Sholat Sunnah 4 Rakaat di Hari Jumat Bulan Rajab

 ذِكْرُ صَلَاةِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ مِنْ رَجَبَ،

وَجَدْنَاهُ بِإِسْنَادٍ مُتَّصِلٍ إِلَىٰ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ:

مَنْ صَلَّىٰ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي شَهْرِ رَجَبٍ مَا بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ،

يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ الْحَمْدَ مَرَّةً، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ سَبْعَ مَرَّاتٍ، وَ﴿قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾ خَمْسَ مَرَّاتٍ،

ثُمَّ يَقُولُ:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، وَأَسْأَلُهُ التَّوْبَةَ ـ عَشْرَ مَرَّاتٍ ـ

كَتَبَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ لَهُ مِنْ يَوْمِ يُصَلِّيهَا إِلَىٰ يَوْمِ يَمُوتُ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ،

وَأَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَىٰ بِكُلِّ آيَةٍ قَرَأَهَا مَدِينَةً فِي الْجَنَّةِ مِنْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ،

وَبِكُلِّ حَرْفٍ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ مِنْ دُرَّةٍ بَيْضَاءَ،

وَزَوَّجَهُ اللهُ تَعَالَىٰ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ،

وَرَضِيَ عَنْهُ رِضًا لَا سَخَطَ بَعْدَهُ،

وَكَتَبَهُ مِنَ الْعَابِدِينَ،

وَخَتَمَ اللهُ تَعَالَىٰ لَهُ بِالسَّعَادَةِ وَالْمَغْفِرَةِ،

وَكَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ رَكْعَةٍ صَلَّاهَا خَمْسِينَ أَلْفَ صَلَاةٍ،

وَتَوَّجَهُ بِأَلْفِ تَاجٍ،

وَيَسْكُنُ الْجَنَّةَ مَعَ الصِّدِّيقِينَ،

وَلَا يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّىٰ يَرَىٰ مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ.

Diriwayatkan tentang shalat hari Jumat di bulan Rajab, dengan sanad bersambung kepada Abdullah bin Abbas, ia berkata:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa melaksanakan shalat pada hari Jumat di bulan Rajab, antara waktu Zuhur dan Ashar, sebanyak empat rakaat,

pada setiap rakaat membaca Al-Fatihah satu kali, Ayat Kursi tujuh kali, dan ‘Qul huwallāhu Aḥad’ lima kali,

kemudian mengucapkan:

‘Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia, dan aku memohon kepada-Nya taubat’ sebanyak sepuluh kali,

maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi akan mencatat baginya sejak hari ia melaksanakannya hingga hari ia wafat, setiap hari seribu kebaikan.

Allah juga memberinya untuk setiap ayat yang dibacanya sebuah kota di surga dari yaqut merah,
dan untuk setiap huruf sebuah istana di surga dari mutiara putih,
Allah menikahkannya dengan pasangan surga,
Allah meridhainya dengan keridhaan yang tidak ada kemurkaan setelahnya,
dan menuliskannya termasuk golongan para ahli ibadah,
serta Allah menutup hidupnya dengan kebahagiaan dan ampunan.

Allah juga mencatat untuk setiap rakaat yang ia shalatkan lima puluh ribu shalat,
memakaikannya seribu mahkota,
menempatkannya di surga bersama para shiddiqin,
dan ia tidak keluar dari dunia ini hingga melihat tempat duduknya di surga.”

Sumber:
📚 Iqbal al-A‘māl, jilid 3, halaman 200

Berikut penjelasan makrifat (irfānī–hakikat) dari amalan shalat Jumat di bulan Rajab sebagaimana riwayat di Iqbāl al-A‘māl, dengan pendekatan Ahlul Bait (عليهم السلام)—selaras dengan minat Anda pada dimensi batin, nur, dan maqām.

1) Rajab: Waktu Tajallī Rahmat

Dalam makrifat, Rajab bukan sekadar bulan, tetapi ruang tajallī (penyingkapan). Disebut Rajab al-Aṣabb karena rahmat dicurahkan tanpa henti. Jiwa yang masuk Rajab dengan adab ibadah sedang memasuki gerbang tazkiyah: pengosongan dari selain Allah agar Nur Ilahi mudah bersemayam.

Rajab = isti‘dād al-qalb (kesiapan hati).

2) Jumat: Titik Kumpul Nur

Jumat adalah yaum al-jam‘—hari berkumpulnya nur. Secara hakikat, Jumat adalah sinkronisasi langit–bumi; amal di hari ini dilipatgandakan karena keselarasan kosmik. Maka Rajab + Jumat = pertemuan dua medan nur.

3) Empat Rakaat: Empat Arah Kesempurnaan

Empat rakaat melambangkan empat arah eksistensi:

1. Syari‘at (amal lahir),

2. Ṭarīqat (disiplin jiwa),

3. Ḥaqīqat (penyaksian),

4. Ma‘rifat (fanā’–baqā’).

Shalat ini mengajak salik menyatukan lahir–batin hingga arah hidup kembali ke pusat: Allah.

4) Bacaan-Bacaan: Tangga Naik Nur

a) Al-Fātiḥah (1×)

Inti doa penciptaan. Dalam makrifat, Fātiḥah adalah peta perjalanan ruh dari Rabb al-‘ālamīn menuju ṣirāṭ al-mustaqīm.

b) Ayat Kursi (7×)

Angka 7 adalah lapisan wujud (langit, jiwa, sifat). Mengulangnya berarti meneguhkan Tauhid Rubūbiyyah di seluruh lapisan diri. Kursi adalah hamparan kekuasaan Ilahi; membaca berulang menanamkan kehadiran Allah di kesadaran.

c) Al-Ikhlāṣ (5×)

Angka 5 menunjuk panca-indera dan pilar fitrah. Ikhlas 5× = penyucian seluruh indera dari syirik halus. Hakikatnya: lā maujūda illā Huwa—tiada wujud selain Dia.

5) Istighfar & Taubat (10×): Memecah Hijab

Angka 10 adalah kesempurnaan putaran. Istighfar di sini bukan sekadar pengampunan dosa, tapi pelepasan hijab nafs. Taubat makrifat = kembali dari selain Allah menuju Allah.

Taubat ‘ārif: bukan dari dosa → pahala,

tetapi dari selain-Nya → hanya Dia.

6) Ganjaran Batin (Bukan Sekadar Fisik)

🔹 “Kota, istana, mutiara”

Dalam makrifat, ini maqām-maqām ruhani, bukan hanya bangunan. Setiap ayat membangun ruang kesadaran di akhirat karena ayat itu hidup dalam diri.

🔹 “Ridha tanpa murka”

Ini adalah maqām riḍā: keadaan di mana Allah ridha dan hamba pun ridha—tidak lagi diguncang protes batin.

🔹 “Ditulis dari golongan ‘abidīn”

‘Abid sejati bukan banyak amal, tetapi hadirnya hati (ḥuḍūr al-qalb). Ibadahnya hidup.

7) Melihat Tempat Duduk di Surga: Kashf

Ini menunjuk kashf (tersingkap) sebelum wafat: salik diberi isyarat maqām akhirnya, sehingga kematian bukan kegelapan, melainkan perpindahan yang dikenal.

8) Hubungan dengan Ahlul Bait

Dalam irfan Ahlul Bait:

Tauhid tidak sempurna tanpa wilayah,

Nur amal bersambung melalui Nur Muhammad–Ali–Fatimah–Ahlul Bait.

Rajab adalah bulan Ali (ع) menurut banyak riwayat batin; shalat ini secara hakikat adalah peneguhan wilayah dalam Tauhid.

9) Inti Makrifat Amalan Ini

👉 Membersihkan kesadaran

👉 Meneguhkan Tauhid murni

👉 Menumbuhkan ridha

👉 Membuka kashf lembut sebelum wafat

Bukan untuk “mengumpulkan pahala”, tetapi menjadi wadah Nur.


Selamat mengamalkannya!!
Mohon Doa!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala