Makna ; Hadis Kualitas Laki-laki Yang Baik
🌺🌹❤️Makna ; Hadis Kualitas Laki-laki Yang Baik❤️🌹🌺
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِنِسَائِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِنِسَائِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap istri-istriku.”
Makna pentingnya;
Hadis ini tidak sekadar memerintahkan suami memberi nafkah, tetapi menunjukkan bahwa ukuran akhlak seorang laki-laki justru terlihat dalam perlakuannya kepada orang yang paling dekat dengannya.
1, Baik dalam perkataan — tidak kasar, merendahkan, atau menyakiti.
2, Baik dalam sikap — lembut dan penuh penghormatan.
3, Baik ketika berbeda pendapat — tidak menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk menzalimi.
4, Baik dalam memenuhi hak istri — nafkah, tempat tinggal, perhatian, dan perlindungan.
5, Baik dalam kesabaran — mampu menahan emosi dan memaafkan kekurangan.
6, Baik dalam kasih sayang — menunjukkan cinta, bukan hanya menganggap pernikahan sebagai kewajiban.
7, Baik dalam menjaga kehormatan istri — tidak membuka aibnya kepada orang lain.
8, Baik ketika tidak ada orang lain yang melihat — karena akhlak sejati tampak di dalam rumah.
9, Baik dalam memimpin keluarga — kepemimpinan dengan rahmah, bukan kekerasan.
10, Nabi ﷺ menjadi teladan tertinggi — beliau menyatakan, “Aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” Al-Qur’an juga menegaskan: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang ma‘ruf.” (QS. an-Nisā’ 4:19)
Jadi, kualitas seorang laki-laki menurut Nabi ﷺ bukan hanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang di luar rumah, tetapi terutama bagaimana ia memperlakukan istrinya ketika berada di dalam rumah.
Kalimat ini sangat dalam. عَاشِرُوهُنَّ berasal dari ‘āsyara yang bermakna hidup bersama, bergaul, memperlakukan, dan menjalani kehidupan bersama. Sedangkan الْمَعْرُوف adalah segala sesuatu yang diakui sebagai kebaikan, kepatutan, kehormatan, dan akhlak yang baik menurut syariat dan fitrah yang benar.
🌹Makna ayat; وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
1, Memperlakukan istri dengan akhlak yang baik.
Bukan hanya tidak menyakiti, tetapi aktif menghadirkan kelembutan, penghormatan, dan kasih sayang.
2, Berbicara dengan perkataan yang baik.
Suami tidak menjadikan rumah sebagai tempat melampiaskan kemarahan. Teguran pun dilakukan dengan adab.
3. Menghormati martabat istri
Istri bukan milik yang boleh diperlakukan sesuka hati. Ia adalah manusia yang memiliki kehormatan dan hak.
4. Bersikap lembut ketika menghadapi kekurangan
Ma‘rūf mengajarkan agar suami tidak hanya melihat kesalahan, tetapi juga mengingat kebaikan istrinya.
5. Memenuhi hak-haknya secara patut.
Termasuk nafkah, tempat tinggal, kebutuhan rumah tangga, perhatian, dan hak-hak yang ditetapkan syariat.
6. Tidak menzalimi ketika marah
Ayat ini menjadi batas bagi emosi: kemarahan tidak boleh berubah menjadi penghinaan, kekerasan, ancaman, atau tindakan zalim.
7. Menjadikan rumah sebagai tempat sakīnah.
Pergaulan bil-ma‘rūf berarti membangun suasana rumah yang menghadirkan ketenteraman, bukan ketakutan.
8. Menjaga rahasia dan kehormatan istri.
Kekurangan pasangan tidak layak dijadikan bahan mempermalukan atau diceritakan kepada orang lain.
9. Tetap berbuat baik ketika cinta sedang berkurang. Ini salah satu makna yang sangat dalam. Allah melanjutkan ayat:
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Jika kamu tidak menyukai mereka, boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisā’ 4:19)
Artinya, rasa tidak suka sesaat tidak boleh menghapus seluruh kebaikan pasangan.
10. Menjadikan perlakuan kepada istri sebagai ibadah kepada Allah
Bil-ma‘rūf bukan sekadar etika pernikahan. Ia adalah perintah Allah. Maka senyum, kesabaran, nafkah, kelembutan, memaafkan, dan menjaga perasaan istri dapat menjadi amal ibadah ketika dilakukan karena Allah.
Makna terdalam
وَعَاشِرُوهُنَّ — Hiduplah bersama mereka.
Bukan sekadar “miliki mereka.”
بِالْمَعْرُوفِ — Dengan kebaikan.
Bukan sekadar “menuntut hak.”
Dengan demikian, ayat ini seakan mengajarkan:”Jangan hanya bertanya: Apa hakku sebagai suami? Bertanyalah juga: Sudahkah aku menjadi sebab kebaikan bagi istriku?” Dan ini sangat selaras dengan sabda Nabi ﷺ:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”
Kalau dikaji bersama, QS. 4:19 + hadis Nabi ﷺ membentuk satu prinsip besar: kemuliaan seorang suami paling nyata terlihat dari akhlaknya kepada istrinya di dalam rumah. Ini bagian lanjutan dari QS. an-Nisā’ [4]:19, dan sangat indah jika dibaca setelah perintah وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ.
Ayat: فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Jika kamu tidak menyukai mereka, maka boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisā’ [4]:19)
❤️Makna Ayat: فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Jika kamu tidak menyukai mereka, maka boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisā’ [4]:19)
1. Jangan mengambil keputusan ketika sedang dikuasai rasa benci
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ — Jika kalian tidak menyukai mereka.
Allah mengakui bahwa dalam rumah tangga bisa muncul rasa kecewa, jengkel, bahkan ketidaksukaan. Tetapi perasaan tidak suka tidak otomatis berarti pasangan itu buruk.
2. Jangan menilai seluruh diri istri dari satu kekurangan
Seseorang mungkin memiliki sifat yang tidak kita sukai, tetapi itu tidak berarti seluruh dirinya buruk.
Jangan sampai satu kekurangan menghapus seribu kebaikan.
3. Apa yang kita benci belum tentu buruk bagi kita; فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu…”Allah mengajarkan bahwa pengetahuan manusia terbatas. Kita melihat keadaan hari ini, sedangkan Allah mengetahui akibatnya sampai masa depan.
4. Di balik kekurangan pasangan mungkin terdapat kebaikan yang tersembunyi: وَيَجْعَلِ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا
“Dan Allah menjadikan di dalamnya kebaikan.” Bisa jadi sifat pasangan yang kita anggap sulit justru menjadi sarana untuk belajar sabar, tawadhu, memaafkan, memahami, dan mendekat kepada Allah.
5. Pernikahan adalah madrasah kesabaran.
Tidak semua pahala diperoleh melalui keadaan yang menyenangkan. Kadang-kadang kesabaran menghadapi pasangan justru menjadi jalan seseorang memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah.
6. Jangan hanya melihat pasangan dengan mata emosi. Ketika marah, manusia cenderung memperbesar kesalahan dan mengecilkan kebaikan.
Ayat ini mengajarkan suami agar melihat istrinya dengan ‘aql, iman, dan rahmah, bukan hanya dengan emosi sesaat.
7. Kebaikan Allah mungkin lebih besar daripada ketidaksukaan kita
Perhatikan akhir ayat: خَيْرًا كَثِيرًا
Bukan hanya khairan — “kebaikan”, tetapi khairan katsīran — kebaikan yang banyak. Ini memberi harapan bahwa di balik sesuatu yang tidak kita sukai, Allah dapat menyimpan banyak sekali kebaikan.
8. Mempertahankan pernikahan bukan berarti menerima kezaliman
Ayat ini bukan perintah untuk bertahan dalam kekerasan atau kezaliman tanpa batas. Bil-ma‘rūf tetap menjadi prinsip. Jika ada kezaliman berat, persoalan harus diselesaikan dengan cara yang dibenarkan syariat. Jadi, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman.
9. Ayat ini mendidik suami agar mengenang kebaikan istri
Ketika muncul satu hal yang tidak disukai, seorang suami hendaknya bertanya:”Berapa banyak kebaikan yang telah Allah berikan melalui wanita ini dalam hidupku?” Ini membantu hati keluar dari kebencian menuju keadilan.
10. Allah mengajarkan cinta yang lebih tinggi daripada sekadar perasaan ❤️ Inilah makna terdalamnya. Cinta dalam rumah tangga bukan hanya:”Aku mencintaimu karena engkau selalu sesuai dengan keinginanku.”
Tetapi: Aku tetap memperlakukanmu dengan ma‘rūf karena engkau adalah amanah Allah, bahkan ketika ada sesuatu darimu yang tidak kusukai.” Hubungannya dengan ayat sebelumnya; Dua bagian ayat ini sebenarnya merupakan satu rangkaian pendidikan rumah tangga:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka dengan cara yang ma‘ruf.”:
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ
“Jika kalian tidak menyukai mereka…”
فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu…”
وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Padahal Allah menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak.”
Makrifatnya: Manusia melihat sifat yang tidak disukai; Allah melihat hikmah yang belum terlihat. Karena itu, seorang suami yang beriman tidak tergesa-gesa berkata, “Aku tidak suka kepadamu.” Ia belajar berkata dalam hatinya:”Ya Allah, mungkin ada kebaikan yang belum mampu kulihat. Ajarkan aku melihat pasangan ini dengan pandangan rahmah-Mu.” Dan ini sangat dekat dengan sabda Nabi ﷺ: sebaik-baik laki-laki adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Tentu. Potongan QS. an-Nisā’ [4]:19 ini sangat kaya makna:
وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Wa yaj‘alallāhu fīhi khairan katsīrā
“Dan Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
🌺Makna: “Dan Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
1, Kebaikan yang belum kita lihat
Sesuatu yang sekarang tidak kita sukai mungkin menyimpan hikmah yang belum terbuka bagi kita.
2, Allah mampu mengubah kesulitan menjadi kebaikan
Keadaan yang terasa berat dalam rumah tangga dapat menjadi jalan tumbuhnya kesabaran, kedewasaan, dan ketakwaan.
3, Jangan menilai berdasarkan perasaan sesaat
Perasaan manusia berubah-ubah, sedangkan ilmu Allah sempurna. Karena itu, rasa kecewa hari ini tidak selalu menjadi gambaran hakikat pasangan.
4, Kebaikan pasangan mungkin tersembunyi di balik kekurangannya
Seseorang mungkin mempunyai sifat yang tidak kita sukai, tetapi memiliki banyak sifat baik yang jauh lebih besar.
5, Kesabaran dapat menghasilkan pahala yang besar
Ketika seseorang menahan diri dari kezaliman dan tetap memperlakukan pasangan dengan ma‘rūf, kesabarannya dapat menjadi ibadah.
6, Allah mengajarkan melihat pasangan secara utuh
Jangan melihat satu kesalahan lalu melupakan seluruh pengorbanan, kasih sayang, kesetiaan, dan kebaikannya.
7, خَيْرًا كَثِيرًا” — kebaikan yang banyak
Allah tidak mengatakan hanya satu kebaikan. Katsīr menunjukkan keluasan: bisa berupa keturunan, ketenteraman, pahala, kedewasaan, kasih sayang, atau hikmah yang baru diketahui kemudian.
8, Sesuatu yang tidak kita sukai dapat menjadi jalan menuju Allah
Kesulitan dalam hubungan dapat mengajarkan seseorang sabar, tawakkal, istighfar, doa, memaafkan, dan mengendalikan nafsu.
9, Allah lebih mengetahui akibat daripada manusia
Kita melihat satu kejadian; Allah mengetahui seluruh rangkaian akibatnya. Karena itu ayat ini mendidik manusia agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
10, Rahmat Allah dapat tersembunyi dalam sesuatu yang tidak kita sukai
Inilah makna terdalamnya:
أَنْتَ تَرَى مَا تَكْرَهُ، وَاللَّهُ يَرَى مَا فِيهِ مِنَ الْخَيْرِ
“Engkau melihat apa yang tidak engkau sukai, sedangkan Allah melihat kebaikan yang ada di dalamnya.”
🌹 Makna dalam kehidupan suami-istri;
Ayat ini menjadi sangat indah jika disambungkan dengan bagian sebelumnya: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka dengan cara yang ma‘ruf.” Kemudian:
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ
“Jika kalian tidak menyukai mereka…”
Kemudian Allah menutup dengan:
وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Seakan-akan Allah mengajarkan kepada suami: Jangan biarkan kekurangan yang engkau lihat membuatmu buta terhadap kebaikan yang Allah letakkan pada dirinya.
Dan sebaliknya, ini juga berlaku sebagai prinsip umum dalam kehidupan: apa yang kita benci belum tentu buruk, dan apa yang kita sukai belum tentu baik. Allah berfirman pula:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”
(QS. al-Baqarah [2]:216)
Makrifatnya:
Mata melihat kekurangan; hati yang beriman mencari hikmah; dan Allah mengetahui kebaikan yang tersembunyi. Tentu. Kalau yang dimaksud “janji Allah” adalah buah/pahala yang dijanjikan dalam Al-Qur’an dan hadis bagi suami yang memperlakukan istrinya dengan baik, maka perlu dibedakan: tidak semua poin berikut merupakan janji khusus untuk “suami baik” dengan lafaz langsung, tetapi merupakan janji/pahala yang mencakup amal suami kepada istrinya.
🌹 10 janji Allah bagi suami yang berbuat baik kepada istrinya
1. Allah menjanjikan kebaikan yang banyak: وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
QS. an-Nisā’ 4:19. Ketika suami bersabar terhadap sesuatu yang tidak disukainya dari istrinya dan tetap memperlakukannya dengan ma‘rūf, Allah membuka kemungkinan khairan katsīran — kebaikan yang banyak.
2. Allah menjanjikan rahmat dan kasih sayang
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”
QS. ar-Rūm 30:21.
Suami yang menjaga mawaddah dan rahmah berarti sedang menjaga salah satu tanda kebesaran Allah dalam pernikahan.
3. Setiap nafkah kepada istri menjadi pahala. Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا
“Engkau tidak mengeluarkan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharapkan wajah Allah, kecuali engkau diberi pahala karenanya.”
HR. al-Bukhārī dan Muslim
Jadi nafkah bukan hanya kewajiban duniawi. Dengan niat karena Allah, ia menjadi ibadah.
4. Berbuat baik kepada istri menjadi ukuran “sebaik-baik manusia”
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”
HR. at-Tirmiżī, Ibn Mājah, dengan beberapa jalur riwayat.
Ini menunjukkan kemuliaan laki-laki diukur juga dari akhlaknya di dalam rumah.
5. Allah menjanjikan pahala atas kesabaran. Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
QS. az-Zumar 39:10. Ketika suami menahan amarah, tidak membalas dengan kasar, dan memilih ma‘rūf, kesabarannya masuk dalam keutamaan ini.
6. Allah menjanjikan ampunan dan pahala besar bagi orang yang berbuat ihsan
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan.”QS. at-Tawbah 9:120 dan banyak ayat dengan makna serupa. Kebaikan kepada istri tidak hilang di sisi Allah meskipun tidak dihargai atau tidak diketahui orang lain.
7. Suami yang menahan marah mendapat ampunan dan kecintaan Allah; Allah berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” QS. Āli ‘Imrān 3:134.Ini sangat relevan dengan rumah tangga: kekuatan seorang suami bukan hanya mampu memimpin, tetapi mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
8. Allah menjanjikan sakinah melalui kehidupan berpasanganلِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Agar kalian mendapatkan ketenteraman kepadanya.”
QS. ar-Rūm 30:21. Ketika suami membangun rumah dengan kasih sayang, kelembutan dan tanggung jawab, ia sedang mewujudkan tujuan yang Allah sebutkan untuk pernikahan: السَّكِينَة — sakinah.
9. Kebaikan kepada istri dapat menjadi sedekah.Nabi ﷺ bersabda:
وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
“Pada hubungan intim salah seorang di antara kalian terdapat sedekah.”
Para sahabat bertanya bagaimana sesuatu yang bersifat syahwat menjadi sedekah. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa jika dilakukan pada yang halal, ia memperoleh pahala. HR. Muslim
Ini menunjukkan bahwa kehidupan suami-istri yang halal dan dijalani dengan niat yang benar dapat menjadi ibadah.
10. Puncaknya: kedekatan dengan akhlak Rasulullah ﷺ
Nabi ﷺ bersabda: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
Maka suami yang baik sedang berusaha meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam rumah tangga.
Dan Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” HR. Muslim.
❤️ Kesimpulan:
Jika 10 makna ini diringkas menjadi satu jalan:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Perlakukan istri dengan kebaikan.
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ
Jika ada sesuatu yang tidak disukai, jangan tergesa-gesa menzalimi.
فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا
Boleh jadi yang tidak disukai mengandung hikmah.
وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Allah dapat menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak.
Dan akhirnya: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
🌹 Jadi, rumah tangga bukan hanya tempat mencari kebahagiaan; rumah tangga adalah salah satu tempat seorang laki-laki membuktikan kualitas imannya dan memperoleh pahala dari Allah.
Ya. Tetapi perlu hati-hati: Al-Qur’an tidak menyebut secara eksplisit “suami yang memaafkan istrinya pasti masuk surga bersama Rasulullah ﷺ.” Yang ada adalah beberapa dalil yang sangat kuat tentang keutamaan memaafkan, menahan marah, berbuat baik kepada istri, dan kedudukan orang yang berakhlak baik. Jika semuanya digabung, kita mendapatkan harapan besar bagi suami yang demikian.
🌹 10 balasan dan kemuliaan bagi suami yang memaafkan istrinya
1. Mendapat ampunan Allah
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?”
(QS. an-Nūr 24:22) Ini sangat indah: ketika suami mengampuni istrinya, ia sedang melakukan sesuatu yang mengundang ampunan Allah.
2. Mendapat cinta Allah
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang memaafkan manusia; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
(QS. Āli ‘Imrān 3:134)
Jadi memaafkan bukan tanda kelemahan. Memaafkan karena Allah adalah akhlak yang dicintai Allah.
3. Mendapat pahala yang menjadi tanggungan Allah
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”
(QS. asy-Syūrā 42:40)
Perhatikan ungkapannya:
فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Maka pahalanya atas tanggungan Allah.” Ini termasuk ungkapan janji yang sangat kuat.
4. Mendapat derajat orang yang berbuat ihsan. Allah berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”QS. Āli ‘Imrān 3:134
Suami yang mampu memaafkan kesalahan istrinya dan kemudian memperlakukannya dengan baik sedang naik dari sekadar menahan diri menuju ihsan.
5. Mendapat janji pahala tanpa batas karena kesabaran
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. az-Zumar 39:10)
Ketika suami menahan amarah demi Allah, kesabarannya tidak sia-sia.
6. Mendapat kemuliaan sebagai “sebaik-baik kalian”
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” Memaafkan, bersabar, dan tetap menjaga kehormatan istri merupakan bagian dari خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ.
7. Mendapat kedudukan dekat dengan Rasulullah ﷺ karena akhlak yang baik. Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.”
HR. at-Tirmiżī. Ini dalil yang sangat kuat untuk pertanyaan Anda: akhlak yang baik menjadi sebab kedekatan dengan Rasulullah ﷺ di hari Kiamat.
8. Memaafkan menjadi jalan menuju surga. Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian penghuni surga? Yaitu setiap orang yang rendah hati dan tidak sombong…” Orang yang mudah memaafkan biasanya memiliki tawadhu‘, kelembutan, dan tidak memperturutkan ego—akhlak yang sangat dekat dengan sifat ahli surga.
9. Mendapat balasan sesuai dengan apa yang ia lakukan. Allah berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Bukankah balasan bagi kebaikan adalah kebaikan?” QS. ar-Raḥmān 55:60. Suami yang melakukan ihsan kepada istrinya tidak perlu merasa bahwa kebaikannya hilang. Allah melihatnya.
10. Harapan berkumpul bersama Rasulullah ﷺ di surga
Allah berfirman:
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat benar, para syuhada dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”QS. an-Nisā’ 4:69
Jadi berakhlak baik kepada istri, memaafkan, menahan marah, dan memperbaiki hubungan adalah bagian dari jalan ketaatan. Ayat ini memberikan harapan untuk bersama orang-orang mulia di akhirat, termasuk Rasulullah ﷺ.
❤️ Inti makrifatnya:
Seorang suami mungkin mampu membalas kesalahan istrinya, tetapi seorang mukmin belajar melakukan sesuatu yang lebih tinggi:
تَغْفِرُ لَهَا لِأَنَّكَ تُرِيدُ مَغْفِرَةَ اللَّهِ
“Engkau memaafkannya karena engkau mengharapkan Allah memaafkanmu.” Itulah hubungan yang sangat indah antara memaafkan istri → mengharap ampunan Allah → memperbaiki akhlak → mendekat kepada Rasulullah ﷺ → berharap berkumpul bersama beliau di akhirat.
Al-Qur’an dan hadis memberikan janji ampunan, cinta Allah, pahala, dan kedekatan dengan Rasulullah bagi orang yang memiliki sifat memaafkan, sabar, dan akhlak mulia. Frasa لَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ terdapat dalam QS Āli ‘Imrān 3:36, yaitu ucapan istri ‘Imrān setelah melahirkan Maryam as: لَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ
“Laki-laki tidaklah seperti perempuan.”
Berikut 10 makna yang dapat dipahami dari ayat ini—dengan catatan bahwa ayat tersebut bukan berarti laki-laki lebih mulia secara mutlak daripada perempuan.
1. Perbedaan tabiat dan keadaan
Laki-laki dan perempuan diciptakan Allah dengan karakter biologis dan keadaan yang berbeda.
2. Perbedaan fungsi, bukan perbedaan kemuliaan
Perbedaan jenis kelamin tidak otomatis berarti perbedaan nilai di sisi Allah. Ukuran kemuliaan adalah takwa: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS 49:13)
3. Konteksnya adalah nazar ibu Maryam; Istri ‘Imrān bernazar anaknya akan dipersembahkan untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Ketika ternyata anak itu perempuan, ia mengatakan kalimat tersebut karena dalam kebiasaan sosial saat itu tugas pelayanan tertentu lebih banyak dilakukan laki-laki.
4. Allah justru menunjukkan kemuliaan Maryam.
Yang menarik: setelah mengatakan لَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ, Allah menerima Maryam:
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ
“Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik.”
(QS 3:37) Jadi, perempuan yang dianggap berbeda secara fungsi ternyata dapat memperoleh kedudukan spiritual yang sangat tinggi.
5. Tidak boleh menjadi dalil merendahkan perempuan
Ayat ini tidak berbunyi: “laki-laki lebih mulia daripada perempuan.”
Ia berbicara tentang perbedaan keadaan, khususnya dalam konteks nazar dan pelayanan Baitul Maqdis.
6. Nilai manusia ditentukan oleh Allah. Manusia sering membuat ukuran berdasarkan jenis kelamin, kekuatan, kedudukan, atau harta. Al-Qur’an mengembalikan ukuran utama kepada iman dan takwa.
7. Perempuan memiliki jalan pengabdian yang istimewa
Maryam menjadi contoh bahwa seorang perempuan dapat mencapai derajat pengabdian yang luar biasa:
وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
“Allah telah memilihmu atas perempuan-perempuan seluruh alam.” (QS 3:42)
8. Perbedaan bukan berarti pertentangan لَيْسَ … كَالْـ… menunjukkan bahwa dua perkara tidak harus sama untuk sama-sama memiliki ;kemuliaan. Laki-laki memiliki keistimewaannya, perempuan juga memiliki keistimewaannya.
9. Dalam keluarga, jangan menjadikan ayat ini sebagai alasan untuk menzalimi istri
Seorang suami tidak boleh berkata, “Karena saya laki-laki maka saya selalu benar.” Al-Qur’an justru memerintahkan: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (QS 4:19)
Dan Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”
10. Makna hakikat: Allah melihat kualitas ruh, bukan sekadar jenis kelamin. Dalam perspektif makrifat, ayat ini dapat direnungkan bahwa perbedaan jasmani tidak menentukan kedekatan seseorang kepada Allah. Maryam adalah bukti yang sangat kuat: perempuan yang dipilih, disucikan, dan dimuliakan Allah.
Inti makrifatnya: لَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ
bukan berarti “laki-laki lebih mulia daripada perempuan”, tetapi menunjukkan perbedaan penciptaan, keadaan, dan fungsi, sementara kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh iman, takwa, kesucian dan pengabdian.
Kalau dikaitkan dengan suami–istri, ayat ini sangat indah dibaca bersama وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ: berbeda bukan untuk saling merendahkan, tetapi untuk saling melengkapi dalam rahmah. Ayat yang dimaksud adalah QS an-Nisā’ 4:34:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
Ar-rijālu qawwāmūna ‘ala an-nisā’i bimā faḍḍala Allāhu ba‘ḍahum ‘alā ba‘ḍin wa bimā anfaqū min amwālihim.”Kaum laki-laki adalah qawwām atas kaum perempuan, karena Allah telah memberikan sebagian mereka kelebihan atas sebagian yang lain dan karena mereka menafkahkan sebagian harta mereka.”
🌺Makna ; الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ
1, Qawwām berarti penanggung jawab قَوَّامُونَ bukan sekadar “penguasa”, tetapi orang yang berdiri untuk mengurus, menjaga dan bertanggung jawab.
2. Kepemimpinan adalah amanah, bukan keistimewaan untuk berkuasa. Suami diberi tanggung jawab agar keluarga terlindungi, bukan agar istri direndahkan.
3. “بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ” menunjukkan adanya perbedaan kemampuan dan tanggung jawab
Allah memberikan sebagian manusia kelebihan tertentu atas sebagian yang lain. Ini tidak berarti setiap laki-laki lebih mulia daripada setiap perempuan.
4. Kelebihan harus melahirkan tanggung jawab. Semakin besar kemampuan seorang suami, semakin besar pula kewajibannya untuk melayani, melindungi dan menafkahi keluarganya.
5. Qawwām bukan diktator rumah tangga. Qawwām tidak berarti boleh memaksakan kehendak, menyakiti, menghina atau menzalimi istri.
6. Nafkah adalah bagian penting dari qiwāmah. Ayat langsung menyebut: وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Dan karena mereka menafkahkan sebagian harta mereka.” Jadi kepemimpinan suami berkaitan erat dengan pengorbanan ekonomi dan tanggung jawab nyata.
7. Qiwāmah adalah perlindungan terhadap keluarga
Suami hendaknya menjadi tempat aman bagi istri: melindungi kehormatan, kebutuhan, keselamatan dan ketenteraman keluarga.
8. Qiwāmah harus disertai ma‘rūf
Al-Qur’an sendiri mengatakan:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS 4:19)
Maka qiwāmah tanpa ma‘rūf bertentangan dengan ruh hubungan suami-istri dalam Al-Qur’an.
9. Qawwām yang hakiki adalah yang paling baik kepada keluarganya. Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” Jadi ukuran keberhasilan qiwāmah bukan seberapa takut istri kepada suami, tetapi seberapa aman, dihargai dan dicintai keluarganya.
10. Makna makrifat: qiwāmah adalah “berdiri untuk orang lain”
Secara ruhani, قَوَّام dapat direnungkan sebagai laki-laki yang qā’im bi-amrillāh—berdiri melaksanakan amanah Allah. Bukan:
“Aku laki-laki, maka aku harus dilayani.” Tetapi: “Allah menjadikanku penanggung jawab, maka aku harus lebih banyak memberi, menjaga, memaafkan, bersabar dan berkorban.”
🌹 Kesimpulan
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
bukan konsep:”laki-laki lebih tinggi → perempuan lebih rendah.”
Tetapi lebih tepat dipahami sebagai:
“laki-laki memikul tanggung jawab kepemimpinan dan perlindungan keluarga, disertai kewajiban nafkah dan akhlak yang baik.” Dan sangat indah jika ayat ini dibaca bersama:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (4:19) serta:
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dia menjadikan di antara kalian kasih sayang dan rahmat.” (30:21)
Jadi qiwāmah + ma‘rūf + mawaddah + raḥmah = kepemimpinan suami yang Qur’ani. Tentu. Jika “perlakuan baik kepada istri” kita hubungkan dengan وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (QS 4:19) dan akhlak Rasulullah ﷺ, berikut 10 kisah teladan, manfaat, dan doa.
1. Rasulullah ﷺ menjadi yang terbaik bagi keluarganya
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” Manfaat: ukuran kebaikan seorang laki-laki bukan hanya di masjid atau di hadapan masyarakat, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan istrinya ketika tidak ada orang lain. Doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا لِأَهْلِي، وَارْزُقْنِي حُسْنَ الْخُلُقِ وَالرَّحْمَةَ وَالصَّبْرَ
“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang terbaik bagi keluargaku, dan karuniakan kepadaku akhlak yang baik, kasih sayang dan kesabaran.”
2. Rasulullah ﷺ membantu pekerjaan rumah; Aisyah menggambarkan bahwa Nabi ﷺ membantu pekerjaan keluarganya.
Manfaat: membantu istri bukan mengurangi kewibawaan suami. Justru menunjukkan tawāḍu‘ dan rahmah. Doa:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى خِدْمَةِ أَهْلِي بِمَا يُرْضِيكَ
“Ya Allah, bantulah aku melayani keluargaku dengan sesuatu yang Engkau ridhai.”
3. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan kesalahan istri sebagai alasan untuk menghina; Dalam rumah tangga, manusia pasti mempunyai kekurangan. Al-Qur’an mengajarkan:
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Jika kalian tidak menyukai mereka, boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padanya, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS 4:19)
Manfaat: suami belajar melihat kebaikan yang banyak, bukan hanya satu kekurangan. Doa:
اللَّهُمَّ بَصِّرْنِي بِمَحَاسِنِ زَوْجَتِي، وَأَعْمِ عَيْنِي عَنْ عُيُوبِهَا
“Ya Allah, perlihatkan kepadaku kebaikan-kebaikan istriku dan tutuplah pandanganku dari kekurangannya.”
4. Suami yang mampu memaafkan mendapatkan janji Allah
Allah berfirman: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?”QS 24:22)
Manfaat: ketika suami memaafkan kesalahan istri demi Allah, ia sedang berharap mendapatkan ampunan Allah. Doa:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِزَوْجَتِي، وَأَصْلِحْ بَيْنَ قُلُوبِنَا
“Ya Rabb, ampunilah aku dan istriku, dan perbaikilah hubungan hati kami.”
5. Suami yang menahan marah memperoleh cinta Allah
Allah memuji:وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS 3:134) Manfaat: menahan amarah kepada istri bukan kelemahan. Itu bisa menjadi ibadah batin yang mendekatkan kepada cinta Allah. Doa:
اللَّهُمَّ اكْظُمْ غَيْظِي، وَطَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْغَضَبِ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Ya Allah, tahanlah amarahku, sucikan hatiku dari kemarahan, dan jadikan aku termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.”
6. Suami yang memaafkan dan memperbaiki hubungan mendapat pahala dari Allah. Allah berfirman:
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”
(QS 42:40) Perhatikan: فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ — “pahalanya atas Allah.”
Manfaat: suami tidak selalu harus menang dalam pertengkaran. Kadang memaafkan demi perdamaian adalah kemenangan di sisi Allah.
Doa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَفْوِي عَنْ زَوْجَتِي سَبَبًا لِعَفْوِكَ عَنِّي
“Ya Allah, jadikanlah maafku kepada istriku sebagai sebab Engkau memaafkanku.”
7. Nafkah kepada istri menjadi sedekah.Nabi ﷺ mengajarkan bahwa nafkah yang diberikan seseorang kepada keluarganya dengan niat karena Allah mempunyai pahala.
Manfaat: mencari nafkah, memberi makan, pakaian, tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan istri bukan sekadar kewajiban duniawi—dengan niat yang benar dapat menjadi sedekah dan ibadah.
Doa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي رِزْقِي، وَاجْعَلْ نَفَقَتِي عَلَى أَهْلِي صَدَقَةً وَقُرْبَةً إِلَيْكَ
“Ya Allah, berkahilah rezekiku dan jadikan nafkahku kepada keluargaku sebagai sedekah dan sarana mendekat kepada-Mu.”
8. Suami yang lembut menciptakan sakinah. Allah berfirman:
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan Dia menjadikan di antara kalian kasih sayang dan rahmat.”(QS 30:21)
Manfaat: kelembutan suami dapat menjadi jalan hadirnya mawaddah dan rahmah dalam rumah. Bukan hanya berkata:”Aku mencintaimu.”
Tetapi membuktikannya dengan sabar, perhatian, penghormatan dan perlindungan.
Doa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang bertakwa.”(QS 25:74)
9. Suami yang baik sedang mengikuti akhlak Rasulullah ﷺ
Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”
Manfaat: semakin seorang suami membawa Al-Qur’an ke dalam rumah, semakin seharusnya terlihat dalam cara berbicara, memaafkan, bersabar dan memperlakukan istrinya.
Doa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ خُلُقِي الْقُرْآنَ، وَاجْعَلْنِي رَحْمَةً لِأَهْلِي
“Ya Allah, jadikan akhlakku berlandaskan Al-Qur’an dan jadikan aku rahmat bagi keluargaku.”
10. Rumah tangga menjadi jalan menuju kedekatan dengan Rasulullah ﷺ Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” Makna yang sangat dalam: akhlak baik kepada istri merupakan salah satu tempat paling nyata untuk menguji akhlak seseorang. Sebab di rumah seseorang tidak bisa terus-menerus mempertahankan penampilan di hadapan masyarakat. Doa:
اللَّهُمَّ احْشُرْنِي مَعَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَارْزُقْنِي حُسْنَ الْخُلُقِ، وَالْعَفْوَ، وَالرَّحْمَةَ، وَالْمَوَدَّةَ لِأَهْلِي
“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama Muhammad dan keluarga Muhammad, dan karuniakan kepadaku akhlak yang baik, sifat memaafkan, kasih sayang dan cinta kepada keluargaku.”
🌹 Inti 10 kisah ini
Suami yang baik bukan suami yang tidak pernah marah, tetapi suami yang ketika marah masih takut kepada Allah. Bukan suami yang tidak pernah menemukan kekurangan istrinya, tetapi yang mampu melihat kebaikannya lebih banyak. Bukan yang selalu menang dalam pertengkaran, tetapi yang rela mengalah demi Allah.
Dan puncaknya:
قَوَّامَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَمَانَةٌ، وَالْعَفْوُ عِبَادَةٌ، وَالرَّحْمَةُ قُرْبَةٌ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ طَرِيقٌ إِلَى مَحَبَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
“Qiwāmah seorang laki-laki terhadap keluarganya adalah amanah; memaafkan adalah ibadah; kasih sayang adalah pendekatan kepada Allah; dan akhlak yang baik adalah jalan menuju kecintaan Rasulullah ﷺ.”
Semoga bermafaat!!!!
Mohon doa!!!


Comments
Post a Comment