Manfaat Mengenang Kelahiran Wali Allah
Selamat berbahagia atas kelahiran Imam Al-Muttaqin (Amiril Mukminin Ali bin Abi Tholib as ; 13 Rajab - 30 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw)
10 manfaat mengenang kelahiran manusia suci, para wali Allah, ditinjau dari perspektif Al-Qur’an, hadis, dan pendekatan makrifat Ahlul Bait—bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi amalan ruhani yang menghidupkan hati:
⸻
1. Menghidupkan dzikrullah melalui perantara insan kamil
Kelahiran wali Allah adalah tajallî rahmat Ilahi di bumi. Mengenangnya membuat hati kembali ingat kepada Allah, karena para wali adalah cermin Asma dan Sifat-Nya.
“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28)
⸻
2. Menguatkan hubungan batin (wilâyah) dengan langit
Mengingat kelahiran wali berarti memperbaharui ikatan wilâyah—jalur cahaya antara hamba dan Allah. Dalam makrifat Ahlul Bait, wilâyah adalah tali keselamatan rohani.
⸻
3. Membersihkan hati dari kegelapan batin
Cahaya kelahiran para wali ibarat fajar ruhani. Mengenangnya melembutkan hati yang keras, mengikis dengki, sombong, dan cinta dunia.
⸻
4. Menumbuhkan kecintaan kepada kebaikan dan kebajikan
Cinta kepada wali Allah akan menuntun pada cinta terhadap akhlak mereka: sabar, adil, zuhud, dan kasih sayang.
“Seseorang akan bersama yang ia cintai.” (Hadis)
⸻
5. Mengokohkan identitas iman dan istiqamah
Perayaan kelahiran para wali bukan ritual kosong, tetapi penguatan jati diri mukmin, agar tidak hanyut oleh arus zaman dan fitnah akhir zaman.
⸻
6. Membuka pintu syafaat dan pertolongan ruhani
Para wali Allah adalah wasilah (perantara) rahmat. Mengenang hari kelahiran mereka dengan niat ikhlas membuka pertolongan halus (madad ghaib).
⸻
7. Menumbuhkan harapan dan optimisme Ilahi
Kelahiran wali adalah bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan bumi tanpa hujjah. Ini menanamkan harapan bahwa kebenaran selalu punya penjaga.
⸻
8. Menyuburkan amal dan doa
Hari-hari yang dikaitkan dengan wali Allah memiliki keberkahan waktu. Doa lebih mudah khusyuk, amal lebih bernilai, dan niat lebih murni.
⸻
9. Menghidupkan sunnah batin para Nabi dan Ahlul Bait
Para wali adalah pewaris rahasia kenabian. Mengenang kelahiran mereka berarti menyambung napas sunnah batin—bukan hanya syariat lahir.
⸻
10. Persiapan ruhani menyambut wali terakhir (Imam Mahdi a.s.)
Setiap kelahiran wali adalah latihan batin untuk mengenali hujjah Allah. Orang yang terbiasa mencintai dan mengenang para wali akan mudah menerima kebenaran Imam Zaman.
⸻
Penutup Makrifat
Dalam pandangan arifin:
“Kelahiran wali Allah bukan hanya terjadi di tanggal tertentu, tetapi harus lahir kembali di dalam hatimu.”
Khusus untuk kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Pada setiap tanggal 13 Rajab yg lahir di dalam Kabah dan makna kelahirannya, disusun dengan pendekatan Al-Qur’an, hadis, dan makrifat Ahlul Bait, agar bukan sekadar sejarah, tetapi kesadaran ruhani:
⸻
🌿 Kelahiran Imam Ali a.s.: Gerbang Cahaya Wilâyah
Imam Ali a.s. adalah satu-satunya manusia yang lahir di dalam Ka‘bah, rumah tauhid. Ini bukan keutamaan lahiriah semata, tetapi isyarat ilahi bahwa Imam Ali as adalah anak tauhid, tumbuh dari jantung penyembahan kepada Allah.
“Dia lahir di rumah Allah, dan hidupnya seluruhnya adalah untuk Allah.”
⸻
Dia syahid di Masjid
Dia dibangkitkan setelah Rasul saw dibangkitkan;
“Salam saat kelahiran, wafat dan saat dia dibangkitkan
🌟 10 Makna & Manfaat Mengenang Kelahiran Imam Ali a.s.
1. Memperbaharui bai‘at tauhid dan wilâyah
Mengenang kelahiran Imam Ali berarti meneguhkan syahadat batin: tauhid tidak sempurna tanpa wilâyah.
⸻
2. Masuk melalui “Pintu Kota Ilmu”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.”
Mengenang kelahiran Imam Ali as adalah niat untuk masuk ke ilmu yang beradab dan bercahaya.
⸻
3. Menghidupkan keberanian ruhani
Imam Ali a.s. adalah keberanian semua hal kebenaran. Mengenangnya menanamkan keberanian untuk membela kebenaran meski sendirian.
⸻
4. Menjernihkan keadilan hati
Imam Ali a.s. adalah mîzân (timbangan) keadilan. Siapa yang mengenangnya akan terdorong untuk adil— bahkan kepada diri sendiri.
⸻
5. Membuka kunci hikmah batin
Sabda Imam Ali a.s.:
“Aku melihat Allah sebelum aku melihat sesuatu, bersama sesuatu, dan setelah sesuatu.”
Mengenang kelahirannya membuka jalan basîrah (mata hati/mata batin)
⸻
6. Menyambung cahaya Nur Muhammadi
Dalam makrifat, Imam Ali adalah nafs Rasulullah (QS. Ali ‘Imran: 61). Mengenangnya menyambung kita kepada nur kenabian.
⸻
7. Membersihkan niat ibadah
Imam Ali a.s. beribadah bukan karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena layak disembah. Ini mengangkat kualitas ibadah kita.
⸻
8. Meneguhkan istiqamah di masa fitnah
Imam Ali a.s. adalah pembeda haq dan batil. Mengenangnya memberi kejernihan sikap di tengah kaburnya kebenaran. (Faruq Ummati)
⸻
9. Mendatangkan madad (pertolongan ruhani)
Para arif meyakini: menyebut Imam Ali as dengan adab dan cinta adalah panggilan cahaya, bukan sekadar nama.
⸻
10. Persiapan batin menyambut Imam Mahdi a.s.
Imam Mahdi adalah buah terakhir dari pohon Imam Ali as. Mencintai kelahiran Imam Ali as adalah fondasi loyalitas kepada Imam Zaman.
⸻
🕋 Rahasia Lahir di Dalam Ka‘bah (Isyarat Makrifat)
• Ka‘bah terbuka → hati harus terbuka untuk wilâyah
• Imam Ali lahir di dalamnya → tauhid sejati melahirkan kepemimpinan ilahi
• Tidak terulang pada manusia lain → wilâyah Ali adalah unik dan asasi
⸻
Ucapan Imam Ali as saat berkata; sehingga dikafirkan justru oleh orang yg mau belajar kepadanya;”ana awwal ana akhir ana dhohir ana batin ana hayyun laa yamut
✨ Penutup Arifin
“Siapa yang mengenal Imam Ali as ia akan mengenal jalan pulang kepada Allah.”
⸻
Kisah Keagungan Ahlul Bayt as (Rasul dan Imam Ali as Sayyidah Fathimah as Imam Hasan dan Imam Husein as) yang membuat Pingsan Sahabat Ibnu Masud
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Suatu hari aku masuk menemui Rasulullah (SAW) dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah aku kebenaran agar aku dapat mengikutinya.’ Maka Rasulullah berkata, ‘Wahai Abdullah, masuklah ke bilik.’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Aku pun masuk ke bilik itu, dan kulihat Ali bin Abi Thalib sedang shalat. Dia berdoa dalam rukuk dan sujudnya: “Ya Allah, dengan hak Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu, ampunilah para pendosa dari Syiahku.”
Kemudian aku keluar dan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah (SAW), dan kulihat beliau sedang shalat dan berdoa: “Ya Allah, dengan hak Ali bin Abi Thalib hamba-Mu, ampunilah para pendosa dari umatku.” Ibnu Mas’ud berkata, ‘Aku merasa sangat terkejut hingga pingsan.’
Ketika aku sadar, Rasulullah (SAW) mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Wahai Ibnu Mas’ud, apakah kau telah kafir setelah beriman?’ Aku berkata, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Tetapi aku melihat Ali berdoa kepada Allah dengan menyebut namamu, dan aku melihatmu berdoa kepada Allah dengan menyebut namanya. Maka aku tidak tahu siapa di antara kalian yang lebih utama di sisi Allah.’
Rasulullah (SAW) berkata, ‘Duduklah.’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Aku pun duduk di hadapan beliau, dan beliau berkata kepadaku, “Ketahuilah bahwa Allah menciptakan aku dan Ali dari cahaya keagungan-Nya dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan makhluk. Saat itu belum ada tasbih dan tahlil. Kemudian Allah membelah cahayaku dan menciptakan dari cahaya itu langit dan bumi. Demi Allah, kami lebih agung daripada langit dan bumi.
Lalu Allah membelah cahaya Ali bin Abi Thalib dan menciptakan dari cahayanya Arasy dan Kursi, dan Ali lebih agung daripada Arasy dan Kursi.
Allah kemudian membelah cahaya Hasan dan menciptakan dari cahayanya Lauh dan Qalam, dan Hasan lebih agung daripada Lauh dan Qalam.
Allah lalu membelah cahaya Husain dan menciptakan darinya surga dan bidadari, dan demi Allah, Husain lebih agung daripada surga dan bidadari.’
Kemudian, timur dan barat menjadi gelap, dan malaikat-malaikat mengeluhkan kegelapan itu kepada Allah. Lalu Allah berbicara dengan satu kalimat, menciptakan darinya sebuah roh, dan berbicara lagi menciptakan dari roh tersebut sebuah cahaya. Allah menyatukan cahaya itu dengan roh, lalu menempatkannya di hadapan Arasy.
Cahaya itu menerangi timur dan barat, dan itulah Fathimah Az-Zahra. Oleh karena itu, ia dinamakan Az-Zahra karena cahayanya menerangi langit.
Wahai Ibnu Mas’ud, ketika hari kiamat tiba, Allah Ta’ala berkata kepada Ali bin Abi Thalib: ‘Wahai wali-Ku, masukkanlah ke dalam surga siapa saja yang engkau kehendaki, dan masukkanlah ke dalam neraka siapa saja yang engkau kehendaki.’
Dan itulah firman-Nya: {Arahkanlah ke dalam neraka setiap orang yang kafir dan keras kepala}.
Orang kafir adalah orang yang mengingkari kenabianku, dan orang keras kepala adalah orang yang mengingkari wilayah (kepemimpinan) Ali bin Abi Thalib.
Maka neraka adalah tempat bagi mereka, dan surga adalah untuk pengikut dan pencinta Ali.”
Referensi: Fadhail Ibn Shadhan, Halaman 128; Al-Rawdah, Halaman 112; Ad-Durr an-Nazim, Halaman 765; Ta’wil al-Ayat, Halaman 591; Hilyat al-Abrar, Jilid 4, Halaman 7; Madinat al-Ma’ajiz, Jilid 3, Halaman 417; Bihar al-Anwar, Jilid 31, Halaman 73; Tafsir Kanz al-Daqa’iq, Jilid 12, Halaman 386.
Imam Ali as menjawab 13 Pertanyaan dan Makrifatnya
1. Makna Sabar
Pertanyaan:
مَا الصَّبْرُ؟
Apakah makna sabar?
Jawaban:
الصَّبْرُ صَبْرَانِ: صَبْرٌ عَلَى مَا تَكْرَهُ، وَصَبْرٌ عَمَّا تُحِبُّ.
“Sabar itu ada dua: sabar atas apa yang engkau benci dan sabar menahan diri dari apa yang engkau cintai”.
Makrifat:
sedangkan sabar meninggalkan yang dicintai adalah memutus keterikatan batin.
Yang kedua lebih tinggi, karena ia mematahkan nafs tersembunyi.
⸻
2. Memutuskan Perkara
Pertanyaan:
كَيْفَ يُقْضَى الْأَمْرُ؟
Bagaimana cara memutuskan suatu perkara?
Jawaban:
اخْتَرِ الْخَسَارَةَ فِي الْحَقِّ عَلَى الرِّبْحِ فِي الْبَاطِلِ.
“Pilihlah kekalahan dalam kebenaran daripada kemenangan dalam kebatilan”.
Makrifat:
Yang kalah hanyalah ego.
Orang arif rela kalah lahir demi menang batin bersama Allah.
⸻
3. Hakikat Pengabdian
Pertanyaan:
مَا حَقِيقَةُ الْعُبُودِيَّةِ؟
Apakah hakikat pengabdian (ibadah)?
Jawaban:
مَنْ أَدَّى الْعِبَادَةَ وَاجَهَ الْمَشَقَّةَ، وَفِي الْمَشَقَّةِ تَتَحَقَّقُ الْعُبُودِيَّةُ.
“Siapa yang beribadah akan menghadapi kesulitan, dan dalam kesulitan itulah pengabdian terwujud”.
Makrifat:
Kesulitan menyaring niat dan menyingkap apakah ibadah itu karena Allah atau karena diri.
⸻
4. Hari Ini dan Esok
Pertanyaan:
مَاذَا نَعْمَلُ الْيَوْمَ وَغَدًا؟
Apa yang harus kami lakukan hari ini dan esok?
Jawaban:
إِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.
“Hari ini amal tanpa perhitungan, dan esok perhitungan tanpa amal”.
Makrifat:
akhirat adalah penyingkapan hasil.
Orang sadar tidak menunda amal, sebab waktu adalah nafas terakhir yang berulang.
⸻
5. Kenikmatan dan Musibah
Pertanyaan:
صِفْ لَنَا النَّعِيمَ وَالْبَلَاءَ.
Jelaskan kepada kami tentang kenikmatan dan musibah.
Jawaban:
كُلُّ نَعِيمِ الدُّنْيَا دُونَ نَعِيمِ الْجَنَّةِ، وَكُلُّ بَلَاءٍ فِيهَا هَيِّنٌ دُونَ عَذَابِ النَّارِ.
“Nikmat dunia di bawah nikmat surga, semua bencana dunia lebih ringan dari bencana neraka”
Makrifat:
musibah dunia hanya peringatan.
Hakikat nikmat adalah ridha Allah,
hakikat musibah adalah jauh dari-Nya.
⸻
6. Kecemasan Manusia
Pertanyaan:
مَا أَشَدُّ مَا يُقْلِقُ قُلُوبَ النَّاسِ؟
Apa yang paling mencemaskan hati manusia?
Jawaban:
بُعْدُ السَّفَرِ وَطُولُ الْأَمَلِ.
“Perjalanan yang jauh dan angan-angan yang panjang”.
Makrifat:
Angan panjang = tipuan nafs.
Kesadaran akan kematian memendekkan angan dan membersihkan hati.
⸻
7. Hakikat Kekayaan
Pertanyaan:
مَا أَعْجَبُ الْغِنَى؟
Kekayaan apakah yang paling mengagumkan?
Jawaban:
الْغِنَى كُلُّ الْغِنَى أَنْ تَسْتَغْنِيَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ.
“Kaya adalah tidak bergantung apa yang ada pada manusia”
Makrifat:
tetapi tidak bergantung.
Inilah faqr ilallah: miskin kepada Allah namun kaya dari selain-Nya.
⸻
8. Dosa Terbesar
Pertanyaan:
مَا أَعْظَمُ الذُّنُوبِ؟
Dosa apakah yang paling besar?
Jawaban:
ذَنْبٌ اسْتَخَفَّ بِهِ صَاحِبُهُ.
“Dosa yang diremehkan”
Makrifat:
Inilah awal kerasnya hati dan tertutupnya cahaya batin.
⸻
9. Kehinaan Terbesar
Pertanyaan:
مَا أَعْظَمُ الذُّلِّ فِي الْدُّنْيَا؟
Apa kehinaan terbesar di dunia?
Jawaban:
تَتَبُّعُ عُيُوبِ النَّاسِ وَنِسْيَانُ عُيُوبِ النَّفْسِ.
“Mencari aib orang lain dan melupakan aib diri sendiri”
Makrifat:
tidak sibuk menghakimi orang lain.
Mencari aib orang adalah pelarian dari muhasabah diri.
⸻
10. Nilai Manusia
Pertanyaan:
بِمَ يُعْرَفُ قَدْرُ الرَّجُلِ؟
Dengan apakah nilai seseorang diketahui?
Jawaban:
بِلِسَانِهِ وَنَظَرِهِ.
“Nilai manusia di lisan dan pandangan”
Makrifat:
pandangan menyingkap arah jiwa.
Dari dua inilah keadaan batin terbaca.
⸻
11. Sifat Pendusta
Pertanyaan:
مَا صِفَةُ الْكَذَّابِ؟
Bagaimana sifat pendusta?
Jawaban:
يَخَافُ مِنْ ظِلِّهِ وَلَوْ كَانَ فِي أَمَانٍ.
“Pendusta takut pada bayangannya”
Makrifat:
Kejujuran menenangkan,
dusta melahirkan ketakutan meski tanpa ancaman.
⸻
12. Sebab Ketuaan
Pertanyaan:
مَا يُشِيبُ الْإِنْسَانَ؟
Apa yang membuat manusia cepat tua?
Jawaban:
الْهَمُّ نِصْفُ الْهَرَمِ.
“Kesusahan hati setengah ketuaan”
Makrifat:
Tawakkal menjaga kemudaan batin, meski jasad menua.
⸻
13. Tercapainya Tujuan
Pertanyaan:
بِمَ تُدْرَكُ الْغَايَاتُ؟
Dengan apa tujuan tercapai?
Jawaban:
بِسُكُونِ الْقَلْبِ، وَدَوَامِ الْمُوَاظَبَةِ، وَشِدَّةِ الْعَمَلِ.
“Tujuan tercapai dengan ketenangan hati”
Makrifat:
ketekunan menjaga istiqamah,
usaha keras adalah adab terhadap sebab.
Namun tujuan tertinggi bukan dunia atau akhirat,
melainkan Allah sendiri.
⸻
🌿 Penutup
dari pengendalian nafs → pemurnian qalb → kedekatan ruhani.
Ziarah Aminullah
Ziarah ini terkenal dengan sebutan ziarah Aminullah. Ziarah ini memiliki dasar hukum yang banyak diriwayatkan di semua buku ziarah dan mashabih. Allamah Majlisi ra pernah berkata; Ziarah ini adalah sebaik-baik ziarah dari sisi matan dan sanadnya, selayaknya untuk selalu dilestarikan pada setiap tempat-tempat suci. Hal itu sebagai mana yang pernah diriwayatkan dengan sanad yang terkenal, dari Jabir dari Imam Baqir as berkata; Imam Ali Zainal Abidin as menziarahi Imam Amirul Mukminin as.
Beliau berdiri di sisi makam suci tersebut sambil menangis membaca:
أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِيْنَ الله فِي أَرْضِهِ وَحُجَّتَهُ عَلى عِبادِهِ، أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، أَشْهَدُ أَنَّكَ جَاهَدْتَ فِي الله حَقَّ جِهَادِهِ وَعَمِلْتَ بِكِتَبِهِ وَاتَّبَعْتَ سُنَنَ نَبِيِّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ حَتَّى دَعَاكَ اللهُ إِلَى جِوَارِهِ فَقَبَضَكَ إِلَيْهِ بِاخْتِيَارِهِ وَأَلْزَمَ أَعْدَائَكَ الْحُجَّةَ مَعَ مَا لَكَ مِنَ الْحُجَجِ الْبَالِغَةِ عَلى جَمِيْعِ خَلْقِهِ، أَللّهُمَّ فَاجْعَلْ نَفْسِيْ مُطْمَئِنَّةً بِقَدَرِكَ رَاضِيةً بِقَضَائِكَ، مُوْلَعَةً بِذِكْرِكَ وَدُعائِكَ مُحِبَّةً لِصَفْوَةِ أَوْلِيائِكَ، مَحْبُوبَةً فِيْ أَرْضِكَ وَسَمَائِكَ صَابِرَةً عَلى نُزُولِ بَلائِكَ شاكِرَةً لِفَوَاضِلِ نَعْمَائِكَ ذَاكِرَةً لِسَوَابِغِ آلاَئِكَ مُشْتَاقَةً إِلى فَرْحَةِ لِقَائِكَ مُتَزَوِّدَةً التَّقْوى لِيَوْمِ جَزَآئِكَ مُسْتَنَّةً بِسُنَنِ أَوْلِيائِكَ مُفَارِقَةً ِلأَخْلاَقِ أَعْدَائِكَ مَشْغُولَةً عَنِ الدُّنْيا بِحَمْدِكَ وَثَنَائِكَ.
Assalâmu a'layka yâ amînallâhi fî ardhih wa hujjatahu ‘alâ ‘ibâdih, Assalâmu a'layka yâ amîrol muk minîn, asy-hadu annaka jâhadta fillâhi haqqo jihâdihi wa ‘amilta bikitâbihi, wattaba'-ta sunana na biyyihi,shollallâhu a'layhi wa âlihi,hatta da-a'âkallahu ilâjiwârihi, Faqobadhoka ilayhi bi-ikhtiyârihi, wa alzama ‘a'-dâ-akal hujjata ma-a' mâlaka minal hujâjil bâlighoh, a'lâ jamî-i' kholqihi, Allâhumma faj-‘al nafsî mutma-innatan biqodarika, Rôdhiayatan biqodhô-ika, muhibbatan lishof wati awliyâ-ik,mah'bûbatan fî ardhika wa samâ-ika, shô-biratan 'alânuzûli balâ-ika, Syâkirotan lifawâdhili na'-mâ-ika,dzâkiratan lisawâ bighi âlâ-ika, Mushtâqatan ilâ farhati liqô-ika, mutazawwidatattaqwâ liyawmi jazâ-ik,mus tannatan bisunani awliyâ-ika, Mufâ riqatan li-akhlâqi a’-dâ-ika, mash-ghûlatan 'anid dunyâ bihamdika wa tsanâ-ika.
Salam sejahtera atasmu wahai kepercayaan Allah di muka bumi, dan argument atas semua hamba-Nya. Salam sejahtera atasmu wahai Amirul Mukminin. Aku bersaksi bahwa engkau telah berjuang di jalan Allah dengan sesungguh-sungguhnya jihad, dan engkau telah melaksanakan kitab-Nya, dan engkau telah mengikuti semua ajaran Nabi-Nya –semoga shalawat Allah senantiasa tercurah atas beliau dan keluarga beliau- sampai datang panggilan Allah kepadamu untuk menemui-Nya dan dengan kehendak-Nya Dia telah mencabut nyawamu, Dia telah mewajibkan argument atas musuh-musuhmu padahal wujudmu adalah salah satu argument yang jelas bagi semua makhluk. Ya Allah! Jadikanlah jiwaku jiwa yang tenang terhadap qadar dan rela terhadap qada-Mu, rindu dengan menyebut dan memanggil-Mu, mencintai wali-wali khusus-Mu yang pantas dicintai di bumi dan langit-Mu, bersabar atas turunnya ujian-Mu, bersyukur terhadap semua anugerah-Mu yang melimpah, mengingat segala karunia-Mu yang tak terkira, rindu pada keceriaan perjumpaan dengan-Mu, berbekal takwa saat hari balas jasa-Mu, mengikuti teladan para wali-Mu, menyalahi perilaku musuh-musuh-Mu, mengabaikan dunia dengan memuji dan memuja-Mu.
Selepas itu, letakkan pipi pada pusara, dan mengucap:
أَللّهُمَّ إِنَّ قُلُوْبَ الْمُخْبِتِيْنَ إِلَيْكَ وَالِهَةٌ, وَسُبُلَ الرَّاغِبِيْنَ إِلَيْكَ شَارِعَةً,وَأَعْلاَمَ القَاصِدِيْنَ إِلَيْكَ وَاضِحَةٌ، وَأَفْئِدَةَ الْعَارِفِيْنَ مِنْكَ فَازِعَةٌ, وَأَصْوَاتَ الدَّاعِيْنَ إِلَيْكَ صَاعِدَةٌ،وَأَبْوَابَ الإِجَابَةِ لَهُمْ مُفَتَّحَةٌ, وَدَعْوَةَ مَنْ نَاجَاكَ مُسْتَجَابَهٌ، وَتَوْبَةَ مَنْ أَنَابَ إِلَيْكَ مَقْبُوْلَةٌ, وَعَبْرَةَ مَنْ بَكَى مِنْ خَوْفِكَ مَرْحُومَةٌ,وَاْلإِغَاثَةَ لِمَنْ اسْتَغَاثَ بِكَ مَوْجُودَةٌ, وَاْلإِعَانَةَ لِمَنْ اسْتَعَانَ بِكَ مَبْذُولَةٌ,وَعِدَاتِكَ لِعِبَادِكَ مُنْجَزَهٌ وَزَلَلَ مَنِ اسْتَقالَكَ مُقَالَةٌ,وَأَعْمَالَ الْعَامِلِيْنَ لَدَيْكَ مَحْفُوْظَةٌ, وَأَرْزَاقَكَ إِلىَالْخَلاَئِقِ مِنْ لَدُنْكَ نَازِلَةٌ,وَعَوَائِدَ الْمَزِيْدِ إِلَيْهِمْ وَاصِلَةٌ, وَذُنُوْبَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ مَغْفُوْرَةٌ,وَحَوَائِجَ خَلْقِكَ عِنْدَكَ مَقْضِيَّةٌ, وَجَوائِزَ السَّائِلِيْنَ عِنْدَكَ مُوَفَّرَةٌ,وَعَوَائِدَ الْمَزِيدِ مُتَوَاتِرَةٌ,وَمَوَائِدَ الْمُسْتَطْعِمِيْنَ مُعَدَّةٌ, وَمَنَاهِلَ الظِّمآءِ مُتْرَعَةٌ, أَللّهُمَّ فَاسْتَجِبْ دُعَائِيْ, وَاقْبَلْ ثَنَائِيْ,وَاجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ أَوْلِيَائِي بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَعَلِيِّ, وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ إِنَّكَ وَلِيُّ نَعْمائِي, وَمُنْتَهَى مُنَايَ وَغَايَةُ رَجَائِيْ فِيْ مُنْقَلَبِيْوَمَثْوايَ.
Allâhumma inna qulûbal mukhbi tîna ilayka wâlihah,wa subular rôghibîna ilayka syâri-‘ah, wa ‘a-lâmal qôsidîna ilayka wa dhihah,wa af-idatal ‘ârifîna minka fâzi’ah, Wa ashwâtad dâ-îna ilayka shô-‘i'dah, wa abwâbal ijâbati lahum mufattahah, wa da'-wata man nâ jâka mustajâbah, wa tawbata man ânâba ilayka maqbûlah, wa ‘abro ta man bakâ min khowfika marhûmah, Wal ighôtsata limanis-taghôtsa bika mawjûdah, wal i-‘ânata limanis ta-‘âna bika mabdzûlah, wa 'idâtika li-i'bâdika mun jazah, wa zalâla manis-taqôlaka muqôlah, Wa ‘a-mâlal âmilîna la dayka mah'fûzhoh, wa arzâqoka ilal kholâ-iqi min ladunka nâzilah, wa ‘awâ-idal mazîdi ilayhim wâ shilah, Wa dunûbal mustagh-fi rîna maghfûroh, wa hawâ-ija khol qika indaka maqdhiyyah, Waja wâijassâ-ilîna ’indaka muwaffaroh, wa ‘awâ-idal mazîdi muta wâtiroh, wa mawâ-idal musta t'imîna mu-‘addah,wa manâhila zhimâ-i mutro-ah, Allahumma fas-tajib du‘â-î waqbal tsanâ-î , Waj-ma'-baynî wa bayna awliyâ-îbihaqqi muhammadin wa ‘aliyyin wa fâtimata wal hasani wal hu sayn innaka waliyyu na'-mâ-î wa muntahâ munâ ya wa ghôyatu rojâ-î, Fîmunqolabî wa matswây .
Ya Allah! Sesungguhnya hati yang takut terhadap-Mu adalah hati yang bingung, yang terbuka jalan-jalan kerinduan menuju-Mu, yang jelas tanda-tanda keinginan kepada-Mu, sedang ada rasa takut pada hati para arif, yang tinggi suara penyeru-Mu. Terbuka pintu-pintu ijabah bagi mereka, terijabah seruan orang yang menyeru-Mu, terkabul taubat bagi yang memintanya pada-Mu dan rahmat bagi mata yang menangis karena takut pada-Mu. Tersedianya pertolongan bagi yang memohon pertolongan pada-Mu, terwujud janji-janji yang telah Engkau janjikan pada hamba-Mu. Terampuni segala kesalahan orang yang memohon pengampunan kepada-Mu, terjaga segala perbuatan orang-orang yang berlaku baik di sisi-Mu dan datang dari-Mu rezeki kepada semua makhluk. Telah sampai kepada mereka, kelebihan anugerah-anugerah-Mu, terampuni segala dosa orang yang memohon pengampunan kepada-Mu, terkabul semua hajat makhluk-Mu di sisi-Mu dan terpenuhi semua permohonan orang yang memohon kepada-Mu. Berturut-turut kebajikan-kebajikan-Mu yang lebih, tersedia untuk mereka yang karena kebaikan-Mu merekamemohon rezeki kepada-Mu dan merupakan sumber mata air bagi mereka yang dahaga. Ya Allah! Kabulkanlah doaku, terimalah pujianku dan kumpulkanlah aku dengan wali-waliku. Demi jiwa Muhammad, jiwa Ali, jiwa Fatimah, jiwa Hasan dan jiwa Husain kabulkanlah doa-doa kami, sesungguhnya Engkau pemilik nikmatku, akhir keinginan dan akhir harapanku di dunia dan di akhirat.
Dalam kitab Kamil az-Ziarah disebutkan bahwa setelah doa ziarah tersebut terdapat lanjutan ziarah sebagai berikut:
أَنْتَ إِلَهِيْ وَسَيِّدِيْوَمَوْلايَ إِغْفِرْ ِلاَؤْلِيائِنَا وَكُفَّ عَنَّا أَعْدائَنا وَاشْغَلْهُمْ عَنْ أَذانَا وَأَظْهِرْ كَلِمَةَ الْحَقِّ وَاجْعَلْهَا الْعُلْيَا وَأَدْحِضْ كَلِمَةَ الْباَطِلِ وَاجْعَلْهَا السُّفْلى إِنَّكَ عَلى كُلِّ شَيٍْ قَدِيرٌ.
Anta ilâhi wa sayyidî wa mawlay, ighfir li awliyâ-inâ wa kuffa ‘annâ ‘a’da’anâ wasy-gholhum ‘an âdzâ nâ wa azh-hir kalimatal haqqi waj’alhâl ulyâ wa adhidh kalmia tal bâthil waj’alhas suflâ innaka ‘alâ kulli syai -in qodîr.
Engkau adalah Tuhan, Tuan dan Junjunganku ampunilah para kekasih kami dan tahanlah para musuh dari kami, sibukkanlah mereka dari menggangguku, dan nampakkanlah kalimah al-Haq, jadikanlah ia tinggi, pudarkanlah kalimat batil dan jadikanlah ia rendah karena sesungguhnya Engkau Mahamampu atas segala sesuatu.
Lantas Imam Baqir as bersabda, “Tidak seorangpun yang berkata dengan ucapan ini, dan tidak ada seorang pun dari syiahku yang membaca doa ini sewaktu dia berada di makam Amirul Mukminin as atau di salah satu makam para imam as kecuali doanya tersebut akan diangkat melalui tangga cahaya dan akan distempel dengan stempel kenabian Muhammad saw, sedang pemiliknya akan diberi kabar gembira, penghormatan dan kemuliaan, Insya Allah.”
Doa khusus kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib a.s., disusun dengan bahasa doa Ahlul Bait, bernuansa wilâyah dan makrifat, cocok dibaca pada 13 Rajab atau kapan pun dengan niat mendekat kepada Allah melalui wasilah Amirul Mukminin a.s.
🕋 Doa Kelahiran Imam Ali a.s.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ وِلادَةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي بَيْتِكَ الْحَرَامِ،
وَبِحَقِّ نُورِهِ الَّذِي جَعَلْتَهُ دَلِيلًا إِلَيْكَ،
أَنْ تَفْتَحَ لِي بَابَ الْمَعْرِفَةِ،
وَتُثَبِّتَنِي عَلَى وِلَايَتِهِ،
وَتُطَهِّرَ قَلْبِي مِنَ الشِّرْكِ الْخَفِيِّ،
وَتَجْعَلَنِي مِنَ السَّالِكِينَ عَلَى صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيمِ.
اللَّهُمَّ بِحَقِّ عَلِيٍّ،
نَوِّرْ بَصِيرَتِي،
وَاشْرَحْ صَدْرِي لِلْحَقِّ،
وَارْزُقْنِي شَجَاعَةَ الطَّاعَةِ،
وَعَدْلَ الْقَلْبِ،
وَإِخْلَاصَ الْعِبَادَةِ.
اللَّهُمَّ احْشُرْنِي فِي زُمْرَتِهِ،
وَلا تَفْصِلْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا،
وَاجْعَلْ مَحَبَّتَهُ نُورًا فِي قَبْرِي،
وَشَفَاعَتَهُ ذُخْرًا لِي يَوْمَ لِقَائِكَ.
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
⸻
wa bi-ḥaqqi nūrihī alladzī ja‘altahu dalīlan ilayk,
an taftaḥa lī bābal ma‘rifah,
wa tuthabbitanī ‘alā wilāyatih,
wa tuṭahhira qalbī minasy-syirkil khafī,
wa taj‘alanī minas-sālikīna ‘alā ṣirāṭihil mustaqīm.
nawwir baṣīratī,
washraḥ ṣadrī lil-ḥaqq,
warzuqnī shajā‘atat-ṭā‘ah,
wa ‘adlal-qalb,
wa ikhlāṣal-‘ibādah.
wa lā tafṣil baynī wa baynahu ṭarfata ‘aynin abadā,
waj‘al maḥabbatahu nūran fī qabrī,
wa syafā‘atahu dzukhran lī yawma liqā’ik.
⸻
dan dengan hak cahaya yang Engkau jadikan sebagai penunjuk menuju-Mu,
bukakanlah bagiku pintu makrifat,
tetapkan aku di atas wilayahnya,
sucikan hatiku dari syirik yang tersembunyi,
dan jadikan aku termasuk orang-orang yang berjalan di atas jalannya yang lurus.
terangilah pandangan batinku,
lapangkan dadaku untuk menerima kebenaran,
anugerahkan aku keberanian dalam ketaatan,
keadilan dalam hati,
dan keikhlasan dalam ibadah.
jangan Engkau pisahkan aku darinya walau sekejap mata,
jadikan cintanya cahaya di kuburku,
dan syafaatnya sebagai simpananku pada hari perjumpaan dengan-Mu.”
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment