Karbala Membagi Dua Kelompok Pecinta Al-Husain as

تُقَسِّمُ كَرْبَلَاءُ الْمُحِبِّينَ إِلَى فَرِيقَيْنِ: فَرِيقٍ يَسِيرُ نَحْوَ الْحُسَيْنِ، وَفَرِيقٍ يَنْتَظِرُ عَلَى طُرُقِ الْمَسِيرِ لِيَخْدُمَ السَّائِرِينَ إِلَيْهِ…

Karbala membagi para pecinta menjadi dua kelompok: kelompok yang berjalan menuju Al-Husain, dan kelompok yang menunggu di sepanjang jalan untuk melayani mereka yang berjalan menuju-Nya…

Karbala divides the lovers into two groups: one group walks toward Al-Husayn, while the other waits along the road to serve those who are walking toward Him…

فِي مَوْسِمِ الْأَرْبَعِينَ، تَحْدُثُ أُمُورٌ لَا يَسْتَطِيعُ الْعَقْلُ الْمَنْطِقِيُّ أَنْ يُفَسِّرَهَا…
Pada momen Arba’in, terjadi hal-hal yang tak mampu dijelaskan oleh akal logika…
During Arba’in, things happen that rational logic is unable to explain…

رَجُلٌ يَمْشِي مِئَاتِ الْكِيلُومِتْرَاتِ وَهُوَ فَرِحٌ، رَغْمَ مَا يَشْعُرُ بِهِ مِنْ تَعَبٍ…
Seorang pria berjalan ratusan kilometer dengan rasa bahagia di tengah kelelahannya…
A man walks hundreds of kilometers with happiness in his heart despite his exhaustion…

وَرَجُلٌ آخَرُ يَقِفُ سَاعَاتٍ طَوِيلَةً عَلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، وَيَشْعُرُ بِالْقَلَقِ لِئَلَّا يَمُرَّ زَائِرٌ وَهُوَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى مُسَاعَدَتِهِ…
Dan pria lainnya berdiri berjam-jam di tepi jalan dengan rasa cemas jika ada peziarah yang lewat namun tidak membutuhkan bantuannya…
While another man stands for hours by the roadside, anxious that a pilgrim might pass by without needing his help…

أَحَدُهُمَا يَرْجُو أَنْ يَصِلَ إِلَى الْحُسَيْنِ سَرِيعًا،
Yang satu berharap segera sampai kepada Al-Husain,
One hopes to reach Al-Husayn as soon as possible,
وَالْآخَرُ يَرْجُو أَنْ يَتَأَخَّرَ وُصُولُ الزَّائِرِينَ قَلِيلًا لِيَتَمَكَّنَ مِنْ خِدْمَتِهِمْ لِوَقْتٍ أَطْوَلَ…
Sedangkan yang lainnya berharap kedatangan peziarah sedikit tertunda agar ia bisa lebih lama melayani para peziarah Al-Husain…
while the other hopes that the pilgrims will arrive a little later so that he can serve the pilgrims of Al-Husayn for a longer time…

وَكِلَاهُمَا مُحِبٌّ صَادِقٌ.
Dan keduanya adalah pecinta sejati.
And both are true lovers.

فِي الطَّرِيقِ إِلَى كَرْبَلَاءَ، قَدْ لَا تَعْرِفُ أَحْيَانًا مَنْ هُوَ الضَّيْفُ وَمَنْ هُوَ الْمُضِيفُ…
Di jalan menuju Karbala, terkadang engkau tidak tahu siapa yang menjadi tamu dan siapa yang menjadi tuan rumah…
On the road to Karbala, sometimes you do not know who is the guest and who is the host…
لِأَنَّ الزَّائِرَ يَنْظُرُ إِلَى الْخَادِمِ عَلَى أَنَّهُ صَاحِبُ فَضْلٍ عَلَيْهِ،
Sebab peziarah memandang pelayan sebagai orang yang berjasa padanya…
Because the pilgrim looks upon the servant as someone who has done him a great favor…

بَيْنَمَا يَنْظُرُ الْخَادِمُ إِلَى الزَّائِرِ عَلَى أَنَّهُ نِعْمَةٌ مِنَ اللَّهِ جَاءَتْ سَائِرَةً إِلَى بَابِهِ.
Sementara sang pelayan memandang peziarah sebagai karunia dari Allah yang datang berjalan menuju pintunya.
while the servant looks upon the pilgrim as a blessing from Allah that has come walking to his doorstep.

يَقُولُ لِلزَّائِرِ: «تَفَضَّلْ…»
Ia berkata kepada peziarah: “Silakan…”
He says to the pilgrim, “Please, come in…”

وَلَكِنَّ قَلْبَهُ يَهْمِسُ:
Namun hatinya berbisik:
But his heart whispers:

«شُكْرًا لَكَ لِأَنَّكَ اخْتَرْتَ بَابَ بَيْتِي مِنْ بَيْنِ آلَافِ الْأَبْوَابِ، لِأَضَعَ قَلِيلًا مِنْ مَحَبَّتِي فِي طَرِيقِ الْحُسَيْنِ.»
“Terima kasih karena telah memilih pintu rumahku di antara ribuan pintu yang ada, sehingga aku bisa menaruh sedikit dari cintaku di jalan Al-Husain.”
“Thank you for choosing the door of my home among thousands of doors, so that I may place a little of my love on the path of Al-Husayn.”

مَا أَجْمَلَ هَذِهِ الْقِصَّةَ الْمُدْهِشَةَ…
Betapa indahnya kisah yang menakjubkan ini…
How beautiful and astonishing this story is…

يَطْبُخُ الْخَادِمُ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ مَنْ سَيَأْكُلُ طَعَامَهُ،
Sang pelayan memasak tanpa tahu siapa yang akan memakannya,
The servant cooks without knowing who will eat the food,

وَيَفْتَحُ مَكَانَ نَوْمِهِ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ مَنْ سَيَنَامُ فِيهِ،
Membuka tempat tidurnya tanpa tahu siapa yang akan tidur di atasnya,
He opens his sleeping place without knowing who will sleep there,

وَيَقِفُ حَامِلًا الْمَاءَ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ مَنْ سَيَشْرَبُهُ،
Berdiri membawa air tanpa tahu siapa yang akan meminumnya,
He stands carrying water without knowing who will drink it,

وَيُنْفِقُ مَالَهُ عَلَى وُجُوهٍ رُبَّمَا لَنْ يَرَاهَا مَرَّةً أُخْرَى فِي حَيَاتِهِ…
Dan menginfakkan hartanya kepada wajah-wajah yang mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi seumur hidupnya…
And he spends his wealth on faces that he may never see again for the rest of his life…

وَمَعَ ذَلِكَ، عِنْدَمَا يَنْتَهِي الْأَرْبَعِينُ وَتَخْلُو الطُّرُقُ…
Namun demikian, ketika Arba’in telah usai dan jalanan menjadi sepi…
Yet when Arba’in comes to an end and the roads become quiet…

يَبْكِي.
Ia menangis.
He cries.

يَبْكِي لِأَنَّهُ لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ مَنْ يَطْرُقُ بَابَهُ وَيَقُولُ: «أَنَا زَائِرُ الْحُسَيْنِ.»
Ia menangis karena tidak ada lagi yang mengetuk pintunya seraya berkata: “Aku adalah peziarah Al-Husain.”
He cries because there is no longer anyone knocking on his door and saying, “I am a pilgrim of Al-Husayn.”


عِنْدَهَا تَدْرِكُ أَنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لَيْسَ مُجَرَّدَ طَعَامٍ أَوْ مَاءٍ أَوْ مَكَانٍ لِلْمَبِيتِ…
Saat itulah engkau menyadari bahwa ini semua bukan sekadar tentang makanan, air, atau tempat menginap…
At that moment, you realize that this is not merely about food, water, or a place to stay…

بَلْ إِنَّ الْخَادِمَ هُوَ الَّذِي يَحْتَاجُ إِلَى الزَّائِرِ أَكْثَرَ مِمَّا يَحْتَاجُ الزَّائِرُ إِلَى الْخَادِمِ.
Sang pelayanlah yang sebenarnya lebih membutuhkan peziarah daripada peziarah membutuhkan sang pelayan.
Rather, it is the servant who actually needs the pilgrim more than the pilgrim needs the servant.

إِنَّهُ يَبْحَثُ عَنْ شَيْءٍ مِنْ عَظَمَةِ الْحُسَيْنِ فِي الْوُجُوهِ الَّتِي تَمُرُّ أَمَامَهُ…
Ia sedang mencari sesuatu dari keagungan Al-Husain pada wajah-wajah yang melintas…
He is searching for something of Al-Husayn’s greatness in the faces passing before him…

وَلِذَلِكَ تَرَى شَيْخًا كَبِيرًا يَنْحَنِي لِيَغْسِلَ قَدَمَيْ شَابٍّ أَصْغَرَ مِنْ أَبْنَائِهِ سِنًّا،
Maka dari itu, engkau melihat seorang kakek tua membungkuk membilas kaki seorang pemuda yang lebih muda dari anaknya sendiri,
That is why you see an elderly man bending down to wash the feet of a young man younger than his own children,

وَتَرَى الْغَنِيَّ يَحْمِلُ صَحْنَ الطَّعَامِ بِيَدَيْهِ،
Engkau melihat orang kaya membawa baki makanan dengan kedua tangannya sendiri, you see a wealthy man carrying a tray of food with his own hands,

وَتَرَى امْرَأَةً تَسْتَمِرُّ فِي خَبْزِ الْخُبْزِ حَتَّى تَتَشَقَّقَ يَدَاهَا،
Engkau melihat seorang wanita terus membakar roti hingga tangannya pecah-pecah,
you see a woman continuing to bake bread until her hands become cracked,

وَتَرَى طِفْلًا صَغِيرًا يَقِفُ وَهُوَ يُمْسِكُ كَأْسًا مِنَ الْمَاءِ، وَكَأَنَّهُ يُمْسِكُ أَثْمَنَ شَيْءٍ فِي الْعَالَمِ…
Dan engkau melihat seorang anak kecil berdiri memegang segelas air seolah ia sedang menggenggam hal paling berharga di dunia…
and you see a little child standing with a glass of water in his hands as though he were holding the most precious thing in the world…

لَا يَشْعُرُ أَحَدٌ مِنْهُمْ بِالذُّلِّ أَوْ بِانْخِفَاضِ الْمَقَامِ…
Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa rendah diri atau turun martabatnya…
None of them feels humiliated or diminished in dignity…

لِأَنَّهُ فِي طَرِيقِ الْحُسَيْنِ، كُلَّمَا انْحَنَيْتَ أَكْثَرَ لِخِدْمَةِ زَائِرِيهِ، ارْتَفَعَ قَدْرُكَ وَعَلَا مَقَامُكَ.
Sebab di jalan Al-Husain, semakin engkau membungkuk untuk melayani peziarahnya, semakin tinggi pulalah derajatmu.
Because on the path of Al-Husayn, the more you bow down to serve his pilgrims, the higher your rank and honor become.

أَمَّا الزَّائِرُ… فَلَهُ قِصَّتُهُ الْخَاصَّةُ.
Adapun sang peziarah… Ia memiliki kisahnya sendiri.
As for the pilgrim… he has his own story.

يَمْشِي وَإِنِ انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ،
Ia berjalan meski kakinya membengkak,
He walks even though his feet have swollen,

وَيَشْعُرُ بِالتَّعَبِ وَالْأَلَمِ فِي جَسَدِهِ،
Tubuhnya terasa letih dan bersakit-sakit,
His body feels exhausted and painful,

وَتَحْرِقُ أَشِعَّةُ الشَّمْسِ جِلْدَهُ،
Sengatan matahari membakar kulitnya,
The scorching sun burns his skin,

وَعِنْدَمَا يَقُولُ لَهُ النَّاسُ: «ارْكَبِ الْمَرْكَبَةَ…»
Dan ketika orang-orang berkata kepadanya: “Naiklah kendaraan…”
And when people say to him, “Take a vehicle…”

يُجِيبُ: «أُرِيدُ أَنْ أَسْتَمِرَّ فِي الْمَشْيِ.»
Ia menjawab: “Aku ingin tetap berjalan.”
He replies, “I want to keep walking.”

وَكَأَنَّ سِرًّا بَيْنَ بَاطِنِ قَدَمَيْهِ وَتُرَابِ أَرْضِ كَرْبَلَاءَ لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نُدْرِكَهُ.
Seolah ada rahasia antara telapak kakinya dan debu tanah Karbala yang tak sanggup kita pahami.
As though there were a secret between the soles of his feet and the dust of the land of Karbala that we are unable to understand.

وَرُبَّمَا يَقُولُ فِي قَلْبِهِ: «يَا حُسَيْنُ…»
Mungkin dalam hatinya ia berkata: “Wahai Husain…”
Perhaps in his heart he says, “O Husayn…”

«لَمْ أَكُنْ مَعَكَ حِينَ مَشَيْتَ وَحْدَكَ نَحْوَ الشَّهَادَةِ،
“Aku tidak ada bersamamu ketika engkau berjalan sendirian menuju kesyahidan,
“I was not with you when you walked alone toward martyrdom,

فَدَعْنِي أَمْشِ إِلَيْكَ الْيَوْمَ…
Maka biarkanlah aku berjalan menuju kepadamu hari ini…
so let me walk toward you today…

دَعْ قَدَمَيَّ تَشْعُرَانِ بِقَلِيلٍ مِنَ التَّعَبِ،
Biarkan kakiku merasa sedikit lelah,
Let my feet feel a little of the exhaustion,

فَإِنَّ الطَّرِيقَ إِلَيْكَ قَدْ حَمَلَ كَثِيرًا مِنَ الْعَنَاءِ مُنْذُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ.»
Sebab jalan menuju kepadamu telah menanggung begitu banyak kelelahan sejak hari Asyura.”
for the road toward you has carried so much weariness since the day of Ashura.”

وَهَكَذَا تَمْتَلِئُ الطُّرُقَاتُ…
Demikianlah jalanan itu dipenuhi…
And so the roads become filled…

مَلَايِينُ يَمْشُونَ،
Juta-juta orang berjalan,
Millions walk,

وَمَلَايِينُ يَخْدُمُونَ…
Dan juta-juta orang melayani…
and millions serve…

وَكَأَنَّ الْحُسَيْنَ يَقْسِمُ الْمُحِبِّينَ فِي مَوْسِمِ الْأَرْبَعِينَ إِلَى قِسْمَيْنِ:
Seakan-akan Al-Husain membagi para pecinta pada momen Arba’in menjadi dua bagian:
As though Al-Husayn divides the lovers during Arba’in into two groups:

مُحِبٍّ يُقَالُ لَهُ: «تَعَالَ إِلَيَّ…»
Pecinta yang dikatakan kepadanya: “Kemarilah kepadaku…”
A lover to whom it is said: “Come to me…”

وَمُحِبٍّ يُقَالُ لَهُ: «قِفْ فِي الطَّرِيقِ وَاخْدُمْ كُلَّ مَنْ جَاءَ إِلَيَّ…»
Dan pecinta yang dikatakan kepadanya: “Berdirilah di jalan dan layanilah siapa saja yang datang kepadaku…”
And a lover to whom it is said: “Stand on the road and serve everyone who comes to me…”

فَهَنِيئًا لِقَدَمٍ تَشْعُرُ بِالْأَلَمِ مِنَ الْمَشْيِ نَحْوَ الْحُسَيْنِ…
Maka berbahagialah bagi kaki yang merasa sakit karena berjalan menuju Al-Husain…
Blessed are the feet that ache from walking toward Al-Husayn…

وَهَنِيئًا لِيَدٍ تَعِبَتْ مِنْ خِدْمَةِ زُوَّارِ الْحُسَيْنِ…
Berbahagialah bagi tangan yang lelah karena melayani peziarah Al-Husain…
Blessed are the hands that become tired from serving the pilgrims of Al-Husayn…

وَهَنِيئًا لِعَيْنٍ تَبْقَى تُرَاقِبُ الطُّرُقَاتِ، تَنْتَظِرُ غَرِيبًا لِتُكْرِمَهُ، ثُمَّ تَقُولُ لَهُ:
Dan berbahagialah bagi mata yang terus menatap jalanan menunggu orang asing untuk dimuliakan, lalu berkata kepadanya:
And blessed are the eyes that continue watching the roads, waiting for a stranger to honor, and then say to him:

«لَا تَشْكُرْنِي…
“Jangan berterima kasih padaku…
“Do not thank me…

إِذَا وَصَلْتَ إِلَى الْحُسَيْنِ، فَاكْفِ أَنْ تَقِفَ بِجَانِبِهِ لَحْظَةً،
Jika engkau telah sampai di hadapan Al-Husain, cukup berdirilah di sisinya sejenak,
When you reach Al-Husayn, just stand beside him for a moment,

وَقُلْ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ…
Dan katakan kepada-Nya: ‘Wahai Aba Abdillah…
and say to him: ‘O Aba Abdillah…

فِي الطَّرِيقِ مَرَرْتُ بِشَخْصٍ كَانَ قَلْبُهُ مُشْتَاقًا جِدًّا لِلْمَجِيءِ إِلَيْكَ وَلَكِنَّهُ لَمْ يَسْتَطِعْ…
Di perjalanan tadi aku melewati seseorang yang hatinya sangat merindukan untuk datang kepadamu namun ia tidak mampu…
On the way, I passed by someone whose heart deeply longed to come to you, but he was unable to…

فَاخْتَارَ أَنْ يَخْدُمَ كُلَّ مَنْ يَأْتِي إِلَيْكَ.»
Maka ia memilih untuk melayani siapa saja yang datang kepadamu.’”
So he chose to serve everyone who comes to you.’”

عِنْدَ ذَلِكَ…
Pada saat itulah…
At that moment…

رُبَّمَا تَكُونُ تِلْكَ أَجْمَلَ زِيَارَةٍ مِنْ شَخْصٍ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى كَرْبَلَاءَ…
Mungkin itu akan menjadi ziarah terindah dari seseorang yang tidak pergi ke Karbala…
Perhaps it will become the most beautiful pilgrimage of someone who did not go to Karbala…

بَلْ جَاءَتْ كَرْبَلَاءُ إِلَيْهِ.
Melainkan Karbala-lah yang datang menghampiri dirinya.
Rather, Karbala came to him.

Teks tersebut sangat indah sebagai renungan tentang cinta kepada Imam Husain ‘a.s., khidmah kepada para zā’ir, pengorbanan, dan kerinduan kepada Karbala. Namun perlu dibedakan antara isi yang memiliki dasar langsung dalam Al-Qur’an/hadis dan ungkapan sastra/renungan.

1. “Karbala membagi para pecinta menjadi dua”
Makna: ada orang yang pergi berziarah, dan ada yang tidak mampu pergi tetapi melayani para peziarah.
Al-Qur’an
Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. al-Mā’idah 5:2)
Maka secara maknawi, orang yang menyediakan makanan, air, tempat istirahat dan pertolongan kepada peziarah sedang melakukan ta‘āwun ‘ala al-birr—saling membantu dalam kebaikan.

Makrifat
Dalam pandangan makrifat, jalan menuju Husain bukan hanya jalan kaki menuju Karbala.
Ada yang menempuh jalan dengan kakinya, dan ada yang menempuh jalan dengan khidmahnya.
Yang pertama berkata dengan langkahnya:
“Ya Husain, aku datang kepadamu.”
Yang kedua berkata dengan perbuatannya:
“Ya Husain, aku tidak mampu datang kepadamu, maka aku akan melayani orang yang datang kepadamu.”
Keduanya dapat menjadi bentuk cinta, selama cinta itu melahirkan ketaatan, ikhlas dan pengorbanan.

2. “Yang satu berjalan, yang lain menunggu untuk melayani”
Ini sangat dekat dengan prinsip Qur’ani:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan membutuhkan.”
(QS. al-Ḥasyr 59:9)
Ayat ini berbicara tentang īthār: mendahulukan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri.

Makrifat
Peziarah yang berjalan mengatakan:
“Aku rela tubuhku lelah demi cintaku.”
Pelayan mengatakan:
“Aku rela diriku lelah demi melayani pecinta Husain.”
Di tingkat makrifat, keduanya sedang belajar keluar dari “aku”.
Bukan:
Aku ingin dilayani.
Tetapi:
Aku ingin menjadi sebab orang lain dimudahkan menuju Allah.

3. “Siapa tamu dan siapa tuan rumah?”

Ini salah satu bagian paling dalam dari teks tersebut.

Al-Qur’an memuji orang-orang yang memuliakan tamu dan orang lain.

Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim:

فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

“Maka ia pergi dengan diam-diam kepada keluarganya, lalu membawa seekor anak sapi yang gemuk.”

(QS. al-Dhāriyāt 51:26)

Kemudian beliau menyuguhkan makanan kepada tamunya.

Dalam hadis Ahlul Bayt

Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bayt, memuliakan tamu merupakan bagian penting dari akhlak orang beriman.

Tetapi dalam perspektif makrifat, ada pembalikan yang sangat indah:

Tuan rumah mengira ia sedang memberi kepada tamu.

Padahal sebenarnya:

Allah sedang memberi kesempatan kepada tuan rumah untuk memperoleh pahala melalui tamu tersebut.

Maka tamu bukan hanya orang yang menerima.

Ia juga bisa menjadi “wasilah datangnya rahmat Allah” kepada rumah tersebut.


4. “Terima kasih karena telah memilih pintu rumahku”

Ini merupakan ungkapan sastra, bukan hadis yang harus dinisbatkan secara literal kepada Imam Husain.

Tetapi maknanya sangat dekat dengan konsep ni‘mah dan taufiq.

Allah berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka berasal dari Allah.”

(QS. al-Naḥl 16:53)

Jadi dalam makrifat:

Pelayan bukanlah orang yang berjasa semata-mata kepada peziarah.

Bisa jadi justru peziarahlah yang menjadi sebab Allah memberi kesempatan kepada pelayan untuk mendapatkan pahala.

Karena itu seorang pelayan yang memiliki ma‘rifat tidak berkata:

“Aku telah memberi makanmu.”

Tetapi hatinya berkata:

“Allah telah mengirim engkau kepadaku agar aku mempunyai kesempatan berkhidmat.”


5. “Sang pelayan memasak tanpa tahu siapa yang akan memakannya”

Ini menggambarkan ikhlas.

Allah berfirman:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih dari kalian.”

(QS. al-Insān 76:9)

Ini sangat dekat dengan ruh khidmah Arba‘in.

Pelayan tidak harus mengetahui:

* siapa yang makan,
* siapa yang tidur,
* siapa yang minum,
* dari mana asalnya,
* apakah akan bertemu lagi atau tidak.

Karena tujuan utamanya bukan manusia.

Tujuannya adalah Allah.


6. “Ia menangis ketika Arba’in selesai”

Secara lahiriah, ia menangisi berakhirnya keramaian.

Tetapi secara makrifat, tangisan itu bisa dimaknai lebih dalam:

Ia menangisi hilangnya kesempatan untuk berkhidmat.

Ini merupakan tingkat cinta yang tinggi.

Biasanya manusia berkata:

“Aku ingin orang lain melayaniku.”

Sedangkan orang yang telah merasakan manisnya khidmah berkata:

“Aku ingin diberi kesempatan untuk melayani.”

Inilah perubahan dari:

mahabbah → khidmah → īthār → ikhlāṣ.


7. “Pelayan lebih membutuhkan peziarah daripada peziarah membutuhkan pelayan”

Ini adalah renungan makrifat, bukan teks hadis.

Tetapi maknanya dapat dipahami melalui konsep bahwa amal seseorang kembali kepada dirinya sendiri.

Allah berfirman:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, maka sebenarnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri.”

(QS. al-Isrā’ 17:7)

Maka:

Peziarah memperoleh manfaat dari makanan.

Tetapi:

Pelayan memperoleh kesempatan mendapatkan pahala dari pemberian makanan.

Peziarah mendapatkan tempat untuk beristirahat.

Pelayan mendapatkan kesempatan beramal.

Karena itu secara makrifat bisa dikatakan:

الزَّائِرُ يَأْخُذُ الْخِدْمَةَ، وَالْخَادِمُ يَأْخُذُ الثَّوَابَ.

“Peziarah menerima khidmah, sedangkan pelayan menerima pahala.”


8. Kakek mencuci kaki pemuda

Ini merupakan gambaran tawāḍu‘.

Allah berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.”

(QS. al-Furqān 25:63)

Dalam jalan makrifat:

semakin tinggi seseorang di hadapan Allah, semakin kecil ia melihat dirinya.

Karena itu membungkuk untuk mencuci kaki seorang peziarah tidak dianggap sebagai kehinaan.

Justru apabila dilakukan karena Allah, ia menjadi ‘izzah melalui tawāḍu‘.


9. Orang kaya membawa makanan dengan tangannya

Ini menghancurkan kesombongan sosial.

Dalam Islam, kemuliaan bukan karena:

* kaya,
* miskin,
* tua,
* muda,
* pejabat,
* rakyat.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(QS. al-Ḥujurāt 49:13)

Di jalan Husain, seorang kaya dapat berdiri seperti seorang pelayan biasa.

Mahkota kekayaan dilepas.

Mahkota pelayanan dikenakan.


10. Anak kecil memberikan segelas air

Ini mengingatkan kita kepada tragedi al-‘Aṭash—kehausan dalam tragedi Karbala.

Air dalam budaya ziarah Husaini bukan sekadar minuman.

Ia menjadi simbol:

“Aku ingin memberikan sesuatu yang dahulu sangat dibutuhkan oleh keluarga Husain.”

Tetapi harus hati-hati: kita tidak boleh mengatakan bahwa setiap pemberian air kepada peziarah secara otomatis memiliki pahala tertentu yang pasti tanpa dalil khusus.

Yang dapat dikatakan dengan kuat adalah bahwa:

memberi minum dan menolong orang lain merupakan amal kebajikan.

Dan dalam budaya Husaini, air menjadi simbol cinta, pengorbanan dan mengenang pengorbanan Karbala.


11. “Semakin membungkuk, semakin tinggi derajatmu”

Ini sangat indah jika dikaitkan dengan hadis Nabi ﷺ yang masyhur:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”

Maknanya sangat cocok dengan kalimat teks tersebut.

Jadi dalam makrifat, hukum jalannya berlawanan dengan logika dunia:

Dunia:

semakin tinggi, semakin ingin dilayani.

Makrifat:

semakin mengenal Allah, semakin ingin melayani.


12. Peziarah tetap berjalan meskipun kakinya sakit

Al-Qur’an memberikan prinsip:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

(QS. al-‘Ankabūt 29:69)

Perjalanan menuju Karbala dapat menjadi latihan mujahadah, tetapi jangan dipahami bahwa semakin menyakiti tubuh semakin tinggi nilai ibadahnya.

Yang dinilai adalah:

niat + cinta + ketaatan + kesabaran + pengorbanan.


13. “Aku tidak bersamamu ketika engkau berjalan menuju kesyahidan”

Ini merupakan ungkapan cinta dan penyesalan simbolik, bukan ucapan yang dinisbatkan sebagai hadis kepada Imam Husain.

Makrifatnya sangat dalam.

Seorang peziarah seolah berkata:

“Aku tidak berada di Karbala pada tahun 61 H.”

Maka ia mencoba mengatakan dengan amal:

“Kalau dahulu aku tidak dapat berdiri di sampingmu, hari ini aku ingin membuktikan bahwa cintaku kepadamu bukan hanya dengan kata-kata.”

Namun cinta kepada Imam Husain menurut prinsip Ahlul Bayt tidak berhenti pada perjalanan fisik.

Cinta harus melahirkan:

wilāyah → ketaatan → akhlak → pengorbanan → pelayanan.


14. Jutaan berjalan dan jutaan melayani

Inilah gambaran yang sangat indah:

زَائِرٌ وَخَادِمٌ

Peziarah dan pelayan.

Tetapi pada hakikatnya keduanya dapat menjadi:

عَاشِقٌ لِلْحُسَيْنِ

pecinta Husain.

Yang satu mengungkapkan cintanya dengan berjalan.

Yang satu mengungkapkan cintanya dengan melayani.

Yang satu berkata:

يَا حُسَيْنُ، جِئْتُكَ.

“Wahai Husain, aku datang kepadamu.”

Yang lain berkata:

يَا حُسَيْنُ، لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ آتِيَكَ، فَخَدَمْتُ مَنْ أَتَاكَ.

“Wahai Husain, aku tidak mampu datang kepadamu, maka aku melayani orang-orang yang datang kepadamu.”

Ini ungkapan makrifat, bukan hadis.


15. “Berbahagialah kaki yang sakit”

Dalam Islam, kesulitan yang dialami seseorang dalam kebaikan tidak sia-sia.

Nabi ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ… إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan atau penyakit… kecuali Allah menghapus sebagian kesalahannya dengannya.”

Riwayat ini terdapat dalam sumber hadis Sunni yang sahih, dan makna penghapusan dosa melalui penderitaan juga memiliki banyak riwayat dalam tradisi Ahlul Bayt.

Tetapi kembali: sakit bukan tujuan ibadah.

Tujuannya adalah Allah.


16. “Jangan berterima kasih kepadaku”

Ini mengingatkan kepada konsep ikhlas.

Pelayan sejati tidak menjadikan pelayanan sebagai transaksi:

“Aku memberi → engkau berterima kasih.”

Tetapi:

“Aku memberi karena Allah.”

Allah berfirman:

لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.”

(QS. al-Insān 76:9)

Namun secara adab, peziarah tetap boleh bahkan baik mengucapkan terima kasih kepada orang yang melayaninya. Yang dimaksud teks adalah jangan menjadikan terima kasih manusia sebagai tujuan amal.


17. “Katakan kepada Husain bahwa ada seseorang yang merindukannya tetapi tidak mampu datang”

Ini bagian paling puitis.

Secara makrifat, jarak fisik tidak selalu sama dengan jarak ruhani.

Seseorang bisa berada di Karbala tetapi hatinya lalai.

Seseorang bisa berada jauh dari Karbala tetapi hatinya penuh cinta, doa dan kesetiaan.

Al-Qur’an menyatakan:

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah.”

(QS. al-Nisā’ 4:69)

Maka “bersama” tidak hanya dipahami sebagai jarak tempat.

Ada pula kebersamaan hati, cinta dan jalan hidup.


18. “Karbala datang kepadanya”

Ini adalah kalimat majazi/sastra, bukan keyakinan literal bahwa Karbala berpindah secara fisik.

Makrifatnya:

Orang yang tidak mampu pergi ke Karbala tetapi:

* mencintai Imam Husain,
* mengingat pengorbanannya,
* berdoa,
* bersedekah,
* melayani peziarah,
* membantu orang yang membutuhkan,
* mempertahankan akhlak Husaini,

maka ruh dan pesan Karbala telah hadir dalam kehidupannya.

Karbala bukan hanya sebuah tempat.

Karbala juga adalah jalan memilih antara kebenaran dan kebatilan, antara pengorbanan dan kepentingan diri, antara Allah dan hawa nafsu.


Inti makrifat seluruh teks

Kalau seluruh tulisan itu diringkas dalam satu kalimat:

مَنْ أَحَبَّ الْحُسَيْنَ لَمْ يَكُنْ مُهِمًّا أَنْ يَكُونَ مَاشِيًا أَوْ خَادِمًا، بَلِ الْمُهِمُّ أَنْ يَكُونَ فِي طَرِيقِ الْحُسَيْنِ.

“Barang siapa mencintai Husain, bukanlah yang terpenting apakah ia seorang pejalan kaki atau seorang pelayan; yang terpenting adalah ia berada di jalan Husain.”

Dan “jalan Husain” secara makrifat adalah:

تَوْحِيدٌ + وِلَايَةٌ + إِخْلَاصٌ + تَوَاضُعٌ + إِيثَارٌ + خِدْمَةٌ + صَبْرٌ + تَضْحِيَةٌ

Tauhid + wilāyah + ikhlas + tawaduk + ītsār + khidmah + sabar + pengorbanan.

Jadi, orang yang berjalan menuju Karbala dan orang yang berdiri di pinggir jalan melayani peziarah dapat sama-sama menjadi “pejalan menuju Allah”, apabila amal keduanya lahir dari cinta, ikhlas, dan mengikuti nilai-nilai yang dibawa Imam Husain ‘a.s.

Semoga  Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit