Zikir Ushul & Furu’
🌹🌺❤️Zikir Ushul & Furu’❤️🌺🌹
Dalam tradisi Imamiyah (Itsna Asyariyah), struktur Ushuluddin (pokok akidah) dan Furuuddin (cabang syariat) dirumuskan secara khusus dan berbeda dari mayoritas mazhab lainnya:
* 5 Ushuluddin Imamiyah: Tauhid, Al-'Adl (Keadilan Ilahi), Nubuwwah (Kenabian), Imamah (Kepemimpinan Suci 12 Imam), dan Ma'ad (Hari Kebangkitan).
* 10 Furuuddin Utama Imamiyah: Shalat, Puasa, Zakat, Khumus, Haji, Jihad, Amar Ma'ruf, Nahi Mungkar, Tawalli (loyalitas/mencintai Ahli Bait), dan Tabarri (berlepas diri dari musuh-musuh Ahli Bait).
Surah Al-Fatihah sering disebut sebagai Ummul Kitab (Induk Al-Qur'an) karena mencakup seluruh inti ajaran Islam. Di dalamnya, ayat demi ayat merangkai prinsip Ushuluddin (pokok akidah) dan Furuuddin (cabang syariat serta ibadah) secara padu. Berikut rincian ayat demi ayat dalam Surah Al-Fatihah yang memuat kedua dimensi tersebut:
1. Ayat 1–4: Domain Ushuluddin (Fondasi Akidah)
Empat ayat pertama berfokus sepenuhnya pada penanaman prinsip-prinsip akidah utama (Ushuluddin):
* Ayat 1: {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ}
* Ushuluddin: Menegaskan Tauhid Uluhiyah. Segala amalan diawali atas nama Allah, Sang Pencipta yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
* Ayat 2: {اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ}
* Ushuluddin: Menegaskan Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Allah adalah Pemelihara, Pengatur, dan Penguasa seluruh alam semesta yang berhak menerima segala pujian mutlak.
* Ayat 3: {الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ}
* Ushuluddin: Menguatkan pemahaman akan sifat-sifat Allah (Asma wa Sifat). Sifat kasih sayang-Nya menjadi landasan bagaimana Allah mengurus makhluk-Nya dan menegakkan keadilan (Al-'Adl).
* Ayat 4: {مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ}
* Ushuluddin: Menegaskan kepercayaan pada hari akhir (Ma'ad / Hari Pembalasan). Pengakuan bahwa kekuasaan mutlak pada hari perhitungan hanya milik Allah semata.
2. Ayat 5: Titik Temu (Jembatan Ushuluddin & Furuuddin)
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ}
Ayat ini merupakan inti atau poros perubahan dari teori akidah menuju praktik nyata:
* Sisi Ushuluddin ({إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ}): Pengakuan bahwa manusia lemah dan hanya bergantung pada pertolongan Allah (Kemurnian Tauhid).
* Sisi Furuuddin ({إِيَّاكَ نَعْبُدُ}): Ikrar untuk mengabdikan diri hanya kepada Allah melalui pelaksanaan ibadah-ibadah praktis (shalat, puasa, zakat, dan hukum syariat lainnya).
3. Ayat 6–7: Domain Furuuddin (Implementasi Syariat dan Akhlak)
Dua ayat terakhir berfokus pada jalan amaliah, hukum, serta petunjuk praktis dalam kehidupan:
* Ayat 6: {اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ}
* Furuuddin: Permohonan hidayah Taufiq untuk bisa terus konsisten menjalankan aturan-aturan agama (syariat, fiqih, dan muamalah) di jalan yang lurus.
* Ayat 7: {صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ}
* Furuuddin (Teladan Akhlak & Hukum):
* Orang yang Diberi Nikmat: Meneladani amalan nyata para Nabi, orang-orang jujur (Shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh yang taat pada syariat.
* Bukan Orang yang Dimurkai / Sesat: Peringatan untuk menjauhi larangan agama, pelanggaran hukum syariat, serta perbuatan maksiat yang merusak tatanan amaliah harian.
Ringkasan Hubungan
Kelompok Ayat Ranah Utama Fokus Ajaran
Ayat 1–4 Ushuluddin Tauhid (Rububiyah, Uluhiyah, Sifat), Keadilan Ilahi, dan Ma'ad (Hari Akhir).
Ayat 5 Peralihan Penyerahan akidah (Ushul) menjadi komitmen ibadah fisik (Furu').
Ayat 6–7 Furuuddin Jalan syariat, ketaatan amaliah, norma hukum, serta teladan perilaku/akhlak.
Zikir / Bacaan yang Memuat Ushuluddin & Furuuddin Mazhab Imamiyah
1. Syahadat Tsalitsah (Syahadat Ketiga / Tasyahud Lengkap) Dalam tradisi Imamiyah, ikrar akidah yang melingkupi ushul dan furu' tercermin dalam bacaan syahadat yang menyertakan pengakuan atas kepemimpinan Ahlul Bait:
{أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيًّا وَلِيُّ اللهِ}
* Muatan Ushuluddin: Memuat ikrar Tauhid, Nubuwwah, dan Imamah (sebagai landasan keadilan Ilahi dan ma'ad).
* Muatan Furuuddin: Menjadi representasi langsung dari amalan Tawalli (loyalitas pada kepemimpinan Ali dan keturunannya), serta menjadi landasan bagi pelaksanaan hukum ibadah (shalat, khumus, dll.) berdasarkan tuntunan Ahlul Bait.
2. Zikir Shalawat Kamilah (Shalawat dengan Ali dan Aali Muhammad) Shalawat kepada Nabi dan keluarganya (Allaahumma shalli 'alaa Muhammad wa Aali Muhammad) dipandang sangat krusial dalam Imamiyah.
* Sisi Ushuluddin: Menegaskan penghormatan atas Nubuwwah dan kelanjutan kepemimpinan spiritual (Imamah).
* Sisi Furuuddin: Menjadi bagian wajib (rukn/wajib) dalam bacaan tasyahud shalat, serta wujud praktik amalan Tawalli.
3. Doa & Zikir Ziyarat Asyura Ziyarat Asyura merupakan salah satu teks doa/zikir paling monumental dalam tradisi Imamiyah yang memadukan seluruh prinsip tersebut secara eksplisit:
* Muatan Ushuluddin: Berisi pengakuan atas keesaan Allah (Tauhid), keadilan janji Allah (Al-'Adl), kenabian Muhammad (Nubuwwah), kedudukan para Imam (Imamah), dan balasan di akhirat (Ma'ad).
* Muatan Furuuddin: Secara terang-terangan memuat ikrar Tawalli (pernyataan damai dan cinta kepada pendukung Ahlul Bait) dan Tabarri (pernyataan berlepas diri dan pemutusan hubungan dari para penindas Ahlul Bait).
Melanjutkan pemahaman dalam tradisi Imamiyah, keterkaitan antara Ushuluddin dan Furuuddin juga termanifestasi secara praktis dan mendalam melalui bentuk-bentuk zikir serta ritus ibadah spesifik berikut:
1. Zikir Doa Iftitah (Dibaca pada Malam Bulan Ramadan)
Doa Iftitah yang diajarkan oleh Imam Mahdi (melalui perantara N-Na'ib Al-Khass) merupakan zikir komprehensif yang merangkai akidah dan syariat:
* Muatan Ushuluddin:
* Tauhid & Al-'Adl: Pujian atas keagungan Allah yang Maha Adil dalam membagi rezeki dan menetapkan hukum.
* Nubuwwah & Imamah: Pengiriman shalawat dan pengakuan kenabian atas Rasulullah SAW, dilanjutkan penyebutkan nama-nama 12 Imam secara berurutan sebagai pimpinan yang ma'shum.
* Ma'ad: Penegasan atas Janji Ilahi mengenai hari kebangkitan dan keadilan hakiki.
* Muatan Furuuddin:
* Memuat doa khusus untuk penegakan amalan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar dan pembentukan Daulah Karimah (pemerintahan yang mulia).
* Menjadi wujud praktik Tawalli (permohonan pertolongan bagi para pengikut Ahlul Bait) dan doa memohon petunjuk dalam beribadah.
2. Tasyahud Shalat versi Fiqih Imamiyah
Dalam hukum fiqih (furuuddin) mazhab Imamiyah, bacaan tasyahud shalat dirancang sedemikian rupa untuk menegaskan kembali prinsip-prinsip ushuluddin:
{أَلْحَمْدُ لِلَّهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ}
* Integrasi Ushul & Furu': Tasyahud ini wajib (furu') dibaca di dalam shalat. Di dalamnya memuat tauhid (Lâ ilâha illallâh), kenabian (Muhammadan 'abduhu wa rasûluh), serta kepemimpinan (Âli Muhammad melalui shalawat wajib).
3. Doa Kumayil (Ajaran Imam Ali bin Abi Thalib)
Doa Kumayil menekankan hubungan langsung antara pengakuan akidah dengan pertaubatan amaliah:
* Sisi Ushuluddin: Pengakuan mutlak atas Keadilan Allah (Al-'Adl), di mana seorang hamba mengakui bahwa setiap azab atau siksaan yang menimpanya adalah akibat kesalahannya sendiri, bukan karena kezaliman Allah.
* Sisi Furuuddin: Menjadi sarana permohonan ampunan atas dosa-dosa fisik (furu') yang merusak ketaatan, serta pendorong untuk memperbaiki kualitas shalat, puasa, dan hubungan sesama manusia.
Dalam tradisi Imamiyah, Ta'qib (zikir dan doa yang dibaca langsung setelah selesai shalat wajib) memiliki kedudukan yang sangat penting. Ta'qib dipandang sebagai penyempurna shalat (furuuddin) sekaligus sarana untuk memperbarui ikrar akidah (ushuluddin).
Berikut adalah zikir-zikir ta'qib shalat dalam mazhab Imamiyah yang memuat Ushuluddin dan Furuuddin secara beriringan:
1. Zikir Tasbih Sayyidah Fatimah Az-Zahra SA Zikir ta'qib yang paling utama dan sangat ditekankan (mustahab mu'akkad) setelah shalat wajib:
* 34× Allahu Akbar (Tauhid & Keagungan Allah — Ushuluddin)
* 33× Alhamdulillah (Rasa Syukur atas Petunjuk & Syariat — Ushul & Furu')
* 33× Subhanallah (Penyucian Allah dari Segala Kekurangan — Ushuluddin)
2. Zikir Ta'qib Umum: Ikrar Tauhid dan Kepemimpinan Salah satu bacaan ta'qib umum yang dibaca seusai shalat:
{أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهًا وَاحِدًا أَحَدًا صَمَدًا، لَمْ يَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا} {وَاٰمَنْتُ بِاللّٰهِ وَرُسُلِهِ، وَبِكُلِّ مَا أَنْزَلَ اللّٰهُ، وَبِالْأَئِمَّةِ الْمَعْصُوْمِيْنَ مِنْ آلِ مُحَمَّدٍ}
* Muatan Ushuluddin: Memuat secara tegas keesaan Allah (Tauhid), keimanan kepada seluruh Rasul (Nubuwwah), dan keimanan kepada para Imam Suci (Imamah).
* Muatan Furuuddin: Membaca ta'qib ini merupakan amalan sunnah fiqih (furu'), yang di dalamnya terkandung komitmen untuk menaati hukum-hukum Allah yang diturunkan melalui Nabi dan dijelaskan oleh para Imam.
3. Doa Salawat A'zam (Shalawat atas 14 Orang Suci/Ma'shumin) Dalam ta'qib shalat (terutama ta'qib Shalat Subuh dan Ashar), sering dibaca shalawat yang menyebutkan Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah SA, dan 12 Imam satu per satu:
* Sisi Ushuluddin: Menegaskan pilar Nubuwwah dan Imamah sebagai satu kesatuan mata rantai petunjuk Ilahi.
* Sisi Furuuddin: Menjadi wujud amaliah nyata dari prinsip Tawalli (loyalitas dan cinta kepada Ahlul Bait), yang merupakan salah satu dari 10 Furuuddin Imamiyah.
4. Doa Faraj (Allahumma Kun Liwaliyyik...) Dibaca sebagai ta'qib shalat untuk memohon keselamatan dan kemunculan Imam Mahdi (Imam ke-12):
* Sisi Ushuluddin: Meyakini janji Allah tentang Keadilan Ilahi (Al-'Adl) dan Hari Kemenangan Kebenaran di bawah kepemimpinan Imam yang ditunjuk Allah (Imamah).
* Sisi Furuuddin: Bentuk ibadah praktis berupa doa, kepatuhan menunggu janji Allah (Intizhar), serta penguatan komitmen moral dan hukum Islam.
Melanjutkan pembahasan ta'qib shalat dalam tradisi Imamiyah, terdapat beberapa teks zikir dan doa spesifik seusai shalat wajib yang secara eksplisit memadukan seluruh pilar Ushuluddin dan amalan Furuuddin:
1. Doa 'Ahad (Biasa Dibaca Setelah Shalat Subuh)
Doa ini merupakan bentuk pembaruan ikrar (bai'at) harian bagi seorang mukmin.
* Muatan Ushuluddin:
* Tauhid & Al-'Adl: Menyapa Allah sebagai Pencipta malam dan siang, serta Penegak keadilan di alam semesta.
* Nubuwwah & Imamah: Menegaskan kenabian Muhammad SAW dan keimanan kepada Wilayah (kepemimpinan) Imam Mahdi AJFS.
* Ma'ad: Mengakui janji kebangkitan dan pembalasan di akhirat.
* Muatan Furuuddin:
* Komitmen amaliah untuk menjadi penolong, pelindung, dan pelaksana perintah (furu') yang ditetapkan oleh Imam Zaman.
* Wujud konkrit dari Tawalli (kesetiaan pada petunjuk Ahlul Bait).
2. Bacaan Syahadat Mufashshalah dalam Ta'qib Shalat Zhohor
Setiap selesai shalat Zhohor, terdapat ta'qib khusus yang merinci ikrar keimanan dan kepatuhan hukum:
{رَضِيْتُ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ نَبِيًّا، وَبِعَلِيٍّ إِمَامًا...}
(Aku ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, Ali sebagai Imam...)
* Sisi Ushuluddin: Menyebut secara runut rukun-rukun akidah (Tauhid, Nubuwwah, dan Imamah satu per satu hingga Imam ke-12).
* Sisi Furuuddin: Kalimat "wa bil Islama diinan" (dan Islam sebagai agama) mencakup keridhaan dan kesiapan untuk menjalankan seluruh syariat, hukum fiqih, dan amalan zahir yang dibawa oleh Islam.
3. Doa Sajdah Asy-Syukr (Sujud Syukur Seusai Ta'qib)
Sujud syukur dilakukan tepat setelah menyelesaikan seluruh urutan ta'qib. Di dalam sujud ini, dibaca zikir:
{شُكْرًا شُكْرًا، عَفْوًا عَفْوًا}
serta doa permohonan keteguhan iman (Istiqaamah).
* Integrasi Ushul & Furu': Perbuatan sujud itu sendiri adalah amalan Furuuddin (ibadah fisik), sedangkan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah dan permohonan perlindungan akidah adalah refleksi dari penyerahan diri (Tauhid Uluhiyah).
Dalam fiqih Imamiyah (Itsna Asyariyah), Sujud Syukur (Sajdat ash-Syukr) merupakan salah satu amalan sunnah (mustahab) yang sangat ditekankan, khususnya dilakukan tepat setelah menyelesaikan shalat wajib dan zikir ta'qib.
Tata Cara Sujud Syukur
1. Niat: Berniat di dalam hati melakukan sujud syukur karena Allah SWT (tanpa perlu diucapkan).
2. Posisi Sujud: Langsung sujud meletakkan 7 anggota badan ke bumi (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung ibu jari kaki).
* Catatan: Sebagaimana shalat, dahi wajib diletakkan di atas tanah atau apa yang tumbuh dari bumi yang tidak dimakan/dipakai (seperti turbah atau tikar daun).
3. Posisikan Tubuh: Disunnahkan meletakkan dada dan perut hingga menempel ke lantai, serta merentangkan kedua tangan (untuk laki-laki) atau menempelkannya (untuk perempuan).
4. Tanpa Takbiratul Ihram & Tanpa Salam: Tidak perlu mengangkat tangan untuk takbir pembuka dan tidak ada bacaan salam di akhir sujud.
5. Disunnahkan Dua Kali Sujud: Melakukan sujud pertama, lalu mengangkat kepala dan duduk sejenak (membaca zikir singkat), kemudian melakukan sujud kedua.
Bacaan-Bacaan dalam Sujud Syukur
Ada beberapa pilihan bacaan zikir atau doa yang bersumber dari ajaran Ahlul Bait. Anda bisa memilih salah satu atau mengombinasikannya:
1. Bacaan Ungkapan Rasa Syukur (Paling Ringkas & Utama)
Mengulang-ulang kata berikut minimal 3 kali (atau disunnahkan hingga 100 kali):
{شُكْرًا شُكْرًا}
(Syukran, syukran...) — Artinya: "Terima kasih, terima kasih..."
Atau:
{عَفْوًا عَفْوًا}
(‘Afwan, ‘afwan...) — Artinya: "(Mohon) ampunan-Mu, ampunan-Mu..."
2. Bacaan dari Imam Ja'far As-Sadiq AS
{أَللّٰهُمَّ لَكَ الشُكْرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ رَبِّيْ حَقًّا حَقًّا، سَجَدْتُ لَكَ يَا رَبِّ عُبُوْدِيَّةً وَرِقًّا، أَللّٰهُمَّ إِنَّ عَمَلِيْ ضَعِيْفٌ فَضَاعِفْهُ لِيْ}
(Allaahumma lakas-syukru, laa ilaaha illaa anta Rabbii haqqan haqqaa, sajad-tu laka yaa Rabbi 'ubuudiyyatan wa riqqaa, Allaahumma inna 'amalii dha'iifun fa-dhaa'if-hu lii)
Artinya: "Ya Allah, milik-Mu-lah segala syukur. Tiada Tuhan selain Engkau, Tuhanku yang sebenar-benarnya. Aku bersujud kepada-Mu ya Rabbi sebagai wujud penghambaan dan perbudakan (kepatuhan). Ya Allah, sungguh amalku ini lemah/sedikit, maka lipatgandakanlah ia untukku."
3. Doa Memohon Keselamatan Agama (Di Sujud Kedua)
Jika melakukan dua kali sujud, pada sujud kedua dianjurkan membaca doa keteguhan iman:
{يَا رَبَّ الأَرْبَابِ، وَيَا مَلِكَ المُلُوْكِ، وَيَا سَيِّدَ السَّادَاتِ، وَيَا جَبَّارَ الجَبَابِرَةِ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَافْعَلْ بِيْ مَا أَنْتَ أَهْلُهُ}
(Yaa Rabbal-arbaab, wa yaa Malikal-muluuk, wa yaa Sayyidas-saadaat, wa yaa Jabbaaral-jabaabirah, shalli 'alaa Muhammadin wa Aali Muhammad, waf'al bii maa anta ahluh)
Syarat dan Adab
* Suci dari Hadats: Meskipun beberapa ulama membolehkan sujud syukur tanpa wudhu dalam kondisi darurat (misal mendapat kabar gembira mendadak), dalam konteks ta'qib shalat tetap dipastikan dalam keadaan bersuci (berwudhu) dan menghadap kiblat.
* Masa Sujud: Dianjurkan untuk memperpanjang waktu sujud syukur sebagai tanda kerendahan hati seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
Semoga Bermanfaat!!!
Mohon Doa!!!!
Comments
Post a Comment