Makna: وَالصَّلاَةَ تَنْزِيْهًا لَكُمْ عَنِ الْكِبْرِ Sholat sebagai pembersih dari kesombongan

Seri 2 dari 20 seri Hikmah Ibadah (Khotbah Sayyidah Fathimah Azzahra as) menjelang Syahadahnya 8 R.Tsani (riwayat (1) 40 hari setelah Wafat Rasulullah saw)

Kalimat Sayyidah Az- Zahra as
وَالصَّلاَةَ تَنْزِيْهًا لَكُمْ عَنِ الْكِبْرِ
“Dan shalat itu (dijadikan) sebagai penyucian kalian dari kesombongan.”

Makna yang bisa dipetik dari ungkapan ini: 

1. Shalat sebagai latihan kerendahan diri; Ruku‘ dan sujud dalam shalat adalah simbol paling nyata dari tunduknya seorang hamba di hadapan Allah, yang meniadakan sifat sombong.

2. Shalat sebagai pengingat kedudukan hamba; Dengan membaca doa, pujian, dan ayat Al-Qur’an, manusia sadar dirinya hanyalah makhluk yang bergantung pada Sang Pencipta, bukan pemilik kuasa mutlak. 

3. Shalat sebagai penghapus ilusi keagungan diri Orang yang terbiasa shalat akan sering bersujud, sehingga hatinya terbiasa merasa kecil di hadapan Allah, bukan merasa agung di hadapan sesama.

4. Shalat mengajarkan kesetaraan Dalam shalat berjamaah, orang kaya-miskin, pemimpin-rakyat, semua berdiri sejajar di satu shaf, mengikis keangkuhan sosial.

5. Shalat sebagai latihan disiplin rohani; Menundukkan hawa nafsu untuk bangkit di waktu-waktu tertentu adalah tamrin (latihan) agar jiwa tunduk, bukan liar oleh kesombongan ego. 

6. Shalat sebagai cermin tauhid praktis; Kesombongan lahir dari merasa independen. Shalat melatih kita menyaksikan hanya Allah yang Mahakuasa, sehingga sifat sombong terhapus.

7. Shalat menumbuhkan rasa syukur; Orang yang sering bersyukur dalam shalat akan sulit menjadi sombong, karena sadar semua nikmat berasal dari Allah.

8. Shalat menundukkan jasad untuk menundukkan hati;Gerakan ruku‘ dan sujud bukan sekadar fisik, tapi metode pendidikan jiwa agar hati ikut sujud dan rendah hati.

9. Shalat menjaga manusia dari pengagungan dunia; Saat shalat, dunia ditinggalkan, jabatan tak berlaku, harta tak berarti — semua melebur di hadapan Allah. 

10. Shalat sebagai cahaya akhlak; Dengan shalat yang benar, sifat kibr (sombong) akan diganti dengan sifat tawadhu‘, menjadi dasar akhlak mulia dalam bermuamalah dengan sesama.

Kalimat Sayyidah Az- Zahra as
‎وَالصَّلاَةَ تَنْزِيْهًا لَكُمْ عَنِ الْكِبْرِ 
Menurut beberapa ayat Alquran

1. Shalat mencegah dari perbuatan buruk, termasuk kibr

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt 29:45) 
➡ Kesombongan (kibr) termasuk mungkar batin. Shalat melatih hati untuk tunduk, sehingga mencegah lahirnya kesombongan.

2. Sujud sebagai simbol anti-sombong

إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ
“Sesungguhnya mereka yang berada di sisi Tuhanmu tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya, mereka bertasbih kepada-Nya dan kepada-Nyalah mereka bersujud.” (QS. Al-A‘rāf 7:206) 
➡ Malaikat mulia tidak sombong karena senantiasa sujud. Manusia pun diajari shalat dengan ruku‘ dan sujud agar hati terlepas dari kibr.

3. Larangan sujud karena sombong, contoh iblis

إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Kecuali Iblis; ia enggan, menyombongkan diri, dan ia termasuk orang kafir.” (QS. Al-Baqarah 2:34)
➡ Iblis menolak sujud karena sombong. Maka manusia diperintahkan shalat (dengan sujud) agar berlawanan dengan sikap iblis.

4. Shalat mengikis sifat takabbur dalam pergaulan

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ • 
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyu‘ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minūn 23:1–2) 
➡ Khusyu‘ adalah lawan dari sombong. Dengan khusyu‘, hati ditundukkan, jiwa dibersihkan dari kibr.

5. Shalat sebagai dzikir yang menumbuhkan kerendahan hati

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Ṭāhā 20:14) 
➡ Mengingat Allah berarti melupakan ego. Kesombongan lahir dari lupa Allah, sedangkan shalat adalah obatnya.

🔑 Kesimpulan Qur’ani:    
Shalat adalah tamrin tawadhu‘ (latihan kerendahan diri).   
Shalat mengingatkan bahwa kibr adalah sifat iblis, lawannya adalah sujud.
Ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa khusyu‘, sujud, dan dzikir dalam shalat adalah sarana utama untuk menyucikan manusia dari kesombongan.

6. Shalat mengingatkan asal-usul manusia

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ 
وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
“Darinya (tanah) Kami menciptakan kamu, kepadanya Kami kembalikan kamu, dan darinya Kami keluarkan kamu sekali lagi.” (QS. Ṭāhā 20:55)
➡ Saat sujud, dahi menempel tanah. Itu pengingat langsung bahwa asal kita dari tanah, bukan untuk sombong.

7. Shalat menjauhkan dari sikap meremehkan orang lain

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong, karena kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isrā’ 17:37) 
➡ Shalat berjamaah menempatkan semua orang sejajar dalam barisan, membiasakan kerendahan dan menghapus sikap merasa lebih tinggi dari orang lain.

8. Shalat mendidik untuk tunduk kepada hukum Allah

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ 
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Rasul supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. An-Nūr 24:56)
➡ Kesombongan muncul dari enggan taat. Shalat melatih manusia taat total kepada aturan Allah.

9. Shalat menundukkan hati agar tidak cinta dunia

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ • الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ • الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Mā‘ūn 107:4–6) 
➡ Shalat yang benar membersihkan dari riya‘ (pamer), bentuk lain dari kesombongan.

10. Shalat sebagai tanda orang beriman yang tidak sombong terhadap masjid Allah

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ…
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendirikan shalat…” (QS. At-Tawbah 9:18) 
➡ Orang yang benar-benar memakmurkan shalat tidak mungkin sombong, karena hidupnya terikat dengan rumah Allah dan penuh ibadah. 

✨ Jadi, menurut Al-Qur’an, shalat adalah terapi anti-kibr melalui:
1. Mencegah mungkar (29:45)
2. Sujud sebagai simbol tunduk (7:206)  
3. Lawan iblis yang sombong (2:34)   
4. Khusyu‘ melawan takabbur(23:1;2) 
5. Dzikir yang mematikan ego (20:14)
6. Mengingat asal dari tanah (20:55)
7. Menyama-ratakan manusia (17:37)
8. Melatih ketaatan (24:56)
9. Membersihkan dari riya‘ (107:4–6)
10. Mengikat hati dengan masjid (9:18)

Hadis-hadis; Shalat & Anti-Kibr

1. Shalat sebagai ibadah terbaik dan penolak kesombongan
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:
‎“رَأْسُ كُلِّ شَيْءٍ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ”
“Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat.”HR. Tirmidzi)
➡ Kesombongan meruntuhkan Islam, sedangkan shalat menegakkan Islam. Shalat jadi penegak jiwa agar tidak sombong.

2. Shalat melatih kerendahan, lawan kibr Iblis 
📖 Imam Ja‘far al-Ṣādiq (as) berkata:
‎“ما من عبدٍ يرفع رأسه من السجود ويجلس جلسة إلا غفر الله له ذنوبه”
“Tidaklah seorang hamba mengangkat kepalanya dari sujud dan duduk sejenak, kecuali Allah mengampuni dosa-dosanya.”
(al-Kāfī, jilid 3, hlm. 324) 
➡ Sujud — simbol anti-kibr. Iblis menolak sujud karena sombong, maka manusia diperintahkan shalat agar hatinya bersih.

3. Shalat sebagai sarana tawadhu‘
📖 Nabi ﷺ bersabda:
“إِنَّ أَقْرَبَ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ”
“Seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud.”(HR. Muslim)
➡ Saat sujud, ego dihancurkan, tidak ada ruang bagi kesombongan.

4. Shalat menghapus kesombongan dunia
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:
‎“مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ”
“Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkatnya.”(HR. Muslim)
➡ Shalat adalah latihan merendah (tawadhu‘) yang justru meninggikan derajat, bukan merendahkan martabat.

5. Shalat jamaah menyetarakan semua manusia 
📖 Nabi ﷺ bersabda:     سَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَلَا تَخْتَلِفُوا 
فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ”
“Luruskanlah shaf kalian dan jangan berbeda-beda, agar hati kalian tidak berselisih.”(HR. Bukhari & Muslim)
➡ Dalam shalat berjamaah, kaya-miskin, pejabat-rakyat sejajar. Itu menghapus kibr sosial.

6. Shalat sebagai ujian kesombongan 
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:       مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّداً 
فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ”
“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, maka terlepaslah jaminan Allah dan Rasul-Nya darinya.”  (HR. Ahmad)
➡ Menolak shalat adalah tanda kesombongan batin — sama seperti iblis yang enggan sujud.

7. Shalat sebagai cahaya dan keselamatan 
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:       الصَّلَاةُ نُورٌ”
“Shalat adalah cahaya.”(HR. Muslim)
➡ Cahaya menyingkap kegelapan hati, termasuk penyakit kibr.

✨ Ringkasnya menurut hadis:
Shalat = tiang agama, pengikis kesombongan.
Sujud = puncak tawadhu‘, lawan sifat iblis.
Jamaah = penghapus kibr sosial.
Khusyu‘ = terapi hati dari kibr batin.
Tawadhu‘ dalam shalat justru meninggikan derajat.

8. Shalat sebagai tanda orang beriman (anti-kibr) 
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:
“بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ”
“Batas antara seseorang dengan kufur adalah meninggalkan shalat.”
(HR. Muslim) 
➡ Kesombongan terbesar adalah kufur. Menjaga shalat berarti menjaga diri dari kibr yang menyeret ke kufur.

9. Shalat mengajarkan kerendahan di hadapan Allah 
📖 Imam Ali (ع) berkata dalam Nahjul Balaghah:
“فَرَضَ اللَّهُ الإِيمَانَ تَطْهِيرًا مِنَ الشِّرْكِ، وَالصَّلاةَ تَنْزِيهاً عَنِ الْكِبْرِ”
“Allah mewajibkan iman sebagai penyucian dari syirik, dan shalat sebagai pembersih dari kesombongan.” 
➡ Ini langsung menjelaskan redaksi yang kita bahas: shalat = penawar kibr.

10. Shalat sebagai amal pertama yang ditimbang 
📖 Nabi ﷺ bersabda:   إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ
“Sesungguhnya amal pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
➡ Orang sombong meremehkan shalat, padahal justru itu ujian pertama di akhirat.

✨ Jadi, 10 makna shalat sebagai penolak kibr menurut hadis:
1. Shalat = tiang agama, lawan kesombongan.
2. Sujud = simbol kerendahan, lawan sifat iblis.
3. Shalat mendekatkan hamba dengan Allah.
4. Shalat melatih tawadhu‘, Allah yang meninggikan derajat.
5. Shalat jamaah menyetarakan manusia.
6. Menolak shalat = tanda kibr dan kufur.
7. Shalat = cahaya yang menghapus kegelapan hati.
8. Menjaga shalat = menjaga iman dari kufur dan kibr.
9. Nahjul Balaghah: shalat sebagai penyuci dari kibr.
10. Shalat = amal pertama yang ditimbang, ukuran rendah hati seseorang.

Makna menurut hadis Ahlul Bayt (as):

1. Shalat = pembersih dari kesombongan; 
📖 Imam Ali (as) dalam Nahjul Balaghah:
“فَرَضَ اللَّهُ الإِيمَانَ تَطْهِيرًا مِنَ الشِّرْكِ، وَالصَّلَاةَ تَنْزِيهًا عَنِ الْكِبْرِ”
“Allah mewajibkan iman sebagai penyucian dari syirik, dan shalat sebagai penyuci dari kesombongan.”
➡ Shalat adalah terapi ruhani untuk mengikis kibr.

2. Sujud sebagai simbol kehinaan di hadapan Allah 
📖 Imam Ja‘far al-Ṣādiq (as): أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ بَاكٍ
“Seorang hamba paling dekat kepada Allah ketika ia bersujud sambil menangis.”(al-Kāfī, jilid 3)
➡ Sujud mematikan ego, lawan langsung dari kibr.

3. Shalat sebagai ujian keikhlasan
📖 Imam al-Baqir (as):  لا يُقْبَلُ مِنْ عَبْدٍ عَمَلٌ وَهُوَ يَعْمَلُ وَهُوَ مُسْتَكْبِرٌ عَنِ الصَّلَاةِ
“Tidak diterima amal seorang hamba jika ia menyombongkan diri dari shalat.” (al-Kāfī, jilid 3)
➡ Kesombongan dalam bentuk meremehkan shalat = penghalang diterimanya amal.

4. Shalat sebagai benteng dari sifat iblis 
📖 Imam al-Ridha (as):
“إِنَّمَا أُمِرُوا بِالسُّجُودِ 
لِأَنَّهُ أَقْرَبُ لِلَّهِ وَأَبْعَدُ مِنَ الْكِبْرِ”
“Mereka diperintahkan sujud karena itu lebih mendekatkan kepada Allah dan lebih menjauhkan dari kesombongan.”
(‘Ilal al-Sharā’i‘, Syekh Shaduq)
➡ Sujud adalah vaksin anti-kibr.

5. Shalat melatih kesetaraan sosial
📖 Imam Ali (as): جَعَلَ اللَّهُ… وَالْإِمَامَةَ نِظَامًا لِلْأُمَّةِ، وَالطَّاعَةَ تَعْظِيمًا لِلإِمَامَةِ، وَالصَّلَاةَ تَنْزِيهًا عَنِ الْكِبْرِ
“Allah menjadikan… kepemimpinan sebagai sistem umat, ketaatan sebagai penghormatan kepada kepemimpinan, dan shalat sebagai pembersih dari kesombongan.”
(Nahjul Balaghah, Khutbah 252)
➡ Dalam shalat jamaah, manusia dilatih untuk sejajar dan tidak sombong.

6. Shalat sebagai cahaya hati
📖 Imam al-Ṣādiq (as):
“الصَّلَاةُ قُرْبَانُ كُلِّ تَقِيٍّ”
“Shalat adalah persembahan yang mendekatkan setiap orang bertakwa kepada Allah.”(al-Kāfī, jilid 3)
➡ Mendekatkan diri dengan ketakwaan = menghapus kibr dari hati.

7. Shalat adalah dzikir yang menumbuhkan tawadhu‘
📖 Imam al-Sajjad (as) dalam Sahifah Sajjadiyah:
“وَاجْعَلْ قَلْبِي بِصَلاَتِي مُنِيبًا”
“Jadikanlah hatiku dengan shalatku ini tunduk kembali (kepada-Mu).”
➡ Shalat sejati mengembalikan hati ke posisi tawadhu‘.

8. Shalat melatih ketundukan penuh 
📖 Imam al-Ṣādiq (as):
“إِذَا قَامَ الْعَبْدُ إِلَى الصَّلَاةِ، نَزَلَتْ عَلَيْهِ الرَّحْمَةُ مِنْ أَعْنَانِ السَّمَاءِ إِلَى الأَرْضِ، وَحَفَّتْ بِهِ الْمَلاَئِكَةُ”
“Ketika seorang hamba berdiri untuk shalat, rahmat turun dari langit hingga bumi, dan malaikat mengelilinginya.” (al-Kāfī, jilid 3)
➡ Kesombongan runtuh saat hati diliputi rahmat.

9. Shalat sebagai kunci segala kebaikan 
📖 Imam Ali (as):
‎“مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ عَمْدًا فَقَدْ كَفَرَ”
“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia telah kafir.”
(Wasā’il al-Shī‘ah) 
➡ Menolak shalat adalah kibr besar, lawannya adalah kerendahan dengan istiqamah shalat.

10. Shalat mendidik manusia untuk mengingat asal-usulnya
📖 Imam al-Sajjad (as):السُّجُودُ هُوَ وَضْعُ الْجَبْهَةِ عَلَى التُّرَابِ تَذَلُّلاً لِلَّهِ
“Sujud adalah meletakkan dahi di atas tanah sebagai kerendahan di hadapan Allah.”
(al-Khisāl, Syekh Shaduq)
➡ Sujud = kembali ke tanah, asal manusia. Tidak ada ruang bagi kibr.

✨ Ringkasan 10 makna menurut Ahlul Bayt (as):
1. Shalat = penyuci dari kibr (Nahjul Balaghah).
2. Sujud = kedekatan dan kehinaan di hadapan Allah.
3. Meremehkan shalat = amal tidak diterima.
4. Sujud = menjauhkan dari kibr, lawan sifat iblis.
5. Shalat jamaah = latih kesetaraan sosial.
6. Shalat = persembahan taqwa, pembersih hati.
7. Shalat = dzikir yang menundukkan hati.
8. Shalat = turunnya rahmat, hilangnya kibr.
9. Tinggalkan shalat = kibr besar, mendekati kufur.
10. Sujud di tanah = mengingat asal, menghapus kibr.

Makna menurut para mufassir:

1. Shalat sebagai latihan tawadhu‘
al-Ṭabari (tafsir Jāmi‘ al-Bayān): shalat mengandung ruku‘ dan sujud, keduanya adalah bentuk nyata kerendahan di hadapan Allah.
➡ Shalat menundukkan hati manusia agar tidak tinggi diri.

2. Shalat sebagai penghapus sifat iblis  
al-Qurtubi (tafsir al-Jāmi‘ li-Aḥkām al-Qur’an): iblis menolak sujud karena kibr, maka manusia diperintah untuk shalat agar tidak jatuh pada sifat yang sama.
➡ Sujud = kebalikan kesombongan iblis.

3. Shalat mengingatkan asal manusia  
al-Razi (Mafātih al-Ghayb): sujud ke tanah adalah pengingat asal-usul manusia yang tercipta dari tanah, sehingga hati menjadi rendah.

4. Shalat menumbuhkan khusyu‘ sebagai lawan kibr
al-Ṭabarsi (Syiah, Majma‘ al-Bayan): orang yang khusyu‘ dalam shalatnya tidak mungkin sombong, karena khusyu‘ = tunduk batin sepenuhnya.

5. Shalat sebagai penyuci jiwa (tazkiyah)  
al-Ṭabari & al-Ṭabarsi menekankan bahwa ayat “إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ” (29:45) mencakup pencegahan dari kibr, sebab kibr adalah akar segala mungkar batin.

6. Shalat jamaah menghapus kibr sosial  
al-Qurtubi: shalat berjamaah menyatukan kaya-miskin, penguasa-rakyat, semua sejajar dalam satu shaf. Ini pendidikan sosial agar manusia tidak merasa lebih tinggi.

7. Shalat sebagai pengikat hubungan dengan Allah (ubudiyyah) 
al-Razi: hakikat shalat adalah ubudiyyah (penghambaan total). Orang yang benar-benar shalat akan sadar dirinya hamba, bukan tuan, sehingga kibr tidak berakar.

8. Shalat sebagai simbol syukur dan pengakuan kelemahan
al-Ṭabarsi: shalat penuh dengan tasbih, tahmid, doa. Itu semua mengingatkan manusia bahwa segala nikmat dari Allah, bukan dari dirinya sendiri. 
➡ Kesombongan lahir dari lupa nikmat Allah.

9. Shalat sebagai cahaya hati
al-Ṭabari & al-Qurtubi mengutip hadis “الصلاة نور”. Mereka tafsirkan: shalat menerangi hati, sedangkan kibr adalah kegelapan.

10. Shalat sebagai ujian ketaatan
al-Ṭabarsi: perintah shalat di waktu-waktu tertentu adalah bentuk latihan disiplin taat. Orang sombong enggan tunduk pada aturan, tapi shalat membiasakan tunduk.

✨ Ringkasan dari para mufassir
1. Shalat = latihan tawadhu‘ (al-Ṭabari).
2. Sujud = lawan sifat iblis (al-Qurtubi).
3. Sujud mengingatkan asal tanah (al-Razi).
4. Khusyu‘ lawan kibr (al-Ṭabarsi).
5. Shalat = tazkiyah, cegah kibr (al-Ṭabari, al-Ṭabarsi).
6. Jamaah = hapus kibr sosial (al-Qurtubi).
7. Hakikat shalat = ubudiyyah (al-Razi).
8. Syukur & doa dalam shalat = hilangkan kibr (al-Ṭabarsi).
9. Shalat = cahaya hati lawan kegelapan kibr (Qurtubi, Tabari).
10. Waktu shalat = latihan taat, hilangkan ego (al-Ṭabarsi).

Makna menurut mufassir Syiah:

1. Shalat = pembersih kibr
Allāmah Ṭabāṭabā’ī (al-Mīzān): shalat adalah ibadah yang mengandung ruku‘ dan sujud — bentuk kerendahan mutlak manusia di hadapan Allah. Ia menulis bahwa shalat secara esensial adalah tazkiyah dari sifat kibr, karena setiap gerakannya adalah simbol kehinaan hamba di hadapan Rabb.

2. Shalat melawan sifat Iblis
al-Ṭabarsi (Majma‘ al-Bayān): iblis enggan sujud karena kibr, maka Allah jadikan shalat dengan sujud sebagai ibadah harian, agar manusia tidak menjadi seperti iblis.

3. Shalat = pendidikan khusyu‘
al-Ṭabarsi menafsirkan ayat “قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ” (QS 23:1–2), bahwa khusyu‘ adalah anti-kibr batin. Shalat mengajari hati untuk tunduk total.

4. Sujud sebagai simbol asal-usul manusia  
al-Ṭabarsi & al-‘Allāmah Ṭabāṭabā’ī: sujud ke tanah mengingatkan manusia bahwa ia berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Maka tidak layak baginya untuk sombong.

5. Shalat sebagai dzikir yang melebur ego   
al-Ṭabāṭabā’ī menjelaskan: dzikir dalam shalat (takbir, tasbih, tahmid) meniadakan ilusi keagungan diri, karena semua kesempurnaan dikembalikan hanya pada Allah.

6. Shalat jamaah sebagai penghapus kibr sosial  
al-Ṭabarsi menekankan aspek sosial shalat: dalam jamaah, semua orang — kaya, miskin, pemimpin, rakyat — berdiri sejajar. Ini adalah pendidikan rohani yang membersihkan jiwa dari kesombongan sosial.

7. Shalat sebagai syukur dan pengakuan kelemahan
al-Ṭabāṭabā’ī: doa dan tasbih dalam shalat adalah latihan syukur. Orang yang selalu bersyukur tidak mungkin menyombongkan diri, karena sadar semua nikmat berasal dari Allah.

8. Shalat mengikat manusia dengan ubudiyyah (penghambaan total)  
al-Ṭabarsi: hakikat shalat adalah ‘ubudiyyah. Orang yang benar-benar menegakkan shalat sadar bahwa ia adalah hamba, bukan pemilik kuasa. Itu menyingkirkan kibr dari hati.

9. Shalat sebagai cahaya hati yang menolak kibr  
al-Ṭabarsi mengutip hadis “الصلاة نور”. Ia menafsirkan bahwa cahaya ini adalah cahaya ma‘rifah yang menghapus kegelapan sifat tercela, termasuk kibr.

10. Shalat sebagai latihan disiplin anti-ego 
al-Ṭabāṭabā’ī (al-Mīzān): shalat diwajibkan dalam waktu tertentu agar jiwa terlatih tunduk pada aturan Allah, bukan pada hawa nafsunya. Orang sombong benci tunduk pada aturan; shalat melatih sebaliknya.

✨ Ringkasan 10 makna menurut mufassir Syiah:
1. Shalat = pembersih kibr (al-Mīzān). 
2. Sujud = lawan sifat Iblis (Majma‘ al-Bayān). 
3. Khusyu‘ = lawan kibr batin (Majma‘ al-Bayān). 
4. Sujud = mengingat asal tanah (al-Mīzān & al-Ṭabarsi). 
5. Dzikir = melebur ego (al-Mīzān). 
6. Jamaah = hapus kibr sosial (al-Ṭabarsi).
7. Syukur = menghilangkan kibr (al-Mīzān). 
8. Ubudiyyah = hamba, bukan tuan (al-Ṭabarsi). 
9. Shalat = cahaya anti-kibr (al-Ṭabarsi).
10. Waktu shalat = disiplin tunduk, lawan ego (al-Mīzān).

Makna menurut ahli hakikat & ma‘rifat

1. Shalat = mi‘raj ruhani
Shalat adalah “mi‘raj al-mu’min” (pendakian ruhani). Naik ke hadirat Allah menuntut penghancuran ego. Kibr adalah hijab, shalat mengangkat hijab itu.

2. Ruku‘ & sujud = fana’ fi Allah
Menurut arifin, sujud berarti meniadakan diri (fanā’) di hadapan-Nya, lalu bangkit (baqā’) dengan-Nya. Ego hancur, kibr hilang.

3. Shalat = zikir mutlak
Ahli ma‘rifat mengatakan shalat bukan hanya lafaz, tapi zikir hidup. Orang yang benar-benar shalat “melupakan dirinya” dan “mengingat Allah sepenuhnya” — ini lawan kibr.

4. Shalat sebagai penyatuan batin (jam‘iyyah al-qalb)
Shalat menghimpun hati yang tercerai-berai oleh dunia. Ego dan kibr memecah hati, shalat menyatukannya pada Allah.

5. Shalat mengikis ‘ana’ (aku)
Menurut arifin, akar kibr adalah kata “ana” (ego) — sama dengan ucapan iblis “أنا خيرٌ منه”. Dalam shalat, “ana” diganti dengan “anta” (Engkau, ya Allah).

6. Shalat sebagai sirr (rahasia) perjumpaan
Dalam hakikat, shalat adalah liqa’ (perjumpaan) dengan Allah. Saat berdiri, duduk, rukuk, sujud — semuanya adalah bentuk “mengosongkan diri” dari kibr agar Allah-lah yang hadir.

7. Shalat = latihan fana dari dunia
Ahli ma‘rifat menafsirkan: saat takbiratul ihram, engkau meninggalkan dunia. Orang yang benar-benar shalat tidak lagi memandang dunia dengan kibr, karena ia telah keluar darinya.

8. Shalat = cermin mahabbah (cinta) Para arif berkata: orang yang mencintai Allah akan merendah penuh di hadapan-Nya. Cinta melahirkan tawadhu‘, bukan kibr. Shalat adalah bentuk puncak mahabbah.

9. Shalat sebagai latihan istiqamah
Kibr lahir dari nafs yang liar. Shalat di waktu tertentu adalah latihan menundukkan nafs kepada tanzhim ilahi. Arifin menyebutnya riyādhah an-nafs (olah jiwa).

10. Shalat sebagai cahaya basirah (mata batin)
Ahli hakikat menafsirkan hadis “الصلاة نور”: shalat menerangi basirah (mata hati). Kibr adalah kegelapan ego; cahaya shalat memadamkan itu. 

✨ Ringkasannya menurut ahli hakikat & ma‘rifat:  
1. Shalat = mi‘raj menuju Allah.  
2. Sujud = fanā’ dari diri, baqā’ dengan Allah.  
3. Shalat = zikir total yang melupakan ego.
4. Shalat = menghimpun hati, menyingkirkan kibr. 
5. Shalat = menghancurkan “ana” (aku), menegakkan “anta” (Engkau).
6. Shalat = perjumpaan rahasia dengan Allah. 
7. Shalat = keluar dari dunia, lenyap kibr duniawi.
8. Shalat = buah cinta yang melahirkan tawadhu‘. 
9. Shalat = riyādhah an-nafs, latihan disiplin anti-ego. 
10. Shalat = cahaya basirah yang memadamkan kibr.

🌸 Dengan bahasa arif: “Orang yang benar-benar shalat tidak lagi melihat dirinya, hanya Allah yang ia lihat. Bagaimana mungkin orang yang hilang dari dirinya bisa sombong?”

Makna menurut ahli hakikat Syiah:

1. Shalat = mi‘raj al-‘ārif (pendakian arif) 
📖 Imam Khomeini (as-Salāt, Sirr aṣ-Ṣalāt): “Shalat adalah mi‘raj al-mu’min, naiknya ruh dari dunia menuju hadirat Allah.” 
➡ Kibr adalah hijab, shalat mengangkat hijab itu agar ruh dapat naik.

2. Takbiratul ihram = pemutusan diri dari dunia ; Ahli hakikat Syiah menafsirkan takbiratul ihram sebagai “pemutusan segala selain Allah”.
➡ Kesombongan lahir dari keterikatan dunia. Dengan takbir, ego ditolak sejak awal.

3. Ruku‘ = fana’ dalam sifat Allah
Mulla Ṣadra menjelaskan dalam al-Asfār bahwa ruku‘ adalah simbol tunduknya akal dan jiwa kepada Keagungan Allah. 
➡ Orang yang ruku‘ sungguh-sungguh tidak akan meninggalkan sisa kibr dalam akalnya.

4. Sujud = fana’ dari wujud diri
📖 Imam Sajjad (as) dalam Sahifah Sajjadiyyah: “Sujud adalah hakikat kerendahan hamba di hadapan Keagungan-Mu.” 
➡ Dalam pandangan arif Syiah, sujud adalah fanā’ (lenyapnya diri) — obat mutlak kibr.

5. Dzikir dalam shalat = penyucian hati dari “ana”
Sayyid Haydar Amuli: dzikir dalam shalat adalah latihan mengganti “ana” (aku) dengan “anta” (Engkau). 
➡ Ego (“ana”) adalah asal kibr, dzikir meniadakannya.

6. Shalat jamaah = penegasan kesatuan wujud
Dalam suluk arif Syiah, jamaah bukan sekadar barisan fisik, tapi simbol tauhid al-wujud: semua wujud sejajar dalam hadapan Yang Esa.
➡ Kesombongan sosial hancur dalam kesatuan shaf.

7. Khusyu‘ = sirr shalat
Allāmah Ṭabāṭabā’ī (al-Mīzān) menulis: hakikat khusyu‘ adalah tunduk total hati. 
➡ Orang khusyu‘ tak mungkin sombong, sebab seluruh hatinya tunduk kepada Allah.

8. Shalat = latihan fana’ dan baqā’
Imam Khomeini: “Dalam setiap rakaat, engkau fana dalam sujud, lalu bangkit dengan baqā’ pada Allah.” 
➡ Fana’ membunuh kibr, baqā’ mengisi jiwa dengan cahaya tawadhu‘.

9. Shalat = mahabbah (cinta) yang meniadakan keangkuhan
Para arif Syiah melihat shalat sebagai liqa’ Allah (pertemuan dengan Allah). 
➡ Orang yang jatuh cinta kepada Allah hanya tunduk, tidak mungkin menyombongkan diri.

10. Shalat = penyingkapan basirah (mata batin) Dalam irfan Syiah, shalat adalah cahaya yang membuka basirah. 
➡ Kibr adalah kegelapan ego; shalat sejati adalah cahaya yang menghancurkannya.

✨ Ringkasan 10 makna menurut ahli hakikat Syiah:
1. Shalat = mi‘raj ruhani.
2. Takbir = pemutusan diri dari dunia.
3. Ruku‘ = fana’ dalam sifat Allah.
4. Sujud = fana’ dari wujud diri.
5. Dzikir = meniadakan “ana”, menegakkan “anta”.
6. Jamaah = kesatuan wujud, hapus kibr sosial.
7. Khusyu‘ = tunduk total hati.
8. Shalat = siklus fana’ & baqā’.
9. Shalat = mahabbah, lawan kibr.
10. Shalat = cahaya basirah, lenyapkan ego.

🌸 Para arif Syiah sepakat: “Hakikat shalat adalah menafikan dirimu sendiri, agar hanya Allah yang terlihat. Orang yang sudah hilang dari dirinya, bagaimana mungkin masih sombong?”

Kisah & cerita 🌿.

Kalimat Sayyidah Az-Zahra as “وَالصَّلاَةَ تَنْزِيْهًا لَكُمْ عَنِ الْكِبْرِ” 
bisa kita pahami melalui kisah para nabi, imam, dan orang-orang saleh. Cerita ini menampakkan bagaimana shalat menjadi penolak kesombongan dan sarana kerendahan hati. 

Berikut 10 kisah & ceritanya: 

1. Iblis enggan sujud
Kisah paling mendasar: Iblis menolak sujud kepada Adam karena kibr (“Aku lebih baik darinya” – QS 7:12). Maka Allah jadikan sujud dalam shalat sebagai obat agar manusia tidak menjadi seperti Iblis.

2. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
Saat Allah uji dengan perintah shalat di Baitullah, Ibrahim langsung tunduk. Doanya dalam QS 14:40 “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat”. 
➡ Shalat = bukti kerendahan hamba di hadapan Allah, bukan kibr sebagai bapak para nabi. 

3. Nabi Musa dan Fir‘aun
Fir‘aun berkata: “Aku tuhan kalian yang paling tinggi” (QS 79:24). Musa diperintah menegakkan shalat sebagai tanda ubudiyyah (QS 20:14: “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”). 
➡ Fir‘aun = simbol kibr, Musa = simbol tawadhu‘ melalui shalat.

4. Nabi Yunus dalam perut ikan
Saat dalam kegelapan, Yunus bersujud dan berdoa: “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz-zhalimin”. 
➡ Shalat dalam bentuk doa & sujud menyingkirkan kibr, bahkan dalam kondisi paling gelap.

5. Nabi Muhammad ﷺ di malam Isra’ Mi‘raj; Ketika naik ke sidratul muntaha, Nabi menerima perintah shalat.
➡ Pesan: semakin tinggi derajatmu, semakin wajib engkau tunduk (lawan kibr). 

6. Imam Ali ‘alaihissalam
Diriwayatkan bahwa saat shalat, anak panah yang menancap di kakinya dicabut tanpa beliau merasa sakit karena khusyu‘. 
➡ Shalat membuatnya fana’ dari diri, tak tersisa ruang bagi kibr.

7. Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa)
Beliau sering berdiri lama dalam shalat malam, berdoa panjang untuk orang lain sebelum dirinya. 
➡ Shalat mendidik jiwa agar rendah hati dan tidak egois.

8. Imam Zainul Abidin (as)
Dikenal sebagai Zain al-‘Abidin karena ibadahnya. Saat sujud beliau menangis, “Ya Allah, jangan jadikan aku hamba-Mu yang sombong”.
➡ Shalat beliau adalah madrasah tawadhu‘. 

9. Kisah Bilal bin Rabah
Budak hitam yang dilepaskan karena imannya, lalu menjadi muadzin Rasulullah. Ketika Bilal maju mengumandangkan azan, para bangsawan Quraisy merasa heran.
➡ Shalat & azan menghancurkan kibr sosial-rasial.

10. Imam Khomeini rah
Di masa modern, dikenal menjaga shalat tepat waktu, bahkan saat perang dan urusan kenegaraan. Pernah berkata: “Kemenangan kita bukan karena senjata, tapi karena shalat.”
➡ Shalat sebagai benteng dari kibr kekuasaan.

✨ Ringkasan 10 kisah:
1. Iblis menolak sujud = akar kibr.
2. Ibrahim berdoa agar keturunannya tetap shalat.
3. Musa melawan Fir‘aun: shalat vs kibr.
4. Yunus sujud dalam kegelapan.
5. Nabi Muhammad menerima shalat di Mi‘raj.
6. Imam Ali: shalat meniadakan rasa diri.
7. Sayyidah Fatimah: doa untuk orang lain lebih dulu.
8. Imam Sajjad: sujud penuh tangis.
9. Bilal: azan hancurkan kibr sosial.
10. Imam Khomeini: shalat lawan kibr kekuasaan.

Manfaat shalat dan doa-doa yang benar-benar jadi obat dari kibr (kesombongan) dan sumber keberkahan hidup. 

Berikut 10 manfaat shalat & doa yang bisa dibaca:

1. Menghapus kesombongan (kibr)
📖 Manfaat: Sujud dan ruku menundukkan jiwa, melatih kerendahan. 
🤲 Doa:
‎اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ
“Allāhumma ṭahhir qalbī min al-kibri wal-‘ujb.” Ya Allah, sucikan hatiku dari sombong dan ujub).

2. Mendekatkan diri kepada Allah
📖 Manfaat: Shalat adalah mi‘raj al-mu’min. 
🤲 Doa:
‎اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُرَّةَ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Allāhummaj‘al qurrata ‘aynī fiṣ-ṣalāt.” (Ya Allah, jadikan shalat penyejuk pandanganku).

3. Menjadi cahaya hati
📖 Manfaat: Shalat adalah nūr yang menyingkap basirah.  🤲 Doa:
‎اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا
“Allāhummaj‘al fī qalbī nūran wa fī baṣarī nūran.” (Ya Allah, jadikan cahaya dalam hatiku dan penglihatanku).

4. Melatih syukur
📖 Manfaat: Shalat mengingatkan nikmat Allah dan mencegah kufur.
🤲 Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الشَّاكِرِينَ فِي الصَّلَاةِ
“Allāhummaj‘alnī mina ash-shākirīn fīṣ-ṣalāt.”(Ya Allah, jadikan aku hamba yang bersyukur dalam shalat).

5. Menjadi penghapus dosa
📖 Manfaat: Shalat lima waktu menggugurkan dosa kecil (HR. Muslim).  
🤲 Doa: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي كُلَّهَا فِي رُكُوعِي وَسُجُودِي
“Allāhummaghfir lī dhunūbī kullahā fī rukū‘ī wa sujūdī.”(Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku dalam rukuk dan sujudku).

6. Menjaga dari perbuatan keji dan mungkar 
📖 Manfaat: QS 29:45 “Shalat mencegah dari fahsyā’ dan munkar.”  
🤲 Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلاتِي حِصْنًا مِنَ الْمَعَاصِي
“Allāhummaj‘al ṣalātī ḥiṣnan minal ma‘āṣī.” (Ya Allah, jadikan shalatku benteng dari maksiat).

7. Memberi ketenangan jiwa
📖 Manfaat: Orang beriman mencari ketenangan dengan shalat. 
🤲 Doa:
‎اللَّهُمَّ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قَلْبِي فِي صَلَاتِي
“Allāhumma anzilis-sakīnata ‘alā qalbī fī ṣalātī.”(Ya Allah, turunkan ketenangan ke hatiku dalam shalatku).

8. Menguatkan ukhuwah (shalat jamaah) 
📖 Manfaat: Menyamaratakan manusia di hadapan Allah.
🤲 Doa: اللَّهُمَّ وَحِّدْ قُلُوبَنَا بِالصَّلَاةِ وَاجْمَعْنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Allāhumma waḥḥid qulūbanā biṣ-ṣalāt wa ajma‘nā ‘alā ṭā‘atik.”
(Ya Allah, satukan hati kami dengan shalat dan kumpulkan kami dalam ketaatan-Mu).

9. Menjadi pertolongan hidup
📖 Manfaat: QS 2:45 “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.”
🤲 Doa:
‎اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلاةَ عَوْنًا لِي فِي كُلِّ كَرْبٍ
“Allāhummaj‘aliṣ-ṣalāta ‘awnan lī fī kulli karb.” (Ya Allah, jadikan shalat penolongku di setiap kesulitan).

10. Mengangkat derajat di sisi Allah
📖 Manfaat: Shalat khusyu‘ meninggikan maqam hamba.  
🤲 Doa:
‎اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِي بِالصَّلاةِ وَقَرِّبْنِي مِنْكَ
“Allāhumma rfa‘ darajātī biṣ-ṣalāt wa qarribnī minka.” (Ya Allah, angkat derajatku dengan shalat dan dekatkan aku kepada-Mu).

✨ Ringkas: 
10 manfaat shalat → menghapus kibr, mendekatkan Allah, cahaya hati, syukur, ampunan dosa, benteng maksiat, ketenangan, ukhuwah, pertolongan, kenaikan derajat. 
10 doa → bisa dibaca dalam shalat atau setelahnya untuk menguatkan makna-makna tersebut.

15 Siksaan bagi Yang Meremehkan Sholat

Sayyidah Fathimah a.s. bertanya pada Rasul Allah saw; ‘Wahai ayahku! : Apa siksa bagi yang meremehkan sholat, baik ia lelaki maupun perempuan? 

Beliau saw menjawab : “Wahai Fathimah, barangsiapa yang meremehkan sholatnya, lelaki maupun perempuan, maka Allah akan memberinya petaka sebanyak 15 siksa. Enam di antaranya di dunia, tiga di saat kematiannya, tiga di dalam kuburnya, dan tiga pada hari kiamat di saat ia bangun dari kuburnya 

Enam hal yang menimpanya di dunia yaitu: 
1. Allah akan mencabut berkah umurnya. 
2. Allah akan mencabut berkah rezekinya. 
3. Allah akan menghapus ciri orang saleh di mukanya. 
4. Semua amal yang dilakukannya tidak diberi pahala. 
5. Doanya tidak terangkat ke langit.
6. Tidak mendapat bagian di dalam doa orang-orang saleh. 

Adapun 3 hal yang akan menimpanya menjelang kematiannya adalah:  
1. Matinya dalam keadaan terhina.  
2. Matinya dalam keadaan lapar.  
3. Matinya kehausan. Yang sekiranya ia diberi minum satu sungai, hausnya tidak akan hilang.

Sedang 3 hal yang akan menimpanya di dalam kuburnya: 
1. Allah menyerahkan pada malaikat yang menakutkan di dalam kuburannya. 
2. Kuburnya menghimpitnya. 
3. Kuburnya gelap-gulita.

Adapun 3 hal yang akan menimpanya pada hari kiamat, jika dia keluar dari kuburnya: 
1. Allah menyerahkan kepada malaikat untuk menyeretnya (bagai binatang ternak) sedang para makhluk melihatnya. 
2. Dihisab (diperhitungkan) secara ketat. 
3. Allah tidak akan menoleh padanya dan tidak akan mensucikannya dan baginya azab yang pedih”.(Dikutip dari Kitab Tafsir Al-Mu’in, hal. 576).

Doa-doa Sebelum Sholat

Doa Selesai Adzan

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، بَلِّغْ مُحَمَّدًا صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ الدَّرَجَةَ وَالْوَسِيْلَةَ، وَالْفَضْلَ وَالْفَضِيْلَةَ، بِاللهِ اَسْتَفْتِحُ، وَبِاللهِ اَسْتَنْجِحُ، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ اَتَوَجَّهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَاجْعَلْنِىْ بِهِمْ عِنْدَكَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ 

Ya Allah, Duhai Yang memiliki panggilan Yang sempurna dan demi  yang akan ditegakkan anugerahkan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad tingkat (sorga yang paling tinggi) yaitu Washilah, serta keutamaaan yang paling mulia, Dengan Dzat-Mu Ya Allah aku memohon dibukakan dan disukseskan, dengan (perantara) Muhammad dan keluarganya daku bertawajjuh (memohon), Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad jadikanlah daku bersama mereka dalam pengawasan-Mu di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang dekat (dengan-Mu).

Doa Selesai Iqomat

اللَّهُمَّ إلَيْكَ تَوَجَّهْتُ وَمَرْضَاتَكَ طَلَبْتُ وَثَوابَكَ ابْتَغَيْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَلْتُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَافْتَحْ مَسَامِعَ قَلْبِيْ لِذِكْرِكَ وَثَبِّتْنِي عَلَى دِيْنِكَ وَلاَتُزِغْ قَلْبِيْ بَعْدَ إذْ هَدَيْتَنِيْ وَهَبْ لِيْ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Allah daku bertawajjuh pada-Mu, keridhoan-Mu adalah dambaanku, pahala dari-Mu keinginanku, pada-Mu daku beriman dan bertawakal. Ya Allah sampaikan sholawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad. Bukakanlah pendengaran qolbuku untuk berdzikir pada-Mu, tetapkan daku pada dien-Mu, jangan lalaikan qolbuku setelah Engkau beri petunjuk. Karuniakan daku rahmat dari-Mu sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia.

Doa Ketika Hendak Sholat

اللَّهُمَّ إِنِّي أُقَدِّمُ إِلَيكَ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتي، وَأَتَوَجَّهُ بِهِ إِلَيْكَ فَاجْعَلْني بِه وَجِيهًا عِنْدَكَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ، واجْعَلْ صَلاَتِيْ بِهِ مَقْبولَةً وَذَنْبِيْ بِهِ مَغْفُوراً وَدُعَائِيْ بِهِ مُسْتَجَابَا، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيْمَ

Ya Allah sesungguhnya aku utamakan Muhammad dan keluarganya di antara semua hajatku dan aku bermohon kepada-Mu, Ya Allah jadikan daku dengannya terpandang di sisi-Mu baik di dunia maupun di akhirat dan termasuk orang yang didekatkan dan jadikan dengannya sholatku diterima, dosaku diampuni, doaku diterima sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang 

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قَلْبِيْ بَارّاً وَعَيْشِيْقَارّاً وَرِزْقِيْ دَارّاً، وَاجْعَلْ لِيْ عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِمُسْتَقَرًّا وَقَرَاراً

Ya Allah jadikan qolbuku selalu taat, kehidu panku tentram, rizkiku luas, jadikandidalam kubur ku berbahagia bersama Rasulullah saw.

Doa Sebelum Takbiratul Ihram 

Imam Ali a.s. berkata pada sahabatnya: "Barang siapa membaca doa ini sebelum takbiratul ihram Maka Allah berfirman: "Wahai Malaikat-Ku saksi kanlah bahwa Aku sudah memaafkannya dan ridho kepadanya. (Adab membacanya yaitu maju satu langkah ke arah kiblat kemudian baca doa ini)

يَامُحْسِنُ قَدْ اَتَاكَ اَلْمُسِيْءُ، وَقَدْ أَمَرْتَ اَلْمُحْسِنَ اَنْ يَتَجَاوَزَ عَنِ الْمُسِيْءِ وَاَنْتَ الْمُحْسِنُ وَاَنَا اَلْمُسِيْءُ فَبِحَقِّ مُحَمَّدٍوَآلِ مُحَمَّدٍ، صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَآلِ  مُحَمَّدٍ وَتَجَاوَزْ عَنْ قَبِيْحِ مَا تَعْلَمُ مِنِّيْ 

Wahai Yang Maha Baik telah datang pada-Mu orang yang bermaksiat, Engkau menyuruh orang yang baik agar memaafkan orang yang bersalah. Engkaulah Yang Maha Baik dan akulah yang bersalah, Dengan kebenaran Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad, Salam sejahtera atas Muhammad dan keluarga Muhammad, maafkanlah segala yang buruk dariku apa saja yang Engkau ketahui. (dalam membaca doa ini niatkanlah untuk memaafkan orang yang pernah bersalah maupun orang yang pernah kita zalimi agar Allah memaafkannya)

Setelah membaca doa kembali ke posisi semula yaitu mundur satu langkah dan mambaca takbir 6 (enam) kali, di setiap dua takbir membaca doa-doa berikut dengan khusyuk seakan Engkau Melihat-Nya tundukkan pandangan kearah tempat sujud luruskan tangan sambil memegang kedua paha rapatkan kedua kaki hingga jarak kedua tumit selebar 3 jari atau dalam riwayat lain seukuran tapak tangan kemudian baca doa

Doa Setelah Dua Takbir Pertama 

اَللَّهُمَّ اَنْتَ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِىْ فَاغْفِرْلِىْ ذَنْبِىْ فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ

Ya Allah, Engkaulah Tuhan Kebenaran Yang Nyata, tidak ada tuhan kecuali Engkau, Maha suci di-Kau sesungguhnya daku telah menganiayai diri ku maafkan kesalahanku sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosaku kecuali Engkau

Doa Setelah Dua Takbir Kedua 

لَبَّيْكَ وَسَعَدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِى يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ اِلَيْكَ وَالْمَهْدِىُّ مَنْ هَدَيْتَ، عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدَيْكَ ذَلِيْلٌ بَيْنَ يَدَيْكَ، مِنْكَ وَبِكَ وَلَكَ وَاِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا وَلاَ مَفَرَّ مِنْكَ اِلاَّ اِلَيْكَ، سُبْحَانَكَ وَحَنَانَيْكَ، وَتَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، سُبْحَانَكَ رَبَّ الْبَيْتِ 

Kupenuhi panggilan-Mu, aku senang dengan panggilan-Mu, kebaikan berada di tangan-Mu, keburukan bukan dari-Mu, petunjuk hanya didapatkan bagi yang Kau tunjuki, hamba-Mu putra hamba-Mu yang rendah, bersimpuh di hadapan-Mu, (segala sesuatu) dari-Mu, dengan-Mu, untuk-Mu, kepada-Mu, tidak ada tempat didatangi, maupun kembali serta melarikan diri dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu, Maha Suci dan Maha Lembut Dikau, Maha berkah dan Maha Tinggi Engkau, Maha Suci Engkau duhai Tuhan Baitul Haram  

Doa Setelah Dua Takbir Ketiga 

وَجَّهْتُ وَجْهِى لِلَّذِىْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، اِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Aku menghadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi Yang Mengetahui Yang ghaib maupun Yang tampak, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang memper-sekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku hidupku dan matiku untuk Allah pemelihara alam semesta daku tidak menyekutukannya dengan sesuatu dan karenanya aku disuruh dan aku termasuk orang yang menyerahkan diri

Total 20 Tujuan Ibadah atau Syareat Islam Menurut Sayyidah Fathimah Az-Zahra as putri Rasulullah saw Wanita Al-Quran adalah;

1. فَجَعَلَ اللهُ اْلإِيْمَانَ تَطْهِيْرًا لَكُمْ مِنَ الشِّرْكِ، 
1. Allah menjadikan Iman sebagai penyucian bagi kalian dari kemusyrikan. 

2. وَالصَّلاَةَ تَنْزِيْهًا لَكُمْ عَنِ الْكِبْرِ، 
2. Sholat sebagai pembersih dari kesombongan.

3. وَالزَّكَاةَ تَزْكِيَةً لِلنَّفْسِ وَنِمَاءً فِي الرِّزْقِ، 
3. Zakat sebagai penyucian diri dan pengembangan rizqi.

4. وَالصِّيَامَ تَثْبِيْتًا لِلإِْخْلاَصِ، 
4. Puasa sebagai pengokoh keikhlasan.

5. وَالْحَجَّ تَشْيِيْدًا لِلدِّيْنِ، 
5. Haji untuk meninggikan agama.

6. وَالْعَدْلَ تَنْسِيْقًا لِلْقُلُوْبِ، 
6. Keadilan sebagai ketertiban jiwa.

7. وَطَاعَتَنَا نِظَامًا لِلْمِلَّةِ، 
7. Taat pada kami sebagai sistem keagamaan.

8. وَإِمَامَتَنَا أَمَانًا لِلْفُرْقَةِ، 
8. Kepemimpinan kami sebagai penjaga dari cerai-berai.

9. وَالْجِهَادَ عِزًّا لِلإِْسْلاَمِ، 
9. Jihad sebagai kehormatan agama.

10. وَالصَّبْرَ مَعُوْنَةً عَلَى اسْتِيْجَابِ اْلأَجْرِ،
10. Sabar sebagai penopang untuk memperoleh pahala.

11. وَاْلأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ مَصْلِحَةً لِلْعَامَّةِ، 
11. Amar ma'ruf sebagai usaha perbaikan sosial.

12. وَبِرَّ الْوَالِدَيْنِ وِقَايَةً مِنَ السَّخَطِ، 
12. Bakti pada kedua orang tua sebagai langkah menghindari kemurkaan.

13. وَصِلَةَ اْلأَرْحَامِ مَنْسَاءً فِي الْعُمْرِ وَمَنْمَاةً لِلْعَدَدِ، 
13. Silaturrahmi sebagai pemanjang umur dan sarana bagi pertumbuhan nilai.

14. وَالْقِصَاصَ حِقْنًا لِلدِّمَاءِ، 
14. Qishas sebagai pelindung jiwa.

15. وَالْوَفَاءَ بِالنَّذْرِ تَعْرِيْضًا لِلْمَغْفِرَةِ، 
15. Memenuhi Nazar untuk mendapatkan ampunan.

16. وَتَوْفِيَةَ الْمَكَايِيْلِ وَالْمَوَازِيْنِ تَغْيِيْرًا لِلْبَخْسِ.
16. Benar dalam timbangan dan takaran untuk merubah ketidaklayakan.

17. وَالنَّهْيَ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ تَنْزِيْهًا عَنِ الرِّجْسِ، 
17. Larangan meminum khamer untuk membersihkan dari kotoran.

18. وَاجْتِنَابَ الْقَذْفِ حِجَابًا عَنِ اللَّعْنَةِ، 
18. Menjauhi menuduh (zina) tanpa dasar sebagai tabir penyelamat dari kutukan.

19. وَتَرْكَ السِّرْقَةِ اِيْجَابًا لِلْعِصْمَةِ، 
19. Melarang pencurian agar terjaga harga diri.

20. وَحَرَّمَ اللهُ الشِّرْكَ إِخْلاَصًا لَهُ بِالرُّبُوْبِيَّةِ.
20. Mengharamkan syirik sebagai pemurnian sifat (ketuhannan). 


Semoga bermanfaat!!!
Mohon Doanya!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala