Doa Imam Sajjad ketika menghadapi kesulitan, kesempitan, dan urusan-urusan yang sukar: عِنْدَ الشِّدَّةِ وَالْجَهْدِ وَتَعَسُّرِ الْأُمُورِ
Doa ke-22 dalam Al-Sahifah al-Sajjadiyyah
Doa beliau ketika menghadapi kesulitan, kesempitan, dan urusan-urusan yang sukar
Menurut kandungan doa dan penjelasan para ulama terhadap Al-Sahifah al-Sajjadiyyah, doa ini memiliki banyak manfaat ruhani. Manfaat tersebut dipahami sebagai buah dari penghayatan dan pengamalan doa, bukan sebagai jaminan hasil tertentu.
Berikut beberapa manfaatnya:
1, Menguatkan tawakal kepada Allah.
Doa ini mendidik hati agar hanya bersandar kepada Allah, bukan kepada kekuatan diri ataupun makhluk.
2, Memohon kemudahan ketika menghadapi kesulitan.
Tema utama doa ini adalah memohon pertolongan Allah saat menghadapi kesempitan hidup, beban yang berat, dan urusan yang terasa sulit.
3, Memohon keluasan rezeki yang halal dan penuh berkah. Melalui doa:
فَلَا تَحْظُرْ عَلَيَّ رِزْقِي
seorang hamba memohon agar Allah tidak menahan rezekinya dan mencukupinya dengan karunia-Nya.
4, Membebaskan hati dari ketergantungan kepada manusia.
Doa ini mengajarkan kemuliaan seorang mukmin yang berusaha tanpa menjadikan manusia sebagai sandaran utama.
5, Membersihkan hati dari penyakit batin.
Di dalamnya terdapat permohonan agar dijauhkan dari hasad, dosa, dan keberanian melakukan maksiat.
6, Menumbuhkan sifat ridha terhadap ketentuan Allah.
Hati dilatih menerima nikmat maupun ujian sebagai bagian dari hikmah Allah.
7, Memohon cahaya petunjuk (nūr).
Doa ini memohon agar Allah menganugerahkan cahaya yang membimbing dalam kehidupan, menjauhkan dari keraguan dan syubhat.
8, Menumbuhkan semangat beramal untuk akhirat.
Doa ini memohon agar kecintaan kepada amal saleh dan sikap zuhud terhadap dunia semakin kuat.
9, Membantu menunaikan hak-hak Allah dan hak sesama.
Terdapat permohonan agar Allah membantu menunaikan kewajiban yang mungkin tidak sanggup dipenuhi karena kelemahan diri.
10, Menumbuhkan akhlak mulia.
Doa ini memohon keselamatan hati, keikhlasan, keadilan terhadap kawan maupun lawan, serta istiqamah dalam segala keadaan.
Keutamaan menurut kandungannya
Doa ini sangat dianjurkan dibaca ketika seseorang:
* menghadapi kesulitan hidup,
* mengalami kesempitan rezeki,
* memiliki banyak tanggungan atau utang,
* merasa lemah menghadapi ujian,
* menginginkan ketenangan hati,
* memohon pertolongan Allah dalam urusan dunia dan akhirat.
Karena doa ini berasal dari Imam Ali Zainal Abidin dalam Al-Sahifah al-Sajjadiyyah, banyak ulama menyebutnya sebagai salah satu doa yang paling mendalam dalam mengajarkan tawakal, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), ridha kepada qadha Allah, dan penghambaan yang murni kepada-Nya.
Kalimat pembukanya berbunyi:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa ālih.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ كَلَّفْتَنِي مِنْ نَفْسِي مَا أَنْتَ أَمْلَكُ بِهِ مِنِّي، وَقُدْرَتُكَ عَلَيْهِ وَعَلَيَّ أَغْلَبُ مِنْ قُدْرَتِي.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah membebankan kepadaku tanggung jawab atas diriku, padahal Engkau lebih memiliki diriku daripada aku sendiri. Kekuasaan-Mu atas diriku dan atas segala urusannya lebih besar daripada kemampuanku.
Allāhumma innaka kallaftanī min nafsī mā anta amlak(u) bihi minnī, wa qudratuka ʿalaihi wa ʿalayya aghlabu min qudratī.
فَأَعْطِنِي مِنْ نَفْسِي مَا يُرْضِيكَ عَنِّي، وَخُذْ لِنَفْسِكَ رِضَاهَا مِنْ نَفْسِي فِي عَافِيَةٍ.
Maka anugerahkanlah kepadaku kemampuan mengendalikan diriku sehingga Engkau ridha kepadaku, dan ambillah dari diriku segala yang menjadikan-Mu ridha, dalam keadaan penuh keselamatan dan kesejahteraan.
Fa aʿṭinī min nafsī mā yurḍīka ʿannī, wa khudh linafsika riḍāhā min nafsī fī ʿāfiyah.
اللَّهُمَّ لَا طَاقَةَ لِي بِالْجَهْدِ، وَلَا صَبْرَ لِي عَلَى الْبَلَاءِ، وَلَا قُوَّةَ لِي عَلَى الْفَقْرِ.
Ya Allah, aku tidak memiliki kekuatan untuk menanggung kesulitan, tidak memiliki kesabaran menghadapi cobaan, dan tidak memiliki daya untuk menghadapi kefakiran.
Allāhumma lā ṭāqata lī bil-jahdi, wa lā ṣabra lī ʿalal-balā’, wa lā quwwata lī ʿalal-faqr.
فَلَا تَحْظُرْ عَلَيَّ رِزْقِي، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى خَلْقِكَ.
Maka janganlah Engkau menahan rezekiku, dan janganlah Engkau menyerahkan urusanku kepada makhluk-Mu.
Fa lā taḥẓur ʿalayya rizqī, wa lā takilnī ilā khalqik.
بَلْ تَفَرَّدْ بِحَاجَتِي، وَتَوَلَّ كِفَايَتِي.
Sebaliknya, penuhilah sendiri seluruh kebutuhanku dan cukuplah Engkau menjadi Penanggung segala keperluanku.
Bal tafarrad biḥājatī, wa tawallā kifāyatī.
وَانْظُرْ إِلَيَّ وَانْظُرْ لِي فِي جَمِيعِ أُمُورِي.
Pandanglah aku dengan rahmat-Mu dan uruslah seluruh urusanku.
Wanẓur ilayya wanẓur lī fī jamīʿi umūrī.
فَإِنَّكَ إِنْ وَكَلْتَنِي إِلَى نَفْسِي عَجَزْتُ عَنْهَا، وَلَمْ أُقِمْ مَا فِيهِ مَصْلَحَتُهَا.
Sebab jika Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri, niscaya aku akan lemah menghadapinya dan tidak mampu menegakkan apa yang menjadi kebaikan bagi diriku.
Fa innaka in wakaltanī ilā nafsī ʿajaztu ʿanhā, wa lam uqim mā fīhi maṣlaḥatuhā.
وَإِنْ وَكَلْتَنِي إِلَى خَلْقِكَ تَجَهَّمُونِي.
Dan jika Engkau menyerahkan urusanku kepada makhluk-Mu, mereka akan menyambutku dengan wajah yang masam dan perlakuan yang kasar.
Wa in wakaltanī ilā khalqika tajahhamūnī.
وَإِنْ أَلْجَأْتَنِي إِلَى قَرَابَتِي حَرَمُونِي.
Dan jika Engkau menjadikanku bergantung kepada kerabatku, mereka akan menahanku dan tidak memberiku apa yang kubutuhkan.
Wa in alja’tanī ilā qarābatī ḥaramūnī.
وَإِنْ أَعْطَوْا أَعْطَوْا قَلِيلًا نَكِدًا.
Dan jika mereka memberi, mereka hanya memberi sedikit, dengan pemberian yang berat hati dan tidak menyenangkan.
Wa in aʿṭaw aʿṭaw qalīlan nakidā.
وَمَنُّوا عَلَيَّ طَوِيلًا وَذَمُّوا كَثِيرًا.
Mereka akan lama mengungkit-ungkit pemberiannya kepadaku dan banyak mencela serta merendahkanku.
Wa mannū ʿalayya ṭawīlan wa dhammū kathīrā.
فَبِفَضْلِكَ اللَّهُمَّ فَأَغْنِنِي.
Maka, dengan karunia-Mu, wahai Allah, cukupkanlah aku sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.
Fa bifaḍlika Allāhumma fa-aghninī.
وَبِعَظَمَتِكَ فَأَنْعِشْنِي.
Dan dengan keagungan-Mu, kuatkanlah, bangkitkanlah, dan hidupkanlah kembali semangatku.
Wa biʿaẓamatika fa-anʿishnī.
وَبِسَعَتِكَ فَابْسُطْ يَدِي.
Dan dengan keluasan rahmat-Mu, lapangkanlah tanganku (limpahkanlah rezeki dan kecukupan kepadaku).
Wa bisiʿatika fabsuṭ yadī.
وَبِمَا عِنْدَكَ فَاكْفِنِي.
Dan dengan segala karunia yang ada di sisi-Mu, cukupkanlah seluruh kebutuhanku.
Wa bimā ʿindaka fakfinī.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa ālih.
وَخَلِّصْنِي مِنَ الْحَسَدِ.
Dan selamatkanlah aku dari sifat dengki.
Wa khalliṣnī minal-ḥasad.
وَاحْصُرْنِي عَنِ الذُّنُوبِ.
Dan bentengilah aku agar terjaga dari dosa-dosa.
Waḥṣurnī ʿanidh-dhunūb.
وَوَرِّعْنِي عَنِ الْمَحَارِمِ.
Dan karuniakanlah kepadaku sifat wara’, sehingga aku menjauhi segala yang Engkau haramkan.
Wa warriʿnī ʿanil-maḥārim.
وَلَا تُجَرِّئْنِي عَلَى الْمَعَاصِي.
Dan janganlah Engkau jadikan aku berani melakukan kemaksiatan.
Wa lā tujarri’nī ʿalal-maʿāṣī.
وَاجْعَلْ هَوَايَ عِنْدَكَ.
Dan jadikanlah kecenderungan serta keinginanku hanya tertuju kepada-Mu.
Wajʿal hawāya ʿindaka.
وَرِضَايَ فِيمَا يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكَ.
Dan jadikanlah aku ridha terhadap segala sesuatu yang datang kepadaku dari-Mu.
Wa riḍāya fīmā yaridu ʿalayya minka.
وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي، وَفِيمَا خَوَّلْتَنِي، وَفِيمَا أَنْعَمْتَ بِهِ عَلَيَّ.
Dan berkahilah bagiku apa yang telah Engkau rezekikan kepadaku, apa yang telah Engkau percayakan kepadaku, dan segala nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku.
Wa bārik lī fīmā razaqtanī, wa fīmā khawwaltanī, wa fīmā anʿamta bihi ʿalayya.
وَاجْعَلْنِي فِي كُلِّ حَالَاتِي مَحْفُوظًا مَكْلُوءًا مَسْتُورًا مَمْنُوعًا مُعَاذًا مُجَارًا.
Dan jadikanlah aku dalam setiap keadaanku sebagai orang yang senantiasa terpelihara, dijaga, ditutupi aibnya, dilindungi, diberi perlindungan, dan berada dalam naungan penjagaan-Mu.
Wajʿalnī fī kulli ḥālātī maḥfūẓan maklū’an mastūran mamnūʿan muʿādhan mujārā.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa ālih.
وَاقْضِ عَنِّي كُلَّ مَا أَلْزَمْتَنِيهِ وَفَرَضْتَهُ عَلَيَّ لَكَ فِي وَجْهٍ مِنْ وُجُوهِ طَاعَتِكَ، أَوْ لِخَلْقٍ مِنْ خَلْقِكَ.
Dan tunaikanlah atas namaku setiap kewajiban yang telah Engkau bebankan dan Engkau wajibkan kepadaku, baik berupa hak-Mu dalam berbagai bentuk ketaatan kepada-Mu maupun hak salah seorang dari makhluk-Mu.
Waqḍi ʿannī kulla mā alzamtanīhi wa faraḍtahu ʿalayya laka fī wajhin min wujūhi ṭāʿatika, aw likhalqin min khalqik.
وَإِنْ ضَعُفَ عَنْ ذَلِكَ بَدَنِي، وَوَهَنَتْ عَنْهُ قُوَّتِي، وَلَمْ تَنَلْهُ مَقْدِرَتِي، وَلَمْ يَسَعْهُ مَالِي وَلَا ذَاتُ يَدِي.
Sekalipun tubuhku lemah untuk melaksanakannya, kekuatanku tidak sanggup memikulnya, kemampuanku tidak dapat mencapainya, dan harta maupun kemampuanku tidak mencukupinya.
Wa in ḍaʿufa ʿan dhālika badanī, wa wahanat ʿanhu quwwatī, wa lam tanalhu maqdiratī, wa lam yasaʿhu mālī wa lā dhātu yadī.
ذَكَرْتُهُ أَوْ نَسِيتُهُ، هُوَ يَا رَبِّ مِمَّا قَدْ أَحْصَيْتَهُ عَلَيَّ وَأَغْفَلْتُهُ أَنَا مِنْ نَفْسِي.
Baik aku mengingatnya ataupun melupakannya, wahai Tuhanku, semuanya termasuk perkara yang telah Engkau catat atas diriku, sementara aku sendiri telah lalai terhadapnya.
Dhakartuhu aw nasītuhu, huwa yā Rabbi mimmā qad aḥṣaytahu ʿalayya wa aghfaltuhu anā min nafsī.
فَأَدِّهِ عَنِّي مِنْ جَزِيلِ عَطِيَّتِكَ وَكَثِيرِ مَا عِنْدَكَ.
Maka tunaikanlah semuanya untukku dari karunia-Mu yang melimpah dan dari kekayaan yang banyak di sisi-Mu.
Fa addihi ʿannī min jazīli ʿaṭiyyatika wa kathīri mā ʿindak.
فَإِنَّكَ وَاسِعٌ كَرِيمٌ.
Sesungguhnya Engkau Mahaluas karunia-Mu lagi Mahamulia.
Fa innaka wāsiʿun karīm.
حَتَّى لَا يَبْقَى عَلَيَّ شَيْءٌ مِنْهُ تُرِيدُ أَنْ تُقَاصَّنِي بِهِ مِنْ حَسَنَاتِي، أَوْ تُضَاعِفَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِي يَوْمَ أَلْقَاكَ يَا رَبِّ.
Sehingga tidak tersisa sedikit pun darinya yang akan Engkau tuntut dariku dengan mengurangi pahala kebaikanku atau menambah keburukanku pada hari ketika aku berjumpa dengan-Mu, wahai Tuhanku.
Ḥattā lā yabqā ʿalayya shay’un minhu turīdu an tuqāṣṣanī bihi min ḥasanātī, aw tuḍāʿifa bihi min sayyi’ātī yawma alqāka yā Rabb.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَارْزُقْنِي الرَّغْبَةَ فِي الْعَمَلِ لَكَ لِآخِرَتِي.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, serta anugerahkanlah kepadaku kecintaan untuk beramal demi-Mu sebagai bekal bagi akhiratku.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa ālih warzuqnī ar-raghbata fil-ʿamali laka li-ākhiratī.
حَتَّى أَعْرِفَ صِدْقَ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِي.
Hingga aku mengetahui dengan pasti dari lubuk hatiku bahwa keinginan itu benar dan tulus.
Ḥattā aʿrifa ṣidqa dhālika min qalbī.
وَحَتَّى يَكُونَ الْغَالِبُ عَلَيَّ الزُّهْدُ فِي دُنْيَايَ.
Dan hingga sikap zuhud terhadap dunia menjadi sifat yang paling dominan dalam diriku.
Wa ḥattā yakūnal-ghālibu ʿalayya az-zuhdu fī dunyāya.
وَحَتَّى أَعْمَلَ الْحَسَنَاتِ شَوْقًا.
Dan hingga aku mengerjakan amal-amal kebajikan karena kerinduan kepada-Mu.
Wa ḥattā aʿmala al-ḥasanāti shawqā.
وَآمَنَ مِنَ السَّيِّئَاتِ فَرَقًا وَخَوْفًا.
Dan hingga aku menjauhi keburukan karena rasa takut dan khawatir kepada-Mu.
Wa āmana minas-sayyi’āti faraqan wa khawfā.
وَهَبْ لِي نُورًا أَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ.
Dan anugerahkanlah kepadaku cahaya yang dengannya aku berjalan di tengah manusia.
Wa hab lī nūran amshī bihī fin-nās.
وَأَهْتَدِي بِهِ فِي الظُّلُمَاتِ.
Dan dengan cahaya itu aku memperoleh petunjuk di tengah berbagai kegelapan.
Wa ahtadī bihī fiẓ-ẓulumāt.
وَأَسْتَضِيءُ بِهِ مِنَ الشَّكِّ وَالشُّبُهَاتِ.
Dan dengannya aku memperoleh penerangan sehingga terbebas dari keraguan dan segala syubhat.
Wa astaḍī’u bihī minasy-syakki wasy-syubhāt.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَارْزُقْنِي خَوْفَ غَمِّ الْوَعِيدِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, serta anugerahkanlah kepadaku rasa takut terhadap kesedihan akibat ancaman siksa-Mu.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa ālih warzuqnī khawfa ghammil-waʿīd.
وَشَوْقَ ثَوَابِ الْمَوْعُودِ.
Dan karuniakanlah kepadaku kerinduan akan pahala yang telah Engkau janjikan.
Wa shawqa thawābil-mawʿūd.
حَتَّى أَجِدَ لَذَّةَ مَا أَدْعُوكَ لَهُ.
Sehingga aku dapat merasakan kenikmatan dalam setiap doa yang kupanjatkan kepada-Mu.
Ḥattā ajida ladhdhata mā adʿūka lah.
وَكَأْبَةَ مَا أَسْتَجِيرُ بِكَ مِنْهُ.
Dan aku benar-benar merasakan beratnya segala sesuatu yang aku memohon perlindungan kepada-Mu darinya.
Wa ka’bata mā astajīru bika minh.
اللَّهُمَّ قَدْ تَعْلَمُ مَا يُصْلِحُنِي مِنْ أَمْرِ دُنْيَايَ وَآخِرَتِي، فَكُنْ بِحَوَائِجِي حَفِيًّا.
Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui apa yang mendatangkan kebaikan bagiku dalam urusan duniaku dan akhiratku, maka berilah perhatian penuh kepada seluruh kebutuhanku.
Allāhumma qad taʿlamu mā yuṣliḥunī min amri dunyāya wa ākhiratī, fakun biḥawā’ijī ḥafiyyā.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَارْزُقْنِي الْحَقَّ عِنْدَ تَقْصِيرِي فِي الشُّكْرِ لَكَ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ وَالصِّحَّةِ وَالسَّقَمِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, serta karuniakanlah kepadaku keteguhan dalam kebenaran ketika aku lalai mensyukuri nikmat-Mu, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, sehat maupun sakit.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa āli Muḥammad, warzuqnī al-ḥaqqa ʿinda taqṣīrī fisy-syukri laka bimā anʿamta ʿalayya fil-yusri wal-ʿusri waṣ-ṣiḥḥati was-saqam.
حَتَّى أَتَعَرَّفَ مِنْ نَفْسِي رَوْحَ الرِّضَا وَطُمَأْنِينَةَ النَّفْسِ مِنِّي.
Hingga aku menemukan dalam diriku ruh keridhaan dan ketenteraman jiwa.
Ḥattā ataʿarrafa min nafsī rawḥar-riḍā wa ṭuma’nīnatan-nafsi minnī.
بِمَا يَحْدُثُ لَكَ فِيمَا يَحْدُثُ فِي حَالِ الْخَوْفِ وَالْأَمْنِ، وَالرِّضَا وَالسُّخْطِ، وَالضَّرِّ وَالنَّفْعِ.
Terhadap segala yang Engkau tetapkan bagiku, dalam keadaan takut maupun aman, senang maupun tidak senang, serta dalam keadaan susah maupun memperoleh manfaat.
Bimā yaḥduthu laka fīmā yaḥduthu fī ḥālil-khawfi wal-amni, war-riḍā was-sukhṭi, waḍ-ḍarri wan-nafʿ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَارْزُقْنِي سَلَامَةَ الصَّدْرِ مِنَ الْحَسَدِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, serta karuniakanlah kepadaku hati yang bersih dari kedengkian.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa ālih warzuqnī salāmataṣ-ṣadri minal-ḥasad.
حَتَّى لَا أَحْسُدَ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِكَ.
Sehingga aku tidak mendengki seorang pun dari makhluk-Mu atas karunia yang Engkau berikan kepadanya.
Ḥattā lā aḥsuda aḥadan min khalqika ʿalā syay’in min faḍlik.
وَحَتَّى لَا أَرَى نِعْمَةً مِنْ نِعَمِكَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فِي دِينٍ أَوْ دُنْيَا، أَوْ عَافِيَةٍ أَوْ تَقْوَى، أَوْ سَعَةٍ أَوْ رَخَاءٍ.
Dan sehingga aku tidak melihat suatu nikmat yang Engkau berikan kepada seseorang dari makhluk-Mu, baik dalam urusan agama maupun dunia, kesehatan maupun ketakwaan, kelapangan maupun kemakmuran.
Wa ḥattā lā arā niʿmatan min niʿamika ʿalā aḥadin min khalqika fī dīnin aw dunyā, aw ʿāfiyatin aw taqwā, aw saʿatin aw rakhā’.
إِلَّا رَجَوْتُ لِنَفْسِي أَفْضَلَ ذَلِكَ بِكَ وَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ.
Melainkan aku berharap untuk diriku kebaikan yang lebih utama dari itu, melalui karunia-Mu dan dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu.
Illā rajawtu linafsī afḍala dhālika bika wa minka waḥdaka lā syarīka lak.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَارْزُقْنِي التَّحَفُّظَ مِنَ الْخَطَايَا، وَالِاحْتِرَاسَ مِنَ الزَّلَلِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فِي حَالِ الرِّضَا وَالْغَضَبِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, serta karuniakanlah kepadaku kemampuan menjaga diri dari segala dosa dan berhati-hati dari segala kekeliruan, baik di dunia maupun di akhirat, dalam keadaan senang maupun marah.
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa ālih warzuqnī at-taḥaffuẓa minal-khaṭāyā, wal-iḥtirāsa minaz-zalali fid-dunyā wal-ākhirah, fī ḥālir-riḍā wal-ghaḍab.
حَتَّى أَكُونَ بِمَا يَرِدُ عَلَيَّ مِنْهُمَا بِمَنْزِلَةٍ سَوَاءٍ.
Sehingga dalam menghadapi keadaan senang maupun marah, aku tetap berada dalam sikap yang seimbang dan tidak berubah.
Ḥattā akūna bimā yaridu ʿalayya minhumā bimanzilatin sawā’.
عَامِلًا بِطَاعَتِكَ، مُؤْثِرًا لِرِضَاكَ عَلَى مَا سِوَاهُمَا فِي الْأَوْلِيَاءِ وَالْأَعْدَاءِ.
Selalu mengamalkan ketaatan kepada-Mu, serta lebih mengutamakan keridaan-Mu daripada segala yang lain, baik dalam berhubungan dengan para kekasih maupun para musuh.
ʿĀmilan biṭāʿatika, mu’thiran liriḍāka ʿalā mā siwāhumā fil-awliyā’i wal-aʿdā’.
حَتَّى يَأْمَنَ عَدُوِّي مِنْ ظُلْمِي وَجَوْرِي.
Sehingga musuhku pun merasa aman dari kezalimanku dan dari sikap aniayaku.
Ḥattā ya’mana ʿaduwwī min ẓulmī wa jawrī.
وَيَيْأَسَ وَلِيِّي مِنْ مَيْلِي وَانْحِطَاطِ هَوَايَ.
Dan sahabat serta orang yang mencintaiku tidak berharap bahwa aku akan cenderung mengikuti hawa nafsu atau menyimpang dari kebenaran.
Wa yay’asa waliyyī min maylī wanḥiṭāṭi hawāya.
وَاجْعَلْنِي مِمَّنْ يَدْعُوكَ مُخْلِصًا فِي الرَّخَاءِ دُعَاءَ الْمُخْلِصِينَ الْمُضْطَرِّينَ لَكَ فِي الدُّعَاءِ.
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang berdoa kepada-Mu dengan penuh keikhlasan ketika dalam kelapangan, sebagaimana doa orang-orang yang tulus dan sangat membutuhkan-Mu ketika berdoa.
Wajʿalnī mimman yadʿūka mukhliṣan fir-rakhā’i duʿā’al-mukhliṣīnal-muḍṭarrīna laka fid-duʿā’.
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Innaka Ḥamīdun Majīd.
Makna makrifat dari doa ini. memiliki tema utama tawakal, fakir kepada Allah, penyucian jiwa, dan keridaan kepada takdir-Nya.
1. Hakikat kefakiran di hadapan Allah. Ucapan:
اللَّهُمَّ لَا طَاقَةَ لِي… وَلَا قُوَّةَ لِي…
menunjukkan bahwa seorang arif memandang dirinya tidak memiliki daya sedikit pun. Dalam makrifat, kefakiran (الفقر) bukan hanya kekurangan harta, tetapi kesadaran bahwa seluruh wujud manusia bergantung kepada Allah.
2. Allah adalah Pemilik hakiki diri manusia. Ucapan:
إِنَّكَ كَلَّفْتَنِي مِنْ نَفْسِي مَا أَنْتَ أَمْلَكُ بِهِ مِنِّي
mengajarkan bahwa diri kita bukan milik kita. Jiwa, akal, tubuh, bahkan kemampuan beribadah adalah milik Allah. Orang yang mengenal Allah tidak lagi merasa memiliki dirinya.
3. Tawakal yang sempurna.Ucapan:
وَلَا تَكِلْنِي إِلَى خَلْقِكَ
Seorang arif tidak menggantungkan hati kepada manusia. Ia tetap berusaha melalui sebab-sebab yang halal, tetapi sandaran batinnya hanya kepada Allah.
4. Tidak meminta kepada selain Allah. Ucapan: بَلْ تَفَرَّدْ بِحَاجَتِي
Makrifat mengajarkan bahwa hanya Allah yang mengetahui kebutuhan terdalam manusia. Makhluk hanyalah perantara; Pemenuh kebutuhan yang hakiki hanyalah Dia.
5. Ridha sebagai maqam tertinggi
Ucapan: وَاجْعَلْ رِضَايَ فِيمَا يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكَ
Orang yang mencapai makrifat tidak hanya sabar terhadap ketentuan Allah, tetapi juga ridha. Ia melihat setiap takdir sebagai pancaran hikmah dan kasih sayang-Nya.
6. Cahaya makrifat. Ucapan:
وَهَبْ لِي نُورًا أَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ
Yang dimohon bukan sekadar cahaya lahiriah, tetapi nur basirah, cahaya hati yang mampu membedakan kebenaran dari kebatilan, hakikat dari ilusi, serta petunjuk di tengah berbagai fitnah.
7. Zuhud adalah kebebasan hati
Ucapan:
حَتَّى يَكُونَ الْغَالِبُ عَلَيَّ الزُّهْدُ فِي دُنْيَايَ
Makrifat tidak mengharamkan dunia, tetapi membebaskan hati dari perbudakan dunia. Dunia berada di tangan, bukan di hati.
8. Penyucian hati dari hasadUcapan:
وَارْزُقْنِي سَلَامَةَ الصَّدْرِ مِنَ الْحَسَدِ
Hasad adalah hijab yang menghalangi cahaya makrifat. Hati yang bersih akan bergembira melihat nikmat Allah pada orang lain, karena semua berasal dari Pemberi yang sama.
9. Istiqamah dalam segala keadaan
Ucapan: فِي حَالِ الرِّضَا وَالْغَضَبِ
Seorang arif tidak berubah karena keadaan. Saat senang ia tetap taat, saat marah ia tetap adil. Keadaan batin tidak dikuasai emosi, tetapi dipimpin oleh ketaatan kepada Allah.
10. Ikhlas karena cinta, bukan karena terpaksa. Ucapan:
دُعَاءَ الْمُخْلِصِينَ الْمُضْطَرِّينَ
Puncak makrifat adalah ketika seseorang selalu membutuhkan Allah, baik dalam kesempitan maupun kelapangan. Ia berdoa bukan hanya ketika terdesak, tetapi karena menyadari bahwa setiap saat ia bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
Kesimpulan makrifat doa
Doa ini mengajarkan perjalanan ruhani dari:
* kesadaran akan kelemahan diri, menuju
* tawakal sepenuhnya kepada Allah, lalu
* penyucian hati dari penyakit batin, hingga mencapai
ridha, ikhlas, dan cahaya makrifat, yaitu keadaan ketika hati hanya bersandar kepada Allah dan melihat segala sesuatu sebagai bagian dari hikmah-Nya.
Makna hakikat dari doa tersebut menurut perspektif irfan (tasawuf) dan hikmah Islam, khususnya sebagaimana dipahami dalam tradisi Ahlul Bait.
Penjelasan ini adalah tafsir spiritual, bukan makna literal yang secara eksplisit dinyatakan dalam teks doa.
1. Hakikat ubudiyah (kehambaan)
إِنَّكَ كَلَّفْتَنِي مِنْ نَفْسِي مَا أَنْتَ أَمْلَكُ بِهِ مِنِّي
Hakikatnya adalah bahwa manusia bukan pemilik dirinya. Seluruh keberadaan, kehendak, dan kehidupannya berada dalam kepemilikan Allah. Kehambaan sejati lahir ketika ego mengakui kepemilikan mutlak Allah.
2. Hakikat qudrah Allah. Kalimat:
وَقُدْرَتُكَ عَلَيْهِ وَعَلَيَّ أَغْلَبُ مِنْ قُدْرَتِي
Hakikatnya, semua daya yang dimiliki manusia hanyalah limpahan dari daya Allah. Tidak ada kekuatan yang berdiri sendiri selain kekuatan yang Allah anugerahkan.
3. Hakikat fana’ dari ketergantungan kepada makhluk
Kalimat: وَلَا تَكِلْنِي إِلَى خَلْقِكَ
Hakikatnya bukan meninggalkan manusia, tetapi melepaskan hati dari ketergantungan kepada mereka. Sebab-sebab tetap ditempuh, tetapi hati tidak bergantung kepada sebab; ia bergantung kepada Musabbib al-Asbāb (Pengatur segala sebab).
4. Hakikat rezeki. Kalimat:
فَلَا تَحْظُرْ عَلَيَّ رِزْقِي
Hakikat rezeki bukan hanya makanan atau harta. Rezeki meliputi iman, ilmu, taufiq, kesehatan, ketenangan, cahaya hati, dan kesempatan untuk taat. Semua berasal dari Allah.
5. Hakikat ridha. Kalimat:
وَرِضَايَ فِيمَا يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكَ
Ridha bukan sekadar menerima takdir, tetapi menyaksikan bahwa seluruh ketetapan Allah mengandung hikmah dan rahmat, meskipun hikmah itu belum tampak.
6. Hakikat cahaya (nūr). Kalimat:
وَهَبْ لِي نُورًا أَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ
Hakikat cahaya adalah cahaya ilmu, iman, dan basirah yang menerangi hati sehingga mampu membedakan kebenaran dari kebatilan dan tetap teguh di tengah keraguan.
7. Hakikat zuhud. :الزُّهْدُ فِي دُنْيَايَ
Hakikat zuhud bukan meninggalkan dunia, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Dunia menjadi sarana menuju Allah, bukan pengganti-Nya.
8. Hakikat tazkiyatun nafs.Kalimat:
وَخَلِّصْنِي مِنَ الْحَسَدِ… وَاحْصُرْنِي عَنِ الذُّنُوبِ
Hakikat penyucian jiwa adalah membersihkan hati dari penyakit batin sebelum memperbaiki amal lahir. Hati yang bersih menjadi tempat turunnya rahmat dan petunjuk.
9. Hakikat ikhlas. Kalimat:
مُخْلِصًا فِي الرَّخَاءِ
Hakikat ikhlas ialah beribadah kepada Allah bukan karena takut kehilangan nikmat atau berharap keuntungan dunia, tetapi semata-mata karena Allah layak disembah. Kelapangan maupun kesempitan tidak mengubah orientasi hati.
10. Hakikat perjalanan menuju Allah
Kalimat penutup doa:
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Hakikat akhir perjalanan ruhani adalah menyadari bahwa semua pujian kembali kepada Allah Yang Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ketika seorang hamba sampai pada pengenalan ini, ia melihat dirinya sebagai penerima karunia, bukan pemilik apa pun. Dari kesadaran itu lahir tawakal, syukur, ridha, dan cinta kepada Allah.
Kesimpulan hakikat
Hakikat doa ini adalah perjalanan ruhani seorang hamba:
* dari merasa mampu menuju mengakui kelemahan diri,
* dari bergantung kepada makhluk menuju bersandar hanya kepada Allah,
* dari membersihkan jiwa menuju mendapatkan cahaya hati,
lalu berakhir pada ridha, ikhlas, dan penyerahan total kepada kehendak Allah, seraya tetap berusaha dan menunaikan kewajiban di dunia.
Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!!
Comments
Post a Comment