Makna: Salam setelah Tasbih Zahra as / Selesai Sholat Wajib & Makrifatnya
❤️🌺🌹Makna: Salam setelah Tasbih Zahra as / Selesai Sholat Wajib & Makrifatnya🌹🌺❤️
Dalam perspektif Al-Qur’an dan ajaran Ahlul Bayt, salam bukan hanya ucapan “assalāmu ‘alaikum”, tetapi mengandung sikap keselamatan, kasih sayang, kesetiaan kepada kebenaran, dan pembebasan dari kebatilan. Karena itu salam memiliki hubungan yang sangat erat dengan amar makruf nahi mungkar, tawallī, dan tabarrī.
1. Makna dasar salam
السَّلَامُ — as-Salām
Secara makna, salam berkaitan dengan:
* keselamatan,
* kedamaian,
* ketenteraman,
* terbebas dari kezaliman,
* hubungan yang baik,
* dan keselamatan yang bersumber dari Allah.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ
Wallāhu yad‘ū ilā dāris-salām.
“Allah menyeru kepada negeri keselamatan.”(QS. Yūnus 10:25)
Jadi, salam bukan sekadar kata, tetapi sebuah arah kehidupan menuju keselamatan.
⸻
2. Salam dan Amar Makruf
Amar makruf berarti mengajak kepada kebaikan yang diakui syariat dan akal sehat. Allah berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan hendaklah ada di antara kamu suatu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”(QS. Āli ‘Imrān 3:104)
Hubungannya dengan salam:
Salam → menghadirkan keselamatan → mengajak kepada kebaikan → amar makruf.
Orang yang benar-benar mengucapkan salam seharusnya menjadi sumber keselamatan, bukan sumber kezaliman. Karena itu salam kepada seseorang secara batin dapat bermakna:”Aku tidak menghendaki keburukan atasmu; aku menghendaki keselamatan dan kebaikan bagimu.”
⸻
3. Salam dan Nahi Mungkar
Di sinilah terdapat makna yang lebih dalam. Nahi mungkar bukan berarti membenci manusia, tetapi menolak kemungkaran yang merusak keselamatan manusia.
Maka: Salam ≠ membiarkan kezaliman.
Jika seseorang membiarkan kezaliman atas nama “damai”, itu bukanlah salām yang sempurna.
Misalnya seseorang melihat orang lemah dizalimi. Jika ia berkata:
“Saya ingin damai, jadi saya tidak mau ikut campur.” maka itu bukan kedamaian yang dikehendaki syariat.
Salam yang hakiki justru mendorong:
“Aku menghendaki keselamatan bagi yang dizalimi dan menghentikan kezaliman terhadapnya.” Dengan demikian:
Amar makruf = membangun keselamatan. Nahi mungkar = menghilangkan sesuatu yang menghancurkan keselamatan.
⸻
4. Salam dan Tawallī تَوَلِّي — tawallī
Tawallī berarti mengambil sikap wilāyah, mencintai, mengikuti, dan berpihak kepada Allah, Rasulullah ﷺ, dan Ahlul Bayt as Allah berfirman:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman…”(QS. al-Mā’idah 5:55)
Dalam perspektif Ahlul Bayt, tawallī berarti: mencintai jalan kebenaran dan orang-orang yang membawa manusia kepada Allah.
Maka ketika kita mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ
atau:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ
salam tersebut bukan sekadar sapaan. Ia mengandung makna:
“Aku datang dengan keselamatan, aku mencintaimu, aku menghormati kedudukanmu, dan aku mengakui jalan kebenaran yang engkau perjuangkan.” Inilah sisi tawallī dalam salam.
⸻
5. Salam dan Tabarrī تَبَرِّي — tabarrī
Tabarrī berarti berlepas diri dari kebatilan, kezaliman, dan jalan yang bertentangan dengan Allah.
Maka tawallī dan tabarrī adalah dua sisi yang saling melengkapi:
Tawallī Tabarrī
Mencintai kebenaran Berlepas dari kebatilan
Mendekat kepada wali Allah Menjauh dari musuh kebenaran
Mengikuti Ahlul Bayt Tidak mengikuti jalan kezaliman
Cinta Penolakan terhadap kebatilan
Karena itu salam kepada Imam Husain as mempunyai dimensi yang sangat dalam. Ketika seseorang membaca: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ
ia menyatakan tawallī kepada Imam Husain as Tetapi ketika ia mengutuk atau berlepas diri dari pembunuh dan penindas beliau, terdapat dimensi tabarrī.
⸻
6. Hubungannya dengan Imam Husain as Ini menjadi sangat jelas dalam Ziyārat ‘Āsyūrā’.Di dalamnya terdapat: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ
kemudian: وَلَعَنَ اللَّهُ أُمَّةً قَتَلَتْكَ
dan juga:
إِنِّي سِلْمٌ لِمَنْ سَالَمَكُمْ وَحَرْبٌ لِمَنْ حَارَبَكُمْ
Maknanya secara ringkas:
“Aku berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian dan memerangi orang yang memerangi kalian.” Ini menggambarkan empat unsur sekaligus: Salam → Tawallī → Tabarrī → Amar Makruf/Nahi Mungkar.
⸻
7. Mengapa salam selalu penting dalam ziarah? Perhatikan banyak ziarah Ahlul Bayt dimulai dengan السَّلَامُ عَلَيْكَ. Secara makrifat, salam seakan-akan merupakan pintu masuk hubungan spiritual.
Urutannya dapat dipahami:
1. Salam
↓
Aku datang tanpa membawa kezaliman.
2. Tawallī
↓
Aku menyatakan kecintaan dan kesetiaan kepada wali Allah.
3. Tabarrī
↓
Aku berlepas diri dari jalan kezaliman.
4. Amar makruf
↓
Aku mengikuti jalan kebaikan.
5. Nahi mungkar
↓
Aku menolak jalan kebatilan.
6. Pengorbanan
↓
Aku siap membayar harga untuk mempertahankan kebenaran.
Inilah salah satu dimensi makrifat salam kepada Imam Husain as.
⸻
8. Hubungan empat konsep tersebut
Secara sederhana:
SALAM = keadaan yang ingin diwujudkan.
AMAR MAKRUF = membangun jalan menuju keselamatan.
NAHI MUNGKAR = menghilangkan penghalang keselamatan.
TAWALLĪ = berpihak dan mencintai sumber kebenaran.
TABARRĪ = berlepas diri dari sumber kebatilan.
Sehingga dapat dirumuskan:
Salam → cinta kepada kebenaran → tawallī → menolak kebatilan → tabarrī → amar makruf & nahi mungkar → terciptanya keselamatan.
9. Makna paling dalam
Dalam perspektif makrifat, ketika kita mengucapkan as, jangan hanya memahami:”Semoga keselamatan atasmu.” Tetapi rasakan juga:
“Aku menyatakan bahwa aku memilih jalan keselamatan yang engkau bawa. Aku mencintai kebenaran yang engkau wakili, berlepas diri dari kezaliman yang memusuhinya, mengajak kepada kebaikan, dan menolak kebatilan.”
Maka salam bukan sikap pasif terhadap kezaliman. Salam yang sempurna adalah kedamaian yang lahir setelah kebenaran ditegakkan dan kezaliman ditolak. Dan karena itu, dalam jalan Imam Husain عليه السلام, “السلام عليك” dapat menjadi pintu menuju tawallī, tabarrī, amar makruf, dan nahi mungkar sekaligus.
Jika salam ditujukan kepada semua makhluk Allah—para Nabi dan Rasul, para malaikat, seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk—maka maknanya menjadi lebih luas daripada sekadar ucapan penghormatan. Salam menjadi doa keselamatan, pengakuan terhadap kemuliaan makhluk Allah, dan pernyataan bahwa kita tidak menghendaki kezaliman.
1. Salam kepada Allah
Allah adalah As-Salām: السَّلَامُ — As-Salām;
Yang Mahasejahtera dan sumber keselamatan.”
Kita tidak bermakna “memberi keselamatan kepada Allah”, karena Allah Mahakaya dari segala makhluk. Salam kepada Allah bermakna mengakui bahwa keselamatan, kesempurnaan, dan keamanan hakiki berasal dari-Nya.
⸻
2. Salam kepada para Nabi dan Rasul;
Contohnya:
السَّلَامُ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ
As-salāmu ‘alā Nūḥin fil-‘ālamīn
“Keselamatan atas Nuh di seluruh alam.” (QS. aṣ-Ṣāffāt 37:79) Dan:
سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Salāmun ‘alā Ibrāhīm”Salam sejahtera atas Ibrahim.” QS. aṣ-Ṣāffāt 37:109. Makrifatnya: Aku menghormati para pembawa wahyu, mencintai risalah mereka, dan memilih jalan tauhid yang mereka bawa. Jadi salam kepada Nabi as bukan hanya penghormatan kepada pribadi Nabi, tetapi juga salam kepada risalah kebenaran.
⸻
3. Salam kepada Nabi Muhammad
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
As-salāmu ‘alaika yā Rasūlallāh
“Salam keselamatan atasmu, wahai Rasulullah.” Allah memerintahkan:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman, berselawatlah kepada beliau dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”(QS. al-Aḥzāb 33:56)
Makrifatnya: salam kepada Rasulullah adalah tawallī kepada risalah Nabi dan kecintaan kepada jalan yang beliau bawa.
⸻
4. Salam kepada Ahlul Bayt Misalnya: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ بَيْتِ النُّبُوَّةِ
As-salāmu ‘alaikum yā Ahlal-Baitin-Nubuwwah”Salam keselamatan atas kalian, wahai Ahlul Bait kenabian.”
Makrifatnya: Salam adalah pernyataan cinta, penghormatan, dan kesetiaan kepada jalan Ahlul Bayt. Di sini terdapat dimensi tawallī.
⸻
5. Salam kepada para malaikat
Misalnya:السَّلَامُ عَلَىٰ مَلَائِكَةِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ
As-salāmu ‘alā malā’ikatillāhi ajma‘īn
“Salam keselamatan atas seluruh malaikat Allah.” Makrifatnya: Kita mengakui para malaikat sebagai hamba Allah yang melaksanakan perintah-Nya dan tidak mendahului Allah dalam menjalankan tugas-Nya.
Maka salam kepada malaikat adalah penghormatan kepada makhluk-makhluk Allah yang taat, bukan menyembah mereka.
⸻
6. Salam kepada seluruh manusia
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn; lSalam keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.”
Ini sangat penting karena salam tidak berhenti pada hubungan dengan orang yang kita sukai. Makrifatnya: Aku menghendaki keselamatan bagi diriku dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh. Kemudian salam berkembang menjadi akhlak sosial: tidak menyakiti, tidak menzalimi, tidak merampas hak, dan membantu manusia menuju kebaikan.
⸻
7. Salam kepada orang yang berbeda dengan kita; Ini perlu dibedakan. Salam berarti mendoakan keselamatan, tetapi tidak berarti kita harus membenarkan semua keyakinan atau semua perbuatan seseorang. Kita dapat menginginkan keselamatan bagi seseorang sambil tetap menolak kezaliman dan kemungkarannya. Di sinilah hubungan salam dengan: Amar makruf → mengajak kepada kebaikan.
Nahi mungkar → mencegah keburukan. Tawallī → mencintai dan mengikuti kebenaran. Tabarrī → berlepas diri dari kebatilan dan kezaliman. Jadi: Salam kepada manusia tidak berarti berdamai dengan kezaliman.
⸻
8. Salam kepada seluruh alam
Allah berfirman:وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. al-A‘rāf 7:156) Maka secara makrifat, salam dapat diperluas menjadi doa:”Ya Allah, limpahkan keselamatan, rahmat, dan kebaikan-Mu kepada seluruh makhluk-Mu yang Engkau kehendaki.” Ini melahirkan sikap rahmah terhadap manusia, hewan, lingkungan, dan seluruh ciptaan Allah.
⸻
9. Urutan makrifat salam
Dapat diringkas seperti ini:
Allah
↓
Para Nabi dan Rasul
↓
Nabi Muhammad ﷺ
↓
Ahlul Bayt عليهم السلام
↓
Para malaikat
↓
Para hamba Allah yang saleh
↓
Seluruh manusia
↓
Seluruh makhluk Allah
Semakin luas salam kita, semakin luas pula rahmah dalam diri kita.
10. Makna salam yang paling sempurna;
Ketika kita mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
jangan hanya memahami:
“Semoga kalian selamat.”
Tetapi secara batin dapat direnungkan:”Aku tidak menghendaki keburukan bagi kalian. Aku menghendaki keselamatan, rahmat dan kebaikan bagi kalian. Aku tidak akan menzalimi kalian. Aku mencintai kebenaran, mengajak kepada kebaikan, menolak kezaliman, dan menyerahkan keselamatan hakiki kepada Allah, As-Salām.”
Dengan demikian salam menjadi akhlak, bukan hanya ucapan.
Salam kepada Nabi → cinta kepada risalah.
Salam kepada Ahlul Bayt → tawallī.
Salam kepada para malaikat → penghormatan kepada ketaatan.
Salam kepada manusia → rahmah dan tidak menzalimi.
Salam kepada seluruh makhluk → kesadaran bahwa semuanya berada dalam kerajaan Allah.
Menolak kezaliman → nahi mungkar dan tabarrī.
Mengajak kepada kebaikan → amar makruf. Dan puncaknya:
السَّلَامُ مِنَ اللَّهِ، وَإِلَى اللَّهِ، وَبِاللَّهِ
As-salāmu minallāh, wa ilallāh, wa billāh. “Keselamatan berasal dari Allah, menuju Allah, dan dengan pertolongan Allah.” Ini adalah makna makrifat, bukan berarti semua ungkapan terakhir itu merupakan hadis atau teks ziarah tertentu.
Berikut 10 manfaat salam jika dipahami berdasarkan Al-Qur’an, sunnah, dan akhlak Ahlul Bayt:
1, Mendatangkan rahmat Allah
Salam adalah doa keselamatan dan rahmat bagi orang lain.
Allah berfirman: وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. an-Nisā’ 4:86)
2, Menumbuhkan kasih sayang Salam membuka hati dan menghilangkan sikap keras terhadap sesama.
3, Mempererat persaudaraan
Salam membuat hubungan sesama mukmin menjadi lebih dekat dan hangat.
4, Menghilangkan permusuhan
Ketika seseorang membiasakan salam, ia melatih dirinya untuk tidak memulai kebencian dan permusuhan.
5, Menjadi doa keselamatan
As-salāmu ‘alaikum berarti mendoakan agar orang yang ditemui memperoleh keselamatan.
6, Melatih tawāḍu‘ (kerendahan hati); Mengucapkan salam kepada orang lain berarti tidak merasa lebih tinggi daripada mereka.
7, Menghidupkan sunnah Nabi ﷺ
Salam merupakan bagian dari akhlak dan ajaran Rasulullah ﷺ.
8, Menjadi pintu amar makruf
Orang yang membawa salam membawa suasana kebaikan. Dari hubungan yang baik, nasihat dan ajakan kepada kebaikan lebih mudah diterima.
9, Mendukung tawallī dan tabarrī
Salam kepada Nabi dan Ahlul Bayt as merupakan ungkapan cinta dan loyalitas (tawallī), sedangkan tidak berdamai dengan kezaliman merupakan bagian dari tabarrī. Salam tidak berarti membenarkan kemungkaran.
10, Mendidik hati menjadi sumber keselamatan
Inilah manfaat terdalam: seseorang tidak hanya mengucapkan salam, tetapi berusaha menjadi manusia yang memberikan rasa aman—tidak menzalimi dengan tangan, lisan, maupun perbuatannya.
Makna makrifatnya
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ; As-salāmu ‘alaikum
bukan hanya:”Semoga keselamatan atas kalian.” Tetapi dapat direnungkan sebagai:”Aku menghendaki keselamatan bagi kalian. Aku tidak ingin menzalimi kalian. Aku mencintai kebaikan untuk kalian, dan aku memohon kepada Allah agar keselamatan-Nya meliputi kita.” Karena itu, salam yang sempurna melahirkan rahmah → persaudaraan → amar makruf → nahi mungkar → tawallī kepada kebenaran → tabarrī dari kezaliman.
Hakikat Makna Salam
Salam (As-Salamu 'Alaikum) bukan sekadar ucapan tegur sapa, melainkan doa, deklarasi perdamaian, dan komitmen untuk tidak saling merugikan. Secara kebahasaan, Salam berakar dari kata yang berarti selamat, damai, dan terbebas dari cela atau bahaya. Dengan mengucapkan salam, seorang Muslim memberikan jaminan keselamatan harta, jiwa, dan kehormatan bagi sesamanya.
Hubungan Salam dengan Prinsip-Prinsip Islam
* Amar Makruf Nahi Mungkar
* Penyebaran Kebaikan (Amar Makruf): Menerbarkan salam merupakan salah satu amalan kebajikan paling mendasar untuk mempererat tali persaudaraan.
* Pencegahan Kejahatan (Nahi Mungkar): Salam berfungsi memadamkan rasa dengki, permusuhan, dan kebencian antarindividu. Seseorang yang mengucapkan salam secara tulus berkomitmen untuk tidak berbuat zalim kepada orang lain.
* Tawalli (Berloyalitas pada Kebaikan/Kebenaran)
* Salam adalah manifestasi rasa cinta (mahabbah) dan dukungan kepada sesama mukmin.
* Menjawab dan menebarkan salam memperkuat ikatan persaudaraan spiritual (ukhuwah islamiyah) sebagai bagian dari loyalitas kepada Allah dan sesama umat beriman.
* Tabarri (Berlepas Diri dari Kejelikan/Permusuhan)
* Mengucapkan salam berarti berlepas diri dari sifat sombong, permusuhan, dan perpecahan.
* Salam menjadi batas tegas yang memisahkan seorang Muslim dari perilaku zalim, karena ucapan damai tidak selaras dengan niat buruk atau tindakan merusak.
Tuntunan Ajaran Ahlul Bayt;
Salam dibaca di setiap selesai Sholat Wajib sebagai penutup Dzikir Sholat:
Ibn Baabwayh (i.e. Shaykh al-Saduq) holds that one should say the following litany immediately after uttering Tasbih al-Zahra’:
اَللّٰهُمَّ اَنْتَ السَّلَامُ , وَ مِنْكَ السَّلَامُ, وَ لَكَ السَّلَامُ, وَ اِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ
اَلسَّلَامُ عَلَى الْاَئِمَّةِ الْهَادِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ
اَلسَّلَامُ عَلٰى جَمِيْعِ اَنْبِيَاۤءِ اللهِ وَ رُسُلِهِ وَ مَلَاۤئِكَتِهِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَ عَلٰى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
اَلسَّلَامُ عَلٰى عَلِىٍّ اَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ،
اَلسَّلَامُ عَلَى الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ
سَيِّدَىْ شَبَابِ اَهْلِ الْجَنَّةِ اَجْمَعِيْنَ
اَلسَّلَامُ عَلٰى عَلِىِّ بْنِ الْحُسَيْنِ زَيْنِ الْعَابِدِيْنَ
اَلسَّلَامُ عَلٰى مُحَمَّدِ بْنِ عَلِىٍّ بَاقِرِ عِلْمِ النَّبِيِّيْنَ
اَلسَّلَامُ عَلٰى جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ ۟اِلصَّادِقِ
اَلسَّلَامُ عَلٰى مُوْسَى بْنِ جَعْفَرٍ ۟اِلْكَاظِمِ
اَلسَّلامُ عَلٰى عَلِىِّ بْنِ مُوْسَى الرِّضَا
اَلسَّلَامُ عَلٰى مُحَمَّدِ بْنِ عَلِىٍّ ۟اِلْجَوَادِ
اَلسَّلَامُ عَلٰى عَلِىٍّ بْنِ مُحَمَّدٍ ۟اِلْهَادِىْ
اَلسَّلَامُ عَلَى الْحَسَنِ بْنِ عَلِي ۟اِلزَّكِىِّ الْعَسْكَرِىِّ
اَلسَّلَامُ عَلَى الْحُجَّةِ بْنِ الْحَسَنِ الْقَاۤئِمِ الْمَهْدِىِّ
صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ۔
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْاِسْلَامِ دِيْنًا
وَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَاٰلِهِ نَبِيًّا
وَ بِعَلِىٍّ اِمَامًا وَ بِالْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ
وَ عَلِىٍّ وَ مُحَمَّدٍ وَ جَعْفَرٍ وَ مُوْسٰى
وَ عَلِىٍّ وَ مُحَمَّدٍ وَ عَلِىٍّ وَ الْحَسَنِ
وَ الْخَلَفِ الصَّالِحِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
اَئِمَّةً وَ سَادَةً وَ قَادَةً
بِهِمْ اَتَوَلّىٰ وَ مِنْ اَعْدَاۤئِهِمْ اَتَبَرَّءُ۔
اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ
وَ الْمُعَافَاةَ فِى الدُّنْيَا وَ الْاٰخِرَةِ ۔
I. Wirid setelah Tasbih az-Zahra’ as
1. Allah adalah sumber keselamatan
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ
Allāhumma antas-salām. Ya Allah, Engkaulah keselamatan dan sumber keselamatan. Makrifat: Seorang hamba menyadari bahwa keselamatan yang hakiki bukan berasal dari kekuatan dirinya, manusia, ataupun dunia, tetapi dari Allah. As-Salām juga bermakna Yang Mahasuci dari segala kekurangan dan Yang memberikan keamanan serta keselamatan.
⸻
2. Keselamatan berasal dari Allah
وَمِنْكَ السَّلَامُ
Wa minkas-salām. Dan dari-Mulah keselamatan. Makrifat: Segala ketenteraman hati, keselamatan agama, kesehatan, perlindungan dan kebaikan pada hakikatnya adalah karunia Allah. Sebab itu hati tidak berhenti pada sebab, tetapi kembali kepada Musabbib al-Asbāb, yaitu Allah.
⸻
3. Segala keselamatan kembali kepada-Nya: وَلَكَ السَّلَامُ
Wa lakas-salām. Dan bagi-Mulah keselamatan. Makrifat: Allah adalah tujuan penghambaan. Keselamatan yang dicari seorang salik bukan sekadar bebas dari kesulitan dunia, tetapi sampai kepada keadaan ketika hati selamat dari syirik, kesombongan, iri, cinta dunia yang berlebihan dan kelalaian.
⸻
4. Kepada Allah segala keselamatan kembali: وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلَامُ
Wa ilaika yaʿūdus-salām. Dan kepada-Mulah keselamatan itu kembali. Makrifat: Awal dan akhir segala kebaikan berada dalam kehendak Allah. Hamba memulai dengan Allah, menjalani hidup dengan pertolongan Allah, dan akhirnya kembali kepada Allah.
⸻
5. Tasbih kepada Allah
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
Subḥāna rabbika rabbil-ʿizzati ʿammā yaṣifūn. Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang mempunyai kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan.
Makrifat: Ini mengajarkan tanzīh: Allah tidak dapat disamakan dengan makhluk. Apa pun gambaran manusia tentang Dzat Allah, Allah melampaui semua gambaran tersebut.
⸻
6. Salam kepada para rasul
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
Wa salāmun ʿalal-mursalīn. Dan keselamatan tercurah kepada para rasul. Makrifat: Setelah menyucikan Allah, hamba mengingat para pembawa petunjuk-Nya. Ini menunjukkan bahwa jalan menuju Allah ditempuh melalui wahyu dan para utusan-Nya.
⸻
7. Hamd kepada Allah
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-ʿālamīn.
Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Makrifat: Tasbih membersihkan pandangan tentang Allah dari kekeliruan, sedangkan hamd mengakui seluruh kesempurnaan dan nikmat berasal dari-Nya.
⸻
II. Salam kepada Rasulullah ﷺ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
As-salāmu ʿalaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Salam keselamatan atasmu wahai Nabi, serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Makrifat: Salam kepada Nabi ﷺ merupakan pengakuan terhadap kedudukan beliau sebagai pembawa risalah dan petunjuk Allah. Dalam perspektif Ahlulbait, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak dipisahkan dari kecintaan kepada Ahlulbait beliau.
⸻
III. Salam kepada para Imam
اَلسَّلَامُ عَلَى الْأَئِمَّةِ الْهَادِينَ الْمَهْدِيِّينَ
As-salāmu ʿalal-a’immatil-hādīnal-mahdiyyīn. Salam keselamatan atas para Imam yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk. Makrifat:
Dalam pemahaman Imāmiyyah, Imam adalah pembimbing manusia menuju jalan Allah. Hādī berarti pemberi petunjuk, sedangkan mahdī berarti yang memperoleh petunjuk.
⸻
8. Salam kepada seluruh nabi, rasul dan malaikat
اَلسَّلَامُ عَلَى جَمِيعِ أَنْبِيَاءِ اللهِ وَرُسُلِهِ وَمَلَائِكَتِهِ
As-salāmu ʿalā jamīʿi anbiyā’illāhi wa rusulihī wa malā’ikatih.
Salam keselamatan atas seluruh nabi Allah, para rasul-Nya dan para malaikat-Nya. Makrifat: Seorang mukmin menghormati seluruh mata rantai penyampaian petunjuk Ilahi. Semua nabi mengajak kepada tauhid dan penghambaan kepada Allah.
⸻
9. Salam kepada diri dan orang saleh
اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ
As-salāmu ʿalainā wa ʿalā ʿibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Salam keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.
Makrifat: Kata عَلَيْنَا — ʿalainā menunjukkan bahwa setelah mendoakan para pembawa petunjuk, seorang hamba juga memohon agar dirinya termasuk dalam golongan orang-orang saleh.
⸻
IV. Salam kepada dua belas Imam
1. Imam Ali عليه السلام
اَلسَّلَامُ عَلَى عَلِيٍّ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
As-salāmu ʿalā ʿAliyyin Amīril-Mu’minīn. Salam keselamatan atas Ali, Amirul Mukminin. Makrifat:
Dalam tradisi Imamiyah, Imam Ali as dipandang sebagai penerus dan Imam pertama setelah Rasulullah ﷺ. Makna Amīr al-Mu’minīn menegaskan kedudukan kepemimpinan spiritual beliau.
⸻
2. Imam Hasan dan Imam Husain as
اَلسَّلَامُ عَلَى الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ سَيِّدَيْ شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَجْمَعِينَ
As-salāmu ʿalal-Ḥasani wal-Ḥusaini sayyiday syabābi ahlil-jannati ajmaʿīn. Salam keselamatan atas Hasan dan Husain, dua pemimpin para pemuda penghuni surga.
Makrifat: Imam Hasan as dan Imam Husain as merupakan cucu Rasulullah ﷺ melalui Sayyidah Fatimah az-Zahra’ as dan Imam Ali as. Penyebutan keduanya setelah Imam Ali juga memperlihatkan kesinambungan kepemimpinan Ahlulbait.
⸻
3. Imam Ali Zainal Abidin as
اَلسَّلَامُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ زَيْنِ الْعَابِدِينَ
As-salāmu ʿalā ʿAliyyibni al-Ḥusaini Zainil-ʿĀbidīn.
Salam keselamatan atas Ali bin Husain, perhiasan para ahli ibadah.
Makrifat: Gelar Zain al-ʿĀbidīn menunjukkan kedalaman ibadah beliau. Setelah tragedi Karbala, jalan perjuangan beliau banyak diwujudkan melalui doa, ibadah dan pendidikan spiritual.
⸻
4. Imam Muhammad al-Baqir as
اَلسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ بَاقِرِ عِلْمِ النَّبِيِّينَ
As-salāmu ʿalā Muḥammadi bni ʿAliyyin Bāqiri ʿilmin-Nabiyyīn.
Salam keselamatan atas Muhammad bin Ali, pembelah dan pengungkap ilmu para nabi. Makrifat: Al-Bāqir berkaitan dengan baqara, yaitu membelah atau menggali. Maknanya menggambarkan keluasan Imam Muhammad al-Baqir dalam mengungkap dan menjelaskan ilmu agama.
⸻
5. Imam Ja’far ash-Shadiq as
اَلسَّلَامُ عَلَى جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الصَّادِقِ
As-salāmu ʿalā Jaʿfari bni Muḥammadin aṣ-Ṣādiq.
Salam keselamatan atas Ja’far bin Muhammad, ash-Shadiq. Makrifat:
Ash-Shādiq berarti orang yang sangat benar dan jujur. Mazhab fikih Ja’fari dinisbatkan kepada beliau karena keluasan pengajaran ilmu yang berkembang melalui majelis beliau.
⸻
6. Imam Musa al-Kazim as
اَلسَّلَامُ عَلَى مُوسَى بْنِ جَعْفَرٍ الْكَاظِمِ
As-salāmu ʿalā Mūsā bni Jaʿfar al-Kāẓim. Salam keselamatan atas Musa bin Ja’far, al-Kazim. Makrifat:
Al-Kāẓim berarti orang yang mampu menahan amarah. Ini menjadi pelajaran bahwa kekuatan spiritual bukan hanya kemampuan membalas, tetapi kemampuan mengendalikan diri karena Allah.
⸻
7. Imam Ali ar-Ridha as
اَلسَّلَامُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ مُوسَى الرِّضَا
As-salāmu ʿalā ʿAliyyi bni Mūsar-Riḍā. Salam keselamatan atas Ali bin Musa, ar-Ridha. Makrifat: Ar-Riḍā berarti yang diridhai atau yang menerima keridaan Allah. Dalam perjalanan spiritual, ridha adalah keadaan menerima ketetapan Allah tanpa kehilangan ikhtiar dalam ketaatan.
⸻
8. Imam Muhammad al-Jawad as
اَلسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ الْجَوَادِ
As-salāmu ʿalā Muḥammadi bni ʿAliyyin al-Jawād. Salam keselamatan atas Muhammad bin Ali, al-Jawad. Makrifat: Al-Jawād berarti sangat dermawan. Kemuliaan spiritual tercermin dalam memberi, mengutamakan kebutuhan orang lain dan tidak menggantungkan pemberian kepada pujian manusia.
⸻
9. Imam Ali al-Hadi as
اَلسَّلَامُ عَلَى عَلِيٍّ بْنِ مُحَمَّدٍ الْهَادِي
As-salāmu ʿalā ʿAliyyi bni Muḥammadin al-Hādī. Salam keselamatan atas Ali bin Muhammad, al-Hadi. Makrifat: Al-Hādī berarti pemberi petunjuk. Hakikat hidayah ialah membawa manusia dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu, iman dan penghambaan kepada Allah.
⸻
10. Imam Hasan al-Askari as
اَلسَّلَامُ عَلَى الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ الزَّكِيِّ الْعَسْكَرِيِّ
As-salāmu ʿalal-Ḥasani bni ʿAliyyin az-Zakiyyil-ʿAskarī. Salam keselamatan atas Hasan bin Ali, az-Zaki al-Askari. Makrifat: Az-Zakī berarti yang suci. Kesucian yang dimaksud dalam makna spiritual adalah kesucian hati, akhlak dan ketaatan kepada Allah.
⸻
11. Imam al-Mahdi as
اَلسَّلَامُ عَلَى الْحُجَّةِ بْنِ الْحَسَنِ الْقَائِمِ الْمَهْدِيِّ
As-salāmu ʿalal-Ḥujjati bnil-Ḥasanil-Qā’imil-Mahdī. Salam keselamatan atas al-Hujjah bin al-Hasan, al-Qa’im, al-Mahdi. Makrifat:
Dalam keyakinan Imamiyah, beliau adalah Imam ke-12. Penyebutan al-Hujjah, al-Qa’im, dan al-Mahdi mengandung makna bahwa kebenaran Ilahi memiliki hujjah dan bahwa keadilan Allah akan memperoleh kemenangan pada waktunya.
⸻
Penutup
صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ
Ṣalawātullāhi ʿalaihim ajmaʿīn.
Semoga seluruh shalawat dan rahmat Allah tercurah kepada mereka semua.
Makrifat: Wirid ini berakhir dengan shalawat kepada Ahlulbait. Secara spiritual, urutannya sangat indah:
Allah → para nabi → Rasulullah ﷺ → Ahlulbait → para Imam → diri sendiri dan hamba-hamba saleh.
Setelah itu, sebagaimana keterangan yang Anda kutip, seseorang boleh memohon hajat pribadinya kepada Allah. Jadi tujuan akhirnya tetap Allah; tawassul dan kecintaan kepada Rasulullah serta Ahlulbait tidak mengubah bahwa Allah-lah tempat meminta dan sumber segala pemberian.
⸻
V. Wirid setelah salat wajib
1. Ridha kepada Allah sebagai Rabb
رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا
Raḍītu billāhi Rabban.
Aku rela Allah sebagai Tuhanku.
Makrifat: Ini adalah ikrar penyerahan diri. Ridha bukan berarti pasif terhadap kehidupan, tetapi menerima Allah sebagai Rabb sambil tetap berusaha menjalankan kewajiban.
⸻
2. Islam sebagai agama
وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
Wa bil-Islāmi dīnan.
Dan Islam sebagai agamaku.
Makrifat: Hamba menyatakan bahwa jalan hidupnya tunduk kepada Allah melalui agama yang Dia tetapkan.
⸻
3. Muhammad ﷺ sebagai nabi
وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ نَبِيًّا
Wa bi-Muḥammadin ṣallallāhu ʿalaihi wa ālihī nabiyyan.
Dan Muhammad ﷺ sebagai nabiku.
Makrifat: Iman kepada Allah diwujudkan melalui mengikuti Rasul-Nya. Cinta kepada Nabi harus menghasilkan ittiba’ terhadap akhlak, sunnah dan risalah beliau.
⸻
4. Ali sebagai Imam
وَبِعَلِيٍّ إِمَامًا
Wa bi-ʿAliyyin imāman.
Dan Ali sebagai imamku. Makrifat:
Dalam tradisi Imāmiyyah, ini adalah pengakuan terhadap kepemimpinan Imam Ali as setelah Rasulullah ﷺ.
⸻
5. Dua belas Imam
وَبِالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ
وَعَلِيٍّ وَمُحَمَّدٍ
وَجَعْفَرٍ وَمُوسَى
وَعَلِيٍّ وَمُحَمَّدٍ
وَعَلِيٍّ وَالْحَسَنِ
وَالْخَلَفِ الصَّالِحِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
Wa bil-Ḥasani wal-Ḥusaini,
wa ʿAliyyin wa Muḥammadin,
wa Jaʿfarin wa Mūsā,
wa ʿAliyyin wa Muḥammadin,
wa ʿAliyyin wal-Ḥasani,
wal-Khalafis-Ṣāliḥi ʿalaihimus-salām.
Dan Hasan dan Husain,
dan Ali dan Muhammad,
dan Ja’far dan Musa,
dan Ali dan Muhammad,
dan Ali dan Hasan,
dan al-Khalaf ash-Shalih—semoga salam Allah atas mereka. Makrifat:
Ini merupakan bentuk ikrar wilayah kepada Ahlulbait dan pengakuan terhadap rangkaian Imam setelah Rasulullah ﷺ. Nama-nama tersebut menunjuk kepada Imam ke-2 sampai Imam ke-12.
⸻
6. Para Imam sebagai pemimpin
أَئِمَّةً وَسَادَةً وَقَادَةً
A’immatan wa sādatan wa qādatan.
Sebagai para Imam, pemimpin dan pembimbing. Makrifat:
Tiga kata ini dapat direnungkan:
* أَئِمَّةً — A’immatan: para Imam/panutan.
* سَادَةً — Sādatan: para pemimpin yang mulia.
* قَادَةً — Qādatan: para pembimbing yang mengarahkan manusia.
Makrifatnya adalah bahwa ilmu tanpa pembimbing dapat membuat seseorang tersesat oleh hawa nafsunya sendiri.
⸻
7. Wilayah dan bara’ah
بِهِمْ أَتَوَلَّى وَمِنْ أَعْدَائِهِمْ أَتَبَرَّأُ
Bihim atawallā wa min aʿdā’ihim atabarra’. Dengan mereka aku berwilayah dan kepada mereka aku berpegang; dan dari musuh-musuh mereka aku berlepas diri. Makrifat:
Ini adalah konsep tawallī dan tabarrī. Tawallī berarti mencintai, mengikuti dan mengambil petunjuk dari Ahlulbait; tabarrī berarti berlepas diri dari jalan permusuhan terhadap kebenaran. Namun secara akhlak, tabarrī bukan alasan untuk berbuat zalim kepada orang lain. Seorang pengikut Ahlulbait tetap diperintahkan menjaga keadilan dan akhlak.
⸻
VI. Doa tiga kali
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Allāhumma innī as’alukal-ʿafwa wal-ʿāfiyata wal-muʿāfāta fid-dunyā wal-ākhirah. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan, kesehatan/keselamatan, dan perlindungan dari segala keburukan di dunia dan akhirat. Makrifat:
1. الْعَفْوُ — al-ʿAfw: memohon agar Allah menghapus dosa dan kesalahan.
2. الْعَافِيَةُ — al-ʿĀfiyah: memohon keselamatan dari berbagai bala dan keburukan.
3. الْمُعَافَاةُ — al-Muʿāfāh: memohon agar Allah memberi perlindungan dan membebaskan hamba dari berbagai kesulitan.
4. الدُّنْيَا — ad-Dunyā: keselamatan dalam kehidupan sekarang.
5. الْآخِرَةُ — al-Ākhirah: keselamatan ketika kembali menghadap Allah.
Mengapa dibaca tiga kali?
Pengulangan doa menjadi sarana menghadirkan hati dan meneguhkan permohonan. Yang paling penting bukan sekadar jumlah pengulangan, tetapi hudhur al-qalb—kesadaran hati bahwa kita benar-benar sedang meminta kepada Allah.
Inti makrifat seluruh rangkaian
Rangkaian ini dapat dipahami sebagai perjalanan:
Tasbih az-Zahra’ → mengenal Allah → salam kepada Rasulullah ﷺ → salam kepada Ahlulbait → ikrar wilayah → memohon ampunan dan afiyah.
Dengan demikian, setelah salat seorang hamba tidak hanya meminta kebutuhan dunia, tetapi terlebih dahulu membersihkan tauhid, memperbarui wilayah, lalu menyerahkan seluruh hajat kepada Allah.
Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment