Duka buat Imam Hasan AlMujtaba

Hari ini hari ke-7 bulan Shofar;
Menurut riwayat Syahid, Kaf’ami‘, dan yang lain, hari ini adalah hari syahadahnya Imam Hasan Mujataba as. Akan tetapi menurut pendapat Syekh Thusi dan Mufid, syahadah Imam Hasan Mujtaba terjadi pada hari ke-28. Pada hari ini juga, tahun 128, Imam Musa as lahir di Abwa’, yaitu nama tempat yang terletak antara Mekkah dan Madinah.

Maṣā’ib Imam Hasan al-Mujtaba a.s.
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Ahlul Bait Nabi sebagai pelita petunjuk bagi umat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, putri beliau Sayidah Fatimah az-Zahra a.s., Amirul Mukminin Imam Ali a.s., serta Imam Hasan al-Mujtaba a.s., cucu Rasulullah yang kesabarannya menjadi teladan sepanjang zaman.

Wahai kaum mukminin, hari ini kita mengenang duka yang menyelimuti kehidupan Imam Hasan al-Mujtaba a.s. Beliau bukan hanya cucu Rasulullah ﷺ, tetapi juga Imam kedua dari Ahlul Bait yang memikul amanah Ilahi di tengah fitnah dan pengkhianatan umat.

Sejak kecil Imam Hasan tumbuh dalam pelukan Rasulullah ﷺ. Nabi mencium beliau, memeluknya, dan bersabda, “Hasan dan Husain adalah dua pemimpin pemuda penghuni surga.” Namun, kemuliaan itu justru menjadi sebab kedengkian musuh-musuh keluarga Nabi.

Setelah syahadah Amirul Mukminin Imam Ali a.s., kaum Muslimin membaiat Imam Hasan sebagai khalifah dan Imam yang sah. Akan tetapi, kekuasaan dunia telah membutakan banyak hati. Muawiyah bin Abi Sufyan mengerahkan harta, ancaman, dan tipu daya untuk memecah barisan pengikut Imam.

Tentara Imam Hasan mulai digerogoti pengkhianatan. Sebagian panglima dibeli dengan emas, sebagian melarikan diri, bahkan ada yang bersekongkol dengan musuh. Mereka meninggalkan Imam yang merupakan cucu Rasulullah ﷺ.

Musibah semakin berat ketika salah seorang pengikut yang telah terpengaruh propaganda Khawarij menyerang Imam Hasan di Madain. Pedang itu melukai paha beliau hingga darah mengalir deras. Imam terluka bukan oleh musuh asing, tetapi oleh orang yang mengaku sebagai bagian dari umat Nabi.

Melihat umat berada di ambang kehancuran total, Imam Hasan menerima perjanjian damai dengan Muawiyah demi menjaga sisa-sisa agama dan menyelamatkan kaum mukminin. Perdamaian itu bukan tanda kelemahan, melainkan strategi Ilahi untuk menjaga Islam dari perang saudara yang lebih dahsyat.

Namun, setelah perjanjian ditandatangani, Muawiyah mengingkari hampir seluruh isinya. Ia menyatakan bahwa perjanjian itu tidak lagi mengikatnya dan mulai menindas para pecinta Ahlul Bait di berbagai wilayah.

Imam Hasan hidup dalam pengasingan politik di Madinah. Mimbar-mimbar dipenuhi celaan terhadap Amirul Mukminin Ali a.s., sementara Imam Hasan hanya menyaksikan bagaimana umat perlahan dijauhkan dari ajaran Rasulullah ﷺ.

Duka terbesar datang dari dalam rumahnya sendiri. Menurut riwayat yang masyhur dalam literatur Syiah, Muawiyah membujuk Ja’dah binti al-Asy’ats, salah seorang istri Imam Hasan, agar meracuni beliau dengan janji harta dan pernikahan dengan Yazid. Racun itu akhirnya diberikan kepada Imam Hasan. Sumber-sumber sejarah juga mencatat adanya perbedaan rincian riwayat di kalangan sejarawan mengenai pelaku dan detail peristiwa tersebut.

Racun itu membakar seluruh tubuh Imam. Hari demi hari beliau menahan rasa sakit yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa berkali-kali beliau memuntahkan darah hingga bagian-bagian organ dalam ikut keluar akibat dahsyatnya racun tersebut.

Imam Husain a.s. menangis menyaksikan penderitaan kakaknya. Namun Imam Hasan menenangkan beliau dengan penuh kelembutan dan bersabda bahwa tidak ada hari yang sebanding dengan hari yang akan menimpa Husain di Karbala.

Menjelang syahadahnya, Imam Hasan berwasiat agar jenazahnya dibawa ke makam Rasulullah ﷺ untuk memperbarui janji, bukan untuk dimakamkan di sana bila hal itu menimbulkan pertumpahan darah.

Tatkala jenazah Imam Hasan dibawa mendekati makam Rasulullah ﷺ, sebagian orang menghadangnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa rombongan pengantar jenazah bahkan dihujani anak panah hingga beberapa di antaranya mengenai keranda beliau.

Imam Husain a.s. menahan amarahnya. Demi menjalankan wasiat sang kakak agar tidak terjadi pertumpahan darah, beliau mengalihkan pemakaman ke Pemakaman Baqi’.

Begitulah, cucu Rasulullah ﷺ yang begitu dicintai Nabi dimakamkan jauh dari sisi kakeknya. Kuburannya berada di Baqi’, menjadi saksi bisu atas kezaliman yang menimpa Ahlul Bait.

Wahai pecinta Ahlul Bait, ingatlah bahwa kesabaran Imam Hasan bukanlah kelemahan. Kesabaran beliau adalah jihad. Diam beliau adalah hikmah. Pengorbanan beliau menjadi jalan yang mempersiapkan kebangkitan Imam Husain a.s. di Karbala.

Salam atasmu wahai Hasan al-Mujtaba, wahai cucu Rasulullah, wahai yang diracun dengan kezaliman, wahai yang dikhianati oleh umatnya sendiri. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, dan menjadikan kami termasuk orang-orang yang setia kepada jalanmu dan jalan saudaramu, Imam Husain a.s.

السلام عليك يا أبا محمد الحسن بن علي المجتبى، ورحمة الله وبركاته.


😭🌹✅Maqtal Imam Hasan Almujtaba as✅😭❤️

Maqtal Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba (عليه السلام)

1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segalapuji bagi Allah yang telah memuliakan keluarga Nabi Muhammad (صلى الله عليه وآله). Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Sayidah Fatimah az-Zahra, Imam Hasan al-Mujtaba, Imam Husain asy-Syahid, serta para Imam suci dari keturunan mereka.

2. Imam Hasan al-Mujtaba (عليه السلام) lahir di Madinah pada pertengahan bulan Ramadan tahun ketiga Hijriah. Beliau adalah putra pertama Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayidah Fatimah az-Zahra, cucu pertama Rasulullah ﷺ yang sangat dicintai oleh beliau.

3. Rasulullah ﷺ menggendong Hasan kecil, mencium kedua matanya, dan bersabda bahwa Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga. Beliau juga menyatakan bahwa mencintai Hasan berarti mencintai Rasulullah.

4. Imam Hasan tumbuh dalam rumah wahyu. Beliau menyaksikan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, mendengar penjelasan Rasulullah, serta menyaksikan perjuangan ayah dan ibunya dalam membela Islam.

5. Setelah wafat Rasulullah ﷺ, Imam Hasan melihat berbagai peristiwa pahit yang menimpa Ahlul Bait, termasuk penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra. Luka sejarah itu membekas dalam hati beliau sepanjang hidupnya.

6. Ketika Imam Ali menjadi khalifah, Imam Hasan menjadi pendamping utama beliau dalam Perang Jamal, Shiffin, dan Nahrawan. Beliau memperlihatkan keberanian sekaligus kebijaksanaan yang luar biasa.

7. Setelah syahadah Imam Ali pada malam 21 Ramadan tahun 40 Hijriah, kaum Muslimin membaiat Imam Hasan sebagai khalifah dan Imam umat berdasarkan wasiat Amirul Mukminin.

8. Namun Muawiyah bin Abi Sufyan menolak baiat itu. Ia mengumpulkan pasukan besar dari Syam untuk menyerang pemerintahan Imam Hasan.

9. Imam Hasan mempersiapkan pasukan di Kufah. Akan tetapi sebagian besar masyarakat telah lemah iman, tergoda harta, dan dipengaruhi propaganda Muawiyah.

10. Muawiyah mengirim surat-surat rahasia kepada para panglima Imam Hasan, menjanjikan jabatan dan emas apabila mereka mengkhianati Imam.

11. Sebagian panglima tergelincir. Mereka menerima suap dan meninggalkan Imam Hasan di tengah perjuangan.

12. Bahkan ada yang berusaha membunuh Imam Hasan di dalam kemah beliau. Seorang Khawarij bernama al-Jarrah bin Sinan menikam paha Imam hingga terluka parah.

13. Dalam keadaan terluka, Imam Hasan tetap mengendalikan umat dengan kesabaran. Beliau memahami bahwa peperangan hanya akan mengakibatkan pembantaian kaum mukmin yang setia.

14. Demi menjaga sisa pengikut Ahlul Bait dan mempertahankan agama, Imam Hasan menerima perjanjian damai dengan Muawiyah dengan syarat-syarat yang jelas.

15. Di antara syarat itu adalah Muawiyah wajib memerintah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tidak menunjuk penerus sesudahnya, tidak mencaci Imam Ali, serta menjamin keselamatan para pengikut Ahlul Bait.

16. Namun Muawiyah mengkhianati seluruh isi perjanjian itu. Di Kufah ia menyatakan secara terbuka bahwa semua syarat telah diinjak-injak di bawah kakinya.

17. Sejak saat itu Imam Hasan kembali ke Madinah dan memilih membina umat melalui ilmu, ibadah, akhlak, dan pendidikan.

18. Rumah Imam Hasan menjadi pusat ilmu. Para sahabat dan tabi’in datang mengambil hikmah, tafsir Al-Qur’an, dan hadis Rasulullah dari beliau.

19. Imam Hasan terkenal sebagai orang yang paling dermawan pada zamannya. Beliau beberapa kali membagikan seluruh hartanya kepada fakir miskin.

20. Beliau juga terkenal sangat lembut terhadap musuh. Banyak orang yang memusuhi beliau berubah menjadi pecinta Ahlul Bait setelah melihat akhlaknya.

21. Muawiyah tetap merasa khawatir terhadap kedudukan Imam Hasan di hati umat. Selama Imam Hasan hidup, cita-citanya menjadikan Yazid sebagai penerus tidak akan mudah terwujud.

22. Karena itu Muawiyah merancang pembunuhan secara rahasia terhadap Imam Hasan.

23. Ia menghubungi Ja’dah binti al-Asy’ats, salah seorang istri Imam Hasan, melalui perantara-perantaranya.

24. Ja’dah dijanjikan seratus ribu dirham dan dinikahkan dengan Yazid apabila berhasil meracuni Imam Hasan.

25. Godaan dunia mengalahkan iman. Ja’dah menerima tawaran tersebut.

26. Pada suatu hari ia mencampurkan racun yang sangat mematikan ke dalam makanan atau minuman Imam Hasan, sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat.

27. Setelah meminum racun itu, Imam Hasan merasakan panas yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

28. Racun itu merobek organ-organ dalam beliau. Dalam riwayat disebutkan bahwa potongan-potongan hati beliau keluar bersama darah yang dimuntahkan.

29. Imam Husain berada di sisi kakaknya. Dengan penuh kesedihan beliau melihat saudaranya memegang bejana berisi darah yang terus keluar dari mulutnya.

30. Imam Husain bertanya, “Siapakah yang telah melakukan ini kepadamu?” Imam Hasan menjawab bahwa Allah akan mengadili pelakunya, dan beliau tidak ingin pembalasan dilakukan sebelum hari kiamat.

31. Imam Hasan kemudian berwasiat kepada Imam Husain agar tetap sabar menghadapi musibah yang lebih besar yang kelak akan menimpanya di Karbala.

32. Beliau juga menyerahkan amanah Imamah kepada Imam Husain sesuai ketetapan Allah dan wasiat Rasulullah.

33. Imam Hasan berpesan agar jenazahnya dibawa ke dekat makam Rasulullah ﷺ untuk memperbarui janji dengan kakeknya, bukan untuk dimakamkan di sana apabila hal itu menimbulkan pertumpahan darah.

34. Setelah itu beliau berpesan agar apabila ada penolakan, jenazahnya dibawa ke Baqi’ dan kaum mukmin tidak memulai peperangan.

35. Pada tanggal 7 Safar tahun 50 Hijriah menurut riwayat yang masyhur di kalangan Syiah Imamiyah, Imam Hasan al-Mujtaba menghembuskan napas terakhir sebagai syahid karena racun.

36. Ketika jenazah beliau dibawa menuju makam Rasulullah ﷺ, Bani Umayyah bersama Aisyah menolak prosesi tersebut. Dalam sejumlah riwayat Syiah disebutkan bahwa jenazah Imam Hasan bahkan dihujani anak panah hingga kafannya dipenuhi panah.

37. Demi menjaga wasiat saudaranya, Imam Husain memerintahkan agar tidak terjadi peperangan. Jenazah Imam Hasan kemudian dibawa menuju pemakaman Baqi’.

38. Di Baqi’, cucu kesayangan Rasulullah dimakamkan dengan penuh duka. Tangisan keluarga Nabi menggema, sementara Madinah kehilangan cahaya seorang Imam yang penyabar.

39. Syahadah Imam Hasan menjadi bukti bahwa perjuangan Ahlul Bait tidak selalu melalui pedang. Kesabaran, pengorbanan, dan penjagaan terhadap agama juga merupakan bentuk jihad yang agung.

40. Salam sejahtera atasmu wahai Abu Muhammad Hasan al-Mujtaba. Salam atas kesabaranmu, kezuhudanmu, kemurahan hatimu, dan kesyahidanmu. Semoga Allah menghimpunkan kita bersama Rasulullah, Fatimah az-Zahra, Amirul Mukminin, Imam Hasan, Imam Husain, dan para Imam suci dari Ahlul Bait di akhirat.

Sumber utama riwayat (Syiah Imamiyah):
* Al-Irsyad
* Bihar al-Anwar
* Maqtal Ahl al-Bayt
* Manaqib Ali Abi Talib
* I’lam al-Wara

14 Kalimat Duka Cita atas Syahadah Imam Hasan al-Mujtaba (عليه السلام)

1. Assalāmu ’alaika yā Abā Muḥammad, yā Ḥasan al-Mujtabā, semoga salam Allah tercurah atas kesabaran dan kesyahidanmu.
2. Hari ini langit Madinah kembali berselimut duka karena cucu kesayangan Rasulullah telah diracun oleh kezaliman.
3. Wahai Imam Hasan, engkau memilih kesabaran ketika umat memilih perpecahan, demi menjaga agama dan darah kaum mukminin.
4. Air mata kami menjadi saksi cinta kepada Imam yang hidupnya dipenuhi kelembutan, kemurahan hati, dan pengorbanan.
5. Betapa pedih ketika racun merobek tubuh sucimu, sementara engkau tetap mengingat Allah dengan penuh keridaan.
6. Kami berduka atas syahidnya penghulu para pemuda surga yang menjadi cahaya petunjuk bagi umat Muhammad ﷺ.
7. Salam atas hatimu yang luas, yang memaafkan musuh dan menyerahkan segala urusan kepada keadilan Allah.
8. Tangisan Baqi’ menjadi saksi bahwa bumi kehilangan seorang Imam yang penuh hikmah dan kasih sayang.
9. Semoga Allah melaknat setiap tangan yang merencanakan dan melaksanakan kezaliman terhadap Imam Hasan al-Mujtaba.
10. Wahai Imam Hasan, cintamu kepada umat dibalas dengan pengkhianatan, namun kemuliaanmu tetap hidup sepanjang zaman.
11. Kami memperbarui baiat kepada Ahlul Bait dan berjanji menjaga ajaran yang engkau wariskan dengan penuh kesetiaan.
12. Ya Allah, jadikan air mata kami atas musibah Imam Hasan sebagai sebab turunnya rahmat dan ampunan-Mu.
13. Ya Allah, kumpulkan kami bersama Rasulullah, Fatimah az-Zahra, Amirul Mukminin, Imam Hasan, Imam Husain, dan para Imam suci pada hari kebangkitan.
14. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. Salam dan kedamaian abadi atasmu, wahai Imam Hasan al-Mujtaba (عليه السلام), hingga hari seluruh hamba dikumpulkan di hadapan Allah.

Kalimat Menangisi Imam Hasan al-Mujtaba (عليه السلام)

1. Wahai Imam Hasan, air mata kami mengalir mengenang kesabaranmu yang tak pernah luntur di tengah pengkhianatan umat.
2. Betapa pilunya hati ini saat mengenang cucu Rasulullah yang wafat karena racun, sementara beliau tidak pernah berhenti berbuat baik kepada manusia.
3. Wahai Hasan al-Mujtaba, engkau dibalas dengan pengkhianatan, padahal hidupmu dipenuhi kasih sayang, kelembutan, dan kemurahan hati.
4. Kami menangis karena tubuh sucimu diracuni, dan hatimu yang mulia menanggung penderitaan yang tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata.
5. Tangisan kami adalah ungkapan cinta kepada Imam yang menjaga agama dengan kesabaran ketika pedang bukan lagi jalan yang menyelamatkan umat.
6. Wahai cucu Rasulullah, setiap kali namamu disebut, hati kami bergetar dan mata kami basah oleh kerinduan.
7. Kami menangis bukan hanya karena syahadahmu, tetapi juga karena sedikitnya manusia yang mengenal besarnya pengorbananmu.
8. Baqi’ menjadi saksi bisu bahwa seorang penghulu pemuda surga dimakamkan dalam kesunyian, sementara dunia telah kehilangan cahaya besar.
9. Ya Allah, jangan jadikan hati kami lalai dari mengingat musibah yang menimpa Imam Hasan al-Mujtaba.
10. Wahai Imam Hasan, semoga air mata yang kami teteskan menjadi tanda kesetiaan kepada Ahlul Bait Rasulullah dan menjadi sebab kami memperoleh syafaatmu di hadapan Allah.

Ziarah Imam Hasan al-Mujtaba (عليه السلام) yang diriwayatkan dalam kitab-kitab ziarah Syiah, di antaranya Mafatih al-Jinan dan Kamil al-Ziyarat.

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ،
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ،
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ سَيِّدَةِ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ،
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ،
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا الْإِمَامُ الْبَرُّ التَّقِيُّ الزَّكِيُّ،
السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

As-salāmu ‘alaika yā ibna Rasūlillāh.
As-salāmu ‘alaika yā ibna Amīril-Mu’minīn.
As-salāmu ‘alaika yā ibna Fāṭimata az-Zahrā’ Sayyidati Nisā’il-’Ālamīn.
As-salāmu ’alaika yā Abā Muḥammad al-Ḥasan ibn ’Alī.
As-salāmu ’alaika ayyuhal-Imāmul-barrut-taqiyyuz-zakiyy.
As-salāmu ’alaika wa raḥmatullāhi wa barakātuh.

Salam sejahtera atasmu, wahai putra Rasulullah.
Salam sejahtera atasmu, wahai putra Amirul Mukminin.
Salam sejahtera atasmu, wahai putra Fatimah az-Zahra, pemimpin seluruh wanita alam semesta.
Salam sejahtera atasmu, wahai Abu Muhammad Hasan bin Ali.
Salam sejahtera atasmu, wahai Imam yang penuh kebajikan, ketakwaan, dan kesucian.
Salam sejahtera atasmu, beserta rahmat dan keberkahan Allah.

Penutup Ziarah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَتَقَرَّبُ إِلَيْكَ بِحُبِّهِ وَبِالْبَرَاءَةِ مِنْ أَعْدَائِهِ، وَارْزُقْنِي شَفَاعَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاحْشُرْنِي مَعَهُ وَمَعَ آبَائِهِ الطَّاهِرِينَ.

Allāhumma innī ataqarrabu ilaika biḥubbihi wa bil-barā’ati min a’dā’ih, warzuqnī syafā’atahu yaumal-qiyāmah, waḥsyurnī ma’ahu wa ma’a ābā’ihiṭ-ṭāhirīn.

Ya Allah, aku mendekat kepada-Mu dengan kecintaanku kepada Imam Hasan dan dengan berlepas diri dari musuh-musuhnya. Anugerahkanlah kepadaku syafaatnya pada Hari Kiamat, dan kumpulkanlah aku bersamanya serta bersama ayah-ayahnya yang suci.

Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!

Hari ini 23 Juli 1960 ; Hari Kelahiranku semoga bisa merasakan kegembiraan sekaligus kesedihan Rasul saw, Rasul Gembira saat kelahiran cucunya Imam Husein as juga menangis saat dapat berita bahwa Imam Husein as akan dibantai di Karbala!!!

Hari ini 7 Shofar hari syahadah Imam Hasan AlMujtaba as menurut riwayat juga Hari Kelahiran Imam Musa as

Semoga kita selalu dapat bersyukur juga bersabar;
‎اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صَبْرَ الشَّاكِرِينَ لَكَ
Allāhumma innī as’aluka ṣabra asy-syākirīna laka.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kesabaran orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Mu.”

Doa yang lebih lengkap yang banyak dinukil dalam kitab-kitab doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صَبْرَ الشَّاكِرِينَ لَكَ، وَعَمَلَ الْخَائِفِينَ مِنْكَ، 
وَيَقِينَ الْعَابِدِينَ لَكَ.
Allāhumma innī as’aluka ṣabra asy-syākirīna laka, wa ‘amala al-khā’ifīna minka, wa yaqīna al-’ābidīna laka.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesabaran orang-orang yang bersyukur kepada-Mu, amal orang-orang yang takut kepada-Mu, dan keyakinan orang-orang yang beribadah kepada-Mu.”

Makna doa
* صَبْرَ الشَّاكِرِينَ (ṣabra asy-syākirīn): kesabaran yang lahir dari hati yang selalu bersyukur, bukan sekadar menahan diri, tetapi menerima ketetapan Allah dengan penuh keridaan.
* الشكر (syukur) menjaga hati agar tidak kufur nikmat.
* الصبر (sabar) menjaga hati agar tidak berkeluh kesah saat diuji.
Doa ini menggabungkan dua akhlak agung yang sering dipadukan dalam Al-Qur’an, yaitu syukur ketika menerima nikmat dan sabar ketika menghadapi ujian. Seorang mukmin yang sempurna berusaha menjadi hamba yang bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan.

Ilahii Aamiin!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit