Makna Asyura Menurut Allah & Perintah Menangisi Imam Husein as

Makna Asyuro menurut Allah SWT dalam hadis Munajat Nabi Musa as
الشَّيْخُ فَخْرُ الدِّينِ الطُّرَيْحِيُّ فِي مَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ، وَ فِي حَدِيثِ مُنَاجَاةِ مُوسَى ع 
وَ قَدْ قَالَ 
يَا رَبِّ لِمَ فَضَّلْتَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ص 
عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ 
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى 
فَضَّلْتُهُمْ لِعَشْرِ خِصَال
قَالَ مُوسَى 
وَ مَا تِلْكَ الْخِصَالُ الَّتِي يَعْمَلُونَهَا 
حَتَّى آمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يَعْمَلُونَهَا 
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى 
الصَّلَاةُ وَ الزَّكَاةُ وَ الصَّوْمُ وَ الْحَجُّ وَ الْجِهَادُ وَ الْجُمُعَةُ وَ الْجَمَاعَةُ وَ الْقُرْآنُ وَ الْعِلْمُ 
وَ الْعَاشُورَاءُ 
قَالَ مُوسَى ع يَا رَبِّ وَ مَا الْعَاشُورَاءُ 
قَالَ الْبُكَاءُ وَ التَّبَاكِي عَلَى سِبْطِ مُحَمَّدٍ ص 
وَ الْمَرْثِيَةُ وَ الْعَزَاءُ عَلَى مُصِيبَةِ 
وُلْدِ الْمُصْطَفَى 
يَا مُوسَى مَا مِنْ عَبْدٍ مِنْ عَبِيدِي 
فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ بَكَى أَوْ تَبَاكَى وَ تَعَزَّى 
عَلَى وُلْدِ الْمُصْطَفَى ص 
إِلَّا وَ كَانَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثَابِتاً فِيهَا 
وَ مَا مِنْ عَبْدٍ أَنْفَقَ مِنْ مَالِهِ 
فِي مَحَبَّةِ ابْنِ بِنْتِ نَبِيِّهِ 
طَعَاماً وَ غَيْرَ ذَلِكَ دِرْهَماً 
إِلَّا وَ بَارَكْتُ لَهُ فِي الدَّارِ الدُّنْيَا 
الدِّرْهَمَ بِسَبْعِينَ دِرْهَماً 
وَ كَانَ مُعَافاً فِي الْجَنَّةِ 
وَ غَفَرْتُ لَهُ ذُنُوبَهُ 
وَ عِزَّتِي وَ جَلَالِي 
مَا مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ سَالَ دَمْعُ عَيْنَيْهِ 
فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَ غَيْرِهِ 
قَطْرَةً وَاحِدَةً 
إِلَّا وَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ 
مستدرك‏الوسائل ج : 10 ص : 319

Makna Asyura Menurut Allah SWT dalam Hadis Munajat Nabi Musa (as) Sumber. Diriwayatkan oleh Fakhruddin ath-Thurayhi dalam kitab Majma’ al-Baḥrayn, dan disebut pula dalam Mustadrak al-Wasā’il.

1. وَفِي حَدِيثِ مُنَاجَاةِ مُوسَى (ع)
Wa fī ḥadīthi munājāti Mūsā (a).
“Dan dalam hadis munajat Nabi Musa (as).” 
Makrifat: Munajat adalah percakapan cinta antara seorang nabi dan Tuhannya. Hakikat ilmu tertinggi bukan sekadar mengetahui Allah, tetapi berbicara dengan-Nya melalui hati yang hadir.
Hakikat;Jalan para nabi dimulai dari munajat; jalan para arif berakhir pada munajat.

2. يَا رَبِّ لِمَ فَضَّلْتَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ص 
عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ
“Wahai Tuhanku, mengapa Engkau melebihkan umat Muhammad atas seluruh umat lainnya?”
Makrifat; Nabi Musa tidak bertanya karena iri, tetapi karena ingin mengetahui rahasia kedudukan umat Nabi Muhammad ﷺ. 
Hakikat; Kemuliaan umat Muhammad bukan karena jumlahnya, tetapi karena hubungan mereka dengan Nabi Muhammad ﷺ dan Ahlul Baitnya.

3. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فَضَّلْتُهُمْ لِعَشْرِ خِصَالٍ
“Allah Ta’ala berfirman: Aku melebihkan mereka karena sepuluh keutamaan.” 
Makrifat; Keutamaan bukan hadiah tanpa sebab; ia lahir dari amal, iman, dan kecintaan kepada Allah. Hakikat; Allah mengangkat suatu umat melalui nilai-nilai ruhani yang mereka hidupkan.

4. الصَّلَاةُ وَالزَّكَاةُ وَالصَّوْمُ وَالْحَجُّ وَالْجِهَادُ وَالْجُمُعَةُ وَالْجَمَاعَةُ وَالْقُرْآنُ وَالْعِلْمُ وَالْعَاشُورَاءُ
“(Yaitu) shalat, zakat, puasa, haji, jihad, Jumat, jamaah, Al-Qur’an, ilmu, dan Asyura.”
Makrifat; Menarik bahwa Asyura disebut sejajar dengan shalat, puasa, haji, dan ilmu. Ini menunjukkan bahwa Asyura bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi sebuah madrasah spiritual. 
Hakikat; Asyura adalah manifestasi hidup dari Al-Qur’an, jihad, ilmu, dan pengorbanan.

5. قَالَ مُوسَى يَا رَبِّ وَمَا الْعَاشُورَاءُ
“Musa berkata: Wahai Tuhanku, apakah Asyura itu?”
Makrifat; Musa bertanya tentang hakikat Asyura, bukan tanggalnya. 
Hakikat: Orang arif selalu mencari makna di balik peristiwa.

6. قَالَ الْبُكَاءُ وَالتَّبَاكِي عَلَى سِبْطِ مُحَمَّدٍ
“Allah berfirman: Menangis dan berusaha menangis atas cucu Muhammad.”
Makrifat:Tangisan di sini bukan sekadar emosi, tetapi ungkapan cinta, kesetiaan, dan keterikatan ruhani kepada Imam Husain ibn Ali as. 
Hakikat: Air mata Husaini adalah bahasa hati ketika lisan tidak mampu mengungkapkan cinta kepada wali Allah.

7. وَالْمَرْثِيَةُ وَالْعَزَاءُ عَلَى مُصِيبَةِ وُلْدِ الْمُصْطَفَى
“Dan meratapi serta berkabung atas musibah putra Al-Musthafa (Nabi Muhammad).” 
Makrifat; Berkabung berarti menghadirkan nilai Karbala dalam hati. 
Hakikat: Majelis duka Imam Husain as adalah majelis kehidupan ruh, bukan majelis keputusasaan.

8. مَا مِنْ عَبْدٍ … بَكَى أَوْ تَبَاكَى وَتَعَزَّى عَلَى وُلْدِ الْمُصْطَفَى إِلَّا وَكَانَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
“Tidak ada seorang hamba yang menangis atau berusaha menangis dan berduka atas putra Al-Musthafa, kecuali baginya surga.” 
Makrifat; Tangisan yang lahir dari kecintaan kepada wali Allah menjadi sebab turunnya rahmat Ilahi. Hakikat; Hakikat surga adalah kedekatan dengan Allah dan para kekasih-Nya.

9. وَمَا مِنْ عَبْدٍ أَنْفَقَ مِنْ مَالِهِ فِي مَحَبَّةِ ابْنِ بِنْتِ نَبِيِّهِ
“Tidak ada seorang hamba yang menginfakkan hartanya karena kecintaan kepada putra putri Nabi-Nya.”
Makrifat;Cinta sejati selalu melahirkan pengorbanan.
Hakikat; Harta yang diberikan untuk Imam Husain as sebenarnya sedang ditukar dengan keberkahan yang abadi.

10. بَارَكْتُ لَهُ فِي الدَّارِ الدُّنْيَا
“Aku akan memberkahi kehidupannya di dunia.” 
Makrifat: Barakah bukan banyaknya harta, tetapi bertambahnya manfaat dan ketenangan. 
Hakikat; Satu yang diberkahi lebih baik daripada seribu yang tidak diberkahi.

11. وَغَفَرْتُ لَهُ ذُنُوبَهُ
“Dan Aku mengampuni dosa-dosanya.” 
Makrifat; Cinta kepada wali Allah membuka pintu rahmat dan ampunan. 
Hakikat; Pengampunan adalah tersingkapnya hijab antara hamba dan Tuhannya.

12. وَعِزَّتِي وَجَلَالِي مَا مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ سَالَ دَمْعُ عَيْنَيْهِ
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidak ada laki-laki ataupun perempuan yang mengalir air matanya.” 
Makrifat; Allah sendiri bersumpah dengan keagungan-Nya untuk menunjukkan besarnya nilai air mata yang lahir dari cinta dan kesetiaan. 
Hakikat; Air mata yang mengalir karena Allah tidak pernah sia-sia.

13. فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ … قَطْرَةً وَاحِدَةً
“Pada hari Asyura walaupun hanya satu tetes.” 
Makrifat; Yang dinilai Allah bukan banyaknya tangisan, tetapi keikhlasan hati. 
Hakikat; Satu tetes yang ikhlas lebih bernilai daripada lautan yang penuh riya.

14. إِلَّا وَكُتِبَ لَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ
“Kecuali dituliskan baginya pahala seratus syahid.”
Makrifat: Syahid adalah simbol pengorbanan tertinggi. Air mata Husaini menjadi tanda kesediaan hati untuk berjalan di jalan para syuhada Karbala.
Hakikat:Orang yang mencintai Imam Husain as dengan tulus akan memperoleh bagian dari cahaya pengorbanan Karbala sesuai kadar keikhlasannya.

Kesimpulan Makrifat dan Hakikat Asyura; 
Menurut hadis ini, Asyura dalam pandangan Allah bukan sekadar tanggal 10 Muharram, tetapi:
1. Hari cinta kepada Husain (as).
2. Hari kesetiaan kepada jalan Nabi Muhammad ﷺ.
3. Hari tangisan yang menghidupkan hati.
4. Hari mengenang pengorbanan demi kebenaran.
5. Hari turunnya rahmat, ampunan, dan keberkahan.

Dalam pandangan para arif Ahlul Bait (as), hakikat tangisan Husaini adalah bahwa hati ikut hadir di Karbala, berdiri bersama Husain (as), berlepas diri dari kezaliman, dan memperbarui janji untuk berjalan di jalan Allah hingga akhir hayat.

Dalam tradisi makrifat dan hikmah, jika dikaitkan dengan ungkapan “Kullu yaumin ’Asyura wa kullu ardhin Karbala” (Setiap hari adalah Asyura dan setiap bumi adalah Karbala), maka sepuluh perkara ini dapat dimaknai sebagai Asyura yang hidup setiap hari dalam diri seorang mukmin.

10 Makna Asyura Setiap Hari
1. Shalat adalah Asyura Harian
Sebagaimana Imam Husain as mempertahankan shalat di tengah medan Karbala, setiap shalat adalah pilihan antara mengingat Allah atau melupakan-Nya. 
Asyura hari ini: Apakah kita menjaga shalat seperti Imam Husain as menjaga shalat Zuhur di Karbala? Di tengah medan perang terlebih di waktu lainnya.

2. Zakat adalah Asyura Harian
Karbala mengajarkan pengorbanan. Zakat bukan sekadar memberi harta, tetapi melepaskan kecintaan kepada dunia. 
Asyura hari ini: Apa yang kita korbankan demi Allah?

3. Puasa adalah Asyura Harian
Puasa adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Sebagaimana Imam Husain as menahan haus dan lapar demi kebenaran. 
Asyura hari ini: Mampukah kita menahan diri dari dosa?

4. Haji adalah Asyura Harian
Imam Husain as meninggalkan Makkah demi menjaga kesucian agama. Haji mengajarkan hijrah menuju Allah. 
Asyura hari ini: Sudahkah kita berhijrah dari keburukan menuju kebaikan?

5. Jihad adalah Asyura Harian
Jihad terbesar adalah melawan nafsu. Karbala adalah puncak jihad lahir dan batin. 
Asyura hari ini: Apa musuh terbesar dalam diri kita?

6. Jumat adalah Asyura Harian
Jumat adalah hari pembaruan janji kepada Allah. Di Karbala, para sahabat memperbarui baiat kepada Imam Husain as hingga syahid.
Asyura hari ini; Apakah kita masih setia pada janji kepada Allah?

7. Jamaah adalah Asyura Harian
Tidak ada Karbala tanpa para sahabat setia. Jamaah mengajarkan kebersamaan dalam kebenaran.
Asyura hari ini: Bersama siapa kita berjalan menuju Allah?

8. Al-Qur’an adalah Asyura Harian
Imam Husain as adalah Al-Qur’an yang hidup. Karbala adalah perjuangan menjaga ruh Al-Qur’an.
Asyura hari ini: Apakah Al-Qur’an memimpin hidup kita atau hanya menghiasi rak?

9. Ilmu adalah Asyura Harian
Kebodohan adalah akar penyimpangan umat terhadap Ahlul Bait. Ilmu membedakan jalan Imam Husain as dan jalan Yazid. 
Asyura hari ini: Apakah ilmu kita mendekatkan kepada Allah atau hanya menambah kesombongan?

10. Asyura adalah Asyura Harian
Asyura bukan hanya tanggal 10 Muharram. Asyura adalah saat kebenaran berhadapan dengan kebatilan dalam setiap detik kehidupan. 
Asyura hari ini: Ketika harus memilih antara kejujuran dan kebohongan. Ketika harus memilih antara Allah dan hawa nafsu. Ketika harus memilih antara Imam Husain dan Yazid dalam diri sendiri.

Menurut Ahli Makrifat Ahlul Bait
Mereka memandang bahwa:
* Shalat adalah Karbala ruh.
* Zakat adalah Karbala harta.
* Puasa adalah Karbala syahwat.
* Haji adalah Karbala perjalanan.
* Jihad adalah Karbala nafs.
* Jumat adalah Karbala janji.
* Jamaah adalah Karbala persaudaraan.
* Al-Qur’an adalah Karbala petunjuk.
* Ilmu adalah Karbala akal.
* Asyura adalah Karbala kehidupan.

Karena itu para arif berkata:
“Setiap hari adalah Asyura, karena setiap hari Allah menampilkan medan ujian antara Imam Husain as dan Yazid di dalam hati manusia.”
Maka hakikat “الْعَاشُورَاءُ” dalam makrifat bukan hanya satu hari dalam kalender, tetapi sepuluh medan pengorbanan kepada Allah yang hadir setiap hari melalui shalat, zakat, puasa, haji, jihad, Jumat, jamaah, Al-Qur’an, ilmu, dan pilihan hidup antara kebenaran dan kebatilan.

Makrifat Keseluruhan Muharam
1. Hilal Muharam → Awal perjalanan menuju Allah.
2. Hijrah Imam Husain as → Meninggalkan kebatilan.
3. Fatimah al-’Alilah → Sabar dalam ujian.
4. Ummul Banin → Pengorbanan cinta.
5. Muslim bin Aqil → Kesetiaan.
6. Sahabat Husain → Keikhlasan.
7. Abbas → Wafa’ (loyalitas sempurna).
8. Qasim → Pengorbanan masa muda.
9. Ali Akbar → Akhlak Nabi.
10. Ali Asghar → Kesucian dan hujjah.
11. Asyura → Fana dalam kehendak Allah.
12. Syam al-Ghariban → Kesabaran dalam kesendirian.
13. Pemakaman Syuhada → Keabadian perjuangan.

Dalam pandangan para arif Ahlul Bait, “Kullu yaumin ’Asyura wa kullu ardhin Karbala” (setiap hari adalah Asyura dan setiap bumi adalah Karbala) bermakna bahwa setiap hari manusia dihadapkan pada pilihan antara jalan Imam Husain as (kebenaran) dan jalan Yazid 
ليالي شهر محرم
Malam-Malam Bulan Muharam
* Malam 1 Muharam: Hilal (bulan sabit) Muharam.
* Malam 2 Muharam: Keberangkatan Imam Husain bin Ali dari Madinah.
* Malam 3 Muharam: Malam Fatimah al-’Alilah (as).
* Malam 4 Muharam: Malam Ummul Banin (as).
* Malam 5 Muharam: Malam Muslim bin Aqil.
* Malam 6 Muharam: Malam para sahabat Imam Husain (as).
* Malam 7 Muharam: Malam Abbas bin Ali.
* Malam 8 Muharam: Malam Qasim bin Hasan.
* Malam 9 Muharam: Malam Ali Akbar bin Husain.
* Malam 10 Muharam: Malam Abdullah ar-Radhi’ (Ali Asghar).
Pagi Hari 10 Muharam (Asyura): Syahidnya Imam Husain (as).
* Malam 11 Muharam: Malam Kesepian (Syam al-Ghariban).
* Malam 12 Muharam: Malam masuknya para tawanan ke Kufah.
* Malam 13 Muharam: Malam pemakaman jasad-jasad yang suci.

“Dari sisi sejarah, sebagian penamaan dan pembagian malam-malam ini berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Namun, inti majelis tetaplah menghidupkan peringatan peristiwa Karbala dan para syuhadanya.”

10 Pelajaran Hikmah dari Malam-Malam Muharam untuk Menghidupkan Makna:
“كُلُّ يَوْمٍ عَاشُورَاءُ وَكُلُّ أَرْضٍ كَرْبَلَاءُ”
“Setiap hari adalah Asyura dan setiap bumi adalah Karbala.”
Dalam makna makrifat, Karbala bukan hanya tempat, dan Asyura bukan hanya tanggal. Ia adalah keadaan ruhani yang hadir setiap hari dalam kehidupan manusia.

1. Hilal Muharam → Awal Taubat dan Kesadaran
Pelajaran: Setiap hari Allah memberi kesempatan memulai hidup baru.
Asyura Hari Ini: Saat seseorang meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah, itulah awal Karbalanya melawan hawa nafsu.

2. Hijrah Imam Husain dari Madinah → Berani Meninggalkan Zona Nyaman
Pelajaran: Kebenaran sering menuntut pengorbanan.
Asyura Hari Ini: Ketika memilih kejujuran walau kehilangan keuntungan dunia, itulah hijrah Husaini.

3. Fatimah al-’Alilah → Sabar dalam Ujian
Pelajaran: Penyakit dan kesulitan dapat menjadi jalan kedekatan dengan Allah.
Asyura Hari Ini: Saat tetap bersyukur dalam kesakitan, seseorang sedang menghidupkan ruh Karbala.

4. Ummul Banin → Ikhlas Berkorban untuk Agama
Pelajaran: Cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada diri sendiri.
Asyura Hari Ini: Mengutamakan agama daripada ego adalah pengorbanan ala Ummul Banin.

5. Muslim bin Aqil → Tetap Setia Walau Sendirian
Pelajaran: Kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pengikut.
Asyura Hari Ini: Ketika semua orang meninggalkan kebenaran tetapi kita tetap teguh, itulah Karbala pribadi kita.

6. Para Sahabat Husain → Kesetiaan hingga Akhir
Pelajaran: Sahabat sejati tidak meninggalkan Imamnya saat sulit.
Asyura Hari Ini: Tetap istiqamah dalam iman ketika godaan datang dari segala arah.

7. Abbas bin Ali → Wafa’ (Kesetiaan Sempurna)
Pelajaran: Mengutamakan amanah daripada keinginan diri.
Asyura Hari Ini: Menahan hawa nafsu demi menjaga janji kepada Allah.

8. Qasim bin Hasan → Pemuda yang Mencintai Syahid
Pelajaran: Masa muda harus digunakan untuk kebenaran.
Asyura Hari Ini: Menggunakan tenaga, ilmu, dan waktu untuk jalan Allah sebelum habis oleh dunia.

9. Ali Akbar → Meneladani Akhlak Rasulullah ﷺ
Pelajaran: Keindahan akhlak adalah kemenangan terbesar
Asyura Hari Ini: Setiap kali memilih akhlak Nabi daripada amarah, kita sedang bersama Ali Akbar.

10. Asyura dan Syam al-Ghariban → Menang Walau Tampak Kalah
Pelajaran: Kemenangan hakiki adalah keridhaan Allah.
Asyura Hari Ini: Ketika manusia tidak menghargai perjuangan kita tetapi Allah meridhainya, itulah kemenangan Husaini.

Makrifat “Kullu Yaumin Asyura”
Menurut para arif Ahlul Bait:
* Yazid adalah hawa nafsu.
* Syam adalah dunia yang melalaikan.
* Kufah adalah hati yang berjanji tetapi mengingkari.
* Abbas adalah kesetiaan.
* Zainab adalah kesabaran.
* Ali Akbar adalah akhlak.
* Qasim adalah semangat pengorbanan.
* Ali Asghar adalah kesucian fitrah.
* Imam Husain as adalah ruh yang mengajak kepada Allah.
* Karbala adalah medan perjuangan dalam hati manusia.
Karena itu, setiap hari manusia berada di antara dua panggilan:
Panggilan Imam Husain as: menuju Allah, keadilan, kebenaran, dan pengorbanan.
atau
Panggilan Yazid: menuju hawa nafsu, kesombongan, cinta dunia, dan kezaliman.
Maka makna terdalam “Kullu Yaumin Asyura wa Kullu Ardhin Karbala” adalah: Setiap hari hati manusia menjadi medan Karbala, dan setiap saat ia harus memilih apakah akan menjadi pembela Imam Husain as atau pengikut Yazid dalam dirinya sendiri.

10 Pelajaran “Kullu Ardhin Karbala”
(Setiap Bumi adalah Karbala)
Ungkapan “كُلُّ أَرْضٍ كَرْبَلَاءُ” bermakna bahwa setiap tempat dapat menjadi medan ujian antara kebenaran dan kebatilan, antara pengabdian kepada Allah dan pengabdian kepada hawa nafsu.

1. Setiap Tempat adalah Tempat Ujian
Pelajaran: Tidak ada tempat yang bebas dari ujian Allah. 
Firman Allah: “Dia menguji kamu siapa yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Makrifat: Rumah, pasar, kantor, masjid, dan jalan raya semuanya dapat menjadi Karbala bagi hati.

2. Setiap Tempat Bisa Menjadi Tempat Ibadah
Pelajaran: Kesucian tidak hanya ada di masjid.
Hadis Nabi ﷺ:”Seluruh bumi dijadikan bagiku sebagai masjid.”
Makrifat: Dimanapun berada, seorang mukmin dapat menghadirkan Allah dalam hatinya.

3. Setiap Tempat Bisa Menjadi Medan Jihad Akbar
Pelajaran: Musuh terbesar adalah hawa nafsu.
Makrifat: Karbala terbesar bukan di luar diri, tetapi di dalam hati yang berjuang melawan kesombongan, iri, dan cinta dunia.

4. Setiap Tempat Menuntut Keberanian Memilih Kebenaran
Pelajaran: Kebenaran harus dibela di mana pun berada.
Makrifat: Ketika seseorang membela yang benar meskipun sendirian, tempat itu telah menjadi Karbala.

5. Setiap Tempat Memiliki Imam Husain as dan Yazidnya
Pelajaran: Dalam setiap keadaan ada pilihan antara hak dan batil.
Makrifat: Imam Husain as adalah suara nurani, Yazid adalah suara hawa nafsu.

6. Setiap Tempat Bisa Menjadi Tempat Pengorbanan
Pelajaran: Tidak ada cinta tanpa pengorbanan.
Makrifat: Mengorbankan ego, kemalasan, dan kepentingan pribadi demi ridha Allah adalah Karbala sehari-hari.

7. Setiap Tempat Bisa Menjadi Mimbar Zainab
Pelajaran: Kebenaran harus disampaikan walau dalam kesulitan.
Makrifat: Di rumah, sekolah, atau tempat kerja, seorang mukmin dapat menjadi penyampai pesan kebenaran sebagaimana Sayyidah Zainab (as).

8. Setiap Tempat Bisa Menjadi Tempat Kesabaran
Pelajaran: Kesabaran adalah kemenangan ruhani.
Firman Allah:”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Makrifat: Saat menghadapi musibah dengan ridha, tempat itu berubah menjadi Karbala yang membawa kedekatan kepada Allah.

9. Setiap Tempat Bisa Menjadi Saksi Amal
Pelajaran: Bumi menyimpan jejak perbuatan manusia.
Firman Allah:”Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4)
Makrifat: Tanah tempat kita bersujud akan menjadi saksi bagi kita di hadapan Allah. Terlebih mulia saat sujud di tanah Karbala.

10. Setiap Tempat Bisa Menjadi Jalan Menuju Allah
Pelajaran: Tujuan Karbala adalah Allah.
Makrifat: Karbala mengajarkan bahwa nilai suatu tempat bukan karena tanahnya, tetapi karena penghambaan yang terjadi di atasnya. Ketika hati mengingat Allah, tempat itu menjadi taman surga; ketika hati lalai, tempat itu menjadi padang Karbala yang gersang.

Kesimpulan Makrifat
Karbala lahiriah adalah tanah tempat Imam Husain (as) berjuang.
Karbala batiniah adalah hati manusia yang setiap saat menjadi medan pertempuran antara:
* Akal dan hawa nafsu,
* Cahaya dan kegelapan,
* Imam Husain as dan Yazid dalam diri.
Karena itu, makna terdalam “Kullu Ardhin Karbala” adalah: Setiap tempat yang di dalamnya seseorang memilih Allah di atas hawa nafsunya, itulah Karbala yang sesungguhnya.
Dan setiap tempat yang menjadi saksi pengorbanan demi kebenaran, telah memperoleh bagian dari cahaya Karbala.

Dalil Menangisi Imam Husein as
Para ulama banyak menggunakan dalil dari Al- Qur’an tentang menangis di antaranya adalah : AlQuran 53:59:
أَفَمِنْ هَٰذَا ٱلْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ
Apakah kalian mengingkari setiap kebenaran sehingga kalian merasa heran dan mengingkari al-Qur'ân? Lalu kalian tertawa sebagai hinaan dan cemoohan--bukan malah menangis seperti yang dilakukan orang-orang yang yakin--dalam keadaan lengah dan sombong)
Apakah kalian heran terhadap pemberitaan tentang perjalanan hidup manusia al-Qu’ran yaitu Rasulullah saw dan Ahlulbaytnya hingga kalian tertawa (mengejeki) dan tidak menangis, karena keterbatasan pengetahuan atau ketidak tahuan. Pertanyaan dalam ayat ini bernada keras berupa peringatan? Al-Qur’an al-karim dan Rasulullah adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Begitu pula antara Rasulullah saw dan Imam Husein as. Karena Rasulullah dalam sabdanya menyebutkan : ”Husein dariku dan aku dari Husein”. 

Sesuai dengan hadis Nabi saw : ”Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.
Tangisan yang hakiki ini menyebabkan timbulnya rasa khusyuk. Namun hati manusia tidak dapat menjadi khusyuk kalau mereka tidak merasa sedih atas musibah dan kesulitan yang menimpa orang lain. Sehingga menimbulkan kesadaran (kepedulian / peka) yang pada akhirnya berusaha untuk meringankan penderitaan orang lain.
Dibacakan Al-Qur’an juga sama maknanya dibacakan kejadian-kejadian yang menimpa manusia mandatarisnya Al-Qur’an yaitu Rasulullah saw. dan Ahlulbaytnya.
Tangisan juga bermakna istighfar kalau disertai penyesalan terhadap kelalaian dan dosa serta ketidak pedulian. 
Al-Quran 44:29: فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ ٱلسَّمَآءُ 
وَٱلْأَرْضُ وَمَا كَانُوا۟ مُنظَرِينَ
Langit dan bumi pun tak bersedih ketka mereka ditimpa siksaan itu, karena mereka memang hina. Mereka tidak diberi tenggang waktu untuk dapat bertobat dan untuk dapat menyadari kesalahannya, sebagai bentuk penghinaan terhadap mereka."

Rasulullah saw menangisi Imam Husein as: 
Diriwayatkan dari Amiril Mukminin a.s. :”Ketika aku bersama Fatimah, Hasan dan Husein a.s. bertemu  Rasulullah saw beliau menangis, kemudian aku bertanya apa yang menyebabkanmu menangis duhai Rasulullah saw beliau menjawab :”Pukulan (pedang) di kepala mu, pukulan yang mengenai pipi Fatimah, racun yang diberikan pada Hasan dan terbunuhnya Husein a.s.

Sayyidah Fathimah as Menangisi Imam Husein as: 
Diriwayatkan ; ’Ketika Nabi saw memberi kabar kepada putrinya Fathimah a.s. tentang berbagai musibah yang akan menimpa anaknya Husein a.s. hingga terbunuhnya. Fathimah menangis dengan tangisan yang memilukan. Kemudian bertanya; wahai Ayah, kapan hal itu akan terjadi. Beliau saw menjawab di suatu zaman yang saat itu sudah tidak ada aku dan engkau juga Ali a.s., maka bertambahlah tangisan  Fathimah a.s. Kembali Sayyidah Fathimah a.s. bertanya;’ Siapakah nanti yang akan menangisinya dan siapa yang akan mengucapkan belasung kawa atasnya. 

Nabi saw menjawab ;’Wahai Fathimah a.s. sesungguhnya wanita ummatku nanti yang akan menangisi wanita ahlu baytku sedangkan yang laki-laki akan menangisi laki-laki ahlu baytku yang selalu mengucapkan berbelasungkawa, (mengadakan acara aza’) setiap tahunnya hal itu akan terus berlangsung setiap generasi demi generasi. Ketika tiba hari kiamat engkau akan memberikan syafaat untuk kaum wanita dan aku akan memberikan syafaat untuk kaum lelaki dan setiap yang menangis atas musibah Husein a.s. aku yang akan mengangkat nya dan memasukkan nya ke surga. 

Wahai Fathimah setiap mata akan menangis di hari kiamat kecuali mata yang menangisi musibah al-Husein dia akan tersenyum dengan senyum membahagiakan karena akan mendapat kan kenikmatan-kenikmatan surga. (Al-Bihâr, juz 44, hal 293)

Para Imam Ahlul Bayt as menangisi Imam Husein as dan menganjurkan semua pecintanya untuk menangisinya; 
Diriwayatkan dari Imam Ridho a.s. :’Kejadian semisal Husein a.s. hendaklah menangislah bagi yang hendak menangis, karena tangisan untuknya akan menggugurkan dosa-dosa besar, kemudian beliau melanjutkan ; ketika bulan Muharom tiba Ayahku tidak kelihatan tertawa seakan ada yang mengalahkannya hingga sepuluh hari, ketika tiba hari kesepuluh, hari musibahnya dan kesedihanya serta tangisannya, inilah hari terbunuhnya Husein a.s. (Wasâil syîah, juz 14, hal. 505)

Alam menangisi Imam Husein as:
Pada hari Al-Husain as. terbunuh, langit meneteskan hujan darah sehingga semua orang pada keesokan harinya mendapati apa yang mereka miliki telah dipenuhi oleh darah. Darah itu membekas pada baju-baju mereka beberapa waktu lamanya, hingga akhirnya terkoyak-koyak. Warna merah darah terlihat di langit pada hari itu. Peristiwa tersebut hanya pernah terjadi saat itu saja.

Maqtalu Al-Husain 2 hal. 89, Dzakhairu Al-'Uqba hal. 144, 145 dan 150, Tarikhu Dimasyq -seperti yang disebutkan di muntakhab (ringkasan)nya- 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-Muhriqah hal. 116 dan 192, Al-Khashaishu Al-Kubra hal. 126, Wasilatu Al-Maal hal. 197, Yanabi'u Al-Mawaddah hal. 320 dan 356, Nuuru Al-Abshar hal. 123, Al-Ithaf bi Hubbi Al-Asyraf hal. 12, Tarikhu Al-Islam 2 hal 349, Tadzkiratu Al-Khawash hal. 284, Nadzmu Durari Al-Simthain hal. 220 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 458-462.

Pada hari Al-Husain as. terbunuh, tak ada satu batupun di dunia yang diangkat kecuali di bawahnya terdapat darah segar mengalir
Tadzkiratu Al-Khawash hal. 284, Nadzmu Durari Al-Simthain hal. 220, Yanabi'u Al-Mawaddah hal. 320 dan 356, Tarikhu Al-Islam 2 hal. 349, Kifayatu Al-Thalib hal. 295, Al-Ithaf fi Hubbi Al-Asyraf hal. 12, Is'afu Al-Raghibin hal. 215, Al-Shawaiqu Al-Muhriqah hal. 116 dan 192, Miftahu Al-Naja - tulisan tangan -, Tafsir Ibnu Katsir 9 hal. 162, Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 462 dan 481-483.

Ketika kepala Al-Husain as. dibawa ke istana Ubaidillah bin Ziyad, orang ramai melihat dinding-dinding mengalirkan darah segar.

Dzakahiru Al-'Uqbahal. 144, Tarikhu Dimasyq seperti yang disebutkan dalam muntakhab-nya 4 hal. 339, Al-Shawaiqu Al-Muhriqah hal. 192, Wasilatu Al-Maal hal. 197, Yanabi'u Al-Mawaddah hal. 322, dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 463. 

Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama beberapa hari, lagit memerah bagai segumpal darah.

Al-Mu'jamu Al-Kabirhal. 145, Majma'u Al-Zawaid 9 hal. 196, Al-Khashaishu Al-Kubra 2 hal. 127 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 464.

Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama tujuh hari, orang-orang ketika melakukan salat Ashar, mereka melihat matahari berwarna merah darah dari celah-celah tembok. Merekapun menyaksikan bintang-bintang saling bertabrakan satu dengan yang lain.

Al-Mu'jamu Al-Kabirhal. 146, Majma'u Al-Zawaid 9 hal. 197, Tarikhu Al-Islam 2 hal. 348, Siyaru A'lami Al-Nubala' 3 hal. 210, Tarikhu Al-Khulafa' hal. 80, Al-Shawaiqu Al-Muhariqah hal. 192, Is'afu Al-Raghibin hal. 251, dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 465-466.

Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama dua atau tiga bulan orang-orang banyak menyaksikan tembok-tembok yang bagai dicat darah, mulai dari waktu salat subuh hingga terbenamnya matahari.

Tadzkiratu Al-Khawashhal. 284, Al-Kamil fi Al-Tarikh 3 hal. 301, Al-Bidayatu wa Al-Nihayah 8 hal. 171, Al-Fushulu Al-Muhimmah hal. 179, Akhbaru Al-Duwal hal. 109 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 466-467.

Ketika Al-Husain as. terbunuh, di sudut-sudut langit terlihat warna warna kemerahan. Warna merah itu menandakan bahwa langit tengah menangis. Sewaktu pasukan musuh membagi-bagikan sejenis tumbuhan berwarna kuning milik Al-Husain as., tumbuhan itu berubah menjadi abu. Dan sewaktu mereka menyembelih seekor unta yang dirampas dari kamp Al-Husain as., mereka menemukan sejenis kayu di dagingnya.

Maqtalu Al-Husain 2 hal. 90, Tarikhu Al-Islam 2 hal. 348, Siyaru A'lami Al-Nubala' 3 hal. 311, Tafsir Ibnu Katsir 9 hal. 162, Tahdzibu Al-Tahdzib 2 hal. 353, Tarikhu Dimasyq 4 hal. 339, Al-Mahasinu wa Al-Masaw.i hal. 62, Tarikhu Al-Khulafa' hal. 80 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 467-469.

Ufuk langit berwarna kemerahan setelah kematian Al-Husain as. yang menampakkan warna darah. Hal itu berlangsung selama enam bulan.

Tarikhu Al-Islam 2 hal. 348, Siyaru A'lami Al-Nubala' 3 hal. 210, Al-Shawaiqu Al-Muhriqah hal. 192, Majma'u Al-Zawaid 9 hal. 197, Tarikhu Al-Khulafa' hal. 80, Mifathu Al-Naja -tulisan tangan-, Yanabi'u Al-Mawaddah hal. 322, Is'afu Al-Raghibin hal. 215 dan Ihqaqu Al-Haq 11 hal. 469-470.

Jika tidak ada perintah Al-Quran dan Sunnah untuk bersedih dan berduka, atas gugurnya panji kebenaran dan terpuruknya pondasi kesesatan, sebagai perwujudan rasa sedih akan hilangnya kesempatan mendapatkan karunia tersebut dan rasa perih menyaksikan pembantaian seperti ini, kita akan senantiasa menyambut kenikmatan agung Ilahi ini dengan kegembiraan.

Karena pusaka peninggalan Nabi saw. telah disia-siakan di hari Asyura’. Wasiat beliaupun mengenai keluarga dan keturunannya dikoyak-koyak oleh tangan umat dan musuh-musuhnya.

Bencana yang menundukkan kepala setiap insan mulia, cobaan yang mengorbankan jiwa sebaik-baik keluarga, pesta para musuh yang menggoncang hati para jawara, tragedi yang menyedihkan bagi Jibril, dan kejahatan besar di sisi Tuhan yang maha Agung dan Jalil.

Bagaimana tidak, bukankan darah daging Rasulullah SAW. terkapar di padang pasir. Darahnya yang suci tertumpah oleh pedang-pedang kesesatan. 

Wahai insan yang berbudi luhur, wahai pribadi dengan akal dan pikiran jernih, ceritakanlah pada diri kalian tragedi yang menimpa keluarga ini. 

Tangisilah mereka demi keridhaan Tuhan. Bantulah mereka dengan cinta dan airmata. Bersedihlah karena tidak dapat menolong mereka.

Mereka adalah pusaka peninggalan penghulu umat manusia, buah hati Rasulullah Saw.., cahaya mata Fatimah Zahra. 

Lisan suci Rasulullah Saw. telah banyak menyebutkan kemuliaan mereka. Ayah dan ibu mereka lebih beliau utamakan dari seluruh umatnya.

Jika engkau ragu tanyakan pada Hadits Nabi dan Ayat Qur’ani perihal mereka
Di sanalah terdapat bukti yang jelas dan terperinci tentang keutamaan mereka. 
Nabi dengan wahyu perantara Jibril telah berwasiat untuk menjaga mereka

Sungguh mengherankan, bagaimana para durjana itu sampai hati membalas kebaikan kakeknya Saw. dengan kekufuran, padahal zaman belum jauh berselang. Mereka telah mengeruhkan kehidupan beliau dengan menyiksa buah hatinya, dan meremehkan beliau dengan menumpah-kan darah putra kesayangannya?

Mana bukti kesetiaan mereka pada wasiat beliau untuk memelihara keluarganya? 
Jawaban apakah gerangan yang hendak mereka berikan kala berjumpa dengan beliau kelak? 
Padahal mereka telah menghancurkan bangunan yang beliau dirikan, dan  lslam meneriakkan jeritan duka?

Bagaimana hati tidak akan hancur kala mengingat tragedi ini! Sungguh mengherankan bagaimana umat melupakannya! Apa yang akan dijadikan alasan oleh mereka yang mengaku beragama Islam dan beriman padahal lalai akan tragedi menyayat hati yang menimpa agama?

Bukankah mereka tahu bahwa Nabi Muhammad saw adalah keluarga korban pembantaian ini? 
Bukankah putra kesayangan beliau dibantai dan dicampakkan di padang sahara? 
Bukankah para malaikat datang mengucapkan bela sungkawa kepada beliau atas musibah besar yang beliau alami? 
Bukankah para Nabi bersama beliau dalam kesedihan dan duka?

Wahai para insan yang setia kepada Rasulullah, mengapa kalian tidak menyertai beliau dengan cucuran air mata?

Demi Allah, wahai pecinta putra Fatimah, iringilah beliau dalam meratapi jasad-jasad pembantaian ini! Berusahalah untuk mencucurkan air mata beriringan. Tangisilah kepergian pemimpin Islam ini, agar anda mendapatkan pahala orang yang bersedih atas musibah yang menimpa mereka dan meraih kebahagiaan di hari perhitungan awal kelak!.

Diriwayatkan dari junjungan kita Imam Baqir as., bahwa beliau bersabda: “Imam Ali Zainal Abidin as. mengatakan:
أَيُّمَا مُؤْمِنٍ ذَرَفَتْ عَيْنَاهُ لِقَتْلِ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلَامُ حَتَّى تَسِيلَ عَلَى خَدِّهِ، بَوَّأَهُ اللَّهُ بِهَا مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا يَسْكُنُهَا أَحْقَابًا.
“Siapa saja mukmin yang kedua matanya meneteskan air mata karena terbunuhnya Imam Husain a.s. hingga air matanya mengalir di pipinya, maka Allah akan menempatkannya di kamar-kamar surga yang akan ia diami sepanjang masa.
وَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ ذَرَفَتْ عَيْنَاهُ حَتَّى تَسِيلَ عَلَى خَدِّهِ بِمَا مَسَّنَا مِنَ الْأَذَى مِنْ عَدُوِّنَا فِي الدُّنْيَا، بَوَّأَهُ اللَّهُ مَنْزِلَ صِدْقٍ.
Dan siapa saja mukmin yang kedua matanya meneteskan air mata hingga mengalir di pipinya karena penderitaan dan gangguan yang menimpa kami dari musuh-musuh kami di dunia, maka Allah akan menempatkannya di tempat kediaman yang penuh kebenaran.
وَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ مَسَّهُ أَذًى فِينَا، صَرَفَ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ الْأَذَى، وَآمَنَهُ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Dan siapa saja mukmin yang mendapat gangguan karena (kecintaannya kepada) kami, maka Allah akan memalingkan berbagai gangguan dari wajahnya dan memberinya keamanan dari kemurkaan Allah pada Hari Kiamat.”

Hikmah Singkat
1. Tangisan untuk Imam Husain a.s. adalah tanda hidupnya hati dan loyalitas kepada kebenaran.
2. Air mata karena Ahlul Bait a.s. bernilai ibadah dan memiliki ganjaran ukhrawi.
3. Menderita karena membela jalan Ahlul Bait a.s. tidak sia-sia di sisi Allah.
4. Allah menjanjikan manzil ṣidq (kedudukan yang benar dan mulia) bagi para pecinta mereka.
5. Kecintaan kepada Imam Husain a.s. menjadi sebab keselamatan dari murka Allah pada Hari Kiamat.

 Diriwayatkan bahwa Imam Ja’far shadiq as. berkata:
َنْ ذُكِرْنَا عِنْدَهُ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَلَوْ مِثْلَ جَنَاحِ الذُّبَابَةِ، غَفَرَ اللَّهُ ذُنُوبَهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.
“Barang siapa kami (Ahlul Bait) disebut di hadapannya, lalu kedua matanya mengalirkan air mata walaupun hanya sebesar sayap seekor lalat, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”

Makna Per Kalimat
مَنْ ذُكِرْنَا عِنْدَهُ
Barang siapa kami disebut di hadapannya.” Yakni ketika keutamaan, musibah, ajaran, atau kecintaan kepada Ahlul Bait a.s. diingatkan kepadanya.فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ; Lalu kedua matanya berlinang air mata.”Air mata merupakan tanda kelembutan hati, cinta, kesetiaan, dan keterhubungan ruhani dengan para wali Allah.  وَلَوْ مِثْلَ جَنَاحِ الذُّبَابَةِ
“Walaupun hanya sebesar sayap seekor lalat.” Sekecil apa pun air mata yang keluar dengan ikhlas memiliki nilai besar di sisi Allah.
غَفَرَ اللَّهُ ذُنُوبَهُ ;Allah mengampuni 
dosa-dosanya.” Ampunan ini menunjukkan luasnya rahmat Allah bagi hati yang hidup dengan kecintaan kepada Ahlul Bait a.s.
وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Meskipun dosa-dosa itu sebanyak buih di lautan.” Ini adalah ungkapan tentang banyaknya dosa, namun rahmat Allah lebih luas daripada seluruh dosa hamba-Nya.

Hikmah
1. Mengingat Ahlul Bait a.s. menghidupkan hati.
2. Air mata yang lahir dari cinta dan ma’rifat memiliki nilai spiritual yang tinggi.
3. Allah memandang keikhlasan, bukan banyaknya tangisan.
4. Majelis dzikir dan majelis Husaini menjadi sebab turunnya rahmat.
Kecintaan kepada Imam Husain a.s. dan Ahlul Bait a.s. merupakan jalan menuju ampunan dan kedekatan dengan Allah SWT.”

Diriwayatkan dari Ahlu Bait Nabi saw., bahwa mereka mengatakan:
مَنْ بَكَى وَأَبْكَى فِينَا مِائَةً فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ بَكَى وَأَبْكَى خَمْسِينَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ بَكَى وَأَبْكَى ثَلَاثِينَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ بَكَى وَأَبْكَى عِشْرِينَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ بَكَى وَأَبْكَى عَشَرَةً فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ بَكَى وَأَبْكَى وَاحِدًا فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ تَبَاكَى فَلَهُ الْجَنَّةُ.
“Barang siapa menangis dan membuat seratus orang menangis karena kami, maka baginya surga.
Barang siapa menangis dan membuat lima puluh orang menangis karena kami, maka baginya surga.
Barang siapa menangis dan membuat tiga puluh orang menangis karena kami, maka baginya surga.
Barang siapa menangis dan membuat dua puluh orang menangis karena kami, maka baginya surga.
Barang siapa menangis dan membuat sepuluh orang menangis karena kami, maka baginya surga.
Barang siapa menangis dan membuat satu orang menangis karena kami, maka baginya surga.
Dan barang siapa berusaha untuk menangis (bertabākī) karena kami, maka baginya surga.”

Makrifat Per Kalimat
مَنْ بَكَى وَأَبْكَى فِينَا
“Barang siapa menangis dan membuat orang lain menangis karena kami.” Tangisan di sini bukan sekadar kesedihan lahiriah, tetapi tangisan yang lahir dari ma’rifat, kecintaan, dan kesetiaan kepada jalan Ahlul Bait a.s. Membuat orang lain menangis berarti menghidupkan hati mereka dengan mengenalkan kebenaran, pengorbanan, dan nilai-nilai Ilahi.

مِائَةً … خَمْسِينَ … ثَلَاثِينَ … عِشْرِينَ … عَشَرَةً … وَاحِدًا
“Seratus … lima puluh … tiga puluh … dua puluh … sepuluh … satu.”
Penyebutan jumlah yang menurun menunjukkan luasnya rahmat Allah. Bahkan jika seseorang hanya menjadi sebab satu hati tersentuh oleh musibah dan ajaran Ahlul Bait a.s., ia memperoleh ganjaran yang agung.

وَمَنْ تَبَاكَى فَلَهُ الْجَنَّةُ
“Dan barang siapa berusaha untuk menangis, maka baginya surga.”تَبَاكَى (tabākā) berarti berusaha menghadirkan suasana hati untuk menangis walaupun air mata belum mengalir. Ini menunjukkan pentingnya menghadirkan kesedihan, empati, dan keterhubungan batin dengan perjuangan para wali Allah.

10 Hikmah Hadis Ini
1. Cinta kepada Ahlul Bait a.s. adalah jalan menuju rahmat Allah.
2. Menangisi Imam Husain a.s. menghidupkan hati yang lalai.
3. Menyampaikan kisah Karbala adalah ibadah yang besar nilainya.
4. Mengajak orang lain mencintai Ahlul Bait a.s. memiliki pahala berlipat.
5. Satu hati yang tersentuh lebih berharga daripada banyak ucapan tanpa pengaruh.
6. Air mata yang ikhlas menjadi sarana penyucian jiwa.
7. Karbala bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi madrasah spiritual sepanjang zaman.
8. Rahmat Allah sangat luas dan tidak terbatas pada amal yang besar saja.
9. Kesedihan karena para wali Allah adalah tanda kelembutan hati.
10. Bahkan usaha untuk menghadirkan rasa haru dan cinta kepada Ahlul Bait a.s. memiliki nilai di sisi Allah.

Hakikat
Dalam pandangan para arif Ahlul Bait, tangisan untuk Imam Husain a.s. bukan sekadar tangisan atas tragedi masa lalu, melainkan tangisan ruh yang merindukan keadilan, kebenaran, pengorbanan, dan kedekatan kepada Allah. Air mata menjadi bahasa hati ketika lisan tidak lagi mampu mengungkapkan cinta dan kesetiaan kepada jalan para wali Allah.

Tangisan seperti ini menghidupkan makna “كُلُّ يَوْمٍ عَاشُورَاءُ وَكُلُّ أَرْضٍ كَرْبَلَاءُ” — setiap hari adalah Asyura dan setiap bumi adalah Karbala, yakni setiap saat seorang mukmin dihadapkan pada pilihan antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan.

Dalam kitab ; Asyk-e Rawan bar piyambar-e karawan, hal.129 ;
Imam Husain as menangis sebanyak 6 kali ; 
😭1. Ketika Ali Akbar datang ke kemah meminta air sementara air tidak ada
😭2. Ketika Qasim bin Hasan meminta izin untuk maju ke medan perang
😭3. Ketika Abdullah bin Hasan as tangannya putus dan memanggil pamannya
😭4. Ketika Ali Akbar behadapan dengan musuh, lalu Imam Husain as berkata:”Ya Allah, saksikanlah aku mengutus kepada kaum itu orang yang paling mirip dengan Nabi Mu dari sisi rupa, akhlak, dan tutur kata."
😭5. Ketika Imam Husain as tiba di samping jenazah saudaranya Abul Fadhl Abbas yang tergeletak
😭6. Ketika berpamitan, sukainah memegangi baju Imam Husain as dan tidak mau melepaskannya,pada saat itu Imam Husain as berkata: “Jangan kau bakar hatiku."

كل يوم عاشوراء وكل أرض كربلاء 
Kulla yaumin asyuroo 
wa kulla ardin karbala
Setiap hari Asyuro
Setiap bumi Karbala
Hikmah
1. Syahadah Imam Husain merupakan titik pemisah antara kebenaran dan kebatilan.
2. Karbala menjaga kemurnian risalah Nabi Muhammad saw.
3. Nama Husain menjadi simbol perjuangan sepanjang zaman.
4. Mengingat syahadah beliau memperkuat keberanian menegakkan kebenaran.
5. Kesyahidan Husain adalah kehidupan abadi bagi agama.

Hadis Rayyan bin Syabib
يَا ابْنَ شَبِيبٍ، إِنْ كُنْتَ بَاكِيًا لِشَيْءٍ فَابْكِ لِلْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ).
“Wahai putra Syabib, jika engkau hendak menangisi sesuatu maka menangislah untuk Husain bin Ali a.s.”
Hikmah
1. Tangisan terbaik adalah tangisan yang mendekatkan kepada Allah.
2. Imam Husain as adalah poros kesedihan suci.
3. Air mata Karbala menumbuhkan kasih sayang.
4. Tangisan ini menghidupkan nur kecintaan kepada Ahlulbait.
5. Kesedihan atas Husain adalah kesedihan atas hilangnya keadilan.

فَإِنَّهُ ذُبِحَ كَمَا يُذْبَحُ الْكَبْشُ.
“Sesungguhnya beliau disembelih sebagaimana seekor kambing disembelih.”
Hikmah
1. Menunjukkan besarnya kezaliman yang terjadi di Karbala.
2. Menggambarkan puncak pengorbanan seorang hamba Allah.
3. Mengingatkan manusia agar tidak menjadi penolong kezaliman.
4. Karbala membuka mata hati terhadap bahaya cinta dunia.
5. Kesabaran Husain menjadi teladan sepanjang masa.

وَقُتِلَ مَعَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ رَجُلًا، مَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ شَبِيهٌ.
“Dan terbunuh bersamanya delapan belas orang dari keluarganya yang tidak ada tandingannya di muka bumi.”
Hikmah
1. Karbala adalah pengorbanan seluruh keluarga kenabian.
2. Ahlulbait menyerahkan segala yang mereka miliki demi agama.
3. Kebenaran terkadang menuntut pengorbanan terbesar.
4. Kemuliaan bukan pada jumlah, tetapi pada ketulusan.
5. Mereka menjadi teladan kesetiaan kepada Allah.

لَقَدْ بَكَتِ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرَضُونَ لِقَتْلِهِ.
“Sungguh tujuh langit dan bumi menangis atas terbunuhnya beliau.”
Hikmah Makrifat
1. Karbala bukan hanya peristiwa bumi tetapi peristiwa kosmik.
2. Seluruh alam berduka atas hilangnya hujjah Allah.
3. Orang beriman turut menangis karena mengikuti kesedihan alam.
4. Kesyahidan Imam Husain as mengguncang langit dan bumi.
5. Karbala memiliki dimensi lahir dan batin.

يَا ابْنَ شَبِيبٍ، إِنْ بَكَيْتَ عَلَى الْحُسَيْنِ حَتَّى تَصِيرَ دُمُوعُكَ عَلَى خَدَّيْكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ كُلَّ ذَنْبٍ أَذْنَبْتَهُ.
“Wahai putra Syabib, jika engkau menangis untuk Husain hingga air matamu mengalir di kedua pipimu, Allah akan mengampunimu dari setiap dosa yang telah engkau lakukan.”
Hikmah
1. Air mata yang ikhlas membuka pintu ampunan.
2. Tangisan Karbala melembutkan hati.
3. Pengampunan Allah lebih luas daripada dosa manusia.
4. Cinta kepada Husain membawa kepada cinta Allah.
5. Tangisan sejati melahirkan perubahan hidup.

يَا ابْنَ شَبِيبٍ، إِنْ سَرَّكَ أَنْ تَلْقَى اللَّهَ وَلَا ذَنْبَ عَلَيْكَ فَزُرِ الْحُسَيْنَ (عَلَيْهِ السَّلَامُ).
“Wahai putra Syabib, jika engkau ingin bertemu Allah tanpa membawa dosa, maka ziarahilah Husain a.s.”
Hikmah
1. Ziarah menghidupkan hubungan ruhani dengan para wali Allah.
2. Ziarah adalah perjalanan hati menuju Allah.
3. Mengingat Husain memperbaharui taubat.
4. Ziarah mengajarkan kesetiaan kepada kebenaran.
5. Jalan Husain adalah jalan menuju keridhaan Allah.

يَا ابْنَ شَبِيبٍ، إِنْ سَرَّكَ أَنْ تَكُونَ مَعَ النَّبِيِّ وَآلِهِ فَالْعَنْ قَاتِلِي الْحُسَيْنِ.
“Wahai putra Syabib, jika engkau ingin bersama Nabi dan keluarganya, maka berlepas dirilah dari para pembunuh Husain.”
Hikmah
1. Cinta kepada kebenaran harus disertai penolakan terhadap kezaliman.
2. Wilayah dan bara’ah berjalan beriringan.
3. Tidak mungkin mencintai Husain dan meridhai kezaliman.
4. Sikap moral harus jelas antara haq dan batil.
5. Kesetiaan kepada Nabi berarti setia kepada Husain.

يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا.
“Andai aku bersama mereka, niscaya aku memperoleh kemenangan yang agung.”
Hikmah Makrifat
1. Kalimat ini adalah baiat ruhani kepada Karbala.
2. Menumbuhkan kerinduan untuk membela kebenaran.
3. Menghubungkan hati dengan para syuhada.
4. Menghidupkan semangat pengorbanan.
5. Menjadikan Karbala hadir dalam kehidupan sehari-hari.

يَا ابْنَ شَبِيبٍ، إِنْ سَرَّكَ أَنْ تَكُونَ مَعَنَا فِي الدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ الْجِنَانِ فَاحْزَنْ لِحُزْنِنَا وَافْرَحْ لِفَرَحِنَا وَعَلَيْكَ بِوَلَايَتِنَا.
“Wahai putra Syabib, jika engkau ingin bersama kami pada derajat tertinggi surga, maka bersedihlah saat kami bersedih, bergembiralah saat kami bergembira, dan berpeganglah pada wilayah kami.”
Hikmah
1. Hakikat wilayah adalah menyelaraskan hati dengan Ahlulbait.
2. Mukmin hidup bersama nilai-nilai para Imam.
3. Kesedihan dan kegembiraan menjadi sarana kedekatan ruhani.
4. Wilayah adalah jalan menuju kesempurnaan iman.
5. Surga tertinggi diperoleh dengan cinta dan ketaatan.

فَإِنَّهُ لَوْ أَنَّ رَجُلًا أَحَبَّ حَجَرًا لَحَشَرَهُ اللَّهُ مَعَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Karena sesungguhnya jika seseorang mencintai sebuah batu sekalipun, maka Allah akan membangkitkannya bersama batu itu pada hari kiamat.”
Hikmah Makrifat dan Hakikat
1. Manusia akan bersama apa yang dicintainya.
2. Cinta menentukan arah perjalanan ruh.
3. Kecintaan kepada Ahlulbait mengangkat derajat manusia.
4. Hati yang terpaut kepada Allah akan menuju Allah.
5. Pilihan cinta di dunia menentukan teman di akhirat.
6. Cinta adalah rahasia kebangkitan.
7. Wilayah merupakan ikatan ruhani yang kekal.
8. Orang yang mencintai Husain akan dihimpunkan bersama Husain.
9. Karbala adalah madrasah cinta Ilahi.
10. Hakikat iman adalah mahabbah kepada Allah, Rasul-Nya, dan Ahlulbait yang suci.


Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR