Makna; Nafs (2) ; Jiwa perasaan hewani ; dari Kalimat Imam Ali as

 وَالْحِسِّيَّةُ الْحَيَوَانِيَّةُ لَهَا خَمْسُ قُوًى: سَمْعٌ وَبَصَرٌ، وَشَمٌّ، وَذَوْقٌ، وَلَمْسٌ، وَلَهَا خَاصِّيَتَانِ: الرِّضَا وَالْغَضَبُ، وَانْبِعَاثُهَا مِنَ الْقَلْبِ.

➡️ “Sedangkan jiwa perasaan hewani memiliki lima kekuatan: pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan peraba. Ia memiliki dua sifat khusus: rela dan marah. Sumber pancarannya berasal dari hati (qalb).”

“Daya indrawi (hissiyyah) yang bersifat hewani memiliki lima kekuatan: pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Dan ia memiliki dua sifat khusus: rida (suka, senang) dan ghadab (marah, benci), dan keduanya terpancar dari hati.” 

Berikut 10 makna dan penjelasan mendalam dari pernyataan ini — baik secara filsafat jiwa Islam, tafsir maknawi, maupun pendekatan makrifat:

1. Makna “al-ḥissiyyah al-ḥayawāniyyah”; Menunjukkan dimensi jiwa yang terikat pada jasad dan pancaindra. Ia disebut ḥayawāniyyah karena sama-sama dimiliki oleh makhluk hidup (ḥayawān), yaitu bagian dari jiwa yang mengatur persepsi dan gerak lahiriah.

2. Lima quwā (kekuatan) indrawi
Lima kekuatan yang disebut (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, perabaan) merupakan alat penerima pengetahuan lahiriah. Dalam filsafat Islam (misal: Ibnu Sina dan Mulla Ṣadrā), kelima ini adalah al-quwā al-ḥissiyyah al-ẓāhirah — yang darinya pengalaman duniawi dimulai.

3. Asal persepsi dari hati
Ungkapan “wanbi‘āthu-hā mina al-qalb” (“dan pemancarannya dari hati”) menunjukkan bahwa indera bukanlah sumber mutlak kesadaran, melainkan instrumen; yang memproses dan menyadari adalah qalb (hati batin). Ini mengisyaratkan hierarki pengetahuan: dari indera menuju qalb, dari qalb menuju ruh.

4. Keterpaduan jasmani dan ruhani
Kekuatan indrawi adalah jembatan antara tubuh dan jiwa. Tanpa indera, jiwa tidak menangkap dunia lahir; tanpa hati, indera tidak bermakna. Ini menjelaskan mengapa dalam makrifat, penglihatan lahir tak berarti tanpa “bashīrah” (penglihatan batin).

5. Dua khāṣṣiyyah (sifat khusus): rida dan ghadab
Rida dan ghadab adalah reaksi emosional dari jiwa hewani terhadap stimulus indrawi. Ia menandai kecenderungan (mahabbah) dan penolakan (karāhah). Dalam psikologi ruhani, dua kekuatan ini bisa menjadi jalan ke kebajikan atau sumber kehancuran, tergantung siapa yang mengendalikannya — akal atau hawa nafsu.

6. Rida dan ghadab sebagai energi gerak
Kedua sifat ini menimbulkan dorongan (harakah). Rida menimbulkan tarikan menuju hal yang diingini; ghadab mendorong penolakan terhadap hal yang menyakitkan. Maka keduanya menjadi motor tindakan lahiriah.

7. Sumbernya dari hati (qalb)
Menunjukkan bahwa pusat kendali rasa dan reaksi bukan semata otak, tetapi hati sebagai pusat ruhani. Dalam Al-Qur’an: “Afalā yatadabbarūna al-Qur’ān am ‘alā qulūbin aqfāluhā” (QS Muhammad: 24) — hati adalah wadah pemahaman dan emosi.

8. Makna filosofis: tingkatan jiwa
Ungkapan ini menggambarkan tingkatan pertama jiwa manusia, yaitu an-nafs al-ḥayawāniyyah, di bawah jiwa rasional (an-nafs an-nāṭiqah). Ia penting tapi rendah; tugas manusia adalah menyucikannya agar tunduk pada akal dan cahaya ruh.

9. Makna makrifat: indera sebagai hijab; Dalam pandangan arifin, lima indera adalah hijab jika tidak dikendalikan hati yang sadar Allah. Jika qalb telah tercerahkan, maka semua daya indera menjadi “jendela tajalli” — melihat ciptaan sebagai cermin Sang Pencipta.

10. Makna etis dan spiritual
Ungkapan ini menegaskan keseimbangan: manusia tidak boleh menolak dimensi hewani (indrawi dan emosi), tetapi harus menyucikannya dengan zikir, ilmu, dan kendali qalb, agar semua daya (sam‘, baṣar, dll.) menjadi saksi kebenaran, bukan alat hawa nafsu. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati — semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Al-Isra’: 36) Penjelasan yang sangat bagus kamu minta: makna kalimat ini menurut Al-Qur’an. 

Mari kita lihat bagaimana Al-Qur’an membahas tiga unsur utama yang disebut dalam teks itu:
(1) pancaindra (as-sam‘, al-baṣar, al-ḥawās),
(2) emosi (ridhā & ghaḍab), dan
(3) qalb (hati) sebagai pusatnya.

Makna menurut Al-Qur’an — ayat-ayat dan makna integratifnya:

1. Pancaindra sebagai anugerah dan alat pengetahuan: وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati…” (QS An-Naḥl 16:78)
🔹 Maknanya: pancaindra adalah pintu pertama ilmu, tapi tidak berdiri sendiri — ia harus disertai dengan al-fu’ād (hati yang berpikir dan merasa).

2. Indera tanpa hati = kebutaan spiritual  لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا
“Mereka memiliki hati yang tidak digunakan untuk memahami, mata yang tidak dipakai untuk melihat…” (QS Al-A‘rāf 7:179) 
🔹 Maknanya: penglihatan lahir tanpa bashīrah (pandangan batin) tidak memberi hidayah. Inilah sisi “ḥissiyyah ḥayawāniyyah” yang belum disinari ruh.

3. Pancaindra akan menjadi saksi
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا  (QS Al-Isrā’ 17:36)
🔹 Maknanya: pendengaran, penglihatan, dan hati adalah alat amanah — bukan sekadar kemampuan biologis. Mereka akan bersaksi atas apa yang digunakan untuk kebenaran atau hawa nafsu.

4. Hati sebagai pusat kesadaran dan emosi: فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
‏(QS Al-Ḥajj 22:46)
🔹 Maknanya: kebutaan sejati bukan pada mata, tapi pada qalb. Maka seluruh daya (termasuk ridhā & ghaḍab) berpangkal pada keadaan hati.

5. Ridhā dan Ghaḍab sebagai sifat emosional hati
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
(QS Al-Bayyinah 98:8)
غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ (QS Al-Fatḥ 6) 
🔹 Maknanya: rasa ridhā dan ghadab pada manusia adalah refleksi kecil dari sifat Allah, diberikan agar manusia mampu menilai dan bertindak. Namun harus disucikan agar serasi dengan ridhā Allah, bukan hawa nafsu.

6. Fungsi emosi dalam tindakan moral
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
(QS Āli ‘Imrān 3:134)
🔹 Maknanya: ghadab (amarah) adalah daya gerak; ia baik bila dikendalikan. Menahan amarah bukan mematikan daya, tapi mengendalikannya lewat qalb yang tunduk pada akal dan iman.

7. Hati sebagai sumber niat dan gerak
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا
(QS Al-Baqarah 2:10) 
🔹 Maknanya: setiap dorongan (ridhā/ghadab, cinta/benci) berakar pada kondisi hati. Maka kebersihan hati menentukan arah seluruh pancaindra dan emosi.

8. Indera sebagai tanda-tanda tauhid
قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (QS Yunus 10:101) 
🔹 Maknanya: fungsi tertinggi pancaindra bukan sekadar mengetahui dunia, tetapi melihat ayat-ayat Allah di balik alam.

9. Keseimbangan antara akal, hati, dan indera  إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
(QS Qāf 50:37) 
🔹 Maknanya: hanya orang yang “memiliki hati” dan “mendengar dengan kesaksian batin” yang dapat mengambil pelajaran. Indera dan qalb harus menyatu dalam kesadaran tauhid.

10. Tujuan akhirnya: menyucikan qalb agar indera dan emosi tunduk pada Allah
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
(QS Asy-Syams 91:9–10)
🔹 Maknanya: penyucian jiwa mencakup penyucian daya sensori dan emosional agar seluruhnya berfungsi dalam kehendak Ilahi — bukan sekadar naluri hewani.

🔶 Kesimpulan Qur’ani

Menurut Al-Qur’an, pernyataan “الحسية الحيوانية لها خمس قوى… وانبعاثها من القلب
bermakna: Semua daya indrawi dan emosional bersumber dari hati; mereka adalah alat ujian, bukan tujuan. Bila hati tunduk kepada Allah, maka pendengaran, penglihatan, rasa suka dan marah menjadi wasilah menuju makrifat. Bila hati lalai, semuanya menjadi hijab yang menutupi kebenaran.
Bagus sekali — kita sekarang masuk pada penjelasan menurut hadis, untuk memahami kalimat:
وَالْحِسِّيَّةُ الْحَيَوَانِيَّةُ لَهَا خَمْسُ قُوًى … 
وَلَهَا خَاصِّيَتَانِ: الرِّضَا وَالْغَضَبُ، 
وَانْبِعَاثُهَا مِنَ الْقَلْبِ”
“Daya indrawi hewani memiliki lima kekuatan (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, perabaan), serta dua sifat khusus: rida dan ghadab; dan keduanya berpancar dari hati.”

Mari kita uraikan makna dan dasar hadis-hadisnya, dari sumber Nabi ﷺ dan Ahlulbayt (as), disertai 10 poin maknawi agar sejalan dengan Al-Qur’an.

🌿 1. Hati sebagai pusat seluruh pancaindra dan perbuatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“ألا وإن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب.”
Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh baik; jika ia rusak, seluruh tubuh rusak. Ketahuilah, itulah qalb (hati).”(HR. al-Bukhārī & Muslim)
🔹 Maknanya: Semua kekuatan indrawi dan emosional berpangkal pada keadaan hati. Kalimat “وانبعاثها من القلب” sejalan langsung dengan hadis ini.

🌿 2. Hati sebagai sumber pengetahuan batin; 
Rasulullah ﷺ bersabda:  التقوى هاهنا” sambil menunjuk ke dadanya tiga kali. (HR. Muslim);”Ketakwaan itu di sini.”
🔹 Maknanya: pengendalian rida dan ghadab bukan dari otak, tapi dari kesadaran qalbiyyah (hati yang bertaqwa).

🌿 3. Lima indera sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban 
Rasulullah ﷺ bersabda: إن السمع والبصر والقلب كل أولئك مسؤول عنه(HR. at-Tirmidzi, menafsirkan QS al-Isrā’: 36)
🔹 Maknanya: pancaindra bukan milik mutlak manusia; mereka alat yang akan bersaksi di akhirat.

🌿 4. Penglihatan hati lebih penting daripada mata lahir
Imam ‘Ali (as) berkata:
“كم من بصير أعمى عن بصيرته، 
وكم من أعمى بصير في بصيرته.”
“Betapa banyak orang bermata yang buta dari pandangan batinnya, dan betapa banyak orang buta yang memiliki penglihatan batin.”
(Nahj al-Balāghah, 4/47)
🔹 Maknanya: lima kekuatan lahiriah hanyalah cermin; yang menentukan adalah bashīrah (mata hati).

🌿 5. Rida dan Ghadab sebagai dua tenaga jiwa; 
Rasulullah ﷺ bersabda: ليس الشديد بالصرعة، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب
Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. al-Bukhārī & Muslim)
🔹 Maknanya: Ghadab (amarah) adalah daya yang bisa menghancurkan atau menjadi kekuatan moral — tergantung kendali hati.

🌿 6. Rida (suka/cinta) sebagai cermin hubungan dengan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda: من رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط
“Barang siapa ridha (menerima takdir), baginya keridaan Allah; barang siapa murka, baginya kemurkaan Allah.”(HR. at-Tirmidzi)
🔹 Maknanya: rida dan ghadab manusia menjadi cermin sejauh mana qalb-nya selaras dengan kehendak Ilahi.

🌿 7. Lima indera harus disucikan dengan zikir; 
Imam Ja‘far al-Ṣādiq (as) berkata:   إن الله جعل للإنسان خمسة حواس ليكون بها شاكراً، فإن استعملها في غير طاعته كانت عليه حجة
“Allah memberi manusia lima pancaindra agar ia bersyukur; bila digunakan bukan untuk ketaatan, mereka menjadi saksi atasnya.”
(al-Kāfī, jilid 2, hlm. 53)
🔹 Maknanya: lima quwā (pendengaran, penglihatan, dll.) harus diarahkan menuju syukur dan ibadah.

🌿 8. Hati sebagai wadah ilmu ilahi
Rasulullah ﷺ bersabda:
إن لله آنية من أهل الأرض، 
وآنية ربكم قلوب عباده الصالحين، 
وأحبها إليه ألينها وأرقها.
“Sesungguhnya Allah memiliki bejana di bumi; bejana-Nya adalah hati hamba-hamba yang saleh. Dan yang paling dicintai Allah adalah yang paling lembut hatinya.”
(HR. Ṭabarānī)
🔹 Maknanya: hati adalah pusat pancaran semua daya — termasuk rasa rida dan amarah — dan bila lembut, semua daya menjadi nurani.

🌿 9. Indera yang tidak dikendalikan hati menyebabkan kesesatan; Rasulullah ﷺ bersabda:
النظرة سهم من سهام إبليس مسموم، فمن تركها من خوف الله أبدله الله إيمانًا يجد حلاوته في قلبه.”
Pandangan (yang haram) adalah anak panah beracun dari panah Iblis. Siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, Allah akan menggantinya dengan iman yang manis dalam hatinya.”(HR. al-Ḥākim) 
🔹 Maknanya: indera yang diarahkan oleh hawa menghasilkan kegelapan; yang dikendalikan oleh qalb menghasilkan iman.

🌿 10. Kesatuan indera, emosi, dan qalb dalam penyaksian Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
اعبد الله كأنك تراه، 
فإن لم تكن تراه فإنه يراك.”
Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; bila engkau tak melihat-Nya, ketahuilah Dia melihatmu.”(HR. al-Bukhārī, hadits Jibrīl) 
🔹 Maknanya: kesempurnaan indera dan hati adalah ihsān — melihat dengan mata lahir dan batin yang bersatu dalam kesadaran Ilahi.

💠 Kesimpulan Hadis; 
Menurut hadis-hadis Rasulullah ﷺ dan para Imam (as):
Lima kekuatan indrawi adalah alat persepsi dan amanah.
Rida dan Ghadab adalah dua tenaga penggerak (daya tarikan dan penolakan).
Qalb adalah pusat kesadaran, niat, dan arah seluruh daya.
Bila qalb bersih, maka seluruh pancaindra dan emosi menjadi jalan makrifat; bila kotor, semuanya menjadi hijab dan alat syahwat.

Hadis-hadis Ahlul Bayt (عليهم السلام) untuk menjelaskan makna kalimat:  وَالْحِسِّيَّةُ الْحَيَوَانِيَّةُ لَهَا خَمْسُ قُوًى … وَلَهَا خَاصِّيَتَانِ: الرِّضَا وَالْغَضَبُ، وَانْبِعَاثُهَا مِنَ الْقَلْبِ

“Daya indrawi hewani memiliki lima kekuatan (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, perabaan), dan dua sifat khas: ridhā dan ghadab; dan keduanya terpancar dari hati.”

“Hadis-hadis Ahlul Bayt (as) sangat banyak berbicara tentang hakikat qalb, indera, nafs, dan emosi (ridhā–ghadab) sebagai struktur jiwa yang menentukan makrifat dan kedekatan dengan Allah. 

Berikut 10 poin makna menurut hadis-hadis Ahlul Bayt (as), lengkap dengan kutipan sumber utama dari al-Kāfī, Tuḥaf al-‘Uqūl, Miṣbāḥ al-Sharī‘ah, dan lainnya:

🌿 1. Hati adalah pusat seluruh kekuatan manusia; Imam Ja‘far al-Ṣādiq (ع) bersabda: القلبُ هو الملك، والجوارحُ جنودُه، فإن طابَ الملكُ طابت الجنود، وإن خَبُثَ الملكُ خَبُثَت الجنود
“Hati adalah raja, dan anggota tubuh adalah tentaranya. Bila rajanya baik, tenteranya pun baik; bila rajanya rusak, tenteranya pun rusak.”
(al-Kāfī, jld. 2, hlm. 268)
🔹 Maknanya: Semua daya indrawi dan emosional berpangkal dari qalb sebagai pusat kesadaran dan pengarah tindakan.

🌿 2. Qalb memiliki dua gerak dasar: ridhā dan ghadab
Imam al-Ṣādiq (ع) bersabda: جُعل في القلب قوتان: قوة الرضا وقوة الغضب، فمن استعملهما في غير حقهما فقد جار
“Ditetapkan dalam hati dua kekuatan: ridhā dan ghadab. Siapa yang menggunakannya tidak pada tempatnya, maka ia telah berlaku zalim.”(Miṣbāḥ al-Sharī‘ah, bab al-Qalb)
🔹 Maknanya: Dua tenaga emosional itu fitri, tapi harus diarahkan oleh akal dan iman; jika tidak, ia menjadi sumber kezaliman batin.

🌿 3. Lima indera sebagai pintu-pintu hati ;
 Imam ‘Ali (ع) berkata:
إنّ لله على الناس حججاً: ظاهرةً وباطنةً. فأما الظاهرة فالأنبياء والأئمة، 
وأما الباطنة فالعقول.”
(Nahj al-Balāghah, 31)

Dalam riwayat lain beliau berkata:
“الحواسّ أبواب القلب
Indera-indera adalah pintu-pintu hati.”
🔹 Maknanya: indera lahir (pendengaran, penglihatan, dsb.) adalah gerbang yang mengantarkan data ke hati; jika gerbang kotor, hati tertutup dari cahaya hakikat.

🌿 4. Fungsi indera bukan sekadar persepsi, tapi penyaksian Ilahi
Imam al-Bāqir (ع) bersabda:
العينان تبصران، والأذنان تسمعان، واللسان ينطق، واليدان تعملان، والرجلان تمشيان، وكلها تُبعث من القلب.”
Dua mata melihat, dua telinga mendengar, lidah berbicara, tangan berbuat, kaki melangkah — dan semuanya berasal dari hati.”
(Biḥār al-Anwār, jld. 70, hlm. 52)
🔹 Maknanya: sumber gerak seluruh daya adalah qalb — bukan semata organ, tapi pusat niat ruhani.

🌿 5. Amarah (ghadab) sebagai ujian kekuatan nafs; 
Imam ‘Ali (ع) bersabda:
أول الغضب جنون، وآخره ندم.”
Awal amarah adalah kegilaan, dan akhirnya penyesalan.”(Ghurar al-Ḥikam, no. 1421) 
🔹 Maknanya: ghadab adalah daya alami, tapi jika tidak dikendalikan akal qalbī, ia berubah menjadi kegelapan yang menutup makrifat.

🌿 6. Ridhā sebagai tanda kesucian hati: 
Imam as-Sajjād (ع) berkata:      الرضا بمكروه القضاء أرفع درجات اليقين
Ridhā terhadap takdir yang tidak menyenangkan adalah puncak derajat keyakinan.”(Tuḥaf al-‘Uqūl, hlm. 284) 
🔹 Maknanya: ridhā bukan sekadar perasaan, tetapi tanda kesempurnaan qalb — ia menandakan bahwa emosi hewani telah tunduk kepada cahaya tauhid.

🌿 7. Indera bisa menjadi hijab jika tak disucikan; 
Imam al-Ṣādiq (ع) bersabda:    
‎كم من نظرٍ أورث حسرةً طويلة
Betapa banyak satu pandangan yang menimbulkan penyesalan panjang.”(al-Kāfī, jld. 2, hlm. 79)
🔹 Maknanya: indera yang dibiarkan mengikuti nafs menutup qalb dari cahaya Allah; ia menjadi “ḥissiyyah ḥayawāniyyah” yang gelap.

🌿 8. Qalb memiliki cahaya Ilahi yang menuntun semua daya
Imam al-Ṣādiq (ع) bersabda: القلب حرم الله، فلا تسكن حرم الله غير الله
“Hati adalah tempat suci Allah; maka jangan biarkan sesuatu selain Allah tinggal di dalamnya.”
(Miṣbāḥ al-Sharī‘ah, bab 63)
🔹 Maknanya: jika qalb diterangi oleh zikir Allah, semua daya — pendengaran, penglihatan, emosi — menjadi cahaya dan alat ibadah.

🌿 9. Akal dan qalb mengatur daya hewani; 
Imam Mūsā al-Kāẓim (ع) bersabda:  إن لله على الناس حجتين: الحجة الظاهرة الأنبياء، والحجة الباطنة العقول  (al-Kāfī, jld. 1, hlm. 16)
🔹 Maknanya: ḥissiyyah ḥayawāniyyah tunduk di bawah akal dan qalb; bila keduanya memimpin, indera dan emosi menjadi alat hikmah, bukan hawa.

🌿 10. Kesempurnaan jiwa: ketika qalb menguasai semua daya
Imam ‘Ali (ع) berkata:  من ملك نفسه عند الغضب فقد كمل عقله
“Barang siapa menguasai dirinya ketika marah, sungguh akalnya telah sempurna.”(Ghurar al-Ḥikam, no. 8741)
🔹 Maknanya: kesempurnaan insan adalah ketika hati (yang disinari akal dan iman) mengendalikan semua quwā ḥissiyyah dan emosional.

💠 Kesimpulan dari hadis Ahlul Bayt (ع) Menurut Ahlul Bayt:
Lima kekuatan indera adalah abwāb al-qalb (pintu-pintu hati).
Ridhā dan ghadab adalah dua energi dasar hati yang harus diarahkan sesuai dengan ‘aql dan īmān.
Qalb adalah pusat kehidupan spiritual, penggerak seluruh daya lahir dan batin.
Bila qalb diterangi oleh Allah, maka ḥissiyyah ḥayawāniyyah berubah menjadi ḥissiyyah nūriyyah — pancaindra cahaya yang menyaksikan kebenaran.

🌸 “Bila hati mengenal Allah, maka seluruh anggota akan tunduk dalam sujud.” (Imam Ja‘far al-Ṣādiq, Miṣbāḥ al-Sharī‘ah)

Tafsir ʿirfānī (tasawuf makrifat) dari kalimat Amiril Mukminin Imam Ali as:
وَالْحِسِّيَّةُ الْحَيَوَانِيَّةُ لَهَا خَمْسُ قُوًى: 
سَمْعٌ وَبَصَرٌ، وَشَمٌّ، وَذَوْقٌ، وَلَمْسٌ، 
وَلَهَا خَاصِّيَتَانِ: الرِّضَا وَالْغَضَبُ، 
وَانْبِعَاثُهَا مِنَ الْقَلْبِ.
Kekuatan inderawi yang bersifat hewani memiliki lima daya: pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Ia juga memiliki dua sifat khas: ridhā dan ghadab, dan seluruhnya terpancar dari hati.”

🕊️ Tafsir ʿIrfānī (Makrifat Hati dan Tajallī) 

Dalam tafsir ʿirfānī Syiah — seperti karya Sayyid Ḥaydar Āmulī (Jāmi‘ al-Asrār), Mullā Ṣadrā (Asfār al-Arba‘ah), dan Imam Khomeinī (Miṣbāḥ al-Hidāyah) — ayat atau kalimat seperti ini dibaca bukan sebagai anatomi jasmani, tapi peta tajallī (manifestasi) ruhani dalam diri manusia.

🌸 1. Makna Umum: “Al-Ḥissiyyah al-Ḥayawāniyyah”  
Dalam ʿirfān, ini bukan semata “daya jasmani”, tetapi tajallī (penampakan) Ruh pada tingkat nafs al-ḥayawāniyyah (jiwa vital).  
Ini adalah maqām paling bawah dari nafs — tempat ruh menampakkan dirinya dalam bentuk sensasi dan perasaan. Jadi, “al-ḥissiyyah” adalah manifestasi ruh dalam dunia syahādah (materi). 
Imam ʿAlī (ع): Sesungguhnya hati memiliki enam pintu, dan seluruh pancaindra adalah pelayannya.”(Nahj al-Balāghah, ḥikmah 108)

🌷 2. Lima Daya (Quwā Khamsah) sebagai Tajallī Asmā’ Ilāhiyyah
Indra Nama Allah yang bertajallī Makna Irfani ; Sam‘ (Pendengaran) As-Samī‘ (Yang Maha Mendengar) Kesanggupan qalb menangkap kalām Allah, bukan sekadar suara fisik. Baṣar (Penglihatan) Al-Baṣīr (Yang Maha Melihat) Cahaya basīrah yang menyingkap realitas di balik rupa. Syamm (Penciuman) Ar-Raḥmān / Ar-Raḥīm Menangkap “aroma rahmat” — getaran kasih Ilahi di alam. Dzawq (Pengecapan) Al-Laṭīf Mencicipi rasa iman, dzawq ma‘rifah. Lams (Perabaan) Al-Qabīḍ / Al-Bāsiṭ Merasakan kelembutan atau ketegasan takdir Allah melalui tindakan. Tafsir hakikat: Lima indera lahir adalah tajallī lima Asmā Allah dalam jasad.
Setiap kali digunakan dengan niat suci, ia menjadi cermin bagi Nama-Nama itu.

🌺 3. Dua Sifat: Ridhā dan Ghadab
Dalam ʿirfān Syiah, ridhā dan ghadab bukan sekadar emosi — melainkan dua arah gerak hati: 
Sifat Arah Gerak Asma Allah ;
Ridhā; Tarikan ke atas Al-Raḥmān, Al-Jamīl, Al-Wadūd; Ketika hati tertarik pada kebaikan & cinta.
Ghadab; Dorongan ke bawah (jihad nafs) Al-Qahhār, Al-Jalīl, Al-ʿAdl Kekuatan menolak kebatilan & menjaga kehormatan.
Maka, dalam insan kamil, ridhā dan ghadab menjadi dua sayap ruh — bukan lawan, tapi pasangan yang menyeimbangkan Jamāl (keindahan) dan Jalāl (keagungan). 
Imam Jaʿfar aṣ-Ṣādiq (ع): “Mukmin memiliki dua sayap: satu dari rahmat, satu dari keadilan.”Uṣūl al-Kāfī, Kitāb al-Īmān wa al-Kufr, bāb al-ʿadl)

🌹 4. “Inbi‘āthuha min al-Qalb” — Sumbernya dari Qalb
Dalam tafsir ʿirfānī, al-qalb bukan organ biologis, tapi ʿarasy Ilāhī kecil dalam insan.
Qalb adalah jam‘ al-ḥaqā’iq, tempat semua daya muncul.
Ia adalah titik pertemuan antara alam malakūt (spiritual) dan syahādah (fisik). Maka, lima indera dan dua sifat hati hanyalah gelombang dari lautan qalb. Jika qalb jernih — semuanya bercahaya. Jika qalb keruh — semuanya gelap. 
Imam al-Bāqir (ع):”Sesungguhnya qalb manusia adalah ḥaram Allah; maka jangan kau tempatkan di dalamnya selain Allah.”Biḥār al-Anwār, jld. 67, h. 25)

🌼 5. Tingkatan Ruh dalam Diri (Menurut Tafsir ‘Irfānī)
Tingkatan Nama Ruh Manifestasi Keterangan
1 Rūḥ al-Ḥiss Lima indera Gerak lahir jasmani
2 Rūḥ al-Khayāl Imajinasi Bayangan makna
3 Rūḥ al-ʿAql Penalaran Cahaya ilmu
4 Rūḥ al-Qalb Ridhā & Ghadab Emosi Ilahi
5 Rūḥ al-Sirr Ma‘rifah Kesatuan dengan Allah
Lima indera = “pintu luar”,
Ridhā dan Ghadab = “pintu tengah”,
Qalb = “inti yang menggerakkan semuanya”.

🌺 6. Makna Ruhani (Kesimpulan ʿIrfānī); Dalam diri manusia, Allah menampakkan tujuh cermin Diri-Nya: lima pada tubuh, dua pada hati. Bila ketujuhnya bersih, muncullah Nur al-Qalb — yang dengannya manusia mengenal Allah tanpa perantara.
🌕 “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”Hadis Nabawi, ditafsir ʿirfānī oleh Sayyid Ḥaydar Āmulī sebagai: Barang siapa mengenal tujuh quwā yang terpancar dari qalb-nya.”)

📿 Dzikir Irfani yang Diajarkan oleh Para ‘Urafā’ Syiah:  يَا نُورَ الْقُلُوبِ، 
‎يَا سَمِيعَ السَّرَائِرِ، يَا بَصِيرَ الضَّمَائِرِ، 
‎يَا جَمِيلَ الرِّضَا، يَا جَلِيلَ الْغَضَبِ، 
‎اجْمَعْ بَيْنَهُمَا فِي قَلْبِي بِعَدْلِكَ
Yā Nūra l-qulūb, Yā Samīʿa s-sarā’ir, Yā Baṣīra ḍ-ḍamā’ir, Yā Jamīla r-riḍā, Yā Jalīla l-ghaḍab, ajma‘ baynahumā fī qalbī bi-‘adlik.
“Wahai Cahaya hati, yang mendengar rahasia dan melihat niat, wahai Yang Indah dalam ridha dan Yang Agung dalam ghadab, satukan keduanya dalam hatiku dengan keadilan-Mu.”(Dzikir Sayyid Ḥaydar Āmulī, Risālah al-ʿIrfān al-Qalbī)

“Kekuatan inderawi yang bersifat hewani memiliki lima daya… dan dua sifat: ridhā dan ghadab, semuanya terpancar dari hati.” Jika tingkat pertama menjelaskan bahwa tujuh daya ini (5 indera + ridha + ghadab) adalah tajallī lahir dari qalb,maka tingkat kedua menjelaskan bagaimana tujuh daya ini naik maqāmnya dari nafs hayawāniyyah (jiwa instingtif) menuju nafs muṭma’innah (jiwa yang tenang dalam Allah).

Kisah dan ceritanya” tentang makna kalimat hakikat:”Daya hewani yang bersifat indrawi memiliki lima kekuatan: pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Dan ia memiliki dua kekhususan: ridhā dan ghadab, dan semuanya berpancar dari hati.” 

Berikut 10 kisah dari tradisi ahli hakikat Syiah (dari Imam, ‘urafā, dan tokoh-tokoh yang menempuh jalan qalb), yang menggambarkan makna lima indera, dua emosi, dan pusat qalb.

Masing-masing kisah singkat tapi sarat makna ruhani.

🌿 1. Imam ʿAlī (ع) dan Pintu Khaibar; Ketika Imam ʿAlī menumbangkan pintu benteng Khaibar, orang mengira beliau memakai kekuatan fisik.
Beliau berkata: Aku tidak membuka benteng itu dengan kekuatan jasad, tapi dengan kekuatan qalb yang diterangi Allah.”🕊 
Makna hakikat: Ketika qalb terhubung dengan Allah, seluruh quwā jasmani (penglihatan, pendengaran, tangan, kekuatan) menjadi pancaran daya Ilahi.
Amarah Imam ʿAlī bukan ghadab hayawaniyyah, tapi ghadab lillāh — amarah karena Allah.

🌹 2. Imam Ḥusain (ع) dan Ridhā di Karbala; Di tengah kepungan maut, Imam Ḥusain berdoa: Ilāhī, ridhā bi-qaḍā’ik, taslīman li-amrik — Wahai Tuhanku, aku ridha atas keputusan-Mu dan berserah pada perintah-Mu.”
🔥 Makna hakikat: Ridhā sejati lahir ketika qalb tidak lagi memandang selain Allah. Di saat semua indera disiksa, hati Imam Ḥusain tetap bercahaya — ridhā min al-qalb yang menjadi cahaya syahid.

🌺 3. Imam Jaʿfar aṣ-Ṣādiq (ع) dan Murid yang Tuli; Seorang murid tuli datang mengadu tidak bisa mendengar zikir. Imam Ṣādiq berkata: Apakah kamu tidak mendengar hatimu berdzikir?” Murid menangis dan tiba-tiba bisa mendengar suara tasbih burung.
💎 Makna hakikat: Pendengaran lahir hanyalah cermin pendengaran batin.Bila qalb hidup, semua makhluk menjadi ayat yang “berdzikir”.

🌸 4. Kisah Salman al-Fārisi
Suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda: Salman adalah dari kami, Ahlul Bayt.”Karena Salman telah menutup lima inderanya dari dunia dan membukanya hanya untuk Allah.
🌿 Makna: Indera jasmani menjadi jalan masuk nur makrifat ketika qalb suci. Salman tidak lagi melihat dunia, tapi melihat Allah melalui dunia.

🌷 5. Sayyid Ḥaydar Āmulī dan Cahaya Penglihatan; Sayyid Ḥaydar bercerita dalam Jāmiʿ al-Asrār:
Suatu malam, ia shalat dan merasa seluruh dinding ikut bersujud.
Ia menulis: “Ketika basīrah qalb terbuka, semua yang ada ikut memuji bersama indera batin.”
✨ Makna: Indera lahir berhenti di bentuk; indera batin melihat hakikat.
Qalb adalah mata sejati.

🌼 6. Mullā Ṣadrā dan Telinga yang Menangis; Saat menulis Asfār, Mullā Ṣadrā menangis mendengar suara azan:”Telingaku mendengar suara manusia, tapi qalb-ku mendengar seruan al-Ḥaqq.” 
📿 Makna: Indera lahir menangkap suara; qalb menangkap makna. Semua quwā ḥissiyyah menjadi alat wahyu ketika hati terjaga.

🌸 7. Kisah Qāḍī Saʿīd al-Qummī
Ia pernah ditanya: “Mengapa engkau jarang berbicara?” Ia menjawab: “Karena aku takut lidahku mengkhianati hatiku.” 
🕊 Makna: Lidah adalah bayangan qalb. Jika qalb terjaga, seluruh indera ikut suci — bila tidak, lidah jadi alat nafs.

🌺 8. Sayyid ʿAlī Qāḍī Ṭabāṭabā’ī dan Tangisan Murid; Muridnya menangis karena sulit menahan amarah. Beliau berkata: “Amarah adalah kuda; jika engkau kendalikan, ia membawa engkau ke Allah; jika tidak, ia menjatuhkanmu ke neraka.”
🔥 Makna: Ghadab adalah energi qalb. Jika diarahkan oleh cahaya ridhā, ia menjadi kekuatan jalāl ilāhī.

🌿 9. Imam Khomeinī dan Rahasia Ridhā; Seorang murid bertanya: “Bagaimana cara mencapai ridhā?”Beliau menjawab: “Lihat tangan Tuhan di setiap hal. Jika engkau melihat-Nya, engkau tidak akan marah.” 
🌕 Makna: “Ridhā bukan pasrah buta, tapi penglihatan batin terhadap hikmah Allah di balik segala keadaan. Itulah keadaan qalb yang seimbang antara jamāl dan jalāl.

🌸 10. Kisah Allāmah Ṭabāṭabā’ī di Najaf; Suatu hari beliau sedang duduk tafakur. Seekor lalat hinggap di wajahnya, tapi beliau tidak mengusirnya. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab lembut: “Ia juga makhluk Allah, mencari tempat teduh.” 
🌿 Makna: Ketika qalb diterangi makrifat, ghadab (reaksi) berubah menjadi kasih. Ridhā bukan diam pasif, tapi hati yang melihat keindahan Allah dalam makhluk yang paling kecil sekalipun.

💎 Inti dari 10 Kisah Hakikat
Kekuatan qalb atas jasad;
Imam ‘Alī di Khaibar; Ghadab Ilahi
Ridhā sejati; Imam Ḥusain di Karbala Penerimaan total
Pendengaran batin; Imam Ṣādiq & murid tuli; Telinga qalb
Indera suci; Salman al-Fārisi; Pancaindra ilahi
Penglihatan hakikat; 
Ḥaydar Āmulī; Basīrah qalb.
Suara makna; 
Mullā Ṣadrā; Idrāk ruhani
Bahasa qalb; 
Qāḍī Saʿīd;  Lidah nurani
Ghadab suci; Sayyid ʿAlī Qāḍī; 
Energi jalāl
Ridhā & Hikmah; 
Imam Khomeinī; Mata rahmah
Kasih semesta ; Allāmah Ṭabāṭabā’ī ; Qalb rahmaniyyah

Manfaat dan doanya dari kalimat Amiril Mukminin Imam Ali as ; 

وَالْحِسِّيَّةُ الْحَيَوَانِيَّةُ لَهَا خَمْسُ قُوًى… وَالرِّضَا وَالْغَضَبُ وَانْبِعَاثُهَا مِنَ الْقَلْبِ

“Daya hewani yang bersifat indrawi memiliki lima kekuatan ; pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan perabaan — dan dua kekhususan: ridhā dan ghadab, yang seluruhnya berpancar dari hati.” Dalam pandangan ahli hakikat dan ‘urafā Syiah, memahami dan menyucikan “lima quwā dan dua sifat hati” ini memberi 10 manfaat ruhani, dan setiap manfaat bisa diamalkan dengan doa atau dzikir khusus dari Ahlul Bayt (ع). Mari kita bahas satu per satu — dengan makna, manfaat, dan doanya 🌿

🌿 1. Telinga yang Suci (Sam‘)
🕊️ Manfaat:   
Hati menjadi peka terhadap kalam Allah dan kebenaran.  
Tidak lagi mendengar ghibah, keburukan, atau suara hawa nafsu. 
Menjadi “pendengar rahasia” — mampu menangkap ilham.
📿 Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ سَمْعِي مِمَّا يَسْمَعُ كَلَامَكَ
Allāhumma aj‘al sam‘ī mimmā yasma‘ kalāmak; Ya Allah, jadikan pendengaranku di antara yang mendengar firman-Mu.”
(Doa Imam ʿAlī Zain al-ʿĀbidīn dalam Ṣaḥīfah Sajjādiyyah, doa 20)

🌸 2. Mata yang Batin (Baṣar)
🕊️ Manfaat:
Melihat kebenaran dalam segala sesuatu. 
Mata tidak lagi melihat dosa, tapi melihat ayat Allah di setiap makhluk. 
Basīrah qalb terbuka. 
📿 Doa:
اللَّهُمَّ نَوِّرْ بَصَرِي بِنُورِ هِدَايَتِكَ
Allāhumma nawwir baṣarī binūri hidāyatik; “Ya Allah, terangilah pandanganku dengan cahaya petunjuk-Mu.”Doa Nabi ﷺ yang diajarkan kepada Imam ʿAlī)

🌹 3. Penciuman Ruhani (Syamm)
🕊️ Manfaat:
Mampu merasakan “aroma rahmat” — kehadiran Ilahi dalam ibadah. 
Menjadi peka terhadap suasana ruhani (baik & buruk).
Menghidupkan dzawq qalb (rasa spiritual). 
📿 Doa:
اللَّهُمَّ أَرِحْنِي بِرِيَاحِ رَحْمَتِكَ
Allāhumma arihnī biriyāḥi raḥmatik
“Ya Allah, beri aku kesejukan dari angin rahmat-Mu.”Doa Nabi Nuh a.s. dalam riwayat Imam Ṣādiq)

🌼 4. Lidah yang Jujur (Dzawq)
🕊️ Manfaat:
Menjadikan ucapan mengandung hikmah.   
Lidah tidak lagi berbicara dari nafs, tapi dari qalb.   
Menikmati “rasa iman” dalam zikir. 
📿 Doa:
اللَّهُمَّ ذَوِّقْنِي حَلَاوَةَ ذِكْرِكَ
Allāhumma dhawwiqnī ḥalāwata dhikrik; 
Ya Allah, beri aku rasa manis dalam menyebut nama-Mu. 
(Diriwayatkan dari Imam al-Bāqir ع)

🌺 5. Sentuhan Kasih (Lams)
🕊️ Manfaat: 
Tangan menjadi alat rahmat, bukan marah.  
Setiap perbuatan membawa ketenangan.
Jiwa menjadi lembut dalam tindakan. 
📿 Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَدِي مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ
Allāhumma aj‘al yadī miftāḥan lil-khayr:”
Ya Allah, jadikan tanganku kunci bagi kebaikan.
”Doa dari Nahj al-Balāghah, hikmah Imam ʿAlī)

💎 6. Ridhā (الرضا) — Cinta dan Penerimaan; 
🕊️ Manfaat: 
Jiwa tenang di bawah kehendak Allah.
Hilang gelisah, iri, dan kecewa.
Hati selalu dalam cahaya syukur.
📿 Doa:  اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا بِقَضَائِكَ، صَابِرًا عَلَى بَلَائِكَ 
Allāhumma aj‘alnī rāḍiyan bi-qaḍā’ika, ṣābiran ‘alā balā’ika:
”Ya Allah, jadikan aku ridha terhadap keputusan-Mu dan sabar atas ujian-Mu.” 
(Dari Ṣaḥīfah Sajjādiyyah, doa 38)

🔥 7. Ghadab (الغضب) — Kekuatan Suci; 
🕊️ Manfaat:    
Energi marah menjadi pembelaan terhadap kebenaran. 
Nafsu dan ego terkendali oleh akal dan iman.
Menjadi pejuang atas kebatilan, bukan budak emosi. 
📿 Doa:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي شَرَّ غَضَبِي 
وَاجْعَلْهُ لَكَ فِي سَبِيلِكَ
Allāhumma ikfinī sharra ghaḍabī waj‘alhu laka fī sabīlik:”Ya Allah, lindungilah aku dari buruknya amarahku, dan jadikan amarahku di jalan-Mu.”Riwayat dari Imam Khomeinī dalam adab jihād an-nafs)

🌿 8. Qalb yang Bersih 
🕊️ Manfaat: 
Menjadi tempat tajallī cahaya Allah. 
Hati lapang, bebas iri dan dendam. 
Memahami hakikat di balik segala kejadian. 
📿 Doa:
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ، 
وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ
Allāhumma ṭahhir qalbī mina n-nifāq, wa ‘amalī mina r-riyā’
“Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan dan amalanku dari riya.”
(Doa Imam ʿAlī Zain al-ʿĀbidīn)

🌸 9. Basīrah (Mata Hati) yang Tajam 
🕊️ Manfaat:  
Mampu membedakan hak dan batil.
Menyaksikan kehadiran Allah dalam semua hal. 
Menjadi insan baṣīr, bukan sekadar melihat dunia.
📿 Doa:
اللَّهُمَّ اكْشِفْ لِي عَنْ بَصَرِي غِطَاءَ الْغُرُورِ
Allāhumma ikshif lī ‘an baṣarī giṭā’a l-ghurūr:
”Ya Allah, singkaplah dari mataku tirai kelalaian.
”Diriwayatkan dari Imam aṣ-Ṣādiq ع)

🌺 10. Keseimbangan Jamāl & Jalāl (Kasih & Kekuatan) 
🕊️ Manfaat:
Hati menjadi seimbang antara kasih dan ketegasan.
Jiwa stabil, tidak condong ke marah atau pasrah berlebihan.
Menjadi qalb mukhlis — hati yang selaras dengan Asma Allah.
📿 Doa:
اللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَ جَمَالِكَ وَجَلَالِكَ فِي قَلْبِي
Allāhumma ajma‘ bayna jamālik wa jalālik fī qalbī “Ya Allah, satukan keindahan dan keagungan-Mu dalam hatiku.”(Doa Sayyid Ḥaydar Āmulī dalam Jāmi‘ al-Asrār)

🌕 Kesimpulan Ruhani 

Manfaat Doa ;
1 Telinga suci
Allāhumma aj‘al sam‘ī…
Mendengar firman Allah

2 Mata batin
Allāhumma nawwir baṣarī…
Melihat kebenaran

3 Penciuman ruhani
Allāhumma arihnī…
Mencium rahmat

4 Lidah jujur
Allāhumma dhawwiqnī…
Rasa iman

5 Sentuhan kasih
Allāhumma aj‘al yadī…
Amal penuh rahmat

6 Ridhā sejati
Allāhumma aj‘alnī rāḍiyan…
Hati tenang

7 Ghadab suci
Allāhumma ikfinī sharra ghaḍabī…
Kekuatan adil

8 Qalb bersih
Allāhumma ṭahhir qalbī…
Cermin Ilahi

9 Basīrah tajam
Allāhumma ikshif lī…
Menembus hakikat

10 Keseimbangan jamāl-jalāl
Allāhumma ajma‘ bayna…
Hati seimbang & makrifat


Semoga bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit