Makna ; “Laa ilaha illallah”, Bentengku
Kalimat “لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
(Lā ilāha illallāh ḥiṣnī fa man dakhala ḥiṣnī amina min ʿadhābī) adalah Hadis Silsilah al-Dzahab dari Imam Ridha a.s. yang sangat agung. Maknanya: tauhid adalah benteng keselamatan dari azab Allah.
Dalam riwayat lanjutannya Imam bersabda: “bi syurūṭihā wa anā min syurūṭihā” — dengan syarat-syaratnya, dan aku termasuk syaratnya.
Makna irfani, Qurani, dan wilayah Ahlul Bayt:
1) Tauhid adalah benteng ruhani
“Hisni” (benteng-Ku) menunjukkan bahwa kalimat tauhid bukan sekadar lafaz, tapi perlindungan ruh dari syirik, nifaq, dan waswas setan.
2) Masuk benteng berarti masuk ubudiyah total
“Man dakhala” bukan hanya mengucapkan, tetapi masuk dengan hati, akal, amal, dan akhlak ke dalam penghambaan murni.
3) Aman dari azab dunia sebelum akhirat
Azab tidak hanya neraka, tapi juga gelisah, keras hati, putus asa, dan hidup tanpa cahaya hidayah. Tauhid sejati menenangkan jiwa.
4) Benteng tauhid punya pintu wilayah
Menurut lanjutan hadis, benteng ini memiliki syarat, dan salah satu syaratnya adalah wilayah Imam ma‘shum dari Ahlul Bayt. Tanpa imam, tauhid mudah diselewengkan.
5) Tauhid memurnikan niat
Makna terdalam lā ilāha illallāh ialah tidak ada tujuan selain Allah—bukan hawa nafsu, dunia, pujian, atau ego.
6) Menghancurkan berhala batin
Berhala bukan hanya patung, tetapi juga: • ego • cinta dunia • ujub
• riya • takut selain Allah
Kalimat ini menghancurkan semua “ilah” batin.
7) Benteng keselamatan saat sakarat; Orang yang hidup dalam tauhid biasanya ditolong untuk husnul khatimah, karena hati sudah terbiasa kembali hanya kepada Allah.
8) Tauhid melahirkan tawakkal
Jika hanya Allah yang menjadi tempat bersandar, maka hati menjadi kuat, tidak takut makhluk, dan ridha terhadap qadha-Nya.
9) Dalam makrifat: fana dari selain Allah. Ahli makrifat memandang makna tertinggi kalimat ini adalah lenyapnya keterikatan kepada selain Allah, sehingga yang tampak hanya tajalli-Nya.
10) Benteng menuju perjumpaan Imam Mahdi af. Dalam irfan Syiah, tauhid sejati yang disertai wilayah akan membawa seseorang pada ma‘rifat hujjah Allah di zamannya, sehingga benteng itu menjadi jalan keselamatan akhir zaman.
Kesimpulan hakikat
Makna terdalam hadis ini adalah:
siapa yang hidup dalam tauhid murni, bersama wilayah Ahlul Bayt, ia berada dalam benteng Ilahi dan selamat dari azab zahir maupun batin.
Menurut Al-Qur’an, makna hadis “Lā ilāha illallāh ḥiṣnī…” sangat selaras dengan banyak ayat tentang tauhid sebagai benteng keamanan, hidayah, dan keselamatan.
Makna menurut Al-Qur’an:
1) Tauhid adalah pegangan paling kokoh. Allah berfirman: Barangsiapa kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.”(QS. Al-Baqarah: 256) Ini sama dengan makna “hisni” (benteng-Ku): tauhid adalah pegangan yang tidak akan putus.
2) Tauhid melahirkan rasa aman
Mereka yang beriman dan tidak mencampur iman dengan kezaliman (syirik), bagi mereka keamanan.”
(QS. Al-An‘am: 82) Ini sangat dekat dengan lafaz hadis: “amina min ʿadhābī”. Buah tauhid adalah aman dari azab, takut, dan kesesatan.
3) Benteng dari syirik
Makna lā ilāha illallāh dalam Qur’an adalah menolak semua thaghut sebelum menetapkan Allah.
Jadi benteng tauhid dibangun dengan: • menolak ilah palsu
• menolak hawa nafsu
• menolak ketergantungan selain Allah. Ayat utamanya tetap QS 2:256.
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚفَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
4) Tauhid menenangkan hati “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28) Benteng tauhid bukan hanya akhirat, tetapi ketenangan batin di dunia.
5) Tauhid melindungi dari setan
“Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.”(QS. An-Nahl: 99) Jadi hisn juga berarti perlindungan dari waswas, tipu daya, dan godaan syaitan.
6) Tauhid adalah jalan hidayah
QS Al-An‘am 82 menggabungkan dua hal: • al-amn (keamanan)
• al-hidayah (petunjuk) Maka orang yang masuk benteng tauhid akan diberi cahaya jalan hidup.
7) Tauhid menuntun jihad melawan nafsu.”Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”QS. Al-‘Ankabut: 69) Masuk benteng tauhid berarti berjihad melawan: • ego • riya • ujub • cinta dunia
8) Tauhid menyelamatkan dari azab batin. Azab bukan hanya neraka, tetapi juga: • sempit dada
• gelisah • putus asa • hati mati
Qur’an menunjukkan bahwa dzikir dan tauhid adalah obat hati.
9) Tauhid adalah identitas para nabi. Semua nabi datang membawa satu benteng yang sama: “Sembahlah Allah, tiada ilah selain Dia.”Jadi hadis ini adalah ringkasan dari seluruh dakwah Qur’ani.
10) Tauhid sempurna membawa keselamatan akhirat. Makna terdalam “amina min ʿadhābī” adalah keselamatan pada hari hisab, ketika tauhid bersih dari syirik menjadi sebab rahmat Allah.
Ini selaras dengan konsep al-amn dalam QS 6:82.
Kesimpulan Qurani
Menurut Al-Qur’an, “lā ilāha illallāh” adalah benteng karena ia memberi tiga hal: 1. keamanan 2. hidayah
3. ketenangan hati. Siapa yang benar-benar masuk ke dalam tauhid—iman, amal, wilayah, dan ikhlas—maka ia aman dari azab lahir dan batin.
Menurut hadis Nabi ﷺ dan riwayat Ahlul Bayt a.s., kalimat
“لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي”
memiliki makna yang sangat luas: tauhid bukan sekadar ucapan, tetapi jalan iman, amal, ikhlas, dan wilayah. Riwayat ini masyhur sebagai Hadis Silsilah al-Dzahab dari Imam Ridha a.s.
Berikut 10 makna menurut hadis:
1) Tauhid adalah inti seluruh dakwah Nabi. Dalam banyak hadis, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa sebaik-baik ucapan adalah “lā ilāha illallāh.” Ini menunjukkan benteng pertama keselamatan adalah tauhid yang murni.
2) Benteng harus dimasuki dengan iman. Hadis Nabi menjelaskan bahwa iman bukan hanya lisan, tetapi juga: • tashdiq dalam hati
• amal anggota badan • buah akhlak. Maka man dakhala hisni berarti masuk dengan keseluruhan diri, bukan hanya ucapan.
3) Aman dari azab karena syafaat tauhid. Dalam hadis sahih, orang yang membawa tauhid dengan ikhlas akan mendapat syafaat Nabi ﷺ dan keselamatan dari azab sesuai kadar iman.
4) Tauhid punya cabang amal
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa iman memiliki banyak cabang, yang tertinggi adalah lā ilāha illallāh.
Artinya benteng ini memiliki: • dzikir
• shalat • wara’ • akhlak • kasih sayang. Semua ini adalah tembok benteng tauhid.
5) Ikhlas adalah kunci benteng
Hadis menyebut:”Barangsiapa mengucapkan lā ilāha illallāh dengan ikhlas, masuk surga.” Makna hadis benteng: ikhlas adalah pintu gerbangnya.
6) Tauhid tanpa amal bisa rapuh
Dalam hadis Ahlul Bayt, iman tanpa amal seperti pohon tanpa buah.
Jadi benteng tauhid harus dijaga dengan: • shalat • taqwa • amanah
• menjauhi dosa. Kalau tidak, benteng menjadi retak.
7) Wilayah adalah syarat kesempurnaan. Imam Ridha a.s. menambahkan:
بِشُرُوطِهَا وَأَنَا مِنْ شُرُوطِهَا
“Dengan syarat-syaratnya, dan aku termasuk syarat-syaratnya.” Menurut hadis Ahlul Bayt, ini bermakna ma‘rifat dan ketaatan kepada hujjah Allah di setiap zaman.
8) Benteng dari fitnah akhir zaman
Dalam hadis-hadis akhir zaman, keselamatan dari fitnah adalah:
• berpegang pada tauhid
• Al-Qur’an • Ahlul Bayt
• imam zaman. Ini selaras dengan makna benteng Ilahi.
9) Dzikir ini menghapus dosa
Banyak hadis menyebut lā ilāha illallāh sebagai dzikir yang paling berat dalam timbangan amal dan dapat menghapus dosa besar bila disertai taubat.
10) Tauhid sejati melahirkan cinta Allah. Menurut hadis Qudsi, hamba yang terus berdzikir dan taat akan dicintai Allah. Saat itu benteng tidak lagi hanya perlindungan, tetapi menjadi kedekatan Ilahi.
Kesimpulan hadis
Menurut hadis, makna kalimat ini adalah: Tauhid = benteng
Ikhlas = pintu. Amal = dinding
Wilayah = syarat kesempurnaan
Keselamatan = buahnya
Siapa yang menjaga tauhid dengan hati, amal, dan wilayah Ahlul Bayt, maka ia aman dari azab lahir, batin, dunia, dan akhirat.
Menurut hadis Ahlul Bayt a.s., kalimat
“لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي”
mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar tauhid lisan. Dalam riwayat Imam Ridha a.s. di Naisabur, beliau menambahkan:
بِشُرُوطِهَا وَأَنَا مِنْ شُرُوطِهَا
“Dengan syarat-syaratnya, dan aku termasuk dari syarat-syaratnya.” Inilah inti pandangan hadis Ahlul Bayt: tauhid sejati harus bersanding dengan wilayah, ma‘rifat, dan ketaatan kepada Imam ma‘shum. Berikut 10 makna menurut hadis Ahlul Bayt:
1) Tauhid harus disertai wilayah
Imam Ridha a.s. menegaskan bahwa benteng tauhid punya syarat, dan salah satu syarat utamanya adalah menerima imamah Ahlul Bayt. Maknanya: lā ilāha illallāh tanpa wilayah belum sempurna sebagai benteng keselamatan.
2) Imam adalah pintu masuk benteng. Dalam banyak riwayat, Imam disebut: • bāb Allāh (pintu Allah) • ṣirāṭ Allāh • ḥujjah Allāh Maka man dakhala hisni menurut hadis Ahlul Bayt berarti masuk melalui pintu yang sah, yaitu hujjah Allah di zamannya.
3) Tauhid adalah ma‘rifat, bukan hanya lafaz. Imam Ja‘far al-Shadiq a.s. menjelaskan bahwa iman adalah: • pengenalan hati • ikrar lisan • amal anggota badan
Jadi hadis ini mengajarkan bahwa benteng itu dibangun dengan ma‘rifat qalbi, bukan sekadar ucapan.
4) Aman dari azab berarti aman dari kesesatan. Dalam hadis Ahlul Bayt, azab terbesar sebelum neraka adalah: • tersesat dari imam
• buta hati • jauh dari cahaya wilayah. Maka keamanan terbesar adalah hidayah bersama imam haq.
5) Benteng melindungi dari fitnah akhir zaman. Riwayat-riwayat Ahlul Bayt menekankan bahwa di akhir zaman keselamatan ada pada:
• tauhid • Qur’an • wilayah
• imam zaman. Jadi hadis ini adalah peta keselamatan fitnah akhir zaman.
6) Tauhid menghancurkan ilah batin. Menurut hadis para Imam, ilah batin bisa berupa: • hawa nafsu
• ego • dunia • kedudukan
• takut makhluk. Maka masuk benteng berarti menghancurkan semua sesembahan selain Allah di dalam hati.
7) Wilayah menjaga tauhid dari penyimpangan. Ahlul Bayt adalah penjaga tafsir tauhid yang murni.
Tanpa mereka, manusia bisa jatuh pada: • tasybih • tajsim • jabr
• tafwidh • syirik khafi. Karena itu Imam Ridha a.s. menyebut dirinya bagian dari syarat benteng.
8) Benteng berarti hidup dalam ketaatan. Imam Ali a.s. mengajarkan bahwa nilai tauhid tampak pada ketaatan dan wara‘. Jadi benteng bukan konsep abstrak, tetapi tercermin dalam: • shalat • amanah • sabar • taqwa • akhlak
9) Tauhid dan wilayah membawa syafaat. Dalam hadis Ahlul Bayt, kecintaan dan loyalitas kepada para Imam menjadi sebab syafaat pada hari kiamat, sehingga amina min ʿadhābī juga bermakna aman melalui syafaat wilayah.
10) Hakikat tertinggi: fana dalam tauhid melalui Imam. Menurut riwayat irfani Ahlul Bayt, Imam adalah mazhar asma’ Allah dan jalan makrifat. Masuk benteng berarti: • fana dari ego • baqa bersama Allah • melihat tajalli-Nya melalui nur Muhammad wa Ali Muhammad. Ini adalah puncak makna hadis menurut jalan ma‘rifat Ahlul Bayt.
Kesimpulan hadis Ahlul Bayt
Menurut hadis-hadis Ahlul Bayt, makna hadis ini adalah:
Tauhid = benteng Allah. Wilayah Imam = pintu dan syaratnya. Ma‘rifat = ruh benteng
Ketaatan = dinding benteng
Syafaat = keamanan dari azab
Jadi siapa yang memegang tauhid bersama wilayah Imam Ahlul Bayt, ia berada dalam hisnullah—benteng Ilahi yang menjaga dari kesesatan dunia dan azab akhirat.
Menurut para mufasir, hadis
“لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي”
selaras dengan tafsir ayat-ayat tentang al-amn (keamanan), al-‘urwah al-wuthqā (pegangan kokoh), dan tauhid murni.Berikut 10 makna menurut mufasir:
1) Benteng tauhid = keamanan dari syirik. Para mufasir ketika menafsirkan QS Al-An‘am 82 menjelaskan bahwa “kezaliman” adalah syirik, berdasarkan hadis Ibn Mas‘ud. Maka keamanan (lahumul amn) adalah buah dari tauhid murni.
Ini sangat sesuai dengan makna “hisnī”: benteng Allah adalah tauhid yang bersih dari syirik.
2) Aman dari azab akhirat
Ibnu Katsir menegaskan bahwa orang yang mentauhidkan Allah tanpa sekutu akan memperoleh keamanan pada hari kiamat dari azab Allah. Jadi amina min ʿadhābī menurut mufasir berarti selamat saat hisab dan hari kebangkitan.
3) Pegangan paling kuat
Dalam tafsir QS Al-Baqarah 256, al-‘urwah al-wuthqā dijelaskan sebagai: • iman • Islam • tauhid yang kokoh. Ini sama dengan hadis: lā ilāha illallāh adalah benteng yang tak akan runtuh.
4) Benteng dimulai dengan menolak thaghut. Para mufasir menekankan urutan ayat: kufur kepada thaghut → iman kepada Allah → pegangan kokoh. Maknanya, masuk benteng tauhid harus diawali dengan menghancurkan ilah palsu lahir dan batin.
5) Keamanan dunia dan akhirat
Tafsir Kemenag menjelaskan lahumul amn mencakup perlindungan dari bencana, kesesatan, dan azab Allah. Jadi benteng tauhid menjaga:
• hati di dunia • kubur • akhirat
6) Hidayah adalah dinding benteng
Mufasir mengaitkan al-amn dengan wa hum muhtadūn: orang bertauhid bukan hanya aman, tapi juga diberi petunjuk. Maknanya, benteng tauhid bukan hanya proteksi, tetapi juga cahaya jalan hidup.
7) Tauhid harus murni tanpa campuran. Para mufasir menekankan frasa:
وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
yakni tidak mencampur iman dengan syirik. Ini selaras dengan hadis bahwa sekadar lafaz tanpa kemurnian hati belum sempurna sebagai benteng.
8) Benteng melawan rasa takut
Dalam konteks kisah Nabi Ibrahim a.s., mufasir menjelaskan bahwa keamanan sejati bukan dari berhala, tetapi dari Allah semata. Jadi orang yang masuk benteng tauhid akan bebas dari rasa takut kepada selain Allah.
9) Benteng sebagai jalan istiqamah
Tafsir al-‘urwah al-wuthqā menunjukkan pegangan yang tidak terputus. Maknanya menurut mufasir: orang yang menjaga tauhid akan diberi istiqamah sampai akhir hayat.
10) Keselamatan karena tauhid yang diamalkan. Para mufasir tidak memaknai iman sebagai ucapan saja, tetapi iman yang menolak thaghut, menerima hidayah, dan istiqamah dalam amal.
Jadi benteng bukan sekadar dzikir lisan, tapi tauhid yang hidup dalam amal saleh.
Kesimpulan menurut mufasir
Menurut para mufasir, makna hadis ini adalah:Tauhid murni = benteng
Menolak thaghut = pintu masuk
Hidayah = cahaya di dalam benteng. Keamanan = selamat dari syirik dan azab. Maka siapa yang memegang lā ilāha illallāh dengan iman murni, ia memperoleh al-amn, al-hudā, dan najāt sebagaimana tafsir QS 6:82 dan QS 2:256.
Menurut mufasir Ahlul Bayt—khususnya Tafsir al-Qummi, Tafsir al-‘Ayyashi, Nur al-Tsaqalayn, dan al-Mīzān—hadis لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
dipahami bukan hanya sebagai tauhid lafzi, tetapi tauhid yang dituntun oleh hujjah Ilahi dari Ahlul Bayt. Metode al-Mīzān sendiri menekankan otoritas Ahlul Bayt sebagai rujukan utama tafsir. Berikut 10 makna menurut mufasir Ahlul Bayt:; 1) “Hisn” adalah wilayah tauhid yang murni. Dalam corak tafsir Ahlul Bayt, ayat-ayat al-amn seperti QS 6:82 dipahami bahwa keamanan lahir dari tauhid yang bersih dari syirik jali dan khafi, termasuk syirik kepada hawa nafsu dan thaghut batin. Maka hisnī = wilayah perlindungan Ilahi bagi ahl al-tauhid.
2) Benteng memiliki pintu: wilayah Imam. Mufasir Ahlul Bayt mengaitkan hadis ini dengan sabda Imam Ridha a.s.:
بِشُرُوطِهَا وَأَنَا مِنْ شُرُوطِهَا
Dalam tafsir Syiah, syarat tauhid bukan sekadar iman umum, tetapi ma‘rifat imam yang menjadi penafsir sah al-Qur’an.
3) QS 2:256 = benteng tauhid dan wilayah. Al-‘urwah al-wuthqā dalam tafsir Ahlul Bayt sering dimaknai sebagai: • tauhid • wilayah Amirul Mukminin• tali yang tak terputus menuju Allah. Jadi lā ilāha illallāh adalah bentengnya, sedangkan wilayah Imam adalah pegangan kokohnya.
4) Aman dari azab = aman dari dhalalah. Menurut Nur al-Tsaqalayn, keamanan terbesar bukan hanya dari neraka, tetapi dari kesesatan dalam memahami wahyu. Karena itu, orang yang masuk benteng tauhid bersama wilayah akan aman dari: • tafsir hawa nafsu • bid‘ah
• penyimpangan aqidah
5) Tauhid harus ditafsir oleh Ahlul Bayt. Metode mufasir Ahlul Bayt menolak tafsir yang lepas dari riwayat ma‘shum. Al-Mīzān menegaskan pentingnya tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an dan hadis Ahlul Bayt sebagai cahaya makna. Maka benteng itu bukan hanya kalimat, tapi pemahaman yang benar terhadap kalimat tersebut.
6) Menolak thaghut lahir dan batin
Dalam tafsir irfani, thaghut tidak hanya berhala luar, tetapi juga:
• ego • kekuasaan • dunia • hawa nafsu. Masuk benteng berarti keluar dari perbudakan selain Allah.
7) Hidayah Imam adalah cahaya di dalam benteng. Mufasir Ahlul Bayt memandang QS 6:82:
لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Keamanan selalu berdampingan dengan hidayah, dan hidayah sempurna datang melalui imam mubīn. Jadi benteng tauhid tanpa cahaya imam bisa menjadi tembok tanpa arah.
8) Benteng menyelamatkan di fitnah akhir zaman. Dalam tafsir riwayat Ahlul Bayt, ayat-ayat hidayah sering dihubungkan dengan tsabat di masa ghaibah Imam Mahdi af.
Makna hadis ini: siapa yang menjaga tauhid + wilayah, ia selamat dari:
• syubhat • fitnah dajjal
• kebingungan akhir zaman
9) Azab batin adalah hijab dari Allah. Menurut corak irfani al-Mīzān, azab terdalam adalah terhijabnya hati dari musyahadah nur Allah.
Jadi amina min ʿadhābī juga berarti:
• aman dari keras hati
• aman dari kegelapan ruh
• aman dari jauhnya qalb dari dzikir
10) Tauhid + wilayah = jalan liqā’ Allah. Puncak tafsir Ahlul Bayt adalah bahwa tauhid bukan hanya selamat dari azab, tetapi sampai kepada liqā’ Allah melalui nur Muhammad wa Ali Muhammad.
Inilah makna hakikat benteng:
dari syahadat → wilayah → ma‘rifat → liqā’. Kesimpulan menurut mufasir Ahlul Bayt. Tauhid = benteng. Wilayah Imam = pintu dan syarat. Hidayah = cahaya di dalam benteng. Ma‘rifat = ruh benteng Liqā’ Allah = puncak keselamatan Maka siapa yang memegang lā ilāha illallāh bersama wilayah Ahlul Bayt, ia memperoleh al-amn, al-hudā, dan al-nūr dalam tafsir zahir maupun batin.
Menurut ahli ma‘rifat, kalimat agung
“لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي
فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي”
bukan hanya janji keselamatan lahir, tetapi peta perjalanan ruh menuju fana dan baqā’ بالله.
Di jalan irfan, “hisn” (benteng) adalah maqam tauhid yang melindungi salik dari hijab nafs, dunia, dan selain Allah. Berikut 10 makna menurut ahli ma‘rifat:
1) Benteng tauhid adalah benteng wujud. Ahli ma‘rifat memandang bahwa satu-satunya wujud hakiki hanyalah Allah. Masuk ke benteng berarti keluar dari ilusi kemandirian makhluk dan melihat semua dalam tajalli-Nya.
2) “Lā” adalah penafian segala selain-Nya. Rahasia terbesar kalimat ini ada pada “lā”:
• meniadakan ego
• meniadakan ketergantungan
• meniadakan rasa memiliki
• meniadakan ilah-ilah batin
Jadi benteng dimulai dari nafy al-siwā (menafikan selain Allah).
3) “Illā Allah” adalah isbat musyahadah Setelah penafian datang penetapan: yang tersisa dalam qalb hanyalah Allah sebagai satu-satunya maksud, mahbub, dan maqsud perjalanan.
Ini maqam syuhud.
4) Masuk benteng = masuk maqam fana. Man dakhala hisnī menurut ahli irfan adalah masuk ke maqam fana fi al-tauhid, di mana ego, pujian, dan klaim diri larut. Di sini seorang salik tidak lagi melihat amalnya, hanya taufiq Allah.
5) Aman dari azab hijab
Azab terdalam menurut ahli ma‘rifat bukan api, tetapi hijab dari Allah:
• hijab nafs
• hijab cinta dunia
• hijab ujub
• hijab merasa diri; Tauhid sejati membakar semua hijab ini.
6) Benteng dzikir qalbi
Dzikir lā ilāha illallāh jika turun dari lisan ke qalb menjadi hisn ruhani.
Ia menjaga hati dari lintasan selain Allah dan menjadikan qalb selalu hadir.
7) Benteng wilayah nur Muhammad. Dalam irfan, tauhid yang sejati bercahaya melalui nur Muhammad wa Ali Muhammad, sebab mereka adalah mazhar sempurna أسماء الله. Jadi benteng itu bercahaya dengan wilayah.
8) Aman dari azab ego
Azab terbesar manusia adalah diperbudak: • gengsi • marah • cinta pujian • takut kehilangan. Masuk benteng berarti bebas dari “aku” palsu.
9) Hisn sebagai maqam sukun dan itmi’nan. Saat qalb menetap dalam lā ilāha illallāh, lahirlah: • sakinah
• ridha • tawakkal • itmi’nan
Inilah rasa aman yang disebut amina min ʿadhābī.
10) Puncaknya liqā’ dan baqā’
Makna tertinggi benteng adalah baqā’ بالله setelah fana dari selain-Nya. Salik yang masuk benteng sampai pada maqam: • melihat Allah dalam ayat-ayat-Nya
• hidup dengan Allah
• kembali kepada Allah. Ini adalah keselamatan hakiki.
Kesimpulan ma‘rifat
Menurut ahli ma‘rifat:
“Lā” = menghancurkan selain Allah
Illā Allah” = menetapkan hanya Dia Hisn = maqam tauhid qalbi
Aman = bebas dari hijab dan ego
Jadi siapa yang benar-benar hidup dalam dzikir ini akan selamat dari azab terbesar: terpisahnya hati dari Allah.
Menurut ahli hakikat, kalimat
“لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي
فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي”
adalah rahasia perjalanan dari tauhid menuju wilayah, lalu dari wilayah menuju tajalli Nur Muhammad wa Āli Muhammad.
Di sini hisn bukan hanya benteng akidah, tetapi benteng wujud, nur, dan sirr ruhani. Berikut 10 makna menurut ahli hakikat ;
1) Hisn adalah benteng Nur al-Tauhid. Dalam hakikat Syiah, tauhid adalah nur pertama yang menyingkap hijab wujud makhluk.
Masuk ke benteng berarti hati masuk ke cahaya ahadiyyah, sehingga selain Allah memudar dari pandangan batin.
2) Pintu benteng adalah wilayah
Rahasia sabda Imam Ridha a.s.: بِشُرُوطِهَا وَأَنَا مِنْ شُرُوطِهَا
Menurut ahli hakikat, syarat itu bukan sekadar baiat zahir, tetapi ittishal sirr dengan nur Imam ma‘shum. Tanpa wilayah, tauhid mudah berhenti pada konsep, belum menjadi dzauq.
3) “Lā” menghancurkan berhala nafs. Hakikat lā adalah pedang batin yang memutus:• ananiyah (keakuan)
• hubb al-jah • cinta pujian
• ketergantungan pada sebab
Inilah kasr al-ashnām al-bāṭiniyyah.
4) “Illā Allah” adalah tajalli al-jamāl
Setelah semua selain-Nya runtuh, hati menyaksikan tajalli جمال الله pada seluruh ayat wujud. Di sini salik melihat bahwa semua keindahan hanyalah pantulan dari Jamal al-Haqq.
5) Aman dari azab hijab wilayah
Dalam hakikat Syiah, azab terdalam adalah terputus dari nur wilayah Imam, sebab wilayah adalah sambungan nur kenabian. Masuk benteng berarti hati terjaga dari:
• syubhat • qaswah qalb
• buta nurani • jauh dari hujjah zaman
6) Benteng = maqam fana fi al-imam menuju fana fillah. Sebagian ahli irfan Syiah menjelaskan perjalanan: • fana dari nafs
• fana dalam wilayah Imam
• fana dalam tauhid
• baqa بالله Karena Imam adalah mazhar al-asmā’ wa al-ṣifāt, beliau menjadi jembatan menuju Allah.
7) Hisn adalah sirr Nur Muhammad
Hakikat memandang bahwa lā ilāha illallāh memancar melalui Nur Muhammadī, dan nur para Imam adalah kelanjutan cahaya itu. Maka benteng tauhid sesungguhnya bercahaya dengan: • Nur Nabi ﷺ
• Nur Ali a.s. • Nur Fatimah a.s.
• Nur para Imam
8) Aman dari azab akhir zaman
Dalam hakikat ghaibah, benteng tauhid yang disertai wilayah menjadi perlindungan dari:• fitnah dajjal maknawi • syubhat zaman
• kehilangan arah ruhani
• mati dalam kebutaan imam
Ini sangat terkait dengan ma‘rifat Imam Mahdi af.
9) Benteng membawa musyahadah tajalli Imam
Saat qalb bersih, ahli hakikat memandang nur Imam sebagai:
• cermin أسماء الله • pintu rahmat
• wajah Ilahi pada bumi
Masuk benteng berarti sampai pada musyahadah nur hujjah Allah dalam sirr qalb.
10) Puncaknya liqā’ Allah melalui nur wilayah. Hakikat tertinggi hadis ini adalah perjalanan: tauhid → wilayah → ma‘rifat → fana → liqā’
Di puncak ini, azab tidak lagi dipahami sebagai api semata, tetapi jauhnya ruh dari جمال الله dan nur Muhammad wa آل محمد.
Kesimpulan ahli hakikat
Menurut ahli hakikat :
Tauhid = benteng nur
Wilayah = pintu sirr
Imam = mazhar tajalli
Aman = bebas dari hijab dan kegelapan nafs
Puncak = liqā’ Allah melalui nur wilayah. Jadi siapa yang hidup dalam lā ilāha illallāh bersama wilayah Ahlul Bayt, ia masuk ke hisn al-nur, benteng hakikat yang menjaga hingga sampai kepada tajalli Imam Mahdi af dan liqā’ Allah.
Kisah dan cerita ruhani dari jalan irfan tentang hakikat “lā ilāha illallāh” sebagai benteng hati, terinspirasi dari kisah para ulama arif seperti ‘Allamah Thabathaba’i, Ayatullah Bahjat, dan para salik Najaf–Qum.
1) Allamah Thabathaba’i: bibir yang selalu berdzikir; Dikisahkan bahwa ‘Allamah Thabathaba’i hampir selalu terlihat menggerakkan bibirnya dengan dzikir ketika berjalan, duduk, bahkan saat jeda percakapan. Murid-muridnya melihat beliau seakan hidup di dalam benteng dzikir yang tak pernah putus. Maknanya:
lā ilāha illallāh menjadi hisn qalbi, penjaga hati dari lalai.
2) Kisah seorang salik yang selamat dari putus asa. Seorang murid hauzah mengalami tekanan hidup dan hampir meninggalkan jalan ilmu. Gurunya hanya berkata: “Perbanyak lā ilāha illallāh sampai hatimu kembali bernapas.”
Ia mengamalkannya 1000 kali setiap malam selama 40 hari. Perlahan kegelisahan hilang, dan ia merasa seolah masuk ke benteng keamanan Ilahi. Pesan hakikat: dzikir tauhid memadamkan azab batin berupa putus asa.
3) Allamah di malam Ramadhan
Dalam kisah hidup beliau disebutkan bahwa di malam-malam Ramadhan, Allamah sering terjaga dari Maghrib sampai Subuh dengan shalat dan dzikir terus-menerus. Murid-murid menyebut suasana rumah beliau seperti “hisn al-nur”, benteng cahaya. Makna: siapa yang hidup bersama tauhid di malam hari, siangnya dijaga dari fitnah nafs.
4) Kisah pemuda yang dikuasai marah. Ada seorang pemuda pecinta Ahlul Bayt yang sangat mudah marah. Seorang arif menasihatinya agar setiap kali amarah naik, ia membaca: lā ilāha illallāh. sambil mengingat fana-nya ego. Beberapa bulan kemudian, ia berubah lembut. Ia berkata:
“Yang hancur bukan marahku, tapi ‘aku’-ku.”
5) Kisah Najaf: doa di bawah kubah Amirul Mukminin. Dinukil dari kisah awal studi Allamah di Najaf, saat tiba beliau memohon bimbingan kepada Imam Ali a.s. agar ditunjukkan jalan ilmu dan tazkiyah. Setelah itu, arah hidupnya terbuka luar biasa. Rahasia kisah:
tauhid yang sejati membuka jalan melalui wilayah dan taufiq Imam.
6) Kisah seorang ibu yang gelisah
Seorang ibu kehilangan anaknya selama beberapa jam dan sangat panik. Ia terus mengulang lā ilāha illallāh sambil bertawakkal. Tidak lama kemudian anak itu ditemukan dalam keadaan selamat. Ia berkata:
“Dzikir itu seperti benteng yang menahan hatiku dari runtuh.”
Maknanya bukan sekadar karamah, tetapi ketenangan yang Allah turunkan melalui tauhid.
7) Kisah menjelang wafat Allamah
Pada hari-hari terakhir hidupnya, Allamah terus berada dalam dzikir dan munajat. Bahkan saat fisiknya lemah, lisannya tetap bergerak dengan ingat kepada Allah.
Ini menunjukkan bahwa orang yang hidup dalam benteng tauhid akan wafat di dalam benteng yang sama.
8) Kisah seorang pedagang yang selamat dari cinta dunia
Seorang pedagang kaya mengeluh bahwa hartanya membuat hati keras. Seorang ulama arif berkata: “Setiap menerima keuntungan, ucapkan lā ilāha illallāh agar harta tidak menjadi ilah.”
Ia mengamalkannya, lalu menjadi sangat dermawan. Makna:
tauhid menghancurkan berhala dunia.
9) Kisah salik yang takut mati
Seorang salik muda takut menghadapi kematian. Gurunya berkata:”Biasakan masuk benteng sebelum maut datang.” Ia bertanya, “bagaimana?” Sang guru menjawab: “Hidupkan qalb dengan lā ilāha illallāh.”Setelah bertahun-tahun berdzikir, rasa takut itu berubah menjadi rindu liqā’ Allah.
10) Kisah hijab yang tersingkap
Seorang ahli ibadah bertanya kepada gurunya mengapa ia belum merasakan manisnya shalat. Sang guru menjawab:”Karena hatimu masih dipenuhi ilah-ilah kecil.”Ia diperintah membaca lā ilāha illallāh dengan tafakkur pada makna nafyu al-siwā (menafikan selain Allah). Beberapa waktu kemudian ia menangis dalam sujud dan berkata:
“Aku baru mengerti, benteng itu ternyata di dalam hati.”
Kesimpulan kisah
Semua kisah ini mengajarkan satu rahasia: lā ilāha illallāh bukan hanya dzikir lisan. tetapi benteng ruhani yang menjaga dari:
• putus asa • marah • cinta dunia
• takut mati • hijab qalb
Sehingga orang yang hidup dengannya akan merasakan makna:
فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
Manfaat dzikir “Lā ilāha illallāh” beserta doanya menurut jalan tauhid, hadis, dan irfan Ahlul Bayt. Banyak riwayat menyebut dzikir ini sebagai dzikir paling utama, penenang hati, penghapus dosa, dan penjaga dari syaitan.
1) Menenangkan hati
Allah berfirman:’Ala bi dzikrillāhi tathma’innul qulūb” Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Manfaat: gelisah, cemas, dan sedih menjadi lembut.
Doa: اللهم اجعل قلبي مطمئنًا بذكرك
Allāhumma ij‘al qalbī muṭma’innan bi dzikrik; Ya Allah, jadikan hatiku tenang dengan dzikir-Mu.
2) Benteng dari azab dan maksiat
Dzikir ini adalah hisnullah, benteng Ilahi yang menjaga dari dosa dan azab. Hadis-hadis menyebutnya sebagai pelindung dari neraka bila diucapkan dengan ikhlas.
Doa: اللَّهُمَّ أَدْخِلْنِي حِصْنَ تَوْحِيدِكَ وَأَجِرْنِي مِنْ عَذَابِكَ
Allāhumma adkhilnī ḥiṣna tawḥīdika wa ajirnī min ‘adhābika
“Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam benteng tauhid-Mu dan lindungilah aku dari azab-Mu.”
3) Menghapus dosa
Dalam hadis, membacanya berulang kali dapat menghapus kesalahan dan mengangkat derajat.
Doa: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي بِبَرَكَةِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Allāhumma ighfir lī bi-barakati lā ilāha illā Allāh
“Ya Allah, ampunilah aku dengan keberkahan la ilaha illallah.
4) Menguatkan tauhid dan iman
Dzikir ini memperbaharui syahadat dalam hati sehingga iman tidak menjadi lemah. Doa:
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْإِيمَانِ
Allāhumma thabbit qalbī ‘ala at-tawḥīdi wal-īmān
“Ya Allah, teguhkanlah hatiku di atas tauhid dan iman.
5) Menjaga dari syaitan dan waswas. Riwayat menyebut orang yang membacanya 100 kali sehari akan dijaga dari gangguan setan sampai petang. Doa: اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِبَرَكَةِ التَّهْلِيلِ
Allāhumma iḥfaẓnī mina ash-shayṭāni ar-rajīmi bi-barakati at-tahlīl:”Ya Allah, jagalah aku dari setan yang terkutuk dengan keberkahan tahlil.”
6) Membuka hijab hati
Menurut ahli ma‘rifat, dzikir ini membersihkan: • ujub • riya
• cinta dunia • ego, hingga qalb menjadi bening. Doa:
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنْ كُلِّ مَا سِوَاكَ
Allāhumma ṭahhir qalbī min kulli mā siwāka
“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari segala sesuatu selain Engkau.”
7) Mendatangkan sakinah rumah
Jika dibaca bersama keluarga, rumah menjadi lebih teduh, lembut, dan penuh rahmat. Doa:
اللَّهُمَّ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِي بِنُورِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Allāhumma anzili as-sakīnata ‘alā ahli baytī binūri lā ilāha illā Allāh
“Ya Allah, turunkanlah ketenangan kepada keluargaku dengan cahaya la ilaha illallah.”
8) Menguatkan saat musibah
Saat hati diuji, dzikir tauhid menanamkan tawakkal dan ridha kepada qadha Allah. Doa:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي الصَّبْرَ وَالرِّضَا وَالتَّسْلِيمَ
Allāhumma urzuqnī aṣ-ṣabra war-riḍā wat-taslīm
“Ya Allah, karuniakanlah aku kesabaran, keridhaan, dan ketundukan.”
9) Husnul khatimah
Hadis sangat masyhur:
Siapa yang akhir ucapannya “lā ilāha illallāh”, masuk surga.
Doa:اللَّهُمَّ اخْتِمْ لِي بِلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Allāhumma ikhtim lī bilā ilāha illā Allāhu Muḥammadur rasūlullāh
“Ya Allah, akhiri (hidup)ku dengan kalimat:
لا إله إلا الله محمد رسول الله
10) Membuka jalan ma‘rifat Imam
Dalam irfan, tauhid yang murni bersama wilayah membuka jalan kepada ma‘rifat hujjah Allah di zaman ghaibah.
Doa:
اللَّهُمَّ عَرِّفْنِي حُجَّتَكَ وَثَبِّتْنِي عَلَى وِلَايَتِهِ
Allāhumma ‘arrifnī ḥujjataka wa thabbitnī ‘alā wilāyatih
“Ya Allah, perkenalkanlah aku kepada hujjah-Mu dan teguhkanlah aku di atas wilayahnya.”
Rahasia manfaat tertinggi
Menurut ahli hakikat, manfaat terbesar dzikir ini bukan hanya pahala, tetapi: hancurnya “aku” dan hidupnya “Engkau” dalam hati. Saat itu seorang hamba benar-benar merasakan:
فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
37 Ayat Tahlil (Ayat Kesuksesan)
Keutamaannya; Diriwayatkan dari kitab „Al-Atiq Al-ghorwi‟, diriwayatkan dari seorang yag „alim dari Imam Ja‟far Shodiq meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin a.s berkata, “Rasulullah saw mengajariku sebuah doa yang membuatku tidak memerlukan tabib.” Seseorang bertanya,”Apa doa itu wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab,” Yaitu 37 kalimat tahlil (bacaan lâ ilâha illallâh) dalam al-Qur‟an yang terdapat dalam 24 surat dari Al-Baqoroh hingga al-Muzammil.
1. Orang yang sedang susah membaca doa ini, Allah akan menghilangkan kesusahannya.
2. Orang yang berhutang membacanya, Allah akan melunasi hutangnya.
3. Seseorang yang terasing membacanya, Allah akan mengembalikannya ke tempat asalnya.
4. Orang yang memiliki kebutuhan membacanya, Allah akan memenuhinya.
5. Orang yang sedang ketakutan membacanya, Allah akan menghilangkan rasa takutnya.
6. Barangsiapa yang membacanya setiap pagi, hatinya akan terlindung dari kemunafikan.
7. Ia juga akan terhindar dari tujuh puluh jenis bencana dan yang paling ditakuti di antaranya adalah kusta, kegilaan, lepra.
8. Allah akan menjadikannya orang-orang yang beruntung, baik ketika masih hidup, setelah meninggal dunia maupun ketika masuk surga.
9. Barangsiapa yang membacanya ketika bepergian, hanya kebaikan yang akan didapatinya.
10. Barangsiapa yang membacanya setiap malam ketika hendak tidur, ia akan dijaga oleh 70 malaikat dari godaan iblis dan tentaranya hingga ia bangun.
11. Barangsiapa yang membacanya pada siang harinya, ia terlindungi dan dilimpahi rezeki hingga sore hari.
12. Barangsiapa yang menuliskannya di kertas dan meminumnya dengan air hujan, badannya akan terlindungi dari keburukan, sihir dan godaan jin.
13.Ia akan terjaga dari semua bencana dunia, dilimpahi rezeki, terhindar dari setan.
14. Dan tidak akan mati sebelum Allah memper- lihatkan kedudukannya di surga dalam mim- pinya”. (Kitab As-Sa’ah wa ar Rizq dan Mustadrok Safinatul Bihar 10 : 548.)
Doa tersebut sebagai berikut :
١). { وَ إِلهُكُمْ إِلهٌ واحِدٌ لا إله إلا هو الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ }
٢، { اللَّهُ لا إله إلا هو الحي القيوم لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَ لا نَوْمٌ } .
٣). { الم اللَّهُ لا إله إلا هُوَ الحي القيوم }
٤). { نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتابَ بِالْحَقِّ هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحامِ كَيْفَ يَشاءُ لا إله إلا هو لْعَزِيزُ الْحَكِيمُ }
٥). { شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إله إلا هُوَ وَ الْمَلائِكَةُ وَ أُولُوا الْعِلْمِ قائِماً بِالْقِسْطِ }
٦). { لا إله إلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ }
٧). { إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ الله الْإِسْلامُ إِنَّ هذا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَ ما مِنْ إِلهٍ إِلَّا الله وَ إِنَّ الله لَهُوَ لْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } .
٨). { اللَّهُ لا إله إلا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلى يَوْمِ الْقِيامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَ مَنْ أَصْدَقُ مِنَ الله حَدِيثاً } .
٩). { لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قالُوا إِنَّ الله ثالِثُ ثَلاثَةٍ وَ ما مِنْ إِلهٍ إِلَّا إِلهٌ واحِدٌ وَ إِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ } .
١٠). { ذلِكُمُ الله رَبُّكُمْ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ خالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَ هو عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ }
١١). { اتَّبِعْ ما أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لا إله إلاهُوَ وَ أَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ } .
١٢). { قُلْ يا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ الله إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ لا إله إلا هُوَ يُحيِي وَ يُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَ رَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَ كَلِماتِهِ وَ اتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ } .
١٣). { اتَّخَذُوا أَحْبارَهُمْ وَ رُهْبانَهُمْ أَرْباباً مِنْ دُونِ الله وَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَ ما أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلهاً واحِداً لا إله إلا هُوَ سبحانهعَمَّا يُشْرِكُونَ }
١٤). { فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَ هو رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ } .
١٥). { حَتَّى إِذا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لا إله إلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُوا إِسْرائِيلَ وَ أَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ } .
١٦). { فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّما أُنْزِلَ بِعِلْمِ الله وَ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } .
١٧). { وَ هُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمنِ قُلْ هو رَبِّي
لا إِلهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَ إِلَيْهِ مَتابِ } .
١٨). { يُنَزِّلُ الْمَلائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلى مَنْ يَشاءُ مِنْ عِبادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لا إِلهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ } .
١٩). { يَعْلَمُ السِّرَّ وَ أَخْفى اللَّهُ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى }
٢٠). { وَ أَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِما يُوحى إِنَّنِي أَنَا الله لا إله إلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَ أَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي }
٢١). { إِنَّما إِلهُكُمُ الله الَّذِي لا إِلهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً } .
٢٢). { وَ ما أَرْسَلْنا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إله إلا أَنَا فَاعْبُدُونِ }
٢٣). { وَ ذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغاضِباً فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنادى فِي الظُّلُماتِ أَنْ لا إله إلا أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ } .
٢٤). { فَتعالى الله الْمَلِكُ الْحَقُّ لا إله إلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ}.
٢٥). { لا إله إلا هُوَ رَبُ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ } .
٢٦). { وَ هُوَ الله لا إله إلا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولى وَ الْآخِرَةِ وَ لَهُ الْحُكْمُ وَ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ }
٢٧). { وَ لا تَدْعُ مَعَ الله إِلهاً آخَرَ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ } .
٢٨). { يا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خالِقٍ غَيْرُ الله يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ
لا إله إلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ } .
٢٩). { إِنَّهُمْ كانُوا إِذا قِيلَ لَهُمْ لا إِلهَ إِلَّا الله يَسْتَكْبِرُونَ }.
٣٠). { قُلْ إِنَّما أَنَا مُنْذِرٌ وَ ما مِنْ إِلهٍ إِلَّا اللَّهُ الْواحِدُ الْقَهَّارُ } .
٣١). { ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ }
غَافِرِ الذَّنبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ
ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
٣٢). { هُوَ الحي لا إله إلا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ } .
٣٣). { لا إله إلا هُوَ يُحْيِي وَ يُمِيتُ رَبُّكُمْ وَ رَبُّ آبائِكُمُ الْأَوَّلِينَ}.
٣٤). { هُوَ الله الَّذِي لا إِلهَ إِلَّ هو عالِمُ الْغَيْبِ وَ الشَّهادَةِهو الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ }
٣٥). { هُوَ الله الَّذِي لا إله إلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحانَ الله عَمَّا يُشْرِكُونَ } .
٣٦). { اللَّهُ لا إله إلا هُوَ وَ عَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ } .
٣٧). {رَبُّ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا}.
A’udzubillâhi-minasy-syaithônir-rojîm
wa ilâhukum ilâhun wâhid, lâ ilâha illâ huwar rohmânurrohîm. Allâhu lâ ilâha illâ huwalhayyul qoyyûm, lâ ta’khudzuhu sinatuw walâ naum, lahu mâ fis samâwâti wamâ fil ardi, man dzal ladzî yasyfa’u ‘indahû illâ bi idz-nihi, ya’lamu mâ bayna aydîhim wamâ kholfahum walâ yuhî thûna bisyai-in min ilmihî illâ bimâ syâ-a, wasyi’a kursiyyuhus samâwâti wal ardho, walâ ya-ûduhu hif-zhu humâ wa huwal aliyyul azhîm. Allâhu lâ ilâha illâ huwalhayyul qoyyûm, Huwalladzî yushowwirukum fil arhâmi kay fa yasyâ-u, lâ ilâha illâ huwal ‘azîzul hakîm syahidallâhu annahu, lâ ilâha illâ huwa wal malâ-ikatu wa ûlul ‘ilmi qô-imam bil qis-thi, lâ ilâha illâ huwal ‘azîzul hakîm Allâhu lâ ilâha illâ huwa, layaj-ma’ana kum ilâ yaumil qiyâmati lâ royba fîhi, waman ash-daqu minallâhi hadî-tsâ Dzâlikumullâhu robbukum lâ ilâha illâ huwa, khôliqu kulli syai-in fa’budûhu, wahu wa ‘alâ kulli syai-in wakîl Ittabi’ mâ ûhiya ilaika mirrobbika lâ ilâha illâ huwa, wa a’ridh ‘anil musyrikîn Qulyâ ayyuhannâsu innî rosûlullâhi ilay kum jamî’an alladzî lahû mulkus-samâwâti wal ardhi, lâ ilâha illâ huwa yuhyî wa yumî tu fa-âminû billâhi warosûlihîn nabiyyil um miyyi alladzî yu’minu billâhi wa kalimâtihi wattabi’û-hu la’allakum tahtadûn Ittakhodzû ahbârohum waruhbânahum arbâ ban min dûnillâhi wal masî-habna maryam wamâ umirû illâ liya’budû ilâhan wâhidâ, lâ ilâha illâ huwa, subhânahu ‘ammâ yusy- rikûn Fa in tawallaw faqul hasbiyallâhu lâ ilâha illâ huwa, ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rob bul arsyil ‘azhîm Wajâwaznâ bibanî isrô-ilal bahro fa-at ba ’ahum fir-‘aunu wa junûduhu baghyaw wa ‘adwâ hatta idzâ adro kahul ghoroqu qôlâ âmantu annahu lâ ilâha illâlladzî âmanat bihi banû isrô-îl wa anâ minal muslimîn Fa illam yastajîbû lakum fa’lamû annamâ unzila bi’ilmillâhi wa an lâ ilâha illâ huwa fahal antum muslimûn Kazdâlika arsalnâka fî ummatin qod kholat min qoblihâ umamun litat-luwa ‘alay himul- ladzî au haynâ ilayka wahum yak furûra bir- rohmân, qul huwa robî lâ ilâha illâ huwa ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi matâb Yunazzilul malâ-ikata birrûhi min amrihi ‘alâ mayyasyâ-u min ‘ibâdihi an anzdirû annahu lâ ilâha illâ ana fat-taqûn Allâhu lâ ilâha illâ huwa lahul asmâ-ul husnâ Innanî anallâhu lâ ilâha illâ ana fa’budnî wa aqimis-sholâta lidzikrî Innamâ ilâhukumullâhul-ladzî lâ ilâha illâ huwa wasi’a kulla syai-in ‘ilmâ Wamâ arsalnâ min qoblika mir-rosûlin illâ nûhî ilayhi annahu lâ ilâha illâ ana fa’budûn Wa dzan-nûni idz-dzahaba mughô-dhiban fazhonna al-lan naqdiro ‘alayhi fanâdâ fizh zhulumâti al-lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu minadh-zhôlimîn Fata’âlallâhul malikul haqqu lâ ilâha illâ huwa robbul ‘arsyil karîm Allâhu lâ ilâha illâ huwa robbul ‘arsyil azhîm Wahuwallâhu lâ ilâha illâ huwa lahul ham du fil ûlâ wal âkhiroh walahul hukmu wa ilayhi turja’ûn Walâ tad-’û ma’allâhi ilâhan âkhor, lâ ilâha illâ huwa, kullu syai-in hâlikun illâ wajha- hû lahul hukmu wa ilaihi tur-ja’ûn Yâ ayyuhan nâsuzd-kurû ni’matallâhi ‘alai kum hal min khôliqin ghoirullâhi yarzuqu kum minassamâ-i wal ardhi lâ ilâha illâ huwa fa annâ tu’fakûn Innahum kânû idzâ qîla lahum lâ ilâha illallâhu yastakbirûn Kholaqokum min nafsyiw wâhidatin tsumma ja’ala minhâ zaujahâ wa anzala lakum minal an’âmi tsamaniyyata azwâjin yakh- luqukum fî buthûni ummahâtikum kholqon mim ba’di kholqin fî zhulumâtin tsalâsin dzâlikumullâhu robbukum lahul mulku lâ ilâha illâ huwa fa annâ tushrofun Ghôfiridz-dzambi wa qôbilitawbi syadîdil ‘iqôbi dzith-thowli lâ ilâha illâ huwa ilaihil mashîr Dzâlikumullâhu robbukum khôliqu kulli syai-in lâ ilâha illâ huwa fa annâ tu’fakûn Huwal hayyu lâ ilâha illâ huwa fad ’ûhu mukh-lishîna lahuddîna alhamdulillâhi rob bil ‘âlamîn Lâ ilâha illâ huwa yuhyî wa yumîtu robbukum wa robbu âbâ-ikumul awwalîna Fa’lam annahu lâ ilâha illâllâhu wastaghfir lidzambika walil-mu’minîna wal-mu’minâti wallâhu ya’lamu mu-taqollabakum wa mats- wâkum Huwallâhul-ladzî lâ ilâha illâ huwa ‘âlimul ghoybi wasysyahâdati huwar-rohmâ nur rohîm Huwallâhul-ladzî lâ ilâha illâ huwal malikul quddûsus-salâmul mu’minul muhaiminul ‘azîzul jabbârul mutakabbiru subhânallâhi ammâ yusyrikûn Allâhu lâ ilâha illâ huwa wa ‘alallâhi fal-yatawakkalil mu’minûn Robbul masyriqi walmaghribi lâ ilâha illâ huwa fattakhidzhu wakîlâ
Semoga bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!
Comments
Post a Comment