Doa Siang Hari Kesembilan Belas Romadhon, Sumber, Makrifat dan Kisahnya
Diriwayatkan dari Ibnu Abas ra dari Nabi saw: “Yang berdoa dengan doa ini maka para malaikat langit dan bumi akan memohonkan ampunan baginya”.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَ آلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
اَللّـهُمَّ وَفِّرْ فيهِ حَظّي مِنْ بَرَكاتِهِ،
وَسَهِّلْ سَبيلياِلى خَيْراتِهِ،
وَلا تَحْرِمْني قَبُولَ حَسَناتِهِ،
يا هادِياًاِلَى الْحَقِّ الْمُبينِ .
Allâhumma waffir fîhi hazh-zhî min barokâtihi, wa sahhil sabîlî ilâ khoirôtihi, walâ tahrimnî qubûla hasanâtihi, yâ hâdiyan ilal haqqil mubîni.
Ya Allah, berikanlah padaku di dalamnya bagian yang banyak dari keberkahan bulan ini. Mudahkanlah bagiku dalam menempuh jalan kesalehan. Janganlah Kau halangi daku dari mendapatkan kebaikan-kebaikannya. Wahai pemberi petunjuk ke jalan yang benar dan lurus.
1. Sumber Riwayat Doa
Doa Siang Hari Kesembilan Belas Ramadhan termasuk rangkaian Doa Harian Bulan Ramadhan (Du‘ā’ Ayyām Shahri Ramaḍān) yang banyak diriwayatkan dalam literatur doa klasik. Riwayatnya sering dinisbahkan kepada Ibnu Abbas ra dari Nabi Muhammad ﷺ.
Beberapa kitab yang memuat rangkaian doa harian Ramadhan ini antara lain:
1. 📚 Iqbal al-A‘mal karya Sayyid Ibn Tawus
• Salah satu kitab utama tentang amalan-amalan bulan Ramadhan, termasuk doa untuk setiap hari.
2. 📚 Misbah al-Mutahajjid karya Shaykh al-Tusi
• Kitab penting mengenai doa dan ibadah harian serta amalan bulan-bulan hijriah.
3. 📚 Balad al-Amin karya Shaykh al-Kafami
• Mengumpulkan berbagai doa dan wirid dari Ahlul Bait.
4. 📚 Mafatih al-Jinan karya Abbas Qumi
• Kitab doa yang sangat populer di dunia Islam, khususnya dalam tradisi Ahlul Bait.
Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa doa ini dibaca pada hari ke-19 Ramadhan, hari yang juga sangat penting karena bertepatan dengan malam permulaan peristiwa penyerangan terhadap Imam Ali ibn Abi Talib as pada malam 19 Ramadhan tahun 40 H. Karena itu, secara spiritual doa ini sering dipahami sebagai persiapan ruhani menuju Laylatul Qadr.
2. Makrifat (Rahasia Spiritual) Doa
اللّٰهُمَّ وَفِّرْ فيهِ حَظّي مِنْ بَرَكاتِهِ
Makrifatnya
Permintaan ini bukan sekadar meminta berkah, tetapi meminta “porsi takdir keberkahan”.
Dalam makrifat Ramadhan:
• Barakah = limpahan cahaya dari Allah yang membuat amal kecil menjadi besar.
• Pada malam-malam Qadr, keberkahan itu turun bersama malaikat. Al-Qur’an menyebut:
“Tatanazzalul malaa’ikatu war-ruuhu fiihaa…” Malaikat turun membawa seluruh urusan.
Di tingkat makrifat: Barakah Ramadhan = cahaya yang membuka hati menerima takdir Ilahi.
وَسَهِّلْ سَبيلياِلى خَيْراتِهِ
Makrifatnya
Ini adalah permohonan taufiq.
Dalam hikmah para arif:
Manusia tidak sulit melakukan kebaikan karena amal itu berat,
tetapi karena jalan menuju amal tertutup oleh nafsu.
Maka doa ini meminta:
1. Dibukanya jalan amal
2. Dipermudahnya hati
3. Dihilangkannya penghalang batin
Dalam makrifat:
Jalan kebaikan sebenarnya selalu terbuka, tetapi hati manusia sering tertutup.
وَلا تَحْرِمْني قَبُولَ حَسَناتِهِ
Makrifatnya
Ini adalah inti doa.
Para ulama hakikat mengatakan:
Amal tidak penting sebesar apa, tetapi apakah diterima atau tidak.
Al-Qur’an:”Innamā yataqabbalullāhu minal muttaqīn” Allah hanya menerima dari orang yang bertakwa.
Makrifatnya:
• Amal = tubuh
• Ikhlas = ruh
Jika ruh tidak ada, amal tidak naik ke langit. Karena itu doa ini memohon:
agar amal Ramadhan diangkat oleh malaikat dan diterima Allah.
يا هادِياً إلى الحق المبين
Makrifatnya
Nama Allah di akhir doa ini sangat dalam. Al-Hādī = Yang memberi petunjuk. Dalam makrifat Ahlul Bait:
Petunjuk Allah turun melalui cahaya para Imam. Al-Qur’an berkata:
“Innama anta mundzir wa likulli qawmin hād.” Setiap kaum memiliki pemberi petunjuk. Para mufasir Ahlul Bait menafsirkan hād itu sebagai: Imam Ali bin Abi Tholib as
Karena itu doa ini secara batin juga berarti: meminta agar hati dituntun menuju cahaya kebenaran.
3. Rahasia Kosmik Hari ke-19 Ramadhan
Hari ini memiliki kedalaman spiritual karena:
1️⃣ Malam pertama dari tiga malam Qadr utama
(19, 21, 23 Ramadhan)
2️⃣ Malam ketika pedang Ibnu Muljam melukai Imam Ali ibn Abi Talib as
3️⃣ Dalam riwayat irfan:
Langit menangis karena cahaya ilmu hampir terangkat dari bumi.
Karena itu doa hari ke-19 fokus pada tiga hal:
• Barakah
• Taufiq
• Qabul amal
Ini adalah persiapan hati sebelum keputusan takdir pada Laylatul Qadr.
4. Makrifat Tersembunyi Doa Ini
Para arif menyebut doa ini memiliki 4 maqam ruhani:
1️⃣ Barakah
turunnya cahaya rahmat
2️⃣ Taufiq
dibukanya jalan amal
3️⃣ Qabul amal
amal diangkat ke langit
4️⃣ Hidayah hakiki
sampai kepada kebenaran yang nyata
Urutannya sangat dalam:
Rahmat → Amal → Penerimaan → Hidayah.
✅ Kesimpulan Makrifat
Doa ini sebenarnya adalah doa untuk:
• membuka pintu keberkahan Ramadhan
• mempermudah jalan menuju amal
• memastikan amal diterima
• mendapatkan hidayah menuju kebenaran.
Karena itu dalam riwayat disebut:
malaikat langit dan bumi memohonkan ampun bagi orang yang membacanya,
karena ia telah memohon empat kunci keselamatan ruhani.
Kisah dan Cerita Spiritual Doa Siang Hari ke-19 Ramadhan
Doa ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu malam 19 Ramadhan, malam ketika terjadi tragedi yang menimpa Ali ibn Abi Talib. Karena itu para ulama tasawuf dan irfan sering mengatakan bahwa doa ini bukan hanya doa keberkahan Ramadhan, tetapi juga doa persiapan hati memasuki malam takdir (Laylatul Qadr).
1. Kisah Riwayatnya dari Nabi
Dalam sebagian kitab doa disebutkan bahwa Ibn Abbas meriwayatkan dari Nabi ﷺ:
Ketika para sahabat bertanya tentang amal yang paling baik di hari-hari akhir Ramadhan, Nabi menjelaskan bahwa pada hari-hari itu manusia harus memperbanyak doa yang meminta:
• keberkahan
• kemudahan melakukan kebaikan
• diterimanya amal
Kemudian Nabi mengajarkan doa hari ke-19 ini.
Para sahabat bertanya:
“Ya Rasulullah, mengapa doa ini sangat agung?”
Nabi menjawab bahwa orang yang membaca doa ini akan didoakan oleh malaikat langit dan bumi, karena isi doa tersebut adalah permohonan agar amal manusia diangkat dan diterima di sisi Allah.
2. Kisah Malam 19 Ramadhan
Malam 19 memiliki kisah yang sangat menggetarkan.
Pada malam 19 Ramadhan tahun 40 H, Imam Ali ibn Abi Talib as pergi menuju Masjid Kufah untuk shalat Subuh. Sejak malam sebelumnya beliau sudah merasakan sesuatu yang berbeda.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau berkata:
“Demi Allah, malam ini adalah malam yang dijanjikan kepadaku.”
Putri beliau, Zaynab bint Ali, melihat ayahnya sering keluar memandang langit sambil berkata:
“Ya Allah, berkahilah aku dalam perjumpaan dengan-Mu.”
Ketika memasuki masjid, seorang pembunuh bernama
Abd al-Rahman ibn Muljam telah bersembunyi.
Saat Imam Ali sujud dalam shalat Subuh, pedang beracun mengenai kepala beliau.
Saat terkena tebasan pedang, beliau mengucapkan kalimat yang sangat terkenal: “Fuztu wa rabbil Ka‘bah.” Demi Tuhan Ka’bah, aku telah menang.
Para ulama irfan mengatakan kalimat ini menunjukkan bahwa bagi seorang wali Allah, kematian adalah perjumpaan dengan kekasihnya.
3. Kisah Malaikat di Malam Itu
Dalam beberapa riwayat hikmah disebutkan bahwa pada malam itu langit sangat berduka.
Disebutkan bahwa malaikat Jibril menyeru di langit:
“Telah runtuh pilar petunjuk.
Putra paman Rasulullah telah syahid.” Riwayat ini sering dinisbahkan dalam kitab-kitab sejarah dan hikmah seperti karya ulama yang menulis tentang kehidupan Imam Ali ibn Abi Talib. as
Para arif menafsirkan bahwa sebabnya adalah:
Imam Ali adalah pintu ilmu Nabi.
Nabi pernah bersabda:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.”
Karena itu ketika beliau terluka pada malam 19 Ramadhan, alam spiritual ikut bergetar.
4. Hubungan Kisah Ini dengan Doa Hari ke-19
Isi doa hari ke-19 sangat selaras dengan peristiwa ini.
1️⃣ Meminta keberkahan Ramadhan
Karena malam 19 adalah awal malam-malam penentuan takdir.
2️⃣ Meminta dimudahkan menuju kebaikan
Karena jalan kebenaran sering berat tanpa bimbingan para wali.
3️⃣ Meminta amal diterima
Karena amal manusia pada malam Qadr diangkat kepada Allah.
4️⃣ Memohon hidayah kepada kebenaran yang nyata
Dalam tafsir irfani, “al-Haqq al-Mubin” sering dihubungkan dengan cahaya petunjuk para Imam Ahlul Bait.
5. Kisah Hikmah Para Arif
Sebagian ulama hikmah menceritakan kisah berikut:
Seorang murid bertanya kepada gurunya: “Mengapa pada doa hari ke-19 kita meminta agar amal diterima?” Gurunya menjawab: “Karena pada malam ini malaikat mulai membawa catatan amal manusia menuju malam Qadr.”
Murid itu bertanya lagi:
“Apa yang membuat amal diterima?”
Gurunya berkata:”Tiga hal:
hati yang bersih, niat yang ikhlas, dan mengikuti jalan para wali Allah.”
Kemudian sang guru berkata:
“Lihatlah Imam Ali. seluruh hidupnya adalah amal yang diterima.”
6. Hikmah dari Kisah Ini
Kisah malam 19 Ramadhan mengajarkan tiga pelajaran besar:
1️⃣ Kebenaran sering diuji dengan pengorbanan.
2️⃣ Orang yang dekat dengan Allah tidak takut kematian.
3️⃣ Amal yang ikhlas lebih berharga daripada kehidupan panjang tanpa makna.
✅ Kesimpulan
Doa hari ke-19 Ramadhan adalah doa yang sangat dalam karena:
• bertepatan dengan malam awal Laylatul Qadr
• bertepatan dengan tragedi besar pada diri Imam Ali
• berisi permohonan agar amal manusia diterima dan diberkahi
Karena itu para ulama mengatakan:
Siapa yang membaca doa ini dengan hati yang hadir, malaikat langit dan bumi akan memohonkan ampun baginya.
Dialog Malaikat pada Malam 19 Ramadhan
Peristiwa malam 19 Ramadhan tahun 40 H tidak hanya mengguncang manusia di bumi, tetapi juga disebut dalam banyak riwayat hikmah mengguncang alam malaikat. Malam itu adalah saat Imam Ali ibn Abi Talib as terluka oleh tebasan pedang beracun di Masjid Kufah. Para ulama sejarah seperti yang meriwayatkan kisah kehidupan Imam Ali menjelaskan bahwa ketika peristiwa itu terjadi, malaikat di langit saling berbicara dan menangis karena mereka mengenal kedudukan spiritual beliau sejak awal penciptaan.
1. Seruan Malaikat Jibril
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ketika Imam Ali dipukul, terdengar seruan dari langit oleh Malaikat Jibril: as
تَهَدَّمَتْ وَاللّٰهِ أَرْكَانُ الْهُدَى
وَانْطَمَسَتْ أَعْلَامُ التُّقَى
وَانْفَصَمَتِ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى
قُتِلَ ابْنُ عَمِّ الْمُصْطَفَى
قُتِلَ الْوَصِيُّ الْمُجْتَبَى
قُتِلَ عَلِيٌّ الْمُرْتَضَى
Tahaddamat wallāhi arkānul hudā,
wanṭamasat a‘lāmuttuqā,
wanfaṣamatil ‘urwatul wuthqā,
qutila ibnu ‘ammil Muṣṭafā,
qutilal waṣiyyul mujtabā,
qutila ‘Aliyyul Murtaḍā.
“Demi Allah, telah runtuh pilar-pilar petunjuk.
Tanda-tanda ketakwaan telah padam.
Tali yang paling kokoh telah terputus.
Telah dibunuh putra paman Al-Musthafa (Nabi).
Telah dibunuh washi (penerus) yang terpilih.
Telah dibunuh Ali Al-Murtadha.”
Keterangan Riwayat
Seruan ini disebutkan dalam banyak kitab sejarah dan manaqib tentang peristiwa syahidnya Imam Ali ibn Abi Talib, as di antaranya dalam karya ulama seperti:
• 📚 Bihar al-Anwar karya Muhammad Baqir al-Majlisi
• 📚 Manaqib Aal Abi Talib karya Ibn Shahr Ashub
• beberapa kitab sejarah tragedi Kufah.
Riwayat tersebut menggambarkan bahwa setelah tebasan pedang mengenai kepala Imam Ali di Masjid Kufah, terdengar seruan dari langit yang mengabarkan kepada alam bahwa pemimpin para muttaqin telah terluka.
Makna Makrifat Kalimat Jibril
Para ulama irfan memberi makna mendalam pada setiap kalimat:
Seruan malaikat Jibril ketika Imam Ali ibn Abi Talib as terluka pada malam 19 Ramadhan terdiri dari 6 kalimat. Para ulama irfan dan makrifat melihat susunan ini bukan kebetulan, tetapi memiliki tahapan makna spiritual tentang runtuhnya cahaya petunjuk di bumi.
Berikut makrifat tiap kalimatnya.
1. تَهَدَّمَتْ وَاللّٰهِ أَرْكَانُ الْهُدَى
“Demi Allah, telah runtuh pilar-pilar petunjuk.”
Makrifat
Petunjuk memiliki pilar-pilar yang menegakkan agama di bumi.
Para ulama menjelaskan pilar itu adalah:
1. ilmu
2. keadilan
3. keberanian
4. ibadah
Semua sifat ini terkumpul pada diri Imam Ali ibn Abi Talib, as sehingga ketika beliau terluka seolah salah satu tiang petunjuk runtuh.
Dalam makrifat, ini menunjukkan bahwa para wali Allah adalah penyangga spiritual dunia.
2. وَانْطَمَسَتْ أَعْلَامُ التُّقَى
“Telah padam tanda-tanda ketakwaan.”
Makrifat
Kata a‘lam berarti bendera atau tanda yang terlihat dari jauh.
Orang saleh besar adalah tanda jalan menuju Allah bagi manusia.
Ketika Imam Ali terluka, malaikat berkata seolah lampu penunjuk jalan bagi manusia mulai redup.
Makrifatnya:
Manusia sering tidak sadar bahwa kehadiran orang saleh menjaga keseimbangan dunia.
3. وَانْفَصَمَتِ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى
“Tali yang paling kokoh telah terputus.”
Makrifat
Al-Qur’an menyebut:
“Barang siapa berpegang pada al-‘urwatul wuthqa tidak akan putus.”
Dalam tafsir irfani, tali kokoh itu adalah hubungan antara langit dan bumi melalui para wali Allah.
Ketika Imam Ali diserang, malaikat menggambarkannya seperti tali yang hampir terputus antara bumi dan cahaya petunjuk.
4. قُتِلَ ابْنُ عَمِّ الْمُصْطَفَى
“Telah dibunuh putra paman Al-Musthafa.”
Makrifat
Kalimat ini menunjukkan kedekatan Imam Ali dengan Nabi Muhammad. Saw. Beliau bukan hanya sepupu Nabi, tetapi:
• orang pertama yang beriman
• pembela Nabi sejak kecil
• sahabat paling dekat
Makrifatnya:
Orang yang paling dekat dengan cahaya kenabian sering menjadi yang paling besar ujiannya.
5. قُتِلَ الْوَصِيُّ الْمُجْتَبَى
“Telah dibunuh washi (penerus) yang terpilih.”
Makrifat
Kata waṣī berarti orang yang menerima amanah spiritual.
Dalam tradisi Ahlul Bait, Imam Ali dianggap sebagai:
• penjaga ilmu Nabi
• pewaris hikmah kenabian
Karena itu malaikat menyebut beliau al-mujtaba (yang dipilih).
Makrifatnya:
Petunjuk Allah di bumi selalu memiliki penjaga yang dipilih.
6. قُتِلَ عَلِيٌّ الْمُرْتَضَى
“Telah dibunuh Ali Al-Murtadha.”
Makrifat
Al-Murtadha berarti yang diridhai Allah. Ini adalah puncak seruan malaikat.
Setelah menyebut semua sifat beliau, akhirnya disebut namanya langsung. Dalam makrifat:
Nama Ali berarti yang tinggi.
Para arif mengatakan: ketika nama Ali disebut di langit, malaikat mengingat keadilan dan keberaniannya.
Rahasia Susunan 6 Kalimat
Sebagian ulama hikmah melihat susunan ini sebagai tahapan runtuhnya cahaya petunjuk:
1️⃣ runtuhnya pilar petunjuk
2️⃣ padamnya tanda ketakwaan
3️⃣ terputusnya tali spiritual
4️⃣ kehilangan keluarga Nabi
5️⃣ hilangnya penjaga ilmu
6️⃣ syahidnya Imam Ali
Urutan ini menggambarkan kesedihan kosmik alam semesta.
Makrifat yang Lebih Dalam
Para arif juga mengatakan enam kalimat ini melambangkan enam cahaya Ahlul Kisa:
1. Nabi Muhammad saw
2, Imam Ali ibn Abi Talib as
3. Sayyidah Fatimah al-Zahra as
4. Imam Hasan ibn Ali as
5. Imam Husayn ibn Ali as
6. cahaya wilayah yang menyambung sampai para Imam setelahnya
Karena itu seruan malaikat ini dianggap sebagai ratapan langit atas salah satu cahaya terbesar petunjuk.
Seruan ini didengar oleh orang-orang saleh di Kufah dan menjadi tanda bahwa peristiwa itu bukan sekadar tragedi manusia, tetapi peristiwa kosmik.
2. Dialog Malaikat di Langit
Para arif dan ahli hikmah menggambarkan dialog malaikat pada malam itu sebagai berikut.
Sebagian malaikat berkata:
“Siapakah yang berani mengangkat pedang kepada orang yang sepanjang hidupnya sujud kepada Allah?”
Malaikat lain menjawab:
“Itulah ujian dunia.
Orang yang paling dekat kepada Allah sering paling banyak diuji.”
Kemudian malaikat lain berkata:
“Bukankah ini orang yang sejak kecil tidur di tempat Nabi untuk melindunginya?”
Mereka mengingat peristiwa malam hijrah ketika Muhammad meminta Imam Ali tidur di tempatnya untuk menggagalkan rencana pembunuhan Quraisy.
3. Dialog Malaikat tentang Cahaya Ali
Dalam tradisi irfan Ahlul Bait, malaikat mengetahui kedudukan Imam Ali sejak sebelum manusia diciptakan.
Sebagian malaikat berkata pada malam itu:
“Inilah cahaya yang dahulu kami lihat bersinar sebelum penciptaan Adam.”
Malaikat lain menjawab:
“Ya, ini adalah cahaya yang berjalan bersama Nabi di bumi.”
Karena dalam banyak riwayat disebutkan bahwa cahaya Nabi dan Ali diciptakan sebelum dunia.
4. Tangisan Malaikat
Riwayat hikmah menyebutkan bahwa ketika Imam Ali terluka:
• malaikat langit menangis
• bumi bergetar
• langit menjadi gelap
Para malaikat berkata:
“Ya Allah, apakah Engkau mengizinkan bumi kehilangan orang yang paling adil di antara manusia?”
Lalu dijawab oleh malaikat lain:
“Tidak ada yang terjadi kecuali dengan hikmah Allah.”
5. Dialog Malaikat tentang Kemenangan Ali
Ketika Imam Ali berkata:
“Fuztu wa rabbil Ka‘bah”
Demi Tuhan Ka’bah, aku telah menang.
Sebagian malaikat berkata:
“Bagaimana orang yang terluka berkata ia menang?”
Malaikat lain menjawab:
“Karena ia telah mencapai pertemuan dengan Tuhannya.”
Dalam makrifat para arif, kematian para wali Allah adalah pintu kemenangan spiritual.
6. Rahasia yang Dipahami Malaikat
Para malaikat memahami sesuatu yang tidak dipahami manusia.
Mereka berkata:
“Orang yang memukulnya menyangka ia membunuh Ali,
padahal ia hanya membuka pintu pertemuan Ali dengan Allah.”
Inilah sebabnya Imam Ali tidak mengutuk pembunuhnya, bahkan berkata agar memperlakukannya dengan adil.
7. Hikmah Dialog Malaikat
Para ulama irfan mengambil beberapa pelajaran dari kisah ini:
1️⃣ Malaikat mengenal para wali Allah lebih baik daripada manusia.
2️⃣ Kehidupan orang saleh sering tidak dipahami manusia pada zamannya.
3️⃣ Para wali Allah melihat kematian sebagai perjumpaan dengan Allah.
✅ Kesimpulan
Dialog malaikat pada malam 19 Ramadhan menggambarkan bahwa:
• Imam Ali bukan hanya tokoh sejarah,
• tetapi juga cahaya petunjuk yang dikenal di langit dan bumi.
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!
Comments
Post a Comment