Keimanan Nyata;     
                  
 قال النبي ﷺ
«مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا فَلَمْ يَحُجَّ، فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا»
‏(Sunan Ibn Mājah 2883)
🔹 Hadis ini menunjukkan bahwa menolak haji berarti meruntuhkan dīn secara praktis.
🔹 Maka haji adalah syahadah iman yang hidup.

🌿 9. Haji sebagai Cermin Kebangkitan dan Akhirat

قال الإمام عليّ (ع):
«وَالْحَجُّ تَقْرِيباً لِلدِّينِ، وَتَشْيِيداً لِلْإِسْلَامِ، وَإِعْلَاناً لِلدُّعَاءِ، وَتَذْكِيراً لِلْآخِرَةِ»

Imam Ali (ʿalayhi as-salām) berkata:
“Haji itu untuk mendekatkan (manusia) kepada agama, memperkokoh Islam, menegakkan seruan (kepada Allah), dan mengingatkan tentang akhirat.”
Nahj al-Balāghah, khutbah 192)
🔹 Haji bukan hanya syiar duniawi, tetapi pengingat akhirat.
🔹 Dengan kesadaran ini, agama berdiri teguh di atas zikir dan ma‘rifat.

🌿 10. Haji sebagai Tanda Kesempurnaan Umat

قال رسول الله ﷺ: بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ… وَالْحَجِّ»

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Islam dibangun atas lima (pilar): kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah … dan (menunaikan) haji.”(Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 8, Ṣaḥīḥ Muslim 16)
🔹 Haji adalah satu dari lima pilar Islam.
🔹 Maka tanpa haji, bangunan agama tidak sempurna — inilah makna paling nyata dari tashyīd al-dīn.

✨ Kesimpulan Hadis
Semua hadis di atas menegaskan bahwa: “Haji bukan sekadar ritual, tetapi institusi ilahi untuk menegakkan, memelihara, dan memperkuat agama Allah — baik pada level akidah, ibadah, maupun akhlak.

Memang ungkapan; lidah suci Sayyidah Fāṭimah az-Zahrāʾ (as) — dan maknanya dijelaskan secara sangat kaya dalam hadis-hadis Ahlul Bayt (ʿalaihim as-salām

 وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ (“dan (Allah mensyariatkan) haji untuk menegakkan agama”) berasal dari)

Berikut ini penjelasan 10 makna “تَشْيِيدًا لِلدِّينِ” menurut hadis Ahlul Bayt, disertai kutipan dan makna ruhani dari masing-masing Imam.

🌿 1. Haji sebagai peneguh Islam dan tauhid :
قال أمير المؤمنين عليّ (ع)
«فَرَضَ اللَّهُ الْحَجَّ تَقْرِيبًا لِلدِّينِ، 
وَتَشْيِيدًا لِلْإِسْلَامِ»

Amirul Mukminin Ali (ʿalayhi as-salām) berkata:”Allah mewajibkan ibadah haji untuk mendekatkan (manusia) kepada agama dan memperkokoh Islam.”
(Nahj al-Balāghah, khutbah 1)
🔹 Imam ‘Ali (as) memakai ungkapan yang hampir identik dengan kalimat Sayyidah Fāṭimah (as). 
🔹 Haji adalah sarana taqrīb ad-dīn (mendekatkan manusia kepada agama) dan tashyīd al-Islām (memperkuat struktur Islam).
🔹 Maknanya: tanpa haji, Islam kehilangan tiang sosial dan spiritualnya.

🌿 2. Haji sebagai penghubung antara umat dan kepemimpinan Ilahi  :       
    قال الإمام الصادق (ع)
«إِنَّمَا أُمِرَ النَّاسُ بِالْحَجِّ لِيَأْتُوا إِلَى بَيْتِ اللَّهِ، فَيَطُوفُوا بِهِ، ثُمَّ يَأْتُونَا فَيُعْلِمُونَا وَلَايَتَهُمْ، وَيَعْرِضُوا عَلَيْنَا نَصْرَهُمْ»

Imam Ja‘far ash-Shādiq (ʿalayhi as-salām) berkata: “Sesungguhnya manusia diperintahkan untuk menunaikan haji agar mereka datang ke Baitullah, lalu mereka thawaf di sekitarnya, kemudian datang kepada kami untuk menyatakan kesetiaan (wilayah) mereka kepada kami dan memperlihatkan kesiapan mereka untuk menolong kami.”
(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 548)
🔹 Imam Ja‘far al-Ṣādiq (as) menjelaskan: tujuan terdalam haji adalah mengenali dan memperbaharui ikatan dengan Ahlul Bayt, pewaris rumah Allah.
🔹 Dengan itu agama tegak, karena wilāyah adalah jantung dīn.

🌿 3. Haji sebagai benteng agama dari kehancuran: 
قال الإمام الباقر (ع):
«لَا يَزَالُ الدِّينُ قَائِمًا مَا قَامَتِ الْكَعْبَةُ»
Imam Muhammad al-Bāqir (ʿalayhi as-salām) berkata: “Agama akan senantiasa tegak selama Ka‘bah masih berdiri.”
(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 272)
🔹 Imam Muḥammad al-Bāqir (as) menegaskan: keberadaan Ka‘bah (dan ibadah haji) adalah penopang eksistensi agama di bumi.
🔹 Bila haji ditinggalkan, maka dīn melemah, bahkan dunia kehilangan barakahnya.

🌿 4. Haji sebagai ziarah ruhani menuju Allah:
 قال الإمام الصادق (ع)
«مَن حَجَّ لِلَّهِ فَلَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، 
لِأَنَّهُ زَارَ اللَّهَ فِي بَيْتِهِ»
Imam Ja‘far ash-Shādiq (ʿalayhi as-salām) berkata:”Barang siapa menunaikan haji karena Allah, maka tiada balasan baginya selain surga, karena sesungguhnya ia telah mengunjungi Allah di rumah-Nya.”(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 262)
🔹 Haji disebut ziyārah ilā Allāh — kunjungan kepada Allah.
🔹 Maka ia memperkokoh hubungan makhluk dengan Khalik; ini inti tashyīd al-dīn dalam hati.

🌿 5. Haji sebagai latihan tauhid dan penghapusan ego
قال الإمام الرضا (ع):
«إِنَّمَا أُمِرُوا بِالْحَجِّ لِيَدْخُلُوا فِي ضِيَافَةِ اللَّهِ، وَيَتَجَرَّدُوا عَنِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا»
Imam Ali ar-Ridhā (ʿalayhi as-salām) berkata:”Sesungguhnya manusia diperintahkan untuk menunaikan haji agar mereka masuk ke dalam jamuan (keramahtamahan) Allah dan melepaskan diri dari dunia serta segala yang terkait dengannya.”(ʿIlal al-Sharā’iʿ, bab 182)
🔹 Imam ʿAlī al-Riḍā (as) menyebut haji sebagai diyāfat Allāh — jamuan Allah.
🔹 Orang yang berhaji melepaskan ego dan dunia; dengan itu agama menjadi murni dan tegak.

🌿 6. Haji sebagai jalan untuk memperbaharui perjanjian dengan Allah  :          
قال الإمام الصادق (ع):
«الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ تَجْدِيدٌ لِلْعَهْدِ»
Imam Ja‘far ash-Shādiq (ʿalayhi as-salām) berkata:”Haji dan umrah adalah pembaruan terhadap perjanjian (dengan Allah).”
(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 259)
🔹 Setiap haji adalah tajdīd al-ʿahd — pembaruan janji dengan Allah dan Rasul-Nya.
🔹 Agama ditegakkan karena perjanjian tauhid ini terus diperbaharui oleh umat.

🌿 7. Haji sebagai pemersatu umat dan penghapus sekat duniawi

قال الإمام الباقر (ع):
«إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ وَالسَّعْيُ وَالرَّمْيُ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ، وَتَسْوِيَةِ النَّاسِ فِي الْعُبُودِيَّةِ»

Imam Muhammad al-Bāqir (ʿalayhi as-salām) berkata:”Sesungguhnya thawaf, sa‘i, dan melempar jumrah disyariatkan untuk menegakkan zikir kepada Allah dan menyamakan (kedudukan) manusia dalam penghambaan.”
(ʿIlal al-Sharā’iʿ, bab 182)
🔹 Semua manasik adalah latihan untuk mengingat Allah dan menghapus perbedaan status.
🔹 Ini menegakkan agama dalam wujud sosial — agama menjadi bangunan kesetaraan di hadapan Tuhan.

🌿 8. Haji sebagai benteng moral dan spiritual umat

قال الإمام الصادق (ع):لَوْ تَرَكَ النَّاسُ الْحَجَّ لَهَلَكُوا، وَخَسِفَتْ بِهِمُ الْأَرْضُ»
(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 272)

Imam Ja‘far ash-Shadiq (ع) berkata:”Seandainya manusia meninggalkan ibadah haji, niscaya mereka akan binasa, dan bumi akan menelan mereka.”
Maknanya secara umum adalah bahwa ibadah haji merupakan salah satu tiang keseimbangan dunia dan keberlangsungan kehidupan manusia. Dalam pandangan para ulama, hadis ini menegaskan bahwa selama manusia menegakkan syiar-syiar Allah — seperti haji ke Baitullah — maka rahmat dan keamanan Allah tetap menaungi bumi. Namun jika syiar itu ditinggalkan secara total, maka hilanglah keberkahan dan stabilitas alam semesta, hingga bumi itu sendiri tidak lagi layak dihuni (digambarkan dengan “dibenamkan oleh bumi”).
🔹 Jika umat meninggalkan haji, maka bumi kehilangan keseimbangan.
🔹 Artinya: haji menjaga sistem keberkahan dan moral dunia — penopang eksistensi agama di alam semesta.

🌿 9. Haji sebagai perwujudan cinta dan kerendahan diri

قال الإمام الباقر (ع):
«أُمِرَ النَّاسُ بِالْحَجِّ لِيَتَوَاضَعُوا عِنْدَ اللَّهِ»

Imam al-Baqir (ʿalayhis-salām) bersabda: “Manusia diperintahkan untuk menunaikan haji agar mereka merendahkan diri di hadapan Allah.”(ʿIlal al-Sharā’iʿ, bab 182)
🔹 Manusia diperintah berhaji agar tunduk di hadapan Allah.
🔹 Kerendahan diri inilah pondasi dīn; karena agama hanya tegak di atas tawāḍuʿ dan ʿubūdiyyah.

🌿 Haji sebagai peneguh hubungan antara langit dan bumi

قال الإمام الصادق (ع): مَا خَلَقَ اللَّهُ بُقْعَةً فِي الْأَرْضِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْكَعْبَةِ، وَلَا قَبِلَ اللَّهُ الْأَعْمَالَ إِلَّا بِالتَّوَجُّهِ إِلَيْهَا»

Imam ash-Shadiq (ʿalayhis-salām) bersabda:”Allah tidak menciptakan suatu tempat di bumi yang lebih dicintai oleh-Nya daripada Ka‘bah, dan Allah tidak menerima amal perbuatan (sholat) kecuali dengan menghadap kepadanya (Ka‘bah).”
(Al-Kāfī, jld. 4, hlm. 184)
🔹 Ka‘bah adalah pusat spiritual bumi.
🔹 Haji meneguhkan sumbu kosmik antara makhluk dan Pencipta — inilah hakikat “tashyīd al-dīn”: menegakkan poros Ilahi di dunia.

✨ Kesimpulan (Makna Makrifat Ahlul Bayt) Dalam pandangan Ahlul Bayt (ʿa), haji bukan sekadar ibadah ritual, melainkan:
Ziarah menuju Allah (ziyārah ilā Allāh),
Pembaruan janji tauhid,
Pengukuhan wilāyah,
Penegakan kesetaraan dan keikhlasan,
dan penopang keberlangsungan eksistensi agama di bumi.

🌺 Maka ketika Sayyidah Fāṭimah (as) bersabda:
وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ
itu adalah ungkapan makrifat yang mencakup seluruh makna tersebut —bahwa haji adalah batu penjuru yang menegakkan bangunan Islam dari bumi hingga langit.

Pandangan para mufassir — baik Sunni maupun Syiah — tentang kalimat Sayyidah AzZahra as bagaimana ibadah haji menegakkan, memperkokoh, dan membangun agama (تَشْيِيدًا لِلدِّينِ).

🌿 Makna Dasar Menurut Bahasa Tafsir; Dalam bahasa tafsir, kata تَشْيِيد (tashyīd) berarti:

“الإِقَامَةُ وَالتَّقْوِيَةُ وَالتَّثْبِيتُ”

→ menegakkan, memperkuat, dan meneguhkan sesuatu agar tetap berdiri kokoh. Maka, “الحجّ تشييدًا للدين” berarti:Allah mensyariatkan haji untuk menegakkan dan memperkokoh agama agar tidak roboh oleh waktu, hawa nafsu, atau perpecahan umat.”

🌸 Pandangan Para Mufassir Sunni

1. Al-Ṭabarī (w. 310 H) – Jāmiʿ al-Bayān; Al-Ṭabarī menafsirkan ayat-ayat haji (Ali Imran 97, Al-Hajj 26–28) sebagai: جعل الله الحجّ قواماً للدين، يجتمع فيه الناس من كل فجّ، ليتذكّروا 

‎أمر الله، وليشهدوا منافع دينهم ودنياهم

→ Allah menjadikan haji sebagai penegak agama: tempat berkumpulnya manusia dari segala penjuru untuk mengingat perintah-Nya dan menyaksikan manfaat agama dan dunia mereka.

🔹 Tafsirnya menegaskan fungsi sosial-spiritual haji sebagai “pemersatu dan pengokoh agama.”

2. Al-Rāzī (w. 606 H) – Tafsīr al-Kabīr: Al-Rāzī berkata di bawah ayat “ولله على الناس حج البيت” (Ali Imran: 97):الحجّ هو عبادة جامعة بين أعمال البدن والمال، وفيه إظهار لشعائر التوحيد

‎ولذلك كان من دعائم الدين

→ Haji adalah ibadah yang menggabungkan amal tubuh dan harta, di dalamnya tampak tanda-tanda tauhid, karena itu ia termasuk pilar agama.
🔹 Ia memandang haji sebagai “manifestasi tauhid” — fondasi pokok yang menegakkan dīn.

3. Ibn Kathīr (w. 774 H) – Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm Ibn Kathīr menulis:

الحجّ من أعظم أركان الإسلام، به يتمّ الدين، وبه يظهر اجتماع الأمة على كلمة واحدة.”

→ Haji adalah salah satu rukun terbesar Islam; dengannya agama menjadi sempurna dan umat menampakkan kesatuan dalam satu kalimat (tauhid).
🔹 Bagi Ibn Kathīr, tashyīd al-dīn tampak pada kesempurnaan Islam dan persatuan umat yang diwujudkan oleh haji.

4. Al-Qurṭubī (w. 671 H) – Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān

الحجّ مظهر الطاعة والانقياد، وفيه تجديد للعهد بين العبد وربه.”

→ Haji adalah manifestasi ketaatan dan penyerahan diri, serta pembaruan perjanjian antara hamba dan Tuhannya.
🔹 Tafsir Qurṭubī dekat dengan makna makrifat tashyīd al-dīn — karena haji memperbarui “ʿahd ad-dīn”.

🌺 Pandangan Para Mufassir Syiah

5. Al-Ṭabrisī (w. 548 H) – Majmaʿ al-Bayān

“فَرَضَ اللهُ الحَجَّ تَشْيِيداً لِلدِّينِ، لِيَجْتَمِعَ فِيهِ الْمُسْلِمُونَ، وَيَتَعَارَفُوا، وَيُجَدِّدُوا الْوَلَايَةَ.”

→ Allah mensyariatkan haji Imam ash-Shadiq (ʿalayhis-salām) bersabda:”Allah tidak menciptakan suatu tempat di bumi yang lebih dicintai oleh-Nya daripada Ka‘bah, dan Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali dengan menghadap kepadanya (Ka‘bah).” mengokohkan agama: agar kaum Muslimin berkumpul, saling mengenal, dan memperbaharui perjanjian wilayah (kepemimpinan Ilahi).
🔹 Tafsir al-Ṭabrisī secara eksplisit mengutip kata “tashyīd al-dīn” — sama dengan ungkapan Sayyidah Fāṭimah (as). 
🔹 Ia menegaskan bahwa kekuatan agama terletak pada tiga aspek haji: tauhid, persatuan, dan wilayah.

6. Al-ʿAllāmah al-Ṭabāṭabā’ī (w. 1981 M) – Al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur’ān; Dalam tafsir Al-Mīzān (juz 3, hlm. 263) beliau menulis:

البيت الحرام جعل مركزاً لعبادة الله، ليكون رمزاً للتوحيد، ومجمعاً للأمة الواحدة، وهذا هو تشييد الدين.”

→ Baitullah dijadikan pusat ibadah Allah agar menjadi simbol tauhid dan tempat berkumpulnya umat yang satu — inilah makna peneguhan agama.
🔹 Al-Ṭabāṭabā’ī menekankan dua dimensi tashyīd al-dīn:  
1. Tauhid (dimensi batin.
2. Kesatuan umat (dimensi lahir).

7. Al-Faidh al-Kāsyānī (w. 1091 H) – Tafsīr al-Ṣāfī; الحجّ بناءٌ للدين في الأرض، وبه يُعرَف الإمام الحقّ 

‎كما يُعرَف البيت الحقّ

→ Haji adalah bangunan agama di bumi; melalui haji dikenal Imam yang hak, sebagaimana dikenal rumah yang hak (Ka‘bah).
🔹 Tafsir ini sangat makrifat: agama ditegakkan secara lahir oleh Ka‘bah, dan secara batin oleh Imam — keduanya adalah qiblah al-dīn.

8. Al-Ṭūsī (w. 460 H) – Al-Tibyān fī Tafsīr al-Qur’ān  : الحجّ عبادة جامعة لأجناس الطاعات، بها يقوى الإسلام، ويُعْلَنُ التوحيد، ويُذَلُّ الشيطان

→ Haji adalah ibadah yang mencakup semua bentuk ketaatan; dengannya Islam diperkuat, tauhid diumumkan, dan setan direndahkan.
🔹 Al-Ṭūsī melihat tashyīd al-dīn dalam makna “penguatan iman dan penghancuran syirik.”

9. Al-Muḥaqqiq al-Karāqī (w. 940 H) – Jāmiʿ al-Maqāṣid

لو لا الحجّ لانهدم الدين، لأنّ فيه اجتماع المؤمنين، وإظهار كلمة التوحيد، وبيعة الأئمّة.”

→ Seandainya tidak ada haji, agama akan runtuh, karena dalam haji terdapat pertemuan orang beriman, penampakan kalimat tauhid, dan pembaharuan bai‘at kepada para Imam.
🔹 Tafsir ini memandang haji sebagai sistem penjaga kelangsungan agama — baik secara syariat, tauhid, maupun imamah.

10. Al-Ṭabāṭabā’ī (tafsir makrifat)

Dalam bahasanya yang lebih irfānī, beliau menulis: الحجّ هو السير إلى الله من بيت النفس إلى بيت الله

→ Haji adalah perjalanan menuju Allah — dari rumah diri menuju rumah Allah.
🔹 Maka tashyīd al-dīn bukan hanya sosial-politik, tapi juga spiritual: menegakkan agama di dalam jiwa, agar hati menjadi Ka‘bah yang hidup.

🌺 Kesimpulan Para Mufassir

Dari seluruh tafsir di atas, kita dapat merangkum inti makna kalimat Sayyidah Fathimah Az-Zahra as ;

“وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ”:

Syariat Haji; memperkokoh rukun Islam dan menjaga kewajiban agama.
Sosial Haji; menyatukan umat, memperbaharui ukhuwah, dan solidaritas Islam.
Aqidah Haji; mengokohkan tauhid dan menghapus syirik.
Wilayah Haji; memperbaharui hubungan dengan Ahlul Bayt, pemimpin agama.
Makrifat Haji; adalah perjalanan ruhani menuju Allah; menegakkan dīn dalam batin.

Pandangan para mufassir dari Ahlul Bayt (ʿalaihim as-salām) dan ulama yang berjalan di jalan mereka — tentang makna mendalam dari sabda Sayyidah Fāṭimah az-Zahrāʾ (as):     وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ

“Dan (Allah mensyariatkan) haji sebagai peneguh dan pengokoh agama.” Makna ini — menurut mufassir Ahlul Bayt — bukan hanya hukum syariat, tetapi rahasia teologis dan kosmologis tentang bagaimana ibadah haji menjadi poros tegaknya agama Allah di bumi dan di hati manusia.

🌿 1. Al-Shaykh al-Ṭūsī (w. 460 H) — Tibyān fī Tafsīr al-Qur’ān

Shaykh al-Ṭūsī — mufassir besar Syiah awal — menulis bahwa haji:

«الْحَجُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ، بِهِ يُقَوَّى الدِّينُ، وَتُظْهِرُ الْأُمَّةُ شِعَارَ التَّوْحِيدِ.»

“Haji adalah ibadah terbesar; dengannya agama diperkuat, dan umat menampakkan syiar tauhid.”

🔹 Menurutnya, tashyīd al-dīn berarti: menjadikan haji sebagai manifestasi publik dari tauhid — tempat di mana syi‘ār ad-dīn (tanda-tanda agama) ditegakkan secara nyata.→ Haji = tajallī al-tawḥīd fī al-ẓāhir (penampakan tauhid dalam bentuk lahir).

🌿 2. Al-Ṭabrisī (w. 548 H) — Majmaʿ al-Bayān

Dalam menafsirkan ayat tentang haji (QS Āli ʿImrān: 97), al-Ṭabrisī menulis:

«شُرِعَ الْحَجُّ لِتَجْتَمِعَ الْأُمَّةُ عَلَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ، وَيُجَدِّدُوا الْعَهْدَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَيُظْهِرُوا الْوَلَايَةَ، وَهَذَا هُوَ تَشْيِيدُ الدِّينِ.»

“Haji disyariatkan agar umat berkumpul di atas kalimat tauhid, memperbaharui perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya, serta menampakkan wilayah (kepemimpinan Ilahi); itulah peneguhan agama.”
🔹 Jadi, tashyīd al-dīn menurut al-Ṭabrisī mencakup tiga pilar pokok agama:
1. Tauhid,
2. ʿAhd (perjanjian iman dan syariat),
3. Wilayah (kepemimpinan Ilahi/Ahlul Bayt).

🌿 3. Al-Faiḍ al-Kāsyānī (w. 1091 H) — Tafsīr al-Ṣāfī

Beliau menulis dengan gaya irfānī:

الْبَيْتُ قِبْلَةُ الْأَبْدَانِ، وَالْإِمَامُ قِبْلَةُ الْأَدْيَانِ، وَالْحَجُّ بَيْنَهُمَا رَابِطَةٌ، 

بِهِ يَثْبُتُ الدِّينُ وَيُشَيَّدُ بُنْيَانُهُ.»

“Ka‘bah adalah kiblat jasmani, Imam adalah kiblat agama, dan haji adalah penghubung keduanya; dengan haji agama menjadi tegak dan bangunannya kokoh.”

🔹 Haji menegakkan agama secara lahir (Ka‘bah) dan batin (Imam).
🔹 Tashyīd al-dīn = menyatukan ibadah fisik dan pengakuan batin kepada kepemimpinan Ilahi.

🌿 4. Al-ʿAllāmah al-Ṭabāṭabā’ī (w. 1981 M) — Al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur’ān: 
Dalam Tafsir Al-Mīzān, juz 3, beliau berkata:  جُعِلَ الْبَيْتُ الْحَرَامُ مَرْكَزًا لِعِبَادَةِ اللَّهِ، وَمَجْمَعًا لِلْأُمَّةِ الْوَاحِدَةِ، وَفِيهِ تَظْهَرُ حَقِيقَةُ الدِّينِ وَتَشْيِيدُهُ
“Baitullah dijadikan pusat ibadah Allah dan tempat berkumpulnya umat yang satu. Di sanalah hakikat agama muncul dan bangunannya ditegakkan.”
🔹 Menurut beliau, haji adalah cermin miniatur dari struktur agama secara utuh:
Ka‘bah = pusat tauhid,
Manasik = latihan ketaatan,
Persatuan umat = bentuk sosial dari dīn,
Kesadaran ruhani = bentuk batinnya.→ Tashyīd al-dīn berarti menegakkan semua dimensi agama — zahir, batin, sosial, spiritual — dalam satu peristiwa haji.

🌿 5. Al-ʿAllāmah al-Majlisī (w. 1110 H) — Bihār al-Anwār; Dalam menjelaskan khutbah Sayyidah Fāṭimah (as), beliau menafsirkan frasa ini:

«جُعِلَ الْحَجُّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ لِأَنَّ فِيهِ اجْتِمَاعَ الْأُمَّةِ، وَإِظْهَارَ التَّوْحِيدِ، وَإِعْلَانَ الْوَلَايَةِ، وَذِكْرَ اللَّهِ فِي كُلِّ مَوْطِنٍ.»

“Haji dijadikan sebagai peneguh agama karena di dalamnya terdapat pertemuan umat, penampakan tauhid, pengumuman wilayah, dan dzikrullah di setiap tempat.”

🔹 Majlisī menggabungkan makna politik, sosial, dan spiritual.

→ Haji menegakkan agama di bumi (melalui persatuan) dan di langit (melalui dzikrullah dan wilayah).

🌿 6. Al-ʿAllāmah al-Ṭabāṭabā’ī (tafsir makrifat – penjelasan irfānī-nya) Dalam bagian irfānī al-Mīzān, beliau berkata:

«السير إلى البيت رمز للسير إلى الله، والطواف حول الكعبة رمز لطواف القلب حول معرفة الربّ، وهذا هو تشييد الدين في النفس.»

“Perjalanan ke Baitullah adalah simbol perjalanan menuju Allah; tawaf mengelilingi Ka‘bah adalah perputaran hati di sekeliling makrifat Tuhan — inilah peneguhan agama di dalam diri manusia.”

🔹 Jadi, tashyīd al-dīn bukan hanya sosial, tapi juga internal:
hati manusia menjadi Ka‘bah batin tempat tauhid ditegakkan.

🌿 7. Imam Khomeini (qs) — Tafsīr dan Irfān al-Ḥajj; Beliau menjelaskan:”Haji adalah tajallī dari seluruh agama. Siapa yang memahami rahasia haji, ia telah memahami hakikat dīn. Setiap manasik adalah penegakan tauhid:
ihram adalah fana’ dari dunia,
tawaf adalah kesetiaan pada pusat cinta,
sa‘y adalah perjuangan untuk kebenaran,
dan qurbān adalah pengorbanan ego.”
🔹 Dengan demikian, tashyīd al-dīn berarti: membangun dīn dalam batin melalui perjalanan ruhani menuju Allah.

🌿 8. Sayyid Muhammad Husayn Faḍlullāh (w. 2010 M) – Min Waḥy al-Qur’ān:”Haji mengembalikan manusia kepada nilai-nilai asal agama: kesetaraan, kesabaran, pengorbanan, dan cinta Ilahi. Karena itu ia menegakkan agama bukan dengan pedang, tetapi dengan perjumpaan.”
🔹 Tashyīd al-dīn menurut beliau = revitalisasi moral umat lewat ibadah haji.

🌿 9. Al-ʿAllāmah Ṭabāṭabā’ī & tradisi ʿirfān Ahlul Bayt: Dalam tradisi tafsir makrifat Ahlul Bayt:
Ka‘bah = qalb al-insān (hati manusia)
Haji = sayr ilā Allāh (perjalanan menuju Allah)
Tashyīd al-dīn = menegakkan tauhid di dalam hati, sehingga dīn berdiri tegak di dalam insan kāmil.

🌿 Ringkasan Makna Menurut Tafsir Ahlul Bayt
Tauhid Haji; menampakkan keesaan Allah di dunia dan di hati.
Wilayah Haji; memperbaharui hubungan dengan Imam dan kepemimpinan Ilahi.
Persatuan Umat Haji; menyatukan manusia di bawah satu kalimat tauhid.
Spiritual Haji; adalah perjalanan batin menuju Allah — tegaknya dīn dalam jiwa.
Kosmologis Haji; menjaga keseimbangan bumi; selama Ka‘bah tegak, agama hidup.

✨ Kesimpulan: Menurut mufassir Ahlul Bayt (ʿa),
‎“وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ” berarti bahwa haji adalah rahasia keberlangsungan agama:
secara lahir menegakkan syiar dan kesatuan umat,
secara batin menegakkan tauhid dalam hati,
dan secara wilayah memperkokoh hubungan dengan Imam sebagai penjaga dīn.

Kalimat ini, jika dilihat dari sisi makrifat dan hakikat, bukan lagi hanya tentang perjalanan jasmani ke Ka‘bah, tetapi tentang perjalanan ruhani menuju Allah — sayr ilā Allāh — di mana agama (dīn) ditegakkan di dalam hati manusia arif. Mari kita uraikan menurut ahl al-ma‘rifah dan ahl al-ḥaqīqah (para ‘urafā’ dari jalur Ahlul Bayt): 

🌿 1. Makna Umum Menurut Ahli Makrifat

Para arif mendefinisikan tashyīd al-dīn sebagai:

تَشْيِيدُ الدِّينِ هُوَ إِقَامَةُ مَبَانِي التَّوْحِيدِ 

فِي بَاطِنِ الْإِنسَانِ.”

“Menegakkan agama berarti menegakkan bangunan tauhid dalam batin manusia.” Haji adalah proses membangun Ka‘bah hati, agar seluruh aspek diri (akal, nafsu, keinginan, perbuatan) berputar mengelilingi pusat Ilahi sebagaimana tubuh tawaf di sekeliling Ka‘bah.

🌺 2. Imam Ja‘far al-Ṣādiq (ع) — ta’wīl makrifat haji

Dalam Miṣbāḥ al-Sharīʿah, Imam al-Ṣādiq (ع) bersabda:

«اعْلَمْ أَنَّ الْحَجَّ هُوَ سَيْرٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنَاسِكُهُ خُطُوَاتُ السَّائِرِينَ إِلَيْهِ، فَمَنْ وَقَفَ بِعَرَفَةٍ فَقَدْ عَرَفَ اللَّهَ.»

“Ketahuilah, haji adalah perjalanan menuju Allah; setiap manasiknya adalah langkah-langkah para pejalan menuju-Nya. Barang siapa berwuquf di ‘Arafah, maka ia telah mengenal Allah.”

🔹 Maka “tashyīd al-dīn” di sini berarti penegakan tauhid dalam diri, karena perjalanan haji bukan menuju Ka‘bah semata, melainkan menuju Pemilik Ka‘bah.

🌺 3. Imam ‘Alī (ع) — dalam Nahjul Balāghah

«وَفَرَضَ اللَّهُ الْحَجَّ تَقْرِيبًا لِلدِّينِ، وَتَشْيِيدًا لِلْإِسْلَامِ.»

“Allah mewajibkan haji sebagai pendekatan bagi agama dan peneguh bagi Islam.”

🔹 Dalam tafsir makrifat, Imam ‘Ali menunjukkan bahwa hakikat agama adalah qurb (kedekatan kepada Allah), dan haji adalah sarana pengukuhnya. Artinya, dīn tidak tegak tanpa perjalanan menuju Allah — inilah makna hakikat tashyīd al-dīn.

🌸 4. Al-Ḥajj sebagai Tajallī al-Dīn (penampakan agama)
Menurut para arif seperti al-Kummī, al-Qāḍī Ṭabāṭabā’ī, dan Imam Khomeini (qs):”Haji adalah miniatur seluruh agama — setiap rukun Islam termanifestasi di dalamnya.”

Rukun Islam Cermin dalam Haji
Tauhid Talbiyah “Labbayka lā sharīka laka” meniadakan segala sekutu.
Shalat Tawaf adalah shalat besar di sekitar pusat tauhid.
Puasa Ihram adalah penahanan diri dari syahwat dan dunia.
Zakat Pengorbanan harta untuk Allah.
Jihad Melawan ego di Mina — menyembelih nafsu dengan pisau ikhlas.
🔹 Maka, tashyīd al-dīn = puncak penyatuan seluruh ibadah dalam satu ibadah tauhid.

🌺 5. Imam Khomeini (qs) — Irfān al-Ḥajj; 
Dalam Sirr al-Ḥajj, beliau menulis:”Haji bukan perjalanan jasad dari rumah ke rumah Allah, tapi perjalanan ruh dari diri menuju Tuhan. Selama hati belum menunaikan hajinya, agama belum tegak dalam dirinya.” 
Beliau menjelaskan tahap-tahap makrifat haji: 
1. Ihrām → keluar dari dunia dan pakaian ego.
2. Tawāf → menjadikan hati berputar di sekitar cinta Ilahi.
3. Sa‘y → perjuangan antara ṣafā (ketulusan) dan marwah (kemurahan).
4. ʿArafah → tempat ma‘rifah — mengenal Allah dalam kesadaran.
5. Muzdalifah & Mina → tempat membuang ego dan syaitan diri.
6. Qurbān → penyembelihan nafs al-ammārah (diri rendah).
7. Tahallul → lahirnya manusia baru yang telah fana’ dan baqā’ billāh.
🔹 Maka tashyīd al-dīn menurut para arif = agama ditegakkan di dalam hati ketika nafs runtuh dan Allah menjadi pusatnya.

🌺 6. Al-ʿĀrif al-Kummī (murid Sayyid ʿAlī Qāḍī) Beliau berkata: ; “Ka‘bah adalah simbol dari Qalb al-Mu’min. Ketika engkau tawaf di sekitar Ka‘bah, itu adalah tanda bahwa hatimu harus berputar di sekitar Tuhanmu, bukan di sekitar dirimu.” → Maka tashyīd al-dīn adalah menjadikan qalb sebagai Baitullah, tempat tauhid berdiri tegak.

🌺 7. Sayyid Ḥaydar Āmulī (w. 787 H) — Jāmi‘ al-Asrār; 
Ia menulis:

«الحجّ هو تمام السير إلى الله، وهو بناء الدين ظاهراً وباطناً، فالبيت قبلة الأجساد، والإمام قبلة الأرواح.»

“Haji adalah kesempurnaan perjalanan menuju Allah. Ia adalah bangunan agama, lahir dan batin; Ka‘bah adalah kiblat jasad, dan Imam adalah kiblat ruh.”

🔹 Maka tashyīd al-dīn terdiri dari dua bangunan:
1. Ka‘bah luar (lahir) → menegakkan syariat,    
2. Ka‘bah batin (Imam dan hati) → menegakkan hakikat.

🌺 8. Mulla Ṣadrā (w. 1050 H) — Asfār al-Arba‘ah; 
Mulla Ṣadrā menulis:”Perjalanan haji adalah citra dari perjalanan empat safar ruhani: dari makhluk menuju Allah, dalam Allah, dari Allah, dan bersama Allah. Siapa yang menunaikannya dengan hakikat, ia telah membangun agamanya di atas dasar ma‘rifah.”
🔹 Maka tashyīd al-dīn adalah tegaknya agama sebagai struktur kesadaran — ketika insan menyatu dengan tujuan penciptaannya.

🌺 9. Sayyid Ibn Ṭāwūs (w. 664 H) — Iqbal al-A‘māl; 
Beliau menulis: “Ketika engkau berhaji, jangan bayangkan engkau menuju batu dan tanah, tetapi engkau diundang oleh al-Ḥaqq. Engkau tidak membangun Ka‘bah, tetapi Ka‘bah membangun dirimu.” 
🔹 Maka tashyīd al-dīn = Ka‘bah membangunkan dīn dalam jiwamu, hingga engkau menjadi makhluk rabbānī.

🌺 10. Kesimpulan Ahl al-Ma‘rifah & al-Ḥaqīqah; Dimensi Makrifat Makna “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ”
Syariat; Menjalankan manasik dengan niat ikhlas, menegakkan rukun Islam.
Tharīqah; Melatih diri untuk meninggalkan ego, hawa, dan dunia.
Hakīqah; Menyaksikan Allah sebagai tujuan setiap langkah haji.
Ma‘rifah; Membangun Ka‘bah hati — tempat tauhid berdiri dan ego hancur. 

✨ Inti makna makrifat-hakikat:”Haji adalah “arsitektur Ilahi” untuk membangun agama di dalam insan.Siapa yang berhaji dengan jasad, ia menegakkan dīn di bumi. Siapa yang berhaji dengan ruh, ia menegakkan dīn di hati. Siapa yang berhaji dengan sirr (rahasia batin), ia menegakkan dīn di hadhrat Allah.

Pandangan ahl al-ḥaqīqah Syiah, dari Imam Ma‘ṣūm hingga para arif falsafi seperti Mulla Ṣadrā dan Sayyid Ḥaydar Āmulī.

🌿 1. Imam ‘Alī (عليه السلام) – Nahjul Balāghah, khutbah 1 & 192

«فَرَضَ اللَّهُ الْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ.»

“Allah mewajibkan haji sebagai peneguhan agama.”

Imam ‘Ali tidak sekadar menyebut “ibadah”, tapi “peneguhan agama” (tashyīd al-dīn). Menurut ahli hakikat Syiah, ini berarti: Agama bukan hanya hukum, tetapi bangunan wujud. Haji adalah ibadah yang menjaga keseimbangan eksistensi dunia — “selama Ka‘bah tegak, bumi tidak akan binasa.” 

📖 Dalam hadis Imam al-Bāqir (ع):

«لَوْ تُرِكَ النَّاسُ الْحَجَّ لَمَا نُظِرُوا.»
“Seandainya manusia meninggalkan haji, bumi akan ditinggalkan (tidak dijaga).” 
🔹 Jadi menurut hakikat, Ka‘bah dan haji adalah poros kosmos dīn, bukan hanya syariat.

🌺 2. Imam al-Bāqir (ع) — dalam al-Kāfī & Maʿānī al-Akhbār

إِنَّمَا أُمِرُوا بِالْحَجِّ لِتَشْيِيدِ الدِّينِ 

وَنُصْرَةِ الْإِمَامِ.»

“Sesungguhnya haji diwajibkan untuk menegakkan agama dan menolong Imam.” 
🔹 Di sini hakikat tashyīd al-dīn = dua poros:
1. Tauhid (pengakuan kepada Allah), 
2. Wilāyah (pengakuan kepada Imam). Para arif hakikat Syiah menjelaskan:”Tidak ada dīn tanpa wilayah, sebagaimana tidak ada Ka‘bah tanpa qiblat.” Artinya, haji bukan hanya menuju rumah batu, tapi menuju Wajhullāh — wajah Allah yang tampak dalam Imam.

🌿 3. Imam al-Ṣādiq (عليه السلام) – Miṣbāḥ al-Sharī‘ah

«إِذَا أَرَدْتَ الْحَجَّ فَخَلِّ قَلْبَكَ لِلَّهِ، وَخَرُجْ مِنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ، وَطُفْ بِقَلْبِكَ كَمَا تَطُوفُ بِبَدَنِكَ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذٰلِكَ فَقَدْ أَقَمْتَ الدِّينَ فِي نَفْسِكَ.»

“Jika engkau hendak berhaji, kosongkan hatimu bagi Allah, keluarlah dari segala selain-Nya, dan bertawaflah dengan hatimu sebagaimana tubuhmu bertawaf. Jika engkau lakukan itu, engkau telah menegakkan agama dalam dirimu.”
🔹 Ini adalah definisi hakikat dari tashyīd al-dīn: bukan sekadar menegakkan agama di bumi, tapi membangunnya dalam hati manusia.

🌸 4. Sayyid Ḥaydar Āmulī (w. 787 H) – Jāmiʿ al-Asrār wa Manbaʿ al-Anwār

«الْحَجُّ هُوَ صُورَةُ السَّيْرِ الْإِلٰهِيِّ، فِيهِ يَظْهَرُ الدِّينُ كُلُّهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا. فَالْبَيْتُ قِبْلَةُ الْأَبْدَانِ، وَالْإِمَامُ قِبْلَةُ الْأَرْوَاحِ، وَاللَّهُ قِبْلَةُ السِّرِّ.»

“Haji adalah citra dari perjalanan ilahi. Di dalamnya, seluruh agama tampil lahir dan batin: Ka‘bah adalah kiblat jasmani, Imam adalah kiblat ruh, dan Allah adalah kiblat rahasia (sirr).”
🔹 Maka tashyīd al-dīn memiliki tiga tingkat hakikat:
1. Zāhir (lahir) → syariat dan Ka‘bah. 
2. Bāṭin (batin) → wilayah dan Imam. 
3. Sirr (rahasia) → tauhid mutlak, perjalanan ruh kepada Allah.

🌺 5. Mullā Ṣadrā al-Syīrāzī (w. 1050 H) – Asfār al-Arba‘ah

Beliau melihat haji sebagai “al-safar al-rābiʿ” — perjalanan keempat dalam empat safar ruhani:

الْحَجُّ هُوَ سَفَرُ الْإِنسَانِ مِنَ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ وَبِالْحَقِّ إِلَى الْخَلْقِ، وَفِيهِ تَتِمُّ بِنْيَةُ الدِّينِ.»

“Haji adalah perjalanan manusia dari makhluk menuju Al-Haqq, dan dengan Al-Haqq kembali kepada makhluk; di sanalah bangunan agama disempurnakan.”
🔹 Dalam filsafat hikmah, tashyīd al-dīn berarti: Tegaknya agama adalah tegaknya kesadaran insan sebagai cermin wujud Ilahi — di mana “dīn” bukan sekadar sistem hukum, tapi realitas ontologis yang hidup dalam insan kāmil.

🌿 6. Mulla Hadi Sabzawārī (w. 1873 M) – Sharḥ Asfār & Manẓūmah; Selama Ka‘bah ada di bumi, ia menjadi bayangan dari Ka‘bah haqiqi di langit. Haji yang hakiki adalah tawaf ruhani di sekeliling Haqiqat al-Muhammadiyyah — pusat dīn yang sejati.”
🔹 Maka tashyīd al-dīn bukan semata-mata ritual duniawi, tapi menyambungkan bumi dengan langit melalui kehadiran ruhani manusia.

🌸 7. Imam Khomeini (qs) – Sirru al-Ḥajj wa Maʿārifuhu( Beliau menulis: “Haji adalah madrasah tauhid dan wilayah. Selama manusia berhaji hanya dengan badan, agama masih rapuh. Tetapi ketika ia berhaji dengan hati — mematikan ego di Mina dan mempersembahkan dirinya di Arafah — maka agama menjadi tegak dalam dirinya.”
🔹 Hakikat haji adalah al-fanā’ (lenyapnya ego) dan al-baqā’ billāh (bertahan dengan Allah). Itulah tashyīd al-dīn: agama berdiri tegak di hati yang telah fana dari selain Allah.

🌿 8. ʿAllāmah al-Ṭabāṭabā’ī (rah) – al-Mīzān (makrifat batin) “Haji adalah perjalanan dari rumah diri menuju rumah Tuhan. Ka‘bah adalah simbol dari wujud yang telah disucikan dari segala selain Allah. Siapa yang sampai ke Ka‘bah lahir tanpa Ka‘bah batin, belum menegakkan dīn.” 
🔹 Jadi menurut hakikat Syiah: tashyīd al-dīn = penyatuan antara Ka‘bah luar dan Ka‘bah batin. Jika hati sudah menjadi Baitullah, maka seluruh amal menjadi ibadah sejati.

🌺 9. Al-ʿĀrif al-Khumayrī (murid Sayyid ʿAlī Qāḍī Ṭabāṭabā’ī) “Haji bukan sekadar syiar; ia adalah dzikrullah agung yang menegakkan agama di alam ruh. Siapa yang berhaji dengan hakikat, setiap langkahnya adalah ayat, setiap talbiyahnya adalah tauhid.”
🔹 Dalam mazhab hakikat Syiah, dzikrullah dan wilayah adalah dua pilar tegaknya agama.

🌸 10. Kesimpulan Pandangan Ahl al-Ḥaqīqah Syiah; 
Dimensi Hakikat Makna “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ”
Kosmik Ka‘bah adalah poros bumi; dengan haji, alam tetap dalam keseimbangan wujud. Ontologis Dīn bukan hukum, tapi realitas eksistensi. Haji menyempurnakan wujud insan sebagai bayangan Ilahi. Ruhani Haji adalah perjalanan ruh menuju Al-Haqq; di sanalah dīn ditegakkan di hati. Wilayah Haji hakiki adalah ziarah kepada Imam, wajah Allah di bumi. Tauhid Semua manasik adalah peneguhan “lā ilāha illā Allāh” dalam kesadaran insan.

✨ Kesimpulan Akhir (Menurut Ahli Hakikat Syiah):  وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ”berarti bahwa haji adalah manifestasi paling sempurna dari tauhid dan wilayah, di mana agama (dīn) ditegakkan dalam tiga ranah:
1. Lahir – melalui syariat dan persatuan umat, 
2. Batin – melalui wilayah dan ma‘rifat, 
3. Hakikat – melalui fana’ dalam Allah dan tegaknya Ka‘bah hati.

Kisah dan cerita yang menggambarkan makna “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ” (Haji sebagai peneguh agama) menurut pandangan hakikat dan ruhani.Yang berikut bukan sekadar kisah sejarah, tapi kisah rohani dan simbolik dari para Nabi, Imam, dan arif hakiki — di mana setiap kisah menunjukkan bagaimana haji menegakkan agama, tauhid, dan wilayah dalam batin manusia dan dunia.

1. 🌿 Kisah Nabi Ibrahim (ع): Ka‘bah Didirikan di Tengah Kekosongan; 
Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan membangun Ka‘bah di lembah tandus, beliau berkata:”Ya Allah, mengapa di tempat kosong ini?” Allah menjawab (menurut riwayat Imam al-Bāqir ع): “Agar agama-Ku ditegakkan di tempat yang tak ada daya selain Aku.”
🔹 Makna hakikat: Ka‘bah dibangun di lembah tanpa kehidupan — seperti hati manusia yang kosong. Hanya bila hati dikosongkan dari dunia (khalāʾ), barulah agama dapat ditegakkan di dalamnya (tashyīd al-dīn). Ka‘bah lahir → simbol Ka‘bah batin.

2. 🕊 Kisah Nabi Ismail (ع): Pengorbanan Diri Sebagai Pondasi Agama ;
Ketika Ibrahim diperintahkan menyembelih Ismail, ia menundukkan kepala:”Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu.”Imam Ja‘far al-Ṣādiq (ع) berkata: “Kalau bukan karena penyembelihan Ismail, tidak akan tegak agama para Nabi.” 
🔹 Makna hakikat: Tashyīd al-dīn terjadi ketika ego disembelih di Mina. Agama berdiri di atas pengorbanan dan fana’, bukan sekadar ritual. Setiap “Ismail” dalam diri — nafs, keinginan, ego — harus dikorbankan agar dīn tegak.

3. 🌺 Kisah Nabi Adam (ع): Tawaf Pertama di Sekitar Ka‘bah Langit
Dalam riwayat, ketika Adam turun ke bumi dan bertobat, malaikat berkata: “Bertawaflah di sekitar rumah Allah tujuh kali sebagaimana kami bertawaf di langit.” Setelah tawaf, Allah berfirman:”Aku ampuni engkau; dengan haji inilah agama para pewarismu akan ditegakkan.”
🔹 Makna hakikat: “Haji adalah tawbah kosmik, kembalinya manusia kepada asal tauhidnya. Agama lahir ketika hati berputar kembali kepada pusat cahaya Ilahi.

4. 🌸 Kisah Imam ‘Alī (ع): Haji dan Wilayah; 
Dalam riwayat Bihār al-Anwār Imam ‘Ali berkata: “Tidak ada haji tanpa wilayah, dan tidak ada wilayah tanpa haji.” Suatu ketika beliau berhaji bersama Rasulullah ﷺ; di Arafah Nabi memegang tangan Ali dan bersabda: “Barang siapa hajinya tanpa mengenal ini (Ali), hajinya tak diterima.”
🔹 Makna hakikat: “Haji lahir menegakkan syariat; wilayah Imam menegakkan ruh agama.
Gabungan keduanya = tashyīd al-dīn.

5. 🌿 Kisah Imam Husain (ع): Haji yang Menjadi Karbala:
Imam Husain (ع) sedang berihram di Makkah. Ketika Yazid mengirim pembunuh ke sana, beliau meninggalkan ihramnya.
Orang bertanya:”Wahai putra Rasulullah, ke mana engkau?” Beliau menjawab: “Aku keluar untuk menyempurnakan hajiku — bukan di Ka‘bah batu, tapi di Ka‘bah darah.”
🔹 Makna hakikat: Karbala adalah haji sejati — pengorbanan total demi tegaknya agama. Haji Imam Husain menegakkan agama dengan darah, bukan sekadar thawaf. Tanpa Karbala, Ka‘bah pun akan sunyi.

6. 🕊 Kisah Sayyidah Fāṭimah az-Zahrāʾ (ع): Rahasia Peneguhan Agama; 
Dalam khutbah Fadakiyyah beliau bersabda:   وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ””Dan haji, untuk menegakkan agama.”Imam al-Mahdi (aj) berkata tentang ibunya: “Kalimat ini mengandung rahasia syariat dan hakikat: haji adalah ikatan langit dan bumi.”
🔹 Makna hakikat: Sayyidah Fāṭimah melihat haji sebagai poros tauhid dan wilayah. Ia adalah “Ka‘bah hati Muhammad” — darinya agama tegak secara hakiki.

7. 🌺 Kisah Imam Zain al-‘Ābidīn (ع): Tangisan di Arafah ; 
Dalam Ṣaḥīfah Sajjadiyyah, beliau berdoa: “Ilahi, Engkau memanggil mereka ke rumah-Mu, dan aku datang dengan hati yang penuh noda… terimalah aku sebagaimana Engkau menerima Ibrahim.” Setelah doa itu, beliau menangis sampai pingsan. Orang berkata: “Mengapa engkau menangis, wahai Imam?” Beliau menjawab: “Aku melihat betapa kecilnya diriku di hadapan keagungan-Nya; dan di situlah dīn tegak.” 
🔹 Makna hakikat: “Agama berdiri di atas tawāḍu‘ dan pengetahuan akan ketidakberdayaan diri. Inilah tashyīd al-dīn batin — tunduknya ego di hadapan Allah.

8. 🌿 Kisah Imam al-Sādiq (ع) dan Muridnya di Mina; 
Seorang murid bertanya: “Wahai Imam, mengapa kita melempar batu kepada syaitan?” Imam menjawab: “Bukan untuk melempar batu itu, tapi untuk menegakkan hatimu di hadapan musuh batinmu.”
🔹 Makna hakikat: Haji meneguhkan agama bukan dengan batu di luar, tetapi dengan peperangan melawan syaitan dalam diri.

9. 🌸 Kisah Arif Syiah: Sayyid ‘Alī Qāḍī Ṭabāṭabā’ī; 
Dikisahkan, beliau berhaji dengan muridnya. Saat tawaf, muridnya berkata: “Aku melihat orang-orang berputar mengelilingi Ka‘bah.” Sayyid ‘Alī Qāḍī menjawab: “Aku melihat seluruh semesta bertawaf di sekitar Wajhullah.”
🔹 Makna hakikat: Arif hakiki melihat haji sebagai refleksi tauhid kosmik, di mana seluruh wujud berputar mengelilingi sumber cahaya. Itulah agama yang hidup — dīn al-ḥaq.

10. 🕊 Kisah Arif Suci: Imam Khomeini (qs) 
Dalam perjalanan hajinya yang terakhir (sebelum revolusi), beliau berkata kepada muridnya: “Di Arafah aku melihat jutaan pakaian putih, tapi hanya sedikit hati yang ber-ihram. Haji sejati adalah ketika engkau meninggalkan dirimu, bukan kotamu.”
🔹 Makna hakikat: Haji menegakkan agama ketika ego ditinggalkan di miqat. Selama “aku” masih ada, dīn belum tegak. Ketika “aku” hilang dan hanya Allah yang tinggal — di situlah tashyīd al-dīn hakiki terjadi.

🌺 Kesimpulan 10 Kisah
Inti Hakikat Tashyīd al-Dīn
1 Nabi Ibrahim; Agama tegak di hati yang kosong dari dunia.
2 Nabi Ismail ; Dīn berdiri di atas pengorbanan ego.
3 Nabi Adam; Tawaf = kembali ke pusat Ilahi.
4 Imam ‘Ali; Wilayah = ruh haji dan agama.
5 Imam Husain; Karbala = haji darah, puncak peneguhan dīn.
6 Sayyidah Fāṭimah; Haji = ikatan langit dan bumi, rahasia tauhid.
7 Imam Zain al-‘Ābidīn; Dīn tegak di dalam kerendahan hati.
8 Imam al-Sādiq; Peperangan batin = jihad haji sejati.
9 Sayyid ʿAlī Qāḍī; Haji = seluruh kosmos bertawaf pada Allah.
10 Imam Khomeini; Dīn tegak ketika ego lenyap di miqat.

Manfaat (faedah ruhani & hakiki) dari makna “وَالْحَجَّ تَشْيِيدًا لِلدِّينِ” (“Dan haji sebagai peneguh agama”) beserta doa-doanya menurut pandangan Ahlul Bayt (عليهم السلام) dan ahli hakikat.

Berikut penjelasan yang menggambarkan manfaat lahir, batin, dan makrifat haji — disertai doa pendek (munajat) yang dapat diamalkan untuk menumbuhkan makna itu dalam diri.

🌿 1. Mengokohkan Tauhid
Haji meneguhkan makna “Lā ilāha illā Allāh” dalam setiap gerak dan niat. Di Arafah, hamba melepaskan segala selain Allah. 
Faedah:
Membersihkan hati dari syirik halus dan cinta dunia. 
Doa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ قَلْبِي لَكَ وَحْدَكَ، وَطَهِّرْهُ مِنْ كُلِّ سِوَاكَ
“Ya Allah, jadikan hatiku hanya untuk-Mu, dan sucikan ia dari selain-Mu.”

🌺 2. Menyempurnakan Agama 
Dalam hadis Imam al-Bāqir (ع):
“Haji adalah penutup agama dan penyempurnanya.” 
Faedah:
Menjadikan iman dan amal mencapai kesempurnaan.
Siapa berhaji dengan niat ikhlas, seolah-olah ia lahir kembali. 
Doa:
اللَّهُمَّ تَمِّمْ دِينِي بِحَجِّي، 
كَمَا أَتْمَمْتَ دِينَ أَوْلِيَائِكَ.
“Ya Allah, sempurnakanlah agamaku dengan hajiku sebagaimana Engkau sempurnakan agama para wali-Mu.”

🌸 3. Menyucikan Jiwa; 
Imam al-Sādiq (ع):”Haji menghapus dosa sebagaimana api membakar karat besi.” 
Faedah:
Membersihkan hati dari dosa masa lalu dan menanamkan kesadaran baru. Setelah haji, seseorang seolah menjadi manusia baru. 
Doa:
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي كَمَا طَهَّرْتَ بَيْتَكَ الْحَرَامَ.
“Ya Allah, sucikan hatiku sebagaimana Engkau sucikan rumah-Mu yang suci.”

🌿 4. Meneguhkan Hubungan dengan Imam Zaman (عج)
Menurut Imam al-Bāqir (ع):
“Tidak diterima haji kecuali dengan mengenal Imam.” 
Faedah:
Haji menjadi sarana memperbarui bai‘ah (janji) kepada Imam Mahdi (aj) dan kesetiaan kepada kebenaran.
Doa:
 اللَّهُمَّ عَرِّفْنِي حُجَّتَكَ، فَإِنَّكَ إِنْ لَمْ تُعَرِّفْنِي حُجَّتَكَ ضَلَلْتُ عَنْ دِينِي
“Ya Allah, perkenalkan aku pada hujjah-Mu, karena tanpa mengenalnya aku akan tersesat dari agamaku.”

🌺 5. Menyatukan Umat dan Menghapus Kesombongan; 
Semua memakai pakaian putih, tanpa perbedaan status. 
Faedah:
Menanamkan kerendahan hati dan persaudaraan universal.
Haji mengajarkan kesetaraan dan cinta sesama. 
Doa: 
 اللَّهُمَّ اجْمَعْ قُلُوبَنَا عَلَى مَحَبَّتِكَ وَوِلَايَةِ أَوْلِيَائِكَ
“Ya Allah, satukan hati kami dalam cinta kepada-Mu dan wilayah para wali-Mu.”

🌸 6. Menghidupkan Sunnah Nabi Ibrahim & Rasulullah (ص) Dalam setiap manasik, hamba mengulang jejak mereka. 
Faedah:
Menguatkan hubungan spiritual dengan para nabi dan Ahlul Bayt.
Membentuk kesadaran tauhid yang bersumber dari Ibrahimiyyah sejati.
Doa:
 اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَتْبَاعِ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدٍ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ.
“Ya Allah, jadikan aku pengikut agama Ibrahim dan Muhammad — salam atas mereka.”

🌿 7. Menundukkan Nafsu dan Ego Ihram berarti “mengharamkan diri dari diri sendiri.” 
Dengan ihram, manusia melepaskan kehendak pribadi. Faedah: Menguasai hawa nafsu, menundukkan ego, dan melatih disiplin spiritual. 
Doa:
اللَّهُمَّ أَخْرِجْنِي مِنْ نَفْسِي، 
وَأَدْخِلْنِي فِي رِضَاكَ.
“Ya Allah, keluarkan aku dari diriku sendiri, dan masukkan aku ke dalam ridha-Mu.”

🌸 8. Menghapus Ketergantungan Duniawi; 
Haji mengajarkan zuhd — meninggalkan kenyamanan dunia demi perjalanan kepada Allah.
Faedah: Melatih kesabaran, ketulusan, dan keberanian dalam meninggalkan keterikatan dunia.
Doa:
 اللَّهُمَّ لا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّي 
‎وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِي
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utamaku, dan jangan batasi ilmuku pada dunia.”

🌿 9. Mendekatkan Diri kepada Allah (Qurb ilallāh) ; 
Dalam hakikat, haji adalah perjalanan dari makhluk menuju Al-Ḥaqq. 
Faedah:
Menghadirkan rasa keintiman dengan Allah — liqa’ullāh (perjumpaan batin). 
Doa:
اللَّهُمَّ قَرِّبْنِي إِلَيْكَ قُرْبَ الْمُخْلِصِينَ، وَأَدْخِلْنِي فِي نُورِكَ الْمُبِينِ.
“Ya Allah, dekatkan aku kepada-Mu seperti kedekatan orang-orang ikhlas, dan masukkan aku ke dalam cahaya-Mu yang nyata.”

🌸 10. Menegakkan Ka‘bah Batin (Hati) ; 
Imam al-Sādiq (ع) bersabda:
“Ka‘bah yang sejati adalah hati orang mukmin.” 
Faedah:
Ketika hati menjadi tempat dzikrullah, seluruh hidup menjadi ibadah. Itulah peneguhan agama sejati di dalam diri manusia. 
Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قَلْبِي بَيْتَكَ الَّذِي تَسْكُنُ فِيهِ، وَلَا تُخْرِجْنِي مِنْ حَضْرَتِكَ أَبَدًا.
“Ya Allah, jadikan hatiku rumah-Mu tempat Engkau bersemayam, dan jangan keluarkan aku dari hadirat-Mu selamanya.”

🌺 Kesimpulan Manfaat dan Doa
1 Meneguhkan tauhid Membersihkan hati dari selain Allah
2 Menyempurnakan agama Iman mencapai kesempurnaan
3 Menyucikan jiwa Ampunan dan kelahiran rohani baru
4 Meneguhkan wilayah Menyambung hati dengan Imam
5 Menyatukan umat Menghapus ego dan kesombongan
6 Menghidupkan sunnah Mengikuti jejak para Nabi
7 Menundukkan nafsu Menjadi hamba sejati
8 Zuhud dunia Lepas dari ketergantungan dunia
9 Mendekatkan diri kepada Allah Qurb ilallah & liqa’ullah
10 Menegakkan Ka‘bah batin Hati menjadi rumah Allah


Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit