1) Doa Makarimal Akhlaq (1-5) doa ke-20 dari Sahifah Sajjadiyah

Doa Makarim al-Akhlaq (مَكَارِمُ الْأَخْلَاقِ) adalah Doa ke-20 al-Ṣaḥīfah al-Sajjādiyyah, yang dinisbahkan kepada Imam Ali Zayn al-Abidin عليه السلام. 

Dibagi menjadi 5 bagian tematik; 

BAGIAN 1 — IMAN, NIAT, YAKIN, DAN AKHLAK MULIA

دُعَاءُ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ

Doa Makarim al-Akhlaq — Bagian 1

1. Shalawat kepada Nabi dan Ahlulbait

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.

Makrifat: Akhlak mulia dalam doa Imam Sajjad dimulai dengan Muhammad ﷺ dan Ahlulbaitnya, karena kesempurnaan akhlak bukan hanya hasil usaha jiwa, tetapi karunia Allah yang dicari melalui jalan insan-insan pilihan-Nya.

2. Menyempurnakan iman

وَبَلِّغْ بِإِيمَانِي أَكْمَلَ الْإِيمَانِ

Wa balligh bi-īmānī akmala al-īmān.

Sampaikanlah imanku kepada iman yang paling sempurna.

Makrifat: Iman mempunyai tingkatan. Tujuannya bukan sekadar percaya, tetapi mencapai iman yang melahirkan keyakinan, kesabaran, tawakal, cinta kepada Allah, dan amal yang benar.

Hakikat: Iman yang sempurna adalah ketika hati mengenal Allah, lisan membenarkan-Nya, dan anggota badan tunduk kepada-Nya.

3. Menyempurnakan keyakinan

وَاجْعَلْ يَقِينِي أَفْضَلَ الْيَقِينِ

Waj‘al yaqīnī afḍala al-yaqīn.

Jadikanlah keyakinanku sebaik-baik keyakinan.

Makrifat: Yakin bukan hanya mengetahui bahwa Allah ada, tetapi bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.

Hakikat: Semakin kuat yakin, semakin kecil ketakutan kepada makhluk dan semakin besar ketergantungan kepada Allah.

4. Menyempurnakan niat dan amal

وَانْتَهِ بِنِيَّتِي إِلَىٰ أَحْسَنِ النِّيَّاتِ 

وَبِعَمَلِي إِلَىٰ أَحْسَنِ الْأَعْمَالِ

Wantahi bi-niyyatī ilā aḥsani an-niyyāt, wa bi-‘amalī ilā aḥsani al-a‘māl.

Arahkanlah niatku kepada sebaik-baik niat dan amalanku kepada sebaik-baik amal.

Makrifat: Imam mengajarkan dua kesempurnaan:

1. Niat yang bersih.

2. Amal yang benar.

Niat tanpa amal belum sempurna, sedangkan amal tanpa niat yang ikhlas kehilangan ruhnya.

Hakikat: Allah tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi juga untuk siapa kita melakukannya.

5. Memperbanyak dan menyuburkan niat baik

اَللّٰهُمَّ وَفِّرْ بِلُطْفِكَ نِيَّتِي

Allāhumma waffir bi-luṭfika niyyatī.

Ya Allah, sempurnakanlah dan suburkanlah niatku dengan kelembutan-Mu.

Makrifat: Niat yang baik membutuhkan pertolongan Allah. Manusia dapat berniat baik, tetapi Allah-lah yang menjaga dan menumbuhkannya.

6. Membenarkan keyakinan

وَصَحِّحْ بِمَا عِنْدَكَ يَقِينِي

Wa ṣaḥḥiḥ bimā ‘indaka yaqīnī.

Benarkanlah keyakinanku dengan apa yang ada di sisi-Mu.

Makrifat: Ukuran kebenaran bukan semata-mata perasaan manusia. Keyakinan harus disandarkan kepada Allah, wahyu, dan kebenaran yang Dia tetapkan.

7. Memperbaiki kerusakan diri

وَاسْتَصْلِحْ بِقُدْرَتِكَ مَا فَسَدَ مِنِّي

Wastaṣliḥ bi-qudratika mā fasada minnī.

Perbaikilah dengan kekuasaan-Mu apa yang telah rusak dalam diriku.

Makrifat: Ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa ia tidak mampu memperbaiki dirinya secara sempurna tanpa pertolongan Allah.

Hakikat: Kesadaran terhadap kelemahan diri bukan kehinaan; justru menjadi pintu ubudiyyah.

8. Memohon kecukupan dari segala kesibukan yang tidak perlu

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ 

وَاكْفِنِي مَا يَشْغَلُنِي الِاهْتِمَامُ بِهِ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wakfinī mā yashghalunī al-ihtimāmu bih.

Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan cukupkanlah aku dari perkara-perkara yang menyibukkanku sehingga terlalu memperhatikannya.

Makrifat: Tidak semua yang memenuhi pikiran layak memenuhi hati. Imam memohon agar hati tidak diperbudak oleh urusan dunia yang berlebihan.

9. Menggunakan hidup untuk sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan

وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا تَسْأَلُنِي غَدًا عَنْهُ

Wasta‘milnī bimā tas’alunī ghadan ‘anh.

Gunakanlah aku untuk perkara yang kelak Engkau tanyakan kepadaku.

Makrifat: Pertanyaan terbesar kehidupan adalah: untuk apa umur digunakan? Setiap kemampuan, waktu, harta, ilmu dan kedudukan akan menjadi amanah.

10. Menghabiskan umur untuk tujuan penciptaan

وَاسْتَفْرِغْ أَيَّامِي فِيمَا خَلَقْتَنِي لَهُ

Wastafrig ayyāmī fīmā khalaqtanī lah. Habiskanlah hari-hariku untuk apa yang Engkau menciptakanku untuknya.

Makrifat: Manusia tidak diciptakan tanpa tujuan. Seluruh kehidupan diarahkan kepada penghambaan dan pengenalan kepada Allah.

11. Memohon kecukupan dan keluasan rezeki

وَأَغْنِنِي وَأَوْسِعْ عَلَيَّ فِي رِزْقِكَ

Wa aghninī wa awsi‘ ‘alayya fī rizqik.

Cukupkanlah aku dan luaskanlah rezekiku.

Makrifat: Kekayaan yang diminta bukan sekadar banyaknya harta, tetapi kecukupan yang menjaga kehormatan dan memungkinkan seseorang beribadah serta berbuat baik.

12. Jangan diuji dengan pandangan kepada kelebihan orang lain

وَلَا تَفْتِنِّي بِالنَّظَرِ

Wa lā taftinnī bin-naẓar.

Janganlah Engkau mengujiku dengan pandangan (kepada apa yang dimiliki orang lain).

Makrifat: Pandangan yang tidak dijaga dapat melahirkan perbandingan, iri, tamak dan ketidakpuasan.

Hakikat: Syukur dimulai ketika mata melihat nikmat Allah, bukan hanya kekurangan diri.

13. Kemuliaan tanpa kesombongan

وَأَعِزَّنِي وَلَا تَبْتَلِيَنِّي بِالْكِبْرِ

Wa a‘izzanī wa lā tabtaliniy bil-kibr.

Muliakanlah aku dan jangan Engkau mengujiku dengan kesombongan.

Makrifat: Kemuliaan adalah nikmat; kibr adalah penyakit yang dapat muncul setelah mendapatkan nikmat.

14. Menjadi hamba Allah

وَعَبِّدْنِي لَكَ وَلَا تُفْسِدْ عِبَادَتِي بِالْعُجْبِ

Wa ‘abbidnī laka wa lā tufsid ‘ibādatī bil-‘ujb. Jadikanlah aku hamba-Mu dan jangan rusakkan ibadahku dengan ujub.

Makrifat: Ujub adalah merasa kagum terhadap amal diri sendiri. Orang yang benar-benar mengenal Allah akan melihat bahwa kemampuan beribadah itu sendiri adalah karunia Allah.

15. Menjadi jalan kebaikan bagi manusia

وَأَجْرِ لِلنَّاسِ عَلَىٰ يَدِيَ الْخَيْرَ 

وَلَا تَمْحَقْهُ بِالْمَنِّ

Wa ajri lin-nāsi ‘alā yadiyal-khayra wa lā tamḥaqhu bil-mann.

Alirkanlah kebaikan kepada manusia melalui tanganku, dan jangan Engkau hapus kebaikan itu dengan menyebut-nyebut pemberian.

Makrifat: Tangan seorang mukmin seharusnya menjadi jalan mengalirnya rahmat Allah. Sedekah, pertolongan dan jasa dapat rusak nilainya apabila diikuti dengan mann—mengungkit-ungkit pemberian.

16. Memohon akhlak yang tinggi

وَهَبْ لِي مَعَالِيَ الْأَخْلَاقِ

Wa hab lī ma‘āliyal-akhlāq.

Anugerahkanlah kepadaku akhlak-akhlak yang luhur.

Makrifat: Inilah inti doa Makarim al-Akhlaq: bukan hanya meminta harta, kedudukan atau keberhasilan, tetapi meminta agar jiwa memiliki akhlak yang tinggi.

Hakikat: Akhlak mulia adalah ketika seseorang memperlakukan makhluk dengan baik karena ia ingin mendapatkan ridha Sang Khāliq.

17. Terlindung dari membanggakan diri:    وَاعْصِمْنِي مِنَ الْفَخْرِ

Wa‘ṣimnī minal-fakhr.

Lindungilah aku dari membanggakan diri. Makrifat: Fakhr membuat manusia melihat kelebihan dirinya dan melupakan bahwa semua kelebihan itu berasal dari Allah.

18. Semakin tinggi di mata manusia, semakin rendah di mata diri

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

وَلَا تَرْفَعَنِّي فِي النَّاسِ دَرَجَةً 

إِلَّا حَطَطْتَنِي عِنْدَ نَفْسِي مِثْلَهَا

Wa lā tarfa‘nī fin-nāsi darajatan illā ḥaṭaṭtanī ‘inda nafsī mithlahā.

Janganlah Engkau meninggikan kedudukanku di tengah manusia satu derajat pun, kecuali Engkau menurunkan kedudukanku dalam pandangan diriku sendiri dengan kadar yang sama. Makrifat: Ini adalah keseimbangan yang sangat tinggi:

Naik di mata manusia → turun di mata ego. Semakin seseorang dihormati, semakin ia menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba Allah.

19. Kemuliaan lahir disertai kerendahan batin

وَلَا تُحْدِثْ لِي عِزًّا ظَاهِرًا 

إِلَّا أَحْدَثْتَ لِي ذِلَّةً بَاطِنَةً عِنْدَ نَفْسِي بِقَدَرِهَا

Wa lā tuḥdith lī ‘izzan ẓāhiran illā aḥdatha lī dhillatan bāṭinatan ‘inda nafsī bi-qadarihā.

Janganlah Engkau memberikan kepadaku kemuliaan lahiriah kecuali Engkau memberikan pula kerendahan hati batin dalam diriku dengan kadar yang sama. Makrifat: Imam tidak meminta agar manusia merendahkannya. Beliau meminta agar ego dirinya tetap rendah meskipun kedudukannya tinggi.

Hakikat: Inilah tawāḍu‘: tinggi kedudukan tidak membuat tinggi hati. 

Inti Bagian 1: Imam Sajjad as sedang membangun akhlak dari dalam: 

iman → yakin → niat → amal → kecukupan → ikhlas → tawadhu‘ → menjadi jalan kebaikan. Ini adalah fondasi sebelum memasuki akhlak sosial pada bagian berikutnya.

Jika dilanjutkan, Bagian 2 akan dimulai dari:

وَمَتِّعْنِي بِهُدًى صَالِحٍ…

hingga permohonan agar Allah mengganti kebencian dengan cinta, kedengkian dengan kasih sayang, prasangka dengan kepercayaan, dan permusuhan dengan wilayah/persahabatan. Bersambung ….


Semoga bermanfaat!!!!

Mohon Doa !!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Makna ; Doa Mustajab Imam Husein as di Karbala;بِحَقِّ يس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ، وَبِحَقِّ طه وَالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ…