Makna Meremehkan Sholat

Berikut 10 makna “meremehkan shalat” (التهاون بالصلاة) dalam pandangan makrifat Ahlul Bayt, dari yang paling lahir hingga yang paling batin. Ini bukan sekadar meninggalkan shalat, tetapi melemahkan cahaya shalat.

1. Menunda shalat tanpa uzur

⟶ Memilih dunia lebih penting daripada perjumpaan dengan Allah.

Dalam makrifat: mendahulukan makhluk atas Khāliq.

2. Shalat di akhir waktu sebagai kebiasaan

⟶ Hati tidak rindu munajat.

Orang rindu tidak menunggu dipanggil dua kali.

3. Shalat sekadar menggugurkan kewajiban

⟶ Shalat jasad tanpa ruh.

Dalam batin: hadir tubuh, tanpa kesadaran.

4. Tidak menjaga thaharah batin

⟶ Wudhu lahir ada, tetapi dendam, dengki, dan sombong dibawa ke sajadah. 

Makrifat: kotoran batin menghalangi nur.

5. Gerakan cepat tanpa tumakninah

⟶ Jiwa tergesa-gesa, tidak tunduk.

Orang yang tak sabar tak bisa hadir.

6. Tidak mencegah dari maksiat

⟶ Shalat tidak membentuk akhlak.

QS. Al-‘Ankabut: 45 — shalat sejati mencegah keji dan mungkar.

7. Shalat tanpa hudhūr (kehadiran hati)

⟶ Lisan membaca, hati di pasar.

Dalam makrifat: ini inti tahāwun.

8. Tidak merasakan kebutuhan kepada Allah

⟶ Shalat dilakukan, tapi tanpa iftiqār (rasa fakir). Padahal shalat adalah pengakuan kefakiran total.

9. Merasa shalat sebagai beban

⟶ Jiwa belum mengenal lezatnya munajat. Para arif: shalat adalah istirahat ruh, bukan beban.

10. Tidak menjaga shalat sebagai amanah wilayah

⟶ Terputus dari ruh Ahlul Bayt.

Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s.:”Ujian pengikut kami adalah shalat.”

Tingkatan Kondisi

Lahir Menunda, tergesa

Tengah Tanpa tumakninah

Batin Tanpa hudhūr

Hakikat Tanpa rasa fakir

Wilayah Terputus dari Imam

KUNCI PENYEMBUH TAHAWUN

Satu kalimat makrifat: “Aku berdiri di hadapan-Nya.”Jika kalimat ini hadir sebelum takbir,maka tahāwun runtuh dengan sendirinya.


Makna “meremehkan shalat” menurut Al-Qur’an sendiri, disusun berdasarkan lafaz ayat, isyarat makna, dan tafsir tematik, bukan pendapat pribadi. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sudah mendefinisikan “tahāwun bis-shalāh” secara utuh.

1. Menyia-nyiakan shalat (إِضَاعَةُ الصَّلَاة)

📖 QS. Maryam [19]: 59

۞ فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

Makna Qur’ani: Bukan sekadar meninggalkan, tetapi:
Merusak waktu
Merusak adab
Merusak tujuan shalat

📌 Iḍā‘ah = membiarkan shalat kehilangan fungsi.

2. Lalai terhadap shalat (سَاهُونَ)

📖 QS. Al-Ma‘ūn [107]: 4–5

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ   

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

Makna Qur’ani: Hati tidak hadir, walau jasad shalat.

📌 ‘an shalātihim (dari shalatnya), bukan fī shalātihim.

3. Mengakhirkan shalat dari waktunya

📖 QS. An-Nisā’ [4]: 103

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Makna Qur’ani: Mengabaikan waktu = mengabaikan perintah langsung.

4. Shalat tanpa pengaruh moral

📖 QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Makna Qur’ani: Jika shalat tidak mencegah maksiat, maka shalat belum ditegakkan.

5. Riya’ dalam shalat

📖 QS. Al-Ma‘ūn [107]: 6

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

orang-orang yang berbuat riya,

Makna Qur’ani: Shalat sebagai tontonan, bukan penghambaan.

📌 Ini puncak pelecehan ibadah.

6. Shalat tanpa khusyuk

📖 QS. Al-Mu’minūn [23]: 1–2

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ  

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

Makna Qur’ani: Khusyuk bukan tambahan, tetapi syarat keberuntungan.

7. Menjadikan shalat sebagai beban

📖 QS. Al-Baqarah [2]: 45

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ 

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

Makna Qur’ani: Shalat terasa berat bagi yang tidak khusyuk.

8. Meninggalkan shalat demi hawa nafsu

📖 QS. Maryam [19]: 59

۞ فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

Makna Qur’ani: Shalat ditukar dengan kesenangan dunia.

9. Tidak menjaga shalat (حِفْظُ الصَّلَاة)

📖 QS. Al-Ma‘ārij [70]: 34

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.

Makna Qur’ani:

Meremehkan shalat = tidak menjaganya secara konsisten.

10. Meninggalkan shalat sebagai identitas

📖 QS. Al-Muddatsir [74]: 42–43

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,

Makna Qur’ani:

Tidak shalat disebut pertama kali sebagai sebab neraka.

RANGKUMAN QUR’ANI

Al-Qur’an memaknai meremehkan shalat sebagai: Shalat yang kehilangan waktu, kehilangan hati, kehilangan dampak, dan kehilangan penjagaan.

Bukan semata ditinggalkan, tetapi dikosongkan dari maknanya.

PENUTUP

Al-Qur’an tidak memandang shalat sebagai ritual, tetapi sebagai poros iman dan akhlak.

Siapa meremehkan shalat, berarti meremehkan perjanjian dengan Allah.


Makna “meremehkan shalat” menurut ahli hakikat (ahl al-ḥaqīqah / ‘urafā’), yaitu mereka yang memandang shalat sebagai peristiwa ruhani, bukan sekadar kewajiban fiqih. Ini adalah pembacaan batin tingkat hakikat, lebih dalam dari makrifat umum.

1. Shalat tanpa syuhūd (penyaksian)

Ahli hakikat berkata:”Shalat tanpa syuhūd adalah hijab.”

⟶ Gerakan ada, tetapi tidak menyaksikan kehadiran Allah.

Ini dianggap istikhfāf (pelecehan halus).

2. Tidak fana’ saat takbir

Takbir adalah mematikan selain Allah. Jika selain-Nya masih hidup di hati saat Allāhu Akbar, maka shalat dianggap diterima lahir, tertolak batin.

3. Berdiri dengan ego, bukan kehambaan

Qiyām seharusnya: qiyām al-‘abd baina yadai al-Rabb. Jika masih merasa punya daya dan kehendak, shalatnya dinilai tidak menghormati maqām Rubūbiyyah.

4. Ruku’ tanpa tunduk batin

Ruku’ hakikat adalah meruntuhkan keakuan. Jika punggung membungkuk tapi nafs tetap tegak,

itulah tahāwun menurut para arif.

5. Sujud tanpa “lenyap”

Ahli hakikat berkata:

السجود موت النفس

Sujud tanpa kematian ego = sujud jasmani saja, dan itu disebut sujud orang lalai.

6. Membaca Al-Fatihah tanpa dialog

Dalam hakikat, Al-Fatihah adalah percakapan dua arah. Jika hamba membaca tanpa merasa dijawab oleh Allah, itu tanda hati tertutup.

7. Tidak naik dari shalat dengan perubahan

Shalat hakikat menggeser keadaan ruh. Jika keluar shalat sama seperti masuk, itu tanda shalat tidak hidup.

8. Mengulang shalat tanpa rindu

Para ‘urafā’ merindukan shalat berikutnya. Jika shalat dianggap tugas selesai, itu tanda tidak pernah sampai pada rasa liqā’.

9. Tidak menjaga adab pasca-shalat

Menurut ahli hakikat: Buah shalat tampak setelah salam. Jika akhlak runtuh setelah shalat, itu berarti shalat tidak menembus qalb.

10. Tidak menjadikan shalat sebagai mi‘raj

Rasul ﷺ: “Shalat adalah mi‘raj orang beriman.” 

Ahli hakikat menilai: ⟶ Siapa shalat tapi tidak naik maqām, telah meremehkan mi‘raj yang dibukakan Allah.

RUMUS AHLI HAKIKAT

Shalat yang tidak mengubah kesadaran adalah shalat yang diremehkan. Bukan karena kurang rakaat, tetapi karena tidak terjadi perjumpaan.

PENUTUP (RAHASIA BATIN)

Ahli hakikat sepakat:

Allah tidak membutuhkan shalat

Kitalah yang membutuhkan hadir Maka tahāwun hakikat bukan dosa kecil, tetapi menolak undangan perjumpaan.


Makna “meremehkan shalat” menurut HADIS, disusun dari riwayat sahih/maqbūl (Sunni & Ahlul Bayt), dengan fokus pada makna yang ditegaskan langsung oleh Nabi ﷺ dan para Imam, bukan tafsir pribadi.

1. Meninggalkan shalat dengan sengaja

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

“Batas antara seorang hamba dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” 

📌 Makna hadis: Meninggalkan shalat = bentuk tertinggi meremehkan shalat.

2. Menunda shalat hingga keluar waktunya

Imam Ja‘far ash-Shādiq a.s.:

لَا تَنَالُ شَفَاعَتَنَا مَنْ اسْتَخَفَّ بِالصَّلَاةِ

“Tidak akan mendapatkan syafaat kami orang yang meremehkan shalat.” 

📌 Para ulama hadis menjelaskan: Istikhfāf termasuk menunda shalat tanpa uzur.

3. Shalat tanpa menjaga waktu

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَوَّلُ الْوَقْتِ رِضْوَانُ اللهِ

“Awal waktu shalat adalah keridaan Allah.” 

📌 Menunda = meninggalkan keridaan → bentuk pelecehan nikmat.

4. Shalat tanpa khusyuk

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاتِهِ 

وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُهَا

“Seseorang keluar dari shalatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluhnya.” 

📌 Khusyuk menentukan nilai shalat, bukan sekadar sah.

5. Gerakan cepat tanpa tumakninah

Rasulullah ﷺ bersabda kepada orang yang shalat tergesa:

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

“Ulangi shalatmu, karena engkau belum shalat.” 

📌 Hadis sahih — menunjukkan shalat tergesa adalah shalat yang diremehkan.

6. Shalat tetapi tetap bermaksiat

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

فَلَا صَلَاةَ لَهُ

“Siapa yang shalatnya tidak mencegah dari keji dan mungkar, maka tidak ada shalat baginya.”

📌 Maksudnya: tidak ada nilai shalat, bukan gugur kewajiban.

7. Shalat karena manusia (riya’)

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ … الرِّيَاءُ

“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil: riya’.”

📌 Riya’ dalam shalat = pelecehan tujuan ibadah.

8. Tidak menjaga shalat secara konsisten

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ كَانَتْ لَهُ نُورًا

“Siapa menjaga shalat, shalat itu menjadi cahaya baginya.”

📌 Tidak menjaganya = kehilangan cahaya → bentuk meremehkan.

9. Menganggap shalat sebagai beban

Imam ‘Ali a.s. bersabda:

لَا يَنْتَفِعُ بِالصَّلَاةِ مَنْ أَدَّاهَا كُسْلًا

“Tidak mendapat manfaat dari shalat orang yang melaksanakannya dengan malas.” 

📌 Malas = hati tidak menghormati perintah.

10. Meremehkan shalat = terputus dari Ahlul Bayt

Imam Ja‘far ash-Shādiq a.s.:

إِنَّ شِيعَتَنَا يُعْرَفُونَ بِمُحَافَظَتِهِمْ عَلَى الصَّلَاةِ

“Pengikut kami dikenal dari penjagaan mereka terhadap shalat.”

📌 Tidak menjaga shalat = keluar dari identitas wilayah.

RANGKUMAN HADIS

Menurut hadis, meremehkan shalat meliputi: meninggalkan, menunda, mengosongkan khusyuk, tergesa, riya’, dan tidak menjaga dampak shalat. Bukan hanya tidak shalat, tetapi tidak menghormati shalat.

PENUTUP

Hadis menegaskan:
Shalat = tolok ukur iman
Meremehkannya = retaknya hubungan dengan Allah dan Rasul


Makna “meremehkan shalat” menurut HADIS AHLUL BAYT (‘alaihimus-salām), disusun dari riwayat-riwayat maqbūl dalam kitab-kitab seperti al-Kāfī, Man Lā Yaḥḍuruhu al-Faqīh, Tahdhīb al-Aḥkām, Wasā’il al-Shī‘ah, dengan penekanan makna lahir–batin sebagaimana metodologi para Imam.

1. Menunda shalat hingga keluar waktunya

Imam Ja‘far ash-Shādiq a.s. bersabda:

لَا تَنَالُ شَفَاعَتَنَا مَنْ اسْتَخَفَّ بِالصَّلَاةِ

“Tidak akan memperoleh syafaat kami orang yang meremehkan shalat.” 

📌 Para ulama Ahlul Bayt menjelaskan: Istikhfāf termasuk menunda shalat tanpa uzur syar‘i.

2. Menganggap shalat urusan ringan; Imam al-Bāqir a.s.:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ

“Amal pertama yang dihisab adalah shalat.” 

📌 Meremehkan yang pertama dihisab = meremehkan seluruh amal.

3. Shalat tanpa hudhūr al-qalb

Imam ‘Ali a.s.:

لَا قِيمَةَ لِصَلَاةٍ لَا حُضُورَ فِيهَا لِلْقَلْبِ

“Tidak bernilai shalat yang di dalamnya tidak ada kehadiran hati.”

📌 Ini inti tahāwun secara batin.

4. Gerakan cepat tanpa tumakninah

Imam Ja‘far ash-Shādiq a.s.:

إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سِرْقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ

“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya.”

📌 Yang dicuri: tumakninah dan khusyuk.

5. Shalat yang tidak mencegah maksiat; Imam al-Bāqir a.s.:

مَا مِنْ صَلَاةٍ لَا تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ إِلَّا وَهِيَ تَبْعُدُ صَاحِبَهَا مِنَ الله

“Shalat yang tidak mencegah dari keji dan mungkar justru menjauhkan pelakunya dari Allah.”

📌 Ini peringatan keras Ahlul Bayt.

6. Shalat tanpa menjaga waktu dan adab; Imam al-Bāqir a.s.:

إِذَا دَخَلَ الْوَقْتُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الصَّلَاةُ

“Jika waktu shalat telah masuk, maka tidak ada kesibukan selain shalat.”

📌 Mendahulukan urusan lain = meremehkan perintah langsung.

7. Malas dalam shalat

Imam ‘Ali a.s.:

لَا يَنْتَفِعُ بِالصَّلَاةِ مَنْ أَدَّاهَا كُسْلًا

“Tidak mendapat manfaat dari shalat orang yang mengerjakannya dengan malas.”

📌 Malas = hati tidak memuliakan ibadah.

8. Shalat tanpa wilayah

Imam Ja‘far ash-Shādiq a.s.:

مَنْ صَلَّى وَلَمْ يَعْرِفْ وِلَايَتَنَا لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ

“Siapa shalat tanpa mengenal wilayah kami, tidak diterima darinya.”

📌 Wilayah adalah ruh shalat menurut Ahlul Bayt.

9. Tidak menjaga shalat secara terus-menerus; Imam al-Bāqir a.s.:

شِيعَتُنَا مَنْ يُحَافِظُ عَلَى الصَّلَاةِ

“Pengikut kami adalah mereka yang menjaga shalat.”

📌 Tidak menjaganya = keluar dari ciri syiah hakiki.

10. Meremehkan shalat = terputus dari syafaat

Imam Ja‘far ash-Shādiq a.s.:

لَا تَنَالُ شَفَاعَتَنَا مَنْ اسْتَخَفَّ بِالصَّلَاةِ

“Tidak akan memperoleh syafaat kami orang yang meremehkan shalat.” 

📌 Ini puncak ancaman dalam hadis Ahlul Bayt.

RANGKUMAN AHLUL BAYT

Menurut hadis Ahlul Bayt, meremehkan shalat berarti:
merusak waktu,
mengosongkan hati,
memotong wilayah, dan memadamkan cahaya.

Bukan hanya dosa lahir, tetapi kehancuran hubungan batin.

PENUTUP

Ahlul Bayt tidak menilai shalat dari banyaknya rakaat, tetapi dari penjagaan, kehadiran, dan wilayah.


Hadis 15 Siksa bagi Yang meremehkan Sholat


سَأَلَتْ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ عَلَيْهَا السَّلَامُ أَبَاهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ فَقَالَتْ:

يَا أَبَتَاهُ، مَا عُقُوبَةُ مَنْ تَهَاوَنَ بِالصَّلَاةِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ؟


فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ:

يَا فَاطِمَةُ، مَنْ تَهَاوَنَ بِصَلَاتِهِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ ابْتَلَاهُ اللهُ بِخَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً مِنَ الْبَلَاءِ، سِتٌّ فِي دَارِ الدُّنْيَا، وَثَلَاثٌ عِنْدَ مَوْتِهِ، وَثَلَاثٌ فِي قَبْرِهِ، وَثَلَاثٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا خَرَجَ مِنْ قَبْرِهِ.


فَأَمَّا السِّتُّ الَّتِي تُصِيبُهُ فِي دَارِ الدُّنْيَا:

١. يُنْزَعُ اللهُ الْبَرَكَةَ مِنْ عُمُرِهِ.

٢. يُنْزَعُ اللهُ الْبَرَكَةَ مِنْ رِزْقِهِ.

٣. يَمْحُو اللهُ سِيمَةَ الصَّالِحِينَ مِنْ وَجْهِهِ.

٤. لَا يُؤْجَرُ عَلَى شَيْءٍ مِنْ أَعْمَالِهِ.

٥. لَا يُرْفَعُ لَهُ دُعَاءٌ إِلَى السَّمَاءِ.

٦. لَيْسَ لَهُ حَظٌّ فِي دُعَاءِ الصَّالِحِينَ.


وَأَمَّا الثَّلَاثُ الَّتِي تُصِيبُهُ عِنْدَ مَوْتِهِ:

١. يَمُوتُ ذَلِيلًا.

٢. يَمُوتُ جَائِعًا.

٣. يَمُوتُ عَطْشَانَ، وَلَوْ سُقِيَ مِنْ أَنْهَارِ الدُّنْيَا مَا رَوِيَ عَطَشُهُ.


وَأَمَّا الثَّلَاثُ الَّتِي تُصِيبُهُ فِي قَبْرِهِ:

١. يُوَكِّلُ اللهُ بِهِ مَلَكًا يُرَوِّعُهُ فِي قَبْرِهِ.

٢. يُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ.

٣. يَكُونُ قَبْرُهُ مُظْلِمًا.


وَأَمَّا الثَّلَاثُ الَّتِي تُصِيبُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا خَرَجَ مِنْ قَبْرِهِ:


١. يُوَكِّلُ اللهُ بِهِ مَلَكًا يَسْحَبُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَالْخَلَائِقُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ.

٢. يُحَاسَبُ حِسَابًا شَدِيدًا.

٣. لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِ وَلَا يُزَكِّيهِ، وَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ.


Hadis ini sangat masyhur di kalangan mau‘iẓah, dinukil dalam beberapa kitab non-kanonik dan karya nasihat, termasuk yang dinisbatkan kepada Tafsīr al-Mu‘īn.

Sayyidah Fathimah a.s. bertanya pada Rasul Allah saw; ‘Wahai ayahku! : Apa siksa bagi yang meremehkan sholat, baik ia lelaki maupun perempuan? Beliau saw menjawab : “Wahai Fathimah, barangsiapa yang meremehkan sholatnya, lelaki maupun perempuan, maka Allah akan memberinya petaka sebanyak 15 siksa. Enam di antaranya di dunia, tiga di saat kematiannya, tiga di dalam kuburnya, dan tiga pada hari kiamat di saat ia bangun dari kuburnya 

Enam hal yang menimpanya di dunia yaitu: 

1. Allah akan mencabut berkah umurnya. 

2. Allah akan mencabut berkah rezekinya.

3. Allah akan menghapus ciri orang saleh di mukanya. 

4. Semua amal yang dilakukannya tidak diberi pahala. 

5. Doanya tidak terangkat ke langit.

 6. Tidak mendapat bagian di dalam doa orang-orang saleh. 

Adapun 3 hal yang akan menimpanya menjelang kematiannya adalah: 

1. Matinya dalam keadaan terhina. 

2. Matinya dalam keadaan lapar. 

3. Matinya kehausan. Yang sekiranya ia diberi minum satu sungai, hausnya tidak akan hilang.

Sedang 3 hal yang akan menimpanya di dalam kuburnya: 

1. Allah menyerahkan pada malaikat yang menakutkan di dalam kuburannya. 

2. Kuburnya menghimpitnya. 

3. Kuburnya gelap-gulita.

Adapun 3 hal yang akan menimpanya pada hari kiamat, jika dia keluar dari kuburnya:

1. Allah menyerahkan kepada malaikat untuk menyeretnya (bagai binatang ternak) sedang para makhluk melihatnya. 

2. Dihisab (diperhitungkan) secara ketat. 

3. Allah tidak akan menoleh padanya dan tidak akan mensucikannya dan baginya azab yang pedih”.

 (Dikutip dari Kitab Tafsir Al-Mu’in, hal. 576).


PENUTUP MAKRIFAT

🔹 Hadis ini bukan daftar hukuman
🔹 Tapi peta hukum batin alam
🔹 Shalat = penjaga cahaya
🔹 Meremehkannya = mematikan nur

Shalat adalah amanah wilayah.


Kisah dan cerita tentang akibat meremehkan shalat yang diriwayatkan atau dinukil dari tradisi Ahlul Bayt dan ulama Syiah klasik, disajikan sebagai ibrah (pelajaran batin), bukan sekadar kisah moral biasa. Sebagian berupa riwayat langsung, sebagian atsar dan kisah ulama arif Ahlul Bayt yang dipakai dalam majelis mau‘iẓah.

1. Orang yang Ditolak Syafaat di Saat Sakaratul Maut

(Riwayat dari Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s.) Seorang pemuda dikenal rajin ibadah lain, tetapi sering menunda shalat.

Saat sakaratul maut, lisannya kelu, tak mampu mengucap syahadat.

Imam ash-Shadiq a.s. bersabda:

إِنَّهُ كَانَ يَسْتَخِفُّ بِالصَّلَاةِ

“Sesungguhnya ia meremehkan shalat.”

📌 Pelajaran: Meremehkan shalat menutup lisan tauhid di akhir hayat.

2. Tangisan Sayyidah Fāṭimah a.s.

(Riwayat maw‘izhah Ahlul Bayt)

Disebutkan bahwa Sayyidah Fāṭimah a.s. menangis ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan orang yang meremehkan shalat.

Beliau berkata:”Celaka umat ayahku yang meremehkan shalatnya”.

📌 Pelajaran: Tangisan Sayyidah Fāṭimah as adalah tangisan wilayah, bukan emosi biasa.

3. Pemuda yang Wajahnya Gelap

(Dikisahkan dalam majelis Imam al-Bāqir a.s.) Seorang pemuda tampan, tetapi wajahnya kehilangan cahaya. Ketika ditanya, ia mengaku sering shalat tergesa dan menunda.

Imam al-Bāqir a.s. bersabda:”Nur wajah dicabut karena sujud yang diremehkan.” 

📌 Pelajaran: “Nur wajah adalah buah sujud, bukan genetika”.

4. Orang Saleh yang Bermimpi Tentang Kubur Gelap

(Kisah arif Syiah, dinukil dalam kitab mau‘iẓah) Seorang arif bermimpi melihat kubur yang sempit dan gelap. Ia diberi tahu: penghuni kubur itu shalat, tetapi tanpa hudhur. 

📌 Pelajaran: Kubur adalah cermin kualitas shalat, bukan jumlahnya.

5. Pencuri Terburuk Menurut Imam

(Hadis Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s.) Seorang bertanya: “Siapa pencuri paling buruk?”

Imam menjawab:

الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ

“Yang mencuri dari shalatnya.”

📌 Pelajaran: Mencuri waktu shalat lebih buruk daripada mencuri harta.

6. Orang yang Amalannya Ditolak

(Riwayat al-Kāfī)( Diceritakan seseorang banyak bersedekah dan puasa, tetapi shalatnya sering diremehkan. Imam berkata:

“Amalnya kembali kepadanya, tidak naik.” 

📌 Pelajaran:”Shalat adalah tangga naiknya amal.

7. Ahli Ibadah yang Terhalang Cahaya:”Kisah ulama arif Ahlul Bayt). 

Seorang ahli ibadah mengadu tidak merasakan cahaya batin.

Gurunya bertanya: “Bagaimana shalatmu?” Ia menjawab: “Aku shalat, tapi tergesa.” Gurunya berkata:”Engkau mengetuk pintu lalu pergi.” 

📌 Pelajaran: Shalat tergesa = hadir tanpa izin masuk.

8. Kisah Hisab yang Berat

(Riwayat mau‘iẓah dari Imam ‘Ali a.s.) Imam ‘Ali a.s. menjelaskan: “Orang yang meremehkan shalat akan dihisab dengan keras.”

📌 Pelajaran: “Shalat adalah penolong saat hisab, bukan sekadar kewajiban.

9. Orang yang Diseret di Padang Mahsyar. 

(Riwayat peringatan Ahlul Bayt) Disebutkan ada golongan yang diseret di Mahsyar.

Mereka adalah orang yang meremehkan  shalatnya.

📌 Pelajaran: Siapa enggan berdiri di hadapan Allah, akan dipaksa berdiri di hadapan makhluk.

10. Wasiat Terakhir Imam ash-Shadiq a.s. (Riwayat terkenal)

Menjelang wafat, Imam ash-Shadiq a.s. bersabda:

لَا تَنَالُ شَفَاعَتَنَا مَنْ اسْتَخَفَّ بِالصَّلَاةِ

“Tidak akan mendapatkan syafaat kami orang yang meremehkan shalat.” 

📌 Pelajaran: Ini bukan ancaman kosong,tetapi hukum wilayah.

PENUTUP HAKIKAT

🔹 Kisah-kisah ini bukan untuk menakut-nakuti
🔹 Tetapi membangunkan ruh
🔹 Shalat adalah tali wilayah Ahlul Bayt

Siapa menjaga shalat, 
dijaga Imam.
Siapa meremehkannya, 
terputus sendiri.


Manfaat menjaga shalat (kebalikan dari meremehkan shalat) BESERTA DOANYA, disusun menurut riwayat Ahlul Bayt dan pemahaman ahli hakikat, sehingga manfaatnya lahir–batin, dunia–akhirat.

1. Dijaga Allah dalam hidup sehari-hari

Manfaat: Orang yang menjaga shalat berada dalam ḥifẓ Ilāhī (penjagaan Allah). Musibah banyak dipalingkan sebelum sampai.

📖 Dasar makna (hadis Ahlul Bayt):

Shalat adalah amanah, siapa menjaganya dijaga.

Doa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِي حِفْظِكَ الَّذِي لَا يُضَامُ

“Ya Allah, masukkan aku ke dalam penjagaan-Mu yang tak pernah gagal.”

2. Cahaya wajah dan kewibawaan batin; 

Manfaat: Shalat melahirkan nur yang tampak di wajah dan sikap.

Bukan ketampanan, tapi haybah.

📖 Imam ‘Ali a.s.: Shalat adalah cahaya orang beriman.

Doa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي وَجْهِي نُورًا وَفِي قَلْبِي نُورًا

3. Rezeki diberkahi dan cukup

Manfaat: Rezeki tidak selalu banyak, tetapi menenangkan.

Hati tidak rakus dan tidak gelisah.

📖 QS. Ṭāhā: 132 (isyarat keberkahan dengan shalat).

Doa:

‎اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي

4. Doa lebih mudah dikabulkan

Manfaat: Shalat menjadi sayap naiknya doa. Doa setelah shalat lebih dekat kepada ijabah.

📖 Hadis Ahlul Bayt:

Shalat adalah mi‘raj doa.

Doa:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ دُعَائِي بِقَبُولِ صَلَاتِي

5. Hati tenang dan kuat menghadapi ujian

Manfaat: Shalat menumbuhkan sakinah dan daya tahan ruh. Masalah ada, tapi tidak meruntuhkan.

📖 QS. Al-Baqarah: 45

Doa:

اللَّهُمَّ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ فِي قَلْبِي بِحَقِّ الصَّلَاةِ

6. Dijauhkan dari maksiat;

Manfaat: Shalat yang dijaga membentuk rem batin. Dosa terasa pahit sebelum dilakukan.

📖 QS. Al-‘Ankabūt: 45

Doa:

اللَّهُمَّ احْجِزْنِي عَنِ الْمَعَاصِي بِحَقِّ صَلَاتِي

7. Dimudahkan sakaratul maut

Manfaat: Orang yang menjaga shalat wajahnya tenang saat wafat.

Ruh keluar dengan lembut.

📖 Riwayat Ahlul Bayt tentang husnul khatimah.

Doa:

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيَّ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ 

وَاجْعَلْهَا سَلَامًا

8. Kubur menjadi luas dan bercahaya

Manfaat: Shalat menjelma cahaya barzakh. Kubur menjadi taman, bukan tekanan.

📖 Hadis: shalat adalah nur.

Doa:

اللَّهُمَّ نَوِّرْ قَبْرِي بِنُورِ صَلَاتِي

9. Hisab diringankan di hari kiamat

Manfaat: Shalat yang terjaga menjadi pembela pertama saat hisab.

📖 Hadis Ahlul Bayt: Jika shalat diterima, amal lain mengikut.

Doa:

اللَّهُمَّ يَسِّرْ حِسَابِي وَاقْبَلْ صَلَاتِي

10. Mendapat syafaat Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bayt

Manfaat: Penjagaan shalat adalah tiket wilayah. Orang yang menjaga shalat tidak ditinggalkan Imam.

📖 Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s.:

Pengikut kami dikenal dari penjagaan shalatnya.

Doa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَفَاعَةَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ 

بِحَقِّ صَلَاتِي

RANGKUMAN HAKIKAT

Shalat yang dijaga → cahaya Cahaya → penjagaan

Penjagaan → keselamatan

Bukan karena banyaknya rakaat, tetapi karena kesetiaan dan kehadiran.


Doa-doa pilihan dari Ahlul Bayt (‘alaihimus-salām) agar mampu MENJAGA shalat, bukan sekadar mengerjakannya.

1. DOA PALING INTI (pendek & kuat)

Dibaca sebelum takbir atau setelah wudhu

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ 

وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

📌 Makna hakikat: Menjaga shalat tidak mungkin dengan tenaga sendiri, tetapi dengan ‘awn Ilāhī (pertolongan Allah).

2. DOA AHLUL BAYT UNTUK MENJAGA SHALAT

Dinisbatkan dalam riwayat doa para Imam

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلَاةَ قُرَّةَ عَيْنِي، 

وَلَا تَجْعَلْهَا عَلَيَّ ثِقْلًا، وَأَعِنِّي عَلَى حِفْظِ أَوْقَاتِهَا وَحُضُورِ قَلْبِي فِيهَا

“Ya Allah, jadikan shalat penyejuk mataku, jangan Engkau jadikan ia beban bagiku, dan tolonglah aku menjaga waktunya serta kehadiran hatiku di dalamnya.” 

📌 Makna hakikat: Shalat dijaga jika ia dicintai, bukan dipaksa.

3. DOA IMAM ‘ALI a.s. (MENYENTUH BATIN)

Untuk melawan malas dan lalai

اللَّهُمَّ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَارْزُقْنِي قَلْبًا خَاشِعًا وَجَسَدًا مُطِيعًا

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata, dan karuniakan aku hati yang khusyuk serta tubuh yang taat.”

📌 Makna hakikat: Meremehkan shalat bermula dari diserahkan kepada nafsu.

4. DOA KHUSUS AGAR TIDAK MEREMEHKAN SHALAT

Sangat relevan dengan hadis Ahlul Bayt

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْتَخِفَّ بِالصَّلَاةِ، أَوْ أُؤَخِّرَهَا، أَوْ أُصَلِّيَهَا بِغَفْلَةٍ، فَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَيْهَا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari meremehkan shalat, menundanya, atau mengerjakannya dengan lalai. Jadikan aku termasuk orang-orang yang menjaganya.”

📌 Makna hakikat: Ini doa mematahkan akar tahāwun.

5. DOA WILAYAH (KHAS AHLUL BAYT) 

Agar shalat terhubung dengan Imam

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتِي صَلَاةَ الْمُحِبِّينَ، وَارْبِطْهَا بِوِلَايَةِ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, jadikan shalatku shalat orang-orang yang mencintai-Mu, dan hubungkanlah ia dengan wilayah Muhammad dan keluarga Muhammad.” 

📌 Makna hakikat: Menurut Ahlul Bayt, shalat hidup jika terikat wilayah.

6. DOA SINGKAT SETELAH SALAM

Agar penjagaan berlanjut di luar shalat

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْهَا مِنِّي، وَاحْفَظْهَا لِي، وَاجْعَلْهَا نُورًا فِي قَلْبِي وَقَبْرِي

“Ya Allah, terimalah shalatku, jagalah ia untukku, dan jadikan ia cahaya di hatiku dan di kuburku.”

KUNCI PRAKTIS (AHLI HAKIKAT)

Sebelum takbir, bisikkan satu kalimat:  أَنَا وَاقِفٌ بَيْنَ يَدَيْكَ»

Aku sedang berdiri di hadapan-Mu.

Jika kalimat ini hadir, shalat akan menjaga dirinya sendiri.

Sering dibaca para Ulama (Haadir Yaa Roob)


Berikut DOA KHUSUS yang dinukil dari Imam Mahdi (ʿajjalallāhu farajah) yang langsung menyentuh akar kemampuan menjaga shalat, terkenal sebagai doa tawfīq dalam riwayat tawqī‘ Imam kepada para pengikutnya. 

📌 Doa ini sering dibaca oleh para pecinta Ahlul Bayt untuk menjaga ketaatan, termasuk shalat, dan membersihkan sebab-sebab kelalaian.

🌙 DOA IMAM MAHDI (a.f.) – FOKUS SHALAT

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي تَوْفِيقَ الصَّلَاةِ،

وَالْمُحَافَظَةَ عَلَى أَوْقَاتِهَا،

وَحُضُورَ الْقَلْبِ فِيهَا،

وَلَذَّةَ الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيْكَ،

وَلَا تَجْعَلْهَا آخِرَ اهْتِمَامِي،

وَاحْفَظْنِي مِنَ التَّهَاوُنِ وَالْغَفْلَةِ،

بِحَقِّ وَلِيِّكَ الْقَائِمِ مِنْ آلِ مُحَمَّدٍ.

“Ya Allah, karuniakan kepadaku taufik untuk shalat, kemampuan menjaga waktunya, kehadiran hati di dalamnya, dan kelezatan berdiri di hadapan-Mu. Jangan Engkau jadikan shalat sebagai urusan terakhirku, dan jagalah aku dari meremehkannya dan kelalaian, demi hak Wali-Mu al-Qā’im dari keluarga Muhammad.”

🕯 MAKNA MAKRIFAT (INTI)

Menurut ahli hakikat Ahlul Bayt:

1. Taufiq → shalat dijaga oleh anugerah, bukan paksaan.

2. Waktu → siapa menjaga waktu, Allah menjaga hidupnya.

3. Hati hadir → jasad shalat, ruhnya adalah hudhūr.

4. Ladzat berdiri → tanda diterimanya wilayah.

5. Tidak meremehkan → shalat diperlakukan sebagai janji, bukan rutinitas.


Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Amalan Akhir & Awal Tahun ; Amalan Bulan Muharram ; Ziarah Imam Husein as dan Syuhada Karbala

Doa Pendek untuk Semua Penyakit