Syarah Ziarah Arbain (2)

🌹❤️🌺Syarah Ziarah Arbain (2)🌺❤️🌹

Lanjutan …..kalimat 9-17.
Syarah Ziarah Arba’in per kalimat:

Kalimat Kesembilan
9, فَأَعْذَرَ فِي الدُّعَاءِ، وَمَنَحَ النُّصْحَ، وَبَذَلَ مُهْجَتَهُ فِيكَ لِيَسْتَنْقِذَ عِبَادَكَ مِنَ الْجَهَالَةِ وَحَيْرَةِ الضَّلَالَةِ
Fa-a‘dzara fid-du‘ā’, wa manaḥan-nuṣḥa, wa badzala muhjatahu fīka liyastanqidha ‘ibādaka minal-jahālati wa ḥairatidh-dhalālah.
“Maka ia telah menunaikan hujah dan menyampaikan seruan dengan sempurna, memberikan nasihat dengan tulus, serta mengorbankan darah jantungnya di jalan-Mu agar dapat menyelamatkan hamba-hamba-Mu dari kebodohan dan kebingungan dalam kesesatan.”

Makna Bahasa: فَأَعْذَرَ فِي الدُّعَاءِ
Kata أَعْذَرَ berasal dari akar kata عذر.
Maknanya bukan sekadar “memberi alasan”, tetapi:
* menyampaikan hujah secara sempurna;
* tidak menyisakan alasan bagi orang yang menolak kebenaran;
* menunaikan seluruh kewajiban dakwah.
Artinya, Imam Husain a.s. telah menjelaskan kebenaran dengan sangat terang sehingga tidak ada lagi alasan bagi musuh-musuhnya untuk mengaku tidak mengetahui.
Beliau berkhotbah di Madinah.
Beliau berkhotbah di Makkah.
Beliau berkhotbah di Dzu Husam.
Beliau berkhotbah di Karbala.
Bahkan pada pagi Asyura beliau masih menyeru musuh agar kembali kepada Allah. وَمَنَحَ النُّصْحَ Manaḥa berarti memberi dengan penuh kemurahan. Nuṣḥ berarti:
* nasihat yang tulus,
* ketulusan hati,
* kejujuran tanpa kepentingan.
Imam Husain a.s. tidak pernah mengajak manusia demi dirinya.
Beliau mengajak manusia demi keselamatan mereka. وَبَذَلَ مُهْجَتَهُ فِيكَ
Muhjah (مُهْجَة) secara harfiah berarti:
* darah kehidupan,
* darah jantung,
* inti kehidupan seseorang.
Ungkapan ini jauh lebih dalam daripada sekadar mengatakan:
“Beliau menyerahkan nyawanya.”
Artinya: Beliau mempersembahkan seluruh keberadaannya kepada Allah.
Tidak ada sedikit pun yang beliau sisakan untuk kepentingan dirinya.
لِيَسْتَنْقِذَ عِبَادَكَ
Liyastanqidha berarti:
* menyelamatkan,
* membebaskan,
* menarik seseorang dari jurang kehancuran.
Imam Husain a.s. datang bukan untuk menghukum manusia. Beliau datang untuk menyelamatkan mereka.
مِنَ الْجَهَالَةِ
Yang dimaksud bukan sekadar tidak memiliki ilmu. Dalam Al-Qur’an dan hadis, jahalah juga berarti:
* mengikuti hawa nafsu,
* menolak kebenaran,
* hidup tanpa petunjuk Allah.
Karena itu seseorang dapat berpendidikan tinggi tetapi tetap berada dalam “jahalah” apabila menolak petunjuk Ilahi.
وَحَيْرَةِ الضَّلَالَةِ
Ḥairah berarti:
* kebingungan,
* kehilangan arah,
* kebimbangan yang membuat seseorang tidak mengetahui jalan pulang.
Sedangkan ḍalālah berarti kesesatan.
Imam Husain a.s. datang untuk membebaskan manusia dari dua penyakit sekaligus:
* kebodohan,
* dan kebingungan spiritual.

Makrifat
Dakwah Sebelum Pengorbanan
Para ahli makrifat mengatakan:
Allah tidak pernah menghukum sebelum hujah ditegakkan.
Karena itu Imam Husain a.s. terlebih dahulu berdialog, menasihati, mengingatkan, dan menjelaskan.
Barulah setelah semua pintu tertutup, beliau menyerahkan dirinya kepada Allah. Inilah makna:
فأعذر في الدعاء
Beliau telah menunaikan amanah dakwah secara sempurna.

Hakikat Nasihat
Nasihat menurut para arif bukanlah banyak berbicara. Nasihat adalah:
menginginkan keselamatan orang lain sebagaimana kita menginginkan keselamatan diri sendiri. 
Imam Husain a.s. bahkan mendoakan orang-orang yang memeranginya agar kembali kepada jalan Allah.
Beliau tidak memusuhi manusia.
Beliau memusuhi kezaliman.

Hakikat Muhjah
Mengapa ziarah menggunakan kata:
مُهْجَتَهُ
bukan: دَمَهُ (darahnya)? Karena muhjah adalah inti kehidupan.
Maknanya: Imam Husain as mempersembahkan:
* jiwa,
* keluarga,
* anak-anak,
* sahabat,
* masa depan,
* seluruh cintanya,
demi Allah. Inilah puncak ikhlas.

Menurut Al-Qur’an; Allah berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ 
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. an-Naḥl [16]: 125)
Imam Husain a.s. menjalankan perintah ini dengan sempurna sebelum terjadinya peperangan.
Allah juga berfirman:
وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
“Tidak ada kewajiban atas rasul selain menyampaikan dengan jelas.”
(QS. an-Nūr [24]: 54) Para Imam sebagai pewaris Rasulullah ﷺ melanjutkan tugas penyampaian tersebut.

Menurut Hadis Ahlul Bait
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. bersabda:
إِنَّ الْحُسَيْنَ بَذَلَ مُهْجَتَهُ فِي اللَّهِ لِيَسْتَنْقِذَ عِبَادَهُ مِنَ الضَّلَالَةِ وَالْجَهَالَةِ.
“Sesungguhnya Husain telah mempersembahkan darah jantungnya di jalan Allah agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari kesesatan dan kebodohan.”
Makna hadis ini sejalan dengan teks Ziarah Arba’in dan menjadi salah satu ringkasan paling indah mengenai tujuan pengorbanan Imam Husain a.s.

Menurut Ahli Makrifat
Para arif berkata:
“Imam Husain as tidak datang untuk mengubah sejarah semata.
Beliau datang untuk mengubah hati manusia.” 
Karena perubahan pemerintahan belum tentu mengubah manusia.
Tetapi perubahan hati akan mengubah dunia.

Menurut Ahli Hakikat
Dalam hakikat, Karbala adalah proses penyelamatan ruh manusia.
Musuh membunuh jasad Imam Husain as.  Namun Imam Husain as menghidupkan jutaan hati.
Setiap orang yang kembali kepada Allah karena mengenal Karbala adalah buah dari pengorbanan beliau.
Inilah makna terdalam:
لِيَسْتَنْقِذَ عِبَادَكَ
Pelajaran Ruhani
Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* berdakwah dengan hikmah sebelum menghakimi;
* menasihati dengan kasih sayang, bukan dengan kesombongan;
* rela berkorban demi kebenaran;
* menjadikan ilmu sebagai jalan keluar dari kebodohan;
* memohon kepada Allah agar diselamatkan dari kebingungan dalam agama.
Renungan
Ketika kita membaca:
وَبَذَلَ مُهْجَتَهُ فِيكَ
hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri:”Apa yang telah aku persembahkan untuk agama Allah?”
Imam Husain a.s. mempersembahkan darahnya. Mungkin Allah tidak meminta kita mempersembahkan darah. Tetapi Allah meminta kita mempersembahkan:
* kejujuran,
* waktu,
* ilmu,
* harta,
* tenaga,
* dan akhlak,
demi menegakkan kebenaran.
Dan ketika kita mengucapkan:
لِيَسْتَنْقِذَ عِبَادَكَ مِنَ الْجَهَالَةِ وَحَيْرَةِ الضَّلَالَةِ
jadikanlah itu sebagai doa:
“Ya Allah, sebagaimana Engkau menjadikan Imam Husain as sebab keselamatan umat, selamatkanlah kami dari kebodohan, dari kesesatan yang membingungkan, dan jadikanlah hati kami selalu berjalan di bawah cahaya Al-Qur’an dan Ahlul Bait.”

Syarah Ziarah Arba’in ;
Kalimat Kesepuluh
وَقَدْ تَوَازَرَ عَلَيْهِ مَنْ غَرَّتْهُ الدُّنْيَا، وَبَاعَ حَظَّهُ بِالْأَرْذَلِ الْأَدْنَى، وَشَرَى آخِرَتَهُ بِالثَّمَنِ الْأَوْكَسِ
Wa qad tawāzara ‘alaihi man gharrat-hud-dunyā, wa bā’a ḥaẓẓahu bil-arżalil-adnā, wa syarā ākhiratahu bits-tsamanil-awkas.
“Dan sungguh telah bersatu melawannya orang-orang yang diperdaya oleh dunia, yang menjual bagian (keberuntungan)-nya dengan sesuatu yang paling hina dan rendah, serta menukar akhiratnya dengan harga yang paling murah.”

Makna Bahasa: وَقَدْ تَوَازَرَ عَلَيْهِ
Kata توازر berasal dari akar kata وزر yang bermakna saling menguatkan dan saling membantu. Maknanya:
Mereka saling bekerja sama untuk memerangi Imam Husain a.s.
Tidak semua orang yang hadir di Karbala mempunyai niat yang sama, tetapi mereka dipersatukan oleh kepentingan dunia sehingga bersama-sama melawan hujjah Allah.
مَنْ غَرَّتْهُ الدُّنْيَا
Gharrat-hud-dunyā berarti:
“Dunia telah memperdayanya.”
Al-Qur’an berulang kali memperingatkan bahwa dunia dapat menjadi ghurūr (tipuan), apabila manusia menjadikannya tujuan akhir.
Musuh Imam Husain a.s. bukan tidak mengenal beliau. Banyak di antara mereka mengetahui bahwa beliau adalah cucu Rasulullah ﷺ. 
Namun kecintaan kepada dunia menutupi hati mereka.
وَبَاعَ حَظَّهُ
Ḥaẓẓ berarti:
* bagian,
* keberuntungan,
* nasib baik,
* bagian dari rahmat Allah.
Mereka menjual bagian mereka di sisi Allah. بِالْأَرْذَلِ الْأَدْنَى Arżal berarti paling hina. Adnā berarti paling rendah.
Yakni mereka menukar kenikmatan akhirat dengan keuntungan dunia yang hina dan sementara.
وَشَرَى آخِرَتَهُ بِالثَّمَنِ الْأَوْكَسِ
Tsaman al-awkas berarti: harga yang paling murah dan paling merugikan.
Mereka menjual kehidupan akhirat demi:
* jabatan,
* harta,
* rasa takut,
* ambisi,
* atau kedekatan dengan penguasa.
Padahal nilai akhirat tidak dapat dibandingkan dengan seluruh dunia.

Makrifat: Tipuan Dunia
Para ahli makrifat menjelaskan bahwa dunia tidak tercela karena keberadaannya. Yang tercela adalah:
mencintai dunia sehingga melupakan Allah. 
Imam Ali a.s. berkata bahwa dunia adalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. 
Musuh Imam Husain as gagal memahami hakikat ini. Mereka mengira kerajaan Yazid akan kekal.
Ternyata kerajaan itu lenyap, sedangkan nama Imam Husain as senatiasa disebut dan tetap hidup.

Hakikat Menjual Akhirat
Para arif berkata:”Setiap dosa adalah transaksi.” Seseorang selalu menjual sesuatu. Pertanyaannya: Apa yang ia jual? Musuh Imam Husain menjual:
* iman,
* hati nurani,
* dan akhirat,
demi dunia yang sebentar.
Sebaliknya Imam Husain as menjual dunia demi memperoleh keridaan Allah.

Hakikat: Hakikat peperangan Karbala bukanlah antara dua kelompok manusia. Melainkan antara dua orientasi hidup:

Jalan Imam Husain as
* Allah sebagai tujuan.
* Akhirat sebagai orientasi.
* Kebenaran sebagai prinsip.
Jalan Yazid
* Dunia sebagai tujuan.
* Kekuasaan sebagai orientasi.
* Hawa nafsu sebagai prinsip.
Karena itu Karbala terus berlangsung dalam hati setiap manusia.
Setiap hari seseorang memilih:
Apakah ia bersama Imam Husain as atau bersama Yazid.

Menurut Al-Qur’an; Allah berfirman:
فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian.”
(QS. Luqmān [31]: 33)
Ayat ini sangat sesuai dengan kalimat: غَرَّتْهُ الدُّنْيَا Allah juga berfirman:     إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ 
أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman jiwa dan harta mereka dengan balasan surga.”
(QS. at-Taubah [9]: 111)
Di Karbala terjadi dua bentuk “jual beli”:
* Imam Husain a.s. menjual dirinya kepada Allah dan memperoleh surga.
* Musuh-musuhnya menjual akhirat mereka demi dunia.

Menurut Hadis Ahlul Bait
Imam Ali a.s. bersabda:
الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ لَا دَارُ مَقَرٍّ
Ad-dunyā dāru mamarrin lā dāru maqarr.
“Dunia adalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang kekal.”
Kalimat ini menjadi kunci untuk memahami mengapa Imam Husain as tidak tertipu oleh dunia.

Menurut Ahli Makrifat
Para ahli makrifat mengatakan:
Ada tiga bentuk tipuan dunia:
1. Mengira dunia akan kekal.
2. Mengira harta membawa keselamatan.
3. Mengira kekuasaan lebih penting daripada keridaan Allah.
Ketiga-tiganya berkumpul pada pasukan Yazid. Sebaliknya Imam Husain as telah terbebas dari ketiga hijab tersebut.

Menurut Ahli Hakikat
Dalam hakikat, dunia bukan musuh.
Yang menjadi musuh adalah:
cinta dunia yang mengalahkan cinta kepada Allah.
Karena itu seseorang dapat hidup kaya tetapi tetap menjadi kekasih Allah. Sebaliknya seseorang dapat hidup miskin tetapi tetap menjadi budak dunia.
Hakikatnya terletak pada hati.

Kisah dan Ibrah
Umar bin Sa’d mengetahui siapa Imam Husain a.s. Namun ia memilih memimpin pasukan Kufah demi harapan memperoleh kekuasaan di Rayy. Riwayat-riwayat sejarah menggambarkan bahwa ambisi dunia menjadi salah satu faktor yang membuatnya menerima tugas tersebut. Pada akhirnya, kekuasaan yang diharapkannya tidak benar-benar ia nikmati, sedangkan namanya dikenang sebagai salah satu tokoh dalam tragedi Karbala. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa keuntungan dunia yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran tidak akan membawa keberuntungan yang hakiki.

Pelajaran Ruhani
Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir;
* selalu mengukur setiap keputusan dengan timbangan akhirat;
* berhati-hati terhadap ambisi yang dapat mengalahkan iman;
* mengingat bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi di hadapan Allah.

Renungan; Ketika membaca:
مَنْ غَرَّتْهُ الدُّنْيَا
hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri:”Apakah ada sesuatu di dunia ini yang mulai menghalangi kedekatanku kepada Allah?”
Dan ketika membaca:
وَشَرَى آخِرَتَهُ بِالثَّمَنِ الْأَوْكَسِ
ingatlah bahwa tidak ada harga dunia yang pantas untuk ditukar dengan iman. Imam Husain a.s. mengajarkan bahwa kehilangan dunia demi Allah adalah keuntungan yang kekal, sedangkan memperoleh dunia dengan meninggalkan Allah adalah kerugian yang tidak akan pernah dapat diganti.

Syarah Ziarah Arba’in ;
Kalimat Kesebelas
وَتَغَطْرَسَ وَتَرَدَّى فِي هَوَاهُ، وَأَسْخَطَكَ وَأَسْخَطَ نَبِيَّكَ، وَأَطَاعَ مِنْ عِبَادِكَ أَهْلَ الشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ، وَحَمَلَةَ الْأَوْزَارِ الْمُسْتَوْجِبِينَ النَّارَ
Wa taghaṭrasa wa taraddā fī hawāh, wa askhaṭaka wa askhaṭa nabiyyak, wa aṭā’a min ’ibādika ahlas-syiqāqi wan-nifāq, wa ḥamalatal-awzāril-mustawjibīnan-nār.
“Dan ia berlaku sombong, lalu terjerumus mengikuti hawa nafsunya; ia membuat-Mu murka dan juga membuat Nabi-Mu murka; ia menaati di antara hamba-hamba-Mu orang-orang yang menimbulkan perpecahan dan kemunafikan serta para pemikul dosa yang menyebabkan mereka berhak menerima api neraka.”

Makna Bahasa; وَتَغَطْرَسَ Taghaṭrasa berarti:
* berlaku angkuh,
* bersikap arogan,
* memandang diri lebih tinggi daripada kebenaran.
Kesombongan adalah penyakit pertama yang menjerumuskan Iblis.
Musuh Imam Husain a.s. mengetahui siapa beliau, tetapi kesombongan menghalangi mereka untuk tunduk kepada kebenaran. وَتَرَدَّى فِي هَوَاهُ
Taraddā berarti:
* jatuh,
* terperosok,
* binasa.
Hawā berarti hawa nafsu dan keinginan yang tidak dikendalikan oleh petunjuk Allah. Maknanya:
Mereka tidak hanya melakukan kesalahan, tetapi jatuh ke dalam jurang hawa nafsu hingga kehilangan kemampuan membedakan antara hak dan batil.
وَأَسْخَطَكَ
“Mereka membuat-Mu murka.”
Murka Allah dalam Al-Qur’an adalah ungkapan atas penolakan manusia terhadap petunjuk-Nya serta akibat dari kezaliman yang mereka lakukan.
وَأَسْخَطَ نَبِيَّكَ
“Mereka membuat Nabi-Mu murka.”
Menyakiti Imam Husain a.s. berarti menyakiti Rasulullah ﷺ, karena beliau adalah cucu, pewaris, dan bagian dari keluarga yang dimuliakan Rasulullah.
وَأَطَاعَ … أَهْلَ الشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ
الشقاق
Perpecahan yang lahir dari permusuhan terhadap kebenaran.
النفاق
Kemunafikan. Yaitu menampilkan keimanan secara lahiriah tetapi menyembunyikan penolakan terhadap kebenaran.  وَحَمَلَةَ الْأَوْزَارِ
Awzār berarti:
* dosa-dosa besar,
* beban kesalahan.
Mereka memikul dosa sendiri dan turut memikul akibat menyesatkan orang lain. الْمُسْتَوْجِبِينَ النَّارَ
Yakni orang-orang yang dengan perbuatannya menyebabkan dirinya layak menerima azab Allah apabila tidak bertobat.

Makrifat; Kesombongan adalah Hijab Terbesar
Para ahli makrifat mengatakan:
“Allah tidak jauh dari manusia.
Yang menjauhkan manusia dari Allah adalah kesombongan.”
Iblis mengetahui Allah.
Fir’aun mengetahui Musa.
Sebagian musuh mengetahui kedudukan Imam Husain as
Namun pengetahuan tanpa kerendahan hati tidak melahirkan hidayah.

Hawa Nafsu; Dalam irfan, hawa nafsu disebut: berhala tersembunyi.
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”(QS. al-Jātsiyah [45]: 23)
Orang yang mengikuti hawa nafsu pada hakikatnya sedang menjadikan keinginannya sebagai hakim atas kebenaran.

Hakikat; Hakikat Karbala adalah peperangan antara:
* akal dan hawa nafsu,
* cahaya dan kegelapan,
* kerendahan hati dan kesombongan.
Imam Husain a.s. berdiri di atas cahaya wahyu. Musuh berdiri di atas hawa nafsu. Karena itu hasil akhirnya telah ditentukan oleh nilai, bukan oleh jumlah pasukan.

Hakikat Kemunafikan
Menurut para arif, kemunafikan bukan hanya berpura-pura beriman.
Hakikat nifaq adalah:”Hati mengetahui kebenaran tetapi memilih kepentingan pribadi.” Itulah sebabnya banyak tokoh Kufah mengirim surat mengundang Imam Husain a.s., namun ketika ancaman dan iming-iming kekuasaan datang, mereka meninggalkan janji mereka.

Menurut Al-Qur’an; Allah berfirman:
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Ṣād [38]: 26)
Ayat ini menggambarkan akar penyimpangan yang juga disinggung dalam Ziarah Arba’in. Allah juga berfirman:  إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. an-Naḥl [16]: 23)
Kesombongan menjadi sebab tertutupnya hati dari petunjuk.

Menurut Hadis Ahlul Bait: Imam Ali a.s. bersabda:  آفَةُ الْعَقْلِ الْهَوَ”Bencana terbesar bagi akal adalah hawa nafsu.” Selama hawa nafsu menguasai manusia, akalnya tidak mampu melihat kebenaran secara jernih. Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. juga bersabda:
مَنْ أَطَاعَ هَوَاهُ أَعْطَى عَدُوَّهُ مُنَاهُ
“Barang siapa menaati hawa nafsunya, maka ia telah memberikan kemenangan kepada musuhnya.”

Menurut Ahli Makrifat: 
Para ahli makrifat menjelaskan bahwa ada empat sebab seseorang terjatuh seperti musuh-musuh Imam Husain;
1. Kesombongan terhadap kebenaran.
2. Mengikuti hawa nafsu.
3. Memilih teman yang buruk.
4. Mencintai dunia lebih daripada akhirat.
Semua unsur ini berkumpul pada tragedi Karbala.

Menurut Ahli Hakikat;
Hakikat murka Allah bukanlah karena Allah membutuhkan pembelaan.
Allah Mahasuci dari segala kebutuhan. Murka Allah adalah akibat dari pilihan manusia sendiri ketika ia memutus hubungan dengan rahmat-Nya melalui kezaliman dan penolakan terhadap kebenaran. Semakin jauh seseorang dari cahaya Allah, semakin besar akibat yang ia tanggung.

Pelajaran Ruhani
Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* merendahkan hati di hadapan kebenaran meskipun datang dari orang yang lebih muda atau lebih sederhana;
* mengendalikan hawa nafsu dengan ibadah dan muhasabah;
* memilih lingkungan yang saleh dan menjauhi pengaruh yang menyeret kepada dosa;
* menjaga keikhlasan agar tidak terjerumus dalam kemunafikan.

Renungan; Ketika membaca:
وَتَغَطْرَسَ وَتَرَدَّى فِي هَوَاهُ
bertanyalah kepada diri sendiri:
“Apakah aku pernah menolak kebenaran hanya karena gengsi, kepentingan, atau hawa nafsu?”
Dan ketika membaca:
وَأَطَاعَ … أَهْلَ الشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ
ingatlah bahwa jalan hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh siapa yang ia ikuti. Imam Husain a.s. mengajarkan agar kita memilih mengikuti para wali Allah, bukan mengikuti hawa nafsu, tekanan masyarakat, atau kepentingan dunia yang fana.
Sebab setiap langkah yang mengikuti kebenaran akan mendekatkan kepada rahmat Allah, sedangkan setiap langkah yang mengikuti hawa nafsu akan menjauhkan manusia dari cahaya-Nya.

Syarah Ziarah Arba’in;
Kalimat Kedua Belas
فَجَاهَدَهُمْ فِيكَ صَابِرًا مُحْتَسِبًا حَتَّى سُفِكَ فِي طَاعَتِكَ دَمُهُ وَاسْتُبِيحَ حَرِيمُهُ
Fa jāhadahum fīka ṣābiran muḥtasiban ḥattā sufika fī ṭā‘atika damuhu wastubīḥa ḥarīmuhu.
“Maka beliau memerangi mereka di jalan-Mu dengan penuh kesabaran dan mengharap pahala dari-Mu, hingga tertumpahlah darahnya dalam ketaatan kepada-Mu dan kehormatan keluarganya dilanggar.”

Makna Bahasa: فَجَاهَدَهُمْ فِيكَ Jāhada; Berasal dari kata: جهاد
yang berarti:
* mengerahkan seluruh kemampuan,
* berjuang sepenuh tenaga,
* berkorban demi tujuan yang luhur.

Kalimat ini menunjukkan bahwa perjuangan Imam Husain a.s. bukan demi kekuasaan, suku, atau kepentingan pribadi.
Beliau berjuang: فِيكَ “Demi Engkau ya Allah.” Inilah inti seluruh Karbala. صَابِرًا
“Dalam keadaan sabar.” Sabar di sini bukan pasrah tanpa usaha.
Sabar adalah:
* keteguhan,
* ketabahan,
* kemampuan tetap berada di jalan Allah ketika musibah datang bertubi-tubi.
Imam Husain as menyaksikan:
* Ali Akbar gugur,
* Qasim gugur,
* Abbas gugur,
* bayi Abdullah ar-Radhi’ gugur,
* para sahabat gugur,
namun beliau tetap teguh bersama Allah. مُحْتَسِبًا Berasal dari kata: احتساب yang berarti: mengharapkan ganjaran hanya dari Allah. Beliau tidak mencari pujian manusia.
Beliau tidak mengharapkan kemenangan dunia. Beliau hanya mengharap keridaan Allah.
حَتَّى سُفِكَ فِي طَاعَتِكَ دَمُهُ
“Hingga darahnya ditumpahkan dalam ketaatan kepada-Mu.”
Kalimat ini menegaskan bahwa seluruh darah yang mengalir di Karbala merupakan pengorbanan dalam rangka ketaatan kepada Allah.
Bukan pemberontakan demi dunia.
Bukan perebutan kekuasaan.
Tetapi penghambaan kepada Allah.
وَاسْتُبِيحَ حَرِيمُهُ
Harīm. Berarti:
* kehormatan,
* keluarga yang harus dijaga,
* wilayah yang suci dan tidak boleh dilanggar.
Setelah syahadah Imam Husain a.s.:
* kemah-kemah dibakar,
* harta dirampas,
* wanita dan anak-anak ditawan.
Kalimat ini merangkum seluruh tragedi yang menimpa Ahlul Bait setelah Asyura.

Makrifat; Jihad Demi Allah
Para ahli makrifat mengatakan:
Tidak semua peperangan adalah jihad. Jihad yang sejati adalah:
“Ketika Allah menjadi tujuan dan keridaan-Nya menjadi alasan.”
Imam Husain as tidak bergerak karena marah kepada manusia.
Beliau bergerak karena cinta kepada Allah dan agama-Nya.

Sabar dalam Cinta;Menurut para arif:
Semakin besar cinta kepada Allah, semakin besar kemampuan seseorang untuk bersabar.
Karena ia mengetahui bahwa seluruh kejadian berada dalam hikmah Allah.
Karbala bukan sekadar kisah keberanian. Karbala adalah kisah cinta yang mencapai puncaknya.

Hakikat Ihtisab; Ihtisab berarti:
melihat Allah di balik setiap ujian.
Orang yang muhtasib tidak menghitung pengorbanannya.
Ia tidak berkata:”Aku sudah berbuat banyak.” Karena seluruh amal dipersembahkan kepada Allah.
Imam Husain a.s. adalah teladan tertinggi maqam ini.

Hakikat; Hakikat Jihad Husaini
Dalam pandangan ahli hakikat, jihad Imam Husain as memiliki dua sisi:
Sisi lahir; Melawan kezaliman Bani Umayyah. Sisi batin; Menghancurkan berhala hawa nafsu dalam diri manusia. Karena itu Karbala tidak berakhir pada tahun 61 Hijriah.
Karbala terus hidup dalam setiap perjuangan melawan kebatilan.

Hakikat Darah Syahid; Para arif mengatakan:”Darah para syuhada menjadi tinta bagi sejarah hidayah.”
Pedang musuh menghentikan denyut jantung Imam Husain as. Tetapi darah beliau menghidupkan hati jutaan manusia.

Hakikat Harim yang Dilanggar;
Hakikat terdalam dari: واستبيح حريمه
adalah bahwa musuh tidak hanya menyerang tubuh para syuhada.
Mereka menyerang kehormatan keluarga Rasulullah ﷺ. Karena itu tragedi Karbala mencapai puncak kesedihan setelah syahadah, ketika Ahlul Bait dijadikan tawanan.

Menurut Al-Qur’an. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا 
وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah teguh.”
(QS. Āli ’Imrān [3]: 200) Imam Husain a.s. merupakan salah satu manifestasi paling agung dari ayat ini.
Allah juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. al-Baqarah [2]: 153)
Kebersamaan Ilahi inilah yang menjadi kekuatan ruhani Karbala.

Menurut Hadis Ahlul Bait
Diriwayatkan bahwa ketika Imam Husain a.s. semakin berat menghadapi musibah pada hari Asyura, wajah beliau justru semakin berseri. Sebagian sahabat bertanya-tanya mengenai hal itu. Mereka menjawab:”Karena beliau melihat apa yang Allah sediakan baginya.”
Riwayat ini sering disebut dalam literatur maqtal dan manaqib untuk menggambarkan keteguhan ruhani beliau pada saat-saat terakhir.

Menurut Ahli Makrifat
Para arif menjelaskan:
Ada tiga tingkatan sabar:
1. Sabar atas musibah.
2. Sabar dalam ketaatan.
3. Sabar bersama Allah.
Imam Husain a.s. menghimpun ketiganya sekaligus pada hari Asyura.

Menurut Ahli Hakikat
Para ahli hakikat berkata:”Kesabaran Imam Husain as bukan karena beliau tidak merasakan sakit. Kesabaran Imam Husain as karena beliau melihat Allah lebih besar daripada rasa sakit.”
Inilah sebabnya beliau tetap memuji Allah di tengah lautan musibah.

Ratapan (Masaib);
Wahai Aba Abdillah…
Betapa berat musibah itu.
Tubuhmu terbaring di padang Karbala tanpa penolong.
Kepalamu diangkat di ujung tombak.
Kemah-kemah keluargamu dibakar.
Anak-anakmu berlarian di tengah api.
Saudari agungmu Zainab a.s. menyaksikan seluruh peristiwa itu dengan hati yang hancur.
Langit menangis.
Bumi berduka.
Dan hati para pecinta Ahlul Bait terus menangis hingga hari ini.

Pelajaran Ruhani;
Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* bersabar dalam menjalankan kebenaran;
* mengikhlaskan amal hanya untuk Allah;
* tidak menyerah ketika menghadapi ujian;
* menjadikan Karbala sebagai sekolah keteguhan hati.

Renungan: Ketika membaca:
فَجَاهَدَهُمْ فِيكَ صَابِرًا مُحْتَسِبًا
ingatlah bahwa nilai sebuah amal terletak pada niatnya.
Dan ketika membaca:
حَتَّى سُفِكَ فِي طَاعَتِكَ دَمُهُ
ingatlah bahwa tidak ada pengorbanan yang lebih agung dalam sejarah Islam setelah Rasulullah ﷺ selain pengorbanan Imam Husain a.s.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memahami pesan Karbala, meneladani kesabaran Imam Husain as, dan kelak dikumpulkan bersama beliau, Rasulullah ﷺ, Sayidah Fatimah az-Zahra a.s., Amirul Mukminin Ali a.s., serta para Imam suci dari Ahlul Bait a.s.

Syarah Ziarah Arba’in ;
Kalimat Ketiga Belas;
اللَّهُمَّ فَالْعَنْهُمْ لَعْنًا وَبِيلًا، وَعَذِّبْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Allāhumma fal’anhum la’nan wabīlā, wa ’adzdzibhum ’adzāban alīmā.
“Ya Allah, maka laknatlah mereka dengan laknat yang berat dan terus-menerus, serta azablah mereka dengan azab yang sangat pedih.”

Makna Bahasa; اللَّهُمَّ Doa ini diawali dengan menyebut Nama Allah. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian akhir terhadap manusia diserahkan kepada Allah, bukan kepada hawa nafsu.
Seorang peziarah tidak sedang melampiaskan dendam pribadi, tetapi memohon agar Allah menegakkan keadilan-Nya. فَالْعَنْهُمْ 
Makna “La’nah”
Kata لَعْن secara bahasa berarti:
الإبعاد والطرد من الرحمة
“Menjauhkan dan mengusir dari rahmat Allah.” Dengan demikian, laknat bukanlah celaan atau makian, melainkan doa agar orang yang tetap membangkang dan zalim tidak memperoleh rahmat Allah selama ia tidak bertobat. لَعْنًا وَبِيلًا Wabīl berarti:
* sangat berat,
* keras akibatnya,
* terus berlanjut.
Artinya, ziarah memohon agar akibat kezaliman mereka benar-benar ditegakkan sesuai keadilan Allah.
وَعَذِّبْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Permohonan ini bukan lahir dari kebencian pribadi, tetapi merupakan pengakuan bahwa kezaliman besar memiliki konsekuensi di sisi Allah.
Dalam Al-Qur’an, azab dikaitkan dengan keadilan Allah terhadap orang yang tetap ingkar dan zalim.

Menurut Al-Qur’an
Al-Qur’an sendiri menggunakan istilah laknat Allah terhadap kelompok-kelompok tertentu yang terus-menerus menolak kebenaran.
Allah berfirman:
أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
“Ingatlah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim.”(QS. Hūd [11]: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa objek utama laknat adalah kezaliman, bukan kebencian pribadi.
Allah juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا
“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala.”(QS. al-Aḥzāb [33]: 64)
Ayat-ayat seperti ini menjadi dasar bahwa konsep la’nah merupakan bagian dari bahasa Al-Qur’an tentang keadilan Ilahi.

Menurut Hadis Ahlul Bait
Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait, konsep tawallā (mencintai para wali Allah) selalu berjalan bersama tabarrā (berlepas diri dari musuh-musuh Allah dan pelaku kezaliman).

Imam Muhammad al-Baqir a.s. bersabda: هَلِ الدِّينُ إِلَّا الْحُبُّ وَالْبُغْضُ؟
“Bukankah agama itu tidak lain adalah cinta dan berlepas diri (karena Allah)?” Dalam penjelasan ulama, cinta diarahkan kepada para wali Allah, sedangkan kebencian ditujukan kepada kezaliman dan permusuhan terhadap mereka, bukan kepada manusia secara sembarangan.

Menurut Mufasir Ahlul Bait
Para mufasir menjelaskan bahwa doa laknat dalam ziarah bukanlah ajakan untuk membenci semua orang.

Objeknya adalah mereka yang:
* mengetahui kebenaran tetapi memeranginya,
* menumpahkan darah orang-orang suci,
* mempertahankan kezaliman,
* dan wafat tanpa tobat.
Karena itu, doa ini berkaitan dengan prinsip keadilan Allah.

Makrifat; Laknat Terbesar
Para ahli makrifat mengatakan:
Laknat terbesar bukanlah sekadar azab di akhirat. Laknat terbesar adalah: terhalangnya hati dari cahaya Allah. Ketika seseorang terus-menerus memilih kezaliman, hatinya menjadi semakin keras hingga sulit menerima petunjuk.
Inilah bentuk keterjauhan dari rahmat Allah yang paling berbahaya.

Tabarri dalam Makrifat
Dalam irfan Ahlul Bait, tabarrī memiliki dua sisi. Pertama: Berlepas diri dari orang-orang yang memerangi Allah dan para wali-Nya. Kedua;
Berlepas diri dari sifat-sifat mereka yang ada dalam diri kita. Misalnya:
* kesombongan,
* cinta dunia,
* dengki,
* kemunafikan,
* kezaliman,
* mengikuti hawa nafsu.
Inilah tabarrī yang harus dilakukan setiap hari.

Hakikat; Para ahli hakikat menjelaskan bahwa ketika seorang mukmin berkata: اللهم فالعنهم ia juga seharusnya berdoa dalam hatinya:
“Ya Allah, jauhkan pula aku dari segala sifat yang menyerupai jalan mereka.” Karena musuh terbesar manusia bukan hanya kezaliman di luar dirinya. Tetapi juga hawa nafsu di dalam dirinya. Dengan demikian, doa laknat menjadi doa penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Menurut Ahli Hakikat; Para arif berkata:”Mencintai Imam Husain as berarti memusuhi segala bentuk kezaliman.” Namun permusuhan itu tidak dilakukan dengan kebencian buta. Ia dilakukan melalui:
* keadilan,
* akhlak,
* ilmu,
* kesabaran,
* dan keteguhan di atas kebenaran.
Inilah perbedaan antara tabarrī dan dendam.

Pelajaran Ruhani; Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* mencintai keadilan dan membenci kezaliman;
* menyerahkan keputusan akhir kepada Allah Yang Mahaadil;
* menjauhkan diri dari sifat-sifat yang melahirkan tragedi Karbala;
* memperbanyak muhasabah agar tidak tanpa sadar mengikuti jalan orang-orang zalim.

Renungan; Ketika membaca:
اللَّهُمَّ فَالْعَنْهُمْ
jangan hanya mengingat musuh-musuh Imam Husain a.s. Tetapi renungkanlah:”Ya Allah, jauhkan aku dari setiap sifat yang menjadikan seseorang layak dijauhkan dari rahmat-Mu.” Dan ketika membaca:
وَعَذِّبْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
ingatlah bahwa Allah adalah Al-’Adl (Mahaadil). Dia tidak menzalimi seorang pun. Setiap balasan diberikan dengan ilmu, hikmah, dan keadilan yang sempurna. Karena itu, seorang pecinta Ahlul Bait tidak hidup dengan kebencian kepada manusia, tetapi hidup dengan kecintaan kepada kebenaran dan penolakan terhadap kezaliman. Maka Ziarah Arba’in mendidik hati agar semakin dekat kepada rahmat Allah sekaligus semakin jauh dari segala jalan yang mengantarkan kepada kezaliman.

Syarah Ziarah Arba’in ; 
Kalimat Keempat Belas;
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ سَيِّدِ الْأَوْصِيَاءِ
As-salāmu ’alaika yābna Rasūlillāh, as-salāmu ‘alaika yābna Sayyidil-Awṣiyā’.
“Salam sejahtera atasmu, wahai putra Rasulullah. Salam sejahtera atasmu, wahai putra penghulu para wasi.”

Makna Bahasa: السَّلَامُ عَلَيْكَ
Kata as-salām berasal dari akar kata:
س ل م
yang mengandung makna:
* keselamatan,
* kedamaian,
* kesejahteraan,
* perlindungan,
* dan penyerahan diri kepada Allah.
Dalam ziarah, salam bukan sekadar ucapan hormat. Salam adalah doa, pengakuan, dan ikrar kesetiaan.
Ketika seorang mukmin mengucapkan salam kepada Imam Husain a.s., ia memohon agar dirinya termasuk orang yang hidup dalam jalan keselamatan yang ditempuh Imam.
يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ
Gelar ini mengingatkan bahwa Imam Husain a.s. adalah cucu Rasulullah ﷺ melalui Sayidah Fatimah az-Zahra a.s.Dalam tradisi Arab dan juga dalam banyak riwayat Islam, cucu dari jalur putri tetap disebut ibn (putra).
Dengan menyebut “Ya Ibn Rasulillah”, peziarah menegaskan hubungan yang tak terpisahkan antara risalah Nabi Muhammad ﷺ dan perjuangan Imam Husain a.s. Mencintai Imam Husain as berarti mencintai Rasulullah ﷺ. Menyakiti Imam Husain as berarti menyakiti Rasulullah ﷺ.
يَا ابْنَ سَيِّدِ الْأَوْصِيَاءِ
Sayyid al-Awṣiyā’ berarti:
“Penghulu para wasi.” Dalam akidah Imamiyah, gelar ini merujuk kepada Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib a.s., sebagai wasi (penerus) Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, Imam Husain a.s. adalah pewaris dua lautan kemuliaan:
* dari Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah,
* dari Imam Ali a.s. sebagai pemimpin para wasi.

Menurut Al-Qur’an. Allah berfirman:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا 
إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
“Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu imbalan atas risalah ini selain kasih sayang ( mawaddah ) kepada keluarga dekatku.”
(QS. asy-Syūrā [42]: 23)
Dalam tafsir Ahlul Bait, ayat ini menjadi dasar penting tentang kewajiban mencintai keluarga Rasulullah ﷺ.

Allah juga berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala kotoran dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”
(QS. al-Aḥzāb [33]: 33)
Ayat ini menjadi landasan kesucian Ahlul Bait dalam banyak penafsiran Islam, termasuk tradisi Syiah.

Menurut Hadis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا
“Husain berasal dariku dan aku berasal dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain.” Hadis ini diriwayatkan dalam berbagai kitab hadis Sunni dan Syiah dan menunjukkan eratnya hubungan Rasulullah ﷺ dengan Imam Husain a.s. Menurut Hadis Ahlul Bait;
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. bersabda bahwa mengenal Imam merupakan bagian dari kesempurnaan agama, karena Imam adalah penerus risalah Nabi dan penafsir ajaran beliau. Oleh sebab itu, salam kepada Imam Husain a.s. adalah pengakuan terhadap kedudukan beliau sebagai hujjah Allah.

Makrifat; 
Para ahli makrifat mengatakan: Ucapan: يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ bukan sekadar menyebut nasab.
Tetapi menyatakan bahwa seluruh cahaya kenabian masih memancar melalui pribadi Imam Husain a.s.
Beliau adalah cermin akhlak Rasulullah ﷺ. Siapa yang ingin melihat kesabaran Nabi, akan menemukannya pada Imam Husain
Siapa yang ingin melihat kasih sayang Nabi, akan menemukannya pada Imam Husain as. Siapa yang ingin melihat keberanian Nabi, akan menemukannya pada Imam Husain.

Hakikat: Dalam pandangan ahli hakikat, ketika peziarah mengucapkan: السَّلَامُ عَلَيْكَ hakikatnya ia sedang memasuki wilayah kedamaian. Salam berarti:
* berdamai dengan Allah,
* berdamai dengan Rasul-Nya,
* berdamai dengan para wali-Nya,
* dan memerangi hawa nafsunya sendiri.
Karena itu salam bukan hanya ditujukan kepada Imam Husain as.
Salam juga merupakan janji bahwa hidup kita akan berjalan di jalan yang beliau tempuh.

Menurut Ahli Makrifat
Para arif berkata:
“Orang yang benar-benar mengucapkan salam kepada Imam Husain as tidak mungkin menzalimi sesama manusia.”
Sebab salam berarti membawa keselamatan. Jika lisan mengucapkan salam tetapi tangan dan hati masih menyakiti orang lain, maka ia belum memahami makna salam yang sesungguhnya.

Menurut Ahli Hakikat;
Hakikat “Ya Ibn Rasulillah” adalah menyadari bahwa Karbala merupakan kelanjutan dari risalah Nabi Muhammad ﷺ. Apa yang diperjuangkan Rasulullah ﷺ di Makkah dan Madinah dijaga oleh Imam Husain a.s. di Karbala.
Risalah dan Imamah bukan dua jalan yang terpisah, melainkan satu mata rantai petunjuk Ilahi.

Pelajaran Ruhani:
Kalimat ini mengajarkan kita agar:
* memperbanyak salam kepada Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait;
* menjaga akhlak sebagai bukti cinta kepada mereka;
* memahami bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait harus diwujudkan dalam amal saleh;
* menjadikan kehidupan Imam Husain a.s. sebagai teladan dalam ibadah, kejujuran, dan keberanian.

Renungan; Ketika mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ
hadirkanlah seolah-olah engkau berdiri di hadapan makam suci Imam Husain a.s. di Karbala. Bayangkan engkau menyampaikan salam yang dijawab oleh ruh suci beliau dengan izin Allah. Lalu ucapkan dalam hati:
“Wahai putra Rasulullah, aku datang bukan hanya membawa air mata. Aku datang membawa janji untuk menjaga salatku, memperbaiki akhlakku, menjauhi kezaliman, dan menghidupkan nilai-nilai yang engkau pertahankan dengan darah sucimu.”
Itulah salam yang hidup.
Itulah salam yang menghubungkan seorang mukmin dengan cahaya Karbala hingga akhir hayatnya.

Syarah Ziarah Arba’in ;
Kalimat Kelima Belas
أَشْهَدُ أَنَّكَ أَمِينُ اللَّهِ وَابْنُ أَمِينِهِ، عِشْتَ سَعِيدًا وَمَضَيْتَ حَمِيدًا وَمُتَّ فَقِيدًا مَظْلُومًا شَهِيدًا
Asyhadu annaka Amīnullāhi wabnu Amīnih, ‘isyta sa’īdan wa maḍhaita ḥamīdan wa mutta faqīdan maẓlūman syahīdā.
“Aku bersaksi bahwa engkau adalah orang kepercayaan Allah dan putra dari orang kepercayaan-Nya. Engkau hidup dalam kebahagiaan (di bawah rida Allah), berpulang dalam keadaan terpuji, dan wafat sebagai seorang yang sangat dirindukan, terzalimi, serta syahid.”

Makna Bahasa: أَشْهَدُ Asyhadu berarti:”Aku bersaksi.”
Syahadah dalam ziarah bukan sekadar pengakuan lisan.
Ia adalah kesaksian yang lahir dari:
* ilmu,
* keyakinan,
* dan komitmen.
Dengan mengucapkan أشهد, seorang peziarah menempatkan dirinya sebagai saksi atas kebenaran jalan Imam Husain a.s. أَمِينُ اللَّهِ Amīnullah berarti:
* orang yang dipercaya Allah,
* penjaga amanah Allah
* seseorang yang tidak pernah mengkhianati tugas dari Allah
Sebagaimana Rasulullah ﷺ dikenal dengan gelar Al-Amīn, Imam Husain a.s. juga disebut Amīnullāh, karena beliau menjaga amanah agama hingga tetes darah terakhir. وَابْنُ أَمِينِهِ
Yakni putra dari seorang yang juga memegang amanah Allah.
Dalam pemahaman Imamiyah, yang dimaksud adalah Amirul Mukminin Imam Ali a.s., wasi Rasulullah ﷺ yang menjaga risalah setelah wafatnya Nabi. Dengan demikian, amanah Ilahi diwariskan dalam garis Imamah, bukan sebagai warisan kekuasaan, tetapi sebagai warisan tanggung jawab membimbing umat. عِشْتَ سَعِيدًا
Hidup Sa‘īd berarti:
* bahagia,
* beruntung,
* memperoleh kebahagiaan hakiki.
Kebahagiaan yang dimaksud bukan kemewahan dunia. Imam Husain a.s. hidup dalam kebahagiaan karena hidupnya selalu berada dalam keridaan Allah. وَمَضَيْتَ حَمِيدًا 
Ḥamīd berarti:
* terpuji,
* mulia,
* dipuji oleh Allah dan orang-orang saleh.
Beliau meninggalkan dunia tanpa noda pengkhianatan, tanpa meninggalkan prinsip, dan tanpa menggadaikan agama demi kepentingan dunia. وَمُتَّ فَقِيدًا Faqīd berarti:
* sosok yang kehilangan dirinya dirasakan oleh banyak orang,
* seseorang yang kepergiannya meninggalkan duka mendalam.
Kepergian Imam Husain a.s. bukan hanya kehilangan bagi keluarga beliau. Ia menjadi kehilangan bagi seluruh umat Islam. Karena itu tangisan atas beliau terus hidup sepanjang zaman. مَظْلُومًا Maẓlūm berarti: orang yang dizalimi, dirampas haknya, dan diperlakukan secara tidak adil. Imam Husain a.s. tidak memulai peperangan. Beliau dipaksa memilih antara baiat kepada kezaliman atau mempertahankan kebenaran. Beliau memilih jalan Allah.
شَهِيدًا
Syahīd memiliki beberapa makna:
* orang yang gugur di jalan Allah;
* saksi atas kebenaran;
* orang yang hidup di sisi Allah.
Karena itu syahid bukan sekadar cara wafat. Syahid adalah maqam spiritual.

Menurut Al-Qur’an. Allah berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah engkau mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki.”
(QS. Āli ’Imrān [3]: 169)
Ayat ini menjadi landasan utama kedudukan para syuhada, termasuk Imam Husain a.s.Allah juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ 
أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. an-Nisā’ [4]: 58)
Imam Husain a.s. adalah teladan tertinggi dalam menjaga amanah Ilahi.

Menurut Hadis; Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ 
سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.”
Hadis ini menunjukkan bahwa kehidupan dan syahadah Imam Husain a.s. berakhir dengan kemuliaan yang telah dijanjikan Allah.

Menurut Hadis Ahlul Bait. Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. bersabda:
كُلُّ الْجَزَعِ وَالْبُكَاءِ مَكْرُوهٌ 
إِلَّا الْجَزَعَ وَالْبُكَاءَ عَلَى الْحُسَيْنِ
“Setiap ratapan dan tangisan itu tidak disukai, kecuali ratapan dan tangisan atas Husain.” Riwayat ini dipahami dalam tradisi ahlul bayt sebagai penegasan keutamaan mengenang musibah Imam Husain a.s. karena tangisan tersebut menghidupkan nilai-nilai Karbala dan memperbarui komitmen terhadap kebenaran.

Makrifat; Para ahli makrifat menjelaskan: Amīnullāh bukan hanya berarti orang yang menjaga amanah.
Tetapi orang yang seluruh hidupnya menjadi tempat bersemayam amanah Allah. Ilmu beliau amanah.
Akhlak beliau amanah.
Keluarga beliau amanah.
Bahkan darah beliau menjadi amanah bagi kebangkitan umat.

Hakikat Kebahagiaan
Mengapa ziarah mengatakan:
عِشْتَ سَعِيدًا
padahal kehidupan Imam Husain as penuh ujian? Karena dalam hakikat, kebahagiaan bukan diukur dari banyaknya kenikmatan. Kebahagiaan adalah: hidup dalam rida Allah.
Orang yang dekat kepada Allah tetap bahagia meskipun diuji. Sebaliknya orang yang jauh dari Allah tetap gelisah meskipun bergelimang kemewahan.

Hakikat Syahadah
Para ahli hakikat berkata:
“Syahid tidak mati.
Ia berpindah dari alam perjuangan menuju alam penyaksian.”
Karena itu Imam Husain disebut: شَهِيد
Beliau menyaksikan Allah dengan hati yang sempurna. Dan Allah memuliakan beliau dengan kehidupan yang abadi di sisi-Nya.

Menurut Ahli Makrifat
Imam Husain a.s. menghimpun empat kemuliaan sekaligus:
* hidup dengan amanah;
* berjalan menuju Allah dengan kemuliaan;
* wafat sebagai syahid;
* dan tetap hidup dalam hati orang-orang beriman.
Inilah sebabnya nama beliau tidak pernah pudar meskipun telah berlalu berabad-abad.

Pelajaran Ruhani
Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* menjadi pribadi yang dapat dipercaya;
* menjaga amanah sekecil apa pun;
* tidak mengorbankan prinsip demi keuntungan sesaat;
* memandang kemuliaan hidup dari ukuran keridaan Allah, bukan ukuran dunia.

Renungan. Ketika mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنَّكَ أَمِينُ اللَّهِ
bertanyalah kepada diri sendiri:
“Apakah aku termasuk orang yang dapat dipercaya oleh Allah dalam menjaga agama, keluarga, dan amanah yang diberikan kepadaku?”
Dan ketika membaca:
عِشْتَ سَعِيدًا وَمَضَيْتَ حَمِيدًا 
وَمُتَّ فَقِيدًا مَظْلُومًا شَهِيدًا
ingatlah bahwa ukuran keberhasilan hidup bukanlah panjangnya usia, banyaknya harta, atau tingginya kedudukan. Keberhasilan sejati adalah hidup dalam ketaatan, meninggalkan dunia dengan kemuliaan, dan kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga amanah, mencintai Imam Husain a.s., dan memperoleh syafaat beliau pada hari ketika tidak ada perlindungan selain rahmat Allah.

Syarah Ziarah Arba’in ;
Kalimat Keenam Belas
وَأَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ مُنْجِزٌ مَا وَعَدَكَ، 
وَمُهْلِكُ مَنْ خَذَلَكَ، وَمُعَذِّبُ مَنْ قَتَلَكَ
Wa asyhadu annallāha munjizun mā wa‘adaka, wa muhliku man khadhalaka, wa mu‘adzdzibu man qatalaka.
“Dan aku bersaksi bahwa Allah pasti menepati apa yang telah Dia janjikan kepadamu, membinasakan orang yang mengkhianati dan tidak menolongmu, serta mengazab orang yang membunuhmu.”

Makna Bahasa وَأَشْهَدُ
Kembali ziarah menggunakan kata: أشهد
“Aku bersaksi.”
Ini menunjukkan bahwa keyakinan seorang mukmin bukan dibangun di atas dugaan, tetapi di atas iman yang mantap terhadap janji Allah.

أَنَّ اللَّهَ مُنْجِزٌ مَا وَعَدَكَ مُنْجِزٌ
Berasal dari kata: أنجز
yang berarti:
* menyempurnakan,
* memenuhi,
* menunaikan tanpa mengingkari.
Artinya:
Allah pasti memenuhi seluruh janji-Nya kepada Imam Husain a.s.
Janji itu meliputi:
* kemuliaan di dunia,
* kehidupan para syuhada di sisi Allah,
* kekalnya nama beliau,
* kemenangan kebenaran atas kebatilan,
* dan balasan akhirat.
Walaupun secara lahiriah Imam Husain gugur di Karbala, secara hakikat beliau memperoleh kemenangan yang dijanjikan Allah.

وَمُهْلِكُ مَنْ خَذَلَكَ خَذَلَكَ
Khadhala berarti:
* meninggalkan,
* tidak menolong,
* membiarkan seseorang sendirian ketika ia membutuhkan pertolongan.

Kalimat ini mencakup orang-orang yang mengetahui kebenaran Imam Husain a.s. tetapi tidak memberikan pertolongan.

Dalam sejarah Karbala, sebagian penduduk Kufah mengetahui kedudukan beliau, namun karena takut atau tergiur dunia mereka tidak memenuhi janji untuk membela beliau.

وَمُعَذِّبُ مَنْ قَتَلَكَ
Yang dimaksud bukan sekadar para pelaku langsung pembunuhan, tetapi setiap orang yang dengan sadar berperan dalam kezaliman tersebut tanpa bertobat.
Penilaian akhir tetap berada di tangan Allah Yang Maha Mengetahui keadaan setiap hamba.


Menurut Al-Qur’an
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji.” 
(QS. Āli ’Imrān [3]: 9)
Ayat ini menjadi dasar keyakinan bahwa seluruh janji Allah kepada para nabi, para wali, dan orang-orang beriman pasti akan terwujud.

Allah juga berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
“Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim.”
(QS. Ibrāhīm [14]: 42)
Ayat ini memberi ketenangan kepada hati orang-orang beriman bahwa kezaliman tidak akan dibiarkan tanpa perhitungan.

Menurut Hadis Ahlul Bait
Imam Ali a.s. bersabda:
الدَّوْلَةُ لِلْحَقِّ وَإِنْ طَالَ الزَّمَانُ
Transliterasi
Ad-daulatu lil-ḥaqqi wa in ṭāla az-zamān.
Terjemah
“Kemenangan pada akhirnya adalah milik kebenaran, meskipun waktu yang dibutuhkan panjang.”
Makna hadis ini sejalan dengan keyakinan bahwa Allah pasti menepati janji-Nya kepada para wali-Nya.

Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. juga menegaskan bahwa darah Imam Husain a.s. tidak akan sia-sia karena Allah menjadikan pengorbanan beliau sebagai sebab hidupnya agama hingga akhir zaman.

Makrifat
Janji Allah Tidak Pernah Terlambat
Para ahli makrifat mengatakan:
Manusia sering mengira kemenangan harus segera tampak.
Tetapi Allah bekerja dengan ukuran waktu-Nya sendiri.
Secara lahiriah:
* Karbala tampak sebagai kekalahan.
Secara batin:
* Karbala adalah kemenangan terbesar dalam sejarah Islam.
Yazid menang sehari.
Husain menang sepanjang zaman.

Hakikat “Khadhal”
Dalam irfan, meninggalkan Imam bukan hanya tidak hadir di Karbala.
Seseorang juga dapat “mengkhianati” jalan Husain apabila:
* mengetahui kebenaran tetapi diam;
* melihat kezaliman tetapi membiarkannya;
* mencintai Imam dengan lisan tetapi meninggalkan ajarannya dalam amal.
Karena itu, setiap mukmin hendaknya bertanya:
“Apakah aku benar-benar menjadi penolong Husain dalam kehidupan sehari-hari?”


Hakikat
Para ahli hakikat berkata:
Kemenangan para wali Allah tidak diukur dengan banyaknya pasukan atau luasnya wilayah.
Kemenangan sejati adalah ketika cahaya mereka tetap menerangi hati manusia setelah jasad mereka tiada.
Jika demikian ukurannya, maka Imam Husain a.s. adalah pemenang terbesar Karbala.


Hakikat Janji Allah
Janji Allah kepada Imam Husain a.s. tampak dalam berbagai bentuk:
* nama beliau disebut di seluruh penjuru dunia;
* jutaan peziarah mendatangi makamnya setiap tahun;
* Karbala menjadi madrasah akhlak dan pengorbanan;
* nilai-nilai yang beliau pertahankan tetap hidup sepanjang sejarah.
Semua itu merupakan bagian dari terwujudnya janji Allah.


Menurut Ahli Makrifat
Para arif berkata:
“Allah tidak selalu menyelamatkan para wali-Nya dari syahadah.
Tetapi Allah selalu menyelamatkan misi mereka dari kehancuran.”
Tubuh Imam Husain gugur.
Tetapi risalah beliau tetap hidup.


Menurut Ahli Hakikat
Dalam hakikat, orang yang membela Husain bukan hanya yang hidup pada tahun 61 Hijriah.
Setiap orang yang:
* menegakkan keadilan,
* membela yang tertindas,
* menjaga amanah,
* dan menghidupkan ajaran Rasulullah ﷺ,
sedang menjadi bagian dari barisan Husain.
Demikian pula, setiap bentuk dukungan terhadap kezaliman menjauhkan manusia dari jalan beliau.


Pelajaran Ruhani
Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* yakin sepenuhnya kepada janji Allah;
* tidak putus asa ketika kebenaran tampak lemah;
* tidak menjadi penonton terhadap kezaliman;
* membela kebenaran dengan kemampuan yang Allah berikan.


Renungan
Ketika membaca:
أَنَّ اللَّهَ مُنْجِزٌ مَا وَعَدَكَ
ingatlah bahwa janji Allah tidak pernah gagal.
Mungkin tidak selalu datang secepat yang kita harapkan, tetapi pasti datang pada waktu yang paling tepat menurut hikmah-Nya.

Dan ketika membaca:
وَمُهْلِكُ مَنْ خَذَلَكَ
bertanyalah kepada diri sendiri:
“Apakah aku termasuk orang yang menolong jalan Husain atau justru membiarkan kebenaran berjalan sendirian?”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk Anṣār al-Ḥusain—penolong-penolong Imam Husain a.s.—dengan hati, lisan, amal, dan akhlak, sehingga kelak kita memperoleh kemuliaan bersama beliau di sisi Allah Yang Maha Pengasih.

Syarah Ziarah Arba’in 
Kalimat Ketujuh Belas
وَأَشْهَدُ أَنَّكَ وَفَيْتَ بِعَهْدِ اللَّهِ، 
وَجَاهَدْتَ فِي سَبِيلِهِ حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِينُ
Wa asyhadu annaka wafaita bi ’ahdillāh, wa jāhadta fī sabīlihī ḥattā atākal-yaqīn.
“Dan aku bersaksi bahwa engkau telah memenuhi perjanjian Allah, dan engkau telah berjihad di jalan-Nya hingga datang kepadamu al-yaqīn (kematian yang pasti).”

Makna Bahasa:  وَفَيْتَ بِعَهْدِ اللَّهِ
Kata وَفَى (wafā) berarti:
* memenuhi,
* menunaikan dengan sempurna,
* tidak mengingkari janji.
Sedangkan ’Ahdullāh (عهد الله) berarti:
* perjanjian Allah,
* amanah Ilahi,
* komitmen kepada petunjuk-Nya.
Kalimat ini menegaskan bahwa Imam Husain a.s. tidak pernah mengkhianati amanah Allah, baik dalam masa damai maupun ketika menghadapi Karbala.
وَجَاهَدْتَ فِي سَبِيلِهِ
Jihad di sini bukan sekadar peperangan. Makna jihad menurut Al-Qur’an adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk menegakkan kebenaran. Imam Husain as berjihad dengan:
* ilmu,
* dakwah,
* doa,
* kesabaran,
* pengorbanan,
* hingga syahadah.
حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِينُ
Al-Yaqīn secara bahasa berarti:
* kepastian,
* keyakinan sempurna.
Namun dalam ayat Al-Qur’an dan ungkapan Arab klasik, al-yaqīn juga merupakan istilah bagi kematian, karena kematian adalah satu-satunya kepastian yang pasti dialami setiap manusia. Maka makna kalimat ini adalah:”Engkau terus berjihad hingga akhir hayatmu.”

Menurut Al-Qur’an. Allah berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا 
مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ
“Di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang benar-benar menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.”
(QS. al-Aḥzāb [33]: 23)
Dalam pandangan para mufasir, ayat ini menjadi gambaran umum tentang orang-orang yang tetap teguh memegang janji kepada Allah hingga akhir hayatnya. Imam Husain a.s. merupakan salah satu teladan paling agung dari sifat tersebut.
Allah juga berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu al-yaqīn.”QS. al-Ḥijr [15]: 99. Mayoritas mufasir memahami al-yaqīn dalam ayat ini sebagai kematian.

Menurut Hadis Ahlul Bait
Imam Ali a.s. bersabda:
الْوَفَاءُ تَوْأَمُ الصِّدْقِ
“Kesetiaan adalah saudara kembar dari kejujuran.” Imam Husain a.s. adalah teladan tertinggi kesetiaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan amanah Imamah. Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. juga mengajarkan bahwa jalan para Imam adalah jalan pengorbanan hingga akhir hayat demi menjaga agama Allah.

Menurut Mufasir Ahlul Bait
Para mufasir Ahlul Bait menjelaskan bahwa ’ahd Allah memiliki beberapa tingkatan:
1. Perjanjian tauhid.
2. Perjanjian menaati Rasulullah ﷺ.
3. Perjanjian menaati para Imam yang ditetapkan Allah.
4. Perjanjian menjaga agama dari penyimpangan.
Imam Husain a.s. memenuhi seluruh tingkatan tersebut secara sempurna.

Makrifat. Wafa Menurut Para Arif
Para ahli makrifat berkata:”Wafā’ adalah tetap bersama Allah, baik ketika nikmat datang maupun ketika musibah menimpa.” Banyak orang mengingat Allah ketika senang.
Banyak pula yang mengingat Allah ketika susah. Tetapi hanya sedikit yang tetap setia kepada Allah dalam seluruh keadaan. Imam Husain as adalah puncak maqam wafā’.

Hakikat Jihad. Menurut ahli irfan, jihad terbesar adalah: melawan hawa nafsu. Jihad Karbala merupakan pancaran dari kemenangan Imam Husain as atas dirinya sendiri.
Karena orang yang belum menang melawan dirinya tidak akan mampu berdiri teguh menghadapi kezaliman.

Hakikat Yaqin. Dalam tasawuf dan irfan dikenal tiga tingkatan yakin:
1. ’Ilmul Yaqīn
Keyakinan melalui ilmu.
2. ’Aynul Yaqīn
Keyakinan melalui penyaksian.
3. Ḥaqqul Yaqīn
Keyakinan melalui penyatuan pengalaman dengan kebenaran.
Para arif menjelaskan bahwa Imam Husain a.s. mencapai puncak ḥaqqul yaqīn, karena seluruh hidup beliau menjadi penyaksian terhadap Allah.

Menurut Ahli Hakikat. Para ahli hakikat berkata: Imam Husain as tidak menunggu kematian. Beliau menyambut perjumpaan dengan Allah. Karena bagi para kekasih Allah, kematian bukan akhir perjalanan.
Ia adalah awal pertemuan dengan Yang Maha Dicintai. Sebagaimana Imam Ali a.s. berkata:
فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ
“Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung.” Demikian pula syahadah Imam Husain adalah kemenangan ruhani, bukan kekalahan.

Kisah dan Ibrah. 
Pada malam Asyura, Imam Husain a.s. mengumpulkan para sahabatnya. 
Beliau memadamkan lampu dan berkata bahwa musuh hanya menginginkan dirinya.
Beliau mempersilakan siapa saja untuk pergi tanpa rasa malu.
Namun para sahabat menjawab dengan penuh kesetiaan bahwa mereka tidak akan meninggalkan beliau, bahkan jika harus terbunuh berkali-kali. Peristiwa ini menjadi gambaran indah tentang makna wafā’ (kesetiaan) antara Imam dan para pengikutnya.

Pelajaran Ruhani;
Kalimat ini mengajarkan agar kita:
* menepati janji kepada Allah;
* istiqamah dalam ibadah hingga akhir hayat;
* tetap setia kepada kebenaran meskipun harus menghadapi kesulitan;
* menjadikan setiap ujian sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah.

Renungan: Ketika membaca:
وَفَيْتَ بِعَهْدِ اللَّهِ
bertanyalah kepada diri sendiri:
“Apakah aku telah memenuhi janjiku kepada Allah ketika mengucapkan syahadat, melaksanakan salat, dan menjalankan amanah hidup?”
Dan ketika membaca:
حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِينُ
ingatlah bahwa kehidupan seorang mukmin bukanlah perlombaan sesaat.
Ia adalah perjalanan panjang menuju Allah. Imam Husain a.s. mengajarkan bahwa kesetiaan tidak berhenti ketika ujian datang. Kesetiaan terus hidup hingga napas terakhir. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menepati janji-Nya, berjihad melawan hawa nafsu, istiqamah di jalan kebenaran, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah bersama Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait a.s.  Bersambung ……


Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Doa Pendek untuk Semua Penyakit