WIRID HARI JUM'AT

Sholawat dan dzikir penuh cinta dan penantian, sering diamalkan oleh para pecinta Ahlulbait (ʿalayhim as-salām):

‎اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad, wa ‘ajjil farajahum.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan segerakanlah (datangnya) kelegaan dan kemunculan (Imam Mahdi mereka).”

Kalimat ini jika diulang 100 kali, menjadi bentuk tawassul dan istighātsah kepada Allah agar mempercepat faraj (kelegaan, kemunculan Imam al-Mahdi عجل الله تعالى فرجه الشريف), sekaligus memperbanyak shalawat — dzikir yang paling tinggi nilainya dalam hadis.

Imam Ja‘far ash-Shādiq (ع) bersabda:
“Barang siapa memperbanyak shalawat kepada Muhammad dan Āli Muhammad, maka Allah akan memenuhi segala kebutuhannya di dunia dan akhirat.”
(Bihār al-Anwār, jilid 91, hlm. 49)

🌿 1. Sholawat adalah cermin hubungan antara Khalik dan makhluk

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi…”
(QS. Al-Ahzab [33]: 56)
🔹 Hakikatnya: Sholawat bukan hanya doa manusia untuk Nabi, tapi partisipasi manusia dalam arus sholawat yang sudah lebih dahulu dimulai oleh Allah dan malaikat.
🔹 Makrifatnya: Ketika seseorang bersholawat, ia sedang menyelaraskan jiwanya dengan tashbih Ilahi — mengikuti arus cinta Allah kepada makhluk pilihan-Nya.
➡️ Dengan itu, sholawat menjadi mediasi antara fana makhluk dan baqa Ilahi.

🌸 2. Sholawat adalah saluran rahmat Ilahi

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)
🔹 Hakikatnya: “Sholawat Allah” kepada hamba berarti pancaran rahmat dan cahaya kesucian (nūr).
🔹 Makrifatnya: Setiap kali seseorang bersholawat dengan hati hadir, ia sedang membuka jalur rahmat, baik kepada Nabi maupun dirinya sendiri.
➡️ Maka sholawat adalah energi spiritual pembersih ruh dan pengundang karunia.

🌺 3. Sholawat adalah jalan menuju ma‘rifat Rasul dan hakikat insan kamil

Nabi adalah “rahmatan lil-‘alamin” dan “uswah hasanah”.
🔹 Hakikatnya: Sholawat adalah sarana ta‘arruf (pengenalan) terhadap maqam Rasul — manusia sempurna yang menjadi cermin nama-nama Allah.
🔹 Makrifatnya: Dengan banyak bersholawat, tabir-tabir ego dan keakuan tersingkap, hingga seorang salik dapat merasakan kehadiran Nur Muhammad dalam batinnya.
➡️ Sholawat mengantarkan pada ma‘rifat an-Nabi — dan dari situ menuju ma‘rifatullah.

🌷 4. Sholawat adalah kunci keterhubungan rohani antara umat dan Nabi

Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) berkata:
“Tidak ada doa yang tertolak antara langit dan bumi kecuali disertai sholawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”
🔹 Hakikatnya: Sholawat menjadikan doa menembus hijab, sebab ia mengandung nama yang paling dicintai Allah.
🔹 Makrifatnya: Sholawat adalah tali cahaya yang menghubungkan ruh umat dengan ruh Nabi, sehingga doa, zikir, dan amal memiliki nyawa rohani.
➡️ Tanpa sholawat, amal laksana tubuh tanpa ruh.

🌼 5. Sholawat adalah pengaktifan Nur Muhammad dalam diri

Dalam irfan, Nur Muhammad disebut “hakikat pertama dari segala ciptaan”.
🔹 Hakikatnya: Sholawat adalah panggilan pada cahaya asal ruh manusia — sebab seluruh ruh berasal dari Nur Muhammad.
🔹 Makrifatnya: Dengan istiqamah bersholawat, seseorang mulai menyaksikan bahwa segala kebaikan, ilmu, dan rahmat berasal dari satu sumber cahaya itu.
➡️ Pada tingkat ini, sholawat menjadi dzikir kesatuan — “Tiada aku, hanya Nur Muhammad yang bersinar.”

🌟 Kesimpulan Makrifat
Sholawat bukan sekadar lafaz atau ritual, melainkan gerak cinta kosmik:
Allah mencintai Nabi,
Malaikat memuliakan Nabi,
Manusia meniru cinta itu — hingga dirinya pun tersucikan oleh cinta yang sama.

5 hakikat dan makrifat sholawat menurut ajaran Ahlul Bayt (as), berdasarkan Al-Qur’an, hadis-hadis mereka, dan tafsir irfani:

1. Sholawat adalah perintah Ilahi dan manifestasi rahmat Allah

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat atas Nabi. Wahai orang-orang beriman, bersholawatlah kalian atasnya dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benar salam.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 56)
🔹 Menurut Ahlul Bayt (as):
Imam Ja‘far ash-Shadiq (as) menjelaskan bahwa sholawat Allah berarti rahmat dan tazkiyah (penyucian), sedangkan sholawat malaikat berarti permohonan ampun, dan sholawat mukmin berarti pengakuan serta kesetiaan kepada Nabi dan keluarganya.
🔹 Makrifatnya:
Dengan bersholawat, manusia sedang menyambung diri pada aliran rahmat Ilahi yang terus turun melalui Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bayt-nya.
➡️ Jadi sholawat bukan sekadar doa, tapi dzikir tauhid yang menghubungkan makhluk dengan sumber rahmat Allah.

2. Sholawat adalah tali wilayah (loyalitas ruhani)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian bersholawat kepadaku dengan sholawat yang terpotong, tetapi ucapkanlah: ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad’.”
(HR. Al-Kafi, jilid 2)
🔹 Hakikatnya:
Sholawat tanpa menyertakan Aali Muhammad (keluarga Nabi) dianggap “sholawat maqthu‘ah” — sholawat yang terputus dari sumbernya.
Sebab, Ahlul Bayt (as) adalah perpanjangan nur dan risalah Nabi.
🔹 Makrifatnya:
Menyebut Aali Muhammad dalam sholawat berarti menyambungkan hati kepada rantai cahaya wilayah, yang menjadi saluran ma‘rifat dan rahmat Ilahi.
➡️ Sholawat adalah ikrar cinta dan kesetiaan rohani (wilayah).

3. Sholawat adalah pembersih dosa dan penenang hati

Imam Ali (as) bersabda:
“Sholawat atas Nabi dan keluarganya dapat menghapus dosa lebih cepat daripada air yang memadamkan api.”
(Nahj al-Balaghah, Hikmah 110)
🔹 Hakikatnya:
Sholawat memancarkan cahaya nur Muhammadī ke dalam qalb, membakar kegelapan dosa.
🔹 Makrifatnya:
Sholawat sejati bukan hanya ucapan, tapi zikir yang menghadirkan cahaya kenabian dalam diri, sehingga hati menjadi suci, tenang, dan condong kepada Allah.
➡️ Ia adalah tazkiyah batin.

4. Sholawat adalah syafaat dan peneguh doa

Imam ash-Shadiq (as) berkata:
“Setiap doa tertahan antara langit dan bumi hingga disertai sholawat kepada Muhammad dan Aali Muhammad.”
(Al-Kafi, jilid 2)
🔹 Hakikatnya:
Sholawat membuka pintu maqbulnya doa, karena ia mengandung nama yang paling mulia di sisi Allah.
🔹 Makrifatnya:
Sholawat menghubungkan doa hamba dengan “pintu Allah” — yaitu Rasul dan Ahlul Bayt (as).
➡️ Maka segala doa dan amal menjadi hidup bila diliputi sholawat.

5. Sholawat adalah jalan menuju ma‘rifat Nabi dan Nur Muhammad

Imam al-Baqir (as) berkata:
“Sesungguhnya Allah menciptakan kami dari cahaya kebesaran-Nya, lalu menjadikan cinta kepada kami sebagai ibadah.”
(Bihar al-Anwar, 26/1)
🔹 Hakikatnya:
Dalam irfan Ahlul Bayt, Nur Muhammad wa Aali Muhammad adalah hakikat pertama penciptaan (al-Haqiqatul Muhammadiyyah) — sumber segala rahmat.
🔹 Makrifatnya:
Dengan banyak bersholawat, seseorang mulai menyatu dalam arus nur tersebut, mengenali hakikat kenabian dalam batin dirinya — dan itu menjadi jalan menuju ma‘rifatullah.
➡️ Sholawat adalah pintu menuju kesatuan cahaya Ilahi.

🌺 Kesimpulan menurut Ahlul Bayt (as)
Sholawat = Rahmat Ilahi + Wilayah + Tazkiyah + Syafaat + Ma‘rifat.
Ia bukan sekadar lafaz, tetapi dzikir tauhid yang menyingkap nur Muhammad di dalam qalb manusia.
Oleh sebab itu, setiap ibadah yang disertai sholawat menjadi bercahaya, dan setiap zikir tanpa sholawat menjadi kering.

“Syariat Nurani” adalah istilah yang jarang dipahami secara lahiriah, tapi dalam pandangan Ahlul Bayt (as) dan para arifin (ʿurafā’), ia adalah inti makna syariat yang hidup oleh cahaya (nur), bukan sekadar hukum yang kaku.Mari kita uraikan pelan-pelan — agar tampak hubungan antara syariat lahir, hakikat batin, dan nur makrifat.

🌿 1. Pengertian Syariat Nurani
Secara umum:
Syariat = jalan lahir yang ditetapkan Allah.
Nurani = bercahaya dari dalam (bersumber dari nur Ilahi).
🔹 Jadi syariat nurani adalah syariat yang disinari oleh nur ma‘rifat,
yakni pengamalan agama yang tidak hanya dilakukan oleh jasad, tapi juga oleh cahaya hati (nur qalb).
Dalam kata lain:
Syariat tanpa nur = kering dan mekanis.
Nur tanpa syariat = tersesat dan tak bertapak.
Maka, syariat nurani adalah perpaduan zahir dan batin, hukum dan hikmah, amal dan cahaya.

🌸 2. Dasar Qur’ani dan Ahlul Bayt (as)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Syariatku adalah ucapan, thariqatku adalah amal, hakikatku adalah niat, dan ma‘rifatku adalah cahaya dalam hatimu.”
Imam Ali (as) berkata:
“Awal agama adalah mengenal-Nya, kesempurnaannya adalah membenarkan-Nya, dan puncaknya adalah menyinari dengan cahaya-Nya.”
(Nahj al-Balaghah, Khutbah 1)
🔹 Ini menunjukkan bahwa setiap hukum lahir (syariat) memiliki ruh batin (nur) yang menuntun hamba menuju makrifat.
➡️ Maka yang disebut “syariat nurani” adalah syariat yang telah dihidupkan oleh cahaya ma‘rifatullah.

🌺 3. Ciri-ciri Syariat Nurani
Berikut lima ciri utamanya menurut irfan Ahlul Bayt:

a. Ibadah dengan kehadiran hati
Orang nurani tidak sekadar mengerjakan shalat, tapi menyaksikan Kehadiran Allah di dalam shalat.
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Ṭāhā: 14)
➡️ Bukan hanya tubuh yang rukuk dan sujud, tapi hati ikut sujud dengan nur.

b. Syariat yang melahirkan akhlak
Imam ash-Shadiq (as):
“Agama bukan sekadar shalat dan puasa, tetapi akhlak yang bersinar dari hati yang mengenal Allah.”
➡️ Tanda syariat yang nurani: ia memunculkan rahmah, kasih, sabar, dan tawadhu‘, bukan kesombongan atas amal.

c. Amal disinari cinta (mahabbah)
Syariat nurani berakar dari cinta kepada Allah dan Ahlul Bayt (as).
Tanpa cinta, amal adalah tubuh tanpa ruh.
Dengan cinta, setiap amal memancarkan cahaya nur.
➡️ “Barang siapa mencinta kami (Ahlul Bayt), amalnya terangkat bersama cahaya.” (Imam al-Baqir as)

d. Nur syariat menerangi batin
Ketika seseorang menempuh syariat dengan ikhlas, nur amal itu perlahan menyucikan batin dari kegelapan hawa nafsu.
➡️ Itulah makna firman Allah:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

e. Kesatuan lahir dan batin
Dalam pandangan Ahlul Bayt, hakikat syariat dan syariat hakikat bukan dua jalan yang terpisah.
Imam Ali Zainal Abidin (as) dalam Sahifah Sajjadiyyah menunjukkan bahwa setiap amal lahir adalah cermin keadaan ruhani — setiap gerak tubuh memiliki gema cahaya dalam hati.
➡️ Maka syariat nurani adalah jalan kesatuan antara hukum lahir dan kesadaran batin.

🌷 4. Sholawat sebagai Puncak Syariat Nurani
Dalam kerangka Ahlul Bayt (as), sholawat adalah manifestasi paling terang dari syariat nurani.
Lahirnya: lafaz doa dan zikir.
Batinnya: cinta, kesetiaan, dan penyucian ruh.
Nurannya: penyatuan dengan Nur Muhammad.
➡️ Dengan sholawat, syariat lahir (ucapan) berubah menjadi arus nur yang menghubungkan hamba dengan sumber cahaya kenabian.

🌼 5. Kesimpulan Makrifat
Syariat Nurani = Syariat + Cahaya.
Ia adalah tingkat ibadah ketika seseorang tidak lagi menjalankan agama karena kewajiban,
melainkan karena cinta dan kesadaran nur Ilahi dalam dirinya.
Imam Ali (as) menyimpulkan:
“Aku tidak menyembah Tuhan karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena aku melihat-Nya layak disembah.”
(Nahj al-Balaghah, Hikmah 237)
➡️ Itulah kalimat yang menandai seorang hamba telah memasuki maqam Syariat Nurani —
syariat yang telah hidup oleh cahaya ma‘rifatullah.


💙 ZIARAH HARI JUMAT 💙
Ziyarah yang ditujukan kepada Imam al-Mahdi (عجّل الله تعالى فرجه الشريف):

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا حُجَّةَ اللهِ في اَرْضِهِ

As-salāmu ‘alayka yā ḥujjata Allāhi fī arḍih.

“Salam sejahtera atasmu, wahai Hujjatullah (bukti/argumen Allah) di bumi-Nya.”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا عَيْنَ اللهِ في خَلْقِهِ

As-salāmu ‘alayka yā ‘ayna Allāhi fī khalqih.

“Salam atasmu, wahai mata (pengawasan) Allah di antara makhluk-Nya.”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا نُورَ اللهِ الَّذي يَهْتَدي بِهِ الْمُهْتَدُونَ وَيُفَرَّجُ بِهِ عَنِ الْمُؤْمِنينَ

As-salāmu ‘alayka yā nūra Allāhi alladhī yahtadī bihil-muhtadūn wa yufarraju bihi ‘anil-mu’minīn.

“Salam atasmu, wahai cahaya Allah yang dengannya orang-orang yang mendapat petunjuk memperoleh hidayah, dan dengannya pula kaum mukminin mendapatkan kelapangan.”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا الْمُهَذَّبُ الْخائِفُ

As-salāmu ‘alayka ayyuhal-muhadhdhabul-khā’if.

“Salam atasmu, wahai yang suci dan penuh ketakwaan (yang takut kepada Allah).”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا الْوَلِيُّ النّاصِحُ

As-salāmu ‘alayka ayyuhal-waliyyun-nāṣiḥ.

“Salam atasmu, wahai wali (pemimpin) yang penuh nasihat dan kasih.”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا سَفينَةَ النَّجاةِ

As-salāmu ‘alayka yā safīnatan-najāh.

“Salam atasmu, wahai bahtera keselamatan.”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا عَيْنَ الْحَياةِ

As-salāmu ‘alayka yā ‘aynal-ḥayāh.

“Salam atasmu, wahai sumber kehidupan.”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ وَعَلى آلِ بَيْتِكَ الطَّيِّبينَ الطّاهِرينَ

As-salāmu ‘alayka ṣallallāhu ‘alayka wa ‘alā āli baytikaṭ-ṭayyibīnaṭ-ṭāhirīn.

“Salam atasmu. Semoga Allah melimpahkan salawat atasmu dan atas Ahlulbaitmu yang baik dan suci.”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ عَجَّلَ اللهُ لَكَ ما وَعَدَكَ مِنَ النَّصْرِ وَظُهُورِ الاَْمْرِ

As-salāmu ‘alayka ‘ajjala Allāhu laka mā wa‘adaka minan-naṣri wa ẓuhūril-amr.

“Salam atasmu. Semoga Allah segera menunaikan kepadamu janji kemenangan dan kemunculan urusan (kebenaran).”

‎اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا مَوْلايَ

As-salāmu ‘alayka yā mawlāya.

“Salam atasmu, wahai tuanku.”

‎اَنَا مَوْلاكَ عارِفٌ بِاُولاكَ وَاُخْراكَ

Anā mawlāka ‘ārifun bi-ulāk wa ukh’rāk.

“Aku adalah pengikutmu, mengenal yang awal dan akhir darimu.”

‎اَتَقَرَّبُ اِلَى اللهِ تَعالى بِكَ وَبِآلِ بَيْتِكَ

Ataqarrabu ilallāhi ta‘ālā bika wa bi-āli baytika.

“Aku mendekatkan diri kepada Allah Yang Mahatinggi melalui engkau dan keluargamu.”

‎وَاَنْتَظِرُ ظُهُورَكَ وَظُهُورَ الْحَقِّ عَلى يَدَيْكَ

Wa antazhiru ẓuhūraka wa ẓuhūral-ḥaqqi ‘alā yadayk.

“Aku menantikan kemunculanmu dan munculnya kebenaran melalui tanganmu.”

‎وَأَسْأَلُ اللهَ اَنْ يُصَلِّيَ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد

Wa as’alu Allāha an yuṣalliya ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad.

“Dan aku memohon kepada Allah agar bersalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”

‎وَاَنْ يَجْعَلَنى مِنَ الْمُنْتَظِرينَ لَكَ وَالتّابِعينَ وَالنّاصِرينَ لَكَ عَلى اَعْدائِكَ وَالْمُسْتَشْهَدينَ بَيْنَ يَدَيْكَ في جُمْلَةِ اَوْلِيائِكَ

Wa an yaj‘alanī minal-muntaẓirīna laka wat-tābi‘īna wan-nāṣirīna laka ‘alā a‘dā’ika wal-mustash-hadīna bayna yadayka fī jumlati awliyā’ika.

“Dan semoga Dia menjadikanku termasuk orang-orang yang menantikanmu, mengikuti dan menolongmu melawan musuh-musuhmu, serta gugur (syahid) di hadapanmu di tengah barisan para wali-Mu.”

‎يا مَوْلايَ يا صاحِبَ الزَّمانِ صَلَواتُ اللهِ عَلَيْكَ وَعَلى آلِ بَيْتِكَ

Yā mawlāya yā ṣāḥibaz-zamān ṣalawātu Allāhi ‘alayka wa ‘alā āli baytika.

“Wahai tuanku, wahai pemilik zaman, semoga salawat Allah tercurah atasmu dan atas keluargamu.”

‎هذا يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ يَوْمُكَ الْمُتَوَقَّعُ فيهِ ظُهُورُكَ

Hādhā yawmul-jumu‘ah wa huwa yawmuka al-mutawaqqa‘u fīhi ẓuhūruk.

“Hari ini adalah hari Jumat, dan ia adalah harimu, hari yang diharapkan padanya kemunculanmu.”

‎وَالْفَرَجُ فيهِ لِلْمُؤْمِنينَ عَلى يَدَيْكَ وَقَتْلُ الْكافِرينَ بِسَيْفِكَ

Wal-faraju fīhi lil-mu’minīna ‘alā yadayk wa qatlu al-kāfirīna bisayfik.

“Dan pada hari itu, kelapangan (kemenangan) bagi kaum mukmin di tanganmu, serta kebinasaan orang-orang kafir oleh pedangmu.”

‎وَاَنَا يا مَوْلايَ فيهِ ضَيْفُكَ وَجارُكَ

Wa anā yā mawlāya fīhi ḍayfuka wa jāruk.

“Dan aku, wahai tuanku, pada hari ini adalah tamu dan tetanggamu (yang berlindung padamu).”

‎وَاَنْتَ يا مَوْلايَ كَريمٌ مِنْ اَوْلادِ الْكِرامِ وَمَأْمُورٌ بِالضِّيافَةِ وَالاِْجارَةِ

Wa anta yā mawlāya karīmun min awlādil-kirām wa ma’mūrun biḍ-ḍiyāfati wal-ijārah.

“Dan engkau, wahai tuanku, adalah yang mulia dari keturunan orang-orang mulia, yang diperintahkan untuk menjamu dan memberi perlindungan.”

‎فَاَضِفْني وَاَجِرْني صَلَواتُ اللهِ عَلَيْكَ وَعَلى اَهْلِ بَيْتِكَ الطّاهِرينَ

Fa aḍifnī wa ajirnī ṣalawātu Allāhi ‘alayka wa ‘alā ahli baytikaṭ-ṭāhirīn.

“Maka jamulah aku dan lindungilah aku. Salawat Allah atasmu dan atas keluargamu yang suci.”

🌹🌹🌹🌹

Ilahi Robbi... Hari ini hari jumat jadikanlah hari yang baik untuk kami semua dengan meningkatkan amal kebaikan demi Bahagianya hati Sohibuz Zaman Aj,, dan di hari jumat ini jadikanlah hari terpilih untuk pengabulan doa kami, terwujudnya harapan kami Bihaqqi Muhammad Wa Aali Muhammad Istajib du'a

🤲🏻🤲🏻🤲🏻🌹🌹🌹 

Doa Hari Jumat

‎اَلْحَمْدُ للهِِ الاَْوَّلِ قَبْلَ الاِْنْشاءِ وَالاِْحْياءِ

Al-ḥamdu lillāhil-awwali qabla al-inshā’i wal-iḥyā’.

“Segala puji bagi Allah, yang pertama sebelum penciptaan dan kehidupan.”

‎وَالاْخِرِ بَعْدَ فَناءِ الاَْشْياءِ

Wal-ākhiri ba‘da fanā’il-ashyā’.

“Dan yang terakhir setelah segala sesuatu musnah.”

‎الْعَليمِ الَّذى لا يَنْسى مَنْ ذَكَرَهُ

Al-‘alīmil-ladhī lā yansā man dhakarah.

“Yang Maha Mengetahui, yang tidak melupakan siapa pun yang mengingat-Nya.”

‎وَلا يَنْقُصُ مَنْ شَكَرَهُ

Wa lā yanquṣu man shakarah.

“Dan tidak mengurangi (nikmat) orang yang bersyukur kepada-Nya.”

‎وَلا يَخيبُ مَنْ دَعاهُ

Wa lā yakhību man da‘āh.

“Dan tidak mengecewakan siapa yang memohon kepada-Nya.”

‎وَلا يَقْطَعُ رَجاءَ مَنْ رَجاهُ

Wa lā yaqṭa‘u rajā’a man rajāh.

“Dan tidak memutuskan harapan siapa pun yang berharap kepada-Nya.”

‎اَللّهُمَّ اِنّى اُشْهِدُكَ وَكَفى بِكَ شَهيداً

Allāhumma innī ushhiduka wa kafā bika shahīdā.

“Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan-Mu sebagai saksi, dan cukuplah Engkau sebagai saksi.”

‎وَاُشْهِدُ جَميعَ مَلائِكَتِكَ وَسُكّانَ سَمواتِكَ وَ حَمَلَةَ عَرْشِكَ

Wa ushhidu jamī‘a malā’ikatik wa sukkāna samāwātik wa ḥamalata ‘arshik.

“Aku juga menjadikan seluruh malaikat-Mu, para penghuni langit-Mu, dan para pemikul ‘Arsy-Mu sebagai saksi.”

‎وَمَنْ بَعَثْتَ مِنْ اَنْبِيائِكَ وَرُسُلِكَ وَأَنْشَأْتَ مِنْ أَصْنافِ خَلْقِكَ

Wa man ba‘athta min anbiyā’ika wa rusulik wa ansha’ta min aṣnāfi khalqik.

“Dan (aku jadikan saksi pula) para nabi dan rasul-Mu yang Engkau utus, serta semua makhluk-Mu dari berbagai jenis ciptaan.”

‎اَنّي اَشْهَدُ اَنَّكَ اَنْتَ اللهُ لا اِلهَ اِلاّ اَنْتَ وَحْدَكَ لا شَريكَ لَكَ وَلا عَديلَ

Annī ashhadu annaka anta Allāhu lā ilāha illā anta waḥdaka lā sharīka laka wa lā ‘adīl.

“Bahwa aku bersaksi sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada tuhan selain Engkau, Yang Esa, tiada sekutu dan tiada tandingan bagi-Mu.”

‎وَلا خُلْفَ لِقَوْلِكَ وَلا تَبْديلَ

Wa lā khulfa liqawlika wa lā tabdīl.

“Tiada kebatilan dalam firman-Mu dan tiada perubahan atas ketetapan-Mu.”

‎وَاَنَّ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

Wa anna Muḥammadan ṣallallāhu ‘alayhi wa ālih ‘abduka wa rasūluk.

“Dan sesungguhnya Muhammad (saw) adalah hamba-Mu dan rasul-Mu.”

‎اَدّى ما حَمَّلْتَهُ اِلَى العِبادِ وَجاهَدَ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْجِهادِ

Addā mā ḥammaltahu ilal-‘ibād wa jāhada fīllāhi ‘azza wa jalla ḥaqqal-jihād.

“Beliau telah menyampaikan kepada hamba-hamba-Mu apa yang Engkau amanahkan kepadanya, dan berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.”

‎وَاَنَّهُ بَشَّرَ بِما هُوَ حَقٌّ مِنَ الثَّوابِ وَأَنْذَرَ بِما هُوَ صِدْقٌ مِنَ الْعِقابِ

Wa annahu bashshara bimā huwa ḥaqqun minath-thawāb wa andhara bimā huwa ṣidqun minal-‘iqāb.

“Dan sesungguhnya beliau telah memberi kabar gembira dengan pahala yang benar, dan memperingatkan dengan siksa yang sungguh nyata.”

‎اَللّهُمَّ ثَبِّتْني عَلى دينِكَ ما اَحْيَيْتَني

Allāhumma thabbitnī ‘alā dīnika mā aḥyaitanī.

“Ya Allah, tetapkanlah aku di atas agama-Mu selama Engkau masih memberiku kehidupan.”

‎وَلا تُزِغْ قَلْبي بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَني

Wa lā tuzigh qalbī ba‘da idh hadaytanī.

“Dan janganlah Engkau palingkan hatiku setelah Engkau memberi petunjuk kepadaku.”

‎وَهَبْ لي مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهّابُ

Wa hab lī min ladunka raḥmah, innaka anta al-wahhāb.

“Dan anugerahkanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia.”

‎صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَعَلى آلِ مُحَمَّد

Ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad.

“Limpahkanlah salawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”

‎وَاجْعَلْني مِنْ اَتْباعِهِ وَشيعَتِهِ

Waj‘alnī min atbā‘ihi wa shī‘atihi.

“Dan jadikanlah aku termasuk pengikut dan Syiah beliau.”

‎وَاحْشُرْني في زُمْرَتِهِ

Waḥshurnī fī zumratih.

“Dan kumpulkanlah aku dalam barisan beliau (di akhirat kelak).”

‎وَوَفِّقْني لاَِداءِ فَرْضِ الْجُمُعاتِ

Wa waffiqnī li-adā’i farḍil-jumu‘āt.

“Dan berilah aku taufik untuk menunaikan kewajiban salat Jumat.”

‎وَما اَوْجَبْتَ عَلَيَّ فيها مِنَ الطّاعاتِ

Wa mā awjabta ‘alayya fīhā minaṭ-ṭā‘āt.

“Dan semua ketaatan yang Engkau wajibkan atasku di dalamnya.”

‎وَقَسَمْتَ لاَِهْلِها مِنَ الْعَطاءِ في يَوْمِ الْجَزاءِ

Wa qasamta li-ahlihā minal-‘aṭā’i fī yawmi al-jazā’.

“Dan (berilah aku bagian) dari pemberian yang Engkau tetapkan bagi orang-orang yang menunaikannya, pada hari pembalasan.”

‎اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزيزُ الْحَكيمُ

Innaka anta al-‘azīzul-ḥakīm.

“Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

‎ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم 
‎اللهم عجل لوليك الفرج 
‎اللهم صل على محمد وآل محمد وعجل فرجهم


 DO'A SAYYIDAH FATHIMAH AS. 
 🌀 HARI JUM'AT : 

☀️ Doa yang penuh makna makrifat ini — doa yang mencerminkan kedekatan ruhani seorang hamba dengan Allah, serta kecintaan tulus kepada-Nya dan kepada Rasulullah ﷺ dan Ahlulbaitnya عليهم السلام.

اللهمّ اجْعَلْنَا مِنْ أَقْرَبِ مَنْ تَقَرَّبَ إليك

Allāhumma aj‘alnā min aqrabi man taqarraba ilayk.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk di antara orang yang paling dekat mendekat kepada-Mu.”

وَأَوْجَهِ مَن تَوَجَّهَ إليك

Wa awjahi man tawajjaha ilayk.

“Dan termasuk di antara orang yang paling mulia di sisi-Mu di antara mereka yang menghadap kepada-Mu.”

وأَنْجَحِ مَن سَأَلَكَ وتَضَرَّع إليك

Wa anjaḥi man sa’alaka wa taḍarra‘a ilayk.

“Dan termasuk orang yang paling berhasil di antara mereka yang memohon dan merendahkan diri di hadapan-Mu.”

اللهمّ اجْعَلْنا مِمَّنْ كَأَنَّهُ يَرَاكَ إلى يَوْمِ القِيَامَة الذي فيه يَلْقَاكَ

Allāhumma aj‘alnā mimman ka’annahu yarāk ilā yawmi al-qiyāmah alladhī fīhi yalqāk.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang (beribadah) seakan-akan melihat-Mu hingga hari kiamat, hari di mana kami akan berjumpa dengan-Mu.”

ولا تُمِتْنَا إِلاَّ على رِضَاكَ

Wa lā tumitnā illā ‘alā riḍāk.

“Dan janganlah Engkau wafatkan kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.”

اللهمّ واجْعَلْنَا مِمَّن أَخْلَصَ لَكَ بِعَمَلِهِ

Allāhumma waj‘alnā mimman akhlaṣa laka bi‘amalih.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang ikhlas hanya untuk-Mu dalam amal perbuatannya.”

وأَحَبَّكَ في جَمِيعِ خَلْقِكَ

Wa aḥabbaka fī jamī‘i khalqik.

“Dan yang mencintai-Mu di tengah seluruh makhluk-Mu.”

اللهمّ صلّ على محمّد وآل محمّد

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”

واغْفِرْ لنا مَغْفِرَة جَزْماً حَتْماً لا نَقْتَرِفُ بَعْدَها ذَنْباً، ولا نَكْتَسِبُ خَطِيْئَةً ولا إِثْماً

Waghfir lanā maghfiratan jazman ḥatman lā naqtarifu ba‘dahā dhanban, wa lā naktasibu khaṭī’atan wa lā ithman.

“Dan ampunilah kami dengan ampunan yang pasti dan pasti terjadi — ampunan yang setelahnya kami tidak lagi melakukan dosa, tidak lagi berbuat kesalahan, dan tidak lagi melakukan pelanggaran.”

اللهمّ صلّ على محمّد وآل محمّد، صَلاةً نامِيَةً دَائِمَةً زَاكِيَةً مُتَتَابِعَةً مُتَوَاصِلَةً مُتَرَادِفَةً بِرَحْمَتِكَ يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِين.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, ṣalātan nāmiyatan dā’imatan zākiyatan mutatābi‘atan mutawāṣilatan mutarādifatan bi raḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad — salawat yang berkembang, kekal, suci, berturut-turut, terus bersambung, dan saling mengikuti dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.” Kasih diantara yg pengasih


Shobahul khair, Jum'at Mubarok harinya Imam Muhamad Al Mahdi afs
Sholawat dan Salam tercurahkan untukmu ya Imam
Insyaallah yang sedang sakit diberi kesehatan
Yang sedang susah diberi kelapangan
Yang sedang punya hajat disampaikan hajatnya
Ya Shohibu Ashr wa Zaman Adrikni adrikni adrikni
‎ياوجيهاعندالله اشفع لناعندالله
❤❤❤🌹🌹🌹


Semoga bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit