Berduka atas Syahadah Imam Musa bin Ja’far Ash-Shodiq as 25 Rajab 183 H Riwayat Lain 186 H . Di racun di penjara di Hari Jumat

Imam Kazhim a.s. adalah orang yang paling abid, zahid, faqih dan dermawan pada masa itu. Ketika dua pertiga malam tiba, ia mulai melakukan shalat sunnah dan melanjutkan shalatnya hingga fajar menyingsing. 

Setelah melaksanakan shalat Shubuh, ia mengangkat tangan untuk berdoa dan mulai tenggelam dalam tangisan hingga seluruh jenggotnya basah dengan air mata. 

Ketika ia membaca Al- Quran, orang-orang berdatangan dan berkumpul di sekelilingnya untuk menikmati suaranya yang merdu. 
Ia dikenal dengan julukan hamba saleh, dan karena kemampuannya menahan amarah, ia dijuluki dengan al- kazhim. Julukannya yang lain adalah shabir (penyabar) dan amin (terpercaya). 

Salah satu dari keturunan Umar bin Khattab sering mengganggunya dan menjelek-jelekkan Imam Ali a.s. Sebagian orang yang bersamanya berkata: "Izinkanlah kami membunuhnya". Imam a.s. dengan tegas mencegah mereka untuk melakukan hal itu. 

Pada suatu hari, Imam mencari orang tersebut. Mereka menjawab: "Ia sibuk berkebun di pinggiran Madinah". Dengan menunggangi keledainya Imam masuk ke kebun orang tersebut. "Jangan kau rusak tanamanku", teriaknya nyaring. Akan tetapi, Imam a.s. tidak menghiraukan teriakannya. Ia terus masuk ke kebunnya dengan menunggangi keledai hingga ia sampai di hadapannya. Imam turun dari keledai dan langsung bersenda-gurau dengannya. 
Setelah itu Imam a.s. bertanya: "Berapa kerugian yang kau taksir akibat kerusakan kebunmu ini?" 
"100 Dinar!", jawabnya tegas. 
"Sekarang berapa kerugian yang harus kuganti?", tanya Imam kembali. 
"Aku tidak memiliki ilmu ghaib (baca : aku tidak tahu-- pen.)", jawabnya. Aku bertanya berapa yang harus kubayar?", tanya Imam memaksa. "200 Dinar", jawabnya. 
Imam Kazhim a.s. memberikan 300 Dinar kepadanya seraya berkata: "Kebunmu tetap menjadi milikmu". Lelaki itu bangun dari duduknya seraya mencium kening Imam a.s. dan hengkang dari tempat itu. 

Imam Musa Kazhim a.s. pergi ke masjid dan melihat lelaki itu duduk di dalam masjid. Ketika ia melihat Imam masuk, ia berkata: "Allah lebih tahu di mana Ia harus meletakkan risalah-Nya". 

Para pengikut Imam a.s. mengerumuni lelaki tersebut dan bertanya kepadanya: "Apa gerangan yang terjadi? Selama ini engkau selalu memusuhinya?" Ia akhirnya mulai mengumpat mereka dan berdoa untuk keselamatan Imam Kazhim a.s. Setelah itu Imam Kazhim a.s. berkata kepada para pengikutnya: "Apakah perlakuan yang ingin kalian lakukan terhadapnya lebih baik atau perlakuanku terhadapnya dengan memberikan uang 300 Dinar kepadanya?" 

Sangat banyak riwayat yang menceritakan akhlak Imam Kazhim a.s. yang sangat tinggi, kesabarannya dalam menghadapi segala kesulitan dan ketidakpeduliannya terhadap harta dunia. Hal ini mengindikasikan kesempurnaan jiwa dan sifat kepemaafannya yang sangat luhur. 

Pasca Syahadah Imam Musa Al-Kazhim a.s. 

Atas perintah Harun Ar-Rasyid, Sindi bin Syahik menaruh racun di dalam makanan Imam Musa Kazhim a.s. Setelah memakannya, ia harus meninggalkan dunia fana ini setelah tiga hari bergelut dengan racun tersebut. 

Setelah Imam Kazhim a.s. syahid, Sindi mengumpulkan beberapa orang faqih dan pembesar Baghdad. Setelah mereka sampai di samping jenazah Imam, ia berkata kepada mereka: "Lihatlah dengan seksama, apakah kalian melihat bekas tusukan pedang atau panah di tubuhnya?" 
"Kami tidak melihat bekas tersebut", jawab mereka. Setelah itu ia meminta dari mereka untuk bersaksi bahwa Imam a.s. meninggal dunia secara biasa. Dan mereka bersaksi. 

Tak lama kemudian, ia mengeluarkan jenazah Imam a.s. dan diletakkannya di jembatan Baghdad. Ia memerintahkan seseorang untuk berteriak: "Ini adalah Musa bin Ja'far telah mati. Lihatlah!" Orang-orang yang lewat di situ memperhatikan jenazahnya dan mereka tidak melihat bekas pembunuhan sedikit pun. 
Berkenaan dengan lamanya Imam Kazhim a.s. dipenjara, terdapat beberapa pendapat yang sangat berbeda. Satu pendapat menyatakan 4 tahun, pendapat kedua mengatakan 7 tahun, pendapat ketiga mencatat 10 tahun dan pendapat keempat 14 tahun. 

Ziarah Imam Musa bin Ja’far a.s.
   
Syekh Mufid, Syahid, dan Muhammad bin Masyhadi berkata, “Bila Anda ingin berziarah kepada beliau di Baghdad maka mandilah sebelum berziarah. Setelah Anda sampai di sana, berdirilah di makamnya yang mulia dan mintalah izin kemudian masuklah sambil membaca:

1. Bacaan saat masuk (di pintu haram)

بِسْمِ اللّٰهِ وَبِاللّٰهِ وَفِي سَبِيْلِ اللّٰهِ 
وَعَلٰى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَاٰلِهِ وَالسَّلَامُ عَلٰى أَوْلِيَاءِ اللّٰهِ

Bismillāhi wa billāhi wa fī sabīlillāhi wa ‘alā millati Rasūlillāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa ālih, was-salāmu ‘alā awliyā’illāh.

Dengan nama Allah, dengan pertolongan Allah, di jalan Allah, dan di atas agama Rasul Allah ﷺ beserta keluarganya. Dan keselamatan atas para wali Allah.

Makrifat

Ini adalah niat eksistensial, bukan sekadar izin masuk:
Bismillah → meleburkan ego
Billah → mengakui tiada daya selain-Nya
Fi sabilillah → perjalanan ruhani, bukan wisata
‘Ala millati Rasulillah → masuk dalam jalur nur Muhammadi
Salam kepada wali Allah → pengakuan wilayah sebagai pintu ma’rifat

2. Salam di hadapan makam Imam Musa al-Kazim a.s.

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا نُوْرَ اللّٰهِ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَّ اللّٰهِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حُجَّةَ اللّٰهِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا بَابَ اللّٰهِ

As-salāmu ‘alayka yā nūrallāhi fī ẓulumātil-arḍ.
As-salāmu ‘alayka yā waliyyallāh.
As-salāmu ‘alayka yā ḥujjatallāh.
As-salāmu ‘alayka yā bāballāh.

Salam atasmu wahai cahaya Allah di tengah kegelapan bumi.
Salam atasmu wahai wali Allah.
Salam atasmu wahai hujjah Allah.
Salam atasmu wahai pintu Allah.

Makrifat

Empat maqam Imam:
1. Nur → pancaran hakikat Ilahi
2. Wali → kedekatan eksistensial dengan Allah
3. Hujjah → bukti hidup Tuhan di bumi
4. Bab → tiada jalan ke Allah tanpa wilayah

3. Kesaksian amal dan maqam Imam

اَشْهَدُ أَنَّكَ أَقَمْتَ الصَّلَاةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ 
وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ…

Ash-hadu annaka aqamtaṣ-ṣalāt wa ātaytaz-zakāt wa amarta bil-ma‘rūf wa nahayta ‘anil-munkar…

Terjemahan (ringkas per makna)

Aku bersaksi engkau:
Menegakkan shalat
Menunaikan zakat
Memerintah kebaikan
Mencegah kemungkaran
Membaca Al-Qur’an dengan sebenar tilawah
Berjihad di jalan Allah dengan sebenar jihad
Bersabar atas penderitaan
Beribadah dengan ikhlas hingga datang keyakinan (wafat)

Makrifat

Ini bukan pujian, tetapi pengakuan jalan:
Shalat → penyambungan ruh
Zakat → penyucian eksistensi
Jihad → perang melawan hawa
Yaqīn → fana’ sempurna
Imam al-Kazim adalah contoh insan kāmil dalam kesunyian dan penjara

4. Deklarasi wilayah dan bara’ah

اَبْرَأُ إِلَى اللّٰهِ مِنْ أَعْدَائِكَ 
وَأَتَقَرَّبُ إِلَى اللّٰهِ بِمُوَالَاتِكَ

Abra’u ilallāhi min a‘dā’ika wa ataqarrabu ilallāhi bi-muwālātika.

Aku berlepas diri kepada Allah dari musuh-musuhmu dan aku mendekat kepada Allah dengan mencintaimu.

Makrifat

Ini adalah dua sayap tauhid:
Tabarrī → memutus kegelapan
Tawallī → menyambung cahaya
Tanpa wilayah Imam, pendekatan kepada Allah terputus

5. Permohonan syafaat

فَاشْفَعْ لِيْ عِنْدَ رَبِّكَ

Fashfa‘ lī ‘inda rabbik.

Maka berilah aku syafaat di sisi Tuhanmu.

Makrifat

Syafaat bukan dispensasi dosa,
tetapi transmisi nur Imam ke dalam jiwa peziarah.

6. Salam di sisi kepala Imam

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ رَسُوْلِ اللّٰهِ
 اَشْهَدُ أَنَّكَ صَادِقٌ…

As-salāmu ‘alayka yā bna Rasūlillāh, ash-hadu annaka ṣādiq…

Salam atasmu wahai putra Rasul Allah.
Aku bersaksi engkau jujur, amanah, wafat sebagai syahid, tidak memilih kesesatan dari petunjuk.

Makrifat

Imam al-Kazim adalah syahid kesabaran:
diamnya adalah jihad, penjaranya adalah mi‘raj.

7. Doa sujud tawassul

اَللّٰهُمَّ إِلَيْكَ اعْتَمَدْتُ وَإِلَيْكَ قَصَدْتُ…

Allāhumma ilayka‘tamadt wa ilayka qaṣadt…

Ya Allah, kepada-Mu aku bersandar, kepada-Mu aku menuju, dengan Imamku aku bertawassul.

Makrifat

Sujud ini adalah fana’ fi al-imam,
menuju fana’ fillah.


8. Doa pipi kanan & kiri

Makna makrifat
Pipi kanan → hajat dunia & ruh
Pipi kiri → pengakuan dosa
Keduanya → keseimbangan raja’ dan khauf

9. Tasbih sujud: شُكْرًا شُكْرًا (100x)

Makrifat

Syukur berulang adalah:

“Aku terima takdir-Mu melalui wali-Mu.”

Ini adalah maqam ridha, puncak ziarah.


Penutup Makrifat Keseluruhan

Ziarah Imam Musa al-Kazim a.s. adalah pelajaran sabar kosmik:
diam, terpenjara, namun menjadi cahaya di gelapnya dunia.


Berikut penjelasan hubungan ziarah (khususnya ziarah para Imam, termasuk Imam Musa al-Kāẓim a.s.) dengan Imam Mahdi a.f.s., disusun berlapis: dalil → makna wilayah → makrifat batin.

1. Prinsip Dasar: Para Imam adalah satu Nur

Dalil Ahlul Bait

Imam Ja‘far ash-Shādiq a.s. bersabda:

أَوَّلُنَا مُحَمَّدٌ وَأَوْسَطُنَا مُحَمَّدٌ وَآخِرُنَا مُحَمَّدٌ
“Awal kami Muhammad, tengah kami Muhammad, dan akhir kami Muhammad.”

Makna
Imam Mahdi a.f.s. bukan terpisah dari Imam-imam sebelumnya
Ziarah kepada satu Imam = berjumpa dengan nur seluruh Imam
Maka ziarah Imam al-Kāẓim a.s. hakikatnya juga ziarah kepada al-Qā’im a.f.s.

2. Imam Mahdi adalah Pewaris Seluruh Ziarah

Dalam Ziyārah Jāmi‘ah Kabīrah disebutkan:

وَوَارِثُ الْأَنْبِيَاءِ وَخَاتَمُ الْأَوْصِيَاءِ

Imam Mahdi adalah:
pewaris semua Nabi
penyempurna seluruh wilayah para Imam

Makrifat

Setiap ziarah kepada Imam terdahulu:
dikumpulkan
disempurnakan
dipersembahkan kepada Imam Mahdi

Karena beliau adalah al-Wārith (Pewaris).


3. Ziarah = Bai‘at Sunyi kepada Imam Mahdi

Saat dalam ziarah kita membaca:

عَارِفًا بِحَقِّكَ مُوَالِيًا لِأَوْلِيَائِكَ مُعَادِيًا لِأَعْدَائِكَ

Ini adalah teks bai‘at, bukan sekadar salam.

Hubungannya dengan Imam Mahdi
Imam Mahdi adalah Imam hidup
Bai‘at kepada Imam terdahulu → otomatis aktif kepada Imam Mahdi
Karena wilayah tidak pernah terputus

4. Imam al-Kāẓim a.s. dan Imam Mahdi: Jalur Kesabaran Ghaib

Imam al-Kāẓim dikenal sebagai:
Imam penjara
Imam diam
Imam penahan amarah (al-Kāẓim)

Imam Mahdi a.f.s.:
Imam ghaib
Imam yang ditahan dari zhuhur
Imam kesabaran kosmik

Makrifat

Siapa yang belajar sabar dalam ziarah al-Kāẓim, sedang dilatih untuk setia kepada Imam Mahdi.

5. Ziarah sebagai Latihan Mengenali Imam Ghaib

Hadis Imam ash-Shādiq a.s.:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَانِهِ 
مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Makna Ziarah
Ziarah melatih:
mengenali Imam tanpa melihat jasad hidupnya
mencintai tanpa kehadiran fisik
Ini simulasi spiritual keimanan kepada Imam Mahdi a.f.s.

6. Ziarah = Menguatkan Barisan 313

Dalam riwayat:
Para penolong Imam Mahdi saling mengenal secara ruhani
Mereka “dipanggil” oleh Imam saat zhuhur

Makrifat

Ziarah dengan:
ma‘rifah
wilayah
kesetiaan batin

➡️ mengaktifkan frekuensi ruhani 313

Bukan jumlah fisik, tetapi kesiapan batin.

7. Mengapa Setelah Ziarah Dianjurkan Banyak Doa?

Karena:
Doa ziarah diteruskan ke Imam Mahdi
Beliau yang:
mengatur
mempresentasikan
menyempurnakan doa-doa wilayah

Imam Mahdi adalah Imam doa-doa umat di zaman ghaibah.

8. Rumus Makrifat Singkat

Ziarah → Wilayah → Bai‘at → Kesabaran → Kesiapan Zhuhur

Atau dalam satu kalimat:

Setiap langkah menuju makam para Imam
adalah satu langkah batin menuju perjumpaan dengan Imam Mahdi a.f.s.

9. Amalan Batin Tambahan (opsional)

Setelah ziarah Imam mana pun, baca dalam hati:

اَللّٰهُمَّ بَلِّغْ مَوْلَايَ صَاحِبَ الزَّمَانِ سَلَامِي

Makrifatnya:

“Aku hadir di hadapanmu walau engkau ghaib.”


Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit