Wirid Hari Rabu

Baca Zikir ini 100 kali

‎يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ

(Yā Ḥayyu Yā Qayyūmu)

Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri (yang menegakkan segala sesuatu).

📖 Makna Lughawi (Bahasa)

‎1. ٱلْحَيّ (Al-Ḥayy)

Dari akar kata ح ي ي (ḥ-y-y), berarti hidup, kehidupan, atau yang memiliki kehidupan sejati.
Dalam konteks Ilahi, Al-Ḥayy bermakna: Yang hidup dengan kehidupan yang mutlak, tidak diawali dan tidak diakhiri oleh kematian, dan dari-Nya seluruh kehidupan alam bersumber.

‎2. ٱلْقَيُّوم (Al-Qayyūm)

Dari akar kata ق و م (q-w-m), berarti berdiri, menegakkan, menopang.

Al-Qayyūm bermakna:
Yang berdiri sendiri tanpa membutuhkan apa pun, dan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya untuk keberadaan, kelangsungan, dan pengaturan mereka. Kedua nama ini sering datang berpasangan, misalnya dalam Āyat al-Kursī (QS. al-Baqarah [2]: 255):

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri (Mengatur segala sesuatu).”

🌙 Tafsir Makrifat (Hakikat dan Makna Ruhani)

Frasa “يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ” bukan sekadar zikir lafzi (lisan), tapi merupakan kunci kesadaran tauhid wujud, yaitu menyadari bahwa tiada kehidupan hakiki kecuali Kehidupan Allah, dan tiada keberadaan mandiri selain Keberadaan-Nya.

1. Makrifat “Al-Ḥayy”
Bila hati menafsir “Ya Ḥayy”, sejatinya ia mengakui bahwa seluruh kehidupan yang tampak hanyalah pancaran dari Kehidupan Allah.
Ruh, akal, bahkan kesadaran adalah tajalli (manifestasi) dari “al-Ḥayy”.
Dalam makrifat, mengucap “Ya Ḥayy” berarti menghidupkan kesadaran batin, menyalakan ruh dengan cahaya wujud Ilahi.

2. Makrifat “Al-Qayyūm”
Menyadarkan bahwa tidak ada satu atom pun yang berdiri sendiri.
Segala yang ada tegak hanya karena Qayyūmiyyah (daya penegak Ilahi) yang mengalir terus-menerus.
Dalam zikir, menyebut “Ya Qayyūm” adalah penyerahan total diri: “Ya Rabb, tiada aku, hanya Engkau yang menegakkan aku.”

3. Kesatuan “Ya Ḥayy Ya Qayyūm”
Dalam jalan makrifat, dua nama ini membentuk nafas spiritual:
“Ya Ḥayy” – menarik nafas kehidupan dari Sumber Kehidupan.
“Ya Qayyūm” – melepaskan nafas penyerahan kepada Penegak seluruh wujud.
Maka zikir ini sering digunakan para arifin untuk menghidupkan hati yang mati dan menegakkan ruh dalam kehadiran Allah.

🌺 Isyarat Ruhani; 
Imam Ali (as) berkata:”Aku mengenal Allah melalui rusaknya segala sesuatu, sebab bila sesuatu rusak maka aku tahu bahwa yang berdiri di atas kehancuran itu hanyalah Al-Qayyūm.” 
Dan Sayyidah Fāṭimah (as) dalam doanya sering membaca “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm, bi-raḥmatika astaghīth” — Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” 
Zikir ini menjadi nafkah ruh — menyadarkan manusia bahwa hidup bukan milik diri, tapi pancaran dari Dzat yang Hidup dan Menegakkan segalanya.

🌸 Zikir: يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ – Dibaca 100 kali 

🌺 Makna Ringkas; Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Menegakkan (segala sesuatu).”Zikir ini merupakan panggilan langsung kepada Sumber Kehidupan dan Penegak segala makhluk.

🌿 Manfaat Lahiriah dan Batiniah (Dari Ulama dan Kitab-Kitab Zikir)

1. 🕊️ Menghidupkan Hati yang Mati

Disebut dalam Tafsir Ruh al-Bayan dan Ihya’ Ulum al-Din:
“Siapa yang membaca Yā Ḥayyu Yā Qayyūm dengan penuh kehadiran hati, maka hatinya dihidupkan Allah dari kelalaian.”

➡️ Maknanya: zikir ini menyalakan “cahaya ruhani” yang kadang padam karena dosa, kesibukan, atau duka.

2. 🌞 Menghapus Gelapnya Hati dan Menarik Cahaya Ilahi

Para arif menyebut:
“Al-Ḥayy yuḥyī qalbak, wal-Qayyūm yuqawwimu rūḥak.”
“Yang Maha Hidup menghidupkan hatimu, dan Yang Maha Berdiri Menegakkan ruhmu.”

➡️ Artinya: Zikir ini memperbaiki keseimbangan batin dan spiritual seseorang — menjadikannya sadar, tenang, dan kokoh dalam iman.

3. 💎 Memperoleh Perlindungan dan Kekuatan

Dalam Khazinat al-Asrar disebut:
Barang siapa membaca “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm” 100 kali setiap pagi dan petang, maka:
Dihindarkan dari kelemahan tubuh dan jiwa,
Dikuatkan semangat dan keyakinannya,
Diberi penjagaan malaikat dari segala bahaya.

4. 🌸 Menarik Rahmat dan Rezeki yang Hidup (Berkah)
Karena Al-Ḥayy adalah sumber kehidupan, dan Al-Qayyūm penegak rezeki makhluk.
Zikir ini:
Membuka jalan keberkahan, rezeki halal, dan kelapangan hati.
Rezeki yang datang bukan hanya materi, tapi juga rezeki maknawi — ketenangan, ilmu, dan rasa cukup.

5. 🌙 Menjadi Zikir Penghidup Jiwa Para Arif

Dalam tradisi sufi (terutama dalam ṭarīqah ‘Alawiyyah dan Qadiriyyah), disebut bahwa:
Siapa yang mengulang “Yā Ḥayyu Yā Qayyūm” 100 kali setelah Subuh dan Isya dengan hati hadir, maka jiwanya diberi “nafḥah ḥayāt” (hembusan kehidupan ruhani) — kesadaran akan kehadiran Allah yang terus hidup dalam dirinya.

6. 🌾 Doa Mustajab dan Pertolongan Ilahi

Sayyidah Fāṭimah (as) dan Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

‏“Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan.”

→ Dibaca 100 kali saat kesulitan besar, diyakini membuka jalan keluar dengan cara tak terduga.

🌺 Makna Makrifat dari 100 Kali

Angka 100 bukan kebetulan; ia melambangkan kesempurnaan tanzīh dan tajallī —
10 × 10 = Kesempurnaan Zahir dan Batin.
Saat diulang 100 kali, hati melewati tahapan fana (lenyapnya aku) dan menuju baqā’ (kehidupan dengan Allah).
Dengan setiap ulangan:
“Yā Ḥayy” → menghapus satu lapis kematian batin.
“Yā Qayyūm” → menegakkan satu lapis kesadaran Ilahi.
Hingga yang tersisa di hati hanya “Dia yang Hidup dan Menegakkan aku.”

Tata Cara Amalan

1. Waktu terbaik:
Setelah Subuh atau setelah Isya.
Atau ketika merasa lemah, bingung, atau kehilangan semangat hidup.

2. Jumlah:
100 kali, bisa disertai kalimat penuh:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
(Yā Ḥayyu Yā Qayyūmu bi-raḥmatika astaghīth)

3. Adab batin:
Tarik nafas dalam sambil sadari: “Aku hidup dari Kehidupan-Mu.”
Hembuskan sambil sadar: “Tiada yang menegakkan aku selain Engkau.”

Ziarah Hari Rabu ; ini adalah salah satu ziarah khusus yang penuh cahaya dan kedekatan maknawi kepada Empat Imam Ahlul Bayt (as) yang dimakamkan di wilayah Baghdad–Samarra–Khurasan:
1. Imam Mūsā al-Kāẓim (as)
2. Imam ʿAlī ar-Riḍā (as)
3. Imam Muḥammad al-Jawād (as)
4. Imam ʿAlī al-Hādī (as)

Ziarah ini dibaca setiap hari Rabu, hari yang menurut para arif adalah yaum al-barzakh — titik keseimbangan antara awal dan akhir, antara dunia dan akhirat.

Mari kita uraikan teksnya dengan harakat, transliterasi, terjemahan, dan tafsir makrifatnya satu per satu 🕊️

‎اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَوْلِيَاءَ اللهِ،

‎اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا حُجَجَ اللهِ،

‎اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا نُورَ اللهِ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ،

‎اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَعَلَىٰ آلِ بُيُوتِكُمُ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ.

As-salāmu ‘alaykum yā awliyā’a Allāh,
as-salāmu ‘alaykum yā ḥujaja Allāh,
as-salāmu ‘alaykum yā nūra Allāhi fī ẓulumāti al-arḍ,
as-salāmu ‘alaykum ṣalawātu Allāhi ‘alaykum wa ‘alā āli buyūtikum aṭ-ṭayyibīna aṭ-ṭāhirīn.

Salam sejahtera atas kalian, wahai para wali Allah.
Salam atas kalian, wahai hujjah (bukti dan saksi) Allah.
Salam atas kalian, wahai cahaya Allah di tengah kegelapan bumi.
Salawat Allah atas kalian dan atas keluarga rumah kalian yang suci lagi disucikan.

Tafsir Makrifat:
“Awliyā’ Allāh” — mereka adalah cermin tajalli kehendak Allah di bumi. Dalam diri mereka tampak rahmat dan qudrah-Nya.
“Ḥujaj Allāh” — hujjah berarti argumen hidup; keberadaan mereka menjadi bukti keberlangsungan wilāyah (kepemimpinan ruhani) Allah.
“Nūr Allāh fī ẓulumāt al-arḍ” — para Imam adalah nur maknawi yang menerangi bumi material ini, sebab dari mereka mengalir kehidupan batin dan ilmu ilahiah.

Makrifat ziarah di sini adalah mengenali sumber cahaya di balik jasad manusia. Imam bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi jalan bagi ruh untuk mengenal Allah melalui nur-Nya yang hidup di antara makhluk.

‎بِأَبِي أَنْتُمْ وَأُمِّي، لَقَدْ عَبَدْتُمُ اللهَ مُخْلِصِينَ، وَجَاهَدْتُمْ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاكُمُ الْيَقِينُ.

Bi-abī antum wa ummī, laqad ‘abadtumu Allāha mukhliṣīn, wa jāhadttum fī Allāhi ḥaqqa jihādih, ḥattā atākum al-yaqīn.

Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi kalian.
Sungguh, kalian telah beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan,
dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad,
hingga datang kepada kalian keyakinan (kematian yang hakiki).

Tafsir Makrifat:

“Yaqīn” di sini bukan sekadar kematian jasmani — tapi fana’ fi’llāh,
lenyapnya ego dalam kehadiran Allah.
Para Imam telah menempuh jalan ibadah dan jihad bukan untuk kemenangan dunia,
tetapi untuk menyempurnakan tajalliyāt al-yaqīn — penyaksian mutlak kepada Kebenaran.
Mereka menjadi mi‘rāj ruhani umat, tempat Allah menampakkan keindahan-Nya melalui pengorbanan.

‎فَلَعَنَ اللهُ أَعْدَاءَكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَجْمَعِينَ،

‎وَأَنَا أَبْرَأُ إِلَى اللهِ وَإِلَيْكُمْ مِنْهُمْ.

Fala‘ana Allāhu a‘dā’akum minal-jinni wal-insi ajma‘īn,
wa anā abra’u ilā Allāhi wa ilaykum minhum.

Semoga Allah melaknat musuh-musuh kalian dari kalangan jin dan manusia semuanya.
Dan aku berlepas diri kepada Allah dan kepada kalian dari mereka.

Tafsir Makrifat:
Berlepas diri (barā’ah) bukan kebencian emosional,
tetapi pemisahan batin dari segala kegelapan yang memusuhi cahaya Allah.
Dalam jalan makrifat, bara’ah berarti memisahkan hati dari ego, hawa nafsu, dan segala yang menghalangi kita dari wilāyah Allah.
Cinta (walāyah) kepada para Imam tak sempurna tanpa pemisahan dari musuh batin: keakuan.

‎يَا مَوْلَايَ يَا أَبَا إِبْرَاهِيمَ مُوسَى بْنَ جَعْفَرٍ،

‎يَا مَوْلَايَ يَا أَبَا الْحَسَنِ عَلِيَّ بْنَ مُوسَى،

‎يَا مَوْلَايَ يَا أَبَا جَعْفَرٍ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ،

‎يَا مَوْلَايَ يَا أَبَا الْحَسَنِ عَلِيَّ بْنَ مُحَمَّدٍ.

Yā mawlāya yā Abā Ibrāhīm Mūsā ibn Ja‘far,
yā mawlāya yā Abā al-Ḥasan ‘Alī ibn Mūsā,
yā mawlāya yā Abā Ja‘far Muḥammad ibn ‘Alī,
yā mawlāya yā Abā al-Ḥasan ‘Alī ibn Muḥammad.

Wahai junjunganku, wahai Abā Ibrāhīm Mūsā bin Ja‘far.
Wahai junjunganku, wahai Abā al-Ḥasan ‘Alī bin Mūsā.
Wahai junjunganku, wahai Abā Ja‘far Muḥammad bin ‘Alī.
Wahai junjunganku, wahai Abā al-Ḥasan ‘Alī bin Muḥammad.

Tafsir Makrifat:
Menyebut nama mereka satu per satu adalah tazakkur (pembangkitan kesadaran ruhani).
Sebab setiap Imam adalah mazhar (cermin) dari satu sifat Allah:
Mūsā al-Kāẓim (as) → Sabar dan Penahanan Diri (al-Ḥalīm).
ʿAlī ar-Riḍā (as) → Kerelaan dan Kepasrahan (ar-Raḍī).
Muḥammad al-Jawād (as) → Kedermawanan Ilahi (al-Karīm).
ʿAlī al-Hādī (as) → Petunjuk dan Bimbingan Ruhani (al-Hādī).

Ziarah ini mengajak kita menyalakan keempat cahaya itu dalam hati.

‎أَنَا مَوْلًى لَكُمْ، مُؤْمِنٌ بِسِرِّكُمْ وَجَهْرِكُمْ،

‎مُتَضَيِّفٌ بِكُمْ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا، وَهُوَ يَوْمُ الْأَرْبِعَاءِ،

‎وَمُسْتَجِيرٌ بِكُمْ، فَأَضِيفُونِي وَأَجِيرُونِي بِآلِ بُيُوتِكُمُ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ.

Anā mawlān lakum, mu’minun bisirrikum wa jahrikum,
muṭaḍayyifun bikum fī yawmikum hādhā wa huwa yawmul-arbi‘ā’,
wa mustajīrun bikum, fa aḍīfūnī wa ajīrūnī bi āli buyūtikum aṭ-ṭayyibīna aṭ-ṭāhirīn.

Aku adalah pengikut kalian, beriman kepada rahasia dan terang kalian.
Aku bertamu kepada kalian di hari kalian ini, yaitu hari Rabu.
Aku berlindung kepada kalian — maka tampunglah aku sebagai tamu dan lindungilah aku dengan keluarga kalian yang suci lagi disucikan.

Tafsir Makrifat:

Ziarah ini adalah pernyataan penyerahan ruhani.
“Kami adalah tamu kalian” bermakna: hati seorang salik (pejalan ruhani) memasuki majelis ruh para Imam,
menjadi mustajir — orang yang berlindung dalam naungan Nur Wilayah.

Dalam hakikatnya, ketika seorang mukmin membaca ziarah ini dengan hati hadir,
ia disambut oleh ruh para Imam (as) sebagaimana tamu disambut di rumah tuan yang mulia.
Hari Rabu disebut Yaum al-Awliyā’, hari para wali, karena cahaya empat Imam ini bersinar di antara pertengahan minggu — penyeimbang antara amal dan hisab.

🌙 Makrifat Keseluruhan

Ziarah ini adalah:
Tali ruhani (rabitah) dengan mata rantai cahaya Allah.
Latihan untuk menegaskan loyalitas ruh (wilāyah) dan pembersihan batin (barā’ah).
Serta perjalanan makrifat dari salam menuju sujud batin, dari pengakuan menuju penyerahan.
Ziarah bukan hanya membaca kalimat — ia adalah perjalanan menuju kesadaran kehadiran para Imam dalam hati, sebab mereka adalah “Nūr Allāh fī ẓulumāt al-arḍ” — Cahaya Allah di tengah gelapnya dunia.
Apakah kamu ingin saya lanjutkan dengan versi amalan makrifat ziarah hari Rabu — yaitu cara membacanya dengan adab ruhani, napas, dan kesadaran (seperti amalan para arif Ahlul Bayt)?
MasyaAllah 

🌿 Doa Sayyidah Fāṭimah az-Zahrāʾ (عليها السلام) yang dibaca pada hari Rabu ini adalah permata maknawi yang sangat dalam — mengandung tauhid, tawakkul, dan penyerahan total kepada penjagaan Ilahi. Mari kita bahas dengan harakat, transliterasi, terjemahan, dan tafsir makrifatnya.

💎✨ Doa Sayyidah Fāṭimah (as) – Hari Rabu

‎اللَّهُمَّ احْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ،

‎وَرُكْنِكَ الَّذِي لَا يُرَامُ،

‎وَبِأَسْمَائِكَ الْعِظَامِ،

‎وَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ،

‎وَاحْفَظْ عَلَيْنَا مَا لَوْ حَفِظَهُ غَيْرُكَ ضَاعَ،

‎وَاسْتُرْ عَلَيْنَا مَا لَوْ سَتَرَهُ غَيْرُكَ شَاعَ،

‎وَاجْعَلْ كُلَّ ذٰلِكَ لَنَا مِطْوَاعًا،

‎إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ، قَرِيبٌ مُجِيبٌ.

Allāhumma iḥrusnā bi ‘aynika allātī lā tanām,
wa ruknika alladhī lā yurām,
wa bi asmā’ika al-‘iẓām,
wa ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih,
wa iḥfaẓ ‘alaynā mā law ḥafiẓahu ghayruka ḍā‘a,
was-tur ‘alaynā mā law satarahu ghayruka shā‘a,
waj‘al kulla dhālika lanā miṭwā‘an,
innaka samī‘ud-du‘ā’, qarībun mujīb.

Ya Allah, lindungilah kami dengan mata-Mu yang tidak pernah tidur,
dan dengan penjagaan-Mu yang tidak dapat diganggu atau dirobohkan,
dan dengan nama-nama-Mu yang agung.
Limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya.
Peliharalah untuk kami segala sesuatu yang, bila dijaga oleh selain Engkau, akan hilang.
Tutuplah aib kami — sebab bila ditutup oleh selain Engkau, pasti akan terbuka.
Dan jadikanlah semua itu mudah dan patuh bagi kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa, Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.


🌙 Tafsir Makrifat (Hakikat Ruhani Doa Ini)

‎1. “اللَّهُمَّ احْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ”

“Ya Allah, lindungilah kami dengan mata-Mu yang tidak pernah tidur.”

🔹 Makna lahir: Mohon perlindungan terus-menerus dari Allah.
🔹 Makna makrifat:
“Ainullāh” (mata Allah) adalah ilmu dan kesadaran Ilahi yang meliputi segala sesuatu.
Ketika Sayyidah Fāṭimah berdoa demikian, beliau seakan berkata:
“Ya Allah, jadikan aku terlihat oleh pengawasan-Mu yang kekal, agar aku tidak pernah terlepas dari pandangan-Mu.”
Dalam jalan hakikat, ini adalah doa untuk hudūr (kehadiran batin) — agar ruh selalu merasa “dilihat oleh Allah”.

‎2. “وَرُكْنِكَ الَّذِي لَا يُرَامُ”

“Dan dengan tiang (kekuatan)-Mu yang tak tergoyahkan.”

🔹 Rukn (pilar) adalah simbol quwwah (kekuatan) dan ‘izzah (kemuliaan) Allah.
🔹 Makrifatnya:
Tak ada penopang sejati selain Allah; semua sandaran dunia fana.
Dengan menyebut “ruknika alladhī lā yurām”, seorang arif bersandar pada Qayyūmiyyah Allah — penegakan wujud oleh-Nya semata.
Siapa yang disandarkan kepada “rukn Allah”, tidak lagi takut goyah walau seluruh dunia runtuh.

‎3. “وَبِأَسْمَائِكَ الْعِظَامِ”

“Dan dengan nama-nama-Mu yang agung.”

🔹 Nama-nama Allah (asmā’ullāh al-‘iẓām) bukan sekadar lafaz, tetapi tajalli sifat-sifat wujud Ilahi.
🔹 Dalam makrifat, memohon dengan nama-nama itu berarti menyatu dengan kesadaran sifat Allah:
Al-Ḥayy → hidup dalam Kehidupan-Nya.
Al-Qayyūm → tegak dalam Penegakan-Nya.
Ar-Raḥmān, Al-Ḥafīẓ, As-Sittīr → tertutup dalam kasih dan penjagaan-Nya.

‎4. “وَاحْفَظْ عَلَيْنَا مَا لَوْ حَفِظَهُ غَيْرُكَ ضَاعَ”

“Peliharalah bagi kami apa-apa yang, jika dijaga selain Engkau, akan hilang.”

🔹 Makna lahir: Mohon agar Allah menjaga nikmat, iman, dan amanah kita.
🔹 Makna makrifat:
Hanya Allah yang mampu menjaga “rahasia iman” di dalam hati.
Segala yang dijaga makhluk akan hilang; hanya yang dijaga oleh Al-Ḥafīẓ kekal.
Dalam batin, ini adalah doa agar dzikrullah dan nur ma‘rifah di hati tetap terpelihara.

‎5. “وَاسْتُرْ عَلَيْنَا مَا لَوْ سَتَرَهُ غَيْرُكَ شَاعَ”

“Tutuplah aib kami, sebab jika selain Engkau yang menutupinya, pasti akan terbuka.”

🔹 Allah adalah As-Sittīr — Penutup rahasia aib hamba.
🔹 Makrifatnya:
Aib terbesar manusia bukan dosa zahir, tetapi ghaflah — kelalaian dari Allah.
Ketika Allah menutupinya dengan cahaya ma‘rifah, maka dosa tidak tampak lagi sebagai noda, tapi menjadi jalan taubat.
Doa ini melatih kita untuk malu kepada Allah, bukan kepada manusia.

‎6. “وَاجْعَلْ كُلَّ ذٰلِكَ لَنَا مِطْوَاعًا”

“Dan jadikanlah semua itu tunduk dan mudah bagi kami.”

🔹 Makna lahir: Semoga perlindungan dan penjagaan-Mu mudah diperoleh.
🔹 Makna makrifat:
Doa agar hati dan anggota tubuh menjadi miṭwā‘an — patuh secara alami kepada kehendak Ilahi, bukan dipaksa oleh syariat semata.
Inilah maqām khulūṣ — di mana kehendak hamba larut dalam kehendak Allah.

7. Penutup: “إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ قَرِيبٌ مُجِيبٌ”

“Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa, Maha Dekat, lagi Maha Mengabulkan.”

🔹 Makna makrifat:
“Samī‘” → Allah mendengar bukan dengan telinga, tapi dengan Kehadiran-Nya yang meliputi segala sesuatu.
“Qarīb” → Allah tidak jauh, sebab Dia adalah inti wujudmu.
“Mujīb” → Dia menjawab doa bukan hanya dengan pemberian, tapi dengan kehadiran-Nya di hati yang berdoa.

🌺 Makrifat Keseluruhan

Doa Sayyidah Fāṭimah (as) ini adalah doa perlindungan ruhani paling sempurna —
bukan sekadar meminta keselamatan fisik, tetapi agar seluruh keberadaan kita berada di bawah pengawasan Ilahi secara sadar.

Ketika dibaca dengan hati hadir:
“Ain Allah” akan menerangi mata batin,
“Rukn Allah” menegakkan jiwa,
“Asmā’-Nya” menghidupkan ruh,
dan “Sittār-Nya” menutupi kekurangan dengan rahmat.

🌞 Cara Amalan Makrifat (seperti diajarkan para arif Ahlul Bayt):
1. Waktu: Setelah Subuh pada hari Rabu.
2. Sikap: Duduk menghadap kiblat, hadirkan hati kepada Sayyidah Fāṭimah (as).
3. Baca perlahan, sambil menyadari:
“Ya Allah, Engkau melihatku.”
“Tiada penjagaan kecuali dari-Mu.”
4. Setelah selesai, letakkan tangan di dada dan ucapkan:

‎“اللهم اجعل قلبي مطواعاً لأمرك ونفسى راضية بحكمك”

(Ya Allah, jadikan hatiku tunduk pada perintah-Mu dan jiwaku ridha pada ketentuan-Mu.)

🤲 Doa Hari Rabu Imam Sajjad as

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Makrifat:
Setiap doa dimulai dengan Bismillah — artinya memasuki hadirat Ilahi, bukan dengan diri, tapi dengan Nama-Nya.
Shalawat di sini menjadi kunci pembuka jalan ruhani; tanpa shalawat, doa adalah bentuk tanpa ruh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا، وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا.

Al-ḥamdu lillāhi alladhī ja‘ala al-layla libāsan wa an-nawma subātan, wa ja‘ala an-nahāra nusyūrā.

Segala puji bagi Allah yang menjadikan malam sebagai pakaian, tidur sebagai istirahat, dan siang sebagai kebangkitan.

Tafsir Makrifat:
Malam adalah tajalli jamāl (keindahan Ilahi) — tempat makhluk kembali ke rahim ketenangan.
Tidur adalah mati kecil, di mana Allah menarik ruh untuk diisi kembali dengan cahaya kehidupan.
Siang adalah nusyūr (kebangkitan) — simbol kebangkitan dunia dan akhirat.
Dalam makrifat, setiap terbit fajar adalah miniatur hari kiamat, di mana engkau “dibangkitkan” dari kematian sementara.

لَكَ الْحَمْدُ أَنْ بَعَثْتَنِي مِنْ مَرْقَدِي وَلَوْ شِئْتَ جَعَلْتَهُ سَرْمَدًا، حَمْدًا دَائِمًا لَا يَنْقَطِعُ أَبَدًا، وَلَا يُحْصِي لَهُ الْخَلَائِقُ عَدَدًا.

Lakal-ḥamdu an ba‘athtanī min marqadī walaw shi’ta ja‘altahu sarmadā, ḥamdan dā’iman lā yanqaṭi‘u abadan, walā yuḥṣī lahul-khalāiqu ‘adadā.

Segala puji bagi-Mu yang membangunkanku dari tempat tidurku; seandainya Engkau kehendaki, Engkau bisa menjadikannya tidur abadi.
Puji syukur yang terus menerus, tak terputus selama-lamanya, tak dapat dihitung jumlahnya oleh seluruh makhluk.

Tafsir Makrifat:
Setiap kali kita bangun dari tidur, sebenarnya kita baru saja “dihidupkan kembali”.
Allah memberi kesempatan kedua — untuk memperbaiki jiwa.
Makrifatnya: “Setiap pagi adalah tanda bahwa pintu taubat masih dibuka.”
Tidur bisa menjadi kubur; bangun adalah karunia kehidupan baru.

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْ خَلَقْتَ فَسَوَّيْتَ، وَقَدَّرْتَ وَقَضَيْتَ، وَأَمَتَّ وَأَحْيَيْتَ، وَأَمْرَضْتَ وَشَفَيْتَ، وَعَافَيْتَ وَأَبْلَيْتَ، وَعَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَيْتَ، وَعَلَى الْمُلْكِ احْتَوَيْتَ.

Allāhumma lakal-ḥamdu an khalaqta fasawwaita, wa qaddarta wa qaḍayta, wa amatta wa aḥyayta, wa amraḍta wa syafayta, wa ‘āfayta wa ablayta, wa ‘alal-‘arsyi istawaita, wa ‘alal-mulki iḥtawayta.

Ya Allah, bagi-Mu segala puji: Engkau menciptakan lalu menyempurnakan, menetapkan dan memutuskan, mematikan dan menghidupkan, menimpakan sakit lalu menyembuhkan, memberi afiat dan cobaan; Engkau bersemayam di atas ‘Arsy dan meliputi seluruh kerajaan.

Tafsir Makrifat:
Zahir dan batin seluruh kejadian adalah manifestasi dari tadbir Ilahi.
Tidak ada sakit tanpa hikmah, tidak ada mati tanpa kelahiran ruh.
‘Arsy’ dalam makrifat bukan singgasana fisik, melainkan puncak kesadaran ketuhanan dalam wujud.
Siapa yang sadar akan ini, tidak lagi mengeluh atas takdir, sebab semua adalah wajah dari kasih sayang-Nya yang tak tampak.

أَدْعُوكَ دُعَاءَ مَنْ ضَعُفَتْ وَسِيلَتُهُ وَانْقَطَعَتْ حِيلَتُهُ، وَاقْتَرَبَ أَجَلُهُ وَتَدَانَى فِي الدُّنْيَا أَمَلُهُ، وَاشْتَدَّتْ إِلَى رَحْمَتِكَ فَاقَتُهُ، وَعَظُمَتْ لِتَفْرِيطِهِ حَسْرَتُهُ، وَكَثُرَتْ زَلَّتُهُ وَعَثْرَتُهُ، وَخَلُصَتْ لِوَجْهِكَ تَوْبَتُهُ.

Ad‘ūka du‘ā’a man ḍu‘ufat wasīlatuhu wanqaṭa‘at ḥīlatuhu, waqtaraba ajaluhu watadānā fid-dunyā amaluhu, washtaddat ilā raḥmatika fāqatuhu, wa ‘aẓumat litafrīṭihi ḥasratuhu, wa kathurat zallatuhu wa ‘athratuhu, wa khaluṣat liwajhika tawbatuhu.

Aku memohon kepada-Mu dengan doa seorang hamba yang lemah upayanya, habis daya dan tipu dayanya, ajalnya telah dekat, harapannya di dunia telah menipis, kebutuhannya terhadap rahmat-Mu amat besar, penyesalannya atas kelalaiannya amat dalam, kesalahannya banyak, dan tobatnya telah tulus untuk-Mu semata.

Tafsir Makrifat:
Inilah hakikat ubūdiyyah (penghambaan sejati): menyadari ketidakberdayaan mutlak di hadapan al-Qayyūm.
Ketika semua daya lenyap, barulah hamba menyaksikan Daya Allah yang hidup di dalam dirinya.
Inilah maqam fana fi al-qudrah — lenyap dalam kekuasaan-Nya.

فَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَعَلَىٰ أَهْلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَارْزُقْنِي شَفَاعَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ، وَلَا تَحْرِمْنِي صُحْبَتَهُ إِنَّكَ أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.

Faṣalli ‘alā Muḥammadin khātamin-nabiyyīn wa ‘alā ahli baytihi aṭ-ṭayyibīna aṭ-ṭāhirīn, warzuqnī syafā‘ata Muḥammadin ṣallallāhu ‘alayhi wa ālih, walā taḥrimnī ṣuḥbatahu, innaka anta arḥamur-rāḥimīn.

Maka limpahkanlah rahmat kepada Muhammad, penutup para nabi, dan kepada keluarganya yang suci dan bersih.
Anugerahkanlah kepadaku syafa‘at Muhammad ﷺ dan jangan Engkau haramkan aku dari kebersamaan dengannya. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dari segala penyayang.

Tafsir Makrifat:
Syafa‘at bukan sekadar “pertolongan di akhirat”, tetapi sirr (rahasia) hubungan ruhani antara Nabi dan umatnya.
Siapa yang mencintai Nabi dan Ahlul Bayt dengan jujur, akan hidup dalam madrasah kasih sayang Ilahi.
Dalam makrifat, “ṣuḥbah” dengan Rasul bukan hanya di surga, tapi juga dalam kesadaran dan akhlak di dunia ini.

اللَّهُمَّ اقْضِ لِي فِي الْأَرْبِعَاءِ أَرْبَعًا: اِجْعَلْ قُوَّتِي فِي طَاعَتِكَ، وَنَشَاطِي فِي عِبَادَتِكَ، وَرَغْبَتِي فِي ثَوَابِكَ، وَزُهْدِي فِيمَا يُوجِبُ لِي أَلِيمَ عِقَابِكَ، إِنَّكَ لَطِيفٌ لِمَا تَشَاءُ.

Allāhumma iqḍi lī fil-arbi‘ā’i arba‘an:
ij‘al quwwatī fī ṭā‘atika,
wa nashāṭī fī ‘ibādatika,
wa raghbatī fī thawābika,
wa zuhdi fīmā yūjibu lī alīma ‘iqābaka,
innaka laṭīfun limā tashā’u.

Ya Allah, berilah aku pada hari Rabu empat hal:
jadikan kekuatanku dalam ketaatan kepada-Mu,
semangatku dalam ibadah kepada-Mu,
kerinduanku pada ganjaran-Mu,
dan kezuhudanku terhadap apa yang membawa azab pedih bagiku.
Sesungguhnya Engkau Maha Lembut terhadap apa yang Engkau kehendaki.

Tafsir Makrifat:
Empat permohonan ini adalah pilar kehidupan ruhani:
1. Kekuatan dalam taat → energi jasad diarahkan menuju nur ketaatan.
2. Semangat dalam ibadah → ruh menjadi hidup oleh dzikrullah.
3. Kerinduan pada pahala → hati condong pada keindahan Allah, bukan dunia.
4. Zuhud dari maksiat → bebas dari keterikatan yang menggelapkan nur batin.

Makrifatnya: inilah doa untuk penyatuan lahir dan batin dalam ubudiyyah — agar segala daya, semangat, keinginan, dan penolakan kita hanya berporos pada Allah semata.

🌿 Penutup Makrifat

Doa hari Rabu ini adalah mi‘raj kesadaran, dari:
Puji atas ciptaan-Nya,
menuju kesadaran fana’ diri,
lalu penyerahan total pada qadar,
dan akhirnya permintaan agar hidup seluruhnya hanya menjadi wadah ketaatan dan cinta kepada Allah.


Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit