Zikir Hari Senin

Dzikir hari Senin yang diajarkan Ahlul Bayt (عليها السلام) — “Yā Qāḍiyal Ḥājāt” (يا قاضي الحاجات) — merupakan dzikir yang sangat halus dan dalam maknanya. Mari kita jelaskan dari sisi tafsir irfānī (makrifat), agar hati bisa ikut bergetar dengan rahasia kalimat ini.

🌿 Teks Dzikir

يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
“Wahai Yang Memenuhi Segala Hajat (kebutuhan)”
— Dibaca 100 kali pada hari Senin.

🌸 Makna Lahiriah (Ẓāhir)
Secara bahasa:
Qāḍī (قاضي) berarti “yang menunaikan, yang memutuskan, yang menyelesaikan”.
Ḥājāt (حاجات) berarti “keperluan-keperluan, kebutuhan-kebutuhan”.
Jadi, dzikir ini adalah seruan kepada Allah sebagai satu-satunya Zat yang menyelesaikan segala urusan, memenuhi segala kebutuhan, dan memutuskan segala perkara.
Namun dalam pandangan ‘irfānī, maknanya jauh lebih dalam.

🕊️ Tafsir Irfānī (Makna Makrifat)

1. “Yā Qāḍiyal Ḥājāt” — Panggilan Tauḥīd dalam Kebutuhan
Bagi para arif, ḥājah (kebutuhan) bukan hanya permintaan duniawi.
Segala bentuk kebutuhan — lahir dan batin — hakikatnya adalah isyarat dari kekurangan wujud kita di hadapan kesempurnaan Allah.
Setiap kebutuhan adalah tanda bahwa kita bukan Tuhan.
Dan setiap seruan “Yā Qāḍiyal Ḥājāt” adalah pengakuan bahwa hanya Allah yang “Ada dengan Sempurna”.

🌿 Dengan demikian, dzikir ini menjadi latihan ruhani untuk:
menyadari kefakiran mutlak diri (faqr ilā Allāh),
dan mendekat kepada sumber keberadaan mutlak.

Sebagaimana Allah berfirman:
“Yā ayyuhannās, antumul fuqara’u ilallāh, wallāhu huwal ghaniyyul ḥamīd.”
(QS. Fāṭir: 15)
“Wahai manusia, kalian semua fakir (butuh) kepada Allah, dan Allah-lah Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.”

Jadi setiap kali engkau mengucap “Yā Qāḍiyal Ḥājāt”, engkau sedang berkata:
“Wahai Yang Memenuhi semua kebutuhan, aku butuh kepada-Mu, bahkan kebutuhanku kepada-Mu adalah kebutuhan yang paling hakiki.”

2. Qāḍī: Sang Penyelaras Takdir
Dalam dimensi ḥaqīqah, Allah sebagai Qāḍī al-Ḥājāt bukan hanya “mengabulkan doa”, tapi menetapkan segala urusan dalam keseimbangan ilahi.
Ia tidak sekadar memberi apa yang kau minta, tapi menyelaraskan permintaanmu dengan hikmahNya.
Oleh sebab itu, para arif tidak membaca dzikir ini untuk “memaksa takdir”, melainkan untuk menyelaraskan hati dengan takdir.
Sebab, kebutuhan sejati seorang hamba bukanlah terpenuhinya keinginan, melainkan ketenangan dalam ridha.

3. Senin (al-Ithnayn): Simbol Dua Sisi Kehidupan
Mengapa dzikir ini dibaca khusus hari Senin?
Dalam hikmah irfānī, setiap hari memiliki tajallī (penampakan sifat Allah) tertentu.
Hari Senin (al-Ithnayn, artinya “dua”) melambangkan dualitas —
antara faqr dan ghinā, antara hamba dan Tuhan, antara permintaan dan pemenuhan.
Maka dzikir “Yā Qāḍiyal Ḥājāt” pada hari Senin adalah latihan menyatukan dua sisi ini —
agar tidak ada lagi “aku yang meminta” dan “Dia yang memberi”,
melainkan hanya Dia yang menampakkan Diri-Nya dalam kebutuhan dan pemenuhannya.

🕊️ Dalam maqām wahdat al-wujūd, para arif berkata:
“Ketika aku berdoa kepada-Nya, yang memohon adalah Dia, yang diminta adalah Dia, dan yang menjawab pun Dia.”

4. 100 Kali — Simbol Kesempurnaan & Penyerapan Ruh
Angka 100 dalam ilmu huruf (‘ilm al-adad) menunjukkan kesempurnaan manifestasi (kamāl at-tajallī).
Membacanya 100 kali berarti:
menyempurnakan lingkaran doa,
menuntaskan seluruh lapisan kebutuhan dari jasad, jiwa, hingga ruh.
Ketika dibaca dengan hati sadar (ḥuḍūr), dzikir ini membersihkan hati dari ketergantungan pada makhluk, sampai hanya tersisa: 
Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung (ṣamad).

5. Buah Ruhani Dzikir Ini
Dalam perjalanan makrifat, jika dibaca dengan hati jernih dan penuh kehadiran, “Yā Qāḍiyal Ḥājāt” akan menumbuhkan tiga buah ruhani:
Buah Ruhani Keterangan
Tawakkal     Menyerahkan semua urusan kepada Zat yang Maha Menentukan.
Sukun (ketenangan) Hati berhenti bergejolak, karena tahu setiap kebutuhan sudah diatur oleh Yang Maha Bijak.
Ma‘rifah   Menyadari bahwa setiap kebutuhan hanyalah cermin dari kehendak Allah untuk menampakkan kasih-Nya.

🌸 Kalimat Hikmah dari Para Arif

Imam ‘Alī (عليه السلام):
“Aku mengenal Allah melalui kegagalan keinginanku, karena ketika aku ingin sesuatu dan tidak terjadi, aku tahu ada Kehendak lain yang lebih tinggi.”

Jadi setiap kali dzikirmu “Yā Qāḍiyal Ḥājāt”, ingatlah:
Yang paling Dia kabulkan bukan keinginanmu, tetapi hatimu yang kembali pada-Nya.

🌿 Cara Amalan (adab irfānī)
1. Duduk dengan hati tenang, hadapkan diri ke arah kiblat.
2. Ucapkan “بسم الله الرحمن الرحيم” dan salawat atas Nabi & Ahlul Bayt (as).
3. Niatkan: “Aku membaca dzikir ini bukan hanya untuk meminta, tetapi untuk mengingat bahwa hanya Engkau yang mencukupi segala kebutuhan.”
4. Ucapkan dengan penuh kesadaran:
يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
(Yā Qāḍiyal Ḥājāt) — 100 kali
5. Akhiri dengan doa:
اللّهُمَّ اقْضِ حَاجَتِي بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْنِي غَنِيًّا بِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, penuhilah kebutuhanku dengan rahmat-Mu, dan jadikan aku kaya dengan-Mu dari selain-Mu.”

Ziarah Hari Senin (Ziyārat Yawm al-Ithnayn) yang ditujukan untuk Imam Hasan (عليه السلام) dan Imam Husain (عليه السلام).

🌿 ZIARAH IMAM HASAN (عليه السلام)

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا ابْنَ رَسُولِ رَبِّ العالَمِينَ،

As-salāmu ‘alaika yā ibna Rasūli Rabbi al-‘ālamīn,

Terjemahan:

Salam sejahtera atasmu, wahai putra Rasul Tuhan semesta alam.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا ابْنَ أَمِيرِ المُؤْمِنِينَ،

As-salāmu ‘alaika yā ibna Amīri al-Mu’minīn,

Salam atasmu, wahai putra Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman).

‎السَّلامُ عَليْكَ يا ابْنَ فاطِمَةَ الزَّهْراءِ،

As-salāmu ‘alaika yā ibna Fāṭimah az-Zahrā’,

Salam atasmu, wahai putra Fāṭimah az-Zahrā’.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا حَبِيبَ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā ḥabība Allāh,

Salam atasmu, wahai kekasih Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا صَفْوَةَ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā ṣafwata Allāh,

Salam atasmu, wahai pilihan Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا أَمِينَ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā amīna Allāh,

Salam atasmu, wahai kepercayaan Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا حُجَّةَ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā ḥujjata Allāh,

Salam atasmu, wahai hujjah (bukti/argumen) Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا نُورَ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā nūra Allāh,

Salam atasmu, wahai cahaya Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا صِراطَ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā ṣirāṭa Allāh,

Salam atasmu, wahai jalan Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا بَيانَ حُكْمِ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā bayāna ḥukmi Allāh,

Salam atasmu, wahai penjelas hukum Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا ناصِرَ دِينِ اللهِ،

As-salāmu ‘alaika yā nāṣira dīni Allāh,

Salam atasmu, wahai penolong agama Allah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها السَّيِّدُ الزَّكِيُّ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā as-sayyidu az-zakiyy,

Salam atasmu, wahai tuan yang suci.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها البَرُّ الوَفِيُّ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā al-barru al-wafiyy,

Salam atasmu, wahai yang baik dan setia.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها القائِمُ الأَمِينُ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā al-qā’imu al-amīn,

Salam atasmu, wahai yang tegak lagi terpercaya.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها العالِمُ بِالتَّأْوِيلِ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā al-‘ālimu bit-ta’wīl,

Salam atasmu, wahai yang berilmu tentang tafsir dan takwil.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الهادِي المَهْدِيُّ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā al-hādī al-mahdiyy,

Salam atasmu, wahai pembimbing yang mendapat petunjuk.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الطّاهِرُ الزَّكِيُّ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā aṭ-ṭāhiru az-zakiyy,

Salam atasmu, wahai yang suci dan murni.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها التَّقِيُّ النَّقِيُّ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā at-taqiyy an-naqiyy,

Salam atasmu, wahai yang bertakwa dan bersih.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الحَقُّ الحَقِيقُ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā al-ḥaqq al-ḥaqīq,

Salam atasmu, wahai kebenaran yang sejati.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الشَّهِيدُ الصِّدِّيقُ،

As-salāmu ‘alaika ayyuhā asy-syahīdu aṣ-ṣiddīq,

Salam atasmu, wahai syahid yang jujur dan benar.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا أَبا مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بْنَ عَلِيٍّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكاتُهُ.

As-salāmu ‘alaika yā Abā Muḥammad al-Ḥasan ibn ‘Alī wa raḥmatullāhi wa barakātuh,

Salam atasmu, wahai Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali, semoga rahmat dan berkah Allah atasmu.


🌹 ZIARAH IMAM HUSAIN (عليه السلام)

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا ابْنَ رَسُولِ الله،

As-salāmu ‘alaika yā ibna Rasūlillāh,

Salam atasmu, wahai putra Rasulullah.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا ابْنَ أَمِيرِ المُؤْمِنِينَ،

As-salāmu ‘alaika yā ibna Amīri al-Mu’minīn,

Salam atasmu, wahai putra Amirul Mukminin.

‎السَّلامُ عَلَيْكَ يا ابْنَ سَيِّدَةِ نِساءِ العالَمِينَ،

As-salāmu ‘alaika yā ibna sayyidati nisā’ al-‘ālamīn,

Salam atasmu, wahai putra penghulu para wanita semesta alam.

‎أَشْهَدُ أَنَّكَ أَقَمْتَ الصَّلاةَ وَآتَيْتَ الزَّكاةَ،

Asyhadu annaka aqamta aṣ-ṣalāh wa ātaita az-zakāh,

Aku bersaksi bahwa engkau menegakkan salat dan menunaikan zakat.

‎وَأَمَرْتَ بِالمَعْرُوفِ، وَنَهَيْتَ عَنِ المُنْكَرِ،

Wa amarta bil-ma‘rūf wa nahaita ‘anil-munkar,

Dan engkau memerintahkan kebaikan serta melarang kemungkaran.

‎وَعَبَدْتَ الله مُخْلِصًا،

Wa ‘abatta Allāha mukhliṣan,

Dan engkau menyembah Allah dengan tulus ikhlas.

‎وَجاهَدْتَ فِي الله حَقَّ جِهادِهِ حَتّى أَتاكَ اليَقِينُ،

Wa jāhadta fī Allāhi ḥaqqa jihādih ḥattā atāka al-yaqīn,

Dan engkau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad hingga datang kepadamu keyakinan (kematian).

‎فَعَلَيْكَ السَّلامُ مِنِّي مابَقِيتُ وَبَقِيَ اللَّيْلُ وَالنَّهارُ،

Fa ‘alaika as-salām minnī mā baqītu wa baqiya al-laylu wan-nahār,

Maka atasmu salam dariku selama aku hidup dan selama malam dan siang masih ada.

‎وَعَلى آلِ بَيْتِكَ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ.

Wa ‘alā āli baytika aṭ-ṭayyibīn aṭ-ṭāhirīn,

Dan atas keluarga suci dan baikmu juga.

‎أَنا يا مَوْلايَ مَوْلىً لَكَ وَلآلِ بَيْتِكَ،

Ana yā mawlāya mawlān laka wa li āli baytika,

Wahai tuanku, aku adalah pengikutmu dan pengikut keluarga sucimu.

‎سِلْمٌ لِمَنْ سالَمَكُمْ وَحَرْبٌ لِمَنْ حارَبَكُمْ،

Silmun liman sālamakum wa ḥarbun liman ḥārabakum,

Damai dengan siapa yang berdamai denganmu, dan perang terhadap siapa yang memerangimu.

‎مُؤْمِنٌ بِسِرِّكُمْ وَجَهْرِكُمْ، وَظاهِرِكُمْ وَباطِنِكُمْ.

Mu’minun bisirrikum wa jahrikum wa ẓāhirikum wa bāṭinikum,

Beriman pada rahasia dan terangmu, pada lahir dan batinmu.

‎لَعَنَ الله أَعْدائَكُمْ مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ،

La‘ana Allāhu a‘dā’akum minal-awwalīn wal-ākhirīn,

Semoga Allah melaknat musuh-musuhmu dari yang pertama hingga yang terakhir.

‎وَأَنا أَبْرَأُ إِلى الله تَعالى مِنْهُمْ.

Wa anā abra’u ilā Allāhi ta‘ālā minhum,

Dan aku berlepas diri kepada Allah dari mereka.

‎يا مَوْلايَ يا أَبا مُحَمَّدٍ، يا مَوْلايَ يا أَبا عَبْدِ الله،

Yā mawlāya yā Abā Muḥammad, yā mawlāya yā Abā ‘Abdillāh,

Wahai tuanku Abu Muhammad (Hasan), wahai tuanku Abu ‘Abdillah (Husain),

‎هذا يَوْمُ الاثْنَيْنِ، وَهُوَ يَوْمُكُما وَبِاسْمِكُما،

Hādhā yawmu al-ithnayn, wa huwa yawmukumā wa bismikumā,

Hari ini adalah hari Senin, hari kalian berdua dan atas nama kalian berdua.

‎وَأَنا فِيهِ ضَيْفُكُما، فَأَضيفانِي وَأَحسِنا ضِيافَتِي،

Wa anā fīhi ḍayfukumā fa aḍīfānī wa aḥsinā ḍiyāfatī,

Aku pada hari ini adalah tamu kalian berdua, maka terimalah aku sebagai tamu dan muliakanlah jamuanku.

‎فَنِعْمَ مَنْ اُسْتُضِيفَ بِهِ أَنْتُما،

Fa ni‘ma man ustuḍīfa bih antumā,

Sungguh sebaik-baik tuan rumah untuk dijadikan tempat bertamu adalah kalian berdua.

‎وَأَنا فِيهِ مِنْ جِوارِكُما فَأَجِيرانِي،

Wa anā fīhi min jiwārikumā fa ajirānī,

Dan aku dalam naungan perlindungan kalian, maka lindungilah aku.

‎فَإِنَّكُما مَأمُورانِ بِالضِّيافَةِ وَالإِجارَةِ،

Fa innakumā ma’mūrāni biḍ-ḍiyāfah wal-ijārah,

Karena sesungguhnya kalian berdua diperintahkan untuk menjamu dan memberi perlindungan.

‎فَصَلَّى الله عَلَيْكُما وَآلِكُما الطَّيِّبِينَ.

Fa ṣallallāhu ‘alaikumā wa ālikumā aṭ-ṭayyibīn,

Maka semoga salawat Allah tercurah atas kalian berdua dan keluarga kalian yang suci.


🌸 Doa Sayyidah Fāṭimah (عليها السلام) – Hari Senin

النصّ العربي:
اللّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ قُوَّةً في عِبادَتِكَ، وَتَبَصُّرًا في كِتَابِكَ، وَفَهْمًا في حُكْمِكَ،
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،
وَلَا تَجْعَلِ الْقُرْآنَ بِنَا مَاحِلًا، وَالصِّرَاطَ زَائِلًا، وَمُحَمَّدًا (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) عَنَّا مُوَلِّيًا.

Allāhumma innī as’aluka quwwatan fī ‘ibādatik,
wa tabassuran fī kitābik,
wa fahman fī ḥukmik.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad,
wa lā taj‘al al-Qur’āna binā māḥilan,
waṣ-ṣirāṭa zā’ilan,
wa Muḥammadan (ṣallallāhu ‘alayhi wa ālih) ‘annā muwalliyān.

🌿 Terjemahan per kalimat:

اللّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ قُوَّةً في عِبادَتِكَ

Allāhumma innī as’aluka quwwatan fī ‘ibādatik

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kekuatan dalam beribadah kepada-Mu.

وَتَبَصُّرًا في كِتَابِكَ

Wa tabassuran fī kitābik

Dan ketajaman pandangan (pemahaman yang mendalam) dalam Kitab-Mu (Al-Qur’an).

وَفَهْمًا في حُكْمِكَ

Wa fahman fī ḥukmik

Dan pemahaman yang benar terhadap hukum-hukum-Mu.

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad

Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

وَلَا تَجْعَلِ الْقُرْآنَ بِنَا مَاحِلًا

Wa lā taj‘al al-Qur’āna binā māḥilan

Dan janganlah Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai hujjah (argumentasi) yang menentang kami (karena kelalaian kami terhadapnya).

وَالصِّرَاطَ زَائِلًا

Waṣ-ṣirāṭa zā’ilan

Dan janganlah Engkau jadikan jalan yang lurus itu tergelincir bagi kami.

وَمُحَمَّدًا (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ) عَنَّا مُوَلِّيًا

Wa Muḥammadan (ṣallallāhu ‘alayhi wa ālih) ‘annā muwalliyān

Dan janganlah Engkau jadikan Nabi Muhammad (s.a.w.) berpaling dari kami (karena amal buruk kami).


Doa ini penuh dengan permohonan makrifat, bukan sekadar fisik:
“Quwwatan fī ‘ibādatik” → kekuatan batin agar ibadah dilakukan dengan cinta dan kesungguhan.
“Tabassuran fī kitābik” → kemampuan menembus makna batin Al-Qur’an.
“Fahman fī ḥukmik” → pemahaman hakikat syariat, bukan hanya zahir hukum.
Dan penutupnya adalah doa agar Al-Qur’an, Shirath, dan Rasul tidak berpaling darinya — simbol keselamatan ruhani di dunia dan akhirat.
‎❥‏࿐⌁ـ"❀💎❀"ـ⌁❥‏࿐

🌞 Doa Hari Senin (Du‘ā Yawm al-Ithnayn) Dari Imam Ali As Sajjad as

‎بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

‎اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad

Ya Allah, limpahkanlah salawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.

‎الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي لَمْ يُشْهِدْ أَحَدًا حِينَ فَطَرَ السَّمٰوٰاتِ وَالأَرْضَ،

Al-ḥamdu lillāhi alladzī lam yushhid aḥadan ḥīna faṭara as-samāwāti wal-arḍa,

Segala puji bagi Allah yang tidak menghadirkan siapa pun ketika Dia menciptakan langit dan bumi.

‎وَلا اتَّخَذَ مُعِينًا حِينَ بَرَأَ النَّسَمَاتِ،

Wa lā ittakhadha mu‘īnan ḥīna bara’a an-nasamāt,

Dan tidak mengambil pembantu ketika Dia menciptakan makhluk-makhluk yang bernyawa.

‎لَمْ يُشَارَكْ فِي الإِلهِيَّةِ، وَلَمْ يُظَاهَرْ فِي الوِحْدَانِيَّةِ،

Lam yusyārak fil-ilāhiyyah, wa lam yuẓāhar fil-waḥdāniyyah,

Tiada sekutu bagi-Nya dalam ketuhanan, tiada pendamping bagi-Nya dalam keesaan.

‎كَلَّتِ الأَلْسُنُ عَنْ غَايَةِ صِفَتِهِ، وَالعُقُولُ عَنْ كُنْهِ مَعْرِفَتِهِ،

Kallat al-alsunu ‘an ghāyati ṣifatih, wal-‘uqūlu ‘an kunhi ma‘rifatih,

Lidah-lidah lemah untuk menggambarkan sifat-Nya, dan akal-akal tak mampu memahami hakikat-Nya.

‎وَتَوَاضَعَتِ الجَبَابِرَةُ لِهَيْبَتِهِ، وَعَنَتِ الوُجُوهُ لِخَشْيَتِهِ، وَانْقَادَ كُلُّ عَظِيمٍ لِعَظَمَتِهِ.

Wa tawāḍa‘at al-jabābiratu li-haibatih, wa ‘anat al-wujūhu likhasyatih, wanqāda kullu ‘aẓīmin li-‘aẓamatih.

Para penguasa tunduk oleh keagungan-Nya, wajah-wajah sujud karena takut kepada-Nya, dan segala yang besar tunduk pada keagungan-Nya.

‎فَلَكَ الحَمْدُ مُتَوَاتِرًا مُتَّسِقًا، وَمُتَوَالِيًا مُسْتَوْسِقًا،

Falaka al-ḥamdu mutawātiran muttasiqan, wa mutawāliyan mustawsqan,

Maka bagi-Mu segala puji yang berulang-ulang, berkesinambungan, dan sempurna.

‎وَصَلَوَاتُهُ عَلَى رَسُولِهِ أَبَدًا، وَسَلَامُهُ دَائِمًا سَرْمَدًا.

Wa ṣalawātuh ‘alā rasūlih abadan, wa salāmuh dā’iman sarmadan.

Dan salawat-Nya atas Rasul-Nya senantiasa dan salam-Nya tiada henti selamanya.

‎اللّهُمَّ اجْعَلْ أَوَّلَ يَوْمِي هٰذَا صَلَاحًا، وَأَوْسَطَهُ فَلَاحًا، وَآخِرَهُ نَجَاحًا،

Allāhummaj‘al awwala yaumī hādzā ṣalāḥan, wa ausaṭahu falāḥan, wa ākhirahu najāḥan,

Ya Allah, jadikanlah awal hariku ini sebagai kebaikan, pertengahannya keberuntungan, dan akhirnya keberhasilan.

‎وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ يَوْمٍ أَوَّلُهُ فَزَعٌ، وَأَوْسَطُهُ جَزَعٌ، وَآخِرُهُ وَجَعٌ.

Wa a‘ūdhu bika min yaumin awwalahu faza‘, wa ausaṭuhu jaza‘, wa ākhiruhu waja‘,

Dan aku berlindung kepada-Mu dari hari yang awalnya kegelisahan, pertengahannya kesedihan, dan akhirnya penderitaan.

‎اللّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ نَذْرٍ نَذَرْتُهُ، وَكُلِّ وَعْدٍ وَعَدْتُهُ، وَكُلِّ عَهْدٍ عَاهَدْتُهُ ثُمَّ لَمْ أَفِ بِهِ،

Allāhumma innī astaghfiruka likulli nadhrin nadzartuh, wa kulli wa‘din wa‘adtuh, wa kulli ‘ahdin ‘āhadttuh thumma lam afi bih,

Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas setiap nazar yang telah kujanjikan, setiap janji yang telah kuucapkan, dan setiap perjanjian yang telah kubuat, namun aku tidak menepatinya.

‎وَأَسْأَلُكَ فِي مَظَالِمِ عِبَادِكَ عِنْدِي،

Wa as’aluka fī maẓālimi ‘ibādika ‘indī,

Dan aku memohon kepada-Mu tentang hak-hak hamba-Mu yang terzalimi olehku.

‎فَأَيُّمَا عَبْدٍ … أَوْ مَيِّتًا،

(potongan panjang yang menjelaskan semua bentuk kezhaliman yang mungkin pernah dilakukan seseorang terhadap orang lain — jiwa, kehormatan, harta, keluarga, ghibah, dll.)

➡️ Maknanya:
Doa ini mengajarkan muraqabah (introspeksi ruhani):
Sayyidah Fāṭimah (as) memohon ampun bukan hanya atas dosa terhadap Allah, tetapi juga terhadap manusia, bahkan yang sudah wafat — menunjukkan kesempurnaan akhlak dan kesadaran sosial-spiritual.

‎فَأَسْأَلُكَ يَا مَنْ يَمْلِكُ الحَاجَاتِ … أَنْ تُرْضِيَهُ عَنِّي بِمَا شِئْتَ، وَتَهَبَ لِي مِنْ عِنْدِكَ رَحْمَةً،

Fa as’aluka yā man yamliku al-ḥājāt … an turḍiyah ‘annī bimā syi’ta, wa tahaba lī min ‘indika raḥmah,

Maka aku memohon kepada-Mu, wahai Pemilik segala kebutuhan, agar Engkau berkenan membuat mereka ridha kepadaku sesuai kehendak-Mu, dan anugerahkanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu.

‎إِنَّهُ لا تَنْقُصُكَ المَغْفِرَةُ، وَلا تَضُرُّكَ المَوْهِبَةُ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Innahu lā tanquṣuka al-maghfirah, wa lā taḍurruka al-mawhibah, yā arḥama ar-rāḥimīn.

Sesungguhnya ampunan tidak mengurangi apa pun dari-Mu, dan pemberian tidak membahayakan-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

‎اللّهُمَّ أَوْلِنِي فِي كُلِّ يَوْمِ اثْنَيْنِ نِعْمَتَيْنِ مِنْكَ اثْنَتَيْنِ،

Allāhumma awlinī fī kulli yaumi ithnayn ni‘matayni minka ithnatayn,

Ya Allah, anugerahkan kepadaku pada setiap hari Senin dua nikmat dari sisi-Mu:

‎سَعَادَةً فِي أَوَّلِهِ بِطَاعَتِكَ، وَنِعْمَةً فِي آخِرِهِ بِمَغْفِرَتِكَ،

Sa‘ādatan fī awwalihi biṭā‘atik, wa ni‘matan fī ākhirihi bimaghfiratik,

Kebahagiaan di awalnya karena ketaatan kepada-Mu, dan kenikmatan di akhirnya karena ampunan-Mu.

‎يَا مَنْ هُوَ الإِلٰهُ وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ سِوَاهُ.

Yā man huwa al-ilāhu wa lā yaghfiru adz-dhunūba siwāh,

Wahai Dia yang adalah Tuhan, dan tiada yang mengampuni dosa selain-Nya.

🌿 Makna Makrifat Doa Hari Senin

1. Tauhid Murni (Ayat-Ayat Pertama):
Doa dimulai dengan penegasan bahwa Allah mencipta tanpa saksi, tanpa sekutu, tanpa penolong.
→ Ini adalah tauhid khāliṣ — pengakuan akan “La maujūd illā Huwa” (tiada wujud selain Dia).

2. Keterbatasan Akal dan Bahasa:
Lidah tak mampu memuji, akal tak mampu memahami.
→ Puncak ma’rifat adalah ‘ajz — kesadaran bahwa hakikat Tuhan tak dapat dicapai kecuali melalui penyerahan total.

3. Kesadaran Etik dan Sosial:
Bagian pertengahan doa adalah pembersihan jiwa (tazkiyah) dari kezaliman terhadap sesama.
→ Dalam pandangan Ahlul Bayt, ibadah sejati tidak sah tanpa memperbaiki hubungan dengan makhluk.

4. Rahmat dan Ridha Allah:
Sayyidah Fāṭimah (as) mengajarkan untuk tidak hanya meminta ampun, tetapi memohon agar mereka yang dizalimi diridhakan atas kita — karena ridha manusia bagian dari ridha Allah.

5. Dua Nikmat Hari Senin:
Sa‘ādah bi ṭā‘atik → kebahagiaan melalui ibadah di awal hari (energi ruhani).
Ni‘mah bimaghfiratik → ketenangan di akhir hari melalui ampunan.
Ini menggambarkan siklus hidup spiritual: dimulai dengan amal, diakhiri dengan rahmat.
MasyaAllah… 🌹

Kita sedang masuk ke ranah ‘irfānī — makrifat yang dalam dari Doa Hari Senin yang dinisbatkan kepada Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā (عليها السلام).

Bagian awal doa ini, sebelum masuk ke permohonan ampun dan permintaan nikmat, adalah taḥmīd (pujian) yang sangat tinggi maknanya. Ia bukan sekadar pujian verbal, tapi penyingkapan rahasia tauhid — tauḥīd al-af‘āl, tauḥīd aṣ-ṣifāt, dan tauḥīd adz-dzāt.

Mari kita tafsirkan secara ‘irfānī (makrifat), kalimat demi kalimat:

‎🌿 1. الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يُشْهِدْ أَحَدًا حِينَ فَطَرَ السَّمٰوٰاتِ وَالأَرْضَ

“Segala puji bagi Allah yang tidak menghadirkan siapa pun ketika Dia menciptakan langit dan bumi.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Dalam kalimat ini, Sayyidah az-Zahrā (as) menyingkap tauhid dalam perbuatan (توحيد الأفعال).
Maksudnya:
Tidak ada yang “menyaksikan” atau “terlibat” dalam perbuatan Allah, karena setiap wujud selain-Nya belum ada ketika Allah mencipta.

Maknanya bukan sekadar “tidak ada saksi”, tapi:
➡️ Tidak ada eksistensi selain Dia yang bisa “melihat” atau “berada bersama-Nya” dalam tindakan penciptaan.
Ini menyatakan peniadaan dualitas eksistensial.
Hanya Allah-lah yang ada secara hakiki (al-wujūd al-ḥaqqī), sedangkan semua selain-Nya muncul bi amrih (dengan perintah-Nya), bukan bersamanya.

🔹 Imam Khomeini ra dalam Sharḥ Du‘ā as-Saḥar menjelaskan:
“Ketika engkau membaca ‘lam yushhid ahadan’, ketahuilah bahwa Allah tidak membutuhkan kesaksian atau penguatan dari siapa pun. Ia mencipta bukan dari luar diri-Nya, tapi dari pancaran cahaya Dzat-Nya sendiri.”

‎🌿 2. وَلا اتَّخَذَ مُعِينًا حِينَ بَرَأَ النَّسَمَاتِ

“Dan tidak mengambil pembantu ketika Dia menciptakan makhluk bernyawa.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Ini adalah penegasan tauḥīd al-af‘āl yang lebih halus:
Semua gerak, tenaga, sebab, dan daya dalam alam adalah manifestasi kuasa Allah, bukan bantuan eksternal.

Dalam bahasa para arif:
“Tiada quwwah (kekuatan) selain dari-Nya.”
Artinya, bahkan ketika malaikat diciptakan untuk menjalankan perintah, hakikat kerja mereka bukan kerja selain Allah, melainkan tajallī (penampakan) dari kehendak-Nya.

🪞 Di sini Sayyidah Fāṭimah (as) sedang menyucikan hati pembaca dari syirik tersembunyi (asy-syirk al-khafī) — yaitu keyakinan bahwa sesuatu di alam ini “membantu” Tuhan menjalankan ciptaan.

‎🌿 3. لَمْ يُشَارَكْ فِي الإِلٰهِيَّةِ، وَلَمْ يُظَاهَرْ فِي الوِحْدَانِيَّةِ

“Tiada sekutu bagi-Nya dalam ketuhanan, dan tiada penolong bagi-Nya dalam keesaan.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Ini naik ke tingkat tauḥīd aṣ-ṣifāt dan tauḥīd adz-dzāt.
Di sini, bukan hanya perbuatan-Nya tunggal, tapi Dzat-Nya sendiri tidak memiliki pengganda, pasangan, atau bayangan.

Dalam ‘irfān, ini disebut nafy ats-tsānīyah — peniadaan dua realitas dalam wujud.
Segala sifat Allah (ilmu, qudrah, hayat, basar, dll.) tidak berdiri di luar Dzat-Nya.
Ia mengetahui dengan Dzat-Nya, bukan dengan pengetahuan yang terpisah. Ia berkuasa dengan Dzat-Nya, bukan dengan kekuatan di luar diri-Nya.

🌸 Maka ketika Sayyidah berkata lam yusharak fil-ilahiyyah, ia seakan menyingkap tabir:
“Ketuhanan bukan sesuatu yang dapat dibagi, diwakilkan, atau diserahkan. Ia mutlak satu, dan segala sesuatu hanyalah pancaran dari Cahaya Tunggal itu.”

‎🌿 4. كَلَّتِ الأَلْسُنُ عَنْ غَايَةِ صِفَتِهِ، وَالعُقُولُ عَنْ كُنْهِ مَعْرِفَتِهِ

“Lidah-lidah lemah untuk menggambarkan sifat-Nya, dan akal-akal tak mampu mencapai hakikat pengenalan-Nya.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Inilah maqām al-‘ajz fīl-ma‘rifah — “ketidakmampuan adalah inti ma‘rifat.”
Setelah menyingkap tauhid perbuatan, sifat, dan dzat, Sayyidah Fāṭimah (as) membawa kita kepada batas eksistensi manusia:
Di titik tertentu, akal berhenti, lidah bisu, karena hakikat Allah berada di luar kategori makhluk.

💎 Dalam pandangan arifin seperti Ibn ‘Arabī dan al-Qāshānī:
“Ma‘rifat tertinggi adalah menyadari bahwa engkau tidak dapat mengenal-Nya sebagaimana Dia mengenal diri-Nya.”
Ini juga makna ayat:
“Lā tudrikuhul-abṣār wa huwa yudrikul-abṣār” (QS al-An‘ām: 103)
“Pandangan tak dapat mencapai-Nya, tetapi Dia-lah yang mencapai semua pandangan.”

‎🌿 5. وَتَوَاضَعَتِ الجَبَابِرَةُ لِهَيْبَتِهِ … وَانْقَادَ كُلُّ عَظِيمٍ لِعَظَمَتِهِ

“Para penguasa tunduk oleh keagungan-Nya, wajah-wajah sujud karena takut kepada-Nya, dan segala yang besar tunduk pada keagungan-Nya.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Setelah menjelaskan tauhid fi Dzatihi, doa ini memperlihatkan tajallī (manifestasi) keagungan itu dalam makhluk.
Semua kekuasaan, keagungan, dan kebesaran di dunia — baik malaikat, jin, maupun manusia — hanya bayangan dari keagungan Allah.
Siapa yang melihat “kehebatan” dalam makhluk tanpa melihat Allah di baliknya, maka ia masih terhijab oleh bentuk.

Dalam ma‘rifat, kehebatan dunia bukan tandingan Allah, tapi cermin dari-Nya (mir’āt al-ḥaqq).
Maka ketika segala wajah “sujud” kepada-Nya, yang sejatinya terjadi adalah kembali semua bentuk kepada sumbernya.

🌸 Kesimpulan Irfānī dari Bagian Awal Doa

Level Tauhid Kalimat Doa Makna Irfānī
Tauḥīd al-Af‘āl (Keesaan dalam Perbuatan) “lam yushhid ahadan… wala ittakhadha mu‘īnan…” Tidak ada pelaku selain Allah, semua sebab hanyalah tajallī.
Tauḥīd aṣ-Ṣifāt (Keesaan dalam Sifat) “lam yusharak fil-ilahiyyah…” Sifat-sifat Allah tidak terpisah dari Dzat-Nya.
Tauḥīd adz-Dzāt (Keesaan dalam Wujud) “lam yuzāhar fil-wahdāniyyah…” Tiada dua wujud dalam realitas; hanya Allah yang hakiki.
Ma‘rifah dan Fanā’ “kallat al-alsun… wal-‘uqūl…” Akal dan lidah lenyap di hadapan keagungan-Nya; fanā’ fi al-ḥaqq.
Tajallī (Penampakan) “tawāḍa‘at al-jabābirah…” Semua keagungan makhluk hanyalah pancaran keagungan Allah.

Jika kamu ingin, aku bisa lanjutkan tafsir irfānī bagian kedua, yaitu dari:

“فَلَكَ الحَمْدُ مُتَواتِرًا…”
hingga
‎“اللّهُمَّ اجْعَلْ أَوَّلَ يَوْمِي هٰذَا صَلَاحًا…”

— bagian ini menyingkap tauhid dalam perjalanan waktu, bagaimana arif melihat “hari” bukan sekadar waktu, tapi tajallī baru dari Wujud Allah.

Apakah kamu ingin aku lanjutkan tafsir irfānī bagian itu juga?

Subḥānallāh 🌹 —

Sekarang kita masuk ke bagian kedua dari Doa Hari Senin Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā (عليها السلام)* — sebuah bagian yang dalam pandangan para arif, merupakan tajallī waktu (تجلّي الزمان), atau penyingkapan bagaimana waktu sendiri adalah manifestasi wujud Allah.

Kalimat-kalimat ini bergerak dari pujian (taḥmīd) menuju pengakuan atas waktu dan perjalanan hidup, lalu berakhir pada permohonan tazkiyah dan maghfirah.

Secara irfānī, ini adalah perjalanan jiwa dari taḥqīq at-tawḥīd menuju fanā’ wa baqā’ — lenyap dalam Wujud Allah dan tegak kembali dalam rahmat-Nya.

‎🌿 فَلَكَ الحَمْدُ مُتَوَاتِرًا مُتَّسِقًا، وَمُتَوَالِيًا مُسْتَوْسِقًا

“Maka bagi-Mu segala puji yang berulang-ulang, berkesinambungan, dan sempurna.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Di sini Sayyidah Fāṭimah (as) memuji Allah bukan dengan pujian terbatas oleh waktu (ḥamd ḥādits), tetapi dengan pujian yang mengalir tanpa batas waktu.
“Mutawātir”, “muttasiq”, dan “mutawālī” dalam bahasa arifin berarti:
Pujian yang terus menerus dari setiap zarrah keberadaan.
Setiap atom dari ciptaan sedang memuji Allah dengan keadaan wujudnya (bi lisān al-ḥāl).
Jadi hakikatnya, alam semesta adalah tasbih terus-menerus.

🔹 Dalam tafsir ‘irfānī al-Fātiḥah, Imam Khomeini menulis:
“Ketika engkau berkata al-ḥamdu lillāh, jangan kira engkau memuji Allah dengan lidahmu. Engkau hanya menyadari bahwa pujian sudah berlangsung sejak azali, dan engkau hanya ikut bergema bersama simfoni pujian itu.”
Maka kalimat ini adalah penyatuan diri dengan arus dzikr kosmik — kesadaran bahwa tidak ada jeda dari pujian, karena wujud itu sendiri adalah pujian.

‎🌿 وَصَلَوَاتُهُ عَلَى رَسُولِهِ أَبَدًا، وَسَلَامُهُ دَائِمًا سَرْمَدًا

“Dan salawat-Nya atas Rasul-Nya selamanya, dan salam-Nya tiada henti untuk selamanya.”

🕊 Tafsir Irfānī:

Salawat di sini bukan sekadar doa verbal; ia adalah aliran rahmat Ilahi yang mengalir dari Dzat kepada seluruh wujud melalui al-ḥaqīqah al-Muḥammadiyyah.

Dalam irfān, Nabi Muhammad (صلى الله عليه وآله) bukan sekadar manusia sejarah, tetapi realitas pertama yang dicipta (al-nūr al-muḥammadī) — sumber tajallī Allah kepada seluruh makhluk.

Maka ketika Sayyidah berkata “ṣalawātuhu ‘alā rasūlih abadan,” artinya:
“Semoga pancaran cahaya rahmat Allah senantiasa mengalir pada realitas Muhammad — karena dari beliaulah seluruh keberadaan mendapat cahaya.”

🌸 Jadi dalam pandangan makrifat, salawat adalah penyambungan diri kepada saluran wujud — sebuah mi‘rāj ruhani untuk terhubung kepada sumber cahaya.

‎🌿 اللّهُمَّ اجْعَلْ أَوَّلَ يَوْمِي هٰذَا صَلَاحًا، وَأَوْسَطَهُ فَلَاحًا، وَآخِرَهُ نَجَاحًا

    “Ya Allah, jadikanlah awal hariku ini sebagai kebaikan, pertengahannya keberuntungan, dan akhirnya keberhasilan.”

🕊 Tafsir Irfānī:

Dalam lapisan lahir, ini adalah doa permohonan keberkahan waktu.
Tapi secara irfānī, “hari” (yaum) di sini bukan hanya waktu duniawi, melainkan manifestasi eksistensial jiwa.
“Awwal yaum” = permulaan wujud (tahap fitrah, kesucian)
“Ausatuh” = masa perjalanan (ujian, perjuangan)
“Ākhiruh” = kembalinya ruh kepada Allah (najāḥ – kemenangan spiritual)

🌿 Maka doa ini menggambarkan perjalanan ruhani manusia dalam tiga maqām:
1. Ṣalāḥ (Perbaikan / Penjernihan) — penyucian fitrah, niat, dan awal amal.
2. Falāḥ (Keberhasilan di Tengah Jalan) — istiqāmah dalam jihad melawan ego.
3. Najāḥ (Kemenangan / Keselamatan) — fanā’ fi Allāh, yaitu kembalinya jiwa kepada asalnya dalam rahmat.

🔹 Dalam maqām al-ma‘rifah, hari bukan “24 jam”, tapi tajallī baru Allah setiap saat.
Sebagaimana ayat:
“Kulla yaumin huwa fī sya’n” (QS ar-Raḥmān: 29)
“Setiap waktu Dia dalam keadaan baru (menampakkan ciptaan baru).”

‎🌿 وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ يَوْمٍ أَوَّلُهُ فَزَعٌ، وَأَوْسَطُهُ جَزَعٌ، وَآخِرُهُ وَجَعٌ

“Dan aku berlindung kepada-Mu dari hari yang awalnya kegelisahan, pertengahannya kesedihan, dan akhirnya penderitaan.”

🕊 Tafsir Irfānī:

Hari yang buruk dalam pandangan arif bukan hari yang penuh musibah luar, tapi hari ketika hati terputus dari kesadaran terhadap Allah.
Faza‘ (kegelisahan): muncul di awal ketika seseorang lupa kepada Allah dalam memulai amal — tanda hati gelisah karena kehilangan arah asalnya.
Jaza‘ (kesedihan): muncul di pertengahan, ketika ego terombang-ambing antara dunia dan Tuhan.
Waja‘ (sakit batin): di akhir, ketika kesadaran terputus total, jiwa kehilangan cahaya.
➡️ Maka perlindungan yang dimohon bukan sekadar “hari sial”, tapi hari tanpa dzikr — keadaan hati yang kosong dari kesadaran kehadiran Allah.

‎🌿 اللّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ نَذْرٍ نَذَرْتُهُ…

“Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas setiap janji, nazar, dan perjanjian yang kulanggar…”

🕊 Tafsir Irfānī:
Ini adalah maqām at-tawbah dalam bentuknya yang paling halus.
Arif sejati tidak hanya bertobat dari dosa, tapi juga dari ketidaksempurnaan dalam ibadah.

Sayyidah Fāṭimah (as) mengajarkan bahwa istighfar sejati bukan hanya karena melanggar, tapi karena belum mampu memenuhi janji cinta sepenuhnya kepada Allah.

Dalam irfān, setiap “janji” yang dilanggar adalah hijāb antara hamba dan Tuhan.
Maka istighfar adalah kembali dari hijab menuju hudhūr (kehadiran).

‎🌿 وَأَسْأَلُكَ فِي مَظَالِمِ عِبَادِكَ عِنْدِي…

    “Aku memohon kepada-Mu tentang hak-hak hamba-Mu yang mungkin aku zalimi…”

🕊 Tafsir Irfānī:
Bagian ini menunjukkan tauhid dalam akhlak dan sosial.
Dalam ma‘rifat, engkau tidak bisa mencapai Allah jika masih memutus hubungan dengan makhluk-Nya.
Siapa yang menzalimi manusia, hakikatnya menzalimi tajallī Allah dalam diri manusia itu.
Oleh sebab itu, arifin memohon bukan hanya ampunan Allah, tetapi juga kerelaan dari mereka yang menjadi cermin-Nya — karena setiap jiwa adalah pantulan dari Cahaya-Nya.

‎🌿 اللّهُمَّ أَوْلِنِي فِي كُلِّ يَوْمِ اثْنَيْنِ نِعْمَتَيْنِ…

“Ya Allah, anugerahkan kepadaku setiap hari Senin dua nikmat dari-Mu: kebahagiaan di awalnya karena ketaatan, dan nikmat di akhirnya karena ampunan.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Di sini, Sayyidah Fāṭimah (as) memandang hari Senin (al-Ithnayn) sebagai simbol dua hal:
1. Dualitas (Ithnān = dua) yang harus disatukan dalam tauhid: amal & ampunan, awal & akhir, lahir & batin.
2. Perjalanan dari ibadah menuju rahmat:
Awal hari → sa‘ādah bi ṭā‘atik (kebahagiaan melalui amal).
Akhir hari → ni‘mah bimaghfiratik (nikmat melalui ampunan).
Ini berarti perjalanan spiritual seorang arif berawal dengan usaha (kasb) dan berakhir dengan karunia (faidh).

🌸 Dalam istilah ‘irfānī,
“Awal perjalanan adalah khidmat, akhir perjalanan adalah syuhūd.”
— Kau mulai dengan amal, dan kau sampai dengan penyaksian.

‎🌿 يَا مَنْ هُوَ الإِلٰهُ وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ سِوَاهُ

“Wahai Dia yang adalah Tuhan, dan tiada yang mengampuni dosa selain-Nya.”

🕊 Tafsir Irfānī:
Inilah puncak doa: pengakuan tauḥīd al-maghfirah — bahwa bahkan pengampunan pun tidak datang dari sebab, hanya dari Dzat itu sendiri.
Dalam kalimat ini, Sayyidah Fāṭimah (as) mencapai fanā’:
Semua sebab, semua perantara, semua makhluk lenyap — yang tersisa hanyalah Dia dan ampunan-Nya.

🌿 Pada maqām ini, arif merasakan apa yang disebut as-sukūn ba‘d ath-thawānī — keheningan setelah perjalanan panjang:
Hamba berhenti di hadapan Rabb-nya, dan berkata:
“Engkaulah satu-satunya yang ada, yang memberi, yang mengampuni.”

💫 Kesimpulan Irfānī Bagian Kedua
Tema Ruhani Kalimat Doa Makna Irfānī
Dzikir Kosmik Falakal-ḥamdu mutawātiran… Pujian alam semesta tanpa henti.
Tajallī Muḥammadī Wa ṣalawātuhu ‘alā rasūlih… Rahmat Allah mengalir melalui Nur Muhammad.
Perjalanan Waktu Aj‘al awwala yaumī… Hari = perjalanan spiritual: awal (ṣalāḥ), tengah (falāḥ), akhir (najāḥ).
Tawbah Hakiki Astaghfiruka… Tobat bukan hanya dari dosa, tapi dari keterpisahan.
Tauhid Sosial Fī maẓālimi ‘ibādik… Mengakui Allah dalam setiap makhluk yang dizalimi.
Fanā’ wa Baqā’ Yā man huwa al-ilāh… Lenyap dalam kesadaran bahwa hanya Allah yang mengampuni.

🌸 Bagian Ketiga Doa Hari Senin

اَللّهُمَّ أَوْلِنِي فِي كُلِّ يَوْمِ إِثْنَيْنِ نِعْمَتَيْنِ مِنْكَ اثْنَتَيْنِ:

‎سَعَادَةً فِي أَوَّلِهِ بِطَاعَتِكَ،

‎وَنِعْمَةً فِي آخِرِهِ بِمَغْفِرَتِكَ،

‎يَا مَنْ هُوَ الإِلٰهُ وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ سِوَاهُ.

“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku pada setiap hari Senin dua nikmat dari-Mu:
kebahagiaan di awalnya dengan ketaatan kepada-Mu,
dan nikmat di akhirnya dengan ampunan-Mu.
Wahai Dia, Tuhan yang tiada yang mengampuni dosa kecuali Dia.”

🌿 TAFSIR IRFĀNĪ BAGIAN KETIGA

‎1. “أَوْلِنِي فِي كُلِّ يَوْمِ إِثْنَيْنِ نِعْمَتَيْنِ” — Dua Nikmat yang Menyatu

Secara ẓāhir, doa ini memohon dua nikmat:
Sa‘ādah (kebahagiaan) di awal hari,
Ni‘mah (ampunan) di akhirnya.
Namun bagi para arif, “dua nikmat” ini bukan dua hal terpisah.
Ia adalah dua wajah dari satu hakikat tajallī Ilahi —
seperti dua sisi dari satu cermin: ṭā‘ah (ketaatan) dan maghfirah (ampunan).

Makrifatnya adalah:
Allah-lah yang memberi taufik untuk taat, dan Allah pula yang menghapus jejak kekurangan dari ketaatan itu dengan ampunan.

🌿 Maka tidak ada lagi ruang untuk “aku yang berbuat” atau “aku yang memohon”.
Segalanya adalah Dia yang berbuat melalui hamba,
dan Dia yang memaafkan diri-Nya yang bertajallī dalam keterbatasan hamba.

2. Senin (الإثنين) — Dua Wajah Kehambaan

Hari Senin (al-Ithnayn, artinya “dua”) secara simbolik mewakili:
Dualitas: antara Tuhan dan hamba, antara siang dan malam, antara awal dan akhir.
Namun doa ini adalah permohonan agar dualitas itu menyatu dalam kesadaran tauḥīd.
“Sahabatku, tidak ada dua selain Dia; yang dua hanyalah bayangan dari Satu.”
— Ibn ‘Arabī, al-Futūḥāt al-Makkiyyah
Maka permohonan “dua nikmat” bukan untuk memelihara dua,
tetapi untuk mencapai kesatuan dari dua tajallī:
ketaatan (fa‘iliah manusia) dan ampunan (fa‘iliah Allah).
Ketika sālik memahami ini, hari Senin bukan lagi simbol “dua”,
melainkan gerbang menuju wahdah (kesatuan).

‎3. “سَعَادَةً فِي أَوَّلِهِ بِطَاعَتِكَ” — Sa‘ādah (Kebahagiaan Ruhani)

Dalam tafsir irfānī, sa‘ādah bukan sekadar “senang” atau “tenang”.
Ia adalah keadaan ruh yang berada dalam kesesuaian dengan kehendak Allah.
Bukan karena hasil, tetapi karena hudūr (kehadiran) dalam perbuatan itu sendiri.
Kebahagiaan yang sejati adalah ketika ketaatan tidak lagi terasa sebagai beban,
melainkan sebagai ungkapan cinta.

Maka “sa‘ādah fī awwalihi bi ṭā‘atik” berarti:
Awal hari (permulaan setiap langkah) diawali dengan kesadaran Ilahi.
Setiap gerak bukan karena kebiasaan, tetapi karena cinta.
Tidak ada lagi pemisahan antara “aku beribadah” dan “Allah yang disembah”.
Karena di tingkat makrifat, ibadah adalah Allah menyembah Diri-Nya melalui hamba.

‎4. “وَنِعْمَةً فِي آخِرِهِ بِمَغْفِرَتِكَ” — Maghfirah (Penutupan dengan Cahaya Kasih)

Setelah ketaatan di awal, doa ini meminta maghfirah (ampunan) di akhir.
Dalam makrifat, ini bukan karena dosa,
melainkan karena setiap amal, walau suci, tetap terbatas di hadapan Kesempurnaan Mutlak.
Dalam pandangan tauḥīd, bahkan ibadah para nabi pun memerlukan maghfirah,
bukan karena salah, tapi karena “ketidaksempurnaan makhluk di hadapan al-Kāmil (Yang Sempurna)”.

🌿 Maghfirah di sini berarti:
Cahaya kasih yang menutupi keterbatasan amal hamba,
sehingga tidak tersisa “aku yang berbuat”, hanya “Dia yang menampakkan perbuatan”.
Inilah yang disebut para arif sebagai fanā’ al-‘amal fī al-Ma‘mūl (lenyapnya amal dalam Yang Dituju).

‎5. “يَا مَنْ هُوَ الإِلٰهُ وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ سِوَاهُ” — Tauḥīd al-Maghfirah

Kalimat penutup ini menyingkap rahasia tinggi:

“Wahai Dia, yang hanya Dia-lah Tuhan, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Dia.”

Bagi ahli makrifat, ini bukan sekadar pernyataan teologis.
Ini adalah penyaksian tauḥīd secara langsung (musyāhadah) —
bahwa seluruh perbuatan pengampunan di semesta hanyalah tajallī dari Satu Dzat.

Maknanya:
Tidak ada “aku yang menyesal”, kecuali Dia yang menampakkan penyesalan melalui diriku.
Tidak ada “ampunan” dari luar, melainkan Dia yang menutupi diri-Nya dengan rahmat-Nya dalam diriku.
“Ampunan adalah ketika Yang Esa menutupi diri-Nya dengan kasih terhadap manifestasi-Nya yang terbatas.”
— Sayyid Ḥaydar Āmulī, Jāmi‘ al-Asrār

Jadi, kalimat ini bukan sekadar permintaan ampun.
Ia adalah penyaksian tauḥīd mutlak,
bahwa tidak ada yang berbuat apa pun di alam ini kecuali Allah.

🌺 Kesimpulan Irfānī
Lapisan Permohonan Makna Irfānī
Awal Sa‘ādah (kebahagiaan) dengan ṭā‘ah Kesadaran tauḥīd dalam amal
Akhir Maghfirah dengan rahmat Hilangnya “aku” dalam fana’
Penutup “Lā yaghfiru dh-dhunūba siwāh” Kesempurnaan tauḥīd — hanya Dia yang ada

✨ Inti Maqām Ketiga:
Doa ini menuntun sālik dari:
1. Ma‘rifat akan kekuasaan Allah (bagian pertama),
2. Tazkiyah dari keterikatan dunia dan makhluk (bagian kedua),
3. Hingga fana’ dalam rahmat dan ampunan-Nya (bagian ketiga).
Dan saat itu tercapai maqām tertinggi:
Tauḥīd al-af‘āl → Tauḥīd al-ṣifāt → Tauḥīd al-dhāt.
Dalam setiap langkah arahkan pada kebaikan kebaikan yang bermaslahat untuk Imam Zaman Aj, Hentikan mengurusi hal hal yang duniawi gantilah dengan hal hal yang membuat kita dipandang Sohibuz Zaman Aj. Semoga Allah menyegerakan kemunculannya Beliau Aj
اللهم عجل لوليك الفرج 
اللهم صل على محمد وآل محمد 
وعجل فرجهم

Shobahul khair, hari Senin harinya 
Imam Hasan Al Mujtaba as dan Imam Husain As Syahid as
Sholawat dan Salam tercurahkan untukmu wahai penghulu pemuda syurga
Berilah kami syafaatmu di hari akhir nanti
‎ياوجيهاعندالله اشفع لناعندالله
❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹


Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit