Berduka atas Syahadahnya Imam Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Tholib as (Imam Hasan Askari as) 8 Rabiul Awwal 260 H

Biografi singkat dan 40 Hadis serta Ziarah Imam Hasan Askari as

Biografi singkat Imam Hasan Al-Askari a.s.
Nama​​: Hasan
Panggilan​: Abu Muhammad
Gelar​​: Al-Askari
Ayah ​​: Imam Ali Al-Hadi as.
Ibu ​​: Susan
Kelahiran​​: Madinah, 232 H
Wafat ​​: 8 R Awwal; 260 H
Makam​​: Samarra, Irak
Jumlah Anak​: 1 orang

Biografi Singkat Imam Hasan Al-Askari a.s.
Imam Hasan Al-Askari a.s. adalah putra Imam Hadi a.s. Ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 24 Rabi'ul Awal atau 8 Rabi'uts Tsani 232 H. 

Ibunya bernama Susan. Menurut sebagian para ahli sejarah,namanya adalah Saliil atau Hudaits. 
Setelah ayahnya syahid, ia mulai memegang tampuk imamah pada usia 22 tahun. 

Imam Askari a.s. sebagaimana ayahnya Imam Hadi a.s. terpaksa harus berdomisili di Samarra` atas paksaan yang dilakukan oleh Mutawakil. 

Dengan rencananya ini, Mutawakil ingin selalu memonitor gerak-gerik Imam a.s. sehingga diharapkan ia tidak melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan pemerintah.

Pada masa keimamahan Imam Askari a.s., ada seorang filosof berkebangsaan Irak yang bernama Abu Yusuf Ya'qub bin Ishak yang menulis buku tentang kontradiksi ayat-ayat Al Quran. 

Imam Askari a.s. melalui salah seorang muridnya mengadakan kontak dengannya dan ia berhasil menyadarkannya akan kekeliruan yang telah diperbuatnya. 

Kesyahidan: Imam Askari as syahid pada hari ke-8 bulan Rabi' al-Awal tahun 260 H pada masa pemerintahan Mu'tamad Abbasi di usia 28 tahun. Terdapat juga beberapa laporan tentang kesyahidan beliau pada bulan Rabiul Tsani dan Jumadil Awal.[ Menurut pernyataan Thabrisi di dalam buku I'lam al-Wara, banyak dari ulama Imamiyah meyakini bahwa Imam Askari as syahid akibat terkena racun. 

Landasan mereka adalah riwayat yang dinukil dari Imam Shadiq as: و الله ما منّا الا مقتول شهيد;"Demi Allah tak seorangpun dari kami kecuali mati syahid". Dari sebagian laporan historis dapat disimpulkan bahwa dua khalifah sebelum Mu'tamad berupaya untuk membunuh Imam Askari as.
 Dalam sebuah riwayat dimuat bahwa Mu'taz Abbasi memerintahkan Hajib (Said bin Shaleh) untuk membunuh Imam pada perjalanan menuju Kufah, namun karena masyarakat tahu, ia tidak berhasil.
 Menurut laporan lain, Muhtada Abbasi juga berniat untuk membunuh Imam as dalam penjara, namun niatnya tidak terealisasikan dan masa pemerintahannya berakhir. Imam Hasan Askari as dimakamkan di rumahnya sendiri di Samarra, dimana sebelumnya Imam Hadi as telah dimakamkan di sana.
 Menurut penukilan Abdullah Khaqan (salah satu menteri Mu'tamad Abbasi) setelah kesyahidan Imam Askari as semua pasar libur dan Bani Hasyim, para pembesar, para politikus dan masyarakat turut serta dalam mengantarkan jenazahnya.

40 Hadis Imam Hasan Askari a.s.

1. Menghindari berdebat dan bergurau : "Jangan suka berdebat, karena (dengan itu) harga dirimu akan jatuh, dan jangan suka bergurau, karena engkau akan dikurangajari".

2. Rendah hati : "Orang yang rela duduk di barisan terakhir dalam sebuah pertemuan, Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat kepadanya hingga ia bangun dari duduknya".

3. Celakalah orang yang mencintai kepemimpinan : "Tinggalkanlah orang yang tidak berpendirian tetap. Janganlah membongkar rahasia (orang lain) dan ingin menjadi pemimpin, karena keduanya dapat menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran".

4. Mengucapkan salam adalah tanda kerendahan hati : "Mengucapkan salam kepada setiap orang yang kau lalui dan duduk di barisan terakhir dalam sebuah pertemuan adalah tanda kerendahan hati".

5. Tertawa tanpa sebab : "Tertawa tanpa sebab adalah sebuah ketololan".

6. Tetangga yang buruk : "Termasuk bala` yang dapat mematahkan tulang punggung seseorang adalah seorang tetangga yang ketika melihat kebaikan (tetangganya), ia akan menutupinya dan ketika melihat kejelekannya, ia menyebarkannya".

7. Bertafakur adalah ibadah terbaik : "Banyak berpuasa dan mengerjakan shalat bukanlah ibadah. Ibadah yang sesungguhnya adalah bertafakur tentang ciptaan-ciptaan Allah".

8. Pendengki : "Orang yang pendengki tidak akan pernah tentram".

9. Cara mengenal orang yang bijak dan orang yang tolol : "Hati orang yang tolol berada di lidahnya dan lidah orang yang bijak berada di hatinya".

10. Karakter terbaik : "Dua karakter yang tidak ada tandingannya: iman kepada Allah dan membantu saudara-saudara seiman".

11. Lebih baik dari kehidupan dan lebih buruk dari kematian : "Sesuatu yang menyebabkanmu membenci kehidupan jika engkau kehilangan dia adalah lebih baik dari kehidupan, dan sesuatu yang menyebabkanmu ingin mati ketika menimpamu adalah lebih baik dari kematian”.

12. Nikmat bala` : “Tidak ada suatu bala` (yang menimpa manusia) kecuali Allah akan menganugerahkan kenikmatan karenanya”.

13. Keindahan lahir dan batin : “Ketampanan wajah adalah keindahan lahir dan keberakalan adalah keindahan batin”.

14. Metode mencari sahabat : “Barang siapa yang wara’ telah menjadi karakternya, kedermawanan menjadi bagian dari dirinya dan kesabaran menjadi akhlaknya, maka sahabatnya akan bertambah banyak”.

15. Shalat malam adalah perjalanan menuju Allah : “Menuju kepada Allah azza wa jalla adalah sebuah perjalanan yang tidak akan dapat digapai kecuali dengan bangun malam”.

16. Tidak ada kemuliaan bagi orang yang meninggalkan kebenaran : "Tidak ada kemuliaan bagi orang yang meninggalkan kebenaran, dan tidak ada kehinaan bagi orang yang mengamalkannya". 

17. Dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih unggul di atas keduanya : "Dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih unggul di atas keduanya: iman kepada Allah dan kawan yang bermanfaat".

18. Keberanian seorang anak terhadap orang tuanya:  "Keberanian seorang anak terhadap orang tuanya di masa kecil akan mendorongnya kepada kedurhakaan terhadapnya di saat dewasa".

19. Bukan termasuk kebajikan : "Bukan termasuk kebajikan menampakkan kegembiraan di hadapan seorang yang sedih".

20. Sebuah pelajaran : "Cukup bagimu sebuah pelajaran yang  menjauhkanmu dari segala yang tidak kau sukai dari orang lain".

21. Seluruh keburukan telah terkumpul  : "Seluruh keburukan telah terkumpul  dalam satu rumah, dan kuncinya adalah dusta".

22. Orang yang tidak tenang : “ Orang yang paling tidak tenang orang yang berkarakter pendendam”.

23. Seorang mukmin membawa berkah : “Seorang mukmin akan membawa berkah bagi mukmin yang lainnya dan akan menjadi penggugat bagi si kafir”.

24. Marah : “Marah merupakan kunci segala kejahatan”

25. Meninggalkan kebenaran:”Orang mulia yang meninggalkan kebenaran akan terhina. Orang rendah yang mempercayai kebenaran akan menjadi mulia”.

26. Orang awam harus mengikutinya: “Jika ada seorang di antara fuqaha (ahli agama) yang menjaga dirinya, dan menjaga agamanya serta tidak mengikuti hawa nafsunya, mentaati perintah tuhannya maka bagi orang awam harus mengikutinya”.

27. Jangan jadi pencemar nama baik:”Takutlah kalian kepada Allah dan jadilah sebutan baik dan jangan jadi pencemar nama baik”.

28. Yang tidak takut kepada Allah:”Siapa yang tidak takut untuk berbuat jelek di hadapan manusia maka dia tidak akan takut kepada Allah Swt.

29. Banyaknya berfikir : “Bukanlah ibadah itu banyaknya puasa dan sholat akan tetapi ibadah itu dinilai dengan banyaknya berfikir serta merenungkan keagungan Allah Swt.

30. Orang yang rakus : “Orang yang rakus tidak akan mendapatkan sesuatu yang bukan bagiannya”

31. Ukuran kedermawanan: ”Sesungguhnya kedermawanan itu ada ukurannya dan jika melebihi ukurannya maka namanya pemborosan. 

32. Ukuran kehati-hatian : Hati-hati juga ada ukurannya dan jika keterlaluan bisa jadi pengecut.

33. Hati sedang semangat : “Apabila hati sedang semangat maka buatlah tempat menyimpan ilmu”.

34. Sibuk mencari rezeki yang sudah dijanjikan : ”Jangan engkau sampai tersibukkan dari mengerjakan kewajiban karena mencari rezeki yang sudah dijamin”.

35. Timbangan sederhana: “Sederhana ada timbangannya jika berlebihan maka itu kekikiran”.

36. Timbangan keberanian: ”Keberanian juga ada ukurannya jika melebihi batas namanya sembrono”.

37. Menghantar pada kehancuran : “Hati-hatilah mengejar popularitas dan kedudukan karena keduanya dapat menghantarkan pada kehancuran”.

38. Hikmah wajib puasa :”Allah mewajibkan puasa agar si kaya berlemah lembut pada si fakir”.

39. Hakikat Nikmat : “Tidak akan mengetahui hakikat nikmat kecuali orang yang syukur. Dan tidak akan bersyukur kecuali orang yang arif (mengerti akan besarnya nikmat).

40. Zaman Sunnah di anggap bid’ah : “Akan datang kapada manusia suatu zaman, wajah mereka dalam keadaan berseri-seri. Sementara hati mereka gelap dan ternodai. Yang sunnah sudah di anggap bid’ah sedangkan yang bid’ah dianggap sunnah. Seorang mukmin yang hidup di antara mereka terhina. Sementara si fasik menjadi mulia. Parapemimpin mereka adalah orang-orang bodoh yang berlaku aniaya sedang ulamanya duduk di pintu para penguasa zalim”.
Ziarah kepada Imam Hasan Askari as

 Syekh meriwayatkan dari Imam Hasan Askari as bersabda, “Kuburanku di Samara membawa keselamatan bagi kaum Muslim semuanya.
” Sayid Ibnu Thawus berkata, “Bila Anda hendak berziarah kepada Imam Abu Muhammad Hasan Askari as, lakukanlah semua amalan yang telah kami sebutkan berkenaan dengan ziarah kepada ayahnya Imam Hadi as lalu berdirilah di depan makamnya sambil mengucapkan:  

السَّلامُ عَلَيْكَ يَا مَوْلَايَ…
السَّلامُ عَلَيْكَ ياوَلِيَّ الله وَابْنَ أَوْلِيائِهِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياحُجَّةَ الله وابْنَ حُجَجِهِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياصَفِيَّ الله وَابْنَ أَصْفِيائِهِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياخَلِيفَةَ الله وَابْنَ خُلَفائِهِ وَأَبا خَلِيفَتِهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ ياابْنَ خاتَمِ النَّبِيِّينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياابْنَ سَيِّدِ الوَصِيِّينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياابْنَ أَمِيرِ المُؤْمِنِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياابْنَ سِّيَدِة نِساءِ العالَمِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياابْنَ الأَئِمَّةِ الهادِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياابْنَ الأَوْصِياء الرَّاشِدِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياعِصْمَةَ المُتَّقِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياإِمامَ الفائِزِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ يارُكْنَ المُؤْمِنِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ يافَرَجَ المَلْهُوفِينَ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياوارِثَ الأَنْبِياءِ المُنْتَجَبِينَ،
السَّلامُ عَلَيْكَ ياخازِنَ عِلْمِ وَصِيِّ رَسُولِ الله
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها الدَّاعِي بِحُكْمِ الله
السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّها النَّاطِقُ بِكِتابِ اللهِ، 
السَّلامُ عَلَيْكَ ياحُجَّةَ الحُجَجِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياهادِيَ الاُمَمِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياوَلِيَّ النِّعَمِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياعَيْبَةَ العِلْمِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياسَفِينَةَ الحِلْمِ
السَّلامُ عَلَيْكَ ياأَبا الإمام المُنْتَظَرِ الظَّاهِرِ لِلعاقِلِ حُجَّتُهُ وَالثَّابِتَةِ فِي اليَّقِينِ مَعْرِفَتُهُ المُحْتَجَبِ عَنْ أَعْيُنِ الظَّالِمِينَ وَالمُغَيَّبِ عَنْ دَوْلَةِ الفاسِقِينَ وَالمُعِيدِ 
رَبُّنا بِهِ الإسلام جَدِيداً بَعْدَ الانْطِماسِ وَالقُرْآنِ غَضّا بَعْدَ الانْدِراسِ. أَشْهَدُ يامَوْلايَ أَنَّكَ أَقَمْتَ الصَّلاةَ وَآتَيْتَ الزَّكاةَ وَأَمَرْتَ بِالمَعْرُوفِ وَنَهَيْتَ عَنِ المُنْكَرِ وَدَعَوْتَ إِلى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ وَعَبَدْتَ الله مُخْلِصاً حَتّى أَتاكَ اليَقِينُ، أَسْأَلُ الله بِالشَّأْنِ الَّذِي لَكُمْ عِنْدَهُ أَنْ يَتَقَبَّلَ زِيارَتِي لَكُمْ وَيَشْكُرَ سَعْيِي إِلَيْكُمْ وَيَسْتَجِيبَ دُعائِي بِكُمْ وَيَجْعَلَنِي مِنْ أَنْصارِ الحَقِّ وَأَتْباعِهِ وَأَشْياعِهِ وَمَوالِيهِ وَمُحِبِّيهِ وَالسَّلامُ عَلَيْكُمْ ورَحْمَةُ الله وَبَرَكاتُهُ

As-salāmu ‘alaika yā Waliyyallāhi wabna Auliyā’ih.
As-salāmu ‘alaika yā Ḥujjatallāhi wabna Ḥujajih.
As-salāmu ‘alaika yā Ṣafiyyallāhi wabna Aṣfiyā’ih.
As-salāmu ‘alaika yā Khalīfatallāhi wabna Khulafā’ih, wa abā khalīfatih.
As-salāmu ‘alaika yabna Khātamin-Nabiyyīn.
As-salāmu ‘alaika yabna Sayyidil-Waṣiyyīn.
As-salāmu ‘alaika yabna Amīril-Mu’minīn.
As-salāmu ‘alaika yabna Sayyidati Nisā’il-‘Ālamīn.
As-salāmu ‘alaika yabna al-A’immatil-Hādīn.
As-salāmu ‘alaika yabna al-Awṣiyā’ir-Rāshidīn.
As-salāmu ‘alaika yā ‘Iṣmat al-Muttaqīn.
As-salāmu ‘alaika yā Imāmal-Fā’izīn.
As-salāmu ‘alaika yā Ruknal-Mu’minīn.
As-salāmu ‘alaika yā Farajal-Malhūfīn.
As-salāmu ‘alaika yā Wārisal-Anbiyā’il-Muntajabīn.
As-salāmu ‘alaika yā Khāzina ‘Ilmi Waṣiyyi Rasūlillāh.
As-salāmu ‘alaika ayyuhad-Dā‘ī bi-Ḥukmillāh.
As-salāmu ‘alaika ayyuhan-Nāṭiqu bi-Kitābillāh.
As-salāmu ‘alaika yā Ḥujjatal-Ḥujaj.
As-salāmu ‘alaika yā Hādiyal-Umam.
As-salāmu ‘alaika yā Waliyyan-Ni‘am.
As-salāmu ‘alaika yā ‘Aibatal-‘Ilm.
As-salāmu ‘alaika yā Safīnatal-Ḥilm.
As-salāmu ‘alaika yā Abal-Imāmil-Muntaẓar, aẓ-Ẓāhiri lil-‘Āqili Ḥujjatuh, wath-Thābitati fil-Yaqīni Ma‘rifatuh, al-Muḥtajabi ‘an A‘yuniẓ-Ẓālimīn, wal-Mughayyabi ‘an Daulatil-Fāsiqīn, wal-Mu‘īdi Rabbunā bihil-Islāma Jadīdan ba‘dal-Inṭimās, wal-Qur’āna Ghaḍḍan ba‘dal-Indirās.

Asyhadu yā Maulāya annaka aqamtaṣ-Ṣalāta wa ātaitaz-Zakāta wa amarta bil-Ma‘rūfi wa nahaita ‘anil-Munkari wa da‘auta ilā Sabīli Rabbika bil-Ḥikmati wal-Mau‘iẓatil-Ḥasanati wa ‘abadtallāha mukhliṣan ḥattā atākal-Yaqīn.

As’alullāha bisy-Sya’nilladzī lakum ‘indahu an yataqabbala ziyāratī lakum, wa yasykura sa‘yī ilaikum, wa yastajība du‘ā’ī bikum, wa yaj‘alanī min Anṣāril-Ḥaqqi wa Atbā‘ihī wa Asy yā‘ihī wa Mawālīhī wa Muḥibbīh.
Was-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.


Berikut makrifat setiap bagian, dengan pendekatan Al-Qur’an, hadis, dan pemahaman spiritual Ahlulbait. Makrifat di sini adalah penjelasan makna batin, bukan berarti semua ungkapan tersebut harus dipahami secara harfiah.

1. السَّلامُ عَلَيْكَ يَا مَوْلَايَ…
“Salam atasmu, wahai maulaku…”
Makrifat:
Salam bukan sekadar ucapan penghormatan. Ia adalah pengakuan bahwa seorang mukmin datang kepada wali Allah dengan adab, cinta, dan ketundukan. “Maulā” menunjukkan kedekatan dan loyalitas: aku mengakui engkau sebagai salah satu hujjah Allah dan pembimbing menuju-Nya.

2. يَا وَلِيَّ اللهِ وَابْنَ أَوْلِيَائِهِ
“Wahai Wali Allah dan putra para wali-Nya.”
Makrifat:
Wali Allah adalah hamba yang dekat kepada Allah karena iman, ketaatan, kesucian dan pengabdian. Menyebut Imam sebagai Wali Allah berarti mengarahkan hati kepada Allah sebagai sumber kewalian, bukan menjadikan Imam sebagai Tuhan.
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.”
(QS. Yūnus 10:62)

3. يَا حُجَّةَ اللهِ وَابْنَ حُجَجِهِ
“Wahai Hujjah Allah dan putra para hujjah-Nya.”
Makrifat:
Hujjah berarti bukti atau argumentasi Allah bagi manusia. Dalam perspektif Imamiyah, Imam adalah pembimbing yang meneruskan petunjuk Nabi dan menjaga manusia agar tidak kehilangan jalan kebenaran.
Makrifatnya: jangan hanya mengenal nama Imam; kenali jalan yang beliau tunjukkan.

4. يَا صَفِيَّ اللهِ وَابْنَ أَصْفِيَائِهِ
“Wahai pilihan Allah dan putra orang-orang pilihan-Nya.”
Makrifat:
Ṣafī berarti yang dipilih dan disucikan. Ziarah mengajarkan bahwa kemuliaan Ahlulbait bukan sekadar kemuliaan keturunan, tetapi kemuliaan amanah, ilmu, ibadah dan pengabdian kepada Allah.

5. يَا خَلِيفَةَ اللهِ وَابْنَ خُلَفَائِهِ
“Wahai khalifah Allah dan putra para khalifah-Nya.”
Makrifat:
Khalifah bukan berarti memiliki sifat ketuhanan. Maknanya adalah hamba yang menjalankan amanah Allah di bumi.
Makrifatnya: ketika kita menyebut Imam sebagai khalifah Allah, kita juga diingatkan bahwa manusia sendiri memiliki amanah untuk menjadi hamba yang bertanggung jawab.

6. يَا ابْنَ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ
“Wahai putra penutup para nabi.”
Makrifat:
Imam berasal dari rumah kenabian Muhammad ﷺ. Setelah kenabian berakhir, menurut keyakinan Imamiyah, petunjuk kenabian tidak terputus, tetapi penjagaan dan penjelasan agama diteruskan melalui Ahlulbait.

7. يَا ابْنَ سَيِّدِ الْوَصِيِّينَ
“Wahai putra penghulu para wasi.”
Makrifat:
Ini menghubungkan Imam al-Hadi dengan Imam ‘Ali عليه السلام, yang dalam tradisi Imamiyah merupakan washi Rasulullah ﷺ.
Makrifatnya adalah mengenali kesinambungan amanah:
Rasul → ‘Ali → Ahlulbait → Imam.

8. يَا ابْنَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Wahai putra Amirul Mukminin.”
Makrifat:
Ini menegaskan hubungan Imam al-Hadi dengan Imam ‘Ali. Tetapi inti ziarah bukan kebanggaan nasab semata. Nasab menjadi mulia karena ketaatan kepada Allah.

9. يَا ابْنَ سَيِّدَةِ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
“Wahai putra penghulu perempuan seluruh alam.”
Yang dimaksud adalah Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ عليه السلام.
Makrifat:
Mengingat Fāṭimah berarti mengingat kesucian, kesabaran, ibadah, pengorbanan dan pembelaan terhadap kebenaran.

10. يَا ابْنَ الْأَئِمَّةِ الْهَادِينَ
“Wahai putra para Imam yang memberi petunjuk.”
Makrifat:
Petunjuk bukan hanya informasi. Ia adalah cahaya yang mengubah ilmu menjadi amal.
Karena itu, mengenal Imam seharusnya menghasilkan perubahan akhlak.

11. يَا ابْنَ الْأَوْصِيَاءِ الرَّاشِدِينَ
“Wahai putra para wasi yang mendapat petunjuk.”
Makrifat:
Seorang pembimbing sejati bukan hanya menunjukkan jalan kepada orang lain, tetapi berjalan di jalan itu terlebih dahulu.

12. يَا عِصْمَةَ الْمُتَّقِينَ
“Wahai pelindung/kesucian orang-orang bertakwa.”
Makrifat:
Ungkapan ini mengandung makna bahwa Imam menjadi teladan penjagaan diri dari dosa dan penyimpangan.
Orang yang mencintai Imam seharusnya belajar menjaga:
lisannya,
matanya,
hatinya,
hartanya,
dan amalnya.

13. يَا إِمَامَ الْفَائِزِينَ
“Wahai Imam orang-orang yang memperoleh kemenangan.”
Makrifat:
Kemenangan sejati bukan kekayaan atau kemenangan dunia.
Allah berfirman:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah memperoleh kemenangan.”
(QS. Āli ‘Imrān 3:185)
Jadi mencintai Imam seharusnya membawa kita kepada jalan keselamatan.

14. يَا رُكْنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Wahai sandaran orang-orang mukmin.”
Makrifat:
Ketika hati manusia goyah, ia membutuhkan pegangan. Ahlulbait menjadi tempat belajar tentang iman, sabar, tawakal, ilmu dan istiqamah.
Namun sandaran tertinggi tetap Allah.

15. يَا فَرَجَ الْمَلْهُوفِينَ
“Wahai penolong/pelipur orang-orang yang tertimpa kesusahan.”
Makrifat:
Ini mengajarkan bahwa wali Allah memiliki perhatian terhadap penderitaan manusia. Tetapi pertolongan pada hakikatnya berasal dari Allah.
Seorang peziarah datang dengan hati yang berkata:
“Ya Allah, dengan kecintaan kepada wali-Mu, bukakan jalan keluar dari kesulitanku.”

16. يَا وَارِثَ الْأَنْبِيَاءِ الْمُنْتَجَبِينَ
“Wahai pewaris para nabi pilihan.”
Makrifat:
Yang diwarisi bukan harta dunia, tetapi ilmu, hikmah, akhlak, perjuangan dan amanah agama.
Maka menjadi pengikut Ahlulbait berarti berusaha mewarisi akhlak mereka.

17. يَا خَازِنَ عِلْمِ وَصِيِّ رَسُولِ اللهِ
“Wahai penjaga ilmu washi Rasulullah.”
Makrifat:
Ilmu Ahlulbait dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dan disampaikan. Ilmu yang benar tidak berhenti pada pengetahuan; ia harus menghasilkan ma‘rifat, takut kepada Allah dan amal saleh.

18. أَيُّهَا الدَّاعِي بِحُكْمِ اللهِ
“Wahai orang yang menyeru dengan hukum Allah.”
Makrifat:
Imam tidak mengajak manusia kepada dirinya sebagai tujuan akhir. Ia menyeru kepada hukum dan kehendak Allah.

19. أَيُّهَا النَّاطِقُ بِكِتَابِ اللهِ
“Wahai orang yang berbicara dengan Kitab Allah.”
Makrifat:
Makna terdalamnya adalah bahwa kehidupan Imam menjadi penjelasan praktis terhadap Al-Qur’an.
Al-Qur’an dibaca dengan lisan; Ahlulbait mengajarkan bagaimana nilai Al-Qur’an diwujudkan dalam kehidupan.

20. يَا حُجَّةَ الْحُجَجِ
“Wahai hujjah di antara hujjah-hujjah Allah.”
Makrifat:
Seorang Imam dipandang sebagai bukti yang memperjelas jalan kebenaran. Karena itu, setelah mengenal hujjah, manusia tidak boleh hanya berhenti pada kekaguman—tetapi harus mengikuti kebenaran yang diajarkannya.

21. يَا هَادِيَ الْأُمَمِ
“Wahai pembimbing umat-umat.”
Makrifat:
Hidayah mempunyai dua tingkat:
Hidayah petunjuk: menunjukkan jalan.
Hidayah taufik: Allah memberi kemampuan untuk berjalan di jalan itu.
Imam menunjukkan jalan; Allah-lah Pemberi hidayah hakiki.

22. يَا وَلِيَّ النِّعَمِ
“Wahai wali/pengurus nikmat.”
Makrifat:
Nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
“Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah.”
(QS. an-Naḥl 16:53)
Maka Ahlulbait adalah jalan syukur dan pembimbing manusia agar nikmat digunakan untuk Allah.

23. يَا عَيْبَةَ الْعِلْمِ
“Wahai tempat penyimpanan ilmu.”
Makrifat:
‘Aibah berarti tempat menyimpan sesuatu yang berharga.
Ilmu dalam makna makrifat adalah amanah. Semakin seseorang diberi ilmu, semakin besar tanggung jawabnya.

24. يَا سَفِينَةَ الْحِلْمِ
“Wahai bahtera kesabaran dan kelembutan.”
Makrifat:
Ḥilm bukan sekadar sabar. Ia adalah kemampuan menahan amarah, membalas keburukan dengan kebijaksanaan dan tidak tergesa-gesa.
Makrifatnya: orang yang mencintai Imam harus belajar menjadi orang yang tenang ketika diuji.

25. يَا أَبَا الْإِمَامِ الْمُنْتَظَرِ
“Wahai ayah Imam yang dinantikan.”
Yang dimaksud adalah Imam Muḥammad al-Mahdi عليه السلام dalam keyakinan Imamiyah.
Makrifat:
Kalimat ini menghubungkan Imam al-Hadi dengan rangkaian kepemimpinan Ahlulbait sampai Imam al-Mahdi.

26. الْمُحْتَجَبِ عَنْ أَعْيُنِ الظَّالِمِينَ
“Yang tersembunyi dari pandangan orang-orang zalim.”
Makrifat:
Dalam keyakinan Imamiyah, ini menunjuk kepada ghaibah Imam al-Mahdi. Ghaibah bukan berarti Allah meninggalkan manusia. Ujian tetap berlangsung, dan manusia diperintahkan untuk berpegang kepada agama dan kebenaran.

27. وَالْمُعِيدِ رَبُّنَا بِهِ الْإِسْلَامَ جَدِيدًا
“Dengan perantaranya Tuhan kami mengembalikan Islam menjadi baru.”
Makrifat:
“Baru” bukan berarti agama baru. Maksudnya adalah menghidupkan kembali ajaran Islam yang telah tertutup oleh penyimpangan dan kelalaian manusia.

28. وَالْقُرْآنِ غَضًّا بَعْدَ الِانْدِرَاسِ
“Dan Al-Qur’an dalam keadaan segar setelah sebelumnya dilupakan.”
Makrifat:
Al-Qur’an tidak pernah menjadi tua. Yang menjadi “usang” adalah pemahaman dan pengamalan manusia terhadapnya.
Maka kebangkitan Imam berarti kembalinya manusia kepada Al-Qur’an dengan pemahaman yang hidup.

29. أَشْهَدُ يَا مَوْلَايَ أَنَّكَ أَقَمْتَ الصَّلَاةَ
“Aku bersaksi, wahai maulaku, bahwa engkau menegakkan salat.”
Makrifat:
Ini bukan hanya pujian kepada Imam. Peziarah sedang membuat ikrar kepada dirinya sendiri:
“Aku juga harus menegakkan salat.”

30. وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ
“Engkau menunaikan zakat.”
Makrifat:
Iman tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah. Ada kewajiban sosial: membersihkan harta dan membantu orang yang membutuhkan.

31. وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Engkau menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
Makrifat:
Inilah tanda bahwa kecintaan kepada Ahlulbait bukan sekadar perasaan.
Cinta → mengikuti → memperbaiki diri → membela kebenaran.

32. وَدَعَوْتَ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
“Engkau menyeru ke jalan Tuhanmu dengan hikmah.”
Ini selaras dengan:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”
(QS. an-Naḥl 16:125)
Makrifat:
Kebenaran harus disampaikan dengan hikmah, bukan kesombongan dan kekerasan hati.

33. وَعَبَدْتَ اللهَ مُخْلِصًا حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِينُ
“Engkau menyembah Allah dengan ikhlas sampai datang kepadamu keyakinan.”
Makrifat yang sangat dalam:
Yaqīn di sini dipahami sebagai kematian, sebagaimana penggunaan istilah tersebut dalam QS. al-Ḥijr 15:99.
Jadi perjalanan seorang wali adalah:
ibadah → ikhlas → istiqamah → yakin → kembali kepada Allah.

34. أَسْأَلُ اللهَ بِالشَّأْنِ الَّذِي لَكُمْ عِنْدَهُ
“Aku memohon kepada Allah dengan kedudukan yang kalian miliki di sisi-Nya.”
Makrifat:
Ini adalah bentuk tawassul: yang dimohon tetap Allah, sedangkan kemuliaan Ahlulbait dijadikan wasilah dalam doa.

35. أَنْ يَتَقَبَّلَ زِيَارَتِي لَكُمْ
“Agar Dia menerima ziarahku kepada kalian.”
Makrifat:
Yang paling penting bukan sekadar sampai ke makam, tetapi diterimanya hati dan amal.

36. وَيَشْكُرَ سَعْيِي إِلَيْكُمْ
“Dan menghargai usahaku menuju kalian.”
Makrifat:
Allah tidak menyia-nyiakan usaha hamba:
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
“Dan bahwa usahanya kelak akan diperlihatkan.”
(QS. an-Najm 53:40)

37. وَيَسْتَجِيبَ دُعَائِي بِكُمْ
“Dan mengabulkan doaku dengan perantaraan kalian.”
Makrifat:
Makna tawassulnya: Allah adalah Yang Mengabulkan, sedangkan Ahlulbait menjadi wasilah yang dicintai Allah.

38. وَيَجْعَلَنِي مِنْ أَنْصَارِ الْحَقِّ وَأَتْبَاعِهِ
“Dan menjadikanku termasuk penolong dan pengikut kebenaran.”
Makrifat:
Ini salah satu inti terbesar ziarah.
Bukan hanya:
“Aku berziarah kepada Imam.”
Tetapi:
“Ya Allah, jadikan aku orang yang hidup di jalan yang dibela Imam.”

39. وَأَشْيَاعِهِ وَمَوَالِيهِ وَمُحِبِّيهِ
“Dan termasuk pengikut, orang yang setia, serta orang-orang yang mencintainya.”
Ada empat tingkatan yang indah:
مُحِبّ — Muḥibb: mencintai.
مُوالٍ — Muwālin: loyal/setia.
شِيعَة — Shī‘ah: mengikuti jalan.
نَاصِر — Nāṣir: membantu kebenaran yang dibelanya.
Jadi cinta adalah permulaan; pengorbanan dan amal adalah pembuktiannya.

40. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Semoga keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya atas kalian.”
Makrifat penutup:
Peziarah kembali kepada Allah dengan tiga permohonan:
Salām → keselamatan.
Raḥmah → kasih sayang Allah.
Barakah → bertambahnya kebaikan.

🌹 Inti makrifat seluruh ziarah
Jika seluruh ziarah ini diringkas menjadi satu perjalanan batin:
Mengenal Imam → mencintai Imam → mengenal jalan Imam → mengikuti Imam → membela kebenaran → membersihkan jiwa → kembali kepada Allah.
Dan puncaknya bukan sekadar mendapatkan sesuatu dari Imam, tetapi menjadi manusia yang semakin dekat kepada Allah melalui kecintaan dan ketaatan kepada Ahlulbait.

Ilahi Amin!!!
Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit