4) Doa Makarimal Akhlaq (Bagian 4/5) ; Doa ke-20 dari Sahifah Sajjadiyah

Bagian 4 dari 5. 
Bagian ini sangat kaya dengan tema rezeki, ketergantungan hanya kepada Allah, menjaga kehormatan, kesehatan untuk beribadah, ilmu, wara‘, dan penutup kehidupan dengan ampunan Allah.

🌿 DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ — BAGIAN 4
Rezeki, kehormatan, ibadah, ilmu, wara‘, dan husnul khatimah

78. Rezeki luas ketika usia bertambah
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ 
وَاجْعَلْ أَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ إِذَا كَبِرْتُ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, waj‘al awsa‘a rizqika ‘alayya idhā kibirtu.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan jadikanlah rezeki-Mu yang paling luas bagiku ketika aku telah lanjut usia.
Makrifat: Imam mengajarkan bahwa semakin tua seseorang, semakin besar kebutuhannya kepada karunia dan pertolongan Allah.
Rezeki bukan hanya uang, tetapi kesehatan, keluarga, ilmu, ketenangan dan kesempatan beribadah.

79. Kekuatan ketika tubuh melemah
وَأَقْوَىٰ قُوَّتِكَ فِيَّ إِذَا نَصِبْتُ
Wa aqwā quwwatika fiyya idhā naṣibtu.
Dan berikanlah kekuatan-Mu yang paling kuat dalam diriku ketika aku telah lemah dan letih.
Makrifat: Ketika kekuatan manusia berkurang, kekuatan Allah tidak pernah berkurang.
Hakikat: Kelemahan jasmani dapat menjadi jalan menuju kekuatan ruhani, karena seorang hamba semakin sadar akan kebutuhan kepada Allah.

80. Jangan malas beribadah
وَلَا تَبْتَلِيَنِّي بِالْكَسَلِ عَنْ عِبَادَتِكَ
Wa lā tabtaliniy bil-kasali ‘an ‘ibādatik.
Janganlah Engkau mengujiku dengan kemalasan dari beribadah kepada-Mu.
Makrifat: Salah satu penyakit hati adalah mengetahui kebaikan tetapi tidak memiliki semangat untuk melakukannya.

81. Jangan buta dari jalan Allah
وَلَا الْعَمَىٰ عَنْ سَبِيلِكَ
Wa lā al-‘amā ‘an sabīlik.
Dan janganlah Engkau mengujiku dengan kebutaan terhadap jalan-Mu.
Makrifat: Kebutaan yang paling berbahaya bukan kebutaan mata, tetapi hati yang tidak lagi mampu melihat jalan menuju Allah.

82. Jangan menentang kecintaan Allah
وَلَا بِالتَّعَرُّضِ لِخِلَافِ مَحَبَّتِكَ
Wa lā bit-ta‘arruḍi li-khilāfi maḥabbatik.
Dan janganlah Engkau mengujiku dengan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang Engkau cintai.
Makrifat: Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan memilih apa yang Dia cintai.

83. Jangan berkawan dengan orang yang menjauh dari Allah
وَلَا مُجَامَعَةِ مَنْ تَفَرَّقَ عَنْكَ
Wa lā mujāma‘ati man taffarraqa ‘ank.
Dan janganlah aku bergaul erat dengan orang yang menjauh dari-Mu.
Makrifat: Lingkungan sangat memengaruhi hati. Persahabatan seharusnya membantu seseorang mengingat Allah, bukan melupakannya.

84. Jangan meninggalkan orang yang menuju Allah
وَلَا مُفَارَقَةِ مَنِ اجْتَمَعَ إِلَيْكَ
Wa lā mufāraqati manijtama‘a ilayk.
Dan janganlah aku meninggalkan orang yang berkumpul menuju-Mu.
Makrifat: Jangan meninggalkan orang-orang yang membantu kita dalam ketaatan, ilmu, zikir dan jalan kebenaran.

🤲 HANYA ALLAH TEMPAT BERSANDAR
85. Mengandalkan Allah saat darurat
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي أَصُولُ بِكَ عِنْدَ الضَّرُورَةِ
Allāhumma aj‘alnī aṣūlu bika ‘indaḍ-ḍarūrah.
Ya Allah, jadikanlah aku berlindung dan mendapatkan kekuatan melalui-Mu ketika dalam keadaan darurat.
Makrifat: Saat keadaan terjepit, jangan sampai hati pertama-tama bergantung kepada makhluk. Allah adalah sumber kekuatan.

86. Memohon kepada Allah ketika membutuhkan
وَأَسْأَلُكَ عِنْدَ الْحَاجَةِ
Wa as’aluka ‘indal-ḥājah.
Dan menjadikan-Mu tempat meminta ketika aku membutuhkan.
Makrifat: Meminta kepada manusia boleh dalam perkara yang memang berada dalam kemampuan mereka, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.

87. Merendahkan diri kepada Allah ketika susah
وَأَتَضَرَّعُ إِلَيْكَ عِنْدَ الْمَسْكَنَةِ
Wa ataḍarra‘u ilaika ‘indal-mask anah.
Dan aku merendahkan diri kepada-Mu ketika berada dalam kesusahan.
Makrifat: Kesulitan dapat menjadi pintu tadharru‘, yaitu hati yang benar-benar merasa membutuhkan Allah.

88. Jangan terpaksa bergantung kepada selain Allah
وَلَا تَفْتِنِّي بِالِاسْتِعَانَةِ بِغَيْرِكَ إِذَا اضْطُرِرْتُ
Wa lā taftinnī bil-isti‘ānati bighairika idhāḍṭurirtu.
Janganlah Engkau mengujiku dengan meminta pertolongan kepada selain-Mu ketika aku berada dalam keadaan terpaksa.
Makrifat: Yang dimohon bukan berarti menolak bantuan manusia, tetapi agar hati tidak menjadikan manusia sebagai tempat bergantung mutlak.

89. Menjaga kehormatan ketika miskin
وَلَا بِالْخُضُوعِ لِسُؤَالِ غَيْرِكَ إِذَا افْتَقَرْتُ
Wa lā bil-khuḍū‘i lisu’āli ghairika idhā iftaqartu.
Dan janganlah Engkau mengujiku dengan merendahkan diri meminta kepada selain-Mu ketika aku dalam kekurangan.
Makrifat: Kemiskinan tidak boleh membuat seorang hamba kehilangan izzah. Ia boleh meminta bantuan secara terhormat, tetapi kehinaan hati hanya kepada Allah.

90. Jangan takut kepada selain Allah
وَلَا بِالتَّضَرُّعِ إِلَىٰ مَنْ دُونَكَ إِذَا رَهِبْتُ
Wa lā bit-taḍarru‘i ilā man dūnaka idhā rahibtu.
Dan janganlah aku merendahkan diri kepada selain-Mu ketika aku merasa takut.
Makrifat: Ketakutan yang paling dalam harus diarahkan kepada Allah. Makhluk hanyalah sebab; Allah adalah Penguasa segala sebab.

91. Jangan sampai kehilangan pertolongan Allah
فَأَسْتَحِقَّ بِذٰلِكَ خِذْلَانَكَ وَمَنْعَكَ وَإِعْرَاضَكَ
Fa-astaḥiqqa bidhālika khidhlānaka wa man‘aka wa i‘rāḍak.
Sehingga dengan demikian aku menjadi layak mendapatkan pengabaian-Mu, pencegahan-Mu, dan berpalingnya-Mu dariku.
Makrifat: Imam sangat takut kehilangan ‘ināyah Allah. Sebab itu ia memohon agar dalam setiap keadaan, hatinya tetap kembali kepada Allah.

92. Seruan kepada Allah
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Yā Arḥamar-Rāḥimīn.
Wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi.
Makrifat: Pada akhirnya seorang hamba tidak bergantung pada amalnya sendiri, tetapi pada rahmat Allah.

🧠 MENGUBAH BISIKAN SETAN MENJADI ZIKIR

93. Mengubah angan-angan buruk menjadi ingatan kepada Allah
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِي رُوعِي مِنَ التَّمَنِّي وَالتَّظَنِّي وَالْحَسَدِ ذِكْرًا لِعَظَمَتِكَ
Allāhummaj‘al mā yulqī asy-syayṭānu fī rū‘ī minat-tamannī wat-taẓannī wal-ḥasadi dhikran li‘aẓamatik.
Ya Allah, jadikanlah apa yang dilemparkan setan ke dalam batinku berupa angan-angan, prasangka dan kedengkian sebagai pengingat akan kebesaran-Mu.
Makrifat: Ini sangat dalam: Imam tidak hanya meminta agar godaan hilang, tetapi agar godaan itu justru menjadi pintu kembali kepada Allah.

94. Mengubah godaan menjadi tafakkur
وَتَفَكُّرًا فِي قُدْرَتِكَ
Wa tafakkuran fī qudratik.
Dan menjadi renungan tentang kekuasaan-Mu.
Makrifat: Ketika muncul pikiran yang mengganggu, seorang mukmin dapat mengalihkannya kepada tafakkur tentang kekuasaan Allah.

95. Mengubah gangguan menjadi strategi melawan musuh
وَتَدْبِيرًا عَلَىٰ عَدُوِّكَ
Wa tadbīran ‘alā ‘aduwwik.
Dan menjadi perencanaan untuk menghadapi musuh-Mu.
Makrifat: Musuh terbesar manusia adalah segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah, terutama syaitan dan hawa nafsu.

👅 MENJAGA LISAN
96. Mengganti ucapan buruk dengan pujian
وَمَا أَجْرَىٰ عَلَىٰ لِسَانِي مِنْ لَفْظَةِ فُحْشٍ 
أَوْ هُجْرٍ أَوْ شَتْمِ عِرْضٍ
Wa mā ajrā ‘alā lisānī min lafẓati fuḥshin aw hujrin aw syatmi ‘irḍ.
Apa pun ucapan keji, buruk, atau celaan terhadap kehormatan seseorang yang mengalir dari lisanku
Makrifat: Lisan dapat menjadi pintu pahala atau pintu dosa. Imam meminta agar ucapan yang buruk diganti dengan ucapan yang suci.

97. Tidak memberikan kesaksian palsu
أَوْ شَهَادَةِ بَاطِلٍ
Aw syahādati bāṭil.
Atau kesaksian yang batil.
Makrifat: Kesaksian palsu bukan sekadar dosa lisan; ia dapat menghancurkan hak orang lain.

98. Tidak menggunjing mukmin
أَوِ اغْتِيَابِ مُؤْمِنٍ غَائِبٍ
Awightiyābi mu’minin ghā’ib.
Atau menggunjing seorang mukmin yang tidak hadir.
Makrifat: Menjaga kehormatan saudara ketika ia tidak ada merupakan tanda amanah dan kemuliaan akhlak.

99. Tidak mencaci orang yang hadir
أَوْ سَبِّ حَاضِرٍ
Aw sabbi ḥāḍir.
Atau mencaci orang yang hadir.
Makrifat: Bahkan ketika seseorang berada di depan kita dan kita mampu membalasnya, akhlak mulia adalah menahan lisan.

100. Mengubah seluruh keburukan lisan menjadi pujian
وَمَا أَشْبَهَ ذٰلِكَ نُطْقًا بِالْحَمْدِ لَكَ
Wa mā asybaha dhālika nuṭqan bil-ḥamdi lak.
Dan segala ucapan lain yang serupa dengan itu, jadikanlah sebagai ucapan pujian kepada-Mu.
Makrifat: Tujuan akhirnya adalah menjadikan lisan sebagai alat zikir, bukan alat menyakiti.

101. Memenuhi lisan dengan pujian
وَإِغْرَاقًا فِي الثَّنَاءِ عَلَيْكَ
Wa ighrāqan fith-thanā’i ‘alaik.
Dan tenggelam dalam pujian kepada-Mu.
Makrifat: Lisan yang sibuk memuji Allah akan semakin sulit digunakan untuk mencela makhluk.

102. Memuliakan Allah
وَذَهَابًا فِي تَمْجِيدِكَ
Wa dhahāban fī tamjīdik.
Dan berjalan dalam memuliakan-Mu.
Makrifat: Tamjīd adalah mengagungkan Allah dengan mengenali kebesaran, kesempurnaan dan keagungan-Nya.

103. Mensyukuri nikmat
وَشُكْرًا لِنِعْمَتِكَ
Wa syukran lini‘matik.
Dan menjadi syukur atas nikmat-Mu.
Makrifat: Setiap nikmat seharusnya membawa kita lebih dekat kepada Pemberi nikmat, bukan semakin lupa kepada-Nya.

104. Mengakui ihsan Allah
وَاعْتِرَافًا بِإِحْسَانِكَ
Wa‘tirāfan bi-iḥsānik.
Dan pengakuan atas kebaikan-Mu.
Makrifat: Orang yang mengenal Allah melihat bahwa di balik setiap kebaikan yang sampai kepadanya terdapat ihsan Allah.

105. Menghitung nikmat Allah
وَإِحْصَاءً لِمِنَنِكَ
Wa iḥṣā’an liminanik.
Dan menjadi perhitungan atas berbagai karunia-Mu.
Makrifat: Nikmat Allah tidak mungkin benar-benar dihitung. Namun seorang arif terus berusaha menyadari nikmat agar semakin bersyukur.

🌺 INTI MAKRIFAT BAGIAN 4
Bagian ini mengajarkan tauhid dalam ketergantungan:
Saat darurat → Allah
Saat membutuhkan → Allah
Saat miskin → Allah
Saat takut → Allah
Saat digoda → ingat Allah
Saat lisan hampir salah → puji Allah
Saat mendapat nikmat → syukuri Allah
Kemudian Imam mengajarkan satu prinsip yang sangat tinggi:
Jangan hanya meminta Allah menghilangkan keburukan; mintalah agar Allah mengubah keburukan menjadi jalan menuju kebaikan.
Godaan → zikir
Prasangka → tafakkur
Hasad → mengingat kebesaran Allah
Ucapan buruk → hamd
Nikmat → syukur
Kesulitan → tadharru‘
Dengan demikian, seluruh keadaan hidup dapat menjadi jalan kembali kepada Allah. Bersambung ….:

Semoga Bermanfaat!!!!
Mohon Doa!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Makna ; Doa Mustajab Imam Husein as di Karbala;بِحَقِّ يس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ، وَبِحَقِّ طه وَالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ…