Makna; Takbir Idul Adha
Hari Raya Idul Adha (Qurban)
Hari kesepuluh bulan Zulhijjah adalah hari ‘Id al-Adha (Hari Raya Qurban). Sejumlah amalan diriwayatkan untuk dilakukan pada hari mulia ini, yaitu sebagai berikut:
Pertama: Sangat dianjurkan mandi pada hari ini. Bahkan sebagian ulama memandangnya sebagai kewajiban.
Kedua: Melaksanakan Salat ‘Id sebagaimana dijelaskan pada amalan Hari Raya Idul Fitri. Namun pada tanggal sepuluh Zulhijjah, dianjurkan berbuka setelah melaksanakan Salat ‘Id, dan dianjurkan makan dari daging hewan qurban.
Ketiga: Dianjurkan membaca doa-doa yang diriwayatkan sebelum dan sesudah Salat ‘Id. Doa-doa tersebut disebutkan dalam kitab Iqbal al-A’mal. Di antara doa yang paling penting adalah doa ke-48 dari Al-Sahifah al-Kamilah al-Sajjadiyyah yang dimulai dengan:”Allahumma hadza yaumun mubarak…”
“Ya Allah, ini adalah hari yang penuh keberkahan…”
Juga dianjurkan membaca doa ke-46 dari kitab yang sama yang dimulai dengan: “Ya man yarhamu man la yarhamuhul ‘ibad…”Wahai Dia yang menyayangi orang yang tidak disayangi oleh para hamba…”
Keempat:
Dianjurkan membaca Doa Nudbah.
Kelima: “Sangat dianjurkan berqurban, yaitu menyembelih hewan qurban.
Keenam: Bagi orang yang berada di Mina, dianjurkan membaca takbir-takbir berikut sebanyak lima belas kali setelah lima belas salat wajib, dimulai dari salat Zuhur Hari Raya Idul Adha hingga salat Subuh tanggal tiga belas Zulhijjah.
Adapun bagi yang berada di selain Mina, dianjurkan membacanya sepuluh kali setelah sepuluh salat wajib, dimulai dari salat Zuhur Hari Raya Idul Adha hingga salat Subuh tanggal dua belas Zulhijjah.
Takbir tersebut, berdasarkan riwayat sahih dalam kitab Al-Kafi adalah:
اَللّٰهُ اَكْبَرُ اَللّٰهُ اَكْبَرُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ
وَاللّٰهُ اَكْبَرُ اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
وَاللّٰهُ اَكْبَرُ عَلٰى مَا هَدَانَا
اَللّٰهُ اَكْبَرُ عَلٰى مَا رَزَقَنَا مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا اَبْلَانَا
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
Tiada Tuhan selain Allah.
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
Segala puji bagi Allah. Allah Maha Besar atas petunjuk yang Dia berikan kepada kami. Allah Maha Besar atas rezeki berupa hewan ternak yang Dia karuniakan kepada kami.
Dan segala puji bagi Allah atas segala ujian dan nikmat yang Dia berikan kepada kami.
Dianjurkan mengulang takbir-takbir ini sebanyak mungkin setelah salat wajib maupun salat sunnah.
Makrifat dan Hikmahnya
1. Hari Qurban adalah Hari Kedekatan kepada Allah
Kata “Qurban” berasal dari akar kata qurb yang berarti “dekat”. Hakikat qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, hawa nafsu, kesombongan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia agar hati semakin dekat kepada Allah.
2. Mandi Idul Adha adalah Penyucian Lahir dan Batin
Mandi pada hari raya melambangkan:membersihkan jasad dari kotoran, dan membersihkan ruh dari dosa serta kelalaian.
Ahli makrifat memandang mandi Id sebagai simbol memasuki “jamuan Ilahi” dengan kesucian hati.
3. Salat ‘Id adalah Pertemuan Ruhani; Salat ‘Id bukan hanya ibadah berjamaah, tetapi:
* deklarasi tauhid,
* syukur atas hidayah,
* dan perjumpaan ruhani dengan Allah.
Pada Hari Raya Qurban, seorang mukmin berdiri seperti Nabi Ibrahim as berdiri di hadapan perintah Allah tanpa keraguan.
4. Makan dari Daging Qurban
Makrifatnya:
* manusia tidak boleh merasa suci dengan ibadahnya sendiri,
* karena nikmat Allah kembali kepada manusia sendiri.
Qurban juga mengajarkan berbagi:
* kepada fakir,
* keluarga,
* dan masyarakat.
Sehingga cinta kepada sesama menjadi bagian dari cinta kepada Allah.
5. Doa-doa Idul Adha Membuka Kesadaran Ruhani
Doa-doa dari Imam Zain al-Abidin as dipenuhi pengakuan:
* kelemahan hamba,
* kasih sayang Allah,
* dan kebutuhan total manusia kepada-Nya.
Hari raya dalam pandangan Ahlul Bayt bukan sekadar kegembiraan lahiriah, tetapi momentum kembali kepada Allah dengan hati yang tunduk.
6. Takbir-Takbir Tasyriq
Takbir-takbir setelah salat memiliki rahasia besar: “Allahu Akbar”
Segala sesuatu selain Allah kecil:
* harta kecil,
* dunia kecil,
* ego kecil,
* bahkan diri kita sendiri kecil di hadapan Keagungan-Nya.
“La ilaha illallah”
Qurban sejati adalah memotong segala “berhala batin”:
* kesombongan,
* riya,
* cinta dunia,
* dan ketergantungan selain Allah.
“Allahu Akbar ‘ala ma hadana”
Hidayah adalah nikmat terbesar.
Bukan sekadar hidup, tetapi mengenal Allah dan berjalan menuju-Nya.
“Allahu Akbar ‘ala ma razaqana min bahimatil an‘am”
Hewan qurban adalah simbol:
* nafsu hewani,
* sifat kebinatangan,
* dan dorongan rendah manusia.
Menyembelih hewan menjadi lambang menyembelih nafsu demi Allah.
7. Mina dalam Makrifat
Mina berasal dari makna “angan-angan dan harapan”. Di Mina:
* Nabi Ibrahim as mengorbankan kecintaan duniawi,
* Nabi Ismail as menyerahkan dirinya,
* dan seorang mukmin belajar menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.
8. Hakikat Hari Raya Menurut Ahlul Bayt. Dalam riwayat Ahlul Bayt:
Hari raya sejati adalah hari ketika manusia tidak bermaksiat kepada Allah. Jadi Idul Adha bukan sekadar pakaian baru atau jamuan makanan, tetapi:
* kemenangan atas nafsu,
* ketulusan penghambaan,
* dan kedekatan kepada Allah.
9. Qurban dan Imam Husain as
Ahli hakikat memandang bahwa:
* Nabi Ibrahim as mempersembahkan Ismail,
* namun pengorbanan sempurna tampak pada pengorbanan Imam Husayn ibn Ali as di Karbala.
Karena itu Idul Adha dan Karbala memiliki hubungan maknawi:
* pengorbanan,
* keikhlasan,
* dan penyerahan total kepada Allah.
10. Buah Ruhani Idul Adha
Orang yang memahami makrifat qurban akan memperoleh:
* hati yang lebih ikhlas,
* jiwa yang lebih tawakal,
* rasa syukur,
* kasih kepada sesama,
* dan kesadaran bahwa seluruh hidup adalah persembahan untuk Allah.
Makna Takbir Idul adha;
1, Takbir sebagai pengakuan keagungan mutlak Allah
Kalimat اَللّٰهُ اَكْبَرُ menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih besar daripada Allah; seluruh kekuatan, kekuasaan, kerajaan, dan keindahan makhluk menjadi kecil di hadapan-Nya.
2, Tauhid yang memurnikan hati
لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ adalah inti seluruh ibadah:
dan qurban: meniadakan segala sesembahan selain Allah, termasuk hawa nafsu, ego, dunia, dan ketergantungan selain-Nya.
3, Takbir sebagai maqam penyaksian (syuhud);Pengulangan اَللّٰهُ اَكْبَرُ memberi isyarat bahwa setiap kali seorang hamba mengenal Allah, ia sadar bahwa Allah masih lebih agung dari segala yang ia bayangkan.
4, Hamd sebagai adab seorang hamba; وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ mengajarkan bahwa seluruh pujian hakikatnya kembali kepada Allah; segala nikmat, keberhasilan, dan kebaikan berasal dari-Nya.
5, Hidayah adalah nikmat terbesar
وَاللّٰهُ اَكْبَرُ عَلٰى مَا هَدَانَا
menunjukkan bahwa petunjuk menuju iman, Islam, wilayah, ma’rifat, dan jalan Ahlul Bayt adalah karunia yang lebih besar daripada nikmat materi.
6, Qurban adalah simbol rezeki dari Allah
اَللّٰهُ اَكْبَرُ عَلٰى مَا رَزَقَنَا مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
mengingatkan bahwa hewan qurban bukan sekadar milik manusia, tetapi amanah dan rezeki dari Allah yang dikembalikan di jalan-Nya.
7, Makna hakikat qurban: menyembelih ego. Dalam dimensi makrifat, yang paling utama dikurbankan bukan hewan, tetapi sifat kebinatangan dalam diri: kesombongan, kerakusan, kemarahan, cinta dunia, dan keakuan.
8, Ujian hidup adalah jalan penyucian; وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَاۤ اَبْلَانَا bermakna memuji Allah atas segala ujian, karena bala dan cobaan dapat menjadi sarana penyucian jiwa dan pengangkat derajat.
9, Takbir Id menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ﷺ Bacaan ini menghidupkan ruh pengorbanan Nabi Ibrahim (as), ketundukan Nabi Ismail (as), dan kesempurnaan syariat Nabi Muhammad ﷺ dalam ibadah qurban dan hari raya.
10, Perjalanan dari takbir menuju syukur. Susunan dzikir ini dimulai dengan pengagungan Allah dan berakhir dengan pujian. Isyaratnya: siapa yang mengenal kebesaran Allah akan sampai pada maqam syukur, ridha, dan ketenangan hati.
Menurut Al-Quran;
1, Allah Maha Besar di atas segala sesuatu
Kalimat اَللّٰهُ اَكْبَرُ selaras dengan firman Allah bahwa hanya Dia pemilik kebesaran mutlak:
Al-Quran 17:111
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.
2, Tauhid adalah inti seluruh ibadah
لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ adalah inti dakwah seluruh nabi:
Al-Quran 21:25; وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
3, Seluruh pujian hanya milik Allah
وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” QS. Al-Fatihah 1:2
sesuai dengan pembukaan AlQur’an:
4, Hidayah adalah nikmat terbesar
عَلٰى مَا هَدَانَا
mengingatkan bahwa petunjuk berasal dari Allah:”Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menghiasinya dalam hatimu.”
QS. Al-Hujurat 49:7
5, Takbir setelah mendapat petunjuk. Bacaan takbir Id berkaitan langsung dengan ayat: Al-Quran 2:185: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ
عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
6, Hewan ternak adalah rezeki dan tanda kekuasaan Allah
مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
sesuai dengan firman-Nya: Al-Quran 16:5; وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ
فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ
Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.
7, Qurban dilakukan untuk Allah semata; Makna takbir ini sejalan dengan ayat: Al-Quran 108:2
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
8, Yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan; Al-Qur’an menegaskan hakikat qurban:
Al-Quran 22:37
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
9, Ujian hidup adalah sunnatullah
وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَاۤ اَبْلَانَا
berkaitan dengan ayat: Al-Quran 2:155 وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
10, Syukur atas nikmat dan ujian
Dzikir ini mengajarkan syukur dalam segala keadaan: Al-Quran 14:7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ
وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dan juga: Al-Quran 2:216 ; كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ
وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Menurut Hadis;
1, Takbir adalah amal paling agung di hari-hari mulia; Rasulullah ﷺ bersabda tentang hari-hari Zulhijjah: Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini. Para sahabat bertanya: “Termasuk jihad?”Beliau menjawab: “Termasuk jihad, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” Karena itu para sahabat memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil pada hari-hari tersebut.
Abdullah ibn Umar dan Abu Hurairah dikenal mengumandangkan takbir di pasar pada hari-hari Zulhijjah.
2, Takbir adalah syiar Idul Adha
Dalam banyak riwayat, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghidupkan malam dan hari raya dengan takbir. Takbir menjadi tanda pengagungan kepada Allah setelah ibadah besar seperti puasa dan qurban.
3, Tahlil adalah inti iman
Rasulullah ﷺ bersabda:”Ucapan terbaik yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ”
Ini menunjukkan bahwa لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ adalah inti seluruh risalah kenabian.
4, Tahmid membuka pintu syukur
Rasulullah ﷺ bersabda: Alhamdulillah memenuhi timbangan amal.”
Maknanya, وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ bukan sekadar pujian lisan, tetapi cahaya yang memenuhi amal seorang mukmin.
5, Hidayah adalah nikmat terbesar
Dalam hadis Ahlul Bayt disebutkan bahwa nikmat terbesar bukanlah dunia, tetapi petunjuk menuju Allah dan wilayah Ahlul Bayt. Imam Ja’far al-Sadiq as menjelaskan bahwa banyak ayat tentang nikmat hakikatnya merujuk pada nikmat wilayah dan ma’rifat.
6, Qurban adalah sunnah Nabi Ibrahim (as) Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang qurban bersabda: Ini adalah sunnah ayah kalian Ibrahim.”
Maka bacaan:
اَللّٰهُ اَكْبَرُ عَلٰى مَا رَزَقَنَا مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
mengingatkan hubungan ruhani antara qurban umat Muhammad ﷺ dengan pengorbanan Nabi Ibrahim (as) dan Nabi Ismail (as).
7, Allah melihat hati dan ketakwaan
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
Ini sejalan dengan hakikat qurban bahwa yang utama adalah ketakwaan dan keikhlasan.
8, Ujian adalah tanda perhatian Allah.
Dalam hadis disebutkan. “Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka.” Maka kalimat:
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَاۤ اَبْلَانَا
mengajarkan adab ridha terhadap ujian Ilahi.
9, Takbir melemahkan kesombongan jiwa.
Dalam riwayat tasawuf dan akhlak Islam, memperbanyak takbir membuat hati sadar bahwa manusia kecil di hadapan Allah; ia mematahkan ego dan rasa ujub.
10, Dzikir ini menggabungkan seluruh maqam ibadah. Dalam satu rangkaian terdapat:
* Takbir → pengagungan
* Tahlil → tauhid
* Tahmid → syukur
* Qurban → pengorbanan
* Bala → kesabaran dan ridha
Karena itu dzikir Id ini menjadi ringkasan perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Menurut Hadis Ahlul Bayt as
1, Takbir adalah syiar wilayah dan pengagungan Allah;
Diriwayatkan dari Imam Ali ibn Abi Talib as bahwa beliau memperbanyak takbir pada hari-hari tasyriq dan memandangnya sebagai syiar penghambaan kepada Allah setelah ibadah qurban dan haji. Maknanya: takbir bukan hanya lafaz lisan, tetapi pengosongan hati dari selain Allah.
2, Makna “Allahu Akbar” melebihi segala sifat makhluk Imam Ja’far al-Sadiq as menjelaskan:”Allah lebih besar dari apa pun yang disifati.”
Artinya kebesaran Allah tidak bisa dijangkau akal, imajinasi, atau bahasa manusia.
3, Tahlil adalah hakikat tauhid para Imam.
Dalam riwayat Ahlul Bayt, kalimat: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُdisebut sebagai benteng keselamatan ruhani.
Diriwayatkan: “La ilaha illallah adalah benteng-Ku; siapa masuk ke dalam benteng-Ku akan aman dari azab-Ku.” Dalam tafsir irfani Ahlul Bayt, tauhid sejati harus disertai ketaatan kepada hujjah Allah.
4, Tahmid adalah syukur atas nikmat wilayah; Imam Muhammad al-Baqir as menjelaskan bahwa nikmat terbesar yang wajib disyukuri dalam Al-Qur’an adalah nikmat wilayah dan petunjuk Ilahi.
Maka:
وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ bukan hanya syukur atas rezeki lahiriah, tetapi juga syukur atas cahaya iman dan ma’rifat.
5, Hidayah adalah hidayah menuju Ahlul Bayt. Tentang: عَلٰى مَا هَدَانَا
Dalam banyak riwayat tafsir Ahlul Bayt, hidayah tertinggi adalah pengenalan kepada Allah melalui para Imam suci sebagai pintu ilmu dan cahaya petunjuk.
6, Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan;
Imam Ali Zayn al-Abidin as dalam risalah-risalah akhlaknya menjelaskan bahwa ibadah lahir harus melahirkan penyucian batin.
Maka hakikat: مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ adalah mengorbankan hawa nafsu hewani dalam diri manusia.
7, Hari raya adalah hari penerimaan amal
Dalam hadis dari Imam Ali ibn Musa al-Rida as ;”Hari Id adalah hari ketika amal diterima dan dosa diampuni.” Karena itu takbir Id adalah ungkapan syukur atas rahmat dan ampunan Allah.
8, Ujian adalah jalan kenaikan derajat ruhani, Tentang:
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَبْلَانَا
Imam Musa al-Kazim as; meriwayatkan bahwa mukmin sejati diuji sesuai kadar imannya; semakin tinggi ma’rifatnya, semakin halus ujiannya.
9, Takbir menghidupkan hati yang lalai.
Dalam doa dan munajat Ahlul Bayt, memperbanyak takbir disebut sebagai cara menghancurkan hijab kesombongan, cinta dunia, dan kelalaian hati. Karena hati yang dipenuhi “Allahu Akbar” tidak akan mudah diperbudak dunia.
10, Dzikir ini adalah ringkasan suluk menuju Allah; Dalam pandangan irfani Ahlul Bayt:
* Allahu Akbar → fana dari selain Allah
* La ilaha illallah → tauhid murni
* Walillahil hamd → syukur dan ridha
* Qurban → pengorbanan diri
* Bala → kesabaran dan penyucian
Maka dzikir Id ini adalah perjalanan ruh seorang hamba dari ego menuju kedekatan Ilahi.
Menurut Mufasir;
1, “Allahu Akbar” adalah pengagungan tanpa batas.
Para mufasir menjelaskan bahwa kalimat: اَللّٰهُ اَكْبَرُ bermakna Allah lebih besar dari segala yang diketahui, dibayangkan, dan disifati manusia. Fakhr al-Din al-Razi menjelaskan bahwa kebesaran Allah melampaui batas akal dan indera makhluk.
2, Tahlil adalah inti seluruh tafsir tauhid;
Para mufasir memandang: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ sebagai inti seluruh Al-Qur’an, karena semua ayat kembali kepada tauhid, kenabian, dan hari akhir.
Muhammad Husayn Tabataba’i menjelaskan bahwa tauhid bukan hanya keyakinan lisan, tetapi penyaksian bahwa seluruh wujud bergantung kepada Allah.
3, Tahmid adalah pengakuan bahwa seluruh kesempurnaan milik Allah.
Tentang:; وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ ; Para mufasir menjelaskan bahwa segala pujian kembali kepada Allah karena seluruh kebaikan berasal dari-Nya.
Al-Tabari menafsirkan al-hamd sebagai pujian disertai pengagungan dan syukur.
4, Hidayah adalah nikmat terbesar
Pada kalimat: عَلٰى مَا هَدَانَا
Para mufasir menyebut bahwa petunjuk kepada iman lebih besar daripada nikmat dunia.
Ibn Kathir menghubungkan takbir Id dengan rasa syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah dan mendapat hidayah Allah.
5, Takbir Id berasal dari perintah Al-Qur’an;
Para ahli tafsir mengaitkan dzikir ini dengan ayat: “Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya.”QS. Al-Baqarah 2:185
Menurut mufasir, takbir setelah ibadah besar adalah tanda kesempurnaan ubudiyah.
6, Hewan qurban adalah simbol rezeki Ilahi.
Tentang: مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
Para mufasir menjelaskan bahwa Allah menundukkan hewan ternak agar manusia belajar syukur dan ibadah. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa qurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah melalui nikmat yang Dia berikan sendiri.
7, Hakikat qurban adalah ketakwaan. Seluruh mufasir menekankan ayat: “Yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kalian.”QS. Al-Hajj 22:37
Maka penyembelihan hewan hanyalah simbol lahiriah dari penyembelihan hawa nafsu dan ketaatan batin.
8, Ujian adalah bagian dari tarbiyah Ilahi.
Tentang: وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَبْلَانَا
Para mufasir menjelaskan bahwa bala bukan selalu azab; sering kali ia adalah pendidikan ruhani agar manusia kembali kepada Allah.
Al-Alusi menyebut bahwa orang arif memuji Allah bahkan dalam ujian karena melihat hikmah di baliknya.
9, Pengulangan takbir menunjukkan kesinambungan dzikir;
Para ahli tafsir dan ulama adab menjelaskan bahwa pengulangan: اَللّٰهُ اَكْبَر adalah metode Al-Qur’an untuk menanamkan makna ke dalam hati agar jiwa terus hadir bersama Allah.
10, Dzikir ini menggabungkan maqam syariat, tarekat, dan hakikat. Menurut banyak mufasir irfani:
* Takbir → pengagungan
* Tahlil → pemurnian tauhid
* Tahmid → syukur
* Qurban → pengorbanan
* Bala → kesabaran dan ridha
Maka susunan dzikir Id ini dipandang sebagai ringkasan perjalanan ruhani seorang mukmin menuju Allah.
Menurut Mufasir Ahlul Bayt as
1, “Allahu Akbar” berarti Allah melampaui segala gambaran makhluk;
Dalam tafsir Ahlul Bayt, kalimat: اَللّٰهُ اَكْبَرُ bukan sekadar “Allah Maha Besar”, tetapi Allah lebih besar dari apa pun yang terlintas dalam pikiran manusia. Allamah Muhammad Husayn Tabataba’i menjelaskan bahwa hakikat ketuhanan tidak dapat dibatasi oleh definisi akal atau imajinasi.
2, Tauhid adalah pemurnian hati dari selain Allah.
Tentang: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Para mufasir Ahlul Bayt menjelaskan bahwa tauhid bukan hanya menolak berhala lahiriah, tetapi juga menolak “berhala batin” seperti ego, hawa nafsu, cinta dunia, dan ketergantungan kepada selain Allah.
3, Tahmid adalah syukur atas nikmat wilayah.
Dalam tafsir riwayat Ahlul Bayt: وَلِلّٰهِ الْحَمْد mencakup syukur atas seluruh nikmat lahir dan batin, terutama nikmat wilayah dan hidayah Ilahi. Allamah Muhsin al-Fayd al-Kashani banyak menekankan dimensi batin syukur dalam tafsirnya.
4, Hidayah tertinggi adalah ma’rifat kepada hujjah Allah.
Tentang: عَلٰى مَا هَدَانَا Tafsir Ahlul Bayt menjelaskan bahwa hidayah paling sempurna adalah pengenalan kepada Allah melalui Nabi ﷺ dan para Imam Ahlul Bayt sebagai cahaya petunjuk.
5, Takbir Id adalah syukur setelah penyempurnaan ibadah
Para mufasir Ahlul Bayt menghubungkan takbir ini dengan penyempurnaan puasa, haji, dan qurban. Takbir setelah ibadah berarti seorang hamba tidak melihat amalnya berasal dari dirinya sendiri, tetapi sebagai taufiq dari Allah.
6, Hewan qurban melambangkan jiwa hewani manusia.
Tentang: مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
Tafsir irfani Ahlul Bayt melihat hewan qurban sebagai simbol sifat-sifat hewani dalam diri manusia:
* kerakusan,
* kemarahan,
* syahwat,
* kesombongan.
Hakikat qurban adalah menyembelih hawa nafsu demi mendekat kepada Allah.
7, Yang diterima Allah adalah hati yang bertakwa.
Para mufasir Ahlul Bayt menafsirkan QS Al-Hajj:37 secara mendalam bahwa darah dan daging qurban hanyalah simbol; yang naik kepada Allah adalah keikhlasan, cinta, dan ketakwaan hamba.
8, Bala adalah jalan penyucian ruhani.
Tentang:وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَبْلَانَا
Para mufasir Ahlul Bayt menjelaskan bahwa orang mukmin sejati memandang ujian sebagai bentuk tarbiyah Ilahi untuk membersihkan hati dari keterikatan dunia.
Allamah Abdullah Jawadi Amoli menekankan bahwa bala dapat menjadi jalan kenaikan maqam ruhani bila diterima dengan ridha.
9, Pengulangan takbir adalah perjalanan dari lisan menuju hati
Dalam tafsir akhlak Ahlul Bayt, pengulangan: اَللّٰهُ اَكْبَرُ bertujuan agar makna kebesaran Allah turun dari ucapan ke kesadaran batin, lalu menjadi keadaan ruhani yang hidup dalam jiwa.
10, Dzikir ini adalah ringkasan suluk Ahlul Bayt;
Menurut para arif dan mufasir Ahlul Bayt:
* Allahu Akbar → fana dari ego
* La ilaha illallah → tauhid murni
* Walillahil hamd → syukur dan ridha
* Qurban → pengorbanan diri
* Bala → penyucian dan kedekatan Ilahi;
* Maka dzikir Id ini dipandang sebagai peta perjalanan ruhani seorang mukmin menuju Allah melalui jalan Ahlul Bayt.
Menurut Ahli Makrifat;
1,”Allahu Akbar” adalah pecahnya hijab ego;
Menurut ahli makrifat, ketika seorang arif mengucapkan: اَللّٰهُ اَكْبَرُ
ia sedang menyaksikan bahwa seluruh keberadaan dirinya kecil dan fana di hadapan Keagungan Allah. Takbir sejati menghancurkan rasa “aku”.
2, Tauhid adalah lenyapnya selain Allah dari hati.
Pada maqam makrifat: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ bukan sekadar ucapan, tetapi keadaan batin di mana hati tidak lagi bergantung kepada selain Allah; dunia, manusia, dan sebab-sebab menjadi transparan di hadapan Cahaya-Nya.
3, Tahmid adalah melihat seluruh nikmat berasal dari Allah.
Ahli makrifat memandang: وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ sebagai kesadaran bahwa semua kebaikan, ilmu, cinta, rezeki, bahkan kemampuan beribadah hanyalah pancaran rahmat Allah.
4, Hidayah adalah ditarik menuju Allah.
Tentang: عَلٰى مَا هَدَانَا
Menurut para arif, hidayah bukan sekadar mengetahui jalan, tetapi ditarik oleh Allah menuju-Nya. Banyak orang mengetahui, tetapi sedikit yang sampai.
5, Qurban lahir hanyalah simbol qurban batin.
Pada pandangan makrifat: مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ melambangkan penyembelihan sifat hewani dalam diri:
* syahwat,
* tamak,
* marah,
* cinta pujian,
* kesombongan.
Hewan yang paling sulit disembelih adalah nafsu manusia sendiri.
6, Takbir Id adalah warisan ruh Nabi Ibrahim (as);
Ahli hakikat memandang Idul Adha sebagai perjalanan Nabi Ibrahim as:
* meninggalkan dunia,
* menyerahkan anak,
* memotong ego,
* ridha total kepada Allah.
Maka takbir Id adalah gema ruh tauhid Nabi Ibrahim (as).
7, Ujian adalah rahmat tersembunyi
Tentang: وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَبْلَانَا Para arif menjelaskan bahwa bala sering kali lebih dekat kepada rahmat daripada kenikmatan, sebab ujian memecahkan ketergantungan hati kepada dunia dan mengembalikannya kepada Allah.
8, Pengulangan takbir membersihkan hati.
Dalam suluk ruhani, pengulangan: اَللّٰهُ اَكْبَرُ adalah dzikir pembakar hijab. Semakin hati dipenuhi kebesaran Allah, semakin kecil dunia di mata seorang hamba.
9, Dzikir ini mengandung maqam fana dan baqa
Menurut ahli makrifat:
* La ilaha illallah → fana dari selain Allah
* Walillahil hamd → baqa bersama Allah
Artinya seorang salik “lenyap” dari ego lalu “hidup” dengan cahaya Ilahi.
10, Hakikat Id adalah perjumpaan ruh dengan Allah.
Menurut para arif, hari raya bukan sekadar pakaian, makanan, atau perayaan lahiriah. Id sejati adalah ketika hati:
* bebas dari selain Allah,
* dipenuhi syukur,
* ridha atas ujian,
* dan dekat kepada-Nya.
Maka dzikir ini adalah peta perjalanan ruh dari dunia menuju hadirat Ilahi.
Menurut Ahli Hakikat Ahlul Bayt;
1, “Allahu Akbar” adalah tersingkapnya keagungan mutlak Allah.
Menurut ahli hakikat Ahlul Bayt, kalimat: اَللّٰهُ اَكْبَر berarti Allah lebih besar dari seluruh pengetahuan, penyaksian, dan ma’rifat para makhluk. Setiap kali seorang arif mengenal Allah, ia sadar bahwa hakikat Allah masih jauh melampaui apa yang ia kenal.
2, Tauhid hakiki adalah fana dari selain Allah.
Pada maqam hakikat: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ bukan hanya menolak berhala lahir, tetapi lenyapnya segala ketergantungan batin selain Allah.
Dalam suluk Ahlul Bayt, syirik tersembunyi adalah melihat diri masih memiliki daya dan kepemilikan independen selain Allah.
3, Tahmid adalah penyaksian bahwa seluruh pujian milik-Nya
Tentang: وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ Ahli hakikat memandang bahwa seluruh keindahan, kesempurnaan, cahaya, ilmu, dan cinta yang tampak di alam hanyalah tajalli (manifestasi) dari kesempurnaan Allah.
4, Hidayah adalah cahaya wilayah Muhammadiyah dan Alawiyah
Tentang: عَلٰى مَا هَدَانَا Dalam irfan Ahlul Bayt, hidayah tertinggi adalah masuk ke dalam cahaya Nabi Muhammad ﷺ dan wilayah Ahlul Bayt, karena melalui merekalah manusia mengenal Allah dengan benar. Imam Ali ibn Abi Talib as disebut sebagai “pintu kota ilmu”, yakni jalan menuju ma’rifat Ilahi.
5, Qurban lahir adalah simbol penyembelihan nafs ammarah
Pada hakikatnya: مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
bukan sekadar hewan fisik, tetapi lambang sifat kebinatangan manusia:
* kesombongan,
* kerakusan,
* cinta dunia,
* amarah,
* syahwat.
Dalam jalan Ahlul Bayt, qurban sejati adalah memotong ego demi Allah.
6, Ruh Idul Adha adalah maqam Nabi Ibrahim as dan Imam Husayn
Ahli hakikat Ahlul Bayt memandang bahwa Idul Adha menghimpun dua pengorbanan agung:
* pengorbanan Nabi Ibrahim (as),
* dan pengorbanan Husayn ibn Ali di Karbala.
Ibrahim mengorbankan putra tercinta; Imam Husayn (as) mengorbankan seluruh dirinya demi menjaga agama Allah.
7, Ujian adalah pemurnian jiwa pecinta Allah.
Tentang: وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَبْلَانَا
Para arif Ahlul Bayt menjelaskan bahwa bala adalah api penyuci yang membakar hijab dunia dari hati mukmin agar layak menerima cahaya Ilahi.
8, Pengulangan takbir adalah perjalanan dari lisan menuju sirr (rahasia ruh).Dalam hakikat dzikir:
* pertama diucap oleh lidah,
* lalu turun ke hati,
* kemudian menjadi cahaya ruh,
* lalu menjadi keadaan permanen jiwa.
Maka takbir yang hakiki bukan hanya terdengar, tetapi “hidup” dalam keberadaan seorang hamba.
9, Dzikir ini menghimpun seluruh maqam suluk.
Menurut irfan Ahlul Bayt:
* Allahu Akbar → penghancuran ego
* La ilaha illallah → tauhid murni
* Walillahil hamd → syukur dan ridha
* Qurban → pengorbanan diri
* Bala → penyucian ruh
* Id → perjumpaan dengan rahmat Allah
10, Hakikat Id adalah kembali kepada Allah dengan hati yang selamat.
Menurut ahli hakikat Ahlul Bayt, Id sejati bukan perayaan lahiriah, tetapi ketika hati telah:
* bebas dari selain Allah,
* ridha kepada takdir-Nya,
* mencintai-Nya melebihi dunia,
* dan hidup dalam cahaya wilayah Muhammad dan Aali Muhammad ﷺ.
Maka dzikir ini adalah peta perjalanan ruh menuju liqā’ Allah — perjumpaan spiritual dengan Allah Yang Maha Agung.
Kisah dan Ceritanya;
1, Kisah Nabi Ibrahim (as) mendengar perintah qurban
Saat Nabi Ibrahim (as) melihat dalam mimpi bahwa beliau harus menyembelih putranya, beliau tidak membantah perintah Allah.
Di tengah ujian itu, ruh beliau dipenuhi: اَللّٰهُ اَكْبَرُ karena cinta kepada Allah lebih besar daripada cinta kepada dunia dan keluarga.
Kisah ini menjadi asal ruhani takbir Idul Adha.
2, Jawaban Nabi Ismail (as) yang penuh ketundukan;
Ketika Nabi Ibrahim berkata bahwa ia melihat dirinya menyembelih Ismail, Nabi Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Di sinilah makna: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ tampak nyata: tidak ada kehendak selain kehendak Allah.
3, Turunnya hewan qurban dari langit.
Saat Nabi Ibrahim dan Ismail telah lulus ujian, Allah mengganti Ismail dengan sembelihan besar.
Maka lahirlah makna: اَللّٰهُ اَكْبَرُ عَلٰى مَا رَزَقَنَا مِنْ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ
Bahwa hewan qurban adalah rezeki dan rahmat dari Allah, bukan sekadar milik manusia.
4, Takbir Malaikat pada peristiwa Nabi Ibrahim as.
Dalam sebagian riwayat disebutkan:
* Malaikat Jibril berkata: Allahu Akbar
* Nabi Ibrahim menjawab: La ilaha illallah wallahu akbar
* Nabi Ismail menjawab: Allahu akbar walillahil hamd
Dari sinilah susunan takbir Id diriwayatkan berkembang di tengah umat Islam.
5, Kisah Rasulullah ﷺ saat Idul Adha.
Rasulullah ﷺ keluar menuju tempat salat Id sambil bertakbir dengan suara keras. Beliau mengajarkan bahwa hari raya bukan hari kesombongan, tetapi hari pengagungan kepada Allah dan syukur atas nikmat-Nya.
6, Kisah Imam Ali ibn Abi Talib as membagi daging qurban.
Dalam riwayat Ahlul Bayt, Imam Ali (as) sangat memperhatikan kaum miskin saat Idul Adha.
Beliau menjadikan qurban bukan sekadar ritual, tetapi jalan kasih sayang sosial dan penghambaan kepada Allah.
7, Kisah Karbala sebagai qurban agung.
Ahli irfan Ahlul Bayt memandang bahwa ruh Idul Adha mencapai puncaknya pada pengorbanan Imam Husayn ibn Ali as di Karbala. Jika Ibrahim diminta mengorbankan satu putra, Imam Husayn (as) mengorbankan:
* keluarga,
* sahabat,
* anak-anak,
* bahkan dirinya sendiri demi agama Allah.
8, Kisah seorang arif yang menangis saat takbir.
Diceritakan seorang ahli makrifat menangis setiap mendengar: اَللّٰهُ اَكْبَرُ Ketika ditanya mengapa, ia berkata: Karena aku sadar masih banyak hal dunia yang diam-diam lebih besar di hatiku daripada Allah.” Sejak itu ia menjadikan takbir sebagai jalan memurnikan hati.
9, Kisah orang miskin yang tetap bersyukur.
Seorang fakir pada hari raya hanya memiliki sedikitmakanan, namun ia terus membaca: وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ketika ditanya mengapa tetap bersyukur, ia berkata: “Aku mungkin miskin dunia, tetapi Allah masih memberiku iman dan kesempatan menyebut nama-Nya.”
10, Kisah seorang pecinta Allah saat diuji.,Ada seorang hamba saleh yang kehilangan harta dan keluarganya, tetapi lisannya tetap mengucap: وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَبْلَانَا
Ia berkata:”Jika Allah mengambil dunia dariku tetapi tidak mengambil cahaya mengenal-Nya, maka aku masih termasuk orang yang kaya.”
Inilah hakikat dzikir Id: dari takbir menuju tauhid, dari qurban menuju cinta, dari ujian menuju kedekatan kepada Allah.
Manfaat da doanya;
1, Menanamkan tauhid dan kebesaran Allah dalam hati
Membaca takbir ini membuat hati selalu ingat bahwa Allah lebih besar daripada:
* masalah,
* ketakutan,
* dunia,
* dan hawa nafsu.
Doa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ كِبْرِيَاءَكَ أَعْظَمَ
فِي قَلْبِي مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
“Ya Allah, jadikan keagungan-Mu paling besar di dalam hatiku.”
2, Menghidupkan syukur atas nikmat Allah. Kalimat: وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ melatih jiwa melihat nikmat dalam setiap keadaan.
Doa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ
“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat-Mu.”
3, Menguatkan hati saat menghadapi ujian.
Bacaan: وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَبْلَانَا membantu jiwa menerima takdir dengan ridha dan sabar.
Doa:
اَللّٰهُمَّ أَلْهِمْنِي الصَّبْرَ وَالرِّضَا بِقَضَائِكَ
“Ya Allah, ilhamkan kepadaku kesabaran dan keridhaan terhadap ketentuan-Mu.”
4, Membersihkan hati dari kesombongan. Takbir yang diulang-ulang menghancurkan rasa ujub dan keakuan.
Doa:
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُرُورِ
“Ya Allah, sucikan hatiku dari kesombongan dan tipuan diri.”
5, Membuka pintu ketenangan jiwa
Dzikir tauhid dan takbir memberi ketenteraman batin. Allah berfirman:
“Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
Doa:
اَللّٰهُمَّ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ فِي قَلْبِي
“Ya Allah, turunkan ketenangan ke dalam hatiku.”
6, Menghidupkan ruh Idul Adha dan sunnah Nabi Ibrahim (as).
Membaca takbir ini menghubungkan ruh manusia dengan maqam pengorbanan dan kepasrahan Nabi Ibrahim (as).
Doa:
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِي قَلْبًا مُسَلِّمًا لَكَ كَقَلْبِ إِبْرَاهِيمَ
“Ya Allah, anugerahkan kepadaku hati yang berserah kepada-Mu seperti hati Ibrahim.”
7, Melembutkan hati dan menambah cahaya ruhani.
Ahli dzikir menyebut takbir dan tahmid sebagai cahaya yang menghidupkan hati yang keras.
Doa:
اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِي بِنُورِ ذِكْرِكَ
“Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya dzikir kepada-Mu.”
8, Menjadi sebab bertambahnya rezeki dan keberkahan.
Syukur dan pujian kepada Allah membuka pintu keberkahan hidup.
Doa:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِي فِي رِزْقِي وَمَعِيشَتِي
Ya Allah, berkahilah rezeki dan kehidupanku.”
9, Menguatkan cinta kepada Allah dan Ahlul Bayt.
Dalam tradisi Ahlul Bayt, dzikir Id dilakukan dengan ruh cinta, wilayah, dan penghambaan.
Doa: اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ فِي قَلْبِي مَحَبَّةَ
مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, teguhkan dalam hatiku cinta kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”
10, Menjadi jalan mendekat kepada Allah; Dzikir ini menghimpun:
* takbir,
* tauhid,
* syukur,
* qurban,
* sabar,
* dan ridha.
Maka ia menjadi jalan ruhani menuju kedekatan Ilahi.
Doa Penutup:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَهْلِ التَّقْوَى وَالْقُرْبِ وَالْمَعْرِفَةِ بِكَ
“Ya Allah, jadikan aku termasuk ahli takwa, kedekatan, dan ma’rifat kepada-Mu.”
Semoga Bermanfaat!!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment