Makna: Ridho dari Hadis Nabi saw
❤️🌹🌺Makna: Ridho dari Hadis Nabi saw🌺🌹❤️
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
Hadis diriwayatkan dari Imam Ali As-Sajjad as ( Tuhaful Uqul 200:205)
قَالَ الإِمَامُ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ.
(تحف العقول، ص 200–205)
“Ridha terhadap ketentuan Allah yang tidak disukai (oleh diri dan hawa nafsu) adalah setinggi-tinggi derajat keyakinan (yaqin).”
Makna Hadis
Imam Zainal Abidin (as) mengajarkan bahwa ukuran tertinggi keimanan bukan hanya sabar ketika ditimpa musibah, tetapi ridha terhadap keputusan Allah.
* Sabar: menahan diri dari keluh kesah.
* Ridha: hati menerima dan melihat hikmah Allah di balik peristiwa itu.
* Yaqin: keyakinan yang mantap bahwa Allah Maha Bijaksana, Maha Pengasih, dan tidak menetapkan sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya.
Makrifat Hadis
Bagi para arifin, ridha lahir dari penyaksian bahwa:”Tidak ada pelaku hakiki selain Allah, dan tidak ada pilihan yang lebih baik daripada pilihan-Nya.” Ketika seorang hamba melihat bahwa semua yang datang berasal dari Kekasihnya, maka:
* nikmat tidak membuatnya lalai,
* musibah tidak membuatnya putus asa,
* dan setiap keadaan menjadi jalan mendekat kepada Allah.
Karena itu dikatakan:
الرضا باب الله الأعظم
“Ridha adalah pintu Allah yang paling agung.”
Doa Singkat;
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي الرِّضَا بِقَضَائِكَ
وَالتَّسْلِيمَ لِأَمْرِكَ.
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku keridhaan terhadap ketentuan-Mu dan kepasrahan kepada perintah-Mu.”
10 Makna Hadis
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.”
1, Ridha adalah buah dari yaqin ; Semakin kuat keyakinan kepada Allah, semakin mudah menerima keputusan-Nya.
2, Ujian mengungkap kadar iman; Seseorang mudah bersyukur saat senang, tetapi ridha saat susah menunjukkan kualitas iman yang sebenarnya.
3, Allah lebih tahu daripada hamba
Ridha berarti mempercayai bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihan diri sendiri.
4, Di balik yang pahit terdapat rahmat. Banyak peristiwa yang tampak buruk, tetapi akhirnya menjadi sebab kebaikan.
5, Ridha lebih tinggi daripada sabar
Sabar menahan diri dari protes, sedangkan ridha menerima dengan hati yang tenang.
6, Ridha membebaskan dari kegelisahan. Hati yang ridha tidak terus-menerus mempertanyakan mengapa musibah itu terjadi.
7, Ridha adalah tanda cinta kepada Allah. Pecinta sejati menerima apa pun yang datang dari Yang Dicintainya.
8, Ridha membuka pintu hikmah
Ketika hati tenang, seseorang mampu melihat pelajaran dan rahasia di balik ujian.
9, Ridha mendatangkan kedekatan dengan Allah. Allah mencintai hamba yang menerima keputusan-Nya dengan lapang dada.
10, Ridha adalah maqam para wali dan arifin. Mereka melihat seluruh kejadian berada dalam pengaturan Allah Yang Maha Bijaksana, sehingga tidak memusuhi takdir.
Makrifat Hadis
Para ahli makrifat mengatakan:
الراضي لا يرى لنفسه اختياراً مع اختيار الله
“Orang yang ridha tidak melihat pilihan dirinya di hadapan pilihan Allah.”
Mereka memandang bahwa setiap qadha Allah membawa:
* keadilan,
* kasih sayang,
* pendidikan ruhani,
* dan jalan menuju kesempurnaan jiwa.
Karena itu, ketika nikmat datang mereka bersyukur, dan ketika musibah datang mereka tetap ridha, sebab keduanya berasal dari Tuhan yang sama.
Doa Ridha;
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا بِقَضَائِكَ، مُسَلِّمًا لِأَمْرِكَ، لَا أَرَى لِنَفْسِي اخْتِيَارًا مَعَ اخْتِيَارِكَ.
“Ya Allah, jadikanlah aku ridha terhadap ketentuan-Mu, berserah diri kepada perintah-Mu, dan tidak melihat pilihan bagi diriku di hadapan pilihan-Mu.”
Makna Hadis Ini Menurut Al-Qur’an
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.”
1. Allah mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 21)
Ridha lahir dari keyakinan bahwa ilmu Allah lebih sempurna daripada pengetahuan manusia.
2. Semua musibah terjadi dengan izin Allah
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghabun: 11)
Orang yang yakin mengetahui bahwa tidak ada kejadian yang keluar dari pengaturan Allah.
3. Musibah telah ditetapkan sebelum terjadi; مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ
فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ
Tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab.”
(QS. Al-Hadid: 22)
Ridha adalah menerima apa yang telah Allah tetapkan sejak azali.
4. Allah menguji manusia
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut dan lapar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ujian bukan tanda kebencian Allah, tetapi sarana penyempurnaan hamba.
5. Orang beriman berserah diri kepada Allah
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Hanya kepada Allah orang-orang beriman bertawakal.”QS. Ibrahim: 11)
Ridha merupakan puncak tawakal.
6. Hati menjadi tenang dengan mengingat Allah
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan dalam menghadapi takdir adalah tanda ridha.
7. Allah bersama orang-orang yang sabar إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Ridha adalah kesabaran yang telah mencapai kesempurnaan.
8. Orang yang ridha tidak berputus asa ; لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ
“Agar kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu.”
(QS. Al-Hadid: 23) Yaqin kepada Allah membebaskan hati dari penyesalan yang berlebihan.
9. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang ridhaيَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27-28)
Ini adalah gambaran tertinggi dari maqam ridha.
10. Keridhaan Allah adalah kemenangan terbesar;
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Keridhaan dari Allah itu lebih besar.”
(QS. At-Taubah: 72)
Orang yang ridha kepada Allah akan memperoleh keridhaan Allah, dan itulah puncak keberuntungan.
Kesimpulan Qur’ani
Al-Qur’an mengajarkan bahwa:
* Takdir Allah penuh hikmah.
* Ujian adalah bagian dari pendidikan Ilahi.
* Yaqin melahirkan tawakal.
* Tawakal melahirkan sabar.
* Sabar yang sempurna melahirkan ridha.
* Ridha mengantarkan kepada “رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً” (ridha dan diridhai Allah).
Karena itu Imam Ali Zainal Abidin (as) menyebut ridha terhadap qadha yang tidak disukai sebagai “أرفع درجات اليقين” — derajat keyakinan yang paling tinggi.
Menurut Hadis Nabi ﷺ dan Ahlul Bait (as) Hadis Imam Zainal Abidin (as):
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.” Maknanya dapat dipahami melalui banyak hadis berikut: 1. Ridha adalah tanda kuatnya keyakinan. Rasulullah ﷺ bersabda: أَعْظَمُ النَّاسِ إِيمَانًا
أَشَدُّهُمْ يَقِينًا
“Manusia yang paling agung imannya adalah yang paling kuat keyakinannya.” Orang yang yakin kepada hikmah Allah akan lebih mudah ridha terhadap takdir-Nya.
2. Ridha mendatangkan keridhaan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:مَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Siapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; dan siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.”
3. Ridha lebih utama daripada banyak ibadah. Diriwayatkan bahwa Allah berfirman kepada sebagian nabi-Nya:”Jika engkau ridha dengan pengaturan-Ku, Aku akan meridhai engkau.” Hal ini menunjukkan bahwa keadaan hati lebih berharga daripada banyak amal yang kosong dari ridha.
4. Kebaikan seorang mukmin ada dalam semua keadaannya Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
“Menakjubkan urusan seorang mukmin; seluruh urusannya adalah baik.” Saat mendapat nikmat ia bersyukur, saat mendapat musibah ia bersabar.
5. Ridha adalah kekayaan jiwa
Imam Ali (as) bersabda:
الرِّضَا يُورِثُ الْقَنَاعَةَ
“Ridha melahirkan qana’ah.”
Orang yang ridha tidak menjadi tawanan keadaan.
6. Ridha menghilangkan kesedihan
Imam Ali (as) bersabda:
ثَمَرَةُ الرِّضَا السُّرُورُ
“Buah dari ridha adalah kebahagiaan.” Kebahagiaan hati tidak selalu bergantung pada keadaan yang menyenangkan.
7. Orang beriman menyerahkan urusannya kepada Allah; Imam Ja’far ash-Shadiq (as) bersabda:
الرِّضَا بِمَا صَنَعَ اللَّهُ رَأْسُ طَاعَةِ اللَّهِ
“Ridha terhadap apa yang Allah lakukan adalah pokok ketaatan kepada Allah.”
8. Ridha adalah salah satu pilar yaqin. Imam Ali (as) bersabda:
الْيَقِينُ مِنْهُ الرِّضَا
“Di antara cabang-cabang yaqin adalah ridha.” Semakin sempurna yaqin seseorang, semakin sempurna pula keridhaannya.
9. Para nabi adalah teladan ridha
Ketika Nabi Ibrahim (as) diperintahkan mengorbankan Ismail (as), keduanya tunduk dan ridha kepada perintah Allah. Para hadis Ahlul Bait menjadikan peristiwa ini sebagai contoh tertinggi kepasrahan kepada kehendak Ilahi.
10. Ridha adalah maqam para wali Allah. Imam Musa al-Kazhim (as) berkata: مَنْ رَضِيَ بِالْقَلِيلِ مِنَ اللَّهِ
رَضِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِالْقَلِيلِ مِنَ الْعَمَلِ
“Siapa yang ridha terhadap sedikit yang datang dari Allah, Allah akan menerima sedikit amalnya.”
Kesimpulan Hadis
Menurut hadis-hadis Nabi ﷺ dan Ahlul Bait (as):
1. Ridha adalah buah yaqin.
2. Ridha menarik keridhaan Allah.
3. Ridha lebih tinggi daripada sekadar sabar.
4. Ridha melahirkan ketenangan hati.
5. Ridha menghilangkan keluh kesah.
6. Ridha merupakan cabang utama yaqin.
7. Ridha adalah sifat para nabi.
8. Ridha adalah jalan para wali.
9. Ridha menjadikan semua keadaan bernilai ibadah.
10. Ridha terhadap qadha Allah adalah salah satu maqam tertinggi kedekatan kepada-Nya.
Karena itu Imam Zainal Abidin (as) menyebutnya: أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Derajat keyakinan yang paling tinggi.”
Makna Menurut Hadis-Hadis Ahlul Bait (as) Hadis pokok:
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ
أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.”
— Imam Ali Zainal Abidin (as)
1. Ridha adalah puncak yaqin. Imam Ali (as) bersabda: الرِّضَا ثَمَرَةُ الْيَقِينِ
“Ridha adalah buah dari yaqin.”
Seseorang tidak akan ridha sebelum yakin bahwa Allah Maha Bijaksana dalam segala keputusan-Nya.
2. Ridha adalah pintu terbaik menuju Allah; Imam Ali (as) bersabda: أَفْضَلُ الْعِبَادَةِ الرِّضَا عَنِ اللَّهِ
Ibadah yang paling utama adalah ridha kepada Allah.” Ahlul Bait mengajarkan bahwa amal lahir harus disertai keridhaan batin.
3. Ridha merupakan kepala ketaatan. Imam Ja’far ash-Shadiq (as) bersabda: رَأْسُ طَاعَةِ اللَّهِ الصَّبْرُ
وَالرِّضَا عَنِ اللَّهِ فِيمَا أَحَبَّ الْعَبْدُ أَوْ كَرِهَ
“Pokok ketaatan kepada Allah adalah sabar dan ridha terhadap Allah, baik pada sesuatu yang disukai maupun yang dibenci.”
4. Orang yang ridha tidak menentang takdir; Imam Ali (as) bersabda: مَنْ رَضِيَ بِالْقَضَاءِ
جَرَى عَلَيْهِ وَكَانَ لَهُ الْأَجْرُ
“Siapa yang ridha terhadap qadha, qadha itu tetap berlaku atasnya, tetapi baginya pahala.”
Musibah tetap datang, namun ridha mengubah musibah menjadi pahala.
5. Ridha menghilangkan kesedihan
Imam Ali (as) bersabda:
ثَمَرَةُ الرِّضَا السُّرُورُ
“Buah dari ridha adalah kegembiraan.” Bukan karena hilangnya ujian, tetapi karena hadirnya ketenangan hati.
6. Ridha adalah sifat para kekasih Allah. Imam al-Baqir (as) bersabda:
مَنْ رَضِيَ بِالْقَضَاءِ أَتَى عَلَيْهِ
الْقَضَاءُ وَعَظُمَ اللَّهُ أَجْرَهُ
“Barangsiapa ridha terhadap qadha, qadha itu akan menimpanya dan Allah melipatgandakan pahalanya.”
7. Ridha adalah kekayaan yang tidak habis.Imam Ali (as) bersabda:
الْقَنَاعَةُ تَنْشَأُ مِنَ الرِّضَا
“Qana’ah tumbuh dari ridha.”
Orang yang ridha merasa cukup dengan apa yang Allah pilihkan.
8. Ridha adalah tanda cinta kepada Allah;Imam ash-Shadiq (as) bersabda: مِنْ صِحَّةِ يَقِينِ الْمَرْءِ وَرِضَاهُ
أَنْ لَا يُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ
“Di antara tanda benarnya yaqin dan ridha seseorang ialah ia tidak mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah.”
Ridha yang sejati hanya tertuju kepada Allah.
9. Ridha adalah maqam para nabi
Imam Ridha (as) menjelaskan bahwa para nabi mencapai kedudukan tinggi karena mereka menerima keputusan Allah tanpa keberatan dan tanpa keraguan.
Nabi Ibrahim (as), Nabi Ayyub (as), Nabi Ya’qub (as), dan Nabi Muhammad ﷺ menjadi teladan ridha terhadap kehendak Allah.
10. Ridha menjadikan hamba diridhai Allah. Imam Musa al-Kazhim (as) bersabda:
مَنْ رَضِيَ عَنِ اللَّهِ بِالْيَسِيرِ مِنَ الرِّزْقِ رَضِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِالْيَسِيرِ مِنَ الْعَمَلِ
“Siapa yang ridha kepada Allah dengan rezeki yang sedikit, Allah akan ridha kepadanya dengan amal yang sedikit.” Ridha seorang hamba mendatangkan ridha Allah.
Pandangan Makrifat Ahlul Bait
Para Imam Ahlul Bait (as) mengajarkan bahwa ridha bukan sekadar menerima musibah, tetapi:
أَلَّا يَخْتَارَ الْعَبْدُ مَعَ اخْتِيَارِ اللَّهِ
“Seorang hamba tidak lagi mempunyai pilihan di hadapan pilihan Allah.” Inilah maqam taslim (penyerahan total) dan tafwidh (menyerahkan seluruh urusan kepada Allah). Karena itu Imam Zainal Abidin (as) tidak mengatakan bahwa ridha adalah salah satu derajat yaqin, tetapi:
أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Derajat yaqin yang paling tinggi.”
Sebab pada maqam ini seorang hamba melihat bahwa di balik setiap qadha, baik yang manis maupun yang pahit, terdapat rahmat, hikmah, dan kasih sayang Allah yang tersembunyi.
Menurut Para Mufasir. Hadis:
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.”
Meskipun ini adalah hadis, para mufasir menjelaskan maknanya melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang qadha, sabar, tawakal, dan ridha.
1. Menurut Muhammad ibn Jarir al-Tabari; Dalam tafsir QS. Al-Baqarah: 216: وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
Ath-Tabari menjelaskan bahwa manusia sering membenci sesuatu karena tidak mengetahui akibat akhirnya, sedangkan Allah mengetahui maslahat yang tersembunyi. Maknanya:
Ridha muncul ketika hamba mempercayai ilmu Allah melebihi penilaiannya sendiri.
2. Menurut Ismail ibn Kathir
Saat menafsirkan QS. Al-Hadid: 22-23, Ibn Katsir menjelaskan bahwa seluruh musibah telah ditentukan Allah sebelum penciptaan manusia.
Maknanya:
Orang yang memahami hal ini tidak tenggelam dalam penyesalan dan tidak berlebihan dalam kegembiraan.
Ridha adalah menerima ketetapan tersebut dengan hati yang tenang.
3. Menurut Fakhr al-Din al-Razi
Ar-Razi menjelaskan bahwa hikmah Allah terkadang tersembunyi dari akal manusia. Menurutnya: “Ketidaktahuan manusia terhadap hikmah bukanlah bukti bahwa hikmah itu tidak ada.” Maknanya:
Ridha lahir dari keyakinan bahwa Allah selalu bertindak berdasarkan hikmah sempurna.
4. Menurut Abdullah al-Qurtubi
Dalam tafsir QS. Al-Fajr: 27-28:
رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Al-Qurthubi menjelaskan:
* “Radhiyah” = ridha kepada Allah.
* “Mardhiyyah” = diridhai Allah.
Maknanya:
Puncak perjalanan ruhani adalah ketika keridhaan hamba bertemu dengan keridhaan Allah.
5. Menurut Abu al-Qasim al-Zamakhshari; Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa ketenangan hati orang beriman berasal dari kepercayaan penuh kepada kebijaksanaan Allah. Maknanya:
Ridha bukan kelemahan, melainkan kekuatan spiritual.
6. Menurut Muhammad Rashid Rida. Dalam Tafsir Al-Manar dijelaskan bahwa musibah sering menjadi sarana pendidikan dan penyucian jiwa. Maknanya:
Apa yang dibenci manusia kadang menjadi sebab pertumbuhan iman dan akhlak.
7. Menurut Sayyid Qutb
Dalam tafsir QS. At-Taghabun: 11:
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
Beliau menjelaskan bahwa Allah memberikan ketenangan batin kepada orang yang menerima ketentuan-Nya. Maknanya:
Ridha adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.
8. Menurut Muhammad al-Tahir ibn Ashur. Ibn Asyur menjelaskan bahwa musibah mengandung tujuan pendidikan Ilahi. Maknanya:
Setiap ujian memiliki fungsi membangun kesempurnaan manusia.
9. Menurut Jalal al-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din al-Suyuti
Pada ayat: إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Mereka menjelaskan bahwa kebersamaan Allah berarti bantuan, penjagaan, dan rahmat-Nya.
Maknanya: Ridha membuat seorang hamba hidup dalam naungan pertolongan Allah.
10. Menurut Muhammad Husayn Tabatabai. Allamah Thabathaba’i menjelaskan bahwa iman yang sempurna melahirkan ketundukan total kepada kehendak Allah. Menurut beliau, hati mukmin sejati memahami bahwa seluruh alam bergerak berdasarkan kehendak dan hikmah Allah. Maknanya: Ridha adalah hasil dari penyaksian batin terhadap keteraturan dan kebijaksanaan Allah dalam seluruh ciptaan.
Kesimpulan Para Mufasir
Para mufasir berbeda pendekatan, namun bertemu pada satu kesimpulan:
1, Allah lebih mengetahui daripada manusia.
2, Semua qadha mengandung hikmah.
3, Musibah adalah sarana pendidikan ruhani.
4, Yaqin melahirkan tawakal.
5, Tawakal melahirkan sabar.
6, Sabar yang sempurna melahirkan ridha.
7, Ridha menenangkan hati.
8, Ridha menghilangkan protes terhadap takdir.
9, Ridha mendatangkan keridhaan Allah.
10, Ridha adalah tanda tertinggi kesempurnaan iman dan yaqin.
Karena itu, menurut para mufasir, hadis Imam Zainal Abidin (as) menunjukkan bahwa yaqin yang sempurna bukan hanya mengetahui bahwa Allah mengatur segala sesuatu, tetapi menerima pengaturan-Nya dengan hati yang lapang, bahkan ketika takdir itu terasa pahit bagi diri dan hawa nafsu.
Menurut Mufasir Ahlul Bait (as)
Hadis Imam Zainal Abidin (as):
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.” Para mufasir Ahlul Bait menjelaskan makna ini melalui ayat-ayat tentang taslim (penyerahan), tafwidh (menyerahkan urusan kepada Allah), ridha, dan nafs al-muthma’innah.
1, Menurut Muhammad Husayn Tabatabai (Tafsir Al-Mizan)
Ketika menafsirkan:
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
Beliau menjelaskan bahwa mukmin yang hakiki melihat semua kejadian berada dalam sistem hikmah Allah.
Maknanya: Ridha lahir dari pengetahuan batin bahwa tidak ada kejadian yang sia-sia dalam kerajaan Allah.
2. Menurut Abu Ali al-Tabarsi
Dalam tafsir QS. Al-Baqarah: 216:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
Ath-Thabarsi menjelaskan bahawa manusia sering menilai berdasarkan zahir, sedangkan Allah melihat hakikat dan akibat akhir. Maknanya:
Ridha adalah percaya kepada hikmah Allah walaupun hikmah itu belum terlihat.
3. Menurut Fayd al-Kashani
Dalam Tafsir Ash-Shafi, beliau menjelaskan bahawa orang beriman tidak memandang musibah semata-mata sebagai kesusahan, tetapi sebagai surat kasih sayang dari Allah untuk menyempurnakan jiwa.
Maknanya: Ridha adalah membaca rahmat di balik ujian.
4. Menurut Abd Ali ibn Jumu’ah al-Arusi al-Huwayzi. Melalui riwayat-riwayat Ahlul Bait pada QS. Al-Fajr: 27-28: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّة
“Wahai jiwa yang tenang.”
Beliau mengumpulkan riwayat bahawa jiwa yang tenang adalah jiwa yang yakin, ridha, dan berserah kepada Allah. Maknanya:
Ketenangan sejati lahir dari ridha terhadap qadha.
5. Menurut Mulla Muhsin Fayd al-Kashani. Beliau menjelaskan bahawa maqam ridha berada setelah maqam sabar.
* Sabar: menahan diri dari keluhan.
* Ridha: hati merasa tenteram dengan keputusan Allah.
Maknanya: Tidak setiap orang sabar telah mencapai ridha.
6. Menurut Sayyid Muhammad Husayn Fadlallah. Dalam tafsir ayat-ayat ujian, beliau menjelaskan bahawa musibah bukanlah hukuman semata-mata, tetapi sering menjadi sarana pertumbuhan ruhani.
Maknanya:
Ridha bukan pasif, tetapi memahami tujuan Ilahi di balik ujian.
7. Menurut Nasir Makarim Shirazi
Beliau menafsirkan bahawa seorang mukmin harus melihat kehidupan dengan perspektif akhirat. Maknanya: Apa yang tampak pahit di dunia bisa menjadi sebab kebahagiaan abadi di akhirat.
8. Menurut Muhammad Jawad Mughniyah. Beliau menjelaskan bahawa iman sejati membebaskan manusia dari permusuhan terhadap takdir. Maknanya: Ridha bukan berarti menyukai musibah, tetapi menerima kebijaksanaan Allah di baliknya.
9. Menurut Riwayat Tafsir Imam Ja’far ash-Shadiq (as) Tentang ayat:: فَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ
“Aku menyerahkan urusanku kepada Allah.”(QS. Ghafir: 44) Imam ash-Shadiq (as) menjelaskan bahawa tafwidh adalah mempercayakan seluruh urusan kepada Allah setelah melakukan usaha. Maknanya:
Ridha merupakan buah dari tafwidh.
10. Menurut Riwayat Tafsir Imam Ali (as) Tentang ayat: رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Ridha dan diridhai.” Imam Ali (as) menjelaskan bahawa jiwa tersebut ridha terhadap Allah dalam segala keadaan, dan Allah pun ridha terhadapnya. Maknanya:
Tujuan akhir perjalanan seorang mukmin adalah bertemu Allah dalam keadaan ridha dan diridhai.
Kesimpulan Mufasir Ahlul Bait
Menurut para mufasir Ahlul Bait:
1. Ridha lahir dari ma’rifat kepada hikmah Allah.
2. Ridha adalah buah yaqin yang sempurna.
3. Ridha lebih tinggi daripada sabar.
4. Ridha merupakan hasil tafwidh kepada Allah.
5. Ridha menumbuhkan ketenangan jiwa.
6. Ridha membuat hamba melihat rahmat di balik ujian.
7. Ridha menghilangkan permusuhan terhadap takdir.
8. Ridha adalah sifat para nabi dan para wali.
9. Ridha mengantarkan kepada maqam النفس المطمئنة (jiwa yang tenang).
10. Ridha menjadikan seorang hamba راضية مرضية — ridha kepada Allah dan diridhai oleh Allah.
Makrifat Ahlul Bait
Para arif dari jalan Ahlul Bait mengatakan: الرِّضَا أَنْ لَا تَرَى لِنَفْسِكَ
تَدْبِيرًا مَعَ تَدْبِيرِ اللَّهِ
“Ridha adalah ketika engkau tidak lagi melihat pengaturan bagi dirimu di samping pengaturan Allah.”
Pada maqam ini, hamba menyaksikan bahawa seluruh qadha Allah—yang manis maupun yang pahit—adalah manifestasi hikmah, rahmat, dan tarbiyah-Nya. Oleh sebab itu Imam Zainal Abidin (as) menyebutnya: أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Derajat yaqin yang paling tinggi.”
Menurut Ahli Makrifat
Hadis Imam Zainal Abidin (as):
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.” Para ahli makrifat memandang hadis ini bukan sekadar tentang kesabaran menghadapi musibah, tetapi tentang penyaksian hati terhadap Allah di balik seluruh kejadian.
1. Ridha adalah buah ma’rifat
Mereka berkata:
مَنْ عَرَفَ اللَّهَ رَضِيَ بِفِعْلِ اللَّهِ
“Siapa yang mengenal Allah, ia ridha terhadap perbuatan Allah.”
Semakin dalam ma’rifat seseorang kepada Allah, semakin hilang keberatannya terhadap takdir.
2. Ridha adalah berhentinya protes batin. Menurut para arif, banyak orang diam dengan lisannya tetapi masih memprotes Allah dalam hatinya. Ridha yang sejati adalah: Tidak adanya penentangan hati terhadap keputusan Allah.
3. Ridha adalah melihat hikmah sebelum melihat musibah
Orang awam melihat ujian lalu mencari hikmah.
Orang arif melihat hikmah Allah terlebih dahulu, sehingga ujian menjadi ringan.
4. Ridha adalah tidak memilih selain pilihan Allah. Para ahli makrifat mengatakan:
لَا اخْتِيَارَ مَعَ اخْتِيَارِ اللَّهِ
“Tidak ada pilihan selain pilihan Allah.” Maksudnya bukan meninggalkan ikhtiar, tetapi tidak menentang hasil yang Allah tetapkan.
5. Ridha adalah ketenangan dalam semua keadaan. Baik diberi atau tidak diberi, dipuji atau dicela, sehat atau sakit, hati tetap bersama Allah.
Karena tujuan hidupnya bukan keadaan, tetapi Allah.
6. Ridha adalah melihat kasih sayang di balik ujian. Para arif memandang bahawa: Kadang-kadang rahmat Allah datang dalam bentuk musibah.
Ujian membersihkan hati dari kesombongan, ketergantungan kepada dunia, dan kelalaian.
7. Ridha adalah maqam para pecinta Allah. Mereka berkata: “Pecinta sejati tidak memilih selain apa yang dipilih Kekasihnya.”
Jika Allah memilih kesenangan, ia bersyukur. Jika Allah memilih kesulitan, ia tetap mencintai-Nya.
8. Ridha adalah surga sebelum surga. Sebagian arif berkata:
جَنَّةُ الرِّضَا فِي الدُّنْيَا قَبْلَ جَنَّةِ الْآخِرَةِ
“Surga ridha berada di dunia sebelum surga akhirat.” Hati yang ridha menikmati ketenangan yang tidak bergantung kepada keadaan luar.
9. Ridha adalah penyaksian keindahan tadbir Allah.Ahli makrifat melihat bahawa: Semua kejadian adalah bagian dari tarbiyah Ilahi.
Tidak ada peristiwa yang sia-sia.
Tidak ada musibah tanpa hikmah.
Tidak ada kehilangan tanpa penggantian yang lebih baik menurut Allah.
10. Ridha adalah fana’ kehendak hamba dalam kehendak Allah
Ini adalah makna tertinggi menurut para arif. Hamba tidak lagi sibuk dengan apa yang ia inginkan, tetapi dengan apa yang Allah inginkan darinya. Mereka memahami firman Allah: رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah: 119)
Makrifat Terdalam
Para arif Ahlul Bait mengatakan:
الرِّضَا أَنْ تَرَى كُلَّ مَا يَأْتِي مِنَ اللَّهِ جَمِيلًا
“Ridha adalah melihat segala yang datang dari Allah sebagai sesuatu yang indah.” Bukan kerana musibah itu sendiri indah, tetapi kerana ia datang dari Tuhan Yang Maha Indah dan Maha Bijaksana. Karena itu, ketika Sayyiduna Imam Husain (as) berada di Karbala dan musibah mencapai puncaknya, beliau bermunajat:
إِلٰهِي رِضًا بِقَضَائِكَ وَتَسْلِيمًا لِأَمْرِكَ
“Ya Tuhanku, aku ridha terhadap ketentuan-Mu dan berserah diri kepada perintah-Mu.” Inilah puncak makrifat yang dijelaskan oleh Imam Zainal Abidin (as): ridha terhadap qadha yang pahit bukanlah kelemahan, melainkan tanda bahawa hati telah menyaksikan hikmah, rahmat, dan kehadiran Allah di balik segala sesuatu.
Menurut Ahli Hakikat dari Jalan Ahlul Bait (as) Hadis Imam Zainal Abidin (as):
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.”
Dalam pandangan ahli hakikat Ahlul Bait, hadis ini tidak hanya berbicara tentang akhlak, tetapi tentang penyaksian hakikat rububiyyah Allah dan ubudiyyah hamba.
1. Ridha adalah hasil penyaksian Tauhid Af’ali; Ahli hakikat memandang bahawa seluruh kejadian berada di bawah kehendak Allah.; وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ; “Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan. QS. Ash-Shaffat: 96
Ketika seorang hamba menyaksikan bahawa semua terjadi dalam kerajaan Allah, ia berhenti memusuhi takdir.
2. Ridha adalah maqam setelah taslim. Imam Ali (as) bersabda:
ثَمَرَةُ الْيَقِينِ التَّسْلِيمُ
“Buah yaqin adalah penyerahan diri.”
Menurut ahli hakikat:
* Islam = tunduk lahiriah.
* Iman = pembenaran batin.
* Taslim = penyerahan total.
* Ridha = kegembiraan terhadap keputusan Allah.
3. Ridha adalah hilangnya tuntutan diri. Selama seseorang masih berkata: “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Maka ia masih melihat dirinya. Ahli hakikat berkata:
الرِّضَا سُقُوطُ التَّدْبِيرِ
Ridha adalah gugurnya pengaturan diri.” Maksudnya bukan meninggalkan usaha, tetapi tidak menggantungkan hati kepada rencana pribadi.
4. Ridha adalah melihat Allah sebelum melihat sebab
Orang biasa melihat sebab.
Orang arif melihat Musabbib al-Asbab (Penyebab segala sebab).
Ketika musibah datang, ia tidak berhenti pada makhluk, tetapi melihat hikmah Allah di baliknya.
5. Ridha adalah fana’ kehendak
Dalam hakikat Ahlul Bait: Kehendak hamba tidak lenyap, tetapi tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Ini makna: وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Kamu tidak menghendaki kecuali apa yang Allah kehendaki.”
( Q.S. Al-Insan: 30)
6. Ridha adalah rahasia maqam Sayyidah Fatimah az-Zahra (as)
Dalam riwayat disebutkan bahawa beliau dinamakan Fatimah dan termasuk golongan:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَرَضِيَتْ عَنْهُ
Para ahli hakikat menjelaskan bahawa beliau mencapai kesempurnaan ridha sehingga seluruh kehidupannya menjadi cermin kehendak Ilahi.
7. Ridha adalah maqam Imam Husain (as) di Karbala
Saat seluruh sebab duniawi terputus, beliau bermunajat:
رِضًا بِقَضَائِكَ وَتَسْلِيمًا لِأَمْرِكَ
“Ridha terhadap ketentuan-Mu dan berserah diri kepada perintah-Mu.”
Menurut ahli hakikat, Karbala adalah madrasah tertinggi ridha.
8. Ridha adalah pintu nafs al-muthma’innah. Tentang ayat:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
“Wahai jiwa yang tenang.”
(QS. Al-Fajr: 27)
Para arif Ahlul Bait menjelaskan:
* Yaqin melahirkan taslim.
* Taslim melahirkan ridha.
* Ridha melahirkan ithmi’nan (ketenangan sempurna).
9. Ridha adalah menyaksikan keindahan dalam qadha
Mereka mengatakan:
كُلُّ مَا يَفْعَلُهُ الْحَبِيبُ جَمِيلٌ
“Segala yang dilakukan Sang Kekasih adalah indah.”Bukan karena semua peristiwa menyenangkan, tetapi karena semuanya berasal dari Yang Maha Bijaksana.
10. Ridha adalah maqam “راضية مرضية” Ini adalah puncak perjalanan ruhani. ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 28)
Menurut ahli hakikat Ahlul Bait:
راضية ridha kepada seluruh ketentuan Allah. مرضية= Allah ridha kepada seluruh keadaan hamba.
Ketika dua keridhaan ini bertemu, sempurnalah perjalanan menuju Allah.
Hakikat Terdalam Menurut Ahlul Bait; Para arif dari madrasah Ahlul Bait mengatakan: الرِّضَا أَنْ لَا تَرَى
فِي الْوُجُودِ إِلَّا حِكْمَةَ اللَّهِ وَرَحْمَتَهُ
“Ridha adalah ketika engkau tidak melihat dalam seluruh wujud kecuali hikmah dan rahmat Allah.” Pada maqam ini, hamba tidak lagi bertanya:”Mengapa Allah melakukan ini?”Tetapi berkata: مَاذَا يُرِيدُ اللَّهُ
أَنْ يُعَرِّفَنِي مِنْ خِلَالِ هٰذَا؟
“Apa yang ingin Allah perlihatkan dan perkenalkan kepadaku melalui peristiwa ini?” Inilah yang dimaksud Imam Zainal Abidin (as) dengan:
أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Derajat yaqin yang paling tinggi.”
Karena pada maqam ini seorang hamba bukan hanya percaya kepada Allah, tetapi menyaksikan kebijaksanaan-Nya dalam setiap qadha, baik yang manis maupun yang pahit.
Kisah tentang Ridha kepada Qadha Allah
Berdasarkan Al-Qur’an, Riwayat Nabi, dan Ahlul Bait (as). Hadis:
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.”
1. Nabi Ibrahim (as) dan Perintah Menyembelih Ismail (as)
Setelah bertahun-tahun menunggu keturunan, Nabi Ibrahim (as) memperoleh Ismail (as). Namun Allah memerintahkannya untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya. Nabi Ibrahim (as) tidak membantah. Nabi Ismail (as) juga menjawab: يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Mereka berdua ridha terhadap keputusan Allah. Ketika ketundukan itu sempurna, Allah menggantinya dengan sembelihan yang agung.
Pelajaran: Ridha membuka pintu pertolongan Allah.
2. Nabi Ayyub (as) dalam Ujian Berat. Nabi Ayyub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatan. Beliau tidak pernah berkata:”Mengapa aku?” Sebaliknya beliau berdoa:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Aku telah ditimpa kesusahan dan Engkau Maha Penyayang.” QS. Al-Anbiya: 83. Allah memuji kesabarannya dan mengembalikan seluruh nikmatnya. Pelajaran: Ridha menjaga hati tetap dekat kepada Allah saat ujian datang.
3. Nabi Ya’qub (as) Kehilangan Nabi Yusuf (as) Bertahun-tahun Nabi Ya’qub menangis karena kehilangan Nabi Yusuf. Namun beliau berkata: فَصَبْرٌ جَمِيلٌ
Maka kesabaran yang indah itulah yang terbaik.” QS. Yusuf: 18
Beliau tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Akhirnya Yusuf kembali dan keluarga mereka dipersatukan.
Pelajaran: Ridha tidak menghilangkan kesedihan manusiawi, tetapi menghilangkan protes kepada Allah.
4. Nabi Musa (as) dan Khidr (as)
Musa (as) menyaksikan Khidr melubangi perahu, membunuh seorang anak, dan memperbaiki tembok tanpa upah. Semuanya tampak salah. Namun akhirnya terbukti bahawa semua tindakan itu mengandung hikmah Ilahi.Pelajaran: Banyak qadha Allah baru dipahami hikmahnya setelah waktu berlalu.
5. Rasulullah ﷺ di Thaif. Penduduk Thaif melempari Nabi ﷺ dengan batu hingga berdarah. Malaikat menawarkan untuk menghancurkan mereka. Namun Nabi ﷺ tidak meminta pembalasan. Beliau berharap keturunan mereka kelak menjadi orang-orang beriman.
Pelajaran: Ridha menjadikan seseorang melihat masa depan rahmat di balik penderitaan saat ini.
6. Imam Ali (as) Setelah Wafat Rasulullah ﷺ Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Imam Ali (as) menghadapi berbagai ujian dan kesulitan. Namun beliau berkata:
فَصَبَرْتُ وَفِي الْعَيْنِ قَذًى وَفِي الْحَلْقِ شَجًا
“Aku bersabar sementara di mata ada duri dan di tenggorokan ada sesak.” Beliau mendahulukan maslahat Islam daripada kepentingan pribadi.
Pelajaran: Ridha bukan kelemahan, tetapi kekuatan menahan diri demi tujuan yang lebih besar.
7. Sayyidah Fatimah az-Zahra (as)
Dalam berbagai kesulitan hidupnya, Sayyidah Fatimah (as) dikenal sebagai sosok yang selalu bersyukur dan ridha. Ketika ditanya tentang keadaannya, beliau menjawab dengan penuh kepasrahan kepada Allah. Para arif memandang hidup beliau sebagai teladan ridha terhadap kehendak Ilahi.
Pelajaran: Ridha adalah cahaya yang menerangi rumah dan keluarga.
8. Imam Hasan al-Mujtaba (as)
Ketika berdamai dengan Mu’awiyah, banyak orang tidak memahami keputusan beliau. Sebagian bahkan mencela beliau. Namun Imam Hasan (as) menerima keadaan demi menjaga darah kaum Muslimin.
Waktu membuktikan hikmah keputusan tersebut.
Pelajaran: Kadang ridha kepada kehendak Allah menuntut pengorbanan kehormatan dan kepentingan pribadi.
9. Imam Husain (as) di Karbala
Ketika para sahabat dan keluarga gugur satu per satu, beliau tetap berkata: هَوَّنَ مَا نَزَلَ بِي أَنَّهُ بِعَيْنِ اللَّهِ
“Yang membuat semua ini ringan bagiku ialah kerana semuanya berada dalam pandangan Allah.”
Dan beliau bermunajat:
رِضًا بِقَضَائِكَ وَتَسْلِيمًا لِأَمْرِكَ
“Aku ridha terhadap ketentuan-Mu dan berserah diri kepada perintah-Mu.” Pelajaran: Karbala adalah sekolah tertinggi ridha dan yaqin.
10. Imam Zainal Abidin (as) Setelah Karbala. Beliau menyaksikan seluruh tragedi Karbala. Namun tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Beliau menghidupkan masyarakat dengan doa, ilmu, dan ibadah.
Dari beliaulah lahir hadis:
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
Seolah beliau mengajarkan apa yang telah beliau jalani sendiri.
Pelajaran: Ridha bukan menyerah kepada keadaan, tetapi mengubah luka menjadi jalan menuju Allah.
Kesimpulan: Sepuluh kisah ini menunjukkan bahawa ridha bukan berarti menyukai musibah, tetapi:
* mempercayai hikmah Allah,
* menerima keputusan-Nya,
* tetap beribadah dalam ujian,
* dan melihat rahmat di balik takdir.
Kerana itu para Imam Ahlul Bait (as) mengajarkan: الرِّضَا مِفْتَاحُ السُّرُورِ
Ridha adalah kunci kebahagiaan.”
Dan puncaknya adalah firman Allah:
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.” QS. Al-Fajr: 28
Manfaat Ridha terhadap Qadha Allah. Berdasarkan hadis Imam Zainal Abidin (as):
الرِّضَا بِمَكْرُوهِ الْقَضَاءِ أَرْفَعُ دَرَجَاتِ الْيَقِينِ
“Ridha terhadap ketentuan yang tidak disukai adalah derajat yaqin yang paling tinggi.”
1. Mendapat keridhaan Allah
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya.”
Ridha kepada Allah mengantarkan kepada ridha Allah.
2. Hati menjadi tenang
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Ridha melahirkan ketenteraman yang tidak bergantung kepada keadaan.
3. Menguatkan yaqin
Setiap kali menerima takdir Allah dengan lapang dada, keyakinan kepada hikmah-Nya semakin bertambah.
4. Menghilangkan keluh kesah
Orang yang ridha tidak menghabiskan hidupnya dengan penyesalan terhadap apa yang telah berlalu.
5. Mempercepat datangnya pertolongan Allah
Sebagaimana Nabi Ibrahim (as), ketika penyerahan dirinya sempurna, pertolongan Allah pun datang.
6. Mengubah musibah menjadi pahala. Imam Ali (as) bersabda:
مَنْ رَضِيَ بِالْقَضَاءِ كَانَ لَهُ الْأَجْرُ
“Barangsiapa ridha terhadap qadha, baginya pahala.”
7. Membuka pintu makrifat
Ridha membuat seseorang melihat hikmah Allah yang tersembunyi di balik kejadian.
8. Menumbuhkan rasa syukur
Orang yang ridha melihat nikmat Allah bahkan dalam keadaan sulit.
9. Menjadi sebab cinta Allah
Allah mencintai hamba yang menerima pengaturan-Nya dengan hati yang tunduk.
10. Mengantarkan kepada maqam
رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Ridha dan diridhai.” Inilah tujuan akhir perjalanan ruhani seorang mukmin.
Doa Memohon Ridha kepada Qadha Allah
Doa 1;
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا بِقَضَائِكَ، مُسَلِّمًا لِأَمْرِكَ، صَابِرًا عَلَى بَلَائِكَ، شَاكِرًا لِنَعْمَائِكَ
Allāhummaj‘alnī rāḍiyan biqaḍā’ika, musalliman li’amrika, ṣābiran ‘alā balā’ika, syākiran lina‘mā’ika.:?””Ya Allah, jadikanlah aku ridha terhadap ketentuan-Mu, berserah diri kepada perintah-Mu, sabar atas ujian-Mu, dan bersyukur atas nikmat-Mu.”
Doa 2 (Doa Ahlul Bait)
اللَّهُمَّ رِضًا بِقَضَائِكَ، وَتَسْلِيمًا لِأَمْرِكَ،
لَا مَعْبُودَ سِوَاكَ يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ
Allāhumma riḍan biqaḍā’ika wa taslīman li’amrika, lā ma‘būda siwāka yā ghiyāthal mustaghīthīn.
“Ya Allah, aku ridha terhadap ketentuan-Mu dan berserah diri kepada perintah-Mu. Tiada sesembahan selain Engkau, wahai Penolong orang-orang yang memohon pertolongan.”
Munajat Orang yang Ridha
إِلٰهِي، إِنْ أَعْطَيْتَنِي فَلَكَ الْحَمْدُ،
وَإِنْ مَنَعْتَنِي فَلَكَ الْحَمْدُ،
وَإِنْ أَفْرَحْتَنِي فَلَكَ الْحَمْدُ،
وَإِنْ ابْتَلَيْتَنِي فَلَكَ الْحَمْدُ،
فَأَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ،
رَاضٍ بِكُلِّ مَا اخْتَرْتَهُ لِي.
“Ya Tuhanku, jika Engkau memberi kepadaku maka bagi-Mu segala puji. Jika Engkau menahannya dariku maka bagi-Mu segala puji. Jika Engkau menggembirakanku maka bagi-Mu segala puji. Jika Engkau mengujiku maka bagi-Mu segala puji. Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu; aku ridha terhadap segala yang Engkau pilihkan untukku.”
Munajat Syakirin
Tuhanku, runtunan karunia-Mu telah melengahkan daku untuk benar-benar bersyukur pada-Mu.
Limpahan anugerah-Mu, telah melemahkan daku untuk menghitung pujian atas-Mu.
Iringan ganjaran-Mu, telah menyibukkan daku untuk menyebut kemulia an-Mu.
Rangkaian bantuan-Mu, telah melalaikan daku untuk memperbanyak pujaan pada-Mu.
Ilahi, besarnya nikmat-Mu mengecilkan, rasa syukurku
memudar di samping limpahan anugrah-Mu puji dan sanjungku.
Karunia-Mu yang berupa cahaya iman menutupku dengan pakaian kebesaran.
Curahan anugrah-Mu, membungkusku dengan busana kemuliaan.
Pemberian-Mu merangkaikan padaku kalung nan tak terpecahkan,
dan melingkari leherku dengan untaian yang tak teruraikan.
Anugrah-Mu tak terhingga sehingga kelu lidahku me-nyebutkannya.
Karunia-Mu tak berbilang sehingga lumpuh akalku memahaminya,
apalah lagi menentukan luasnya
Bagaimana mungkin daku berhasil mensyukuri-Mu karena rasa syukurku pada-Mu memerlukan syukur lagi.
Setiap kali daku dapat mengucapkan bagi-Mu pujian, saat itu juga daku terdorong mengucapkan bagi-Mu pujian.
Ilahi, sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu dan memelihara kami dengan pemberian-Mu, sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu. Tolakkan dari kami kejelekan azab-Mu,
berikan bagi kami di dunia dan akhirat, yang paling tinggi dan paling mulia lambat atau segera.
Bagi-Mu pujian atas keindahan ujian-Mu dan limpahan kenikmatan-Mu,
(Bagi-Mu) pujian yang selaras dengan ridho-Mu yang sepadan dengan kebesaran kebajikan-Mu.
Wahai Yang Maha Agung.
Wahai Yang Maha Pemurah. Dengan rahmat-Mu,
Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi,
Ya, Arhamar Rôhimîn.
Wirid Abubakar bin Salim BSA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
اَللّهُمَّ يَا عَظِيْمَ السُّلْطَانِ
يَاقَدِيْمَ اْلاِحْسَانِ
يَادَإِمَ النِّعَمِ
يَاكَـثِيْرَ الْجُوْدِ
يَاوَاسِعَ الْعَطَاءِ
يَاخَفِيَّ اللُّطْفِ،
يَاجَمِيْلَ الصُّنْعِ يَِاحَلِيْمًالاَ يَعْجَلُ.
صَلِّ يَا رَبِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَالِه وَسَلِّمْ
اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ شُكْرًا
وَلَكَ الْمَنُّ فَضْلاً
وَاَنْتَ رَبُّنَا حَقاًّ
وَنَحْنُ عَبِيْدُكَ رِقاًّ
وَاَنْتَ لَمْ تَزَ لْ لِذَا لِكَ اَهْلا.ً
يََا مُيَسِّـرَ كُلِّ عَسِـيْرٍ
وَيَاجَابِرَ كـُلِّ كَسِيْـرٍ
وَ يَا صَاحِبَ كُلِّ فَرِيْدٍ
وَيَامُغْنِيَ كُلِّ فَقِيْرٍ
وَيَامُقَوِّيَ كُلِّ ضَعِيْفٍ
وَيَامَأْمَنَ كُلِّ مَخِيْفٍ،
يَسِّرْ عَلَيْنَاكُلَّ عَسِيْرٍ،
فَتَيْسِيْرُالْعَسِيْرِعَلَيْكَ يَسِيْرٌ.
اَللّهُمَّ يَامَنْ لاَيَحْتَاجُ اِلَى الْبَيَـانِ وَالتَّفْسِيْرِ
حَاجَاتُنَاكَثِيْرٌ، وَاَنْتَ عَالِمٌ بِهَاوَخَبِيْرٌ،
اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَخَافُ مِنْكَ
وَاَخَافُ مِمَّنْ يَخَافُ مِنْكَ،
وَاَخَافُ مِمَّنْ لاَ يَخَافُ مِنْكَ.
اَللّهُمَّ بِحَقِّ مَنْ يَخَافُ مِنْكَ
نَجِّنَامِمَّنْ لاَ يَخَافُ مِنْكَ.
اَللّهُمَّ بِحَقِّ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ و آل سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
وَاكْـنُفْنَا بِكَنَفِكَ الَّذِيْ لاَيُرَامُ
وَارْحَمْنَا بِقُدْرَتِكَ عَلَيْنَا
فَلاَ نَهْلِكْ وَاَنْتَ ثِـقـَتُـنَا وَرَجَاؤُنَا.
وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَالِـه
وَالـْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الـْعَالـَمِيْنَ.
Wahai Yang Maha Agung Kerajaan Nya, Wahai Yang Maha Terdahulu Kebaikan Nya, Wahai Yang Tak Henti hentinya Melimpahi Nikmat,
Wahai Yang Maha Banyak Limpahan Kemurahan Nya,
Wahai Yang Maha Luas Pemberian Nya, Wahai Yang Maha Tersembunyi Kasih Sayang Nya,
Wahai Yang Maha Lembut Perbuatan Nya, Wahai Yang Maha Berkasih Sayang tanpa Tergesa gesa menurunkan siksa, Limpahkanlah Shalawat Wahai Tuhanku pada Sayyidina Muhammad dan pada Keluarga serta Salam Sejahtera dan Ridhoilah atas mereka semua
Wahai Allah Bagi Mu segala Pujian dan Syukur, Dan Bagi Mu (kami sangat) Berhutang Budi atas Segala Anugerah, Dan Engkaulah Pemilik Kami Yang Sebenar benarnya, Dan Kamilah Hamba Mu yang Kau Miliki, Dan Engkau Tetap Abadi memiliki kami, Wahai Yang Maha Memudahkan semua Hamba Mu yg Kesulitan, Wahai Yang Maha Menghibur semua Hamba Mu yg tenggelam dalam Kecewa dan Kesedihan, Wahai Yang Maha Menemani semua Hamba Mu yang dalam Kesendirian, Wahai Yang Maha Mencukupi semua Hamba Mu yg Faqir, Wahai Yang Maha Menguatkan semua Hamba Mu yang Lemah, Wahai Yang Maha Mengamankan semua yang dalam Ketakutan, Mudahkanlah bagi kami segala kesulitan kami, Engkaulah satu satunya yang Maha Memudahkan segala yg Sulit, Dan Milik Mu segala Kemudahan,Wahai Allah Yang Tak Membutuhkan penjelasan dan penafsiran (atas kesulitan kami),Hajat Kami sangatlah banyak, dan Engkau Maha Mengetahuinya dan Maha Memahami Kejadiannya,Wahai Allah kami takut pada Kewibawaan Mu, dan kami takut pada orang yg takut pada Kewibawaan Mu para Wali Allah, takut bila berbuat salah pd mereka, kami akan mendpt kemurkaan Mu.), dan kami takut pula pada orang yg tidak takut pada Kewibawaan Mu (para Musuh Allah, takut bila perbuatan mereka pd kami menjauhkan kami dari Mu.) Wahai Allah Demi Orang orang Yang Takut akan Kewibawaan Mu, Selamatkan Kami dari orang orang yg tak takut pada Kewibawaan Mu, Wahai Allah demi Sayyidina Muhammad dan keluarganya yg suci. Jagalah Kami dengan Pandangan Mu Yang Tak Pernah Terlelap, dan Ayomilah Kami dengan Pemeliharaan Mu yang Tak terbayangkan, Kasihanilah kami, Dengan Ketentuan Mu yg akan menimpa kami, maka kami tak akan celaka bila Engkau Harapan Kami dan Pegangan Kami. Maka shalawat serta salam atas pemimpin kami sayidina Muhammad dan atas keluarga dan segala puji bagi Tuhan sekalian Alam, sebanyak ciptaan Nya, dan keridhoan diri Nya, dan perhiasan Arsy Nya, dan tinta kalimat Nya, Wahai Allah kami memohon kepada Mu bertambahnya keiamanan dalam beragama, keberkahan dalam usia, kesehatan tubuh, keluasan dalam rizki, dan taubat sebelum kematian, dan syahadat saat kematian, dan pengampunan setelah kematian, dan pengampunan di hari hisab, dan aman dari siksa, dan bagian dari sorga, dan berilah kami kesempatan memandang kepada Dzat Mu yg Maha Agung dan Mulia,Maka shalawat Allah dan salam semoga selalu atas sayyidina Muhammad dan atas keluarganya
walhamdulillahirabbil’alamin
Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment