Makna; Alim Yang Ditaati & Murid Yang Taat
Ungkapan ini berasal dari hikmah yang masyhur:
لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ: عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar (murid) yang sadar dan memahami.”
Berikut 10 makna dan makrifat dari “Alim yang ditaati, Murid yang taat.”
1. Alim adalah pewaris cahaya kenabian, murid adalah penerima cahaya.
Secara makrifat, ilmu bukan sekadar informasi, tetapi nur yang berpindah dari hati ke hati. Alim menjadi cermin cahaya, sedangkan murid yang taat menjadi wadah yang bersih untuk menerima cahaya tersebut. Semakin bersih hati murid, semakin sempurna pantulan cahaya ilmu.
2. Ketaatan kepada alim adalah ketaatan kepada kebenaran
Yang ditaati bukan pribadi karena kedudukannya, melainkan karena ia mengajak kepada Allah, Al-Qur’an, dan sunnah Nabi serta Ahlul Bait.
Makrifatnya: Orang arif tidak mengikuti manusia karena nama besarnya, tetapi mengikuti cahaya Allah yang tampak melalui mereka.
3. Murid yang taat lebih cepat sampai daripada murid yang hanya banyak bertanya.
Dalam perjalanan ruhani, adab lebih dahulu daripada ilmu. Ilmu tanpa adab hanya memenuhi akal. Adab membuka hati.
4. Alim sejati tidak mengajak kepada dirinya.
Menurut para ahli makrifat, seorang alim hakiki selalu berkata melalui perilakunya:”Jangan berhenti padaku. Lihatlah kepada Allah.” Ia menjadi penunjuk jalan, bukan tujuan perjalanan.
5. Murid yang taat sedang melatih sifat ubudiyah.
Ketaatan kepada guru yang benar mendidik jiwa agar mudah taat kepada Allah. Karena nafsu selalu ingin membantah. Sedangkan ruh ingin tunduk.
6. Alim adalah dokter hati
Sebagaimana dokter mengetahui penyakit jasmani, alim mengetahui penyakit:
* riya’
* ujub
* hasad
* cinta dunia
* sombong
Murid yang taat bersedia menerima “obat” meskipun pahit.
7. Hubungan alim dan murid menggambarkan hubungan wahyu dan umat.
Secara simbolik:
* Nabi menyampaikan.
* Imam menjelaskan.
* Ulama mewariskan.
* Murid menerima.
* Kemudian murid mengamalkan.
Inilah mata rantai hidayah yang tidak boleh terputus.
8. Alim dan murid saling menyempurnakan. Tanpa murid yang mau belajar, ilmu akan terputus.
Tanpa alim yang ikhlas, umat kehilangan arah. Makrifatnya: Allah menjaga agama melalui dua golongan ini sekaligus.
9. Ketaatan melahirkan futuh (terbukanya hijab). Para ahli hakikat mengatakan bahwa banyak pintu makrifat terbuka bukan karena banyak membaca, tetapi karena:
* ikhlas
* adab
* tawadhu’
* melayani guru
* mengamalkan ilmu
Ketika hati tunduk, Allah membuka pemahaman yang sebelumnya tertutup.
10. Puncak perjalanan: semua menjadi murid Allah.
Pada akhirnya, alim sekalipun tetap murid di hadapan Allah. Semakin tinggi maqam seseorang, semakin besar pengakuannya:”Ya Allah, ajarkanlah aku apa yang belum aku ketahui.”
Dalam pandangan makrifat:
* alim mengajar manusia,
* murid belajar kepada alim,
* tetapi keduanya sama-sama belajar kepada Allah.
Inilah hakikat firman Allah bahwa Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Hakikat menurut Ahlul Bait
Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait, ilmu bukan sekadar hafalan, tetapi amanah Ilahi yang harus disertai amal, keikhlasan, dan ketakwaan. Seorang alim yang ditaati adalah orang yang membimbing kepada Allah dan menjaga ajaran Rasulullah serta Ahlul Bait. Murid yang taat bukanlah pengikut yang buta, melainkan orang yang menerima kebenaran dengan kesadaran, mengamalkannya, dan menjadikannya jalan untuk mendekat kepada Allah.
Kesimpulan Makrifat; “Alim yang ditaati” melambangkan cahaya petunjuk, sedangkan “murid yang taat” melambangkan hati yang siap menerima cahaya. Ketika cahaya ilmu bertemu dengan hati yang bersih dan penuh adab, lahirlah hikmah, amal saleh, dan kedekatan kepada Allah. Dalam pandangan para arif, keberkahan umat terjaga selama masih ada alim yang membimbing dengan ikhlas dan murid yang mencari ilmu dengan rendah hati dan penuh ketaatan kepada kebenaran.
قال خاتم النبيين محمد (ص): لا خيرَ في
العَيش إلا لِرَجُلَين: عالمٌ مُطاع، أو مُسْتَمِعٌ واعٍ.
Rasulullah Muhammad (ص),
Penutup para Nabi, bersabda:”Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar (murid) yang sadar, memahami, dan menyimak dengan penuh kesadaran.”
Sumber-sumber hadis; Hadis ini diriwayatkan dalam sejumlah kitab hadis dan hikmah, di antaranya:
1, Nahj al-Balāghah; Di dalam Nahj al-Balāghah, kalimat ini riwayat dari Imam Ali bin Abi Thalib, sebagai sabda Nabi.;لا خير في العيش
إلا لرجلين: عالم مطاع، أو مستمع واع.
2, Ghurar al-Hikam wa Durar ; Abd al-Wahid al-Amidi,
3, Bihār al-Anwār; Muhammad Baqir al-Majlisi, memuat riwayat-riwayat dengan makna yang sejalan mengenai keutamaan alim dan penuntut ilmu.
Kata واعٍ (wā‘in) tidak sekadar berarti “mendengar”, tetapi memahami, menghayati, menjaga, dan mengamalkan ilmu yang diterimanya.
Makna Makrifatnya;
1. Kehidupan yang bernilai adalah kehidupan yang dipenuhi ilmu
Dalam pandangan makrifat, hidup bukan diukur oleh panjang usia atau banyaknya harta, melainkan oleh sejauh mana seseorang menjadi penyebar atau penerima cahaya ilmu yang benar. Hidup tanpa ilmu adalah jasad tanpa cahaya.
2. “Alim yang ditaati” adalah cermin Asma Allah Al-’Alīm (Yang Maha Mengetahui).
Seorang alim sejati memantulkan sifat ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya. Ketaatan kepadanya adalah selama ia membimbing kepada Allah, bukan kepada hawa nafsu atau kepentingan pribadi.
3. “Murid yang sadar” adalah wadah turunnya hikmah.
Ilmu hanya menetap pada hati yang bersih. Murid yang wā‘in bukan sekadar menghafal, tetapi menjaga ilmu dengan adab, amal, dan keikhlasan. Hati yang bersih menjadi tempat bersemayamnya hikmah.
4. Kehidupan adalah rantai pewarisan cahaya.
Dalam hakikat, Allah menurunkan hidayah melalui mata rantai:
* Wahyu kepada Nabi.
* Penjelasan oleh Ahlul Bait.
* Pewarisan oleh para ulama yang saleh.
* Penerimaan oleh murid yang sadar.
Mata rantai ini menjaga agama tetap hidup.
5. Ilmu adalah amanah, bukan kemuliaan pribadi.
Alim yang hakiki tidak merasa memiliki ilmu, tetapi menganggap dirinya hanya penjaga amanah Allah. Semakin bertambah ilmunya, semakin besar tawaduknya.
6. Ketaatan yang benar melahirkan kebebasan dari hawa nafsu
Murid yang taat kepada kebenaran sedang belajar membebaskan diri dari kesombongan, ego, dan keinginan untuk selalu menang sendiri. Dalam makrifat, yang paling sulit ditaklukkan adalah nafsu sendiri.
7. Mendengar dengan hati lebih tinggi daripada mendengar dengan telinga; مستمع واع berarti mendengar dengan:
* akal yang memahami,
* hati yang menerima,
* ruh yang merasakan,
* dan anggota tubuh yang mengamalkan.
Inilah pendengaran yang melahirkan perubahan.
8. Alim dan murid sama-sama sedang menuju Allah
Alim mengajarkan ilmu, tetapi ia tetap belajar kepada Allah. Murid belajar kepada alim, tetapi tujuan akhirnya juga Allah. Guru adalah penunjuk jalan, bukan tujuan perjalanan.
9. Dua golongan ini menjaga kehidupan umat.
Selama ada alim yang ikhlas dan murid yang haus akan kebenaran, cahaya agama tidak akan padam. Kerusakan dimulai ketika ilmu tidak diamalkan atau ketika manusia enggan mendengarkan nasihat yang benar.
10. Hakikat hidup adalah menjadi pembawa atau penerima cahaya
Menurut para ahli makrifat Ahlul Bait, setiap mukmin hendaknya berada pada salah satu dari dua keadaan:
* menjadi penyampai ilmu sesuai kemampuannya, atau
* menjadi pencari ilmu yang rendah hati.
Yang tercela adalah tidak mau belajar dan tidak mau mengajarkan kebenaran.
Makrifat menurut Ahlul Bait
Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait, ilmu adalah nur (cahaya) yang Allah letakkan dalam hati orang yang dikehendaki-Nya. Karena itu, seorang alim yang ditaati adalah orang yang membimbing manusia kepada Allah dengan ilmu dan amal, sedangkan murid yang sadar adalah orang yang menerima ilmu dengan adab, menjaga amanahnya, dan mengamalkannya. Hubungan keduanya bukan sekadar hubungan guru dan murid, melainkan hubungan pewarisan cahaya Ilahi yang menyambung dari Rasulullah (ص), melalui Ahlul Bait, hingga kepada para pencari kebenaran di setiap zaman.
Kesimpulannya, sabda Rasulullah ini mengajarkan bahwa kehidupan yang benar-benar bernilai hanya terwujud ketika seseorang menjadi penunjuk jalan menuju Allah melalui ilmu yang diamalkan, atau menjadi pencari jalan menuju Allah melalui ilmu yang diterima dengan kesadaran, adab, dan ketulusan.
Dalam dua keadaan itulah kehidupan memperoleh keberkahan, makna, dan kedekatan dengan Allah.
قال خاتم النبيين محمد (ص): لا خيرَ في العَيش إلا لِرَجُلَين: عالمٌ مُطاع، أو مُسْتَمِع واع
اللهم صل على محمد وآله وارزقنا علما نافعا، وعملا زاكيا.
Makna dari ungkapan tersebut:
1, Keutamaan ilmu; Kehidupan menjadi bernilai apabila dibangun di atas ilmu, bukan kebodohan.
2, Tanggung jawab ulama; Seorang alim tidak cukup hanya berilmu, tetapi ilmunya harus menjadi petunjuk yang diikuti karena kebenaran dan akhlaknya.
3, Keutamaan murid yang baik; Orang yang belum menjadi alim tetap memperoleh kemuliaan apabila menjadi pendengar yang sungguh-sungguh memahami dan mengamalkan ilmu.
4, Pentingnya ketaatan kepada kebenaran; Kata مُطَاع (ditaati) menunjukkan bahwa ilmu yang benar seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan.
5, Belajar dengan kesadaran; واعٍ berarti mendengar dengan hati yang hadir, memahami, menghafal, merenungkan, lalu mengamalkan.
6, Sinergi guru dan murid; Kemajuan agama dan masyarakat lahir dari hubungan yang harmonis antara guru yang membimbing dan murid yang mau belajar.
7, Ilmu harus diamalkan; Seorang alim tanpa pengaruh atau murid tanpa pengamalan belum mencapai tujuan ilmu.
8, Nilai hidup diukur dari manfaat Hidup yang baik bukan diukur oleh harta atau kedudukan, tetapi oleh manfaat ilmu yang diberikan atau diterima.
9, Kerendahan hati dalam menuntut ilmu; Tidak semua orang harus menjadi ulama; menjadi pendengar yang rendah hati dan terus belajar juga merupakan kemuliaan besar.
10. Ajakan menuju peningkatan diri
Ungkapan ini mengajak setiap orang untuk memilih salah satu jalan kemuliaan:
* menjadi alim yang mengajarkan dan membimbing, atau
* menjadi penuntut ilmu yang mendengar, memahami, dan mengamalkan.
Makna spiritual (makrifat)
Dalam perspektif makrifat, ungkapan ini juga menunjukkan dua maqam:
* ‘Ālim Muṭā’ (عالم مطاع): hati yang dipenuhi cahaya ilmu sehingga menjadi pembimbing menuju Allah.
* Mustami’ Wā’in (مستمع واع): hati yang bersih, siap menerima cahaya hikmah, lalu menjadikannya amal. Sebelum seseorang layak menjadi pembimbing, ia harus terlebih dahulu menjadi pendengar yang benar.
Karena itu, ungkapan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan hidup terletak pada berputarnya cahaya ilmu: ilmu yang diajarkan dengan ikhlas dan ilmu yang diterima dengan hati yang sadar. Selama dua peran ini hidup dalam suatu masyarakat, ilmu akan terus diwariskan dan menjadi sebab kemajuan, persatuan, dan kedekatan kepada Allah.
Menurut Al-Qur’an, makna ungkapan ini sejalan dengan banyak ayat tentang ilmu, hikmah, dan pentingnya mendengar serta mengikuti petunjuk.
Berikut 10 maknanya menurut Al-Qur’an:
1. Kemuliaan ilmu berasal dari Allah
Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu
“….Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” QS. Al-Mujādilah [58]: 11.
Makna: Hidup yang baik adalah hidup yang dipenuhi ilmu yang mendekatkan kepada Allah.
2. Orang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu ; “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”QS. Az-Zumar [39]: 9
Makna: Al-Qur’an menegaskan keutamaan seorang alim dibandingkan kebodohan.
3. Mendengar dengan hati adalah sifat orang beriman; “Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.”
QS. Az-Zumar [39]: 17–18
Makna: Mustami’ wā’in adalah orang yang mendengar, menimbang, lalu mengikuti yang paling benar.
4. Ilmu harus diamalkan ; Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kemudian mereka tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab.”QS. Al-Jumu’ah [62]: 5
Makna: Seorang alim harus mengamalkan ilmunya agar menjadi ‘ālim muṭā’.
5. Bertanyalah kepada ahlinya;”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” QS. An-Naḥl [16]: 43; QS. Al-Anbiyā’ [21]: 7
Makna: Al-Qur’an mengajarkan adanya hubungan antara guru yang berilmu dan murid yang mencari ilmu.
6. Pendengaran adalah amanah “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” QS. Al-Isrā’ [17]: 36. Makna: Mendengar ilmu harus disertai kesadaran dan tanggung jawab.
7. Orang yang tidak mau mendengar kehilangan petunjuk.”Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami… mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.” QS. Al-A’rāf [7]: 179
Makna: Mendengar tanpa memahami bukanlah sifat orang yang memperoleh hidayah.
8. Hikmah adalah karunia terbesar
“Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” QS. Al-Baqarah [2]: 269. Makna: Seorang alim sejati adalah yang memiliki hikmah, bukan sekadar banyak pengetahuan.
9. Taat kepada pemimpin yang berpegang pada petunjuk Allah
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu.” QS. An-Nisā’ [4]: 59. Makna: Muṭā’ (ditaati) menunjukkan ketaatan kepada pemimpin yang memimpin berdasarkan wahyu dan kebenaran.
10. Tujuan ilmu adalah semakin takut kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” QS. Fāṭir [35]: 28. Makna: Puncak ilmu bukan sekadar mengetahui, tetapi melahirkan khasy-yah (rasa takut dan tunduk kepada Allah).
Kesimpulan menurut Al-Qur’an
Ungkapan ini dapat diringkas dalam tiga prinsip Al-Qur’an:
1, Jadilah orang yang berilmu dan membimbing manusia kepada Allah.
2, Jika belum menjadi alim, jadilah pendengar yang sadar, mau belajar, memahami, dan mengamalkan.
3, Ilmu yang benar melahirkan amal, hikmah, dan ketakwaan, sehingga kehidupan menjadi penuh keberkahan dan memperoleh kebaikan di dunia serta akhirat.
Ungkapan: لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
“Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar yang sadar dan memahami.” Dalam riwayat-riwayat yang dinukil dari Ahlul Bait (a.s.), tema ini sangat ditekankan.
Berikut 10 makna menurut hadis Ahlul Bait:
1, Ilmu adalah sumber kehidupan hati.
Diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib as. Ilmu adalah kehidupan hati dari kebodohan.”
Makna: Kehidupan yang baik bukan hanya hidup jasmani, tetapi hidupnya hati dengan ilmu.
2. Nilai manusia ditentukan oleh ilmunya.
Dari Imam Ali bin Abi Thalib: “Nilai setiap orang adalah sesuai dengan apa yang ia kuasai (ilmunya).” Makna: Kemuliaan seseorang bukan pada harta atau nasab, tetapi pada ilmu dan amalnya.
3. Jadilah alim atau penuntut ilmu
Diriwayatkan dari Imam Ja’far al-Shadiq as . Jadilah seorang alim, atau penuntut ilmu, atau pencinta mereka; jangan menjadi golongan keempat, karena engkau akan binasa.”
Makna: Hadis ini memperluas makna ungkapan tersebut: minimal seseorang mencintai majelis ilmu dan ahlinya.
4. Mendengar ilmu dengan kesadaran adalah ibadah.
Dari Imam Muhammad al-Baqir as: “Satu bab ilmu yang dipelajari lebih baik daripada seribu rakaat salat sunah.”
Makna: Mendengar dan memahami ilmu merupakan ibadah yang sangat agung.
5. Ilmu harus disertai amal
Dari Imam Ali bin Abi Thalib as : “Ilmu memanggil amal; jika amal menjawab, ilmu tetap, jika tidak, ilmu akan pergi.”
Makna: Alim sejati adalah yang mengamalkan ilmunya.
6. Wadah ilmu adalah hati yang bersih.
Dari Imam Ja’far al-Shadiq as:
“Ilmu bukan karena banyak belajar, tetapi cahaya yang Allah letakkan dalam hati orang yang Dia kehendaki.”
Makna: Mustami’ wā’in bukan hanya mendengar dengan telinga, tetapi menerima cahaya ilmu dengan hati yang suci.
7. Menghidupkan ajaran Ahlul Bait melalui ilmu.
Dari Imam Ali al-Ridha: “Semoga Allah merahmati orang yang menghidupkan urusan kami.”
“Ketika ditanya bagaimana caranya, beliau menjawab:”Ia mempelajari ilmu kami dan mengajarkannya kepada manusia.”Makna: Alim yang mengajarkan ilmu Ahlul Bait termasuk orang yang menghidupkan agama.
8. Diam untuk mendengar lebih baik daripada berbicara tanpa ilmu
Dari Imam Ali bin Abi Thalib as: “Tidak ada kebaikan dalam berbicara tanpa ilmu.”
Makna: Lebih mulia menjadi pendengar yang sadar daripada berbicara tanpa dasar.
9. Hikmah adalah tujuan ilmu
Dari Imam Hasan al-Askari as: “Orang yang paling zuhud adalah yang meninggalkan yang haram, dan orang yang paling tekun beribadah adalah yang menunaikan kewajiban.”
Makna: Ilmu sejati menghasilkan hikmah, takwa, dan akhlak, bukan sekadar pengetahuan.
10. Imam sebagai alim yang wajib diikuti.
Dalam banyak riwayat Ahlul Bait ditegaskan bahwa para Imam adalah penjaga ilmu Rasulullah ﷺ dan penafsir Al-Qur’an.
Makna: Pada tingkat tertinggi, ‘ālim muṭā’ adalah Imam yang ditunjuk Allah sebagai pembimbing umat. Pada tingkat berikutnya adalah para ulama yang setia kepada Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan ajaran Ahlul Bait serta membimbing manusia dengan ilmu dan ketakwaan.
Kesimpulan menurut hadis Ahlul Bait; Dalam perspektif Ahlul Bait (a.s.), ungkapan ini mengandung tiga tingkatan:
1, Alim yang ditaati: orang yang memiliki ilmu, amal, hikmah, dan membimbing manusia menuju Allah.
2, Pendengar yang sadar: penuntut ilmu yang mendengar dengan hati, memahami, lalu mengamalkan.
Hubungan guru–murid adalah jalan pewarisan cahaya ilmu Rasulullah ﷺ. Ilmu bukan sekadar informasi, melainkan nūr (cahaya) yang menyucikan hati, meluruskan amal, dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
Ungkapan: لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
“Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar yang sadar dan memahami.”
Meskipun ungkapan ini bukan ayat Al-Qur’an, para mufasir ketika menafsirkan ayat-ayat tentang ilmu, hikmah, dan adab menuntut ilmu menjelaskan makna yang sejalan dengannya.
Berikut 10 makna menurut para mufasir:
1. Ilmu adalah cahaya yang menghidupkan manusia
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat-ayat seperti QS. Az-Zumar: 9
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah cahaya yang membedakan orang yang mendapat petunjuk dari orang yang hidup dalam kegelapan kebodohan.
Makna: Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang diterangi ilmu.
2. Alim adalah pembimbing umat
Dalam tafsir QS. An-Naḥl: 43
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,
(“bertanyalah kepada ahlul dzikr”), para mufasir menjelaskan bahwa orang berilmu menjadi rujukan masyarakat dalam urusan agama.
Makna: ‘Ālim muṭā’ ialah orang yang ditaati karena ilmunya yang benar, bukan karena kekuasaan atau popularitas.
3. Pendengar yang baik adalah pencari kebenaran. Menafsirkan QS. Az-Zumar: 18,
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. para mufasir menerangkan bahwa orang beriman mendengar berbagai perkataan, lalu memilih yang paling benar berdasarkan wahyu.
Makna: Mustami’ wā’in adalah pendengar yang kritis, bijaksana, dan berpegang pada kebenaran.
4. Ilmu harus melahirkan amal
Dalam menafsirkan QS. Al-Jumu’ah: ayat 5, ; مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ
يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ
بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ
وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
para mufasir menegaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan tidak memberi manfaat.
Makna: Seorang alim sejati adalah yang mengamalkan ilmunya sebelum mengajarkannya.
5. Hikmah adalah tujuan ilmu
Dalam tafsir QS. Al-Baqarah: 269,
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
para mufasir menjelaskan bahwa hikmah adalah kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai petunjuk Allah.
Makna: Alim yang ditaati bukan hanya berpengetahuan luas, tetapi juga berhikmah.
6. Mendengar dengan hati lebih utama daripada sekadar mendengar dengan telinga
Ketika menafsirkan ayat-ayat tentang pendengaran, seperti QS. Al-A’rāf: 179, : وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ
وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. para mufasir membedakan antara mendengar secara fisik dan menerima dengan hati.
Makna: Wā’in berarti memahami, menghayati, lalu mengamalkan.
7. Ketaatan kepada alim dibatasi oleh kebenaran.
Dalam menafsirkan QS. An-Nisā’: 59,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
para mufasir menjelaskan bahwa ketaatan kepada manusia berlaku selama tidak bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya.
Makna: Muṭā’ berarti ditaati karena membawa petunjuk Allah, bukan ditaati secara mutlak dalam segala hal.
8. Derajat ilmu diukur dengan ketakwaan;
Dalam tafsir QS. Fāṭir: 28, ; وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ
أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
para mufasir menerangkan bahwa ulama sejati adalah mereka yang semakin mengenal Allah sehingga semakin takut (khasy-yah) kepada-Nya.
Makna: Ilmu tanpa ketakwaan belum mencapai kesempurnaan.
9. Pewarisan ilmu menjaga agama
Menafsirkan ayat-ayat dakwah dan tabligh, para mufasir menjelaskan bahwa agama tetap hidup melalui proses belajar, mengajar, dan penyampaian ilmu dari generasi ke generasi.
Makna: Kehidupan masyarakat bergantung pada kesinambungan antara guru dan murid.
10. Keberuntungan manusia terletak pada penerimaan terhadap petunjuk.
Dalam menafsirkan banyak ayat tentang hidayah, para mufasir menjelaskan bahwa manusia terbagi antara yang menerima petunjuk dan yang berpaling darinya.
Makna: Ungkapan ini merangkum bahwa manusia yang memperoleh kebaikan adalah:
* orang yang menyampaikan petunjuk dengan ilmu, atau
* orang yang menerima petunjuk dengan hati yang sadar.
Kesimpulan menurut para mufasir
Para mufasir menjelaskan bahwa inti ajaran Al-Qur’an tentang ilmu adalah:
1. Ilmu merupakan cahaya yang menghidupkan hati.
2. Alim yang benar adalah yang berilmu, beramal, berhikmah, dan membimbing kepada Allah.
3. Penuntut ilmu yang baik adalah yang mendengar dengan hati, memahami, lalu mengamalkan.
4. Hubungan antara guru dan murid adalah salah satu sarana utama Allah dalam menjaga agama, menyebarkan hikmah, dan mewariskan petunjuk kepada setiap generasi.
Ungkapan: لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
“Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar yang sadar dan memahami.”
Menurut mufasir Ahlul Bait, makna ungkapan ini dipahami melalui tafsir ayat-ayat Al-Qur’an tentang ilmu (العلم), hikmah (الحكمة), ulul albab, ahlul dzikr, dan imam sebagai pembimbing umat.
Berikut 10 maknanya:
1. Alim yang ditaati adalah pewaris ilmu para nabi
Dalam tafsir Ahlul Bait terhadap QS. An-Naḥl [16]: 43 (“Fas’alū ahla al-dzikr…”), dijelaskan bahwa pada tingkat tertinggi Ahl al-Dzikr adalah Rasulullah ﷺ dan Ahlul Baitnya, sementara pada tingkat berikutnya mencakup orang-orang yang benar-benar mewarisi ilmu mereka.
Makna: Alim yang ditaati adalah yang membimbing manusia dengan ilmu wahyu, bukan dengan hawa nafsu.
2. Ilmu adalah cahaya Ilahi
Dalam tafsir Ahlul Bait terhadap QS. Az-Zumar [39]: 9, ilmu dipahami bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai nūr (cahaya) yang Allah letakkan dalam hati hamba-Nya.
Makna: Kehidupan menjadi baik ketika hati diterangi cahaya ilmu.
3. Pendengar yang sadar adalah pencari kebenaran. Dalam tafsir QS. Az-Zumar [39]: 18:”Mereka mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.”
Dijelaskan bahwa orang beriman mendengar dengan akal, hati, dan fitrah, lalu memilih yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Makna: Mustami’ wā’in bukan sekadar mendengar, tetapi memahami secara mendalam.
4. Ilmu harus melahirkan ma’rifah
Dalam tafsir QS. Fāṭir [35]: 28: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” Para mufasir Ahlul Bait menjelaskan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan khasy-yah (rasa tunduk kepada Allah).
Makna: Semakin tinggi ilmu, semakin besar kerendahan hati kepada Allah.
5. Imam adalah guru terbesar umat
Dalam tafsir ayat-ayat tentang ulil amri dan imam, para mufasir Ahlul Bait menjelaskan bahwa Imam yang ma’shum merupakan penafsir autentik Al-Qur’an dan penjaga ajaran Nabi ﷺ.
Makna: Pada tingkatan tertinggi, ‘ālim muṭā’ adalah Imam yang ditetapkan Allah sebagai pembimbing umat.
6. Hikmah adalah buah ilmu
Dalam tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 269, hikmah dipahami sebagai kemampuan memahami rahasia syariat dan mengamalkannya dengan benar.
Makna: Alim sejati bukan hanya mengetahui hukum, tetapi juga memahami tujuan dan hikmahnya.
7. Ilmu menjaga kehidupan umat
Dalam penafsiran ayat-ayat dakwah dan tabligh, para mufasir Ahlul Bait menjelaskan bahwa keberlangsungan agama bergantung pada transmisi ilmu dari guru kepada murid.
Makna: Guru dan murid adalah dua pilar yang menjaga agama tetap hidup.
8. Mendengar adalah adab menuju ilmu.
Dalam tafsir ayat-ayat tentang pendengaran dan hati, dijelaskan bahwa ilmu masuk ke hati melalui adab: mendengar, merenung, memahami, kemudian mengamalkan.
Makna: Orang yang tidak memiliki adab dalam belajar sulit memperoleh keberkahan ilmu.
9. Ilmu tanpa wilayah tidak sempurna.
Dalam sebagian penjelasan tafsir Ahlul Bait terhadap ayat-ayat tentang ketaatan kepada Allah, Rasul, dan pemimpin yang ditunjuk-Nya, ilmu harus berjalan bersama wilayah (kesetiaan kepada kepemimpinan Ilahi).
Makna: Ilmu menjadi jalan menuju Allah apabila tetap berada dalam bimbingan wahyu dan para pembimbing yang sah.
10. Tujuan ilmu adalah mendekat kepada Allah.
Seluruh tafsir Ahlul Bait menekankan bahwa ilmu bukan tujuan akhir, tetapi sarana menuju pengenalan (ma’rifah), penyucian jiwa, dan kedekatan dengan Allah.
Makna: Hidup yang baik adalah hidup yang dipenuhi ilmu yang menumbuhkan iman, amal saleh, akhlak mulia, dan ma’rifah kepada Allah.
Kesimpulan menurut mufasir Ahlul Bait;
Dalam perspektif tafsir Ahlul Bait, ungkapan ini menggambarkan dua golongan yang memperoleh keberkahan hidup:
1, Ālim Muṭā’: pembimbing yang mewarisi ilmu Rasulullah ﷺ, mengajarkan Al-Qur’an dengan hikmah, mengamalkan ilmunya, dan membimbing manusia kepada Allah.
2, Mustami’ Wā’in: penuntut ilmu yang memiliki adab, mendengar dengan hati yang bersih, memahami dengan akal yang jernih, mengamalkan ilmunya, lalu menyebarkannya dengan amanah.
Dengan demikian, menurut mufasir Ahlul Bait, kebaikan hidup bukan terletak pada banyaknya usia, harta, atau kedudukan, melainkan pada keterhubungan seseorang dengan cahaya ilmu Ilahi—baik sebagai penyampai ilmu yang benar maupun sebagai penerima ilmu yang tulus dan sadar.
Ungkapan: لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ:
عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar yang sadar dan memahami.”
Menurut para ahli makrifat, ungkapan ini tidak hanya berbicara tentang guru dan murid secara lahiriah, tetapi juga tentang perjalanan ruh menuju Allah. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang menjadi cahaya (nūr), menyucikan hati, dan menghantarkan kepada ma’rifatullah.
Berikut 10 makna menurut ahli makrifat:
1. Alim adalah orang yang mengenal Allah (ʿĀrif Billāh).
Dalam pandangan makrifat, ’ālim bukan sekadar banyak hafalan, tetapi orang yang telah mengenal Allah melalui penyucian jiwa (tazkiyat an-nafs).
Makna: Ilmu tertinggi adalah mengenal Allah, bukan sekadar mengetahui tentang Allah.
2. Mustami’ adalah hati yang siap menerima cahaya;
Pendengar sejati bukan telinga, tetapi hati.
Allah mengisyaratkan:Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan.” (QS. Qāf: 37)
Makna: Hati yang hadir menjadi wadah turunnya cahaya hikmah.
3. Ilmu adalah cahaya, bukan sekadar informasi.
Para ahli makrifat sering mengutip makna bahwa:”Ilmu adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati hamba-Nya.”
Makna: Hakikat ilmu adalah cahaya yang menghidupkan ruh.
4. Taat kepada alim berarti taat kepada kebenaran.
Dalam makrifat, muṭā’ berarti ditaati karena memantulkan cahaya Rasulullah ﷺ, bukan karena kedudukan atau popularitas.
Makna: Guru sejati mengajak murid kepada Allah, bukan kepada dirinya.
5. Mendengar adalah maqam spiritual.
Mendengar (samā’) merupakan salah satu adab ruhani.
Pendengar yang sadar:
* mendengar dengan telinga,
* memahami dengan akal,
* menerima dengan hati,
* mengamalkan dengan anggota badan.
Makna: Inilah hakikat mustami’ wā’in.
6. Kehidupan yang baik adalah hidupnya hati.
Ahli makrifat membedakan:
* hidup jasad,
* hidup akal,
* hidup hati.
Makna: Yang dimaksud “tidak ada kebaikan dalam hidup” adalah apabila hati mati dari cahaya Allah.
7. Guru dan murid adalah dua cermin.
Dalam perjalanan suluk:
*guru memantulkan cahaya hikmah,
*murid memantulkan kerendahan hati.
Makna: Tanpa adab murid, cahaya ilmu sulit menetap.
8. Ilmu sejati melahirkan fana dari kesombongan.
Semakin tinggi makrifat seseorang, semakin hilang rasa “aku”. Alim sejati tidak melihat dirinya sebagai sumber ilmu, tetapi hanya sebagai perantara karunia Allah. Makna: Buah ilmu adalah tawaduk, bukan kebanggaan.
9. Semua manusia berada di antara mengajar dan belajar.
Dalam pandangan makrifat:
* ketika Allah membuka hikmah kepada seseorang, ia menjadi guru.
* ketika Allah membuka rahasia baru, ia kembali menjadi murid.
Makna: Seorang arif selalu menjadi murid di hadapan Allah.
10. Hakikat kedua golongan kembali kepada Allah
Pada puncak makrifat:
* Alim menyampaikan cahaya Allah.
* Mustami’ menerima cahaya Allah.
Keduanya hanyalah jalan bagi tajalli (manifestasi) rahmat dan hidayah Allah.
Makna: Yang mengajar, yang belajar, ilmu, dan hikmah seluruhnya berasal dari Allah.
Kesimpulan makrifat
Menurut para ahli makrifat, ungkapan ini menunjukkan dua maqam ruhani:
1, Maqam al-Irsyād (maqam membimbing) — menjadi hamba yang Allah jadikan perantara cahaya-Nya untuk membimbing makhluk.
2, Maqam al-Talaqqī (maqam menerima) — menjadi hamba yang membersihkan hati agar layak menerima limpahan cahaya Ilahi.
Dalam perspektif ini, tujuan akhirnya bukan sekadar menjadi orang yang mengajar atau orang yang belajar, melainkan menjadi hamba yang selalu berada dalam aliran cahaya ilmu Allah. Ketika hati dipenuhi cahaya tersebut, ilmu berubah menjadi hikmah, hikmah menjadi ma’rifah, dan ma’rifah melahirkan kedekatan (qurb) kepada Allah.
Ungkapan: لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
“Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar yang sadar.”
Dalam perspektif ahli hakikat Ahlul Bait, ungkapan ini dipahami bukan hanya sebagai hubungan lahiriah antara guru dan murid, tetapi sebagai jalan wilayah (wilāyah), ma’rifah, dan penyucian jiwa.
Penjelasan berikut merupakan sintesis dari tradisi irfani (gnostik) yang berkembang dalam khazanah Ahlul Bait dan tidak selalu merupakan penafsiran eksplisit dari satu riwayat tertentu.
1. Alim yang hakiki adalah hujjah Allah. Pada tingkat hakikat, ‘ālim muṭā’ pertama dan paling sempurna adalah Rasulullah ﷺ, kemudian para Imam Ahlul Bait (a.s.) sebagai pembimbing yang menjaga agama dengan ilmu Ilahi.
Makna: Semua ilmu yang benar bersumber dari cahaya kenabian dan wilayah.
2. Ilmu adalah cahaya wilayah
Menurut tradisi irfani Ahlul Bait, ilmu sejati bukan sekadar konsep, tetapi nūr yang menghubungkan hati dengan Allah melalui jalan para wali-Nya.
Makna: Ilmu tanpa cahaya wilayah belum mencapai hakikatnya.
3. Mustami’ wā’in adalah hati yang menjadi wadah tajalli. Pendengar sejati adalah hati yang bersih dari kesombongan, dengki, dan hawa nafsu sehingga mampu menerima limpahan hikmah.
Makna: Hakikat mendengar adalah menerima cahaya kebenaran.
4. Ketaatan yang dimaksud adalah kepada kebenaran Ilahi
Kata مُطَاع (muṭā’) dipahami sebagai ditaati karena membawa manusia kepada Allah.
Makna: Ketaatan kepada seorang pembimbing tidak bersifat mutlak sebagai pribadi, tetapi karena ia membimbing sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
5. Hakikat hidup adalah hidupnya hati. Dalam irfan Ahlul Bait, kehidupan sejati bukan hanya kehidupan jasmani, tetapi hidupnya qalb dengan zikir, ilmu, dan ma’rifah.
Makna: Hati yang jauh dari Allah dipandang sebagai hati yang kehilangan kehidupan ruhani.
6. Guru dan murid dipersatukan oleh adab. Para arif dari tradisi Ahlul Bait menekankan bahwa ilmu mengalir melalui adab, keikhlasan, dan kerendahan hati.
Makna: Adab menjadi sebab turunnya keberkahan ilmu.
7. Ilmu yang hakiki melahirkan akhlak. Ukuran keberhasilan ilmu bukan banyaknya hafalan, tetapi perubahan akhlak dan penyucian jiwa.
Makna: Semakin dalam hakikat ilmu, semakin tampak sifat rahmah, sabar, tawaduk, dan amanah.
8. Semua mukmin berjalan antara maqam belajar dan membimbing
Dalam perjalanan menuju Allah, seseorang selalu menjadi murid di hadapan ilmu Allah. Ketika Allah memberinya hikmah yang bermanfaat, ia dapat menjadi pembimbing bagi orang lain sesuai kadar ilmunya.
Makna: Perjalanan ruhani adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.
9. Tujuan ilmu adalah ma’rifatullah
Hakikat ilmu bukan untuk memperoleh kedudukan atau perdebatan, tetapi untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, dan beribadah dengan ikhlas.
Makna: Ilmu yang tidak mendekatkan kepada Allah belum mencapai tujuan tertingginya.
10. Dua golongan ini melambangkan aliran cahaya Ilahi
Dalam perspektif hakikat:
* Alim menjadi saluran penyampaian cahaya ilmu.
* Mustami’ menjadi penerima cahaya ilmu.
Keduanya dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu mengabdi kepada Allah dan menjaga kesinambungan hidayah.
Kesimpulan menurut ahli hakikat Ahlul Bait
Ungkapan ini menggambarkan dua maqam utama dalam perjalanan spiritual:
1, Maqam al-Irsyād (membimbing): menyampaikan ilmu dengan ikhlas, hikmah, dan akhlak.
2, Maqam al-Talaqqī (menerima): belajar dengan hati yang bersih, adab, dan kesiapan untuk mengamalkan.
Dalam pandangan hakikat Ahlul Bait, seluruh perjalanan ini bermuara pada wilayah Allah. Rasulullah ﷺ dan para Imam Ahlul Bait (a.s.) dipandang sebagai teladan tertinggi dalam ilmu dan hidayah, sementara setiap mukmin dipanggil untuk mengambil bagian dalam rantai cahaya tersebut—baik sebagai penuntut ilmu yang tulus maupun sebagai penyampai ilmu yang amanah sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.
Kisah dan cerita yang menggambarkan makna ungkapan:
لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ: عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
“Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar yang sadar.”
Dalam perspektif Al-Qur’an, Sunnah, dan riwayat Ahlul Bait, kisah-kisah berikut menunjukkan pentingnya ilmu dan adab dalam menerimanya.
1. Nabi Adam (a.s.) diajarkan nama-nama.
Allah mengajarkan kepada Nabi Adam (a.s.) nama-nama segala sesuatu, lalu Adam menyampaikannya di hadapan para malaikat. Hikmah:
* Allah adalah Guru pertama.
* Adam menjadi alim karena menerima ilmu dari Allah.
* Malaikat menjadi mustami’ yang menerima kebenaran dengan penuh ketundukan.
2. Nabi Musa (a.s.) berguru kepada Nabi Khidir (a.s.)
Dalam Surah Al-Kahfi, Nabi Musa yang telah menjadi nabi tetap belajar kepada Nabi Khidir.
Hikmah:
* Orang yang berilmu tetap membutuhkan guru.
* Seorang murid harus bersabar sebelum memahami hikmah.
* Adab lebih dahulu daripada pengetahuan.
3. Rasulullah ﷺ mengajarkan para sahabat di Suffah.
Para penghuni Suffah hidup sederhana di Masjid Nabawi untuk mempelajari Al-Qur’an dan sunnah langsung dari Rasulullah ﷺ.
Hikmah:
* Rasulullah ﷺ menjadi ‘ālim muṭā’.
* Para sahabat menjadi mustami’ wā’in yang mendengar, menghafal, dan mengamalkan ilmu.
4. Imam Ali bin Abi Thalib as dan murid-muridnya.
Imam Ali dikenal sebagai “Gerbang Ilmu”. Beliau mendidik para sahabat dan murid dengan hikmah, keadilan, dan akhlak.
Hikmah: Ilmu menjadi hidup apabila diajarkan dengan kebijaksanaan dan diamalkan.
5. Imam Muhammad al-Baqir as membuka majelis ilmu;
Pada masanya, beliau membuka majelis ilmu yang dihadiri banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah. Hikmah: Majelis ilmu menjadi tempat lahirnya generasi ulama yang menjaga agama.
6. Imam Ja’far al-Shadiq as mendidik ribuan murid;
Banyak ulama dan ahli ilmu belajar kepada Imam Ja’far al-Shadiq dalam bidang tafsir, hadis, fikih, akhlak, bahkan ilmu alam.
Hikmah: Guru yang ikhlas akan melahirkan murid-murid yang menyebarkan manfaat ke berbagai penjuru.
7. Kisah Kumayl bin Ziyad ra
Kumayl senantiasa mengikuti Imam Ali as untuk memperoleh hikmah. Dari hubungan guru dan murid ini lahirlah doa yang masyhur, yaitu Doa Kumayl.
Hikmah: Kesetiaan seorang murid kepada gurunya membuka pintu hikmah dan ma’rifah.
8. Hisham bin al-Hakam
Hisham adalah murid muda Imam Ja’far al-Shadiq as yang tekun belajar hingga mampu membela akidah Islam dengan argumentasi yang kuat.
Hikmah: Pendengar yang baik dapat tumbuh menjadi pembela kebenaran.
9. Sayyidah Zainab binti Ali as di Kufah dan Syam. Setelah tragedi Karbala, Sayyidah Zainab as menyampaikan khutbah yang membangkitkan kesadaran umat. Beliau menyampaikan ilmu, sementara orang-orang yang hatinya terbuka menerima pelajaran.
Hikmah: Ilmu yang disampaikan dengan keberanian mampu menghidupkan hati yang lalai.
10. Para penuntut ilmu sepanjang sejarah. Banyak ulama besar memulai perjalanan mereka sebagai murid yang tekun mendengar, mencatat, menghafal, dan mengamalkan sebelum akhirnya menjadi guru bagi generasi berikutnya.
Hikmah: Setiap alim yang besar pernah menjadi mustami’ wā’in. Tidak ada jalan menuju kepemimpinan ilmiah tanpa kerendahan hati untuk belajar.
Kesimpulan;
Kesepuluh kisah ini menunjukkan satu sunnatullah yang terus berulang:
* Allah memberikan ilmu kepada para nabi dan para pembimbing yang lurus.
* Para pembimbing menyampaikan ilmu dengan amanah.
* Para pencari ilmu menerimanya dengan adab, kesungguhan, dan pengamalan.
* Ilmu kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, makna ungkapan “Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati atau seorang pendengar yang sadar” tampak nyata dalam sejarah para nabi, Rasulullah ﷺ, Ahlul Bait (a.s.), para sahabat yang saleh, dan para penuntut ilmu sepanjang zaman. Kebaikan hidup terjaga ketika cahaya ilmu terus berpindah dari hati yang tercerahkan kepada hati yang siap menerimanya.
Ungkapan:
لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ: عَالِمٌ مُطَاعٌ، أَوْ مُسْتَمِعٌ وَاعٍ
“Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi dua golongan: seorang alim yang ditaati, atau seorang pendengar yang sadar dan memahami.” Ungkapan ini bukan doa yang secara khusus diriwayatkan untuk dibaca sebagai wirid, tetapi kandungannya dapat dijadikan pedoman dalam berdoa dan memohon kepada Allah agar dianugerahi ilmu yang bermanfaat serta hati yang menerima petunjuk.
10 manfaat mengamalkan makna ungkapan ini
1. Menumbuhkan kecintaan kepada ilmu. Seseorang terdorong untuk menjadikan belajar sebagai bagian dari ibadah sepanjang hidup.
2. Memperoleh ilmu yang bermanfaat. Fokus bukan sekadar memperbanyak pengetahuan, tetapi memperoleh ilmu yang mendekatkan kepada Allah dan memperbaiki akhlak.
3. Menumbuhkan tawaduk
Ungkapan ini mengajarkan bahwa sebelum menjadi guru, seseorang harus menjadi murid yang baik dan mau terus belajar.
4. Memperbaiki adab terhadap guru
Menghormati guru yang amanah dan menghargai ilmu menjadi sebab datangnya keberkahan dalam belajar.
5. Menjaga dari kesombongan intelektual. Seseorang menyadari bahwa seluruh ilmu adalah karunia Allah sehingga tidak mudah membanggakan diri.
6. Memudahkan memahami Al-Qur’an dan hadis.Hati yang bersih dan mau mendengar lebih mudah menerima hikmah dari wahyu.
7. Menjadi sebab tersebarnya kebaikan. Ilmu yang diamalkan dan diajarkan akan memberi manfaat kepada keluarga, masyarakat, dan generasi berikutnya.
8. Mendekatkan kepada Ahlul Bait (a.s.) Dalam tradisi Ahlul Bait, menuntut ilmu dengan adab merupakan jalan untuk mengenal ajaran Rasulullah ﷺ dan keluarganya secara lebih mendalam.
9. Menumbuhkan hikmah dalam berbicara. Seseorang belajar kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus mendengar.
10. Menjadi bekal menuju akhirat
Ilmu yang bermanfaat termasuk amal yang terus mengalir pahalanya selama diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.
Doa memohon ilmu dan hikmah
1. Doa Al-Qur’an: رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Rabbi zidnī ’ilmā.: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
(QS. Ṭāhā: 114)
2. Doa memohon ilmu yang bermanfaat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima.”
3. Doa memohon hikmah;
اللَّهُمَّ هَبْ لِي حِكْمَةً وَنُورًا وَفَهْمًا، وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku hikmah, cahaya, dan pemahaman, serta jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”
4. Doa menurut semangat Ahlul Bait
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، وَارْزُقْنِي قَلْبًا وَاعِيًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memiliki ilmu dan hikmah. Karuniakanlah kepadaku hati yang memahami, lisan yang jujur, dan amal yang ikhlas demi wajah-Mu Yang Maha Mulia.”
Penutup;
Dalam perspektif Al-Qur’an, hadis, dan ajaran Ahlul Bait, hakikat doa dari ungkapan ini adalah memohon agar Allah menjadikan kita termasuk salah satu dari dua golongan yang beruntung:
* menjadi orang yang diberi ilmu, mengamalkannya, dan membimbing orang lain dengan amanah, atau
* menjadi penuntut ilmu yang rendah hati, mendengar dengan hati yang sadar, memahami dengan benar, dan mengamalkan apa yang dipelajari.
Dengan demikian, setiap hari seorang mukmin dapat memohon kepada Allah agar dianugerahi ilmu yang bermanfaat, hikmah yang benar, hati yang sadar (قلب واعٍ), dan kemampuan mengamalkan ilmu dengan ikhlas, karena itulah hakikat kebaikan dalam kehidupan yang dimaksud dalam ungkapan tersebut.
Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!
Comments
Post a Comment