WIRID HARI SELASA
Zikir ini dibaca 100 kali;
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Yā Arḥama ar-Rāḥimīn
“Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.”
Maknanya: Engkau-lah puncak dari segala kasih sayang; tidak ada rahmat yang lebih sempurna daripada rahmat-Mu.
Tafsir Makrifat (Makna Hakikat)
Kalimat “يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ” adalah panggilan jiwa menuju sumber kasih sejati — Rahmah Mutlaqah dari Allah. Berikut inti tafsir makrifatnya:
🕊️ a. Seruan Ruh kepada Asal Kasih
➡️ Dalam hakikatnya, ar-Raḥmah adalah cahaya kehidupan (nūr al-wujūd) yang mengalir dari Allah ke seluruh makhluk.
Dengan memanggil nama ini, ruh sedang kembali pada lautan kasih yang melahirkannya. “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
— QS. Al-A‘rāf [7]: 156
🌧️ b. Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm dalam Diri
• Ar-Raḥīm adalah rahmat yang mengkhusus — membimbing hati menuju ma‘rifah dan cahaya.
Maka ketika kau berkata:
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ,
engkau memanggil Ar-Raḥīm yang paling dalam, yang meneteskan kasih di setiap dada, bahkan kepada yang belum pantas dikasihi oleh manusia.
🌕 c. Rahmat yang Melampaui Balasan
Rahmat ini tidak menunggu syarat; ia mendahului amalan.
“Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minazh-zhālimīn.”
— Saat beliau tenggelam, rahmat Allah-lah yang menyelamatkannya, bukan sekadar amal.
🌸 d. Rahmat sebagai Jalan Ma‘rifah
• kelembutan dalam jiwa,
• kasih terhadap makhluk,
• dan penyaksian bahwa semua kasih makhluk hanyalah bayangan dari kasih-Nya.
Akhir dari dzikir ini adalah fana dalam rahmat — di mana hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai pencinta, tetapi sebagai yang dicintai.
💧 Kesimpulan Makrifat
“Yā Arḥama ar-Rāḥimīn” bukan sekadar permintaan kasih, tetapi pengakuan bahwa hanya Allah-lah sumber kasih sejati, dan bahwa seluruh wujud adalah manifestasi dari rahmat-Nya.
Menyebutnya 100 kali berarti menyiram batin dengan cahaya kasih, hingga lembut, damai, dan terbuka pada pancaran Ilahi.
🕊️ Ziarah kepada Ali bin al-Husain, Muhammad al-Baqir, dan Ja‘far ash-Shadiq (عليهم السلام)
بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Setiap amal yang dimulai dengan Bismillah berarti menanggalkan ego dan menempatkan seluruh gerak di bawah Nama-Nya. Nama Allah bukan sekadar bunyi, tapi “wujud perantara” yang mengalirkan Rahmat dan Wujud ke seluruh ciptaan.
اللهم صل على محمد وال محمد
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.
Salawat adalah jembatan antara makhluk dan Cahaya Ilahi. Dengan salawat, ruh menyambung pada Nur Muhammad yang menjadi asal segala kesempurnaan dan makrifat.
اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ يا خُزّانَ عِلْمِ اللهِ
As-salāmu ‘alaykum yā khuzzāna ‘ilmillāh.
Salam sejahtera atas kalian, wahai para penjaga ilmu Allah.
Para Imam Ahlulbayt adalah wadah Ilmu Allah — bukan sekadar pengetahuan lahir, tapi cermin yang memantulkan Cahaya Ilmu Ilahi. Menyapa mereka berarti menyapa Cahaya Kesadaran Ilahi yang tersimpan dalam diri manusia yang suci.
اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ يا تَراجِمَةَ وَحْيِ اللهِ
As-salāmu ‘alaykum yā tarājimata waḥyillāh.
Salam atas kalian, wahai penerjemah wahyu Allah.
Mereka bukan hanya penyampai teks wahyu, tetapi penerjemah makna hakikatnya — yang mengubah kalam menjadi jalan menuju Allah.
اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ يا اَئِمَّةَ الْهُدى
As-salāmu ‘alaykum yā a’immatal-hudā.
Salam atas kalian, wahai para pemimpin petunjuk.
Mereka adalah “kutub” spiritual — poros petunjuk yang mengarahkan hati kepada Allah. Dalam batin, mereka simbol dari ‘aql (akal ilahi) yang menuntun jiwa keluar dari kegelapan nafsu.
اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ يا اَعْلامَ التُّقى
As-salāmu ‘alaykum yā a‘lāmat-taqwā.
Salam atas kalian, wahai panji-panji ketakwaan.
Mereka adalah tanda-tanda jalan taqwa — cermin bagi orang yang mencari kesucian hati. Barangsiapa mengenal mereka, maka ia telah mengenal jalan ketundukan sejati kepada Allah.
اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ يا اَوْلادَ رَسُولِ اللهِ
As-salāmu ‘alaykum yā awlāda Rasūlillāh.
Salam atas kalian, wahai anak-anak Rasulullah.
Mereka adalah pewaris ruhani Nabi — bukan hanya keturunan darah, tapi pewaris nur kenabian yang terus menghidupkan jalan Ilahi di bumi.
اَنَا عارِفٌ بِحَقِّكُمْ مُسْتَبْصِرٌ بِشَأْنِكُمْ مُعاد لاَِعْدائِكُمْ مُوال لاَِوْلِيائِكُمْ
Anā ‘ārifun biḥaqqikum, mustabṣirun bi sha’nikum, mu‘ādun li-a‘dā’ikum, muwālun li-awliyā’ikum.
Aku mengenal hak kalian, memahami kedudukan kalian, memusuhi musuh-musuh kalian, dan mencintai para sahabat kalian.
Makrifat kepada Imam adalah makrifat kepada Allah melalui perantara cahaya-Nya. Cinta dan benci di sini bukan emosi, melainkan penyelarasan ruh dengan kebenaran dan penolakan terhadap kebatilan.
بِاَبى اَنْتُمْ وَاُمّى صَلَواتُ اللهِ عَلَيْكُمْ
Bi-abī antum wa ummī, ṣalawātullāhi ‘alaykum.
Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi kalian, semoga salawat Allah atas kalian.
Pernyataan cinta total; simbol dari penyerahan diri sepenuhnya — bahkan asal jasad (ayah dan ibu) dijadikan persembahan bagi Nur Allah yang terpantul dalam para Imam.
اَللّهُمَّ اِنّى اَتَوالى آخِرَهُمْ كَما تَوالَيْتُ اَوَّلَهُمْ…
Ya Allah, aku mencintai yang terakhir dari mereka sebagaimana aku mencintai yang pertama; aku berlepas diri dari selain mereka, dan aku kufur terhadap segala berhala dan kekuatan tirani.
Kesetiaan ini adalah penyaksian terhadap satu rantai cahaya — dari Nabi hingga Imam Mahdi. “Berlepas diri” artinya memurnikan tauhid dari segala bentuk ego dan thaghut dalam diri.
اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا سَيِّدَ الْعابِدينَ …
Salam atasmu, wahai penghulu para ahli ibadah, keturunan para wasi (Ali as). Salam atasmu wahai pembuka ilmu para nabi (al-Baqir). Salam atasmu wahai orang yang jujur dalam ucapan dan perbuatan (ash-Shadiq).
Masing-masing Imam memanifestasikan sifat Allah:
• Zainul ‘Abidin → manifestasi ‘ubūdiyyah (penghambaan murni).
• Al-Baqir → manifestasi ‘ilm (pembuka hakikat pengetahuan).
• Ash-Shadiq → manifestasi ṣidq (kebenaran mutlak). Menziarahi mereka berarti menziarahi tiga pilar makrifat: Ibadah, Ilmu, dan Shidq.
يا مَوالِيَّ هذا يَوْمُكُمْ …
Wahai junjunganku, hari ini adalah hari kalian — hari Selasa. Aku adalah tamu kalian dan berlindung kepada kalian, maka jamulah aku dan lindungilah aku dengan kedudukan kalian di sisi Allah dan Ahlulbait yang suci.
Hari Selasa disandarkan pada mereka karena setiap hari memiliki “cahaya wali” yang menaunginya. Berlindung pada mereka artinya menempatkan diri dalam perlindungan Nur Ilahi yang mengalir melalui wali-wali-Nya.
🤲 Doa Hari Selasa Imam Sajjad as
اَلْحَمْدُ للهِِ وَالْحَمْدُ حَقُّهُ كَما يَسْتَحِقُّهُ حَمْداً كَثيراً
Al-ḥamdu lillāh wal-ḥamdu ḥaqqahu kamā yastaḥiqquhu ḥamdan kathīrā.
Segala puji bagi Allah, pujian yang layak bagi-Nya, sebagaimana Dia berhak menerimanya, dengan pujian yang banyak.
Pujian sejati bukan dari lidah, tapi dari kesadaran bahwa tiada wujud selain Dia. Pujian hakiki adalah pengakuan eksistensi-Nya di setiap napas.
وَاَعُوذُ بِهِ مِنْ شَرِّ نَفْسى اِنَّ النَّفْسَ لاََمّارَةٌ بِالسُّوءِ اِلاّ ما رَحِمَ رَبّى
Wa a‘ūdhu bihī min sharri nafsī, innan-nafsa la-ammāratun bis-sū’, illā mā raḥima rabbī.
Aku berlindung kepada-Nya dari kejahatan diriku sendiri, sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku.
Nafsu (ego) adalah hijab terbesar antara hamba dan Allah. Setiap dosa berasal dari bisikan diri yang merasa “aku”. Hanya rahmat Ilahi yang mampu menjinakkan nafs ini, bukan kekuatan akal semata. Doa ini adalah penyerahan total kepada cahaya rahmat agar menundukkan bayangan diri.
وَاَعُوذُ بِهِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطانِ الَّذى يَزيدُنى ذَنْباً اِلى ذَنْبى
Wa a‘ūdhu bihī min sharri ash-shayṭāni alladhī yazīdunī dhanban ilā dhanbī.
Dan aku berlindung kepada-Nya dari kejahatan setan yang menambah dosaku atas dosaku.
Setan luar hanyalah gema dari setan dalam — bisikan ego dan hawa. Ia memperbanyak dosa karena memelihara rasa “aku” yang berdiri di hadapan Tuhan. Perlindungan hakiki terjadi ketika “aku” lenyap dalam cahaya “Dia”.
وَاَحْتَرِزُ بِهِ مِنْ كُلِّ جَبّارٍ فاجِرٍ وَسُلْطانٍ جائِرٍ وَعَدُوٍّ قاهِرٍ
Wa aḥtarizu bihī min kulli jabbārin fājir, wa sulṭānin jā’ir, wa ‘aduwwin qāhir.
Dan aku berlindung kepada-Nya dari setiap penguasa yang durhaka, pemimpin yang zalim, dan musuh yang menindas.
“Jabbār”, “sulṭān”, dan “‘aduww” bukan hanya sosok luar, tetapi simbol dari tiga kekuatan kegelapan dalam diri:
• Jabbār → kesombongan ego.
• Sulṭān jā’ir → nafsu yang memerintah tanpa kendali.
• ‘Aduww qāhir → hawa dunia yang menundukkan hati. Doa ini adalah permohonan agar Allah memerdekakan jiwa dari kekuasaan batin yang menzalimi.
اَللّهُمَّ اجْعَلْنى مِنْ جُنْدِكَ فَاِنَّ جُنْدَكَ هُمُ الْغالِبُونَ
Allāhummaj‘alnī min jundika fa’inna jundaka humul-ghālibūn.
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk tentara-Mu, karena sesungguhnya tentara-Mu itulah yang menang.
“Jundullah” adalah pasukan cahaya — para hamba yang menundukkan diri sepenuhnya pada kehendak-Nya. Menjadi bagian dari pasukan Allah berarti hati tidak lagi berperang melawan takdir, tapi menjadi saluran bagi kehendak Ilahi di dunia.
وَاجْعَلْنى مِنْ حِزْبِكَ فَاِنَّ حِزْبَكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Waj‘alnī min ḥizbika fa’inna ḥizbika humul-mufliḥūn.
Dan jadikanlah aku termasuk golongan-Mu, karena golongan-Mu itulah yang beruntung.
Ḥizbullah adalah mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta Ilahi, bukan duniawi. Keberuntungan sejati bukanlah harta atau status, tapi keselamatan hati dari selain Allah.
وَاجْعَلْنى مِنْ اَوْلِيآئِكَ فَاِنَّ أَوْلِيآءَكَ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Waj‘alnī min awliyā’ika fa’inna awliyā’aka lā khawfun ‘alayhim wa lā hum yaḥzanūn.
Dan jadikanlah aku termasuk wali-wali-Mu, karena wali-wali-Mu tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.
Menjadi wali bukan berarti berpangkat tinggi, tapi berarti dekat — hati yang berada di hadirat-Nya terus-menerus. Di maqam ini, rasa takut dan sedih sirna, karena diri telah lenyap dalam ketenangan ketetapan Ilahi.
اَللّهُمَّ اَصْلِحْ لى دينى فَاِنَّهُ عِصْمَةُ اَمْرى
Allāhumma aṣliḥ lī dīnī fa’innahu ‘iṣmatu amrī.
Ya Allah, perbaikilah agamaku, karena ia adalah pelindung urusanku.
“Dīn” di sini bukan sekadar syariat lahir, tapi sistem kesadaran yang menjaga manusia dari tergelincir dalam keakuan. Bila agama (kesadaran Ilahi) rusak, seluruh urusan hidup menjadi porak-poranda.
وَاَصْلِحْ لى آخِرَتى فَاِنَّها دارُ مَقَرّى وَإِلَيْها مِنْ مُجاوَرَةِ اللِّئامِ مَفَرّى
Wa aṣliḥ lī ākhiratī fa’innahā dāru maqarī wa ilayhā min mujāwarati al-li’ām mafarī.
Dan perbaikilah akhiratku, karena ia adalah tempat kembaliku, dan kepadanya aku lari dari berdekatan dengan orang-orang hina.
Akhirat bukan hanya alam setelah mati, tapi keadaan batin tempat jiwa beristirahat dalam cahaya Allah. Orang-orang “hina” adalah sifat-sifat rendah (syahwat, riya, dengki) — dan doa ini adalah permohonan agar jiwa terlepas dari kedekatan dengan sifat-sifat itu.
وَاجْعَلِ الْحَيوةَ زِيادَةً لى فى كُلِّ خَيْرٍ وَالْوَفاةَ راحَةً لى مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Waj‘alil-ḥayāta ziyādatan lī fī kulli khayr, wal-wafāta rāḥatan lī min kulli sharr.
Dan jadikanlah hidupku sebagai tambahan dalam setiap kebaikan, dan kematianku sebagai istirahat dari setiap keburukan.
Bagi arif, hidup dan mati sama-sama gerak menuju Allah. Hidup adalah kesempatan menambah cahaya; mati adalah saat pulang ke sumbernya. Ia tidak takut mati, sebab tiada “dua” antara hidup dan kembali kepada Kekasih.
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ خاتَمِ النَّبِيّينَ وَتَمامِ عِدَّةِ الْمُرْسَلينَ وَعَلى آلِهِ الطَّيِّبينَ الطّاهِرينَ وَاَصْحابِهِ الْمُنْتَجَبينَ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad khātamin-nabiyyīn, wa tamāmi ‘iddatil-mursalīn, wa ‘alā ālihi ath-thayyibīn ath-thāhirīn, wa aṣḥābihi al-muntajabīn.
Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad, penutup para nabi, penyempurna jumlah para rasul, juga kepada keluarganya yang suci dan bersih serta sahabat-sahabatnya yang terpilih.
Di sini ruh berhubung langsung dengan sumber kenabian. Salawat ini mengikat hati dengan rantai cahaya yang bermula dari Nur Muhammad, dan menyucikan dari segala kegelapan duniawi.
وَهَبْ لى فِى الثُّلاثاءِ ثَلاثاً لا تَدَعْ لى ذَنْباً اِلاّ غَفَرْتَهُ وَلا غَمّاً اِلاّ اَذْهَبْتَهُ وَلا عَدُوّاً اِلاّ دَفَعْتَهُ
Wahab lī fī ats-tsulāthā’i thalāthan: lā tada‘ lī dhanban illā ghafartahu, wa lā ghammān illā adhhabtahu, wa lā ‘aduwwan illā dafa‘tahu.
Dan anugerahkanlah kepadaku pada hari Selasa tiga hal: jangan biarkan ada dosa kecuali Engkau ampuni, kesedihan kecuali Engkau hilangkan, dan musuh kecuali Engkau jauhkan.
Tiga permohonan ini menyucikan tiga lapis jiwa:
• Dosa → noda hati.
• Kesedihan → beban batin.
• Musuh → segala penghalang dari luar dan dalam. Hari Selasa adalah simbol “tiga kekuatan” (akal, nafs, ruh), dan doa ini adalah keseimbangan di antara ketiganya.
بِبِسْمِ اللهِ خَيْرِ الاَْسْماءِ بِسْمِ اللهِ رَبِّ الاَْرْضِ وَالسَّماءِ
Bismillāhi khayril-asmā’, bismillāhi rabbil-arḍi was-samā’.
Dengan nama Allah, sebaik-baik nama; dengan nama Allah, Tuhan bumi dan langit.
Menyebut Bismillah di sini bukan pembuka, tapi peneguh: bahwa seluruh penjagaan dan keberkahan berpangkal dari Nama Allah, sumber keberadaan segala alam.
اَسْتَدْفِعُ كُلَّ مَكْروهٍ اَوَّلُهُ سَخَطُهُ وَأَسْتَجْلِبُ كُلَّ مَحْبُوبٍ أَوَّلُهُ رِضاهُ
Astadfi‘u kulla makrūhin awwaluhu sakhaṭuhu, wa astajlibu kulla maḥbūbin awwaluhu riḍāhu.
Aku menolak setiap keburukan yang awalnya kemurkaan-Nya, dan aku menarik setiap kebaikan yang awalnya keridaan-Nya.
Segala peristiwa berasal dari dua sumber: ridha atau sakhath Allah. Dengan dzikir dan kesadaran, hamba belajar mengenali arus keduanya — menolak yang menjauhkan dari Allah, dan menyerap yang mendekatkan pada-Nya.
فَاخْتِمْ لى مِنْكَ بِالْغُفْرانِ يا وَلِيَّ الاِْحْسانِ
Fākhtim lī minka bil-ghufrān, yā waliyyal-iḥsān.
Maka akhirilah bagiku dengan ampunan-Mu, wahai Pelindung segala kebaikan.
Penutup doa ini adalah puncak makrifat: bukan meminta dunia atau keselamatan semata, tapi meminta agar akhir kehidupan tertutup dalam ampunan dan cinta-Nya — karena itulah hakikat husnul khātimah: fana dalam rahmat Allah.
Hari Selasa adalah hari jihadun-nafs — perjuangan melawan diri. Maka doa ini seluruhnya berporos pada:
1. Perlindungan dari kejahatan dalam diri dan luar.
2. Permohonan perbaikan agama dan akhirat.
3. Penyucian jiwa hingga hanya Allah yang tersisa dalam kesadaran.
💎 Doa Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā (as) — Hari Selasa
اللّهُمَّ اجْعَلْ غَفْلَةَ النَّاسِ لَنا ذِكْراً،
وَاجْعَلْ ذِكْرَهُم لَنا شُكْراً،
وَاجْعَلْ صَالِحَ مَا نَقُولُ بِأَلْسِنَتِنا نِيَّةً في قُلُوبِنا،
اللّهُمَّ إِنَّ مَغْفِرَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوبِنا،
وَرَحْمَتَكَ أَرْجَى عِندَنا مِنْ أَعْمَالِنا،
اللّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّد،
وَوَفِّقْنا لِصَالِحِ الأَعْمالِ،
وَالصَّوَابِ مِنَ الفِعَالِ.
waj‘al dhikrahum lanā syukrā,
waj‘al ṣāliḥa mā naqūlu bi-alsinatina niyyatan fī qulūbinā,
Allāhumma inna maghfirataka awsa‘u min dhunūbinā,
wa raḥmataka arjā ‘indanā min a‘mālinā,
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad,
wa waffiqnā liṣ-ṣāliḥil-a‘māl,
waṣ-ṣawābi min al-fi‘āl.
🌸 Terjemahan Per Kalimat
1. اللهمّ اجعل غفلة الناس لنا ذكراً
“Ya Allah, jadikanlah kelalaian manusia sebagai peringatan bagi kami.”
2. واجعل ذكرهم لنا شكراً
“Dan jadikanlah ingatan (kesadaran) mereka sebagai rasa syukur bagi kami.”
3. واجعل صالح ما نقول بألسنتنا نية في قلوبنا
“Dan jadikanlah kebaikan yang kami ucapkan dengan lisan kami sebagai niat yang tulus dalam hati kami.”
4. اللهمّ إن مغفرتك أوسع من ذنوبنا
“Ya Allah, sesungguhnya ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosa kami.”
5. ورحمتك أرجى عندنا من أعمالنا
“Dan rahmat-Mu lebih kami harapkan daripada amal perbuatan kami.”
6. اللهمّ صلّ على محمد وآل محمد
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”
7. ووفقنا لصالح الأعمال، والصواب من الفعال
“Dan berilah kami taufik untuk melakukan amal yang baik dan perbuatan yang benar.”
🌺 Tafsir Makrifat & Isyarat Ruhani
🌙 1. “Jadikan kelalaian manusia sebagai peringatan bagi kami.”
👉 Makrifatnya: kelalaian orang lain adalah pelajaran bagi hati yang terjaga. Dunia adalah madrasah bagi yang melihat dengan mata ruh.
🌿 2. “Dan jadikan ingatan mereka sebagai rasa syukur bagi kami.”
Ketika orang lain berzikir dan ingat Allah, seorang mukmin sejati mensyukuri bahwa di bumi ini masih ada yang menyebut nama-Nya.
👉 Makrifatnya: hati yang sadar tak iri pada kebaikan orang lain — ia justru bersyukur karena Cahaya Ilahi masih memancar melalui sesama.
🌹 3. “Dan jadikan kebaikan yang kami ucapkan dengan lisan sebagai niat dalam hati kami.”
Ucapan baik tanpa niat tulus adalah cangkang tanpa ruh. Doa ini memohon agar antara kata dan hati selaras.
👉 Makrifatnya: kesatuan antara lisan (dzahir) dan qalb (batin) adalah tanda keikhlasan sejati — maqam ṣidq (kejujuran ruhani).
💧 4. “Sesungguhnya ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosa kami.”
Dosa itu terbatas, rahmat-Nya tak terbatas.
👉 Makrifatnya: arif memandang dosa bukan sekadar kesalahan, tapi tabir yang menutupi cahaya. Namun ia yakin, rahmat Allah lebih cepat dari murka-Nya — sebagaimana firman:
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. al-A‘rāf: 156)
🕊️ 5. “Dan rahmat-Mu lebih kami harapkan daripada amal kami.”
Amal adalah persembahan kecil dari makhluk fana; rahmat adalah limpahan tak bertepi dari Sang Kekal.
👉 Makrifatnya: siapa yang mengenal hakikat amal, tahu bahwa semua amal adalah karunia, bukan hasil diri. Maka ia tidak bergantung pada amalnya, tapi pada kasih Allah yang mengilhamkannya.
🌼 6. “Salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Salawat adalah jembatan antara hamba dan Tuhan. Nur Muhammad adalah saluran rahmat — siapa bersalawat, berarti menyambung diri pada sumber cinta dan kesucian.
👉 Makrifatnya: salawat menyalakan cahaya di hati, sebagaimana matahari menerangi bumi setelah malam kelam.
🌞 7. “Berilah kami taufik untuk amal yang baik dan perbuatan yang benar.”
Taufik adalah anugerah Allah agar amal kita tidak hanya benar secara syariat tapi juga lurus secara hakikat.
👉 Makrifatnya: taufik adalah “napas ilahi” yang membimbing gerak kita tanpa kita sadari — tanda bahwa Dia yang bekerja melalui kita, bukan kita sendiri.
✨ Kesimpulan Makrifat Hari Selasa (Menurut Doa Sayyidah Fāṭimah as)
Hari Selasa menurut riwayat makrifat adalah hari kewaspadaan batin (yaum at-tanabbuh) — hari untuk menyadari kelalaian, menyelaraskan niat, dan menyerahkan diri pada rahmat Allah.
Doa ini mengajarkan tiga inti jalan makrifat:
1. Zikir dalam kelalaian,
2. Syukur dalam kesadaran,
3. Ikhlas dalam perkataan dan amal.
Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!
Comments
Post a Comment