Adab Ziarah Imam Husein as

🌹❤️🌺Adab Ziarah Imam Husein as🌺❤️🌹

Dua puluh Adab dalam Menziarahi Imam Husain a.s. (Pimpinan Pemuda Ahli Sorga) https://youtu.be/B_5kfi5_G0g

Pertama:
berpuasa selama tiga hari sebelum Anda keluar dari rumah. 

Mandilah pada hari ketiga sebagaimana Imam Shadiq as memerintahkan Shafwan Jammal untuk melakukan mandi dan tata caranya akan disebutkan dalam pembahasan ziarah.

Syekh Muhammad bin Masyhadi dalam mukadimah ziarah dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) berkata, “Jika Anda ingin berziarah kepada beliau as, maka berpuasalah selama tiga hari dan pada hari ketiga mandilah, kumpulkanlah keluarga Anda seraya membaca doa: 

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ، 
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، 
أَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتوْدِ عُكَ ألْيَوْمَ نَفْسِيْ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ وَوَلَدِيْ وَمَنْ كَانَ مِنِّيْ بِسَبِيْلِ الشَّاهِدَ مِنْهُمْ وَالْغَائِبَ، أَللّهُمَّاحْفَظْنَا بِحِفْظِكَ بِحِفْظِ اْلإِيْمَانِ وَاحْفَظْ عَلَيْنَا، أَللّهُمَّ اجْعَلْنَا فِيْ حِرْزِكَ وَلاَ تَسْلُبْنَانِعْمَتَكَ وَلاَ تُغَيِّرْ مَا بِنَا مِنْ نِعْمَةٍ وَعاَفِيَةٍ وَزِدْنَا مِنْ فَضْلِكَ، إِنَّا إِلَيْكَ رَغِبُوْنَ، 

Bismillâhir rohmânir rohîm  Allâ humma sholli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammadin. Allâhum ma innî astaw-di’ukal yauma, nafsî wa ahlî wa mâlî wa waladî, wa man kâna minnî bisabîlisy-syâhida minhum walghô-iba. Allâhummah fazh-nâ bi hifzhi ka bi hifzhil îmâni wah-fazh ‘alainâ. Allâhummaj-‘alnâ fî hirzika walâ taslubnâ ni’mataka walâ tughoyyir mâ binâ min ni’mati wa’âfiyatin wa zidnâ min fadh-lika, innâ ilaika rôghibûn. 

Dengan asma Allah Yang Maha kasih dan Maha sayang. 
Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya. 
Ya Allah pada hari ini aku mohon perlindungan-Mu agar diriku, keluargaku, hartaku, anak-anakku dan orang-orang yang menyertaiku dalam safar ini baik yang tampak maupun yang tidak tampak. 
Ya Allah jagalah kami dengan penjagaan-Mu, penjagaan iman serta lindungilah kami. 
Ya Allah. Jadikanlah kami (berada) dalam liputan kasih sayang-Mu dan janganlah Kau cabut karunia-Mu  dari kami, jangan Kau ubah segala karunia dan kesehatan yang telah kami miliki, dan tambahkanlah karunia-Mu terhadap kami, karena sesungguhnya kami benar-benar memohon (semua itu) kepada-Mu. 

Setelah itu, keluarlah dari rumah Anda dengan khusyuk dan bacalah selalu,

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَالحَمْدُ للهِ

Tiada Tuhan selain Allah, 
Allah Mahabesar dan segala puji bagi Allah.

Ucapkanlah pujian kepada Allah dan kirimkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarganya as. 

Lalu, melangkahlah pelan-pelan dan penuh kewibawaan.

Disebutkan dalam hadis bahwa Allah akan menciptakan 70.000 malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah dan memintakan ampun untuknya dan untuk seluruh peziarah beliau hingga hari Kiamat terjadi dari setiap tetesan keringat para peziarah Imam Husein as.

Kedua, 
diriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Jika engkau pergi berziarah kepada Imam Husain a.s, maka berziarahlah kepada beliau dalam keadaan sedih, karena beliau syahid dalam keadaan demikian, mintalah seluruh hajatmu.”

Ketiga, 
janganlah membawa bekal makanan yang lezat, seperti ayam bakar dan manis-manisan, bahkan bawalah bekal roti dan susu atau yoghurt saja. 

Diriwayatkan bahwa Imam Shadiq as berkata, “aku mendengar berita bahwa ada sebuah rombongan pergi berziarah kepada Imam Husain as dan mereka membawa bekal yang terdiri dari kambing bakar dan manis-manisan, sedangkan jika mereka pergi berziarah kepada kuburan ayah atau para sahabat mereka, mereka tidak membawa bekal yang sedemikian rupa.”

Dalam sebuah hadis yang muktabar disebutkan bahwa beliau pernah berpesan kepada Mufaddhal bin Umar, “Kalian berziarah kepada Imam Husain as lebih baik daripada kalian tidak menziarahi beliau dan kalian tidak menziarahi beliau lebih baik daripada kalian menziarahi beliau.” 

‘Anda telah membuatku pusing (untuk memahami maksud Anda).’ Kata Mufaddhal. 

Beliau berkata, ‘Demi Allah, jika kalian berziarah ke kuburan ayah kalian, kalian pergi dalam kondisi sedih dan ketika kalian pergi berziarah kepada beliau, kalian membawa bekal (yang berwarna-warni).”

Penulis berkata: sangat layak jika orang-orang kaya dan para saudagar memerhatikan hal ini dalam perjalanan ziarah (suci) ini. 

Ketika mereka diundang oleh para sahabat di sebuah negeri yang terdapat di pertengahan perjalanan mereka hingga Karbala atau sebelum berangkat telah disediakan bagi mereka acara makan siang yang terdiri dari masakan-masakan lezat dan dipenuhi oleh ayam-ayam panggang dan masakan-masakan panggangan lainnya, hendaknya mereka jangan menerima dan mengatakan kepada mereka, 

“Kami sedang dalam perjalanan menuju Karbala dan sangat tidak layak bagi kami untuk menyantap menu-menu masakan semacam ini.”

Syekh Kulaini ra meriwayatkan bahwa setelah kesyahidan Imam Husain a.s, istri beliau yang berasal dari Bani Kalb mendirikan acara bela sungkawa untuknya. Ia menangis disertai seluruh wanita dan para pembantu yang hadir hingga air mata mereka kering dan tak dapat menetes lagi. 

Penduduk suatu daerah mengirimkan hadiah burung merpati kepada wanita yang sudah lemah itu dengan harapan dengan memakannya, ia dapat memiliki tenaga kembali sehingga dapat menangisi syahadah beliau kembali. 

Ketika melihat bingkisan itu, ia bertanya, “Bingkisan apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah sebuah hadiah dari seseorang yang dikirim untuk Anda sehingga (dengan memakannya), Anda dapat memiliki energi kembali untuk menangisi Imam Husain as.’ 

Ia menjawab, ‘Kita tidak sedang berada dalam acara pernikahan. Kita tidak membutuhkannya.” Lalu, ia memerintahkan supaya hadiah tersebut dibawa keluar.

Keempat, 
salah satu hal yang disunnahkan dalam perjalanan ziarah ke Imam Husain a.s. adalah rendah hati dan berjalan sebagaimana hamba sahaya berjalan. 

Oleh karena itu, orang-orang yang dalam perjalanan ziarah menuju ke haribaan beliau as mengendarai alat-alat transportasi modern yang digerakkan dengan kekuatan mesin hendaknya mereka berhati-hati jangan sampai menyombongkan diri, menganggap diri lebih unggul dari hamba-hamba Allah yang berhasil datang ke Karbala dengan seribu kesulitan dan jangan menghina mereka. 

Ketika menceritakan kondisi Ashabul Kahfi, para ulama menulis bahwa mereka adalah orang dekat Diqyanus dan para menterinya. 

Ketika Allah mencurahkan rahmat-Nya atas mereka dan mereka mengambil keputusan untuk menyembah Allah dan membenahi diri, mereka melihat harus mengasingkan diri dari khalayak dan menyepi dalam sebuah goa untuk beribadah kepada Allah. 

Lalu, mereka pergi dengan mengendarai kuda dan keluar dari kota. Ketika mereka sudah mencapai tiga mil perjalanan, salah seorang dari mereka yang bernama Tamlikha berkata, “Wahai saudara-saudaraku, (jalan) kemiskinan menuju akhirat telah datang dan kerajaan dunia telah sirna. Oleh karena itu, turunlah dari kuda kalian dan menciptakan jalan keluar bagi urusan kalian ini.” 

Serta merta mereka turun dari kuda mereka dan pada hari itu, orang-orang mulia dan agung itu berjalan kaki sepanjang 7 farsakh sehingga kaki-kaki mereka terluka dan bercucuran darah. 

Atas dasar ini, hendaknya para peziarah makam suci ini memperhatikan kisah tersebut dan mengetahui bahwa ketika mereka semakin merendahkan diri dalam perjalanan ziarah ini, hal itu akan menyebabkan tingginya kedudukan mereka.

Oleh karena itu, berkenaan dengan tatakrama berziarah kepada beliau a.s, diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa sesiapa berziarah ke makam suci Imam Husain as dengan berjalan kaki, 

Allah akan menuliskan baginya seribu kebaikan untuk setiap langkahnya dan menghapus seribu dosa, serta mengangkat derajatnya sebanyak seribu derajat di surga.

Ketika Anda telah sampai di tepi sungai Efrat, mandilah di situ. Telanjangilah kaki Anda, tentenglah alas kaki Anda dan berjalanlah sebagaimana hamba sahaya berjalan.

Kelima, 
jika Anda melihat seorang  peziarah di pertengahan jalan yang sudah kelelahan dan kehabisan bekal, lalu dia meminta pertolongan kepada Anda, hendaknya-jika mungkin-Anda memperhatikannya dan membawanya hingga ke rumahnya. 

Jangan sampai Anda meremehkan dan tidak memperdulikannya.

Syekh Kulaini ra meriwayatkan dengan sanad yang muktabar dari Abu Harun bahwa dia bercerita, “Suatu hari aku berada di rumah Imam Shadiq a.s. 

Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir di situ, ‘Apa yang telah terjadi pada kalian sehingga kalian meremehkan kami?’ 

Salah seorang dari penduduk Khurasan bangun dari duduknya seraya berkata, ‘Kami berlindung kepada Allah atas peremehan kami terhadap Anda atau atas perintah Anda.’ ‘Engkau termasuk salah seorang yang telah meremehkan dan menghinakanku,’ kata beliau. 

‘Aku berlindung kepada Allah jika aku telah menghinakan Anda,’ jawab lelaki itu.

‘Celakalah engkau. Apakah engkau tidak mendengar ucapan si Fulan ketika kalian berada di dekat Juhfah. 

Dia berkata kepadamu, ‘Bawalah aku menaiki tunggangan kalian sejauh 1 mil. 

Demi Allah, aku telah merasa kelelahan.’ Demi Allah, engkau tidak mendongakkan kepalamu sedikitpun dan meremehkannya. 

Sesiapa menghina seorang mukmin, dia telah menghinakan kami dan mengenyahkan kehormatan Allah.” Kata beliau selanjutnya.

Penulis berkata: Kami telah menyebutkan sebuah hadis dari Ali bin Yaqthin yang sangat sesuai dengan pembahasan ini dalam pembahasan tatakrama berziarah, tatakrama kesembilan. 

Silahkan Anda merujuk ke pembahasan tersebut, niscaya Anda menemukan sebuah nasihat yang baik. 

Tatakrama yang telah disebutkan di atas tidak hanya dikhususkan untuk para peziarah Imam Husain as. 

Akan tetapi, karena hal itu sering terjadi dalam perjalanan ziarah ke makam suci beliau a.s, kami menyebutkannya pada kesempatan ini.

Keenam, 
diriwayatkan dari Muhammad bin Muslim, seorang tsiqah yang agung bahwa dia pernah bertanya kepada Imam Muhammad Baqir a.s, 

“Ketika kami ingin pergi berziarah ke makam suci ayah Anda, Husain bin Ali as, apakah kami juga harus berperilaku sebagaimana kami berada di dalam ibadah haji?’ ‘Ya,’ jawab beliau.

‘Jika begitu, diwajibkan atas kami apa yang diwajibkan atas para jamaah haji?,’ tanyanya kembali. 

Beliau menjawab, ‘Hendaknya engkau berperilaku baik kepada sahabatmu, 

hendaknya engkau sedikit berbicara kecuali berbicara kebaikan, 

hendaknya engkau selalu mengingat Allah, 

hendaknya engkau selalu bersih, 

hendaknya engkau mandi sebelum memasuki makam, 

hendaknya engkau selalu khusyuk dan mengerjakan shalat, 

selalu mengirimkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya, 

hendaknya engkau menutup matamu dari segala yang haram dan syubhat

 dan berbuat kebajikan kepada saudara mukminmu yang sedang ditimpa kesusahan. 

Jika engkau melihat seseorang yang kehabisan bekal, hendaknya engkau menanggungnya dan membagikan bekalmu dengannya secara sama. 

Hendaknya engkau melakukan taqiyah, karena tegaknya agamamu hanya dengannya, 

menghindarkan diri dari segala sesuatu yang telah dilarang oleh Allah dan meninggalkan permusuhan, 

bersumpah serapah dan berdebat yang disertai dengan sumpah. 

Jika engkau telah melakukan demikian, maka engkau akan mendapatkan pahala haji dan umrah 

dan engkau berhak untuk memperoleh pengampunan dosa dan keridhaan Allah dari orang yang engkau meminta pahala darinya dengan mengeluarkan harta dan jauh dari keluarga (demi berziarah) itu.’”

Ketujuh, 
dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hamzah Tsumali dari Imam Shadiq as berkenaan dengan berziarah kepada Imam Husain as disebutkan bahwa 

ketika Anda telah sampai di Nainawa, letakkanlah sebuah bekal Anda di situ, jangan memakai minyak (untuk pelembab misalnya), jangan memakai celak mata dan jangan memakan daging selama Anda berdomisili di sana.

Kedelapan, 
mandi dengan air sungai Efrat. Banyak sekali hadis yang telah menjelaskan keutamaan mandi dengan air sungai itu. 

Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq as bahwa sesiapa yang mandi dengan air sungai Efrat dan berziarah ke makam suci Imam Husain as, dia akan terkosongkan dari dosa seperti pada hari dia dilahirkan dari ibunya meskipun dia memiliki dosa besar.

Diriwayatkan bahwa beliau pernah ditanya, “Seringkali kami berziarah ke makam suci Imam Husain a.s dan sangat sulit bagi kami untuk melakukan mandi ziarah karena dinginnya cuaca atau karena sebab lain.’

Beliau menjawab, ‘Sesiapa mandi di sungai Efrat dan menziarahi makam suci Husain as, maka akan ditulis baginya keutamaan yang tak terhitung jumlahnya.”

Diriwayatkan dari Dasyir Dahhan bahwa Imam Shadiq as berkata, “Sesiapa menziarahi kubur Husain bin Ali as, lalu dia berwudhu dan mandi di sungai Efrat, maka dia tidak akan melangkahkan kaki kecuali Allah akan menulis baginya (pahala) haji dan umrah.”

Dalam sebagian hadis disebutkan bahwa mandilah di sungai Efrat di tempat yang berhadapan dengan makam suci beliau. 

Dan alangkah baiknya -sebagaimana dapat dipahami dari beberapa hadis- ketika Anda sampai di sungai Efrat, bacalah :

‎[ الله أَكْبَرُ ]، و"مائة مرة": [ لا إِلهَ إِلاّ اللهِ]، ويصلي على محَمَّدٍ وَآلِهِ "مائة مرة".
Allâhu akbar 100 x, lâ ilâha illallâh100 x dan shalawat atas Rasulullah saw dan keluarga seratus kali.

Kesembilan, 
ketika Anda ingin memasuki makam, masuklah dari pintu yang berada di sebelah Timur sebagaimana Imam Shadiq as telah memperintahkan Yusuf Kannas untuk melakukan demikian.

Kesepuluh, 
dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Qaulawaeh disebutkan bahwa Imam Shadiq as berkata kepada Mufaddhal bin Umar, 

“Wahai Mufaddhal, ketika engkau telah sampai di makam suci Imam Husain as, berdirilah di depan pintu Rudhah dan bacalah bacaan berikut ini, karena untuk setiapnya, engkau akan mendapatkan rahmat ilahi.”:

أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَوَارِثَ آدَمَ صِفْوَةِ اللهِ، 
أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَوَارِثَ  نُوْحٍ نَبِيِّ اللهِ، 
 أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَوَارِثَ  إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِ اللهِ، أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَ وَارِثَ مُوْسَى كَلِيْمِ اللهِ، 
أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَ وَارِثَ عِيْسَى رُوْحِ اللهِ،
 أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَ وَارِثَ مُحَمَّدٍ حَبِيْبِ اللهِ، أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَ وَارِثَ عَلِيٍّ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَلِيِّ اللهِ، أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَ وَارِثَ الْحَسَنِ الرَّضِيِّ أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياَ وَارِثَ فاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ الله، أَلسَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الشَّهِيدُ الصِّدِّيقُ،
 أَلسَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الوَصِيُّ البَّارُّ التَقِيُّ،
 أَلسَّلامُ عَلى الأَرْوَاحِ الَّتِي حَلَّتْ بِفِنَائِكَ، وَأَناَخَتْ بِرَحْلِكَ، أَلسَّلامُ عَلى مَلائِكَةِ الله المُحْدِقِينَ بِكَ، أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ أَقَمْتَ الصَلاةَ، وَآتَيْتَ الزَّكاةَ، وَأَمَرْتَ بِالمَعْرُوفِ، وَنَهَيْتَ عَنِ المُنْكَرِ، وَعَبَدْتَ الله مُخْلِصاً، حَتَّى أَتاكَ اليَقِينُ، أَلسَّلامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكاتُهُ.

Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa Âdama shifwa tillâhi, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa Nûhin nabiyyillâhi, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa Ibrôhîma kholîlillâhi, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa Mûsâ kalîmillâhi, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa ‘Îsâ rûhillâhi, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa Muhammadin habîbillâhi, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa ‘Aliyyin amîril mu’minîna waliyyillâhi, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsal Hasanisy arrodhiy al-barrut taqiyyu, Assalâmu ‘alaika yâ wâritsa Fathimah binta Rasulillah, Assalâmu ‘alaika ayyuhasy syahid asysyiddiq, Assalâmu ‘alaika ayyuhal washiyyul barrul taqiy, Assalâmu ‘alal arwâhillati hallat bifinâ-ika wa anâ khot birohlika, Assalâmu ‘alal malâikatillah al-muhdiqîna bika asyhadu annaka qod aqomtash-sholah wa âtaytaz zakâh wa amarta bil ma’rûf wanahayta ‘anil mungkar wa ‘abad tallâh mukhlishon hatta atâkal yaqîn, Assalâmu ‘alaika warohmatullâhi wabarôkâtuh.

Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Adam, pilihan Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Nuh, Nabi Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Ibrahim, Khalilullah. Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Musa, Kalimullah. Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Isa, Ruhullah. Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Ali, washi Rasulullah. Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Hasan Radhi. Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Fathimah, putri Rasulullah. Salam sejahtera atasmu, wahai syahid yang benar. Salam sejahtera atasmu, wahai washi yang selalu berbuat kebajikan dan bertakwa. Salam atas ruh-ruh yang terbaring di haribaanmu dan tinggal di (sekitar) pembaringanmu. Salam atas para malaikat Allah yang mengelilingimu. Aku bersaksi bahwa engkau telah mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran dan menyembah kepada Allah dengan tulus sehingga ajal datang menghampirimu. Salam sejahtera atasmu, begitu juga rahmat Allah dan berkah-Nya.

Kemudian, melangkahlah menuju makam. Untuk setiap langkah yang Anda langkahkan, Anda akan mendapatkan pahala orang yang sedang menggeliat-geliat di dalam darahnya karena membela Allah. Ketika Anda telah mendekati makam, usapkanlah tangan Anda di atas makam suci dan bacalah, 

‎أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاحُجَّةَ اللهِ فِي أَرْضِهِ وَسَمَائِهِ
Assalamualaika ya hujjah Allah fi ardhih wa sama’ih 

Salam sejahtera atasmu, wahai hujjah Allah di bumi dan langit-Nya). 
Setelah itu, melangkahlah untuk melakukan shalat. 

Untuk setiap rakaat yang Anda kerjakan di sisi makam suci beliau, Anda akan mendapatkan pahala orang yang telah melakukan haji dan umrah sebanyak seribu kali, membebaskan seribu budak dan melakukan jihad bersama seorang nabi utusan sebanyak seribu kali.

Kesebelas, 
diriwayatkan dari Abu Sa’id Madaini bahwa dia berkata, “Saya pernah menjumpai Imam Shadiq a.s. dan bertanya, ‘Bagaimana jika aku pergi menziarahi makam suci Husain as?’ 

‘Ya. Pergilah berziarah ke makam suci Husain as. Beliau adalah putra Rasulullah saw, orang terbaik, orang tersuci dan sebaik-baiknya orang-orang yang berbuat kebajikan. Jika engkau menziarahi beliau, bacalah di dekat kepala beliau Tasbih Amirul Mukminin as sebanyak seribu kali dan bacalah tasbih Sayidah Fathimah Zahra a.s di kaki beliau sebanyak seribu kali. Kemudian, kerjakanlah shalat di dekat beliau sebanyak dua rakaat dan bacalah surah Yasin dan ar-Rahman di dua rakaat itu. Jika engkau telah melakukan demikian, engkau akan mendapatkan pahala yang sangat besar,’ jawab beliau. ‘Semoga jiwaku menjadi tebusan Anda. Ajarkanlah kepadaku Tasbih Ali dan Tasbih Fathimah,’ tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Ya, akan kuajarkan padamu, wahai Abu Sa’id. Tasbih Ali adalah,

سُبْحَانَ الَّذِي لاتَنْفَذُ خَزَائِنُهُ، 
سُبْحَانَ الَّذِي لاتَبِيدُ مَعَالِمُهُ، 
سُبْحَانَ الَّذِي لايَفْنى مَاعِنْدَهُ، 
سُبْحَانَ الَّذِي لاَيُشْرِكُ أَحَداً فِي حُكْمِهِ، 
سُبْحَانَ الَّذِي لاَاضْمِحْلاَلَ لِفَخْرِهِ،
سُبْحَانَ الَّذِي لاَانْقِطَاعَ لِمُدَّتِهِ، 
سُبْحَانَ الَّذِي لاَ إِلهَ غَيْرُهُ.

Subhânalladzî lâ tanfadzu khozâ inuhu, Subhânal ladzî lâ tabîdu ma-âlimuhu, Subhânalladzî lâ yafnâ mâ indahu, Subhânalladzî lâ yusy riku ahadan fî hukmihi, Subhânal ladzî lâdhmih-lâla lifakh-rihi, Subhânalladzî lânqithô-a limud-datihi Subhânal ladzî lâ ilaha ghoiruhu

Mahasuci Zat Yang tak pernah habis simpanan-Nya. Mahasuci Zat Yang tak pernah musnah tanda-tanda kekuasaan-Nya. Mahasuci Zat Yang tak akan fana segala yang berada di sisi-Nya. Mahasuci Zat Yang tidak mengikutsertakan seorang pun dalam hukum-Nya. Mahasuci Zat Yang tiada kesirnaan bagi kebanggaan-Nya. Mahasuci Zat Yang tiada keterputusan bagi masa-Nya. Mahasuci Zat Yang tiada tuhan selain-Nya.

Dan tasbih Sayidah Zahra a.s. adalah :

سُبْحَانَ ذِي الْجَلاَلِ الْبَاذِخِ العَظِيمِ،
سُبْحَانَ ذِي الْعِزِّ الشَّامِخِ الْمُنِيفِ،
سُبْحَانَ ذِي الْمُلْكِ الْفَاخِرِ الْقَدِيْمِ،
سُبْحَانَ ذِي الْبَهْجَةِ وَالْجَمَالِ، 
سُبْحَانَ مَنْ تَرَدَّى بِالنُّورِ وَالْوَقَارِ، 
سُبْحانَ مَنْ يَرى أَثَرَ النَّمْلِ فِي الصَّفاً، 
وَوَقْعَ الطَّيْرِ فِي الْهَواءِ.

Subhâna dzîl jalâlil bâdzihil ‘azhîm, Subhâna dzîl izzis syâmikhil munîf Subhâna dzil mulkil fâkhiril qodîm, Subhâna dzîl bahjati waljamâl, Subhâna man tarodda binnûri wal waqôri, 
Subhâna man yarô âtsâron namli fishshofâ, wawaq’aththoiri fil hawâ 

Mahasuci Zat Pemilik keagungan Yang Mahabesar nan Agung. Mahasuci Zat Pemilik kemuliaan Yang Mahatinggi. Mahasuzi Zat Pemilik kerajaan Yang cemerlang nan terdahulu. Mahasuci Zat Pemilik kecemer langan dan keindahan. Mahasuzi Zat Yang berselimut cahaya dan keagungan. Mahasuci Zat Yang Melihat bekas kaki semut di atas batu karang dan bekas burung di udara.

Kedua belas, 
mengerjakan shalat-shalat wajib dan sunnah di makam suci Imam Husain as. Karena shalat di sisi beliau as pasti dikabulkan. Sayid Ibnu Thawus ra berkata, “Berusahalah sekuat tenaga supaya jangan sampai Anda ketinggalan shalat wajib dan sunnah di makam suci ini. Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa pahala shalat wajib di sisi beliau a.s. adalah sama dengan ibadah haji dan pahala shalat sunnah adalah sama dengan ibadah umrah.”

Penulis berkata: Dalam hadis Mufaddhal telah disebutkan pahala yang tak terhingga bagi shalat di makam suci yang suci ini. 

Dalam sebuah hadis Imam Shadiq a.s. yang dapat dibuat pegangan (muktabar) disebutkan bahwa sesiapa berziarah ke makam suci beliau a.s. dan mengerjakan shalat sebanyak dua atau empat rakaat di sisi beliau as, akan ditulis baginya pahala haji dan umrah. 

Yang dapat dipahami dari lahiriah hadis ini adalah mengerjakan shalat selain shalat ziarah di belakang makam suci atau di dekat kepala beliau a.s, hendaknya Anda berdiri agak ke belakang sekiranya tidak berhadapan langsung dengan makam suci asli beliau.

Dalam hadis Abu Hamzah Tsumali yang diriwayatkan dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa kerjakanlah shalat sebanyak dua rakaat di dekat kepala beliau dan bacalah pada rakaat pertama surah al-Fatihah dan surah Yasin dan pada rakaat kedua surah al-Fatihan dan ar-Rahman. Jika Anda menginginkan, kerjakanlah shalat itu di belakang makam. Akan tetapi, jika shalat itu dikerjakan di sebelah kepala beliau, hal itu adalah lebih baik. Jika Anda telah selesai mengerjakannya, kerjakanlah shalat sesuai dengan kehendak Anda. Akan tetapi, dua rakaat shalat ziarah itu hendaklah Anda lakukan di manapun Anda melakukan ziarah kubur. 
Ibnu Qaulawaeh meriwayatkan dari Imam Baqir as bahwa beliau pernah berkata kepada seseorang, “Wahai Fulan, jika engkau memiliki sebuah hajat, apa yang mencegahmu untuk pergi berziarah ke makam suci Husain as, lalu kau kerjakan shalat sebanyak empat rakaat di sisi beliau dan setelah itu, kau mohon hajatmu itu? Sesungguhnya shalat wajib di sisi beliau adalah sama dengan ibadah haji dan shalat sunnah adalah sama dengan ibadah umrah.”

Ketiga belas, 
ketahuilah bahwa amalan utama di makam suci Imam Husain as adalah doa. Karena pengabulan doa di bawah kubah yang agung itu adalah salah satu anugerah yang dianugerahkan oleh Allah SWT sebagai ganti dari syahadah beliau. Seorang peziarah hendaknya menggunakan kesempatan baik ini sebaik-baiknya dan tidak bermalas-malasan dalam merendahkan diri (kepada Allah), bertaubat dan meminta hajat.

Di samping doa-doa ziarah beliau as, terdapat doa-doa yang tak terhingga dengan kandungan yang sangat tinggi. Jika saya tidak mengambil keputusan untuk menulis kitab ini secara ringkas, niscaya akan kusebutkan sebagian darinya. Dan yang terbaik adalah membaca doa-doa dari kitab ash-Shahifah as-Sajjadiyah, karena doa-doanya adalah yang terbaik. Di akhir bab ini, setelah menyebutkan doa-doa ziarah yang dapat dibaca ketika kita berziarah ke makam suci seorang imam, kami akan menyebutkan sebuah doa yang dapat dibaca di semua makam suci para imam as. Pada kesempatan ini, kami akan menyebutkan sebuah doa ringkas yang telah disebutkan bersamaan dengan sebagian doa-doa ziarah. 

Doa itu adalah sebagai berikut. Bacalah doa ini dalam makam suci itu dengan tangan diangkat ke langit,

أَللّهُمَّ قَدْ تَرَى مَكَانِي، وَتَسْمَعُ كَلاَمِي،
وَتَرَى مَقَامِي، وَتَضَرُّعِي وَمَلاَذِي، 
بِقَبْرِ حُجَّتِكَ وَابْنِ نَبِيِّكَ، 
وَقَدْ عَلِمْتَ يَاسَيِّدِي حَوَائِجِي، 
وَلاَيَخْفى عَلَيْكَ حَالِي، 
وَقَدْ تَوَجَّهْتُ إِلَيْكَ بِابْنِ رَسُولِكَ وَحُجَّتِكَ وَأَمِينِكَ، وَقَدْ أَتَيْتُكَ مُتَقَرِّباً بِهِ إِلَيْكَ، 
وَإِلى رَسُولِكَ، فَاجْعَلْنِي بِهِ عِنْدَكَ وَجِيهاً فِي الدُّنْيا وَالآخِرةِ، وَمِنَ المُقَرَّبِينَ، 
وَاعْطِنِي بِزِيَارَتِي أَمَلِي، وَهَبْ لِي مُنَايَ، 
وَتَفَضَّلْ عَلَيَّ بِشَهْوَتِي وَرَغْبَتِي،
وَاقْضِ لِي حَوَائِجِي، وَلاَتَرُدَّنِي خَائِباً،
وَلاَتَقْطَعْ رَجَائِي، وَلاَتُخَيِّبْ دُعَائِي،
وَعَرِّفْنِي الاِجَابَةَ فِي جَمِيعِ مَادَعَوْتُكَ، 
مِنْ أَمْرِ الدِّينِ وَالدُّنْيا وَالآخِرةِ، 
وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ صَرَفْتَ عَنْهُمُ البَلايا، وَالأَمْرَاضَ وَالفِتَنَ وَالاَعْرَاضَ، 
مِنَ الَّذِينَ تُحْيِيهِمْ فِي عَافِيَةٍ، 
وَتُمِيتُهُمْ فِي عَافِيَةٍ، وَتُدْخِلُهُمُ الجَنَّةَ فِي عَافِيَةٍ، وَتُجِيرُهُمْ مِنَ النَّارِ فِي عَافِيَةٍ، 
وَوَفِّقْ لِي بِمنٍّ مِنْكَ صَلاَحَ، 
مااُؤَمِّلُ فِي نَفْسِي وَأَهْلِي، 
وَوَلَدِي وَإِخْوَانِي وَمَالِي،
وَجَمِيعِ ماأَنْعَمْتَ بِهِ عَلَيَّ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Allâhumma qod taro makânî watas ma’u kalâmî, wa tarô maqômi wa tadhor-ru’î wamalâdzî bi qobri hujjatika wabni nabiyyika, waqod ‘alimta yâ sayyidî hawâijî walâ yakh-fâ ‘alayka hâlî, waqod tawaj jahtu ilayka bi-ibni rosûlika wahuj jatika, wa amînika waqod ataytuka mutaqorriban bihî ilayka wa ilâ rosûlika faj’alnî bihî ‘indaka wa jîhan fid-dunyâ wal âkhiroh wa minal muqorrobîn, wa’ thinî bizi yârotî amalî, wahab lî munâyâ watafadh-dhol ‘alayya bisyahwatî warogh-batî waq-dhi lî hawâ-ijî walâ taruddanî khô-iban walâ taq tho’ rojâ-î walâ tukhayyib du’â-î, wa ‘arrifnil ijâbata fî jamî’i mâ da’autuka min amrid-dîni wad-dunyâ wal âkhiroh. Waj’alnî min ‘ibâdikal-ladzîna shorofta ‘anhu mul balâyâ wal amrôdho, wal fitana wal-a’rôdho minal-ladzîna tuh-yîhim fî ‘âfiyatin wa tumî tuhum fî ‘âfiyatin wa tudz-khilu humul jannata fî ‘âfiyatin wa tujîruhum minan-nâri fî ‘âfiyatin, wawaf-fiqlî biman-nin minka sholâha mâ u’am-milu fî nafsî wa ahlî wa ikh-wânî wamâlî wa jamî’I mâ an’amta bihî ‘alayya yâ arhamar-rôhimîn

Ya Allah, Engkau telah melihat tempatku, mendengarkan ucapanku, melihat kedudukanku, kerendahan diriku dan kebernaunganku kepada makam suci hujjah-Mu dan putra Nabi-Mu, sedangkan Engkau telah mengetahui, wahai Tuanku seluruh hajatku dan tidak tersembunyi bagi-Mu keadaanku, aku telah menghadap kepada-Mu dengan (perantara) putra Rasul-Mu, hujah dan kepercayaan-Mu, dan datang kepada-Mu dengan mendekatkan diri melalui (perantara)nya kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Maka jadikanlah aku melalui (perantara)nya sebagai orang yang bermartabat di sisi-Mu di dunia dan di akhirat dan di antara orang-orang yang dekat (ke haribaan-Mu), berikanlah kepadaku demi ziarahku ini harapanku. 
Anugerahkanlah kepadaku cita-citaku. Kucurkanlah karunia atasku demi keinginan dan kerinduanku, wujudkanlah seluruh hajatku, janganlah Kau tolak aku sia-sia, janganlah Kau putus harapanku, janganlah Kau sia-siakan doaku. 
Tunjukkan kepadaku pengabulan seluruh apa yang aku menyeru-Mu, baik berkenaan dengan urusan agama, dunia maupun akhirat, jadikanlah aku diantara hamba-hamba-Mu yang telah Kau singkirkan dari mereka segala malapetaka, penyakit, fitnah dan musibah. 
Jadikan daku di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau menghidupkan mereka dalam kesehatan, mematikan mereka dalam kesehatan, memasukkan mereka ke dalam surga dengan penuh sehat dan melindungi mereka dari api neraka dengan penuh sehat, dan anugerahkanlah taufik kepadaku dengan karunia-Mu (untuk menggapai) kemaslahatan apa yang kuharapkan untuk diriku, kerluarga, anak-cucu, seluruh saudara, harta dan seluruh karuniaku yang telah Kau anugerahkan kepadaku, wahai Yang Lebih Pengasih dari para pengasih.

Keempat belas, 
di antara amalan-amalan (yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan) di dalam makam suci Imam Husain as adalah mengirimkan shalawat kepada beliau a.s. Dalam sebuah hadis di sebutkan bahwa ketika hendak mengirimkan shalawat kepada Rasulullah saw dan kepada beliau as, berdirilah di dekat bahunya. 

Sayid Ibnu Thawus a.s dalam kitab Misbah az-Zair setelah menyebutkan salah satu doa ziarah untuk beliau as menukil shalawat tersebut demikian,

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، 
وَصَلِّ عَلى الحُسَيْنِ المَظْلُومِ الشَّهِيدِ، 
قَتِيلِ العَبَرَاتِ وَأَسِيرِ الكُرُبَاتِ، 
صَلاَةً نَامِيَةً زَاكِيَةً مُبَارَكَةً يَصْعَدُ أَوَّلُهَا 
وَلاَيَنْفَذُ آخِرُهَا،أَفْضَلَ مَاصَلَّيْتَ عَلى أَحَدٍ مِنْ أَوْلاَدِ الأَنْبِياءِ وَالمُرْسَلِينَ يَارَبَّ العَالَمِينَ، 
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلى الإِمَامِ الشَّهِيدِ المَقْتُولِ المَظْلُومِ المَخْذُولِ،وَالسَيِّدِ القَائِدِ وَالعَابِدِ، وَالزَّاهِدِ الوَصِيِّالخَليفَةِ الإِمَامِ الصِّدِّيقِ الطُّهْرِ الطَّاهِرِ الطَّيِّبِ المُبَارَكِ، وَالرَّضِيِّ المَرْضِي وَالتَّقِيِّالهَادِي المَهْدِيِّ الزَّاهِدِ الذَّائِدِ المُجَاهِدِ العَالِمِ، إِمَامِ الهُدَى سِبْطِ الرَّسُولِ 
وَقُرَّةِ عَيْنِ البَتُولِ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، أَللّهُمَّصَلِّ عَلى سَيِّدِي وَمَوْلاَيَ كَمَا عَمِلَ بِطَاعَتِكَ وَنَهى عَنْ مَعْصِيَتِكَ، 
وَبالَغَ فِي رِضْوَانِكَ وَأَقْبَلَ عَلى إِيْمَانِكَ، 
غَيْرَ قَابِلٍ فِيكَ عُذْراً سِرًّا وَعَلاَنِيَةً، 
يَدْعُو العِبَادَ إِلَيْكَ وَيَدُلُّهُمْ عَلَيْكَ، 
وَقَامَ بَيْنَ يَدَيْكَ يَهْدِمُ الجَوْرَ بِالصَّوَابِ، 
وَيُحْيِيَ السُّنَّةَ بِالكِتَابِ، فَعَاشَ فِي رِضْوَانِكَ مَكْدُوداً وَمَضَى عَلى طَاعَتِكَ وَفِي أَوْلِيَائِكَ مَكْدُوحًا، وَقَضى إِلَيْكَ مَفْقُوداً، 
لَمْ يَعْصِكَ فِي لَيْلٍ وَلاَ نَهارٍ بَلْ جَاهَدَ فِيكَ الْمُنَافِقِينَ وَالكُفَّارَ؛ أَللّهُمَّ فَاجْزِهِ خَيْرَ جَزَاءِ الصَّادِقِينَ الأَبْرَارِ، وَضَاعِفْ عَلَيْهِمُ العَذَابَ وَلِقَاتِلِيهِ العِقَابَ، فَقَدْ قَاتَلَ كَرِيْماً، 
وَقُتِلَ مَظْلُوماً وَمَضَى مَرْحُوماً، يَقُولُ: 
أَنَا ابْنُ رَسُولِ الله مُحَمَّدٍ وَابْنُ مَنْ زَكَّىْ، 
وَعَبَدَ فَقَتَلُوهُ بِالعَمْدِ المُعْتَمَدِ، 
قَتَلُوهُ عَلى الإِيْمَانِ،وَأَطَاعُوا فِي قَتْلِهِ الشَّيْطَانَ، وَلمْ يُرَاقِبُوا فِيهِ الرَّحْمنَ، 
أَللّهُمَّ فَصَلِّ عَلى سَيِّدِي وَمَوْلاَيَ،
صَلاَةً تَرْفَعُ بِهَا ذِكْرَهُ، وَتُظْهِرُ بِهَا أَمْرَهُ وَتُعَجِّلُ بِهَا نَصْرَهُ، وَاخْصُصْهُ بِأَفْضَلِ قِسَمِ الفَضَائِلِ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَزِدْهُ شَرَفاً فِي أَعْلى عِلِّيِّينَ، 
وَبَلِّغْهُ أَعْلَى شَرَفِ المُكَرَّمِينَ، 
وَارْفَعْهُ مِنْ شَرَفِ رَحْمَتِكَ فِي شَرَفِ المُقَرَّبِينَ، فِي الرَّفِيعِ الاَعْلى وَبَلِّغْهُ الوَسِيلَةَ وَالمَنْزِلَةَ الجَلِيلَةَ، وَالفَضْلَ وَالفَضِيلَةَ،وَالكَرَامَةَ الجَزِيلَةَ، أَللّهُمَّ فَأَجْزِهِ عَنَّا أَفْضَلَ ما جَازَيْتَ إِمَامًا عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَصَلِّ عَلى سَيِّدِي وَمَوْلاَيَ، 
كُلَّمَا ذُكِرَ وَكُلَّما لَمْ يُذْكَرْ. يَاسَيِّدِي وَمَوْلاَيَ، ادْخِلْنِي فِي حِزْبِكَ وَزُمْرَتِكَ وَاسْتَوْهِبْنِي مِنْ رَبِّكَ وَرَبِّي، فَإِنَّ لَكَ عِنْدَ الله جَاهاً وَقَدْراً وَمَنْزِلَةً رَفِيعَةً، إِنْ سَأَلْتَ اُعْطِيتَ وَإِنْ شَفَعْتَ شُفِّعْتَ، أَلله أَلله فِي عَبْدِكَ وَمَوْلاَكَ، لاتُخَلِّنِي عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالأَهْوَالِ لسُوءِ عَمَلِي، 
وَقَبِيحِ فِعْلِي وَعَظِيمِ جُرْمِي ! 
فَإِنَّكَ أَمَلِي وَرَجَائِي وَثِقَتِي وَمُعْتَمَدِي وَوَسِيلَتِي إِلى الله رَبِّي وَرَبِّكَ، لَمْ يَتَوَسَّلِ المُتَوَسِّلُونَ إِلَى الله بِوَسِيلَةٍ، هِيَ أَعْظَمُ حَقًّا وَلا أَوْجَبُ حُرْمَةً، وَلاَ أَجَلُّ قَدْراً عِنْدَهُ مِنْكُمْ أَهْلَ البَيْتِ. 
لاَ خَلَّفَنِيَ اللهُ عَنْكُمْ بِذُنُوبِي وَجَمَعَنِي وَإِيَّاكُمْ، فِي جَنَّةِ عَدْنٍ الَّتِي أَعَدَّهَا لَكُمْ، 
وَلاِ وْلِيَائِكُمْ إِنَّهُ خَيْرُ الغَافِرِينَ، 
وَأَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، 
أَللّهُمَّ أَبْلِغْ سَيِّدِي وَمَوْلاَيَ تَحِيَّةً كَثِيرَةً وَسَلاَمًا، وارْدُدْ عَلَيْناَ مِنْهُ أَلسَّلاَمُ، 
إِنَّكَ جَوَادٌ كَرِيمٌ، وَصَلِّعَلَيْهِ كُلَّمَا ذُكِرَ أَلسَّلاَمُ، وَكُلَّمَا لَمْ يُذْكَرْ يَارَبَّ العَالَمِينَ.

Allâhumma sholli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammadin. Washolli ‘alal Husainil madhlûmi asy-syahidi qotîlil ‘abarôt, wa asîril kurubât, solâtan nâmiyatan zâkiyatan mubârokatan yash’adu aw waluhâ walâ yanfadzu âkhiruhâ, af-dhola mâ shollayta ‘alâ ahadin min aulâdil ambiyâ’iwalmursalîn, yârobbal ‘âlamîn, Allâhumma sholli ‘alal imâmisy-syahîdil maqtûlil madh-lûmil makh-dzûli, wa sayyidil-qôidi wal ‘âbidi waz-zâhidil washiyyil kholîfatil imâmi ash-shiddiqith-thuhriththôhiri aththoyyibil mubâroki, warrodhiyyil mardhiyyiwat-taqiyyil hâdil mahdiy, az-zâhididz-dzâ-idil mujâhidil ‘âlimi imâmil hudâ, sibthir-rosûli waqurroti ‘ainil batûli shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wasallam. Allâhumma sholli ‘alâ sayyidî wa maulâyâ kamâ ‘amila bithô’atika  wanahâ ‘an ma’shiyatika, wabâlagho fî ridh-wânika, wa aqbala ‘alâ îmânika ghoyro qôbilin fîka ‘udzron sirron wa ‘alâniyatan, yad’ul ‘ibâda ilayka wayadulluhum ‘alayka waqôma bayna yadayka yahdimul jauro bish-showâbi wa yuhyiyas-sunnata bil kitâbi, fa’ âsya fî ridh-wânika makdûdan, wa madho ‘alâ thô’atika wafî awliyâ-ika makdûhan, waqodhô ilayka maf-qûdan, lam ya’shika fî laylin walâ nahârin bal jâhada fîkal munâfiqîna wal kuffâr, Allâhumma faj-zihi khoyro jazâis-shôdiqînal abrôri, wadhô’if ‘alayhimul ‘adzâba waliqôtilîhil ‘iqôba, faqod qôtala karîman waqutila madh-lûman, wamadho marhûman, yaqûlu; anabnu rosûlillâh Muhammadin wabnu man zakkâ wa’abada faqotalûhu bil ‘amdil mu’tamadi, qotalûhu ‘alal îmâni wa athô’û fî qotlihisy-syaythôna walam yurô qibû fîhir-rohmâni, Allâhumma fasholli ‘alâ sayyidî wa mawlâya sholâtan tarfa’u bihâ dzikrohu, wa tudh-hiru bihâ amrohu, watu’ajjilu bihâ nash-rohu, wakh sush-hu bi af-dholi qisamil fadhô-ili yaumal qiyâmati wazid-hu syarofan fî a’lâ ‘illiyyîna wa balligh-hu  a’lâ  syarofil mukarromîn, war-fa’hu min syarofi rohmatika fî syarofil muqorrobîna fir-rofî’il a’lâ, wa balligh-hul wasîlata wal manzilatal jalîlata, wal fadh-la wal fadhîlata wal karômatal jazîlata, Allâhumma fa aj-zihi ‘annâ afdhola mâ jazayta imâman ‘an ro’iyyatihi, washolli ‘alâ sayyidî wa mawlâya kullamâ dzukiro wakullamâ lam yudz-kar, yâ sayyidî wa mawlâya ad-khilnî fî hizbika wazumrotika was tauhibnî min robbika warobbî fainna laka ‘indallahi jâhan, wa qodron wa manzilatan rofî’atan, in sa-alta u’tîta wa-in syafa’ta syuf-fi’at, Allâhu Allâh fî ‘abdika wa maulâka lâ tukhollinî, ‘indasy-syadâ-idi wal ahwâli lisû’i amalî waqobîhi fi’lî wa ‘azhimi jurmî, fa-innaka ‘amalî warojâ-i wa tsiqotî wamu’tamadî, wawasîlatî ilallâhi robbî wa robbika, lam yatawassalil mutawassilûna ilallâhi biwasîlatin hiya a’dhomu haqqon walâ aujabu hurmatan walâ ajallu qodron ‘indahu minkum ahlal bayti, lâ khollafaniyallâhu ‘ankum bidzunûbî wajama’anî waiyyakum fî jannati ‘adnin allatî a’addahâ lakum wali awliyâikum innahu khoyrul ghôfirîna wa arhamur-rôhimîn, Allâhummaabligh sayyidî wa mawlâya tahiyyatan katsîrotan wasalâman, wardud ‘alayna minhus-salâmu innaka jawâdun karîm, washolli ‘alayhi kullamâ dzukiros-salâmu wakullamâ lam yudz-kar yâ robbal ‘âlamîn.

Ya Allah, curahkanlah shawalat atas Muhammad dan keluarga Muhammad dan curahkanlah shawalat atas Husain yang telah didzalimi dan syahid, yang terbunuh oleh air mata (yang menetes) dan terpenjara oleh malapetaka dan duka, shalawat yang terus tumbuh, suci, penuh berkah yang awalnya naik (ke langit) dan akhirnya tak pernah sirna, shalawat paling utama yang pernah Kau curahkan atas salah seorang dari putra-putra nabi dan rasul, wahai Tuhan semesta alam. 
Ya Allah, curahkanlah shalawat atas Imam yang syahid, terbunuhm terdzalimi, tercampakkan (tanpa penolong), seorang pemimpin yang agung, seorang hamba yang zahid, seorang washi, seorang khalifah, seorang pemimpi yang benar, suci, baik dan penuh berkah, seorang yang telah mendapatkan keridhaan Ilahi, seorang yang bertakwa, yang selalu memberikan petunjuk dan mendapat petunjuk, seorang zahid pembela (kebenaran), seorang mujahid yang alim, Imam petunjuk, cucu Rasul dan mata hati al-Batul-shalawat Allah atasnya dan atas keluarganya. 
Ya Allah, curahkanlah shalawat atas tuan dan maulaku sebagaimana dia telah melakukan ketaatan kepada-Mu, melarang maksiat kepada-Mu, berusaha keras dalam menggapai keridaan-Mu, menyongsong keimanan kepada-Mu dengan tidak menerima alasan apa pun, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dia telah mengajak hamba kepada-Mu dan menuntun mereka menuju-Mu, serta dia berdiri di hadapan-Mu dengan meluluh lantakkan kedzaliman dengan kebenaran dan menghidupkan sunnah dengan kitab-Mu. 
Lalu, dia hidup dalam keridaan-Mu dengan penuh susah payah, pergi (dari dunia ini) atas dasar ketaatan kepada-Mu dan masuk dalam golongan para kekasih-Mu dengan jerih payah dan menuju keharibaan-Mu siang dan malam, bahkan dia memerangi di jalan-Mu kaum munafik dan kafir. 
Ya Allah, balaslah dia dengan sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang benar dan baik serta lipat gandakan adzab bagi mereka (para musuhnya) dan bagi para pembunuhnya siksa. Dia telah berperang dengan penuh kemuliaan dan terbunuh dalam keadaan terdzalimi, serta pergi (menuju keharibaan-Mu) dalam keadaan dirahmati. 
Dia berkata, “Akulah putra Rasulullah dan putra orang yang telah memberikan zakat (kepada para fakir-miskin) dan menyembah (Allah).” Lalu, mereka membunuhnya dengan sengaja, mereka membunuhnya karena keimanannya, dalam membunuhnya itu mereka telah menaati setan dan tidak takut kepada Zat Yang Maha Penyayang. 
Ya Allah, curahkanlah shalawat atas tuan dan maulaku, shalawat yang dengannya Kau angkat sebutannya, Kau tampakkan urusannya dan Kau cepatkan pertolonganya, khususkanlah dia dengan bagian keutamaan yang paling utama pada hari Kiamat, tambahkan baginya kemuliaan di surga ‘Illiyyin yang tertinggi, sampaikanlah dia ke puncak tertinggi kemuliaan orang-orang yang telah memiliki kedudukan dekat (dengan-Mu) di surga yang tertinggi, sampaikanlah dia kepada kedudukan menjadi perantara, kedudukan yang agung, keutamaan dan kemuliaan yang agung. 
Ya Allah, balaslah dia dari kami sebaik-baik balasan yang telah Kau balaskan kepada seorang pemimpin dari rakyatnya dan curahkanlah shalawat atas junjungan dan maulaku setiap dia diingat dan setiap dia tidak diingat. Wahai tuan dan maulaku, masukkanlah aku ke dalam partai dan golonganmu dan mohonkanlah anugerah untukku dari Tuhanmu dan Tuhanku. Sesungguhnya engkau di sisi Allah memiliki kedudukan, nilai dan kedudukan yang tinggi. Jika engkau memohon, pasti engkau akan di beri, dan jika engkau memberikan syafaat, pasti syafaatmu akan terkabulkan. Ingatlah Allah berkenaan dengan budak dan sahayamu ini. 
Janganlah engkau biarkan aku sendirian dalam kesusahan dan keguncangan karena jeleknya perilakuku, buruknya amalanku dan besarnya kejahatanku. Karena engkaulah harapan, kepercayan dan perantaraku menuju Allah dengan menggunakan perantara yang lebih agung haknya, lebih wajib menghormatinya dan yang lebih agung nilainya di sisi-Nya dari kalian, Ahlulbait, semoga Allah tidak menjauhkan diriku dari kalian karena dosa-dosaku dan mengumpulkanku bersama kalian di dalam surga Adn yang telah Dia persiapkan untuk kalian dan para kekasih kalian. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pengampun dan Lebih Pengasuh dari para pengasih. 
Ya Allah, sampaikanlah kepada tuan dan maulaku penghormatan yang tak terhingga dan salam dan kembalikanlah kepada kami salam darinya, sesungguhnya Engkau Maha Dermawan dan Pemurah, serta curahkanlah shalawat atasnya setiap kali dikumandangkan salam dan tidak dikumandangkan, wahai Tuhan semesta alam.
Penulis berkata: Kami telah menukil doa ziarah di atas di bab amalan-amalan siang hari Asyura. Kami akan menyebutkan juga beberapa doa shalawat untuk para hujah suci a.s. yang di situ juga akan disebutkan doa shalawat ringkas untuk Imam Husain a.s. Diharapkan jangan sampai Anda tidak membacanya.

Kelima belas, 
di antara amalan-amalan yang layak dibaca di makam suci yang mulia itu adalah doa seorang yang terdzalimi atas orang dzalim. Yaitu, jika seseorang sudah tidak mampu lagi menahan kedzaliman seseorang yang selalu mendzaliminya, hendaknya dia membaca doa tersebut di makam suci ini. 

Syekh Thusi ra dalam kitab Mishbah al-Mutahajjid dalam bab Amalan hari Jumat berkata, “Disunnahkan untuk membaca doa orang yang terdzalimi di sisi makam suci Abu Abdillah (Imam Husain) as. Doa itu adalah sebagai berikut,

أَللّهُمَّ إِنِّي أَعْتَزُّ بِدِينِكَ، وَأَكْرُمُ بِهِدَايَتِكَ،
وَفُلاَنٌ يُذِلُّنِي بِشَرِّهِ، وَيُهِينُنِي بِأَذِيَّتِهِ،
وَيُعِيبُني بِوِلاَءِ أَوْلِياَئِكَ، وَيَبْهَتُنِي بِدَعْوَاهُ،
وَقَدْ جِئْتُ إِلَى مَوْضِعِ الدُّعَاءِ، 
وَضَمَانِكَ الإِجَابَةَ، 
أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ 
وَأَعِدْنِي عَلَيْهِ السَّاعَةَ السَّاعَةَ.

Allâhumma innî a’tazzu bidînika, wa akrumu bihidâyatika, wa fulâ nun yudzillunî bisyar-rihi, wayuhî nunî bi-adziyyatihî, wayu’î-bunî biwilâ-i auliyâ-ika, wayabhatunî bida’wâhu, waqod ji’tu ilâ maudhi-id-du-âi wa dhomânikal ijâbata, Allâhum ma sholli ‘alâ Muhammadin wa ‘âli Muhammadin wa a-‘idzni ‘alayhi as-sâ’ata as-sâ’ata.

Ya Allah, aku menjadi mulia dengan (perantara) agama dan petunjuk-Mu dan si Fulan menghibaku dengan keburukannya, meremehkanku dengan gangguannya, mencelaku karena aku berwilayah kepada para kekasih-Mu dan membuatku tercengang dengan pengakuannya, sedangkan aku telah mendatangi tempat doa dan jaminan-Mu untuk mengabulkan nya. Ya Allah, curahkan lah shalawat atas Muhammad dan kembalikanlah (shalawat) kepadanya pada saat ini juga, pada saat ini juga.
Kemudian, rebahkanlah diri Anda ke atas makam suci dan ucapkanlah,
Wahai maulaku, wahai imamku, seorang yang terdzalimi datang mengadukan orang yang mendzaliminya. Bantulah dia, bantulah dia.

Bacalah kalimat an-Nashr tersebut hingga nafas Anda terputus.

Keenam belas, 
di antara malam-malam di makam suci itu ada sebuah doa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Fahd dalam kitab ‘Uddah ad-Dai dari Imam Shadiq as. Beliau berkata, “Jika seseorang memiliki sebuah hajat kepada Allah, maka berdirilah di dekat kepala Imam Husain as dan ucapkanlah,

يَاأَبَا عَبْدِ الله، 
أَشْهَدُ أَنَّكَ تَشْهَدُ مَقَامِي،
وَتَسْمَعُ كَلاَمِي، 
وَأَنَّكَ حَيٌّ عِنْدَ رَبِّكَ تُرْزَقُ،
فَأَسْأَلْ رَبَّكَ وَرَبِّي، فِي قَضَاءِ حَوَائِجِي.

Yâ abâ ‘abdillâh asy-hadu annaka tasy-hadu maqômî watasma-‘u kalâmî wa annaka hayyun ‘inda robbika turzaqu fas-al robbaka warobbî fî qodhô-i hawâijî

Wahai Abu Abdillah, aku bersaksi bahwa engkai melihat tempatku dan mendengar ucapanku, serta bahwa engkau hidup di sisi Tuhanmu dengan mendapatkan kucuran rezeki. Maka, mohonlah kepada Tuhanmu dan Tuhanku untuk mewujudkan seluruh hajatku.Sesungguhnya hajat pasti akan terwujudkan, insya Allah.”

Ketujuh belas, 
di dalam makam suci sholat dua rakaat membaca surat arrahman dan almulk. Yang mengamalkan ini Allah akan menulis pahala 25 kali haji yang mabrur.

Kedelapan  Belas, 
di antara amalan-amalan di dalam makam suci itu melakukan istikharah. Dengan membaca sebanyak seratus kali dengan berdiri di dekat kepala Imam Husain as 

الحَمْدُ للهِ وَلا إِلهَ إِلاّ الله وَسُبْحانَ اللهِ

Alhamdulillah wa la ilaha illa Allah 
wa subhanallah, 

Mengingat Allah dengan keagungan, memuji-Nya, sesuai dengan diri-Nya dan beristikharah kepada-Nya sebanyak seratus kali, niscaya Dia akan mewujudkan urusan itu sesuai dengan kebaikan dirinya.”

Sesuai dengan hadis lain, beristikharah dengan membaca bacaan berikut ini sebanyak seratus kali, 

أَسْتَخِيرُ الله بِرَحْمَتِهِ خِيَرَةً فِي عَافِيَةٍ

Astakhîrul-lâha birohmatihi khiyarotan fî ‘âfiyatin 

Aku memohon kebaikan kepada Allah dengan rahmat-Nya, kebaikan dalam keselamatan.

Kesembilan belas, 
Syekh Abu Qasim Ja’far bin Qaulawaeh Qummi meriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa beliau berkata, “Ketika kalian berziarah ke makam suci Abu Abdillah as, hentikanlah pembicaraan kecuali dalam kebaikan. Sesungguhnya siang dan malam para malaikat penjaga mendatangi para malaikat yang berada di makam suci beliau as dengan tujuan untuk berjabatan tangan. 

Para malaikat yang berada di makam suci itu tidak menghiraukan mereka, karena mereka selalu sibuk menangis kecuali pada waktu tergelincir matahari (zawal) dan fajar (di pagi hari). Pada kedua waktu itu, mereka baru berbicara dengan para malaikat penjaga itu dan para malaikat penjaga itu menanyakan kepada mereka tentang urusan langit. Adapun di antara kedua waktu tersebut, para malaikat yang berada di makam suci itu enggan untuk berbicara dan selalu menangis dan berdoa.”

Dia juga meriwayatkan dari beliau bahwa Allah SWT mengirim empat ribu malaikat ke makam suci Imam Husain as dalam kondisi rambut awut-awutan dan berlumuran tanah. Mereka menangisi beliau as bak orang-orang yang tertimpa musibah di saat fajar menyingsing hingga waktu dhuhur tiba. Ketika waktu dhuhur tiba, empat ribu malaikat lagi turun ke bawah dan mereka naik ke atas. Mereka senantiasa menangis hingga fajar pagi hari tiba.

Sangat banyak hadis yang searti dengan kedua hadis tersebut. Dari hadis-hadis itu dapat dipahami bahwa menangis untuk beliau di makam suci itu sangat dianjurkan. Bahkan, sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu amalan di makam suci yang penuh berkah itu sebagai tempat duka cita para pengikut Ahlulbait as. 

Dari hadis Shafwan yang diriwayatkan dari Imam Shadiq as dapat dipahami bahwa para malaikat selalu khusyuk di sisi Allah dalam melaknat para pembunuh Amirul Mukminin as dan Imam Husain as, para jin merintih terhadap beliau dan para malaikat yang berada di sekitar makam suci Imam Husain as selalu menangis. 

Kesedihan mereka begitu menyayat hati sehingga jika seseorang mendengarnya, niscaya makan, minum dan tidur tidak akan terasa enak baginya.

Dalam hadis Abdullah bin Hammad Bashri, Imam Shadiq a.s. pernah berkata kepadanya, “Aku mendapat berita bahwa sekelompok orang datang ke kuburan Husain as dari pinggiran kota Kufah. Sebagian lagi bukan dari pengikut dan para wanita yang menangis terhadap beliau. Hal itu terjadi pada pertengahan Sya’ban. Sebagian dari mereka ada yang membaca (doa ziarah) dan sebagian lagi membacakan kisah syahadah dan seluruh musibah (yang telah menimpa beliau), serta kelompok ketiga menangis sambil membaca belasungkawa ‘aza’. 

‘Ya, semoga aku menjadi tebusan Anda. Aku telah melihat sendiri sebagian yang telah Anda tuturkan itu,’ jawabku. Beliau berkata lagi, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memilih di antara umat ini orang-orang yang mau datang kepada kami untuk memuji kami dan membaca ‘aza untuk kami dan menjadikan para musuh kami orang-orang yang mencerca mereka, baik mereka berasal dari keluarga kami atau selain mereka, mengancam mereka dan menganggap jelek perbuatan mereka ini.’

Pada permulaan hadis ini disebutkan bahwa sesiapa pergi berziarah kepadanya, dia akan menangis. Sesiapa yang tidak (sempat) pergi berziarah kepadanya, dia akan sedih terhadap musibahnya dan hatinya seakan-akan terbakar. Sesiapa mengingatnya, dia akan merasa belas kasihan. Sesiapa melihat kuburan putranya di bawah kakinya, (dia akan melihat) bahwa kuburannya tergeletak sendirian tiada keluarga dan sahabat di sisinya. 

Mereka telah merampas haknya dan sekelompok orang kafir dan murtad telah berkumpul dan bersekongkol untuk membunuhnya. Mereka membiarkannya tergeletak di padang pasir dan tidak menguburkannya, serta mencegahnya untuk meminum air sungai Efrat, padahal anjing-anjing dapat meminumnya. Mereka telah memusnahkan hak Rasulullah saw dan wasiat yang telah beliau tekankan berkenaan dengannya dan keluarganya.

Ibnu Qaulawaeh meriwayatkan dari Harits A’war bahwa Amirul Mukminin a.s. berkata, “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan Husain yang syahid di belakang Kufah. Demi Allah, aku melihat binatang-binatang padang sahara dari segala jenisnya menjulurkan lehernya di atas makamnya dan mereka menangis dari malam hingga pagi hari. Jika demikian halnya, maka hindarilah berbuat dzalim (dengan tidak menziarahinya).” 

Kedua puluh, 
Sayid Ibnu Thawus ra berkata, “Disunnahkan bagi seseorang yang telah selesai berziarah kepada beliau dan dia ingin keluar dari makam suci itu untuk menempelkan badannya ke makam suci itu dan menciumnya seraya berkata,

أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَامَوْلايَ، 
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاحُجَّةَ الله، 
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاصَفْوَةَ الله،
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياخالِصَةَ الله، 
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياقَتِيلَ الظَّمَاءِ، 
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاغَرِيبَ الغُرَبَاءِ، 
أَلسَّلاَمُ عَليْكَ، سَلاَمَ مُوَدِّعٍ، 
لاَسَئِمٍ وَلا قالٍ، فَإِنْ أَمْضِ فَلا عَنْ مَلالَةٍ، 
وَإِنْ أُقِمْ فَلاَ عَنْ سُوءِ ظَنٍّ  
بِمَا وَعَدَ اللهُ الصَّابِرِينَ، 
لاجَعَلَهُ الله آخِرَ العَهْدِ مِنِّي لِزِيَارَتِكَ، 
وَرَزَقَنِي الله العَوْدَ إِلى مَشْهَدِكَ،
وَالمَقَامَ بِفِنَائِكَ، وَالقِيَامَ فِي حَرَمِكَ،
وَإِيَّاه، أَسْأَلُ أَنْ يُسْعِدَنِي بِكُمْ، 
وَيَجْعَلَنِي مَعَكُمْ فِي الدُّنْيا وَالآخِرةِ.

As-salâmu ‘alayka yâ mawlâya, As-salâmu ‘alayka yâ hujjatallâh, As-salâmu ‘alayka yâ shofwatallâh, As-salâmu ‘alayka yâ khôlishotallâh, As-salâmu ‘alayka yâ qotîladh-dhomâ-i, As-salâmu ‘alayka yâ ghorîbal ghurobâ-i, As-salâmu ‘alayka salâma muwad-di’in lâ sa-imin walâ qôlin, fa-in amdhi falâ ‘an malâlatin, wa-in uqim falâ ‘an sû-i dhonni bimâ wa’adallâhush-shôbirîn, lâ ja’alahullâha âkhirol ‘ahdi minnî liziyârotika, warozaqoni yallâhul ‘auda ilâ masy-hadika wal maqôma bifinâ-ika, wal qiyâma fî haromika, wa-iyyahu  as-alu an-yus’idanî bikum, wayaj’alanî ma’akum fid-dunyâ wal âkhiroti.

Salam sejahtera atasmu, wahai maulaku. Salam sejahtera atasmu, wahai hujjah Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai pilihan murni Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai yang terbunuh dalam kehausan. Salam sejahtera atasmu, wahai yang terasing dari orang-orang yang terasing. Salam sejahtera atasmu, salam orang yang ingin berpisah, tidak jemu dan tidak memusuhi. Jika aku pergi, hal itu bukan disebabkan oleh kepenatan(ku) dan jika aku bertahan (disini), hal itu bukan dikarenakan oleh buruk sangka terhadap janji Allah kepada orang-orang yang sabar. Semoga Allah tidak menjadikan nya sebagai akhir perjanjianku untuk menziarahimu dan menganugerahkan kepadaku untuk kembali kepada makammu, bersemayam di haribaanmu dan beribadah di istanamu. Hanya kepada-Nya aku memohon agar membahagiakanku dengan (perantara) kalian dan menjadikanku bersama kalian di dunia dan akhirat.


Mohon Doa!!
Semoga ke 20 adab Ziarah tsb bisa diamalkan saat kita berziarah!!












Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit