Amalan Syahadah/Wafat Rasulullah saw ; 28 Shofar 11 H
🌹🌺😭Amalan Syahadah/Wafat Rasulullah saw ; 28 Shofar 11 H😭🌺🌹
Amalan untuk mengenang wafat/wafatnya Rasulullah ﷺ menurut riwayat dan tradisi Ahlul Bayt, amalan yang paling baik adalah menggabungkan shalawat, ziarah Nabi, membaca Al-Qur’an, doa, sedekah, dan menghidupkan ajaran beliau.
Amalan mengenang wafat Rasulullah ﷺ
1. Membaca syahadah
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،
وَخَاتَمُ أَنْبِيَائِهِ، وَسَيِّدُ رُسُلِهِ
Asyhadu anna Muḥammadan ʿabdullāhi wa rasūluh, wa khātamu anbiyā’ihi, wa sayyidu rusulih.
“Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, penutup para nabi-Nya dan pemimpin para rasul-Nya.”
2. Membaca shalawat sebanyak-banyaknya
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Sambil menghadirkan rasa cinta, rindu, dan duka atas kepergian Rasulullah ﷺ.
3. Membaca Ziyārah Rasulullah ﷺ
Jika tidak berada di Madinah, seseorang tetap dapat mengucapkan salam kepada beliau:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيبَ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ
“Salam atasmu wahai Rasul Allah. Salam atasmu wahai kekasih Allah. Salam atasmu wahai Muhammad putra Abdullah.”
4. Membaca Al-Qur’an
Bacalah surah Yāsīn, al-Fātiḥah, al-Ikhlāṣ, atau bagian Al-Qur’an yang mudah, kemudian hadiahkan pahalanya kepada Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman.
5. Bersedekah atas nama Rasulullah ﷺ
Memberi makanan, membantu fakir miskin, atau memberi minuman kepada orang lain sambil berniat:
“Ya Allah, sampaikan pahala amal ini kepada Rasulullah Muhammad ﷺ dan jadikan kecintaan kami kepada beliau sebagai sebab kami mengikuti jalannya.”
6. Mengenang akhlak beliau
Ini bagian yang sangat penting. Mengenang wafat Rasulullah bukan hanya menangis atas wafatnya, tetapi menghidupkan sunnah dan akhlaknya: kasih sayang, kejujuran, kesabaran, ibadah, memuliakan orang miskin, dan mencintai Ahlul Bayt.
Doa mengenang wafat Rasulullah ﷺ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، وَأَنَّهُ بَلَّغَ رِسَالَتَكَ، وَنَصَحَ لِأُمَّتِهِ،
وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِكَ حَتَّىٰ أَتَاهُ الْيَقِينُ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّهُ وَحُبَّ أَهْلِ بَيْتِهِ،
وَالثَّبَاتَ عَلَىٰ وَلَايَتِهِمْ، وَالِاقْتِدَاءَ بِهَدْيِهِ وَسُنَّتِهِ.
“Ya Allah, sesungguhnya kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah hamba dan Rasul-Mu. Beliau telah menyampaikan risalah-Mu, menasihati umatnya, dan berjihad di jalan-Mu hingga datang kepadanya keyakinan (kematian). Ya Allah, karuniakan kepada kami kecintaan kepadanya dan kecintaan kepada Ahlul Baytnya, keteguhan dalam wilayah mereka, serta kemampuan mengikuti petunjuk dan sunnahnya.”
Makrifatnya: mengenang wafat Rasulullah ﷺ berarti bukan sekadar mengingat bahwa jasad beliau telah meninggalkan dunia, tetapi bertanya kepada diri: “Apakah risalah Nabi Muhammad saw masih hidup di dalam diriku?”
Hari Wafat/ Syahadahnya
28 Ṣafar dalam tradisi Imamiyah umumnya diperingati sebagai hari syahadah/wafat Rasulullah ﷺ, dan juga hari syahadah Imam Hasan al-Mujtaba عليه السلام menurut riwayat yang masyhur di kalangan ulama. Imam Hasan al-Mujtaba as
Untuk amalan khusus 28 Safar, perlu dibedakan antara amalan yang memiliki riwayat khusus dan amalan umum yang dianjurkan untuk mengenang Rasulullah ﷺ. Berikut susunan amalan yang aman diamalkan:
Amalan 28 Ṣafar
1. Mandi dengan niat penghormatan dan kesucian
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
“Nawaitul-ghusla lit-taqarrubi ilallāhi ta‘ālā.”
Berniat mandi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
2. Membaca shalawat sebanyak-banyaknya
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Boleh memperbanyak 100 kali atau sesuai kemampuan.
3. Membaca ziarah Rasulullah ﷺ
Ziarah Rasul saw
1. Salam kepada Rasulullah ﷺ
السَّلامُ عَلَيْكَ يا رَسُولَ اللهِ
وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكاتُهُ
As-salāmu ‘alaika yā Rasūlallāhi wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Salam sejahtera atasmu, wahai Rasulullah, serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā Muḥammada bna ‘Abdillāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai Muhammad putra Abdullah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا خِيرَةَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā khīratallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai pilihan Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا حَبِيبَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā ḥabīballāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai kekasih Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا صَفْوَةَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā ṣafwatallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai insan pilihan Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا أَمِينَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā amīnallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai kepercayaan Allah.
2. Kesaksian tentang Rasulullah ﷺ
أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ
Asyhadu annaka Rasūlullāh.
Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.
وَأَشْهَدُ أَنَّكَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ
Wa asyhadu annaka Muḥammadubnu ‘Abdillāh.
Dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Muhammad putra Abdullah.
وَأَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ نَصَحْتَ لأُمَّتِكَ
Wa asyhadu annaka qad naṣaḥta li-ummatika.
Dan aku bersaksi bahwa engkau telah memberikan nasihat dan ketulusan kepada umatmu.
وَجاهَدْتَ فِي سَبِيلِ رَبِّكَ
Wa jāhadta fī sabīli Rabbik.
Dan engkau telah berjihad di jalan Tuhanmu.
وَعَبَدْتَهُ حَتَّىٰ أَتاكَ اليَقِينُ
Wa ‘abadtahu ḥattā atākal-yaqīn.
Dan engkau beribadah kepada-Nya hingga datang kepadamu keyakinan (kematian).
فَجَزاكَ اللهُ يا رَسُولَ اللهِ
أَفْضَلَ ما جَزىٰ نَبِيّاً عَنْ أُمَّتِهِ
Fa jazākallāhu yā Rasūlallāhi afḍala mā jazā nabiyyan ‘an ummatih.
Maka semoga Allah membalasmu, wahai Rasulullah, dengan sebaik-baik balasan yang diberikan kepada seorang nabi atas jasa dan pengabdiannya kepada umatnya.
3. Salawat
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
أَفْضَلَ ما صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْراهِيمَ وَآلِ إِبْراهِيمَ
Afḍala mā ṣallaita ‘alā Ibrāhīma wa āli Ibrāhīm.
Dengan sebaik-baik salawat yang Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Innaka ḥamīdum-majīd.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
4. Kesaksian tauhid dan risalah
أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ
Asyhadu an lā ilāha illallāh, waḥdahu lā syarīka lah.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya.
وَأَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُهُ
Wa asyhadu annaka Rasūluh.
Dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan-Nya.
وَأَنَّكَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ
Wa annaka Muḥammadubnu ‘Abdillāh.
Dan bahwa engkau adalah Muhammad putra Abdullah.
وَأَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ رِسالاتِ رَبِّكَ
Wa asyhadu annaka qad ballaghta risālāti Rabbik.
Dan aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah-risalah Tuhanmu.
وَنَصَحْتَ لأُمَّتِكَ
Wa naṣaḥta li-ummatik.
Dan engkau telah memberikan ketulusan dan nasihat kepada umatmu.
وَجاهَدْتَ فِي سَبِيلِ اللهِ
بِالحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ
Wa jāhadta fī sabīlillāhi bil-ḥikmati wal-mau‘iẓatil-ḥasanah.
Dan engkau telah berjihad di jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.
وَأَدَّيْتَ الَّذِي عَلَيْكَ مِنَ الحَقِّ
Wa addaital-ladzī ‘alaika minal-ḥaqq.
Dan engkau telah menunaikan apa yang menjadi kewajibanmu berupa kebenaran dan amanah.
وَأَنَّكَ قَدْ رَؤُفْتَ بِالمُؤْمِنِينَ
Wa annaka qad ra’ūfta bil-mu’minīn.
Dan engkau sungguh sangat penyayang kepada orang-orang mukmin.
وَغَلَظْتَ عَلَىٰ الكافِرِينَ
Wa ghalaẓta ‘alal-kāfirīn.
Dan engkau bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.
وَعَبَدْتَ اللهَ مُخْلِصاً حَتَّىٰ أَتاكَ اليَقِينُ
Wa ‘abadtallāha mukhliṣan ḥattā atākal-yaqīn.
Dan engkau beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan hingga datang kepadamu keyakinan (kematian).
فَبَلَغ اللهُ بِكَ أَشرَفَ مَحَلِّ المُكَرَّمِينَ
Fa ballagha Allāhu bika asyrafa maḥallil-mukarramīn.
Maka Allah telah menempatkanmu pada kedudukan yang paling mulia di antara orang-orang yang dimuliakan.
5. Syukur atas nikmat Rasulullah ﷺ
الحَمْدُ للهِ الَّذِي اسْتَنْقَذَنا بِكَ
مِنَ الشِّرْكِ وَالضَّلالِ
Al-ḥamdu lillāhilladzī istanqadzana bika minasy-syirki waḍ-ḍalāl.
Segala puji bagi Allah yang dengan perantaraanmu telah menyelamatkan kami dari kesyirikan dan kesesatan.
6. Salawat yang panjang
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih.
Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarganya.
وَاجْعَلْ صَلَواتِكَ، وَصَلَواتِ مَلائِكَتِكَ، وَأَنْبيائِكَ وَالمُرْسَلِينَ، وَعِبادِكَ الصَّالِحِينَ، وَأَهْلِ السَّماواتِ وَالأَرَضِينَ
Waj‘al ṣalawātika, wa ṣalawāti malā’ikatika, wa anbiyā’ika wal-mursalīn, wa ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn, wa ahliṣ-samāwāti wal-araḍīn…
Dan jadikanlah salawat-Mu, salawat para malaikat-Mu, para nabi dan rasul-Mu, hamba-hamba-Mu yang saleh, serta penghuni langit dan bumi…
وَمَنْ سَبَّحَ لَكَ يا رَبِّ العالَمِينَ
مِنَ الأَولينَ وَالآخِرِينَ
Wa man sabbaḥa laka yā Rabbal-‘ālamīn minal-awwalīna wal-ākhirīn…
Dan salawat dari semua makhluk yang bertasbih kepada-Mu, wahai Tuhan semesta alam, dari generasi terdahulu maupun yang kemudian…
عَلَىٰ مُحَمَّدٍ عَبْدِك وَرَسُولِكَ، وَنَبِيِّكَ وَأَمِينِكَ
‘Alā Muḥammadin ‘abdika wa rasūlika, wa nabiyyika wa amīnik.
Semoga semuanya tercurah kepada Muhammad, hamba dan utusan-Mu, nabi-Mu dan kepercayaan-Mu.
وَنَجِيبِكَ وَحَبِيبِكَ، وَصَفِيِّكَ وَصَفْوَتِكَ
Wa najībika wa ḥabībik, wa ṣafiyyika wa ṣafwatik.
Yang terpilih dan kekasih-Mu, yang murni dan pilihan-Mu.
وَخاصَّتِكَ وَخالِصَتِكَ، وَخِيَرَتِكَ مِنْ خَلْقِكَ
Wa khāṣṣatika wa khāliṣatik, wa khīratika min khalqik.
Orang khusus dan pilihan-Mu, yang paling terpilih di antara makhluk-Mu.
وأَعْطِهِ الفَضْلَ وَالفَضِيلَةَ
Wa a‘ṭihil-faḍla wal-faḍīlah.
Berikanlah kepadanya keutamaan dan kemuliaan.
وَالوَسِيلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيعَةَ
Wal-wasīlata wad-darajatar-rafī‘ah.
Dan berikanlah kepadanya wasilah serta derajat yang tinggi.
وَابْعَثْهُ مَقاماً مَحْمُوداً
يَغْبِطُهُ بِهِ الأَوَّلُونَ وَالآخرونَ
Wab‘athhu maqāman maḥmūdan yaghbiṭuhū bihil-awwalūna wal-ākhirūn.
Bangkitkanlah dia pada kedudukan yang terpuji, yang membuat orang-orang terdahulu dan kemudian merasa iri atas kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya.
7. Ayat tawassul dan istighfar
اللَّهُمَّ إِنَّكَ قُلتَ
Allāhumma innaka qulta.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman:
﴿وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنَفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحِيماً﴾
Wa lau annahum idz ẓalamū anfusahum jā’ūka fastaghfarullāha wastaghfara lahumur-rasūlu lawajadullāha tawwāban raḥīmā.
“Dan sekiranya ketika mereka menzalimi diri mereka, mereka datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun bagi mereka, niscaya mereka akan mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
إِلهي فَقَدْ أَتَيْتُ نَبِيَّكَ مُسْتَغْفِراً
Ilāhī faqad ataitu nabiyyaka mustaghfiran.
Wahai Tuhanku, sungguh aku telah datang kepada nabi-Mu untuk memohon ampun.
تائِباً مِنْ ذُنُوبِي
Tā’iban min dzunūbī.
Dalam keadaan bertobat dari dosa-dosaku.
فَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَاغْفِرْها لِي
Fa ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālihi waghfirhā lī.
Maka limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan ampunilah dosa-dosaku.
يا سَيِّدَنا، أَتَوَجَّهُ بِكَ وَبأَهْلِ بَيْتِكَ
إِلَىٰ اللهِ تَعَالَىٰ رَبِّكَ وَرَبِّي لِيَغْفِرَ لِي
Yā sayyidanā, atawajjahu bika wa bi-ahli baitika ilallāhi ta‘ālā rabbika wa rabbī liyaghfira lī.
Wahai junjungan kami, aku menghadap kepada Allah Yang Mahatinggi, Tuhanmu dan Tuhanku, dengan perantaraanmu dan Ahlulbaitmu, agar Dia mengampuniku.
8. Istirjā‘
ثُمَّ قُلْ ثلاثاً: إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ راجِعُونَ
Tsummā qul tsalātsan: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Kemudian ucapkan tiga kali:
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.”
9. Mengungkapkan kesedihan atas wafat Rasulullah ﷺ
أُصِبْنا بِكَ يا حَبِيبَ قُلُوبِنا
Uṣibnā bika yā ḥabība qulūbinā.
Kami telah tertimpa musibah dengan wafatmu, wahai kekasih hati kami.
فَما أعْظَمَ المُصِيبَةَ بِكَ
Famā a‘ẓamal-muṣībata bik.
Betapa besar musibah yang kami rasakan karena kepergianmu.
حَيْثُ انْقَطَعَ عَنَّا الوَحْيُ
Ḥaitsu inqaṭa‘a ‘annal-waḥy.
Karena dengan wafatmu, wahyu telah terputus dari kami.
وَحَيْثُ فَقَدْناكَ
Wa ḥaitsu faqadnāk.
Dan karena kami telah kehilanganmu.
فإِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ راجِعُونَ
Fa innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Maka sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.
10. Menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai tuan rumah
يا سَيِّدَنا يا رَسُولَ اللهِ
Yā sayyidanā yā Rasūlallāh.
Wahai junjungan kami, wahai Rasulullah.
صَلَواتُ الله عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرينَ
Ṣalawātullāhi ‘alaika wa ‘alā āli baitikaṭ-ṭāhirīn.
Semoga salawat Allah tercurah kepadamu dan kepada Ahlulbaitmu yang suci.
هذا يَومُ وَهُوَ يَوْمُكَ
Hādzā yaumu wa huwa yaumuk.
Hari ini adalah harimu.
وَأَنا فِيهِ ضَيْفُكَ وَجارُكَ
Wa anā fīhi ḍaifuka wa jāru(k).
Dan pada hari ini aku adalah tamumu dan orang yang berada di dekatmu.
فَأَضِفْنِي وَأَجِرْنِي
Fa aḍifnī wa ajirnī.
Maka terimalah aku sebagai tamumu dan lindungilah aku.
فَإِنَّكَ كَرِيمٌ تُحِبُّ الضِّيافَةَ
Fa innaka karīmun tuḥibbun-ḍiyāfah.
Sesungguhnya engkau adalah seorang yang mulia dan menyukai memuliakan tamu.
وَمأْمُورٌ بِالإِجارَةِ
Wa ma’mūrun bil-ijārah.
Dan engkau diperintahkan untuk memberikan perlindungan.
فَأَضِفْنِي وَأَحْسِنْ ضِيافَتِي
Fa aḍifnī wa aḥsin ḍiyāfatī.
Maka terimalah aku sebagai tamu dan muliakanlah aku dengan sebaik-baik penerimaan tamu.
وَأَجِرْنا وَأَحْسِنْ إِجارَتَنا
Wa ajirnā wa aḥsin ijāratana.
Berikanlah kami perlindungan dan berikanlah kepada kami sebaik-baik perlindungan.
بِمَنْزِلَةِ اللهِ عِنْدَك، وَعِنْدَ آلِ بَيْتِكَ
Bi-manzilatillāhi ‘indak, wa ‘inda āli baitik.
Demi kedudukan Allah di sisimu dan di sisi Ahlulbaitmu.
وَبِمَنْزِلَتِهِمْ عِنْدَهُ
Wa bi-manzilatihim ‘indah.
Dan demi kedudukan mereka di sisi-Nya.
وَبِما اسْتَوْدَعَكُمْ مِنْ عِلْمِهِ
Wa bimā istawda‘akum min ‘ilmih.
Dan demi ilmu-Nya yang Dia titipkan kepada kalian.
فَإِنَّهُ أَكْرَمُ الأَكْرَمِينَ
Fa innahu akramul-akramīn.
Sesungguhnya Dia adalah Yang Mahapemurah di antara seluruh Yang Maha Pemurah.
4. Ziarah Imam Hasan عليه السلام
Karena 28 Safar juga diperingati sebagai syahadah Imam Hasan عليه السلام, bacalah salam / Ziarah kepadanya:
زِيارةُ الحَسَنِ (صلوات الله عليه)
Ziarah kepada Imam Hasan عليه السلام
بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
السَّلامُ عَلَيْكَ يابْنَ رَسُولِ رَبِّ العالَمِينَ
As-salāmu ‘alaika yā ibna Rasūli Rabbil-‘ālamīn.
Salam sejahtera atasmu, wahai putra Rasul Tuhan semesta alam.
السَّلامُ عَلَيْكَ يابْنَ أَمِيرِ المُؤْمِنِينَ
As-salāmu ‘alaika yā ibna Amīril-Mu’minīn.
Salam sejahtera atasmu, wahai putra Amirul Mukminin.
السَّلامُ عَليْكَ يابْنَ فاطِمَةَ الزَّهْراءِ
As-salāmu ‘alaika yā ibna Fāṭimati az-Zahrā’.
Salam sejahtera atasmu, wahai putra Fāṭimah az-Zahrā’.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا حَبِيبَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā ḥabīballāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai kekasih Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا صَفْوَةَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā ṣafwatallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai insan pilihan Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا أَمِينَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā amīnallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai kepercayaan Allah.
السَّلامُ عَليْكَ يا حُجَّةَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā ḥujjatallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai hujah Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا نُورَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā nūrallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai cahaya Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا صِراطَ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā ṣirāṭallāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai jalan Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا بَيانَ حُكْمِ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā bayāna ḥukmillāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai penjelas hukum Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا ناصِرَ دِينِ اللهِ
As-salāmu ‘alaika yā nāṣira dīnillāh.
Salam sejahtera atasmu, wahai penolong agama Allah.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها السَّيِّدُ الزَّكيُّ
As-salāmu ‘alaika ayyuhas-sayyiduz-zakiyy.
Salam sejahtera atasmu, wahai junjungan yang suci.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها البَرُّ الوَفيُّ
As-salāmu ‘alaika ayyuhal-barrul-wafiyy.
Salam sejahtera atasmu, wahai insan yang penuh kebajikan dan setia.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها القائِمُ الأَمِينُ
As-salāmu ‘alaika ayyuhal-qā’imul-amīn.
Salam sejahtera atasmu, wahai yang teguh menegakkan kebenaran dan terpercaya.
السَّلامُ عَليْكَ أَيُّها العالِمُ بِالتَّأْوِيلِ
As-salāmu ‘alaika ayyuhal-‘ālimu bit-ta’wīl.
Salam sejahtera atasmu, wahai orang yang mengetahui ta’wil.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الهادِي المَهديُّ
As-salāmu ‘alaika ayyuhal-hādī al-mahdiyy.
Salam sejahtera atasmu, wahai pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الطَّاهِرُ الزَّكيُّ
As-salāmu ‘alaika ayyuhat-ṭāhiruz-zakiyy.
Salam sejahtera atasmu, wahai insan yang suci dan bersih.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها التَّقيُّ النَّقيُّ
As-salāmu ‘alaika ayyuhat-taqiyyun-naqiyy.
Salam sejahtera atasmu, wahai insan yang bertakwa dan murni.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الحَقُّ الحَقِيقُ
As-salāmu ‘alaika ayyuhal-ḥaqqul-ḥaqīq.
Salam sejahtera atasmu, wahai kebenaran yang nyata dan hakiki.
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الشَّهِيدُ الصِّدِّيقُ
As-salāmu ‘alaika ayyuhasy-syahīd-uṣ-ṣiddīq.
Salam sejahtera atasmu, wahai syahid yang sangat jujur dan benar.
السَّلامُ عَلَيْكَ يا أَبا مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بْنَ عَلِيٍّ
As-salāmu ‘alaika yā Abā Muḥammadin al-Ḥasan ibna ‘Aliyy.
Salam sejahtera atasmu, wahai Abū Muḥammad, al-Ḥasan putra ‘Alī.
وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاتُهُ
Wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Dan semoga rahmat Allah serta keberkahan-Nya tercurah atasmu.
5. Membaca Al-Qur’an
Bacalah al-Fātiḥah, Yāsīn, al-Ikhlāṣ, dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya. Kemudian berdoa agar Allah memberikan pahala bacaan tersebut kepada Rasulullah ﷺ, Imam Hasan عليه السلام, dan orang-orang beriman.
6. Bersedekah
Sangat baik menjadikan hari tersebut sebagai kesempatan untuk memberi makanan kepada fakir miskin, keluarga, peziarah, atau orang yang membutuhkan.
Niatnya:”Ya Allah, dengan keberkahan Muhammad dan Āli Muhammad, terimalah sedekah ini dan sampaikan pahalanya kepada ruh Rasulullah ﷺ dan Imam Hasan عليه السلام.”
7. Membaca maqtal dan mengenang perjuangan Rasulullah ﷺ
Luangkan waktu untuk membaca sejarah kehidupan, penderitaan, dakwah, dan wafat Rasulullah ﷺ serta kesabaran Imam Hasan عليه السلام.
Yang lebih utama adalah menangisi kehilangan mereka sambil memperbarui komitmen kepada risalah dan wilayah Ahlul Bayt.
Doa penutup
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ مَحَمَّدٍ وَآلِ مَحَمَّدٍ، وَارْزُقْنَا شَفَاعَةَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَثَبِّتْنَا عَلَىٰ وِلَايَتِهِمْ وَمَحَبَّتِهِمْ، وَاحْشُرْنَا مَعَهُمْ.
Allāhummaj‘alnā min ahli Muḥammadin wa āli Muḥammad, warzuqnā syafā‘ata Muḥammadin wa āli Muḥammad, wa tsabbitnā ‘alā wilāyatihim wa maḥabbatihim, wahsyurnā ma‘ahum.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang mengikuti Muhammad dan keluarga Muhammad. Karuniakan kepada kami syafaat Muhammad dan keluarga Muhammad. Teguhkan kami dalam wilayah dan kecintaan kepada mereka, dan kumpulkan kami bersama mereka.”
🌹 Inti makrifat 28 Ṣafar
Wafat Rasulullah ﷺ → jangan biarkan risalah beliau wafat dalam diri kita.
Syahadah Imam Hasan عليه السلام → jangan biarkan kesabaran dan perdamaian yang ditempuhnya hilang dari akhlak kita.
Cinta kepada Nabi ﷺ → cinta kepada Ahlul Bayt.
Cinta kepada Ahlul Bayt → mengikuti jalan Allah yang mereka ajarkan.
Catatan penting: tidak semua amalan di atas merupakan “amalan khusus 28 Safar” dengan sanad khusus. Sebagiannya adalah amalan umum yang sangat baik dilakukan pada hari duka dan peringatan tersebut.
Maqtal Rasulullah ﷺ — 28 Ṣafar
1, Hari-hari terakhir Rasulullah ﷺ semakin berat. Tubuh beliau yang mulia melemah setelah bertahun-tahun memikul amanah risalah. Namun lisan beliau tetap mengingat Allah, dan perhatian beliau tetap tertuju kepada umatnya. Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta itu sedang mendekati saat perpisahan dari dunia.
2, Rasulullah ﷺ telah menyampaikan risalah dengan sempurna. Beliau mengajarkan tauhid, mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan keadilan, mengangkat kehormatan kaum tertindas, dan mengajarkan manusia untuk hidup di bawah cahaya wahyu. Tidak ada kesulitan yang menghalangi beliau untuk menyampaikan amanah Allah.
3, Dalam sakitnya, Rasulullah ﷺ tetap memikirkan umat. Beliau tidak sibuk dengan dunia yang akan ditinggalkannya. Yang menjadi perhatian beliau adalah keselamatan manusia setelah beliau tiada. Karena itulah pesan-pesan beliau pada masa akhir kehidupan sarat dengan nasihat tentang shalat, ketakwaan, hak-hak manusia, dan berpegang teguh kepada petunjuk Allah.
4, Di rumah beliau, suasana semakin sunyi. Keluarga dan para sahabat merasakan bahwa perpisahan besar telah semakin dekat. Putri beliau, Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā عليها السلام, merasakan beratnya keadaan ayahnya. Hati seorang putri melihat manusia paling mulia yang dicintainya sedang menghadapi saat-saat terakhir kehidupan dunia.
5, Rasulullah ﷺ memiliki kecintaan yang sangat besar kepada Ahlul Baytnya. Dalam tradisi Ahlul Bayt, kecintaan kepada mereka bukan sekadar kecintaan keluarga, tetapi bagian dari menjaga hubungan dengan jalan yang telah dibawa Rasulullah ﷺ. Karena itu, ketika mengenang wafat Nabi, hati kaum mukminin juga mengenang penderitaan dan kesedihan keluarga beliau.
6, Sakit Rasulullah ﷺ semakin berat. Dalam keadaan demikian beliau tetap menjaga shalat dan mengingatkan umat agar tidak meninggalkan kewajiban kepada Allah. Bahkan ketika tubuhnya tidak lagi sekuat sebelumnya, perhatian beliau kepada ibadah dan umat tidak pernah hilang.
7, Wahai Rasulullah ﷺ, engkau datang kepada dunia dalam keadaan yatim, lalu Allah mengangkatmu menjadi pembawa risalah terakhir. Engkau pernah dihina, dilempari, diboikot, diusir dari tanah kelahiranmu, dan diperangi. Namun ketika memperoleh kemenangan, engkau tidak menjadikan kekuasaan sebagai kesempatan untuk membalas dendam.
8, Engkau mengajarkan bahwa kekuatan bukanlah kemampuan menghancurkan orang lain, melainkan kemampuan menegakkan kebenaran dengan rahmat dan keadilan. Engkau memberi makan orang miskin, menyayangi anak yatim, menghormati perempuan, memuliakan orang lemah, dan mengajarkan manusia bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh harta, nasab, atau kekuasaan.
9, Ketika saat perpisahan semakin dekat, dunia seakan kehilangan cahaya yang selama dua puluh tiga tahun menerangi manusia dengan wahyu. Rasulullah ﷺ adalah penyampai Al-Qur’an dan pembimbing umat menuju Allah. Wafatnya beliau menjadi salah satu musibah terbesar yang pernah menimpa umat Islam.
10, Kemudian tibalah saat ruh suci Rasulullah ﷺ meninggalkan jasad yang mulia. Di rumah Nabi, kesedihan begitu dalam. Kota Madinah yang dahulu diterangi kedatangan Rasulullah ﷺ kini menghadapi kenyataan bahwa manusia yang paling mereka cintai telah kembali kepada Tuhannya.
11, Sayyidah Fāṭimah عليها السلام merasakan kehilangan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Ayah yang menjadi tempat kasih sayangnya telah pergi. Dalam tradisi Ahlul Bayt, kesedihan Fāṭimah atas wafat ayahnya menjadi bagian penting dari sejarah duka keluarga Nabi.
12, Amirul Mukminin Imam Ali عليه السلام menjadi orang yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ dalam saat-saat terakhir dan setelah wafat beliau. Tangan yang dahulu membantu memandikan dan mengurus Rasulullah ﷺ kini berhadapan dengan jasad manusia yang paling dicintainya. Perpisahan itu menjadi luka yang sangat dalam bagi Ahlul Bayt.
13, Wahai Rasulullah ﷺ, jasadmu memang kembali kepada Allah, tetapi risalahmu tidak pernah mati. Al-Qur’an yang engkau bawa masih dibaca. Shalawat kepadamu masih dilantunkan. Nama Muhammad ﷺ masih disebut di seluruh penjuru bumi. Dan kecintaan kepada Ahlul Baytmu tetap menjadi cahaya bagi hati orang-orang yang mencintaimu.
14, Pada 28 Ṣafar, ketika kita mengenang wafat Rasulullah ﷺ, jangan hanya meneteskan air mata untuk sebuah sejarah yang telah berlalu. Hendaknya kita bertanya kepada diri: apakah akhlak Nabi Muhammad ﷺ masih hidup dalam diri kita? Apakah shalatnya kita jaga? Apakah kejujurannya kita ikuti? Apakah kasih sayangnya kita hidupkan? Dan apakah kita benar-benar mencintai serta mengikuti Ahlul Baytnya? Ya Allah, sampaikan salam dan shalawat kami kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga Nabi Muhammad saw. Hidupkan kami di atas kecintaan kepada mereka dan wafatkan kami dalam wilayah mereka.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،
وَاحْشُرْنَا مَعَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad, wahsyurnā ma‘a Muḥammadin wa āli Muḥammad.
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kumpulkanlah kami bersama Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Untuk mengenang wafat Rasulullah ﷺ pada 28 Ṣafar, berikut beberapa kisah, pelajaran/manfaat, dan doa yang dapat dijadikan bahan majelis.
🌹 10 Kisah dan pelajaran dari hari-hari terakhir Rasulullah ﷺ
1. Rasulullah ﷺ tetap memikirkan umatnya
Dalam sakit terakhirnya, perhatian Nabi ﷺ tidak hanya kepada dirinya sendiri. Beliau tetap memberikan nasihat dan mengingatkan umat tentang kewajiban kepada Allah.
Pelajaran:
Orang yang benar-benar mencintai umat tidak berhenti berbuat baik ketika dirinya sedang mengalami kesulitan.
2. Rasulullah ﷺ sangat menjaga shalat
Dalam keadaan sakit yang berat, Nabi ﷺ tetap memberikan perhatian besar kepada shalat.
Maknanya:
Shalat adalah hubungan seorang hamba dengan Allah. Bahkan ketika tubuh melemah, hubungan itu tidak boleh diputus.
3. Nabi ﷺ mengingat Ahlul Bayt
Salah satu pesan besar Rasulullah ﷺ yang terus dikenang dalam tradisi Ahlul Bayt adalah perhatian terhadap keluarga beliau. Allah berfirman:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا
إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ
“ Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan atas dakwah itu selain kecintaan kepada keluarga dekatku.”
(QS. al-Syūrā 42:23)
Pelajaran: mencintai Rasulullah ﷺ hendaknya berjalan bersama kecintaan kepada Ahlul Bayt beliau.
4. Rasulullah ﷺ sebagai rahmat
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. al-Anbiyā’ 21:107)
Mengenang wafat beliau berarti mengenang rahmat yang beliau bawa kepada manusia.
5. Kesabaran Sayyidah Fāṭimah عليها السلام
Wafat Rasulullah ﷺ merupakan kehilangan terbesar bagi putri beliau, Fāṭimah az-Zahrā عليها السلام.
Pelajaran makrifat:
Cinta yang sejati bukan hanya bahagia ketika bersama orang yang dicintai, tetapi juga tetap setia ketika menghadapi perpisahan.
6. Imam Ali عليه السلام dan perpisahan dengan Rasulullah ﷺ
Imam Ali عليه السلام memiliki kedekatan yang sangat istimewa dengan Rasulullah ﷺ. Dalam suasana wafat Nabi, beliau berada di tengah keluarga dan urusan pemakaman beliau.
Pelajaran:
Hubungan Imam Ali عليه السلام dengan Rasulullah ﷺ bukan hanya hubungan keluarga, tetapi hubungan murid dengan guru, pembela dengan Rasul, dan pecinta dengan kekasih Allah. serta Washi / Pelanjut kepemimpinan Beliau atas ummat.
7. Rasulullah ﷺ memaafkan ketika memiliki kekuasaan
Ketika Mekah berada dalam kekuasaan kaum Muslimin, Nabi ﷺ tidak menjadikan kemenangan sebagai kesempatan untuk membalas seluruh penghinaan yang pernah beliau terima.
Makrifat:
Kekuatan Muhammad ﷺ bukan hanya pada kemampuan memenangkan peperangan, tetapi pada kemampuan mengendalikan ego ketika memiliki kekuasaan.
8. Rasulullah ﷺ hidup sederhana
Walaupun beliau adalah pemimpin umat, kehidupan beliau jauh dari kemewahan dunia.
Pelajaran:
Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi oleh kedekatannya kepada Allah.
9. Wafat Nabi bukan berarti wafatnya risalah
Jasad Rasulullah ﷺ kembali kepada Allah, tetapi Al-Qur’an yang beliau bawa tetap hidup. Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. al-Ḥijr 15:9)
Pelajaran: tugas umat setelah wafat Nabi adalah menghidupkan risalah beliau, bukan hanya mengenang sejarahnya.
10. Air mata harus berubah menjadi amal
Menangisi Rasulullah ﷺ adalah ungkapan cinta, tetapi cinta yang sempurna diwujudkan dengan mengikuti beliau. Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Āli ‘Imrān 3:31)
🌿 Manfaat mengenang wafat Rasulullah ﷺ
Jika dilakukan dengan niat yang benar, majelis mengenang Rasulullah ﷺ dapat menjadi sarana:
1. Memperbarui iman kepada risalah Muhammad ﷺ.
2. Memperbanyak shalawat.
3. Menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ.
4. Menumbuhkan kecintaan kepada Ahlul Bayt.
5. Mengingat kematian dan akhirat.
6. Melunakkan hati melalui tangisan dan dzikrullah.
7. Mendorong seseorang memperbaiki shalat dan akhlaknya.
8. Mengajarkan sejarah kepada generasi berikutnya.
9. Mendorong sedekah dan membantu orang miskin.
10. Memperbarui janji untuk hidup di atas Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah ﷺ.
Yang perlu dijaga adalah jangan menganggap setiap tata cara peringatan 28 Ṣafar sebagai sunnah khusus yang pasti berasal dari Nabi ﷺ, jika memang tidak ada riwayat khusus tentang tata cara tersebut. Yang jelas memiliki dasar adalah amalan-amalan umum seperti shalawat, doa, membaca Al-Qur’an, sedekah, ziarah, mengingat keutamaan Nabi, dan mengikuti sunnahnya.
🤲 Doa mengenang Rasulullah ﷺ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،
عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، وَأَمِينِكَ عَلَىٰ وَحْيِكَ، وَصَفِيِّكَ مِنْ خَلْقِكَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّهُ، وَحُبَّ أَهْلِ بَيْتِهِ،
وَالِاقْتِدَاءَ بِهَدْيِهِ،
وَالثَّبَاتَ عَلَىٰ وِلَايَةِ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي رَسُولِكَ
مُجَرَّدَ دَمْعَةٍ تَنْزِلُ مِنَ الْعَيْنِ،
بَلِ اجْعَلْهَا تَوْبَةً فِي الْقَلْبِ، وَصَلَاحًا فِي الْعَمَلِ، وَحُبًّا لِمُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ احْشُرْنَا مَعَهُمْ، وَارْزُقْنَا شَفَاعَةَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَثَبِّتْنَا عَلَىٰ مَحَبَّتِهِمْ حَتَّىٰ نَلْقَاكَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ.
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, orang yang Engkau percayai untuk membawa wahyu-Mu dan pilihan-Mu dari seluruh makhluk-Mu.
Ya Allah, karuniakan kepada kami kecintaan kepadanya, kecintaan kepada Ahlul Baytnya, kemampuan mengikuti petunjuknya, dan keteguhan dalam wilayah Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad saw
Ya Allah, jangan jadikan musibah kami atas wafatnya Rasul-Mu hanya sebagai air mata yang jatuh dari mata, tetapi jadikanlah ia sebagai taubat dalam hati, kesalehan dalam amal, dan kecintaan kepada Mabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad saw.
Ya Allah, kumpulkan kami bersama mereka, karuniakan kepada kami syafaat Nabi Muhammad saw dan keluarga Nabi Muhammad saw, dan teguhkan kami dalam kecintaan kepada mereka hingga kami bertemu dengan-Mu.”
Inti makrifat 28 Ṣafar:
Rasulullah ﷺ telah wafat dari dunia, tetapi Nabi Muhammad saw harus tetap “hidup” dalam akhlak kita. Jika setelah mengenang wafat beliau kita menjadi lebih jujur, lebih lembut, lebih rajin shalat, lebih mencintai orang miskin, dan lebih mencintai Ahlul Bayt, maka duka itu telah berubah menjadi wilayah dan amal.
Dalam perspektif Imamiyah/Ahlul Bayt, persoalan ini memang ada pembahasan tentang syahadah Rasulullah ﷺ, bukan semata-mata wafat karena usia atau sakit. Namun kita perlu hati-hati dalam menyebut siapa pembunuhnya, karena riwayat-riwayatnya berbeda tingkat kekuatannya.
1. Apakah Rasulullah ﷺ dianggap syahid?
Ada riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far al-Shadiq عليه السلام bahwa Rasulullah ﷺ wafat akibat racun, dan sejumlah ulama Imamiyah membahas beliau sebagai syahid. Dalam literatur Imamiyah juga terdapat riwayat tentang racun yang diberikan kepada Nabi ﷺ.
Bahkan dalam al-Kāfī, terdapat riwayat dari Imam al-Baqir عليه السلام mengenai perempuan Yahudi yang meracuni daging untuk Nabi ﷺ. Riwayat itu menyebut Nabi ﷺ kemudian memaafkannya.
Riwayat tersebut dinilai muwaththaq kaṣ-ṣaḥīḥ oleh al-Majlisi dalam Mir’āt al-’Uqūl.
Jadi, dalam pembahasan Ahlul Bayt, syahadah Rasulullah ﷺ karena racun mempunyai dasar riwayat.
2. Bagaimana dengan tuduhan bahwa beliau diracun oleh orang tertentu? Di sinilah harus dibedakan.
Ada riwayat-riwayat dalam sebagian sumber Syiah yang menyebut keterlibatan ’orang tertentu’ tetapi penetapan bahwa keduanya secara pasti menjadi pembunuh Rasulullah ﷺ merupakan persoalan yang diperselisihkan dalam penilaian sanad dan pemahaman riwayat. Sumber-sumber Syiah sendiri memuat berbagai riwayat mengenai sebab wafat Nabi. Karena itu kita tidak menyarankan mengatakan sebagai fakta mutlak:”Si fulan pasti membunuh Rasulullah ﷺ.”Lebih aman secara ilmiah mengatakan:
“Dalam sebagian riwayat Ahlul Bayt disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ wafat sebagai syahid akibat racun; mengenai identitas pelakunya terdapat riwayat yang diperselisihkan.”
3. Apakah boleh melaknat pembunuh Rasulullah ﷺ?
Pada prinsipnya, melaknat orang yang secara pasti terbukti sebagai pembunuh orang yang dizalimi adalah sesuatu yang memiliki dasar dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
“Ingatlah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim.”(QS. Hūd 11:18)
Dan dalam riwayat Ahlul Bayt terdapat bentuk doa laknat terhadap orang yang memerangi Imam Ali عليه السلام. Misalnya dalam al-Amālī dari rangkaian riwayat Ahlul Bayt, terdapat sabda Nabi ﷺ:
قَاتَلَ اللَّهُ مَنْ قَاتَلَ عَلِيًّا،
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ خَالَفَ عَلِيًّا
“Semoga Allah memerangi orang yang memerangi Ali; semoga Allah melaknat orang yang menentang Ali.”
Jadi konsep bara’ah dan laknat terhadap kezaliman memang terdapat dalam tradisi Ahlul Bayt.
Tetapi untuk amalan 28 Ṣafar, kita lebih menganjurkan lafaz yang umum dan tidak menetapkan nama seseorang yang statusnya masih diperselisihkan.
4. Amalan laknat yang lebih aman
Bisa membaca:
اللَّهُمَّ الْعَنْ قَتَلَةَ رَسُولِ اللَّهِ، وَقَتَلَةَ أَوْلِيَائِكَ، وَالظَّالِمِينَ لِمُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،
وَالْمُعَادِينَ لَهُمْ، وَالْمُعَادِينَ لِدِينِكَ.
Allāhumma’l’an qatalata Rasūlillāh, wa qatalata awliyā’ik, waẓ-ẓālimīna li-Muḥammadin wa āli Muḥammad, wal-mu’ādīna lahum, wal-mu’ādīna lidīnik.”Ya Allah, laknatilah para pembunuh Rasulullah, para pembunuh wali-wali-Mu, orang-orang yang menzalimi Muhammad dan keluarga Muhammad, orang-orang yang memusuhi mereka, dan orang-orang yang memusuhi agama-Mu.”
Kemudian:
اللَّهُمَّ الْعَنْ أَوَّلَ ظَالِمٍ ظَلَمَ مُحَمَّدًا
وَآلَ مُحَمَّدٍ، وَآخِرَ تَابِعٍ لَهُ عَلَىٰ ذَلِكَ.
“Ya Allah, laknatilah orang pertama yang menzalimi Muhammad dan keluarga Muhammad, dan orang terakhir yang mengikutinya dalam hal tersebut.”
5. Tentang para Imam: diracun atau dibunuh?
Dalam tradisi Imamiyah, syahadah para Imam merupakan tema yang sangat kuat. Banyak Imam diyakini wafat akibat racun, sedangkan Imam Ali عليه السلام wafat akibat tebasan pedang, dan Imam Husain عليه السلام syahid di Karbala. Contohnya, mengenai Imam al-Ridha عليه السلام, terdapat riwayat panjang dalam ʿUyūn Akhbār al-Riḍā yang menggambarkan beliau mengalami keracunan setelah dipaksa memakan anggur dan kemudian wafat.
Maka dalam majelis 28 Ṣafar, rangkaiannya dapat menjadi:
Rasulullah ﷺ — syahid karena racun
↓
Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā عليها السلام — wafat setelah penderitaan
↓
Imam Ali عليه السلام — syahid oleh pedang
↓
Imam Hasan عليه السلام — syahid karena racun
↓
Imam Husain عليه السلام — syahid dengan pedang di Karbala
↓
Para Imam setelahnya — banyak riwayat menyebut syahadah melalui racun
Tetapi detail sejarah masing-masing Imam harus diperiksa satu per satu, karena kekuatan riwayatnya tidak sama.
6. Doa penutup 28 Ṣafar
اللَّهُمَّ إِنَّا نَبْرَأُ إِلَيْكَ مِنْ أَعْدَاءِ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَنُوَالِي مُحَمَّدًا وَآلَ مُحَمَّدٍ، وَنَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ عَلَىٰ وَلَايَتِهِمْ وَالْبَرَاءَةَ مِنْ ظَالِمِيهِمْ.
“Ya Allah, kami berlepas diri kepada-Mu dari musuh-musuh Nabi Muhammad saw dan keluarga Nabi Muhammad saw. Kami berwilayah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad saw. Kami memohon kepada-Mu keteguhan dalam wilayah mereka dan berlepas diri dari orang-orang yang menzalimi mereka.”
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،
وَالْعَنْ ظَالِمِي مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ،
وَاحْشُرْنَا مَعَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ.
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, laknatilah orang-orang yang menzalimi Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kumpulkanlah kami bersama Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Inti amalan: tawalla kepada Muhammad dan Āli Muhammad, tabarra’ dari kezaliman terhadap mereka, kemudian shalawat, tangisan, doa, sedekah, dan mengikuti akhlak Nabi ﷺ. Ini lebih kuat maknanya daripada menjadikan majelis hanya sebagai tempat menyebut nama-nama orang yang diperselisihkan.
Sholat akhir Rabu bulan Safar.
صَلَاةُ آخِرِ أَرْبِعَاءَ مِنْ صَفَرٍ، رَكْعَتَيْنِ،
كُلُّ رَكْعَةٍ تُقْرَأُ الْفَاتِحَةَ، وَبَعْدَهَا سُورَةُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً، بَعْدَهَا قِرَاءَةُ سُوَرِ أَلَمْ نَشْرَحْ، وَالتِّينِ، وَالنَّصْرِ، وَالتَّوْحِيدِ سَبْعَ مَرَّاتٍ.
“Salat pada Rabu terakhir bulan Safar, sebanyak dua rakaat. Pada setiap rakaat dibaca Surah al-Fatihah, kemudian Surah Qul Huwallāhu Aḥad sebanyak 12 kali. Setelah itu membaca surah-surah Alam Nasyrah (al-Insyirah), at-Tin, an-Nashr, dan at-Tauhid (al-Ikhlas) masing-masing 7 kali.”
Makna dan makrifatnya
Yang menarik, susunan empat surah setelah salat ini dapat direnungkan sebagai empat tahapan perjalanan ruhani:
1. سُورَةُ أَلَمْ نَشْرَحْ — Al-Insyirah
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?”
Makrifatnya adalah kelapangan dada. Seorang mukmin tidak hanya meminta agar masalahnya dihilangkan, tetapi memohon agar Allah memberikan hati yang mampu memikul masalah tersebut.
Puncak pesannya:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Jadi, secara makrifat, membaca al-Insyirah setelah salat dapat dijadikan munajat untuk:
* kelapangan hati,
* hilangnya kesempitan,
* kekuatan menghadapi ujian,
* kemudahan urusan,
* dan tumbuhnya harapan kepada Allah.
2. سُورَةُ التِّينِ — At-Tin
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
Surah ini mengingatkan manusia tentang kemuliaan penciptaan manusia:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Makrifatnya: setelah meminta dada dilapangkan, manusia diingatkan agar kembali mengenali martabat dirinya sebagai makhluk Allah, bukan menjadi hamba ketakutan, kesialan, atau takhayul.
3. سُورَةُ النَّصْرِ — An-Nashr
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”
Makrifatnya sangat dalam: kemenangan bukan semata-mata hasil kekuatan manusia; kemenangan hakiki adalah pertolongan Allah.
Karena itu ketika kemenangan datang, ayat berikutnya bukan menyuruh manusia menyombongkan diri:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
Artinya: setelah kesulitan → kelapangan → pertolongan → syukur dan istighfar.
4. سُورَةُ التَّوْحِيدِ — Al-Ikhlas
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.” Ini menjadi puncak makrifat.
Setelah membaca tentang kelapangan, kemuliaan manusia, dan pertolongan Allah, hati diarahkan kembali kepada:
اللَّهُ الصَّمَدُ
“Allah tempat bergantung.”
Makna al-Ṣamad sangat sesuai dengan ruh amalan ini: ketika segala sesuatu tidak dapat dijadikan sandaran mutlak, hati bersandar kepada Allah.
Maka rangkaian empat surah tersebut dapat direnungkan:
الشرح → التين → النصر → التوحيد
Kelapangan → kemuliaan manusia → pertolongan Allah → tauhid.
Manfaat yang dapat diharapkan
Jika dikerjakan sebagai salat sunnah dan doa kepada Allah, manfaat spiritual yang dapat diharapkan antara lain:
* Al-Insyirah: memohon kelapangan dada.
* At-Tin: mengingat kemuliaan dan tanggung jawab manusia.
* An-Nashr: menanamkan keyakinan bahwa pertolongan berasal dari Allah.
* Al-Ikhlas: memperkuat tauhid dan ketergantungan kepada Allah.
* Memperbanyak bacaan Al-Qur’an.
* Menenangkan hati.
* Memperbanyak doa dan istighfar.
* Mengubah rasa takut terhadap “kesialan” menjadi tawakkal kepada Allah.
* Menjadikan akhir bulan sebagai momentum muhasabah dan taubat.
Kemudian jadikan empat surah itu sebagai perjalanan hati:
أَلَمْ نَشْرَحْ — Ya Allah, lapangkan dadaku.
وَالتِّينِ — Ya Allah, muliakan aku dengan takwa.
وَالنَّصْرِ — Ya Allah, berikan pertolongan-Mu.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ — Ya Allah, jangan jadikan hatiku bergantung kepada selain-Mu.
🌿 Manfaat yang diharapkan
1. Memohon kelapangan dada
Dengan Surah Al-Insyirah, terutama:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Dapat dijadikan doa untuk kesempitan hati, kesulitan urusan, beban kehidupan, dan kegelisahan.
2. Memohon perlindungan dan kebaikan
Bukan karena bulan Safar dianggap sial, tetapi karena seorang mukmin setiap saat membutuhkan perlindungan Allah.
3. Memohon pertolongan Allah
Surah An-Nashr mengajarkan:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”
Maka amalan ini dapat menjadi kesempatan memohon nashr Allah dalam urusan keluarga, pekerjaan, rezeki, perjalanan, dan persoalan hidup.
4. Menguatkan tauhid
Surah Al-Ikhlas:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
mengembalikan hati kepada Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.
5. Memohon ampun dan keselamatan
Setelah membaca An-Nashr, ayatnya mengajarkan:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
Jadi, istighfar merupakan bagian penting dari ruh amalan ini.
🤲 Doa setelah salat
Anda dapat membaca doa berikut setelah selesai salat dan bacaan surahnya:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، وَبِنُورِكَ الَّذِي أَضَاءَتْ لَهُ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، أَنْ تَشْرَحَ لِي صَدْرِي، وَتُيَسِّرَ لِي أَمْرِي، وَتَكْشِفَ عَنِّي هَمِّي وَغَمِّي، وَتَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي، وَتَقْضِيَ حَوَائِجِي، وَتَرْزُقَنِي مِنْ حَيْثُ لَا أَحْتَسِبُ.
اللَّهُمَّ اكْفِنِي شَرَّ مَا أَخَافُ، وَاصْرِفْ عَنِّي الْبَلَاءَ وَالسُّوءَ، وَاحْفَظْنِي وَأَهْلِي وَمَنْ أُحِبُّ بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي مَعَ كُلِّ عُسْرٍ يُسْرًا، وَمَعَ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمَعَ كُلِّ دَاءٍ دَوَاءً، وَمَعَ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمَعَ كُلِّ دُعَاءٍ إِجَابَةً.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ فِي قَلْبِي تَعَلُّقًا بِغَيْرِكَ، وَلَا رَجَاءً إِلَّا فِيكَ، وَلَا خَوْفًا إِلَّا مِنْكَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالتَّوَكُّلِ وَالشُّكْرِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Terjemahan
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu dan dengan cahaya-Mu yang menerangi langit dan bumi, agar Engkau melapangkan dadaku, memudahkan urusanku, menghilangkan kegelisahan dan kesedihanku, mengampuni dosa-dosaku, memenuhi hajat-hajatku, dan memberiku rezeki dari arah yang tidak aku sangka-sangka.
Ya Allah, cukupkanlah aku dari segala keburukan yang aku takutkan. Jauhkan dariku bala dan keburukan. Jagalah aku, keluargaku dan orang-orang yang aku cintai dengan penjagaan-Mu yang tidak pernah tidur.
Ya Allah, jadikanlah bersama setiap kesulitan ada kemudahan, bersama setiap kesusahan ada jalan keluar, bersama setiap penyakit ada obat, bersama setiap kesempitan ada jalan keluar, dan bersama setiap doa ada jawaban.
Ya Allah, jangan jadikan hatiku bergantung kepada selain-Mu, jangan jadikan harapanku kecuali kepada-Mu, dan jangan jadikan ketakutanku kecuali kepada-Mu. Jadikan aku termasuk orang-orang yang bertauhid, bertawakal dan bersyukur.
Semoga Allah mencurahkan salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad serta menyegerakan kelapangan urusan mereka. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
🌹 Doa pendek yang sangat sesuai dengan makrifat amalan ini
اللَّهُمَّ اشْرَحْ صَدْرِي، وَيَسِّرْ أَمْرِي، وَاكْشِفْ كَرْبِي، وَاقْضِ حَاجَتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَارْزُقْنِي نَصْرَكَ وَفَضْلَكَ، وَاجْعَلْ قَلْبِي مُخْلِصًا لَكَ وَمُتَوَكِّلًا عَلَيْكَ.
“Ya Allah, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, hilangkan kesusahanku, tunaikan hajatku, lindungi aku dari segala keburukan, karuniakan kepadaku pertolongan dan keutamaan-Mu, serta jadikan hatiku ikhlas kepada-Mu dan bertawakal kepada-Mu.”
Makrifat terdalamnya: bukan “aku melakukan amalan ini agar Safar tidak mencelakakanku”, tetapi “aku menghadap Allah agar hatiku tidak takut kepada selain Allah.”
Doa “Yā Shadīd al-Quwā”
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
يَا شَدِيدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ
يَا عَزِيزُ يَا عَزِيزُ يَا عَزِيزُ
ذَلَّتْ بِعَظَمَتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ
فَاكْفِنِي شَرَّ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ
يَا مُجْمِلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُفْضِلُ
يَا لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Wahai Yang Maha Kuat dalam kekuatan, wahai Yang Maha Dahsyat dalam perhitungan, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Perkasa.
Seluruh makhluk-Mu tunduk hina di hadapan keagungan-Mu, maka cukupkanlah aku dari kejahatan makhluk-Mu, wahai Pemberi kebaikan, wahai Yang memperindah, wahai Yang melimpahkan nikmat, wahai Yang menganugerahkan karunia.
Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Maka Kami perkenankan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kesusahan; dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang beriman.
Doa ini sangat indah jika direnungkan dari sisi makrifat tauhid, karena susunannya bergerak dari mengenal kekuatan Allah → merasakan kehinaan seluruh makhluk di hadapan-Nya → meminta perlindungan hanya kepada-Nya → mengakui kelemahan diri → kemudian memperoleh keselamatan dan pertolongan Allah.
Ada satu hal penting: bagian akhir doa adalah ayat Al-Qur’an, sedangkan keseluruhan rangkaian doa ini tidak otomatis berarti seluruh susunannya merupakan hadis. Beberapa ungkapan mengambil lafaz atau makna dari Al-Qur’an.
1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
Makrifat
Memulai dengan Bismillah berarti:
Aku tidak memulai dengan kekuatanku; aku memulai dengan Allah.
Ar-Rahmān menunjukkan keluasan rahmat Allah kepada seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahīm menunjukkan rahmat-Nya yang khusus dan terus-menerus kepada hamba-Nya.
Secara makrifat, ini adalah perpindahan dari:
“Aku menghadapi masalah”
menjadi:”Aku menghadapi masalah bersama Allah.”
2. يَا شَدِيدَ الْقُوَى
Yā Shadīdal-Quwā
“Wahai Yang Mahakuat kekuatan-Nya.” Lafaz شَدِيدُ الْقُوَىٰ berkaitan dengan firman Allah:
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ
“Yang mengajarinya adalah Yang sangat kuat.”(QS. An-Najm 53:5)
Makrifat
Kekuatan Allah bukan seperti kekuatan makhluk.
Kekuatan manusia:
* terbatas,
* membutuhkan sebab,
* dapat melemah,
* dapat hilang.
Sedangkan kekuasaan Allah tidak bergantung kepada apa pun.
Maka ketika seorang hamba mengucapkan:
يَا شَدِيدَ الْقُوَى
seakan-akan ia mengatakan:
“Ya Allah, ketika kekuatanku tidak cukup, aku kembali kepada kekuatan-Mu.”
3. وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ
Wa Yā Shadīdal-Miḥāl
“Wahai Yang Mahakuat daya dan kekuasaan-Nya.”
Lafaz شَدِيدُ الْمِحَالِ terdapat dalam:
وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ
“Dan Dia Mahakeras daya/kekuatan-Nya.”(QS. Ar-Ra’d 13:13) المحال (al-miḥāl) di sini bukan “mustahil”, tetapi menunjuk pada daya, kekuatan, kekuasaan, dan kemampuan Allah dalam menghadapi sesuatu.
Makrifat
Ada sesuatu yang sangat halus: قُوَى mengingatkan kita kepada kekuatan Allah. مِحَال mengingatkan kita kepada kekuasaan Allah dalam mengatur dan menghadapi segala sesuatu. Sehingga hamba tidak lagi melihat musuh, keadaan, penyakit, kesulitan, atau manusia sebagai kekuatan mutlak. Semua berada di bawah: قدرة الله — qudrat Allah.
4. يَا عَزِيزُ يَا عَزِيزُ يَا عَزِيزُ
Yā ‘Azīz, Yā ‘Azīz, Yā ‘Azīz
“Wahai Yang Mahaperkasa, Wahai Yang Mahaperkasa, Wahai Yang Mahaperkasa.” Mengapa tiga kali?
Tidak harus dipahami sebagai angka yang mempunyai kekuatan magis.
Secara ruhani, pengulangan dapat menjadi peneguhan hati.
Makrifat tiga lapis;
Pertama:
Ya ‘Azīz — Engkau kuat.
Kedua:
Ya ‘Azīz — aku lemah.
Ketiga:
Ya ‘Azīz — maka aku berserah kepada-Mu.
Ini merupakan perjalanan dari pengakuan → kesadaran → tawakkal.
5. ذَلَّتْ بِعَظَمَتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ
Dhallat bi‘aẓamatika jamī‘u khalqik
“Seluruh makhluk-Mu tunduk/merendah karena keagungan-Mu.”
Ini salah satu kalimat paling dalam dalam doa tersebut.
Makrifat: Perhatikan: جَمِيعُ خَلْقِكَ
“seluruh makhluk-Mu.”
Bukan hanya manusia.
Semua makhluk berada dalam kepemilikan dan ketergantungan kepada Allah. Maka seseorang yang mengenal kebesaran Allah tidak akan terlalu takut kepada makhluk.
Manusia bisa mempunyai jabatan.
Orang bisa mempunyai harta.
Orang bisa mempunyai kekuasaan.
Orang bisa mempunyai banyak pengikut.
Tetapi semuanya tetap: خَلْقُ اللهِ — makhluk Allah.
Karena itu hati seorang ‘ārif tidak membesarkan makhluk di atas kebesaran Allah.
6. فَاكْفِنِي شَرَّ خَلْقِكَ
Fakfinī sharra khalqik
“Maka cukupkanlah aku dari keburukan makhluk-Mu.”
Ini bukan berarti semua makhluk Allah itu buruk. Perhatikan kata:
شَرَّ خَلْقِكَ
“keburukan dari makhluk-Mu.”
Yang dimohon adalah perlindungan dari syarr, yaitu keburukan, kezaliman, gangguan, fitnah, atau bahaya.
Makrifat yang sangat penting
Hamba tidak mengatakan:”Ya Allah, aku akan melawan semua orang.”
Tetapi:”Ya Allah, Engkau cukup bagiku.” Ini dekat dengan makna:
حَسْبِيَ اللَّهُ
“Cukuplah Allah bagiku.”
Jadi doa ini mengubah rasa takut menjadi tawakkal.
7. يَا مُحْسِنُ
Yā Muḥsin
“Wahai Yang Maha Berbuat Ihsan/Kebaikan.” Setelah menyebut:
شَرَّ خَلْقِكَ
“keburukan makhluk-Mu”,
hamba langsung menyebut: يَا مُحْسِنُ
“Wahai Yang Maha Berbuat Kebaikan.” Seolah-olah hati berkata:
“Aku melihat keburukan manusia, tetapi aku tidak boleh lupa bahwa kebaikan Allah jauh lebih luas.”
Ini menjaga hati agar tidak berubah menjadi dendam.
8. يَا مُجْمِلُ
Yā Mujmil
“Wahai Yang memperindah dan menyempurnakan.” Secara makrifat:
Allah tidak hanya memberikan sesuatu, tetapi mengatur dan memperindah akibatnya.
Kadang seorang hamba meminta:
“Ya Allah, hilangkan masalahku.”
Tetapi Allah memberikan sesuatu yang lebih dalam:”Ya Allah, jadikan masalah itu jalan untuk mendekat kepada-Mu.” Inilah pandangan ahlul ma‘rifah: Tidak setiap kesulitan adalah keburukan.
Kadang kesulitan menjadi pintu pendidikan ruhani.
9. يَا مُنْعِمُ
Yā Mun‘im
“Wahai Yang Maha Memberi nikmat.”
Di sini hati diarahkan dari takut kepada syukur.
Seorang yang sedang menghadapi masalah sering hanya melihat apa yang hilang. Doa ini mengajarkan: Lihat pula apa yang masih Allah berikan. Napas adalah nikmat.
Iman adalah nikmat.
Keluarga adalah nikmat.
Kesempatan bertaubat adalah nikmat.
Kemampuan berdoa pun adalah nikmat.
10. يَا مُفْضِلُ
Yā Mufḍil
“Wahai Yang Maha Memberi karunia.”
Ini lebih tinggi daripada sekadar “mendapat apa yang pantas”.
فَضْلُ اللهِ
adalah karunia Allah yang diberikan bukan semata-mata karena kelayakan manusia.
Makrifatnya:”Ya Allah, aku datang bukan karena aku layak, tetapi karena Engkau Maha Pemurah.”
Ini melahirkan raja’, yaitu harapan kepada Allah.
11. يَا لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Yā lā ilāha illā anta
“Wahai, tiada Tuhan selain Engkau.”
Ini adalah puncak doa.
Setelah menyebut kekuatan Allah:
شَدِيدَ الْقُوَى
kemudian keperkasaan:
شَدِيدَ الْمِحَالِ
kemudian kemuliaan:
يَا عَزِيزُ
kemudian menyebut seluruh makhluk:
جَمِيعُ خَلْقِكَ
akhirnya hati sampai kepada:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Tidak ada tempat penghambaan mutlak selain Allah. Tidak ada tempat bergantung mutlak selain Allah.
Tidak ada kekuatan independen selain Allah.
12. سُبْحَانَكَ
Subḥānaka
“Maha Suci Engkau.” Ini berarti:
“Ya Allah, Engkau bersih dari segala kekurangan dan kezaliman.”
Ada hubungan yang indah:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ → سُبْحَانَكَ
Pertama mengesakan Allah.
Kemudian menyucikan Allah.
13. إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Innī kuntu minaẓ-ẓālimīn
“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Ini adalah pengakuan Nabi Yunus عليه السلام.
Doa ini terdapat dalam kisah Nabi Yunus:
فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
(QS. Al-Anbiyā’ 21:87)
Makrifat yang sangat dalam
Perhatikan urutannya:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Tauhid.
↓
سُبْحَانَكَ
Tanzih — menyucikan Allah.
↓
إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Mengakui kekurangan diri.
Ini adalah adab doa yang sangat tinggi: Jangan pertama-tama menyalahkan keadaan.
Periksa dirimu di hadapan Allah.
Bukan berarti semua musibah terjadi karena dosa. Tetapi seorang ‘ārif selalu berkata:”Apa yang harus aku perbaiki dalam diriku?”
14. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ
Fastajabnā lah
“Maka Kami mengabulkan doanya.”
Ini adalah firman Allah.
Perhatikan kata: فَـ
“Maka.” Seolah ada hubungan antara munajat dan pertolongan.
Tetapi kita tidak boleh memahami bahwa setiap doa harus dijawab dengan bentuk yang persis seperti permintaan kita. Allah menjawab doa dengan hikmah-Nya.
15. وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ
Wa najjaynāhu minal-ghamm
“Dan Kami menyelamatkannya dari kesusahan/kedukaan.” Ini sangat relevan dengan doa perlindungan.
Nabi Yunus berada dalam kegelapan yang bertumpuk:
* kegelapan malam,
* kegelapan laut,
* kegelapan dalam perut ikan.
Tetapi di dalam kegelapan itu lahir cahaya: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Makrifatnya: Kegelapan tempat tidak mampu menghalangi cahaya tauhid.
16. وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
Wa ka-dhālika nunjil-mu’minīn
“Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.”
Inilah bagian yang sangat indah.
Allah tidak mengatakan hanya:
“Kami menyelamatkan Yunus.”
Tetapi:
نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
“Kami menyelamatkan orang-orang beriman.” Artinya kisah Yunus bukan sekadar sejarah.
Ia menjadi pelajaran bagi setiap mukmin yang berada dalam kesempitan.
🌹 Rangkaian makrifat seluruh doa
Jika diringkas, perjalanan ruhani doa ini adalah: شَدِيدَ الْقُوَى
Aku mengenal kekuatan Allah.
↓
شَدِيدَ الْمِحَالِ
Aku mengenal kekuasaan Allah.
↓
يَا عَزِيزُ
Aku mengenal kemuliaan Allah.
↓
ذَلَّتْ … جَمِيعُ خَلْقِكَ
Aku menyadari seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.
↓
فَاكْفِنِي شَرَّ خَلْقِكَ
Aku meminta Allah mencukupiku dari keburukan.
↓
يَا مُحْسِنُ، يَا مُجْمِلُ، يَا مُنْعِمُ، يَا مُفْضِلُ
Aku melihat Allah sebagai sumber ihsan, keindahan, nikmat dan karunia.
↓
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Aku kembali kepada tauhid.
↓
سُبْحَانَكَ
Aku menyucikan Allah.
↓
إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Aku mengakui kelemahanku.
↓
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ
Allah menjawab.
↓
وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ
Allah menyelamatkan.
↓
وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
Dan jalan keselamatan itu terbuka bagi orang-orang beriman.
🌿 Inti makrifatnya
Kekuatan Allah → kelemahan diri → tauhid → pengakuan → tawakkal → pertolongan → keselamatan.
Dan ada satu rahasia yang sangat indah dalam ayat Yunus:
Nabi Yunus tidak memulai dengan meminta “selamatkan aku”.
Beliau terlebih dahulu mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ
Kemudian:
إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Barulah Allah menyebut:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ
Sehingga secara makrifat, jalan keluar dimulai bukan ketika keadaan di luar berubah, tetapi ketika hati kembali kepada Allah.
Sumber Al-Qur’an: QS. An-Najm 53:5 untuk شَدِيدُ الْقُوَى, QS. Ar-Ra’d 13:13 untuk شَدِيدُ الْمِحَال, dan QS. Al-Anbiya’ 21:87–88 untuk doa Nabi Yunus serta فَاسْتَجَبْنَا لَهُ….
Semoga bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment