Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR
Makna Ghadir Khum
Ghadir Khumm adalah peristiwa yang terjadi pada 18 Dzulhijjah tahun 10 H, ketika Rasulullah ﷺ berhenti di daerah Ghadir Khum setelah Haji Wada’ dan menyampaikan khutbah yang di dalamnya terdapat sabda:
مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ
“Barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali bin Abi Thalib adalah mawlanya.”
Berikut 10 makna Ghadir Khum menurut perspektif keislaman, khususnya dalam tradisi Ahlul Bait:
1. Penyempurnaan Agama
Ghadir dipandang sebagai penyempurna bangunan agama dengan penetapan kepemimpinan setelah wafat Nabi ﷺ.
2. Pengumuman Wilayah
Peristiwa ini merupakan deklarasi wilayah (otoritas spiritual dan keagamaan) Imam Ali a.s. di hadapan kaum Muslimin.
3. Kelanjutan Cahaya Kenabian
Kenabian berakhir dengan Rasulullah ﷺ, tetapi bimbingan ilahi berlanjut melalui para imam dari Ahlul Bait.
4. Penjagaan Umat dari Perpecahan
Ghadir menunjukkan bahwa umat tidak dibiarkan tanpa petunjuk setelah wafat Nabi ﷺ.
5. Manifestasi Ketaatan kepada Allah
Perintah menyampaikan Ghadir dipahami sebagai kewajiban yang langsung berasal dari Allah, sebagaimana dikaitkan dengan Surah Al-Mā’idah ayat 67.
6. Kemuliaan Imam Ali
Ghadir menampakkan kedudukan istimewa Imam Ali sebagai orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ dalam ilmu, takwa, dan pengorbanan.
7. Ikatan Cinta kepada Ahlul Bait
Ghadir mengajarkan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait merupakan bagian penting dari kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
8. Perjanjian Kesetiaan Spiritual
Dalam pandangan irfani, Ghadir adalah pembaruan baiat ruhani kepada pemimpin yang ditunjuk Allah.
9. Simbol Kemenangan Kebenaran
Terjadinya Ghadir setelah Haji Wada’ melambangkan bahwa risalah telah sempurna dan kebenaran telah dijelaskan secara terang.
10. Hari Sukacita Orang Beriman
Dalam banyak riwayat Ahlul Bait, hari Ghadir disebut sebagai salah satu hari terbesar kaum mukmin karena menjadi hari penampakan nikmat dan wilayah ilahi.
Makna Makrifat Ghadir
Menurut para arif, Ghadir bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga realitas batin:
* Nabi ﷺ melambangkan penyampai wahyu.
* Imam Ali a.s. melambangkan pintu ilmu dan wilayah.
* Ghadir adalah perpindahan dari menerima syariat kepada berjalan di bawah bimbingan wilayah.
* Setiap mukmin memiliki “Ghadir” dalam dirinya ketika ia menyerahkan kepemimpinan hati kepada Allah dan para wali-Nya.
Pelajaran Ruhani dari Ghadir
1. Mencintai Allah melalui ketaatan.
2. Menghormati keluarga Nabi ﷺ.
3. Menjaga persatuan di atas kebenaran.
4. Menuntut ilmu dari sumber yang terpercaya.
5. Menjadikan takwa sebagai ukuran kemuliaan.
6. Menepati janji kepada Allah.
7. Bersikap adil dalam kepemimpinan.
8. Mengutamakan petunjuk ilahi daripada hawa nafsu.
9. Memelihara ukhuwah sesama mukmin.
10. Menjadikan wilayah sebagai jalan menuju ma’rifatullah.
Doa Hari Ghadir
اللَّهُمَّ ثَبِّتْنِي عَلَى وِلَايَةِ أَوْلِيَائِكَ،
وَاجْعَلْ قَلْبِي مُتَمَسِّكًا بِالْحَقِّ،
وَاحْشُرْنِي مَعَ مُحَمَّدٍ
وَآلِ مُحَمَّدٍ الطَّاهِرِينَ.
“Ya Allah, teguhkan aku dalam wilayah para wali-Mu,
jadikan hatiku berpegang teguh kepada kebenaran, dan kumpulkanlah aku bersama Muhammad dan keluarga Muhammad yang suci.”
Surah Al-Mā’idah ayat 67:
﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴾
“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah akan memeliharamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”
10 Makna Ayat Ini
1. Kewajiban Menyampaikan Seluruh Wahyu
Rasulullah ﷺ diperintahkan menyampaikan seluruh ajaran Allah tanpa menyembunyikan sedikit pun, baik yang mudah diterima maupun yang berat bagi manusia.
2. Pentingnya Perintah yang Disampaikan
Ungkapan “Jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya” menunjukkan bahwa perkara yang diperintahkan ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam agama.
3. Amanah Kenabian
Risalah bukan milik nabi, melainkan amanah dari Allah yang wajib disampaikan secara sempurna.
4. Keberanian dalam Menegakkan Kebenaran
Seorang pembawa kebenaran tidak boleh takut kepada tekanan manusia ketika menjalankan perintah Allah.
5. Jaminan Perlindungan Ilahi
“Allah akan memeliharamu dari manusia” menunjukkan bahwa penjagaan hakiki datang dari Allah, bukan dari kekuatan makhluk.
6. Kesempurnaan Dakwah
Kesempurnaan dakwah terletak pada penyampaian yang utuh, bukan hanya menyampaikan bagian yang disukai masyarakat.
7. Ujian Kepemimpinan Spiritual
Pemimpin agama diuji pada kemampuannya menyampaikan kebenaran meskipun berisiko menghadapi penolakan.
8. Hubungan Antara Risalah dan Wilayah
Dalam banyak riwayat Ahlul Bait dan sebagian tafsir Syiah, ayat ini dikaitkan dengan peristiwa Ghadir Khumm, yaitu penyampaian wilayah dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib setelah Rasulullah ﷺ.
9. Penolakan Kebenaran Menghalangi Hidayah
Bagian akhir ayat mengisyaratkan bahwa kekafiran dan penolakan terhadap kebenaran dapat menjadi penghalang datangnya petunjuk Allah.
10. Tugas Para Pewaris Nabi
Meskipun ayat ini ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, para ulama, dai, dan pencari kebenaran mengambil pelajaran untuk menyampaikan ilmu dengan amanah dan ikhlas.
Makna Makrifat
Menurut para ahli makrifat, ayat ini tidak hanya berbicara tentang penyampaian hukum dan syariat, tetapi juga tentang penyampaian cahaya hidayah.
* “Baligh” berarti menyampaikan tanpa mengurangi sedikit pun apa yang diterima dari Allah.
* “Mā unzila ilayka” mencakup ilmu, hikmah, rahasia ketuhanan, dan cahaya wilayah.
* “Wallāhu ya‘ṣimuka mina an-nās” menunjukkan bahwa orang yang benar-benar bersama Allah akan dijaga oleh-Nya dari gangguan yang dapat menghalangi misi ilahinya.
* Ayat ini mengajarkan bahwa seorang arif harus lebih takut kehilangan keridhaan Allah daripada kehilangan penerimaan manusia.
Pelajaran Ruhani
1. Sampaikan kebenaran dengan hikmah.
2. Jangan menyembunyikan ilmu yang bermanfaat.
3. Bertawakal ketika menjalankan tugas agama.
4. Jangan menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama.
5. Yakin bahwa perlindungan Allah lebih kuat daripada perlindungan makhluk.
6. Jaga amanah ilmu.
7. Teguhkan keberanian spiritual.
8. Hormati para pewaris ilmu Nabi.
9. Carilah hidayah dengan hati yang tunduk.
10. Jadikan keridhaan Allah sebagai tujuan utama hidup.
Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُبَلِّغِينَ لِلْحَقِّ، وَالْعَامِلِينَ بِهِ، وَالْمُتَمَسِّكِينَ بِوِلَايَةِ أَوْلِيَائِكَ، وَاحْفَظْنِي بِحِفْظِكَ وَعِصْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyampaikan kebenaran, mengamalkannya, berpegang teguh pada wilayah para wali-Mu, dan jagalah aku dengan penjagaan dan perlindungan-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Surah Al-Mā’idah ayat 3:
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾
“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”
10 Makna Ayat Ini
1. Kesempurnaan Agama
Allah mengumumkan bahwa bangunan agama telah mencapai kesempurnaannya dan tidak membutuhkan agama baru sesudahnya.
2. Tuntasnya Syariat
Hukum-hukum pokok yang diperlukan untuk membimbing manusia telah disampaikan secara lengkap.
3. Nikmat Terbesar adalah Hidayah
Nikmat yang paling agung bukanlah harta atau kekuasaan, melainkan petunjuk menuju Allah.
4. Islam Sebagai Jalan yang Diridhai
Allah memilih Islam sebagai jalan hidup yang diridhai bagi manusia hingga akhir zaman.
5. Kesatuan Agama dan Kepemimpinan
Dalam banyak riwayat Ahlul Bait, ayat ini dikaitkan dengan peristiwa Ghadir Khumm, yaitu ketika wilayah dan kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib as diumumkan sehingga agama mencapai kesempurnaannya.
6. Karunia Allah yang Sempurna
Segala nikmat dunia dan akhirat berpuncak pada pengenalan terhadap Allah dan jalan menuju-Nya.
7. Penegasan Rahmat Ilahi
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan manusia tanpa petunjuk yang sempurna.
8. Kabar Gembira bagi Orang Beriman
Turunnya ayat ini merupakan berita tentang kesempurnaan anugerah Allah kepada umat Islam.
9. Islam adalah Jalan Keseimbangan
Islam mencakup akidah, ibadah, akhlak, hukum, dan kehidupan sosial secara utuh.
10. Undangan untuk Bersyukur
Karena agama telah disempurnakan, manusia dituntut untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan ketaatan.
Menurut Tafsir Ahlul Bait
Dalam banyak riwayat yang dinukil dalam literatur Syiah Imamiyah, ayat ini dipahami turun setelah peristiwa Ghadir Khum. Kesempurnaan agama dipandang tidak hanya melalui turunnya hukum-hukum syariat, tetapi juga dengan penetapan pemimpin yang menjaga dan menafsirkan agama setelah Rasulullah ﷺ.
Makna Makrifat
Para arif melihat tiga tingkatan dalam ayat ini:
1. Akmaltu lakum dīnakum
Kesempurnaan syariat lahiriah.
2. Atmamtu ‘alaykum ni’matī
Kesempurnaan nikmat batiniah berupa wilayah, hidayah, dan cahaya ma’rifat.
3. Raḍītu lakumul-islāma dīnā
Puncak perjalanan ruhani adalah kepasrahan total (islām) kepada Allah.
Menurut sebagian ahli makrifat:
* Agama yang sempurna adalah agama yang mengantarkan manusia kepada Allah.
* Nikmat yang sempurna adalah mengenal Allah.
* Islam yang diridhai adalah penyerahan diri lahir dan batin kepada-Nya.
10 Pelajaran Ruhani
1. Syukuri nikmat hidayah.
2. Pelajari agama secara utuh.
3. Pegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah.
4. Hormati Ahlul Bait Nabi.
5. Jangan mencari jalan keselamatan di luar petunjuk Allah.
6. Jadikan Islam sebagai cara hidup.
7. Perkuat keyakinan kepada kesempurnaan risalah Nabi.
8. Carilah ilmu yang mendekatkan kepada Allah.
9. Tumbuhkan rasa ridha terhadap ketentuan Allah.
10. Jadikan tujuan akhir hidup adalah keridhaan Allah.
Doa ;
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الشَّاكِرِينَ
عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَالثَّابِتِينَ عَلَى وِلَايَةِ أَوْلِيَائِكَ، وَارْزُقْنِي كَمَالَ الْإِيمَانِ وَحَقِيقَةَ الْمَعْرِفَةِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat Islam, yang teguh di atas wilayah para wali-Mu, dan anugerahkan kepadaku kesempurnaan iman serta hakikat makrifat, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Penyayang.”
Amalan dan Keutamaannya
Malam dan Siang Idul Ghodir
Malam kedelapan belas bulan Zulhijjah adalah Malam Idul Ghadir.
Malam yang merupakan malam yang penuh berkah. Sayyid Ibn Tawus menyebutkan dalam kitab Al-Iqbal
Barang siapa menghidupkan malam Ghadir, Allah mengampuni seluruh dosanya, walaupun sebanyak bintang-bintang, tetesan hujan, dan daun-daun pepohonan. Allah mengutus kepadanya tujuh puluh malaikat yang memohonkan ampun untuknya hingga tahun berikutnya.
Mengenai salat malam Ghadir, disebutkan: Hendaklah ia mengerjakan pada malam Ghadir dua belas rakaat ketika telah berlalu sepertiga malam, dan mengucapkan salam setiap dua rakaat.
Setelah salat dibaca doa yang diawali dengan:
Doa setelah shalat 12 rakaat Malam Idul Ghadir yang disebutkan dalam kitab Al-Iqbāl karya Sayyid Ibn Tawus sangat panjang. Berikut bagian awal doa yang dibaca setelah shalat tersebut:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، وَأَنَّكَ وَاحِدٌ أَحَدٌ صَمَدٌ، لَمْ تَلِدْ وَلَمْ تُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَكَ كُفُوًا أَحَدٌ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمَا سَأَلَكَ بِهِ مُحَمَّدٌ نَبِيُّكَ وَرَسُولُكَ، وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِهِ.
اللَّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَأَنْ تَقْضِيَ لِي حَاجَتِي.
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Allāhumma innī as’aluka bi-anna lakal-ḥamda waḥdaka lā syarīka laka, wa annaka wāḥidun aḥadun ṣamad, lam talid wa lam tūlad, wa lam yakun laka kufuwan aḥad, wa anna Muḥammadan ’abduka wa rasūluk.
Allāhumma innī as’aluka bimā sa’alaka bihi Muḥammadun nabiyyuka wa rasūluk, wa atawajjahu ilaika bih.
Allāhumma faṣalli ’alā Muḥammadin wa Āli Muḥammad, wa an taqḍiya lī ḥājatī.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, karena segala puji hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Engkau Maha Esa, Maha Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Mu. Dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan doa yang pernah dipanjatkan oleh Muhammad, Nabi dan Rasul-Mu, dan aku bertawassul kepada-Mu dengannya.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, serta kabulkanlah hajatku. Kemudian mintalah hajatmu kepada Allah.
Hari kedelapan belas (Dzulhijjah) adalah Hari Raya Ghadir. Ia adalah hari raya Allah dan hari raya keluarga Muhammad ﷺ. Hari itu merupakan hari raya yang paling agung.
Allah Ta’ala tidak mengutus seorang nabi pun kecuali ia merayakan hari ini dan menjaga kehormatannya. Nama hari ini di langit adalah “Hari Perjanjian yang Ditetapkan” (Yaum al-‘Ahd al-Ma’hud), sedangkan namanya di bumi adalah “Hari Pengambilan Perjanjian dan Perhimpunan yang Disaksikan” (Yaum al-Mitsaq al-Ma’khudz wa al-Jam’ al-Masyhud).
Diriwayatkan bahwa Imam Ja’far al-Sadiq as pernah ditanya:
“Apakah kaum Muslimin memiliki hari raya selain hari Jumat, Idul Adha, dan Idul Fitri?” Beliau menjawab:
“Ya, ada, bahkan yang paling agung kehormatannya.” Perawi bertanya:
“Hari raya apakah itu?”
Beliau menjawab:”Yaitu hari ketika Rasulullah ﷺ mengangkat Imam Ali ibn Abi Talib sebagai Amirul Mukminin dan bersabda:”Barang siapa menjadikan aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya. Hari itu adalah tanggal delapan belas Dzulhijjah.”
Perawi bertanya:
“Apa yang sepatutnya kami lakukan pada hari itu?” Beliau menjawab:
“Berpuasa, beribadah, berzikir kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad عليهم السلام, serta bershalawat kepada mereka. Rasulullah ﷺ telah mewasiatkan kepada Amirul Mukminin Ali عليه السلام agar menjadikan hari itu sebagai hari raya. Demikian pula para nabi terdahulu; mereka selalu berpesan kepada para wasi (penerus) mereka untuk menjadikan hari itu sebagai hari raya.” Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Nasr al-Bazanti dari Ali al-Ridha, beliau bersabda:”Wahai Ibn Abi Nasr, di mana pun engkau berada, hadirlah pada Hari Ghadir di sisi Amirul Mukminin. Sesungguhnya Allah Yang Mahaberkah dan Mahatinggi mengampuni dosa enam puluh tahun bagi setiap mukmin dan mukminah, muslim dan muslimah. Pada hari itu Allah membebaskan dari neraka dua kali lipat dari jumlah yang dibebaskan-Nya pada bulan Ramadan, malam Lailatul Qadar, dan malam Idul Fitri.
Satu dirham yang engkau berikan pada hari itu kepada saudara-saudaramu yang mengenal hak Ahlul Bait nilainya seperti seribu dirham pada hari-hari lainnya.
Maka berbuat baiklah kepada saudara-saudaramu pada hari itu, dan bahagiakanlah setiap mukmin dan mukminah.”
Kemudian beliau bersabda:
“Demi Allah, seandainya manusia mengetahui keutamaan hari ini sebagaimana hakikatnya, niscaya para malaikat akan berjabat tangan dengan mereka setiap hari sebanyak sepuluh kali.”
Ketahuilah bahwa telah diriwayatkan pada hari ini berbagai keutamaan yang sangat besar bagi orang yang melakukan amalan-amalan berikut:
* Mengenakan pakaian terbaik.
* Berhias dan memperindah penampilan.
* Menggunakan wewangian.
* Menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan.
* Membahagiakan para pengikut Imam Ali ibn Abi Talib as.
* Memaafkan kesalahan mereka.
* Memenuhi kebutuhan mereka.
* Menyambung tali silaturahmi.
* Melapangkan rezeki dan nafkah bagi keluarga.
* Memberi makan kepada orang-orang mukmin.
* Menyediakan hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa.
* Berjabat tangan dengan kaum mukmin.
* Mengunjungi mereka.
* Menampakkan senyum kepada mereka.
* Mengirimkan hadiah kepada mereka.
* Bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang paling agung, yaitu nikmat wilayah (kepemimpinan ilahi).
* Memperbanyak shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
* Memperbanyak ibadah dan ketaatan kepada Allah.
Satu dirham yang diberikan seorang mukmin kepada saudaranya pada hari ini bernilai seperti seratus ribu dirham yang diberikan pada hari-hari lainnya.
Memberi makan seorang mukmin pada hari ini pahalanya seperti memberi makan seluruh nabi dan orang-orang yang sangat benar (shiddiqin).
Dalam salah satu khutbah Amirul Mukminin Imam Ali ibn Abi Talib as pada Hari Ghadir disebutkan:”Barang siapa memberi hidangan berbuka kepada seorang mukmin pada malam Ghadir, maka seakan-akan ia telah memberi makan kepada banyak kelompok manusia.”
Kemudian beliau menghitung dengan jari-jarinya sebanyak sepuluh kali. Lalu seseorang berdiri dan bertanya:”Wahai Amirul Mukminin, apakah yang dimaksud dengan kelompok-kelompok itu (fi’ām)?” Beliau menjawab:
“Dua ratus ribu nabi, orang-orang yang sangat benar (shiddiq), dan para syuhada.” Kemudian beliau melanjutkan:
“Maka bagaimana lagi kedudukan orang yang menjamin kebutuhan sejumlah mukmin laki-laki dan perempuan? Aku menjamin baginya di sisi Allah, di hadapan para sahabatku, keamanan dari kekafiran dan keamanan dari kemiskinan…”
(dan seterusnya).
Amalan Hari Raya Iedul Ghadir
1, Yang pertama: Berpuasa, puasa ini sebagai penebus dosa 60 tahun, telah diriwayatkan, bahwa berpuasa dihari itu sama nilainya dengan berpuasa (dahr) satu masa,
2, Mandi (ritual mandi)
3, Menziarahi Amirul Mukminin (Imam Ali).
4, Membaca Doa Al-Nudbah.
5, Melakukan ghusl (mandi wajib) dan shalat dua rakaat setengah jam sebelum tengah hari (𝑺𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒂𝒅𝒛𝒂𝒏 𝒅𝒉𝒐𝒉𝒐𝒓)
Dalam setiap rakaat, bacalah Surah Al-Fatihah sekali, Surah Al-Ikhlas sebelas kali, Ayat Al-Kursi sepuluh kali, dan Surah Al-Qadr sepuluh kali.
Amal ini setara di sisi Allah dengan seratus ribu ibadah haji dan seratus ribu ibadah umrah.
Dan sudah seharusnya Allah Yang Maha Pemurah memenuhi kebutuhannya di dunia dan akhirat dengan mudah dan sejahtera.
6, Mengucapkan seratus kali:
'"اَلْحمْدُ لِلّٰه الَّذِيْ جَعَلَ كَمَالُ دِينِهِ
وَتَمَامُ نِع٘مَتِهِ بِوِﻻيةِ اَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
عَلِيِّ بنِ ابِيْ طَالِب٘ ع..""
7, Perbanyak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
8, Memperbaiki penampilan, bersolek (mempercantik diri), memakai parfum, bergembira dan bahagia, membawa kegembiraan kepada pengikut Syiah Amirul Mukminin, memaafkan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, menjaga hubungan kekerabatan, bermurah hati kepada keluarga, memberi makan orang-orang beriman, menyediakan buka puasa bagi yang berpuasa, berjabat tangan dengan orang-orang beriman, mengunjungi mereka, tersenyum kepada mereka, mengirimkan hadiah kepada mereka, dan bersyukur kepada Allah atas nikmat WILAYAH.
9, Memberikan sedekah. Satu dirham yang diberikan oleh seorang mukmin kepada saudaranya setara dengan seratus ribu dirham pada hari-hari lain. Memberi makan seorang mukmin pada hari ini sama seperti memberi makan semua nabi dan orang-orang saleh.
Siapa pun yang menyediakan buka puasa untuk seorang mukmin pada malam ini, seolah-olah ia telah menyediakan buka puasa untuk banyak orang, dan banyak orang itu setara dengan dua ratus ribu nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.
✨ Jangan ragu untuk membagikan/menyebarkan ini, karena siapa pun yang mendirikan amal kebaikan akan mendapatkan pahalanya dan pahala siapa pun yang mengamalkannya hingga Hari Kiamat. ✨💫
Doa shalat dua rakaat setengah jam sebelum matahari tergelincir (sebelum waktu Zuhur).
Pada setiap rakaat dibaca:
* Surah Al-Fatihah satu kali.
* Surah Al-Ikhlas (Qul Huwallāhu Aḥad) sepuluh kali.
* Ayat Kursi sepuluh kali.
* Surah Al-Qadr (Innâ Anzalnāhu) sepuluh kali.
Amalan ini di sisi Allah Yang Mahamulia sebanding dengan pahala seratus ribu ibadah haji dan seratus ribu ibadah umrah.
Amalan ini juga menjadi sebab Allah Yang Mahamurah memenuhi berbagai kebutuhan dunia dan akhirat pelakunya dengan kemudahan dan kesehatan.
Doa Setelah Selesai sholat;
Setelah selesai mengerjakannya, dianjurkan untuk bersujud dan mengucapkan syukur kepada Allah Yang Mahatinggi sebanyak seratus kali. Kemudian mengangkat kepala dari sujud dan membaca doa berikut:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّد
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْد
Allāhumma innī as’aluka bi-anna laka al-ḥamd.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu karena segala puji adalah milik-Mu.
وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ
Waḥdaka lā syarīka lak.
Engkau Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu.
وَأَنَّكَ وَاحِدٌ أَحَدٌ صَمَدٌ
Wa annaka wāḥidun aḥadun ṣamad.
Dan sesungguhnya Engkau Yang Maha Tunggal, Maha Esa, dan Maha Tempat Bergantung.
لَمْ تَلِدْ وَلَمْ تُولَدْ
Lam talid wa lam tūlad.
Engkau tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
وَلَمْ يَكُنْ لَكَ كُفُوًا أَحَدٌ
Wa lam yakun laka kufuwan aḥad.
Dan tidak ada seorang pun yang sebanding dengan-Mu.
وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ
Wa anna Muḥammadan ‘abduka wa rasūluk.
Dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.
صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَآلِهِ
Ṣalawātuka ‘alaihi wa ālih.
Semoga shalawat-Mu tercurah kepadanya dan keluarganya.
يَا مَنْ هُوَ كُلَّ يَوْمٍ فِي شَأْنٍ
Yā man huwa kulla yaumin fī sya’n.
Wahai Dia yang setiap hari berada dalam urusan dan ketetapan-Nya.
كَمَا كَانَ مِنْ شَأْنِكَ أَنْ تَفَضَّلْتَ عَلَيَّ
Kamā kāna min sya’nika an tafadhalta ‘alayya.
Sebagaimana termasuk urusan kemurahan-Mu bahwa Engkau telah melimpahkan karunia kepadaku.
بِأَنْ جَعَلْتَنِي مِنْ أَهْلِ إِجَابَتِكَ
Bi-an ja‘altanī min ahli ijābatik.
Dengan menjadikanku termasuk orang-orang yang menyambut panggilan-Mu.
وَأَهْلِ دِينِكَ
Wa ahli dīnik.
Dan termasuk pengikut agama-Mu.
وَأَهْلِ دَعْوَتِكَ
Wa ahli da‘watik.
Dan termasuk orang-orang yang menerima dakwah-Mu.
وَوَفَّقْتَنِي لِذٰلِكَ فِي مُبْتَدَإِ خَلْقِي
Wa waffaqtanī lidzālika fī mubtada’i khalqī.
Dan Engkau memberiku taufik untuk itu sejak awal penciptaanku.
تَفَضُّلًا مِنْكَ وَكَرَمًا وَجُودًا
Tafadhdhulan minka wa karaman wa jūdan.
Sebagai karunia, kemuliaan, dan kemurahan dari-Mu.
ثُمَّ أَرْدَفْتَ الْفَضْلَ فَضْلًا
Ṡumma ardafta al-faḍla faḍlā.
Kemudian Engkau menambahkan karunia di atas karunia.
وَالْجُودَ جُودًا
Wal-jūda jūdā.
Dan kemurahan di atas kemurahan.
وَالْكَرَمَ كَرَمًا
Wal-karama karamā.
Dan kemuliaan di atas kemuliaan.
رَأْفَةً مِنْكَ وَرَحْمَةً
Ra’fatan minka wa raḥmah.
Sebagai kasih sayang dan rahmat dari-Mu.
إِلَى أَنْ جَدَّدْتَ ذٰلِكَ الْعَهْدَ لِي تَجْدِيدًا
Ilā an jaddadta dzālika al-‘ahda lī tajdīdā.
Hingga Engkau memperbarui perjanjian itu bagiku sekali lagi.
بَعْدَ تَجْدِيدِكَ خَلْقِي
Ba‘da tajdīdika khalqī.
Sesudah Engkau memperbarui penciptaanku.
وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
Wa kuntu nasyyan mansiyyā.
Sedangkan aku adalah sesuatu yang terlupakan dan tidak diperhatikan.
نَاسِيًا سَاهِيًا غَافِلًا
Nāsiyan sāhiyan ghāfilā.
Dalam keadaan lalai, lupa, dan tidak sadar.
فَأَتْمَمْتَ نِعْمَتَكَ
Fa-atmamta ni‘matak.
Maka Engkau menyempurnakan nikmat-Mu.
بِأَنْ ذَكَّرْتَنِي ذٰلِكَ
Bi-an dzakkartanī dzālik.
Dengan mengingatkanku akan hal itu.
وَمَنَنْتَ بِهِ عَلَيَّ
Wa mananta bihī ‘alayya.
Dan Engkau menganugerahkannya kepadaku.
وَهَدَيْتَنِي لَهُ
Wa hadaitanī lah.
Dan Engkau memberiku petunjuk kepadanya.
فَلْيَكُنْ مِنْ شَأْنِكَ
Falyakun min sya’nik.
Maka jadikanlah itu termasuk kemurahan urusan-Mu.
يَا إِلٰهِي وَسَيِّدِي وَمَوْلَايَ
Yā ilāhī wa sayyidī wa maulāya.
Wahai Tuhanku, Junjunganku, dan Pelindungku.
أَنْ تُتِمَّ لِي ذٰلِكَ وَلَا تَسْلُبْنِيهِ
An tutimma lī dzālika wa lā taslubnīh.
Agar Engkau menyempurnakannya bagiku dan tidak mencabutnya dariku.
حَتَّى تَتَوَفَّانِي عَلَى ذٰلِكَ
Ḥattā tatawaffānī ‘alā dzālik.
Hingga Engkau mewafatkanku dalam keadaan memegangnya.
وَأَنْتَ عَنِّي رَاضٍ
Wa anta ‘annī rāḍin.
Dan Engkau ridha kepadaku.
فَإِنَّكَ أَحَقُّ الْمُنْعِمِينَ
Fa-innaka aḥaqqu al-mun‘imīn.
Karena Engkaulah yang paling berhak di antara para pemberi nikmat.
أَنْ تُتِمَّ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ
An tutimma ni‘mataka ‘alayya.
Untuk menyempurnakan nikmat-Mu kepadaku.
اللّٰهُمَّ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
Allāhumma sami‘nā wa aṭa‘nā.
Ya Allah, kami telah mendengar dan kami telah taat.
وَأَجَبْنَا دَاعِيَكَ بِمَنِّكَ
Wa ajabnā dā‘iyaka bimannik.
Dan kami telah memenuhi seruan-Mu karena karunia-Mu.
فَلَكَ الْحَمْدُ
Falaka al-ḥamd.
Maka segala puji adalah milik-Mu.
غُفْرَانَكَ رَبَّنَا
Ghufrānaka rabbanā.
Kami mengharap ampunan-Mu wahai Tuhan kami.
وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Wa ilaika al-maṣīr.
Dan kepada-Mulah tempat kembali.
آمَنَّا بِاللّٰهِ وَحْدَهُ
Āmannā billāhi waḥdah.
Kami beriman kepada Allah Yang Maha Esa.
لَا شَرِيكَ لَهُ
Lā syarīka lah.
Tiada sekutu bagi-Nya.
وَبِرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ
Wa birasūlihī Muḥammad.
Dan kepada Rasul-Nya, Muhammad.
صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
Ṣallallāhu ‘alaihi wa ālih.
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya dan keluarganya.
وَصَدَّقْنَا وَأَجَبْنَا دَاعِيَ اللّٰهِ
Wa ṣaddaqnā wa ajabnā dā‘iya Allāh.
Kami membenarkan dan memenuhi seruan Allah.
وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فِي مُوَالَاةِ مَوْلَانَا
Wattaba‘nā ar-rasūla fī muwālāti maulānā.
Dan kami mengikuti Rasul dalam berwilayah kepada pemimpin kami.
وَمَوْلَى الْمُؤْمِنِينَ
Wa maulā al-mu’minīn.
Yaitu pemimpin kaum mukminin.
أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
Amīr al-mu’minīn.
Amirul Mukminin.
عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
‘Aliyyi bni Abī Ṭālib.
Ali bin Abi Thalib.
عَبْدِ اللّٰهِ وَأَخِي رَسُولِهِ
‘Abdillāhi wa akhī rasūlih.
Hamba Allah dan saudara Rasul-Nya.
وَالصِّدِّيقِ الْأَكْبَرِ
Waṣ-ṣiddīqi al-akbar.
Yang Sangat Benar (ash-Shiddiq al-Akbar).
وَالْحُجَّةِ عَلَى بَرِيَّتِهِ
Wal-ḥujjati ‘alā bariyyatih.
Dan hujah Allah atas seluruh makhluk-Nya.
الْمُؤَيَّدِ بِهِ نَبِيُّهُ
Al-mu’ayyadi bihī nabiyyuh.
Yang dengannya Nabi-Nya dikuatkan.
وَدِينُهُ الْحَقُّ الْمُبِينُ
Wa dīnuhu al-ḥaqqu al-mubīn.
Dan agama-Nya yang benar dan nyata ditegakkan.
عَلَمًا لِدِينِ اللّٰهِ
‘Alaman lidīni Allāh.
Sebagai panji agama Allah.
وَخَازِنًا لِعِلْمِهِ
Wa khāzinan li‘ilmih.
Sebagai penjaga ilmu-Nya.
وَعَيْبَةِ غَيْبِ اللّٰهِ
Wa ‘aybata ghaibi Allāh.
Dan tempat penyimpanan rahasia-rahasia gaib Allah.
وَمَوْضِعِ سِرِّ اللّٰهِ
Wa mawḍi‘i sirri Allāh.
Dan tempat tersimpannya rahasia Allah.
وَأَمِينِ اللّٰهِ عَلَى خَلْقِهِ
Wa amīni Allāhi ‘alā khalqih.
Dan orang kepercayaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.
وَشَاهِدِهِ فِي بَرِيَّتِهِ
Wa syāhidihī fī bariyyatih.
Dan saksi-Nya di tengah ciptaan-Nya.
اللّٰهُمَّ رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا
Allāhumma rabbanā innanā sami‘nā munādiyā.
Ya Allah, Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru.
يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا
Yunādī lil-īmāni an āminū birabbikum fa āmannā.
Yang menyeru kepada keimanan: “Berimanlah kepada Tuhanmu,” maka kami pun beriman.
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
Rabbanā faghfir lanā dhunūbanā.
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami.
وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا
Wa kaffir ‘annā sayyi’ātinā.
Dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami.
وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
Wa tawaffanā ma‘a al-abrār.
Dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang saleh.
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ
Rabbanā wa ātinā mā wa‘adtanā ‘alā rusulik.
Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan melalui para rasul-Mu.
وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Wa lā tukhzinā yauma al-qiyāmah.
Dan janganlah Engkau hinakan kami pada Hari Kiamat.
إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Innaka lā tukhlifu al-mī‘ād.
Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.
فَإِنَّا يَا رَبَّنَا بِمَنِّكَ وَلُطْفِكَ
Fa innā yā rabbanā bimannika wa luṭfik.
Karena sesungguhnya kami, wahai Tuhan kami, dengan karunia dan kelembutan-Mu.
أَجَبْنَا دَاعِيَكَ
Ajabnā dā‘iyak.
Telah memenuhi seruan-Mu.
وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ وَصَدَّقْنَاهُ
Wattaba‘nā ar-rasūla wa ṣaddaqnāh.
Dan kami mengikuti Rasul serta membenarkannya.
وَصَدَّقْنَا مَوْلَى الْمُؤْمِنِينَ
Wa ṣaddaqnā maulā al-mu’minīn.
Dan kami membenarkan Pemimpin Kaum Mukminin.
وَكَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ
Wa kafarnā bil-jibti waṭ-ṭāghūt.
Dan kami mengingkari segala bentuk kebatilan dan thaghut.
فَوَلِّنَا مَا تَوَلَّيْنَا
Fa wallinā mā tawallainā.
Maka tetapkanlah bagi kami apa yang telah kami jadikan wilayah dan pegangan.
وَاحْشُرْنَا مَعَ أَئِمَّتِنَا
Waḥsyurnā ma‘a a’immatinā.
Dan kumpulkanlah kami bersama para imam kami.
فَإِنَّا بِهِمْ مُؤْمِنُونَ مُوقِنُونَ
Fa innā bihim mu’minūna mūqinūn.
Karena kami beriman dan yakin kepada mereka.
وَلَهُمْ مُسَلِّمُونَ
Wa lahum musallimūn.
Dan kami berserah diri kepada mereka.
آمَنَّا بِسِرِّهِمْ وَعَلَانِيَتِهِمْ
Āmannā bisirrihim wa ‘alāniyatihim.
Kami beriman kepada rahasia dan keterbukaan mereka.
وَشَاهِدِهِمْ وَغَائِبِهِمْ
Wa syāhidihim wa ghā’ibihim.
Baik yang hadir maupun yang tidak hadir dari mereka.
وَحَيِّهِمْ وَمَيِّتِهِمْ
Wa ḥayyihim wa mayyitihim.
Baik yang hidup maupun yang telah wafat dari mereka.
وَرَضِينَا بِهِمْ أَئِمَّةً
Wa raḍīnā bihim a’immatan.
Dan kami ridha menjadikan mereka sebagai para imam.
وَقَادَةً وَسَادَةً
Wa qādatan wa sādatan.
Sebagai para pemimpin dan penghulu.
وَحَسْبُنَا بِهِمْ
Wa ḥasbunā bihim.
Dan cukuplah mereka bagi kami.
بَيْنَنَا وَبَيْنَ اللّٰهِ دُونَ خَلْقِهِ
Bainanā wa baina Allāhi dūna khalqih.
Sebagai jalan kedekatan antara kami dengan Allah, bukan selain mereka dari makhluk-Nya.
لَا نَبْتَغِي بِهِمْ بَدَلًا
Lā nabtaghī bihim badalā.
Kami tidak mencari pengganti selain mereka.
وَلَا نَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِمْ وَلِيجَةً
Wa lā nattakhidhu min dūnihim walījah.
Dan kami tidak mengambil selain mereka sebagai pemimpin rahasia dan penolong.
وَبَرِئْنَا إِلَى اللّٰهِ
Wa bari’nā ilā Allāh.
Dan kami berlepas diri kepada Allah.
مِنْ كُلِّ مَنْ نَصَبَ لَهُمْ حَرْبًا
Min kulli man naṣaba lahum ḥarbā.
Dari setiap orang yang memerangi mereka.
مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ
Mina al-jinni wal-ins.
Baik dari golongan jin maupun manusia.
مِنَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Mina al-awwalīna wal-ākhirīn.
Dari orang-orang terdahulu maupun yang kemudian.
وَكَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ
Wa kafarnā bil-jibti waṭ-ṭāghūt.
Dan kami mengingkari segala kebatilan dan thaghut.
وَالْأَوْثَانِ الْأَرْبَعَةِ
Wal-awṯāni al-arba‘ah.
Dan berlepas diri dari empat berhala (sebagaimana istilah yang digunakan dalam teks doa ini).
وَأَشْيَاعِهِمْ وَأَتْبَاعِهِمْ
Wa asyyā‘ihim wa atbā‘ihim.
Serta para pengikut dan pendukung mereka.
وَكُلِّ مَنْ وَالَاهُمْ
Wa kulli man wālāhum.
Dan setiap orang yang menjadikan mereka sebagai sekutu dan pemimpin.
مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ
Mina al-jinni wal-ins.
Dari kalangan jin maupun manusia.
مِنْ أَوَّلِ الدَّهْرِ إِلَى آخِرِهِ
Min awwali ad-dahri ilā ākhirih.
Sejak awal zaman hingga akhirnya.
اللّٰهُمَّ إِنَّا نُشْهِدُكَ
Allāhumma innā nushhiduk.
Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan-Mu sebagai saksi.
أَنَّا نَدِينُ بِمَا دَانَ بِهِ مُحَمَّدٌ وَآلُ مُحَمَّدٍ
Annā nadīnu bimā dāna bihī Muḥammadun wa ālu Muḥammad.
Bahwa kami beragama dengan apa yang dijalani oleh Muhammad dan keluarga Muhammad.
صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ
Ṣallallāhu ‘alaihi wa ‘alaihim.
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya dan kepada mereka.
وَقَوْلُنَا مَا قَالُوا
Wa qawlunā mā qālū.
Ucapan kami adalah apa yang mereka ucapkan.
وَدِينُنَا مَا دَانُوا بِهِ
Wa dīnunā mā dānū bih.
Agama kami adalah apa yang mereka jalani.
مَا قَالُوا بِهِ قُلْنَا
Mā qālū bihī qulnā.
Apa yang mereka nyatakan, itulah yang kami nyatakan.
وَمَا دَانُوا بِهِ دِنَّا
Wa mā dānū bihī dinnā.
Dan apa yang mereka jadikan agama, itulah agama kami.
وَمَا أَنْكَرُوا أَنْكَرْنَا
Wa mā ankarū ankarna.
Apa yang mereka ingkari, kami pun mengingkarinya.
وَمَنْ وَالَوْا وَالَيْنَا
Wa man wālaw wālainā.
Siapa yang mereka cintai dan bela, kami pun mencintai dan membelanya.
وَمَنْ عَادَوْا عَادَيْنَا
Wa man ‘ādaw ‘ādainā.
Siapa yang mereka musuhi, kami pun memusuhinya.
وَمَنْ لَعَنُوا لَعَنَّا
Wa man la‘anū la‘annā.
Siapa yang mereka laknat, kami pun melaknatnya.
وَمَنْ تَبَرَّءُوا مِنْهُ تَبَرَّأْنَا مِنْهُ
Wa man tabarra’ū minhu tabarra’nā minhu.
Siapa yang mereka berlepas diri darinya, kami pun berlepas diri darinya.
وَمَنْ تَرَحَّمُوا عَلَيْهِ تَرَحَّمْنَا عَلَيْهِ
Wa man taraḥḥamū ‘alaihi taraḥḥamnā ‘alaih.
Siapa yang mereka doakan dengan rahmat, kami pun mendoakannya dengan rahmat.
آمَنَّا وَسَلَّمْنَا
Āmannā wa sallamnā.
Kami beriman dan berserah diri.
وَرَضِينَا وَاتَّبَعْنَا مَوَالِيَنَا
Wa raḍīnā wattaba‘nā mawāliyanā.
Kami ridha dan mengikuti para pemimpin kami.
صَلَوَاتُ اللّٰهِ عَلَيْهِمْ
Ṣalawātu Allāhi ‘alaihim.
Semoga shalawat Allah tercurah kepada mereka.
اللّٰهُمَّ فَتَمِّمْ لَنَا ذٰلِكَ وَلَا تَسْلُبْنَاهُ
Allāhumma fatammim lanā dzālika wa lā taslubnāhu.
Ya Allah, sempurnakanlah semua itu bagi kami dan jangan Engkau cabut dari kami.
وَاجْعَلْهُ مُسْتَقِرًّا ثَابِتًا عِنْدَنَا
Waj‘alhu mustaqirran ṯābitan ‘indanā.
Jadikanlah ia menetap dan kokoh dalam diri kami.
وَلَا تَجْعَلْهُ مُسْتَعَارًا
Wa lā taj‘alhu musta‘ārā.
Dan jangan Engkau jadikan ia hanya sebagai titipan sementara.
وَأَحْيِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا عَلَيْهِ
Wa aḥyinā mā aḥyaitanā ‘alaih.
Hidupkanlah kami selama Engkau menghidupkan kami di atas keyakinan itu.
وَأَمِتْنَا إِذَا أَمَتَّنَا عَلَيْهِ
Wa amitnā idzā amattanā ‘alaih.
Dan wafatkanlah kami ketika Engkau mewafatkan kami dalam keadaan memegangnya.
آلُ مُحَمَّدٍ أَئِمَّتُنَا
Ālu Muḥammadin a’immatunā.
Keluarga Muhammad adalah para imam kami.
فَبِهِمْ نَأْتَمُّ
Fabihim na’tammu.
Maka kepada merekalah kami mengikuti dan berimam.
وَإِيَّاهُمْ نُوَالِي
Wa iyyāhum nuwālī.
Dan kepada merekalah kami menyatakan kecintaan dan loyalitas.
وَعَدُوُّهُمْ عَدُوُّ اللّٰهِ نُعَادِي
Wa ‘aduwwuhum ‘aduwwu Allāhi nu‘ādī.
Dan musuh mereka adalah musuh Allah yang kami musuhi.
فَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Faj‘alnā ma‘ahum fī ad-dunyā wal-ākhirah.
Maka jadikanlah kami bersama mereka di dunia dan di akhirat.
وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
Wa mina al-muqarrabīn.
Dan termasuk golongan yang didekatkan kepada-Mu.
فَإِنَّا بِذٰلِكَ رَاضُونَ
Fa innā bidhālika rāḍūn.
Karena kami ridha dengan semua itu.
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Yā arḥama ar-rāḥimīn.
Wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
Al-ḥamdu lillāh.
Segala puji bagi Allah.
شُكْرًا لِلّٰهِ
Syukran lillāh.
Segala syukur bagi Allah.
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ
Allāhumma innī as’aluka biḥaqqi Muḥammadin nabiyyik.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad, Nabi-Mu.
وَعَلِيٍّ وَلِيِّكَ
Wa ‘Aliyyin waliyyik.
Dan dengan hak Ali, wali-Mu.
وَالشَّأْنِ وَالْقَدْرِ الَّذِي خَصَصْتَهُمَا بِهِ دُونَ خَلْقِكَ
Wasy-sya’ni wal-qadri alladzī khaṣaṣtahumā bihī dūna khalqik.
Dan demi kedudukan serta kemuliaan yang Engkau khususkan bagi keduanya di atas seluruh makhluk-Mu.
أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ
An tuṣalliya ‘alā Muḥammadin wa ‘Aliyyin.
Agar Engkau melimpahkan rahmat dan shalawat kepada Muhammad dan Ali.
وَأَنْ تَبْدَأَ بِهِمَا فِي كُلِّ خَيْرٍ عَاجِلٍ
Wa an tabda’a bihimā fī kulli khairin ‘ājil.
Dan agar Engkau menjadikan keduanya sebagai permulaan bagi setiap kebaikan yang segera Engkau karuniakan.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
الْأَئِمَّةِ الْقَادَةِ
Al-a’immati al-qādah.
Para imam yang memimpin.
وَالدُّعَاةِ السَّادَةِ
Wad-du‘āti as-sādah.
Para penyeru yang mulia.
وَالنُّجُومِ الزَّاهِرَةِ
Wan-nujūmi az-zāhirah.
Bintang-bintang yang bercahaya.
وَالْأَعْلَامِ الْبَاهِرَةِ
Wal-a‘lāmi al-bāhirah.
Panji-panji petunjuk yang gemilang.
وَسَاسَةِ الْعِبَادِ
Wa sāsati al-‘ibād.
Para pembimbing hamba-hamba Allah.
وَأَرْكَانِ الْبِلَادِ
Wa arkāni al-bilād.
Dan tiang-tiang penopang negeri-negeri.
وَالنَّاقَةِ الْمُرْسَلَةِ
Wan-nāqati al-mursalah.
Dan tanda kekuasaan Allah yang diutus sebagai hujah.
وَالسَّفِينَةِ النَّاجِيَةِ
Was-safīnati an-nājiyah.
Dan bahtera keselamatan.
الْجَارِيَةِ فِي اللُّجَجِ الْغَامِرَةِ
Al-jāriyati fī al-lujaji al-ghāmirah.
Yang berlayar di tengah lautan yang dalam dan bergelora.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
خُزَّانِ عِلْمِكَ
Khuzzāni ‘ilmik.
Mereka adalah para penjaga ilmu-Mu.
وَأَرْكَانِ تَوْحِيدِكَ
Wa arkāni tawḥīdik.
Dan tiang-tiang tauhid-Mu.
وَدَعَائِمِ دِينِكَ
Wa da‘ā’imi dīnik.
Dan penopang agama-Mu.
وَمَعَادِنِ كَرَامَتِكَ
Wa ma‘ādini karāmatik.
Dan tambang-tambang kemuliaan-Mu.
وَصَفْوَتِكَ مِنْ بَرِيَّتِكَ
Wa ṣafwatika min bariyyatik.
Dan pilihan terbaik-Mu dari seluruh makhluk-Mu.
وَخِيَرَتِكَ مِنْ خَلْقِكَ
Wa khiyaratika min khalqik.
Dan insan-insan pilihan dari ciptaan-Mu.
الْأَتْقِيَاءِ الْأَنْقِيَاءِ
Al-atqiyā’i al-anqiyā’.
Yang paling bertakwa dan paling suci.
النُّجَبَاءِ الْأَبْرَارِ
An-nujabā’i al-abrār.
Yang mulia dan saleh.
وَالْبَابِ الْمُبْتَلَى بِهِ النَّاسُ
Wal-bābi al-mubtalā bihin-nās.
Dan pintu ujian bagi manusia.
مَنْ أَتَاهُ نَجَا
Man atāhu najā.
Barangsiapa mendatanginya akan selamat.
وَمَنْ أَبَاهُ هَوَى
Wa man abāhu hawā.
Dan barangsiapa menolaknya akan binasa.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
أَهْلِ الذِّكْرِ الَّذِينَ أَمَرْتَ بِمَسْأَلَتِهِمْ
Ahli adz-dzikri alladzīna amarta bimas’alatihim.
Mereka adalah Ahludz Dzikr yang Engkau perintahkan untuk dijadikan tempat bertanya.
وَذَوِي الْقُرْبَى الَّذِينَ أَمَرْتَ بِمَوَدَّتِهِمْ
Wa dhawī al-qurbā alladzīna amarta bimawaddatihim.
Dan kerabat Nabi yang Engkau perintahkan untuk dicintai.
وَفَرَضْتَ حَقَّهُمْ
Wa faraḍta ḥaqqahum.
Dan Engkau wajibkan hak mereka.
وَجَعَلْتَ الْجَنَّةَ مَعَادَ مَنِ اقْتَصَّ آثَارَهُمْ
Wa ja‘alta al-jannata ma‘āda man iqtaṣṣa āṯārahum.
Dan Engkau jadikan surga sebagai tempat kembali bagi orang yang mengikuti jejak mereka.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
كَمَا أَمَرُوا بِطَاعَتِكَ
Kamā amarū biṭā‘atik.
Sebagaimana mereka memerintahkan ketaatan kepada-Mu.
وَنَهَوْا عَنْ مَعْصِيَتِكَ
Wa nahaw ‘an ma‘ṣiyatik.
Dan melarang dari kemaksiatan kepada-Mu.
وَدَلُّوا عِبَادَكَ عَلَى وَحْدَانِيَّتِكَ
Wa dallū ‘ibādaka ‘alā waḥdāniyyatik.
Dan menunjukkan hamba-hamba-Mu kepada keesaan-Mu.
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ
Allāhumma innī as’aluka biḥaqqi Muḥammad.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad.
نَبِيِّكَ وَنَجِيبِكَ
Nabiyyika wa najībik.
Nabi-Mu dan pilihan-Mu.
وَصَفْوَتِكَ وَأَمِينِكَ
Wa ṣafwatika wa amīnik.
Yang terpilih dan terpercaya di sisi-Mu.
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ
Allāhumma innī as’aluka biḥaqqi Muḥammadin nabiyyik.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad, Nabi-Mu.
وَعَلِيٍّ وَلِيِّكَ
Wa ‘Aliyyin waliyyik.
Dan dengan hak Ali, wali-Mu.
وَالشَّأْنِ وَالْقَدْرِ الَّذِي خَصَصْتَهُمَا بِهِ دُونَ خَلْقِكَ
Wasy-sya’ni wal-qadri alladzī khaṣaṣtahumā bihī dūna khalqik.
Dan demi kedudukan serta kemuliaan yang Engkau khususkan bagi keduanya di atas seluruh makhluk-Mu.
أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ
An tuṣalliya ‘alā Muḥammadin wa ‘Aliyyin.
Agar Engkau melimpahkan rahmat dan shalawat kepada Muhammad dan Ali.
وَأَنْ تَبْدَأَ بِهِمَا فِي كُلِّ خَيْرٍ عَاجِلٍ
Wa an tabda’a bihimā fī kulli khairin ‘ājil.
Dan agar Engkau menjadikan keduanya sebagai permulaan bagi setiap kebaikan yang segera Engkau karuniakan.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
الْأَئِمَّةِ الْقَادَةِ
Al-a’immati al-qādah.
Para imam yang memimpin.
وَالدُّعَاةِ السَّادَةِ
Wad-du‘āti as-sādah.
Para penyeru yang mulia.
وَالنُّجُومِ الزَّاهِرَةِ
Wan-nujūmi az-zāhirah.
Bintang-bintang yang bercahaya.
وَالْأَعْلَامِ الْبَاهِرَةِ
Wal-a‘lāmi al-bāhirah.
Panji-panji petunjuk yang gemilang.
وَسَاسَةِ الْعِبَادِ
Wa sāsati al-‘ibād.
Para pembimbing hamba-hamba Allah.
وَأَرْكَانِ الْبِلَادِ
Wa arkāni al-bilād.
Dan tiang-tiang penopang negeri-negeri.
وَالنَّاقَةِ الْمُرْسَلَةِ
Wan-nāqati al-mursalah.
Dan tanda kekuasaan Allah yang diutus sebagai hujah.
وَالسَّفِينَةِ النَّاجِيَةِ
Was-safīnati an-nājiyah.
Dan bahtera keselamatan.
الْجَارِيَةِ فِي اللُّجَجِ الْغَامِرَةِ
Al-jāriyati fī al-lujaji al-ghāmirah.
Yang berlayar di tengah lautan yang dalam dan bergelora.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
خُزَّانِ عِلْمِكَ
Khuzzāni ‘ilmik.
Mereka adalah para penjaga ilmu-Mu.
وَأَرْكَانِ تَوْحِيدِكَ
Wa arkāni tawḥīdik.
Dan tiang-tiang tauhid-Mu.
وَدَعَائِمِ دِينِكَ
Wa da‘ā’imi dīnik.
Dan penopang agama-Mu.
وَمَعَادِنِ كَرَامَتِكَ
Wa ma‘ādini karāmatik.
Dan tambang-tambang kemuliaan-Mu.
وَصَفْوَتِكَ مِنْ بَرِيَّتِكَ
Wa ṣafwatika min bariyyatik.
Dan pilihan terbaik-Mu dari seluruh makhluk-Mu.
وَخِيَرَتِكَ مِنْ خَلْقِكَ
Wa khiyaratika min khalqik.
Dan insan-insan pilihan dari ciptaan-Mu.
الْأَتْقِيَاءِ الْأَنْقِيَاءِ
Al-atqiyā’i al-anqiyā’.
Yang paling bertakwa dan paling suci.
النُّجَبَاءِ الْأَبْرَارِ
An-nujabā’i al-abrār.
Yang mulia dan saleh.
وَالْبَابِ الْمُبْتَلَى بِهِ النَّاسُ
Wal-bābi al-mubtalā bihin-nās.
Dan pintu ujian bagi manusia.
مَنْ أَتَاهُ نَجَا
Man atāhu najā.
Barangsiapa mendatanginya akan selamat.
وَمَنْ أَبَاهُ هَوَى
Wa man abāhu hawā.
Dan barangsiapa menolaknya akan binasa.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
أَهْلِ الذِّكْرِ الَّذِينَ أَمَرْتَ بِمَسْأَلَتِهِمْ
Ahli adz-dzikri alladzīna amarta bimas’alatihim.
Mereka adalah Ahludz Dzikr yang Engkau perintahkan untuk dijadikan tempat bertanya.
وَذَوِي الْقُرْبَى الَّذِينَ أَمَرْتَ بِمَوَدَّتِهِمْ
Wa dhawī al-qurbā alladzīna amarta bimawaddatihim.
Dan kerabat Nabi yang Engkau perintahkan untuk dicintai.
وَفَرَضْتَ حَقَّهُمْ
Wa faraḍta ḥaqqahum.
Dan Engkau wajibkan hak mereka.
وَجَعَلْتَ الْجَنَّةَ مَعَادَ مَنِ اقْتَصَّ آثَارَهُمْ
Wa ja‘alta al-jannata ma‘āda man iqtaṣṣa āṯārahum.
Dan Engkau jadikan surga sebagai tempat kembali bagi orang yang mengikuti jejak mereka.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
كَمَا أَمَرُوا بِطَاعَتِكَ
Kamā amarū biṭā‘atik.
Sebagaimana mereka memerintahkan ketaatan kepada-Mu.
وَنَهَوْا عَنْ مَعْصِيَتِكَ
Wa nahaw ‘an ma‘ṣiyatik.
Dan melarang dari kemaksiatan kepada-Mu.
وَدَلُّوا عِبَادَكَ عَلَى وَحْدَانِيَّتِكَ
Wa dallū ‘ibādaka ‘alā waḥdāniyyatik.
Dan menunjukkan hamba-hamba-Mu kepada keesaan-Mu.
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ
Allāhumma innī as’aluka biḥaqqi Muḥammad.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad.
نَبِيِّكَ وَنَجِيبِكَ
Nabiyyika wa najībik.
Nabi-Mu dan pilihan-Mu.
وَصَفْوَتِكَ وَأَمِينِكَ
Wa ṣafwatika wa amīnik.
Yang terpilih dan terpercaya di sisi-Mu.
مَا بَقِيَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ
Mā baqiya al-lailu wan-nahār.
Selama malam dan siang masih silih berganti.
وَبِكُمَا أَتَوَجَّهُ إِلَى اللّٰهِ رَبِّي وَرَبِّكُمَا
Wa bikumā atawajjahu ilā Allāhi rabbī wa rabbikumā.
Dan dengan perantaraan kalian berdua aku menghadap kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian berdua.
فِي نَجَاحِ طَلِبَتِي
Fī najāḥi ṭalibatī.
Untuk keberhasilan permohonanku.
وَقَضَاءِ حَوَائِجِي
Wa qaḍā’i ḥawā’ijī.
Dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhanku.
وَتَيْسِيرِ أُمُورِي
Wa taisīri umūrī.
Dan kemudahan segala urusanku.
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma innī as’aluka biḥaqqi Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad.
أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
An tuṣalliya ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Agar Engkau melimpahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
وَأَنْ تَلْعَنَ مَنْ جَحَدَ حَقَّ هٰذَا الْيَوْمِ
Wa an tal‘ana man jaḥada ḥaqqa hādhā al-yaum.
Dan agar Engkau menjauhkan dari rahmat-Mu orang yang mengingkari hak hari ini.
وَأَنْكَرَ حُرْمَتَهُ
Wa ankara ḥurmatah.
Dan yang mengingkari kehormatannya.
فَصَدَّ عَنْ سَبِيلِكَ لِإِطْفَاءِ نُورِكَ
Faṣadda ‘an sabīlika li-iṭfā’i nūrik.
Lalu menghalangi manusia dari jalan-Mu demi memadamkan cahaya-Mu.
فَأَبَى اللّٰهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ
Fa abā Allāhu illā an yutimmā nūrah.
Tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.
اللّٰهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أَهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ
Allāhumma farrij ‘an ahl bayti Muḥammadin nabiyyik.
Ya Allah, lapangkanlah dan hilangkan kesulitan dari keluarga Muhammad, Nabi-Mu.
وَاكْشِفْ عَنْهُمْ وَبِهِمْ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ الْكُرُبَاتِ
Wakshif ‘anhum wa bihim ‘ani al-mu’minīna al-kurubāt.
Dan angkatlah kesusahan dari mereka, serta melalui mereka angkatlah kesusahan kaum mukminin.
اللّٰهُمَّ امْلَأِ الْأَرْضَ بِهِمْ عَدْلًا
Allāhumma imla’i al-arḍa bihim ‘adlā.
Ya Allah, penuhilah bumi melalui mereka dengan keadilan.
كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا
Kamā muli’at ẓulman wa jaurā.
Sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan.
وَأَنْجِزْ لَهُمْ مَا وَعَدْتَهُمْ
Wa anjiz lahum mā wa‘adtahum.
Dan penuhilah bagi mereka apa yang telah Engkau janjikan.
إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Innaka lā tukhlifu al-mī‘ād.
Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَنَا مِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ
Al-ḥamdu lillāhi alladhī ja‘alanā mina al-mutamassikīn.
Segala puji bagi Allah yang menjadikan kami termasuk orang-orang yang berpegang teguh.
بِوِلَايَةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْأَئِمَّةِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
Biwilāyati Amīri al-Mu’minīna wal-a’immati ‘alaihim as-salām.
Pada wilayah (kepemimpinan spiritual) Amirul Mukminin dan para Imam, salam atas mereka.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَكْرَمَنَا بِهٰذَا الْيَوْمِ
Al-ḥamdu lillāhi alladhī akramanā bihādhā al-yaum.
Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kami dengan hari ini.
وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُوفِينَ بِعَهْدِهِ إِلَيْنَا
Wa ja‘alanā mina al-mūfīna bi‘ahdihī ilainā.
Dan menjadikan kami termasuk orang-orang yang setia pada perjanjian-Nya kepada kami.
وَمِيثَاقِهِ الَّذِي وَاثَقَنَا بِهِ
Wa mīthāqihī alladhī wāthaqanā bih.
Dan pada ikatan janji yang telah Dia teguhkan atas kami.
مِنْ وِلَايَةِ وُلَاةِ أَمْرِهِ
Min wilāyati wulāti amrih.
Yaitu wilayah para pemegang urusan yang ditetapkan-Nya.
وَالْقُوَّامِ بِقِسْطِهِ
Wal-quwwāmi biqisṭih.
Dan para penegak keadilan-Nya.
وَلَمْ يَجْعَلْنَا مِنَ الْجَاحِدِينَ
Wa lam yaj‘alnā mina al-jāḥidīn.
Dan Dia tidak menjadikan kami termasuk orang-orang yang mengingkari.
وَالْمُكَذِّبِينَ بِيَوْمِ الدِّينِ
Wal-mukadzdzibīna biyaumi ad-dīn.
Dan orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ كَمَالَ دِينِهِ
Al-ḥamdu lillāhi alladhī ja‘ala kamāla dīnih.
Segala puji bagi Allah yang menjadikan kesempurnaan agama-Nya.
وَتَمَامَ نِعْمَتِهِ
Wa tamāma ni‘matih.
Dan sempurnanya nikmat-Nya.
بِوِلَايَةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
Biwilāyati Amīri al-Mu’minīn.
Dengan wilayah Amirul Mukminin.
عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ
‘Aliyyi bni Abī Ṭālibin ‘alaihi as-salām.
Yaitu Ali bin Abi Thalib, salam atasnya.
IKRAR PERSAUDARAAN (UKHUWWAH) PADA HARI GHADIR
Singkatnya, keutamaan Hari Idul Ghadir sangatlah besar sehingga tidak mungkin dijelaskan seluruhnya. Pada hari itu, amal-amal kaum Syiah diterima dan berbagai kesulitan mereka diringankan.
Disebutkan pula bahwa pada hari itu Nabi Moses mengalahkan para penyihir, api yang menjadi tempat dilemparkannya Nabi Abraham dijadikan oleh Allah sebagai kesejukan dan keselamatan, Nabi Musa menunjuk Joshua sebagai penerusnya, Nabi Solomon mengumumkan kepada kaumnya bahwa Asif ibn Barkhiya akan menjadi penerusnya, dan Nabi Muhammad mempersaudarakan para sahabatnya. Oleh sebab itu, kaum mukmin dianjurkan untuk menjalin ikatan persaudaraan pada hari ini.
Sebagaimana dinukil oleh Shaykh al-Nuri dalam kitab Mustadrak al-Wasa’il dari kitab Zad al-Firdaws, ikrar persaudaraan dilakukan dengan meletakkan tangan kanan pada tangan kanan saudara seiman, lalu mengucapkan:
وَآخَيْتُكَ فِي اللّٰهِ
Wa ākhaituka fī Allāh.
Aku menjalin persaudaraan denganmu karena Allah.
وَصَافَيْتُكَ فِي اللّٰهِ
Wa ṣāfaituka fī Allāh.
Aku memurnikan persahabatanku denganmu karena Allah.
وَصَافَحْتُكَ فِي اللّٰهِ
Wa ṣāfaḥtuka fī Allāh.
Aku berjabat tangan denganmu karena Allah.
وَعَاهَدْتُ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ
Wa ‘āhadtu Allāha wa malā’ikatah.
Aku berjanji kepada Allah dan para malaikat-Nya.
وَكُتُبَهُ وَرُسُلَهُ
Wa kutubahū wa rusulah.
Serta kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya.
وَأَنْبِيَاءَهُ وَالْأَئِمَّةَ الْمَعْصُومِينَ
Wa anbiyā’ahū wal-a’immata al-ma‘ṣūmīn.
Dan para nabi-Nya serta para Imam yang maksum.
عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
‘Alaihim as-salām.
Salam sejahtera atas mereka.
عَلَى أَنِّي إِنْ كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَالشَّفَاعَةِ
‘Alā annī in kuntu min ahli al-jannati wasy-syafā‘ah.
Bahwa apabila aku termasuk penghuni surga dan memperoleh hak syafaat.
وَأُذِنَ لِي بِأَنْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ
Wa udzina lī bi-an adkhula al-jannah.
Dan diizinkan untuk memasuki surga.
لَا أَدْخُلُهَا إِلَّا وَأَنْتَ مَعِي
Lā adkhuluhā illā wa anta ma‘ī.
Maka aku tidak akan memasukinya kecuali engkau bersamaku.
Kemudian pihak yang diajak berukhuwah menjawab:
قَبِلْتُ
Qabiltu.
Aku menerimanya.
Selanjutnya pihak pertama mengucapkan:
اَسْقَطْتُ عَنْكَ جَمِيعَ حُقُوقِ الْأُخُوَّةِ
Asqaṭtu ‘anka jamī‘a ḥuqūqi al-ukhuwwah.
Aku menggugurkan seluruh hak-hak persaudaraan yang menjadi kewajibanmu terhadapku.
مَا خَلَا الشَّفَاعَةَ وَالدُّعَاءَ وَالزِّيَارَةَ
Mā khalā asy-syafā‘ata wad-du‘ā’a waz-ziyārah.
Kecuali hak syafaat, doa, dan ziarah.
Disebutkan oleh Al-Fayd al-Kashani dalam kitab Khulasat al-Adhkar bahwa bentuk ikrar yang serupa juga diriwayatkan. Beliau menambahkan bahwa pihak kedua atau wakilnya dapat menerima ikrar tersebut dengan ungkapan apa saja yang menunjukkan persetujuan. Setelah itu, masing-masing pihak membebaskan pihak lainnya dari hak-hak persaudaraan, kecuali kewajiban mendoakan dan berziarah kepada para Imam yang maksum.
ZIARAH LAIN PADA HARI GHADIR
Terdapat satu bentuk ziarah lain yang disebutkan oleh Sayyid Ibn Tawus dalam kitab Al-Iqbal. Beliau meriwayatkan bahwa Ja’far al-Sadiq bersabda:
“Apabila engkau berada di sisi makam suci Ali ibn Abi Talib pada Hari Ghadir, maka mendekatlah ke makam beliau dan bacalah doa ziarah berikut. Jika engkau berada jauh dari makam beliau, maka menghadaplah kepada beliau setelah shalat dan bacalah doa ini.”
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى وَلِيِّكَ
Allāhumma ṣalli ‘alā waliyyik.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada wali-Mu.
وَأَخِي نَبِيِّكَ
Wa akhī nabiyyik.
Dan saudara Nabi-Mu.
وَوَزِيرِهِ
Wa wazīrih.
Dan wazir (pembantu utama)-nya.
وَحَبِيبِهِ
Wa ḥabībih.
Dan kekasihnya.
وَخَلِيلِهِ
Wa khalīlih.
Dan sahabat dekatnya.
وَمَوْضِعِ سِرِّهِ
Wa mawḍi‘i sirrih.
Dan tempat tersimpannya rahasianya.
وَخِيَرَتِهِ مِنْ أُسْرَتِهِ
Wa khiyaratih min usratih.
Dan pilihan terbaik dari keluarganya.
وَوَصِيِّهِ
Wa waṣiyyih.
Dan wasi (penerus)-nya.
وَصَفْوَتِهِ
Wa ṣafwatih.
Dan hamba pilihan-Nya.
وَخَالِصَتِهِ
Wa khāliṣatih.
Dan orang yang dikhususkan bagi-Nya.
وَأَمِينِهِ
Wa amīnih.
Dan orang kepercayaan-Nya.
وَوَلِيِّهِ
Wa waliyyih.
Dan wali-Nya.
وَأَشْرَفِ عِتْرَتِهِ الَّذِينَ آمَنُوا بِهِ
Wa asyrafi ‘itratihi alladhīna āmanū bih.
Dan yang paling mulia dari keluarganya yang beriman kepadanya.
وَأَبِي ذُرِّيَّتِهِ
Wa abī dhurriyyatih.
Dan ayah bagi keturunannya.
وَبَابِ حِكْمَتِهِ
Wa bābi ḥikmatih.
Dan pintu hikmah-Nya.
وَالنَّاطِقِ بِحُجَّتِهِ
Wan-nāṭiqi biḥujjatih.
Dan yang menyampaikan hujah-Nya.
وَالدَّاعِي إِلَى شَرِيعَتِهِ
Wad-dā‘ī ilā syarī‘atih.
Dan yang mengajak kepada syariat-Nya.
وَالْمَاضِي عَلَى سُنَّتِهِ
Wal-māḍī ‘alā sunnatih.
Dan yang berjalan teguh di atas sunnahnya.
وَخَلِيفَتِهِ عَلَى أُمَّتِهِ
Wa khalīfatih ‘alā ummatih.
Dan khalifahnya atas umatnya.
سَيِّدِ الْمُسْلِمِينَ
Sayyidi al-muslimīn.
Pemimpin kaum muslimin.
وَأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
Wa Amīri al-Mu’minīn.
Dan Amirul Mukminin.
وَقَائِدِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِينَ
Wa qā’idi al-ghurri al-muḥajjalīn.
Dan pemimpin orang-orang yang bercahaya.
أَفْضَلَ مَا صَلَّيْتَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ
Afḍala mā ṣallaita ‘alā aḥadin min khalqik.
Dengan shalawat terbaik yang pernah Engkau limpahkan kepada salah seorang makhluk-Mu.
وَأَصْفِيَائِكَ
Wa aṣfiyā’ik.
Dan hamba-hamba pilihan-Mu.
وَأَوْصِيَاءِ أَنْبِيَائِكَ
Wa awṣiyā’i anbiyā’ik.
Dan para wasi nabi-nabi-Mu.
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَشْهَدُ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ عَنْ نَبِيِّكَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ مَا حُمِّلَ
Allāhumma innī asyhadu annahū qad ballagha ‘an nabiyyika ṣallallāhu ‘alaihi wa ālih mā ḥummil.
Ya Allah, aku bersaksi bahwa beliau telah menyampaikan dari Nabi-Mu apa yang dibebankan kepadanya.
وَرَعَى مَا اسْتُحْفِظَ
Wa ra‘ā mā stuḥfiẓ.
Dan menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.
وَحَفِظَ مَا اسْتُوْدِعَ
Wa ḥafiẓa mā stuudi‘.
Dan memelihara apa yang dititipkan kepadanya.
وَحَلَّلَ حَلَالَكَ
Wa ḥallala ḥalālak.
Dan menjelaskan apa yang Engkau halalkan.
وَحَرَّمَ حَرَامَكَ
Wa ḥarrama ḥarāmak.
Dan menjelaskan apa yang Engkau haramkan.
وَأَقَامَ أَحْكَامَكَ
Wa aqāma aḥkāmak.
Dan menegakkan hukum-hukum-Mu.
وَدَعَا إِلَى سَبِيلِكَ
Wa da‘ā ilā sabīlik.
Dan mengajak kepada jalan-Mu.
وَوَالَى أَوْلِيَاءَكَ
Wa wālā awliyā’ak.
Dan mencintai serta membela para wali-Mu.
وَعَادَى أَعْدَاءَكَ
Wa ‘ādā a‘dā’ak.
Dan memusuhi musuh-musuh-Mu.
وَجَاهَدَ النَّاكِثِينَ عَنْ سَبِيلِكَ
Wa jāhada an-nākithīna ‘an sabīlik.
Dan beliau memerangi orang-orang yang melanggar janji terhadap jalan-Mu.
وَالْقَاسِطِينَ
Wal-qāsiṭīn.
Dan orang-orang yang zalim.
وَالْمَارِقِينَ عَنْ أَمْرِكَ
Wal-māriqīna ‘an amrik.
Dan orang-orang yang keluar dari perintah-Mu.
صَابِرًا مُحْتَسِبًا
Ṣābiran muḥtasibā.
Dengan penuh kesabaran dan mengharap pahala dari-Mu.
مُقْبِلًا غَيْرَ مُدْبِرٍ
Muqbilan ghaira mudbir.
Maju menghadapi tugasnya dan tidak pernah mundur.
لَا تَأْخُذُهُ فِي اللّٰهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ
Lā ta’khudhuhū fī Allāhi laumatu lā’im.
Tidak terpengaruh oleh celaan siapa pun dalam membela agama Allah.
حَتَّى بَلَغَ فِي ذٰلِكَ الرِّضَا
Ḥattā balagha fī dhālika ar-riḍā.
Hingga beliau mencapai keridaan-Mu dalam semua itu.
وَسَلَّمَ إِلَيْكَ الْقَضَاءَ
Wa sallama ilaika al-qaḍā’.
Dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada-Mu.
وَعَبَدَكَ مُخْلِصًا
Wa ‘abadaka mukhliṣā.
Dan menyembah-Mu dengan penuh keikhlasan.
وَنَصَحَ لَكَ مُجْتَهِدًا
Wa naṣaḥa laka mujtahidā.
Dan bersungguh-sungguh dalam memberikan pengabdian demi-Mu.
حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِينُ
Ḥattā atāhu al-yaqīn.
Hingga datang kepadanya keyakinan yang pasti (yakni kematian).
فَقَبَضْتَهُ إِلَيْكَ شَهِيدًا
Faqabaḍtahū ilaika syahīdā.
Lalu Engkau memanggilnya kembali kepada-Mu sebagai seorang syahid.
سَعِيدًا
Sa‘īdā.
Dalam keadaan berbahagia.
وَلِيًّا
Waliyyā.
Sebagai wali-Mu.
تَقِيًّا
Taqiyyā.
Yang bertakwa.
رَضِيًّا
Raḍiyyā.
Yang diridhai.
زَكِيًّا
Zakiyyā.
Yang suci.
هَادِيًا
Hādiyā.
Yang memberi petunjuk.
مَهْدِيًّا
Mahdiyyā.
Dan yang mendapat petunjuk.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alaih.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepadanya (Ali).
أَفْضَلَ مَا صَلَّيْتَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَنْبِيَائِكَ
Afḍala mā ṣallaita ‘alā aḥadin min anbiyā’ik.
Dengan shalawat terbaik yang pernah Engkau limpahkan kepada salah seorang nabi-Mu.
وَأَصْفِيَائِكَ
Wa aṣfiyā’ik.
Dan hamba-hamba pilihan-Mu.
يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Yā Rabba al-‘ālamīn.
Wahai Tuhan seluruh alam.
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment