Makna: Astaghfirullah robbi wa atuubu ilaihi

Makna dan Rahasia Istighfar:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Astaghfirullāha Rabbī wa atūbu ilaih”Aku memohon ampun kepada Allah, Tuhanku, dan aku bertobat kepada-Nya.”

Dibaca 100 kali setiap hari, amalan ini sangat dianjurkan dalam banyak riwayat Islam, termasuk riwayat dari Ahlul Bait (as).

1. Pengakuan Kehambaan; Kata “Rabbi” (Tuhanku) mengandung pengakuan bahwa manusia adalah hamba yang selalu membutuhkan bimbingan, ampunan, dan kasih sayang Allah.

2. Penyucian Hati;  Istighfar membersihkan noda dosa yang menutupi hati. Dalam hadis disebutkan bahwa dosa meninggalkan titik hitam pada qalbu, dan istighfar menghapusnya.

3. Pembaruan Taubat; Kalimat “wa atūbu ilaih” bukan sekadar meminta ampun, tetapi menyatakan tekad untuk kembali kepada Allah dan menjauhi maksiat.

4. Benteng dari Kesombongan
Orang yang banyak beristighfar menyadari kekurangannya. Kesadaran ini menghancurkan sifat ujub dan kesombongan spiritual.

5. Pembuka Pintu Rezeki; Al-Qur’an mengisahkan seruan Nabi Nuh (as):”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”Kemudian Dia akan menurunkan hujan yang lebat, memperbanyak harta dan anak-anak kalian.Istighfar menjadi sebab turunnya keberkahan lahir dan batin.

6. Penolak Bala: Dalam banyak riwayat, istighfar disebut sebagai salah satu sebab tertolaknya musibah dan azab sebelum turun.

7. Cahaya Amal Harian
Membaca 100 kali setiap hari menjadikan seluruh aktivitas sehari-hari diselimuti kesadaran ilahi dan muhasabah diri.

8. Menghidupkan Kesadaran Dosa Tersembunyi; Sering kali manusia tidak menyadari kelalaiannya. Istighfar memohon ampun bahkan atas dosa yang tidak disadari.

9. Mengikuti Sunnah Para Nabi dan Imam; Nabi Muhammad ﷺ dan para Imam yang maksum banyak beristighfar. Bukan karena dosa, tetapi sebagai bentuk penghambaan dan peningkatan kedekatan kepada Allah.

10. Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah; Hakikat istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi menghilangkan segala penghalang antara hamba dan Tuhannya sehingga hati semakin dekat kepada Allah.

Menurut Hadis Ahlul Bait (as)
Diriwayatkan dari Imam Ja’far ash-Shadiq as ; “Barangsiapa beristighfar seratus kali setiap hari, Allah menghapus tujuh ratus dosa darinya.” 
Makna hakikat riwayat ini adalah luasnya rahmat Allah bagi hamba yang terus kembali kepada-Nya.

Menurut Ahli Makrifat
Para arif menjelaskan bahwa istighfar memiliki tiga tingkatan:
1. Istighfar dari dosa dan maksiat.
2. Istighfar dari kelalaian terhadap Allah.
3. Istighfar dari melihat selain Allah dalam hati.
Pada tingkatan tertinggi, seorang hamba beristighfar karena merasa ibadahnya belum layak dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung.

Menurut Ahli Hakikat Ahlul Bait
Kalimat: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
berarti memohon agar seluruh hijab antara diri dan Allah disingkirkan.
رَبِّي
berarti menyaksikan Allah sebagai Pengatur seluruh urusan lahir dan batin.
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
berarti kembali dari segala sesuatu menuju Allah semata.
Dalam pandangan hakikat, taubat sejati adalah:”Kembali dari diri sendiri menuju Tuhan.”

Manfaat Membaca 100 Kali Setiap Hari
1. Menenangkan hati.
2. Menghapus dosa.
3. Melapangkan rezeki.
4. Menghilangkan kesedihan.
5. Menolak bala.
6. Menguatkan iman.
7. Memudahkan urusan.
8. Membersihkan qalbu.
9. Mendatangkan rahmat Allah.
10. Mempersiapkan husnul khatimah.

Munajat Singkat
اللَّهُمَّ اجْعَلِ اسْتِغْفَارِي اسْتِغْفَارَ الصَّادِقِينَ، وَتَوْبَتِي تَوْبَةَ الْمُخْلِصِينَ 
Allāhummaj’al istighfārī istighfāraṣ-ṣādiqīn, wa tawbatī tawbatal-mukhliṣīn.
“Ya Allah, jadikan istighfarku seperti istighfar orang-orang yang benar, dan taubatku seperti taubat orang-orang yang ikhlas.”

Makna Istighfar “Astaghfirullāha Rabbī wa Atūbu Ilaih” Menurut Al-Qur’an; 
Walaupun lafaz “Astaghfirullāha Rabbī wa Atūbu Ilaih” tidak disebutkan secara utuh dalam satu ayat, makna istighfar dan taubat ini tersebar di banyak ayat Al-Qur’an.

1. Memohon Ampunan kepada Allah. 
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memohon ampun:”Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”QS. An-Nisā’ 4:106. 
Maknanya: istighfar adalah pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu menghapus dosa.

2. Jalan Menuju Taubat yang Diterima. 
Allah berfirman:”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya.”QS. Hūd 11:3. Ayat ini hampir sama dengan lafaz:   أستغفر الله ربي وأتوب إليه

3. Sebab Turunnya Rezeki dan Keberkahan. 
Nabi Nuh (as) berkata: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu.”QS. Nūḥ 71:10-12
Istighfar menjadi sebab datangnya keberkahan dunia.

4. Penghapus Dosa. 
Allah berfirman: “Barangsiapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”QS. An-Nisā’ 4:110

5. Penyebab Rahmat Allah
Allah berfirman:”Mengapa mereka tidak memohon ampun kepada Allah agar mereka diberi rahmat?”QS. An-Naml 27:46. Rahmat Allah turun kepada orang yang beristighfar.

6. Penolak Azab. 
Allah berfirman: “Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampun.”QS. Al-Anfāl 8:33
Istighfar merupakan benteng dari turunnya azab dan bala.

7. Ciri Orang Bertakwa
Allah memuji orang-orang bertakwa: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun kepada Allah.”(QS. Adz-Dzāriyāt 51:18) Istighfar adalah tanda ketakwaan dan kedekatan kepada Allah.

8. Jalan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. 
Allah berfirman:”Kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang ditentukan.”(QS. Hūd 11:3)

9. Menghidupkan Hati yang Mati
Ketika seseorang beristighfar, ia mengakui kesalahannya dan membuka pintu hidayah. Al-Qur’an mengajarkan bahwa hati yang kembali kepada Allah akan hidup dengan cahaya-Nya.

10. Jalan Kembali kepada Fitrah
Allah berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Taḥrīm 66:8)

Hakikat taubat adalah kembali kepada kesucian fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia.
Makna Per Kata Menurut Tadabbur Al-Qur’an: أستغفر الله (Astaghfirullāh)→ Aku memohon agar Allah menutupi, menghapus, dan memperbaiki kekuranganku.
ربي (Rabbī)→ Tuhanku, Pendidikku, 
Pengasuhku, yang membimbingku 
sejak awal penciptaanku. وأتوب إليه (Wa Atūbu Ilaih) → Aku kembali kepada-Nya dengan hati, amal, niat, dan seluruh kehidupanku.

Dimensi Makrifat Qur’ani
Menurut para ahli irfan, istighfar memiliki tiga tingkatan:
1, Istighfar dari dosa. 
2, Istighfar dari kelalaian terhadap Allah. 
3, Istighfar dari segala sesuatu yang menyibukkan hati selain Allah. Karena itu para nabi yang maksum pun tetap beristighfar. Bukan karena dosa, melainkan karena semakin mengenal keagungan Allah, semakin mereka melihat keterbatasan diri mereka di hadapan-Nya. Maka membaca “Astaghfirullāha Rabbī wa Atūbu Ilaih” 100 kali setiap hari adalah latihan Qur’ani untuk membersihkan hati, memperbarui taubat, dan mengarahkan seluruh perjalanan hidup kembali kepada Allah.

Makna Menurut Hadis
Istighfar merupakan amalan yang sangat ditekankan oleh Rasulullah ﷺ. Meskipun beliau maksum, beliau tetap memperbanyak istighfar untuk mengajarkan umat tentang pentingnya kembali kepada Allah.

1. Istighfar adalah Sunnah Rasulullah ﷺ 
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” Dalam riwayat lain disebutkan seratus kali sehari.
Maknanya: istighfar bukan hanya untuk pelaku dosa, tetapi juga jalan mendekat kepada Allah.

2. Penghapus Dosa. 
Rasulullah ﷺ bersabda:”Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari setiap kesedihan.” Istighfar menjadi sarana penghapusan dosa yang menghalangi rahmat Allah.

3. Pembuka Jalan Keluar dari Kesulitan. 
Hadis di atas menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga sebab datangnya solusi dalam berbagai urusan hidup.

4. Penarik Rezeki. 
Dalam banyak riwayat, dosa disebut sebagai salah satu penghalang rezeki. Dengan istighfar, penghalang itu disingkirkan sehingga pintu keberkahan terbuka.

5. Penyuci Hati. 
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa hati dapat berkarat karena dosa, dan salah satu pembersihnya adalah istighfar yang tulus.

6. Tanda Kerendahan Hati
Orang yang banyak beristighfar mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah. Ini adalah lawan dari kesombongan dan ujub.

7. Mengundang Ketenangan Jiwa
Hadis-hadis menunjukkan bahwa dzikir dan istighfar menghadirkan sakinah (ketenangan) dalam hati seorang mukmin.

8. Benteng dari Bala dan Musibah
Dalam tradisi hadis Islam, istighfar disebut sebagai sebab tertolaknya banyak bala yang seharusnya menimpa manusia.

9. Amal yang Dicintai Allah
Allah mencintai hamba yang terus-menerus kembali kepada-Nya. Taubat yang berulang bukan tanda kegagalan, tetapi tanda tidak putus asa dari rahmat Allah.

10. Persiapan Bertemu Allah
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa membersihkan catatan amalnya dengan taubat dan istighfar sebelum datang ajal.

Makna Per Kalimat Menurut Hadis
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah”
Maknanya bukan sekadar meminta penghapusan dosa, tetapi juga memohon agar Allah menutupi aib, memperbaiki kekurangan, dan melindungi dari akibat dosa.
رَبِّي     ; “Tuhanku”
Pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang mendidik, memelihara, dan mengarahkan hamba menuju kesempurnaan.     وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Dan aku bertobat kepada-Nya”
Bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi kembali kepada Allah dengan hati yang menyesal dan tekad untuk memperbaiki diri.

Beberapa Hadis tentang Istighfar
Dari Nabi  Muhammad saw: “Sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.”
Dari Imam Ali bin Abi Thalib as: “Keheranan bagi orang yang binasa padahal bersamanya ada penyelamat.” Ketika ditanya apakah penyelamat itu, beliau menjawab: “Istighfar.”

Hikmah Membaca 100 Kali Setiap Hari
1. Menghidupkan hati.
2. Menghapus dosa kecil.
3. Membiasakan muhasabah diri.
4. Menumbuhkan rasa malu kepada Allah.
5. Menjaga lisan dalam dzikir.
6. Menolak kesombongan.
7. Membuka pintu rezeki.
8. Mendatangkan ketenangan.
9. Menarik rahmat Allah.
10. Menjadikan akhir kehidupan lebih baik.

Munajat
أَسْتَغْفِرُكَ يَا رَبِّ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Astaghfiruka yā Rabb min kulli dzanbin wa atūbu ilaik.”Ya Tuhanku, aku memohon ampun kepada-Mu dari setiap dosa dan aku bertobat kepada-Mu.” 
Semakin sering seorang hamba mengucapkan “Astaghfirullāha Rabbī wa Atūbu Ilaih”, semakin kuat kesadarannya bahwa seluruh perjalanan hidupnya bermula dari Allah dan harus kembali kepada Allah.

Makna Menurut Hadis Ahlul Bait as
Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait (as), istighfar bukan sekadar ucapan lisan, tetapi perjalanan ruhani dari kegelapan dosa menuju cahaya kedekatan dengan Allah.

1. Istighfar adalah Pelindung dari Azab: 
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib:”Di bumi terdapat dua pengaman dari azab Allah. Yang satu telah diangkat (Rasulullah ﷺ), dan yang satu lagi masih ada di antara kalian, yaitu istighfar.”
Maknanya, selama pintu istighfar terbuka, pintu rahmat Allah juga terbuka.

2. Istighfar Menghapus Noda Hati
Diriwayatkan dari Imam Ja’far ash-Shadiq as bahwa ketika seorang mukmin berdosa, muncul titik hitam di hatinya. Jika ia beristighfar, titik itu terhapus. Maknanya: istighfar adalah pembersih hati (qalb).

3. Rezeki Ditarik oleh Istighfar
Imam Ash-Shadiq (as) mengajarkan: “Apabila rezekimu tertahan, perbanyaklah istighfar.”Karena dosa dapat menjadi hijab bagi turunnya keberkahan.

4. Penyembuh Kesedihan; 
Dalam berbagai riwayat, para Imam mengajarkan istighfar ketika menghadapi kesempitan, kesedihan, dan kesulitan hidup.

5. Cahaya dalam Catatan Amal
Setiap istighfar yang tulus menjadi cahaya yang menerangi lembaran amal seorang mukmin pada Hari Kiamat.

6. Tanda Kecintaan Allah; 
Orang yang sering beristighfar menunjukkan bahwa ia tidak rela jauh dari Allah. Kesadaran ini merupakan tanda taufiq dan perhatian Allah kepadanya.

7. Kemenangan atas Nafsu;
Istighfar adalah pengakuan bahwa nafsu telah mengalahkan diri, lalu hamba kembali kepada Allah untuk memperoleh kekuatan.

8. Jalan Kesempurnaan Spiritual
Para Imam yang maksum banyak beristighfar bukan karena dosa, tetapi karena mereka senantiasa naik dari satu maqam kedekatan kepada maqam yang lebih tinggi.

9. Pembuka Pintu Doa; 
Menurut riwayat Ahlul Bait (as), istighfar sebelum berdoa membantu menghilangkan penghalang yang menyebabkan doa tertahan.

10. Kembali kepada Wilayah Allah
Hakikat taubat menurut Ahlul Bait adalah kembali kepada ketaatan, cinta, dan penghambaan yang murni kepada Allah.

Penjelasan Imam Ali (as) tentang Hakikat Istighfar
Seseorang mengucapkan “Astaghfirullah” di hadapan Imam Ali (as). Beliau bersabda:”Tahukah engkau apa itu istighfar? Istighfar adalah derajat orang-orang yang tinggi.”Kemudian beliau menjelaskan bahwa istighfar sejati mencakup:
1, Penyesalan atas dosa yang telah lalu. 
2, Tekad untuk tidak mengulanginya. 
3, Mengembalikan hak manusia yang pernah dizalimi. 
4, Menunaikan kewajiban yang ditinggalkan. 
5, Membersihkan diri dari pengaruh dosa. 
6, Membiasakan diri taat kepada Allah. 
Riwayat ini terkenal dalam kitab-kitab hadis Nahj al-Balaghah (Hikmah 417).

Menurut Imam Ja’far Ash-Shadiq; “Barangsiapa beristighfar seratus kali setiap hari, Allah mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” 
Maknanya menunjukkan keluasan rahmat Allah bagi hamba yang terus kembali kepada-Nya.

Rahasia Kalimatnya Menurut Ahlul Bait   أَسْتَغْفِرُ اللهَ ; Aku memohon agar Allah menutupi dosa, menghapus bekasnya, dan menjauhkan akibat buruknya.  رَبِّي  ; Aku mengakui Allah sebagai Rabb yang mendidik, memperbaiki, dan membimbingku.
وَأَتُوبُ إِلَيْهِAku kembali kepada-Nya dengan hati, amal, niat, dan seluruh keberadaanku.

Manfaat Membaca 100 x Setiap Hari
1. Menghapus dosa.
2. Membersihkan hati.
3. Menolak bala.
4. Melapangkan rezeki.
5. Menghilangkan kesedihan.
6. Mendatangkan rahmat.
7. Menguatkan iman.
8. Membuka pintu doa.
9. Mendekatkan diri kepada Allah.
10. Menjadi bekal saat bertemu Allah.

Pandangan Irfani Ahlul Bait
Para arif yang mengikuti ajaran Ahlul Bait menjelaskan:
* Istighfar orang awam adalah dari dosa.
* Istighfar orang saleh adalah dari kelalaian.
* Istighfar para wali adalah dari perhatian kepada selain Allah.
* Istighfar para nabi dan imam adalah ungkapan kerendahan diri di hadapan keagungan Allah yang tak terbatas.
Karena itu, mengucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
sebanyak 100 kali setiap hari bukan hanya memohon ampun, tetapi juga memperbarui perjalanan ruhani menuju Allah, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait beliau yang suci.

Makna Menurut Para Mufasir
Para mufasir ketika menafsirkan ayat-ayat tentang istighfar dan taubat menjelaskan bahwa istighfar bukan sekadar permintaan ampun, melainkan jalan penyucian jiwa dan penyempurnaan perjalanan menuju Allah.

1. Istighfar adalah Menutupi dan Menghapus Dosa. 
Para mufasir menjelaskan bahwa kata غَفَرَ (ghafara) berarti menutupi. Karena itu, istighfar adalah permohonan agar Allah menutupi dosa, menghapus bekasnya, dan tidak membuka aib hamba di dunia maupun akhirat.

2. Mengakui Kekurangan di Hadapan Allah. 
Dalam tafsir ayat-ayat istighfar, dijelaskan bahwa seorang hamba mengakui ketidakmampuan dan kelemahannya di hadapan Allah Yang Maha Sempurna.

3. Penyempurna Taubat. 
Ketika Al-Qur’an menyebut: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya.”QS. Hūd: 3
Para mufasir menjelaskan bahwa istighfar membersihkan masa lalu, sedangkan taubat memperbaiki masa depan.

4. Sarana Turunnya Rahmat
Menurut tafsir ayat-ayat tentang istighfar, rahmat Allah turun kepada hamba yang mengakui kesalahannya dan kembali kepada-Nya dengan tulus.

5. Pembuka Keberkahan Dunia
Dalam tafsir QS. Nūḥ: 10-12 dijelaskan bahwa hubungan antara istighfar dan rezeki menunjukkan bahwa dosa dapat menjadi penghalang turunnya keberkahan.

6. Pembersih Jiwa dari Kegelapan Dosa. 
Para mufasir menafsirkan bahwa dosa menimbulkan kegelapan batin, sedangkan istighfar mengembalikan cahaya fitrah dalam hati.

7. Bentuk Adab Seorang Hamba
Bahkan para nabi diperintahkan beristighfar. Menurut para mufasir, hal ini mengajarkan adab penghambaan dan kerendahan diri di hadapan Allah.

8. Jalan Menuju Kedekatan kepada Allah. Istighfar bukan hanya untuk menghindari hukuman, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridha-Nya.

9. Penyebab Ketenangan Hati
Para mufasir menghubungkan istighfar dengan ketenteraman jiwa, karena hati yang dibersihkan dari beban dosa akan lebih mudah menerima cahaya iman.

10. Kembali kepada Fitrah
Taubat yang menyertai istighfar dipahami sebagai kembalinya manusia kepada fitrah suci yang Allah ciptakan dalam dirinya.

Makna Per Kalimat Menurut Tafsir
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Menurut para mufasir, berarti;
* Memohon penghapusan dosa.
* Memohon perlindungan dari akibat dosa.
* Memohon agar Allah menutupi aib hamba.
رَبِّيMenunjukkan pengakuan bahwa
 Allah adalah
* Pencipta.
* Pemelihara.
* Pendidik ruhani.
* Pengatur seluruh urusan makhluk.
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Menunjukkan:
* Kembali dari maksiat kepada ketaatan.
* Kembali dari kelalaian kepada kesadaran.
* Kembali dari selain Allah menuju Allah.

Penjelasan Beberapa Mufasir Besar: 
Muhammad ibn Jarir al-Tabari; 
Menjelaskan bahwa istighfar adalah permohonan agar Allah menghapus dosa dan tidak menghukum pelakunya.

Ismail ibn Umar Ibn Kathir;
Menjelaskan bahwa istighfar yang disertai taubat menjadi sebab datangnya keberkahan dunia dan keselamatan akhirat.

Fakhr al-Din al-Razi; Menekankan bahwa istighfar memiliki dimensi lahir dan batin; lisan memohon ampun sementara hati menyesali dosa.

Muhammad Husayn Tabataba’i;
Menjelaskan bahwa hakikat taubat adalah kembali kepada Allah setelah terhalang oleh dosa dan kelalaian.

Menurut Tafsir Irfani; Para mufasir irfani memandang:
* Istighfar orang awam: dari dosa.
* Istighfar orang saleh: dari kelalaian.
* Istighfar para arif: dari perhatian kepada selain Allah.
* Istighfar para nabi dan wali: dari merasa belum sempurna dalam menghadap Allah Yang Maha Sempurna.
Karena itu, kalimat:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
mengandung perjalanan lengkap seorang hamba: mengakui kekurangan (istighfar), mengenal Tuhan (Rabbi), lalu kembali sepenuhnya kepada-Nya (atūbu ilaih).

Menurut Mufasir Ahlul Bait as
Dalam tafsir Ahlul Bait, khususnya yang dapat ditemukan dalam karya-karya seperti Tafsir al-Mizan, Tafsir Nur al-Thaqalayn, dan Tafsir al-Qummi, istighfar dipahami bukan hanya sebagai penghapusan dosa, tetapi sebagai proses kembali kepada Allah setelah terhalang oleh dosa, kelalaian, dan hijab-hijab ruhani.

1. Istighfar adalah Memohon Penghilangan Hijab; Menurut tafsir Ahlul Bait, dosa menciptakan hijab antara hamba dan Allah. Istighfar adalah permohonan agar hijab tersebut disingkirkan.

2. Taubat adalah Kembali kepada Allah; Ketika Al-Qur’an menyebut: Kemudian bertobatlah kepada-Nya.”
Para mufasir Ahlul Bait menjelaskan bahwa hakikat taubat adalah kembali kepada Allah, bukan sekadar meninggalkan dosa.

3. Istighfar Membersihkan Hati
Riwayat-riwayat Ahlul Bait menafsirkan bahwa hati seorang mukmin dapat tertutupi oleh noda dosa. Istighfar berfungsi sebagai pembersih hati agar mampu menerima cahaya hidayah.

4. Pengakuan Kefakiran Mutlak
Kata “Rabbi” menunjukkan pengakuan bahwa manusia tidak memiliki apa pun secara independen; seluruh keberadaannya bergantung kepada Allah.

5. Jalan Turunnya Rahmat
Mufasir Ahlul Bait menafsirkan ayat-ayat istighfar sebagai janji terbukanya pintu rahmat, karena Allah menyukai hamba yang kembali kepada-Nya.

6. Penyebab Bertambahnya Taufiq
Istighfar tidak hanya menghapus dosa masa lalu, tetapi juga mendatangkan pertolongan Allah untuk masa depan.

7. Menghidupkan Fitrah; 
Menurut tafsir riwayat Ahlul Bait, dosa menutupi fitrah. Istighfar membuka kembali kesucian fitrah yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia.

8. Menumbuhkan Kesadaran Murāqabah; 
Istighfar yang terus-menerus membuat seorang mukmin merasa diawasi Allah dan lebih berhati-hati dalam amalnya.

9. Jalan Menuju Ma’rifatullah
Dalam pandangan tafsir irfani Ahlul Bait, semakin bersih hati dari dosa, semakin kuat kemampuan hati mengenal Allah.

10. Persiapan Liqā’ Allah
Istighfar mempersiapkan ruh untuk bertemu Allah dalam keadaan suci dan penuh harapan kepada rahmat-Nya.

Tafsir Per Kalimat Menurut Ahlul Bait  ; أَسْتَغْفِرُ اللهَ  Aku memohon kepada Allah agar:
* Menghapus dosa.
* Menutupi aib.
* Menghilangkan hijab antara diriku dan-Nya.
رَبِّي
Aku mengakui Allah sebagai:
* Pencipta.
* Pemelihara.
* Pendidik ruhani.
* Pengatur seluruh perjalanan hidupku.
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Aku kembali:
* Dari maksiat kepada ketaatan.
* Dari kelalaian kepada zikir.
* Dari selain Allah menuju Allah.

Menurut Allamah Thabathaba’i;
taubat dalam Al-Qur’an adalah gerakan eksistensial seorang hamba yang kembali kepada Allah setelah menjauh akibat dosa atau kelalaian. Istighfar adalah permohonan agar akibat dan bekas dosa itu dihapus.

Menurut Riwayat Ahlul Bait
Imam Ali bin Abi Thalib; menjelaskan bahwa istighfar yang sejati bukan sekadar ucapan lisan, tetapi penyesalan, perbaikan diri, dan pemenuhan hak-hak yang pernah dilanggar. Imam Ja’far ash-Shadiq mengajarkan bahwa memperbanyak istighfar membuka pintu rezeki, menghilangkan kesedihan, dan mendatangkan kemudahan dari Allah.

Makna Hakikat Menurut Tafsir Irfani Ahlul Bait; 
Para arif Ahlul Bait menjelaskan beberapa tingkatan istighfar:
1. Istighfar dari dosa.
2. Istighfar dari kelalaian.
3. Istighfar dari kecintaan kepada dunia.
4. Istighfar dari melihat amal diri sendiri.
5. Istighfar dari segala sesuatu selain Allah.

Pada tingkatan tertinggi, seorang wali beristighfar bukan karena maksiat, tetapi karena merasa bahwa seluruh ibadahnya masih belum sebanding dengan keagungan Allah. 

Kesimpulan ; 
Menurut mufasir Ahlul Bait, kalimat:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
bukan hanya permohonan ampun, tetapi perjalanan ruhani yang mencakup:
* penyucian hati,
* penghapusan hijab,
* pengakuan kefakiran di hadapan Allah,
* dan kembalinya seluruh wujud seorang hamba kepada Tuhannya.
Karena itu, membaca istighfar ini 100 kali setiap hari dipandang sebagai latihan terus-menerus untuk menjaga hati tetap hidup dalam cahaya Allah dan dalam naungan wilayah-Nya.

Menurut Ahli Makrifat; istighfar bukan hanya permohonan ampun atas dosa lahiriah, tetapi juga perjalanan kembali kepada Allah dari setiap bentuk keterpisahan, kelalaian, dan hijab batin.

1. Istighfar adalah Kesadaran akan Jarak dari Allah; Orang awam beristighfar karena dosa, sedangkan seorang arif beristighfar karena menyadari betapa jauh dirinya dari kesempurnaan penghambaan kepada Allah.

2. Permohonan Penghapusan Hijab
Dalam makrifat, dosa terbesar bukan hanya maksiat lahiriah, tetapi segala sesuatu yang menghalangi hati menyaksikan Allah. Istighfar adalah permohonan agar hijab-hijab itu disingkirkan.

3. Kembali kepada Asal Ruhani
“Wa atūbu ilaih” berarti kembali kepada sumber asal ruh, yaitu Allah yang telah menciptakan dan memelihara manusia.

4. Pengakuan Kefakiran Mutlak
Ketika mengucapkan “Rabbi”, seorang arif menyadari bahwa dirinya tidak memiliki daya, kekuatan, ilmu, maupun keberadaan independen selain yang dianugerahkan Allah.

5. Membersihkan Cermin Hati
Para ahli makrifat sering mengibaratkan hati sebagai cermin. Dosa dan kelalaian adalah debu yang menutupinya. Istighfar mengkilapkan kembali cermin hati sehingga cahaya Ilahi dapat terpantul.

6. Keluar dari Penjara Ego; Istighfar adalah pengakuan bahwa ego (nafs) telah mendominasi. Dengan istighfar, seorang hamba berusaha keluar dari penjara keakuan menuju penghambaan sejati.

7. Kembali dari Dunia kepada Allah
Makna batin “atūbu ilaih” adalah berpaling dari keterikatan yang berlebihan kepada dunia menuju Allah sebagai tujuan utama.

8. Menyadari Kekurangan dalam Ibadah; Para arif beristighfar bahkan setelah beribadah, karena mereka merasa ibadah mereka belum layak dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung.

9. Menghidupkan Kehadiran Hati
Istighfar yang dilakukan dengan kesadaran menghadirkan muraqabah (merasa diawasi Allah) dan memperkuat kehadiran hati dalam setiap amal.

10. Perjalanan Tanpa Akhir Menuju Allah: Dalam pandangan makrifat, taubat bukan peristiwa sekali selesai. Setiap maqam yang dicapai membuka kesadaran baru akan kekurangan diri, sehingga istighfar terus berlanjut sepanjang hidup.

Makna Per Kalimat Menurut Ahli 
Makrifat:  أَسْتَغْفِرُ اللهَ “Aku memohon agar Allah menutupi segala sesuatu yang menghalangiku dari-Nya.”
Bukan hanya dosa lahiriah, tetapi juga: riya, ujub, cinta dunia, kelalaian,
dan keterikatan selain Allah.
رَبِّي
“Tuhanku” ; Yaitu Zat yang:
* mendidikku,
* menuntunku,
* menyempurnakanku,
* dan membawaku dari kegelapan menuju cahaya.
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ  :Aku kembali kepada-Nya
Bukan hanya dengan lisan, tetapi:
* dengan hati,
* dengan niat,
* dengan amal,
* dan dengan seluruh keberadaan diriku.

Tingkatan Istighfar Menurut Ahli Makrifat: 
1. Istighfar Orang Awam; Dari dosa dan pelanggaran syariat.
2. Istighfar Orang Saleh; Dari kelalaian dalam mengingat Allah.
3. Istighfar Para Arif: Dari perhatian hati kepada selain Allah.
4. Istighfar Para Wali; Dari melihat amal dan diri sendiri.
5. Istighfar Para Nabi dan Manusia Sempurna; Bukan karena dosa, tetapi karena semakin mengenal keagungan Allah, semakin tampak kecil seluruh amal di hadapan-Nya.

Rahasia Membaca 100 Kali Setiap Hari; 
Para ahli makrifat menjelaskan bahwa pengulangan istighfar 100 kali bukan untuk memberi informasi kepada Allah tentang dosa kita, karena Allah sudah mengetahuinya. Pengulangan itu bertujuan:
1. Melunakkan hati.
2. Menghancurkan kesombongan batin.
3. Menghidupkan kesadaran akan Allah.
4. Menguatkan muraqabah.
5. Membersihkan jiwa dari kelalaian.
6. Membiasakan kembali kepada Allah setiap saat.
7. Menumbuhkan rasa butuh kepada-Nya.
8. Membuka pintu taufiq.
9. Menarik rahmat Ilahi.
10. Menjadikan hati selalu dalam keadaan taubat.

Munajat Makrifat
إِلَهِي أَسْتَغْفِرُكَ لَا مِنْ ذَنْبٍ فَقَطْ، بَلْ مِنْ كُلِّ مَا شَغَلَنِي عَنْكَ
Ilāhī, astaghfiruka lā min dzanbin faqaṭ, bal min kulli mā syaghalanī ’anka.
”Tuhanku, aku memohon ampun kepada-Mu bukan hanya dari dosa, tetapi dari segala sesuatu yang telah menyibukkanku dari-Mu.”

Dalam pandangan makrifat, hakikat “Astaghfirullāha Rabbī wa Atūbu Ilaih” adalah: keluar dari penjara diri, lalu pulang menuju Allah.

Menurut Ahli Hakikat Ahlul Bait as : 
istighfar bukan hanya permohonan ampun atas dosa, tetapi juga perjalanan kembali dari keterpisahan menuju kedekatan, dari hijab menuju penyaksian, dan dari diri menuju Allah.

1. Istighfar adalah Kembali dari Kelalaian kepada Kehadiran
Menurut para arif Ahlul Bait, dosa terbesar hati bukan selalu maksiat lahiriah, tetapi ghaflah (kelalaian) terhadap Allah. Istighfar adalah kembali kepada kesadaran akan kehadiran-Nya.

2. Memohon Penghapusan Hijab
Dalam hakikat Ahlul Bait, setiap dosa, kesombongan, cinta dunia, dan keterikatan kepada selain Allah menciptakan hijab. Istighfar adalah permohonan agar hijab-hijab itu diangkat.

3. Pengakuan Kefakiran Mutlak
Ketika mengucapkan “Rabbi”, seorang salik mengakui bahwa seluruh keberadaannya bergantung kepada Allah. Ia tidak memiliki apa pun dari dirinya sendiri.

4. Kembali dari Diri kepada Allah
“Wa atūbu ilaih” pada tingkat hakikat berarti kembali dari ego, hawa nafsu, dan keakuan menuju Allah semata.

5. Penyucian Cermin Qalbu: 
Hati diibaratkan cermin yang memantulkan cahaya Ilahi. Istighfar membersihkan karat dosa dan kelalaian sehingga cahaya itu tampak kembali.

6. Pelepasan dari Ujub;  
Para arif Ahlul Bait menjelaskan bahwa salah satu hijab terbesar adalah merasa diri baik. Istighfar menghancurkan rasa bangga terhadap amal sendiri.

7. Jalan Menuju Ma’rifatullah:
Semakin bersih hati melalui istighfar, semakin terang cahaya ma’rifat yang dianugerahkan Allah ke dalam qalbu.

8. Penyaksian Rahmat Allah; 
Orang yang beristighfar dengan hati yang hadir akan menyaksikan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa-dosanya.

9. Naik dari Satu Maqam ke Maqam Lain;  
Para nabi dan imam yang maksum tetap beristighfar karena setiap maqam kedekatan yang baru membuat maqam sebelumnya tampak kurang sempurna dibanding cahaya yang lebih tinggi.

10. Fana dalam Taubat;  
Pada tingkatan tertinggi, seorang hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai pelaku taubat; ia melihat bahwa bahkan kemampuan untuk bertobat adalah anugerah Allah.

Makna Hakikat Per Kalimat
أَسْتَغْفِرُ اللهَ    Hakikatnya
Ya Allah, hilangkan segala sesuatu yang menghalangiku dari-Mu.”
Bukan hanya dosa lahiriah, tetapi juga: ujub, riya, cinta dunia, ketergantungan kepada makhluk, dan kesibukan hati selain Allah. رَبِّي    
Hakikatnya: Engkaulah satu-satunya Pemilik, Pengatur, dan Pendidikku.”
Di sini seorang hamba menyaksikan rububiyyah Allah dalam seluruh kehidupannya. وَأَتُوبُ إِلَيْهِ Hakikatnya:
“Aku kembali dari segala sesuatu menuju Dia.” Kembali:
* dari makhluk menuju Khaliq,
* dari dunia menuju Allah,
* dari diri menuju Tuhan,
* dari keakuan menuju penghambaan.

Penjelasan Imam Ali (as);  istighfar adalah maqam orang-orang yang tinggi. 
Dalam penjelasannya, istighfar sejati mencakup penyesalan, perbaikan diri, pemenuhan hak-hak manusia, dan perubahan hidup secara nyata.

Ahli hakikat Ahlul Bait memahami riwayat ini sebagai isyarat bahwa istighfar bukan sekadar kata-kata, tetapi transformasi seluruh wujud manusia.

Pandangan Irfani Ahlul Bait tentang Tingkatan Istighfar
Tingkat Pertama; Istighfar dari dosa.
Tingkat Kedua;  Istighfar dari kelalaian.  
Tingkat Ketiga;  Istighfar dari melihat selain Allah.
Tingkat Keempat; Istighfar dari melihat amal diri sendiri.
Tingkat Kelima; Istighfar dari keberadaan diri yang merasa terpisah dari Allah. 
Maksud tingkat terakhir bukanlah hilangnya perbedaan antara hamba dan Tuhan, melainkan lenyapnya kesombongan dan klaim kemandirian diri di hadapan Allah Yang Maha Esa.

Rahasia Membaca 100 Kali Setiap Hari: 
Menurut para ahli hakikat yang berpegang pada ajaran Ahlul Bait:
* 100 kali istighfar melatih hati untuk selalu kembali kepada Allah.
* Setiap istighfar mengikis satu lapisan hijab batin.
* Istighfar yang terus-menerus menumbuhkan rasa fakir di hadapan Allah.
* Ia menjadi “mandi ruhani” yang membersihkan hati dari debu kelalaian sehari-hari.
* Semakin banyak istighfar, semakin hidup kesadaran akan kehadiran Allah.

Munajat Hakikat
إِلٰهِي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ مَا يَحْجُبُنِي عَنْكَ، وَأَتُوبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ مَا يُبْعِدُنِي مِنْكَ
Ilāhī, astaghfiruka min kulli mā yaḥjubunī ‘anka, wa atūbu ilaika min kulli mā yub’idunī minka.
“Tuhanku, aku memohon ampun kepada-Mu dari segala sesuatu yang menghijabku dari-Mu, dan aku bertobat kepada-Mu dari segala sesuatu yang menjauhkanku dari-Mu.” 
Dalam bahasa hakikat Ahlul Bait, “Astaghfirullāha Rabbī wa Atūbu Ilaih” adalah perjalanan abadi seorang hamba: kembali dari kelalaian menuju zikir, dari hijab menuju cahaya, dan dari diri menuju Allah.

Kisah dan Cerita tentang Keutamaan Istighfar
1. Nabi Adam (as): Istighfar yang Membuka Pintu Taubat
Ketika Nabi Adam (as) dan Sayyidah Hawa tergelincir karena memakan buah yang terlarang, mereka tidak menyalahkan siapa pun. Mereka berdoa: رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ; Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri…” QS. Al-A’raf: 23
Karena istighfar dan taubat mereka, Allah menerima taubat keduanya. Kisah ini mengajarkan bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada rahmat Allah.

2. Nabi Nuh (as): Istighfar Membuka Pintu Rezeki
Nabi Nuh (as) menyeru kaumnya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 10)
Beliau menjelaskan bahwa istighfar mendatangkan hujan, keberkahan, rezeki, dan keturunan. Ini adalah salah satu ayat paling terkenal tentang hubungan istighfar dan rezeki.

3. Nabi Yunus (as): Istighfar di Dalam Perut Ikan; 
Ketika berada dalam kegelapan laut dan perut ikan, Nabi Yunus (as) berdoa:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Pengakuan dosa dan kerendahan hati itu menjadi sebab keselamatannya. Para ulama menyebut doa ini sebagai salah satu bentuk istighfar yang paling agung.

4. Rasulullah ﷺ: Seratus Kali Istighfar Setiap Hari; 
Walaupun maksum, Rasulullah ﷺ beristighfar hingga seratus kali sehari. Para ulama menjelaskan bahwa beliau mengajarkan umat bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar rasa butuhnya kepada ampunan dan rahmat-Nya.

5. Imam Ali (as) dan Orang yang Mengucapkan “Astaghfirullah”
Seseorang berkata di hadapan Imam Ali bin Abi Thalib as:”Astaghfirullah.”
Imam Ali (as) bersabda:”Tahukah engkau apa itu istighfar? Istighfar adalah derajat orang-orang yang tinggi.” Kemudian beliau menjelaskan syarat-syarat taubat sejati. Kisah ini menunjukkan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan, tetapi perubahan hidup.

6. Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) dan Kesulitan Rezeki; 
Seseorang mengadu kepada Imam Ja’far ash-Shadiq as tentang sempitnya rezeki.
Imam menjawab: “Perbanyaklah istighfar.” Orang lain mengadu belum memiliki anak. Imam menjawab: “Perbanyaklah istighfar.” Ketika ditanya mengapa jawabannya sama, Imam membaca ayat-ayat Surah Nuh tentang keberkahan istighfar.

7. Hasan al-Bashri dan Tiga Orang yang Datang. 
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki mengadu tentang kekeringan.Hasan al-Bashri berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”
Orang kedua mengadu kemiskinan. Beliau menjawab:”Beristighfarlah.”
Orang ketiga mengadu belum memiliki anak. Beliau menjawab: “Beristighfarlah.” Kemudian beliau membaca Surah Nuh ayat 10–12.

8. Kisah Seorang Abid yang Selamat Karena Istighfar; 
Dalam literatur akhlak Islam disebutkan kisah seorang ahli ibadah yang tergelincir dalam dosa. Ia menangis dan beristighfar sepanjang malam hingga Allah menerima taubatnya.
Pesan kisah ini adalah bahwa yang menyelamatkan bukan sekadar amal masa lalu, tetapi kembalinya hati kepada Allah.

9. Imam Zainal Abidin (as) dan Tangisan Istighfar;  
Imam Ali ibn Husayn Zayn al-Abidin dikenal banyak beristighfar dalam doa-doanya, terutama dalam Al-Sahifa al-Sajjadiyya. Padahal beliau maksum. Para arif menjelaskan bahwa semakin mengenal Allah, semakin besar rasa rendah hati dan kebutuhan kepada ampunan-Nya.

10. Kisah Orang Berdosa yang Tidak Putus Asa; 
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa seseorang datang kepada Nabi ﷺ dengan dosa yang besar dan takut Allah tidak mengampuninya.
Nabi mengajarkannya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah dan terus beristighfar. Hal ini sesuai dengan firman Allah:”Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Hikmah dari 10 Kisah Ini;
1. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada rahmat Allah.
2. Istighfar membuka pintu taubat.
3. Istighfar menarik keberkahan rezeki.
4. Istighfar menghilangkan kesedihan.
5. Istighfar menolak bala.
6. Istighfar membersihkan hati.
7. Istighfar menghidupkan harapan.
8. Istighfar mendekatkan kepada Allah.
9. Istighfar adalah jalan para nabi dan para imam.
10. Istighfar adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Menurut para arif Ahlul Bait, seseorang yang membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
sebanyak 100 kali setiap hari sedang mengetuk pintu rahmat Allah 100 kali. Dan Allah adalah Dzat yang tidak pernah bosan menerima hamba yang kembali kepada-Nya.

Manfaat Istighfar 100 Kali Setiap Hari dan Doanya. 
Lafaz Istighfar
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullāha Rabbī wa Atūbu Ilaih; Aku memohon ampun kepada Allah, Tuhanku, dan aku bertobat kepada-Nya.”

Manfaat Istighfar; 
1. Menghapus Dosa; Istighfar adalah sarana pengampunan dosa dan pembersihan catatan amal.

2. Membersihkan Hati
Dosa meninggalkan noda pada qalbu. Istighfar membersihkan hati sehingga lebih mudah menerima hidayah.

3. Membuka Pintu Rezeki
Berdasarkan Surah Nuh ayat 10–12, istighfar menjadi sebab turunnya keberkahan rezeki, harta, dan keturunan.

4. Menghilangkan Kesedihan
Dalam hadis disebutkan bahwa Allah memberikan jalan keluar dari kesempitan bagi orang yang memperbanyak istighfar.

5. Menolak Bala dan Musibah
Istighfar merupakan salah satu sebab tertolaknya azab dan musibah yang akan turun.

6. Memudahkan Urusan
Banyak ulama dan orang saleh menjadikan istighfar sebagai amalan utama ketika menghadapi kesulitan.

7. Menghidupkan Cahaya Hati
Menurut riwayat Ahlul Bait (as), hati yang banyak beristighfar menjadi lebih lembut dan hidup.

8. Membuka Pintu Doa
Istighfar menghilangkan penghalang antara doa seorang hamba dan rahmat Allah.

9. Mendatangkan Ketenangan Jiwa
Orang yang beristighfar secara rutin merasakan ketenangan, karena beban dosa dan penyesalan diserahkan kepada Allah.

10. Menjadi Bekal Husnul Khatimah
Membiasakan istighfar setiap hari membantu seorang mukmin menghadap Allah dengan hati yang lebih bersih.

Doa Setelah Istighfar, 
Doa dari Al-Qur’an:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Rabbanā zhalamnā anfusanā wa in lam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn.
Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Doa Istighfar dari Ahlul Bait (as)
Dari munajat para Imam Ahlul Bait:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي الذُّنُوبَ الَّتِي تَحْبِسُ الدُّعَاءَ
Allāhumma-ghfir lī adh-dhunūba allatī taḥbisu ad-du’ā’.Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang menghalangi terkabulnya doa.”

Doa untuk Dibaca Setelah 100 Kali Istighfar: 
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ
Allāhummaj’alnī minat-tawwābīn waj’alnī minal-mutaṭahhirīn.
Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang banyak bertobat dan jadikan aku termasuk orang-orang yang disucikan.”

Munajat Makrifat Ahlul Bait
إِلٰهِي لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا، وَاغْفِرْ لِي مَا خَفِيَ مِنْ ذُنُوبِي وَمَا ظَهَرَ
Ilāhī lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ’aynin abadan, waghfir lī mā khafiya min dhunūbī wa mā ẓahara.
Tuhanku, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi maupun yang tampak.”

Rahasia Menurut Ahlul Bait (as)
Para Imam Ahlul Bait mengajarkan bahwa istighfar yang paling berpengaruh adalah yang disertai:
1. Penyesalan dalam hati.
2. Kerendahan diri di hadapan Allah.
3. Tekad untuk memperbaiki diri.
4. Mengembalikan hak orang lain bila pernah dizalimi.
5. Harapan penuh kepada rahmat Allah.

Karena itu, membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
sebanyak 100 kali setiap hari bukan hanya dzikir lisan, tetapi juga latihan untuk menjadikan hati selalu kembali kepada Allah, memohon ampunan-Nya, dan hidup dalam cahaya taubat yang berkelanjutan.

Munajat Istighfar Ahlul Bait (as)
Di antara munajat yang indah dari Ahlul Bait (as), khususnya yang dinisbahkan kepada Imam Ali ibn Husayn Zayn al-Abidin dalam Al-Sahifa al-Sajjadiyya dan Munajat at-Tā’ibīn (Munajat Orang-Orang yang Bertobat), adalah sebagai berikut:

إِلٰهِي أَلْبَسَتْنِي الْخَطَايَا ثَوْبَ مَذَلَّتِي، 
وَجَلَّلَنِي التَّبَاعُدُ مِنْكَ لِبَاسَ مَسْكَنَتِي، وَأَمَاتَ قَلْبِي عَظِيمُ جِنَايَتِي، 
فَأَحْيِهِ بِتَوْبَةٍ مِنْكَ يَا أَمَلِي وَبُغْيَتِي.
“Tuhanku, dosa-dosaku telah mengenakanku pakaian kehinaan, jauhnya aku dari-Mu telah menyelimutiku dengan pakaian kemiskinan dan kerendahan, dan besarnya pelanggaranku telah mematikan hatiku. Maka hidupkanlah hatiku dengan taubat dari-Mu, wahai harapanku dan tujuan cintaku.”

Munajat Pendek Istighfar
إِلٰهِي أَنَا الْمُقِرُّ بِذُنُوبِي فَاغْفِرْهَا لِي، وَأَنَا الْمُعْتَرِفُ بِخَطَايَايَ فَتَجَاوَزْ عَنِّي.
“Tuhanku, aku mengakui dosa -dosaku, maka ampunilah aku. Aku mengakui kesalahan-kesalahanku, maka maafkanlah aku.”

Munajat Amirul Mukminin (as)
Dinukil dari doa-doa Imam Ali bin Abi Thalib as:
إِلٰهِي كَفَى بِي عِزًّا أَنْ أَكُونَ لَكَ عَبْدًا، 
وَكَفَى بِي فَخْرًا أَنْ تَكُونَ لِي رَبًّا، 
أَنْتَ كَمَا أُحِبُّ فَاجْعَلْنِي كَمَا تُحِبُّ.
“Tuhanku, cukuplah kemuliaan bagiku bahwa aku adalah hamba-Mu, dan cukuplah kebanggaan bagiku bahwa Engkau adalah Tuhanku. Engkau sebagaimana yang aku cintai, maka jadikanlah aku sebagaimana yang Engkau cintai.”

Munajat Istighfar dari Doa Kumayl
Doa yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as kepada Kumayl ibn Ziyad:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي الذُّنُوبَ الَّتِي تَهْتِكُ الْعِصَمَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي الذُّنُوبَ الَّتِي تُنْزِلُ النِّقَمَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي الذُّنُوبَ الَّتِي تَحْبِسُ الدُّعَاءَ
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang merobek tabir perlindungan-Mu.”
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang menurunkan bencana.”
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang menghalangi doa.”

Munajat Hakikat Ahlul Bait
إِلٰهِي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ أَبْعَدَنِي عَنْكَ، وَأَتُوبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ شَغَلَنِي بِغَيْرِكَ.
“Tuhanku, aku memohon ampun kepada-Mu dari setiap dosa yang menjauhkanku dari-Mu, dan aku bertobat kepada-Mu dari segala sesuatu yang menyibukkanku selain Engkau.”

Munajat Para Pencinta Ahlul Bait
اللَّهُمَّ اجْعَلْ اسْتِغْفَارِي اسْتِغْفَارَ الْخَائِفِينَ، وَتَوْبَتِي تَوْبَةَ الْمُحِبِّينَ، وَدُمُوعِي دُمُوعَ الْمُشْتَاقِينَ، وَقَلْبِي قَلْبَ الْعَارِفِينَ.
“Ya Allah, jadikan istighfarku seperti istighfar orang-orang yang takut kepada-Mu, taubatku seperti taubat para pecinta-Mu, air mataku seperti air mata orang-orang yang rindu kepada-Mu, dan hatiku seperti hati orang-orang yang mengenal-Mu.”

Penutup Munajat
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّي وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ.
“Aku memohon ampun kepada Allah, Tuhanku, dan aku bertobat kepada-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya.” Munajat-munajat Ahlul Bait mengajarkan bahwa istighfar bukan sekadar permintaan penghapusan dosa, melainkan kembalinya hati kepada Allah dengan penyesalan, harapan, cinta, dan kerinduan untuk dekat dengan-Nya.

Doa mohon ampun malam Arofah
إِغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّذِي تُغَيِّرُ النِّعَمَ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُوْرِثُ النَّدَمَ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُوْرِثُ السَّقَمَ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَهْتِكُ الْعِصَمَ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَرُدُّ الدُّعَاءِ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَحْبِسُ قَطْرَ السَّمَاءِ وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُعَجِّلُ الْفَنَاءَ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَجْلِبُ الشَّقَاءَ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُظْلِمُ الْهَوَاءَ، 
وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَكْشِفُ الْغِطَاءَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ لاَ يَغْفِرُهَا غَيْرُكَ يَااَللهُ وَاحْمِلْ عَيْنِيْ كُلَّ تَبِعَةٍ ِلأَحَدٍ 
مِنْ خَلْقِكَ، وَاجْعَلْ لِي مِنْ أَمْرِي فَرَجًا وَمَخْرَجًاوَيُسْرًا، وَأَنْزِلْ يَقِيْنَكَ فِي صَدْرِي، وَرَجَاءِكَ فِي قَلْبِيْ، حَتَّى لاَأَرْجُوْ غَيْرَكَ، 

Ighfir liyadz-dzunûbal ladzî tughoyyirun-ni’am, waghfir liyadz-dzunûbal latî turitsun-nadam, waghfir liyadz-dzunûbal latî tûritsus-saqom, waghfir liyadz-dzunûbal latî tahtikul ‘ishom, waghfir liyadz-dzunûbal latî taruddud-duâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî tahbisu qothros-samâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî tu’ajjilul fanâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî tajlibusy-syaqô’,  wagh fir liyadz-dzunûbal latî tuzhlimul hawâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî taksyiful ghi thô’, waghfir liyadz-dzunûbal latî lâ yagh firuhâ ghoiruka, Yâ Allâh, wahmil ‘ainî kul la tabi’atin li ahadin min kholqika, waj’al-lî min amrî farojan wamakhrojan wayusron, wa anzil yaqînaka fî shodrî, warojâ-ika fî qolbî, hattâ lâ arjû ghoyroka, 

Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang dapat mengubah nikmat. 
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat mendatangkan pe-nyesalan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat mewariskan penyakit. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat menolak doa. Ampunilah dosa-dosaku yang dapat menahan tetesan air hujan. 
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat menyegerakan kehancuran.Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat  mendatangkan bencana, ampunilah dosa-dosaku yang dapat menggelapkan udara.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat menyingkap tirai. 
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang tidak dapat mengampuninya kecuali Engkau. Ya Allah. Hindarkanlah daku dari segala bentuk kezaliman kepada hamba-Mu dan berilah aku jalan keluar dan kemudahan dalam setiap urusanku karuniailah daku keyakinan kepada-Mu dalam dadaku dan harapan kepada-Mu dalam hatiku sehingga aku tidak berharap kecuali kepada-Mu. 

Doa Istighfar setelah Ziarah Imam Ali Ar-Ridho as dan Makrifatnya;

1. يَا خَيْرَ الْغَافِرِينَ
Yā Khayral-Ghāfirīn; Wahai Sebaik-baik Yang Mengampuni.” 
Makrifat: Salik memulai perjalanan dengan mengenal bahwa tidak ada pengampun hakiki selain Allah. Semua pintu kembali bermuara kepada Rahmat-Nya.

2. رَبِّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ حَيَاءٍ
Rabbi innī astaghfiruka istighfāra ḥayā’.; “Tuhanku, aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar karena rasa malu.” 
Makrifat: Malu karena menyadari begitu banyak nikmat Allah dibalas dengan kelalaian. Ini maqam para pecinta yang merasa tidak pantas di hadapan-Nya.

3. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ رَجَاءٍ
Wa astaghfiruka istighfāra rajā’.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar penuh harapan.”
Makrifat: Harapan kepada rahmat Allah lebih besar daripada dosa yang pernah dilakukan.

4. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ إِنَابَةٍ
Wa astaghfiruka istighfāra inābah.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar orang yang kembali.” 
Makrifat: Inabah adalah pulangnya hati dari selain Allah menuju Allah.

5. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ رَغْبَةٍ
Wa astaghfiruka istighfāra raghbah.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar penuh kerinduan.”
Makrifat: Bukan hanya takut neraka, tetapi rindu kedekatan dengan-Nya.

6. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ رَهْبَةٍ
Wa astaghfiruka istighfāra rahbah.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar penuh rasa takut.”
Makrifat: Takut terhijab dari Allah lebih berat daripada takut hukuman.

7. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ طَاعَةٍ
Wa astaghfiruka istighfāra ṭā‘ah.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar dalam ketaatan.”
Makrifat: Istighfar sendiri adalah ibadah dan bentuk penghambaan.

8. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ إِيمَانٍ
Wa astaghfiruka istighfāra īmān.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar yang lahir dari iman.” 
Makrifat: Orang beriman yakin bahwa hanya Allah yang dapat menghapus dosa.

9. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ إِقْرَارٍ
Wa astaghfiruka istighfāra iqrār.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan pengakuan.” 
Makrifat: Mengakui kelemahan diri adalah awal terbukanya pintu rahmat.

10. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ إِخْلَاصٍ
Wa astaghfiruka istighfāra ikhlāṣ.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan ketulusan.” 
Makrifat: Tidak mencari pujian manusia, hanya ridha Allah.

11. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ تَقْوَى
Wa astaghfiruka istighfāra taqwā.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar orang yang bertakwa.” 
Makrifat: Takwa membuat hati segera kembali saat tergelincir.

12. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ تَوَكُّلٍ
Wa astaghfiruka istighfāra tawakkul.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan istighfar penuh tawakal.”
Makrifat: Menyerahkan seluruh urusan ampunan kepada Allah, bukan kepada amal diri.

13. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ ذِلَّةٍ
Wa astaghfiruka istighfāra dhillah.
“Aku memohon ampun kepada-Mu dengan penuh kerendahan.”
Makrifat: Kemuliaan sejati lahir dari kehinaan di hadapan Allah.

14. وَأَسْتَغْفِرُكَ اسْتِغْفَارَ عَامِلٍ لَكَ هَارِبٍ مِنْكَ إِلَيْكَ
Wa astaghfiruka istighfāra ‘āmilin laka hāribin minka ilayk.
“Aku memohon ampun kepada-Mu seperti seorang hamba yang beramal untuk-Mu dan lari dari-Mu menuju kepada-Mu.” 
Makrifat: Ini maqam tertinggi. Tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada Allah sendiri.

15. فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Fa ṣalli ‘alā Muḥammadin wa Āli Muḥammad.:Maka limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad.” 
Makrifat: Jalan menuju Allah ditempuh melalui cahaya Muhammad dan Ahlulbait.

16. وَتُبْ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ
Wa tub ‘alayya wa ‘alā wālidayya.
“Terimalah tobatku dan tobat kedua orang tuaku.” 
Makrifat: Arif tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga asal-usul keberadaannya.

17. يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Yā Arḥamar-Rāḥimīn.;?Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.” 
Makrifat: Seluruh kasih sayang makhluk hanyalah setetes dari samudera rahmat-Nya.

18. يَا مَنْ يُسَمَّى بِالْغَفُورِ الرَّحِيمِ
Yā man yusammā bil-Ghafūr ar-Raḥīm.”Wahai Dzat yang disebut Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 
Makrifat: Nama-Nama Allah bukan sekadar lafaz, tetapi pintu tajalli sifat-sifat-Nya.

19. وَاقْبَلْ تَوْبَتِي وَزَكِّ عَمَلِي
Waqbal tawbatī wa zakkī ‘amalī.
“Terimalah tobatku dan sucikan amal-amalku.” 
Makrifat: Yang dibutuhkan bukan banyaknya amal, tetapi kesuciannya.

20. وَاشْكُرْ سَعْيِي وَارْحَمْ ضَرَاعَتِي
Washkur sa‘yī warḥam ḍarā‘atī.
“Hargailah usahaku dan kasihanilah kerendahan doaku.” 
Makrifat: Segala amal kecil menjadi besar jika diterima Allah.

21. وَلَا تَحْجُبْ صَوْتِي وَلَا تُخَيِّبْ مَسْأَلَتِي
Wa lā taḥjub ṣawtī wa lā tukhayyib mas’alatī.:”Jangan Engkau halangi suaraku dan jangan Engkau kecewakan permohonanku.”
Makrifat: Hijab terbesar bukan jarak, tetapi dosa dan kelalaian hati.

22. يَا غَوْثَ الْمُسْتَغِيثِينَ
Yā Ghawthal-Mustaghīthīn.
“Wahai Penolong orang-orang yang memohon pertolongan.” 
Makrifat: Saat seluruh sebab terputus, Allah tetap menjadi penolong.

23. وَأَبْلِغْ أَئِمَّتِي سَلَامِي وَدُعَائِي
Wa abligh a’immatī salāmī wa du‘ā’ī.
“Sampaikan salam dan doaku kepada para Imamku.” 
Makrifat: Kecintaan kepada para Imam adalah keterhubungan dengan para pembimbing menuju Allah.

24. وَشَفِّعْهُمْ فِي جَمِيعِ مَا سَأَلْتُكَ
Wa shaffi‘hum fī jamī‘i mā sa’altuka.
“Jadikan mereka pemberi syafaat bagiku dalam semua yang kupohon kepada-Mu.” 
Makrifat: Syafaat adalah pancaran rahmat Allah melalui hamba-hamba pilihan-Nya.

25. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāhil ‘Aliyyil ‘Aẓīm.”Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Makrifat: Puncak istighfar adalah fana dari kekuatan diri dan menyaksikan seluruh kekuatan berasal dari Allah.

“26. وَصَلَّى اللهُ عَلَى أَطْيَبِ الْمُرْسَلِينَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الطَّاهِرِينَ
Wa ṣallallāhu ‘alā aṭyabil-mursalīn Muḥammadin wa ālihit-ṭāhirīn.
“Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada sebaik-baik para rasul, Muhammad dan keluarganya yang suci.” 
Makrifat: Awal perjalanan adalah istighfar, akhir perjalanan adalah Muhammad dan Ahlulbait sebagai jalan kesempurnaan menuju Allah.


Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR