Tidur Setelah Subuh, Dhuhur dan Asar

Memang dalam literatur Arab klasik dan adab Islami, ada beberapa istilah untuk tidur di waktu tertentu:

1. Hailulah (الهيلولة)
➤ Tidur setelah Subuh hingga matahari terbit.
Banyak ulama dan ahli hikmah tidak menganjurkan tidur di waktu ini.
Dikatakan bisa mengurangi rezeki dan membuat badan lemah, karena itu waktu turunnya keberkahan pagi.
Nabi ﷺ bersabda:
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Jadi tidur di waktu ini disebut hailulah.

2. Qailulah (القيلولة)
➤ Tidur setelah Dzuhur atau sebelum Dzuhur sebentar.
Disunnahkan oleh Nabi ﷺ.
Sabda Nabi ﷺ:
“Qailulah-lah kalian, karena setan tidak ber-qailulah.”
(HR. Abu Nu‘aim, juga disebut dalam al-Jami‘ ash-Shaghir)
Ini tidur siang sejenak yang memberi tenaga untuk ibadah malam (qiyam al-layl).

3. ‘Ailulah (الغيلولة / العيلولة)
➤ Tidur setelah Ashar.
Tidur di waktu ini juga tidak dianjurkan.
Dalam beberapa atsar disebut bisa menyebabkan “gangguan pikiran” atau “kebingungan”, meski tidak berdasar hadis sahih.
Namun dari sisi medis modern pun, tidur sore menjelang Maghrib bisa membuat kepala berat dan sulit tidur malam.

Jadi urutannya:
Setelah Subuh Hailulah
Tidak disukai Waktu turunnya keberkahan rezeki
Sekitar Dzuhur Qailulah
Disunnahkan Tidur siang singkat
Setelah Ashar ‘Ailulah
Tidak disukai Bisa ganggu kesehatan/pikiran

Kita masuk ke wilayah adab waktu menurut Ahlul Bayt (ʿalaihimussalām) dan ahl al-maʿrifah (para arif). Mereka tidak hanya melihat tidur dari sisi fisik, tapi juga dari hakikat cahaya dan kegelapan spiritual dalam setiap waktu. 

Mari kita uraikan perlahan:
🌅 1. Hailulah – Tidur setelah Subuh 
📜 Pandangan Ahlul Bayt:
Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bayt, waktu antara Subuh dan terbit matahari disebut sebagai waktu barakah (keberkahan).
Imam Ja‘far ash-Shadiq (ʿa) berkata:
Sesungguhnya rezeki dibagikan antara terbit fajar hingga terbit matahari. Maka janganlah kalian tidur di waktu itu.”
(Bihār al-Anwār, jilid 75, hlm. 176)
Imam ‘Ali (ʿa) juga berkata:
“Tidur di pagi hari menghalangi rezeki dan membuat wajah gelap.”
(Ghurar al-Hikam, no. 5822)

📿 Makna makrifatnya:
Waktu Subuh adalah saat terbitnya cahaya ruhani — simbol keluarnya hati dari malam kegelapan menuju nur Ilahi.
Tidur di waktu ini diibaratkan oleh para arif sebagai “kembali menutup mata batin” ketika cahaya rahmat sedang turun.
Dalam bahasa halus: “Engkau tertidur ketika Tuhan sedang membangunkanmu.”

🌞 2. Qailulah – Tidur siang (sebelum atau sesudah Dzuhur)
📜 Pandangan Ahlul Bayt:   
Imam ‘Ali (ʿa) bersabda: “Istirahatlah (qailulah), karena bumi dan langit pun beristirahat pada tengah hari.”
(Nahj al-Balāghah, hikmah 390 – sebagian riwayat tafsirnya demikian)
Imam Shadiq (ʿa) juga menganjurkan tidur sejenak di siang hari agar kuat beribadah di malam hari (al-Kāfi, jilid 8, hlm. 150).

📿 Makna makrifatnya:
Qailulah adalah simbol tawakkul dan tazakkur — penyerahan diri sejenak di tengah hiruk-pikuk dunia.
Para arif mengatakan:”Qailulah itu bukan sekadar tidur badan, tapi istirahat hati dari dunia.”  • Mereka menyebut waktu Dzuhur sebagai sirr ar-raḥmah — rahasia kasih Allah turun ke makhluk. Maka tidur singkat di saat itu seolah “berbaring di pangkuan rahmat”.

🌇 3. ‘Ailulah / Ghaylulah – Tidur setelah Ashar 
📜 Pandangan Ahlul Bayt:  
Imam ‘Ali (ʿa) berkata: “Tidur setelah Ashar menimbulkan kebodohan (ghaflah).”
(Ghurar al-Hikam, no. 9623)
Dalam Wasā’il ash-Shīʿah, Imam Shadiq (ʿa) menyebut waktu sore sebagai waktu “hisab amal siang”, maka tidur di waktu itu diumpamakan lalai sebelum catatan amal diserahkan.

📿 Makna makrifatnya:
Waktu Ashar adalah waktu “kembali” — waktu penarikan cahaya amal hari itu ke alam ghaib.
Para arif menafsirkannya sebagai maqām al-rujū‘ (kedudukan kembalinya hati kepada asalnya).
Tidur di waktu ini menandakan ghaflah (kelengahan) dari muhasabah (introspeksi), seolah seseorang tertidur saat malaikat menulis laporan amalnya.

🌌 Kesimpulan Hikmah Makrifat
Setelah Subuh Hailulah
Tidak disukai Cahaya sedang turun; tidur berarti lalai dari nur rezeki dan rahmah

Tengah hari (Dzuhur) Qailulah
Disunnahkan Rehat dalam rahmat; penyegaran ruh untuk malam ibadah

Setelah Ashar ‘Ailulah
Tidak disukai Waktu muhasabah; tidur berarti lupa dari penyerahan amal

🕊 Kata para arif: “Tidur itu cermin dari mati, maka siapa mengenal waktu tidurnya, ia mengenal saat bangunnya di sisi Tuhan.”
Ahl al-haqīqah wa al-ma‘rifah (para pencinta hakikat dan arif billāh), yaitu mereka yang membaca waktu bukan dengan jam, tapi dengan nafas dan nur Ilahi. 

Berikut penjelasan pandangan mereka tentang tidur di tiga waktu (hailulah, qailulah, ‘ailulah), dalam makna batiniah dan hakikatnya.

🌅 1. Hailulah – Tidur Setelah Subuh 
🕊 Makna lahir:
Tidur di waktu ini dimakruhkan karena ia menghalangi keberkahan pagi dan rezeki. 
🌌 Makna hakikat menurut para arif:
Para ahli makrifat berkata:”Subuh adalah waktu kelahiran ruh dari kegelapan malam menuju cahaya Tuhan.” 
 • Waktu Subuh disebut waktu tajallī an-nūr (penyingkapan cahaya). Ruh manusia di waktu itu sangat halus, dan hati mudah menerima ilham.  
Siapa yang tidur di waktu ini, ia menutup kembali tabir ruhnya, padahal pintu rahmat baru saja dibuka. Dalam istilah para sufi: “Al-haylūlah hijāb al-fajr” — hailulah adalah tabir yang menghalangi fajar ruhani. Artinya: ketika cahaya sedang muncul, orang yang tidur di waktu itu tidak menyaksikan tajallī al-awwal (penampakan pertama), yaitu pancaran awal cahaya hati dari Rabb. 
💠 Ibn ʿArabī menyebut waktu Subuh sebagai nafkh al-rūḥ fī al-ʿālam — hembusan ruh ke alam setiap hari. Maka tidur di waktu ini berarti “meninggalkan jamuan awal hari” yang disiapkan oleh Tuhan di hati hamba-Nya.

🌞 2. Qailulah – Tidur Siang (Sekitar Dzuhur) 
🕊 Makna lahir:
Dianjurkan oleh Nabi ﷺ dan para Imam Ahlul Bayt (‘a). Menambah kekuatan untuk malam hari dan menjaga keseimbangan jasad.
🌌 Makna hakikat menurut para arif: Para ahli hakikat melihat qailulah sebagai tidur hati dalam ketenangan penyerahan diri (taslīm). 
Mereka berkata:”Qailulah adalah fana’ jasmani agar qalbu bisa qiyām di malam hari.” Maksudnya, dengan menidurkan tubuh sebentar, jiwa berlatih sukūn (diam) dan ridha kepada takdir siang itu. • Waktu Dzuhur juga disebut waktu wasathiyyah — titik tengah antara dua tepi: malam dan siang, ghaib dan syuhūd. Maka qailulah adalah simbol tawassut (keseimbangan).
🕯 Dalam tafsir isyari (hakikat), qailulah adalah:”Tidur orang yang sudah terjaga — bukan karena lalai, tapi karena kembali pada asalnya.”Yakni tidur yang bukan karena lelah dunia, tapi karena jiwa sedang dalam sakīnah (ketenangan yang turun dari Allah). Para sufi mengatakan: “Qailulah al-ʿārifīn hiya ghamḍ al-baṣar ʿan al-khalq” – Qailulah bagi para arif ialah menutup mata dari makhluk sejenak agar hati bersandar pada al-Ḥaqq.

🌇 3. ‘Ailulah (atau Ghaylulah) – Tidur Setelah Ashar
🕊 Makna lahir:
Tidur setelah Ashar tidak disukai, karena waktu itu adalah waktu “penutupan amal siang” dan dapat mengganggu keseimbangan tubuh.
🌌 Makna hakikat menurut para arif: 
Waktu Ashar adalah waktu kembali (rujūʿ) — cahaya amal manusia sejak pagi ditarik kembali ke alam malakut. Maka para arif berkata: “Siapa yang tertidur setelah Ashar, ia lalai dari muhasabah sebelum catatan amal naik.”Bagi ahli hakikat, tidur di waktu ini adalah tidur dalam ghaflah (kelalaian) — simbol tertutupnya kesadaran batin ketika ruh sedang menengok hasil perjalanannya sepanjang hari. 
Dalam bahasa Ibn ʿArabī: “Ashar adalah majma‘ ar-rujū‘ — tempat berkumpulnya segala amal untuk dikembalikan kepada asalnya.”Tidur di waktu itu berarti “tertidur saat Tuhan sedang menampakkan hasil usahamu.”Sayyid Ḥaydar Āmulī (sufi Syi‘ah besar) memberi tafsir halus: Hailulah adalah lalai dari cahaya awal, Qailulah adalah istirahat dalam tengah cahaya, Ailulah adalah lalai dari penarikan cahaya.” 
Maksudnya:
Setelah Subuh → saat cahaya turun → jangan tertidur, agar menerima rahmat.
Dzuhur → saat rahmat stabil → boleh tenang sebentar.
Ashar → saat cahaya diangkat → jangan lalai, agar dapat muhasabah.

✨ Rangkuman Hikmah Makrifat
Setelah Subuh Hailulah Turunnya cahaya pertama (tajallī awal) Jangan tidur – waktu isyraq al-nūr
Tengah Hari (Dzuhur) Qailulah Ketenangan tengah (taslīm dan tawassut) Tidur singkat – waktu sakīnah
Setelah Ashar ‘Ailulah Pengembalian cahaya amal (rujūʿ) Jangan tidur – waktu muhasabah

🌿 Kesimpulan hakikat:
Tidur bukan sekadar istirahat tubuh — ia adalah simbol kesadaran dan kelalaian ruh.
Siapa yang menjaga waktu-waktu tidurnya dengan adab, menjaga jam batinnya agar seirama dengan jam Ilahi.
Dan siapa yang mengenal rahasia waktu, maka setiap tidurnya adalah dzikir, dan setiap bangunnya adalah mi‘raj.


Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit