3) Doa Makarimal Akhlaq (1-5) doa ke-20 dari Sahifah Sajjadiyah
🌺❤️🌹(3) Doa Makarimal Akhlaq (1-5) doa ke-20 dari Sahifah Sajjadiyah❤️🌹🌺
Bagian 3 dari 5, dimulai dari permohonan agar mampu membalas keburukan dengan kebaikan, kemudian masuk ke hiasan orang saleh dan akhlak sosial.
🌿 DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ — BAGIAN 3
Membalas keburukan dengan kebaikan & menghiasi diri dengan akhlak orang bertakwa
47. Membalas penipuan dengan nasihat
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وَسَدِّدْنِي لِأَنْ أُعَارِضَ مَنْ غَشَّنِي بِالنُّصْحِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa saddidnī li-an u‘āriḍa man ghashshanī bin-nuṣḥ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan luruskanlah aku agar membalas orang yang menipuku dengan nasihat.
Makrifat: Akhlak mulia tidak berarti membiarkan penipuan. Namun balasannya bukan harus penipuan pula. Imam mengajarkan mengubah keburukan menjadi kesempatan untuk memperbaiki.
48. Membalas orang yang menjauh dengan kebajikan
وَأَجْزِيَ مَنْ هَجَرَنِي بِالْبِرِّ
Wa ajziya man hajaranī bil-birr.
Dan membalas orang yang menjauhiku dengan kebajikan.
Makrifat: Hijrān dibalas dengan birr. Jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan akhlak kita.
Hakikat: Kebaikan yang paling tinggi adalah tetap baik ketika orang lain tidak baik kepada kita.
49. Membalas orang yang tidak memberi dengan memberi
وَأُثِيبَ مَنْ حَرَمَنِي بِالْبَذْلِ
Wa uthība man ḥaramanī bil-badhl.
Dan memberi kepada orang yang tidak memberiku.
Makrifat: Imam mengajarkan agar kemurahan hati tidak bergantung pada perlakuan manusia.
50. Menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan
وَأُكَافِيَ مَنْ قَطَعَنِي بِالصِّلَةِ
Wa ukāfiya man qaṭa‘anī biṣ-ṣilah.
Dan membalas orang yang memutuskan hubungan denganku dengan menyambung hubungan.
Makrifat: Inilah ṣilat ar-raḥim dalam bentuk yang tinggi: hubungan tidak hanya dijaga ketika kedua pihak saling menyukai.
51. Membalas ghibah dengan menyebut kebaikan
وَأُخَالِفَ مَنِ اغْتَابَنِي إِلَىٰ حُسْنِ الذِّكْرِ
Wa ukhālifa mani’ghtābanī ilā ḥusni adh-dhikr.
Dan aku menyelisihi orang yang menggunjingku dengan menyebutnya dengan kebaikan.
Makrifat: Jika seseorang membicarakan keburukan kita di belakang, kita tidak perlu membalas dengan membuka keburukannya.
Hakikat: Lisan yang sudah dibersihkan tidak menjadikan ghibah orang lain sebagai alasan untuk melakukan ghibah.
52. Mensyukuri kebaikan
وَأَنْ أَشْكُرَ الْحَسَنَةَ
Wa an asykura al-ḥasanah.
Dan agar aku mensyukuri kebaikan.
Makrifat: Syukur adalah mengenali kebaikan sebagai nikmat Allah yang sampai kepada kita melalui tangan manusia.
53. Memaafkan keburukan
وَأُغْضِيَ عَنِ السَّيِّئَةِ
Wa ughḍiya ‘ani as-sayyi’ah.
Dan agar aku memejamkan mata terhadap keburukan.
Makrifat: Tidak semua kesalahan harus dibalas atau dibesar-besarkan.
Ughḍ berarti memilih untuk tidak mempertajam kesalahan yang masih dapat dimaafkan.
🌸 HIASAN ORANG SALEH
54. Berhias dengan akhlak orang saleh
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وَحَلِّنِي بِحِلْيَةِ الصَّالِحِينَ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa ḥallinī bi-ḥilyati aṣ-ṣāliḥīn.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan hiasilah aku dengan perhiasan orang-orang saleh.
Makrifat: Perhiasan sejati seorang mukmin bukan pakaian, harta atau kedudukan, tetapi akhlak dan ketakwaannya.
55. Hiasan orang bertakwa
وَأَلْبِسْنِي زِينَةَ الْمُتَّقِينَ
Wa albisnī zīnata al-muttaqīn.
Pakaikanlah kepadaku perhiasan orang-orang bertakwa. Kemudian Imam menjelaskan bentuk perhiasan itu.
56. Menegakkan keadilan
فِي بَسْطِ الْعَدْلِ Fī basṭil-‘adl
Dalam menegakkan keadilan.
Makrifat: Akhlak bukan hanya lembut kepada orang yang kita cintai. Akhlak juga berarti adil kepada orang yang kita tidak sukai.
57. Menahan amarah
وَكَظْمِ الْغَيْظِ
Wa kaẓmil-ghayẓ.
Dan menahan amarah.
Makrifat: Kaẓm al-ghayẓ bukan berarti tidak pernah marah, tetapi mampu mengendalikan marah agar tidak berubah menjadi kezaliman.
58. Memadamkan api permusuhan
وَإِطْفَاءِ النَّائِرَةِ
Wa iṭfā’in-nā’irah.
Dan memadamkan api permusuhan.
Makrifat: Orang bertakwa bukan penyulut konflik. Ia menjadi pemadam fitnah dan pertengkaran.
59. Mendekatkan orang yang berpecah
وَضَمِّ أَهْلِ الْفُرْقَةِ
Wa ḍammi ahli al-furqah.
Dan merangkul orang-orang yang terpecah.
Makrifat: Tangan mukmin adalah tangan yang mengumpulkan, bukan memecah.
60. Mendamaikan pihak yang berselisih
وَإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ
Wa iṣlāḥi dhāti al-bayn.
Dan memperbaiki hubungan di antara pihak-pihak yang berselisih.
Makrifat: Iṣlāḥ dhāt al-bayn adalah usaha menyembuhkan hubungan manusia.
61. Menyebarkan kebaikan yang diketahui
وَإِفْشَاءِ الْعَارِفَةِ
Wa ifshā’il-‘ārifah.
Dan menyebarkan kebaikan yang telah diketahui.
Makrifat: Ilmu dan kebaikan jangan disimpan hanya untuk diri sendiri. Sebarkan manfaat yang benar.
62. Menutupi aib
وَسَتْرِ الْعَائِبَةِ
Wa satril-‘ā’ibah.
Dan menutupi aib.
Makrifat: Menutup aib bukan berarti membenarkan kemungkaran. Maknanya adalah tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan mempermalukannya.
63. Lemah lembut perangai
وَلِينِ الْعَرِيكَةِ
Wa līnil-‘arīkah.
Dan kelembutan perangai.
Makrifat: Akhlak yang lembut membuat ilmu dapat diterima dan nasihat dapat masuk ke hati.
64. Merendahkan sayap
وَخَفْضِ الْجَنَاحِ
Wa khafḍil-janāḥ.
Dan merendahkan sayap.
Makrifat: Ini adalah gambaran tawāḍu‘: tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.
65. Baiknya perjalanan hidup
وَحُسْنِ السِّيرَةِ
Wa ḥusnis-sīrah.
Dan baiknya perilaku dalam kehidupan.
Makrifat: Akhlak bukan hanya saat berada di masjid. Sīrah berarti bagaimana seseorang menjalani seluruh kehidupannya.
66. Ketenangan
وَسُكُونِ الرِّيحِ
Wa sukūnir-rīḥ.
Dan ketenangan diri.
Makrifat: Hati yang dekat dengan Allah tidak mudah diguncangkan oleh pujian, celaan, keuntungan atau kerugian.
67. Baiknya pergaulan
وَطِيبِ الْمُخَالَقَةِ
Wa ṭībil-mukhālaqah.
Dan baiknya pergaulan dengan manusia.
Makrifat: Kesalehan yang sejati terlihat dari cara kita memperlakukan manusia.
68. Berlomba dalam kebajikan
وَالسَّبْقِ إِلَى الْفَضِيلَةِ
Was-sabqi ilal-faḍīlah.
Dan bersegera menuju keutamaan.
Makrifat: Jangan menunggu orang lain berbuat baik terlebih dahulu. Jadilah yang pertama memulai kebaikan.
69. Mendahulukan kemurahan hati
وَإِيثَارِ التَّفَضُّلِ
Wa īthārit-tafaḍḍul.
Dan mengutamakan kemurahan hati.
Makrifat: Tafaddul berarti memberikan kebaikan melebihi sekadar kewajiban.
70. Tidak mencela
وَتَرْكِ التَّعْيِيرِ
Wa tarkit-ta‘yīr.
Dan meninggalkan celaan.
Makrifat: Jangan menggunakan kelemahan masa lalu seseorang untuk merendahkannya.
71. Berbuat baik bahkan kepada yang belum layak menerimanya
وَالْإِفْضَالِ عَلَىٰ غَيْرِ الْمُسْتَحِقِّ
Wal-ifḍāli ‘alā ghayril-mustaḥiq.
Dan berbuat baik bahkan kepada orang yang belum layak menerimanya.
Makrifat: Ini tingkat ihsan yang tinggi: kebaikan tidak selalu menunggu balasan atau kelayakan dari penerimanya.
Namun dalam penerapannya, kebajikan tetap harus dilakukan dengan hikmah dan tidak menjadi sarana membantu kezaliman.
72. Mengatakan kebenaran walaupun berat
وَالْقَوْلِ بِالْحَقِّ وَإِنْ عَزَّ
Wal-qawli bil-ḥaqqi wa in ‘azz.
Dan mengatakan kebenaran meskipun terasa berat.
Makrifat: Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sulit diterima.
Hakikat: Seorang mukmin memilih ridha Allah daripada tepuk tangan manusia.
73. Menganggap kecil kebaikan diri
وَاسْتِقْلَالِ الْخَيْرِ وَإِنْ كَثُرَ مِنْ قَوْلِي وَفِعْلِي
Wastiqlālil-khayri wa in kathura min qawlī wa fi‘lī.
Dan menganggap kecil kebaikan yang keluar dari perkataan dan perbuatanku meskipun banyak.
Makrifat: Bukan berarti meremehkan nikmat Allah. Maksudnya adalah jangan merasa hebat karena amal sendiri. Semakin banyak amal, semakin besar rasa syukur kepada Allah.
74. Menganggap besar keburukan walaupun sedikit
وَاسْتِكْثَارِ الشَّرِّ وَإِنْ قَلَّ مِنْ قَوْلِي وَفِعْلِي
Wastikthārisy-syarri wa in qalla min qawlī wa fi‘lī.
Dan menganggap besar keburukan meskipun sedikit dari perkataan dan perbuatanku.
Makrifat: Jangan berkata, “Ini hanya dosa kecil.” Orang yang mengenal kebesaran Allah akan berhati-hati terhadap setiap dosa, karena yang dilihat bukan hanya kecil-besarnya perbuatan, tetapi kepada siapa kita bermaksiat.
🌺 MENYEMPURNAKAN AKHLAK DENGAN ISTIQAMAH
75. Kesempurnaan dengan ketaatan terus-menerus
وَأَكْمِلْ ذٰلِكَ لِي بِدَوَامِ الطَّاعَةِ
Wa akmil dhālika lī bidawāmiṭ-ṭā‘ah.
Sempurnakanlah semua itu bagiku dengan ketaatan yang terus-menerus.
Makrifat: Akhlak bukan hasil satu amal besar. Ia lahir dari ketaatan yang terus-menerus.
76. Tetap bersama jamaah kebaikan
وَلُزُومِ الْجَمَاعَةِ
Wa luzūmil-jamā‘ah.
Dan dengan tetap bersama jamaah.
Makrifat: Manusia membutuhkan lingkungan yang membantu menjaga iman, ilmu, amal dan akhlak.
77. Menjauhi bid‘ah dan pendapat yang dibuat-buat
وَرَفْضِ أَهْلِ الْبِدَعِ
وَمُسْتَعْمِلِ الرَّأْيِ الْمُخْتَرَعِ
Wa rafḍi ahlil-bida‘i
wa musta‘mirir-ra’yil-mukhtara‘.
Dan menolak jalan orang-orang yang mengada-adakan bid‘ah serta orang yang menggunakan pendapat yang dibuat-buat.
Makrifat: Imam Sajjad mengingatkan bahwa akhlak mulia harus berdiri di atas kebenaran, bukan sekadar perasaan baik.
🌹 Inti Makrifat Bagian 3
Bagian ini memberikan tangga akhlak:
غَشّ → نُصْح
Penipuan → nasihat
هَجْر → بِرّ
Dijauhi → kebajikan
حِرْمَان → بَذْل
Tidak diberi → memberi
قَطِيعَة → صِلَة
Diputus → menyambung
غِيبَة → حُسْنُ الذِّكْر
Digunjing → menyebut kebaikan
غَضَب → كَظْم
Marah → menahan diri
فُرْقَة → إِصْلَاح
Perpecahan → perdamaian
كِبْر → خَفْضُ الْجَنَاح
Kesombongan → tawadhu‘
قِلَّةُ الْخَيْر → الْمُبَادَرَةُ
Tidak menunggu → bersegera dalam kebaikan
وَكَثْرَةُ الْعَمَل → قِلَّةُ الْإِعْجَابِ بِالنَّفْس
Banyak amal → semakin tidak kagum kepada diri sendiri.
Inilah salah satu inti Makarim al-Akhlaq: orang yang benar-benar ingin dekat kepada Allah tidak hanya meninggalkan keburukan, tetapi mengubah keburukan yang diterimanya menjadi kebaikan yang ia keluarkan. Bersambung…
Semoga Bermanfaat!!!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment