Makna; Kalimat Sayyidah Fatimah Az-Zahra as tentang Hikmah Ibadah (4) وَالصِّيَامَ تَثْبِيْتًا لِلإِخْلَاصِ: Dan (Kami wajibkan) puasa sebagai peneguhan (atau pengokohan) keikhlasan.”

 Makna dan lapisan maknawi yang bisa dipahami dari ungkapan ini:

1. Puasa sebagai latihan mengokohkan niat murni
Puasa dilakukan semata karena Allah — tidak bisa dipamerkan, karena hanya Allah yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa. Maka ia melatih jiwa agar amalnya benar-benar ikhlas.

2. Puasa meneguhkan tauhid amali
Dengan menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu, manusia menegaskan bahwa yang berhak ditaati hanya Allah. Ia menolak dorongan diri demi ketaatan kepada-Nya.

3. Puasa sebagai penyaring niat
Ketika lapar dan haus datang, hanya niat yang benar-benar kuat dan tulus yang mampu bertahan. Maka puasa menjadi ujian yang menyaring keikhlasan dari kepura-puraan.

4. Puasa menundukkan ego (nafs)
Keikhlasan tak bisa tumbuh selama ego masih kuat. Dengan puasa, ego dilemahkan sehingga hati lebih siap untuk ikhlas hanya kepada Allah.

5. Puasa sebagai pendidikan ruhani (tarbiyah al-nafs)
Ia mendidik jiwa agar tidak tergantung pada kesenangan duniawi, sehingga cinta kepada Allah menjadi pusat orientasi hidup — inilah puncak ikhlas.

6. Puasa meneguhkan hubungan batin dengan Allah
Saat berpuasa, manusia merasa selalu “dilihat” oleh Allah (muraqabah). Kesadaran ini meneguhkan ikhlas, karena ia beramal dalam pengawasan ilahi, bukan pandangan manusia.

7. Puasa memurnikan amal dari motivasi dunia
Puasa menghapus kepentingan materi, reputasi, atau penghargaan sosial — sebab tidak ada manfaat duniawi langsung darinya. Maka ia meneguhkan amal yang hanya “lillāh”.

8. Puasa sebagai jalan menuju “ikhlas hakiki”
Ikhlas bukan hanya niat awal, tapi keadaan batin yang terus stabil di hadapan ujian. Puasa meneguhkan kondisi itu: istiqamah dalam rahasia penghambaan tanpa pamrih.

9. Puasa memperkuat kesadaran akan fana-nya diri
Lapar dan haus menyadarkan manusia akan kelemahan dan kefanaannya. Kesadaran ini menumbuhkan ikhlas, karena hanya Allah yang layak disandarkan dan disembah.

10. Puasa meneguhkan ikhlas dalam seluruh amal lainnya
Puasa adalah sekolah keikhlasan. Setelah seseorang terbiasa menahan diri demi Allah, keikhlasan itu mengalir ke shalat, sedekah, dan seluruh amal ibadah lainnya.

Kalimat تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ berasal dari akar kata ثَبَتَ (tsabata) yang berarti “kokoh, teguh, tetap”. Maka maknanya bukan sekadar “mewujudkan ikhlas”, tetapi meneguhkannya agar tidak goyah oleh hawa nafsu, riya, atau dunia.

Makna kalimat Sayyidah as; “وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ” 
menurut Al-Qur’an, yaitu bagaimana Al-Qur’an menggambarkan puasa sebagai sarana peneguhan keikhlasan

Meskipun kalimat itu sendiri tidak muncul secara langsung dalam Al-Qur’an, maknanya tersirat kuat dalam banyak ayat. Berikut penjelasan bertahap dan tematiknya

🌿 1. Asal konsep: Puasa sebagai ibadah “lillāh”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
‏(QS. al-Baqarah [2]: 183)

➡️ Ayat ini menjelaskan tujuan puasa: “agar kamu bertakwa.”Takwa adalah buah dari ikhlas, sebab takwa hanya lahir jika seseorang beribadah semata karena Allah, bukan karena manusia.
Makna Qurani: Puasa meneguhkan ikhlas karena ia mendidik manusia untuk tidak mencari pandangan makhluk, melainkan ridha Khalik.

🌸 2. Puasa bersifat tersembunyi — melatih ikhlas;
 Dalam Al-Qur’an, Allah sering menekankan bahwa amal yang tersembunyi lebih murni ikhlasnya: إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
(QS. al-Baqarah [2]: 271)

➡️ Amal yang disembunyikan lebih baik karena mendekatkan pada الإخلاص. Puasa sejatinya adalah amal tersembunyi — orang lain tidak tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak — maka ia otomatis menjadi ladang latihan keikhlasan.

🌕 3. Ikhlas sebagai inti ibadah
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (QS. al-Bayyinah [98]: 5)
➡️ Seluruh perintah ibadah dalam Islam, termasuk puasa, memiliki satu tujuan inti: mengokohkan ibadah yang ikhlas kepada Allah.
Jadi makna “تثبيتًا للإخلاص” dalam kerangka Al-Qur’an berarti:
Puasa diwajibkan agar manusia mengokohkan ibadah yang tulus hanya kepada Allah.

🌾 4. Ikhlas lahir dari pengendalian hawa nafsu  
 فَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَالْمَأْوَىٰ QS. an-Nāzi‘āt [79]: 40–41) 

➡️ Orang yang menahan diri dari hawa nafsu karena takut kepada Allah adalah yang ikhlas. Puasa adalah wujud paling nyata dari “nahā an-nafsa ‘ani al-hawā” — menahan diri dari hawa nafsu — sehingga mengokohkan keikhlasan itu. 

🌼 5. Ikhlas teruji dalam kesunyian amal 
 إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
(QS. al-Insān [76]: 9) 

➡️ Para abrar memberi makan hanya demi wajah Allah. Puasa pun serupa: orang yang menahan diri dari makan dan minum lillāh meneguhkan makna ayat ini dalam dirinya — tiada pamrih kecuali wajah Allah. 🌙 

6. Puasa sebagai sarana tazkiyah (penyucian jiwa)
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
(QS. asy-Syams [91]: 9–10) 

➡️ Ikhlas hanya bisa tumbuh di jiwa yang suci. Puasa mensucikan jiwa dengan menahan syahwat dan membuang riya, sehingga menetapkan (تثبيت) keadaan ikhlas dalam hati. 

🌺 7. Ikhlas sebagai jalan menuju kedekatan Ilahi
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ 
تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ
(QS. al-Baqarah [2]: 110) 

➡️ Amal yang benar-benar “lillāh” akan ditemukan “di sisi Allah” — bukan sekadar dalam catatan amal. Puasa menanamkan keyakinan itu: tidak terlihat di dunia, tapi nyata di sisi-Nya. 

🌻 8. Puasa dan kesabaran — akar dari ikhlas 
 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
(QS. az-Zumar [39]: 10) 

➡️ Orang yang sabar diberi ganjaran tanpa batas. Puasa disebut dalam hadis sebagai “bulan kesabaran”, dan kesabaran adalah pondasi keikhlasan, karena ia menahan diri untuk Allah semata. 

🌤️ 9. Ikhlas sebagai penjaga amal dari kebatilan 
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
(QS. al-Baqarah [2]: 264) 

➡️ Amal yang tidak ikhlas akan “batal” nilainya di sisi Allah. Puasa melatih hati agar amal lain pun tidak terhapus oleh riya, sebab ia mengokohkan kesadaran batin akan kehadiran Allah. 

🌷 10. Ikhlas sebagai ciri hamba pilihan Allah
إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
QS. as-Saffāt [37]: 40) 

➡️ Hamba-hamba Allah yang “mukhlaṣīn” — yang dimurnikan — adalah mereka yang selamat dari tipu daya syaitan (ayat 40–43). Puasa merupakan sarana menuju derajat ini, karena syaitan dilemahkan selama Ramadhan; maka ikhlas menjadi tetap (thābit) dalam hati.

🔹 Kesimpulan Qurani:

“وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ”
≈ Puasa diwajibkan agar keikhlasan menjadi kokoh dalam jiwa, sebagai fondasi seluruh ibadah dan tanda takwa yang sejati. 

Maknanya berpadu dari ayat-ayat seperti:
Al-Baqarah 2:183 (tujuan puasa: takwa) 
Al-Bayyinah 98:5 (ibadah dengan ikhlas)
An-Nāzi‘āt 79:40–41 (menahan hawa nafsu karena Allah)
Al-Insān 76:9 (amal lillāh)

Ibadah puasa sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis Nabi ﷺ dan Ahlul Bayt (as). Kalimat “وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلْإِخْلَاصِ” (“Dan puasa sebagai peneguhan keikhlasan”) juga memang berasal dari redaksi doa Imam Ali bin Abi Ṭālib (as) — tetapi maknanya dijelaskan secara mendalam dalam banyak hadis sahih dari Rasulullah dan para Imam.

Berikut penjelasan makna dan dukungan dari hadis-hadis:

🌕 1. Hadis Qudsi: “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: 
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ 
فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
(Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1904; Muslim, no. 1151) 

Makna: Semua amal manusia bisa ternoda oleh riya, kecuali puasa — karena tidak dapat ditampakkan. Hanya Allah yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa. 
→ Maka puasa adalah ibadah yang paling meneguhkan ikhlas. 

🌙 2. Hadis tentang rahasia puasa Imam al-Ṣādiq (as) berkata:

الصَّوْمُ لَيْسَ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَحَسْبُ، إِنَّمَا الصَّوْمُ مِنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَالرَّأْيِ  ) al-Kāfī, j. 4, hlm. 87)
Makna: Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tapi menahan diri dari segala hal yang menodai hati dan niat.
→ Inilah bentuk تثبيت الإخلاص (pengokohan keikhlasan): seluruh diri menjadi tulus karena Allah.

🌸 3. Hadis Imam Ali (as): tujuan puasa 

Dalam Nahjul Balāghah, khutbah 192 (khutbah tentang penciptaan manusia dan hikmah syariat):
وَفَرَضَ اللَّهُ… الصِّيَامَ ابْتِلَاءً لِإِخْلَاصِ الْخَلْقِ
Dan Allah mewajibkan puasa untuk menguji keikhlasan makhluk.”
→ Ini adalah dasar langsung dari kalimat “وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلْإِخْلَاصِ” — artinya, puasa bukan hanya ujian ikhlas, tapi juga cara untuk meneguhkannya setelah diuji.

🌿 4. Hadis: “Puasa adalah perisai dari neraka”     قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ  (Ṣaḥīḥ Ibn Mājah, 1639)
Makna: Puasa adalah pelindung dari api neraka. Namun pelindung itu hanya berfungsi bila disertai ikhlas. Karena itu, puasa mengokohkan ikhlas sebagai “perisai spiritual”.

🌾 5. Hadis: “Banyak orang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus”
قَالَ النَّبِي ﷺ: رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
(Musnad Aḥmad, no. 8842)
Makna: Puasa tanpa ikhlas — hanya formalitas — tidak menghasilkan apa pun kecuali lapar dan haus.
→ Maka inti puasa yang diterima Allah adalah keikhlasan niatnya.

🌼 6. Hadis Imam al-Sajjād (as): rahasia spiritual puasa
Dalam Ṣaḥīfah al-Sajjādiyyah, Du‘āʾ no. 45 (Doa menyambut Ramadhan):
اللَّهُمَّ وَوَفِّقْنَا فِيهِ 
لِأَنْ نَصُومَ عَنْ مَحَارِمِكَ كُلِّهَا
“Ya Allah, berilah kami taufik untuk berpuasa dari semua yang Kau haramkan.” → Artinya, puasa sejati adalah ikhlas dalam seluruh aspek hidup, bukan hanya perut. Ini adalah bentuk tathbīt al-ikhlāṣ (peneguhan ikhlas melalui kesadaran penuh).

🌺 7. Hadis: “Puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya”
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى عَبْدًا إِذَا صَامَ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ مَلَكًا يَكْتُمُ عَمَلَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَيَبْقَى عَمَلُهُ خَالِصًا لِلَّهِ
(Bihār al-Anwār, j. 96, hlm. 255)
Makna: Allah melindungi amal puasa dari gangguan syaitan, agar tetap murni ikhlas.
→ Maka puasa adalah “peneguhan keikhlasan” secara literal. 

🌙 8. Hadis: “Barangsiapa berpuasa dengan iman dan ikhlas…” قَالَ النَّبِي ﷺ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 38; Muslim, no. 760) 
Makna: “Imanan wa iḥtisāban” berarti dengan iman dan keikhlasan, bukan karena kebiasaan sosial atau riya. 
→ Allah hanya memberi ampunan kepada yang puasanya ikhlas.

🌷 9. Hadis Imam al-Riḍā (as): hikmah puasa    إِنَّمَا أُمِرُوا بِالصِّيَامِ لِيَعْرِفُوا أَلَمَ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ… 
‎وَلِيَكُونُوا خَاشِعِينَ ذَلِيلِينَ، وَلِيَكُونَ الْإِخْلَاصُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (ʿIlal al-Sharā’iʿ, Syaikh
 Ṣadūq) 
Makna: Puasa membuat hati lembut, tunduk, dan ikhlas kepada Allah. 
→ Hikmah utama: agar ikhlas menjadi tetap (thābit) dalam jiwa.

🌼 10. Hadis Imam al-Bāqir (as): puasa menampakkan hakikat iman
لَا يَزَالُ الْعَبْدُ يُجَرَّبُ بِالصِّيَامِ 
حَتَّى يُعْرَفَ إِخْلَاصُهُ
Seorang hamba diuji dengan puasa hingga tampak kadar keikhlasannya. (Bihār al-Anwār, 96:249) Makna: Puasa adalah medan ujian — dan hasil akhirnya adalah peneguhan ikhlas dalam diri. 
🌹 Kesimpulan hadis: Puasa adalah ibadah yang paling rahasia, paling dekat dengan Allah, dan paling kuat meneguhkan keikhlasan. 

Maka kalimat Sayyidah Fatimah as ; 
وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلْإِخْلَاصِ 
bisa disimpulkan menurut hadis:
🕊️ “Allah menjadikan puasa sebagai sarana agar keikhlasan tidak sekadar diuji, tetapi menjadi teguh dan menetap di dalam hati hamba-Nya.”

Kalimat Sayyidah AzZahra as “وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ” 
memang berasal dari ajaran Ahlul Bayt (as ). Mereka adalah “ma‘ādin al-‘ilm” (tambang ilmu) yang menjelaskan rahasia ruhani dari setiap ibadah. 

Berikut penjelasan makna “puasa sebagai peneguhan keikhlasan” menurut hadis-hadis Ahlul Bayt (as), disertai teks riwayat dan maknanya.

🌕 1. Imam ‘Alī (ع): Allah mewajibkan puasa untuk menguji keikhlasan  وَفَرَضَ اللَّهُ… الصِّيَامَ ابْتِلَاءً لِإِخْلَاصِ الْخَلْقِ
(Nahj al-Balāghah, Khutbah 192)
🕊️ Makna: Puasa diwajibkan untuk menguji sejauh mana ikhlas seseorang kepada Allah.
Ujian ini bukan agar Allah “mengetahui”, tapi agar ikhlas menjadi nyata dan kokoh di hati manusia. 
👉 Inilah sumber makna “وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ” — yakni, setelah diuji (ابتلاء), Allah meneguhkannya (تثبيت).

🌙 2. Imam al-Ṣādiq (ع): Puasa bukan sekadar lapar dan haus
قَالَ (ع): إِذَا صُمْتَ، فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ… وَلَا يَكُنْ يَوْمُ صَوْمِكَ كَيَوْمِ فِطْرِكَ.
Imam (a.s.) bersabda: “Apabila engkau berpuasa, maka hendaklah telingamu, matamu, dan lidahmu juga berpuasa — dari kebohongan dan hal-hal yang diharamkan… Dan janganlah hari puasamu sama seperti hari ketika engkau tidak berpuasa.” (al-Kāfī, j. 4, hlm. 87)
🕊️ Makna: “Puasa sejati adalah puasa seluruh anggota tubuh — bukan hanya perut.
Itu artinya, ikhlas dalam seluruh perilaku, karena setiap bagian diri ikut “menahan diri karena Allah.”
→ Dengan cara inilah puasa menetapkan (تثبيت) keikhlasan secara total dalam batin.

🌾 3. Imam al-Riḍā (ع): Hikmah diwajibkannya puasa
إِنَّمَا أُمِرُوا بِالصِّيَامِ لِيَعْرِفُوا أَلَمَ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ، فَيَسْتَدِلُّوا عَلَى فَقْرِ الْآخِرَةِ… وَلِيَكُونُوا خَاشِعِينَ ذَلِيلِينَ، وَلِيَكُونَ الْإِخْلَاصُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
“Sesungguhnya mereka diperintahkan untuk berpuasa agar mereka merasakan sakitnya lapar dan haus, sehingga mereka dapat mengambil pelajaran tentang kefakiran di akhirat… agar mereka menjadi orang-orang yang khusyuk dan rendah hati, serta supaya keikhlasan itu semata-mata hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla.”(ʿIlal al-Sharā’i‘, Syaikh Ṣadūq, bab 182)
🕊️ Makna: “Tujuan puasa adalah agar hati menjadi lembut, tunduk, dan ikhlas kepada Allah. Puasa menumbuhkan rasa rendah diri di hadapan Allah — inilah kondisi batin yang disebut “tathbīt al-ikhlāṣ.”

🌸 4. Imam al-Bāqir (ع): Ujian keikhlasan dengan puasa
لَا يَزَالُ الْعَبْدُ يُجَرَّبُ بِالصِّيَامِ 
حَتَّى يُعْرَفَ إِخْلَاصُهُ.
“Seseorang hamba senantiasa diuji melalui puasa, hingga tampak dan diketahui keikhlasannya.”
(Bihār al-Anwār, j. 96, hlm. 249)
🕊️ Makna: Puasa adalah medan pengujian keikhlasan, dan semakin sering seseorang berpuasa dengan kesadaran ilahi, semakin teguh keikhlasannya.→ Maka tathbīt al-ikhlāṣ adalah buah dari kontinuitas dan kedalaman spiritual puasa.

🌼 5. Imam al-Sajjād (ع): Doa tentang hakikat puasa Dalam Ṣaḥīfah al-Sajjādiyyah, Du‘āʾ no. 45 (Doa menyambut Ramadhan):
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، وَأَلْهِمْنَا مَعْرِفَةَ فَضْلِهِ، وَإِجْلَالَ حُرْمَتِهِ… وَوَفِّقْنَا فِيهِ لِأَنْ نَصُومَ عَنْ مَحَارِمِكَ كُلِّهَا.
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarganya. Ilhamkanlah kepada kami pengetahuan tentang keutamaan (bulan ini), serta rasa penghormatan terhadap kesuciannya… dan berilah kami taufikqdi dalamnya untuk berpuasa dari seluruh hal yang Engkau haramkan.” 
🕊️ Makna: Beliau memohon agar bisa berpuasa bukan hanya dari makan-minum, tetapi dari semua yang diharamkan Allah — yaitu puasa lahir dan batin. Itulah tanda keikhlasan yang mantap dan menyeluruh.

🌺 6. Imam al-Kāẓim (ع): Puasa sebagai pengendalian diri
الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ
“Puasa adalah perisai dari api neraka.”(Bihār al-Anwār, j. 96, hlm. 255) ;
🕊️ Makna: “Puasa adalah perisai dari api neraka.”
Namun para Imam menafsirkan bahwa perisai itu hanya kuat bila niatnya ikhlas, bukan karena kebiasaan atau ketakutan sosial.
→ Jadi puasa menetapkan keikhlasan yang menjadi perisai rohani.

🌿 7. Imam al-Ṣādiq (ع): Tentang nilai tersembunyi puasa
قَالَ (ع): إِنَّ الصَّوْمَ لِلَّهِ لَا يُطَّلَعُ عَلَيْهِ أَحَدٌ، فَإِنَّهُ أَعْظَمُ الْأَعْمَالِ أَجْرًا.
(Wasā’il al-Shī‘ah, j. 7, hlm. 292)
🕊️ Makna: Puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh Allah — tidak bisa dipamerkan.
Karena itu ia melatih dan mengokohkan ikhlas secara hakiki, sebab tidak ada ruang bagi riya.

🌾 8. Imam al-Riḍā (ع): Pengaruh puasa terhadap jiwab
الصِّيَامُ يَنْقَطِعُ بِهِ عَنْ شَهَوَاتِ الدُّنْيَا، وَيُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا، وَيُثَبِّتُ النِّيَّةَ عَلَى الْإِخْلَاصِ.
(Ma‘ānī al-Akhbār, Syaikh Ṣadūq)
🕊️ Makna: Puasa memutus cinta dunia, menumbuhkan zuhud, dan menetapkan niat di atas keikhlasan. → Ini redaksi yang sangat dekat dengan kalimat “وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلْإِخْلَاصِ.”

🌙 9. Imam al-Bāqir (ع): Tanda puasa yang diterima
إِذَا صَامَ الْعَبْدُ خَالِصًا لِلَّهِ، نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ بِرَحْمَةٍ، فَغَفَرَ لَهُ مَا سَلَفَ مِنْ ذَنْبِهِ.
Apabila seorang hamba berpuasa dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memandangnya dengan penuh rahmat, lalu mengampuni dosa-dosa yang telah lalu.
(Bihār al-Anwār, j. 96, hlm. 248)
🕊️ Makna:”Puasa yang diterima adalah puasa yang dilakukan secara ikhlas, tanpa pamrih duniawi.
→ Ikhlas menjadi syarat diterimanya puasa, dan puasa pula yang meneguhkan ikhlas itu.

🌹 10. Imam al-Ṣādiq (ع): Hubungan puasa dan makrifat  الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ، مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا.
Orang yang berpuasa berada dalam keadaan ibadah, sekalipun ia tidur di atas tempat tidurnya, selama ia tidak menggunjing (menghibah) siapa pun. (al-Kāfī, j. 4, hlm. 63)
🕊️ Makna: Selama hati dan lisan tetap suci, puasa menjadi ibadah terus-menerus — bahkan saat tidur.
→ Ini menunjukkan bahwa puasa meneguhkan keadaan ikhlas permanen (thubūtī) dalam diri mukmin.

✨ Kesimpulan dari hadis-hadis Ahlul Bayt (ع):
Aspek Makna Ruhani; 
1, Imam ‘Alī: Puasa untuk menguji keikhlasan
2, Imam al-Bāqir & al-Ṣādiq: Puasa menyaring niat dan melatih jiwa
3), Imam al-Riḍā: Puasa menetapkan niat di atas keikhlasan
4), Imam al-Sajjād: Puasa lahir dan batin dari segala yang haram
5), Imam al-Bāqir: Hanya puasa yang ikhlas diterima Allah

🕊️ Jadi, menurut hadis Ahlul Bayt (ع):”Puasa adalah madrasah ikhlas — ia menguji, menyaring, lalu meneguhkan keikhlasan hingga menjadi keadaan yang tetap dalam hati hamba.” 

Makna kalimat Sayyidah as ;
‎ “وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ” menurut para mufassir / ulama tafsir — bagaimana mereka menjelaskan bahwa puasa “meneguhkan keikhlasan”:

🔍 Penjelasan dari beberapa mufassir dan karya tafsir

1. Ibnu Katsir — Tafsir al-Baqarah 2:183; Ibnu Katsir menekankan bahwa puasa itu harus disertai niat yang ikhlas karena Allah. Ia menjelaskan bahwa menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami-istri dengan niat ikhlas merupakan bagian penting dari puasa. Tanpa keikhlasan, puasa hanya berupa tindakan fisik, tidak membuahkan efek ruhani.  

2. Al-Rāzī — Kitab Mafatih al-Ghaib; Beliau dalam menafsirkan kewajiban puasa (surah al-Baqarah ayat 183) menyebutkan bahwa puasa bukan hanya menahan diri secara lahir, tetapi juga pengendalian terhadap hawa nafsu dan segala tindakan yang bisa merusak niat, sehingga hati tetap semata kepada Allah. Dengan demikian, puasa menjadi sarana untuk menjaga keikhlasan.  

3. Al-‘Āmulī — dalam tafsir falsafah puasa; Dalam tulisan kontemporer yang mengutip pendapat al-Āmulī, dikatakan bahwa puasa mencapai tingkat di mana seorang mencapai tauhid dhātī, yakni pengenalan hakiki terhadap Tuhan. Pada tingkat ini, pahala puasa bukan hanya balasan biasa tetapi ikatan langsung dengan Allah, kehadiran Allah dalam hati hamba sebagai bagian dari realitas spiritual. Ini menunjukkan bahwa keikhlasan bukan hanya niat saja, tetapi keadaan batin yang dalam dan tetap.  

4. Asy-Syārawī & para mufassir lainnya dalam tulisan-tulisan modern; Mereka menyebut bahwa puasa adalah “proses tarbiyah dan penyucian jiwa” (tahdīb an-nafs, tazkiyah ruhānīyah) — yaitu membuat jiwa bersih dari sifat-sifat tercela seperti riya’, kesombongan, dan melatih akhlak mulia. Dalam proses itu, keikhlasan diuji dan diperkuat.  🌱 Bagaimana tafsir-ini mendukung makna “تثبيتًا للإخلاص”

Dari uraian mufassir di atas, bisa disimpulkan beberapa poin yang serupa dengan kalimat sayyidah as وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ

Ujian terhadap keikhlasan: puasa menguji apakah niat kita benar-benar hanya karena Allah, ataukah sudah tercemar kepentingan manusiawi.

Pembersihan batin: puasa menyingkirkan “kotoran hati” seperti riya’, ostentation, atau ketergantungan kepada penilaian orang lain.

Tidak hanya fisik, tetapi menyeluruh: puasa dalam tafsir tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan anggota badan dan lidah dari keburukan — agar amal menjadi ikhlas dalam segala tingkatan.

Keikhlasan yang menetap: melalui latihan, ujian, dan tarbiyah, keikhlasan bukan hanya niat sesaat, tetapi menjadi watak / kondisi hati yang stabil. Pandangan dari tafsir Syiah / pemikiran Syiah yang sangat mendekati makna itu — yaitu bagaimana para mufassir dan pemikir Syiah menjelaskan bahwa puasa memperkuat atau meneguhkan keikhlasan.

🔍 Tafsir dan Pemahaman Syiah tentang Puasa & Keikhlasan

1. Imam Ali (‘Alī) — Ibtalā’ (ujian) terhadap ikhlas Dari Ghurar al-Hikam, dalam salah satu ungkapan Imam Ali:    والصّيام ابتلاءً لإخلاص الخلق
Puasa ditetapkan sebagai ujian/keterbukaan keikhlasan manusia.”  Ini menunjukkan bahwa puasa berfungsi untuk menguji apakah seseorang benar-benar ikhlas. Ujian itu sendiri menuntut bahwa niat dan amal keluar dari kepentingan selain Allah.

2. Imam al-Ṣajjād (as) — Puasa sebagai penghalang dosa lahir dan batin; Imam Zayn al-‘Ābidīn dalam tafsirnya menyebut “hak puasa” — bahwa puasa adalah s̱itr (penutup / pelindung) bagi lidah, telinga, mata, perut, dan alat syahwat agar tidak terjerumus dalam dosa.  Penjagaan ini adalah bagian dari keikhlasan; apabila anggota tubuh dijaga karena Allah, maka kesucian niat diteguhkan.

3. Syiah: Puasa menahan diri dari perbuatan haram & menjaga anggota tubuh Tafsir dan khabar Syiah menyebut bahwa puasa bukan hanya menahan makan/minum, tapi juga menjaga anggota tubuh agar tidak berbicara dusta, tidak melakukan keburukan, tidak melakukan hal yang Allah haramkan — baik secara nyata maupun tersembunyi. Ini adalah bagian dari proses internalisasi keikhlasan. (termasuk dalam pandangan Imam al-Ṣādiq dan Imam al-Riḍā)  

4. Makrifat hakikat puasa Syiah Dalam pemikiran hakikat (maqām-maqām / maqāmat tasawwuf dalam Syiah) puasa dianggap sebagai proses “pembersihan hati” agar bisa mencapai maqām di mana amal dilakukan hanya karena Allah, bukan karena pamrih, ketenaran, atau pengaruh sosial/moral. Ini adalah tahap keikhlasan yang diteguhkan oleh latihan puasa.  

5. Puasa sebagai veil / pelindung spiritual; Dalam tafsir Syiah dikemukakan bahwa puasa adalah tabir (sitr), yakni suatu perlindungan dari api Neraka, serta menjaga agar tidak terlihat/terganggu oleh godaan duniawi — sehingga ibadah dan amal tetap ikhlas. Semisal, Imam al-Ṣajjād menyebut bahwa saat puasa ada tabir yang menjaga kita dari api dan menjaga anggota-anggota kita agar tidak lalai.  

6. Penekanan pada niat dan kesadaran akan Allah dalam puasa Syiah banyak menekankan bahwa puasa harus disertai dengan niyyah yang tulus, dan juga kesadaran akan kehadiran Allah (muraqabah) agar keikhlasan tidak hanya menjadi kata, tetapi realitas batin. Puasa dianggap sebagai sarana untuk memperkuat niat tersebut dan menjaga agar tidak tergoda oleh riya’ atau kemunafikan.

7. Puasa dan dosa-dosa kecil / pembersihan moral
Dalam literatur Syiah, puasa dianggap membantu dalam pembersihan dosa-dosa kecil, terutama yang tersembunyi, seperti ucapan buruk, iri, riya’, dan sebagainya — yang sering merusak keikhlasan. Dengan dipaksa menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dan menjaga anggota tubuh, seseorang dibentuk agar keikhlasan menjadi kebiasaan.  

8. Kontinuitas dan konsistensi
Syiah juga menekankan bahwa keikhlasan tidak cukup hanya sekali; melalui puasa berulang, konsisten (seperti menjalankan puasa Ramadhan, puasa sunnah), keikhlasan diteguhkan, diuji, dan menjadi bagian dari watak.

9. Puasa sebagai bukti iman yang tersembunyi
Karena puasa dilakukan sebagian besar diam dan dalam rahasia (di malam hari, di antara orang lain yang belum tidur, atau di siang hari saat orang lain melihat tetapi tidak mengetahui niat dalam hati), maka puasa adalah bentuk ibadah yang paling sulit untuk diriya’ dan paling kuat untuk ikhlas. Syiah menyebutnya sebagai amal yang tersembunyi di sisi Allah.

10. Kesabaran dan kerendahan hati (khushū‘/tadhallul)
Dalam tafsir Syiah, puasa juga dikaitkan dengan sifat sabar, rendah hati di hadapan Allah, melepaskan keterikatan dengan dunia. Keikhlasan ditopang oleh sabar dalam menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan, dari nafsu, dari gengsi, dari pengakuan manusia. Puasa menguatkan sabar dan kerendahan itu, yang pada gilirannya meneguhkan keikhlasan.

Ahli hakikat dan makrifat memandangnya dari sisi perjalanan ruh (سير وسلوك), penyucian jiwa (تزكية النفس), dan penyatuan kehendak hamba dengan kehendak Allah. 

Berikut 10 penjelasan maknawi dari para ‘ārifīn (ahli hakikat & makrifat), baik dari tradisi Sunni maupun Syiah, tentang bagaimana puasa meneguhkan keikhlasan (تثبيت الإخلاص).

🌕 1. Puasa: jalan dari syariat menuju hakikat; Menurut para sufi dan ‘ārif seperti al-Qusyairī dan Mullā Ṣadrā, puasa memiliki tiga tingkat:
1. Puasa umum – menahan diri dari makan, minum, hubungan badan.
2. Puasa khusus – menahan pendengaran, penglihatan, dan lisan dari dosa.
3. Puasa khususul-khusus – menahan hati dari selain Allah.
➡️ Pada tingkat ketiga inilah tathbīt al-ikhlāṣ terjadi: hati hanya memandang Allah dan tidak lagi terikat oleh selain-Nya. (Al-Risālah al-Qusyairiyyah & Asfār al-Arba‘ah karya Mullā Ṣadrā*) 

🌙 2. Ikhlas adalah hasil fana’ al-nafs (lenyapnya ego) Menurut Ibn ‘Arabī dan para ‘ārif Syiah seperti al-Ḥurr al-‘Āmilī dan Sayyid Ḥaydar Āmulī, puasa melemahkan kekuatan nafs (ego jasmani). Ketika ego lapar, tirai diri tersingkap, dan cahaya Ilahi memancar di hati. 
➡️ Inilah makna “تثبيتًا للإخلاص”: keikhlasan menjadi thābit karena ego yang menodainya telah dilemahkan. 

🌾 3. Puasa adalah ibadah yang paling rahasia
Para ‘ārif berkata: “Al-ṣawm sirrun bayna al-‘abd wa rabbih” — “Puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya.”(Hadis Qudsi; juga dijelaskan oleh Imam al-Ṣādiq as)
➡️ Karena hanya Allah yang tahu apakah seseorang berpuasa atau tidak, maka puasa menjadi medan latihan ikhlas sejati — amal yang tidak bisa dipamerkan. Itu sebabnya Allah berfirman dalam hadis Qudsi:
“Puasa itu milik-Ku, dan Aku sendiri yang membalasnya.”

🌸 4. Puasa adalah penyucian cermin hati: Para arif memandang hati seperti cermin: Jika ia dipenuhi debu syahwat dan keinginan dunia, ia tak dapat memantulkan cahaya Ilahi.
Puasa membersihkan cermin itu — dengan lapar, diam, dan tafakkur — hingga hati menjadi bening. 
➡️ Dalam keadaan bening itu, ikhlas tidak lagi dipaksakan, tetapi menjadi sifat alami hati.
Itulah “peneguhan keikhlasan”.

🌼 5. Puasa meneguhkan keikhlasan melalui lapar; Imam al-Ghazzālī dalam Iḥyāʾ ‘Ulūm al-Dīn menjelaskan bahwa lapar melemahkan jalan syaitan ke dalam hati, menumbuhkan kelembutan, dan menumbuhkan cahaya ma‘rifat.
Dalam mazhab Ahlul Bayt, Imam al-Riḍā (as) berkata: “Puasa menumbuhkan khushū‘, tadhallul, dan ikhlas kepada Allah.” 
➡️ Jadi lapar jasmani adalah jalan untuk kenyang ruhani — ketika hanya Allah yang menjadi pengisi kekosongan itu.

🌻 6. Puasa: latihan untuk meniadakan selain Allah (lā ilāha illā Allāh): Ahli hakikat Syiah seperti Sayyid Ḥaydar Āmulī mengatakan: Puasa adalah tanzīh (peniadaan) yang hidup; karena engkau meniadakan keinginan-keinginan lain agar yang tersisa hanya Allah.”
➡️ Inilah bentuk ikhlas tertinggi — ketika seluruh kehendak manusia terhimpun dalam Kehendak Ilahi.

🌺 7. Puasa dan maqām musyahadah (penyaksian batin)
Setelah nafs ditundukkan, hati memperoleh kejernihan untuk musyahadah (menyaksikan Allah).
Pada tingkat ini, amal tidak lagi dilakukan karena surga atau takut neraka, melainkan karena cinta kepada Allah (maḥabbah ilāhiyyah).→ Itulah keikhlasan murni yang “thābit” — tidak berubah oleh keadaan.

🌿 8. Puasa sebagai latihan kesendirian dengan Allah (khalwah ilāhiyyah) Ahli makrifat seperti al-Daylamī (dalam ‘Atf al-‘Ārifīn) dan Imam al-Khumainī (dalam Adāb al-Ṣalāt) menjelaskan bahwa puasa menciptakan ruang batin — keadaan sunyi antara hamba dan Tuhannya.
Makan dan minum dihilangkan agar ruh dapat “makan” dari hadirat Ilahi.
➡️ Keikhlasan diteguhkan di dalam kesunyian ini, karena tidak ada yang tersisa selain Allah dan hamba-Nya.

🌤️ 9. Puasa mengubah sifat riya menjadi muraqabah; Menurut al-Junaid al-Baghdādī dan juga ‘Allāmah Ṭabāṭabā’ī dalam tafsir al-Mīzān, puasa mendidik jiwa agar tidak mencari pandangan manusia, tetapi hanya merasa diawasi oleh Allah (muraqabah). 
➡️ Dari sini lahir ikhlas hakiki — kesadaran bahwa semua amal dilakukan “di bawah pandangan Allah”, bukan untuk makhluk. 

🌹 10. Puasa meneguhkan ikhlas dengan mengosongkan hati dari dunia Menurut Mīr Dāmād dan Imam al-Khumainī, hakikat puasa adalah membebaskan hati dari keterikatan duniawi (tafrīgh al-qalb ‘an al-dunyā). Ketika hati kosong dari dunia, Allah mengisinya dengan Cahaya-Nya. 
➡️ Pada saat itu, ikhlas tidak lagi sekadar niat, melainkan keadaan tetap: “Tidak ada yang beramal dalam diriku kecuali Dia.”

✨ Kesimpulan hakikat:
Dalam pandangan ahli makrifat: Puasa adalah proses penyucian diri agar Allah menjadi satu-satunya tujuan. Lapar melemahkan ego, diam menyucikan hati, tafakkur menyingkap hakikat, dan semua itu meneguhkan ikhlas hingga menjadi hal (keadaan) yang permanen.

🔹 Dari kalimat Sayyidah AzZahra:
Makna Syariat; Menahan diri dari makan, minum, nafsu.
Tharīqat; Menahan seluruh anggota tubuh dari dosa.
Hakikat ; Menahan hati dari selain Allah.
Makrifat; Hati menjadi tempat tajalli (penampakan) Allah semata — keikhlasan teguh (تثبيت الإخلاص).

Makna وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ menurut ahli hakikat dan makrifat dari kalangan Syiah?”para ‘ārif (ahli hakikat) besar Syiah — seperti Sayyid Ḥaydar Āmulī, Mullā Ṣadrā, ‘Allāmah Ṭabāṭabā’ī, Imam Khomeini, dan Mīr Dāmād — yang semuanya melihat puasa bukan sekadar ibadah lahir, tetapi jalan menuju kemurnian tauhid dan ikhlas hakiki. 

🌕 Makna Umum Menurut Ahli Hakikat Syiah

Menurut para arif Syiah, Puasa (الصِّيَام) bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan seluruh dimensi wujud manusia dari keterikatan kepada selain Allah. Tathbīt al-Ikhlāṣ (تثبيت الإخلاص) berarti meneguhkan cahaya keikhlasan di hati hingga menjadi sifat tetap, bukan sekadar niat sesaat.

🌿 10 Makna kalimat Sayyidah Fathimah AzZahra as
‎وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلإِخْلَاصِ Menurut Ahli Hakikat Syiah; 

1. Puasa menundukkan nafsu agar ikhlas menjadi mungkin; Menurut Sayyid Ḥaydar Āmulī (murid spiritual Ibn ‘Arabī dan penyambung hikmah Irfani Syiah): Nafsu (ego) adalah hijab terbesar antara hamba dan Allah. Maka puasa menundukkan kekuatannya, menyingkap hijab itu, dan menjadikan hati siap menerima cahaya ikhlas. 
➡️ “Tathbīt al-Ikhlāṣ” di sini adalah tsubūt (peneguhan) cahaya itu setelah hijab terangkat. (Jāmi‘ al-Asrār wa Manba‘ al-Anwār, bab fi sirr al-shiyām)

2. Puasa adalah fana’ syahwat dan baqā’ lillāh; Dalam pandangan Mullā Ṣadrā (dalam Asfār al-Arba‘ah), setiap ibadah memiliki maqām fana’ (lenyapnya ego).
Puasa — karena sifatnya meniadakan syahwat — adalah ibadah yang membawa fana’ syahwat dan kehendak diri, lalu menghadirkan baqā’ (keberadaan) dalam kehendak Allah. 
➡️ Maka “تثبيت الإخلاص” berarti tegaknya kehendak ilahi dalam diri manusia, bukan kehendak diri sendiri.

3. Puasa sebagai latihan tauhid amali (ikhlas lillāh semata)
Menurut ‘Allāmah Ṭabāṭabā’ī (tafsir al-Mīzān, QS al-Baqarah: 183),
puasa adalah ibadah paling rahasia, karena tidak dapat dipamerkan.
Ia meneguhkan keikhlasan karena tidak ada jalan bagi riya’. 
➡️ Maka secara maknawi, “tathbītan lil ikhlāṣ” berarti mendidik jiwa agar setiap amal dilakukan karena Allah, bukan karena makhluk. 

4. Puasa sebagai tajrīd (peniadaan keterikatan dunia) Menurut Imam Khomeini (Adāb al-Ṣalāt), hakikat puasa bukan hanya lapar jasmani, tapi “lapar ruhani” — yakni mengosongkan hati dari dunia. Selama hati masih sibuk dengan dunia, ikhlas belum teguh. Puasa adalah kunci pembebasan dari dunia.”
➡️ “Tathbīt al-Ikhlāṣ” berarti meneguhkan pembebasan hati dari dunia agar Allah menjadi satu-satunya tujuan. 

5. Puasa sebagai mi‘rāj ruhani menuju tauhid
Dalam pandangan Mīr Dāmād (dalam Qabasāt), puasa adalah ‘ubūdiyyah tajrīdiyyah — ibadah yang membebaskan dari tabiat dan jasad, karena ia “meninggalkan” seluruh kenikmatan materi demi hadirat Allah. 
➡️ Maka keikhlasan menjadi tsābit (mantap) karena ruh telah naik menuju maqām tauhid.

6. Puasa menyingkap wajah batin amal (sirr al-‘amal) Menurut Sayyid Ḥaydar Āmulī, setiap amal memiliki “batin ilahi” — hakikat yang hanya tampak bagi hati yang suci.
Puasa membuka jalan ke hakikat ini, karena ia bersih dari segala bentuk pamrih. 
➡️ Tathbīt al-Ikhlāṣ = meneguhkan hubungan langsung antara amal dan Allah, tanpa perantara hawa, manusia, atau dunia. 

7. Puasa menumbuhkan maqām muraqabah (kesadaran selalu diawasi Allah) Menurut ‘Allāmah Ṭabāṭabā’ī, puasa menanamkan ihsān (kesadaran akan kehadiran Allah): “Engkau tidak makan, tidak minum, bukan karena takut manusia, tapi karena tahu Allah melihatmu.” 
➡️ Maka keikhlasan tidak lagi dipaksakan — ia menjadi fitrah yang sadar: amal dilakukan “karena Dia melihatku”.

8. Puasa sebagai ibadah cinta (maḥabbah), bukan takut atau pamrih Dalam ajaran ‘irfān Syiah, tingkatan ibadah ada tiga: 
1. Ibadah hamba karena takut (ʿibādat al-ʿabīd)
2. Ibadah pedagang karena berharap surga (ʿibādat al-tujjār)
3. Ibadah pecinta karena cinta (ʿibādat al-aḥrār) 
➡️ Puasa mengantarkan ke tingkatan ketiga — ibadah karena cinta murni, inilah ikhlas hakiki yang diteguhkan (thābit). 

9. Puasa menyalakan nur al-ikhlas di hati; Imam al-Sajjād (as) dalam Risālat al-Ḥuqūq berkata:
“Hak puasa adalah engkau tahu bahwa ia adalah hijab yang menutupi dari api dan pelindung dari dosa.”Para arif menafsirkan ini sebagai nur (cahaya) yang muncul dari dalam hati. 
➡️ “Tathbīt” berarti menjadikan cahaya itu permanen — ikhlas yang tidak padam meski ibadah selesai. 

10. Puasa sebagai penyatuan (ittiḥād) antara kehendak hamba dan Tuhan
Menurut Mullā Ṣadrā dan Sayyid Ḥaydar Āmulī, tujuan seluruh perjalanan spiritual adalah fanāʾ al-irādah fī irādatillāh — lenyapnya kehendak hamba dalam Kehendak Allah. 
➡️ Puasa melatih itu setiap saat: menahan diri dari keinginan, agar yang tersisa hanyalah kehendak Allah. Itulah puncak ikhlas — bukan lagi kesadaran “aku ikhlas”, tetapi keadaan “tidak ada aku selain Dia”.

🕊️ Kesimpulan Ahli Hakikat Syiah
Puasa Makna “Tathbīt al-Ikhlāṣ”
Syariat; Menahan diri dari makan dan dosa. Melatih niat agar murni
Tharīqat; Menahan anggota tubuh & hati dari dunia. Meneguhkan kesadaran muraqabah
Hakikat ; Menahan hati dari selain Allah. Menjadikan ikhlas sebagai keadaan permanen
Makrifat; Fana’ fi’llāh — tidak tersisa kehendak diri Menyatu dalam kehendak Allah (ikhlas murni)

🌹 Mutiara makrifat Syiah: “Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan hati dari selain Allah. Ketika hati kosong dari dunia, Allah memenuhi ruang itu dengan Diri-Nya. Itulah تثبيت الإخلاص — tegaknya keikhlasan yang tak lagi goyah.”

Kisah atau cerita yang menggambarkan makna kalimat suci Sayyidah Fathimah Az Zahra as;
وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلْإِخْلَاصِ
“Dan (Kami wajibkan) puasa untuk meneguhkan keikhlasan.” Dari riwayat, sejarah, dan pengalaman para sufi serta Ahlul Bayt (as) — yang masing-masing menunjukkan bagaimana puasa menjadi jalan pengokohan keikhlasan, sebagaimana dijelaskan para ‘arif Syiah. 

🌕 1. Puasa Sayyidah Fāṭimah (as) dan keluarga suci — Surah Al-Insān; Diriwayatkan bahwa Imam ʿAlī (as), Sayyidah Fāṭimah (as), Imam Ḥasan (as), dan Imam Ḥusayn (as) berpuasa tiga hari karena nazar kesembuhan Imam Ḥasan dan Imam Ḥusayn as
Setiap malam, mereka hanya memiliki sepotong roti. Namun ketika hendak berbuka: 
malam pertama: datang fakir, mereka berikan semua makanan mereka. 
malam kedua: datang yatim, mereka berikan lagi.
malam ketiga: datang tawanan, mereka tetap berikan semuanya. Mereka berbuka hanya dengan air. Lalu turun ayat: “Mereka memberi makan, dengan rasa cinta kepada-Nya, kepada miskin, yatim, dan tawanan…” (QS. Al-Insān: 8)
🌹 Maknanya: Mereka berpuasa bukan untuk pahala, tapi karena Allah — ikhlas murni. Puasa mereka meneguhkan keikhlasan sempurna (تثبيت الإخلاص).

🌙 2. Puasa Imam ʿAlī (as) — menolak pujian manusia
Suatu hari, Imam ‘Alī (as) sedang berpuasa. Seseorang mengetahui hal itu dan memujinya di depan orang banyak. Imam segera makan sebutir kurma. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab:”Aku khawatir setan membuatku bangga dengan pujian orang, lalu puasaku menjadi riya’.” 
🌿 Maknanya: Puasa meneguhkan ikhlas hanya bila dilakukan tanpa riya’. Imam ‘Ali menolak bahkan bayangan ketenaran — itulah tathbīt al-ikhlāṣ.

🌾 3. Puasa Imam al-Sajjād (as) dan tangisan di malam hari
Diriwayatkan, Imam al-Sajjād (as) setiap malam Ramadhan menangis lama setelah berbuka. Ketika ditanya, beliau berkata: “Aku malu kepada Allah. Siang hari aku menahan diri dari makan dan minum, tapi apakah hatiku juga menahan diri dari selain-Nya?”
🌹 Maknanya: Puasa lahir mudah, tetapi puasa hati (ikhlas sejati) sulit. Beliau menegaskan bahwa hakikat puasa adalah menjaga hati agar hanya untuk Allah.

🌼 4. Kisah Abu Dharr al-Ghifārī
Abu Dharr dikenal zuhud dan ikhlas.
Suatu hari ia berpuasa di tengah padang pasir tanpa makanan. Seseorang bertanya:”Mengapa kau berpuasa tanpa bekal?” Ia menjawab:”Aku sedang belajar untuk tidak menggantungkan diri kepada selain Allah.”
🌿 Maknanya: Puasa bukan sekadar lapar, tapi latihan tawakkul dan ikhlas — hanya Allah yang mencukupi. 

🌺 5. Puasa Imam al-Ṣādiq (as) dan tamu tak diundang; Dalam riwayat, Imam Ja‘far al-Ṣādiq (as) suatu hari berpuasa. Ketika hendak berbuka, datang seorang tamu miskin. Imam segera memberikan seluruh makanannya, lalu berbuka hanya dengan air. Ketika muridnya bertanya, Imam berkata: “Barang siapa berpuasa dengan hatinya, ia takkan memandang makanan sebagai nikmat, tapi memberi sebagai ibadah.”
🌹 Maknanya: Keikhlasan diteguhkan lewat memberi, bukan menikmati. Itulah ruh “tathbīt al-ikhlāṣ.”

🌸 6. Kisah seorang sufi yang berpuasa diam-diam
Seorang sufi Syiah, Bahāʾ al-Dīn al-ʿĀmilī, setiap Ramadhan tetap makan bersama orang-orang di siang hari agar tidak diketahui bahwa ia sedang berpuasa sunnah. Ia meminum air ke bibir tapi tidak menelannya. Ketika ditanya, ia menjawab:”Aku tidak ingin ada satu pun yang tahu ibadahku selain Allah.”
🌿 Maknanya: Puasa rahasia seperti ini adalah bentuk tertinggi ikhlas — “tathbīt al-ikhlāṣ” dalam diam. 

🌻 7. Kisah Imam al-Riḍā (as) dan pelayannya; Suatu hari, Imam al-Riḍā (as) memanggil pelayannya saat hendak berbuka. Makanan disiapkan, tetapi pelayan tak datang karena masih mengurus tamu miskin. Imam menunggu hingga larut malam.
Ketika pelayan datang, Imam berkata lembut: “Aku menahan lapar lebih lama agar kamu tidak merasa sendirian beramal untuk Allah.”
🌹 Maknanya: Puasa bukan hanya menahan diri, tapi jugamengokohkan ikhlas bersama — saling menjaga amal agar tetap lillāh.

🌷 8. Puasa Sayyid Ḥaydar Āmulī dalam khalwah; Diriwayatkan dalam Jāmi‘ al-Asrār, Sayyid Ḥaydar Āmulī berpuasa selama empat puluh hari dalam khalwah (uzlah) hanya dengan seteguk air.
Ia berkata:”Aku tidak mencari pahala, tapi ingin hati ini tenang bersama Allah.” Setelah itu ia menulis: “Aku mendapati dalam diriku keteguhan baru — tidak lagi ada yang aku kehendaki selain-Nya.”
🌿 Maknanya: Puasa panjang itu menjadi tathbīt al-ikhlāṣ — peneguhan cinta yang murni kepada Allah. 

🌼 9. Puasa Imam al-Khumainī di Najaf; Diceritakan murid-muridnya bahwa Imam Khomeini ketika di Najaf sering berpuasa sunnah tanpa diketahui. Ia berbuka hanya dengan sepotong roti kering. Ketika ditanya mengapa tidak makan lebih baik, beliau menjawab: “Aku ingin merasakan kefakiran agar hatiku tidak bangga dengan ilmu.”
🌹 Maknanya: Puasa menghapus kebanggaan batin dan meneguhkan ikhlas fi’l-ʿilm wa’l-ʿamal.

🌺 10. Kisah seorang ‘arif — lapar sebagai cinta; Seorang ‘arif Syiah, Sayyid ʿAlī Qāḍī Ṭabāṭabā’ī, berkata kepada muridnya: “Jika engkau ingin merasakan manisnya kehadiran Allah, jangan kenyangkan dirimu. Lapar yang dijalani karena Allah menyalakan cahaya ikhlas dalam hatimu.” Muridnya mengikuti nasihat itu — berpuasa sering, dan dalam tahajud ia menangis karena merasakan kehadiran Allah.
🌿 Maknanya: Lapar jasmani membuka pintu kenyang ruhani — puasa sebagai peneguh ikhlas dan cinta. 

🌸 Kesimpulan Kisah
Makna Ikhlas yang Diteguhkan
1 Ahlul Bayt (as) Memberi makan demi Allah semata
2 Imam ‘Ali (as) Menolak riya’ dan pujian
3 Imam Sajjad (as) Puasa hati dari selain Allah
4 Abu Dharr Tawakkul penuh kepada Allah
5 Imam Sadiq (as) Memberi makan, bukan menikmati
6 Bahā’ al-Dīn ‘Āmilī Menyembunyikan amal
7 Imam Ridha (as) Ikhlas dalam kebersamaan
8 Sayyid Haydar Āmulī Fana’ dalam lapar ruhani
9 Imam Khomeini Menundukkan ego ilmiah
10 Sayyid Ali Qadhi Lapar sebagai sarana cinta dan ikhlas

✨ Ruh dari semua kisah ini: Puasa bukan sekadar menahan diri, tapi meneguhkan ikhlas — agar yang tersisa dalam hati hanyalah Allah. Inilah makna terdalam dari kalimat Sayyidah Fathimah AzZahra as :
‎وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلْإِخْلَاصِ.

Manfaat puasa dalam meneguhkan keikhlasan (وَالصِّيَامَ تَثْبِيتًا لِلْإِخْلَاصِ) beserta doa-doanya.

10 manfaat ruhani puasa untuk meneguhkan ikhlas, disertai doa pendek (munajat) yang bisa dibaca untuk memperkuat setiap makna itu — diambil dari Doa Imam Sajjad (as), Doa Abu Hamzah al-Thumali, dan doa maknawi arifin Syiah.

🌕 1. Menjernihkan niat (تصفية النية)
Manfaat: Puasa memisahkan niat dari pamrih dunia — amal dilakukan hanya “lillāh”. Ia menjernihkan hati dari pencarian pujian, pahala, atau rasa bangga.:”Ya Allah, jadikan puasaku murni untuk-Mu, tanpa bagian bagi selain-Mu.”

🌙 2. Menundukkan nafsu (قهر النفس) Manfaat: Lapar dan haus menundukkan hawa nafsu, membuat ruh kuat dan jasad patuh. Nafsu adalah sumber riya’, sombong, dan cinta dunia — menundukkannya meneguhkan ikhlas.”Ya Allah, kuatkan anggota tubuhku untuk berkhidmat pada-Mu, dan bimbing hatiku menuju ketaatan yang ikhlas.”

🌸 3. Menyucikan hati (تطهير القلب)
Manfaat: Puasa adalah tazkiyah — penyucian hati dari dosa dan keinginan yang menodai cinta Ilahi.
Hati yang suci menjadi wadah ikhlas sejati. “Ya Allah, sucikan hatiku dari setiap syahwat yang menghalangiku dari-Mu.”

🌾 4. Menguatkan kesabaran (تثبيت الصبر) Manfaat:
Puasa menanamkan sabr — fondasi ikhlas. Orang sabar tak mengeluh, tak menyesali, dan tak membandingkan diri.
Keikhlasan tumbuh dari hati yang ridha dan tenang. “Ya Allah, karuniakan aku kesabaran dalam ketaatan, hingga tak tersisa hasrat atau takut kecuali hanya kepada-Mu.” 

🌼 5. Membuka kesadaran muraqabah (مراقبة الله) Manfaat:
Puasa membuat hati selalu sadar bahwa Allah melihatnya —muraqabah. Kesadaran ini meneguhkan ikhlas, karena semua amal dilakukan dalam pandangan-Nya.”Wahai Yang Maha Mengawasi, jadikan aku melihat-Mu dalam setiap saat, agar aku tak pernah lupa kehadiran-Mu.”

🌺 6. Menghapus dosa dan gelap hati (مغفرة الذنوب) Manfaat:
Puasa yang ikhlas membersihkan ruh dari noda-noda dosa. Semakin bersih hati, semakin kuat cahaya ikhlas di dalamnya.”Ya Allah, cucilah hatiku dari noda dosa, sebagaimana bumi Kau bersihkan dengan hujan yang suci.”

🌻 7. Menumbuhkan cinta Ilahi (محبة الله) Manfaat: Puasa bukan hanya menahan, tetapi mendekatkan. Rasa lapar mengingatkan pada kefakiran di hadapan Allah — dan dari kefakiran lahirlah cinta sejati.”Ya Allah, anugerahkan aku cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku pada cinta-Mu.”

🌿 8. Menguatkan tawakkul (التوكل على الله) Manfaat: Puasa melatih hati untuk bergantung hanya kepada Allah. Ketika lapar, haus, dan lemah — engkau sadar tiada penopang kecuali Dia. “Ya Allah, jadikan tawakkalku hanya kepada-Mu dalam segala urusan, dan jangan biarkan aku bergantung pada diriku walau sekejap.”

🌷 9. Menumbuhkan rasa syukur (الشكر الحقيقي) Manfaat: Puasa membuat manusia merasakan nikmat yang biasa dilupakan.
Lapar menumbuhkan syukur sejati — syukur yang ikhlas, bukan sekadar ucapan.”Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang bersyukur atas nikmat-Mu, beramal taat kepada-Mu, dan tulus dalam memuji-Mu.”

🌙 10. Mengantarkan ke maqām ikhlas hakiki (الإخلاص الحقيقي)
Manfaat: Inilah tujuan akhir puasa — ikhlas yang mantap dan menyeluruh.
Hati tidak lagi mencari surga atau takut neraka, melainkan hanya Allah.
Inilah تثبيت الإخلاص yang sejati.
Ya Allah, jadikan ibadahku tulus hanya untuk wajah-Mu yang mulia, hingga aku tak melihat apa pun selain Engkau.” 

🌺 Hikmah & Doa
Manfaat Ruhani
1 Menjernihkan niat Ya Allah, jadikan puasaku murni untuk-Mu
2 Menundukkan nafsu Kuatkan aku untuk taat dengan hati ikhlas
3 Menyucikan hati Sucikan hatiku dari syahwat yang menutupiku dari-Mu
4 Meneguhkan sabar Karuniakan sabar hingga hanya Engkau kutuju
5 Kesadaran muraqabah Jadikan aku selalu sadar akan pandangan-Mu
6 Menghapus dosa Cuci hatiku dari noda dosa
7 Menumbuhkan cinta Ilahi Beri aku cinta-Mu dan amal yang mendekatkanku pada-Mu
8 Tawakkul Jangan biarkan aku bergantung pada diriku
9 Syukur sejati Jadikan aku hamba yang tulus dalam pujian
10 Ikhlas hakiki Jadikan ibadahku hanya untuk wajah-Mu yang mulia

Imam Ali as meriwayatkan:”Daku mendengar Rasulullah saw bersabda;”Yang Berdoa dengan doa ini maka Allah SWT memberi pahala (ibadah) 50 tahun, akan menghapus kesalahannya 50 tahun juga kedua orang tuanya” ( Al-Bihar ; 99:301)

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،  السَّلامُ عَلَى أَهْلِ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، مِنْ أَهْلِ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ،  يَا أَهْلَ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ،  بِحَقِ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، كَيْفَ وَجَدْتُمْ قَوْلَ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، مِنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، يَا لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، 
بِحَقِ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اغْفِرْ لِمَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، 
وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ ، عَلِيٌّ وَلِيُّ اللهِ .اَللّـهُمَّ وَلِّهِمْ ما تَوَلَّوْا وَاحْشُرْهُمْ مَعَ مَنْ اَحَبُّوا. اَللّـهُمَّ ارْحَمْ غُرْبَتَهُ وَصِلْ وَحْدَتَهُ وَآنِسْ وَحْشَتَهُ وَآمِنْ رَوْعَتَهُ، وَاَسْكِنْ اِلَيْهِ مِنْ رَحْمَتِكَ رَحْمَةً يَسْتَغْنى بِها عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِواكَ، وَاَلْحِقْهُ بِمَنْ كانَ يَتَوَلاّهُ 

Dengan asma Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang, Salam untuk peyandang kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah, mereka adalah bagian dari pengikut kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah, duhai yang selalu menyebut kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah, dengan haknya kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah, apa yang kalian dapatkan dari pahala mengucapkan kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah, dari pengikut yang mengucapkan kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah. Duhai Yang tidak ada tuhan kecuali Allah dengan haknya kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah, ampunilah orang yang mengucapkan kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah. Bangkitkan kami nanti bersama orang- orang yang menyebutkan kalimat tidak ada tuhan kecuali Allah. Muhammad adalah utusan Allah, Ali adalah wali Allah. Ya Allah sayangilah mereka sebagaimana mereka dulu menyayangi apa yang disayanginya dan bangkitkan mereka kelak bersama orang-orang yang mereka cintai.


Imam Ja’far As-Shodiq a.s. ditanya apakah boleh menziarahi kubur? Beliau menjawab; ‘Ya. Apakah yang diziarahi mengetahui bila kita datang? “Tentu, dia mengetahui akan kedatanganmu dan gembira atas kedatanganmu”. Apa yang kami baca bila kami menziarahi”. Beliau menjawab;’Bacalah 
 اللهُمَّ جافِ الأرضَ عَن جُنُوبِهِم  وَصاعِد إلَيكَ أرواحَهُم  وَلَقِّهِم مِنكَ رِضواناً  وَأسكِن إلَيهِم مِن رَحمَتِكَ  ما تَصِلُ بِهِ وَحدَتَهُم 
وَتُؤنِسُ بِهِ وَحشَتَهُم  إنَّكَ عَلى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ».

Ya Allah lapangkanlah tanah untuk jasad mereka, senangkanlah arwah mereka, ridhoilah mereka, tempatkan mereka dalam naungan rahmat-Mu yang dapat menghibur kesendiriannya dan menghilangkan ketakutannya. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Rasulallah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca ucapan berikut ini 3 kali, di sisi kuburan (orang yang beriman) maka Allah akan menjauhkannya dari siksa hari kiamat”.:
 اللهُمَّ إنّي أسألُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ 
أن لا تُعَذِّبَ هذا المَيِّتِ.
Allâhumma innî as-aluka bihaqqi Muhammadin wa âli Muhamma din an lâ tuadz-dziba hâdzal mayyit
Ya Allah sesungguhnya daku memohon  pada-Mu dengan haknya Nabi Muhammad dan Keluarga Muhammad janganlah Engkau menyiksa mayyit ini.

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Asyari dia berkata: Aku sedang berada di Faid (nama suatu tempat di jalan Mekkah) kemudian aku berjalan bersama Ali bin Bilal ke pemakaman Muhammad bin Ismail bin Buzaigh, dia berkata; berkata kepadaku Ali bin Bilal. Aku diberitahu oleh yang bersemayam di makam ini (Muhammad bin Ismail) dari Imam Ali Ar- Ridha a.s. beliau berkata: “Barangsiapa mendatangi pemakaman saudaranya lalu meletakkan tangannya di atas pusara sembari membaca surah Al-Qadr (inna anzalnahu fi lailatul Qodr) tujuh kali maka ia akan aman pada hari ketakutan yang sangat besar (yaum fazail akbar). Dalam riwayat lain ditambah kan dalam keadaan menghadap kiblat membaca surah Al-Qodr tujuh kali. Dan dalam riwayat Fudhail disebutkan : Barangsiapa membaca surah Al-Qodr tujuh kali di sisi pusara seorang mukmin maka Allah akan mengirimkan kepadanya malaikat yang menyembah Allah di dalam kuburnya dan akan ditulis bagi si mayit pahala apa yang diamalkan oleh malaikat tersebut dan jika Allah membangkitkan si mayit tersebut dari kuburnya maka dengan berkah malaikat yang beribadah di dalamnya dia tidak akan melewati pada suatu ketakutan melainkan Allah menolaknya dari mayit tersebut hingga Allah memasukkannya ke dalam sorga”. Surah Al-Qodr

 بِّسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ 

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ (1)

 وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ (2) 

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

 تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ (5)

Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. .)5 - 1 :97

Doa Pengampunan Hingga Kiamat

Nabi Bersabda: “Barangsiapa yang membaca doa (dibawah ini) setiap selesai sholatnya yang lima waktu di Romadhon maka Allah akan mengampuni dosanya hingga Hari Kiamat”. (Kitab Mafatihul Jinan, hal. 238) 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ،  اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،  اَللَّهُمَّ أَدْخِلْ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ السُّرُوْرِ، اَللَّهُمَّ أَغْنِ كُلَّ فَقِيْرٍ،  اَللَّهُمَّ اشْبِعْ كُلَّ جَائِعٍ،  اَللَّهُمَّ اكْسُ كُلَّ عُرْيَانٍ، 

اَللَّهُمَّ اقْضِ دَيْنَ كُلَّ مَدِيْنٍ،  اَللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ كُلِّ مَكْرُوْبٍ،  اَللَّهُمَّ رُدَّ كُلَّ غَرِيْبٍ،  اَللَّهُمَّ فُكَّ كُلَّ أَسِيْرٍ،  اَللَّهُمَّ اصْلِحْ كُلَّ فَاسِدٍ مِنْ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ كُلَّ مَرِيْضٍ، 

اَللَّهُمَّ سُدَّ فَقْرَنَا بِغِنَاكَ،  اَللَّهُمَّ غَيِّرْ سُوْءَ حَالِنَا بِحُسْنِ حَالِكَ،  اَللَّهُمَّ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ 

وَاغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرُ.

Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 

Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya. Ya Allah masukkan kebahagiaan kepada para penghuni kubur. Ya Allah, kayakanlah semua yang fakir. Ya Allah kenyangkanlah semua yang lapar. Ya Allah berikanlah pakaian pada semua yang telanjang, Ya Allah tunaikanlah hutang semua yang berhutang. 

Ya Allah lapangkanlah setiap orang yang menderita kesulitan. Ya Allah bebaskanlah semua yang tertawan. 

Ya Allah kembalikan orang-orang yang hilang. Ya Allah perbaikilah semua yang rusak dari urusan kaum Muslimin. Ya Allah sembuh-kanlah semua yang sakit.Ya Allah tutupilah kemiskinan kami dengan kekayaan-Mu. Ya Allah ubahlah keburukan keadaan kami dengan sebaik-baik keadaan-Mu. Ya Allah tunaikanlah hutang-hutang kami  dan bebaskanlah kami dari kemiskinan. 

Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit