Makna: إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖdia bukanlah termasuk keluargamu Al-Quran 11:46
❤️🌹🌺Makna:
إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ
dia bukanlah termasuk keluargamu
Al-Quran 11:46🌹❤️🌺
Ayat ini bagian dari Qur’an, ketika Allah berfirman kepada Nabi Nuh عليه السلام tentang putranya:
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ
“Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu; sesungguhnya ia adalah amal yang tidak saleh.”
Makna Ayat Ini
1. Ahl (keluarga) bukan sekadar nasab, tapi kesatuan iman
Menjadi “ahl” sejati di sisi Allah ditentukan oleh iman dan ketaatan, bukan darah semata.
2. Ikatan ruhani lebih tinggi daripada ikatan biologis
Anak Nabi Nuh terputus dari “ahl” karena memutus hubungan ruhani dengan kebenaran.
3. Amal menentukan identitas seseorang
“Innahu ‘amalun ghairu shalih” memberi isyarat bahwa manusia dikenali oleh amalnya.
4. Kedekatan dengan orang suci tidak otomatis menyelamatkan
Dekat dengan nabi tidak cukup tanpa kepatuhan. Ini prinsip besar dalam akidah dan akhlak.
5. Ahlul hakikat adalah orang-orang yang mengikuti jalan Allah
Dalam pembacaan batin, “ahl” adalah mereka yang masuk rumah cahaya petunjuk.
6. Penolakan terhadap kebenaran bisa mencabut kehormatan spiritual
Putra Nuh kehilangan nisbah ruhani meski tetap anak secara biologis.
7. Pendidikan nabi pun tidak meniadakan pilihan bebas manusia
Ayat ini menegaskan ikhtiar dan tanggung jawab pribadi.
8. Amal buruk dapat mengubah hakikat batin seseorang
Sebagian mufasir memandang ungkapan ini menunjukkan amal membentuk wujud batin manusia.
9. Doa dan syafaat punya adab dan batas sesuai hikmah Allah
Ketika Nuh memohon untuk putranya, Allah mengajarkan bahwa rahmat berjalan bersama keadilan dan hikmah.
10. Keluarga sejati para nabi adalah pengikut jalan mereka
Dalam banyak riwayat Ahlul Bayt, pengikut setia kebenaran dipandang sebagai keluarga maknawi para nabi.
Isyarat Makrifat (Batin)
Menurut sebagian arifin, ayat ini mengandung rahasia:
* “Bukan dari keluargamu” = bukan dari ahl al-nur (keluarga cahaya).
* “Amal yang tidak saleh” = amal buruk dapat menghijab manusia dari wilayah kedekatan Ilahi.
* Bahtera Nuh melambangkan keselamatan; yang menolak naik, tenggelam dalam lautan ego.
Hubungan dengan Ahlul Bayt
Dalam tafsir wilayah, ayat ini sering dipahami sebagai isyarat bahwa kedekatan sejati dengan Ahlul Bayt adalah melalui iman, ma‘rifah, dan ittiba’ (mengikuti), bukan klaim lahiriah semata.
Menurut Qur’an, ayat ini bisa dipahami melalui banyak ayat lain dalam Al-Qur’an.
1. (Al-Hujurat: 13)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia… yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” Makrifat: Kemuliaan hakiki bukan pada bentuk lahir, tetapi pada kejernihan hati dalam menghadirkan Allah. Takwa adalah kesadaran terus-menerus akan kehadiran-Nya.
2. (Al-Hujurat: 10)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” Makrifat:
Persaudaraan sejati adalah kesatuan ruh dalam cahaya iman, bukan sekadar kedekatan jasad.
3. (Al-An’am: 164)
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
“Tidak ada yang memikul dosa orang lain.” Makrifat: Perjalanan menuju Allah bersifat individual; setiap ruh berdiri sendiri di hadapan-Nya tanpa bisa bergantung pada selain-Nya.
4. (Al-Mu’minun: 101)
فَلَا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ
“Tidak ada lagi hubungan nasab…”
Makrifat: Di hadapan kebenaran mutlak, segala identitas duniawi lenyap, yang tersisa hanya hakikat amal dan nur iman.
5. (At-Tahrim: 10)
امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ
“Istri Nuh dan istri Luth…” Makrifat:
Dekat secara lahir dengan wali Allah tidak berarti dekat secara batin; kedekatan sejati adalah keselarasan hati dengan kebenaran.
6. (At-Taubah: 113)
أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ
“Memohonkan ampun bagi orang musyrik…” Makrifat:Ada batas dalam kasih sayang: ketika hati menutup diri dari kebenaran, bahkan doa pun tidak menembus hijab itu.
7. (An-Nisa: 123)
مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ
“Siapa berbuat buruk akan dibalas…”
Makrifat: Setiap amal meninggalkan jejak dalam jiwa; balasan bukan sekadar hukuman, tapi manifestasi dari apa yang ditanam dalam diri.
8. (An-Nisa: 69)
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ
“Siapa taat kepada Allah dan Rasul…” Makrifat: Ketaatan adalah jalan untuk bertemu secara ruhani dengan para kekasih Allah, karena kesamaan frekuensi cahaya.
9. (Al-Qasas: 56)
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau tidak memberi hidayah…”
Makrifat: Hidayah adalah cahaya ilahi yang masuk ke hati yang siap; cinta manusia tidak cukup tanpa kesiapan batin.
10. (Al-Baqarah: 124)
لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
“Janji-Ku tidak untuk orang zalim.”
Makrifat: Kedekatan dengan Allah menuntut penyucian diri dari ظلم (kegelapan jiwa); cahaya tidak menyatu dengan kegelapan.
Kesimpulan Makrifat
Seluruh ayat ini menegaskan satu rahasia:”Keluarga sejati di sisi Allah adalah mereka yang satu dalam cahaya iman, bukan sekadar satu dalam garis keturunan.”
Menurut hadis-hadis tentang tafsir ayat Qur’an, ada beberapa makna penting:
Makna Menurut Hadis
1. Ahl sejati adalah أهل الإيمان (keluarga iman)
Dalam riwayat tafsir dari sahabat seperti Ibn Abbas, putra Nuh tidak dinafikan nasabnya, tetapi dinafikan sebagai “ahl” dalam makna iman.
2. Amal buruk dapat memutus nisbah ruhani
Hadis-hadis tafsir memahami “innahu ‘amalun ghayru shalih” sebagai isyarat bahwa amal dapat memisahkan seseorang dari barisan orang saleh.
3. Kemuliaan nabi tidak diwarisi otomatis. Riwayat menegaskan anak nabi tidak selamat hanya karena keturunan.
4. Iman lebih kuat dari hubungan darah. Ini kaidah besar dalam banyak hadis: ukhuwah iman lebih tinggi dari nasab.
5. Doa nabi tunduk pada hikmah Allah. Permohonan Nabi Nuh mengajarkan adab berdoa—rahmat Ilahi berjalan bersama ilmu dan hikmah.
6. Keselamatan bergantung pada ketaatan, bukan kedekatan lahiriah
Hadis-hadis tafsir menggunakan kisah ini sebagai peringatan agar tidak bergantung pada identitas semata.
7. Amal adalah cermin hakikat batin. Sebagian syarah hadis memahami seseorang bisa “dikenal” melalui amalnya.
8. Ahli para nabi adalah para pengikut setia mereka
Makna “keluarga” meluas menjadi pengikut jalan kenabian.
9. Anak saleh adalah yang mengikuti jalan ayahnya dalam iman. Hadis menekankan anak sejati secara maknawi ialah yang mewarisi hidayah.
10. Kisah Nuh adalah pelajaran universal bagi umat Muhammad ﷺ
Jangan bersandar pada klaim, nasab, atau simbol tanpa amal saleh.
Isyarat dari Riwayat Ahlul Bayt
Dalam riwayat dari Imam Ja’far al-Sadiq as tema yang sering muncul adalah bahwa wilayah, iman, dan amal adalah ukuran kedekatan hakiki dengan para nabi dan para wali—selaras dengan makna ayat ini.
Kesimpulan Hadis
Hadis-hadis menyoroti tiga poros:
* Ahl = أهل الإيمان (keluarga iman)
* Amal membentuk identitas ruhani
* Nasab tanpa ketaatan tidak cukup
Menurut riwayat-riwayat Ahlul Bayt tentang Qur’an, ada beberapa makna yang sering ditarik—terutama dalam tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja’far al-Sadiq as;
Makna Menurut Hadis Ahlul Bayt
1. “Bukan dari keluargamu” berarti bukan dari ahl al-iman
Riwayat tafsir menjelaskan penafian di sini bukan menafikan nasab biologis, tetapi menafikan afiliasi iman.
2. Wilayah dan ketaatan menentukan kedekatan sejati
Dalam corak riwayat Ahlul Bayt, kedekatan hakiki dengan para nabi diukur dengan taat, bukan darah.
3. Amal membentuk hakikat seseorang; “Innahu ‘amalun ghayru shalih” dipahami sebagian ulama Imamiyah sebagai isyarat bahwa amal membentuk identitas batin manusia.
4. Nasab tanpa iman tidak menyelamatkan. Ini menjadi dalil bahwa kemuliaan keturunan tanpa amal saleh tidak cukup.
5. Ahl para nabi adalah para pengikut jalan mereka
Siapa yang mengikuti jalan Nuh, ia masuk ahlnya secara maknawi.
6. Kisah ini peringatan agar jangan bersandar pada klaim lahiriah
Bukan pengakuan, tetapi kesetiaan pada kebenaran yang menjadi ukuran.
7. Bahtera Nuh melambangkan safinah petunjuk.
Dalam pembacaan simbolik Ahlul Bayt, bahtera adalah jalan keselamatan; keluar darinya berarti tenggelam dalam kesesatan.
8. Ujian bisa datang melalui orang terdekat. Para Imam sering mengajarkan bahwa bala’ terberat kadang datang melalui yang paling dicintai.
9. Ada pemisahan antara hubungan jasmani dan hubungan nurani. Seorang bisa dekat secara darah, tetapi jauh secara ruh.
10. Ayat ini menegaskan bahwa wilayah harus disertai amal saleh
Cinta dan afiliasi kepada kebenaran harus tampak dalam amal.
Isyarat khas dalam tafsir Ahlul Bayt. Sebagian penjelasan yang dinisbatkan kepada para Imam menekankan:
* Ahl = أهل الطاعة (keluarga ketaatan)
* Ghairu shalih = amal yang memutus hubungan cahaya
* Safinah Nuh = simbol petunjuk Ilahi, yang dalam banyak riwayat dikaitkan secara analogis dengan jalan Ahlul Bayt.
Ada juga riwayat masyhur dari Imam Ja’far al-Sadiq as bahwa Al-Qur’an memiliki zahir dan batin; ayat ini sering dibaca pada dua lapisan itu sekaligus. Menurut para mufasir tentang Qur’an, ada beberapa lapisan makna yang sering disebut:
Makna Menurut Mufasir
1. “Bukan dari keluargamu” berarti bukan dari keluarga iman
Al-Tabari memilih pendapat kuat bahwa putra Nuh tetap anak biologisnya, tetapi bukan termasuk keluarga yang dijanjikan selamat karena ia menolak iman.
2. Ahl di sini bermakna أهل الدين (keluarga agama)
Al-Qurtubi menekankan ikatan agama di sini lebih kuat daripada ikatan nasab.
3. Amal buruk mengeluarkan seseorang dari barisan orang saleh
Ayat ini menurut mufasir menunjukkan amal bukan sekadar perbuatan, tetapi penentu kedudukan spiritual.
4. Ada dua tafsir pada “إنه عمل غير صالح”
Sebagian mufasir menafsirkannya:
* Putra Nuh adalah pelaku amal tidak saleh.
* Atau (menurut sebagian riwayat tafsir), permohonan Nuh itu yang disebut “amal yang tidak patut.”
5. Ayat ini mendidik para nabi tentang adab bertanya
“Jangan meminta yang tidak engkau ketahui.” Ini dipahami sebagai pendidikan Ilahi, bukan celaan.
6. Janji Allah selalu bersyarat dengan iman
Para mufasir menjelaskan janji keselamatan untuk “ahl” mengandung syarat iman, bukan otomatis untuk semua kerabat.
7. Ujian terberat para nabi sering melalui keluarga. Kisah ini dibaca sebagai sunnatullah dalam dakwah.
8. Keselamatan terkait mengikuti safinah petunjuk
Banyak mufasir melihat bahtera Nuh sebagai lambang jalan keselamatan.
9. Nasab tanpa taqwa tidak cukup
Ini menjadi kaidah besar tafsir akhlaki.
10. Ayat ini memisahkan antara hubungan biologis dan hubungan ruhani. Inilah salah satu pelajaran terdalam dari ayat ini.
Menurut sebagian mufasir Ahlul Bayt. Allamah Tabataba’i dalam Al-Mizan menekankan bahwa penafian “ahl” di sini adalah penafian wilayah iman, bukan nasab biologis—sejalan dengan banyak mufasir klasik.
Kesimpulan Mufasir
* Ahl = keluarga iman
* Amal membentuk identitas batin
* Nasab tanpa iman tidak menyelamatkan
* Keselamatan terkait mengikuti petunjuk Allah
Menurut mufasir Ahlul Bayt, terutama dalam tafsir seperti Tafsir al-Mizan, Tafsir al-Qummi, dan riwayat tafsir dari Imam Muhammad al-Baqir as serta Imam Ja’far al-Sadiq as ayat ini memiliki makna-makna mendalam:
Makna Menurut Mufasir Ahlul Bayt;
1. “Ahl” adalah keluarga iman dan wilayah. Bukan semata keluarga darah, tetapi keluarga yang berhimpun dalam iman dan ketaatan.
2. Penafian itu penafian ruhani, bukan biologis. Putra Nuh tetap anaknya secara nasab, tetapi terputus dari keluarga keselamatan.
3. Amal menentukan nisbah batin manusia:”Innahu ‘amalun ghayru shalih” dipahami sebagai isyarat bahwa amal membentuk identitas ruhani.
4. Wilayah tanpa ketaatan tidak sempurna. Dalam corak tafsir Ahlul Bayt, kedekatan dengan jalan para nabi harus dibuktikan dengan amal.
5. Janji Allah kepada para nabi terkait orang beriman dari keluarganya. Yang dijanjikan selamat adalah keluarga yang berada dalam lingkaran iman.
6. Bahtera Nuh lambang safinah wilayah. Sebagian mufasir irfani Syiah melihat bahtera Nuh sebagai simbol jalur keselamatan Ilahi.
7. Ayat ini membedakan nasab tîn (tanah) dan nasab nûr (cahaya)
Ada keturunan jasmani, ada pula kekerabatan nurani.
8. Amal buruk menjadi hijab dari ahl al-bayt al-ma‘nawi
Seseorang bisa dekat lahiriah namun jauh secara hakikat.
9. Ujian Nuh adalah pendidikan tentang fana kehendak pribadi di hadapan hikmah Allah
Dalam bacaan irfani, ini maqam taslim.
10. Pengikut sejati nabi adalah keluarga batin beliau
Ini prinsip penting dalam tafsir wilayah Ahlul Bayt.
Isyarat dari Allamah Tabataba’i
Allamah Tabataba’i menekankan bahwa “dia bukan dari keluargamu” berarti keluar dari ahl yang dijanjikan keselamatan, bukan meniadakan nasabnya. Dimensi Wilayah
Sebagian arifin mengaitkan kisah Nuh dengan hadis Safinah: Perahu Nuh menyelamatkan dari banjir air, sedangkan safinah wilayah menyelamatkan dari banjir kesesatan. Di sini tampak hubungan simbolik dengan Ahlul Bayt.
Kesimpulan Mufasir Ahlul Bayt
* Ahl = أهل الولاية (keluarga wilayah)
* Amal menentukan kedekatan nurani
* Nasab tanpa iman tidak cukup
* Safinah = simbol petunjuk dan keselamatan
Menurut ahli ma‘rifat dan irfan, ayat Qur’an dibaca sangat batiniah. “Anak Nuh” dipahami bukan hanya sosok historis, tetapi juga simbol keadaan jiwa.
Makna Menurut Ahli Ma‘rifat
1. “Bukan dari keluargamu” berarti bukan dari keluarga cahaya (ahl al-nur)
Ahl sejati adalah mereka yang hidup dalam nur ketaatan, bukan sekadar hubungan lahir.
2. Anak Nuh melambangkan nafs yang menolak tunduk
Dalam bacaan simbolik, putra Nuh adalah ego yang enggan naik ke safinah keselamatan.
3. Bahtera Nuh adalah simbol suluk (perjalanan ruhani)
Siapa masuk bahtera petunjuk selamat dari taufan hawa nafsu.
4. “Amal yang tidak saleh” adalah hijab batin. Dosa bukan hanya pelanggaran, tetapi tirai yang menutup penyaksian Ilahi.
5. Nasab ruhani lebih tinggi dari nasab jasmani. Kekerabatan sejati ialah kesesuaian hati dengan kebenaran.
6. Gelombang banjir melambangkan lautan dunia dan ego. Tenggelamnya putra Nuh ditafsirkan sebagai tenggelam dalam waham diri.
7. Permohonan Nuh melambangkan kasih nabi, jawaban Allah melambangkan hakikat tajrid
Cinta harus tunduk kepada hikmah.
8. “Dia bukan dari keluargamu” adalah pemisahan antara ahl al-qalb dan ahl al-nafs.Yang mengikuti hati nurani masuk keluarga cahaya; yang mengikuti ego terpisah.
9. Amal membentuk wujud batin manusia. Dalam irfan, manusia kelak dibangkitkan menurut hakikat yang dibentuk amalnya.
10, Kisah ini isyarat bahwa keselamatan adalah naik ke safinah wilayah. Sebagian arifin menghubungkannya dengan jalan Ahlul Bayt sebagai safinah ma‘nawiyyah (bahtera spiritual).
Rahasia Ma‘rifat yang Dalam
Sebagian ahli irfan berkata:
* Nuh = ruh yang menyeru kepada Allah
* Anak Nuh = nafs yang membangkang
* Bahtera = wilayah dan ma‘rifah
* Banjir = dunia dan fitnah
* Gunung tempat berlindung = ketergantungan pada selain Allah
Saat putra Nuh berkata akan berlindung ke gunung, itu simbol orang yang mengira akal, kedudukan, atau kekuatan diri bisa menyelamatkan tanpa Allah.
Isyarat Hakikat; Ada rahasia lembut:
“Dia bukan dari keluargamu” bisa dibaca sebagai pesan bahwa segala yang bukan lahir dari nur ketaatan, bukan bagian dari rumah ruhani para nabi.
Menurut ahli hakikat dalam tradisi irfan Ahlul Bayt, ayat Qur’an mengandung isyarat yang sangat dalam. Mereka membaca kisah ini bukan hanya sejarah Nabi Nuh, tetapi drama ruh manusia.
Makna Menurut Ahli Hakikat Ahlul Bayt
1. “Ahl” adalah ahl al-wilayah (keluarga wilayah)
Keluarga sejati para nabi adalah mereka yang masuk lingkaran cahaya wilayah, bukan sekadar nasab.
2. Putra Nuh melambangkan nafs yang menolak imamah batin
Ia simbol ego yang enggan menaiki safinah petunjuk.
3. Bahtera Nuh adalah lambang Safinah al-Wilayah
Dalam bacaan hakikat, bahtera bukan hanya kapal fisik, tetapi jalan keselamatan ruhani.
4. “Innahu ‘amalun ghayru shalih” berarti amal membentuk ontologi batin. Amal buruk bukan hanya dosa; ia mengubah bentuk batin manusia.
5. Banjir adalah lautan kegelapan dunia materi. Siapa tanpa wilayah tenggelam dalam ombak multiplicity (katsrah).
6. Gunung yang diandalkan putra Nuh adalah simbol ego dan akal yang terpisah dari wahyu
Berlindung pada “gunung” berarti bersandar pada diri, bukan Tuhan.
7. Penafian “bukan keluargamu” adalah pemisahan nur dan zulmah
Ada nasab tanah, ada nasab cahaya.
8. Nuh melambangkan akal kenabian, anaknya melambangkan jiwa yang membangkang
Ini juga dibaca sebagai drama internal dalam diri manusia.
9. Safinah Nuh berisyarat kepada safinah Ahlul Bayt
Sebagian arifin menghubungkannya dengan hadis safinah: siapa naik selamat, siapa tertinggal tenggelam.
10. Hakikat keselamatan adalah fana dalam petunjuk Ilahi
Selamat bukan hanya lolos azab, tetapi masuk dalam samudra tauhid.
Rahasia Hakikat (Isyarat Batin)
Sebagian ahli irfan merumuskan simbol-simbolnya:
* Nuh = ruh kenabian
* Putra Nuh = nafs ammārah
* Bahtera = wilayah
* Air bah = fitnah dunia
* Gunung = ilusi kemandirian ego
* Tenggelam = terhijab dari nur
Dalam bahasa hakikat:
“Dia bukan dari keluargamu” berarti:
Apa yang lahir dari nafs bukan dari rumah cahaya. Yang masuk rumah cahaya hanyalah yang lahir dari iman, wilayah, dan ma‘rifah.
Sebagian pembacaan irfani yang terinspirasi oleh Mulla Sadra dan Allamah Tabataba’i juga melihat ayat ini sebagai dalil bahwa amal menjelma menjadi hakikat wujud manusia.
Kisah dan ibrah yang sering dikaitkan dengan ayat Qur’an dan kisah Nabi Nuh عليه السلام:
1. Kisah Putra Nuh Menolak Naik Bahtera. Saat banjir datang, Nabi Nuh memanggil putranya naik ke bahtera, tetapi ia berkata akan berlindung di gunung. Gunung tak menyelamatkan; ombak memisahkan mereka.
Ibrah: jangan mengandalkan selain Allah.
2. Kisah Doa Seorang Ayah Nabi
Nuh memohon agar putranya diselamatkan karena ia keluarganya. Lalu Allah mengajarkan hakikat bahwa ikatan iman lebih tinggi dari darah. Ibrah: cinta harus tunduk pada hikmah Ilahi.
3. Kisah Bahtera sebagai Jalan Keselamatan.Di tengah taufan, yang selamat hanya yang masuk bahtera.
Ibrah: petunjuk Ilahi adalah bahtera keselamatan.
4. Kisah Gunung yang Gagal Menolong. Putra Nuh percaya gunung tinggi bisa melindunginya. Tetapi ombak Allah melampaui gunung. Ibrah: kekuatan dunia tak menyelamatkan tanpa Tuhan.
5. Kisah Ujian Nabi Melalui Keluarga. Sebagaimana Prophet Nuh diuji lewat anaknya, para nabi diuji lewat orang terdekat.
Ibrah: ujian terdalam sering datang dari yang dicintai.
6. Kisah tentang Nasab dan Iman
Para mufasir sering menjadikan kisah ini contoh bahwa keturunan mulia tak otomatis menyelamatkan.
Ibrah: kemuliaan sejati adalah taqwa.
7. Kisah Safinah (Perahu) sebagai Simbol Wilayah
Dalam riwayat dan tafsir irfani, bahtera Nuh menjadi lambang jalan keselamatan spiritual.
Ibrah: masuk “bahtera petunjuk” adalah keselamatan batin.
8. Kisah Orang yang Menunda Taubat. Sebagian ahli hikmah membaca putra Nuh sebagai simbol orang yang menunda kembali kepada Allah sampai terlambat.
Ibrah: jangan menunda taubat.
9. Kisah Laut sebagai Ujian Jiwa
Dalam kisah-kisah sufi, banjir Nuh diibaratkan gelombang hawa nafsu; yang selamat adalah yang berpegang pada ma‘rifah.
Ibrah: perjuangan batin adalah bahtera.
10. Kisah Keluarga Ruhani Para Nabi. Dalam pandangan Ahlul Bayt, keluarga sejati para nabi adalah pengikut setia mereka.
Ibrah: menjadi “ahl” para nabi dicapai dengan iman dan amal.
Ringkasan Rahasia Kisah Ini
* Bahtera = petunjuk
* Banjir = fitnah dunia
* Gunung = ilusi sandaran selain Allah
* Putra Nuh = nafs yang enggan tunduk
* Keselamatan = masuk jalan kebenaran
Manfaat (fadhilah tadabbur) dari ayat Qur’an beserta doa yang terinspirasi darinya. (Sebagai catatan, ini manfaat spiritual dari perenungan ayat, bukan klaim otomatis/fixed reward yang dinisbatkan sebagai hadis khusus.)
1. Menanamkan bahwa iman lebih utama daripada nasab
Mendidik hati agar menilai dengan taqwa, bukan sekadar hubungan lahir.
2. Menguatkan sikap tawakal
Kisah bahtera mengajarkan hanya perlindungan Allah yang sejati.
3. Menumbuhkan muraqabah terhadap amal
Karena amal membentuk kedekatan ruhani.
4. Menjadi peringatan agar tidak bergantung pada identitas semata
Bukan nama, keturunan, atau klaim yang menyelamatkan.
5. Mengajarkan adab dalam berdoa. Berdoa dengan penyerahan kepada hikmah Allah.
6. Menguatkan kesabaran menghadapi ujian keluarga
Ayat ini menjadi penghibur bagi yang diuji melalui orang terdekat.
7. Menumbuhkan rasa butuh kepada safinah petunjuk
Dalam bacaan maknawi: berpegang pada jalan para nabi dan Ahlul Bayt.
8. Membersihkan hati dari ketergantungan pada “gunung-gunung dunia”
Yakni sandaran palsu selain Allah.
9. Mendorong taubat sebelum datang “banjir” ujian
Agar tidak terlambat kembali.
10. Membuka tadabbur tentang keluarga ruhani para nabi
Siapa yang mengikuti jalan mereka termasuk ahl secara maknawi.
Doa Terinspirasi dari Makna Ayat
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَهْلِ الإِيمَانِ وَالسَّفِينَةِ، وَلَا تَجْعَلْنِي مِمَّنْ يَعْتَمِدُ عَلَى غَيْرِكَ، وَنَجِّنِي مِنْ طُوفَانِ النَّفْسِ وَفِتَنِ الدُّنْيَا، وَثَبِّتْنِي عَلَى وِلَايَةِ أَوْلِيَائِكَ.
Allahumma-j‘alnī min ahlil-īmān was-safīnah, wa lā taj‘alnī mimman ya‘tamidu ‘alā ghayrik, wa najjinī min ṭūfānin-nafs wa fitanid-dunyā, wa thabbitnī ‘alā wilāyati awliyā’ika.
Ya Allah, jadikan aku termasuk keluarga iman dan bahtera keselamatan; jangan jadikan aku termasuk yang bersandar pada selain-Mu; selamatkan aku dari banjir nafsu dan fitnah dunia; dan teguhkan aku di atas wilayah para kekasih-Mu.
Doa Pendek dari Isyarat Ayat
رَبِّ أَدْخِلْنِي سَفِينَةَ نَجَاتِكَ
Rabbi adkhilnī safīnata najātik.
“Tuhanku, masukkan aku ke bahtera keselamatan-Mu.”
Sholat dan Doa untuk Anak
Sholat hadiah buat anak ini terdiri dari 4 (empat) rakaat dengan dua salam, masing-masing dua rakaat, serupa dengan shalat shubuh, dengan niat untuk anak:
Sholat pertama:
1. Pada rakaat pertama, setelah al-Fatihah baca ayat berikut sebanyak 10 kali:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
robbanâ waj’alnâ muslimaini laka, wamin dzurriyya-tinâ ummatan muslimatan laka, wa arinâ manâsikanâ watub ’ alainâ innaka antat tawwâ-burrohim
Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:128)
2. Pada rakaat kedua, setelah membaca surah Al-Fatihah baca kedua ayat berikut sebanyak 10 kali:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
robbij’alnî muqîmash-sholati, wa min dzur riyatî robbanâ wataqobbal du‘â-i, robba nagh-firlî wa liwâ-lidayya walil mukminî-na yauma yaqûmul hisâb
Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Rabb kami, perkenankan do'aku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. 14: 40- 41)
Sholat Kedua:
1. Rakaat pertama, setelah membaca surah Al-Fatihah baca doa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
robbanâ hablanâ min azwâjinâ wa dzurriy yâtinâ qurrota a’yunin waj’alnâ lil muttaqî na imâmâ
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)
2. Rakaat kedua, sesudah membaca surah Al-Fatihah baca doa:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
robî awzi’nî an-asykuro ni’matakal-latî an ’amta ‘alayya, wa-‘alâ wâlidayya wa-an a’mala shôlihan tardhôhu, wa-aslih-lî fî dzurriyyatî, innî tubtu ilaika, wa-innî minal muslimîna
Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyu-kuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi; berilah kebaikan kepada-ku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. 46:15)
3. Setelah salam berdoa kembali dengan membaca 10 kali:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
robbanâ hablanâ min azwâjinâ wa dzurriy yâtinâ qurrota a’yunin waj’alnâ lil muttaqî na imâmâ
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74).
Doa Setiap Habis Shalat Wajib
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Robbi hablî milladunka dzurriyyatan thoyyi batan innaka samî’ud du’â
“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do'a". (QS. 3:38)
Doa ini dibaca 7 kali setiap habis shalat wajib, Insyaallah akan menjadikan anak-anak kita, anak-anak yang sholeh dan taat.
Diriwayatkan Bahwa Imam Ja’far Shodiq as setiap malam melakukan shalat untuk anaknya dan untuk kedua orang tuanya sebanyak dua raka’at, pada raka’at pertama setelah Fatihah membaca surat Al-Qodr, dan pada raka’at kedua setelah fatihah membaca surat Al-Kautsar. (Al-Wasail, 2: 445)
Doa Untuk Anak
Doa ini dikutip dari Shohifah As-Sajjadiyah (Kumpulan Doa Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad) Doa ke-25. Doa Imam a.s. untuk Anak-anaknya
Ini adalah doa yang sangat panjang (bagian dari Al-Sahifa al-Sajjadiyya, dikenal sebagai doa untuk anak dan keturunan dari Ali ibn Husayn Zayn al-Abidin). Karena sangat panjang, agar rapi saya mulai bagian pertama per kalimat: Arab — transliterasi — terjemah, lalu bisa saya lanjutkan bertahap.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
اَللّٰهُمَّ وَ مُنَّ عَلَىَّ
Allāhumma wa munna ‘alayya
Ya Allah, limpahkanlah karunia-Mu kepadaku.
بِبَقَاءِ وُلْدِي
Bibaqā’i wuldī
Dengan keberlangsungan hidup anak-anakku.
وَ بِإِصْلَاحِهِمْ لِي
Wa bi-iṣlāḥihim lī
Dan dengan memperbaiki mereka demi kebaikanku.
وَ بِإِمْتَاعِي بِهِمْ
Wa bi-imtā‘ī bihim
Dan dengan memberiku kenikmatan melalui mereka.
إِلٰهِي
Ilāhī
Wahai Tuhanku.
اُمْدُدْ لِي فِي أَعْمَارِهِمْ
Umdud lī fī a‘mārihim
Panjangkanlah umur mereka untukku.
وَ زِدْ لِي فِي آجَالِهِمْ
Wa zid lī fī ājālihim
Dan tambahkan keberkahan dalam usia mereka.
وَ رَبِّ لِي صَغِيرَهُمْ
Wa rabbi lī ṣaghīrahum
Dan asuhlah anak-anak mereka yang kecil bagiku.
وَ قَوِّ لِي ضَعِيفَهُمْ
Wa qawwi lī ḍa‘īfahum
Dan kuatkan yang lemah di antara mereka bagiku.
وَ أَصِحَّ لِي أَبْدَانَهُمْ وَ أَدْيَانَهُمْ وَ أَخْلَاقَهُمْ
Wa aṣiḥḥa lī abdānahum wa adyānahum wa akhlāqahum
Sehatkan tubuh mereka, agama mereka, dan akhlak mereka untukku.
وَ عَافِهِمْ فِي أَنْفُسِهِمْ وَ فِي جَوَارِحِهِمْ
Wa ‘āfihim fī anfusihim wa fī jawāriḥihim
Karuniakan keselamatan pada diri dan anggota tubuh mereka.
وَ فِي كُلِّ مَا عُنِيتُ بِهِ مِنْ أَمْرِهِمْ
Wa fī kulli mā ‘unītu bihi min amrihim
Dan pada segala urusan mereka yang menjadi perhatianku.
وَ أَدْرِرْ لِي وَ عَلَى يَدَيَّ أَرْزَاقَهُمْ
Wa adrir lī wa ‘alā yadayya arzāqahum
Limpahkan rezeki mereka untukku dan melalui tanganku.
وَ اجْعَلْهُمْ أَبْرَارًا أَتْقِيَاءَ بُصَرَاءَ
Waj‘alhum abrāran atqiyā’a buṣarā’a
Jadikan mereka orang-orang saleh, bertakwa, dan memiliki bashirah.
سَامِعِينَ مُطِيعِينَ لَكَ
Sāmi‘īna muṭī‘īna laka
Yang mendengar dan taat kepada-Mu.
وَ لِأَوْلِيَائِكَ مُحِبِّينَ مُنَاصِحِينَ
Wa li-awliyā’ika muḥibbīna munāṣiḥīn
Mencintai dan tulus terhadap para wali-Mu.
وَ لِجَمِيعِ أَعْدَائِكَ مُعَانِدِينَ وَ مُبْغِضِينَ
Wa lijamī‘i a‘dā’ika mu‘ānidīna wa mubghiḍīn
Dan menentang serta membenci seluruh musuh-musuh-Mu.
آمِينَ
Āmīn
Kabulkanlah.
اَللّٰهُمَّ اشْدُدْ بِهِمْ عَضُدِي
Allāhumma-shdud bihim ‘aḍudī
Ya Allah, kuatkanlah lenganku dengan mereka.
وَ أَقِمْ بِهِمْ أَوَدِي
Wa aqim bihim awadī
Tegakkanlah kekuranganku dengan mereka.
وَ كَثِّرْ بِهِمْ عَدَدِي
Wa kaththir bihim ‘adadī
Perbanyaklah jumlahku melalui mereka.
وَ زَيِّنْ بِهِمْ مَحْضَرِي
Wa zayyin bihim maḥḍarī
Hiasilah kehadiranku dengan mereka.
وَ أَحْيِ بِهِمْ ذِكْرِي
Wa aḥyi bihim dhikrī
Hidupkan namaku melalui mereka.
وَاكْفِنِي بِهِمْ فِي غَيْبَتِي
Wakfinī bihim fī ghaybatī
Cukupkan urusanku melalui mereka saat aku tiada.
وَ أَعِنِّي بِهِمْ عَلٰى حَاجَتِي
Wa a‘innī bihim ‘alā ḥājatī
Tolonglah aku melalui mereka dalam kebutuhanku.
وَاجْعَلْهُمْ لِي مُحِبِّينَ
Waj‘alhum lī muḥibbīn
Jadikan mereka mencintaiku.
وَ عَلَيَّ حَدِبِينَ مُقْبِلِينَ
Wa ‘alayya ḥadibīna muqbilīn
Penuh kasih dan berpaling mendekat kepadaku.
مُسْتَقِيمِينَ لِي مُطِيعِينَ
Mustaqīmīna lī muṭī‘īn
Lurus dan taat kepadaku.
غَيْرَ عَاصِينَ وَ لَا عَاقِّينَ
Ghayra ‘āṣīna wa lā ‘āqqīn
Tidak durhaka dan tidak membangkang.
وَ لَا مُخَالِفِينَ وَ لَا خَاطِئِينَ
Wa lā mukhālifīna wa lā khāṭi’īn
Tidak menentang dan tidak tersalah jalan.
وَ أَعِنِّي عَلٰى تَرْبِيَتِهِمْ وَ تَأْدِيبِهِمْ وَ بِرِّهِمْ
Wa a‘innī ‘alā تربيتهم وتأديبهم وبرهم
Tolong aku dalam mendidik, membina adab, dan berbuat baik kepada mereka.
وَ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ مَعَهُمْ أَوْلَادًا ذُكُورًا
Wa hab lī min ladunka ma‘ahum awlādan dhukūrā
Anugerahkan kepadaku dari sisi-Mu bersama mereka anak-anak keturunan.
وَاجْعَلْ ذٰلِكَ خَيْرًا لِي
Waj‘al dhālika khayran lī
Jadikan itu semua kebaikan bagiku.
وَاجْعَلْهُمْ لِي عَوْنًا عَلٰى مَا سَأَلْتُكَ
Waj‘alhum lī ‘awnan ‘alā mā sa’altuka
Jadikan mereka penolong bagiku dalam apa yang aku mohonkan kepada-Mu.
وَ أَعِذْنِي وَ ذُرِّيَّتِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Wa a‘idhnī wa dhurriyyatī mina-shshayṭānir-rajīm
Lindungilah aku dan keturunanku dari setan yang terkutuk.
فَإِنَّكَ خَلَقْتَنَا وَ أَمَرْتَنَا وَ نَهَيْتَنَا
Fa innaka khalaqtanā wa amartanā wa nahaytanā
Sungguh Engkau telah menciptakan kami, memerintah kami, dan melarang kami.
وَ رَغَّبْتَنَا فِي ثَوَابِ مَا أَمَرْتَنَا
Wa raghghabtanā fī thawābi mā amartanā
Engkau mendorong kami kepada pahala atas apa yang Kauperintahkan.
وَ رَهَّبْتَنَا عِقَابَهُ
Wa rahhabtana ‘iqābahu
Dan memperingatkan kami dari hukumannya.
وَجَعَلْتَ لَنَا عَدُوًّا يَكِيدُنَا
Wa ja‘alta lanā ‘aduwwan yakīdunā
Dan Engkau jadikan bagi kami musuh yang selalu berusaha menipu kami.
سَلَّطْتَهُ مِنَّا عَلٰى مَا لَمْ تُسَلِّطْنَا عَلَيْهِ مِنْهُ
Sallaṭtahu minnā ‘alā mā lam tusalliṭnā ‘alayhi minhu
Engkau memberi dia kekuasaan atas kami dalam hal yang tidak Engkau berikan kami kuasa atas dirinya.
أَسْكَنْتَهُ صُدُورَنَا
Askantahu ṣudūranā
Engkau jadikan ia bersemayam dalam dada-dada kami.
وَ أَجْرَيْتَهُ مَجَارِيَ دِمَائِنَا
Wa ajraytahu majāriya dimā’inā
Dan Engkau biarkan ia mengalir pada jalur darah kami.
لَا يَغْفُلُ إِنْ غَفَلْنَا
Lā yaghfulu in ghafalnā
Ia tidak lalai ketika kami lalai.
وَ لَا يَنْسَى إِنْ نَسِينَا
Wa lā yansā in nasīnā
Dan ia tidak lupa ketika kami lupa.
يُؤْمِنُنَا عِقَابَكَ
Yu’minunā ‘iqābaka
Ia membuat kami merasa aman dari azab-Mu.
وَ يُخَوِّفُنَا بِغَيْرِكَ
Wa yukhawwifunā bighayrika
Dan menakut-nakuti kami dengan selain-Mu.
إِنْ هَمَمْنَا بِفَاحِشَةٍ شَجَّعَنَا عَلَيْهَا
In hamamnā bifāḥishatin shajja‘anā ‘alayhā
Jika kami berniat pada keburukan, ia mendorong kami melakukannya.
وَ إِنْ هَمَمْنَا بِعَمَلٍ صَالِحٍ ثَبَّطَنَا عَنْهُ
Wa in hamamnā bi‘amalin ṣāliḥin thabbaṭanā ‘anhu
Jika kami berniat pada amal saleh, ia melemahkan kami darinya.
يَتَعَرَّضُ لَنَا بِالشَّهَوَاتِ
Yata‘arraḍu lanā bish-shahawāt
Ia menghadang kami melalui syahwat-syahwat.
وَ يَنْصِبُ لَنَا بِالشُّبُهَاتِ
Wa yanṣibu lanā bish-shubuhāt
Dan memasang jebakan bagi kami dengan syubhat.
إِنْ وَعَدَنَا كَذَبَنَا
In wa‘adanā kadhabanā
Jika ia berjanji, ia berdusta kepada kami.
وَ إِنْ مَنَّانَا أَخْلَفَنَا
Wa in mannānā akhlafanā
Jika ia memberi angan-angan, ia mengingkarinya.
وَ إِلَّا تَصْرِفْ عَنَّا كَيْدَهُ يُضِلُّنَا
Wa illā taṣrif ‘annā kaydahu yuḍillunā
Jika Engkau tidak palingkan tipu dayanya dari kami, ia menyesatkan kami.
وَ إِلَّا تَقِنَا خَبَالَهُ يَسْتَزِلَّنَا
Wa illā taqinā khabālahu yastazillanā
Jika Engkau tidak melindungi kami dari kerusakannya, ia akan menggelincirkan kami.
اَللّٰهُمَّ فَاقْهَرْ سُلْطَانَهُ عَنَّا بِسُلْطَانِكَ
Allāhumma faqhar sulṭānahu ‘annā bisulṭānik
Ya Allah, tundukkan kekuasaannya atas kami dengan kekuasaan-Mu.
حَتّٰى تَحْبِسَهُ عَنَّا بِكَثْرَةِ الدُّعَاءِ لَكَ
Ḥattā taḥbisahu ‘annā bikathrati-ddu‘ā’i lak
Hingga Engkau menahannya dari kami melalui banyaknya doa kepada-Mu.
فَنُصْبِحَ مِنْ كَيْدِهِ فِي الْمَعْصُومِينَ بِكَ
Fanuṣbiḥa min kaydihi fil-ma‘ṣūmīna bik
Sehingga kami termasuk yang terlindungi dari tipu dayanya dengan penjagaan-Mu.
اَللّٰهُمَّ أَعْطِنِي كُلَّ سُؤْلِي
Allāhumma a‘ṭinī kulla su’lī
Ya Allah, berilah aku seluruh permohonanku.
وَاقْضِ لِي حَوَائِجِي
Waqḍi lī ḥawā’ijī
Penuhilah segala kebutuhanku.
وَ لَا تَمْنَعْنِيَ الْإِجَابَةَ وَ قَدْ ضَمِنْتَهَا لِي
Wa lā tamna‘nī al-ijābah wa qad ḍamintahā lī
Jangan halangi pengabulan doaku, padahal Engkau telah menjaminnya bagiku.
وَ لَا تَحْجُبْ دُعَائِي عَنْكَ وَ قَدْ أَمَرْتَنِي بِهِ
Wa lā taḥjub du‘ā’ī ‘anka wa qad amartanī bih
Jangan halangi doaku sampai kepada-Mu, padahal Engkau memerintahkanku berdoa.
وَامْنُنْ عَلَيَّ بِكُلِّ مَا يُصْلِحُنِي فِي دُنْيَايَ وَ آخِرَتِي
Wamnun ‘alayya bikulli mā yuṣliḥunī fī dunyāya wa ākhiratī
Karuniakan padaku segala yang memperbaiki urusanku di dunia dan akhirat.
مَا ذَكَرْتُ مِنْهُ وَ مَا نَسِيتُ
Mā dhakartu minhu wa mā nasītu
Baik yang aku sebutkan maupun yang aku lupakan.
أَوْ أَظْهَرْتُ أَوْ أَخْفَيْتُ
Aw aẓhartu aw akhfaytu
Yang kutampakkan ataupun kusembunyikan.
أَوْ أَعْلَنْتُ أَوْ أَسْرَرْتُ
Aw a‘lantu aw asrartu
Yang kunyatakan terang-terangan ataupun yang kurahasiakan.
وَاجْعَلْنِي فِي جَمِيعِ ذٰلِكَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ بِسُؤَالِي إِيَّاكَ
Waj‘alnī fī jamī‘i dhālika mina-l-muṣliḥīna bisu’ālī iyyāk
Jadikan aku dalam semua itu termasuk orang-orang yang diperbaiki karena permohonanku kepada-Mu.
الْمُنْجِحِينَ بِالطَّلَبِ إِلَيْكَ
Al-munjihīna biṭ-ṭalabi ilayk
Termasuk orang-orang yang berhasil karena memohon kepada-Mu.
غَيْرِ الْمَمْنُوعِينَ بِالتَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
Ghayri-l-mamnū‘īna bit-tawakkuli ‘alayk
Yang tidak terhalangi karena bertawakal kepada-Mu.
الْمُعَوَّدِينَ بِالتَّعَوُّذِ بِكَ
Al-mu‘awwadhīna bitta‘awwudhi bik
Yang terbiasa berlindung kepada-Mu.
الرَّابِحِينَ فِي التِّجَارَةِ عَلَيْكَ
Ar-rābiḥīna fī-t-tijārah ‘alayk
Yang beruntung dalam “perniagaan” dengan-Mu.
الْمُجَارِينَ بِعِزِّكَ
Al-mujārīna bi‘izzik
Yang mendapat perlindungan dengan kemuliaan-Mu.
الْمُوَسَّعِ عَلَيْهِمُ الرِّزْقُ الْحَلَالُ مِنْ فَضْلِكَ الْوَاسِعِ
Al-muwassa‘i ‘alayhimu-r-rizqu-l-ḥalālu min faḍlika-l-wāsi‘
Yang dilapangkan rezeki halal dari karunia-Mu yang luas.
بِجُودِكَ وَ كَرَمِكَ
Bijūdika wa karamika
Dengan kemurahan dan kemuliaan-Mu.
الْمُعَزِّينَ مِنَ الذُّلِّ بِكَ
Al-mu‘azzīna mina-dh-dhulli bik
Yang dimuliakan dari kehinaan melalui-Mu.
وَ الْمُجَارِينَ مِنَ الظُّلْمِ بِعَدْلِكَ
Wal-mujārīna mina-ẓ-ẓulmi bi‘adlik
Yang dilindungi dari kezaliman dengan keadilan-Mu.
وَ الْمُعَافِينَ مِنَ الْبَلَاءِ بِرَحْمَتِكَ
Wal-mu‘āfīna mina-l-balā’i biraḥmatik
Yang diselamatkan dari bala dengan rahmat-Mu.
وَ الْمُغْنِينَ مِنَ الْفَقْرِ بِغِنَاكَ
Wal-mughnīna mina-l-faqri bighināk
Yang dicukupkan dari kefakiran dengan kekayaan-Mu.
وَ الْمَعْصُومِينَ مِنَ الذُّنُوبِ وَ الزَّلَلِ وَ الْخَطَأِ بِتَقْوَاكَ
Wal-ma‘ṣūmīna mina-dh-dhunūbi waz-zalali wal-khaṭa’i bitaqwāk
Yang dijaga dari dosa, tergelincir, dan kesalahan dengan takwa dari-Mu.
وَ الْمُوَفَّقِينَ لِلْخَيْرِ وَ الرُّشْدِ وَ الصَّوَابِ بِطَاعَتِكَ
Wal-muwaffaqīna lil-khayri war-rushdi waṣ-ṣawābi biṭā‘atik
Yang diberi taufik kepada kebaikan, petunjuk, dan kebenaran melalui ketaatan kepada-Mu.
وَ الْمُحَالِ بَيْنَهُمْ وَ بَيْنَ الذُّنُوبِ بِقُدْرَتِكَ
Wal-muḥāli baynahum wa bayna-dh-dhunūbi biqudratik
Dan orang-orang yang Engkau halangi antara mereka dan dosa-dosa dengan kuasa-Mu.
التَّارِكِينَ لِكُلِّ مَعْصِيَتِكَ
At-tārikīna likulli ma‘ṣiyatik
Yang meninggalkan seluruh maksiat kepada-Mu.
السَّاكِنِينَ فِي جِوَارِكَ
As-sākinīna fī jiwārik
Yang tinggal dalam lindungan dan kedekatan-Mu.
اَللّٰهُمَّ أَعْطِنَا جَمِيعَ ذٰلِكَ بِتَوْفِيقِكَ وَ رَحْمَتِكَ
Allāhumma a‘ṭinā jamī‘a dhālika bitawfīqika wa raḥmatik
Ya Allah, anugerahkan kepada kami semua itu dengan taufik dan rahmat-Mu.
وَ أَعِذْنَا مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ
Wa a‘idhnā min ‘adhābi-s-sa‘īr
Dan lindungilah kami dari azab neraka yang menyala.
وَ أَعْطِ جَمِيعَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِينَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ
Wa a‘ṭi jamī‘a-l-muslimīna wal-muslimāt wal-mu’minīna wal-mu’mināt
Dan berikan kepada seluruh muslimin, muslimat, mukminin, dan mukminat—
مِثْلَ الَّذِي سَأَلْتُكَ لِنَفْسِي وَ لِوُلْدِي
Mithla-lladhī sa’altuka linafsī wa liwuldī
Seperti yang kupinta untuk diriku dan anak keturunanku.
فِي عَاجِلِ الدُّنْيَا وَ آجِلِ الْآخِرَةِ
Fī ‘ājili-d-dunyā wa ājili-l-ākhirah
Di dunia yang segera ini dan di akhirat kelak.
إِنَّكَ قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Innaka qarībun mujīb
Sungguh Engkau Mahadekat, Maha Mengabulkan.
سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Samī‘un ‘Alīm
Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
عَفُوٌّ غَفُورٌ
‘Afuwwun Ghafūr
Maha Pemaaf, Maha Pengampun.
رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
Ra’ūfun Raḥīm
Maha Pengasih, Maha Penyayang.
وَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
Wa ātinā fī-d-dunyā ḥasanah
Dan berilah kami kebaikan di dunia.
وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
Wa fi-l-ākhirati ḥasanah
Dan kebaikan di akhirat.
وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
Wa qinā ‘adhāba-n-nār
Dan lindungilah kami dari azab neraka.
Semoga bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment