Doa Makarim al-Akhlaq (مَكَارِمُ الْأَخْلَاقِ) adalah Doa ke-20 al-Ṣaḥīfah al-Sajjādiyyah, yang dinisbahkan kepada Imam Ali Zayn al-Abidin عليه السلام.
Dibagi menjadi 5 bagian tematik;
BAGIAN 1 — IMAN, NIAT, YAKIN, DAN AKHLAK MULIA
دُعَاءُ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
Doa Makarim al-Akhlaq — Bagian 1
1. Shalawat kepada Nabi dan Ahlulbait
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.
Makrifat: Akhlak mulia dalam doa Imam Sajjad dimulai dengan Muhammad ﷺ dan Ahlulbaitnya, karena kesempurnaan akhlak bukan hanya hasil usaha jiwa, tetapi karunia Allah yang dicari melalui jalan insan-insan pilihan-Nya.
2. Menyempurnakan iman
وَبَلِّغْ بِإِيمَانِي أَكْمَلَ الْإِيمَانِ
Wa balligh bi-īmānī akmala al-īmān.
Sampaikanlah imanku kepada iman yang paling sempurna.
Makrifat: Iman mempunyai tingkatan. Tujuannya bukan sekadar percaya, tetapi mencapai iman yang melahirkan keyakinan, kesabaran, tawakal, cinta kepada Allah, dan amal yang benar.
Hakikat: Iman yang sempurna adalah ketika hati mengenal Allah, lisan membenarkan-Nya, dan anggota badan tunduk kepada-Nya.
3. Menyempurnakan keyakinan
وَاجْعَلْ يَقِينِي أَفْضَلَ الْيَقِينِ
Waj‘al yaqīnī afḍala al-yaqīn.
Jadikanlah keyakinanku sebaik-baik keyakinan.
Makrifat: Yakin bukan hanya mengetahui bahwa Allah ada, tetapi bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.
Hakikat: Semakin kuat yakin, semakin kecil ketakutan kepada makhluk dan semakin besar ketergantungan kepada Allah.
4. Menyempurnakan niat dan amal
وَانْتَهِ بِنِيَّتِي إِلَىٰ أَحْسَنِ النِّيَّاتِ وَبِعَمَلِي إِلَىٰ أَحْسَنِ الْأَعْمَالِ
Wantahi bi-niyyatī ilā aḥsani an-niyyāt, wa bi-‘amalī ilā aḥsani al-a‘māl.
Arahkanlah niatku kepada sebaik-baik niat dan amalanku kepada sebaik-baik amal.
Makrifat: Imam mengajarkan dua kesempurnaan:
1. Niat yang bersih.
2. Amal yang benar.
Niat tanpa amal belum sempurna, sedangkan amal tanpa niat yang ikhlas kehilangan ruhnya.
Hakikat: Allah tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi juga untuk siapa kita melakukannya.
5. Memperbanyak dan menyuburkan niat baik
اَللّٰهُمَّ وَفِّرْ بِلُطْفِكَ نِيَّتِي
Allāhumma waffir bi-luṭfika niyyatī.
Ya Allah, sempurnakanlah dan suburkanlah niatku dengan kelembutan-Mu.
Makrifat: Niat yang baik membutuhkan pertolongan Allah. Manusia dapat berniat baik, tetapi Allah-lah yang menjaga dan menumbuhkannya.
6. Membenarkan keyakinan
وَصَحِّحْ بِمَا عِنْدَكَ يَقِينِي
Wa ṣaḥḥiḥ bimā ‘indaka yaqīnī.
Benarkanlah keyakinanku dengan apa yang ada di sisi-Mu.
Makrifat: Ukuran kebenaran bukan semata-mata perasaan manusia. Keyakinan harus disandarkan kepada Allah, wahyu, dan kebenaran yang Dia tetapkan.
7. Memperbaiki kerusakan diri
وَاسْتَصْلِحْ بِقُدْرَتِكَ مَا فَسَدَ مِنِّي
Wastaṣliḥ bi-qudratika mā fasada minnī.
Perbaikilah dengan kekuasaan-Mu apa yang telah rusak dalam diriku.
Makrifat: Ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa ia tidak mampu memperbaiki dirinya secara sempurna tanpa pertolongan Allah.
Hakikat: Kesadaran terhadap kelemahan diri bukan kehinaan; justru menjadi pintu ubudiyyah.
8. Memohon kecukupan dari segala kesibukan yang tidak perlu
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَاكْفِنِي مَا يَشْغَلُنِي الِاهْتِمَامُ بِهِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wakfinī mā yashghalunī al-ihtimāmu bih.
Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan cukupkanlah aku dari perkara-perkara yang menyibukkanku sehingga terlalu memperhatikannya.
Makrifat: Tidak semua yang memenuhi pikiran layak memenuhi hati. Imam memohon agar hati tidak diperbudak oleh urusan dunia yang berlebihan.
9. Menggunakan hidup untuk sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan
وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا تَسْأَلُنِي غَدًا عَنْهُ
Wasta‘milnī bimā tas’alunī ghadan ‘anh.
Gunakanlah aku untuk perkara yang kelak Engkau tanyakan kepadaku.
Makrifat: Pertanyaan terbesar kehidupan adalah: untuk apa umur digunakan? Setiap kemampuan, waktu, harta, ilmu dan kedudukan akan menjadi amanah.
10. Menghabiskan umur untuk tujuan penciptaan
وَاسْتَفْرِغْ أَيَّامِي فِيمَا خَلَقْتَنِي لَهُ
Wastafrig ayyāmī fīmā khalaqtanī lah. Habiskanlah hari-hariku untuk apa yang Engkau menciptakanku untuknya.
Makrifat: Manusia tidak diciptakan tanpa tujuan. Seluruh kehidupan diarahkan kepada penghambaan dan pengenalan kepada Allah.
11. Memohon kecukupan dan keluasan rezeki
وَأَغْنِنِي وَأَوْسِعْ عَلَيَّ فِي رِزْقِكَ
Wa aghninī wa awsi‘ ‘alayya fī rizqik.
Cukupkanlah aku dan luaskanlah rezekiku.
Makrifat: Kekayaan yang diminta bukan sekadar banyaknya harta, tetapi kecukupan yang menjaga kehormatan dan memungkinkan seseorang beribadah serta berbuat baik.
12. Jangan diuji dengan pandangan kepada kelebihan orang lain
وَلَا تَفْتِنِّي بِالنَّظَرِ
Wa lā taftinnī bin-naẓar.
Janganlah Engkau mengujiku dengan pandangan (kepada apa yang dimiliki orang lain).
Makrifat: Pandangan yang tidak dijaga dapat melahirkan perbandingan, iri, tamak dan ketidakpuasan.
Hakikat: Syukur dimulai ketika mata melihat nikmat Allah, bukan hanya kekurangan diri.
13. Kemuliaan tanpa kesombongan
وَأَعِزَّنِي وَلَا تَبْتَلِيَنِّي بِالْكِبْرِ
Wa a‘izzanī wa lā tabtaliniy bil-kibr.
Muliakanlah aku dan jangan Engkau mengujiku dengan kesombongan.
Makrifat: Kemuliaan adalah nikmat; kibr adalah penyakit yang dapat muncul setelah mendapatkan nikmat.
14. Menjadi hamba Allah
وَعَبِّدْنِي لَكَ وَلَا تُفْسِدْ عِبَادَتِي بِالْعُجْبِ
Wa ‘abbidnī laka wa lā tufsid ‘ibādatī bil-‘ujb. Jadikanlah aku hamba-Mu dan jangan rusakkan ibadahku dengan ujub.
Makrifat: Ujub adalah merasa kagum terhadap amal diri sendiri. Orang yang benar-benar mengenal Allah akan melihat bahwa kemampuan beribadah itu sendiri adalah karunia Allah.
15. Menjadi jalan kebaikan bagi manusia
وَأَجْرِ لِلنَّاسِ عَلَىٰ يَدِيَ الْخَيْرَ
وَلَا تَمْحَقْهُ بِالْمَنِّ
Wa ajri lin-nāsi ‘alā yadiyal-khayra wa lā tamḥaqhu bil-mann.
Alirkanlah kebaikan kepada manusia melalui tanganku, dan jangan Engkau hapus kebaikan itu dengan menyebut-nyebut pemberian.
Makrifat: Tangan seorang mukmin seharusnya menjadi jalan mengalirnya rahmat Allah. Sedekah, pertolongan dan jasa dapat rusak nilainya apabila diikuti dengan mann—mengungkit-ungkit pemberian.
16. Memohon akhlak yang tinggi
وَهَبْ لِي مَعَالِيَ الْأَخْلَاقِ
Wa hab lī ma‘āliyal-akhlāq.
Anugerahkanlah kepadaku akhlak-akhlak yang luhur.
Makrifat: Inilah inti doa Makarim al-Akhlaq: bukan hanya meminta harta, kedudukan atau keberhasilan, tetapi meminta agar jiwa memiliki akhlak yang tinggi.
Hakikat: Akhlak mulia adalah ketika seseorang memperlakukan makhluk dengan baik karena ia ingin mendapatkan ridha Sang Khāliq.
17. Terlindung dari membanggakan diri:
وَاعْصِمْنِي مِنَ الْفَخْرِ
Wa‘ṣimnī minal-fakhr.
Lindungilah aku dari membanggakan diri. Makrifat: Fakhr membuat manusia melihat kelebihan dirinya dan melupakan bahwa semua kelebihan itu berasal dari Allah.
18. Semakin tinggi di mata manusia, semakin rendah di mata diri
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa āli Muḥammad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
وَلَا تَرْفَعَنِّي فِي النَّاسِ دَرَجَةً إِلَّا حَطَطْتَنِي عِنْدَ نَفْسِي مِثْلَهَا
Wa lā tarfa‘nī fin-nāsi darajatan illā ḥaṭaṭtanī ‘inda nafsī mithlahā.
Janganlah Engkau meninggikan kedudukanku di tengah manusia satu derajat pun, kecuali Engkau menurunkan kedudukanku dalam pandangan diriku sendiri dengan kadar yang sama. Makrifat: Ini adalah keseimbangan yang sangat tinggi:
Naik di mata manusia → turun di mata ego. Semakin seseorang dihormati, semakin ia menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba Allah.
19. Kemuliaan lahir disertai kerendahan batin
وَلَا تُحْدِثْ لِي عِزًّا ظَاهِرًا إِلَّا أَحْدَثْتَ لِي ذِلَّةً بَاطِنَةً عِنْدَ نَفْسِي بِقَدَرِهَا
Wa lā tuḥdith lī ‘izzan ẓāhiran illā aḥdatha lī dhillatan bāṭinatan ‘inda nafsī bi-qadarihā.
Janganlah Engkau memberikan kepadaku kemuliaan lahiriah kecuali Engkau memberikan pula kerendahan hati batin dalam diriku dengan kadar yang sama. Makrifat: Imam tidak meminta agar manusia merendahkannya. Beliau meminta agar ego dirinya tetap rendah meskipun kedudukannya tinggi.
Hakikat: Inilah tawāḍu‘: tinggi kedudukan tidak membuat tinggi hati.
Inti Bagian 1: Imam Sajjad as sedang membangun akhlak dari dalam:
iman → yakin → niat → amal → kecukupan → ikhlas → tawadhu‘ → menjadi jalan kebaikan. Ini adalah fondasi sebelum memasuki akhlak sosial pada bagian berikutnya.
Jika dilanjutkan, Bagian 2 akan dimulai dari:
وَمَتِّعْنِي بِهُدًى صَالِحٍ…
hingga permohonan agar Allah mengganti kebencian dengan cinta, kedengkian dengan kasih sayang, prasangka dengan kepercayaan, dan permusuhan dengan wilayah/persahabatan.
Bagian 2 dari 5, → makrifat/hakikat per kalimat.
🌿 DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ — BAGIAN 2
Petunjuk, istiqamah, perbaikan diri, cinta, persaudaraan, dan menghadapi permusuhan
20. Memohon petunjuk yang tidak ditukar
وَمَتِّعْنِي بِهُدًى صَالِحٍ لَا أَسْتَبْدِلُ بِهِ
Wa matti‘nī bi-hudan ṣāliḥin lā astabdilu bih.
Nikmatilah aku dengan petunjuk yang baik, yang tidak akan aku tukar dengan petunjuk yang lain.
Makrifat: Petunjuk Allah bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan hidup. Imam memohon agar setelah menemukan jalan Allah, hati tidak tergoda meninggalkannya demi dunia, hawa nafsu, atau pendapat manusia.
Hakikat: Nikmat terbesar bukan memiliki banyak pilihan, tetapi diberi istiqamah di atas jalan yang benar.
21. Jalan kebenaran
وَطَرِيقَةِ حَقٍّ لَا أَزِيغُ عَنْهَا
Wa ṭarīqata ḥaqqin lā azīghu ‘anhā.
Dan jalan kebenaran yang tidak akan aku menyimpang darinya.
Makrifat: Ṭarīqah ḥaqq adalah jalan yang membawa seorang hamba menuju Allah. Penyimpangan sering dimulai dari hati sebelum terlihat dalam perbuatan.
Hakikat:
Istiqamah berarti tetap menuju Allah meskipun keadaan berubah.
22. Niat yang mendapat petunjuk
وَنِيَّةَ رُشْدٍ لَا أَشُكُّ فِيهَا
Wa niyyata rushdin lā asyukku fīhā.
Dan niat yang mendapat petunjuk, yang tidak aku ragukan.
Makrifat: Niat yang benar membuat amal mempunyai arah. Rushd berarti kematangan dalam memilih apa yang membawa kepada kebaikan dan keselamatan.
23. Umur dipakai untuk taat
وَعَمِّرْنِي مَا كَانَ عُمْرِي بِذْلَةً فِي طَاعَتِكَ
Wa ‘ammirnī mā kāna ‘umrī bidh-latan fī ṭā‘atik.
Panjangkanlah umurku selama umurku menjadi sarana yang dicurahkan untuk ketaatan kepada-Mu. Makrifat: Panjang umur bukan tujuan. Umur yang panjang menjadi nikmat apabila semakin banyak digunakan untuk Allah.
24. Jangan biarkan umur menjadi tempat bermain setan
فَإِذَا كَانَ عُمْرِي مَرْتَعًا لِلشَّيْطَانِ فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ
Fa idhā kāna ‘umrī marta‘an lisy-syayṭāni faqbiḍnī ilaik.
Namun apabila umurku menjadi tempat penggembalaan bagi setan, maka wafatkanlah aku menuju kepada-Mu.
Makrifat: Ini bukan permintaan kematian karena putus asa. Maknanya adalah: jangan biarkan kehidupan yang diberikan Allah berubah menjadi sarana semakin jauh dari-Nya.
25. Memohon perlindungan sebelum kemurkaan Allah
قَبْلَ أَنْ يَسْبِقَ مَقْتُكَ إِلَيَّ أَوْ يَسْتَحْكِمَ غَضَبُكَ عَلَيَّ
Qabla an yasbiqa maqtuka ilayya aw yastahkima ghaḍabuka ‘alayya.
Sebelum kemurkaan-Mu mendahuluiku atau kemurkaan-Mu semakin kuat atas diriku.
Makrifat: Seorang arif takut bukan hanya kehilangan dunia, tetapi kehilangan ridha Allah.
🌸 MEMPERBAIKI CACAT DIRI
26. Tidak meninggalkan satu pun sifat tercela
اَللّٰهُمَّ لَا تَدَعْ خَصْلَةً تُعَابُ مِنِّي إِلَّا أَصْلَحْتَهَا
Allāhumma lā tada‘ khaṣlatan tu‘ābu minnī illā aṣlaḥtahā.
Ya Allah, jangan Engkau biarkan satu pun sifat dalam diriku yang tercela kecuali Engkau memperbaikinya.
Makrifat: Doa ini mengajarkan muhāsabah: jangan hanya memperbaiki amal yang terlihat, tetapi juga penyakit batin.
27. Mengubah cela menjadi kebaikan
وَلَا عَائِبَةً أُؤَنَّبُ بِهَا إِلَّا حَسَّنْتَهَا
Wa lā ‘ā’ibatan u’annabu bihā illā ḥassantahā.
Dan jangan biarkan satu cela yang membuatku dicela kecuali Engkau memperbaikinya menjadi baik.
Makrifat: Allah bukan hanya dimohon untuk menghapus keburukan, tetapi mengubah kekurangan menjadi kesempurnaan akhlak.
28. Menyempurnakan kemuliaan yang masih kurang
وَلَا أُكْرُومَةً فِيَّ نَاقِصَةً إِلَّا أَتْمَمْتَهَا
Wa lā ukrūmatan fiyya nāqiṣatan illā atmamtahā.
Dan jangan biarkan satu kemuliaan dalam diriku yang masih kurang kecuali Engkau menyempurnakannya.
Makrifat: Akhlak mulia bukan satu sifat saja. Ia merupakan bangunan jiwa yang harus terus disempurnakan.
❤️ MENUKAR SIFAT BURUK DENGAN SIFAT MULIA
29. Kebencian menjadi cinta
وَأَبْدِلْنِي مِنْ بُغْضَةِ أَهْلِ الشَّنَآنِ الْمَحَبَّةَ
Wa abdilnī min bughḍati ahli asy-syanāni al-maḥabbah.
Gantilah kebencian orang-orang yang membenciku dengan cinta.
Makrifat: Imam tidak meminta agar musuh dibinasakan terlebih dahulu, tetapi memohon transformasi hubungan dari kebencian menuju cinta.
30. Kedengkian menjadi kasih sayang
وَمِنْ حَسَدِ أَهْلِ الْبَغْيِ الْمَوَدَّةَ
Wa min ḥasadi ahli al-baghyil-mawaddah.
Dan gantilah kedengkian orang-orang yang melampaui batas dengan kasih sayang.
Makrifat: Mawaddah lebih dalam daripada sekadar tidak bermusuhan. Ia adalah kasih yang mendorong hubungan kepada kebaikan.
31. Prasangka menjadi kepercayaan
وَمِنْ ظِنَّةِ أَهْلِ الصَّلَاحِ الثِّقَةَ
Wa min ẓinnati ahli aṣ-ṣalāḥi ath-thiqah.
Dan gantilah prasangka orang-orang yang saleh terhadapku dengan kepercayaan.
Makrifat: Jangan membalas prasangka dengan prasangka. Imam meminta agar hubungan dengan orang-orang baik dibangun di atas ḥusnuz-zann dan kepercayaan.
32. Permusuhan menjadi wilayah
وَمِنْ عَدَاوَةِ الْأَدْنَيْنَ الْوَلَايَةَ
Wa min ‘adāwati al-adnaina al-wilāyah.
Dan gantilah permusuhan orang-orang terdekat dengan persahabatan dan kasih perwalian.
Makrifat: Kata الولاية (al-wilāyah) mengandung makna kedekatan, loyalitas, kasih, dan perlindungan. Hubungan yang retak hendaknya dikembalikan kepada kedekatan dalam kebaikan.
33. Durhaka kepada keluarga menjadi bakti
وَمِنْ عُقُوقِ ذَوِي الْأَرْحَامِ الْمَبَرَّةَ
Wa min ‘uqūqi dhawī al-arḥāmi al-mabarrah.
Dan gantilah kedurhakaan kepada kaum kerabat dengan kebaktian.
Makrifat: Mabarrah berarti berbuat baik, menyambung silaturahmi, menghormati dan membantu keluarga.
34. Tidak ditolong keluarga menjadi pertolongan
وَمِنْ خِذْلَانِ الْأَقْرَبِينَ النُّصْرَةَ
Wa min khidh-lāni al-aqrabīna an-nuṣrah.
Dan gantilah ketidakpedulian orang-orang terdekat dengan pertolongan.
Makrifat: Ketika seseorang tidak mendapatkan dukungan, jangan menjadikan hal itu alasan untuk berhenti menjadi orang yang suka menolong.
35. Cinta kepada orang yang hanya menyenangkan menjadi cinta yang benar
وَمِنْ حُبِّ الْمُدَارِينَ تَصْحِيحَ الْمِقَةِ
Wa min ḥubbil-mudārīna taṣḥīḥal-miqah.
Dan gantilah kecenderungan mencintai orang-orang yang hanya bersikap pura-pura baik dengan kecintaan yang benar.
Makrifat: Imam mengajarkan agar cinta tidak dibangun atas kemunafikan, basa-basi atau kepentingan, tetapi atas kejujuran dan kebaikan.
36. Penolakan menjadi kemurahan dalam pergaulan
وَمِنْ رَدِّ الْمُلَابِسِينَ كَرَمَ الْعِشْرَةِ
Wa min raddi al-mulābisīna karama al-‘isyrah.
Dan gantilah sikap menolak orang-orang yang bergaul denganku dengan kemuliaan dalam pergaulan.
Makrifat: Akhlak mulia terlihat dalam cara memperlakukan orang yang hadir dalam kehidupan kita.
37. Ketakutan kepada orang zalim menjadi rasa aman
وَمِنْ مَرَارَةِ خَوْفِ الظَّالِمِينَ حَلَاوَةَ الْأَمَنَةِ
Wa min marārati khawfiẓ-ẓālimīna ḥalāwata al-amanah.
Dan gantilah pahitnya ketakutan terhadap orang-orang zalim dengan manisnya rasa aman.
Makrifat: Keamanan sejati pada tingkat batin adalah rasa tenang karena Allah menjadi tempat berlindung.
🛡️ MENGHADAPI ORANG YANG MENZALIMI
38. Kekuatan menghadapi orang zalim
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَاجْعَلْ لِي يَدًا عَلَىٰ مَنْ ظَلَمَنِي
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, waj‘al lī yadan ‘alā man ẓalamanī.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan berikanlah kepadaku kekuatan terhadap orang yang menzalimiku.
Makrifat: Doa ini tidak berarti meminta izin untuk berbuat zalim. Yang diminta adalah kekuatan agar tidak menjadi korban kezaliman tanpa kemampuan membela diri secara benar.
39. Lisan untuk menghadapi orang yang memusuhi
وَلِسَانًا عَلَىٰ مَنْ خَاصَمَنِي
Wa lisānan ‘alā man khāṣamanī.
Dan berikanlah kepadaku lisan untuk menghadapi orang yang memusuhiku.
Makrifat:
Lisan seorang mukmin menjadi alat kebenaran, bukan alat penghinaan.
40. Kemenangan atas orang yang menentang
وَظَفَرًا بِمَنْ عَانَدَنِي
Wa ẓafaran biman ‘ānadanī.
Dan berikanlah kepadaku kemenangan atas orang yang menentangku.
Makrifat: Kemenangan tertinggi bukan sekadar mengalahkan lawan, tetapi tidak kehilangan akhlak ketika mendapatkan kemenangan.
41. Kecerdikan menghadapi tipu daya
وَهَبْ لِي مَكْرًا عَلَىٰ مَنْ كَايَدَنِي
Wa hab lī makran ‘alā man kāyadanī.
Anugerahkanlah kepadaku kecerdikan menghadapi orang yang merencanakan tipu daya terhadapku.
Makrifat: Islam tidak mengajarkan kelemahan terhadap kezaliman. Namun kecerdikan harus digunakan untuk melindungi kebenaran, bukan membalas dengan kejahatan.
42. Kekuatan menghadapi penindasan
وَقُدْرَةً عَلَىٰ مَنِ اضْطَهَدَنِي
Wa qudratan ‘alā maniḍṭahadanī.
Dan berikanlah kepadaku kemampuan menghadapi orang yang menindasku.
Makrifat: Seorang hamba meminta kekuatan kepada Allah agar kehormatan, agama dan haknya tidak mudah dirampas.
43. Membantah tuduhan dengan kebenaran
وَتَكْذِيبًا لِمَنْ قَصَبَنِي
Wa takdhīban liman qaṣabanī.
Dan kemampuan membantah orang yang mencelaku dengan tuduhan palsu.
Makrifat: Tidak semua tuduhan harus dibalas dengan kemarahan. Kebenaran dapat dijelaskan dengan tenang, jujur dan bermartabat.
44. Keselamatan dari ancaman
وَسَلَامَةً مِمَّنْ تَوَعَّدَنِي
Wa salāmatan mimman tawa‘adanī.
Dan keselamatan dari orang yang mengancamku.
Makrifat: Kekuatan sejati tetap kembali kepada Allah. Karena itu Imam meminta perlindungan, bukan sekadar kemampuan membalas.
45. Taat kepada orang yang memberi arahan benar
وَوَفِّقْنِي لِطَاعَةِ مَنْ سَدَّدَنِي
Wa waffiqnī liṭā‘ati man saddadanī.
Berilah aku taufiq untuk menaati orang yang membimbingku kepada kebenaran.
Makrifat: Orang yang menasihati kita dengan benar bukan musuh. Menerima nasihat adalah tanda kerendahan hati dan kematangan jiwa.
46. Mengikuti orang yang memberi petunjuk
وَمُتَابَعَةِ مَنْ أَرْشَدَنِي
Wa mutāba‘ati man arsyadanī.
Dan untuk mengikuti orang yang telah memberiku petunjuk.
Makrifat: Ilmu menjadi cahaya apabila diikuti dengan amal. Karena itu Imam memohon kemampuan untuk mengikuti petunjuk yang benar, bukan hanya mendengarnya.
🌺 Inti Makrifat Bagian 2
Bagian ini mengajarkan perubahan batin yang sangat indah:
بُغْضٌ → مَحَبَّةٌ
Kebencian → cinta
حَسَدٌ → مَوَدَّةٌ
Kedengkian → kasih sayang
ظَنٌّ → ثِقَةٌ
Prasangka → kepercayaan
عَدَاوَةٌ → وَلَايَةٌ
Permusuhan → kedekatan
عُقُوقٌ → بِرٌّ
Kedurhakaan → kebaktian
خِذْلَانٌ → نُصْرَةٌ
Tidak menolong → pertolongan
خَوْفٌ → أَمَنٌ
Ketakutan → keamanan
Jadi, Makarim al-Akhlaq bukan sekadar doa agar kita menjadi orang baik. Ia adalah doa agar Allah mengubah keadaan jiwa kita dan hubungan kita dengan manusia menjadi lebih dekat kepada akhlak Muhammad ﷺ dan Ahlulbait as
Bagian 3 dari 5, dimulai dari permohonan agar mampu membalas keburukan dengan kebaikan, kemudian masuk ke hiasan orang saleh dan akhlak sosial.
🌿 DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ — BAGIAN 3
Membalas keburukan dengan kebaikan & menghiasi diri dengan akhlak orang bertakwa
47. Membalas penipuan dengan nasihat
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَدِّدْنِي لِأَنْ أُعَارِضَ مَنْ غَشَّنِي بِالنُّصْحِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa saddidnī li-an u‘āriḍa man ghashshanī bin-nuṣḥ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan luruskanlah aku agar membalas orang yang menipuku dengan nasihat.
Makrifat: Akhlak mulia tidak berarti membiarkan penipuan. Namun balasannya bukan harus penipuan pula. Imam mengajarkan mengubah keburukan menjadi kesempatan untuk memperbaiki.
48. Membalas orang yang menjauh dengan kebajikan
وَأَجْزِيَ مَنْ هَجَرَنِي بِالْبِرِّ
Wa ajziya man hajaranī bil-birr.
Dan membalas orang yang menjauhiku dengan kebajikan.
Makrifat: Hijrān dibalas dengan birr. Jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan akhlak kita.
Hakikat: Kebaikan yang paling tinggi adalah tetap baik ketika orang lain tidak baik kepada kita.
49. Membalas orang yang tidak memberi dengan memberi
وَأُثِيبَ مَنْ حَرَمَنِي بِالْبَذْلِ
Wa uthība man ḥaramanī bil-badhl.
Dan memberi kepada orang yang tidak memberiku.
Makrifat: Imam mengajarkan agar kemurahan hati tidak bergantung pada perlakuan manusia.
50. Menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan
وَأُكَافِيَ مَنْ قَطَعَنِي بِالصِّلَةِ
Wa ukāfiya man qaṭa‘anī biṣ-ṣilah.
Dan membalas orang yang memutuskan hubungan denganku dengan menyambung hubungan.
Makrifat: Inilah ṣilat ar-raḥim dalam bentuk yang tinggi: hubungan tidak hanya dijaga ketika kedua pihak saling menyukai.
51. Membalas ghibah dengan menyebut kebaikan
وَأُخَالِفَ مَنِ اغْتَابَنِي إِلَىٰ حُسْنِ الذِّكْرِ
Wa ukhālifa mani’ghtābanī ilā ḥusni adh-dhikr.
Dan aku menyelisihi orang yang menggunjingku dengan menyebutnya dengan kebaikan.
Makrifat: Jika seseorang membicarakan keburukan kita di belakang, kita tidak perlu membalas dengan membuka keburukannya.
Hakikat: Lisan yang sudah dibersihkan tidak menjadikan ghibah orang lain sebagai alasan untuk melakukan ghibah.
52. Mensyukuri kebaikan
وَأَنْ أَشْكُرَ الْحَسَنَةَ
Wa an asykura al-ḥasanah.
Dan agar aku mensyukuri kebaikan.
Makrifat: Syukur adalah mengenali kebaikan sebagai nikmat Allah yang sampai kepada kita melalui tangan manusia.
53. Memaafkan keburukan
وَأُغْضِيَ عَنِ السَّيِّئَةِ
Wa ughḍiya ‘ani as-sayyi’ah.
Dan agar aku memejamkan mata terhadap keburukan.
Makrifat: Tidak semua kesalahan harus dibalas atau dibesar-besarkan.
Ughḍ berarti memilih untuk tidak mempertajam kesalahan yang masih dapat dimaafkan.
🌸 HIASAN ORANG SALEH
54. Berhias dengan akhlak orang saleh
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وَحَلِّنِي بِحِلْيَةِ الصَّالِحِينَ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa ḥallinī bi-ḥilyati aṣ-ṣāliḥīn.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan hiasilah aku dengan perhiasan orang-orang saleh.
Makrifat: Perhiasan sejati seorang mukmin bukan pakaian, harta atau kedudukan, tetapi akhlak dan ketakwaannya.
55. Hiasan orang bertakwa
وَأَلْبِسْنِي زِينَةَ الْمُتَّقِينَ
Wa albisnī zīnata al-muttaqīn.
Pakaikanlah kepadaku perhiasan orang-orang bertakwa. Kemudian Imam menjelaskan bentuk perhiasan itu.
56. Menegakkan keadilan
فِي بَسْطِ الْعَدْلِ Fī basṭil-‘adl
Dalam menegakkan keadilan.
Makrifat: Akhlak bukan hanya lembut kepada orang yang kita cintai. Akhlak juga berarti adil kepada orang yang kita tidak sukai.
57. Menahan amarah
وَكَظْمِ الْغَيْظِ
Wa kaẓmil-ghayẓ.
Dan menahan amarah.
Makrifat: Kaẓm al-ghayẓ bukan berarti tidak pernah marah, tetapi mampu mengendalikan marah agar tidak berubah menjadi kezaliman.
58. Memadamkan api permusuhan
وَإِطْفَاءِ النَّائِرَةِ
Wa iṭfā’in-nā’irah.
Dan memadamkan api permusuhan.
Makrifat: Orang bertakwa bukan penyulut konflik. Ia menjadi pemadam fitnah dan pertengkaran.
59. Mendekatkan orang yang berpecah
وَضَمِّ أَهْلِ الْفُرْقَةِ
Wa ḍammi ahli al-furqah.
Dan merangkul orang-orang yang terpecah.
Makrifat: Tangan mukmin adalah tangan yang mengumpulkan, bukan memecah.
60. Mendamaikan pihak yang berselisih
وَإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ
Wa iṣlāḥi dhāti al-bayn.
Dan memperbaiki hubungan di antara pihak-pihak yang berselisih.
Makrifat: Iṣlāḥ dhāt al-bayn adalah usaha menyembuhkan hubungan manusia.
61. Menyebarkan kebaikan yang diketahui
وَإِفْشَاءِ الْعَارِفَةِ
Wa ifshā’il-‘ārifah.
Dan menyebarkan kebaikan yang telah diketahui.
Makrifat: Ilmu dan kebaikan jangan disimpan hanya untuk diri sendiri. Sebarkan manfaat yang benar.
62. Menutupi aib
وَسَتْرِ الْعَائِبَةِ
Wa satril-‘ā’ibah.
Dan menutupi aib.
Makrifat: Menutup aib bukan berarti membenarkan kemungkaran. Maknanya adalah tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan mempermalukannya.
63. Lemah lembut perangai
وَلِينِ الْعَرِيكَةِ
Wa līnil-‘arīkah.
Dan kelembutan perangai.
Makrifat: Akhlak yang lembut membuat ilmu dapat diterima dan nasihat dapat masuk ke hati.
64. Merendahkan sayap
وَخَفْضِ الْجَنَاحِ
Wa khafḍil-janāḥ.
Dan merendahkan sayap.
Makrifat: Ini adalah gambaran tawāḍu‘: tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.
65. Baiknya perjalanan hidup
وَحُسْنِ السِّيرَةِ
Wa ḥusnis-sīrah.
Dan baiknya perilaku dalam kehidupan.
Makrifat: Akhlak bukan hanya saat berada di masjid. Sīrah berarti bagaimana seseorang menjalani seluruh kehidupannya.
66. Ketenangan
وَسُكُونِ الرِّيحِ
Wa sukūnir-rīḥ.
Dan ketenangan diri.
Makrifat: Hati yang dekat dengan Allah tidak mudah diguncangkan oleh pujian, celaan, keuntungan atau kerugian.
67. Baiknya pergaulan
وَطِيبِ الْمُخَالَقَةِ
Wa ṭībil-mukhālaqah.
Dan baiknya pergaulan dengan manusia.
Makrifat: Kesalehan yang sejati terlihat dari cara kita memperlakukan manusia.
68. Berlomba dalam kebajikan
وَالسَّبْقِ إِلَى الْفَضِيلَةِ
Was-sabqi ilal-faḍīlah.
Dan bersegera menuju keutamaan.
Makrifat: Jangan menunggu orang lain berbuat baik terlebih dahulu. Jadilah yang pertama memulai kebaikan.
69. Mendahulukan kemurahan hati
وَإِيثَارِ التَّفَضُّلِ
Wa īthārit-tafaḍḍul.
Dan mengutamakan kemurahan hati.
Makrifat: Tafaddul berarti memberikan kebaikan melebihi sekadar kewajiban.
70. Tidak mencela
وَتَرْكِ التَّعْيِيرِ
Wa tarkit-ta‘yīr.
Dan meninggalkan celaan.
Makrifat: Jangan menggunakan kelemahan masa lalu seseorang untuk merendahkannya.
71. Berbuat baik bahkan kepada yang belum layak menerimanya
وَالْإِفْضَالِ عَلَىٰ غَيْرِ الْمُسْتَحِقِّ
Wal-ifḍāli ‘alā ghayril-mustaḥiq.
Dan berbuat baik bahkan kepada orang yang belum layak menerimanya.
Makrifat: Ini tingkat ihsan yang tinggi: kebaikan tidak selalu menunggu balasan atau kelayakan dari penerimanya.
Namun dalam penerapannya, kebajikan tetap harus dilakukan dengan hikmah dan tidak menjadi sarana membantu kezaliman.
72. Mengatakan kebenaran walaupun berat
وَالْقَوْلِ بِالْحَقِّ وَإِنْ عَزَّ
Wal-qawli bil-ḥaqqi wa in ‘azz.
Dan mengatakan kebenaran meskipun terasa berat.
Makrifat: Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sulit diterima.
Hakikat: Seorang mukmin memilih ridha Allah daripada tepuk tangan manusia.
73. Menganggap kecil kebaikan diri
وَاسْتِقْلَالِ الْخَيْرِ وَإِنْ كَثُرَ مِنْ قَوْلِي وَفِعْلِي
Wastiqlālil-khayri wa in kathura min qawlī wa fi‘lī.
Dan menganggap kecil kebaikan yang keluar dari perkataan dan perbuatanku meskipun banyak.
Makrifat: Bukan berarti meremehkan nikmat Allah. Maksudnya adalah jangan merasa hebat karena amal sendiri. Semakin banyak amal, semakin besar rasa syukur kepada Allah.
74. Menganggap besar keburukan walaupun sedikit
وَاسْتِكْثَارِ الشَّرِّ وَإِنْ قَلَّ مِنْ قَوْلِي وَفِعْلِي
Wastikthārisy-syarri wa in qalla min qawlī wa fi‘lī.
Dan menganggap besar keburukan meskipun sedikit dari perkataan dan perbuatanku.
Makrifat: Jangan berkata, “Ini hanya dosa kecil.” Orang yang mengenal kebesaran Allah akan berhati-hati terhadap setiap dosa, karena yang dilihat bukan hanya kecil-besarnya perbuatan, tetapi kepada siapa kita bermaksiat.
🌺 MENYEMPURNAKAN AKHLAK DENGAN ISTIQAMAH
75. Kesempurnaan dengan ketaatan terus-menerus
وَأَكْمِلْ ذٰلِكَ لِي بِدَوَامِ الطَّاعَةِ
Wa akmil dhālika lī bidawāmiṭ-ṭā‘ah.
Sempurnakanlah semua itu bagiku dengan ketaatan yang terus-menerus.
Makrifat: Akhlak bukan hasil satu amal besar. Ia lahir dari ketaatan yang terus-menerus.
76. Tetap bersama jamaah kebaikan
وَلُزُومِ الْجَمَاعَةِ
Wa luzūmil-jamā‘ah.
Dan dengan tetap bersama jamaah.
Makrifat: Manusia membutuhkan lingkungan yang membantu menjaga iman, ilmu, amal dan akhlak.
77. Menjauhi bid‘ah dan pendapat yang dibuat-buat
وَرَفْضِ أَهْلِ الْبِدَعِ
وَمُسْتَعْمِلِ الرَّأْيِ الْمُخْتَرَعِ
Wa rafḍi ahlil-bida‘i
wa musta‘mirir-ra’yil-mukhtara‘.
Dan menolak jalan orang-orang yang mengada-adakan bid‘ah serta orang yang menggunakan pendapat yang dibuat-buat.
Makrifat: Imam Sajjad mengingatkan bahwa akhlak mulia harus berdiri di atas kebenaran, bukan sekadar perasaan baik.
🌹 Inti Makrifat Bagian 3
Bagian ini memberikan tangga akhlak:
غَشّ → نُصْح
Penipuan → nasihat
هَجْر → بِرّ
Dijauhi → kebajikan
حِرْمَان → بَذْل
Tidak diberi → memberi
قَطِيعَة → صِلَة
Diputus → menyambung
غِيبَة → حُسْنُ الذِّكْر
Digunjing → menyebut kebaikan
غَضَب → كَظْم
Marah → menahan diri
فُرْقَة → إِصْلَاح
Perpecahan → perdamaian
كِبْر → خَفْضُ الْجَنَاح
Kesombongan → tawadhu‘
قِلَّةُ الْخَيْر → الْمُبَادَرَةُ
Tidak menunggu → bersegera dalam kebaikan
وَكَثْرَةُ الْعَمَل → قِلَّةُ الْإِعْجَابِ بِالنَّفْس
Banyak amal → semakin tidak kagum kepada diri sendiri.
Inilah salah satu inti Makarim al-Akhlaq: orang yang benar-benar ingin dekat kepada Allah tidak hanya meninggalkan keburukan, tetapi mengubah keburukan yang diterimanya menjadi kebaikan yang ia keluarkan.
Bagian 4 dari 5.
Bagian ini sangat kaya dengan tema rezeki, ketergantungan hanya kepada Allah, menjaga kehormatan, kesehatan untuk beribadah, ilmu, wara‘, dan penutup kehidupan dengan ampunan Allah.
🌿 DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ — BAGIAN 4
Rezeki, kehormatan, ibadah, ilmu, wara‘, dan husnul khatimah
78. Rezeki luas ketika usia bertambah
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَاجْعَلْ أَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ إِذَا كَبِرْتُ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, waj‘al awsa‘a rizqika ‘alayya idhā kibirtu.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan jadikanlah rezeki-Mu yang paling luas bagiku ketika aku telah lanjut usia.
Makrifat: Imam mengajarkan bahwa semakin tua seseorang, semakin besar kebutuhannya kepada karunia dan pertolongan Allah.
Rezeki bukan hanya uang, tetapi kesehatan, keluarga, ilmu, ketenangan dan kesempatan beribadah.
79. Kekuatan ketika tubuh melemah
وَأَقْوَىٰ قُوَّتِكَ فِيَّ إِذَا نَصِبْتُ
Wa aqwā quwwatika fiyya idhā naṣibtu.
Dan berikanlah kekuatan-Mu yang paling kuat dalam diriku ketika aku telah lemah dan letih.
Makrifat: Ketika kekuatan manusia berkurang, kekuatan Allah tidak pernah berkurang.
Hakikat: Kelemahan jasmani dapat menjadi jalan menuju kekuatan ruhani, karena seorang hamba semakin sadar akan kebutuhan kepada Allah.
80. Jangan malas beribadah
وَلَا تَبْتَلِيَنِّي بِالْكَسَلِ عَنْ عِبَادَتِكَ
Wa lā tabtaliniy bil-kasali ‘an ‘ibādatik.
Janganlah Engkau mengujiku dengan kemalasan dari beribadah kepada-Mu.
Makrifat: Salah satu penyakit hati adalah mengetahui kebaikan tetapi tidak memiliki semangat untuk melakukannya.
81. Jangan buta dari jalan Allah
وَلَا الْعَمَىٰ عَنْ سَبِيلِكَ
Wa lā al-‘amā ‘an sabīlik.
Dan janganlah Engkau mengujiku dengan kebutaan terhadap jalan-Mu.
Makrifat: Kebutaan yang paling berbahaya bukan kebutaan mata, tetapi hati yang tidak lagi mampu melihat jalan menuju Allah.
82. Jangan menentang kecintaan Allah
وَلَا بِالتَّعَرُّضِ لِخِلَافِ مَحَبَّتِكَ
Wa lā bit-ta‘arruḍi li-khilāfi maḥabbatik.
Dan janganlah Engkau mengujiku dengan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang Engkau cintai.
Makrifat: Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan memilih apa yang Dia cintai.
83. Jangan berkawan dengan orang yang menjauh dari Allah
وَلَا مُجَامَعَةِ مَنْ تَفَرَّقَ عَنْكَ
Wa lā mujāma‘ati man taffarraqa ‘ank.
Dan janganlah aku bergaul erat dengan orang yang menjauh dari-Mu.
Makrifat: Lingkungan sangat memengaruhi hati. Persahabatan seharusnya membantu seseorang mengingat Allah, bukan melupakannya.
84. Jangan meninggalkan orang yang menuju Allah
وَلَا مُفَارَقَةِ مَنِ اجْتَمَعَ إِلَيْكَ
Wa lā mufāraqati manijtama‘a ilayk.
Dan janganlah aku meninggalkan orang yang berkumpul menuju-Mu.
Makrifat: Jangan meninggalkan orang-orang yang membantu kita dalam ketaatan, ilmu, zikir dan jalan kebenaran.
🤲 HANYA ALLAH TEMPAT BERSANDAR
85. Mengandalkan Allah saat darurat
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي أَصُولُ بِكَ عِنْدَ الضَّرُورَةِ
Allāhumma aj‘alnī aṣūlu bika ‘indaḍ-ḍarūrah.
Ya Allah, jadikanlah aku berlindung dan mendapatkan kekuatan melalui-Mu ketika dalam keadaan darurat.
Makrifat: Saat keadaan terjepit, jangan sampai hati pertama-tama bergantung kepada makhluk. Allah adalah sumber kekuatan.
86. Memohon kepada Allah ketika membutuhkan
وَأَسْأَلُكَ عِنْدَ الْحَاجَةِ
Wa as’aluka ‘indal-ḥājah.
Dan menjadikan-Mu tempat meminta ketika aku membutuhkan.
Makrifat: Meminta kepada manusia boleh dalam perkara yang memang berada dalam kemampuan mereka, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.
87. Merendahkan diri kepada Allah ketika susah
وَأَتَضَرَّعُ إِلَيْكَ عِنْدَ الْمَسْكَنَةِ
Wa ataḍarra‘u ilaika ‘indal-mask anah.
Dan aku merendahkan diri kepada-Mu ketika berada dalam kesusahan.
Makrifat: Kesulitan dapat menjadi pintu tadharru‘, yaitu hati yang benar-benar merasa membutuhkan Allah.
88. Jangan terpaksa bergantung kepada selain Allah
وَلَا تَفْتِنِّي بِالِاسْتِعَانَةِ بِغَيْرِكَ إِذَا اضْطُرِرْتُ
Wa lā taftinnī bil-isti‘ānati bighairika idhāḍṭurirtu.
Janganlah Engkau mengujiku dengan meminta pertolongan kepada selain-Mu ketika aku berada dalam keadaan terpaksa.
Makrifat: Yang dimohon bukan berarti menolak bantuan manusia, tetapi agar hati tidak menjadikan manusia sebagai tempat bergantung mutlak.
89. Menjaga kehormatan ketika miskin
وَلَا بِالْخُضُوعِ لِسُؤَالِ غَيْرِكَ إِذَا افْتَقَرْتُ
Wa lā bil-khuḍū‘i lisu’āli ghairika idhā iftaqartu.
Dan janganlah Engkau mengujiku dengan merendahkan diri meminta kepada selain-Mu ketika aku dalam kekurangan.
Makrifat: Kemiskinan tidak boleh membuat seorang hamba kehilangan izzah. Ia boleh meminta bantuan secara terhormat, tetapi kehinaan hati hanya kepada Allah.
90. Jangan takut kepada selain Allah
وَلَا بِالتَّضَرُّعِ إِلَىٰ مَنْ دُونَكَ إِذَا رَهِبْتُ
Wa lā bit-taḍarru‘i ilā man dūnaka idhā rahibtu.
Dan janganlah aku merendahkan diri kepada selain-Mu ketika aku merasa takut.
Makrifat: Ketakutan yang paling dalam harus diarahkan kepada Allah. Makhluk hanyalah sebab; Allah adalah Penguasa segala sebab.
91. Jangan sampai kehilangan pertolongan Allah
فَأَسْتَحِقَّ بِذٰلِكَ خِذْلَانَكَ وَمَنْعَكَ وَإِعْرَاضَكَ
Fa-astaḥiqqa bidhālika khidhlānaka wa man‘aka wa i‘rāḍak.
Sehingga dengan demikian aku menjadi layak mendapatkan pengabaian-Mu, pencegahan-Mu, dan berpalingnya-Mu dariku.
Makrifat: Imam sangat takut kehilangan ‘ināyah Allah. Sebab itu ia memohon agar dalam setiap keadaan, hatinya tetap kembali kepada Allah.
92. Seruan kepada Allah
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Yā Arḥamar-Rāḥimīn.
Wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi.
Makrifat: Pada akhirnya seorang hamba tidak bergantung pada amalnya sendiri, tetapi pada rahmat Allah.
🧠 MENGUBAH BISIKAN SETAN MENJADI ZIKIR
93. Mengubah angan-angan buruk menjadi ingatan kepada Allah
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِي رُوعِي مِنَ التَّمَنِّي وَالتَّظَنِّي وَالْحَسَدِ ذِكْرًا لِعَظَمَتِكَ
Allāhummaj‘al mā yulqī asy-syayṭānu fī rū‘ī minat-tamannī wat-taẓannī wal-ḥasadi dhikran li‘aẓamatik.
Ya Allah, jadikanlah apa yang dilemparkan setan ke dalam batinku berupa angan-angan, prasangka dan kedengkian sebagai pengingat akan kebesaran-Mu.
Makrifat: Ini sangat dalam: Imam tidak hanya meminta agar godaan hilang, tetapi agar godaan itu justru menjadi pintu kembali kepada Allah.
94. Mengubah godaan menjadi tafakkur
وَتَفَكُّرًا فِي قُدْرَتِكَ
Wa tafakkuran fī qudratik.
Dan menjadi renungan tentang kekuasaan-Mu.
Makrifat: Ketika muncul pikiran yang mengganggu, seorang mukmin dapat mengalihkannya kepada tafakkur tentang kekuasaan Allah.
95. Mengubah gangguan menjadi strategi melawan musuh
وَتَدْبِيرًا عَلَىٰ عَدُوِّكَ
Wa tadbīran ‘alā ‘aduwwik.
Dan menjadi perencanaan untuk menghadapi musuh-Mu.
Makrifat: Musuh terbesar manusia adalah segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah, terutama syaitan dan hawa nafsu.
👅 MENJAGA LISAN
96. Mengganti ucapan buruk dengan pujian
وَمَا أَجْرَىٰ عَلَىٰ لِسَانِي مِنْ لَفْظَةِ فُحْشٍ أَوْ هُجْرٍ أَوْ شَتْمِ عِرْضٍ
Wa mā ajrā ‘alā lisānī min lafẓati fuḥshin aw hujrin aw syatmi ‘irḍ.
Apa pun ucapan keji, buruk, atau celaan terhadap kehormatan seseorang yang mengalir dari lisanku
Makrifat: Lisan dapat menjadi pintu pahala atau pintu dosa. Imam meminta agar ucapan yang buruk diganti dengan ucapan yang suci.
97. Tidak memberikan kesaksian palsu
أَوْ شَهَادَةِ بَاطِلٍ
Aw syahādati bāṭil.
Atau kesaksian yang batil.
Makrifat: Kesaksian palsu bukan sekadar dosa lisan; ia dapat menghancurkan hak orang lain.
98. Tidak menggunjing mukmin
أَوِ اغْتِيَابِ مُؤْمِنٍ غَائِبٍ
Awightiyābi mu’minin ghā’ib.
Atau menggunjing seorang mukmin yang tidak hadir.
Makrifat: Menjaga kehormatan saudara ketika ia tidak ada merupakan tanda amanah dan kemuliaan akhlak.
99. Tidak mencaci orang yang hadir
أَوْ سَبِّ حَاضِرٍ
Aw sabbi ḥāḍir.
Atau mencaci orang yang hadir.
Makrifat: Bahkan ketika seseorang berada di depan kita dan kita mampu membalasnya, akhlak mulia adalah menahan lisan.
100. Mengubah seluruh keburukan lisan menjadi pujian
وَمَا أَشْبَهَ ذٰلِكَ نُطْقًا بِالْحَمْدِ لَكَ
Wa mā asybaha dhālika nuṭqan bil-ḥamdi lak.
Dan segala ucapan lain yang serupa dengan itu, jadikanlah sebagai ucapan pujian kepada-Mu.
Makrifat: Tujuan akhirnya adalah menjadikan lisan sebagai alat zikir, bukan alat menyakiti.
101. Memenuhi lisan dengan pujian
وَإِغْرَاقًا فِي الثَّنَاءِ عَلَيْكَ
Wa ighrāqan fith-thanā’i ‘alaik.
Dan tenggelam dalam pujian kepada-Mu.
Makrifat: Lisan yang sibuk memuji Allah akan semakin sulit digunakan untuk mencela makhluk.
102. Memuliakan Allah
وَذَهَابًا فِي تَمْجِيدِكَ
Wa dhahāban fī tamjīdik.
Dan berjalan dalam memuliakan-Mu.
Makrifat: Tamjīd adalah mengagungkan Allah dengan mengenali kebesaran, kesempurnaan dan keagungan-Nya.
103. Mensyukuri nikmat
وَشُكْرًا لِنِعْمَتِكَ
Wa syukran lini‘matik.
Dan menjadi syukur atas nikmat-Mu.
Makrifat: Setiap nikmat seharusnya membawa kita lebih dekat kepada Pemberi nikmat, bukan semakin lupa kepada-Nya.
104. Mengakui ihsan Allah
وَاعْتِرَافًا بِإِحْسَانِكَ
Wa‘tirāfan bi-iḥsānik.
Dan pengakuan atas kebaikan-Mu.
Makrifat: Orang yang mengenal Allah melihat bahwa di balik setiap kebaikan yang sampai kepadanya terdapat ihsan Allah.
105. Menghitung nikmat Allah
وَإِحْصَاءً لِمِنَنِكَ
Wa iḥṣā’an liminanik.
Dan menjadi perhitungan atas berbagai karunia-Mu.
Makrifat: Nikmat Allah tidak mungkin benar-benar dihitung. Namun seorang arif terus berusaha menyadari nikmat agar semakin bersyukur.
🌺 INTI MAKRIFAT BAGIAN 4
Bagian ini mengajarkan tauhid dalam ketergantungan:
Saat darurat → Allah
Saat membutuhkan → Allah
Saat miskin → Allah
Saat takut → Allah
Saat digoda → ingat Allah
Saat lisan hampir salah → puji Allah
Saat mendapat nikmat → syukuri Allah
Kemudian Imam mengajarkan satu prinsip yang sangat tinggi:
Jangan hanya meminta Allah menghilangkan keburukan; mintalah agar Allah mengubah keburukan menjadi jalan menuju kebaikan.
Godaan → zikir
Prasangka → tafakkur
Hasad → mengingat kebesaran Allah
Ucapan buruk → hamd
Nikmat → syukur
Kesulitan → tadharru‘
Dengan demikian, seluruh keadaan hidup dapat menjadi jalan kembali kepada Allah.
Bagian 5 dari 5, bagian terakhir dari Doa Makarim al-Akhlaq.
Bagian ini menutup doa dengan keadilan, tidak menzalimi, hidayah, ampunan, tawakal, rezeki, kesehatan untuk ibadah, zikir, ridha Allah, dan keselamatan akhirat.
🌿 DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ — BAGIAN 5
Hidayah, ampunan, rezeki, ibadah, tawakal, dan husnul khatimah
106. Tidak dizalimi
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَلَا أُظْلَمَنَّ وَأَنْتَ مُطِيقٌ لِلدَّفْعِ عَنِّي
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa lā uẓlamanna wa anta muṭīqun lid-daf‘i ‘annī.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan janganlah aku dizalimi sedangkan Engkau mampu membelaku.
Makrifat: Seorang hamba boleh meminta perlindungan dari kezaliman, tetapi pertolongan akhirnya berasal dari Allah.
107. Jangan menzalimi
وَلَا أَظْلِمَنَّ وَأَنْتَ الْقَادِرُ عَلَى الْقَبْضِ مِنِّي
Wa lā aẓlimanna wa antal-qādiru ‘alal-qabḍi minnī.
Dan janganlah aku menzalimi, sedangkan Engkau berkuasa mengambil kekuasaan dariku.
Makrifat: Imam tidak hanya meminta Allah melindungi dirinya dari kezaliman, tetapi juga memohon agar dirinya tidak menjadi pelaku kezaliman.
108. Jangan tersesat
وَلَا أَضِلَّنَّ وَقَدْ أَمْكَنَتْكَ هِدَايَتِي
Wa lā aḍillanna wa qad amkanatka hidāyatī.
Dan janganlah aku tersesat sedangkan hidayahku berada dalam kekuasaan-Mu.
Makrifat: Hidayah harus terus diminta. Seseorang tidak boleh merasa, “Aku sudah pasti berada di jalan benar.”
109. Jangan kekurangan sementara rezeki Allah luas
وَلَا أَفْتَقِرَنَّ وَمِنْ عِنْدِكَ وُسْعِي
Wa lā aftaqiranna wa min ‘indika wus‘ī.
Dan janganlah aku menjadi kekurangan sementara keluasan rezekiku berasal dari-Mu.
Makrifat: Kecukupan sejati datang dari Allah. Namun ikhtiar tetap menjadi bagian dari penghambaan.
110. Jangan melampaui batas karena kekayaan
وَلَا أَطْغَيَنَّ وَمِنْ عِنْدِكَ وُجْدِي
Wa lā aṭghayanna wa min ‘indika wujdī.
Dan janganlah aku melampaui batas ketika kecukupan hartaku berasal dari-Mu.
Makrifat: Kemiskinan dapat menguji manusia, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Yang diminta Imam adalah rezeki tanpa istidrāj dan kekayaan tanpa kesombongan.
🤲 KEMBALI KEPADA AMPUNAN ALLAH
111. Datang menuju maghfirah
اَللّٰهُمَّ إِلَىٰ مَغْفِرَتِكَ وَفَدْتُ
Allāhumma ilā maghfiratika wafadtu.
Ya Allah, kepada ampunan-Mu aku datang.
Makrifat: Hamba yang mengenal dirinya tahu bahwa keselamatannya tidak cukup hanya dengan amal, tetapi membutuhkan maghfirah Allah.
112. Menuju ampunan
وَإِلَىٰ عَفْوِكَ قَصَدْتُ
Wa ilā ‘afwika qaṣadtu.
Dan kepada maaf-Mu aku menuju.
Makrifat: ‘Afw berarti Allah menghapus kesalahan dan tidak menghukum hamba atasnya.
113. Merindukan Allah menutupi kesalahan
وَإِلَىٰ تَجَاوُزِكَ اشْتَقْتُ
Wa ilā tajāwuzika isytaqtu.
Dan kepada pengampunan-Mu aku merindukan.
Makrifat: Hamba tidak mengandalkan amalnya. Ia merindukan keluasan rahmat Allah.
114. Percaya kepada karunia Allah
وَبِفَضْلِكَ وَثِقْتُ
Wa bifaḍlika tsiqtu.
Dan kepada karunia-Mu aku percaya.
Makrifat: Inilah keseimbangan antara takut dan harap: takut terhadap dosa, tetapi berharap kepada fadhl Allah.
115. Tidak merasa memiliki amal yang cukup
وَلَيْسَ عِنْدِي مَا يُوجِبُ لِي مَغْفِرَتَكَ
Wa laisa ‘indī mā yūjibu lī maghfiratak.
Aku tidak memiliki sesuatu yang membuatku layak mendapatkan ampunan-Mu.
Makrifat: Imam mengajarkan rendah hati di hadapan Allah. Jangan merasa amal kita adalah “harga” yang memaksa Allah memberi pahala.
116. Tidak merasa amal pantas untuk mendapatkan afwu
وَلَا فِي عَمَلِي مَا أَسْتَحِقُّ بِهِ عَفْوَكَ
Wa lā fī ‘amalī mā astaḥiqqu bihī ‘afwak.
Dan dalam amalanku tidak ada sesuatu yang membuatku layak mendapatkan maaf-Mu.
Makrifat: Amal adalah kewajiban seorang hamba; keselamatan tetap membutuhkan rahmat Allah.
117. Setelah mengakui kelemahan, hanya berharap kepada karunia Allah
وَمَا لِي بَعْدَ أَنْ حَكَمْتُ عَلَىٰ نَفْسِي إِلَّا فَضْلُكَ
Wa mā lī ba‘da an ḥakamtu ‘alā nafsī illā faḍluk.
Setelah aku mengakui keadaan diriku, tidak ada yang tersisa bagiku selain karunia-Mu.
Makrifat: Ini adalah puncak faqr ilallāh: menyadari bahwa diri kita benar-benar membutuhkan Allah.
118. Shalawat dan karunia
فَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَتَفَضَّلْ عَلَيَّ
Fa ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa tafaḍḍal ‘alayya.
Maka limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan karuniakanlah kemurahan-Mu kepadaku.
Makrifat: Jalan memohon rahmat Allah kembali diarahkan melalui shalawat kepada Muhammad dan Ahlulbait.
LISAN, TAKWA DAN JALAN YANG PALING BAIK
119. Berbicara dengan petunjuk
اَللّٰهُمَّ وَأَنْطِقْنِي بِالْهُدَىٰ
Allāhumma wa anṭiqnī bil-hudā.
Ya Allah, jadikanlah lisanku berbicara dengan petunjuk.
Makrifat: Bukan sekadar meminta lisan yang banyak berbicara, tetapi lisan yang benar dan memberi petunjuk.
120. Mengilhamkan ketakwaan
وَأَلْهِمْنِي التَّقْوَىٰ
Wa alhimnī at-taqwā.
Ilhamkanlah kepadaku ketakwaan.
Makrifat: Takwa adalah kemampuan menjaga diri karena sadar bahwa Allah selalu mengetahui keadaan kita.
121. Memilih yang paling suci
وَوَفِّقْنِي لِلَّتِي هِيَ أَزْكَىٰ
Wa waffiqnī lillatī hiya azkā.
Berilah aku taufik untuk memilih apa yang paling suci.
Makrifat: Seorang mukmin tidak cukup memilih antara halal dan haram. Ia berusaha memilih yang lebih suci, lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.
122. Melakukan yang paling diridhai
وَاسْتَعْمِلْنِي بِمَا هُوَ أَرْضَىٰ
Wasta‘milnī bimā huwa arḍā.
Gunakanlah aku dalam perkara yang paling Engkau ridhai.
Makrifat: Ini adalah maqam yang tinggi: bukan lagi bertanya, “Apa yang saya sukai?”, tetapi “Apa yang Allah ridhai?”
123. Jalan terbaik
اَللّٰهُمَّ اسْلُكْ بِيَ الطَّرِيقَةَ الْمُثْلَىٰ
Allāhumma usluk bī aṭ-ṭarīqatal-muthlā.
Ya Allah, tuntunlah aku melalui jalan yang paling baik.
Makrifat: Jalan terbaik adalah jalan yang membawa hati, amal dan kehidupan menuju ridha Allah.
124. Hidup dan mati dalam agama Allah
وَاجْعَلْنِي عَلَىٰ مِلَّتِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا
Waj‘alnī ‘alā millatika amūtu wa aḥyā.
Jadikanlah aku tetap berada di atas agama-Mu; aku hidup dan mati di atasnya.
Makrifat: Inilah permohonan husnul khatimah: bukan hanya hidup dalam iman, tetapi meninggal dalam iman.
🌾 KESEIMBANGAN DAN REZEKI
125. Hidup sederhana
وَمَتِّعْنِي بِالِاقْتِصَادِ
Wa matti‘nī bil-iqtiṣād.
Nikmatilah aku dengan hidup yang sederhana dan seimbang.
Makrifat: Iqtiṣād berarti tidak berlebihan dan tidak pula menyia-nyiakan.
126. Menjadi orang yang lurus
وَاجْعَلْنِي مِنْ أَهْلِ السَّدَادِ
Waj‘alnī min ahlis-sadād.
Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang lurus dan tepat.
Makrifat: Sadād adalah ketepatan dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan.
127. Menjadi petunjuk bagi jalan yang benar
وَمِنْ أَدِلَّةِ الرَّشَادِ
Wa min adillati ar-rashād.
Dan termasuk orang-orang yang menjadi petunjuk menuju jalan yang benar.
Makrifat: Ilmu yang sejati bukan hanya menerangi diri, tetapi juga menerangi orang lain.
128. Menjadi hamba yang saleh
وَمِنْ صَالِحِي الْعِبَادِ
Wa min ṣāliḥil-‘ibād.
Dan termasuk hamba-hamba yang saleh.
129. Mendapat kemenangan akhirat
وَارْزُقْنِي فَوْزَ الْمَعَادِ
Warzuqnī fawzal-ma‘ād.
Karuniakanlah kepadaku keberuntungan di akhirat.
Makrifat: Semua keberhasilan dunia tidak berarti jika kehilangan fawz al-ma‘ād—keselamatan ketika kembali kepada Allah.
130. Selamat di tempat penantian
وَسَلَامَةَ الْمِرْصَادِ
Wa salāmatal-mirṣād.
Dan keselamatan di tempat penantian.
Makrifat: Hamba memohon keselamatan dalam perjalanan menuju akhirat dan ketika menghadapi perhitungan amal.
MENAKLUKKAN NAFSU
131. Mengambil dari jiwa apa yang menyelamatkannya
اَللّٰهُمَّ خُذْ لِنَفْسِكَ مِنْ نَفْسِي مَا يُخَلِّصُهَا
Allāhumma khudh linafsika min nafsī mā yukhalliṣuhā.
Ya Allah, ambillah dari diriku untuk-Mu apa yang dapat menyelamatkan jiwaku.
Makrifat: Yang harus “diambil” adalah segala sesuatu dari ego yang menghalangi penghambaan: kesombongan, hawa nafsu, cinta dunia yang berlebihan dan keakuan.
132. Sisakan jiwa yang memperbaikinya
وَأَبْقِ لِنَفْسِي مِنْ نَفْسِي مَا يُصْلِحُهَا
Wa abqi linafsī min nafsī mā yuṣliḥuhā.
Dan sisakan bagi diriku dari diriku apa yang memperbaikinya.
Makrifat: Islam bukan menghancurkan kepribadian manusia, tetapi membersihkan dan mengarahkannya kepada Allah.
133. Jiwa tanpa penjagaan Allah akan binasa
فَإِنَّ نَفْسِي هَالِكَةٌ أَوْ تَعْصِمَهَا
Fa-inna nafsī hālikatun aw ta‘ṣimuhā.
Sesungguhnya jiwaku akan binasa kecuali Engkau menjaganya.
Makrifat: Keselamatan jiwa bukan hasil kekuatan ego, tetapi ‘iṣmah dan penjagaan Allah.
ALLAH ADALAH TEMPAT KEMBALI DALAM KESEDIHAN
134. Allah adalah persiapan ketika sedih
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ عُدَّتِي إِنْ حَزِنْتُ
Allāhumma anta ‘uddatī in ḥazintu.
Ya Allah, Engkaulah persiapanku ketika aku bersedih.
Makrifat: Saat hati kehilangan sesuatu, Allah tetap menjadi bekal dan sandaran.
135. Allah tempat mencari ketika terhalang
وَأَنْتَ مُنْتَجَعِي إِنْ حُرِمْتُ
Wa anta muntaja‘ī in ḥurimtu.
Engkaulah tempatku mencari pertolongan ketika aku terhalang dari sesuatu.
136. Allah tempat meminta pertolongan dalam kesulitan
وَبِكَ اسْتِغَاثَتِي إِنْ كَرِثْتُ
Wa bika istighāthatī in karithtu.
Dan kepada-Mu aku memohon pertolongan ketika aku ditimpa kesusahan.
Makrifat: Tiga keadaan manusia:
sedih → Allah
terhalang → Allah
terdesak → Allah
137. Allah mengganti apa yang hilang
وَعِنْدَكَ مِمَّا فَاتَ خَلَفٌ
Wa ‘indaka mimmā fāta khalaf.
Di sisi-Mu ada pengganti atas apa yang telah hilang.
Makrifat: Tidak ada kehilangan yang membuat seorang mukmin benar-benar tanpa harapan selama ia masih memiliki Allah.
138. Allah memperbaiki yang rusak
وَلِمَا فَسَدَ صَلَاحٌ
Wa limā fasada ṣalāḥ.
Dan bagi apa yang telah rusak, di sisi-Mu ada perbaikan.
139. Allah mampu mengubah keadaan
وَفِيمَا أَنْكَرْتَ تَغْيِيرٌ
Wa fīmā ankar-ta taghyīr.
Dan terhadap apa yang tidak Engkau sukai, terdapat perubahan.
Makrifat: Jangan putus asa terhadap keadaan. Allah mampu mengubah keadaan hati, kehidupan dan jalan manusia.
MEMOHON NIKMAT SEBELUM UJIAN
140. Kesehatan sebelum datangnya bala
فَامْنُنْ عَلَيَّ قَبْلَ الْبَلَاءِ بِالْعَافِيَةِ
Famnun ‘alayya qablal-balā’i bil-‘āfiyah.
Karuniakanlah kepadaku kesehatan dan keselamatan sebelum datangnya ujian.
Makrifat: Nikmat terbesar kadang adalah bala yang tidak jadi datang.
141. Kecukupan sebelum harus meminta
وَقَبْلَ الطَّلَبِ بِالْجِدَةِ
Wa qablal-ṭalabi bil-jidah.
Dan berilah aku kecukupan sebelum aku harus meminta.
Makrifat: Memohon agar Allah menjaga kehormatan dan kecukupan seorang hamba.
142. Petunjuk sebelum tersesat
وَقَبْلَ الضَّلَالِ بِالرَّشَادِ
Wa qablaḍ-ḍalāli bir-rashād.
Dan berilah aku petunjuk sebelum kesesatan.
Makrifat: Jangan menunggu jatuh baru memohon pertolongan. Mohonlah hidayah sebelum tergelincir.
143. Dilindungi dari penghinaan manusia
وَاكْفِنِي مَؤُونَةَ مَعَرَّةِ الْعِبَادِ
Wakfinī ma’ūnata ma‘arratil-‘ibād.
Cukupkanlah aku dari beban kehinaan dan celaan manusia.
144. Aman pada hari kembali
وَهَبْ لِي أَمْنَ يَوْمِ الْمَعَادِ
Wa hab lī amna yaumil-ma‘ād.
Anugerahkanlah kepadaku keamanan pada hari kembali.
Makrifat: Puncak keamanan bukan keamanan dunia, tetapi aman ketika berdiri di hadapan Allah.
145. Petunjuk yang baik
وَامْنَحْنِي حُسْنَ الْإِرْشَادِ
Wamnaḥnī ḥusnal-irsyād.
Anugerahkanlah kepadaku petunjuk yang baik.
ALLAH MEMPERBAIKI SEGALA URUSAN
146. Menjauhkan keburukan dengan kelembutan
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وَادْرَأْ عَنِّي بِلُطْفِكَ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wadra’ ‘annī biluṭfik.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan jauhkanlah keburukan dariku dengan kelembutan-Mu.
147. Memberi makan dengan nikmat
وَاغْذُنِي بِنِعْمَتِكَ
Wagh-dhunī bini‘matik.
Peliharalah aku dengan nikmat-Mu.
Makrifat:Seperti tubuh membutuhkan makanan, ruh membutuhkan nikmat dan rahmat Allah.
148. Memperbaiki dengan kemurahan
وَأَصْلِحْنِي بِكَرَمِكَ
Wa aṣliḥnī bikaramik.
Perbaikilah aku dengan kemurahan-Mu.
149. Mengobati dengan perbuatan Allah
وَدَاوِنِي بِصُنْعِكَ
Wa dāwinī biṣun‘ik.
Sembuhkanlah aku dengan perbuatan dan pemeliharaan-Mu.
Makrifat: Allah mampu memperbaiki luka yang tidak terlihat oleh manusia: luka hati, dosa, kelemahan jiwa dan kegelisahan batin.
150. Berlindung di bawah naungan Allah
وَأَظِلَّنِي فِي ذَرَاكَ
Wa aẓillanī fī dharāk.
Naungilah aku dalam perlindungan-Mu.
151. Menyelimuti dengan ridha
وَجَلِّلْنِي رِضَاكَ
Wa jallilnī riḍāk.
Selimutilah aku dengan keridhaan-Mu.
Makrifat: Lebih tinggi daripada mendapatkan nikmat adalah mendapatkan ridha Sang Pemberi nikmat.
152. Memilih jalan paling lurus ketika perkara membingungkan
وَوَفِّقْنِي إِذَا اشْتَبَهَتْ عَلَيَّ الْأُمُورُ لِأَهْدَاهَا
Wa waffiqnī idhā isytabaḥat ‘alayyal-umūru li-ahdāhā.
Berilah aku taufiq ketika berbagai urusan menjadi samar bagiku untuk memilih yang paling memberi petunjuk.
Makrifat: Ketika bingung, jangan hanya bertanya “mana yang menguntungkan?”, tetapi “mana yang paling dekat kepada hidayah Allah?”
153. Memilih amal yang paling suci
وَإِذَا تَشَابَهَتِ الْأَعْمَالُ لِأَزْكَاهَا
Wa idhā tasyābahatil-a‘mālu li-azkāhā.
Dan ketika berbagai amal tampak serupa, tunjukilah aku kepada yang paling suci.
154. Memilih yang paling diridhai Allah
وَإِذَا تَنَاقَضَتِ الْمِلَلُ لِأَرْضَاهَا
Wa idhā tanāqaḍatil-milalu li-arḍāhā.
Dan ketika berbagai jalan keagamaan tampak bertentangan, tunjukilah aku kepada jalan yang paling Engkau ridhai.
Makrifat: Ukuran akhir bukan popularitas manusia, tetapi ridha Allah dan kebenaran.
KEPUASAN, KECUKUPAN, DAN PENGATURAN REZEKI
155. Mahkota kecukupan
وَتَوِّجْنِي بِالْكِفَايَةِ
Wa tawwij-nī bil-kifāyah.
Mahkotailah aku dengan kecukupan.
Makrifat: Kifāyah adalah keadaan ketika kebutuhan tercukupi sehingga hati tidak menjadi budak dunia.
156. Menjaga dengan baik
وَسُمْنِي حُسْنَ الْوِلَايَةِ
Wa sum-nī ḥusnal-wilāyah.
Anugerahkanlah kepadaku penjagaan dan pengelolaan yang baik.
157. Hidayah yang benar
وَهَبْ لِي صِدْقَ الْهِدَايَةِ
Wa hab lī ṣidqal-hidāyah.
Anugerahkanlah kepadaku hidayah yang benar.
158. Jangan diuji dengan kelapangan yang melalaikan
وَلَا تَفْتِنِّي بِالسَّعَةِ
Wa lā taftinnī bis-sa‘ah.
Janganlah Engkau mengujiku dengan kelapangan.
Makrifat: Kelapangan juga ujian. Kekayaan yang membuat lupa kepada Allah dapat lebih berbahaya daripada kekurangan yang membuat kita kembali kepada-Nya.
159. Berikan ketenangan
وَامْنَحْنِي حُسْنَ الدَّعَةِ
Wamnaḥnī ḥusnad-da‘ah.
Anugerahkanlah kepadaku ketenteraman hidup yang baik.
160. Jangan jadikan hidup penuh penderitaan
وَلَا تَجْعَلْ عَيْشِي كَدًّا كَدًّا
Wa lā taj‘al ‘aisyī kaddan kaddā.
Jangan jadikan kehidupanku penuh kelelahan dan kesukaran.
161. Jangan menolak doaku
وَلَا تَرُدَّ دُعَائِي عَلَيَّ رَدًّا
Wa lā tarudda du‘ā’ī ‘alayya raddā.
Dan jangan Engkau menolak doaku dengan penolakan.
162. Tauhid yang murni
فَإِنِّي لَا أَجْعَلُ لَكَ ضِدًّا
Fa-innī lā aj‘alu laka ḍiddā.
Sesungguhnya aku tidak menjadikan bagi-Mu tandingan.
Makrifat: Ini kembali kepada tauhid murni: tidak menyamakan siapa pun dengan Allah dalam ketuhanan.
163. Tidak menjadikan tandingan bagi Allah
وَلَا أَدْعُو مَعَكَ نِدًّا
Wa lā ad‘ū ma‘aka niddā.
Dan aku tidak menyeru bersama-Mu tandingan.
Hakikat: Seluruh doa kembali kepada Allah Yang Esa.
MENGATUR HARTA DENGAN BERKAH
164. Tidak boros
وَامْنَعْنِي مِنَ السَّرَفِ
Wamni‘nī minas-saraf.
Jauhkanlah aku dari pemborosan.
165. Menjaga rezeki dari kerusakan
وَحَصِّنْ رِزْقِي مِنَ التَّلَفِ
Wa ḥaṣṣin rizqī minat-talaf.
Lindungilah rezekiku dari kehancuran.
166. Memberkahi harta
وَوَفِّرْ مَلَكَتِي بِالْبَرَكَةِ فِيهِ
Wa waffir malakatī bil-barakati fīh.
Perbanyaklah manfaat hartaku dengan keberkahan di dalamnya.
167. Menggunakan harta untuk kebaikan
وَأَصِبْ بِي سَبِيلَ الْهِدَايَةِ لِلْبِرِّ فِيمَا أُنْفِقُ مِنْهُ
Wa aṣib bī sabīlal-hidāyati lil-birri fīmā unfiqu minh.
Tunjukkanlah kepadaku jalan hidayah menuju kebajikan dalam apa yang aku belanjakan darinya.
Makrifat: Harta yang berkah bukan sekadar banyak. Berkah adalah ketika harta menjadi jalan menuju kebaikan.
REZEKI TANPA MELALAIKAN IBADAH
168. Tidak disibukkan mencari rezeki hingga lupa Allah
وَاكْفِنِي مَؤُونَةَ الْاكْتِسَابِ
Wakfinī ma’ūnatal-iktisāb.
Cukupkanlah aku dari beban berat mencari penghasilan.
169. Rezeki dari arah yang tidak disangka
وَارْزُقْنِي مِنْ غَيْرِ احْتِسَابٍ
Warzuqnī min ghairi iḥtisāb.
Berilah aku rezeki dari arah yang tidak aku perhitungkan.
170. Tidak lalai dari ibadah karena mencari rezeki
فَلَا أَشْتَغِلَ عَنْ عِبَادَتِكَ بِالطَّلَبِ
Falā asytaghila ‘an ‘ibādatika biṭ-ṭalab.
Agar aku tidak disibukkan mencari rezeki hingga lalai dari ibadah kepada-Mu.
Makrifat: Bekerja adalah ibadah bila benar niatnya, tetapi pekerjaan tidak boleh menjadi pengganti Allah dalam hati.
171. Tidak menanggung beban akibat harta yang salah
وَلَا أَحْتَمِلَ إِصْرَ تَبِعَاتِ الْمَكْسَبِ
Wa lā aḥtamila iṣra tabi‘ātil-maksab.
Dan agar aku tidak menanggung beban dosa akibat penghasilan.
Makrifat: Yang diminta bukan hanya banyak rezeki, tetapi rezeki yang halal dan tidak membawa beban di akhirat.
ALLAH MENCUKUPKAN KEBUTUHAN
172. Allah memenuhi apa yang dicari
فَأَطْلُبْنِي بِقُدْرَتِكَ مَا أَطْلُبُ
Faṭlubnī bi-qudratika mā aṭlub.
Dengan kekuasaan-Mu, penuhilah apa yang aku cari.
173. Allah melindungi dari apa yang ditakuti
وَأَجِرْنِي بِعِزَّتِكَ مِمَّا أَرْهَبُ
Wa ajirnī bi‘izzatika mimmā arhab.
Dan lindungilah aku dengan kemuliaan dan kekuasaan-Mu dari apa yang aku takutkan.
MENJAGA KEHORMATAN
174. Menjaga kehormatan dengan kecukupan
اَللّٰهُمَّ صُنْ وَجْهِي بِالْيَسَارِ
Allāhumma ṣun wajhī bil-yasār.
Ya Allah, jagalah kehormatanku dengan kecukupan.
Makrifat: Wajh di sini dapat dipahami sebagai kehormatan dan martabat manusia.
175. Jangan merendahkan kehormatan dengan kemiskinan
وَلَا تَبْتَذِلْ جَاهِي بِالْإِقْتَارِ
Wa lā tabtadhil jāhī bil-iqtār.
Janganlah Engkau merendahkan kehormatanku karena kesempitan.
176. Jangan sampai meminta kepada orang yang mampu
فَأَسْتَرْزِقَ أَهْلَ رِزْقِكَ
Fa-astarziqa ahla rizqik.
Sehingga aku meminta rezeki kepada orang-orang yang Engkau beri rezeki.
177. Jangan meminta kepada orang yang buruk
وَأَسْتَعْطِيَ شِرَارَ خَلْقِكَ
Wa asta‘ṭiya syirāra khalqik.
Dan meminta kepada orang-orang yang paling buruk di antara makhluk-Mu.
178. Jangan terjebak memuji pemberi
فَأَفْتَتِنَ بِحَمْدِ مَنْ أَعْطَانِي
Fa-aftatina biḥamdi man a‘ṭānī.
Sehingga aku tergoda memuji orang yang memberiku.
Makrifat: Yang memberi melalui manusia tetaplah Allah sebagai Pemberi hakiki.
179. Jangan mencela orang yang tidak memberi
وَأَبْتَلَىٰ بِذَمِّ مَنْ مَنَعَنِي
Wa abtalā bidhamm man mana‘anī.
Dan mencela orang yang tidak memberiku.
Makrifat: Jangan menjadikan pemberian manusia sebagai ukuran cinta dan penolakan mereka sebagai alasan membenci.
180. Allah adalah Pemilik pemberian dan penahanan
وَأَنْتَ مِنْ دُونِهِمْ وَلِيُّ الْإِعْطَاءِ وَالْمَنْعِ
Wa anta min dūnihim waliyyul-i‘ṭā’i wal-man‘.
Sedangkan Engkau, bukan mereka, adalah Penguasa pemberian dan penahanan.
Hakikat: Manusia hanyalah wasilah; Allah adalah sumber hakiki segala rezeki.
KESEHATAN, WAKTU, ILMU DAN WARA‘
181. Kesehatan untuk beribadah
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وَارْزُقْنِي صِحَّةً فِي عِبَادَةٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, warzuqnī ṣiḥḥatan fī ‘ibādah.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan karuniakanlah kepadaku kesehatan untuk beribadah.
182. Waktu luang untuk zuhud
وَفَرَاغًا فِي زَهَادَةٍ
Wa farāghan fī zahādah.
Dan waktu luang untuk hidup zuhud.
Makrifat: Zuhud bukan meninggalkan dunia secara mutlak, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hati.
183. Ilmu yang diamalkan
وَعِلْمًا فِي اسْتِعْمَالٍ
Wa ‘ilman fī isti‘māl.
Dan ilmu yang dapat diamalkan.
Makrifat: Ilmu tanpa amal menjadi hujjah atas manusia; ilmu yang diamalkan menjadi cahaya.
184. Wara‘ dalam amal
وَوَرَعًا فِي إِجْمَالٍ
Wa wara‘an fī ijmāl.
Dan wara‘ dalam menjaga seluruh urusan.
Makrifat: Wara‘ adalah kehati-hatian terhadap perkara yang dapat membawa kepada dosa atau keraguan.
HUSNUL KHATIMAH
185. Menutup umur dengan ampunan
اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ بِعَفْوِكَ أَجَلِي
Allāhumma ikhtim bi‘afwika ajalī.
Ya Allah, tutuplah akhir hidupku dengan ampunan-Mu.
Makrifat: Yang paling penting bukan bagaimana perjalanan dimulai, tetapi bagaimana ia berakhir.
186. Mengabulkan harapan kepada rahmat
وَحَقِّقْ فِي رَجَاءِ رَحْمَتِكَ أَمَلِي
Wa ḥaqqiq fī rajā’i raḥmatika amalī.
Wujudkanlah harapanku dalam mengharapkan rahmat-Mu.
187. Memudahkan jalan menuju ridha
وَسَهِّلْ إِلَىٰ بُلُوغِ رِضَاكَ سُبُلِي
Wa sahhil ilā bulūghi riḍāka subulī.
Mudahkanlah jalan-jalanku untuk mencapai ridha-Mu.
Makrifat: Tujuan akhir bukan sekadar masuk surga, tetapi mencapai ridha Allah.
188. Memperindah semua amal
وَحَسِّنْ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِي عَمَلِي
Wa ḥassin fī jamī‘i aḥwālī ‘amalī.
Perbaikilah amalanku dalam seluruh keadaanku.
Makrifat: Bukan hanya saat senang, tetapi dalam sakit, kaya, miskin, lapang, sempit, muda dan tua.
MENGINGAT ALLAH DALAM KELALAIAN
189. Diingatkan ketika lalai
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَنَبِّهْنِي لِذِكْرِكَ فِي أَوْقَاتِ الْغَفْلَةِ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, wa nabbinī lidhikrika fī awqātil-ghaflah.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan bangunkanlah aku untuk mengingat-Mu pada waktu-waktu kelalaian.
Makrifat: Orang yang dekat dengan Allah bukan orang yang tidak pernah lalai, tetapi orang yang segera dibangunkan kembali kepada Allah.
190. Menggunakan masa hidup untuk taat
وَاسْتَعْمِلْنِي بِطَاعَتِكَ فِي أَيَّامِ الْمُهْلَةِ
Wasta‘milnī biṭā‘atika fī ayyāmil-muhlah.
Gunakanlah aku untuk menaati-Mu selama masa yang Engkau berikan kepadaku.
Makrifat: Muhlah adalah kesempatan. Hidup adalah kesempatan sebelum datangnya ajal.
191. Jalan mudah menuju cinta Allah
وَانْهَجْ لِي إِلَىٰ مَحَبَّتِكَ سَبِيلًا سَهْلَةً
Wanhaj lī ilā maḥabbatika sabīlan sahlah.
Bukakanlah bagiku jalan yang mudah menuju kecintaan-Mu.
Makrifat:
Cinta Allah bukan sekadar perasaan. Jalannya adalah ketaatan, zikir, takwa, akhlak dan mengikuti jalan yang diridhai-Nya.
192. Kesempurnaan dunia dan akhirat
أَكْمِلْ لِي بِهَا خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Akmil lī bihā khairad-dunyā wal-ākhirah.
Sempurnakanlah bagiku dengannya kebaikan dunia dan akhirat.
Makrifat: Kebaikan dunia dan akhirat bertemu dalam satu titik: ridha Allah.
PENUTUP DOA
193. Shalawat terbaik
اَللّٰهُمَّ وَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ كَأَفْضَلِ مَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ قَبْلَهُ وَأَنْتَ مُصَلٍّ عَلَىٰ أَحَدٍ بَعْدَهُ
Allāhumma wa ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ālih, ka-afḍali mā ṣallaita ‘alā aḥadin min khalqika qablah, wa anta muṣallin ‘alā aḥadin ba‘dah.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya dengan sebaik-baik shalawat yang pernah Engkau limpahkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu sebelum beliau, dan yang akan Engkau limpahkan kepada siapa pun setelah beliau.
Makrifat: Doa dimulai dan ditutup dengan shalawat kepada Muhammad dan Ahlulbait. Ini seakan menunjukkan bahwa perjalanan menuju Allah dibingkai dengan cinta, penghormatan dan keterikatan kepada Rasulullah ﷺ dan keluarganya.
194. Kebaikan dunia
وَآتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
Wa ātinā fid-dunyā ḥasanah.
Dan berilah kami kebaikan di dunia.
Makrifat: Kebaikan dunia mencakup iman, kesehatan, rezeki halal, keluarga, ilmu, keamanan, amal saleh dan kehidupan yang diridhai Allah.
195. Kebaikan akhirat
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
Wa fil-ākhirati ḥasanah.
Dan kebaikan di akhirat.
Makrifat: Puncaknya adalah ampunan, keselamatan, surga dan ridha Allah.
196. Perlindungan dari neraka
وَقِنِي بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ النَّارِ
Wa qinī biraḥmatika ‘adhāban-nār.
Dan lindungilah aku dengan rahmat-Mu dari azab neraka.
Makrifat: Perhatikan penutupnya: setelah seluruh permohonan akhlak, hidayah, rezeki, ilmu dan ibadah, Imam kembali kepada satu kebutuhan terbesar manusia: rahmat Allah dan keselamatan dari neraka.
KESIMPULAN 5 BAGIAN DOA MAKĀRIM AL-AKHLĀQ
Bagian 1 — Membentuk diri:
Iman → yakin → niat → amal → ikhlas → tawadhu‘.
Bagian 2 — Mengubah hubungan:
Kebencian → cinta → kasih → kepercayaan → wilayah → silaturahmi.
Bagian 3 — Akhlak sosial:
Membalas keburukan dengan kebaikan → menahan marah → mendamaikan → menutup aib → rendah hati → berkata benar.
Bagian 4 — Ketergantungan kepada Allah: Allah saat sedih → Allah saat takut → Allah saat membutuhkan → Allah saat digoda → Allah dalam segala keadaan.
Bagian 5 — Kesempurnaan perjalanan: Hidayah → taubat → ampunan → rezeki halal → ilmu → ibadah → zikir → ridha Allah → husnul khatimah → keselamatan akhirat.
Rumus makrifat Doa Makarim al-Akhlaq
إِصْلَاحُ النَّفْسِ → إِصْلَاحُ الْعَلَاقَةِ → إِصْلَاحُ الْعَمَلِ → التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ → الْوُصُولُ إِلَى رِضَا اللهِ
Iṣlāḥun-nafs → iṣlāḥul-‘alāqah → iṣlāḥul-‘amal → at-tawakkulu ‘alallāh → al-wuṣūlu ilā riḍallāh.
Memperbaiki jiwa → memperbaiki hubungan → memperbaiki amal → bersandar kepada Allah → menuju ridha Allah. Itulah perjalanan Makarim al-Akhlaq: dari memperbaiki “aku”, kemudian memperbaiki hubunganku dengan manusia, sampai akhirnya seluruh “aku” tunduk kepada Allah.
Semoga bermanfaat!!!!!
Mohon Doa!!!!!!!
Comments
Post a Comment