Berduka atas Syahadah Imam Ridho as
Berduka atas Syahadahnya Imam Ali bin Musa ArRidho; pada 17/29/30 Shofar 203 H.
Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.
Nama : Ali
Gelar : Ar-Ridho
Julukan : Abulhasan
Ayah : Imam Musa Al- Kazhim
Ibu : Najmah dijuluki Ummulbanin
Lahir : Madinah, Kamis, 11 Zulqo’dah 148
Wafat : 17/29/30 shofar atau 23 Dzulqo’dah 203 H dalam riwayat lain
Umur : 55 tahun
Sebab wafat : Diracun Makmun Al-Abbas
Makam : Masyhad, Iran
Anak : 6 orang, 5 laki-laki 1 perempuan
Biografi Singkat Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.
Imam Ali Ridha a.s. dilahirkan di Madinah pada tanggal 11 Dzul Qa'dah 148 H. Ayahnya adalah Imam Musa Kazhim a.s. dan ibunya adalah Najmah. Nama lainnya adalah Samanah, Tuktam dan Thahirah.
Setelah Imam Kazhim a.s. syahid, ia dalam usia 35 tahun harus memegang tali kendali imamah, menjaga norma-norma Islam dan membimbing para pengikutnya.
Masa keimamahan Imam Ridha a.s. adalah dua puluh tahun. Kita dapat membagi masa tersebut dalam tiga fase:
a. Sepuluh tahun pertama masa imamahnya yang bertepatan dengan masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid.
b. Lima tahun setelah masa tersebut yang bertepatan dengan masa pemerintahan Amin, putra Harun.
c. Lima tahun kedua yang bertepatan dengan masa pemerintahan Ma`mun Al-Abasi, saudara Amin.
Dalam setiap fase imamah di atas, Imam Ridha a.s. berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik dalam menjaga dan menyebarkan Islam meskipun ia harus berhadapan --dari satu sisi-- dengan politik pemerintahan masa itu yang rumit karena ia menjadikan Islam sebagai polesan pemerintahannya, dan --dari sisi lain--, kepincangan-kepincangan sosial yang menimpa masyarakat waktu itu.
Imam Ridha a.s. pada tiga tahun terakhir hidupnya banyak mengeluarkan tenaga demi menggunakan kesempatan yang ada demi menyadarkan masyarakat luas dan memfokuskan perhatian mereka terhadap perma-salahan-permasalahan pokok dan taktik pemerintah dalam melupakan mereka akan problema-problema tersebut dengan metode yang beraneka ragam.
Imam Ridha a.s. syahid pada tahun 203 H. dalam usianya yang ke-55 tahun di sebuah desa yang bernama Senabad Nuqan dan sekarang desa itu menjadi salah satu bagian dari kota Masyhad. Ia syahid karena diracun oleh Ma`mun, Khalifah yang berkuasa pada saat itu.
40 Hadis Imam Ali Ar-Ridho a.s.
1. Tiga karakter orang mukmin : "Seseorang tidak akan menjadi mukmin yang sejati kecuali ia memiliki tiga karakter berikut ini: mengikuti sunnah Tuhannya, sunnah Nabi-Nya dan sunnah imamnya. Sunnah (kebiasaan yang dilakukan oleh) Tuhannya adalah menyimpan rahasia, sunnah Nabi-Nya adalah berbuat toleransi terhadap orang lain dan sunnah imamnya adalah sabar menanggung kesengsaraan".
2. Pahala berbuat kebajikan diam-diam dan ancaman bagi orang yang melakukan kejelekan terang-terangan : "Orang yang berbuat kebaikan secara diam-diam pahalanya sama dengan tujuh puluh kebaikan, orang yang melakukan kejelekan secara terang-terangan, ia akan hina dan orang yang menutupi kejelekan akan diampuni".
3. Kebersihan : "Menjaga kebersihan adalah termasuk akhlak para nabi a.s."
4. Orang yang dapat dipercaya : "Orang yang (pada hakikatnya) dapat dipercaya tidak akan berkhianat kepadamu, dan hanya engkaulah yang menganggap pengkhianat sebagai orang yang dapat dipercaya".
5. Kedudukan saudara tertua : "Kedudukan saudara tertua seperti kedudukan seorang ayah".
6. Sahabat dan musuh setiap orang : "Sahabat setiap orang adalah akalnya dan musuhnya adalah kebodohannya".
7. Menyebutkan nama seseorang dengan penuh penghormatan : "Jika engkau menyebut nama seseorang yang ada di hadapanmu, maka sebutlah julukannya, dan jika ia tidak ada di hadapanmu, maka sebutlah namanya".
8. Kejelekan banyak bicara : "Allah membenci banyak bicara, menghambur-hamburkan harta dan meminta-minta".
9. Sepuluh keistimewaan orang yang berakal : "Akal seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia memiliki sepuluh karakter berikut:
1. Kebaikannya selalu diharapkan orang.
2. Orang lain merasa aman dari kejahatannya.
3. Menganggap banyak kebaikan orang yang sedikit.
4. Menganggap sedikit kebaikan yang telah diperbuatnya kepada orang lain.
5. Tidak pernah menyesal jika orang lain selalu meminta bantuan darinya.
6. Tidak merasa bosan mencari ilmu sepanjang umurnya.
7. Kefakiran di jalan Allah lebih disukainya dari pada kekayaan.
8. Hina di jalan Allah lebih disukainya dari pada mulia di dalam pelukan musuh-Nya.
9. Ketidaktenaran lebih disukainya dari pada ketenaran". Kemudian Imam Ridha a.s. bertanya: "Yang kesepuluh, apakah yang kesepuluh?" "Apakah yang kesepuluh?", tanya seorang sahabat.
10. "Ia tidak melihat seseorang kecuali berkata (dalam hatinya): 'Ia masih lebih baik dariku dan lebih bertakwa'", jawabnya singkat.
10. Tanda-tanda safilah : Imam Ridha a.s. pernah ditanya tentang siapakah safilah itu. Ia menjawab: "(Safilah) adalah orang yang dilupakan oleh hartanya untuk mengingat Allah".
11. Imam, takwa dan yakin : "Sesungguhnya iman lebih utama dari Islam satu derajat, takwa lebih utama dari iman satu derajat dan bani Adam tidak akan dianugerahi sesuatu yang lebih utama dari yakin".
12. Walimah perkawinan : "Mengadakan walimah perkawinan adalah termasuk sunnah".
13. Silaturahmi dengan sarana apa pun : "Sambunglah tali persudaraanmu walau dengan memberikan seteguk air minum, dan cara yang terbaik untuk itu adalah tidak mengganggu kerabatmu".
14. Senjata para nabi a.s. : "Pergunakanlah senjata para nabi a.s.!""Apakah senjata para nabi itu?", tanya sebagian sahabat."Doa", jawabnya singkat.
15. Tanda-tanda orang yang "faqih" dalam agama : "Di antara tanda-tanda orang yang 'faqih' dalam agama adalah kesabaran dan ilmu. Diam adalah salah satu pintu dari pintu-pintu hikmah. Sesungguhnya diam dapat mendatang kan kecintaan, dan ia adalah tanda setiap kebaikan".
16. Hakikat tawakal : Imam Ridha a.s. pernah ditanya tentang hakikat tawakal. Ia menjawab: "(Tawakal) adalah engkau tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah".
17. Manusia terjahat : "Manusia terjahat adalah orang yang tidak mau menolong orang lain, makan sendirian dan memukul budaknya (baca : bawahannya)".
18. Para penguasa tidak akan pernah menepati janji : "Orang yang kikir tidak akan pernah tenang, penghasud tidak akan pernah bahagia, para penguasa tidak akan pernah menepati janji dan pembohong tidak akan memiliki harga diri".
19. Mencium tangan, tidak! :
“Seseorang tidak boleh mencium tangan sesamanya, karena mencium tangannya sama halnya dengan mengerjakan shalat kepadanya".
20. Berprasangka baik kepada Allah : "Berprasangkalah baik kepada Allah, karena orang yang berprasangka baik kepada Allah, Ia akan seperti yang disangkannya. Barang siapa yang rela dengan rezeki sedikit, maka amalannya yang sedikit akan diterima, tanggungannya menjadi ringan, keluarganya akan dianugerahi nikmat, Allah akan memberitahukan kepadanya penyakit dunia dan obatnya dan Ia akan mengeluarkannya dari dunia ini dengan selamat menuju alam kebahagiaan".
21. Rukun iman : "Iman memiliki empat rukun: tawakal kepada Allah, rela dengan segala ketentuan (qadha`)-Nya, pasrah diri terhadap semua perintah-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya".
22. Hamba Allah terbaik : Imam Ridha a.s. pernah ditanya tentang hamba Allah yang terbaik. Ia menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang jika berbuat kebajikan marasa bahagia, jika berbuat kejahatan akan meminta ampun, jika dianugerahi oleh orang lain akan berterima kasih, dan jika marah akan memaafkan".
23. Menghina orang fakir : "Barang siapa berjumpa dengan orang fakir dan mengucapkan salam kepadanya dengan cara yang berbeda ketika mengucapkan salam kepada orang kaya, maka ia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat sedangkan Ia murka kepadanya".
24. Kebahagiaan dunia : Imam Ridha a.s. pernah ditanya mengenai kebahgiaan dunia. Ia menjawab: "Luasnya rumah dan banyaknya sahabat".
25. Akibat pemerintahan zalim : "Jika para penguasa sudah berani berbohong, maka hujan tidak akan turun, jika penguasa sudah berani berbuat lalim, maka negara akan hina, dan jika zakat tidak dibayar, maka binatang-binatang ternak akan binasa".
26. Membahagiakan orang mukmin : "Barang siapa menolong orang mukmin menangani kesusahannya, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari hatinya pada hari kiamat".
27. Amalan terbaik setelah hal-hal yang wajib : "Tidak ada amalan yang lebih utama di sisi Allah setelah hal-hal yang wajib dari membahagiakan orang mukmin".
28. Tidak berlebihan dalam berbuat kebaikan : "Janganlah berlebihan ketika engkau kaya atau miskin dan dalam berbuat kebaikan, baik dari barang yang banyak atau sedikit, karena Allah SWT bisa membesarkan pahala sedekah setengah potong kurma pada hari kiamat hingga menjadi seperti gunung Uhud ".
29. Saling berkunjung dan menampakkan rasa kasih sayang : "Saling berkunjunglah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai, dan saling bersalamanlah kalian dan jangan saling bermusuhan”.
30. Merahasiakan pekerjaan :
"Rahasiakanlah urusan agama dan dunia kalian, karena diriwayatkan bahwa "menyebarkan urusan-urusan tersebut adalah kekufuran", "orang yang suka menyebarkannya dan pembunuh adalah sama" dan "apa yang kau rahasiakan dari musuhmu hendaknya sahabatmu juga jangan sampai mengetahuinya".
31. Melanggar janji dan tipu muslihat:
“Seseorang tidak akan dapat membebaskan diri dari lingkaran kesengsaraan dengan melanggar janji, dan tidak akan aman dari ancaman siksa jika melakukan kezaliman dengan cara tipu muslihat".
32. Cara menghadapi empat golongan: “Hadapilah raja dengan penuh waspada, sahabat dengan rendah hati, musuh dengan cara hati-hati dan masyarakat umum dengan wajah yang ceria".
33. Rela dengan rezeki yang sedikit : "Barang siapa yang rela terhadap Allah karena rezeki sedikit (yang telah dianugerahkannya kepadanya), maka Ia akan merelai amalannya yang sedikit".
34. Pahala orang yang mau berusaha : "Barang siapa yang berusaha mencari rezeki dengan tujuan untuk menghidupi keluarganya, pahalanya lebih besar dari orang yang berjihad di jalan Allah".
35. Sifat pemaaf akan selalu menang : "Jika dua kelompok saling bertemu, maka kemenangan akan berpihak kepada kelompok yang paling pemaaf".
36. Amal saleh dan mencintai keluarga Muhammad SAW. :
"Janganlah meninggalkan amal saleh dan kesungguhan dalam ibadah karena mengandalkan cinta kepada keluarga Muhammad SAW. dan janganlah meninggalkan kecintaan kepada keluarga Muhammad SAW.karena mengandalkan ibadah (yang kau kerjakan), karena salah satunya tidak akan diterima kecuali jika disertai dengan yang lainnya".
37. Tidak bersyukur pada Allah Swt. : "Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada orang tuanya, maka dia tidak bersyukur kepada Allah swt."
38. Mengawasi diri : "Barang siapa yang selalu mengawasi dirinya, niscaya akan beruntung, dan barang siapa melalaikannya, pasti akan merugi".
39. Sebaik-baik akal : "Sebaik-baik akal adalah kesadaran seseorang akan dirinya sendiri".
40. Bila seorang mukmin marah : "Bila seorang mukmin marah, maka kemarahannya tidak akan mengeluarkan dirinya dari bersikap benar. Dan jika ia senang, maka kesenangannya tidak akan menghanyutkannya ke dalam kebatilan. Dan jika ia punya kekuatan, ia tidak akan merebut lebih dari haknya".
Maqtal Imam Ali al-Ridha as;
1, Imam ‘Ali bin Musa al-Ridha ‘alaihis salam adalah Imam kedelapan dari Ahlulbait Rasulullah ﷺ. Beliau lahir di Madinah dan dikenal karena keluasan ilmu, ketakwaan, kelembutan akhlak, serta kedudukannya yang tinggi di tengah umat. Setelah wafatnya Imam Musa al-Kazhim ‘alaihis salam, kepemimpinan ruhani Ahlulbait berada di tangan beliau. Banyak kaum Muslimin datang kepada beliau untuk bertanya tentang ilmu agama, tafsir Al-Qur’an, akidah, fikih, dan persoalan-persoalan spiritual.
2, Pada masa pemerintahan al-Ma’mun al-‘Abbasi, keadaan politik kekhalifahan mengalami pergolakan besar. Al-Ma’mun kemudian memanggil Imam al-Ridha as dari Madinah menuju Khurasan. Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan biasa, karena perpindahan Imam dari pusat kota Madinah menuju wilayah kekuasaan Abbasiyah menjadikan beliau semakin dekat dengan pusat politik pemerintahan.
3, Al-Ma’mun menawarkan kedudukan sebagai khalifah kepada Imam al-Ridha as, tetapi Imam tidak menerimanya. Kemudian al-Ma’mun memaksakan agar beliau menerima kedudukan sebagai wali al-‘ahd, yaitu putra mahkota atau penerus pemerintahan. Imam menerima secara terpaksa, dengan syarat bahwa beliau tidak ikut campur dalam pengangkatan, pemberhentian, pemerintahan, dan urusan politik negara.
4, Walaupun berada dalam lingkungan istana, Imam tidak berubah menjadi bagian dari kemewahan penguasa. Beliau tetap hidup dengan kezuhudan dan memperhatikan orang-orang miskin. Kedudukan politik yang diberikan kepadanya justru menjadikan masyarakat semakin mudah melihat keluasan ilmu dan keutamaan Ahlulbait.
5, Keilmuan Imam al-Ridha as semakin dikenal luas. Dalam berbagai majelis ilmiah, beliau berdialog dengan ulama dari beragam agama dan mazhab. Salah satu peristiwa yang terkenal adalah majelis-majelis dialog yang diadakan al-Ma’mun. Imam menjawab persoalan dengan argumentasi yang kuat dan menunjukkan kedalaman ilmu yang diwarisi dari Rasulullah ﷺ melalui Ahlulbait.
6, Semakin besar pengaruh Imam di tengah masyarakat, semakin besar pula kekhawatiran penguasa. Al-Ma’mun yang sebelumnya berusaha menggunakan kedudukan Imam untuk memperkuat legitimasi pemerintahannya melihat bahwa kecintaan masyarakat kepada Imam justru semakin bertambah. Dalam riwayat-riwayat sejarah Syiah, keadaan ini menjadi salah satu latar belakang meningkatnya tekanan terhadap Imam.
7, Imam al-Ridha tidak mengejar kekuasaan dunia. Dalam pandangan beliau, kepemimpinan yang sejati adalah amanah Ilahi. Seorang Imam bukanlah orang yang mencari kemuliaan melalui kerajaan, melainkan hamba Allah yang mengarahkan manusia kepada tauhid, keadilan, ilmu, dan jalan Rasulullah ﷺ.
8, Kemudian Imam meninggalkan wilayah Marw menuju Tus. Dalam perjalanan itu, beliau melewati wilayah-wilayah Khurasan. Salah satu tempat yang sangat terkenal adalah Nishapur. Di sana para ulama dan masyarakat berkumpul untuk meminta hadis kepada beliau. Imam kemudian menyampaikan hadis yang masyhur tentang kalimat tauhid, yang dikenal sebagai Hadis Silsilat al-Dhahab.
9, Dalam riwayat yang terkenal, Imam al-Ridha menyampaikan sabda tentang kalimat La ilaha illallah dan menegaskan bahwa tauhid merupakan benteng Allah. Kemudian beliau menyebutkan bahwa benteng tersebut memiliki syarat, dan beliau termasuk di antara syarat itu. Maknanya bukan bahwa manusia menyembah Imam, melainkan bahwa tauhid yang benar harus diterima bersama jalan petunjuk yang ditetapkan Allah melalui Rasul-Nya dan Ahlulbait.
10, Sesampainya di Tus, keadaan Imam semakin berada di bawah pengawasan pemerintahan. Tidak lama kemudian beliau mengalami sakit. Dalam tradisi riwayat Syiah, penyakit tersebut dikaitkan dengan racun yang diberikan oleh al-Ma’mun. Riwayat mengenai bentuk dan cara pemberian racun memiliki beberapa redaksi, sehingga rincian peristiwanya perlu dinilai berdasarkan sumber masing-masing.
11, Hari-hari terakhir Imam dipenuhi dengan ibadah, doa, dzikir, dan perhatian kepada Allah. Walaupun tubuh beliau semakin lemah, kedudukan ruhani beliau tidak berkurang. Bagi para pecinta Ahlulbait, saat-saat tersebut merupakan gambaran seorang wali Allah yang menghadapi kematian bukan dengan ketakutan terhadap dunia, tetapi dengan kerinduan untuk kembali kepada Tuhannya.
12, Imam Ali al-Ridha ‘alaihis salam akhirnya wafat di wilayah Tus pada tahun 203 H, dalam usia sekitar 55 tahun. Dalam tradisi Syiah Imamiyah, beliau diyakini wafat karena diracun atas perintah al-Ma’mun. Makam beliau kemudian menjadi tempat ziarah yang sangat agung dan dikenal sebagai Masyhad al-Ridha, tempat manusia dari berbagai negeri datang untuk memberi salam kepada putra Rasulullah ﷺ.
13, Wafatnya Imam al-Ridha tidak menghapus cahaya ilmu beliau. Justru setelah wafatnya, makam beliau menjadi pusat ziarah dan pengingat terhadap perjuangan Ahlulbait. Para peziarah mengucapkan salam kepada beliau, membaca ziarah, mendoakan keselamatan, dan memohon kepada Allah agar diberi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ serta Ahlulbaitnya. Ziarah kepada Imam pada hakikatnya diarahkan kepada Allah, sementara Imam menjadi teladan dan jalan untuk mengingat Allah.
14, Maqtal Imam al-Ridha mengajarkan bahwa seorang hamba tidak diukur dari dekat atau jauhnya ia dari istana dunia, tetapi dari kedekatannya kepada Allah. Imam pernah ditempatkan di tengah kekuasaan, namun hatinya tidak menjadi milik kekuasaan. Tubuhnya wafat di Tus, tetapi ilmu, akhlak, kesabaran, tauhid, dan kecintaan kepada Ahlulbait terus hidup. Karena itu, ketika seorang mukmin berdiri di hadapan makam Imam al-Ridha dan berkata, السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا عَلِيَّ بْنَ مُوسَى الرِّضَا, ia bukan sekadar mengenang seorang tokoh sejarah, tetapi mengingat seorang hamba Allah yang mengajarkan bahwa keselamatan sejati terletak pada tauhid, ولایت, ilmu, kesabaran, dan penyerahan diri kepada Allah.
Qoshidah Di‘bil al-Khuza‘i ra lengkap dengan dua bait tambahan Imam ‘Ali al-Ridha عليه السلام,
قَصِيدَةُ دِعْبِلٍ الْخُزَاعِيِّ
1, مَدَارِسُ آيَاتٍ خَلَتْ مِنْ تِلَاوَةٍ
وَمَنْزِلُ وَحْيٍ مُقْفِرُ الْعَرَصَاتِ
Madarīsu āyātin khalat min tilāwatin
wa manzilu waḥyin muqfirul-‘araṣāti
Tempat-tempat ayat-ayat Allah telah sunyi dari tilawah,
dan tempat turunnya wahyu telah menjadi lengang dan sepi.
2, دِيَارُ عَلِيٍّ وَالْحُسَيْنِ وَجَعْفَرٍ وَحَمْزَةَ وَالسَّجَّادِ ذِي الثَّفَنَاتِ
Diyāru ‘Aliyyin wal-Ḥusaini wa Ja‘farin wa Ḥamzata was-Sajjādi dzits-tsafanāti
Itulah kediaman ‘Ali, al-Husain, Ja‘far,
Hamzah, dan al-Sajjad yang memiliki bekas-bekas sujud.
3, مَنَازِلُ وَحْيِ اللهِ مَعْدِنُ عِلْمِهِ
سَبِيلُ رَشَادٍ وَاضِحُ الطُّرُقَاتِ
Manāzilu waḥyillāhi ma‘dinu ‘ilmihi
sabīlu rasyādin wāḍiḥuth-ṭuruqāti
Tempat-tempat turunnya wahyu Allah, sumber ilmu-Nya,
jalan petunjuk yang benar, yang jelas jalan-jalannya.
4, أَفَاطِمُ لَوْ خِلْتِ الْحُسَيْنَ مُجَدَّلًا وَقَدْ مَاتَ عَطْشَانًا بِشَطِّ فُرَاتِ
Afāṭimu lau khiltil-Ḥusaina mujaddalan wa qad māta ‘aṭsyānan bisyaṭṭi Furāti
Wahai Fathimah, seandainya engkau melihat al-Husain tergeletak,
sedangkan ia wafat dalam keadaan haus di tepi Furat.
5, إِذًا لَطَمْتِ الْخَدَّ فَاطِمُ عِنْدَهُ وَأَجْرَيْتِ دَمْعَ الْعَيْنِ فِي الْوَجَنَاتِ
Idzan laṭamtil-khadda Fāṭimu ‘indahu wa ajrayti dam‘al-‘aini fil-wajanāti
Niscaya engkau akan menampar pipimu di sisinya, wahai Fathimah,
dan engkau akan mengalirkan air mata di kedua pipimu.
6, أَفَاطِمُ قُومِي يَا ابْنَةَ الْخَيْرِ وَانْدُبِي نُجُومَ سَمَاوَاتٍ بِأَرْضِ فَلَاتِ
Afāṭimu qūmī yā bnat al-khairi wandubī nujūma samāwātin bi-arḍi falāti
Wahai Fathimah, bangkitlah, wahai putri kebaikan, dan ratapilah
bintang-bintang langit yang tergeletak di tanah padang tandus.
7, قُبُورٌ بِكُوفَانٍ وَأُخْرَى بِطَيْبَةٍ وَأُخْرَى بِفَخٍّ نَالَهَا صَلَوَاتِي
Qubūrun bi-Kūfānin wa ukhrā bi-Ṭaibatin wa ukhrā bi-Fakhkhin nālahā ṣalawātī
Ada kuburan-kuburan di Kufah, dan yang lainnya di Thaibah (Madinah),
dan yang lainnya di Fakh; kepadanya tercurah shalawatku.
8, وَقَبْرٌ بِبَغْدَادَ لِنَفْسٍ زَكِيَّةٍ تَضَمَّنَهَا الرَّحْمَنُ بِالْغُرُفَاتِ
Wa qabrun bi-Baghdāda linafsin zakiyyatin taḍammanahār-Raḥmānu bil-ghurufāti
Dan sebuah kuburan di Baghdad bagi jiwa yang suci, yang ditempatkan oleh ar-Rahman di kamar-kamar kemuliaan.
⸻
أَبْيَاتُ الإِمَامِ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلَامُ
9 — Bait tambahan Imam al-Ridha
وَقَبْرٌ بِطُوسٍ يَا لَهَا مِنْ مُصِيبَةٍ
أَلَحَّتْ عَلَى الْأَحْشَاءِ بِالزَّفَرَاتِ
Wa qabrun bi-Ṭūsin yā lahā min muṣībatin alaḥḥat ‘alal-aḥsyā’i biz-zafarāti
Dan sebuah kuburan di Thus—betapa dahsyatnya suatu musibah—
yang terus menghimpit sanubari dengan hembusan-hembusan duka.
10 — Bait tambahan Imam al-Ridha
إِلَى الْحَشْرِ حَتَّى يَبْعَثَ اللهُ قَائِمًا يُفَرِّجُ عَنَّا الْهَمَّ وَالْكُرُبَاتِ
Ilal-ḥasyri ḥattā yab‘atsallāhu qā’iman yufarriju ‘annal-hamma wal-kurubāti
Sampai hari kebangkitan, hingga Allah membangkitkan al-Qā’im,
yang akan menghilangkan dari kami segala kesusahan dan penderitaan.
Penutup percakapan
دِعْبِلٌ: يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ، هَذَا الْقَبْرُ الَّذِي بِطُوسٍ قَبْرُ مَنْ هُوَ؟
Di‘bil:”Wahai putra Rasulullah, kuburan yang berada di Thus itu kuburan siapa?”
الإِمَامُ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلَامُ: قَبْرِي.
Qabrī. “Kuburanku.”
Kemudian Imam al-Ridha عليه السلام menjelaskan keutamaan ziarahnya di Thus dan hubungan para peziarah dengan beliau pada Hari Kiamat.
Hadis-hadis Keutamaan Menziarahi Imam Ali Ridho a.s.
1. Nabi saw bersabda: ―Akan di kebumikan bagian dari diriku (keturunan beliau saw) di Khurosan dan barangsiapa yang menziarahinya dengan keimanan (keyakinan) Allah akan mewajibkan untuknya surga dan akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.
2. Diriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al-Bazanti dia berkata ;‘ku membaca kitab Abil Hasan Ar-Ridho a.s.; ̳Sampaikan pada pengikutku barangsiapa yang menziarahiku akan dibalas oleh Allah Swt dengan 1000 kali haji kemudI ian aku tanyakan pada Abi Ja‘far yaitu putranya a.s. 1000 kali haji? Ya, bahkan seribu seribu kali haji, bagi yang menziarahinya dengan mengetahui hak-haknya‘.
3. Diriwayatkan Husein bin Zaid dari Abi Ja‘far a.s. Dia berkata ;‘Aku mendengar darinya ; ―Akan keluar seorang laki-laki dari putra Musa namanya nama Amirul Mukminin dan akan di kebumikan di tanah Thus di Khurosan dia akan di bunuh dengan racun, yang menziarahinya dengan mengetahui hak-haknya, Allah Swt akan memberikan pahala seorang yang menginfaqkan hartanya sebelum Fathu (kemenangan memasuki kota Mekkah) dan terbunuh (syahid).
4. Diriwayatkan Al-Bazanthi dari Ar-Ridho a.s.: ―Siapapun yang menziarahiku dari pengikutku, yang mengenal hak-hakku dia akan mendapat syafaatku pada hari kiamat‖.
5. Berkata Abu Ja‘far Muhammad bin Ali Ar-Ridho a.s. : Sesungguhnya di antara gunung Thûs ada Qubbah dari Surga yang memasukinya maka dia akan aman di hari kiamat.
6. Rosulullah Saw bersabda :Akan di kuburkan sebagian dari darah dagingku di Khurosan dan yang menziarahinya ketika mempunyai berbagai kesulitan maka Allah Swt akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya, yang berdosa, maka Allah akan mengampuni dosa- dosanya.
7. Diriwayatkan dari Nukman bin Sa‘id dari Amir Mukminin Ali bin Abi Tholib a.s. : ―Akan dibunuh seorang dari keturunanku di tanah Khurosan dengan racun dalam keadaan terzdalimi namanya sama dengan namaku nama ayahnya adalah nama putra Imron yaitu Musa a.s. ketahuilah bahwa barangsiapa yang menziarahinya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak bintang dan tetesan hujan serta dedaunan di pohon.
8. Diriwayatkan dari Hamzah bin Humron : ―Abu Abdillah a.s. berkata ;‘Akan dibunuh keturunanku di tanah Khurosan di kota Thûs, yang menziarahinya dan mengetahui hak-haknya aku akan melindunginya di Hari Kiamat dan akan memasukkannya ke surga walaupun dia pernah melakukan dosa besar, demi jiwaku apa yang dimaksud dengan mengetahui hak-haknya, beliau menjawab : ―Dia mengetahui bahwa sesungguhnya dia adalah Imam yang wajib ditaati, dia syahid, yang menziarahinya dan mengetahui hak-haknya Allah Swt akan memberi pahala 70 orang syahid yang kesyahidannya di zaman Rosulullah saw.
9. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali bin Fadhdhol dari Abil Hasan ar-Ridho dia berkata : ―Sesungguhnya di Khurosan ada tempat yang akan di datangi para malaikat secara bergantian, yang turun dan naik ke langit. Wahai putra Rosulullah tempat apakah itu? Imam menjawab: ―Dia kota Thûs, demi Allah tempat itu adalah Roudhoh (Taman) di antara taman-taman surga, yang menziarahiku di tempat itu sama seperti menziarahi Rosulullah saw dan akan dicatat oleh Allah Swt pahala 1000 kali haji yang mabrur dan 1000 umroh yang makbul dan aku serta ayah- ayahku akan memberinya syafaat pada hari kiamat. (Manla Yahdurul Faqih : 2/586)
Doa Ziarah Imam Ridho a.s.
السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاوَلِيَّ الله وَابْنَ وَلِيِّهِ،
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاحُجَّةَ اللهِ وَابْنَ حُجَّتِهِ،
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاإِمَامَ الْهُدَى وَالعُرْوَةَ الوُثْقى وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاتُهُ، أَشْهَدُ أَنَّكَ مَضَيْتَ عَلَى مَامَضَى عَلَيْهِ آبَاؤُكَ الطَّاهِرُونَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ، لَمْ تُؤْثِرْ عَمىً عَلَى هُدىً وَلَمْ تَمِلْ مِنْ حَقٍّ إِلىَ بَاطِلٍ وَأَنَّكَ نَصَحْتَ للهِ وَلِرَسُولِهِ وَأَدَّيْتَ الاَمانَةَ؛ فَجَزَاكَ اللهُ عَنِ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ خَيْرَ الْجَزَاءِ.
أَتَيْتُكَ بِأَبِي وَاُمِّي زَائِراً عَارِفاً بِحَقِّكَ مُوَالِياً ِلاَوْلِيائِكَ مُعَادِياً ِلاَعْدَائِكَ فَاشْفَعْ لِي عِنْدَ رَبِّكَ.السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَامَوْلاَيَ يابْنَ رَسُولِ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَشْهَدُ أَنَّكَ الإِمَام الْهَادِي وَالوَلِيُّ الْمُرْشِدُ، أَبْرَأُ إِلىَ الله مِنْ أَعْدَائِكَ وَأَتَقَرَّبُ إلَى اللهِ بِوِلاَيَتِكَ صَلَّى الله عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ. لاَجَعَلَهُ الله آخِرَ تَسْلِيمِي عَلَيْكَ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَاوَلِيَّ اللهُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَللَّهُمَّ لاَتَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ زِيَارَتِي ابْنَ نَبِيِّكَ وَحُجَّتِكَ عَلَى خَلْقِكَ وَاجْمَعْنِي وَإِيَّاهُ فِي جَنَّتِكَ وَاحْشُرْنِي مَعَهُ وَفِي حِزْبِهِ مَعَ الشُّهَدَاءِوَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقاً، وَأَسْتَوْدِعُكَ اللهُوَأَسْتَرْعِيكَ وَأَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمُ، آمَنَّا بِاللهِوَبِالرَّسُولِ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ وَدَلَلْتَ عَلَيْهِ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ.
Assalâmu ‘alayka yâ waliyallâh wabna waliyyih, assalâmu ‘alayka yâ hujjatallâh wabna hujjatih, assalâmu ‘alayka yâ imâmal hudâ wal ‘urwatil wuts-qô waroh matullâhi wabarokâtuh, asyhadu annaka madhoyta ‘alâ mâ madhô ‘alayhi âbâ-ukath-thôhirûn sholawâtullâhi ‘alay him, lam tu’tsir ‘aman ‘alâ hudan, walam tamil min haqqin ilâ bâthilin wa annaka nashohta lillâhi walirosûlihi wa addaytal amanita, fajazâkallâhu ‘anil islâmi wa ahlihi khoyrol jazâ-i, ataytuka bi abî wa ummî zâ-iron ‘ârifan bihaqqika muwalliyan li auliyâ-ika mu’âdiyan li a’dâ-ika fasy-fa’ lî ‘inda robbika, assalâmu ‘alayka yâ maulâya yabna rosûlillâhi warohmatullâhi wabarokâtuh, asy-hadu annakal imâmal hâdî walwaliyyul mursyidu, abro-u ilallâh min a’dâ-ika waataqorrobu ilallâhi biwilâyatika shollollôhu ‘alayka warohmatullâhi wabarokâtuh, lâ ja’alahullâhu âkhiro taslîmî ‘alayka, assalâmu ‘alayka yâwaliyallâh warohmatullâhi wabarokâtuh, allâhumma lâ taj’alhu âkhirol ‘ahdi min ziyârotî ibna nabiyyika wahujjatika ‘alâ kholqika wajma’nî wa iyyâhu fî jannatika wah-syurnî ma’ahû wafî hizbihi ma’asy-syuhadâ-i wash-shôlihîn wahasuna ulâ-ika rofîqo, wa astaudi’ukallâh wa astar’îka wa aqro-u ‘alaykas-salâm, âmannâ billâhi wabir-rosûli wabimâ ji’ta bihi wa dalalta ‘alayhi faktubnâ ma’asy-syâhidîn.
Ziarah Imam Ali al-Rida a.s. Per kalimat dan Makrifatnya
1. السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَّ اللَّهِ وَابْنَ وَلِيِّهِ
As-salāmu ‘alaika yā waliyyallāhi wabna waliyyih.
Salam sejahtera atasmu, wahai Wali Allah dan putra Wali-Nya.
Makrifat: Wali Allah menunjukkan kedudukan seorang hamba yang dekat dan dipilih Allah untuk menjadi pembimbing manusia. Penyebutan “putra Wali-Nya” juga menghubungkan Imam Ridha a.s. dengan mata rantai kepemimpinan suci Ahlulbait. Dalam makna batin, peziarah tidak hanya mendatangi makam, tetapi datang untuk mengakui wilayah dan petunjuk Ilahi yang diwariskan melalui Ahlulbait.
⸻
2. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حُجَّةَ اللَّهِ وَابْنَ حُجَّتِهِ
As-salāmu ‘alaika yā hujjatallāhi wabna hujjatih.
Salam sejahtera atasmu, wahai Hujjah Allah dan putra Hujjah-Nya.
Makrifat: Hujjah Allah berarti tanda dan bukti Allah bagi manusia. Dalam perspektif Imami, Imam adalah hujjah yang dengannya manusia mengenal jalan kebenaran. Maka ziarah ini mengandung pengakuan: petunjuk Allah tidak dibiarkan tanpa pembimbing.
⸻
3. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا إِمَامَ الْهُدَى
وَالْعُرْوَةَ الْوُثْقَى وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
As-salāmu ‘alaika yā imāmal-hudā wal-‘urwatil-wutsqā, wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Salam sejahtera atasmu, wahai Imam petunjuk dan tali yang paling kuat; serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.
Makrifat: Imām al-hudā adalah pemimpin menuju petunjuk.
Al-‘urwat al-wutsqā secara Qur’ani berarti “pegangan yang paling kokoh”. Allah berfirman:
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
لَا انْفِصَامَ لَهَا
“Sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.” (QS. al-Baqarah 2:256)
Dalam makrifat, Ahlulbait menjadi jalan yang menolong manusia berpegang kepada tauhid dan tidak terseret oleh hawa nafsu.
⸻
4. أَشْهَدُ أَنَّكَ مَضَيْتَ عَلَىٰ مَا مَضَىٰ عَلَيْهِ آبَاؤُكَ الطَّاهِرُونَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ
Asyhadu annaka maḍaita ‘alā mā maḍā ‘alaihi ābā’ukat-ṭāhirūn, ṣalawātullāhi ‘alaihim.
Aku bersaksi bahwa engkau telah berjalan di atas jalan yang telah ditempuh oleh para leluhurmu yang suci; semoga salawat Allah tercurah kepada mereka.
Makrifat:
Imam Ridha a.s. tidak dipandang membawa agama baru. Beliau meneruskan jalan tauhid, kenabian, ilmu, ibadah, keadilan dan wilayah yang diwariskan dari Rasulullah saw. melalui Ahlulbait.
⸻
5. لَمْ تُؤْثِرْ عَمًى عَلَىٰ هُدًى
وَلَمْ تَمِلْ مِنْ حَقٍّ إِلَىٰ بَاطِلٍ
Lam tu’tsir ‘aman ‘alā hudan, wa lam tamil min ḥaqqin ilā bāṭil.
Engkau tidak memilih kebutaan daripada petunjuk, dan engkau tidak berpaling dari kebenaran menuju kebatilan.
Makrifat: Ini adalah kesaksian terhadap istiqamah Imam. Makrifat bukan hanya mengetahui kebenaran, tetapi tidak meninggalkannya ketika kebenaran membawa ujian, tekanan, atau pengorbanan.
⸻
6. وَأَنَّكَ نَصَحْتَ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ
Wa annaka naṣaḥta lillāhi wa li-rasūlihi wa addaital-amānah.
Dan aku bersaksi bahwa engkau telah memberikan ketulusan demi Allah dan Rasul-Nya, serta telah menunaikan amanah.
Makrifat: Nushḥ bukan sekadar memberi nasihat. Ia mengandung makna ketulusan yang murni. Imam melaksanakan amanah Ilahi tanpa mengutamakan kepentingan pribadi.
⸻
7. فَجَزَاكَ اللَّهُ عَنِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ
خَيْرَ الْجَزَاءِ
Fa-jazākallāhu ‘anil-islāmi wa ahlihi khairal-jazā’.
Semoga Allah membalasmu atas jasamu kepada Islam dan kaum Muslimin dengan sebaik-baik balasan.
Makrifat: Seorang Imam bukan hanya menjadi teladan bagi dirinya sendiri. Kehidupan dan ilmunya menjadi khidmat bagi agama dan manusia. Ziarah mengajarkan kita untuk menghargai orang yang mengorbankan hidupnya demi kebenaran.
⸻
8. أَتَيْتُكَ بِأَبِي وَأُمِّي زَائِرًا عَارِفًا بِحَقِّكَ
Ataituka bi-abī wa ummī zā’iran ‘ārifan bi-ḥaqqik.
Aku datang kepadamu—ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu—sebagai seorang peziarah yang mengenal hak dan kedudukanmu.
Makrifat:’Ārifan bi-ḥaqqik adalah inti ziarah. Ziarah bukan sekadar mengunjungi tempat; yang utama adalah mengenal kedudukan yang diziarahi dan memahami jalan spiritual yang diajarkannya.
⸻
9. مُوَالِيًا لِأَوْلِيَائِكَ مُعَادِيًا لِأَعْدَائِكَ
Muwāliyan li-auliyā’ika, mu‘ādiyan li-a‘dā’ik.
Aku mencintai dan berpihak kepada para kekasihmu, serta berlepas diri dari musuh-musuhmu.
Makrifat: Ini adalah konsep walāyah dan barā’ah: mencintai jalan kebenaran dan menjauhkan diri dari jalan kebatilan. Maknanya tidak berhenti pada ucapan, tetapi harus tampak dalam akhlak, pilihan, dan perilaku seseorang.
⸻
10. فَاشْفَعْ لِي عِنْدَ رَبِّكَ
Fasyfa‘ lī ‘inda rabbik.
Maka berilah syafaat untukku di sisi Tuhanmu.
Makrifat: Peziarah memohon syafaat kepada Imam sebagai wasilah, sementara sumber segala syafaat tetap Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa syafaat seluruhnya berada di bawah kekuasaan Allah:
قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah: milik Allah-lah seluruh syafaat.” (QS. az-Zumar 39:44)
Jadi makna makrifatnya adalah: Allah adalah sumber, sementara para wali-Nya adalah jalan yang diizinkan-Nya untuk menjadi sebab syafaat.
⸻
11. السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مَوْلَايَ
يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
As-salāmu ‘alaika yā maulāya yabna rasūlillāhi wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Salam sejahtera atasmu, wahai junjunganku, wahai putra Rasulullah; serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.
Makrifat: Kata maulāya menunjukkan hubungan kecintaan, penghormatan dan keterikatan spiritual. Menyebut Imam sebagai putra Rasulullah mengingatkan bahwa kecintaan kepada Ahlulbait mempunyai akar dalam kecintaan kepada Rasulullah saw.
⸻
12. أَشْهَدُ أَنَّكَ الْإِمَامُ الْهَادِي وَالْوَلِيُّ الْمُرْشِدُ
Asyhadu annakal-imāmal-hādī wal-waliyyul-mursyid.
Aku bersaksi bahwa engkau adalah Imam yang memberi petunjuk dan Wali yang membimbing.
Makrifat: Ada dua tingkat dalam kalimat ini:
* al-Hādī — menunjukkan arah menuju kebenaran.
* al-Mursyid — membimbing manusia dalam perjalanan menuju Allah.
Maka Imam dalam pandangan makrifat bukan sekadar pemimpin politik, tetapi pembimbing perjalanan ruhani menuju Allah.
⸻
13. أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ مِنْ أَعْدَائِكَ
وَأَتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ بِوِلَايَتِكَ
Abrā’u ilallāhi min a‘dā’ik, wa ataqarrabu ilallāhi bi-wilāyatik.
Aku berlepas diri kepada Allah dari musuh-musuhmu, dan aku mendekatkan diri kepada Allah melalui wilayahmu.
Makrifat: Perhatikan ungkapannya: إِلَى اللَّهِ — kepada Allah. Tujuan akhirnya tetap Allah. Wilayah Imam menjadi jalan pendekatan kepada-Nya, bukan pengganti Allah.
Inilah keseimbangan tauhid dan wilayah: Allah adalah tujuan, Rasul adalah pembawa risalah, Imam adalah pembimbing jalan.
⸻
14. صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ṣallallāhu ‘alaika wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Semoga Allah melimpahkan salawat, rahmat dan keberkahan-Nya kepadamu.
Makrifat: Salawat menunjukkan bahwa kemuliaan Imam berasal dari Allah. Peziarah memohon agar rahmat Ilahi yang meliputi wali-Nya juga menjadi sebab turunnya rahmat kepada dirinya.
⸻
15. لَا جَعَلَهُ اللَّهُ آخِرَ تَسْلِيمِي عَلَيْكَ
Lā ja‘alahullāhu ākhira taslīmī ‘alaik.
Semoga Allah tidak menjadikan salamku kepadamu ini sebagai salam terakhirku.
Makrifat: Ini adalah kerinduan untuk kembali. Secara batin, seorang pecinta tidak ingin hubungan spiritualnya dengan Imam berhenti setelah satu kali ziarah. Ia ingin kembali dengan hati yang lebih bersih dan pengenalan yang lebih dalam.
⸻
16. السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَّ اللَّهِ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
As-salāmu ‘alaika yā waliyyallāhi wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Salam sejahtera atasmu, wahai Wali Allah; serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.
Makrifat: Pengulangan salam memperdalam hubungan mahabbah dan wilayah. Salam bukan sekadar ucapan, tetapi pengakuan bahwa jalan Imam adalah jalan yang hendak diikuti oleh peziarah.
⸻
17. اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ
مِنْ زِيَارَتِي ابْنَ نَبِيِّكَ وَحُجَّتِكَ عَلَىٰ خَلْقِكَ
Allāhumma lā taj‘alhu ākhiral-‘ahdi min ziyāratī ibna nabiyyika wa ḥujjatika ‘alā khalqik.
Ya Allah, jangan jadikan ini sebagai kunjungan terakhirku kepada putra Nabi-Mu dan hujjah-Mu atas makhluk-Mu.
Makrifat: Peziarah tidak hanya meminta kesempatan untuk kembali secara jasmani, tetapi memohon agar hubungan dengan wilayah Imam tidak pernah terputus secara ruhani.
⸻
18. وَاجْمَعْنِي وَإِيَّاهُ فِي جَنَّتِكَ
Wajma‘nī wa iyyāhu fī jannatik.
Dan kumpulkanlah aku bersamanya di dalam surga-Mu.
Makrifat: Puncak ziarah bukan sekadar berada di samping makam Imam, tetapi berharap dikumpulkan bersama orang-orang saleh di akhirat (syurga).
⸻
19. وَاحْشُرْنِي مَعَهُ
وَفِي حِزْبِهِ مَعَ الشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
Waḥsyurnī ma‘ahu wa fī ḥizbihi ma‘asy-syuhadā’i waṣ-ṣāliḥīn.
Dan kumpulkanlah aku bersamanya dan dalam kelompoknya, bersama para syuhada dan orang-orang saleh.
Makrifat: Ḥizb di sini mengandung makna kelompok atau barisan. Peziarah memohon agar dirinya termasuk barisan orang-orang yang setia kepada kebenaran, sebagaimana para syuhada dan orang-orang saleh.
⸻
20. وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Wa ḥasuna ulā’ika rafīqā.
Dan mereka itulah sebaik-baik teman.
Makrifat: Kalimat ini mengingatkan QS. an-Nisā’ 4:69 tentang orang-orang yang diberi nikmat Allah: para nabi, ṣiddīqīn, syuhada dan orang-orang saleh. Teman terbaik di akhirat adalah mereka yang membawa kita semakin dekat kepada Allah.
⸻
21. وَأَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ وَأَسْتَرْعِيكَ
Wa astawdi‘ukallāha wa astar‘īk.
Aku menitipkanmu kepada Allah dan aku memohon agar engkau berada dalam penjagaan-Nya.
Makrifat: Ini adalah adab perpisahan. Peziarah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Ia meninggalkan tempat ziarah, tetapi tidak meninggalkan cinta dan ajaran Imam.
⸻
22. وَأَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلَامَ
Wa aqra’u ‘alaikas-salām.
Dan aku menyampaikan salam kepadamu.
Makrifat: Salam terakhir merupakan tanda adab, cinta dan kesetiaan. Perpisahan jasmani tidak berarti berakhirnya ikatan batin.
⸻
23. آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ وَدَلَلْتَ عَلَيْهِ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
Āmannā billāhi wa bir-rasūli wa bimā ji’ta bihi wa dalalta ‘alaihi, faktubnā ma‘asy-syāhidīn.
Kami beriman kepada Allah, kepada Rasul, kepada apa yang engkau bawa dan kepada apa yang engkau tunjukkan; maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.
Makrifat: Ini adalah penutup sekaligus puncak ziarah. Semua kembali kepada iman:
Allah → Rasul → risalah → petunjuk Imam → kesaksian dan amal.
Makna terdalamnya: “Ya Allah, jadikan aku bukan hanya orang yang berziarah kepada wali-Mu, tetapi orang yang menyaksikan kebenaran, mengikutinya, dan hidup sesuai dengannya.”
Inti makrifat seluruh ziarah
Ziarah Imam Ridha a.s. dapat dipandang sebagai perjalanan dari salam menuju kesaksian, dari kesaksian menuju wilayah, dari wilayah menuju syafaat, dan dari syafaat menuju Allah.
زِيَارَةٌ بِالْجَسَدِ، وَمَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ،
وَوِلَايَةٌ بِالرُّوحِ، وَعَهْدٌ مَعَ اللهِ
Ziyāratun bil-jasad, wa ma‘rifatun bil-qalb, wa wilāyatun bir-rūḥ, wa ‘ahdun ma‘allāh.
“Ziarah dengan jasad, pengenalan dengan hati, wilayah dengan ruh, dan perjanjian dengan Allah.”
Doa Ziarah Imam Ali Ridho as Yang lain per kalimat dan makrifatnya
َلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَلِيَّ الله
As-salāmu ‘alayka yā Waliyyallāh
Salam sejahtera atasmu wahai wali (kekasih) Allah
Makrifat:”Wali Allah” adalah insan yang tenggelam dalam kehendak Ilahi; dirinya menjadi cermin sifat-sifat Allah di bumi.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا حُجَّةَ الله
As-salāmu ‘alayka yā Ḥujjatallāh
Salam atasmu wahai hujjah (bukti) Allah
Makrifat: Hujjah adalah bukti hidup—kehadirannya menjadi dalil nyata bagi manusia menuju kebenaran.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا نُورَ اللهِ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ
As-salāmu ‘alayka yā Nūrallāhi fī ẓulumāti al-arḍ
Salam atasmu wahai cahaya Allah di tengah kegelapan bumi
Makrifat: Nur adalah cahaya petunjuk batin yang menerangi hati dari kegelapan nafsu dan kebodohan.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا عَمُودَ الدِّينِ
As-salāmu ‘alayka yā ‘Amūda ad-dīn
Salam atasmu wahai tiang agama
Makrifat: Imam adalah penyangga agama; dengannya agama tetap tegak dalam zahir dan batin.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ آدَمَ صَفْوَةِ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Ādama ṣafwatillāh
Salam atasmu wahai pewaris Adam, pilihan Allah
Makrifat: Warisan Adam adalah ilmu asma—pengetahuan rahasia nama-nama Ilahi.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ نُوحٍ نَبِيِّ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Nūḥin Nabiyyillāh
Salam atasmu wahai pewaris Nuh, nabi Allah
Makrifat: Warisan Nuh adalah kesabaran panjang dalam dakwah di tengah penolakan.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Ibrāhīma Khalīlillāh
Salam atasmu wahai pewaris Ibrahim, kekasih Allah
Makrifat: Warisan Ibrahim adalah tauhid murni dan pengorbanan total kepada Allah.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ إِسْمَاعِيلَ ذَبِيحِ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Ismā‘īla Dhabīḥillāh
Salam atasmu wahai pewaris Ismail, yang dikorbankan karena Allah
Makrifat: Melambangkan kepasrahan mutlak terhadap kehendak Ilahi.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ مُوسَى كَلِيمِ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Mūsā Kalīmullāh
Salam atasmu wahai pewaris Musa, yang berbicara dengan Allah
Makrifat: Warisan Musa adalah kedekatan dialog spiritual dengan Tuhan.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ عِيسَى رُوحِ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha ‘Īsā Rūḥullāh
Salam atasmu wahai pewaris Isa, ruh dari Allah
Makrifat: Simbol kehidupan ruhani dan penyucian jiwa.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Muḥammadin Rasūlillāh
Salam atasmu wahai pewaris Muhammad, Rasul Allah
Makrifat: Warisan Nabi adalah kesempurnaan akhlak dan syariat.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيٍّ وَلِيِّ الله
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Amīril-Mu’minīn ‘Aliyyin Waliyyillāh
Salam atasmu wahai pewaris Ali, pemimpin orang beriman
Makrifat: Warisan Ali adalah ilmu batin dan keadilan Ilahi.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha Fāṭimata az-Zahrā’
Salam atasmu wahai pewaris Fatimah Az-Zahra
Makrifat: Warisan Fatimah adalah kesucian dan cahaya Ilahi (nur).
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يا وَارِثَ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ
As-salāmu ‘alayka yā Wāritha al-Ḥasan wal-Ḥusayn
Salam atasmu wahai pewaris Hasan dan Husain
Makrifat: Imam Hasan as melambangkan perdamaian, Imam Husain melambangkan pengorbanan; keduanya menyatu dalam kesempurnaan.
أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ أَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ…
Ashhadu annaka qad aqamta aṣ-ṣalāh wa ātayta az-zakāh…
Aku bersaksi bahwa engkau telah menegakkan shalat dan menunaikan zakat…
Makrifat: Kesaksian ini adalah pengakuan bahwa Imam adalah perwujudan hidup dari syariat dan hakikat.
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَبَا الْحَسَنِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
As-salāmu ‘alayka yā Abā al-Ḥasan wa raḥmatullāhi wa barakātuh
Salam atasmu wahai Aba al-Hasan, serta rahmat dan berkah Allah
Makrifat: Penutup ini menyempurnakan adab: salam (keselamatan), rahmat (kasih Ilahi), dan barakah (kelimpahan cahaya).
Kisah Di‘bil al-Khuzā‘ī (دِعْبِل الخُزَاعِي) ketika berjumpa dengan Imam ‘Alī al-Riḍā عليه السلام adalah salah satu kisah sastra, kesedihan Ahlulbait, dan keberanian penyair yang sangat terkenal dalam sumber-sumber Syiah. Peristiwa ini berkaitan dengan Qaṣīdah Tā’iyyah yang dia bacakan di hadapan Imam.
1. Di‘bil datang menemui Imam al-Riḍā; Di‘bil bin ‘Alī al-Khuzā‘ī adalah seorang penyair Arab yang dikenal sangat mencintai Ahlulbait as dan terkenal berani mengkritik penguasa Abbasiyah melalui syairnya.
Ketika Imam al-Riḍā as berada di Khurasan pada masa al-Ma’mūn, Di‘bil datang menghadap beliau.
Ia berkata:
يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ، إِنِّي قَدْ قُلْتُ فِيكُمْ قَصِيدَةً، وَآلَيْتُ عَلَى نَفْسِي
أَلَّا أَنْشُدَهَا أَحَدًا قَبْلَكَ.
“Wahai putra Rasulullah, sesungguhnya aku telah menggubah sebuah qasidah tentang kalian. Aku telah bersumpah kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membacakannya kepada siapa pun sebelum kepadamu.” Imam menjawab agar Di‘bil membacakannya.
⸻
2. Di‘bil mulai melantunkan Tā’iyyah
Di‘bil kemudian membaca qasidahnya yang sangat panjang dan penuh kesedihan terhadap penderitaan Ahlulbait. Syair Di‘bil dan dua bait yang ditambahkan Imam al-Ridha
Makrifat: Di sini terlihat adab seorang pecinta Ahlulbait. Di‘bil tidak sekadar membawa sebuah puisi, tetapi membawa kesaksian hati. Ia memilih Imam al-Ridha as sebagai orang pertama yang mendengarnya.
Makna batinnya: ilmu, kecintaan dan kesaksian tentang Ahlulbait seharusnya disampaikan melalui pintu yang memiliki hubungan dengan mereka.
⸻
الإِمَامُ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلَامُ: هَاتِهَا يَا دِعْبِلُ.
“Bawakanlah kepadaku, wahai Di‘bil.”
Makrifat: Kalimat pendek ini mengandung penerimaan terhadap syair yang lahir dari kecintaan kepada Ahlulbait. Imam tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi mengetahui kesedihan yang berada di balik kata-kata tersebut.
⸻
2. Bait pertama;
مَدَارِسُ آيَاتٍ خَلَتْ مِنْ تِلَاوَةٍ
وَمَنْزِلُ وَحْيٍ مُقْفِرُ الْعَرَصَاتِ
“Tempat-tempat belajar ayat-ayat Allah telah kosong dari bacaan,
dan tempat turunnya wahyu telah menjadi sunyi dan tandus halaman-halamannya.”
Makrifat; مَدَارِسُ آيَاتٍ — madārisu āyātin. Bukan sekadar “sekolah”. Ia menunjuk kepada tempat-tempat yang dahulu menjadi tempat diajarkannya ayat-ayat Allah.
خَلَتْ مِنْ تِلَاوَةٍ — khalat min tilāwah
Tempat yang dahulu hidup dengan bacaan Al-Qur’an kini kehilangan suara tilawah.
Makna batinnya: ketika Ahlulbait disingkirkan dari ruang kehidupan umat, Di‘bil menggambarkan seakan-akan rumah wahyu sendiri menjadi sunyi.
⸻
3. Bait kedua
دِيَارُ عَلِيٍّ وَالْحُسَيْنِ وَجَعْفَرٍ
وَحَمْزَةَ وَالسَّجَّادِ ذِي الثَّفَنَاتِ
“Itulah tempat-tempat kediaman ‘Ali, al-Husain, Ja‘far, Hamzah, dan al-Sajjad yang memiliki bekas-bekas sujud.”
Makrifat:
السَّجَّاد — as-Sajjād
Merupakan gelar Imam ‘Ali Zain al-‘Abidin عليه السلام, karena banyaknya ibadah dan sujud beliau.
ذِي الثَّفَنَات — dzī ats-tsafanāt
Secara harfiah berkaitan dengan bekas penebalan/kapalan pada anggota tubuh akibat banyak sujud.
Makrifatnya sangat dalam: Tubuh seorang wali dapat membawa tanda pengabdian kepada Allah.
Jadi bekas sujud bukan hanya tanda pada kulit, tetapi kesaksian tubuh bahwa ia telah lama berada di hadapan Allah.
⸻
4. Bait ketiga
مَنَازِلُ وَحْيِ اللهِ مَعْدِنُ عِلْمِهِ
سَبِيلُ رَشَادٍ وَاضِحُ الطُّرُقَاتِ
“(Itulah) tempat-tempat turunnya wahyu Allah dan tambang ilmu-Nya,
jalan petunjuk yang benar, yang terang jalannya.”
Makrifat; Ada tiga istilah penting:
مَنَازِلُ وَحْيِ اللهِ
“Tempat-tempat wahyu Allah.”
مَعْدِنُ عِلْمِهِ
“Tambang/sumber ilmu-Nya.”
سَبِيلُ رَشَادٍ
“Jalan menuju petunjuk yang benar.”
Dalam perspektif Ahlulbait, hubungan dengan mereka bukan hanya hubungan emosional. Mereka dipandang sebagai pewaris ilmu Rasulullah ﷺ dan penunjuk jalan agama.
⸻
5. Bait keempat
أَفَاطِمُ لَوْ خِلْتِ الْحُسَيْنَ مُجَدَّلًا
وَقَدْ مَاتَ عَطْشَانًا بِشَطِّ فُرَاتِ
“Wahai Fathimah, seandainya engkau melihat al-Husain tergeletak,
sedangkan ia telah wafat dalam keadaan haus di tepi Sungai Furat.”
Makrifat; Ini merupakan perpindahan dari ziarah tempat-tempat suci kepada tragedi Karbala.
Di‘bil menghadirkan Sayyidah Fathimah عليها السلام secara batiniah:
“Wahai Fathimah, jika engkau melihat keadaan putramu al-Husain…”
Kata عَطْشَانًا — ‘athsyānan bukan sekadar “tidak minum”. Dalam suasana Karbala, kehausan menjadi simbol penderitaan yang sangat dahsyat yang dialami keluarga Rasulullah ﷺ.
⸻
6. Bait kelima
إِذًا لَطَمْتِ الْخَدَّ فَاطِمُ عِنْدَهُ
وَأَجْرَيْتِ دَمْعَ الْعَيْنِ فِي الْوَجَنَاتِ
“Pasti engkau akan menampar pipimu di sisinya, wahai Fathimah,
dan engkau akan mengalirkan air mata di kedua pipimu.”
Makrifat; Di‘bil menggunakan bahasa ratapan duka untuk menggambarkan besarnya musibah al-Husain.
Yang sangat kuat adalah hubungan antara: فَاطِمَةُ → الْحُسَيْنُ
Sayidah Fathimah as adalah ibu, sedangkan Imam Husain as adalah putranya. Dengan demikian tragedi Karbala digambarkan bukan hanya sebagai tragedi politik atau perang, tetapi sebagai musibah yang menimpa keluarga Rasulullah ﷺ.
⸻
7. Bait keenam
أَفَاطِمُ قُومِي يَا ابْنَةَ الْخَيْرِ وَانْدُبِي
نُجُومَ سَمَاوَاتٍ بِأَرْضِ فَلَاتِ
“Wahai Fathimah, bangkitlah, wahai putri kebaikan, dan ratapilah
bintang-bintang langit yang berada di tanah padang tandus.”
Makrifat; نُجُومَ سَمَاوَاتٍ — nujūma samāwāt;”Bintang-bintang langit.”
Ini adalah ungkapan metaforis yang sangat indah. Para syuhada Ahlulbait digambarkan sebagai bintang-bintang yang jatuh di bumi Karbala.
Makna rohaninya: Mereka gugur di bumi, tetapi kedudukan spiritual mereka tetap seperti bintang yang menerangi jalan manusia.
⸻
8. Bait ketujuh
قُبُورٌ بِكُوفَانٍ وَأُخْرَى بِطَيْبَةٍ
وَأُخْرَى بِفَخٍّ نَالَهَا صَلَوَاتِي
“(Ada) kuburan-kuburan di Kufah, yang lainnya di Thaibah (Madinah),
dan yang lainnya di Fakh, yang kepadanya tercurah shalawatku.”
Makrifat; طَيْبَة — Ṭaybah adalah salah satu nama Madinah. فَخّ — Fakhkh merujuk kepada tempat tragedi Fakh, yang dalam tradisi sejarah Ahlulbait dikenal sebagai salah satu pembantaian terhadap keturunan Rasulullah ﷺ.
Di sini Di‘bil memperluas kesedihan Karbala: Karbala bukan satu-satunya penderitaan Ahlulbait.
Ia melihat rangkaian syahadah dan penindasan yang terjadi sepanjang sejarah.
⸻
9. Bait kedelapan
وَقَبْرٌ بِبَغْدَادَ لِنَفْسٍ زَكِيَّةٍ
تَضَمَّنَهَا الرَّحْمَنُ فِي الْغُرُفَاتِ
“Dan sebuah kuburan di Baghdad untuk jiwa yang suci,
yang telah ditempatkan oleh ar-Rahman di kamar-kamar kemuliaan.”
Makrifat; Dalam konteks qasidah ini, bait tersebut merujuk kepada Imam Musa al-Kazhim عليه السلام, yang makamnya berada di Baghdad.
نَفْسٍ زَكِيَّةٍ — nafsin zakiyyah
“Jiwa yang suci.”
Sedangkan:
تَضَمَّنَهَا الرَّحْمَنُ فِي الْغُرُفَاتِ
memberikan gambaran bahwa meskipun jasad berada di bumi Baghdad, kedudukan ruh berada dalam kemuliaan dan rahmat Allah.
⸻
10. Imam al-Ridha menambahkan dua bait
الإِمَامُ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلَامُ:
أَفَلَا أُلْحِقُ لَكَ بِهَذَا الْمَوْضِعِ بَيْتَيْنِ
بِهِمَا تَمَامُ قَصِيدَتِكَ؟
“Tidakkah aku tambahkan untukmu pada bagian ini dua bait yang dengannya sempurnalah qasidahmu?”دِعْبِلٌ: بَلَى، يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ.
“Ya, wahai putra Rasulullah.”
Makrifat; Ini merupakan bagian yang sangat menarik. Di‘bil datang membawa qasidah tentang penderitaan Ahlulbait, kemudian Imam al-Ridha sendiri melanjutkan qasidah itu dengan menyebut makamnya di Thus.Dengan demikian Imam seakan-akan memasukkan dirinya sendiri ke dalam rangkaian penderitaan Ahlulbait.
⸻
11. Bait Imam al-Ridha tentang makamnya
وَقَبْرٌ بِطُوسٍ يَا لَهَا مِنْ مُصِيبَةٍ
أَلَحَّتْ عَلَى الْأَحْشَاءِ بِالزَّفَرَاتِ
“Dan sebuah kuburan di Thus—betapa dahsyatnya suatu musibah—
yang terus menghimpit sanubari dengan hembusan-hembusan duka.”
Makrifat; يَا لَهَا مِنْ مُصِيبَةٍ
adalah ungkapan kekagetan dan kehebatan musibah:
“Betapa dahsyatnya musibah itu!”
Sedangkan الزَّفَرَات — az-zafarāt menggambarkan hembusan napas panjang orang yang sangat berduka.
Makna batinnya: makam seorang wali dapat menjadi tempat bertemunya sejarah penderitaan, kesabaran, kecintaan dan ziarah.
⸻
12. Bait tentang al-Qā’im
إِلَى الْحَشْرِ حَتَّى يَبْعَثَ اللهُ قَائِمًا
يُفَرِّجُ عَنَّا الْهَمَّ وَالْكُرُبَاتِ
“Sampai hari kebangkitan, hingga Allah membangkitkan al-Qā’im,
yang akan menghilangkan dari kami kegelisahan dan berbagai kesusahan.”
Makrifat: Di sinilah qasidah berubah dari ratapan menjadi harapan eskatologis. Ada tiga tahapan:
المُصِيبَة — musibah
Penderitaan Ahlulbait.
الزَّفَرَات — zafarāt
Napas panjang kesedihan.
الْقَائِم — al-Qā’im
Harapan akan tegaknya keadilan.
Dalam keyakinan Imamiyah, al-Qā’im adalah Imam Mahdi عليه السلام.
Jadi makrifat bait ini adalah: Kezaliman bukan akhir sejarah. Kesabaran Ahlulbait berujung pada janji tegaknya keadilan Allah.
⸻
13. Di‘bil bertanya tentang kuburan di Thus
دِعْبِلٌ: يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ، هَذَا الْقَبْرُ الَّذِي بِطُوسٍ قَبْرُ مَنْ هُوَ؟
“Wahai putra Rasulullah, kuburan yang berada di Thus itu kuburan siapa?”
Makrifat; Di‘bil pada awalnya menyangka bahwa Imam sedang berbicara mengenai seorang wali yang lain. Tetapi jawaban Imam membuat bait itu menjadi isyarat terhadap masa depan dirinya sendiri.
⸻
14. Jawaban Imam al-Ridha
قَبْرِي; Kuburanku
Kalimat yang sangat singkat, tetapi sangat dalam. Imam al-Ridha عليه السلام sedang berbicara mengenai kesyahidan dan makamnya sendiri.
⸻
15. Tentang masa depan Thus
وَلاَ تَنْقَضِي الْأَيَّامُ وَاللَّيَالِي
حَتَّى يَصِيرَ طُوسُ مُخْتَلَفَ شِيعَتِي وَزُوَّارِي
“Tidak akan berlalu hari-hari dan malam-malam hingga Thus menjadi tempat yang didatangi oleh Syiahku dan para peziarahku.”
Makrifat; Kata مُخْتَلَف — mukhtalaf di sini berhubungan dengan tempat yang sering didatangi dan dikunjungi.
Ini mengandung makna yang sangat indah: Hari ini Thus adalah tempat wafatnya Imam. Namun setelah wafatnya: kuburan berubah menjadi tempat ziarah.
Dalam pandangan spiritual Ahlulbait, makam bukan sekadar tempat jasad beristirahat. Ia menjadi tempat hubungan kecintaan antara wali dan orang-orang yang mencintainya.
⸻
16. Keutamaan ziarah Imam al-Ridha
فَمَنْ زَارَنِي فِي غُرْبَتِي بِطُوسٍ
كَانَ مَعِي فِي دَرَجَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْفُورًا لَهُ
“Maka barang siapa menziarahiku dalam keterasinganku di Thus, ia akan bersamaku pada derajatku pada hari kiamat dalam keadaan telah diampuni.”
Makrifat; Ada tiga kata yang sangat penting: زَارَنِي — zāranī; Menziarahiku.
Bukan hanya mendatangi sebuah bangunan, tetapi datang dengan wilayah, kecintaan, pengenalan dan penghormatan kepada Imam.
فِي غُرْبَتِي — fī ghurbatī
“Dalam keterasinganku.”
Imam al-Ridha عليه السلام wafat jauh dari Madinah, tanah kelahiran dan pusat kehidupan keluarganya.
Karena itu ziarahnya disebut ziarah kepada Imam dalam ghurbah/keterasingan.
كَانَ مَعِي فِي دَرَجَتِي
“Ia bersamaku dalam derajatku.”
Makrifatnya bukan berarti peziarah menjadi sama dengan Imam dalam kedudukan Imamah. Yang dimaksud adalah kedekatan, kebersamaan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang memiliki hubungan tulus dengan Imam.
⸻
17. Makna keseluruhan Qasidah
Kalau seluruh qasidah ini dibaca secara makrifat, alurnya sangat indah:
مَدَارِسُ آيَاتٍ
Tempat ayat-ayat Allah.
↓
مَنَازِلُ وَحْيِ اللهِ
Rumah-rumah wahyu.
↓
مَعْدِنُ عِلْمِهِ
Sumber ilmu.
↓
الْحُسَيْنُ
Karbala dan kesyahidan.
↓
فَاطِمَةُ
Kesedihan keluarga Rasulullah.
↓
قُبُورُ أَهْلِ الْبَيْتِ
Jejak para wali dan syuhada.
↓
قَبْرٌ بِبَغْدَادَ
Imam Musa al-Kazhim.
↓
قَبْرٌ بِطُوسٍ
Imam al-Ridha.
↓
الْقَائِمُ
Harapan akan tegaknya keadilan.
Jadi qasidah ini bergerak dari wahyu → Ahlulbait → penderitaan → kesyahidan → ziarah → kebangkitan → keadilan.
Inti makrifatnya: Ahlulbait adalah mata rantai yang menghubungkan manusia dengan ilmu, petunjuk, kesabaran dan harapan kepada Allah. Karbala mengajarkan pengorbanan; ziarah menjaga hubungan cinta; dan al-Qā’im melambangkan janji kemenangan keadilan atas kezaliman.
sumber kitab aslinya (ʿUyūn Akhbār al-Riḍā, al-Amālī, dan sumber-sumber lain),
Semoga bermafaat!!!!
Mohon Doa!!!
Comments
Post a Comment