Sholawat untuk 100 ribu Kebaikan, Dimaafkan 100 ribu kesalahan dan Dikabulkan 100 ribu Hajat
فَإِنَّ مَنْ قَالَهَا بَعْدَ الْعَصْرِ كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ مِائَةَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ مِائَةَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَقَضَى لَهُ بِهَا مِائَةَ أَلْفِ حَاجَةٍ.
Sayidina Muhamad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin cucunda Nabi Muhamad saw Berkata:*Orang yang membaca Shalawat ini 10 kali di hari Jumat *setelah waktu Ashar, Allah akan mengaruniakan padanya 100 ribu Kebaikan, Dimaafkan 100 ribu kesalahan dan dikabulkan 100 ribu Hajat”
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
الْأَوْصِيَاءِ الْمَرْضِيِّيْنَ بِأَفْضَلِ صَلَوَاتِكَ
وَبَارِكْ عَلَيْهِمْ بِأَفْضَلِ بَرَكَاتِكَ ،
عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَعَلَى أَرْوَاحِهِمْ وَأَجْسَادِهِمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
wa āli Muḥammad
al-awṣiyā’i al-marḍiyyīna
bi-afḍali ṣalawātika
wa bārik ‘alayhim bi-afḍali barakātika,
‘alayhi wa ‘alayhimu as-salāmu
wa ‘alā arwāḥihim wa ajṣādihim
wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
🌿 Terjemahan Maknawi
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad — para wasi yang Engkau pilih dan ridhai. Anugerahkanlah kepada mereka salawat-Mu yang paling sempurna dan keberkahan-Mu yang paling agung. Semoga keselamatan tercurah kepada beliau dan kepada mereka semua, juga kepada ruh-ruh dan jasad-jasad mereka. Dan semoga rahmat serta keberkahan Allah tetap menyertai mereka.”
📚 kitab Al-Mahasin, jilid 1 halaman 59 hadis 96.
1. “Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad”
Di tingkat batin, salawat bukanlah sekadar pujian, tetapi permintaan agar Allah menyingkapkan cahaya-Nya melalui Rasulullah dan Ahlulbait.
• Salawat adalah jalur turun naiknya rahmat.
• Saat membaca salawat, sebenarnya kita sedang menghubungkan diri dengan sumber nur Muhammad, hakikat pertama yang diciptakan Allah.
Maka doa ini membuka pintu kehadiran spiritual mereka dalam hati.
2. “al-awṣiyā’i al-marḍiyyīn” — Para wasi yang diridai
Istilah awṣiyā’ secara batin menunjuk kepada:
• Mereka yang memegang warisan nur ilahi Rasulullah.
• Mereka yang dijaga agar selalu berada dalam ridha Allah, sehingga hati mereka adalah cermin kehendak-Nya.
Dalam tradisi makrifat, para imam adalah “penjaga cahaya” (ḥamalah an-nūr) — bukan sekadar penerus secara administratif, tetapi penyangga batin agama.
Menyebut mereka berarti menghubungkan jiwa kita dengan tali ilahi yang tidak terputus.
3. Memohon “ṣalawāt-Mu yang paling utama”
Salawat Allah bukan seperti salawat manusia.
• Salawat Allah = curahan rahmat, penyempurnaan, pengangkatan derajat cahaya.
• Salawat malaikat = penghormatan dan permohonan.
• Salawat manusia = kesaksian dan pengharapan.
Ketika kita memohon “salawat yang paling utama”, sebenarnya kita meminta: Agar cahaya mereka menjadi cahaya kita.
Agar rahmat yang turun kepada mereka memancar ke dalam jiwa kita.
Ini adalah permintaan untuk disertakan dalam arus rahmat Muhammad.
4. “wa bārik ‘alayhim” — Meminta keberkahan
Keberkahan (barakah) dalam makrifat berarti:
• Pertumbuhan batin
• Kualitas yang terus melahirkan kebaikan
• Cahaya yang memperluas kapasitas ruhani
Dengan memohon barakah bagi Nabi dan Ahlulbait, kita sesungguhnya memohon:
Agar keberkahan mereka menjadi keberkahan dalam hidup kita, bukan hanya dalam materi, tapi dalam hati, amal, dan perjalanan menuju Allah.
5. “‘alayhi wa ‘alayhim as-salām” — Salam sebagai ketentraman batin.
• Keselamatan dari segala kekurangan
• Kesejahteraan yang sempurna
• Kehadiran damai ilahi
Menyampaikan salam kepada Nabi dan Ahlulbait berarti membuka pintu untuk: Menghadirkan ketenangan mereka ke dalam jiwamu.
Para arif berkata: “Siapa yang memberi salam dengan sepenuh hati, maka Allah menjadikan hatinya tanah suci tempat turunnya salam.”
6. “wa ‘alā arwāḥihim wa ajṣādihim” — Mengakui kesempurnaan zahir dan batin
Dalam dimensi ma‘rifat:
• Ruh mereka adalah cahaya murni.
• Jasad mereka adalah wadah suci bagi cahaya tersebut.
Penyebutan ruh dan jasad bersama-sama adalah pengakuan bahwa: Mereka sempurna dalam dua alam: lahir dan batin.
Ini adalah bentuk adab makrifat — melihat manusia kamil sebagai kesatuan cahaya yang menembus fisik.
7. “wa raḥmatullāhi wa barakātuh” — Penutup dengan tiga tingkat rahmat
Doa ini diakhiri dengan rahmat dan berkah Allah — yang oleh para arif dianggap sebagai:
1. Rahmat (kasih yang merangkul)
Memberi rasa aman dan diterima.
2. Barakah (pertumbuhan batin)
Membuat kebaikan berlipat dalam hidup.
3. Salam (ketentraman)
Menetapkan ketenangan sebagai kondisi hati.
Ketiganya adalah tiga pilar perjalanan spiritual.
🌙 Ringkasannya
Secara spiritual, doa ini adalah:
•Mengalirkan rahmat, salam, dan berkah ke dalam jiwa
•Mengakui kesucian zahir–batin para penjaga agama
•Membuka ruang dalam hati untuk dituntun oleh nur mereka
Ia membuat hati ikut bergetar dalam orbit cahaya Ahlulbait.
🌿 Penjelasan Doa Menurut Irfan (Ahli Tasawuf)
Dalam irfan, Rasulullah (saw) dan Ahlulbait (as) dipandang sebagai mazhar (manifestasi) paling sempurna dari Asma’ dan Sifat Allah. Seluruh realitas spiritual mengalir dari Nūr Muhammad dan Wilāyah ‘Ali yang merupakan dua sisi dari satu hakikat cahaya.
Doa ini adalah salah satu jalan penyambungan (ittiṣāl) kepada hakikat itu.
1. “Allāhumma ṣalli ‘alā Muhammad wa āli Muhammad”
💠 Wilayah sebagai Jalur Rahmat Ilahi
Dalam irfan Syiah:
• Salawat adalah permohonan agar Tajalli Ilahi memancar melalui Nabi dan Ahlulbait.
• Nabi adalah mazhar al-Rubūbiyyah (manifestasi akbar Tuhan).
• Ahlulbait adalah mazāhir al-Asmā’ (manifestasi nama-nama Allah).
Ketika kita mengucap salawat, kita sebenarnya:
Meminta agar rahmat Allah turun kepada kita melalui saluran Wilayah.
Mulla Ṣadrā menjelaskan bahwa semua kesempurnaan—ilmu, cahaya, hidayah, hakikat—mengalir dari Nūr Muhammad secara bertingkat. Ahlulbait adalah cermin tergelapkan dari cahaya itu.
2. “al-awṣiyā’i al-marḍiyyīn” — Para Wasi Yang Diridai
Dalam irfan
• Wasi (وصي) bukan sekadar penerus administratif.
• Mereka adalah penanggung nur wilayah, yaitu hakikat batin agama.
• Mereka adalah Insan Kamil yang sempurna setelah Nabi.
Di sini “al-marḍiyyīn” (yang diridhai) berarti:
Mereka yang seluruh wujudnya telah larut dalam ridha Ilahi sehingga tidak tersisa kehendak pribadi.
Dalam irfan, ini disebut fanā’ fi al-mashī’ah — lebur dalam kehendak Tuhan.
Sayyid Ḥaydar Āmulī mengatakan:
“Para Imam adalah pintu-pintu ma’rifat karena mereka adalah bahasa batin Al-Qur’an.”
3. Memohon “salawat-Mu yang paling utama”
Menurut irfan:
• Salawat Allah kepada Nabi dan Ahlulbait berarti pencerahan, peninggian derajat, dan penyempurnaan cahaya mereka.
• Manusia yang memohon salawat sebenarnya memohon penyinaran jiwa oleh cahaya tersebut.
Hakikatnya: Ketika rahmat Allah turun kepada Muhammad dan Ahlulbait, jiwa kita ikut terangkat jika kita tersambung dengan mereka (wilayah).
Ini yang disebut dalam irfan sebagai: Tajalli bi al-Nūr al-Muḥammadī (penyinaran oleh cahaya Muhammad).
4. “wa bārik ‘alayhim bi-afḍali barakātik”
Barakah dalam irfan mengandung tiga makna:
1. Tathwīl al-khair — memanjangkan kebaikan dalam waktu
2. Tanmiyyah al-nūr — pertumbuhan cahaya dalam batin
3. Wus’ah al-qalb — perluasan kapasitas ruhani
Meminta barakah bagi Nabi dan Ahlulbait berarti secara batin kita meminta: Agar kebaikan, cahaya, dan keluasan ruhani mereka memancar dan berkembang dalam diri kita. Karena dalam irfan, mereka adalah sumber barakah di alam eksistensial.
5. “‘alayhi wa ‘alayhim as-salām” — Salam sebagai Tajalli Kedamaian.
Ia adalah tajalli dari Nama Allah As-Salām.
Ketika kita bersalam kepada Nabi dan Ahlulbait:
• Kita memasuki wilayah kedamaian batin
• Kita ditarik keluar dari kekacauan nafs
• Kita masuk dalam orbit ketentraman ruhani mereka
Imam Shadiq (as) mengatakan: “Salam kami adalah keamanan dari kebinasaan.”
Dalam bahasa irfan: Salam adalah jembatan dari dunia syahadah menuju alam malakut.
6. “wa ‘alā arwāḥihim wa ajṣādihim” — Kesempurnaan Lahut dan Nasut
Dalam irfan Syiah:
• Ruh para Imam adalah Lahut (cahaya tinggi).
• Jasad mereka adalah Nasut (manifestasi jasmani).
Doa ini menegaskan: Kesempurnaan mereka mencakup seluruh tingkatan wujud—dari ruh tertinggi hingga jasad terendah.
Ini adalah konsep Insan Kamil dalam filsafat Sadrian:
• Wujud manusia sempurna membentang dari alam cahaya hingga alam materi.
7. “wa raḥmatullāhi wa barakātuh” — Puncak Doa
Dalam irfan Syiah, tiga kata terakhir ini merupakan tiga pilar perjalanan ruhani:
1. Raḥmah — Kasih Ilahi
Mengisi hati dengan kelembutan.
2. Salam — Kedamaian Ilahi
Membuat jiwa tenang dari kegelisahan dunia.
3. Barakāt — Cahaya yang berkembang
Menjadi bahan bakar naiknya derajat spiritual.
Doa ini ingin membawa kita ke keadaan:
Terhubung dengan Wilayah, tenang dalam salam, tumbuh dalam barakah, dan stabil dalam rahmat.
🌟 Kesimpulan Irfan Syiah
Menurut irfan Syiah, doa ini bukan hanya permohonan biasa. Ia adalah:
• Konektor ruhani menuju Nūr Muhammad dan Wilayah Ahlulbait
• Permintaan penyinaran (tajalli) ke dalam jiwa kita
• Pengakuan bahwa para Imam adalah Insan Kamil
• Pembukaan pintu salam, rahmat, dan barakah dalam bathin
Doa ini adalah zikir penyambung eksistensial antara manusia dengan cahaya para ma’shum.
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon doa!!!
Comments
Post a Comment