5) Doa Makarimal Akhlaq (Bagian 5/5); Doa ke-20 dari Sahifah Sajjadiyah

Bagian 5 dari 5, bagian terakhir dari Doa Makarim al-Akhlaq. 
Bagian ini menutup doa dengan keadilan, tidak menzalimi, hidayah, ampunan, tawakal, rezeki, kesehatan untuk ibadah, zikir, ridha Allah, dan keselamatan akhirat.

🌿 DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ — BAGIAN 5
Hidayah, ampunan, rezeki, ibadah, tawakal, dan husnul khatimah

106. Tidak dizalimi
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ 
وَلَا أُظْلَمَنَّ وَأَنْتَ مُطِيقٌ لِلدَّفْعِ عَنِّي
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa lā uẓlamanna wa anta muṭīqun lid-daf‘i ‘annī.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan janganlah aku dizalimi sedangkan Engkau mampu membelaku.
Makrifat: Seorang hamba boleh meminta perlindungan dari kezaliman, tetapi pertolongan akhirnya berasal dari Allah.

107. Jangan menzalimi
وَلَا أَظْلِمَنَّ وَأَنْتَ الْقَادِرُ عَلَى الْقَبْضِ مِنِّي
Wa lā aẓlimanna wa antal-qādiru ‘alal-qabḍi minnī.
Dan janganlah aku menzalimi, sedangkan Engkau berkuasa mengambil kekuasaan dariku.
Makrifat: Imam tidak hanya meminta Allah melindungi dirinya dari kezaliman, tetapi juga memohon agar dirinya tidak menjadi pelaku kezaliman.

108. Jangan tersesat
وَلَا أَضِلَّنَّ وَقَدْ أَمْكَنَتْكَ هِدَايَتِي
Wa lā aḍillanna wa qad amkanatka hidāyatī.
Dan janganlah aku tersesat sedangkan hidayahku berada dalam kekuasaan-Mu.
Makrifat: Hidayah harus terus diminta. Seseorang tidak boleh merasa, “Aku sudah pasti berada di jalan benar.”

109. Jangan kekurangan sementara rezeki Allah luas
وَلَا أَفْتَقِرَنَّ وَمِنْ عِنْدِكَ وُسْعِي
Wa lā aftaqiranna wa min ‘indika wus‘ī.
Dan janganlah aku menjadi kekurangan sementara keluasan rezekiku berasal dari-Mu.
Makrifat: Kecukupan sejati datang dari Allah. Namun ikhtiar tetap menjadi bagian dari penghambaan.

110. Jangan melampaui batas karena kekayaan
وَلَا أَطْغَيَنَّ وَمِنْ عِنْدِكَ وُجْدِي
Wa lā aṭghayanna wa min ‘indika wujdī.
Dan janganlah aku melampaui batas ketika kecukupan hartaku berasal dari-Mu.
Makrifat: Kemiskinan dapat menguji manusia, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Yang diminta Imam adalah rezeki tanpa istidrāj dan kekayaan tanpa kesombongan.

🤲 KEMBALI KEPADA AMPUNAN ALLAH
111. Datang menuju maghfirah
اَللّٰهُمَّ إِلَىٰ مَغْفِرَتِكَ وَفَدْتُ
Allāhumma ilā maghfiratika wafadtu.
Ya Allah, kepada ampunan-Mu aku datang.
Makrifat: Hamba yang mengenal dirinya tahu bahwa keselamatannya tidak cukup hanya dengan amal, tetapi membutuhkan maghfirah Allah.

112. Menuju ampunan
وَإِلَىٰ عَفْوِكَ قَصَدْتُ
Wa ilā ‘afwika qaṣadtu.
Dan kepada maaf-Mu aku menuju.
Makrifat: ‘Afw berarti Allah menghapus kesalahan dan tidak menghukum hamba atasnya.

113. Merindukan Allah menutupi kesalahan
وَإِلَىٰ تَجَاوُزِكَ اشْتَقْتُ
Wa ilā tajāwuzika isytaqtu.
Dan kepada pengampunan-Mu aku merindukan.
Makrifat: Hamba tidak mengandalkan amalnya. Ia merindukan keluasan rahmat Allah.

114. Percaya kepada karunia Allah
وَبِفَضْلِكَ وَثِقْتُ
Wa bifaḍlika tsiqtu.
Dan kepada karunia-Mu aku percaya.
Makrifat: Inilah keseimbangan antara takut dan harap: takut terhadap dosa, tetapi berharap kepada fadhl Allah.

115. Tidak merasa memiliki amal yang cukup
وَلَيْسَ عِنْدِي مَا يُوجِبُ لِي مَغْفِرَتَكَ
Wa laisa ‘indī mā yūjibu lī maghfiratak.
Aku tidak memiliki sesuatu yang membuatku layak mendapatkan ampunan-Mu.
Makrifat: Imam mengajarkan rendah hati di hadapan Allah. Jangan merasa amal kita adalah “harga” yang memaksa Allah memberi pahala.

116. Tidak merasa amal pantas untuk mendapatkan afwu
وَلَا فِي عَمَلِي مَا أَسْتَحِقُّ بِهِ عَفْوَكَ
Wa lā fī ‘amalī mā astaḥiqqu bihī ‘afwak.
Dan dalam amalanku tidak ada sesuatu yang membuatku layak mendapatkan maaf-Mu.
Makrifat: Amal adalah kewajiban seorang hamba; keselamatan tetap membutuhkan rahmat Allah.

117. Setelah mengakui kelemahan, hanya berharap kepada karunia Allah
وَمَا لِي بَعْدَ أَنْ حَكَمْتُ عَلَىٰ نَفْسِي إِلَّا فَضْلُكَ
Wa mā lī ba‘da an ḥakamtu ‘alā nafsī illā faḍluk.
Setelah aku mengakui keadaan diriku, tidak ada yang tersisa bagiku selain karunia-Mu.
Makrifat: Ini adalah puncak faqr ilallāh: menyadari bahwa diri kita benar-benar membutuhkan Allah.

118. Shalawat dan karunia
فَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَتَفَضَّلْ عَلَيَّ
Fa ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa tafaḍḍal ‘alayya.
Maka limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan karuniakanlah kemurahan-Mu kepadaku.
Makrifat: Jalan memohon rahmat Allah kembali diarahkan melalui shalawat kepada Muhammad dan Ahlulbait.

LISAN, TAKWA DAN JALAN YANG PALING BAIK
119. Berbicara dengan petunjuk
اَللّٰهُمَّ وَأَنْطِقْنِي بِالْهُدَىٰ
Allāhumma wa anṭiqnī bil-hudā.
Ya Allah, jadikanlah lisanku berbicara dengan petunjuk.
Makrifat: Bukan sekadar meminta lisan yang banyak berbicara, tetapi lisan yang benar dan memberi petunjuk.

120. Mengilhamkan ketakwaan
وَأَلْهِمْنِي التَّقْوَىٰ
Wa alhimnī at-taqwā.
Ilhamkanlah kepadaku ketakwaan.
Makrifat: Takwa adalah kemampuan menjaga diri karena sadar bahwa Allah selalu mengetahui keadaan kita.

121. Memilih yang paling suci
وَوَفِّقْنِي لِلَّتِي هِيَ أَزْكَىٰ
Wa waffiqnī lillatī hiya azkā.
Berilah aku taufik untuk memilih apa yang paling suci.
Makrifat: Seorang mukmin tidak cukup memilih antara halal dan haram. Ia berusaha memilih yang lebih suci, lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.

122. Melakukan yang paling diridhai
وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا هُوَ أَرْضَىٰ
Wasta‘milnī bimā huwa arḍā.
Gunakanlah aku dalam perkara yang paling Engkau ridhai.
Makrifat: Ini adalah maqam yang tinggi: bukan lagi bertanya, “Apa yang saya sukai?”, tetapi “Apa yang Allah ridhai?”

123. Jalan terbaik
اَللّٰهُمَّ اسْلُكْ بِيَ الطَّرِيقَةَ الْمُثْلَىٰ
Allāhumma usluk bī aṭ-ṭarīqatal-muthlā.
Ya Allah, tuntunlah aku melalui jalan yang paling baik.
Makrifat: Jalan terbaik adalah jalan yang membawa hati, amal dan kehidupan menuju ridha Allah.

124. Hidup dan mati dalam agama Allah
وَاجْعَلْنِي عَلَىٰ مِلَّتِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا
Waj‘alnī ‘alā millatika amūtu wa aḥyā.
Jadikanlah aku tetap berada di atas agama-Mu; aku hidup dan mati di atasnya.
Makrifat: Inilah permohonan husnul khatimah: bukan hanya hidup dalam iman, tetapi meninggal dalam iman.

🌾 KESEIMBANGAN DAN REZEKI
125. Hidup sederhana
وَمَتِّعْنِي بِالِاقْتِصَادِ
Wa matti‘nī bil-iqtiṣād.
Nikmatilah aku dengan hidup yang sederhana dan seimbang.
Makrifat: Iqtiṣād berarti tidak berlebihan dan tidak pula menyia-nyiakan.

126. Menjadi orang yang lurus
وَاجْعَلْنِي مِنْ أَهْلِ السَّدَادِ
Waj‘alnī min ahlis-sadād.
Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang lurus dan tepat.
Makrifat: Sadād adalah ketepatan dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan.

127. Menjadi petunjuk bagi jalan yang benar
وَمِنْ أَدِلَّةِ الرَّشَادِ
Wa min adillati ar-rashād.
Dan termasuk orang-orang yang menjadi petunjuk menuju jalan yang benar.
Makrifat: Ilmu yang sejati bukan hanya menerangi diri, tetapi juga menerangi orang lain.

128. Menjadi hamba yang saleh
وَمِنْ صَالِحِي الْعِبَادِ
Wa min ṣāliḥil-‘ibād.
Dan termasuk hamba-hamba yang saleh.

129. Mendapat kemenangan akhirat
وَارْزُقْنِي فَوْزَ الْمَعَادِ
Warzuqnī fawzal-ma‘ād.
Karuniakanlah kepadaku keberuntungan di akhirat.
Makrifat: Semua keberhasilan dunia tidak berarti jika kehilangan fawz al-ma‘ād—keselamatan ketika kembali kepada Allah.

130. Selamat di tempat penantian
وَسَلَامَةَ الْمِرْصَادِ
Wa salāmatal-mirṣād.
Dan keselamatan di tempat penantian.
Makrifat: Hamba memohon keselamatan dalam perjalanan menuju akhirat dan ketika menghadapi perhitungan amal.

MENAKLUKKAN NAFSU

131. Mengambil dari jiwa apa yang menyelamatkannya
اَللّٰهُمَّ خُذْ لِنَفْسِكَ مِنْ نَفْسِي مَا يُخَلِّصُهَا
Allāhumma khudh linafsika min nafsī mā yukhalliṣuhā.
Ya Allah, ambillah dari diriku untuk-Mu apa yang dapat menyelamatkan jiwaku.
Makrifat: Yang harus “diambil” adalah segala sesuatu dari ego yang menghalangi penghambaan: kesombongan, hawa nafsu, cinta dunia yang berlebihan dan keakuan.

132. Sisakan jiwa yang memperbaikinya
وَأَبْقِ لِنَفْسِي مِنْ نَفْسِي مَا يُصْلِحُهَا
Wa abqi linafsī min nafsī mā yuṣliḥuhā.
Dan sisakan bagi diriku dari diriku apa yang memperbaikinya.
Makrifat: Islam bukan menghancurkan kepribadian manusia, tetapi membersihkan dan mengarahkannya kepada Allah.

133. Jiwa tanpa penjagaan Allah akan binasa
فَإِنَّ نَفْسِي هَالِكَةٌ أَوْ تَعْصِمَهَا
Fa-inna nafsī hālikatun aw ta‘ṣimuhā.
Sesungguhnya jiwaku akan binasa kecuali Engkau menjaganya.
Makrifat: Keselamatan jiwa bukan hasil kekuatan ego, tetapi ‘iṣmah dan penjagaan Allah.

ALLAH ADALAH TEMPAT KEMBALI DALAM KESEDIHAN

134. Allah adalah persiapan ketika sedih
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ عُدَّتِي إِنْ حَزِنْتُ
Allāhumma anta ‘uddatī in ḥazintu.
Ya Allah, Engkaulah persiapanku ketika aku bersedih.
Makrifat: Saat hati kehilangan sesuatu, Allah tetap menjadi bekal dan sandaran.

135. Allah tempat mencari ketika terhalang
وَأَنْتَ مُنْتَجَعِي إِنْ حُرِمْتُ
Wa anta muntaja‘ī in ḥurimtu.
Engkaulah tempatku mencari pertolongan ketika aku terhalang dari sesuatu.

136. Allah tempat meminta pertolongan dalam kesulitan
وَبِكَ اسْتِغَاثَتِي إِنْ كَرِثْتُ
Wa bika istighāthatī in karithtu.
Dan kepada-Mu aku memohon pertolongan ketika aku ditimpa kesusahan.
Makrifat: Tiga keadaan manusia:
sedih → Allah
terhalang → Allah
terdesak → Allah

137. Allah mengganti apa yang hilang
وَعِنْدَكَ مِمَّا فَاتَ خَلَفٌ
Wa ‘indaka mimmā fāta khalaf.
Di sisi-Mu ada pengganti atas apa yang telah hilang.
Makrifat: Tidak ada kehilangan yang membuat seorang mukmin benar-benar tanpa harapan selama ia masih memiliki Allah.

138. Allah memperbaiki yang rusak
وَلِمَا فَسَدَ صَلَاحٌ
Wa limā fasada ṣalāḥ.
Dan bagi apa yang telah rusak, di sisi-Mu ada perbaikan.

139. Allah mampu mengubah keadaan
وَفِيمَا أَنْكَرْتَ تَغْيِيرٌ
Wa fīmā ankar-ta taghyīr.
Dan terhadap apa yang tidak Engkau sukai, terdapat perubahan.
Makrifat: Jangan putus asa terhadap keadaan. Allah mampu mengubah keadaan hati, kehidupan dan jalan manusia.

MEMOHON NIKMAT SEBELUM UJIAN

140. Kesehatan sebelum datangnya bala
فَامْنُنْ عَلَيَّ قَبْلَ الْبَلَاءِ بِالْعَافِيَةِ
Famnun ‘alayya qablal-balā’i bil-‘āfiyah.
Karuniakanlah kepadaku kesehatan dan keselamatan sebelum datangnya ujian.
Makrifat: Nikmat terbesar kadang adalah bala yang tidak jadi datang.

141. Kecukupan sebelum harus meminta
وَقَبْلَ الطَّلَبِ بِالْجِدَةِ
Wa qablal-ṭalabi bil-jidah.
Dan berilah aku kecukupan sebelum aku harus meminta.
Makrifat: Memohon agar Allah menjaga kehormatan dan kecukupan seorang hamba.

142. Petunjuk sebelum tersesat
وَقَبْلَ الضَّلَالِ بِالرَّشَادِ
Wa qablaḍ-ḍalāli bir-rashād.
Dan berilah aku petunjuk sebelum kesesatan.
Makrifat: Jangan menunggu jatuh baru memohon pertolongan. Mohonlah hidayah sebelum tergelincir.

143. Dilindungi dari penghinaan manusia
وَاكْفِنِي مَؤُونَةَ مَعَرَّةِ الْعِبَادِ
Wakfinī ma’ūnata ma‘arratil-‘ibād.
Cukupkanlah aku dari beban kehinaan dan celaan manusia.

144. Aman pada hari kembali
وَهَبْ لِي أَمْنَ يَوْمِ الْمَعَادِ
Wa hab lī amna yaumil-ma‘ād.
Anugerahkanlah kepadaku keamanan pada hari kembali.
Makrifat: Puncak keamanan bukan keamanan dunia, tetapi aman ketika berdiri di hadapan Allah.

145. Petunjuk yang baik
وَامْنَحْنِي حُسْنَ الْإِرْشَادِ
Wamnaḥnī ḥusnal-irsyād.
Anugerahkanlah kepadaku petunjuk yang baik.

ALLAH MEMPERBAIKI SEGALA URUSAN

146. Menjauhkan keburukan dengan kelembutan
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ 
وَادْرَأْ عَنِّي بِلُطْفِكَ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wadra’ ‘annī biluṭfik.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan jauhkanlah keburukan dariku dengan kelembutan-Mu.

147. Memberi makan dengan nikmat
وَاغْذُنِي بِنِعْمَتِكَ
Wagh-dhunī bini‘matik.
Peliharalah aku dengan nikmat-Mu.
Makrifat:Seperti tubuh membutuhkan makanan, ruh membutuhkan nikmat dan rahmat Allah.

148. Memperbaiki dengan kemurahan
وَأَصْلِحْنِي بِكَرَمِكَ
Wa aṣliḥnī bikaramik.
Perbaikilah aku dengan kemurahan-Mu.

149. Mengobati dengan perbuatan Allah
وَدَاوِنِي بِصُنْعِكَ
Wa dāwinī biṣun‘ik.
Sembuhkanlah aku dengan perbuatan dan pemeliharaan-Mu.
Makrifat: Allah mampu memperbaiki luka yang tidak terlihat oleh manusia: luka hati, dosa, kelemahan jiwa dan kegelisahan batin.

150. Berlindung di bawah naungan Allah
وَأَظِلَّنِي فِي ذَرَاكَ
Wa aẓillanī fī dharāk.
Naungilah aku dalam perlindungan-Mu.

151. Menyelimuti dengan ridha
وَجَلِّلْنِي رِضَاكَ
Wa jallilnī riḍāk.
Selimutilah aku dengan keridhaan-Mu.
Makrifat: Lebih tinggi daripada mendapatkan nikmat adalah mendapatkan ridha Sang Pemberi nikmat.

152. Memilih jalan paling lurus ketika perkara membingungkan
وَوَفِّقْنِي إِذَا اشْتَبَهَتْ عَلَيَّ الْأُمُورُ لِأَهْدَاهَا
Wa waffiqnī idhā isytabaḥat ‘alayyal-umūru li-ahdāhā.
Berilah aku taufiq ketika berbagai urusan menjadi samar bagiku untuk memilih yang paling memberi petunjuk.
Makrifat: Ketika bingung, jangan hanya bertanya “mana yang menguntungkan?”, tetapi “mana yang paling dekat kepada hidayah Allah?”

153. Memilih amal yang paling suci
وَإِذَا تَشَابَهَتِ الْأَعْمَالُ لِأَزْكَاهَا
Wa idhā tasyābahatil-a‘mālu li-azkāhā.
Dan ketika berbagai amal tampak serupa, tunjukilah aku kepada yang paling suci.

154. Memilih yang paling diridhai Allah
وَإِذَا تَنَاقَضَتِ الْمِلَلُ لِأَرْضَاهَا
Wa idhā tanāqaḍatil-milalu li-arḍāhā.
Dan ketika berbagai jalan keagamaan tampak bertentangan, tunjukilah aku kepada jalan yang paling Engkau ridhai.
Makrifat: Ukuran akhir bukan popularitas manusia, tetapi ridha Allah dan kebenaran.

KEPUASAN, KECUKUPAN, DAN PENGATURAN REZEKI

155. Mahkota kecukupan
وَتَوِّجْنِي بِالْكِفَايَةِ
Wa tawwij-nī bil-kifāyah.
Mahkotailah aku dengan kecukupan.
Makrifat: Kifāyah adalah keadaan ketika kebutuhan tercukupi sehingga hati tidak menjadi budak dunia.

156. Menjaga dengan baik
وَسُمْنِي حُسْنَ الْوِلَايَةِ
Wa sum-nī ḥusnal-wilāyah.
Anugerahkanlah kepadaku penjagaan dan pengelolaan yang baik.

157. Hidayah yang benar
وَهَبْ لِي صِدْقَ الْهِدَايَةِ
Wa hab lī ṣidqal-hidāyah.
Anugerahkanlah kepadaku hidayah yang benar.

158. Jangan diuji dengan kelapangan yang melalaikan
وَلَا تَفْتِنِّي بِالسَّعَةِ
Wa lā taftinnī bis-sa‘ah.
Janganlah Engkau mengujiku dengan kelapangan.
Makrifat: Kelapangan juga ujian. Kekayaan yang membuat lupa kepada Allah dapat lebih berbahaya daripada kekurangan yang membuat kita kembali kepada-Nya.

159. Berikan ketenangan
وَامْنَحْنِي حُسْنَ الدَّعَةِ
Wamnaḥnī ḥusnad-da‘ah.
Anugerahkanlah kepadaku ketenteraman hidup yang baik.

160. Jangan jadikan hidup penuh penderitaan
وَلَا تَجْعَلْ عَيْشِي كَدًّا كَدًّا
Wa lā taj‘al ‘aisyī kaddan kaddā.
Jangan jadikan kehidupanku penuh kelelahan dan kesukaran.

161. Jangan menolak doaku
وَلَا تَرُدَّ دُعَائِي عَلَيَّ رَدًّا
Wa lā tarudda du‘ā’ī ‘alayya raddā.
Dan jangan Engkau menolak doaku dengan penolakan.

162. Tauhid yang murni
فَإِنِّي لَا أَجْعَلُ لَكَ ضِدًّا
Fa-innī lā aj‘alu laka ḍiddā.
Sesungguhnya aku tidak menjadikan bagi-Mu tandingan.
Makrifat: Ini kembali kepada tauhid murni: tidak menyamakan siapa pun dengan Allah dalam ketuhanan.

163. Tidak menjadikan tandingan bagi Allah
وَلَا أَدْعُو مَعَكَ نِدًّا
Wa lā ad‘ū ma‘aka niddā.
Dan aku tidak menyeru bersama-Mu tandingan.
Hakikat: Seluruh doa kembali kepada Allah Yang Esa.

MENGATUR HARTA DENGAN BERKAH

164. Tidak boros
وَامْنَعْنِي مِنَ السَّرَفِ
Wamni‘nī minas-saraf.
Jauhkanlah aku dari pemborosan.

165. Menjaga rezeki dari kerusakan
وَحَصِّنْ رِزْقِي مِنَ التَّلَفِ
Wa ḥaṣṣin rizqī minat-talaf.
Lindungilah rezekiku dari kehancuran.

166. Memberkahi harta
وَوَفِّرْ مَلَكَتِي بِالْبَرَكَةِ فِيهِ
Wa waffir malakatī bil-barakati fīh.
Perbanyaklah manfaat hartaku dengan keberkahan di dalamnya.

167. Menggunakan harta untuk kebaikan
وَأَصِبْ بِي سَبِيلَ الْهِدَايَةِ لِلْبِرِّ فِيمَا أُنْفِقُ مِنْهُ
Wa aṣib bī sabīlal-hidāyati lil-birri fīmā unfiqu minh.
Tunjukkanlah kepadaku jalan hidayah menuju kebajikan dalam apa yang aku belanjakan darinya.
Makrifat: Harta yang berkah bukan sekadar banyak. Berkah adalah ketika harta menjadi jalan menuju kebaikan.

REZEKI TANPA MELALAIKAN IBADAH

168. Tidak disibukkan mencari rezeki hingga lupa Allah
وَاكْفِنِي مَؤُونَةَ الْاكْتِسَابِ
Wakfinī ma’ūnatal-iktisāb.
Cukupkanlah aku dari beban berat mencari penghasilan.

169. Rezeki dari arah yang tidak disangka
وَارْزُقْنِي مِنْ غَيْرِ احْتِسَابٍ
Warzuqnī min ghairi iḥtisāb.
Berilah aku rezeki dari arah yang tidak aku perhitungkan.

170. Tidak lalai dari ibadah karena mencari rezeki
فَلَا أَشْتَغِلَ عَنْ عِبَادَتِكَ بِالطَّلَبِ
Falā asytaghila ‘an ‘ibādatika biṭ-ṭalab.
Agar aku tidak disibukkan mencari rezeki hingga lalai dari ibadah kepada-Mu.
Makrifat: Bekerja adalah ibadah bila benar niatnya, tetapi pekerjaan tidak boleh menjadi pengganti Allah dalam hati.

171. Tidak menanggung beban akibat harta yang salah
وَلَا أَحْتَمِلَ إِصْرَ تَبِعَاتِ الْمَكْسَبِ
Wa lā aḥtamila iṣra tabi‘ātil-maksab.
Dan agar aku tidak menanggung beban dosa akibat penghasilan.
Makrifat: Yang diminta bukan hanya banyak rezeki, tetapi rezeki yang halal dan tidak membawa beban di akhirat.

ALLAH MENCUKUPKAN KEBUTUHAN

172. Allah memenuhi apa yang dicari
فَأَطْلُبْنِي بِقُدْرَتِكَ مَا أَطْلُبُ
Faṭlubnī bi-qudratika mā aṭlub.
Dengan kekuasaan-Mu, penuhilah apa yang aku cari.

173. Allah melindungi dari apa yang ditakuti
وَأَجِرْنِي بِعِزَّتِكَ مِمَّا أَرْهَبُ
Wa ajirnī bi‘izzatika mimmā arhab.
Dan lindungilah aku dengan kemuliaan dan kekuasaan-Mu dari apa yang aku takutkan.

MENJAGA KEHORMATAN

174. Menjaga kehormatan dengan kecukupan
اَللّٰهُمَّ صُنْ وَجْهِي بِالْيَسَارِ
Allāhumma ṣun wajhī bil-yasār.
Ya Allah, jagalah kehormatanku dengan kecukupan.
Makrifat: Wajh di sini dapat dipahami sebagai kehormatan dan martabat manusia.

175. Jangan merendahkan kehormatan dengan kemiskinan
وَلَا تَبْتَذِلْ جَاهِي بِالْإِقْتَارِ
Wa lā tabtadhil jāhī bil-iqtār.
Janganlah Engkau merendahkan kehormatanku karena kesempitan.

176. Jangan sampai meminta kepada orang yang mampu
فَأَسْتَرْزِقَ أَهْلَ رِزْقِكَ
Fa-astarziqa ahla rizqik.
Sehingga aku meminta rezeki kepada orang-orang yang Engkau beri rezeki.

177. Jangan meminta kepada orang yang buruk
وَأَسْتَعْطِيَ شِرَارَ خَلْقِكَ
Wa asta‘ṭiya syirāra khalqik.
Dan meminta kepada orang-orang yang paling buruk di antara makhluk-Mu.

178. Jangan terjebak memuji pemberi
فَأَفْتَتِنَ بِحَمْدِ مَنْ أَعْطَانِي
Fa-aftatina biḥamdi man a‘ṭānī.
Sehingga aku tergoda memuji orang yang memberiku.
Makrifat: Yang memberi melalui manusia tetaplah Allah sebagai Pemberi hakiki.

179. Jangan mencela orang yang tidak memberi
وَأَبْتَلَىٰ بِذَمِّ مَنْ مَنَعَنِي
Wa abtalā bidhamm man mana‘anī.
Dan mencela orang yang tidak memberiku.
Makrifat: Jangan menjadikan pemberian manusia sebagai ukuran cinta dan penolakan mereka sebagai alasan membenci.

180. Allah adalah Pemilik pemberian dan penahanan
وَأَنْتَ مِنْ دُونِهِمْ وَلِيُّ الْإِعْطَاءِ وَالْمَنْعِ
Wa anta min dūnihim waliyyul-i‘ṭā’i wal-man‘.
Sedangkan Engkau, bukan mereka, adalah Penguasa pemberian dan penahanan.
Hakikat: Manusia hanyalah wasilah; Allah adalah sumber hakiki segala rezeki.

KESEHATAN, WAKTU, ILMU DAN WARA‘

181. Kesehatan untuk beribadah
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ 
وَارْزُقْنِي صِحَّةً فِي عِبَادَةٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, warzuqnī ṣiḥḥatan fī ‘ibādah.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan karuniakanlah kepadaku kesehatan untuk beribadah.

182. Waktu luang untuk zuhud
وَفَرَاغًا فِي زَهَادَةٍ
Wa farāghan fī zahādah.
Dan waktu luang untuk hidup zuhud.
Makrifat: Zuhud bukan meninggalkan dunia secara mutlak, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hati.

183. Ilmu yang diamalkan
وَعِلْمًا فِي اسْتِعْمَالٍ
Wa ‘ilman fī isti‘māl.
Dan ilmu yang dapat diamalkan.
Makrifat: Ilmu tanpa amal menjadi hujjah atas manusia; ilmu yang diamalkan menjadi cahaya.

184. Wara‘ dalam amal
وَوَرَعًا فِي إِجْمَالٍ
Wa wara‘an fī ijmāl.
Dan wara‘ dalam menjaga seluruh urusan.
Makrifat: Wara‘ adalah kehati-hatian terhadap perkara yang dapat membawa kepada dosa atau keraguan.

HUSNUL KHATIMAH

185. Menutup umur dengan ampunan
اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ بِعَفْوِكَ أَجَلِي
Allāhumma ikhtim bi‘afwika ajalī.
Ya Allah, tutuplah akhir hidupku dengan ampunan-Mu.
Makrifat: Yang paling penting bukan bagaimana perjalanan dimulai, tetapi bagaimana ia berakhir.

186. Mengabulkan harapan kepada rahmat
وَحَقِّقْ فِي رَجَاءِ رَحْمَتِكَ أَمَلِي
Wa ḥaqqiq fī rajā’i raḥmatika amalī.
Wujudkanlah harapanku dalam mengharapkan rahmat-Mu.

187. Memudahkan jalan menuju ridha
وَسَهِّلْ إِلَىٰ بُلُوغِ رِضَاكَ سُبُلِي
Wa sahhil ilā bulūghi riḍāka subulī.
Mudahkanlah jalan-jalanku untuk mencapai ridha-Mu.
Makrifat: Tujuan akhir bukan sekadar masuk surga, tetapi mencapai ridha Allah.

188. Memperindah semua amal
وَحَسِّنْ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِي عَمَلِي
Wa ḥassin fī jamī‘i aḥwālī ‘amalī.
Perbaikilah amalanku dalam seluruh keadaanku.
Makrifat: Bukan hanya saat senang, tetapi dalam sakit, kaya, miskin, lapang, sempit, muda dan tua.

MENGINGAT ALLAH DALAM KELALAIAN

189. Diingatkan ketika lalai
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وَنَبِّهْنِي لِذِكْرِكَ فِي أَوْقَاتِ الْغَفْلَةِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa nabbinī lidhikrika fī awqātil-ghaflah.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan bangunkanlah aku untuk mengingat-Mu pada waktu-waktu kelalaian.
Makrifat: Orang yang dekat dengan Allah bukan orang yang tidak pernah lalai, tetapi orang yang segera dibangunkan kembali kepada Allah.

190. Menggunakan masa hidup untuk taat
وَاسْتَعْمِلْنِي بِطَاعَتِكَ فِي أَيَّامِ الْمُهْلَةِ
Wasta‘milnī biṭā‘atika fī ayyāmil-muhlah.
Gunakanlah aku untuk menaati-Mu selama masa yang Engkau berikan kepadaku.
Makrifat: Muhlah adalah kesempatan. Hidup adalah kesempatan sebelum datangnya ajal.

191. Jalan mudah menuju cinta Allah
وَانْهَجْ لِي إِلَىٰ مَحَبَّتِكَ سَبِيلًا سَهْلَةً
Wanhaj lī ilā maḥabbatika sabīlan sahlah.
Bukakanlah bagiku jalan yang mudah menuju kecintaan-Mu.
Makrifat:
Cinta Allah bukan sekadar perasaan. Jalannya adalah ketaatan, zikir, takwa, akhlak dan mengikuti jalan yang diridhai-Nya.

192. Kesempurnaan dunia dan akhirat
أَكْمِلْ لِي بِهَا خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Akmil lī bihā khairad-dunyā wal-ākhirah.
Sempurnakanlah bagiku dengannya kebaikan dunia dan akhirat.
Makrifat: Kebaikan dunia dan akhirat bertemu dalam satu titik: ridha Allah.

PENUTUP DOA

193. Shalawat terbaik
اَللّٰهُمَّ وَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ 
كَأَفْضَلِ مَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ 
قَبْلَهُ وَأَنْتَ مُصَلٍّ عَلَىٰ أَحَدٍ بَعْدَهُ
Allāhumma wa ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, ka-afḍali mā ṣallaita ‘alā aḥadin min khalqika qablah, wa anta muṣallin ‘alā aḥadin ba‘dah.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya dengan sebaik-baik shalawat yang pernah Engkau limpahkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu sebelum beliau, dan yang akan Engkau limpahkan kepada siapa pun setelah beliau.
Makrifat: Doa dimulai dan ditutup dengan shalawat kepada Muhammad dan Ahlulbait. Ini seakan menunjukkan bahwa perjalanan menuju Allah dibingkai dengan cinta, penghormatan dan keterikatan kepada Rasulullah ﷺ dan keluarganya.

194. Kebaikan dunia
وَآتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
Wa ātinā fid-dunyā ḥasanah.
Dan berilah kami kebaikan di dunia.
Makrifat: Kebaikan dunia mencakup iman, kesehatan, rezeki halal, keluarga, ilmu, keamanan, amal saleh dan kehidupan yang diridhai Allah.

195. Kebaikan akhirat
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
Wa fil-ākhirati ḥasanah.
Dan kebaikan di akhirat.
Makrifat: Puncaknya adalah ampunan, keselamatan, surga dan ridha Allah.

196. Perlindungan dari neraka
وَقِنِي بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ النَّارِ
Wa qinī biraḥmatika ‘adhāban-nār.
Dan lindungilah aku dengan rahmat-Mu dari azab neraka.
Makrifat: Perhatikan penutupnya: setelah seluruh permohonan akhlak, hidayah, rezeki, ilmu dan ibadah, Imam kembali kepada satu kebutuhan terbesar manusia: rahmat Allah dan keselamatan dari neraka.

KESIMPULAN 5 BAGIAN DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ

Bagian 1 — Membentuk diri:
Iman → yakin → niat → amal → ikhlas → tawadhu‘.

Bagian 2 — Mengubah hubungan:
Kebencian → cinta → kasih → kepercayaan → wilayah → silaturahmi.

Bagian 3 — Akhlak sosial:
Membalas keburukan dengan kebaikan → menahan marah → mendamaikan → menutup aib → rendah hati → berkata benar.

Bagian 4 — Ketergantungan kepada Allah: Allah saat sedih → Allah saat takut → Allah saat membutuhkan → Allah saat digoda → Allah dalam segala keadaan.

Bagian 5 — Kesempurnaan perjalanan: Hidayah → taubat → ampunan → rezeki halal → ilmu → ibadah → zikir → ridha Allah → husnul khatimah → keselamatan akhirat.

Rumus makrifat Doa Makarim al-Akhlaq
إِصْلَاحُ النَّفْسِ → إِصْلَاحُ الْعَلَاقَةِ → إِصْلَاحُ الْعَمَلِ → التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ → الْوُصُولُ إِلَى رِضَا اللهِ
Iṣlāḥun-nafs → iṣlāḥul-‘alāqah → iṣlāḥul-‘amal → at-tawakkulu ‘alallāh → al-wuṣūlu ilā riḍallāh.
Memperbaiki jiwa → memperbaiki hubungan → memperbaiki amal → bersandar kepada Allah → menuju ridha Allah. Itulah perjalanan Makarim al-Akhlaq: dari memperbaiki “aku”, kemudian memperbaiki hubunganku dengan manusia, sampai akhirnya seluruh “aku” tunduk kepada Allah.

Semoga bermanfaat!!!!!
Mohon Doa!!!!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Makna Ghodir Khum, AMALAN MALAM & HARI IDUL GHADIR

Doa-doa Cepat Terkabul (Sari’ Al-Ijaabah) Dari; Imam Ali as dan Imam Musa as

Makna ; Doa Mustajab Imam Husein as di Karbala;بِحَقِّ يس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ، وَبِحَقِّ طه وَالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ…