Detik-detik Wafatnya Rasulullah saw

Momen detik-detik berpisahnya ruh suci Rasulullah SAW dari jasad mulianya merupakan salah satu peristiwa paling dramatis dan mengharukan dalam tradisi riwayat Ahlulbayt. 

Peristiwa ini melukiskan hubungan spiritual yang sangat mendalam antara Rasulullah SAW, Imam Ali bin Abi Thalib AS, dan Sayyidah Fatimah az-Zahra AS.

Berikut adalah perjalanan kisah detik-detik wafatnya Nabi Muhammad SAW berdasarkan riwayat-riwayat Ahlulbayt:

Kedatangan Malaikat Maut di Ambang Pintu
Pada 28 Shafar tahun 11 H, kondisi tubuh Rasulullah SAW semakin melemah akibat demam tinggi. Ketika beliau sedang terbaring di dalam rumah, terdengar ketukan pintu dari seorang asing yang meminta izin masuk dengan nada lembut namun penuh wibawa. Sayyidah Fatimah AS yang berada di sisi beliau menjawab dari balik pintu bahwa ayahnya sedang sakit keras dan tidak dapat menerima tamu. 

Namun, ketukan pintu kembali terdengar untuk kedua dan ketiga kalinya dengan ketegasan yang menggetarkan jiwa.

Rasulullah SAW memuka matanya yang sayu dan berkata dengan suara berbisik:”Wahai putriku Fatimah, tahukah engkau siapa yang berada di luar pintu itu? Dialah pemutus kenikmatan, pemisah perhimpunan, dan penjemput jiwa. Dialah Malaikat Maut (Izrail). Demi Allah, ia tidak pernah meminta izin kepada seorang manusia pun sebelumku, dan tidak akan pernah meminta izin kepada siapa pun setelahku."

Izin Bagi Izrail dan Salam Penghormatan
Rasulullah SAW menyuruh Sayyidah Fatimah as  membukakan pintu. Malaikat Maut masuk dengan penuh rasa hormat dan takzim, lalu menyampaikan pesan Allah SWT:

"Wahai Kekasih Allah, Allah SWT mengutusku untuk mematuhi perintahmu. Jika engkau memerintahkanku untuk mengambil ruhmu, aku akan melaksanakannya. Namun jika engkau ingin tetap tinggal di dunia, aku akan kembali."

Malaikat Jibril AS kemudian turun dan menyampaikan bahwasanya alam malakut dan surga telah bersiap menyambut kedatangan ruh sang Nabi Agung. Rasulullah SAW memilih untuk menemui Tuhannya (Ar-Rafiq Al-A'la).

Pelukan dan Transmisi Ilmu kepada Imam Ali AS
Melihat saat-saat terakhir telah tiba, Rasulullah SAW memanggil sepupu sekaligus menantunya, Imam Ali bin Abi Thib AS. Beliau meminta Imam Ali as untuk mendekatkan dadanya.
Rasulullah SAW menyelimutkan jubahnya ke tubuh Imam Ali as lalu memeluknya dengan erat. Beliau meletakkan mulutnya ke mulut/telinga Imam Ali AS untuk menyampaikan bisikan-bisikan rahasia kenabian (asrar al-nubuwwah).

Dalam momen inilah terjadi peristiwa penuangan ilmu secara spiritual, di mana Imam Ali AS kelak mengenang:
"Pada saat itu, Rasulullah SAW membisikkan dan mengajarkan kepadaku seribu pintu ilmu, dan dari setiap satu pintu terbuka seribu pintu ilmu lainnya."

Detik-Detik Terakhir di Dada Imam Ali AS
Kondisi Rasulullah SAW berada di puncak kelemahannya. Kepala mulia beliau bersandar tepat di antara leher dan dada Imam Ali AS.
Dalam kitab Nahjul Balaghah (Khotbah 197), Imam Ali AS menceritakan momen berpisahnya ruh beliau:”Sungguh, ruh Rasulullah SAW telah melayang saat kepala beliau berada di dadaku... Keringat dingin keluar dari dahi beliau dan duka menyelimuti bumi."
Sebelum napas terakhirnya berhembus, Rasulullah SAW sempat menggerakkan kedua bibirnya yang pucat untuk memberikan wasiat terakhir bagi umatnya:
"As-Salah... As-Salah... (Jagalah salat... jagalah salat...)" serta amanah untuk memperlakukan hamba sahaya dan kaum lemah dengan baik. Seketika itu pula, ruh suci Rasulullah SAW naik ke haribaan Ilahi. Imam Ali AS mengusap wajah Rasulullah SAW dengan tangannya, lalu membalurkannya ke wajahnya sendiri sambil menangis.

Tangisan Sayyidah Fatimah as dan Prosesi Pemakaman
Suasana rumah seketika dipenuhi duka yang teramat dalam. Sayyidah Fatimah AS meratapi kepergian ayahnya dengan syair kenabian yang terkenal:”Wahai ayahku, yang telah memenuhi panggilan Tuhannya... Wahai ayahku, yang surga Firdaus menjadi tempat tinggalnya... Wahai ayahku, kepada Jibril kami sampaikan kabar duka ini..."

Syair yang dinisbatkan kepada Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ (س) setelah wafat Rasulullah ﷺ, 

قُلْ لِلْمُغَيَّبِ تَحْتَ أَطْبَاقِ الثَّرَى
إِنْ كُنْتَ تَسْمَعُ صَرْخَتِي وَنِدَائِيَا

صُبَّتْ عَلَيَّ مَصَائِبٌ لَوْ أَنَّهَا
صُبَّتْ عَلَى الْأَيَّامِ صِرْنَ لَيَالِيَا

قَدْ كُنْتُ ذَاتَ حِمًى بِظِلِّ مُحَمَّدٍ
لَا أَخْشَ مِنْ ضَيْمٍ وَكَانَ جَمَالِيَا

فَالْيَوْمَ أَخْشَعُ لِلذَّلِيلِ وَأَتَّقِي
ضَيْمِي وَأَدْفَعُ ظَالِمِي بِرِدَائِيَا

فَإِذَا بَكَتْ قُمْرِيَّةٌ فِي لَيْلِهَا
شَجَنًا عَلَى غُصْنٍ بَكَيْتُ صَبَاحِيَا

فَلَأَجْعَلَنَّ الْحُزْنَ بَعْدَكَ مُؤْنِسِي
وَلَأَجْعَلَنَّ الدَّمْعَ فِيكَ وِشَاحِيَا

مَاذَا عَلَى مَنْ شَمَّ تُرْبَةَ أَحْمَدٍ
أَنْ لَا يَشُمَّ مَدَى الزَّمَانِ غَوَالِيَا

Wahai yang bersemayam di bawah lapisan tanah, jika engkau masih dapat mendengar jeritan dan panggilanku.

Telah ditimpakan kepadaku berbagai musibah; seandainya musibah itu ditimpakan kepada siang-siang, niscaya siang berubah menjadi malam.

Dahulu aku berada dalam perlindungan Muhammad,
di bawah naungan beliau aku tidak takut terhadap kezaliman.

Tetapi hari ini aku tunduk kepada keadaan yang lemah,
aku menjaga diriku dari kezaliman dan menghadapi orang yang menzalimiku dengan selendangku.

Bila seekor burung qumrī menangis di malam hari karena kesedihan di atas dahannya, maka aku menangis pada pagi hari.

Sungguh, setelah kepergianmu akan kujadikan kesedihan sebagai teman,
dan akan kujadikan air mata sebagai selendangku.

Apalah kiranya bagi seseorang yang telah mencium tanah makam Ahmad, sehingga setelah itu ia tidak lagi ingin mencium wewangian yang mahal sepanjang zaman.


Setiap bait/kalimat dari syair yang dinisbatkan kepada Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ (س) setelah wafat Rasulullah ﷺ, berikut  makna lahiriah, makrifat, dan hakikat ruhaniahnya.

1. قُلْ لِلْمُغَيَّبِ تَحْتَ أَطْبَاقِ الثَّرَى
إِنْ كُنْتَ تَسْمَعُ صَرْخَتِي وَنِدَائِيَا
Qul lil-mughayyabi taḥta aṭbāqith-tharā, in kunta tasma‘u ṣarkhatī wa nidāyā.
“Wahai orang yang telah tersembunyi di bawah lapisan tanah, jika engkau dapat mendengar jeritanku dan panggilanku.”

Makrifat; Sayidah Fāṭimah as tidak sekadar berbicara kepada sebuah jasad yang telah berada di dalam tanah. Ungkapan ini menggambarkan hubungan ruhani antara anak dan ayahnya, serta dahsyatnya kehilangan Rasulullah ﷺ.

Kata الْمُغَيَّب (al-mughayyab) berarti “yang telah disembunyikan/ditutupi dari pandangan”. Secara makrifat, jasad Rasulullah ﷺ telah berada di balik tanah, tetapi kedudukan dan kehidupan ruhani beliau tidak hilang.

Ada perbedaan antara: غياب الجسد — ghiyāb al-jasad; “jasad tidak lagi terlihat” dan: حضور الروح — ḥuḍūr ar-rūḥ:”kehadiran ruhani.”
Maka tangisan Sayyida Fāṭimah as dapat dipahami sebagai tangisan seseorang yang secara jasmani kehilangan ayahnya, tetapi secara ruhani tetap merasa dekat dengannya.

Hakikat; Orang yang mengenal Allah tidak memandang kematian sebagai ketiadaan mutlak. Tubuh pergi dari pandangan, tetapi hubungan dengan Allah tidak terputus.

Karena itu, ratapan Sayyidah Fāṭimah as sekaligus mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya cinta kepada sosok sejarah, tetapi cinta kepada Nur kenabian yang membawa manusia kepada Allah.
2. صُبَّتْ عَلَيَّ مَصَائِبٌ لَوْ أَنَّهَا
صُبَّتْ عَلَى الْأَيَّامِ صِرْنَ لَيَالِيَا
Ṣubbat ‘alayya maṣā’ibu law annahā
ṣubbat ‘alal-ayyāmi ṣirna layāliyā.
“Telah dituangkan kepadaku berbagai musibah. Seandainya musibah itu ditimpakan kepada hari-hari, niscaya hari-hari itu berubah menjadi malam.”

Makrifat; Perhatikan ungkapan:
صُبَّتْ عَلَيَّ مَصَائِبٌ
“Musibah-musibah telah dicurahkan kepadaku.” Bukan hanya satu musibah. Dalam pengalaman Sayyidah Fāṭimah as wafat Rasulullah ﷺ bukan sekadar kehilangan seorang ayah. Rasulullah adalah:
* ayah,
* Nabi,
* pembimbing,
* sumber kasih,
* tempat berlindung umat,
* dan pusat kehidupan spiritual Ahlul Bayt.
Karena itu kehilangan beliau terasa seperti hilangnya cahaya dari kehidupan.

Hakikat;”Siang menjadi malam” adalah gambaran perubahan cahaya menjadi kegelapan. Secara makrifat:
محمد ﷺ = نور الهداية
Muhammad ﷺ = cahaya petunjuk.
Ketika seorang pecinta kehilangan pembawa cahaya itu secara jasmani, dunia terasa gelap. Namun bagi ahli hakikat, ada pelajaran yang lebih dalam: Jangan berhenti pada cahaya makhluk; melalui cahaya Rasulullah, carilah Allah, Sang Pemilik segala cahaya.
3. قَدْ كُنْتُ ذَاتَ حِمًى بِظِلِّ مُحَمَّدٍ
لَا أَخْشَ مِنْ ضَيْمٍ وَكَانَ جَمَالِيَا
Qad kuntu dhāta ḥimā bi-ẓilli Muḥammadin, lā akhshā min ḍaymin wa kāna jamāliyā.
“Dahulu aku berada dalam perlindungan di bawah naungan Muhammad; aku tidak takut terhadap kezaliman, dan beliau adalah kemuliaanku.”

Makrifat; Kata: حِمًى — ḥimā
bermakna tempat perlindungan, kawasan yang dijaga. Sedangkan:
ظِلّ — ẓill
adalah naungan. Sayyidah Fāṭimah as menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai naungan perlindungan.
Ini bukan berarti beliau menganggap Rasulullah sebagai sumber kekuatan yang berdiri sendiri. Justru Rasulullah adalah wasilah dan manifestasi rahmat Allah.

Hakikat; Seorang manusia memiliki dua macam perlindungan:
حماية الظاهر
perlindungan lahiriah. dan:
حماية الباطن
perlindungan batiniah.
Rasulullah ﷺ melindungi umat secara lahir dengan risalah dan secara batin dengan hidayah. Maka kalimat ini mengandung kerinduan:”Selama engkau ada, aku merasa berada di bawah naungan risalah. Setelah engkau pergi, aku menghadapi dunia tanpa naungan itu.”
4. فَالْيَوْمَ أَخْشَعُ لِلذَّلِيلِ وَأَتَّقِي
ضَيْمِي وَأَدْفَعُ ظَالِمِي بِرِدَائِيَا
Fal-yawma akhsha‘u lidh-dhalīli wa-attaqī, ḍaymī wa adfa‘u ẓālimī biridāyā.
“Maka hari ini aku menghadapi keadaan yang lemah dan berusaha menjaga diriku dari kezaliman; aku menghadapi orang yang menzalimiku dengan selendangku.”

Makrifat: Di sini kesedihan mulai berubah menjadi kesadaran terhadap ujian setelah wafat Rasulullah ﷺ. Ada perubahan besar:
Kemarin: berada dalam naungan Rasulullah. Hari ini: harus menghadapi keadaan seorang diri.

Makrifatnya adalah bahwa kehidupan setelah kehilangan seorang wali Allah bukan berarti berhenti berjalan.Justru:
Ujian dimulai ketika naungan lahiriah telah hilang.
Hakikat; Sayidah Fāṭimah as mengajarkan ṣabr. Sabar bukan berarti tidak merasa sakit. Sabar adalah: أن تحمل الألم ولا تفقد الله
“Memikul rasa sakit tanpa kehilangan Allah.”
5. فَإِذَا بَكَتْ قُمْرِيَّةٌ فِي لَيْلِهَا
شَجَنًا عَلَى غُصْنٍ بَكَيْتُ صَبَاحِيَا
Fa-idhā bakat qumrīyatu fī laylihā,
shajanan ‘alā ghuṣnin bakaytu ṣabāḥiyā.
“Apabila burung qumrī menangis pada malam hari karena kesedihan di atas dahannya, maka aku menangis pada pagiku.”

Makrifat; Burung menangis pada malam hari. Sayyidah Fāṭimah as menangis bahkan ketika pagi datang.
Artinya, kesedihan itu tidak terikat oleh waktu. Malam adalah simbol kesunyian. Pagi adalah simbol kehidupan yang kembali berjalan.
Tetapi hati yang kehilangan Rasulullah ﷺ masih membawa kesedihan yang sama.

Hakikat; Ada tangisan yang keluar dari mata. Ada pula tangisan yang terjadi di dalam hati. 
دمع العين; air mata, mata
دمع القلب; air mata hati
Air mata hati lebih dalam.
Seorang ahli makrifat dapat menangis bukan karena putus asa kepada Allah, tetapi karena rindu kepada kekasih-kekasih Allah.
6. فَلَأَجْعَلَنَّ الْحُزْنَ بَعْدَكَ مُؤْنِسِي
وَلَأَجْعَلَنَّ الدَّمْعَ فِيكَ وِشَاحِيَا
Fal-aj‘alanna al-ḥuzna ba‘daka mu’nisī, wa la-aj‘alanna ad-dam‘a fīka wishāḥiyā.
“Maka setelah kepergianmu, akan kujadikan kesedihan sebagai teman, dan akan kujadikan air mata untukmu sebagai selendangku.”
Ini salah satu bagian paling dalam dari syair tersebut. 

Makrifat; Perhatikan: الْحُزْنَ … مُؤْنِسِي
“Kesedihan menjadi temanku.”
Biasanya manusia ingin menghilangkan kesedihan.
Tetapi seorang pecinta terkadang memelihara kesedihan sebagai tanda cinta. Bukan mencintai penderitaan itu sendiri, melainkan mencintai apa yang diingatkan oleh kesedihan tersebut. Setiap kesedihan mengingatkan:
“Aku pernah memiliki Rasulullah.”
Dan setiap air mata mengatakan:
“Aku masih mencintainya.”

Hakikat; Dalam maqam mahabbah, kesedihan karena kehilangan kekasih Allah dapat menjadi zikr.
Air mata menjadi bahasa yang tidak membutuhkan kata.
Karena itu: الحزن مع المحبة ذكر
“Kesedihan bersama cinta dapat menjadi zikir.”
7. مَاذَا عَلَى مَنْ شَمَّ تُرْبَةَ أَحْمَدٍ
أَنْ لَا يَشُمَّ مَدَى الزَّمَانِ غَوَالِيَا
Mādhā ‘alā man shamma turbata Aḥmadin, an lā yashumma madā az-zamāni ghawāliyā.
“Apalah kiranya bagi seseorang yang telah mencium tanah Ahmad, sehingga sepanjang zaman ia tidak lagi mencium wewangian lainnya?”

Makrifat; Ini adalah puncak syair.
تُرْبَةَ أَحْمَدٍ; Tanah Ahmad
Tanah makam Rasulullah ﷺ yang dicintai Sayyidah Fāṭimah as menjadi lebih berharga daripada seluruh parfum dunia. Mengapa? Karena bagi seorang pecinta, yang dicintai memberikan kemuliaan kepada segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Bukan tanah itu yang menjadi Tuhan atau objek ibadah.
Tetapi tanah itu menjadi mulia karena berhubungan dengan kekasih Allah.

Hakikat; Bait ini dapat dibaca sebagai perjalanan:
الرائحة → المحبة → الذكر → المعرفة
Aroma → cinta → zikir → makrifat.
Orang biasa mencium parfum dan mengingat keharumannya. Pecinta Rasulullah ﷺ mencium tanah makam beliau dan mengingat pemilik risalah. Dan ahli makrifat kemudian naik satu tingkat lagi:
“Jika aku mencintai Muhammad karena Allah, maka melalui Muhammad aku mengenal Allah.”

🌹 Inti makrifat seluruh syair
Jika ketujuh bait ini disatukan, terdapat 7 perjalanan ruhani:
1. الفقد — al-faqd → kehilangan
2. الحزن — al-ḥuzn → kesedihan
3. المحبة — al-maḥabbah → cinta
4. الوفاء — al-wafā’ → kesetiaan
5. الذكر — adh-dhikr → mengingat
6. الصبر — aṣ-ṣabr → kesabaran
7. المعرفة — al-ma‘rifah → pengenalan kepada Allah melalui kecintaan kepada Rasulullah ﷺ
Jadi, syair ini tidak hanya berbicara tentang seorang anak yang kehilangan ayahnya. Pada lapisan makrifat, ia menggambarkan:
ketika tubuh seorang kekasih Allah telah pergi dari pandangan, cinta kepadanya justru semakin hidup di dalam hati.

Dan inilah sebabnya bait terakhir berpindah dari air mata kepada tanah makam Rasulullah ﷺ: kesedihan akhirnya berubah menjadi ziarah, cinta, ingatan, dan keterikatan ruhani.

Wasiat Terakhir Rasulullah saw
Sesuai dengan wasiat khusus dari Rasulullah SAW, Imam Ali AS menjadi pelaksana utama yang memandikan jasad suci beliau. Ketika memandikan jasad Nabi, Imam Ali AS berkata:
"Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, dengan wafatmu terputuslah sesuatu yang tidak pernah terputus dengan wafatnya orang lain, yaitu kenabian dan wahyu Ilahi..."

Setelah disalatkan oleh Ahlulbayt dan para sahabat secara bergantian, Rasulullah SAW dimakamkan di tempat beliau menghembuskan napas terakhirnya di Madinah, diiringi duka mendalam dari keluarga sucinya.

Kisah detik-detik wafatnya Rasulullah SAW. Versi lainnya;

Imam Ali as Amirul Mukminin dan Sayyidah Fatimah Azzahra as
Saat ajal Rasulullah SAW telah dekat, datanglah Malaikat Maut meminta izin untuk mencabut ruhnya.

Di samping beliau ada Amirul Mukminin (Ali), Sayyidah Fatimah, Imam Hasan dan Imam Husain. Beliau jatuh pingsan berulang kali, lalu Imam Hasan dan Imam Husain melemparkan diri ke atas beliau, maka Amirul Mukminin ingin mengangkat keduanya. 

Maka Nabi SAW membuka matanya dan berkata: "Wahai Ali, biarkan aku mencium mereka dan mereka menciumku dan mereka berbekal dariku. Sesungguhnya mereka berdua akan dizalimi setelahku dan akan dibunuh. Maka laknat Allah atas siapa yang menzalimi mereka." Beliau mengulanginya sampai tiga kali.

Amirul Mukminin pada saat itu selalu menemani beliau dan Sayyidah Fatimah as di dekat pembaringannya. Maka mereka melarang orang-orang untuk masuk menemui beliau. 

Sayyidah Fatimah AS berkata: Ketika kami berada di sekitar ayahku dan beliau pingsan karena sakit yang sangat berat, tiba-tiba ada penyeru di pintu yang berkata: "Aku orang asing, apakah kalian mengizinkan orang asing masuk?" Maka aku berkata: "Wahai orang ini, sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk darimu, pergilah." Maka ia pergi, kemudian kembali lagi untuk kedua kalinya dan berseru: "Aku orang asing, apakah kalian mengizinkan orang asing masuk?" Maka aku menolaknya, dan pada kali ketiga ia kembali dan menyerukan seruan yang sama. Dan Rasulullah SAW telah siuman dari pingsannya, lalu beliau berkata: "Wahai anakku Fatimah, apakah engkau mengenalnya?" Sayyidah Fatimah as berkata: "Tidak, wahai ayahku." Beliau berkata: "Wahai anakku, ini adalah pemisah kumpulan, ini adalah pemutus segala kelezatan. Ia tidak pernah meminta izin kepada seorang pun sebelumku dan tidak akan pernah meminta izin kepada seorang pun setelahku, maka izinkanlah ia masuk."
Maka Fatimah mengizinkannya masuk. Lalu ia masuk dan berkata: "Salam atasmu wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi menyampaikan salam kepadamu dan memberimu pilihan antara bertemu dengan-Nya dan tetap tinggal di dunia." Maka beliau berkata: "Wahai Malaikat Maut, tundalah aku sampai turun kepadaku kekasihku Jibril." Maka Malaikat Maut naik ke langit dan bertemu Jibril. Ia berkata: "Wahai Malaikat Maut, apakah engkau telah mencabut ruh Muhammad?" Ia berkata: "Tidak wahai Jibril, sesungguhnya ia memintaku menunggu kedatanganmu." Maka Jibril berkata: "Wahai Malaikat Maut, tidakkah engkau melihat surga telah dihiasi untuk ruh Muhammad? Tidakkah engkau melihat para malaikat telah bersiap menyambut ruh Muhammad?" Kemudian Jibril turun kepada Rasulullah SAW dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi menyampaikan salam kepadamu dan berfirman kepadamu: 'Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hatimu menjadi puas' (QS. Ad-Dhuha:5)." Maka Rasul berkata: "Kekasihku Jibril, jangan tinggalkan aku sampai datang perintah Tuhanku." Dan Jibril ada di sebelah kanan beliau dan Mikail di sebelah kiri beliau, dan kepala beliau berada di pangkuan Amirul Mukminin, dan Malaikat Maut mencabut ruhnya yang suci, kemudian dicabutlah ruhnya yang suci itu.
Dan tangan Imam Ali as berada di bawah dagu beliau yang mulia, maka Imam Ali as mengusap wajahnya dengan tangan itu, dan bangkit menuju manusia, membuka pintu sambil menangis dan berkata: "Wahai manusia, semoga Allah memperbesar pahala kalian karena (kehilangan) Nabi kalian, sungguh Allah telah mewafatkannya kepada-Nya." Maka manusia pun gempar dengan tangisan dan ratapan, dan Sayyidah Fatimah berteriak: "Wahai ayahku, wahai Muhammad!"

Riwayat mengenai persentuhan atau bisikan antara mulut/bibir Rasulullah SAW dan mulut Imam Ali AS pada detik-detik akhir hayat beliau

Riwayat ini menjelaskan metode spiritual transmisional mengenai cara Rasulullah SAW mewariskan ilmu kenabian dan rahasia Ilahi kepada Imam Ali AS.

1. Narasi Riwayat Transmisi Ilmu (Mulut ke Mulut)
Dalam beberapa kitab riwayat ahlul bayt (seperti Bihār al-Anwār karya Allamah Majlisi dan Al-Kāfī karya Syaikh Al-Kulaini), menceritakan momen ketika Rasulullah SAW mendekap Imam Ali AS menjelang wafatnya: Rasulullah SAW memanggil Imam Ali AS dan meminta agar kepalanya diletakkan di dada Imam Ali as Beliau kemudian menyelimuti Imam Ali as dengan jubahnya dan mendekatkan wajahnya. Rasulullah SAW meletakkan mulut beliau di atas mulut Ali AS (atau membisikkan secara erat dari mulut ke mulut) dan meniupkan/menyampaikan rahasia-rahasia kenabian.
Imam Ali AS menggambarkan peristiwa tersebut:
"Beliau mengajarkan kepadaku seribu pintu ilmu, dan dari setiap pintu terbuka seribu pintu ilmu lainnya."

2. Makna dan Kompabilitas dalam Literatur Islam
* Perspektif Ahlulbayt (Syiah): Peristiwa ini dipahami bukan sekadar pengajaran verbal biasa, melainkan sebuah transmisi ilmu ketuhanan ('Ilm Ladunni) dan pelimpahan wasiat spiritual dari seorang Nabi kepada penerus utamanya (wasi). Konsep ini menekankan keberlanjutan kepemimpinan spiritual (Imamah) yang menerima warisan ilmu langsung dari sumber kenabian.
* Perspektif Ahlus Sunnah (Sunni): Dalam riwayat Sunni, peristiwa kedekatan fisik antara Rasulullah SAW dan Imam Ali AS pada detik-detik akhir juga diakui dalam beberapa riwayat (seperti riwayat di mana Rasulullah SAW berbisik panjang kepada Ali AS atau kepala beliau berada di dada Imam Ali as. Namun, narasi spesifik mengenai "bibir menyentuh bibir untuk mentransfer ilmu" umumnya dianggap sebagai riwayat khas tradisi Syiah atau jalur mistik (tasawuf/tarekat), bukan sebagai hadis sahih mutawatir dalam standar Kutubus Sittah Sunni.
3. Esensi Maksud dari Riwayat
Secara majazi maupun spiritual, riwayat tersebut menggambarkan:
1. Sanad Keilmuan Terdekat: Menegaskan sabda Nabi SAW yang terkenal, "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya" (Ana madinatul 'ilmi wa 'Aliyyun baabuha).
2. Kerahasiaan Ilmu (Asrar): Bahwa ada ilmu khusus mengenai hakikat syariat dan ketuhanan yang disampaikan secara privat (sirr) oleh Nabi SAW kepada Imam Ali AS.

Detik-detik terakhir Rasulullah ﷺ menurut riwayat Ahlulbait, khususnya saat Imam Ali عليه السلام berada sangat dekat dengan beliau dan menerima ilmu, maka ada riwayat yang sangat relevan.
1. Rasulullah ﷺ meminta Imam Ali عليه السلام berada bersamanya
Dalam sebuah riwayat dari Imam Ali عليه السلام disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ telah mendekati wafat, Ali عليه السلام masuk menemui beliau. Riwayat tersebut kemudian menceritakan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan Imam Ali as untuk mengurus pemandian dan pengkafanan beliau, kemudian setelah itu bertanya kepadanya tentang berbagai perkara. 
Riwayat lainnya memberikan redaksi yang sangat kuat:
أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ إِذَا تُوُفِّيَ أَنْ أَسْتَقِيَ سَبْعَ قِرَبٍ مِنْ بِئْرِ غَرْسٍ فَأَغْسِلَهُ بِهَا، فَإِذَا غَسَّلْتُهُ وَفَرَغْتُ مِنْ غُسْلِهِ أَخْرَجْتُ مَنْ فِي الْبَيْتِ، فَإِذَا أَخْرَجْتُهُمْ قَالَ: فَضَعْ فَاكَ عَلَى فِيَّ، ثُمَّ سَلْنِي عَمَّا هُوَ كَائِنٌ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ مِنْ أَمْرِ الْفِتَنِ.
قَالَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَنْبَأَنِي بِمَا يَكُونُ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ، وَمَا مِنْ فِتْنَةٍ تَكُونُ إِلَّا وَأَنَا أَعْرِفُ أَهْلَ ضَلَالِهَا مِنْ أَهْلِ حَقِّهَا.
“Rasulullah ﷺ memerintahkanku: apabila beliau telah wafat, ambillah tujuh qirbah dari sumur Gharas dan mandikanlah aku dengannya. Setelah engkau selesai memandikanku, keluarkanlah orang-orang yang berada di rumah.
Setelah mereka keluar, beliau berkata: ‘Letakkan mulutmu pada mulutku, kemudian tanyakanlah kepadaku tentang apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat mengenai berbagai fitnah.’
Ali عليه السلام berkata: ‘Aku melakukan hal itu. Lalu beliau memberitahukan kepadaku apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat. Tidak ada fitnah yang terjadi kecuali aku mengetahui siapa ahli kesesatannya dan siapa ahli kebenarannya.’” 

2. Inilah yang sangat menarik: “mulut ke mulut”
Dalam riwayat lain dari Baṣā’ir al-Darajāt, redaksinya:
ثُمَّ ضَعْ فَاكَ عَلَى فَمِي
“Kemudian letakkanlah mulutmu pada mulutku.”
Lalu:
فَأَنْبَأَنِي بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Maka beliau memberitahukan kepadaku apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat.” 
Jadi dalam perspektif riwayat Ahlulbait, momen setelah wafat Nabi bukan sekadar proses memandikan dan mengkafani jasad beliau. Ada gambaran tentang sebuah majlis ilmu yang sangat khusus antara Rasulullah ﷺ dan Imam Ali عليه السلام.

3. Makna makrifatnya
Urutannya sangat indah:
Rasulullah ﷺ → فاك / فمي → Ali عليه السلام → ilmu tentang fitnah dan masa depan
Bukan berarti ilmu itu berpindah secara fisik melalui bibir. Riwayat menggambarkan kedekatan luar biasa dan penyampaian langsung rahasia ilmu.
Karena itu, dalam tradisi Ahlulbait, riwayat ini dapat dibaca bersama riwayat tentang:
عَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ عَلِيًّا أَلْفَ بَابٍ
“Rasulullah mengajarkan kepada Ali seribu pintu ilmu.”
Dan dari setiap pintu terbuka seribu pintu lagi.
Dengan demikian, detik-detik terakhir Rasulullah ﷺ kepada Imam Ali عليه السلام dipandang sebagai salah satu momen puncak pewarisan ilmu kenabian.

Namun ada satu hal yang perlu dijaga secara ilmiah: riwayat “mulut pada mulut” tidak dengan sendirinya mengatakan bahwa seluruh ilmu Nabi ditransfer melalui kontak fisik bibir. Yang secara eksplisit dikatakan adalah Nabi menyuruh Imam Ali as mendekatkan mulutnya, kemudian Nabi memberitahukan kepadanya apa yang akan terjadi hingga Kiamat. 

Dialog khusus, menit terakhir Rasulullah ﷺ — menurut riwayat Ahlulbait

1. Rasulullah ﷺ berada dalam keadaan sangat dekat dengan wafat. Imam Ja‘far al-Ṣādiq عليه السلام meriwayatkan:
لَمَّا حَضَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ الْمَوْتُ دَخَلَ عَلَيْهِ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ
“Ketika wafat telah mendekati Rasulullah ﷺ, Imam Ali عليه السلام masuk menemui beliau.”
Kemudian Nabi ﷺ menarik kepala Imam Ali ke bawah selimut dan berkata:
يَا عَلِيُّ، إِذَا أَنَا مُتُّ فَغَسِّلْنِي وَكَفِّنِّي، ثُمَّ أَقْعِدْنِي وَسَلْنِي وَاكْتُبْ.
“Wahai Ali, apabila aku telah wafat, mandikanlah aku, kafanilah aku, kemudian dudukkan aku, tanyakanlah kepadaku, dan tulislah.”

Ini terdapat dalam al-Kāfī, jilid 1, bab tentang bukti kepemimpinan Amirul Mukminin setelah Rasulullah ﷺ.

2. Semua orang dikeluarkan
Dalam riwayat yang lebih panjang tentang wasiat Nabi ﷺ kepada Imam Ali عليه السلام disebutkan bahwa setelah proses memandikan beliau:
فَإِذَا غَسَّلْتُهُ وَفَرَغْتُ مِنْ غُسْلِهِ أَخْرَجْتُ مَنْ فِي الْبَيْتِ
“Setelah aku selesai memandikannya, daku mengeluarkan orang-orang yang berada di dalam rumah.”
Kemudian terjadilah percakapan yang sangat khusus antara Rasulullah ﷺ dan Imam Ali عليه السلام.

3. Mulut Rasulullah ﷺ dan mulut Imam Ali عليه السلام
Nabi ﷺ berkata:
فَضَعْ فَاكَ عَلَى فِيَّ، ثُمَّ سَلْنِي عَمَّا هُوَ كَائِنٌ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ مِنْ أَمْرِ الْفِتَنِ
“Letakkanlah mulutmu pada mulutku. Kemudian tanyakanlah kepadaku tentang apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat mengenai berbagai fitnah.”
Kemudian Imam Ali عليه السلام berkata:
فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَنْبَأَنِي بِمَا يَكُونُ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ
“Aku melakukan hal itu. Lalu beliau memberitahukan kepadaku apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat.”
Dan dilanjutkan:
وَمَا مِنْ فِتْنَةٍ تَكُونُ إِلَّا وَأَنَا أَعْرِفُ أَهْلَ ضَلَالِهَا مِنْ أَهْلِ حَقِّهَا
“Tidak ada suatu fitnah pun yang terjadi kecuali aku mengetahui orang-orang yang berada dalam kesesatannya dan orang-orang yang berada dalam kebenarannya.”

Riwayat tersebut mengatakan Nabi ﷺ menyuruh Imam Ali as mendekatkan mulutnya dan kemudian memberitahukan kepadanya
4. Ilmu yang diberikan sangat luas
Riwayat-riwayat Ahlulbait lainnya menggambarkan bahwa pada saat-saat terakhir itu Imam Ali menerima pengetahuan yang sangat luas.
Di antaranya ungkapan yang masyhur:
عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ أَلْفَ بَابٍ مِنَ الْعِلْمِ، يَفْتَحُ لِي مِنْ كُلِّ بَابٍ أَلْفُ بَابٍ
“Rasulullah ﷺ mengajarkanku seribu pintu ilmu; dari setiap pintu terbuka bagiku seribu pintu.”

Karena itu, dalam pemahaman makrifat Ahlulbait, pertemuan terakhir Nabi ﷺ dengan Imam Ali عليه السلام bukan sekadar percakapan biasa, tetapi salah satu gambaran tentang warāthat al-‘ilm — pewarisan ilmu Rasulullah kepada washi beliau.

5. Saat-saat paling berat
Ketika Rasulullah ﷺ berada dalam keadaan sangat lemah. Riwayat-riwayat sejarah dari berbagai tradisi menggambarkan beratnya sakit beliau.

6. Wasiat terakhir kepada Imam Ali عليه السلام
Dalam perspektif riwayat Ahlulbait, hubungan Nabi ﷺ dengan Imam Ali عليه السلام pada saat itu bukan hanya hubungan keluarga. Nabi ﷺ memastikan Imam Ali as mengetahui:
* cara mengurus jenazah beliau;
* pemandian;
* pengkafanan;
* perkara-perkara setelah wafat;
* berbagai fitnah umat;
* dan pengetahuan tentang apa yang akan terjadi.
Karena itu kalimat:
ثُمَّ أَقْعِدْنِي وَسَلْنِي وَاكْتُبْ
“Dudukkan aku, tanyakan kepadaku, dan tulislah”
memiliki makna yang sangat dalam.
Seolah-olah Rasulullah ﷺ mengatakan:”Jangan biarkan kesempatan terakhir ini berlalu tanpa mengambil ilmu dariku.”

7. Lalu datanglah saat perpisahan
Yang dapat kita katakan berdasarkan riwayat adalah: Rasulullah ﷺ sakit keras (reaksi racun yg dbubuhkan ke makanan beliau saw) → Imam Ali عليه السلام berada di sisi beliau → Nabi ﷺ memberikan wasiat → terjadi percakapan khusus → Imam Ali as menerima pengetahuan tentang perkara-perkara yang akan datang → Rasulullah ﷺ wafat.

Dalam riwayat Ahlulbait, Imam Ali عليه السلام kemudian menjadi orang yang menjalankan amanat pengurusan jasad Rasulullah ﷺ.

Kalau kita membaca seluruh rangkaian ini secara spiritual, ada sebuah gambaran yang sangat indah:

Jasad Nabi ﷺ → berada di tangan Imam Ali عليه السلام

Ilmu Nabi ﷺ → berada di hati Imam Ali عليه السلام

Wasiat Nabi ﷺ → berada pada tanggung jawab Imam Ali عليه السلام

Rahasia umat → disampaikan kepada Imam Ali عليه السلام

Sehingga Imam Ali عليه السلام menjadi pintu ilmu Rasulullah ﷺ sekaligus orang yang paling dekat dengan beliau pada saat terakhir.

Dan yang sangat indah: Nabi ﷺ tidak sekadar berkata “ingatlah aku”, tetapi: سَلْنِي وَاكْتُبْ
“Tanyalah aku dan tulislah.”
Seakan-akan detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ menjadi majlis ilmu terakhir kenabian kepada washi beliau.

Percakapan terakhir Rasulullah ﷺ dengan Imam Ali عليه السلام”

1. Nabi ﷺ memanggil Imam Ali عليه السلام
Dalam al-Kāfī diriwayatkan dari Imam Ja‘far al-Ṣādiq عليه السلام:
لَمَّا حَضَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ الْمَوْتُ دَخَلَ عَلَيْهِ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَأَدْخَلَ رَأْسَهُ، ثُمَّ قَالَ:
يَا عَلِيُّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَغَسِّلْنِي وَكَفِّنِّي، ثُمَّ أَقْعِدْنِي وَسَلْنِي وَاكْتُبْ.
“Ketika Rasulullah ﷺ telah didatangi kematian, Ali عليه السلام masuk menemui beliau dan memasukkan kepalanya [ke tempat beliau].

Kemudian Rasulullah ﷺ berkata:
‘Wahai Ali, apabila aku telah wafat, mandikanlah aku dan kafanilah aku. Kemudian dudukkanlah aku, tanyakanlah kepadaku dan tulislah.’” 

2. “Tanyakanlah kepadaku apa yang engkau kehendaki”
Ada riwayat lain dalam al-Kāfī:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ قَالَ لِعَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ:
إِذَا أَنَا مُتُّ فَاسْتَقِ سِتَّ قِرَبٍ مِنْ مَاءِ بِئْرِ غَرْسٍ، فَغَسِّلْنِي وَكَفِّنِّي وَحَنِّطْنِي، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ غُسْلِي وَكَفْنِي فَخُذْ بِجَوَامِعِ كَفَنِي وَأَجْلِسْنِي، ثُمَّ سَلْنِي عَمَّا شِئْتَ، فَوَاللَّهِ لَا تَسْأَلُنِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَجَبْتُكَ فِيهِ.
“Rasulullah ﷺ berkata kepada Ali عليه السلام:
‘Apabila aku telah wafat, ambillah enam qirbah air dari sumur Gharas. Mandikan aku, kafanilah aku dan hanutilah aku. Setelah engkau selesai memandikan dan mengkafaniku, peganglah bagian-bagian kafanku dan dudukkanlah aku. Kemudian tanyakan kepadaku apa saja yang engkau kehendaki. Demi Allah, engkau tidak akan menanyakan kepadaku sesuatu pun melainkan aku akan menjawabnya kepadamu.’” 
Kalimat terakhir sangat kuat:
فَوَاللَّهِ لَا تَسْأَلُنِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَجَبْتُكَ فِيهِ
“Demi Allah, engkau tidak akan bertanya kepadaku tentang sesuatu pun melainkan aku akan menjawabnya.”
3. Lalu tentang “mulut ke mulut”
Riwayat Imam Ali عليه السلام yang dinukil dalam Baṣā’ir al-Darajāt memberikan gambaran lebih khusus:
أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ إِذَا تُوُفِّيَ أَنْ أَسْتَقِيَ سَبْعَ قِرَبٍ مِنْ بِئْرِ غَرْسٍ فَأَغْسِلَهُ بِهَا، فَإِذَا غَسَّلْتُهُ وَفَرَغْتُ مِنْ غُسْلِهِ أَخْرَجْتُ مَنْ فِي الْبَيْتِ، فَإِذَا أَخْرَجْتُهُمْ قَالَ: فَضَعْ فَاكَ عَلَى فِيَّ، ثُمَّ سَلْنِي عَمَّا هُوَ كَائِنٌ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ مِنْ أَمْرِ الْفِتَنِ.
Kemudian Imam Ali berkata:
فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَنْبَأَنِي بِمَا يَكُونُ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ، وَمَا مِنْ فِتْنَةٍ تَكُونُ إِلَّا وَأَنَا أَعْرِفُ أَهْلَ ضَلَالِهَا مِنْ أَهْلِ حَقِّهَا.
“Rasulullah ﷺ memerintahkanku bahwa apabila beliau wafat, aku mengambil tujuh qirbah dari sumur Gharas dan memandikannya dengannya. Setelah aku selesai memandikannya, aku mengeluarkan orang-orang yang ada di rumah.

Setelah mereka keluar, beliau berkata:

‘Letakkan mulutmu pada mulutku, kemudian tanyakanlah kepadaku tentang apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat mengenai berbagai fitnah.’

Aku melakukannya. Kemudian beliau memberitahukan kepadaku apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat. Tidak ada fitnah yang terjadi kecuali aku mengetahui ahli kesesatannya dan ahli kebenarannya.” 
Ini adalah riwayat yang paling dekat dengan pembahasan kita sebelumnya.

4. Dan ada riwayat tentang “seribu pintu ilmu”
Dalam al-Kāfī, setelah pembahasan tentang percakapan Nabi ﷺ dengan Imam Ali عليه السلام, terdapat riwayat dari Imam al-Ṣādiq عليه السلام:
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ حَدَّثَ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَامُ بِأَلْفِ بَابٍ يَوْمَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ، كُلُّ بَابٍ يَفْتَحُ أَلْفَ بَابٍ، فَذَلِكَ أَلْفُ أَلْفِ بَابٍ.
Imam al-Ṣādiq عليه السلام menjawab:
لَقَدْ كَانَ ذَلِكَ.
“Nabi ﷺ menyampaikan kepada Ali عليه السلام seribu pintu ilmu pada hari Rasulullah ﷺ wafat. Setiap pintu membuka seribu pintu; maka semuanya menjadi satu juta pintu.”
Imam al-Ṣādiq عليه السلام berkata:
“Memang demikianlah yang terjadi.” 

5. Jadi bagaimana gambaran “percakapan terakhir” itu?
Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, kita dapat menyusun kerangka percakapan, tetapi bukan mengklaim sebagai transkrip kata demi kata: Rasulullah ﷺ:
يَا عَلِيُّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَغَسِّلْنِي وَكَفِّنِّي…
“Wahai Ali, apabila aku wafat, mandikan dan kafanilah aku…”
Kemudian: ثُمَّ أَقْعِدْنِي وَسَلْنِي وَاكْتُبْ
“Dudukkan aku, tanyakan kepadaku dan tulislah.” Dan dalam riwayat lainnya: ثُمَّ سَلْنِي عَمَّا شِئْتَ
“Lalu tanyakan kepadaku apa saja yang engkau kehendaki.”
Kemudian pada riwayat khusus:
فَضَعْ فَاكَ عَلَى فِيَّ
“Letakkan mulutmu pada mulutku.”
Lalu:
ثُمَّ سَلْنِي عَمَّا هُوَ كَائِنٌ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ
“Tanyakan kepadaku tentang apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat.” Dan jawaban Imam Ali:
فَأَنْبَأَنِي بِمَا يَكُونُ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ
“Lalu beliau memberitahukan kepadaku apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat.” 
Makna terdalamnya
Yang sangat menarik adalah bahwa riwayat tidak menggambarkan Imam Ali as sekadar menerima satu pesan terakhir. Ia menggambarkan sebuah proses pewarisan ilmu:

Nabi ﷺ → bertanya/jawab → Ali عليه السلام → ilmu → fitnah umat → masa depan hingga Kiamat.

Dan riwayat “mulut pada mulut” memberikan bentuk yang sangat intim terhadap proses itu. Tetapi secara ilmiah kita harus mengatakan: teks tidak menyebut bahwa seluruh ilmu Nabi secara harfiah berpindah melalui bibir. Yang disebut adalah Nabi menyampaikan pengetahuan kepada Imam Ali setelah kedekatan tersebut. ثُمَّ ضَعْ فَاكَ عَلَى فَمِي
“Kemudian letakkan mulutmu pada mulutku.”Lalu langsung dilanjutkan:
فَأَنْبَأَنِي بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Maka beliau memberitahukan kepadaku apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat.” 
Jadi, jika dikaitkan dengan riwayat lain tentang “seribu bab ilmu, setiap bab membuka seribu bab”, gambaran tentang keluasan ilmu Imam Ali عليه السلام dalam literatur Ahlulbait memang sangat kuat.

Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit